Pendidikan Karakter dalam Perspektif Islam
Pendidikan Karakter dalam Perspektif Islam
Mustafa, MA
Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Al-Hilal
Jln. Keuniree, Sigli, Kabupaten Pidie
ABSTRACT
In Islam, there is no discipline apart from Islamic ethics. As an effort that is synonymous with
religious teachings, character education in Islam is unique and different from character education
in the Western world. These differences include an emphasis on eternal religious principles, rules
and laws in strengthening morality, differences in understanding of truth, rejection of moral
autonomy as the goal of moral education, and emphasis on reward in the afterlife as motivation
for moral behavior. The basis for character building is good or bad grades. Good values are
symbolized by the value of angels and bad values are symbolized by the value of Satan. Human
character is the result of the attraction between good values in the form of positive energy and
bad values in the form of negative energy. The objectives of character education in the
perspective of Islamic education in Indonesia are: first, so that someone gets used to doing good
deeds. Second, so that human interactions with Allah SWT and fellow creatures are always well
maintained and harmonious. To form noble character or morals, character education and
religious education are needed. Education is very decisive for the formation of human character,
personality, character and character. Education is the one most responsible for the phenomenon
of crime, crime, immoral acts, corruption, drug use and other vices. The occurrence of various
frauds and crimes indicates the low character of the citizens in general. Realizing this, it is
necessary to focus on a character education program to improve the quality of individuals and
society.
Keywords: Education, Character, Islamic Perspective
ABSTRAK
Dalam Islam, tidak ada disiplin ilmu yang terpisah dari etika-etika Islam. Sebagai usaha yang
identik dengan ajaran agama, pendidikan karakter dalam Islam memiliki keunikan dan perbedaan
dengan pendidikan karakter di dunia Barat. Perbedaan-perbedaan tersebut mencakup penekanan
terhadap prinsip-prinsip agama yang abadi, aturan dan hukum dalam memperkuat moralitas,
perbedaan pemahaman tentang kebenaran, penolakan terhadap otonomi moral sebagai tujuan
pendidikan moral, dan penekanan pahala di akhirat sebagai motivasi perilaku bermoral. Dasar
pembentukan karakter itu adalah nilai baik atau buruk. Nilai baik disimbolkan dengan nilai
Malaikat dan nilai buruk disimbolkan dengan nilai Setan. Karakter manusia merupakan hasil
tarik-menarik antara nilai baik dalam bentuk energi positif dan nilai buruk dalam bentuk energi
negatif. Tujuan dari pendidikan karakter dalam perspektif pendidikan Islam di Indonesia itu
adalah: pertama, supaya seseorang terbiasa melakukan perbuatan baik. Kedua, supaya interaksi
manusia dengan Allah SWT dan sesama makhluk lainnya senantiasa terpelihara dengan baik dan
harmonis. Untuk membentuk karakter atau akhlaq mulia diperlukan pendidikan karakter dan
1
Jurnal Azkia,
Vol 15 No 2 Desember 2020
2
Jurnal Azkia,
Vol 15 No 2 Desember 2020
A. PENDAHULUAN
Dalam rangka menghasilkan peserta didik yang unggul dan diharapkan, proses
pendidikan senantiasa dievaluasi dan diperbaiki mengingat perkembangan zaman yang terus
berkembang di era kecanggihan dan teknologi sekarang ini. Salah satu upaya perbaikan kualitas
Pendidikan adalah munculnya gagasan mengenai Pendidikan karakter dalam dunia Pendidikan di
Indonesia. Gagasan ini muncul karena proses yang dilakukan dinilai belum sepenuhnya berhasil
dalam membangun manusia Indonesia yang berkarakter. Bahkan, ada juga yang menyebut
bahwa Pendidikan Indonesia telah gagal dalam membangun karakter. Penilaian ini didasarkan
pada banyaknya para lulusan sekolah dan sarjana yang cerdas secara intelektual, namun tidak
bermental tangguh dan berperilaku tidak sesuai tujuan mulia Pendidikan.
