0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan8 halaman

Strategi Efektif Pemecahan Masalah Pendidikan

Dokumen ini membahas pemecahan masalah dalam pembelajaran, termasuk definisi, problematika, strategi, dan manfaatnya. Pemecahan masalah melibatkan proses kognitif yang memerlukan penguasaan konsep dan keterampilan berpikir kritis. Guru perlu memahami dan menerapkan strategi pemecahan masalah yang efektif untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menghadapi berbagai tantangan.

Diunggah oleh

juliansyahegi32
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan8 halaman

Strategi Efektif Pemecahan Masalah Pendidikan

Dokumen ini membahas pemecahan masalah dalam pembelajaran, termasuk definisi, problematika, strategi, dan manfaatnya. Pemecahan masalah melibatkan proses kognitif yang memerlukan penguasaan konsep dan keterampilan berpikir kritis. Guru perlu memahami dan menerapkan strategi pemecahan masalah yang efektif untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menghadapi berbagai tantangan.

Diunggah oleh

juliansyahegi32
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Rumusan masalah

1. Apa yang dimaksud pemecahan masalah

2. Apa saja problematikan pembelajaran

3. Apa saja strategi pemecahan masalah

4. Apa manfa’at strategi pemecahan masalah

Tujuan masalah

1. Mengetahui apa definisi pemecahan masalah

2. Mengetahui problematika pembelajaran

3. Memahami apa saja strategi pemecahan masalah

4. Mengetahui manfa’at strategi pemecahan masalah

1. Pengertian pemecahan masalah

Pemecahan masalah adalah proses memecahkan masalah secara rasional, lugas,


dan tuntas yang memerlukan penguasaan konsep-konsep, prinsipprinsip, dan
generalisasi serta insight (tilikan akal). 1 Pemecahan masalah adalah belajar
memecahkan masalah. Pada tahap ini, para peserta didik belajar merumuskan dan
memecahkan masalah, memberikan respon terhadap rangsangan yang
menggambarkan atau membangkitkan situasi problematika, yang menggunakan
berbagai kaidah yang telah dikuasainya. Menurut John Dewey belajar
memecahkan masalah itu berlangsung sebagai berikut: individu menyadari
masalah bila ia dihadapkan kepada situasi keraguan dan kekaburan sehingga
merasakan adanya semacam kesulitan.2 Tujuannya adalah untuk memperoleh
kemampuan dan kecakapan kognitif untuk memecahkan masalah secara rasional,
lugas, dan tuntas.3 Tujuannya adalah untuk memperoleh kemampuan dan
kecakapan kognitif untuk memecahkan masalah secara rasional, lugas, dan

1
Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 2013. Hlm.
121.
2
Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, Rineka Cipta, Jakarta, 1996. Hlm. 53.
3
Muhibbin Syah, Op. Cit, Hlm. 127
tuntas.4Pemecahan masalah dapat dilakukan secara individu, kelompok, klasikal,
dengan berbagai cara seperti tanya jawab, diskusi atau kegiatan di dalam kelas
maupun di luar kelas dengan tujuan untuk mengembangkan proses berfikir kritis,
obyektif, analitik, dan membentuk sikap dan keterampilan peserta didik untuk
memecahkan masalah.5 Menurut Mulyani Sumantri, pemecahan masalah atau
penemuan adalah cara menyajikan. pelajaran yang memberi kesempatan kepada
peserta didik untuk menemukan informasi dengan atau tanpa bantuan guru.6

2. Berikut ini adalah berbagai problematika yang sering terjadi di lapangan


pada pembelajaran pemecahan masalah yang secara umum disarikan
sebagai berikut:

1. Persepsi Guru Persepsi guru terhadap pemecahan masalah memang sangat


beragam, hal ini dipengaruhi oleh pengalaman dan pengetahuan guru tentang konsep
pemecahan masalah dan pembelajarannya. Guru kadang memandang bahwa
kemampuan memecahkan masalah dapat diberikan jika siswa sudah mengasai seluruh
konsep matematika, sehingga kadang-kadang diberikan di akhir pembahasan suatu
topik sebagai pelengkap topik tersebut. Pembelajaran pemecahan masalah kadang-
kadang tidak diberikan jika waktu tidak memungkinkan. Guru merasa cukup dengan
pembelajaran perhitungan. Guru juga beranggapan bahwa masalah yang disajikan
oleh guru hanya dalam bentuk soal cerita, padahal masalah dapat disajikan dalam
berbagai bentuk model soal. Guru menganggap bahwa pembelajaran pemecahan
masalah menyita waktu yang sangat banyak sehingga sering mengganggu program
pembelajaran.

