PROPOSAL PENELITIAN
PENGARUH BEBAN KERJA DAN LINGKUNGAN KERJA TERHADAP
KINERJA PEGAWAI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH
KABUPATEN MUNA BARAT
OLEH
NASYATUL AISYAH
NIM. B1B121049
JURUSAN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2025
HALAMAN PERSETUJUAN
Proposal penelitian oleh Nasyatul Aisyah (B1B121049) ini telah diperiksa
dan disetujui oleh pembimbing untuk diajukan pada panitia Seminar Proposal
Penelitian
ii
DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL……………………………………………………………i
HALAMAN PERSETUJUAN .............................................................................. ii
DAFTAR ISI……………………………………………………………………. iii
DAFTAR GAMBAR……………………………………………………………..v
DAFTAR TABEL………………………………………………………………..vi
BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ............................................................................................ 1
1.2 Rumusan Masalah ..................................................................................... 12
1.3 Tujuan Penelitian ....................................................................................... 12
1.4 Manfaat Penelitian .................................................................................... 13
1.5 Ruang Lingkup Penelitian.........................................................................14
BAB II KAJIAN PUSTAKA .............................................................................. 15
2.1 Kajian Teori ............................................................................................... 15
2.1.1 Manajemen Sumber Daya Manusia ...................................................... 15
2.1.2 Beban Kerja .......................................................................................... 18
2.1.3 Lingkungan Kerja ................................................................................. 28
2.1.4 Kinerja Pegawai .................................................................................... 34
2.2 Penelitian Terdahulu ................................................................................. 42
2.3 Hubungan Antar Variabel ........................................................................ 49
2.3.1 Hubungan Antara Beban Kerja Terhadap Kinerja ................................ 49
2.3.2 Hubungan Antara Lingkungan Kerja Terhadap Kinerja ....................... 50
2.3.3 Hubungan Antara Beban Kerja dan Lingkungan Kerja Terhadap Kinerja
....................................................................................................................... 51
2.4 Kerangka Pikir Penelitian ........................................................................ 52
2.5 Hipotesis Penelitian ................................................................................... 54
BAB III METODE PENELITIAN .................................................................... 55
3.1 Rancangan Penelitian................................................................................ 55
3.2 Lokasi dan Objek Penelitian .................................................................... 55
3.3 Populasi dan Sampel Penelitian ............................................................... 55
iii
3.3.1 Populasi................................................................................................. 55
3.3.2 Sampel .................................................................................................. 56
3.4 Jenis dan Sumber Data ............................................................................. 56
3.4.1 Jenis Data .............................................................................................. 56
3.4.2 Sumber Data ......................................................................................... 56
3.5 Metode Pengumpulan Data ...................................................................... 57
3.6 Skala Pengukuran dan Uji Instrumen..................................................... 58
3.6.1 Skala Pengukuran ................................................................................. 58
3.6.2 Uji Instrumen ........................................................................................ 60
3.7 Uji Asumsi Klasik ...................................................................................... 61
3.7.1 Uji Normalitas....................................................................................... 61
3.7.2 Uji Multikolinearitas ............................................................................. 61
3.7.3 Uji Heteroskedastisitas ......................................................................... 62
3.8 Metode Analisis Data dan Pengujian Hipotesis ...................................... 62
3.8.1 Analisis Statistik Deskriptif .................................................................. 62
3.8.2 Metode Analisis Regresi Linear Berganda ........................................... 62
3.8.3 Analisis Koefisien Determinasi (R²) ..................................................... 63
3.9 Pengujuan Hipotesis .................................................................................. 64
3.9.1 Uji Simultan (Uji F) .............................................................................. 64
3.9.2 Uji Parsial (Uji t)................................................................................... 64
3.10 Definisi Operasional Variabel................................................................. 65
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................... 70
LAMPIRAN ......................................................................................................... 76
iv
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Kerangka Pikir............................................................................53
v
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 Skala Likert...........................................................................................59
vi
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pada era globalisasi saat ini, setiap organisasi membutuhkan aspek
keunggulan yang berbeda untuk mencapai tujuannya. Tujuan tersebut dapat diraih
dengan mendayagunakan sumber-sumber daya yang ada seperti sumber daya
manusia. Sumber daya manusia merupakan hal penting dalam suatu organisasi baik
organisasi pemerintah maupun organisası swasta untuk mencapai tujuan atau target
yang ingin dicapai. Dalam setiap aktifitas organisasi yang berjalan dengan baik
maka dibutuhkan sumber daya manusia yang memiliki pengetahuan dan
kompetensi yang tinggi guna mencapai tujuan suatu organisasi dan meningkatkan
kinerja pegawai.
Dengan perkembangan zaman yang semakin maju, pegawai harus bisa
menyesuaikan diri dalam segala kondisi. Beban kerja yang semakin berat,
banyaknya kebutuhan yang ingin dipenuhi, tingkat pendapatan yang tidak sesuai
dengan biaya hidup, persaingan yang semakin ketat dan seterusnya dapat menjadi
ancaman untuk tetap dapat bertahan hidup. Sumber daya manusia dituntut untuk
dapat memperlihatkan hasil kerja yang baik dalam perusahaan, sumber daya
manusia merupakan unsur terpenting. Tanpa peran manusia meskipun berbagai
faktor yang dibutuhkan itu telah tersedia, instansi/perusahaan tidak akan berjalan.
Oleh karena itu hendaknya dari instansi perusahaan itu sendiri memberikan arahan
yang positif demi tercapainya tujuan. Dan yang berperan sebagai sumber daya
manusia disini ialah pegawai, pegawai merupakan asset utama organisasi dan
1
2
mempunyai peran yang strategis di dalam organisasi yaitu sebagai pemikir,
perencana, dan pengendali aktivitas organisasi Hasibuan (2001:27)
Sumber daya manusia berperan sebagai faktor yang dibutuhkan untuk
menjalankan organisasi, karena manusia merupakan penggerak dan penentu
jalannya suatu organisasi. Sumber daya yang dimiliki organisasi maupun lembaga
tidak akan memberikan hasil yang optimal apabila tidak didukung oleh sumber daya
manusia yang mempunyai kinerja yang optimal. Setiap organisasi maupun lembaga
membutuhkan pegawai yang mempunyai kinerja (job performance) yang tinggi
menurut Wijono (2015).
Menurut Sinambela (2016:68), manajemen sumber daya manusia
merupakan upaya yang dilakukan organisasi mengelola man power sebagai sumber
aset utama, dengan menggunakan sistem tata kelola manajerial dan operasional dari
fungsi manajemen, sehingga pencapaian tujuan yang telah ditetapkan dapat digapai
secara optimal, seefektif dan seefisien mungkin dan tepat pada sasaran kerja.
Manajemen sumber daya manusia merupakan pilar yang memiliki tuntutan utama
bagi organisasi, dalam mendukung pola penentuan strategi dan kebijakan secara
terpadu. Keputusan sumber daya manusia yang baik perlu didukung oleh kualitas
pelaksanaan menajemen sumber daya manusia. Sumber daya manusia merupakan
bagian penting dalam aktivitas kerja. Karena hal tersebut berhubungan dengan
masalah kualitas kerja dan pencapaian kerja Saridawati, (2018).
Veithzal Rivai Zainal dkk (2014: 4), sumber daya manusia dinilai memiliki
peran yang semakin penting dalam pencapaian tujuan. Salah satu hal yang perlu
3
diperhatikan dalam melaksanakan pekerjaan agar tujuan organisasi dapat tercapai
adalah terwujudnya kinerja pegawai yang optimal. Kinerja yang optimal
merupakan masalah yang sering dihadapi oleh para pegawai yang sedang bekerja.
Kinerja pegawai merupakan factor yang sangat penting dalam pengelolaan suatu
organisasi atau instansi, dalam hal ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi
organisasi. Oleh karena itu organisasi perlu mengelola dan mengembangkan kinerja
pegawai dengan baik.
Mangkunegara, (2017) mengemukan bahwa kinerja adalah hasil kerja
secara kualitas dan kualitas yang dicapai oleh seorang Pegawai dalam
melaksanakan tugasnya sesuai dengan tangung jawab yang diberikan kepadanya.
Kinerja pada umumnya diartikan sebagai kesuksesan seseorang dalam
melaksanakan suatu pekerjaan Arianty et al., (2016). Kinerja pegawai merupakan
hasil kerja yang dicapai seseorang dalam melaksanakan tugas-tugas yang diberikan
kepadanya untuk mencapai target kerja. Pegawai dapat bekerja dengan baik bila
memiliki kinerja yang tinggi sehingga dapat menghasilkan kerja yang baik. Untuk
itu kinerja dari pegawai dapat mempengaruhi kinerja instansi secara keseluruhan.
Kinerja pegawai yang baik secara langsung akan mempengaruhi kinerja
lembaga dan untuk memperbaiki kinerja pegawai tentu merupakan suatu pekerjaan
yang memakan waktu dan proses yang panjang. Selain dengan meningkatkan
pengawasan dan pembinaan, juga dilakukan penilaian terhadap tingkat keberhasilan
kinerja yang telah dilakukan oleh para pegawainya melalui beberapa faktor yang
dapat mendukung dari perbaikan dari kinerja tersebut dan termasuk beban kerja dan
lingkungan kerja.
4
Kinerja setiap karyawan berbeda-beda antara karyawan yang satu dengan
yang lainnya, dikarenakan kinerja seorang karyawan bersifat individual. Kinerja
mengacu pada prestasi kerja karyawan yang diukur berdasarkan standar atau
kriteria yang telah ditetapkan oleh organisasi. Kinerja juga merupakan suatu hasil
dan usaha seseorang yang dicapai dengan adanya kemampuan dan perbuatan dalam
situasi tertentu.
Untuk menciptakan kinerja yang tinggi, dibutuhkan adanya peningkatan
kerja yang optimal dan mampu mendayagunakan potensi sumber daya manusia
yang dimiliki oleh pegawai guna menciptakan tujuan organisasi, sehingga akan
memberikan kontribusi positif pada perkembangan organisasi. Selain itu, organisasi
perlu memperhatikan berbagai faktor yang dapat mempengaruhi kinerja pegawai,
dalam hal ini diperlukan adanya peran organisasi dalam meningkatkan kinerja guna
mendorong terciptanya sikap dan tindakan yang professional dalam menyelesaikan
pekerjaan sesuai dengan bidang dan tanggung jawab masing-masing.
Usaha untuk meningkatkan kinerja pegawai, diantaranya adalah dengan
memperhatikan beban kerja, baik itu beban kerja fisik maupun beban kerja mental.
Untuk mencapai kinerja yang maksimal. penting bagi orgnanisasi memperhatikan
keadaan sumber daya manusianya, karena tubuh manusia dirancang untuk
melakukan aktivitas pekerjaan sehari-hari Mangkunegara, (2017).
Nurmianto (2003:24) menyatakan beban kerja dapat berupa beban fisik dan
mental. Beban fisik dapat dilihat dari seberapa banyak karyawan menggunakan
kekuatan fisiknya. Sedangkan beban kerja mental dapat dilihat dari seberapa besar
5
aktivitas mental yang dibutuhkan untuk mengangat hal-hal yang dibutuhkan,
konsentrasi, mendeteksi permasalahan, mengatasi pekerjaan yang tidak terduga dan
membuat keputusan dengan cepat yang berkaitan dengan pekerjaaan. Selain itu juga
dibutuhkan karakteristik inidvidu yang baik dan juga harus sesuai dengan apa yang
diinginkan perusahaan Fitri, (2013). Hal ini dikarenakan ketepatan dalam memilih
karyawan juga berpengaruh pada hasil kinerjanya.
Beban kerja adalah yang terlalu banyak dapat menyebabkan ketegangan
dalam diri seseorang sehingga menimbulkan stress. Hal ini bisa disebabkan oleh
tingkat keahlian yang dituntut terlalu tinggi, kecepatan kerja mungkin terlalu tinggi,
volume kerja mungkin terlalu banyak dan sebagainya Sunyoto, (2012: 64). Saat
menghadapi suatu tugas, individu diharapkan dapat menyelesaikan tugas tersebut
pada suatu tingkat tertentu. Beberapa hasil penelitian menemukan bahwa beban
kerja berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja karyawan Idayanti et al.,
(2020).
Setiap pekerja akan selalu berhadapan dengan masalah beban kerja, terlepas
dari berapa banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Di sini, beban kerja diduga
berdampak pada kinerja karyawan karena membuat karyawan merasa lebih
bertanggung jawab atas pekerjaannya. Beban kerja dapat terjadi bila terlalu banyak
tuntutan terhadap waktu dan kemampuan karyawan dalam menyelesaikan tugas.
Terlalu banyak pekerjaan yang harus diselesaikan dalam waktu singkat, yang juga
bisa disebabkan oleh kekurangan karyawan di suatu perusahaan.
6
Proses untuk dapat bekerja dengan baik di suatu tempat tentunya bergantung
pada faktor lingkungan kerja dimana seseorang tersebut tinggal. Hal yang membuat
para pegawai melaksanakan pekerjaannya dengan akurat dan cepat melalui
lingkungan kerja yang bahagia, damai dan nyaman. Lingkungan kerja adalah
suasana lingkungan kerja yang dirasakan/dialami pegawai selama bekerja dalam
suatu kelompok/organisasi. Tentu saja, Anda tidak bisa menciptakan suasana kerja
yang menyenangkan begitu saja. Perusahaan harus mampu memotivasi kepada para
karyawannya agar karyawan terdorong untuk melaksanakan tugasnya dan dapat
meningkatkan produktivitas perusahaan secara menyeluruh Polakitang et al.,
(2019).
Selain beban kerja, faktor lain yang mempengaruhi kinerja karyawan yaitu
lingkungan kerja. Lingkungan kerja adalah sebagai salah faktor utama yang
memicu karyawan untuk dapat bekerja secara optimal. Lingkungan kerja yang tidak
kondusif akan membuat karyawan mudah jatuh sakit, mudah stress, sulit
berkonsentrasi dan menurunnya produktivitas kerja. Bayangkan saja, jika ruangan
kerja tidak nyaman, panas, sirkulasi udara kurang memadai, ruangan kerja terlalu
padat, lingkungan kerja kurang bersih, berisik, tentu besar pengaruhnya pada
kenyamanan kerja karyawan Tanjung, (2016).
Proses untuk dapat bekerja dengan baik di suatu tempat tentunya bergantung
pada faktor lingkungan kerja dimana seseorang tersebut tinggal. Hal yang membuat
para pegawai melaksanakan pekerjaannya dengan akurat dan cepat melalui
lingkungan kerja yang bahagia, damai dan nyaman. Tentu saja, Anda tidak bisa
menciptakan suasana kerja yang menyenangkan begitu saja. Perusahaan harus
7
mampu memotivasi kepada para karyawannya agar karyawan terdorong untuk
melaksanakan tugasnya dan dapat meningkatkan produktivitas perusahaan secara
menyeluruh Polakitang et al., (2019).
Penelitian yang dilakukan oleh Johnson (2022) dan Brown et al., (2021),
lingkungan kerja memainkan peran penting dalam mempengaruhi kinerja pegawai
di berbagai jenis organisasi. Memahami pentingnya lingkungan kerja yang kondusif
menjadi krusial karena dapat membantu organisasi menciptakan suatu konteks di
mana pegawai dapat berkembang dan berkontribusi secara optimal.
Lingkungan kerja yang nyaman dan menyenangkan dapat membuat mereka
lebih tenang, efektif, tekun, dan serius dalam menghadapi tugas-tugasnya.
Lingkungan kerja mengarah kepada beberapa aspek diantaranya manajemen,
struktur organisasi, fasilitas yang tersedia seperti ruang ibadah, rua ng yang cukup
nyaman untuk bekerja, kelengkapan alat, penerangan, suhu, kebisingan, fentilasi
yang baik, jam kerja yang sesuai dengan tugas. Hal tersebut dapat mempengaruhi
kinerja pegawai dan tingkat kepuasan pegawai Sofyan, (2013).
Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa pentingnya lingkungan kerja
untuk mendukung dan memfasilitasi transfer pengetahuan melalui pelatihan
Hughes et al., (2020). Lingkungan kerja yang sehat dan positif telah terbukti
meningkatkan kinerja Girdwichai and Sriviboon, (2020). Juga lingkungan kerja
dapat meningkatkan kreativitas karyawan untuk memperkuatkemampuan
organisasi melakukan inovasi proses produk sehingga berakibat pada meningkatnya
daya saing perusahaan Dul and Ceylan, (2011).
8
Terciptanya lingkungan kerja yang nyaman, aman dan menyenangkan
merupakan salah satu cara perusahaan untuk dapat meningkatkan kinerja para
karyawan. Menurut Mangkunegara (2004:64) yang dimaksud kinerja
(performance) adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh
seseorang karyawan dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggungjawab
yang diberikan kepadanya. Para karyawan dapat meningkatkan kinerjanya secara
maksimal dengan di dukung lingkungan kerja yang sesuai.
Lingkungan kerja menjadi factor yang harus diperhatikan dalam
memengaruhi kinerja karyawan. Lingkungan kerja tidak mendorong proses
kerja,tetapi berdampak langsung padakinerja karyawan. Kinerja karyawan secara
keseluruhan dapat ditingkatkan dengan lingkungan kerja yang positif. Selain itu,
lingkungankerja yang tidak kondusifmengakibatkan kinerjaorganisasi yang lebih
buruk Ahmadi, (2021). Situasi di tempat kerja yang berdampak langsung atau tidak
langsung pada pekerjadisebut lingkungan kerja. Tempat kerja adalah komunitas dari
orang-orang yang beragam dengan berbagai kondisi dan keadaan yang dapat
memengaruhi perubahan kinerjanya Santosa, (2019).
Beberapa penelitian mengungkapkan jika beban kerja berpengaruh negatif
dan signifikan meliputi penelitian yang dilakukan oleh Lukito dan Alriani (2018)
beban kerja memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap kinerja karyawan.
Dengan adanya peningkatan pada beban kerja, maka kinerja
karyawan akan menurun. Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh Guntur Fitri
Mutafarida (2022) menunjukkan bahwa hasil penelitian ini menunjukkan bahwa
9
secara simultan variabel lingkungan kerja berpengaruh positif dan signifikan
terhadap variabel kinerja karyawan.
Penelitian mengenai “Pengaruh Beban Kerja dan Lingkungan Kerja
Terhadap Kinerja Pegawai ” sangat penting dilakukan karena kedua faktor tersebut
memainkan peran krusial dalam menentukan efektivitas dan efisiensi pelayanan
kesehatan yang diberikan. Terutama pada pegawai Rumah Sakit Umum Daerah
Kabupaten Muna Barat yang merupakan institusi pelayanan publik yang sangat
bergantung pada kualitas sumber daya manusianya, terutama tenaga medis dan
nonmedis yang bekerja dalam tekanan tinggi, jam kerja panjang, dan lingkungan
yang sering kali menuntut keputusan cepat dan akurat. Dalam kondisi tersebut,
beban kerja yang berlebihan dapat menyebabkan kelelahan fisik dan mental, stres,
dan penurunan konsentrasi yang secara langsung memengaruhi kinerja pegawai.
Pegawai yang bekerja di bawah tekanan terus-menerus cenderung mengalami
penurunan motivasi, peningkatan risiko kesalahan, dan bahkan potensi burnout
yang berujung pada absensi tinggi atau pergantian tenaga kerja yang merugikan
institusi.
Di sisi lain, lingkungan kerja yang tidak mendukung baik dari segi fisik
seperti pencahayaan, kebersihan, dan kenyamanan ruang kerja, maupun dari aspek
psikososial seperti hubungan antarpegawai, gaya kepemimpinan, dan budaya
organisasi juga sangat memengaruhi kinerja. Lingkungan kerja yang positif dapat
meningkatkan semangat, kolaborasi, dan loyalitas pegawai, sementara lingkungan
yang negatif bisa menciptakan konflik, ketidakpuasan, dan pengabaian terhadap
standar pelayanan. Dalam konteks rumah sakit, hal ini sangat krusial karena kinerja
10
pegawai tidak hanya berdampak pada efisiensi operasional, tetapi juga secara
langsung berpengaruh terhadap keselamatan dan kualitas hidup pasien.
Oleh karena itu, penelitian ini penting untuk memberikan dasar empiris
dalam perumusan kebijakan manajemen sumber daya manusia di rumah sakit.
Dengan memahami sejauh mana beban kerja dan lingkungan kerja memengaruhi
kinerja, pihak manajemen dapat merancang intervensi yang tepat seperti
penyesuaian distribusi kerja, peningkatan fasilitas, pelatihan manajerial, dan
pembentukan budaya kerja yang lebih sehat dan produktif. Hasil dari penelitian ini
tidak hanya berguna bagi pengelola rumah sakit, tetapi juga bagi pembuat kebijakan
di sektor kesehatan dan tenaga kerja yang ingin menciptakan sistem pelayanan
kesehatan yang lebih berkelanjutan dan berorientasi pada kualitas pelayanan.
Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Muna Barat adalah institusi
pelayanan kesehatan yang dimiliki oleh pemerintah daerah. Pelayanan yang
diberikan rumah sakit dituntut untuk selalu melakukan perunbahan, agar pelayanan
itu dapat sesuai dengan harapan dan kebutuhan pelanggan yaitu masyarakat. RSUD
sebagai salah satu instalasi yang mempunyai fungsi memberikan pelayanan
kesehatan tentunya harus sesuai dengan standar yang telah ditentukan. Instansi
lebih memperhatikan upah atau gaji, insentif atau tunjangan, serta fasilitas untuk
diberikan kepada pegawai sesuai dengan kinerjanya untuk dapat meningkatkan
motivasi dalam bekerja. Jadi, kepuasan akan gaji, promosi, kepuasan dengan atasan,
dan kepuasan dengan rekan kerja harus dijaga dengan baik.
11
Di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Muna Barat, pentingnya
memperhatikan keseimbangan beban kerja dan menciptakan lingkungan kerja yang
kondusif menjadi prioritas untuk memastikan pelayanan kesehatan yang optimal.
Dengan beban kerja yang terkelola dengan baik dan lingkungan kerja yang
mendukung, tenaga kesehatan dapat memberikan pelayanan yang lebih bermutu,
meningkatkan kepuasan pasien, serta menjaga keberlanjutan operasional rumah
sakit.
Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Muna Barat, permasalahan terkait
beban kerja dan lingkungan kerja perlu mendapatkan perhatian lebih. Sebagai salah
satu institusi layanan publik yang berorientasi pada kepuasan masyarakat, penting
untuk memastikan bahwa pegawai rumah sakit bekerja dalam kondisi yang
mendukung produktivitas mereka. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk
mengidentifikasi sejauh mana kedua faktor tersebut memengaruhi kinerja pegawai,
sekaligus memberikan rekomendasi bagi pihak manajemen rumah sakit untuk
mengoptimalkan pengelolaan sumber daya manusia.
Beberapa fenomena yang terjadi pada Rumah Sakit Umum Daerah
(RSUD), sering ditemukan keluhan dari pegawai medis dan nonmedis mengenai
tingginya beban kerja dan kondisi lingkungan kerja yang kurang optimal.
Fenomena ini tercermin dari tingginya jumlah jam lembur, keterlambatan
penyelesaian tugas administratif, serta meningkatnya angka kelelahan fisik dan
mental pegawai. Selain itu, beberapa RSUD juga menghadapi masalah keterbatasan
fasilitas kerja, pencahayaan yang kurang, sirkulasi udara yang tidak memadai, dan
hubungan kerja yang kurang harmonis antar staf. Akibatnya, kinerja pegawai
12
menurun yang berdampak pada pelayanan kepada pasien, seperti waktu tunggu
yang lebih lama, penurunan ketepatan diagnosis, hingga keluhan pasien terhadap
pelayanan yang tidak responsif. Fenomena ini menunjukkan adanya indikasi bahwa
beban kerja yang berlebihan dan lingkungan kerja yang tidak mendukung dapat
mempengaruhi tingkat produktivitas dan kualitas kerja pegawai di RSUD.
Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan diatas, maka peneliti
tertarik melakukan penelitian dengan judul “Pegaruh Beban Kerja dan
Lingkungan Kerja Terhadap Kinerja Pegawai Rumah Sakit Umum Daerah
Kabupaten Muna Barat”.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka penulis merumuskan
masalah didalam penelitian ini sebagai berikut:
1. Apakah beban kerja dan lingkungan kerja berpengaruh terhadap kinerja
pegawai Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Muna Barat?
2. Apakah beban kerja berpengaruh terhadap kinerja pegawai Rumah Sakit
Umum Daerah Kabupaten Muna Barat?
3. Apakah lingkungan kerja berpengaruh terhadap kinerja pegawai Rumah
Sakit Umum Daerah Kabupaten Muna Barat?
1.3 Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah diatas, maka tujuan yang ingin dicapai oleh
peneliti dalam melakukan penelitian ini adalah sebagai berikut:
13
1. Untuk mengetahui pengaruh beban kerja dan lingkungan kerja terhadap
kinerja pegawai Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Muna Barat.
2. Untuk mengetahui pengaruh beban kerja terhadap kinerja pegawai Rumah
Sakit Umum Daerah Kabupaten Muna Barat.
3. Untuk mengetahui pengaruh lingkungan kerja terhadap kinerja pegawai
Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Muna Barat.
1.4 Manfaat Penelitian
Dalam penelitian ini diharapkan mampu memberikan manfaat baik secara
teoritis maupun praktis. Manfaat dalam penelitian ini secara jelas diuraikan sebagai
berikut:
1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang hubungan
yang jelas antara beban kerja, lingkungan kerja dan kinerja pegawai.
Penelitian ini juga dapat dijadikan salah satu sumber rujukan terhadap
penelitian dibidang manajemen sumber daya manusia.
2. Manfaat praktis,
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi Rumah Sakit
Umum Daerah Kabupaten Muna Barat dalam memahami arti pentingnya
beban kerja dan lingkungan kerja dalam meningkatkan kinerja pegawai
Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Muna Barat dimasa yang akan
datang.
14
1.5 Ruang Lingkup Penelitian
Berdasarkan pemaparan diatas, penelitian ini dilaksanakan guna untuk
mengetahui pengaruh Beban Kerja dan Lingkungan Kerja terhadap Kinerja
Pegawai. Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten
Muna Barat. Populasi pada penelitian ini merupakan Pegawai Negeri Sipil (PNS)
dari Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Muna Barat. Jumlah responden yang
akan diteliti sebanyak 89 orang. Variabel dependent dalam penelitian ini adalah
Kinerja Pegawai. Sedangkan variabel independent dalam penelitian ini adalah
Beban Kerja dan Lingkungan Kerja. Penelitian ini hanya fokus pada pengaruh
Beban Kerja dan Lingkungan Kerja terhadap Kinerja Pegawai Rumah Sakit
Umum Daerah Kabupaten Muna Barat.
15
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Kajian Teori
2.1.1 Manajemen Sumber Daya Manusia
[Link] Pengertian Manajemen Sumber Daya Manusia
Banyak orang meyakini bahwa tanpa keberadaan manusia, perusahaan tidak
dapat beroperasi dengan baik. Ini menunjukkan bahwa manusia tetap diperlukan,
meskipun dalam jumlah yang kecil, bahkan dengan adanya teknologi mesin yang
semakin maju. Tuhan telah menciptakan manusia sebagai makhluk paling cerdas di
antara semua makhluk lainnya. Secara umum, manajemen sumber daya manusia
dapat diartikan sebagai proses pengelolaan individu melalui berbagai tahap,
termasuk perencanaan, perekrutan, seleksi, pelatihan, pengembangan, pemberian
imbalan, pengelolaan karier, keselamatan dan kesehatan kerja, serta pemeliharaan
hubungan industrial hingga pemutusan hubungan kerja, demi mencapai tujuan
perusahaan dan meningkatkan kesejahteraan.
Menurut Malayu S.P. Hasibuan dalam Eri Susan (2019), mengatakan bahwa
“Manajemen sumber daya manusia adalah ilmu serta seni yang mengatur antara
hubungan dan peranan tenaga kerja manusia dalam penerapannya agar lebih efektif
dan efisien dalam mencapai tujuan baik dari segi perusahaan, karyawan maupun
masyarakat.”
Sedangkan menurut Afandi dalam Putri (2022), manajemen sumber daya
manusia adalah suatu proses perencanaan, pengorganisasian, serta pengendalian
sumber daya manusia dalam rangka pencapaian tujuan organisasi. Sedangkan
16
fungsi dari manajemen sumber daya manusia terdiri dari perencanaan,
pengorganisasian, pengarahan, pengendalian, pengadaan, pengembangan,
kompensasi, pengintegrasian, pemeliharaan, kedisiplinan, serta pemberhentian.
[Link] Fungsi Manajemen Sumber Daya Manusia
Menurut Sutrisno (2020) mengemukakan fungsi manajemen sumber daya
manusia yaitu:
1. Perencanaan
Perencanaan adalah proses mempertimbangkan bagaimana tenaga kerja
dapat melayani kebutuhan bisnis dengan sebaik-baiknya dan membantu
mencapai tujuannya dengan menjadi efektif dan efisien dalam
memenuhi tuntutan tersebut.
2. Pengorganisasian
Pengorganisasian adalah proses menertibkan pekerja melalui
pembuatan bagan perusahaan yang menunjukkan pendelegasian
wewenang, integrasi, koordinasi, dan pembagian kerja.
3. Pengarahan dan pengadaan
Pengarahan adalah tindakan memberi instruksi kepada anggota staf agar
mereka berkolaborasi dan bekerja secara efektif dan efisien untuk
mendukung pencapaian tujuan perusahaan.
4. Pengendalian
Pengendalian adalah kegiatan mengendalikan karyawan agar menaati
peraturan perusahaan atau instansi dan bekerja sesuai dengan rencana
yang di tentukan.
5. Pengembangan
17
Pengembangan merupakan proses peningkatan keterampilan teknis,
teoritis, konseptual, dan moral karyawan melalui pendidikan dan
pelatihan.
6. Kompensasi
Kompensasi merupakan pemberian balas jasa langsung berupa uang
atau barang kepada karyawan sebagai imbalan jasa yang diberikan
kepada Perusahaan.
7. Pengintegrasian
Pengintegrasian merupakan kegiatan untuk mempersatukan
kepentingan perusahaan dan kebutuhan karyawan, agar tercipta kerja
sama yang serasi dan saling menguntungkan.
8. Pemeliharaan
Pemeliharaan merupakan kegiatan pemeliharaan atau meningkatkan
kondisi fisik, mental, dan loyalitas, agar mereka tetap mau bekerja sama
sampai pension.
9. Kedisiplinan
Keinginan dan kesadaran untuk mentaati peaturan-peraturan perusahaan
dan norma-norma sosial. Kedisiplinan merupakan fungsi MSDM yang
terpenting dan kunci terwujudnya tujuan organisasi.
10. Pemberhentian
Putusnya hubungan kerja seseorang dari suatu perusahaan.
Pemberhentian ini disebabkan oleh keinginan karyawan, keinginan
perusahaan, kontrak kerja berakhir, dan pensiun.
18
2.1.2 Beban Kerja
[Link] Pengertian Beban Kerja
Menurut Koesomowidjojo (2017) “Beban kerja adalah salah satu aspek
yang harus diperhatikan oleh setiap perusahaan”. Beban kerja adalah sekumpulan
tugas yang harus diselesaikan oleh suatu unit organisasi dalam jangka waktu
tertentu. Jika beban kerja terlalu berat atau kemampuan fisik karyawan terlalu
lemah, hal ini dapat menyebabkan gangguan kesehatan atau penyakit akibat
pekerjaan.
Menurut Tarwaka dalam Sembiring J.M (2022). “Beban kerja adalah
sejumlah tugas atau aktivitas yang harus diselesaikan oleh sebuah unit organisasi
atau pemegang jabatan dalam kurun waktu tertentu”.