Perilaku yang tidak sesuai dengan tujuan mulia Pendidikan misalnya tindak korupsi yang
ternyata dilakukan oleh pejabat yang notabene adalah orang yang berpendidikan. Tindak korupsi
ini termasuk penyalahgunaan jabatan dan wewenang. Belum lagi tindak kekerasan, padahal kita
semua mengetahui dalam bermasyarakat kita harus saling menghargai dan menghormati bukan
malah main hakim sendiri. Kemudian ditambah lagi dengan perilaku remaja Indonesia yang
sama sekali tidak mencerminkan sebagai remaja yang terdidik. Misalnya, tawuran antar pelajar,
tersangkut jaringan narkoba, atau melakukan tindak asusila yang berujung pada aborsi karena
rasa malu akan hamil diluar nikah.
Kenyataan sebagaimana tersebut tentu saja membuat prihatin berbagai kalangan. Oleh
karena itu, salah satu upaya perbaikan untuk Pendidikan di Indonesia adalah Pendidikan
karakter. Upaya ini menjadi bagian dari proses pembentukan akhlak anak bangsa juga
diharapkan mampu menjadi fondasi utama dalam mensukseskan Indonesia di masa mendatang.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan pemaparan latar belakang diatas, maka dapat dibuat rumusan masalah sebagai
berikut:
1. Bagaimana pengertian pendidikan karakter?
2. Bagaimana urgensi pendidikan karakter?
3
Jurnal Azkia,
Vol 15 No 2 Desember 2020
1. Abdul Majid dan Dian Andayani, Pendidikan Karakter Persepektif lslam, (Bandung: Remaja
Rosdakarya, 2012), hlm. 11.
2. Sutarjo Adisusilo, Pembelajaran Nilai Karakter, (Jakarta: Rajawali Press, 2013), hlm. 28.
3 . Agus Wibowo dan Sigit Purnama, Pendidikan Karakter di Perguruan Tinggi, Yogyakarta: Pustaka
Pelajar, 2013, hlm. 34
4
Jurnal Azkia,
Vol 15 No 2 Desember 2020
4 . Agus Wibowo dan Sigit Purnama, Pendidikan Karakter di Perguruan Tinggi, Yogyakarta: Pustaka
Pelajar, 2013, hlm. 34
5 . Barnawi dan M. Arifin, Strategi Dan Kebijakan Pendidikan Karakter, (Jogjakarta: Ar-Ruzz, 2013),
hlm. 12-24.
5
Jurnal Azkia,
Vol 15 No 2 Desember 2020
dikatakan mendesak karena ada tanda-tanda yang mengharuskan suatu tindakan dilaksanakan,
dapat pula waktunya sangat mepet sehingga harus sesegera mungkin. Mengapa pendidikan
karakter mendesak untuk dilaksanakan.
Ada gejala-gejala yang menandakan tergerusnya karakter bangsa ini. Tanda-tanda
merosotnya karakter bangsa ini, senyampang apa yang dinyatakan Thomas Liekona tentang
sepuluh tanda zaman yang kini terjadi, yakni sebagai berikut:
1. Meningkatnya kekerasan di kalangan remaja masyarakat. Kekerasan di kalangan remaja
dan masyarakat akhir-akhir ini memang meningkat. Tawuran antarpelajar, bahkan antar
mahasiswa yang Sejatinya merupakan para calon intelektual terjadi di mana-mana, Kasus
tertentu yang dihakimi sendiri menjadi fenomena yang banyak kita temui di masyarakat.
2. Penggunaan bahasa dan kata kata yang tidak baku. Kata dan bahasa yang tidak baku
menjadi fenomena di tengah masyarakat. Pengunaan bahasa prokem yang mra historis berai dari
komunitas tertentu menjamur di mana-mana. Semisal, “Titi DJ" (hati-hati-hati di jalan) dan
sejenisnya bahkan sempat dikamuskan. Belakangan muncul bahasa day yang kehadirannya
dipicu oleh pola komunikasi dengan SMS yang memiliki keterbatasan karakter.
