0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
28 tayangan10 halaman

Mencegah Konflik di Masyarakat Multikultural

Artikel ini membahas resolusi konflik dalam masyarakat multikultural Indonesia dengan pendekatan komunikasi antarbudaya. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif untuk menganalisis pola komunikasi yang efektif dan tantangan dalam menyelesaikan konflik antarbudaya. Diharapkan artikel ini dapat berkontribusi pada pengembangan model resolusi konflik yang adaptif di tengah keberagaman budaya Indonesia.

Diunggah oleh

EL Arya
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
28 tayangan10 halaman

Mencegah Konflik di Masyarakat Multikultural

Artikel ini membahas resolusi konflik dalam masyarakat multikultural Indonesia dengan pendekatan komunikasi antarbudaya. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif untuk menganalisis pola komunikasi yang efektif dan tantangan dalam menyelesaikan konflik antarbudaya. Diharapkan artikel ini dapat berkontribusi pada pengembangan model resolusi konflik yang adaptif di tengah keberagaman budaya Indonesia.

Diunggah oleh

EL Arya
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Resolusi Konflik dalam Masyarakat Multikultural: Pendekatan Komunikasi Antar

Budaya di Indonesia
Andi Akifah¹, Hafied Cangara²
¹Universitas Tadulako, Palu
²Universitas Hasanuddin, Makasar
Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Tadulako, Jl. Soekarno Hatta, KM 9 Kel. TondoKec.
Mantikulore, Sulawesi Tengah, Indonesia
aakifah78@[Link]
Article Info Abstract
Keywords Indonesia has a long history of successfully managing and resolving societal issues, perhaps due to the
Intercultural Communication; remarkable ethnic, religious, and cultural diversity that exists inside the country. This article
Conflict; multicultural employs the intercultural communication approach to investigate the dynamics of conflict resolution
within a society comprising people from different cultural backgrounds. The method used in this
article was descriptive qualitative. The data was collected through library research by tracing various
literature related to the study topic. The conversation's primary emphasis is the analysis of effective
communication patterns in managing disputes. This analysis will also concentrate on the capital of
Indonesian local knowledge, which has been demonstrated to be a solution to managing conflicts. In
addition, this article details the challenges that arise while attempting to resolve intercultural conflicts
and offers suggestions for how these challenges might be successfully addressed. This article aims to
contribute to studying the development of conflict resolution models in the context of a pluralistic
Indonesian society. It can be accomplished via literature studies or library research on the themes that
have been covered.

Kata kunci Indonesia, dengan keberagaman etnis, agama, dan budaya yang luar biasa, memiliki
Komunikasi sejarah panjang dalam mengelola dan menyelesaikan konflik sosial. Artikel ini
Antarbudaya; bertujuan mengeksplorasi dinamika resolusi konflik dalam konteks masyarakat
Konflik; multikultural dengan menggunakan perspektif komunikasi antarbudaya. Studi ini
multicultural. menggunakan metode deskriptif kualitatif melalui studi kepustakaan atau library
research, yaitu melakukan penelusuran melalui literatur-literatur terkait topik yang
dibahas. Fokus pembahasan diarahkan pada analisis pola-pola komunikasi yang
efektif dalam mengelola konflik termasuk modal kearifan lokal Indonesia yang
terbukti mampu menjadi solusi dalam penanganan konflik. Selain itu artikel ini juga
mengidentifikasi hambatan-hambatan dalam penyelesaian konflik antarbudaya serta
rekomendasi solusi dalam mengatasi hambatan tersebut. Artikel ini diharapkan
berkontribusi pada kajian dalam pengembangan model resolusi konflik di tengah
masyarakat Indonesia yang majemuk..

.
Pendahuluan kulturalnya masing-masing (Antara & Yogantari,
Indonesia adalah negara yang kaya akan 2018; Bruner, 1974; Salim, 2017). Dilihat dari jumlah
keragaman budaya, suku, agama, dan bahasa. dan keanekaragaman tersebut dapat dikatakan
Berdasarkan pedoman dan pengolahan data Badan bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat
Pusat Statistik Indonesia, jumlah suku bangsa yang yang majemuk (Bruner, 1974; Salim, 2017).
ada di Indonesia secara keseluruhan mencapai 1300 Keberagaman ini menjadi keunikan tersendiri yang
suku bangsa (BPS Indonesia, 2011). Selain jenisnya menjadi modal kekayaan bangsa indonesia.
yang beragam, jumlah dan ukuran setiap suku bangsa Meskipun keberagaman ini menjadi
juga sangat bervariasi. Dari keragaman tersebut, tiap kebanggaan bangsa, tidak jarang hal ini juga
etnis memiliki warisan dengan bahasa dan identitas menimbulkan konflik sosial di antara anggota