Menurut Wahyuningsih dalam Yulianti, P., et al., (2022). Beban kerja
adalah salah satu pekerjaan yang harus dikerjakan oleh seorang karyawan sesuai
dengan tanggung jawabnya terhadap pekerjaan yang telah ditentukan oleh sebuah
perusahaan dengan tingkat waktu yang telah di tentukan oleh perusahaan, sesuai
dengan target yang telah di tentukan oleh perusahaan.
Beban kerja adalah hal-hal yang dikerjakan telah melebihi batas
kemampuannya dalam menjalankan tugas yang diberikan Haryanto (2021). Sebagai
contoh mesin, mesin yang mengerjakan sesuatu bila melebihi batas kapasitasnya
dapat memicu usia pakai mesin akan lebih semakin pendek ataupun bahkan tidak
bisa dipakai lagi. Tingginya beban kerja atau terlalu rendahnya beban kerjanya yang
dibagikan perusahaaan ke karyawan dapat menumbuhkan stress kerja,
19
meningkatnya jumlah absensi, konsentrasi kerja yang menurun, kualitas kerja
menurun, serta berimbas pada keselamatan dan kesehatan karyawan
Koesomowidjojo (2021).
Menurut Fransiska & Tupti (2020), beban kerja adalah sebuah proses atau
kegiatan yang terlalu banyak dan dapat menyebabkan ketegangan dalam diri
sendiri. Hal ini dapat menimbulkan penurunan kinerja pegawai yang disebabkan
oleh tingkat keahlian yang dituntut terlalu tinggi, kecepatan yang terlalu tinggi,
volume kerja yang terlalu banyak dan sebagainya. Intensitas beban kerja yang
terlalu besar dapat menciptakan stress kerja, sebaliknya intensitas beban kerja yang
terlalu rendah dapat menimbulkan rasa bosan dan kejenuhan. Menurut Rolos et al.,
(2018) beban kerja adalah besaran pekerjaan yang harus dipikul oleh suatu jabatan
atau unit organisasi dan merupakan hasil kali antar volume kerja dan norma waktu.
Jika kemampuan pekerja lebih tinggi daripada tuntutan pekeraan, nantinya akan
muncul rasa bosan dan sebaliknya, jika kemampuan pekerja lebih rendah daripada
tuntutan pekerjaan, maka akan muncul kelelahan yang berlebih. Dari beberapa
pengertian diatas dapat disimpulkan beban kerja merupakan kegiatan yang meliputi
aktivasi fisik, mental, dan sosial yang harus diselesaikan oleh suatu unit dalam
perusahaan dalam jangka waktu tertentu.
Menurut Malino, (2020) beban kerja merupakan sekumpulan atau sejumlah
tugas tugas yang diberikan oleh pimpinan kepada seorang karyawan yang harus
diselesaikan oleh suatu unit organisasi atau pemegang jabatan dalam jangka waktu
tertentu. Menurut Bogar et al., (2021) Beban kerja adalah sejumlah target pekerjaan
atau target hasil yang harus dicapai dalam satuan waktu tertentu. Beban kerja yang
20
terlalu berlebihan membuat karyawan merasa tidak nyaman dalam melakukan
pekerjaan. Beban kerja adalah sekumpulan atau sejumlah kegiatan yang harus di
selesaikan oleh suatu unit organisasi atau pemegang jabatan dalam jangka waktu
tertentu. Sedangkan beban kerja menurut Astianto & Suprihhadi, (2018) dapat
didefinisikan sebagai suatu perbedaan antara kapasita atau kemampuan pekerja
dengan tuntutan pekerjaan yang harus dihadapi.
Berdasarkab beberapa pengertian beban kerja di atas maka terdapat
pengertian dalam beban kerja yaitu sekumpulan atau sejumlah kegiatan yang harus
diselesaikan oleh suatu unit organisasi atau pemegang jabatan dalam jangka waktu
tertentu. Positif dan negatifnya beban kerja merupakan masalah persepsi. Persepsi
beban kerja merupakan suatu proses dimana individu mengorganisasikan dan
menafsirkan kesan indra mereka agar memberikan makna kepada lingkungan
mereka. Persepsi beban kerja kaitannya dengan faktor atribut peran dan pekerjaan.
Hal ini dikarenakan bagaimana persepsi terhadap beban kerja erat kaitannya dengan
hubungan pekerjaan serta dimana individu memberikan nilai terhadap tuntutan
tugas dan kegiatan yang membutuhkan aktivitas mental dan fisik yang mampu
seseorang selesaikan dalam waktu tertentu.
[Link] Faktor-faktor yang mempengaruhi beban kerja
Menurut Rodahl dalam Antonius Rino Vanchapo, (2020) menyatakan
bahwa beban dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor eksternal dan faktor internal,
antara lain:
21
1. Faktor Eksternal, yaitu beban yang berasal dari luar tubuh pekerja,
seperti:
a) Tugas-tugas yang bersifat fisik
Tugas bersifat diantaranya seperti stasiun kerja, tata ruang tempat
kerja, kondisi ruang kerja, kondisi lingkungan kerja, sikap kerja, cara
angkut, beban yang diangkat. Sedangkan tugas yang bersifat mental
meliputi tanggung jawab, kompleksitas pekerjaan, emosi pekerjaan
dan lain sebagainya.
b) Organisasi kerja
Faktor ini meliputi lamanya waktu kerja, waktu istirahat, shift kerja,
sistem kerja, mutu pelayanan yang ditetapkan dan kebijakan
pembinaan dan pengembangan.
c) Lingkungan kerja
Faktor ini meliputi tipe dan lokasi rumah sakit, lay out keperawatan,
fasilitas dan jenis pelayanan yang diberikan, kelengkapan peralatan
medik atau diagnostik, pelayanan penunjang dari instalasi lain dan
macam kegiatan yang dilaksanakan.
2. Faktor Internal meliputi faktor somatik (jenis kelamin, umur, ukuran
tubuh, status gizi dan kondisi kesehatan) dan faktor psikis (motivasi,
persepsi, kepercayaan, keinginan dan kepuasan).
22
[Link] Jenis-Jenis Beban Kerja
Beban kerja meliputi 2 (dua) jenis, sebagai mana dikemukakan oleh
Munandar, (2012) yaitu beban kerja kuantitatif (quantitative overload) dan beban
kerja seara kualitatif (qualitative overload):
1 Beban kerja kualitatif meliputi:
a. Harus melaksanakan observasi pasien secara ketat selama jam
bekerja.
b. Banyak pekerjaan dan beragamnya pekerjaan yang harus dikerjakan.
c. Kontak langsung perawat dengan pasien secara terus-menerus
selama jam kerja.
d. Rasio perawat dan pasien.
2 Beban kerja kuantitatif meliputi:
a. Pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki perawat tidak/ kurang
mampu mengimbangi sulitnya pekerjaan dirumah sakit.
b. Tanggung jawab yang tinggi terhadap asuhan keperawatan pasien.
c. Harapan pemimpin rumah sakit terhadap pelayanan yang
berkualitas.
d. Tuntutan keluarga pasien terhadap keselamatan pasien.
e. Setiap saat dihadapkan pada pengambilan keputusan yang tepat.
f. Tugas memberikan obat secara intensif.
g. Menghadapi pasien dengan karakteristik tidak berdaya, koma dan
kondisi terminal.
23
Beban kerja merupakan tuntutan pekerjaan berbentuk kegiatan prestasi yang
harus dicapai dengan batas waktu dari perusahaan. Jenis-jenis beban kerja menurut
Mangkunegara (2017:23) yaitu:
1. Beban kerja berlebihan, terjadi karena banyaknya kegiatan atau
pekerjaan yang harus diselesaikan karyawan dalam waktu tertentu dan
biasanya sangat singkat. Beban kerja yang berlebihan akan menjadi
sumber stres bagi karyawan dan akan mengganggu kesehatan fisik
maupun mental.
2. Beban kerja terlalu sedikit atau kurang, juga dapat mengakibatkan stres,
bosan karena karyawan tidak dapat menggunakan keterampilannya atau
mengembangkan potensi diri.
Menurut Koesomowidjojo (2017:22) ada dua jenis beban kerja yaitu:
1. Beban kerja kuantitatif yaitu adanya jumlah pekerjaan besar yang harus
dilaksanakan seperti jam kerja yang cukup tinggi, tekanan kerja yang
cukup besar, atau berupa besarnya tanggung jawab atas pekerjaan yang
diampunya.
2. Beban kerja kualitatif yaitu berhubungan bersama mampu tidaknya
pekerja melaksanakan pekerjaan yang diampunya.
[Link] Dimensi Beban Kerja
Menurut Carayon dan Alvarado dalam Prawitasari, (2017) beban kerja
perawat mempunyai 6 dimensi:
1. Beban kerja fisik (physical workload)
24
Beban kerja fisik yang dilakukan oleh pegawai bukan hanya terdiri dari
tindakan keperawatan langsung seperti mengangkat, memindah dan
memandikan pasien, tetapi juga tindakan keperawatan tak langsung
seperti mengambil dan mengirim alat-alat medis kebagian lain, repetisi
perjalanan keunit lain akibat adanya peralatan yang hilang atau tidak
berfungsi, atau bukan perjalanan kebagian yang sangat jauh dari unit
tempat ia bekerja (seperti pusat sterilisasi alat medis atau ruang rawat
lain) yang mana hal ini meningkatkan aktifitas berjalan (fisik) dari
perawat.
2. Beban kerja kognitif (cognitive workload)
Beban kerja kognitif berhubungan denga kebutuhan para pegawai untuk
memproses informasi yang sering kali terjadi dalam waktu singkat.
Banyak situasi tertentu yang mengharuskan pegawai mengambil
keputusan secara cepat yang mana ini berarti harus cepat pula
melakukan penyesuaian kognitif terhadap pasien sepanjang pasien yang
dirawat, baik yang terencana (misalnya perubahan jadwal dinas)
maupun yang tidak terencana (perubahan kondisi pasien secara tiba-
tiba).
3. Tekanan waktu (time pressure)
Tekanan waktu berhubungan dengan hal-hal yang harus dilakukan
secara cepat dan dalam waktu yang sangat terbatas. Tugas yang
dilakukan oleh pegawai sangat banyak, yang dilakukan sesuai dengan
25
waktu yang bersifat reguler atau kekerapannya (misal memberikan obat,
mengkaji, mengukur hasil, mendokumentasikan).
4. Beban kerja emosional (emotional workload)
Beban kerja emosional lazim terjadi pada lingkungan kerja. Terkadang
persepsi pegawai dengan keluarga sering kali tidak sama yang mana hal
ini menimbukan konflik dan masasalah.
5. Variasi beban kerja (workload variability)
Variasi beban kerja adalah perubahan beban kerja yang
berkesinambungan pada waktu tertentu. Situasi genting adalah contoh
lain dari variasi beban kerja dimana pada keadaan ini tiba-tiba beban
kerja meningkat sebagai konsekuensi adanya situasi gawat pada pasien,
sehingga mereka harus berkonsentrasi menghadapi kondisi pasien yang
tidak stabil.
Kelima dimensi diatas tidaklah berdiri sendiri, melainkan saling berkaitan,
dimana dimensi yang satu mempengaruhi yang lain.
[Link] Indikator Beban Kerja
Menurut Budiasa (2021) ada 4 indikator dalam beban kerja yaitu:
1. Target yang Harus dicapai
Pandangan individu mengenai besarnya target kerja yang diberikan
untuk menyelesaikan pekerjaannya. Pandangan mengenai hasil kerja
yang harus diselesaikan dalam jangka waktu tertentu.
2. Kondisi Pekerjaan
26
Mencakup tentang bagaimana pandangan yang dimiliki oleh individu
mengenai kondisi pekerjaannya, misalnya mengambil keputusan
dengan cepat pada saat pengerjaan barang, serta mengatasi kejadian
yang tak terduga seperti melakukan pekerjaan ekstra diluar waktu yang
telah ditentukan.
3 Penggunaan Waktu
Kerja Waktu yang digunakan dalam kegiatan-kegiatan yang langsung
berhubungan dengan produksi (waktu lingkaran, atau waktu baku atau
dasar
4 Standar Pekerjaan
Kesan yang dimiliki oleh individu mengenai pekerjaannya, misalnya
perasaan yang timbul mengenai beban kerja yang harus diselesaikan
dalam jangka waktu tertentu.
Menurut Dwinati et al., (2019) beban kerja memiliki beberapa indikator
antara lain:
1. Tugas
Meliputi tugas yang bersifat fisik seperti, tata ruang tempat kerja, sikap
kerja. Sedangkan tugas yang bersifat tanggung jawab, emosi pekerjaan
dan sebagainya.
2. Organisasi Kerja
Meliputi lamanya waktu kerja, waktu istirahat, shift kerja, sistem kerja
dan sebagainya.
27
3. Lingkungan Kerja
Lingkungan kerja dapat memberikan beban tambahan yang meliputi,
lingkungan kerja fisik, lingkungan kerja kimiawi, lingkungan kerja
biologis, dan lingkungan kerja psikologis.
Marhaendra (2022) mengungkapkan bahwa indikator beban kerja meliputi:
1. Beban Kerja Fisik
Pekerjaan yang memerlukan penggunaan bagian tubuh tertentu atau
seluruh tubuh disebut dengan beban kerja fisik.
2. Beban Kerja Mental
Mental beban kerja mental sering diistilahkan dengan “white collar”
yang merupakan pekerjaan yang telah di tentukan berlangsung dalam
periode waktu tertentu. Beban kerja mental bisanya berkaitan dengan
ketegangan (stress) dan kelelahan secara umum digambarkan dengan
kelebihan beban (overload), dan kekurangan beban (underload).
3. Beban Kerja Waktu
Beban waktu muncul ketika dibutuhkan pekerja untuk menyelesaikan
pekerjaan sesuai waktu yang ditentukan. Beban waktu terdiri dari
kecepatan untuk menangani pekerjaan dan melakukan setidaknya dua
posisi secara bersamaan
Dari uraian-uraian diatas, maka daat disimpulkan yang menjadi indikator
beban kerja adalah Target yang Harus Dicapai, Kondisi Pekerjaan, Penggunaan
28
Waktu dan Standar Pekerjaan Menurut Putra (2012) yang semuanya bisa di dorong
dari berbagai pendidikan formal maupun non formal.
2.1.3 Lingkungan Kerja
[Link] Pengertian Lingkungan Kerja
Lingkungan kerja merupakan suatu bagian komponen yang sangat penting
bagi karyawan melakukan aktivitas kerja. Dengan memperhatikan lingkungan kerja
yang baik atau menciptakan kondisi kerja yang mampu memberikan motivasi untuk
bekerja. Maka daripada itu lingkungan kerja menjadi salah satu faktor penting yang
harus diperhatikan oleh pihak perusahaan dalam upaya meningkatkan kinerja dan
kenyamanan bagi karyawannya.
Lingkungan kerja dalam suatu perusahaan sangat penting untuk
diperhatikan manajemen. Meskipun lingkungan kerja tidak melaksanakan proses
produksi dalam suatu perusahaan, namun lingkungan kerja mempunyai pengaruh
langsung terhadap para karyawan yang melaksanakan proses produksi tersebut.
Lingkungan kerja adalah suasana dimana karyawan melakukan aktivitas
setiapharinya. Lingkungan kerja yang kondusif memberikan rasa aman dan
memungkinkan karyawan untuk dapat bekerja optimal.
Menurut Kasmir (2020) lingkungan kerja adalah suasana atau keadaan di
sekitar tempat kerja, yang dapat berupa ruangan, denah, sarana dan prasarana, serta
hubungan kerja dengan rekan kerja.
29
Lingkungan kerja menurut Sutrisno (2020) adalah keseluruhan sarana dan
prasarana kerja yang ada di sekitar karyawan yang sedang melakukan pekerjaan
yang dapat memengaruhi pelakasanaan pekerjaan.
Menurut Afandi (2018) lingkungan kerja adalah sesuatu yang ada di
lingkungan para pekerja yang dapat mempengaruhi dirinya dalam menjalankan
tugas seperti temperatur, kelembapan, pentilasi, penerangan, kegaduhan kebersihan
tempat kerja, dan memadai tidaknya alat-alatperlengkapan kerja.