3. Pengaruh peer-group (geng) dalam tindak kekerasan menguat. Kemunculan geng
(terutama anak sma) di kota-kota muncul dalam kelompok geng-geng motor.
4. Meningkatnya perilaku merusak diri, seperti penggunaan narkoba, alcohol, dan seks
bebas.
5. Semakin kaburnya pedoman moral bank dan buruk. Moral kini dalam bayang-bayang
sudut pandang relatif. Baik dan buruk bergantung pada siapa dan apa sudut pandangnya. Hal ini
sejatinya tidak boleh terjadi karena sesungguhnya baik dan buruk itu sifatnya pasti dan diatur
dalam berbagai agama.
6. Etos kerja yang menurun. Etos kerja yang dipicu oleh spirit yang lemah, artinya
pemahaman sebagai bentuk ibadah tidak dihayati.
7. Semakin rendahnya rasa hormat kepada orang tua dan guru. Rendahnya hormat pada
orangtua dan guru disebabkan oleh banyak faktor:
a. gagalnya orangtua sebagai figur bagi anak-anaknya.
b. lingkungan yang tidak kondusif.
c. pemahaman agama yang dangkal.
6
Jurnal Azkia,
Vol 15 No 2 Desember 2020
6 . Barnawi dan M. Arifin, Strategi Dan Kebijakan Pembelajaran Pendidikan Karakter, (Jogjakarta: Ar-
Ruzz, 2013), hlm. 12-14.
7 . Ainis Syifa, “Pendidikan Karakter dalam Perspektif Islam”, Jurnal Pendidikan Universitas Garut , vol.
08, No. 01, 2014, hlm. 4-5
7
Jurnal Azkia,
Vol 15 No 2 Desember 2020
terbangunnya karakter Yang lain. Karakter esensial dalam Islam mengacu Pada Sifat Nabi
Muhammad Saw. yang meliputi sidik, amanah, fathanah, dan tabligh.
Dari karakter esensial ini, diharapkan terbentuk insan profetik. Insan dengan watak profetik
tidak memikirkan dirinya sendiri, tetapi berpikir bagaimana dapat memberikan sebanyak-
banyaknya bagi lingkungan (altruistik). Altruistik diartikan sebagai kewajiban yang ditujukan
pada kebaikan orang lain. Altruisme pada dasarnya dianjurkan oleh semua agama. Dalam lslam,
ada ajaran yang menyatakan bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang berguna bagi orang
lain.
Sedangkan, ciri-ciri karakter Esensial menurut Syaiful Anam dalam Bukunya Barnawi dan
M. Arifin yang berjudul “Pembelajaran Pendidikan Karakter” adalah sebagai berikut:8
1. Sadar sebagai makhluk ciptaan Allah. Sadar sebagai makhluk muncul ketika ia mampu
memahami keberadaan dirinya, alam sekitar, dan Tuhan Yang Maha Esa. Konsepsi ini dibangun
dari nilai-nilai transendensi. Nilai-nilai transedensi merupakan nilai-nilai keilahian. Dari
pemahaman akan keberadaan diri yang tidak lepas dari nilai transedensi, sehingga segala sesuatu
dijalani dengan niat ibadah.
2. Cinta Allah. Orang yang sadar akan keberadaan Allah meyakini bahwa ia tidak dapat
melakukan apa pun tanpa kehendak Allah. Keyakinan ini memunculkan rasa cinta kepada Allah.
Orang yang cinta Allah akan menjalankan apa pun perintah dan menjauhi larangan-Nya. Karena
sesuatu datangnya dari Allah (dengan usaha yang sungguh-sungguh), pencapaian akan segala
sesuatu tidak murni karena usaha kita, namun ada kehendak Allah. Atas kesadaran ini, sifat
sombong, riya', dan sejenisnya tidak akan ada.
3. Bermoral jujur, saling menghormati, tidak sombong, suka membantu, dan lain-lain
merupakan sifat dari manusia yang bermoral.
4. Bijaksana, karakter ini muncul karena keluasan wawasan seseorang Dengan keluasan
wawasan, ia akan melihat banyaknya perbedaan yang mampu diambil sebagai” kekuatan.
