0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan17 halaman

Akuntabilitas dan Transparansi Dana Desa Koto

Jurnal ini menganalisis penerapan akuntabilitas, transparansi, dan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan alokasi dana desa di Koto Perambahan, Kampar. Penelitian menunjukkan bahwa meskipun pemerintah desa telah menerapkan transparansi dan melibatkan masyarakat, terdapat kendala dalam pengelolaan dana, terutama pada tahap pencairan yang mengalami keterlambatan. Selain itu, kurangnya pengetahuan aparatur desa mengenai pengelolaan dana desa menjadi faktor penghambat dalam mencapai akuntabilitas yang optimal.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan17 halaman

Akuntabilitas dan Transparansi Dana Desa Koto

Jurnal ini menganalisis penerapan akuntabilitas, transparansi, dan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan alokasi dana desa di Koto Perambahan, Kampar. Penelitian menunjukkan bahwa meskipun pemerintah desa telah menerapkan transparansi dan melibatkan masyarakat, terdapat kendala dalam pengelolaan dana, terutama pada tahap pencairan yang mengalami keterlambatan. Selain itu, kurangnya pengetahuan aparatur desa mengenai pengelolaan dana desa menjadi faktor penghambat dalam mencapai akuntabilitas yang optimal.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Jurnal Al-Iqtishad Volume 18 Nomor 2 Tahun 2022 Natasya, Desmiyawati, Anggraini

ANALISIS PENERAPAN AKUNTABILITAS, TRANSPARANSI DAN PARTISIPASI


MASYARAKAT DALAM PENGELOAAN ALOKASI DANA DESA KOTO
PERAMBAHAN KECAMATAN KAMPA KABUPATEN KAMPAR

Nurul Aida Natasya1 , Desmiyawati2 , Lila Anggraini3


Universitas Riau
[Link]@[Link]

Abstract

Village Fund Allocations are funds given to villages originating from the central and regional
government financial balance funds to realize the fulfillment of the village's right to carry out its
autonomy so that it grows and develops following the growth of the village itself based on diversity,
participation, genuine autonomy, democratization, community empowerment and increasing the role
of the Village Government in providing services, improving community welfare, and spurring
development and growth. The method used is a qualitative method used to examine the condition of
natural objects. To obtain the sample, the researcher used purposive sampling method. Data
collection in this study was carried out in stages from observation, documentation and interviews with
several informants. Using triangulation techniques in analyzing data, the Koto Perambahan Village
Government runs according to technical guidelines at the village, district, sub-district and central
levels. All village apparatus, especially the village secretary, who is the backbone of the village to
carry out accountability in managing the allocation of village funds in accordance with regulations.
The Koto Village Government realizes the application of transparency in the management of ADD by
publishing the use of ADD on the village information board containing the allocation of village funds.
The community also participates in managing. The community participates in managing ADD. There
is an inhibiting factor in the allocation of village funds, namely at the disbursement stage which is
experiencing delays.

Keywords: Accountability, Village Financial Management, Community Participation, Human


Resource Competence, Supervision, Internal Control System and Accessibility of Financial Reports

Abstrak

Alokasi Dana Desa merupakaan dana yang diberikan kepada desa berasal dari dana perimbangan
keuangan pemerintah pusat dan daerah untuk mewujudkan pemenuhan hak desa untuk
menyelenggarakan otonominya agar tumbuh dan berkembang mengikuti pertumbuhan dari desa itu
sendiri berdasarkan keanekaragaman, partisipasi, otonomi asli, demokratisasi, pemberdayaan
masyarakat dan meningkatkan peran Pemerintah Desa dalam memberikan pelayanan, meningkatkan
kesejahteraan masyarakat, serta memacu pembangunan dan pertumbuhan. Metode yang digunakan
adalah metode kualitatif yang digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah. Untuk
memperoleh sampel, peneliti menggunakan metode purposive sampling. Pengumpulan data dalam
penelitian ini dilakukan secara bertahap dari observasi, dokumentasi dan wawancara dengan beberapa
informan. Menggunakan teknik triangulasi dalam menganalisis data Pemerintah Desa Koto
Perambahan menjalankan sesuai juknis baik tingkat desa, kabupaten, kecamatan dan pusat. Seluruh
perangkat desa terutama sekretaris desa yang menjadi tulang punggung desa menjalakan akuntabilitas
dalam pengelolaan alokasi dana desa sesuai dengan regulasi. Pemerintah Desa Koto mewujudkan
penerapan transparansi dalam pengelolaan ADD dengan cara mempublikasikan penggunaan ADD
dipapan informasi desa berisi pengalokasian dana desa. Masyarakat turut ikut mengelola. Masyarakat
turut ikut serta dlam mengelola ADD. Terdapat faktor yang menghambat didalam alokasi dana desa
adalah pada tahap pencairan yang mengalami keterlambatan.