2. Perencanaan Pembelajaran Guru membuat perencanaan berdasarkan kurikulum


sekolah (KTSP) secara konvensional. Guru kurang memersiapkan pembelajaran untuk
pemecahan masalah sehingga pada pelaksanaannya penyelesaian soal-soal pemecahan
masalah hanya sekedar latihan soal-soal cerita.

4
Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 2013.
Hlm.124
5
Meity Taqdir qadratillah, Kamus Bahasa Indonesia Untuk Pelajar, Balai Pustaka, Jakarta, 2003. Hlm
6
Israni Hardini dan Dewi Puspitasari, Strategi Pembelajaran Terpadu (Teori, Konsep & Implementasi), Familia
(Grop Relasi Inti Media), Yogyakarta, 2012, Hlm. 97.
3. Pelaksanaan Pembelajaran Guru melaksanakan pembelajaran pemecahan masalah
di akhir proses pembelajaran sebagai latihan soal cerita, belum dianggap sebagai suatu
tujuan pembelajaran secara khusus berupa pendekatan pembelajaran. Guru biasanya
mengajarkan tiga tahap penyelesaian soal cerita, yaitu : menentukan apa yang
diketahui, ditanyakan dan jawaban. Hal ini tampak dari hasil pekerjaan siswa,
walapun dari hasil uji coba soal cerita, siswa-siswa langsung menjawab soal tanpa
mengikuti langkah-langkah yang ditentukan. Hal ini memang bergantung kepada cara
guru mengajarkan strategi-strategi pemecahan soal cerita. Keadaan ini menyebabkan
siswa tidak kretaif dalam menyelesaikan soal cerita. Siswa sering mengajukan
pertanyaan berkaitan dengan suatu soal cerita, seperti ”Pak, soal ini dikerjakan pake
rumus apa?”. Semenetara itu, dalam kondisi kelas dengan jumlah siswa yang banyak,
guru sulit untuk merancang pembelajaran secara berkelompok, padahal salah satu
aspek kemampuan pemecahan masalah adalah kemampuan bertukar pikiran dan
informasi selama proses pemecahan masalah.

4. Penilaian Pembelajaran Menilai kemampuan pemecahan masalah tidak hanya dari


hasilnya saja tetapi yang lebih penting adalah kemampuan proses siswa dalam
memecahkan masalah. Oleh karena itu, metode atau teknik penilain harus mampu
menilai kemampuan proses siswa seperti yang telah dipaparkan pada bagian
sebelumnya. Akan tetapi, guru jarang menggunakan teknikteknik penilaian yang
seperti itu. Penilaian hanya dilakukan seperti pada tes uraian biasa sehingga kurang
mendeskripsikan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah. 7

5. Media atau Alat Peraga Walaupun pemecahan masalah adalah aktivitas kognitif,
tetapi siswa sekolah dasar masih membutuhkan media atau alat peraga selama
aktivitas pemecahan masalah. Media yang sangat menentukan adalah LKS yang
dibuat oleh guru untuk memandu atau melatih siswa dalam menggunakan langkah-
langkah pemecahan masalah. Sementara alat peraga yang dapat digunakan adalah
alat-alat manipulatif untuk di eksplorasi siswa dalam kegiatan pemecahan masalah.
Akan tetapi, kenyataannya, guru hanya menggunakan sajian soal dari buku yang
kurang memberikan ruang kreativitas siswa dalam memecahkan masalah.

7
M. Musfiqon dan Nurdyansyah. N. (2015). Pendekatan Pembelajaran Saintifik. Sidoarjo: Nizamia learning
center, Hlm.13.
Sehingga LKS yang tersedia hanya berupa langkah-langkah, seperti : ”Diketahui”;
”Ditanyakan”; dan ”Dijawab”. Sementara alat peraga manipulatif jarang digunakan. 8

3. Pembelajaran Pemecahan Masalah yang Efektif

Karena pemecahan masalah dianggap sulit untuk diajarkan dan dipelajari, maka
berbagai penelitian banyak mengkaji hal ini. Fokus penelitiannya adalah tentang :
karakteristik masalah; karakteristik siswa yang mampu dan tidak mampu
menyelesaikan masalah; serta strategi-stratagi pembelajaran pemecahan masalah.
Berikut ini adalah beberapa hasil penelitian tersebut yang dirangkum dalam Reys
[Link].(1989).9

1. Strategi pemecahan masalah secara khusus harus diajarkan sampai siswa dapat
memecahkan masalah dengan benar.

2. Tidak ada strategi yang optimal untuk memecahkan seluruh masalah (soal).
Beberapa strategi sering digunakan daripada yang lainnya dalam setiap tahapan
pemecahan masalah.