Karakter bijaksana ini dapat terbentuk dari adanya penanaman nilai-nilai kebinekaan.
8 . Barnawi dan M. Arifin, Strategi Dan Kebijakan Pembelajaran Pendidikan Karakter, (Jogjakarta: Ar-
Ruzz, 2013), hlm. 25-26.
8
Jurnal Azkia,
Vol 15 No 2 Desember 2020
5. Pembelajar sejati. Untuk dapat memiliki wawasan yang luas, seseorang harus senantiasa
belajar. Seorang pembelajar sejati pada dasarnya dimotivasi oleh adanya pemahaman akan
luasnya ilmu Tuhan (nilai transendensi). Selain itu, dengan penanaman nilai-nilai kebhinekaan,
ia akan semakin bersemangat untuk mengambil kekuatan dari sekian banyak perbedaan. Islam
mengajarkan bahwa seorang Muslim hendaknya menjadi manusia pembelajar. Hal ini dapat
dicermati dari ajaran yang menyatakan, “Carilah ilmu hingga ke negeri China”. Ajaran lain juga
menganjurkan bahwa ketika seorang Muslim dalam perjalanan dan menjumpai majelis ilmu,
berhentilah dan ikuti majelis tersebut.
6. Mandiri. Karakter. ini muncul dari penanaman nilai-nilai humanisasi dan liberasi. Dengan
pemahaman bahWa tiap manusia dan bangsa memiliki potensi dan sama-sama subjek kehidupan,
ia tidak akan membenarkan adanya penindasan sesama manusia. Dari pemahaman ini,
memunculkan sikap mandiri sebagai bangsa.
9 . Mohamad Mustari, NIlai Karakter Refleksi Untuk Pendidikan, Raja Grafindo Persada: Jakarta, 2014,
hlm. 9
9
Jurnal Azkia,
Vol 15 No 2 Desember 2020
muamalah) yang dilandasi oleh fondasi aqidah yang kokoh dan bersandar pada al-Quran dan as-
Sunah (hadis).
Menurut Abd. Hamid sebagaimana dikutip Zubaedi (2012:66) menyatakan bahwa”.
YZ[ءداJن اQRSJت اQUV W ھMNO ءJا
Artinya:“Akhlak ialah segala sifat manusia yang terdidik”.
Memahami pernyataan tersebut dapat dimengerti bahwa sifat atau potensi yang dibawa
manusia sejak lahir, maksudnya potensi ini sangat tergantung bagaimana cara pembinaan dan
pembentukannya. Apabila pengaruhnya positif, maka sama seperti pendidikan karakter,
pendidikan akhlak juga outputnya adalah akhlak mulia dan sebaliknya apabila pembinaannya
negatif, yang terbentuk adalah akhlak mazmuniah[2].
Maka dari itu al-Ghazali mendefinisikan akhlak sebagai berikut:
Ynوروmsh Wg اYtu mZv jw mRn وYgpaRn لQrh ءJ `_^ر اQabc Yde راfUbg اWh YiZ ھjc رةQlc MNdgا
10
Jurnal Azkia,
Vol 15 No 2 Desember 2020
Tujuan dari pendidikan karakter menurut Islam adalah menjadikan manusia yang berakhlak
mulia. Dalam hal ini yang menjadi tolok ukur adalah akhlak Nabi Muhammad SAW dan yang
menjadi dasar pembentukan karakter adalah al-Quran. Tetapi kita kita harus menyadari tidak ada
manusia yang menyamai akhlaknya dengan Nabi Muhammad [Link] seperti dalam
hadis riwayat Muttafaq ‘alaih, berikut:
(~ZNc MU€w) Q•NO سQbg اjRu اyNe وzNc ﷲWNV ل ﷲpeن رQ| : لQ} ~bc ﷲz• رfS اjcو
Artinya:“Anas ra. Berkata, “Rasulullah Saw. adalah orang yang paling baik budi
pekertinya””.(Muttafaq ‘alaih).