Komunikologi Volume 22 Nomor 01, Maret 2025 56


masyarakat (Agung, 2011; Jayanti et al., 2023). komunikasi antarbudaya. Fokus pembahasan akan
Perselisihan akibat perbedaan budaya suku, agama diarahkan pada analisis pola-pola komunikasi yang
dan ras terkadang sulit dihindari. Konflik tersebut efektif dalam mengelola konflik serta identifikasi
sering kali menyebabkan perpecahan dan ketegangan hambatan-hambatan penyelesaian konflik
di antara kelompok-kelompok yang terlibat. Selama antarbudaya. Studi ini juga akan mengkaji berbagai
kurun lima tahun (1998-2003) setidaknya sejumlah contoh kasus resolusi konflik yang berhasil sebagai
21.495 orang meninggal dunia karena konflik yang pembelajaran dalam mengembangkan model
terjadi di Indonesia (Barron et al., 2014). Dan, di pengelolaan konflik yang adaptif terhadap konteks
antara peristiwa konflik yang terjadi terdapat enam lokal.
provinsi yang dikategorikan sebagai daerah dengan
konflik berskala tinggi dan berkesinambungan yaitu Metode Penelitian
Aceh, Sulawesi Tengah, Maluku, Maluku Utara, Studi ini menggunakan metode deskriptif
Papua, dan Papua Barat (Muliono, 2020). Konflik- kualitatif melaui studi (riset) kepustakaan atau library
konflik ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, research. Melalui penelusuran berbagai literatur, artikel
seperti perbedaan nilai, norma, dan kepentingan di ini berusaha mengeksplor beberapa konflik yang
antara kelompok-kelompok yang berbeda. Kita tentu pernah terjadi di Indonesia serta model penyelesaian
masih ingat konflik berskala besar yang terjadi di konflik berdasarkan kearifan lokal melalui
berbagai daerah di Indonesia seperti konflik Poso, pendekatan komunikasi antarbudaya. Studi
Ambon, Sampit serta konflik-konflik kecil di kepustakaan merupakan studi yang dilakukan untuk
berbagai wilayah lainnya. Konflik tersebut telah membentuk ide melalui informasi yang diperoleh dari
banyak menelan korban jiwa dan menyengsarakan berbagai literatur terkait. Menurut Sugiyono (2014)
masyarakat di masing-masing wilayah konflik penelitian kepustakaan adalah kajian teoritis,
(Elewahan et al., 2019). Hal tersebut referensi, serta literatur ilmiah lainnya yang berkaitan
memperlihatkan bagaimana perbedaan menjadi dengan budaya, nilai dan norma yang berkembang
tantangan tersendiri di masyarakat multikultural. pada situasi sosial yang diteliti. Proses studi
Di sisi lain, keberagaman yang dimiliki kepustakaan ini dilakukan melalui identifikasi sumber
Indonesia juga dapat menjadi peluang untuk literatur yang relevan, pengembangan kerangka
menciptakan harmoni dan rekonsiliasi di tengah- analisis, pengorganisasian hasil studi kepustakaan
tengah masyarakat. Bagi masyarakat multikultural serta merumuskan rekomendasi untuk
seperti Indonesia, hal penting yang perlu dilakukan pengembangan studi terkait. Adapun sumbernya
adalah bagaimana mengelola keberagaman ini dengan literatur berasal dari artikel jurnal, buku teks, laporan
baik agar tidak menimbulkan perpecahan dan konflik hasil penelitian, artikel internet, serta dokumen
yang berkepanjangan (Jayanti et al., 2023). Untuk instansi terkait.
mencapai rekonsiliasi pasca konflik, dibutuhkan Melalui pendekatan studi kepustakaan yang
upaya-upaya yang dapat membangun kembali sistematis ini, diharapkan dapat dihasilkan
kepercayaan dan pemahaman antar kelompok. pemahaman yang komprehensif tentang resolusi
Komunikasi antarbudaya memegang peranan vital konflik pada masyarakat multikultural, serta
sebagai instrumen dalam membangun pemahaman, memberikan kontribusi teoretis dan praktis dalam
mengelola perbedaan, dan menciptakan harmoni pengembangan model komunikasi antarbudaya yang
sosial di tengah keberagaman. Melalui pemahaman efektif untuk mengelola konflik sosial.
yang baik mengenai pluralisme dan kearifan lokal,
konflik-konflik sosial yang terjadi dapat diminimalisir Hasil dan Pembahasan
dan bahkan dihindari (Azizah et al., 2020; Slamet et Konsep Komunikasi Antar Budaya dalam
al., 2021). kerangka Konflik
Artikel ini bertujuan mengeksplorasi Studi-studi terdahulu menunjukkan bahwa
dinamika resolusi konflik dalam konteks masyarakat kegagalan komunikasi antarbudaya sering menjadi
multikultural dengan menggunakan perspektif akar dari berbagai konflik komunal di Indonesia