Berdasarkan beberapa pendapat para ahli di atas, maka penulis dapat
menyimpulkan bahwa lingkungan kerja adalah segala sesuatu yang ada di sekitar
karyawan baik itu secara fisik maupun non fisik yang dapat mempengaruhi tugas
yang diberikan kepada karyawan.
[Link] Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Lingkungan Kerja
Menurut Sedarmayanti (2017) faktor-faktor yang mempengaruhi
lingkungan kerja yaitu, sebegai berikut:
1 Penerangan atau Cahaya
Pencahayaan atau penerangan sangat penting untuk diperhatikan karena
dengan adanya penerangan yang cukup dapat membantu karyawan
dalam menyelesaikan tugasnya.
2 Temperatur
Suhu diruang kerja perlu diatur karena suhu yang berlebihan akan
menyebabkan suhu tubuh dapat berubah dan tidak stabil.
3 Sirkulasi
30
Udara Sirkulasi udara yang baik adalah memberikan ventilasi udara
yang cukup untuk memperlancar pertukaran udara yang masuk kedalam
ruang kerja.
4 Kebisingan
Kebisingan di tempat kerja dapat mempengaruhi karyawan sehingga
tidak dapat berkonsentrasi saat bekerja karena kebisingan dapat
mengganggu pendengaran karyawan sehingga membuat karyawan
merasa tidak nyaman pada saat bekerja.
5 Keamanan
Keamanan di tempat kerja sangatlah penting karena dengan adanya
keamanan karyawan merasa terjamin keselamatannya pada saat
bekerja.
[Link] Jenis-jenis Lingkungan Kerja
Menurut Sedarmayanti (2018:26) jenis lingkungan kerja terbagi menjadi 2
yakni, lingkungan kerja fisik dan lingkungan kerja non fisik
1. Lingkungan kerja fisik
Lingkungan kerja fisik adalah semua keadaan berbentuk fisik yang
terdapat di sekitar tempat kerja yang dapat mempengaruhi karyawan baik
secara langsung maupun secara tidak langsung. Lingkungan kerja fisik
dapat dibagi dalam dua kategori, yakni:
a. Lingkungan yang langsung berhubungan dengan karyawan, seperti:
pusat kerja, kursi, meja, dan sebagainnya.
31
b. Lingkungan perantara atau lingkungan umum dapat juga di sebut
lingkungan kerja yang mempengaruhi kondisi manusia, misalnya:
temperature, kelembapan, sirkulasi udara, pencahayaan, kebisingan,
getaran mekanis, bau tidak sedap, warna dan lain-lain. Untuk dapat
memperkecil pengaruh lingkungan fisik terhadap karyawan maka
langkah pertama adalah harus mempelajari manusia, baik mengenai
fisik dan tingkah lakunya maupun mengenai fisiknya, kemudian
digunakan sebagai dasar memikirkan lingkungan fisik yang sesuai.
2. Lingkungan kerja non fisik
Lingkungan kerja non fisik adalah semua keadaan yang terjadi yang
berkaitan dengan hubungan kerja, baik hubungan dengan atasan
maupun hubungan dengan sesama rekan.
[Link] Indikator Lingkungan Kerja
Menurut Purnami, dkk., (2019) merumuskan bahwa terdapat beberapa
indikator lingkungan kerja, diantaranya sebagai berikut:
1. Cahaya di tempat kerja
cahaya yang kurang jelas dapat menghambat pekerjaan sehingga
pekerjaan menjadi kurang efisien.
2. Keadaan udara di tempat kerja
Rasa sejuk selama bekerja akan membantu mempercepat pemulihan
tubuh akibat lelah setelah bekerja.
3. Fasilitas kerja
32
Merupakan segala sesuatu dalam bentuk sarana dan prasarana yang
terdapat di dalam perusahaan yang dapat digunakan dan dinikmati oleh
karyawan.
4. Hubungan dengan rekan kerja
Rekan kerja yang baik akan mendorong individu untuk bekerja lebih
baik dan bersikap positif serta mempunyai kepuasan dalam bekerja.
5. Keamanan di tempat kerja
Perusahaan dapat memanfaatkan petugas keamanan serta dengan
menggunakan kamera rekam disekitar lingkungan kerja.
Herlambang dan Haryono (2022) mengemukakan indikator dari lingkungan
kerja ini antara lain:
1. Penerangan
Penerangan atau cahaya di dalam ruangan haruslah baik agar dapat
menunjang produktivitas karyawan dalam bekerja.
2. Pewarnaan
Pemilihan warna juga dapat membutuhkan ketenangan agar dapat
berpengaruh dalam lingkungan kerja, karena warna merupakan unsur
yang bisa meransang perasaan manusia.
3. Suara
Karyawan dalam bekerja tentu membutuhkan ketenangan agar dapat
berkonsentrasi kerja, jika terdapat suara atau suasana bising tentu akan
menganggu karyawan pada saat bekerja.
4. Tata ruang
33
Tata ruang haruslah diatur dengan baik mungkin agar tidak
menimbulkan gangguan kepda karyawan.
5. Suhu udara
Srikulasi udara di area kerja haruslah diatur dengan sebaik mungkin
agar tidak menimbulkan gangguan kepada karyawan.
6. Kebersihan
Kebersihan dari seluruh ruangan kerja termasuk alat kerja dan fasilitas
lainnya seperti kamar mandi juga harus dijaga dengan baik agar
menimalisir timbulnya kuman penyakit serta membuat karyawan
dilingkungan kerja.
7. Keamanan
Keamanan dilingkungan kerja ataupun pada saat bekerja merupakan hal
yang sangat penting, maka dari itu perusahaan haruslah memenuhi
standarstandar keselamatan atau keamanan dilingkungan kerja agar
karyawan tenang pada saat bekerja.
Indikator lingkungan kerja Menurut Nabawi (2019) adalah sebagai berikut:
1. Penerangan
Penerangan merupakan faktor yang sangat penting dalam suatu kantor
karena dapat memperlancar pekerjaan dikantor, apalagi seorang
karyawan yang pekerjaanya berkaitan dengan ketatabukuan maka
tulisan harus terlihat jelas tanpa terlindungi oleh bayangan
2. Kebersihan
34
Lingkungan kerja harus bersih dan bebas dari bau tidak sedap,
lingkungan kerja yang bersih akan menimbulkan perasaan yang tenang
dalam bekerja, sehingga pegawai dapat bekerja dengan sebaik -
baiknya.
3. Suhu Udara
Manusia sebagai makhluk hidup lainnya memerlukan udara yang segar
dan nyaman. Udara yang segar dan nyaman memiliki komposisi kimia
yang baik, dengan suhu dan kelembapan yang tidak mengganggu
pernapasan dan kesegaran badan.
4. Kebisingan
Suara bising yang terdengar oleh pegawai dapat mengurangi atau
bahkan dapat menghilangkan konsentrasi pegawai, sehingga cepat
mendatangkan kelelahan, kekesalan, dan akan mengakibatkan turunya
hasil kerja atau efektivitas kerja.
5. Keamanan
Hal yang termasuk dalam keamanan atas barang – barang yang menjadi
milik pegawai pada saat pegawai tersebut berada dalam lingkungan
kantor.
2.1.4 Kinerja Pegawai
[Link] Pengertian Kinerja
Setiap manusia mempunyai potensi untuk bertindak dalam berbagai bentuk
aktivitas. Kemampuan bertindak itu dapat diperoleh manusia baik secara alami (ada
sejak lahir) atau dipelajari. Walaupun manusia mempunyai potensi untuk
35
berperilaku tertentu tetapi perilaku itu hanya diaktualisasi pada saat-saat tertentu
saja. Setiap perusahaan ingin karyawannya memiliki kemampuan menghasilkan
suatu kinerja yang tinggi. Hal ini sangat sulit dicapai apabila karyawan yang bekerja
didalamnya merupakan orang-orang yang tidak produktif. Perusahaan kadang kala
tidak memiliki kemampuan untuk membedakan mana karyawan yang produktif
atau mana karyawan yang tidak produktif.
Setiap perusahaan memiliki tujuan yang akan digapai. Salah satu upaya
yang dapat dilakukan untuk menggapai tujuan tersebut adalah meningkatkan
kinerja pegawai. Menurut Abdullah (2014), kinerja merupakan merupakan hasil
dari implementasi rencana kerja yang telah ditetapkan oleh organisasi untuk
mencapai tujuan. Pendapat lain dikemukakan oleh Rahadi (2010) yang menyatakan
bahwa kinerja merupakan performa seseorang dalam melaksanakan pekerjaannya
sesuai dengan standar yang ditetapkan.
Pendapat tersebut mengerucut pada kinerja sebagai hasil dari upaya
seseorang untuk melakukan aktivitas yang telah direncanakan guna meraih suatu
tujuan. Perencanaan dapat dibuat oleh pimpinan dan pegawai yang bersangkutan
sebagai acuan untuk melaksanakan pekerjaan, sehingga memiliki arah yang jelas.
Perencanaan yang terukur akan menciptakan kinerja yang maksimal. Perencanaan
dan pencapaian kinerja harus dievaluasi secara berkala, oleh karena itu perlu
dilakukan penilaian kinerja.
Penilaian kinerja pegawai berperan penting dalam upaya perbaikan kinerja
yang lebih baik di suatu organisasi. Penilaian kinerja harus dilakukan dengan
36
obyektif, sehingga dapat bermanfaat bagi pegawai yang bersangkutan maupun
organisasinya. Penilaian kinerja dapat dilakukan oleh unit organisasi yang
mengelola SDM ataupun oleh atasan langsung dari pegawai yang bersangkutan.
Penilaian kinerja pegawai memerlukan suatu standar minimal, sehingga dapat
dijadikan sebagai tolak ukur keberhasilan.
Syafri dan Alwi (2014) mengemukakan beberapa aspek dalam melakukan
penilaian kinerja pegawai, yaitu isi penilaian, proses penilaian, penentuan penilai,
penentuan pegawai yang dinilai, dan karakteristik administratif. Penilaian yang
tepat dapat digunakan untuk mengevaluasi kinerja pegawai, sehingga dapat segera
dilakukan perbaikan jika ditemukan kinerja pegawai yang tidak maksimal.
Kinerja adalah hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau kelompok
orang dalam suatu perusahaan sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab
masing-masing dalam upaya pencapaian tujuan organisasi secara ilegal, tidak
melanggar hukum dan tidak bertentangan dengan moral dan etika Afandi (2018:83).
Menurut Sutrisno et al., (2017:145), kinerja perawat merupakan ukuran
keberhasilan dalam mencapai tujuan pelayanan keperawatan. Beberapa faktor-
faktor yang mempengaruhi kinerja, yaitu: karyawan (kemampuan dan pengalaman
sebelumnya), praktik sumber daya manusia, dan lingkungan kerja Aguinis (2013:
80). Bagaimana organisasi menghargai dan memperlakukan sumber daya manusia
akan memengaruhi sikap dan perilakunya dalam menjalankan kinerja Wibowo
(2014: 3).
37
Disintesiskan kinerja adalah hasil kerja yang dapat dicapai seorang pegawai
di organisasi tertentu sesuai wewenang dan tanggung jawabnya dalam periode
waktu tertentu dan dinilai oleh atasan langsung dalam upaya pencapaian tujuan
organisasi, yang tercermin dari dimensi: target, kualitas, waktu penyelesaian, dan
taat asas; dengan indikator: hasil kerja, kemampuan, efektif, efisien, kecepatan,
ketepatan, kepatuhan, dan tanggung jawab.
Kinerja dapat juga berarti hasil suatu proses pelaksanaan kerja yang telah
direncanakan, menyangkut waktu, tempat, pelaksana atau karyawan dari suatu
institusi Mangkunegara (2007). Kinerja keperawatan adalah prestasi kerja yang
ditunjukkan oleh perawat pelaksana dalam melaksanakan tugas-tugas asuhan
keperawatan sehingga menghasilkan output yang baik kepada costumer (organisasi,
klien,perawat sendiri) dalam kurun waktu tertentu. Tanda-tanda kinerja perawat
yang baik adalah tingkat kepuasan klien dari perawat tinggi, zero compiain dari
pelanggan Kuraiadi A (2013).
Wibowo, (2007:7) menerangkan bahwa Kinerja merupakan hasil pekerjaan
yang mempunyai hubungan kuat dengan tujuan strategi organisasi, kepuasan
konsumen, dan memberikan kontribusi pada ekonomi. Dengan demikian kinerja
adalah tentang melakukan pekerjaan dan hasil yang dicapai dari pekerjaan tersebut.
Kinerja adalah tentang apa yang dikerjakan dan bagaimana cara mengerjakan.
Kemudian Prawiro suntoro (2006: 121) mengemukakan bahwa kinerja adalah hasil
kerja yang dapat dicapai seseorang atau sekelompok orang dalam suatu organisasi
dalam rangka mencapai tujuan organisasi dalam periode waktu tertentu.
38
Menurut Wibowo (2016) Kesenjangan kinerja merupakan perbedaan antara
keadaan kinerja sekarang dan bagaimana wujud yang diinginkan diwaktu yang akan
datang, dan hal tersebut menyangkut orang dalam berbagai bentuk. Masalahnya
kebanyakan adalah pada kesenjangan fundamental pada kinerja seseorang.
Kesenjangan kinerja juga dapat berupa peluang untuk pengembangan dimasa
depan. Perbedaan terjadi antara kinerja yang diharapkan dengan kenyataan
merupakan kesenjangan kinerja. Umpan balik yang diperoleh dari evaluasi kinerja
dapat dijadikan landasan untuk melakukan perbaikan kinerja yang akan datang.
Kinerja karyawan dapat dinilai atau diukur dengan beberapa indikator yaitu
efektifitas, tanggung jawab, disiplin dan inisiatif.
[Link] Karateristik Kinerja
Menurut Mangkunegara (2017), karakteristik kinerja seseorang memiliki
kinerja tinggi diantaranya yaitu: yang
1. Berani mengambil dan menanggung risiko yang dihadapi
2. Memiliki tujuan yang realitis
3. Memiliki tanggung jawab pribadi tinggi
4. Memiliki rencana kerja yang menyeluruh dan berjuang untuk
merealisasikantujuannya
5. Memanfaatkan umpan balik yang konkrit dalam seluruh kegiatan kerja
yang dilakukan
6. Mencari kesempatan untuk merealisasikan rencana yang telah diprogram
39
[Link] Faktor yang mempengaruhi Kinerja
Menurut Mangkunegara dalam Maryudanto, (2020) faktor-faktor yang
mempengaruhi kinerja adalah:
1. Faktor Kemampuan (Ability)
Secara psikologis kemampuan (ability) dan kemampuan reality
(knowledge dan skill) artinya karyawan dengan IQ di atas rata-rata (110-
120) dengan pendidikan yang memadai untuk jabatannya dan terampil
dalam mengerjakan pekerjaan sehari-hari, maka akan lebih mudah
mencapai kinerja diharapkan. Oleh karena itu karyawan perlu
ditempatkan pada pekerjaan yang sesuai dengan keahliannya.
2. Faktor Motivasi
Motivasi berbentuk sikap (attitude) seorang karyawan dalam
menghadapi situasi kerja. Motivasi merupakan kondisi yang
menggerakkan diri karyawan terarah untuk mencapai tujuan kerja.
Menurut Mahmudi dalam Afni (2019) bahwa kinerja merupakan suatu
konstruk multidimensional yang mencakup banyak faktor yang
mempengaruhinya.
[Link] Indikator Kinerja
Indikator kinerja pegawai Menurut Asep Sumarsana (2022) menyatakan
bahwa indikator dari kinerja pegawai antara lain:
1. Kualitas Kerja
Menunjukkan, kerapian, ketelitian, keterkaitan hasil kerja dengan tidak
mengabaikan volume pekerjaan. Kualitas kerja yang baik dapat
40
menghindari tingkat kesalahan dalam penyelesaian suatu pekerjaan yang
dapat bermanfaat bagi kemajuan perusahaan.