Tujuan pendidikan karakter menurut Islam adalah membentuk pribadi yang berakhlak
mulia, karena Akhlak mulia adalah pangkal kebaikan. Orang yang berakhlak mulia akan segera
melakukankebaikan dan meninggalkan keburukan
Setelah mengetahui tentang konsepsi pendidikan karakter yang telah dijelaskan, maka
pandangan Islam terhadap pendidikan karakter menganggap bahwa pendidikan karakter itu sama
dengan pendidikan akhlak. Akhlak atau karakter sangat penting, karena akhlak adalah
kepribadian yangmempunyai tiga komponen, yaitu tahu (pengetahuan), sikap, dan perilaku. Hal
tersebutmenjadi penanda bahwa seseorang itu layak atau tidak layak disebut manusia.
Karakteradalah watak, sifat, atau hal-hal yang memang sangat mendasar yang ada pada
diriseseorang. Hal-hal yang sangat abstrak yang ada pada diri seseorang. Sering
orangmenyebutnya dengan tabiat atau perangai.
Pendidikan karakter pada hakikatnya merupakan pembinaan personal peserta didik secara
terprogram dengan tujuan tertentu bagi lembaga pendidikan. Sekolah secara umum ataupun
sekolah dalam pengertian luas di lingkungan keluarga dan masyarakat dalam pendidikan karakter
menitikberatkan pembinaan ideologi agama, budaya bangsa yang unggul dan jiwa
kepemimpinan, yang sekaligus membangun kekuatan dan kualitas peserta didik yang berkarakter
unggul.
Pada prinsipnya, tujuan pendidikan harus selaras dengan tujuan yang menjadi landasan
dan dasar pendidikan. Karena tujuan pendidikan bersifat universal dan selalu aktual pada segala
masa dan zaman. Konsep adanya pendidikan karakter pada dasarnya berusaha mewujudkan
11
Jurnal Azkia,
Vol 15 No 2 Desember 2020
peserta didik atau manusia yang berkarakter ( akhlak mulia ) sehingga dapat menjadi insan
kamil.
Dengan berbagai penjelasan di atas, yang berkaitan dengan pendidikan karakter dalam
perspektif Islam, maka dapat dijelaskan bahwa pendidikan karakter dalam Islam sama halnya
dengan “akhlak”. Sehingga pendidikan karakter dalam pespektif Islamlebih menitikberatkan
pada sikap peserta didik, yang hal tersebut pada kehendak positif
yang dibiasakan, sehingga dia mampu menimbulkan perbuatan dengan mudah, tanpa
pertimbangan pemikiran lebih dahulu dalam kehidupan sehari-hari.
Kedudukan akhlak sangatlah urgen dalam kehidupan manusia, sehingga
Allahmengutus Nabi Muhammad SAW. ke muka bumi ini adalah untuk memperbaiki akhlak
manusia. Akhlak adalah corak seseorang atau penentu bahwa orang tersebut baikataupun buruk,
sehingga dengan inilah akhlak selalu dijadikan penentu paling terdepandalam setiap persoalan,
termasuk dalam membangun bangsa Indonesia.
Penerapan pendidikan karakter yang diterapkan di lembaga pendidikan Islam
sangatlah komplit, tidak hanya pada kejujuran saja, akan tetapi juga terkait dengan
bagaimana mereka manjadi anak yang selalu terbiasa hidup disiplin, hemat, berfikir
kritis, berperilaku qanaah, toleran, peduli terhadap lingkungan, tidak sombong, optimis,terbiasa
berperilaku ridha, produktif, dan obyektif.
Dalam dunia pendidikan, kegiatan belajar mengajar tidak hanya bertujuan untuk membuat siswa
menguasai ilmu pengetahuan secara akademis, melainkan juga untuk membentuk karakter siswa.
Maka, dalam hal ini pendidikan karakter dinilai sangat penting untuk dilakukan di sekolah
formal maupun informal. Bagaimanapun, siswa dengan karakter yang baik dan mulia akan lebih
bisa mampu menjalani kehidupannya dengan lebih baik di masa depan.