Komunikologi Volume 22 Nomor 01, Maret 2025 57


(Humaedi, 2014). Kesalahpahaman dalam memaknai pemahaman terhadap budaya lain, sikap etnosentris,
simbol, nilai, dan praktik budaya dapat memicu dan stereotip negatif. Kompleksitas masalah ini
ketegangan yang berujung pada disharmoni sosial. Di menuntut para ahli komunikasi antarbudaya perlu
sisi lain, keberhasilan mediasi konflik berbasis dibahas dalam berbagai perspektif, sehingga dapat
pendekatan kearifan lokal dan dialog antarbudaya memberikan penggambaran lengkap tentang konflik
telah terbukti efektif dalam menyelesaikan berbagai antarbudaya (Dai & Chen, 2017). Oleh karena itu,
sengketa di tingkat akar rumput. upaya membangun komunikasi antar budaya yang
Komunikasi antarbudaya didefinisikan efektif dapat mengurangi kesalahpahaman dan
sebagai interaksi antarpribadi di mana masing-masing memfasilitasi penyelesaian konflik dengan lebih baik.
peserta memiliki latar belakang budaya yang berbeda Komunikasi antar budaya yang baik dapat membantu
(Hadiono, 2016; Riska & Darul, 2023). Istilah menciptakan toleransi, saling pengertian, dan
komunikasi antarbudaya digunakan sebagai perdamaian di antara kelompok-kelompok yang
representasi berbagai istilah terkait, seperti berbeda latar belakang budaya (Anggraini et al., 2022;
komunikasi antar etnis, antar ras, dan antar Engracia & Perguna, 2021; Salsabila, 2023).
kelompok, yang merujuk pada pertemuan di mana Dalam konteks global, urgensitas
masing-masing peserta berbeda dalam latar belakang pemahaman resolusi konflik pada masyarakat
pengalaman berbasis kelompok (Kim, 2007). multikultural semakin relevan seiring meningkatnya
Komunikasi antarbudaya berevolusi dalam berbagai mobilitas penduduk dan interaksi lintas budaya.
cara di tiap negara. Evolusi ini tergantung pada Fenomena migrasi, urbanisasi, dan globalisasi telah
kondisi sosial politik serta masyarakat dimana menciptakan masyarakat yang lebih heterogen, di
program antarbudaya diajarkan. Sebagai salah satu mana setiap individu dituntut memiliki kompetensi
kajian penting dalam studi budaya, komunikasi komunikasi antarbudaya yang memadai. Tanpa
antarbudaya merupakan jawaban atas kompeksitas pemahaman dan keterampilan ini, potensi konflik
dunia modern dengan berbagai macam karakteristik akibat benturan nilai dan kepentingan akan semakin
budaya (Croucher et al., 2015). tinggi.
Benjamin J Broome (2017) mengungkapkan Selain itu, dalam konteks agama, pluralisme
wajar jika manusia pesimis terhadap kehidupan yang dapat diidentikkan dengan sikap toleransi untuk
harmoni di zaman sekarang. Banyaknya kejahatan menekan konflik yang mungkin terjadi. Sikap
yang terjadi di berbagai belahan dunia, seperti bom keagamaan yang inklusif dan keterbukaan untuk
bunuh diri, serangan drone, teroris, demonstrasi, memahami perbedaan, dapat mendorong praktik-
serta berbagai kejahatan yang terorganisir, menjadi praktik sosial yang harmonis, seperti gotong royong
bukti ketidakharmonisan kehidupan manusia. antar umat beragama (Agung, 2011; Azizah et al.,
Bahkan, yang mengkhawatirkan, setelah berakhirnya 2020; Nawing et al., 2023; Umi & Ichwayudi, 2022).
perang dunia kedua, banyak konflik baru yang terjadi, Masyarakat multikultural merupakan realitas yang
baik dalam bentuk perang saudara, pemberontakan tidak dapat dihindari di zaman modern ini.
yang berskala rendah, maupun bentuk konflik lainya. Globalisasi memaksa kita harus mampu hidup di
Konflik ini dapat memecah belah suatu bangsa masyarakat yang majemuk.
selama beberapa dekade, dan terkadang berlangsung Globalisasi sebagai fenomena saat ini, dapat
secara permanen (Broome, 2017). dimanfaatkan sebagai modal untuk memperkuat
Konflik antarbudaya terjadi ketika orang- interaksi sosial masyarakat di lingkungan yang
orang memiliki ekspektasi, nilai, norma, minat, atau beragam. Di era ini, kebutuhan manusia untuk
tujuan yang tidak sesuai dalam interaksi mereka berinteraksi dan berkomunikasi semakin meningkat.
(Hocker & Wilmot, 2018). Konflik dapat muncul Teknologi memainkan peran penting dalam
pada tingkat interpersonal atau antar kelompok dan memfasilitasi dan memperkuat interaksi sosial,
melibatkan faktor politik, ekonomi, atau budaya. dengan menyediakan sarana komunikasi yang lebih
Lebih lanjut, konflik yang terjadi di masyarakat efisien dan efektif. Media sosial, sebagai contoh, telah
multikultural seringkali disebabkan oleh minimnya membuka peluang bagi individu untuk