Kata Kunci: Akuntabilitas, Transparansi, Partisipasi Masyarakat, Pengelolaan Alokasi Dana Desa

288
Jurnal Al-Iqtishad Volume 18 Nomor 2 Tahun 2022 Natasya, Desmiyawati, Anggraini

PENDAHULUAN

Dengan disahkannya UU Nomor 6 Tahun 2014 tentang desa, desa diberikan


kesempatan yang besar untuk mengurus tata pemerintahannya sendiri serta pelaksanaan
pembangunan untuk meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat desa. Selain
itu pemerintah desa diharapkan untuk lebih mandiri dalam mengelola pemerintahan dan
berbagai sumber daya alam yang dimiliki, termasuk di dalamnya pengelolaan keuangan dan
kekayaan milik desa. Begitu besar peran yang diterima oleh desa, tentunya disertai dengan
tanggung jawab yang besar pula.
UU Nomor 6 Tahun 2014 beserta peraturan pelaksanaanya telah mengamanatkan
pemerintah desa untuk lebih mandiri dalam mengelola pemerintahan dan berbagai sumber
daya alam yang dimiliki, termasuk di dalamnya pengelolaan keuangan dan kekayaan milik
desa. Jumlah desa saat ini 74.957 desa di Indonesia yang telah diperbarui berdasarkan
Peraturan Kementrian Dalam Negeri No. 77 Tahun 2019 tentang hal yang sama. Keseluruhan
kegiatan yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, penatausahaan, pelaporan, dan
pertanggung jawaban keuangan desa.
Alokasi dana desa adalah dana yang diberikan kepada desa yang berasal dari dana
perimbangan keuangan pemerintah pusat dan daerah yang diterima oleh Kabupaten/Kota.
Pemberian Alokasi Dana desa merupakan wujud dari pemenuhan hak desa untuk
menyelenggarakan otonominya agar tumbuh dan berkembang mengikuti pertumbuhan dari
desa itu sendiri berdasarkan keanekaragaman, partisipasi, otonomi asli, demokratisasi,
pemberdayaan masyarakat dan meningkatkan peran pemerintah desa dalam memberikan
pelayanan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat serta memacu percepatan
pembangunan dan pertumbuhan wilayah-wilayah strategis. Pelaksanaan Alokasi Dana Desa
ini ditujukan untuk program-program fisik dan non fisik yang berhubungan dengan indikator
perkembangan desa, meliputi tingkat pendidikan, tingkat pendapatan masyarakat, dan tingkat
kesehatan. Dikutip dari situs [Link] alokasi dana desa/ADD yang diperoleh
Kabupaten Kampar pada tahun 2021 yaitu sebesar Rp.218.095.598.,000. Adapun
pengalokasian dana desa yang dikutip dari LD Peraturan Bupati Kabupaten Kampar No 23
Tahun 2019 untuk Desa Koto Perambahan Kecamatan Kampa Kabupten Kampar yaitu
sebesar Rp.833.679.,000.

Mengelola dana desa tidak terlepas dari akuntabilitas, artinya adanya tanggung jawab
dalam pengelolaan dana desa itu sendiri. Penanggung jawab administrasi keuangan desa
adalah administrasi keuangan yang dapat diwakili mulai dari penyusunan, pelaksanaan,

289
Jurnal Al-Iqtishad Volume 18 Nomor 2 Tahun 2022 Natasya, Desmiyawati, Anggraini

pengorganisasian, hingga pengumuman keuangan desa. Pengakuan tanggung jawab adalah