Dalam rangka mewujudkan pendidikan karakter yang baik, sekolah perlu menanamkan nilai-
nilai norma sosial melalui setiap kegiatan di sekolah. Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk
membentuk karakter siswa adalah melalui pendidikan agama, salah satunya agama Islam.
Melalui pendidikan agama yang baik, siswa tidak hanya mempelajarai aturan-aturan agama
melainkan juga mencakup keseluruhan nilai dan norma dalam bermasyarakat.
12
Jurnal Azkia,
Vol 15 No 2 Desember 2020
Agama Islam yang merupakan agama yang sempurna telah secara lengkap memberi tuntutan
pada manusia, tidak hanya dalam hal beribadah melainkan juga dalam kegiatan antar sesama
pendidikan karakter dalam perspektif Islam yang akan bermanfaat untuk kita memandu anak-
anak kita menjadi sosok berkarakter mulia.
Pendidikan karakter merupakan usaha sadar dan terencana untuk membentuk karakter atau
kepribadian, berupa penanaman moral, etika dan rasa berbudaya. Hal ini kemudian akan terlihat
dari cara seorang manusia membuat keputusan, bertindak dan berinteraksi dengan sekitarnya.
Dalam Islam, usaha untuk menanamkan karakter ini harus sesuai dengan ajaran Islam dalam al
Quran dan sunnah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Karakter identik dengan akhlak, moral dan etika. Seseorang yang memiliki karakter mulia akan
menjaga nilai-nilai yang ada di masyarakat. Maka, dalam perspektif Islam karakter adalah hasil
dari proses penerapan syariat, baik dalam ibadah dan muamalah. Penerapan syariat ini dalam
Islam harus dilandasi oleh kekuatan akidah yang bersumber dari al Quran dan hadis Nabi
Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Menurut Ibn Miskawaih (320-421/932-1030), akhlak adalah kondisi jiwa yang menyebabkannya
melakukan perbuatan tanpa berpikir atau pertimbangan lagi. Sementara itu, menurut al Ghazali
(Arifin, 2002:14), akhlak adalah keadaan sifat yang tertanam dalam jiwa yang darinya muncul
perbuatan-perbuatan dengnan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.
Kedua pengertian ini senada mengungkapkan bahwa dengan akhlak maka perbuatan akan
muncul begitu saja karena dia telah tertanam begitu dalam pada jiwa manusia. Oleh karena itu,
hakikat pendidikan karakter dalam perspektif Islam adalah untuk membentuk akhlak yang baik
pada manusia tersebut. Pendidikan karakter untuk dunia dan akhirat
13
Jurnal Azkia,
Vol 15 No 2 Desember 2020
Seperti yang telah dibahas sebelumnya, dengan karakter yang baik maka akan muncul akhlak
yang baik pada manusia tersebut. Hal ini tentu akan sangat berpengaruh pada kesuksesan orang
tersebut, tidak hanya di dunia tapi juga di akhirat. Dalam perspektif Islam, kita diajarkan untuk
berpikir tidak hanya untuk dunia melainkan untuk akhirat.
Salah satu tujuan pendidikan Islam adalah untuk membentuk manusia yang bertakwa dan mampu
menempatkan dirinya sebagai hamba Allah. Dalam pendidikan karakter pun demikian, yaitu
menanamkan pemahaman dalam diri manusia bahwa dirinya adalah hamba Allah yang harus
senantiasa bertakwa kepada-Nya. Bukan berarti manusia pasrah pada takdir dan tidak melakukan
apa-apa, namun manusia tetap harus memiliki karakter berjuang, namun menyerahkan hasilnya
pada Allah subhanahu wa ta’ala.
Melihat begitu banyaknya fenomena di masyarakat tentang kenakalan remaja, kita bisa sedikit
memahami bahwa pendidikan yang berjalan saat ini kurang seimbang dalam membangun moral
dan karakter anak. Pendidikan lebih banyak dititikberatkan pada kemampuan akademis saja
sehingga pendidikan agama sering dianggap sebagai ‘tugas orang tua’.