3. Guru harus mengajarkan berbagai strategi kepada siswa untuk dapat


menyelesaikan berbagai bentuk masalah. Siswa harus dilatih menggunakan suatu
strategi untuk berbagai jenis soal, atau menggunakan beberapa strategi untuk
suatu soal.

4. Siswa perlu dihadapkan pada masalah dengan cara pemecahan yang belum
dikuasainya (tidak biasa), dan mereka harus didorong untuk mencoba berbagai
alternatif pendekatan pemecahan. Prestasi atau kemampuan siswa dalam
memecahkan masalah berhubungan dengan tahap perkembangan siswa. Oleh
karena itu, tingkat kesukaran masalah yang diberikan harus sesuai/patut dengan
siswa.

8
M. Musfiqon dan Nurdyansyah. N. (2015). Pendekatan Pembelajaran Saintifik. Sidoarjo: Nizamia learning
center, Hlm.89.
9
Nurdyansyah, Pandi Rais, Qorirotul Aini. (2017). The Role of Education Technology in Mathematic of Third
Grade Students in MI Ma’arif Pademonegoro Sukodono Madrosatuna: Journal of Islamic Elementary School
Vol. 1 (1), November 2017. ISSN 2579-5813 - doi: 10.21070/madrosatuna.v1i1.923
4. Menurut Reys, [Link]. (1989), agar mengajar pemecahan masalah lebih efektif,
maka guru perlu memahami faktor-faktornyanya, yaitu : waktu, perencanaan,
sumber belajar media, teknologi, serta pengelolaan kelas. Waktu yang
direncanakan harus efektif dan sesuai dengan kemampuan serta proses berpikir
siswa.

Sebaiknya guru mampu memperkirakan waktu yang diperlukan oleh siswa dalam
menyelesaikan suatu soal maupun beberapa soal. Seluruh tahapan pembelajaran
harus dipersiapkan dengan baik meliputi : strategi guru, sumber belajar : alat
peraga atau media, serta teknologi. Berdasarkan teori Piaget (Reys, [Link]., 1989),
karakteristik siswa sekolah dasar masih berpikir operasional konkrit atau menurut
Bruner (Reys, [Link]., 1989), masih dalam tahap enaktif dan ikonik. Oleh karena itu,
guru perlu menyiapkan alat-alat peraga manipulatif bagi siswa untuk digunakan
dalam membantu memahami dan memecahkan masalah. Yang tidak kalah penting
juga adalah kemampuan guru dalam mengelola kelas termasuk mengelola
aktivitas siswa. Guru dapat merancang kegiatan pembelajaran pemecahan masalah
baik secara individu, klasikal ataupun kelompok. Kegiatan pemecahan masalah
lebih cocok dengan seting kerja kelompok dimana siswa saling bertukar
pengetahuan dan kemampuan dalam memecahkan masalah. Hal ini tidak hanya
dimaksudkan untuk efektivitas pembelajaran, tetapi juga agar siswa terbiasa
bekerja sama dalam menyelesaikan suatu permasalahan.10

Manfaat Strategi Pemecahan Masalah Strategi

pemecahan masalah merupakan representasi dimensi-dimensi proses yang alami bukan


satu usaha yang dipaksakan. Strategi pemecahan masalah merupakan pendekatan yang
dinamis, siswa menjadi lebih terampil sebab siswa mempunyai prosedur internal yang
lebih tersusun dari awal. Ada banyak kegiatan yang melibatkan kreativitas dalam
pemecahan masalah seperti riset dokumen, pengamatan terhadap lingkungan sekitar,
kegiatan yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan penulisan yang kreatif. Dengan
strategi Pemecahan Masalah, siswa dapat memilih dan mengembangkan ide
pemikirannya. Berbeda dengan hafalan yang sedikit menggunakan pemikiran, strategi
pemecahan masalah memperluas proses berpikir. Pengajaran berdasarkan pemecahan
masalah (Problem Solving) tidak dirancang untuk membantu guru memberikan informasi
sebanyak-banyaknya kepada siswa. Pengajaran berdasarkan pemecahan masalah
10
Sanjaya, Wina. (2007). Kajian Kurikulum dan Pembelajaran. Bandung : SPs UPI. Hlm.13.
(Problem Solving) dikembangkan untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan
berpikir, memecahkan masalah dan keterampilan intelektual; belajar berbagai peran
orang dewasa melalui pelibatan mereka dalam pengalaman nyata atau simulasi dan
menjadi pebelajar yang otonom dan mandiri. Strategi pemecahan masalah selalu
mengarahkan kemampuan yang dimiliki siswa, baik kemauan, perasaan, semangat, serta
pemikiran yang paling utama dalam memecahkan masalah. Strategi ini mendorong siswa
untuk berpikir secara sistematis dengan menghadapkannya kepada masalah-masalah.
Hal ini penting dalam kehidupannya untuk menghadapi masalah. Dengan Problem
Solving siswa belajar untuk mengembangkan pola pikirnya. Memecahkan masalah
adalah strategi belajar yang mengharuskan pelajar untuk menemukan jawabannya
(dicovery) tanpa bantuan khusus. Dengan memecahkan masalah pelajar menemukan
aturan baru yang lebih tinggi tarafnya sekalipun ia tidak dapat merumuskannya secara
verbal. Menurut penelitian masalah yang dipecahkan sendiri, yang ditemukan sendiri
tanpa bantuan khusus, memberi hasil yang lebih unggul, yang digunakan atau ditransfer
dalam situasisituasi lain.