2. Kuantitas Kerja
Menunjukan banyaknya jumlah jenis pekerjaan yang dilakukan dalam satu
waktu sehingga efisien dan efektivitas dapat terlaksana sesuai dengan
tujuan perusahaan.
3. Tanggung Jawab
Menunjukan seberapa besar karyawan dalam menerima dan melaksanakan
pekerjaannya, mempertanggung jawabkan hasil kerja serta sarana dan
prasarana yang digunakan dan perilaku kerjanya setiap hari.
4. Kerja Sama Kesediaan
pegawai untuk berpartisipasi dengan pegawai lain secara vertical baik di
dalam maupun di luar pekerjaan sehingga hasil pekerjaan akan semakin
baik.
5. Inisiatif
Insiatif dari dalam diri anggota perusahaan untuk melakukan pekerjaan
serta mengatasi masalah dalam pekerjaan tanpa menunggu perintah dari
atasan atau menunjukan tanggung jawab dalam pekerjaan yang sudah
kewajiban seorang karyawan
Menurut Sedarmayanti (2010:263) Beberapa indikator kinerja karyawan
yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Prestasi kerja
41
Yaitu kemampuan yang dimiliki karyawan dalam penyelesaian tugas
yang telah ditargetkan.
2. Tanggung jawab
Yaitu karyawan memiliki rasa tanggung jawab untuk menyelesaikan
tugasnya dengan baik.
3. Kejujuran
Yaitu penyampaian sesuatu yang sesuai dengan keadaan yang
sebenarnya.
4. Kerja sama
Yaitu kemampuan karyawan dalam bekerja sama dengan rekan
sekerjanya.
5. Inisiatif
Yaitu kemampuan karyawan dalam menyelesaikan tugas dan pekerjaan
serta mampu mengambil keputusan dalam keadaan mendesak.
6. Kecepatan dan ketepatan kerja
Yaitu seberapa cepat karyawan mampu menyelesaikan pekerjaan rutin
tanpa mengurangi kualitas kerja sesuai dengan waktu yang sditetapkan
sebelumnya.
7. Tingkat kesalahan kerja
Yaitu kemampuan karyawan dalam menyelesaikan pekerjaan dengan
baik tanpa adanya kesalahan
Penelitian Hayati (2018) menyebutkan bahwa indikator kinerja pegawai
adalah;
42
1. Tujuan, yaitu keadaan yang lebih baik yang ingin dicapai dimasa
mendatang.
2. Standar, yaitu sebuah ukuran apakah tujuan yang diinginkan dapat
dicapai.
3. Umpan balik, masukan yang dipergunakan untuk mengukur kemajuan
kinerja, standar kinerja.
4. Alat atau sarana, faktor penunjang untuk pencapaian tujuan.
5. Kompetensi, kemampuan yang dimiliki seseorang untuk menjelaskan
pekerjaan yang diberikan kepadanya.
6. Motivasi, yaitu sebuah alasan yang mendorong bagi pegawai untuk
melakukan sesuatu pekerjaan.
7. Peluang, pekerja perlu mendapat kesempatan untuk menunjukkan
prestasi kerjanya.
2.2 Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu merupakan hasil-hasil penelitian terdahulu yang
memberikan informasi terkait dengan metode penelitian, hasil dan pembahasan
yang digunakan sebagai dasar perbandingan dengan penelitian yang dilakukan.
Penelitian terdahulu dari penelitian ini sebagai berikut:
1. Jurnal penelitian yang ditulis oleh Adam Ramadhan dan Agus Halim (2023)
dengan judul “Pengaruh Beban Kerja dan Lingkungan Kerja Terhadap
Kinerja Pegawai pada Puskesmas Desa Tabulahan Kecamatan Tabulahan
Kabupaten Mamasa.” Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh
variabel beban kerja dan Lingkungan Kerja terhadap kinerja pegawai pada
43
Puskesmas Tabulahan Kecamatan Tabulahan Kabupaten Mamasa. Metode
penelitian yang digunakan yakni dengan menggunakan metode kuantitatif
dengan data primer yang menggunakan kuesioner. Responden dalam
penelitian seluruh pegawai yang bekerja pada Kantor Kecamatan Kalukku,
sampel yang digunakan dengan teknik Nonprobability Sampling dengan
jumlah sampel 37 responden. Rumus yang dalam penelitian ini
menggunakan regresi linear berganda, uji validitas, uji reliabilitas, regresi
linear berganda, uji t, dan uji f. Hasil dalam penelitian ini menunjukkan
beban kerja dan Lingkungan Kerja berpengaruh secara parsial dan
signifikan terhadap Kinerja pegawai pada Puskesmas Tabulahan Kabupaten
Mamasa. Beban kerja dan Lingkungan Kerja berpengaruh secara simultan
dan signifikan terhadap kinerja pegawai pada Puskesmas Tabulahan
Kabupaten Mamasa.
2. Jurnal Penelitian yang ditulis oleh Damianus A.Y. Wewengkang et al.,
(2021) dengan judul “Pengaruh beban kerja, insentif, dan lingkungan kerja
terhadap kinerja pegawai di tengah pandemi COVID-19 di UPTD RS
Manembo-Nembo Tipe-C Bitung”. penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui Pengaruh Beban Kerja, Insentif, Lingkungan Kerja terhadap
Kinerja Pegawai di-tengah Pandemi COVID-19 di UPTD Manembo-
Nembo Tipe-C Bitung. Penelitian ini merupakan penelitian asosiatif kausal
dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Penelitian ini menggunakan
teknik analisis Regresi Linear Berganda. Data yang digunakan dalam
penelitian ini adalah data primer dan sekunder. Pengumpulan data pada
44
penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara, teknik
penyebaran kuesioner dan teknik kepustakaan. Hasil penelitian menunjukan
bahwa variabel beban kerja berpengaruh positif tidak signifikan terhadap
kinerja pegawai, variabel insentif berpengaruh positif tidak signifikan
terhadap kinerja pegawai, dan variabel lingkungan kerja berpengaruh positif
signifikan terhadap kinerja pegawai. Saran bagi UPTD RS Manembo-
Nembo Tipe-C Bitung, hendaknya dapat memperhatikan pembenahan
banyak jenis pekerjaan pegawai yang harus dilakukan demi keselamatan
pasien, serta peningkatan penghargaan untuk pegawai terhadap hasil
pekerjaannya dan dengan peningkatan fasilitas yang lama walau tak baru
dan lengkap.
3. Jurnal penelitian yang ditulis oleh Emalia Ariska et al., (2024) dengan judul
“Pengaruh Lingkungan Kerja dan Kepuasan Kerja terhadap Kinerja
Pegawai RSU BMC Bireuen”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
pengaruh lingkungan kerja dan kepuasan kerja terhadap kinerja pegawai
RSU BMC Bireuen. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 75 orang
pegawai di RSU BMC Bireuen. Metode yang digunakan dalam penelitian
ini adalah metode deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menyatakan bahwa
lingkungan kerja dan kepuasan kerja berpengaruh terhadap kinerja pegawai
Dinas Kesehatan Kabupaten Labuhanbatu. Hasil penelitian ini menyatakan
bahwa variabel lingkungan kerja berpengaruh positif dan signifikan
terhadap kinerja pegawai dengan nilai koefisien jalur t-statistik sebesar
6,934 > 1,658 dan memiliki nilai signifikan sebesar 0,000 < 0,05 dan
45
variabel Kepuasan Kerja berpengaruh signifikan terhadap Kinerja Pegawai
Dinas Kesehatan Kabupaten Labuhanbatu. Hal ini terlihat dari nilai
koefisien jalur t-statistik sebesar 1,893 > 1,658 dan memiliki nilai signifikan
sebesar 0,058 < 0,05. Dengan demikian hasil pengujian hipotesis kedua
menunjukkan bahwa variabel lingkungan kerja berpengaruh positif dan
signifikan terhadap kinerja pegawai dengan nilai koefisien jalur t-statistik
sebesar 6,934 > 1,658 dan memiliki nilai signifikan sebesar 0,000 < 0,05.
hipotesis dalam penelitian ini ditolak.
4. Jurnal penelitian yang ditulis oleh Putri Septia Anggraini et al., (2025)
dengan judul “Pengaruh Penerapan Sistem Kerja Shift dan Lingkungan
Kerja Terhadap Kinerja Karyawan pada Rumah Sakit Sri Pamela
Torgamba”. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui dan
menganalisis pengaruh penerapan sistem kerja shift terhadap kinerja
karyawan pada Rumah Sakit Sri Pamela Torgamba, untuk mengetahui dan
menganalisis pengaruh lingkungan kerja terhadap kinerja karyawan pada
Rumah Sakit Sri Pamela Torgamba, untuk mengetahui dan menganalisis
pengaruh penerapan sistem kerja shift dan lingkungan kerja terhadap kinerja
karyawan pada Rumah Sakit Sri Pamela Torgamba. Populasi dalam
penelitian ini adalah seluruh karyawan Rumah Sakit Sri Pamela Torgamba
yaitu berjumlah 71 orang karyawan dan penarikan sampel dilakukan dengan
total sampling sehingga 71 orang responden dijadikan sampel. Berdasarkan
hasil penelitian diketahui bahwa variabel shift kerja berpengaruh positif dan
signifikan terhadap kinerja, variabel lingkungan kerja berpengaruh positif
46
dan signifikan terhadap kinerja. Shift kerja dan lingkungan berpengaruh
positif dan signifikan terhadap kinerja.
5. Jurnal penelitian yang ditulis oleh Dini Amalia dan Intan Permata Sari
(2021) dengan judul “Pengaruh Work Of Life Balance dan Lingkungan
Kerja Terhadap Kepuasan Kerja Pada Perawat Rumah Sakit Hermina
Wilayah Jakarta Timur.” Penelitian ini bertujuan untuk menguji apakah
terdapat pengaruh dari Work Of Life Balance dan Lingkungan Kerja
Terhadap Kepuasan Kerja pada Perawat Rawat Inap Rumah Sakit Hermina
di Wilayah Jakarta Timur. Penelitian ini didasari oleh beberapa teori yang
mendukung penelitian, yang berhubungan dengan Work Of Life Balance,
Lingkungan Kerja dan Kepuasan Kerja. Penelitian ini menggunakan data
primer dengan menyebarkan kuesioner kepada 50 responden yang diambil
dengan teknik sampel jenuh, artinya semua populasi dijadikan sebagai
sampel. Setelah pengumpulan data selesai maka langsung dilakukan
pengolahan data penelitian dengan melakukan pengujian hipotesis
menggunakan analisis linear berganda untuk mengetahui hasil dari
hubungan variabel yang diteliti dengan menggunakan program SPSS 25.
6. Jurnal penelitian yang ditulis oleh Sri Ramlah et al., (2025) dengan judul
“Pengaruh Motivasi Kerja, Beban Kerja dan Lingkungan Kerja Terhadap
Kinerja Perawat (Studi Empisri Pada RS PKU Muhammdiyah Gombong)”.
Penelitian ini bertujuan untuk menguji dan menganalisis pengaruh motivasi
kerja, beban kerja, dan lingkungan kerja terhadap kinerja perawat (Studi
Empiris di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Gombong). Metode
47
penelitian yang digunakan adalah kuantitatif, dengan sampel penelitian
terdiri dari perawat yang bekerja di RS PKU Muhammadiyah Gombong,
sebanyak 50 perawat. Sampel penelitian diambil dengan menggunakan
metode proporsional random sampling. Teknik analisis data yang digunakan
adalah Regresi Linier Berganda dengan software SS25. Hasil yang
diperoleh dalam penelitian ini menunjukkan bahwa motivasi kerja
mempunyai pengaruh positif, sedangkan beban kerja dan lingkungan kerja
mempunyai pengaruh negatif terhadap kinerja perawat di RS PKU
Muhammadiyah Gombong. Motivasi kerja mempunyai pengaruh positif
terhadap peningkatan kinerja perawat di RS PKU Muhammadiyah
Gombong. Beban kerja mempunyai pengaruh negatif terhadap kinerja
perawat di RS PKU Muhammadiyah Gombong, dan lingkungan kerja juga
berpengaruh negatif terhadap kinerja perawat di RS PKU Muhammadiyah
Gombong.
7. Jurnal penelitian yang ditulis oleh Apridani et al., (2021) dengan judul
“Pengaruh kompetensi, lingkungan kerja dan motivasi terhadap kinerja
pegawai pada Puskesmas Kecamatan Tanah Siang”. T ujuan Penelitian ini
adalah untuk mengukur dan menganalisis pengaruh kompetensi, lingkungan
kerja, dan motivasi terhadap kinerja pegawai pada Puskesmas Terakreditasi
di Konut Kecamatan Tanah Siang Kabupaten Murung Raya. Sampel
penelitian sebanyak 41 responden yang merupakan pegawai di Puskesmas
Terakreditasi Kecamatan Tanah Siang Kabupaten Murung Raya. Sumber
data berupa primer dan sekunder yang dikumpulkan dengan cara observasi,
48
studi kepustakaan (dokumentasi), dan penyebaran kuesioner. Data dianalisis
menggunakan metode SEM (structure equation model) berbasis PLS
(partial least square). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kompetensi
(X1) berpengaruh signifikan terhadap kinerja (Y) (P-Value0,001< 0,05),
lingkungan kerja (X2) berpengaruh signifikan terhadap kinerja (Y) (P-
Value0,026 < 0,05), dan motivasi (X3) memiliki pengaruh yang signifikan
terhadap kinerja (Y) (P-Value 0,000 < 0,05).
8. Jurnal Penelitian yang ditulis oleh Abdul Rahman La Ede (2022) dengan
judul “Pengaruh Beban Kerja, Stres Kerja dan Kepuasan Kerja Terhadap
Pendokumentasian Keperawatan di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit
Setukpa Polri Sukabumi”. Tujuan penelitian mengetahui pengaruh beban
kerja, stres kerja dan kepuasan kerja terhadap pendokumentasian
keperawatan. Jenis penelitian korelasional dengan pendekatan cross
sectional. Populasi adalah 82 orang dan sampel 73 responden. Teknik
sampling menggunakan Propotional Random Sampling. Instrumen
menggunakan Nasa- TLX, DASS, MSQ dan SAK RS. Pengambilan data
menggunakan kuisioner dan analisis statistik menggunakan regresi linier
sederhana dan regresi linier berganda. Analisis bivariat menunjukkan
terdapat pengaruh secara parsial beban kerja terhadap pendokumentasian
keperatawan (p=0,000), stres kerja terhadap pendokumentasian
keperawatan (p=0,000), dan kepuasan kerja terhadap pendokumentasian
keperawatan (p=0,000). Hasil Multivariat menunjukkan terdapat pengaruh
simultan beban kerja, stres kerja, dan kepuasan kerja terhadap
49
pendokumentasian keperawatan (p=0,000). Terdapat pengaruh stres kerja,
beban kerja dan kepuasan kerja terhadap pendokumentasian keperawatan.
Diharapkan pihak rumah sakit bisa meningkatkan kepuasan kerja dan
mengurangi stress dan beban kerja untuk meningkatkan pendokumentasian
asuha keperawatan.
2.3. Hubungan Antar Variabel
2.3.1 Hubungan Antara Beban Kerja Terhadap Kinerja
Menurut Lisnayetti dan Hasanbasri (2006), adanya keterkaitan hubungan
antara Beban Kerja terhadap Kinerja Karyawan sebagai berikut: “Beban kerja
tinggi akan menyebabkan kurangnya kinerja”. Dimana dapat dijelaskan bahwa
semakin tinggi beban kerja yang diterima seorang karyawan akan mempengaruhi
kinerja dari karyawan tersebut”.