Dalam Islam, hal ini dirasa kurang tepat karena dengan pengetahuan agama yang cukup, moral
dan karakter akan bisa terbentuk menjadi lebih baik dan hal ini bukan hanya tugas orang tua,
melainkan juga tugas sekolah serta masyarakat sekitar
Menurut Syaikh Hasan al Banna, pembentukan kepribadian atau karakter dalam Islam mencakup
sepuluh aspek, di antaranya adalah akhlak yang bersih, ibadah yang lurus, wawasan yang luas,
fisik yang kuat, perjuangan diri sendiri, disiplin, hingga kebermanfaatan untuk orang lain.
14
Jurnal Azkia,
Vol 15 No 2 Desember 2020
Dari beberapa aspek itu saja terlihat bahawa pendidikan karakter dalam perspektif Islam tidak
hanya berbicara tentang ibadah (iman) saja, melainkan juga akhlak yang ditunjukkan dalam
kehidupan bermasyarakatnya sehari-hari.
Karakter seorang muslim harus diwujudkan sesuai al Quran dan sunnah. Dengan mewujudkan
hal ini, maka identitas keislaman akan tampak serta bisa mewujudkan pembangunan sekaligus
menyudahi kebodohan dan kemiskinan. Konsep pendidikan karakter dalam Islam identik dengan
ajaran Islam itu sendiri. Tidak bisa kita menanamkan karakter yang sesuai Islam jika kita tidak
menanamkan ajaran dan nilai-nilai Islam itu sendiri.
Agar bisa menanamkan karakter mulia pada anak, peran keluarga dan lingkungan sangat penting.
Keluarga, yang merupakan tempat anak berinteraksi pertama kali sejak lahir ke dunia,
merupakan pendidik yang utama dan pertama. Keluarga yang baik dan memiliki karakter mulia
akan lebih mungkin untuk menghasilkan anak-anak yang berkarakter mulia juga. Hal ini
dikarenakan anak akan melihat keluarga sebagai contoh utama dan di sinilah anak mulai belajar
untuk memiliki karakter yang serupa.
Tidak berhenti di sini, lingkungan juga berperan penting dalam keberhasilan pendidikan
karakter. Selain dengan keluarga, anak pasti berinteraksi dengan lingkungan sekitar, seperti
tetangga ataupun teman-teman di sekolah. Hal ini secara tidak langsung juga akan memberi
pengaruh terhadap karakter anak.
Untuk mewujudkan karakter yang baik, diperlukan pembentukan karakter yang diawali dengan
pembiasaan untuk bisa memberi kecakapan dalam berbuat dan bertindak. Selanjutnya,
dibutuhkan penanaman pengertian atau pemahaman untuk bisa membuatnya mengerti tentang
aktivitas yang akan dilaksanakan supaya terdorong untuk melakukan perbuatan positif.
15
Jurnal Azkia,
Vol 15 No 2 Desember 2020
Keberhasilan pendidikan karakter dalam Islam tidak hanya dinilai dari sebagian aspek saja.
Misalnya, ketika anak sudah bisa berbuat jujur dengan tidak mencontek saat ujian, namun dia
masih malas belajar dan tidak ingin berjuang, maka pendidikan karakter masih belum bisa
dibilang sukses.
Pendidikan karakter dalam perspektif Islam akan dikatakan sukses ketika seorang manusia telah
memenuhi, atau setidaknya mencoba memenuhi, seluruh aspek iman dan akhlak yang telah
disebutkan sebelumnya.
Dalam al Quran terdapat banyak contoh akhlak baik yang disebutkan sebagai bahan rujukan
dalam membentuk karakter mulia. Salah satu contoh karakter yang paling menonjol dalam
pribadi muslim adalah sifat sabar dan pemaaf. Dalam al Quran surat al Imran ayat 134, Allah
berfirman, “… dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang.
Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”.