Komunikologi Volume 22 Nomor 01, Maret 2025 58


berkomunikasi, bersosialisasi, dan membentuk masyarakat. Prinsip yang telah mengakar dalam
komunitas tanpa adanya kendala ruang dan waktu budaya Indonesia, menekankan pentingnya dialog
(Widyaningrum, 2021). Peluang ini dapat menjadi dan pencapaian kesepakatan melalui konsensus,
modal kuat dalam memupuk pemahaman bukan melalui voting atau dominasi mayoritas
antarbudaya sehingga potensi konflik dapat dihindari. (Faradila & Dewi, 2023). Pendekatan ini
Sebagai salah satu sarana komunikasi antarbudaya, mencerminkan nilai-nilai demokrasi deliberatif yang
platform digital dapat digunakan untuk memfasilitasi sebenarnya telah ada dalam tradisi Indonesia jauh
dialog antarkelompok, menyebarkan informasi yang sebelum konsep modern tentang demokrasi
akurat, dan mengkoordinasikan upaya-upaya diperkenalkan. Musyawarah mufakat telah menjadi
perdamaian. Namun, perlu ada kehati-hatian karena salah satu fondasi filosofis negara Indonesia dan
media sosial juga bisa menjadi sarana penyebaran menjadi sistem pengambilan keputusan di
kebencian dan provokasi. pemerintahan (Anggita & Hatori, 2020). Meskipun
Pendekatan komunikasi antarbudaya dapat dalam perkembangannya, musyawarah mufakat dapat
membantu proses resolusi konflik dengan dianggap tidak sesuai dengan sistem demokrasi
menciptakan pemahaman yang lebih baik di antara modern yang lebih barat, namun nilai-nilai
pihak-pihak yang terlibat (Zulfiningrum et al., 2020). musyawarah mufakat tetap relevan dan dapat
Dalam hal ini, dialog yang saling terbuka dan diadaptasi dalam konteks modernisasi.
mengedepankan toleransi serta negosiasi dapat Dengan memahami konsep musyawarah mufakat,
menjembatani kesenjangan antarbudaya. Melalui maka kita dapat melihat bagaimana nilai-nilai ini
pemahaman dan apresiasi terhadap keberagaman, dapat diterapkan dalam mengatasi konflik di tengah-
konflik dapat diminimalisir. Tantangan terbesar tengah masyarakat. Kajian dalam tulisan "Qur'anic
adalah bagaimana membangun kesadaran akan Perspective on Social Religious Conflict Resolution Based on
pentingnya pluralisme sebagai fondasi untuk Culture of Togetherness and Reconciliation" menunjukkan
kehidupan bersama yang damai (Azizah et al., 2020; bahwa di Bantarkawung, Jawa Tengah, konflik agama
Umi & Ichwayudi, 2022). dan sosial diselesaikan melalui budaya kebersamaan
dalam ritual keagamaan dan kegiatan sosial, serta
Resolusi Konflik di Indonesia melalui proses "rembugan" atau musyawarah untuk
Meskipun terdapat berbagai tantangan dalam menerima perbedaan pemahaman (Mukhtar &
mengelola keberagaman budaya, Indonesia juga Triana, 2023).
memiliki potensi yang besar untuk menciptakan Banyak kearifan lokal lain yang juga
harmoni dan rekonsiliasi di tengah-tengah memainkan peran penting dalam penyelesaian
masyarakat. Sejarah mencatat berbagai konflik konflik di berbagai daerah di Indonesia. Di Maluku,
pernah terjadi di Indonesia, mulai dari konflik misalnya, sistem Pela Gandong telah terbukti efektif
vertikal antara pemerintah dan kelompok separatis dalam mencegah dan menyelesaikan konflik
hingga konflik horizontal antarkelompok masyarakat antaragama. Sistem ini mengikat desa-desa Muslim
(Muliono, 2020). Namun, yang menarik adalah dan Kristen dalam ikatan persaudaraan yang kuat,
bagaimana bangsa ini telah mengembangkan berbagai menciptakan mekanisme pencegahan konflik yang
mekanisme penyelesaian konflik yang berkelanjutan (Bakri, 2015). Pela Gandong
mengintegrasikan nilai-nilai modern dengan kearifan merupakan salah satu sarana bagi masyarakat dalam
lokal. menyampaikan pesan dalam bentuk verbal maupun
Dalam menghadapi konflik, baik di tingkat non verbal (Pakalessy et al., 2022). Dalam konteks
individual, kelompok, maupun masyarakat, komunikasi antar budaya, Pela Gandong menjadi
musyawarah mufakat merupakan solusi yang dapat wadah dalam mempersatukan dua budaya yang
dipertimbangkan. Musyawarah mufakat, sebagai salah berbeda melalui interaksi yang melahirkan
satu nilai luhur dalam budaya Indonesia, telah kesepahaman diantara kedua belah pihak.
terbukti efektif dalam menyelesaikan berbagai Selain itu, konsep sintuwu maroso di Sulawesi
permasalahan yang muncul di tengah-tengah tengah, merupakan salah satu contoh penyelesaian