Problem Solving dapat dipandang sebagai proses penerapan pengetahuan dan


pemahaman yang ada terhadap sesuatu yang baru supaya memperoleh ideide baru dan
pemahaman baru. Menurut Tek “Penekanan utama Problem Solving sebagai suatu
strategi pengajaran adalah untuk membantu para mahasiswa mengembangkan
pemahamannya terhadap prinsip-prinsip ilmiah dan konsepkonsep yang terkandung
dalam masalah” .11 Umumnya dalam konteks pemecahan masalah siswa akan terdorong
aktif terlibat dalam proses pembelajaran, sehingga siswa harus berpikir secara ilmiah
dan mengembangkan pemahaman yang lebih mendalam terhadap permasalahan
dengan berpikir menggunakan ide-ide yang relevan. Jadi Problem Solving merupakan
kemampuan intelektual dengan tingkat kompleksitas yang tinggi. Sasaran dari
penggunaan strategi Problem Solving adalah:

1) siswa akan mampu menyatakan urutan langkah-langkah pemecahan masalah


dalam creative Problem Solving.

2) siswa mampu menemukan kemungkinan-kemungkinan strategi pemecahan


masalah.

3) siswa mampu mengevaluasi dan menyeleksi kemungkinan-kemungkinan


tersebut kaitannya dengan kriteria-kriteria yang ada.

11
Nasution. Berbagai Pendekatan alam Proses Belajar dan Mengajar. (Jakarta: PT. Bina Aksara, 1982.) hal. 23
4) siswa mampu memilih suatu pilihan solusi yang optimal.

5) siswa mampu mengembangkan suatu rencana dalam mengimplementasikan


strategi pemecahan masalah.

6) siswa mampu mengartikulasikan bagaimana creative Problem Solving dapat


digunakan dalam berbagai bidang/ situasi.

Dilihat dari sasaran penggunaan strategi Problem Solving di atas maka manfaat strategi Problem
Solving adalah untuk:

(1) mengembangkan kemampuan berpikir para siswa yang tidak hanya berpikir
bertambah apabila pengetahuan bertambah, namun proses berpikir yang
terdiri atas serentetan keterampilan- keterampilan seperti mengumpulkan
informasi/data, membaca data dan lain-lain yang penerapannya
membutuhkan latihan dan pembiasaan

(2) membina pengembangan sikap penasaran/ ingin tahu lebih jauh dan cara
berpikir objektif mandiri kritis analitis, baik secara individu maupun secara
kelompok

(3)siswa dapat menghadapi permasalahan yang ada di lingkungan sekitarnya


serta berusaha mengerahkan segala kemampuan untuk dapat mencari
pemecahan masalah.
PENUTUP

Guru sebagai pihak yang paling berperan dalam pembelajaran, perlu mengusai
tidak hanya pemecahan masalah secara konseptual tetapi juga secara praktiknya.
Perubahan paradigma pembelajaran matemtika ini membutuhkan kemampuan
guru baik dalam merencanakan, melaksanakan dan menilai pembelajaran
pemecahan masalah. Berbagai masalah yang muncul dapat disebabkan oleh
persepsi guru yang belum benar tentang pemecahan masalah dan pembelajarannya
sehingga berimplikasi terhadap pembelajarannya. Sebab lain dapat didorong oleh
beban pembelajaran yang padat berdasarkan kurikulum sehingga tidap punya
waktu banyak untuk melaksanakan aktivitas pemecahan masalah. Padahal
aktivitas pemecahan masalah membutuhkan waktu yang lebih banyak apalagi
dalam model pembelajaran kelompok. Ketersediaan media dan alat peraga sangat
menunjang bagi pembelajaran pemecahan masalah untuk menjembatani
kemampuan pemecahan masalah sebagai kemampuan kognitif tingkat tinggi
dengan kemampuan berpikir siswa sekolah dasar yang masih konkrit.

Anda mungkin juga menyukai