Menurut Koesomowidjojo (2017;19), adanya keterkaitan hubungan antara
Beban Kerja terhadap Kinerja Karyawan sebagai berikut apabila meningkatnya
kelelahan pekerja dalam menyelesaikan pekerjaannya yang tidak sesuai dengan
kemampuan fisik dan mentalnya maka dapat menyebabkan berkurangnya kapasitas
kerja dan ketahanan tubuh sehingga akan berdampak pada menurunnya kinerja
karyawan. Karyawan seringkali dihadapkan pada keharusan untuk menyelesaikan
dua atau lebih tugas yang harus dikerjakan secara bersamaan. Tugas-tugas tersebut
tentunya membutuhkan waktu, tenaga, dan sumber daya lainnya untuk
penyelesaiannya. Adanya beban dengan penyediaan sumber daya yang seringkalı
terbatas tentunya akan menyebabkan kinerja karyawan menurun.
50
Berdasarkan penelitian dari Tjibrata, Lumanaw dan Dotulang O.H (2017)
yang berjudul Pengaruh beban kerja dan Lingkungan Kerja terhadap Kinerja
Karyawan (studipada PT. Sabar Ganda Manado) dalam penelitian tersebut ada
pengaruh secara parsial antara beban kerja terhadap kinerja karyawan PT. Sabar
Ganda Manado.
Dalam penelitian lain yang dilakukan oleh Ahmad, Tewal dan Taroreh
(2019) yang berjudul Pengaruh Stres Kerja, beban Kerja dan Lingkungan Kerja
Terhadap Kinerja Karyawan (studi kasus pada PT. Fif Group Manado) dalam
penelitian tersebut menyatakan bahwa secara parsial beban kerja tidak berpengaruh
positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan PT. Fif Group Manado.
2.3.2 Hubungan Antara Lingkungan Kerja Terhadap Kinerja
Lingkungan kerja dan kinerja memiliki hubungan yang sangat erat.
Lingkungan kerja yang baik dapat mempengaruhi kinerja pegawai secara positif.
Kondist lingkungan kerja yang nyaman, teratur, dan bersih dapat meningkatkan
kenyamanan serta produktivitas pegawai, selain itu penyediaan sumber daya yang
cukup seperti teknologi yang mutakhir, pelatihan, dan fasilitas pendukung lainnya
akan memudahkan pegawai dalam menjalankan tugasnya. Dengan memperhatikan
aspek-aspek tersebut, organisasi dapat menciptakan lingkungan kerja yang
mendukung dan membangun kinerja yang lebih baik dari karyawan mereka
Penelitian yang dilakukan oleh Rona Fil Jannah (2021) mengungkapkan
bahwa lingkungan kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja
karyawan di Perumda Air Minum Tirta Dhaha Kota Kediri Pengaruh yang
signifikan antara lingkungan kerja terhadap kinerja karyawan mengartikan bahwa
51
semakin baik kondisi lingkungan kerja dalam suatu organisasi, maka semakin tinggi
pula dampaknya terhadap kinerja karyawan.
2.3.3 Hubungan Antara Beban Kerja dan Lingkungan Kerja Terhadap
Kinerja
Beban kerja yang melebihi kemampuan karyawan dapat membuat mereka
merasa tidak mampu menyelesaikan pekerjaannya, sehingga hal itu dapat
menyebabkan kinerja karyawan akan menurun. Di sisi lain, lingkungan kerja yang
kurang kondusif akan membuat karyawan tidak mampu menyelesaikan
pekerjaannya dengan baik, sehingga kondisi itu dapat mengakibatkan menurunnya
kinerja karyawan. Kondisi tersebut didasarkan pada hasil penelitian oleh
Hastutiningsih (2018) yang menyatakan bahwa beban kerja dan lingkungan kerja
memiliki pengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan secara simultan.
Berdasarkan penelitian dari Tjibrata, Lumanaw dan Dotulang O.H (2017)
yang berjudul Pengaruh beban kerja dan Lingkungan Kerja terhadap Kinerja
Karyawan (studipada PT. Sabar Ganda Manado) dalam penelitian tersebut secara
simultan terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel beban kerja dan
lingkungan kerja terhadap kinerja karyawan PT. Sabar Ganda Manado. Dalam
penelitian lain yang dilakukan oleh Ahmad, Tewal dan Taroreh (2019) yang
berjudul Pengaruh Stres Kerja, beban Kerja dan Lingkungan Kerja Terhadap
Kinerja Karyawan (studi kasus pada PT. Fif Group Manado) dalam penelitian
tersebut menyatakan bahwa secara simultan stres kerja, beban kerja, dan
lingkungan kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan PT.
Fif Group Manado.
52
2.4. Kerangka Pikir Penelitian
Menurut Sugiyono (2020) kerangaka berfikir merupakan model konseptual
tentang bagaimana teori berhubungan dengan berbagai faktor yang telah di
identifikasi sebagai masalah yang penting. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui pengaruh yang terjadi antara variabel independen yaitu beban kerja dan
lingkungan kerja variabel dependen yaitu kinerja pegawai.
Berdasarkan uraian diatas, gambaran sistematis dan menyeluruh mulai dari
latar belakang masalah, landasan teori, maka kerangka pemikiran akan tertuang
dalam suatu metode penelitian. Berikut ini dapat digambarkan kerangka pemikiran
yang dijadikan dasar pemikiran dalam penelitian ini. Kerangka tersebut merupakan
dasar pemikiran dalam melakukan analisis pada penelitian ini, maka kerangka
pemikiran penelitian ini ditunjukan oleh gambar berikut.
53
H2
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH
KABUPATEN MUNA BARAT
Pegawai RSUD
Kabupaten Muna Barat
Beban Kerja (X1)
1. Target Yang Harus H2
dicapai
2. Kondisi Pekerjaan
3. Penggunaan Waktu
4. Standar Pekerjaan Kinerja Pegawai (Y)
1. Kualitas Kerja
Budiasa (2021) 2. Kuantitas Output
3. Dapat tidaknya
Lingkungan Kerja (X2) diandalkan
1. Cahaya di tempat kerja 4. Sikap kooeratif
2. Keadaan udara
ditempat kerja
3. Fasilitas kerja Mangkunegara
4. Hubungan dengan (2002)
rekan kerja
5. Keamanan ditempat
kerja
H3
Haryono (2022)
H1
Gambar 2.1 Kerangka Berpikir
54
2.5 Hipotesis Penelitian
Menurut Hermawan (2018) Hipotesis adalah jawaban awal atas tugas
penelitian yang dirumuskan dalam bentuk pernyataan. Jawaban yang diterima
bersifat sementara karena hanya didasarkan pada teori yang relevan dan belum pada
fakta empiris yang diperoleh melalui pengumpulan data.
Hipotesis penelitian ini sebagai dugaan sementara terhadap terhadap suatu
pertanyaan penelitian. Dikatakan sementara, karena jawaban yang diberikan baru
didasarkan pada teori yang relevan, belum didasarkan pada fakta-fakta empiris yang
diperoleh melalui pengumpulan data.
Selanjutnya dari kerangka pemikiran yang dibuat, hipotesis dalam
penelitian ini yaitu sebagai berikut:
HI= Diduga beban kerja dan lingkungan kerja secara Bersama-sama
berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja pegawai pada Rumah
Sakit Umum Daerah Kabuparen Muna Barat.
H2= Diduga beban kerja tidak berpengaruh positif dan signifikan terhadap
kinerja pegawai pada Rumah Sakit Umum Daerah Kabuparen Muna Barat.
H3= Diduga lingkungan kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap
kinerja pegawai pada Rumah Sakit Umum Daerah Kabuparen Muna Barat.
55
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Rancangan Penelitian
Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif
yaitu mengungkapkan pengaruh antar variabel dan dinyatakan dalam angka serta
menjelaskannya dengan membandingkan dengan teori-teori yang telah ada dan
menggunakan teknik analisis data yang sesuai dengan variabel dalam penelitian.
Penelitian ini bertujuan menguji dan menjelaskan hubungan kausal antara Pengaruh
Beban Kerja dan Lingkungan Kerja Terhadap Kinerja pegawai Rumah Sakit Umum
Daerah Kabupaten Muna Barat.
3.2 Lokasi dan Objek Penelitian
Lokasi penelitian ini dilaksanakan di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten
Muna Barat. Dengan alamat Rumah Sakit yaitu Kompleks Perkantoran Bumpi Praja
Laworo, Desa Lombu Jaya, Kecamatan Sawerigadi.
3.3 Populasi dan Sampel Penelitian
3.3.1 Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subyek
yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti
untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya Sugiyono (2022). Populasi
dalam penelitian ini adalah seluruh Pegawai Negeri Sipil (PNS) pada Rumah Sakit
Umum Daerah Muna Barat yaitu sebanyak 89 pegawai.
56
3.3.2 Sampel
Sampel adalah wakil atau sebagian dari populasi yang memiliki sifat dan
karakteristik yang sama bersifat representatif dan menggambarkan populasi
sehingga dianggap dapat mewakili semua populasi yang diteliti (Nilawati & Fati,
2023).
Teknik yang digunakan pada penelitian ini adalah sampling jenuh, yaitu
teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel.
Maka jumlah sampel yang digunakan adalah 89 pekerja Pegawai Negeri Sipil
(PNS) pada Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Muna Barat.
3.4 Jenis dan Sumber Data
3.4.1 Jenis Data
Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Metode Penelitian
kuantitatif diartikan sebagai suatu metode penelitian yang berlandaskan filsafat
positivisme, digunakan untuk mempelajari populasi atau sampel tertentu,
mengumpulkan data dengan menggunakan alat penelitian, menganalisis data
kuantitatif/statistik, dimaksudkan untuk menguji hipotesis yang telah ditentukan
Sugiyono (2020).
3.4.2 Sumber Data
Sumber data yang digunakan dalam penelitian adalah sebagai berikut:
1. Data primer adalah informasi atau data yang diperoleh langsung dari
sumbernya, tanpa melalui interpretasi atau pengolahan sebelumnya
Sugiyono (2020). Data ini dikumpulkan oleh peneliti secara langsung
dari sumber aslinya, baik melalui observasi, wawancara, kuesioner,
57
percobaan, atau metode pengumpulan data lainnya. Keunggulan data
primer adalah bahwa informasi yang diperoleh dapat secara spesifik
sesuai dengan kebutuhan penelitian yang dilakukan dari para pegawai
Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Muna Barat.
2. Data sekunder, ini merujuk pada sumber informasi yang tidak diperoleh
secara langsung oleh peneliti dari subjek penelitian, melainkan diambil
dari sumber-sumber yang telah ada sebelumnya (Sugiyono, 2020). Data
sekunder dalam penelitian ini diperoleh dari buku, Internet, jurnal ilmiah,
laporan perusahaan, atau penelitian terdahulu yang masih relevan dengan
topik penelitian yang sedang dilakukan.
3.5 Metode Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara
Kuesioner, observasi, dokumentasi, dan Studi Kepustakaan.
1. Kuesioner
Menurut Sugiyono (2020) kuesioner merupakan teknik pengumpulan
data yang efisien bila peneliti tau dengan pasti variabel yang akan diukur
dan tahu apa yang bisa diharapkan dari responden. Kuesioner bisa berupa
pertanyaan-pertanyaan tertutup maupun terbuka, dan diberikan kepada
responden secara langsung atau dikirim melalui pos,atau internet.
Penelitian ini dilalukan dengan memberikan kuesioner kepada pegawai
Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Muna Barat sebagai sampel
penelitian.
2. Observasi
58
Observasi yaitu metode pengumpulan data yang dilakukan dengan cara
mengamati secara langsung fenomena atau objek yang sedang diteliti.
Proses ini bertujuan untuk mendapatkan informasi yang akurat dan
objektif mengenai kondisi yang terjadi di lapangan. Observasi dapat
diartikan sebagai kegiatan sistematis untuk melihat, memperhatikan, dan
mencatat gejala-gejala tertentu dalam objek penelitian.
3. Dokumentasi
Dokumentasi adalah teknik pengumpulan data yang diperoleh peneliti
berupa dokumen, gambar atau tulisan. Dalam penelitian ini dokumentasi
yang diperoleh dari Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Muna Barat
yang berkaitan dengan objek penelitian.
4. Studi Kepustakaan
Studi pustaka adalah teknik pengumpulan data dengan mengadakan studi
penelaahan pada buku-buku, jurnal ilmiah, literatur-literatur, internet,
dam sebagainya
3.6 Skala Pengukuran dan Uji Instrumen
3.6.1 Skala Pengukuran
Skala Pengukuran yang digunakan adalah skala likert (likert scale), skala
likert ini digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau
sekelompok orang tentang fenomena sosial Sugiyono (2017). Dengan skala
pengukuran, maka variabel yang diukur dengan dengan instrumen tertentu dapat
dinyatakan dalam benutk angka, sehingga lebih akurat, efisien, dan komunikatif.
Adapun skala pengukuran dalam penelitin ini menggunakan Skala Likert.
59
Menurut Sugiyono (2013) Skala Likert merupakan skala pengukuran yang
digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang tau
sekelompok orang tentang fenomena sosial. Dengan skala likert, variabel yang yang
akan diukur dijabarkan menjadi indikator variable. Kemudian indikator tersebut
dijadikan sebagai parameter untuk menyusun item- item instrumen yang dapat
berupa pertanyaan/pernyataan. Penggunaan skala Likert dalam penelitian ini adalah
dengan memberikan skor pada setiap jawaban instrumen.
Dalam hal ini, responden diminta untuk menyatakan setuju atau tidak setuju
terhadap setiap per likert menggunakan lima angka penelitian yaitu sebagai berikut:
Tabel 3.1
Skala Liket
Pertanyaan Bobot
Sangat Tidak Setuju (STS) 1
Tidak Setuju (TS) 2
Netral (N) 3
Setuju (S) 4
Sangat Setuju (SS) 5
60
3.6.2 Uji Instrumen
[Link] Uji Validitas
Validitas merupakan suatu alat ukur yang valid yang tidak hanya
memberikan hasil yang valid tetapi juga memberikan gambaran yang jelas tentang
data yang akan diteliti. Uji Validitas instrumen bertujuan untuk mengetahui
kemampuan mengukur apa yang diukur dan dapat mengungkapkan data dan
variabel-variabel yang diteliti secara konsisten. Suatu kuesioner dikatakan valid
apabila pertanyaan pada kuesioner mampu mengungkapkan sesuatu yang akan
diukur oleh kuesioner tersebut (Ghozali, 2011). Kuesioner dikatakan valid apabila
nilai Pearson Correlation > 0,30.
[Link] Uji Reabilitas
Menurut Sugiyono (2020) uji reliabilitas adalah tingkat konsistensi dan
stabilitas data atau hasil. Data yang tidak dapat diandalkan tidak dapat diolah lebih
lanjut karena akan memberikan kesimpulan yang menyesatkan. Suatu alat ukur
dikatakan reliabel apabila pengukurannya menunjukkan hasil yang konsisten dari
waktu ke waktu.
Uji reliabilitas dilakukan setelah uji validitas dan di uji merupakan
pernyataan atau pertanyaan yang sudah valid. Cronbach’s alpha yang besarnya 0,60.
Adapun kriteria pengujian sebagai berikut:
a. Jika nilai Cronbach's alpha > 0,60 maka instrumen memiliki reliabilitas
yang baik dengan kata lain instrumen dikatakan reliabel.
b. Jika nilai Cronbach's alpha < 0,60 maka instrumen yang diuji tersebut
dikatakan tidak reliabel.
61
3.7 Uji Asumsi Klasik
Uji asumsi klasik adalah pengujian yang dilakukan untuk menilai apakah
dalam model regresi terdapat masalah asumsi klasik. Hasil uji asumsi analisis
meliputi uji normalitas, uji heteroskedastisitas dan uji multikolinearitas.
3.7.1 Uji Normalitas
Menurut Ghozali (2016) Uji Normalitas bertujuan menguji apakah model
regresi variabel terikat dan variabel bebas keduuanya mempunyai distribusi normal
atau tidak. Dalam penelitian ini data terdistribusi normal dilihat dengan
menggunakan grafik normal probability plot yang membandingkan distribusi
kumulatif dari distribusi [Link] normal membentuk satu garis lurus
diagonal, dan ploting data residual akan dibandingkan dengan garis diagonal. Jika
data menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal atau
grafik histogramnya menunjukkan pola distribusi normal, maka model regresi
memenuhi asumsi normalitas. Jika data menyebar jauh dari diagonal atau tidak
mengikuti garis diagonal, maka model regresi tidak memenuhi asumsi normalitas.