Komunikologi Volume 22 Nomor 01, Maret 2025 59


konflik yang menekankan pentingnya gotong royong penyelesaian konflik. Pembentukan Forum
dan kerja sama lintas kelompok dalam menyelesaikan Kerukunan Umat Beragama (FKUB) di berbagai
perselisihan (Kaliongga et al., 2023; Makmur, 2023). daerah, misalnya, menyediakan platform formal
Sintuwu maroso merupakan konsep budaya yang untuk dialog antaragama dan penyelesaian konflik
menekankan pada pentingnya persatuan dan berbasis agama (Rofiq, 2023). Forum Kerukunan
kebersamaan dalam masyarakat. Budaya ini Umat Beragama, adalah forum yang dibentuk oleh
merupakan budaya dari suku asli Pamona di Poso masyarakat dan difasilitasi oleh pemerintah dalam
yang bertumbuh dan berkembang dari generasi ke rangka membangun, memelihara, dan
generasi. Sebagai wilayah yang heterogen, Kabupaten memberdayakan umat beragama untuk kerukunan
Poso menjadi wilayah yang rentan dengan konflik dan kesejahteraan. Sebagai wadah pengembangan
antarbudaya. Konflik besar yang terjadi beberapa kerukunan umat beragama, FKUB memiliki tugas
tahun silam menjadikan Kota Poso dikenal sebagai yang tidak terlepas dari proses komunikasi, yang
daerah konflik yang menimbulkan ketakutan beberapa di antaranya melakukan dialog dengan
masyarakat luar untuk datang berkunjung ke wilayah pemuka agama atau tokoh masyarakat, menampung
tersebut (Akifah et al., 2021). Untuk itu, konsep dan menyalurkan aspirasi ormas keagamaan dan
Sintuwu Maroso menjadi salah satu pengingat yang masyarakat (Rahman, 2021).
mengajarkan bahwa perbedaan yang ada di dalam Namun, tantangan dalam penyelesaian
masyarakat seharusnya tidak menjadi pemicu konflik di Indonesia tetap ada. Politisasi identitas
perpecahan, melainkan menjadi kekuatan untuk (Wahyudi et al., 2024), kesenjangan ekonomi, dan
saling melengkapi dan memperkuat (Yakobus, 2023). kompetisi sumber daya alam sering kali memperumit
Melalui penerapan konsep "sintuwu maroso", proses penyelesaian konflik (BM, 2014). Selain itu,
masyarakat dapat saling memahami, menghargai, dan modernisasi dan urbanisasi yang cepat kadang
bekerja sama dalam menyelesaikan berbagai menghambat pewarisan nilai-nilai budaya dan
permasalahan yang timbul akibat perbedaan latar kearifan lokal sehingga mengikis efektivitas
belakang budaya. Kearifan lokal tersebut yang penyelesaian konflik.
berusaha selalu ditanamkan kepada masyarakat Poso Untuk menghadapi tantangan ini, diperlukan
agar terhindar dari potensi konflik yang dapat terpicu pendekatan yang komprehensif dan adaptif. Pertama,
kapan saja. perlu ada penguatan kapasitas lembaga-lembaga
Peran tokoh masyarakat dan pemimpin penyelesaian konflik, baik yang tradisional maupun
informal juga tidak bisa diabaikan dalam proses modern. Kedua, program-program peningkatan
penyelesaian konflik di Indonesia. Para tokoh adat, kesadaran multikultural dan pendidikan perdamaian
pemuka agama, dan tetua masyarakat sering kali perlu diperkuat, terutama di kalangan generasi muda.
menjadi mediator yang efektif karena memiliki Ketiga, perlu ada upaya sistematis untuk
legitimasi sosial dan pemahaman mendalam tentang mendokumentasikan dan melestarikan praktik-
konteks lokal. Selain itu, konflik pada umumnya praktik baik dalam penyelesaian konflik yang telah
tidak terjadi tanpa dukungan konteks interrelasi sosial terbukti efektif. Selain itu, yang tidak kalah penting
yang mengitarinya. Dalam konteks seperti itu, adalah pengembangan sistem peringatan dini dan
mediator seperti tokoh agama merupakan aktor pencegahan konflik. Pengalaman menunjukkan
sosial yang sangat strategis dalam memobilisasi bahwa mencegah konflik jauh lebih efektif dan
pihak-pihak yang berkonflik untuk bersama-sama murah dibandingkan menangani konflik yang telah
menciptakan ruang damai ataupun sebaliknya malah terjadi. Ini memerlukan kerja sama yang erat antara
dapat mengobarkan konflik (Fahham, 2016). Dengan pemerintah, masyarakat sipil, dan komunitas lokal
posisi tersebut mereka dianggap mampu membangun dalam mengidentifikasi dan mengatasi potensi
jembatan komunikasi antarpihak yang berkonflik dan konflik sejak dini. Penanaman nilai-nilai
menawarkan solusi yang dapat diterima semua pihak. keberagaman dan pentingnya pembelajaran
Dalam konteks modern, Indonesia juga telah komunikasi antarbudaya (Khoerudin & Sassi, 2024)
mengembangkan pendekatan institusional dalam