Jika sebelumnya telah dibahas bahwa karakter memiliki kaitan yang sangat erat dengan akhlak,
maka kini kita bisa menyimpulkan bahwa seseorang yang memiliki karakter baik adalah manusia
yang terbaik. Hal ini sesuai dengan hadis Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Sesungguhnya yang terbaik di antara kamu adalah yang paling baik akhlaknya” (H.R. Bukhari
Dari pembahasan yang cukup panjang di atas, kini kita bisa memahami bahwa hakikat
pendidikan karakter dalam perspektif Islam adalah pendidikan yang secara menyeluruh, tidak
16
Jurnal Azkia,
Vol 15 No 2 Desember 2020
hanya dalam hal ibadah dan moral di masyarakat, melainkan juga mencakup wawasan yang luas
dan kemauan untuk berjuang.
Maka, dalam Islam pendidikan karakter adalah hal yang sangat penting dan harus menjadi fokus
tersendiri dalam pendidikan anak.
F. Kesimpulan
Pendidikan karakter merupakan pendidikan ihwal karakter, atau pendidikan yang
mengajarkan hakikat karakter dalam ketiga ranah, yaitu cipta, rasa, dan karsa.
Adapun urgensi pendidikan karakter, diantaranya: Meningkatnya kekerasan di kalangan
remaja masyarakat, Penggunaan bahasa dan kata kata yang tidak baku, Pengaruh peer-group
(geng) dalam tindak kekerasan menguat, Meningkatnya perilaku merusak diri, seperti
penggunaan narkoba, alcohol, dan seks bebas, Semakin kaburnya pedoman moral bank dan
buruk, Etos kerja yang menurun, Semakin rendahnya rasa hormat kepada orang tua dan guru,
gagalnya orangtua sebagai figur bagi anak-anaknya, lingkungan yang tidak kondusif,
pemahaman agama yang dangkal, dan lain-lain.
Karakter esensial yang dimiliki oleh individu akan membawa implikasi positif bagi
terbangunnya karakter Yang lain. Karakter esensial dalam Islam mengacu Pada Sifat Nabi
Muhammad Saw. yang meliputi sidik, amanah, fathanah, dan tabligh.
17
Jurnal Azkia,
Vol 15 No 2 Desember 2020
DAFTAR PUSTAKA
Andayani, Dian dan Abdul [Link] Karakter Persepektif lslam. Bandung: Remaja
Rosdakarya. 2012.
Al Qur’an Al Karim dan terjemahnya, Matba’at Khodimul Haramain, 1413 H
Adisusilo, Sutarjo. Pembelajaran Nilai Karakter. Jakarta: Rajawali Press. 2013.
Abdul majid, Dian andayani. 2010. Pedidikan karakter dalam perspektif Islam. Bandung: Insan
Cita Utama
Abuddin Nata. 2003. Manajemen Pendidikan Mengatasi Kelemahan Pendidikan Islam di
Indonesia. Jakarta: Prenada Media
Ahmad Zayadi, Abdul Majid. 2005. Tadzkirah Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
Berdasarkan Pendekatan Kontekstual. Jakarta: Raja Grafindo Persada
Amru Khalid. 2008. Tampil Menawan Dengan Akhlak Mulia. Jakarta: Cakrawala Publishing
Aunillah. 2011. Panduan menerapkan pendidikan karakter disekolah. Jakarta: Trans Media
18
Jurnal Azkia,
Vol 15 No 2 Desember 2020
Barnawi dan M. Arifin, Strategi Dan Kebijakan Pembelajaran Pendidikan Karakter. Jogjakarta:
Ar-Ruzz. 2013.
Fadlullah. 2008. Orientasi Baru Pendidikan Islam. Jakarta: Diadit Media
Fatchul Mu’in. 2011. Pedidikan karakter kontruksi teoritik dan praktek. Yogyakarta: Ar-Ruzz
Media
Wibowo, Agus dan Sigit [Link] Karakter di Perguruan Tinggi. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar. 2013.
Muhaimin, Akhmad. Urgensi Pendidikan Karakter di Indonesia. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
2013.
Mustari,[Link] Karakter Refleksi Untuk [Link] Grafindo Persada: Jakarta.
2014.
Syifa,Ainis. Pendidikan Karakter dalam Perspektif Islam. Jurnal Pendidikan Universitas Garut ,
vol. 08. No. 01. 2014.
19