3.7.2 Uji Multikolinearitas
Uji multikolinearitas dilakukan untuk menguji apakah model regresi
menentukan adanya korelasi antar variabel independen Ghozali (2018). Model
regresi yang baik sebenarnya tidak terjadi korelasi antar variabel independen. Untuk
mendeteksi ada atau tidaknya multikolinearitas dapat dilihat dari nilai Variance
Inflation Factor (VIF) dan tolerance. Suatu model regresi yang bebas
multikolinearitas adalah yang mempunyai nilai VIF < 10 dan angka tolerance > 0,1.
Jika nilai VIF > 10 dan nilai tolerance < 0,1 maka terjadi gejala multikolinearitas.
62
3.7.3 Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk mengetahui apakah model regresi
mengalami perbedaan variance dari residual antara satu pengamatan dengan
pengamatan lainnya Ghozali dan Ratmono, (2017). Pengujian ini dapat dilakukan
menggunakan metode uji Glejser. Uji Glejser merupakan pengujian hipotesis yang
bertujuan untuk mendeteksi apakah sebuah model regresi mengandung
htersokedastisitas dengan meregresi nilai absolut residual.
Dasar pengambilan keputusan dalam uji Glejser adalah sebagai berikut:
1 Jika nilai signifikansi > 0,05, maka tidak terdapat indikasi
heteroskedastisitas
2 Jika nilai signifikansi < 0,05, maka data mengindikasikan adanya
heteroskedastisitas
3.8 Metode Analisis Data dan Pengujian Hipotesis
3.8.1 Analisis Statistik Deskriptif
Analisis statistik deskriptif adalah metode analisis data yang digunakan
untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data
yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan
yang berlaku untuk umum atau generalisasi Sugiyono (2013).
3.8.2 Metode Analisis Regresi Linear Berganda
Analisis regresi linear berganda merupakan analisis untuk mengetahui
pengaruh lebih dari satu variabel bebas terhadap pengaruh variabel terikat. Model
analisis regresi linier berganda digunakan untuk menjelaskan hubungan dan
63
pengaruh variabel independent (X) yang terdiri dari Beban Kerja (X₁) dan
Lingkungan Kerja (X₂) terhadap variabel dependent (Y) yang terdiri dari Kinerja
Pegawai (Ghozali, 2018). Persamaan regresi linear berganda adalah sebagai
berikut:
Variate value (Y) = ß 1X1+ß 2X2+ ß nXn……Sugiyono (2022).
Selanjutnya model persamaan yang dapat dinyatakan secara matematis
tersebut ditransformasi atau dioperasionalkan dalam studi ini adalah:
Y = α + ß1X1+ß2X2 + e
Y : Variabel Dependen (Kinerja)
α : Konstanta
X1 : Variabel Independen 1 (Beban Kerja)
X2 : Variabel Independen 2 (Lingkungan Kerja)
ß1, ß2 : Koefisien Regresi.
e : Error term
3.8.3 Analisis Koefisien Determinasi (R²)
Koefisien determinasi adalah ukuran seberapa besar kemampuan variabel
independen dalam menjelaskan variabel dependen. Nilai R² berkisar antara 0
hingga 1. Semakin besar nilai R², maka semakin baik kemampuan variabel
independen dalam menjelaskan variabel dependen. Secara umum, koefisien
determinasi dapat digunakan untuk menilai seberapa baik model regresi dapat
memprediksi variabel dependen. Apabila koefisien determinasi (R²) = 0, maka
variabel independen tidak memiliki pengaruh terhadap variabel dependen.
64
Sebaliknya, apabila R² semakin mendekati atau sama dengan 1, maka variabel
independen memiliki pengaruh terhadap dependen.
3.9 Pengujuan Hipotesis
3.9.1 Uji Simultan (Uji F)
Uji F dilakukan untuk mengetahui pengaruh variabel independent secara
Bersama-sama (simultan) terhadap variabel dependen Sugiyono (2017) yaitu
dengan membandingkan antara:
a) Jika nilai siginifikan F < nilai siginifikan 𝑎 = 0.05 maka hipotesis yang
diajukan dapat diterima atau variabel bebas berpengaruh signifikan terhadap
variabel terikat.
b) Jika nilai siginifikan F > nilai siginifikan 𝑎 = 0.05 maka hipotesis yang
diajukan tidak dapat diterima atau variabel bebas tidak berpengaruh
signifikan terhadap variabel terikat.
3.9.2 Parsial (Uji t)
Uji t dilakukan untuk menguji pengaruh variabel-variabel bebas secara
parsial terhadap variabel terikat. Menurut Sugiyono, (2017) kriteria pengambilan
Keputusan yaitu:
a) Jika nilai signifikan t < 𝑎= 0.05 maka variabel bebas berpengaruh signifikan
terhadap variabel terikat.
b) Jika nilai signifikan t > 𝑎 = 0.05 maka variabel bebas tidak berpengaruh
signifikan terhadap variabel terikat.
65
3.10 Definisi Operasional Variabel
Berdasarkan identifikasi variabel yang telah dijabarkan sebelumnya, untuk
membatasi permasalahan dalam penelitian ini, maka diperlukan rumusan definisi
operasional untuk masing-masing variabel. Adapun variabel dalam penelitian ini
diantaranya adalah Beban Kerja, Lingkungan Kerja dan Kinerja Pegawai. Definisi
operasional variabel tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Beban Kerja (X1)
Beban kerja adalah besaran pekerjaan yang harus dipikul oleh suatu
jabatan/unit organisasi dan merupakan hasil kali antara volume kerja dan norma
waktu. Jika kemampuan pekerja lebih tinggi daripada tuntutan pekerjaan,akan
muncul perasaan bosan. Namun sebaliknya, jika kemampuan pekerja lebih rendah
daripada tuntutan pekerjaan,maka akan muncul kelelahan yang lebih. Beban kerja
yang dibebankan kepada karyawan dapat dikategorikan kedalam tiga kondisi, yaitu
beban kerja yang sesuai standar, beban kerja yang terlalu tinggi (over capacity) dan
beban kerja yang terlalu rendah (under capacity).
Indikator yang digunakan untuk mengukur variable Beban Kerja antara lain:
1. Target yang Harus dicapai
Pandangan individu mengenai besarnya target kerja yang diberikan
untuk menyelesaikan pekerjaannya. Pandangan mengenai hasil kerja
yang harus diselesaikan dalam jangka waktu tertentu.
2. Kondisi Pekerjaan
66
Mencakup tentang bagaimana pandangan yang dimiliki oleh individu
mengenai kondisi pekerjaannya, misalnya mengambil keputusan
dengan cepat pada saat pengerjaan barang, serta mengatasi kejadian
yang tak terduga seperti melakukan pekerjaan ekstra diluar waktu yang
telah ditentukan.
5 Penggunaan Waktu
Kerja Waktu yang digunakan dalam kegiatan-kegiatan yang langsung
berhubungan dengan produksi (waktu lingkaran, atau waktu baku atau
dasar
6 Standar Pekerjaan
Kesan yang dimiliki oleh individu mengenai pekerjaannya, misalnya
perasaan yang timbul mengenai beban kerja yang harus diselesaikan
dalam jangka waktu tertentu.
2. Lingkungan Kerja (X2)
Menurut Mardiana dalam Sudaryo Dkk (2018:47), lingkungan kerja adalah
lingkungan di mana pegawai melakukakan pekerjaannya sehari-hari. Lingkungan
kerja yang kondusif akan memberikan rasa aman dan memungkinkan para pegawai
untuk dapat bekerja optimal. Selain itu, lingkungan kerja juga dapat mempengaruhi
emosi pegawai, misalnya jika pegawai menyenangi lingkungan kerja di mana dia
bekerja, maka pegawai tersebut akan betah di tempat kerjanya untuk melakukan
aktifitas, sehingga waktu kerja dipergunakan secara efektif dan optimis dan prestasi
pegawai juga tinggi. Lingkungan kerja tersebut mencakup hubungan kerja antar
bawahan dan atasan serta lingkungan fisik tempat pegawai bekerja.
67
Indikator yang dapat digunakan untuk mengukur variabel Lingkungan Kerja
antara lain:
1. Cahaya di tempat kerja
Cahaya yang kurang jelas dapat menghambat pekerjaan sehingga
pekerjaan menjadi kurang efisien.
2. Keadaan udara di tempat kerja
Rasa sejuk selama bekerja akan membantu mempercepat pemulihan
tubuh akibat lelah setelah bekerja.
3. Fasilitas kerja
Merupakan segala sesuatu dalam bentuk sarana dan prasarana yang
terdapat di dalam perusahaan yang dapat digunakan dan dinikmati oleh
karyawan.
4. Hubungan dengan rekan kerja
Rekan kerja yang baik akan mendorong individu untuk bekerja lebih baik
dan bersikap positif serta mempunyai kepuasan dalam bekerja.
5. Keamanan di tempat kerja
Perusahaan dapat memanfaatkan petugas keamanan serta dengan
menggunakan kamera rekam disekitar lingkungan kerja.
3. Kinerja (Y)
Kinerja merujuk pada tingkat pencapaian atau hasil kerja seseorang dalam
melakukan tugas-tugas yang diberikan. Ini mencakup sejauh mana individu dapat
mencapai tujuan kerja, menyelesaikan tugas dengan efektif dan efisien, serta
memberikan kontribusi positif terhadap organisasi atau tim kerja.
68
Kinerja pegawai mencakup hasil kerja yang dihasilkan melalui proses yang
efektif dan efisien, berdasarkan kualitas, kuantitas, dan pencapaian target yang
ditetapkan. Kinerja yang baik tercapai ketika ada kesesuaian antara keterampilan
pegawai dengan tugas yang diberikan, yang mendukung tujuan organisasi dalam
meningkatkan kualitas pendidikan.
Indikator yang dapat digunakan untuk mengukur variabel kinerja antara lain:
1. Kualitas Kerja
Merupakan hasil kerja keras dari para pegawai yang sesuai dengan tujuan
yang telah ditetapkan oleh pihak perusahaan sebelumnya. Jika hasil yang
dicapai oleh pegawai tersebut tinggi maka kinerja dari pegawai tersebut
dianggap baik oleh pihak perusahaan atau sesuai dengan standar yang telah
ditetapkan. Ini berarti merupakan suatu tingkatan yang menunjukkan proses
pekerjaan atau hasil yang dicapai atas suatu pekerjaan mendekati adanya
kesempurnaan.
2. Kuantitas Kerja
Merupakan hasil kerja keras dari pegawai yang bisa mencapai skala
maksimal yang telah ditentukan oleh pihak perusahaan. Kuantitas kerja
menunjukkan jumlah pekerjaan yang dihasilkan individu atau kelompok
sebagai persyaratan yang menjadi standar pekerjaan. Setiap pekerjaan
memiliki persyaratan yang berbeda sehingga menuntut karyawan harus
memenuhi persyaratan tersebut baik pengetahuan, keterampilan, maupun
kemampuan yang sesuai.
69
3. Tanggung Jawab
Menunjukan seberapa besar pegawai dalam menerima dan melaksanakan
pekerjaannya, mempertanggung jawabkan hasil kerja serta sarana dan
prasarana yang digunakan dan perilaku kerjanya setiap hari.
4. Kerjasama
Dengan adanya pegawai yang mempunyai rasa harga diri yang tinggi
terhadap pekerjaannya maka pegawai berusaha untuk mencapai hasil
terbaik dalam pekerjaan tersebut. Oleh karena itu dengan rasa harga diri
yang tinggi terhadap pekerjaannya diharapkan para pegawai dapat
meningkatkan kinerja dalam bekerja
5. Inisiatif
Inisiatif dari dalam diri anggota perusahaan untuk melakukan pekerjaan
serta mengatasi masalah dalam pekerjaan tanpa menunggu perintah dari
atasan atau menunjukan tanggung jawab dalam pekerjaan yang sudah
menjadi kewajiban pegawai.
70
DAFTAR PUSTAKA
Adelia, D., Cahyaningsih, N. P., Afiyah, N. N., & Maulia, I. R. (2024). Pengaruh
Beban Kerja Dan Lingkungan Kerja Terhadap Kinerja Pegawai:(Kajian Studi
Literatur Manajemen Kinerja). PPIMAN: Pusat Publikasi Ilmu
Manajemen, 2(1), 123-139.
Afandi, P. (2018). Manajemen Sumber Daya Manusia Teori, Konsep, dan Indikator.
Riau: Zanafa Publishing
Albasari, I. N. K., & Adiwati, M. R. (2023). Pengaruh loyalitas karyawan
danlingkungan kerja terhadap kinerja karyawan pada PT. PMP Unit Bobbin
Jember. Scientific Journal of Reflection: Economic, Accounting, Management
and Business, 6(1), 30-38.
Alfian, A., & Guswinta, R. (2023). Pengaruh Kompensasi dan Beban Kerja Terhadap
Kinerja Pegawai Pada Puskesmas Lubuk Tarok. Jurnal Economina, 2(2), 653-
665.
Alfida, R., & Widodo, S. (2022). Pengaruh beban kerja dan lingkungan kerja
terhadap kinerja perawat ruang isolasi RSAU Dr. Esnawan antariksa halim
perdanakusuma jakarta timur. Jurnal Ilmiah Manajemen Surya Pasca
Scientia, 11(1).
Amalia, D., & Sari, I. P. (2021). Pengaruh Work Of Life Balance dan Lingkungan
Kerja Terhadap Kepuasan Kerja Pada Perawat Rumah Sakit Hermina Wilayah
Jakarta Timur The Effect Work Of Life Balance and Work Environment On Job
Stisfaction For Nurses at Hermina Hospital East Jakarta. Jurnal Manajemen
dan Perbankan (JUMPA), 8(3), 47-58.
Anggraini, I. D., Soeliha, S., & Tulhusnah, L. (2022). Pengaruh Pelatihan Dan
Lingkungan Kerja Terhadap Komitmen Organisasi Yang Berdampak Pada
Kinerja Pegawai Non Medis Di Rumah Sakit Mitra Sehat Situbondo. Jurnal
Mahasiswa Entrepreneurship (JME), 1(5), 975-988.
Anggraini, P. S., Supriadi, S., & Bakhtiar, B. (2025). PENGARUH PENERAPAN
SISTEM KERJA SHIFT DAN LINGKUNGAN KERJA TERHADAP
KINERJA KARYAWAN PADA RUMAH SAKIT SRI PAMELA
TORGAMBA. Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran, 8(2), 3861-3866.
71
Antonius Rino Vanchapo, (2020). Beban Kerja dan Stres Kerja (N. Arsalan (ed.)).
CV. Penerbit Qiara Media.
Apridani, A., Mantikei, B., & Syamsudin, A. (2021). Pengaruh kompetensi,
lingkungan kerja dan motivasi terhadap kinerja pegawai pada Puskesmas
Kecamatan Tanah Siang. Journal of Environment and Management, 2(1), 82-
88.
Ariska, E., Mulyadi, M., Zalikha, Z., & Yusuf, M. (2024). Pengaruh Lingkungan
Kerja dan Kepuasan Kerja terhadap Kinerja Pegawai RSU BMC
Bireuen. AKADEMIK: Jurnal Mahasiswa Ekonomi & Bisnis, 4(2), 896-903.
Asriani, D., BL, M., & Abdullah, I. (2018). Pengaruh beban kerja dan lingkungan
kerja terhadap kinerja pegawai pada Kantor Dinas Tenaga Kerja Kota
Makassar. Jurnal Profitability Fakultas Ekonomi Dan Bisnis, 2(2), 58-69.
Ayunasrah, T., Ratnawati, R., Diana, R., & Ansari, A. (2022). Pengaruh Lingkungan
Kerja terhadap Kinerja Pegawai dengan Kepuasan Kerja sebagai Variabel
Mediasi pada Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bener Meriah. Jurnal
Ilmiah Ilmu Manajemen, 4(1), 1-10.