Komunikologi Volume 22 Nomor 01, Maret 2025 60


menjadi langkah penting dalam mengupayakan Pengalaman Indonesia dalam penyelesaian konflik
resolusi konflik. bisa menjadi pembelajaran berharga, tidak hanya bagi
Media juga memiliki peran penting dalam Indonesia sendiri tetapi juga bagi dunia yang semakin
penyelesaian konflik di Indonesia (Nandang, 2021). majemuk.
Salah satu peran media adalah mendorong dialog Artikel ini memetakan tantangan yang
antar budaya yang deliberatif, yaitu komunikasi dua mungkin akan ditemui dalam masyarakat
arah antara masyarakat dan individu yang berfungsi multicultural dan bagaimana tantangan tersebut
untuk menjaga keharmonisan dalam hubungan sosial. dapat dijadikan peluang dalam mengupayakan
Dalam hal ini, media dapat membantu rekonsiliasi melalui pemahaman komunikasi
mengeksplorasi filosofi dan pepatah yang ada dalam antarbudaya. Studi ini diharapkan dapat
masyarakat, serta menganalisis pola dialog dalam menghasilkan pemahaman yang komprehensif
pengelolaan resolusi konflik yang diterapkan oleh tentang resolusi konflik pada masyarakat
komunitas (Zulfiningrum et al., 2020). Selain itu, multikultural, serta memberikan kontribusi teoretis
pemberitaan yang berimbang dan sensitif terhadap dan praktis dalam pengembangan model komunikasi
konflik dapat membantu menciptakan pemahaman antarbudaya yang efektif untuk mengelola konflik
yang lebih baik antarpihak yang bertikai dan sosial.
mendukung proses perdamaian. Sebaliknya,
pemberitaan yang bias atau provokatif dapat Daftar Pustaka
memperparah konflik yang ada. Agung, I. M. (2011). Konflik Antar Kelompok:
Lebih jauh lagi, media juga dapat berkontribusi Perspektif Psikologi Sosial (Conflict
dalam pemberdayaan budaya sekolah yang Intergroup: Social Psychological Perspective).
multikultural. Melalui pemberitaan dan konten yang SSRN Electronic Journal, 10.
tepat, media dapat membantu menciptakan individu- [Link]
individu yang bersifat inklusif di lingkungan Akifah, A., Alfiyaty, R., & Monica, N. S. (2021).
masyarakat termasuk di lingkungan sekolah. Sehingga Rebranding Pariwisata Kabupaten Poso
tiap orang dari berbagai latar belakang merasa Pasca Konflik Sosial Rebranding of Poso
dihargai dan diakomodasi. Regency Tourism After Social Conflict. Jurnal
Intinya, resolusi konflik dapat diupayakan Penelitian Komunikasi Dan Opini Publik, 3(1),
dalam berbagai cara, kolaborasi berbagai pihak dalam 31–45. [Link].
membangun kesepahaman dan meningkatkan Anggita, C., & Hatori, T. (2020). Customary
kemampuan komunikasi antar budaya dapat Practices of Musyawarah Mufakat: An
menciptakan lingkungan yang harmonis sehingga Indonesian Style of Consensus Building. IOP
konflik dapat dihindari, dan kalaupun terjadi tidak Conference Series: Earth and Environmental
berlangsung hingga berlarut-larut. Science, 589(1), 012027.
[Link]
Kesimpulan 1315/589/1/012027
Masyarakat multikultural adalah entitas sosial Anggraini, C., Ritonga, D. H., Kristina, L., Syam, M.,
yang terdiri dari beragam latar belakang budaya, & Kustiawan, W. (2022). Komunikasi
agama, etnis, dan bahasa. Konsep komunikasi antar Interpersonal. Jurnal Multidisiplin Dehasen
budaya menjadi kunci dalam menjaga keharmonisan (MUDE), 1(3).
di tengah kemajemukan budaya yang sangat mudah [Link]
terpicu konflik. Sebagai bangsa yang multikultural, Antara, M., & Yogantari, M. V. (2018). Keragaman
Indonesia telah menunjukkan bahwa keberagaman Budaya Indonesia Sumber Inovasi Industri
tidak harus menjadi sumber perpecahan. Dengan Kreatif. Senada, 1, 292–301.
pendekatan yang tepat, yang mengintegrasikan Azizah, I., Kholis, N., & Huda, N. (2020). Model
kearifan lokal dengan metode modern, konflik dapat Pluralisme Agama Berbasis Kearifan Lokal
dikelola dan diselesaikan secara konstruktif. “Desa Pancasila” di Lamongan. FIKRAH,

Komunikologi Volume 22 Nomor 01, Maret 2025 61


8(2), 277. Ilmu-Ilmu Sosial, 1(5), 639–645.
[Link] [Link]
Bakri, H. (2015). Resolusi konflik melalui pendekatan 645
kearifan lokal Pela Gandong di Kota Ambon. Fahham, A. M. (2016). Peran Tokoh Agama Dalam
The POLITICS: Jurnal Magister Ilmu Politik Penanganan Konflik Sosial. Kajian, 15(2),
Universitas Hasanuddin, 1(1), 51–60. 311–341.
Barron, P., Jaffrey, S., & Varshney, A. (2014). How Faradila, A. N., & Dewi, W. S. (2023). Implementasi
large conflicts subside: Evidence from Asas Musyawarah dan Mufakat dalam
Indonesia. Indonesian Social Development Paper, Penyelesaian Sengketa Hukum Waris Adat di
18. Indonesia. Indonesian Journal of Social Sciences
BM, S. A. (2014). Konflik Sosial dalam Hubunga and Humanities, 3(2), 39–46.
Antar Umat Beragama. Jurnal Dakwah Tabligh, Hadiono, A. F. (2016). KOMUNIKASI ANTAR
15(2), 189–208. BUDAYA (Kajian Tentang Komunikasi
[Link] Antar Budaya Di Pondok Pesantren
t.v15i2.348 Darussalam Blokagung Banyuwangi). Jurnal
BPS Indonesia. (2011). Kewarganegaraan, Suku Bangsa, Darussalam: Jurnal Pendidikan, Komunikasi Dan
Agama dan Bahasa Sehari-hari Penduduk Pemikiran Hukum Islam, 8(1), 136–159.
Indonesia. Badan Pusat Statistik Indonesia. Hocker, J. L., & Wilmot, W. W. (2018). Interpersonal
[Link] conflict (Vol. 1, Issue 3). McGraw-Hill
Broome, B. J. (2017). Moving From Conflict to Education New York, NY..
Harmony. In X. Dai & G.-M. Chen (Eds.), Agung, I. M. (2011). Konflik Antar Kelompok:
Conflict Management and intercultural Perspektif Psikologi Sosial (Conflict
CommunicationManagement (pp. 13–29). Oxford Intergroup: Social Psychological Perspective).
University Press. SSRN Electronic Journal, 10.
Bruner, E. M. (1974). The expression of ethnicity in [Link]
Indonesia. Tavistock Publications London and Akifah, A., Alfiyaty, R., & Monica, N. S. (2021).
New York. Rebranding Pariwisata Kabupaten Poso
Croucher, S. M., Sommier, M., & Rahmani, D. Pasca Konflik Sosial Rebranding of Poso
(2015). Intercultural communication: Where Regency Tourism After Social Conflict. Jurnal
we’ve been, where we’re going, issues we Penelitian Komunikasi Dan Opini Publik, 3(1),
face. Communication Research and Practice, 1(1), 31–45. [Link]
71–87. Anggita, C., & Hatori, T. (2020). Customary
[Link] Practices of Musyawarah Mufakat: An
2422 Indonesian Style of Consensus Building. IOP
Dai, X., & Chen, G.-M. (2017). Introduction. In Conference Series: Earth and Environmental Science,
Conflict Management and intercultural 589(1), 012027.
Communication (pp. 1–10). Routledge. [Link]
[Link] 1315/589/1/012027
7_5 Anggraini, C., Ritonga, D. H., Kristina, L., Syam, M.,
Elewahan, J., Mubin, I., & Serena, M. Y. (2019). & Kustiawan, W. (2022). Komunikasi
Konflik Maluku dan Pelaksanaan Perjanjian Interpersonal. Jurnal Multidisiplin Dehasen
Maliko. Historis: Jurnal Kajian, Penelitian Dan (MUDE), 1(3).
Pengembangan Pendidikan Sejarah, 4(2), 47–51. [Link]
Engracia, N. V., & Perguna, L. A. (2021). Peran Antara, M., & Yogantari, M. V. (2018). Keragaman
identitas sosial budaya siswa kursus Budaya Indonesia Sumber Inovasi Industri
Kampung Inggris dalam pola interaksi dan Kreatif. Senada, 1, 292–301.
pergaulan. Jurnal Integrasi Dan Harmoni Inovatif

Komunikologi Volume 22 Nomor 01, Maret 2025 62


Azizah, I., Kholis, N., & Huda, N. (2020). Model Engracia, N. V., & Perguna, L. A. (2021). Peran
Pluralisme Agama Berbasis Kearifan Lokal identitas sosial budaya siswa kursus
“Desa Pancasila” di Lamongan. FIKRAH, Kampung Inggris dalam pola interaksi dan
8(2), 277. pergaulan. Jurnal Integrasi Dan Harmoni Inovatif
[Link] Ilmu-Ilmu Sosial, 1(5), 639–645.
Bakri, H. (2015). Resolusi konflik melalui pendekatan [Link]
kearifan lokal Pela Gandong di Kota Ambon. 645
The POLITICS: Jurnal Magister Ilmu Politik Fahham, A. M. (2016). Peran Tokoh Agama Dalam
Universitas Hasanuddin, 1(1), 51–60. Penanganan Konflik Sosial. Kajian, 15(2),
Barron, P., Jaffrey, S., & Varshney, A. (2014). How 311–341.
large conflicts subside: Evidence from Faradila, A. N., & Dewi, W. S. (2023). Implementasi
Indonesia. Indonesian Social Development Paper, Asas Musyawarah dan Mufakat dalam
18. Penyelesaian Sengketa Hukum Waris Adat di
BM, S. A. (2014). Konflik Sosial dalam Hubunga Indonesia. Indonesian Journal of Social Sciences
Antar Umat Beragama. Jurnal Dakwah Tabligh, and Humanities, 3(2), 39–46.
15(2), 189–208. Hadiono, A. F. (2016). KOMUNIKASI ANTAR
[Link] BUDAYA (Kajian Tentang Komunikasi
t.v15i2.348 Antar Budaya Di Pondok Pesantren
BPS Indonesia. (2011). Kewarganegaraan, Suku Bangsa, Darussalam Blokagung Banyuwangi). Jurnal
Agama dan Bahasa Sehari-hari Penduduk Darussalam: Jurnal Pendidikan, Komunikasi Dan
Indonesia. Badan Pusat Statistik Indonesia. Pemikiran Hukum Islam, 8(1), 136–159.
[Link] Hocker, J. L., & Wilmot, W. W. (2018). Interpersonal
Broome, B. J. (2017). Moving From Conflict to conflict (Vol. 1, Issue 3). McGraw-Hill
Harmony. In X. Dai & G.-M. Chen (Eds.), Education New York, NY.
Conflict Management and intercultural Humaedi, M. A. (2014). Kegagalan akulturasi budaya
CommunicationManagement (pp. 13–29). Oxford dan isu agama dalam konflik lampung.
University Press. Analisa: Journal of Social Science and Religion,
Bruner, E. M. (1974). The expression of ethnicity in 21(2), 149–162.
Indonesia. Tavistock Publications London and Jayanti, R. D., Sarmini, S., & Harianto, S. (2023).
New York. Pemafaatan Literasi Digital sebagai Upaya
Croucher, S. M., Sommier, M., & Rahmani, D. Penguatan Integrasi Nasional dalam
(2015). Intercultural communication: Where Pembelajaran IPS pada Siswa di Sekolah.
we’ve been, where we’re going, issues we Jurnal Pendidikan : Riset Dan Konseptual, 7(2),
face. Communication Research and Practice, 1(1), 314.
71–87. [Link]
[Link] 7i2.716
2422 Kaliongga, A., Iriani, A., & Mawardi, M. (2023).
Dai, X., & Chen, G.-M. (2017). Introduction. In Reintegrasi dan Kontekstualisasi Kearifan
Conflict Management and intercultural Lokal Sintuwu Maroso: Upaya Menjawab
Communication (pp. 1–10). Routledge. Tantangan Pendidikan di Era Revolusi
[Link] Industri 4.0 Menuju Society 5.0. Scholaria:
7_5 Jurnal Pendidikan Dan Kebudayaan, 13(2), 117–
Elewahan, J., Mubin, I., & Serena, M. Y. (2019). 127.
Konflik Maluku dan Pelaksanaan Perjanjian Khoerudin, M., & Sassi, K. (2024). Potret Ekstensif
Maliko. Historis: Jurnal Kajian, Penelitian Dan Tujuan Global Citizenship Education (GCE)
Pengembangan Pendidikan Sejarah, 4(2), 47–51. di Norwegia. Bestari: Jurnal Pendidikan Dan
Kebudayaan, 5(2), 216–237.