Azizah, N., Martini, N., & Hersona, S. (2022). Pengaruh Kompetensi, Motivasi dan
Beban Kerja terhadap Kinerja Perawat di Rumah Sakit Umum Daerah
Karawang. SEIKO: Journal of Management & Business, 5(2), 514-528.
Budiasa, i K. (2021). Beban Kerja Dan Kinerja Sumber Daya Manusia I Komang
Budiasa Penerbit Cv. Pena Persada (Issue August).
Emti, D., & Adilla, R. S. (2024). Pengaruh Beban Kerja dan Kondisi Lingkungan
Kerja Terhadap Kinerja Tenaga Medis di RS Syafira Pekanbaru. Al-Manar
Journal of Economic and Social Studies, 1(1), 51-63.
Fitriantini, R., Agusdin, A., & Nurmayanti, S. (2019). Pengaruh Beban Kerja,
Kepuasan Kerja Dan Stres Kerja Terhadap Turnover Intention Tenaga
Kesehatan Berstatus Kontrak di RSUD Kota Mataram. Jurnal Distribusi, 8(1),
23-38.
72
Hermawan, E. (2022). Analisis Pengaruh Beban Kerja, Konflik Pekerjaan-Keluarga
Dan Stres Kerja Terhadap Kinerja Pt. Sakti Mobile Jakarta. Jurnal Ilmu
Manajemen Terapan, 3(4), 379-387.
Hidayat, F., Suwandi, A. R., & Akyuwen, R. (2022). Pengaruh Penempatan Kerja,
Beban Kerja, Fasilitas Kerja, dan Kepemimpinan Terhadap Kinerja Pegawai
Melalui Kepuasan Kerja Sebagai Perantara. Syntax Lit J Ilm Indones, 2(7),
673-84.
Indriani, I. (2018). Pengaruh kompetensi dan beban kerja terhadap kinerja
pelaksanaan asuhan keperawatan pada bagian rawat inap rumah sakit umum dr
Slamet Garut. Jurnal Wacana Ekonomi, 17(2), 093-100.
Kasmir. (2020). Manajemen Sumber Daya Manusia. (Teori dan Praktik). Jakarta: PT.
Raja Grafindo Persad
Koesomowidjojo. 2017. Panduan Praktis Menyusun Analisis Beban Kerja. Jakarta:
Penebae swadaya Group.
La Ede, A. R. (2022). Pengaruh Beban Kerja, Stres Kerja dan Kepuasan Kerja
Terhadap Pendokumentasian Keperawatan di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit
Setukpa Polri Sukabumi. Risenologi, 7(1a), 63-69.
Lestary, L., & Harmon, H. (2017). Pengaruh lingkungan kerja terhadap kinerja
karyawan. Jurnal Riset Bisnis Dan Investasi, 3(2), 94-103.
Mulyana, H., Suryanto, S., & Hidayat, A. I. (2023). Pengaruh Motivasi Dan
Lingkungan Kerja Terhadap Kinerja Pegawai Di Puskesmas Garuda
Kecamatan Andir Kota Bandung. SEIKO: Journal of Management &
Business, 6(2).
Neksen, A., Wadud, M., & Handayani, S. (2021). Pengaruh Beban Kerja dan Jam
Kerja terhadap Kinerja Karyawan pada PT Grup Global Sumatera. Jurnal
Nasional Manajemen Pemasaran & SDM, 2(2), 105-112.
Nugroho, M. N., & Permatasari, R. I. (2022). Pengaruh Etos Kerja Dan Lingkungan
Kerja Terhadap Kinerja Perawat Ruang Merak Rsau Dr. Esnawan Antariksa,
Halim Perdanakusuma Jakarta Timur. Jurnal Inovatif Mahasiswa
Manajemen, 2(2), 166-175.
73
Nurhandayani, A. (2022). Pengaruh Lingkungan Kerja, Kepuasan Kerja, dan Beban
Kerja terhadap Kinerja. Jurnal Ekonomi Dan Bisnis Digital (Ekobil), 1(2),
108-110.
Purnami, N. M. I., & Utama, I. W. M. (2019). Pengaruh Pemberdayaan, Motivasi dan
Lingkungan Kerja Terhadap Produktivitas Kerja Karyawan. E-Jurnal
Manajemen Universitas Udayana, Vol 8, No. 9, pp. 5611-5631.
Rahmawanti, N. P. (2014). Pengaruh lingkungan kerja terhadap kinerja karyawan
(Studi pada karyawan kantor pelayanan pajak Pratama Malang
Utara) (Doctoral dissertation, Brawijaya University).
Ramadhan, A., & Halim, A. (2023). Pengaruh Beban Kerja dan Lingkungan Kerja
Terhadap Kinerja Pegawai pada Puskesmas Desa Tabulahan Kecamatan
Tabulahan Kabupaten Mamasa. SEIKO: Journal of Management &
Business, 6(2).
Ramlah, S., Fathurrokhman, T., & Pratama, W. C. T. (2025). PENGARUH
MOTIVASI KERJA, BEBAN KERJA, DAN LINGKUNGAN KERJA
TERHADAP KINERJA PERAWAT (Studi Empiris Pada RS PKU
Muhammdiyah Gombong). MANAJEMEN DEWANTARA, 9(1).
Rifai, M., & Amir, A. M. (2023). Pengaruh Beban Kerja dan Stres Kerja terhadap
Kinerja Perawat Pasien Covid-19 pada Rumah Sakit Umum Anutapura
Palu. Jurnal Kolaboratif Sains, 6(5), 442-452.
Rolos, J. K. R., Sambul, S. A. P., & Rumawas, W. (2018). Pengaruh Beban Kerja
Terhadap Kinerja Karyawan Pada PT. Asuransi Jiwasraya Cabang Manado
Kota. Jurnal Administrasi Bisnis.
Rolos, J. K., Sambul, S. A., & Rumawas, W. (2018). Pengaruh beban kerja terhadap
kinerja karyawan pada PT. Asuransi Jiwasraya Cabang Manado Kota. Jurnal
Administrasi BisniS (JAB), 6(004), 19-27.
Romadania, A. F., Sholihin, U., & Rahmawati, Z. (2023). Pengaruh Beban Kerja Dan
Lingkungan Kerja Terhadap Kinerja Karyawan Pada PT. Kembang Jawa
Permai Kediri. Jurnal Ilmiah Manajemen dan Kewirausahaan, 2(3), 91-100.
74
Sari, Z., & Laili, C. N. (2023). Pengaruh Beban Kerja dan Lingkungan Kerja
Terhadap Kinerja Karyawan (Studi Kasus Pada Bagian Keperawatan Rumah
Sakit Nahdlatul Ulama Jombang). BIMA: Journal of Business and Innovation
Management, 6(1), 80-88.
Sedamayarti. (2017). Perencanaan dan pengembangan SDM untuk meningkatkan
kompensasi, kinerja dan produktivitas kerja. Bandung: pt. Refika adatama.
Sembiring, H. (2020). Pengaruh motivasi dan lingkungan kerja terhadap kinerja
karyawan pada Bank Sinarmas Medan. Jurakunman (Jurnal Akuntansi Dan
Manajemen), 13(1).
Siburian, M. S., Pio, R. J., & Sambul, S. A. (2021). Pengaruh beban kerja dan
lingkungan kerja terhadap kinerja karyawan Kantor Pelayanan Pajak Pratama
Balige Sumatera Utara. Productivity, 2(5), 370-377.
Sumarsana, A. 2022. Pengaruh Disiplin Kerja Dan Motivasi Kerja Terhadap Kinerja
Karyawan (Studi pada Pegawai Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan
Kabupaten Cirebon). Jurnal Ekonomi Dan Bisnis, 11(3).
Sutrisno, E. (2020). Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Kencana
Taufiq, M. I., Sasmita, H., Hamdat, A., & Singkeruang, A. W. T. F. (2022). Pengaruh
Lingkungan Kerja Dan Produktivitas Kerja Terhadap Kinerja Pegawai Rumah
Sakit Umum Daerah Daya Di Masa Covid-19. Jurnal Sains Manajemen
Nitro, 1(2), 150-160.
Tjiabrata, F. R., Lumanauw, B., & Dotulong, L. O. (2017). Pengaruh beban kerja dan
lingkungan kerja terhadap kinerja karyawan PT. Sabar Ganda Manado. Jurnal
EMBA: Jurnal Riset Ekonomi, Manajemen, Bisnis dan Akuntansi, 5(2).
Wewengkang, D. A., Kojo, C., & Uhing, Y. (2021). Pengaruh Beban Kerja, Insentif,
Dan Lingkungan Kerja Terhadap Kinerja Pegawai Di-Tengah Pandemi
COVID-19 Di UPTD Rumah Sakit Manembo-Nembo Tipe-C Bitung. Jurnal
EMBA: Jurnal Riset Ekonomi, Manajemen, Bisnis dan Akuntansi, 9(3).
Wicaksana, S. S. (2016). Pengaruh beban kerja dan komitmen organisasi terhadap
kinerja perawat pada rumah sakit islam yogyakarta PDHI. Jurnal Manajemen
Bisnis Indonesia (JMBI), 5(4), 317-324.
75
Yustikasari, S. A. T., & Santoso, B. (2024). Pengaruh Beban Kerja, Stres Kerja, dan
Lingkungan Kerja Terhadap Kinerja Perawat Bagian Rawat Inap di Rumah
Sakit Tingkat III Brawijaya Surabaya. Al-Kharaj: Jurnal Ekonomi, Keuangan
& Bisnis Syariah, 6(1), 928-939.
76
LAMPIRAN
77
Lembaran Kuesioner
Penelitian Permohonan Pengisian Kuesioner
Kepada Yth.
Bapak, Ibu, Saudara (i)
Di – Tempat
Bersama ini penulis memohon ketersediaan saudara/saudari untuk mengisi
kuesioner penelitian dengan judul “Pengaruh Beban Kerja dan Lingkungan
Kerja Terhadap Kinerja Pegawai Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten
Muna Barat.” Penelitian ini ialah sebagai syarat untuk memperoleh gelar
kesarjanaan di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Halu Oleo. Informasi yang
Bapak/Ibu/Saudara/saudari berikan adalah untuk kepentingan penelitian penulis
dan akan dijaga kerahasiaannya.
Akhir kata penulis ucapkan terima kasih atas kesediaan Bapak/Ibu/Saudara/
(i) untuk meluangkan waktunya mengisi kuesioner ini.
Salam Hormat
Nasyatul Aisyah
NIM. B1B121049
78
PETUNJUK PENGISIAN KUESIONER
1. Petunjuk Umum
Sebelum menjawab pernyataan-pernyataan yang ada di dalam
kuesioner ini, penulis mohon agar Bapak/Ibu/ Saudara/ (i) untuk membaca
terlebih dahulu pengisian kuesioner yang diteliti. Harap mengisi dan
menjawab pernyataan dengan keyakinan yang tinggi tanpa keraguan sesuai
dengan kejadian yang ada.
2. Identitas Responden
Pada bagian ini anda diminta memberikan jawaban atas pertanyaan data
diri saudara, mohon jawablah pada tempat yang telah disediakan dan berilah
tanda (√) pada jawaban atas pilihan alternatif yang tertera dibawah ini:
Nama :_______________
Jenis Kelamin : Laki-laki Perempuan
Umur : _ _ _ _ Tahun
Pendidikan Terakhir : SMA D4 S1 S2 23
Lama Bekerja : _ _ _ _ Tahun
Jabatan :_______________
3. Petujunjuk Pengisian
a. Bacalah sejumlah pernyataan-pernyataan dibawah ini dengan teliti
b. Dimohon dalam memberikan penilaian tidak ada pernyataan yang
terlewatkan
79
c. Anda dapat memberikan jawaban sesuai dengan penilaian anda secara
objektif dengan memberi tanda ceklis (√) pada salah satu alternatif
jawaban yang tersedia
d. Penilaian yang diberikan tidak mengandung nilai jawaban benar/salah,
melainkan menunjukkan kesesuaian penilaian Anda terhadap isi setiap
pernyataan
e. Terdapat lima alternatif jawaban, diantaranya adalah sebagai berikut:
STS = Apabila anda merasa Sangat Tidak Setuju (Skor 1)
TS = Apabila anda merasa Tidak Setuju (Skor 2)
N = Apabila anda merasa Netral (Skor 3)
S = Apabila anda merasa Setuju (Skor 4)
SS = Apabila anda merasa Sangat Setuju (Skor 5)
80
DAFTAR PERNYATAAN KUESIONER
BEBAN KERJA (X1)
No Pernyataan Jawaban
SS S N TS STS
Target Yang Harus dicapai (X1.1)
1 Saya merasa target kerja yang ditetapkan oleh
Rumah Sakit sesuai dengan kemampuan dan
sumber daya yang tersedia
2 Jumlah target kerja yang diberikan sesuai
dengan kapasitas saya
Kondisi Pekerjaan (X1.2)
1 Saya bekerja dalam kondisi fisik dan mental
yang memungkinkan untuk bekerja optimal.
2 Lingkungan kerja saya mendukung dalam
menyelesaikan tugas.
Penggunaan Waktu (X1.3)
1 Waktu kerja saya digunakan secara efisien dan
produktif
2 Saya memiliki waktu istirahat yang cukup
dalam jam kerja
Standar Pekerjaan (X1.4)
1 Saya memahami standar kerja yang ditetapkan
untuk pekerjaan saya.
2 Standar kerja yang ada membantu saya dalam
menyelesaikan tugas dengan benar
81
LINGKUNGAN KERJA (X2)
No Pernyataan Jawaban
SS S N TS STS
Cahaya di Tempat Kerja (X2.1)
1 Tingkat pencahayaan di ruang kerja
mencukupi untuk mendukung kegiatan
pekerjaan saya
2 Pencahayaan di tempat kerja saya tidak
menyebabkan mata cepat lela
keadaan Udara di Tempat Kerja (X2.2)
1 Sirkulasi udara di tempat kerja terasa baik
2 Saya merasa nyaman dengan suhu ruangan di
tempat kerja
Fasilitas Kerja Kerja (X2.3)
1 Fasilitas yang tersedia mendukung kelancaran
pekerjaan saya
2 Peralatan kerja dalam kondisi baik dan dapat
digunakan dengan optimal
Hubungan Dengan Rekan KerjaKerja (X2.4)
1 Saya merasa hubungan saya dengan rekan
kerja sangat baik dan saling mendukung
dalam menjalankan tugas.
2 Tim kerja saya selalu bekerja sama dengan
baik untuk mencapai tujuan bersama.
Keamanan di Tempat Kerja (X2.5)
1 Terdapat pengawasan CCTV di area strategis
untuk menjaga keamanan pasien, pengunjung,
dan staf rumah sakit.
82
2 Sistem alarm kebakaran dan jalur evakuasi
telah disediakan sesuai dengan standar
keselamatan.
KINERJA (Y)
No Pernyataan Jawaban
SS S N TS STS
Kualitas Kerja (Y1.1)
1 Saya mampu memenuhi tenggat waktu tanpa
mengorbankan standar kualitas pekerjaan
2 Saya memperhatikan detail dan memastikan
bahwa semua aspek pekerjaan dikerjakan
secara teliti saya
Kuantitas Output (Y1.2)
1 Saya merasa produktivitas saya meningkat
seiring dengan waktu kerja yang saya miliki
2 Saya dapat mengelola waktu saya dengan baik
untuk memaksimalkan jumblah output yang
saya hasilkan.
Dapat tidaknya diandalkan (Y1.3)
1 Rekan kerja saya merasa nyaman untuk
meminta bantuan kepada saya jika mengalami
kesulitan dalam pekejaan.
2 Rekan kerja saya dapat diandalkan untuk
memberikan umpan balik yang konstruktif.
Sikap Kooperatif (Y1.4)
1 Saya selalu bersedia bekerja sama dengan
rekan kerja untuk mencapai tujuan bersama.
83
2 Saya merasa nyaman untuk berbagi ide dan
saran kepada rekan kerja saya
tanpa takut dihakimi