Komunikologi Volume 22 Nomor 01, Maret 2025 63


Kim, Y. Y. (2007). Ideology, identity, and Rofiq, A. (2023). Komunikasi Forum Kerukunan
intercultural communication: An analysis of Umat Beragama (FKUB) Sebagai Perwujudan
differing academic conceptions of cultural Moderasi Beragama di Kabupaten
identity. Journal of Intercultural Communication Banyuwangi. Al-Tsiqoh: Jurnal Ekonomi Dan
Research, 36(3), 237–253. Dakwah Islam, 8(2), 50–78.
[Link] Salim, M. (2017). Bhinneka Tunggal Ika Sebagai
1 Perwujudan Ikatan Adat-Adat Masyarakat
Makmur, M. (2023). Analisis Nilai-Nilai Pendidikan Adat Nusantara. Al Daulah : Jurnal Hukum
Islam dalam Budaya Sintuwu Maroso Sebagai Pidana Dan Ketatanegaraan, 6(1), 65–74.
Simbol Pemersatu Masyarakat Kabupaten Poso [Link]
Sulawesi Tengah. Universitas Islam Negeri Salsabila, N. Y. (2023). The Relationship between
Datokarama Palu. Social Interaction and Interpersonal
Mukhtar, N., & Triana, N. (2023). Qur’anic Communication in Class X-XI Students at
perspective on social religious conflict UPGRIS Laboratory High School. Formosa
resolution based on culture of togetherness Journal of Applied Sciences, 2(6), 1245–1270.
and Rembugan in Indonesia. Al-Hayat: Journal [Link]
of Islamic Education, 7(2), 523–533. Slamet, S., Agustiningrum, M., Soelistijanto, R.,
Muliono, M. (2020). Pola Perubahan, Wacana, dan Handayani, D. A. K., Widiastuti, E. H., &
Tren Konflik Sosial di Indonesia. Al-Adyan: Hakasi, B. S. (2021). The Urgency of
Journal of Religious Studies, 1(2), 115–132. Multicultural Education for Children.
[Link] Universal Journal of Educational Research, 9(1),
Nandang, H. M. Z. (2021). Peran media dalam 60–66.
penyelesaian konflik sosial. HIKMAH: Jurnal [Link]
Dakwah Dan Sosial, 15–21. Sugiyono. (2014). Metode Penelitian Kuantitatif,
Nawing, K., Alanur, S. N., Jennah, M. A., Kulyawan, Kualitatif, dan R&D. Alfabeta.
R., & Umiyati, T. (2023). Penguatan integrasi Umi, F., & Ichwayudi, B. (2022). Religious Harmony
sosial berbasis kearifan lokal lintas budaya in the Era of Globalization: Social Interaction
pada masyarakat multikultur di Kecamatan of Muslim and Christian Religions in Pelang
Poso Pesisir Utara Kabupaten Poso. Penelitian Village, Lamongan. Tribakti: Jurnal Pemikiran
Pendidikan Sosial Humaniora, 8(1), 7–16. Keislaman, 33(1), 173–188.
Pakalessy, J., Fitriani, A., & Handayani, N. (2022). [Link]
Komunikasi dalam Budaya Angkat Pela Desa Wahyudi, Saat, I., & Hidayat, M. M. (2024).
Werinama Dengan Desa Kilang. Mengintegrasikan Agama dalam Pancasila
NOUMENA: Jurnal Sosial Humaniora Dan Untuk menciptakan Masyarakat Yang
Keagamaan, 3(2), 129–153. Beradab. Al-Furqan : Jurnal Agama, Sosial, Dan
Rahman, W. A. (2021). Strategi Komunikasi Forum Budaya, 3(1), 1–20.
Kerukunan Umat Beragama dalam Widyaningrum, A. Y. (2021). Kajian Tentang
Pengembangan Kerukunan Umat Beragama Komunitas Virtual: Kesempatan dan
di Kabupaten Sleman. El Madani: Jurnal Tantangan Kajian di Bidang Ilmu
Dakwah Dan Komunikasi Islam, 2(02), 237– Komunikasi. Jurnal Komunikatif, 10(2), 141–
260. 152. [Link]
Riska, H., & Darul, I. (2023). Komunikasi Antar Yakobus, I. K. (2023). Budaya Sintuwu Maroso dan
Budaya Dalam Proses Asimilasi Suku rekonsiliasi konflik Poso. Feniks Muda
Tapanuli dan Suku Minang di Desa Durian Sejahtera.
Kadap Kabupaten Pasaman. Koloni : Jurnal Zulfiningrum, R., DW, A. N. P., & Wahyono, E.
Multidisipilin Ilmu, 2(2), 108–115. (2020). Menuju Dialog Deliberatif Resolusi
Konflik: Sebuah Studi Komunikasi

Komunikologi Volume 22 Nomor 01, Maret 2025 64


Antarbudaya di Kampung Adat Jalswatu.
Jurnal Audience, 3(1), 79–98.
[Link]

Komunikologi Volume 22 Nomor 01, Maret 2025 65

Anda mungkin juga menyukai