tujuan mendasar dari perubahan area publik. Sebagai aturan umum, tanggung jawab dicirikan
sebagai jenis komitmen untuk mewakili pencapaian atau kekecewaan dari pelaksanaan
asosiasi dalam mencapai tujuan yang telah diterapkan untuk periode masa lalu yang
diselesaikan secara periodik.
Akuntabilitas adalah upaya pemerintah dalam menciptakan penyelenggaraan
pemeritahan kearah yang lebih baik dengan berlandaskan Good Governance. Good
Governance merupakan penyelenggaraan pemerintahan negara yang solid dan bertanggung
jawab, serta efisien dan efektif dengan menjaga keseimbangan sinergitas konstruktif antara
domain negara, sektor swasta, dan masyarakat (Waluyo,2007). Akuntabilitas di dalam
pemerintah desa melibatkan pemerintah desa untuk mempertanggung jawabkan kegiatan
yang dilaksanakan dalam kaitannya dengan pembangunan dan pemerintahan desa.
Pertanggung jawaban tersebut menyangkut masalah finansial dengan dana desa sebagai salah
satu komponen didalamnya. Fungsi akuntabilitas bukan hanya sekedar ketaatan kepada
peraturan perundangan yang belaku. Akan tetapi, fungsi akuntabilitas tetap memperhatikan
penggunaan sumber daya secara bijaksana, efisien, efektif, dan ekonomis (Sumpeno:2011).
Namun saat ini masih banyak aparat desa yang belum menciptakan akuntabilitas, hal
ini terbukti dengan adanya penelitian Riyanto (2015) yang melakukan penelitian tentang
akuntabilitas finansial dalam pengelolaan Alokasi Dana Desa (ADD) di Kecamatan
Marangkayu Kabupaten Kutai Kartanegara menunjukan mulai dari pelaksanaan sampai
dengan pencapaian hasilnya dapat dipertanggung jawabkan di depan seluruh pihak
Pemerintah Desa, tetapi belum dapat dipertanggung jawabkan kepada seluruh masyarakat
desa. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Amirullah (2016) yang melakukan penelitian
tentang pengelolaan keuangan desa Brumbungan Kidul, penelitian ini menunjukan bahwa
secara keseluruhan pengelolaan keuangan desa sudah baik. Namun, pada tahap perencanaan
dan pertanggung jawaban terjadi ketidaksesuaian, karena terjadi keterlambatan dalam
penyusunan peraturan Desa dan pengelolaan keuangan desa tidak diinformasikan kepada
seluruh masyarakat Desa Brumbungan Kidul. Kurangnya pengetahuan dari pemerintah desa
menjadi faktor penghambat dalam pengelolaan keuangan desa. Sedangkan pada penelitian
(Syahadatina, 2017) Akuntabilitas Pengelolaan Alokasi Dana Desa (ADD) di Desa Rapa
Laok Kecamatan Omben Kabuoaten Sampang menyatakan bahwa pada objek penelitian
tersebut sudah menerapkan prinsip akuntabilitas.
Transparansi ialah penanda berarti sebab bisa menampilkan profesionalisme
penyelenggara semakin besar keterbukaannya menimpa tiap aktivitas hingga tingkatan

290
Jurnal Al-Iqtishad Volume 18 Nomor 2 Tahun 2022 Natasya, Desmiyawati, Anggraini

transparansi juga hendak terus menjadi baik Dilago (2018). Apabila prinsip transparansi
diterapkan hingga hendak memunculkan ikatan antara warga serta pemerintah yang baik
hingga pemerintah juga tidak segan buat sediakan data kepada warga dengan menjamin
hendak mempermudah dalam mendapatkan data secara akurat. Bila berhubungan dengan
konteks penyelenggaraan urusan publik, transparansi merupakan sesuatu keadaan dimana
pemerintah wajib terbuka mengenai keuangan ataupun non keuangan kepada warga terpaut
seluruh aktivitas yang dicoba serta keputusan- keputusan yang wajib diambil oleh pemerintah
dalam penerapan urusan publik (Kisnawati 2018).
Dari riset yang dicoba oleh Dilago (2018) yang mempelajari Transparansi Pemerintah
Desa dalam Pengelolaan Dana Desa di Desa Soatobaru Kecamatan Galela Barat Halmahera
Utara mengatakan warga bisa mendapatkan dokumen menimpa pengelolaan alokasi dana
desa, meski akses buat mendapatkannya tidak seluruh warga bisa memandang point- point
dalam dokumen tersebut, serta dalam penerapannya warga tidak telalu mengenali secara jelas.
Berbeda dengan riset Luthfi (2018) yang mempelajari Analisis Transparansi serta
Akuntabilitas Pengelolaan Keuangan Desa di Kecamatan Bengkalis mengatakan bahwa pada
objek peneltian yang di cermat telah menerapkan dan mematuhi prinsip transparansi.
Partisipasi Masyarakat ialah salah satu aspek pendukung dalam pembangunan desa.
Apabila program pemerintah cocok dengan kebutuhan masyarakat hingga telah tentu warga
juga hendak ikut andil serta pastinya hendak memperoleh partisipasi warga dengan harapan
hendak menggapai tujuan program tersebut. Berikutnya bisa ditentukan pula kalau tujuan
pembangunan hendak tercapai. Keberhasilan pembangunan hendak tercapai apabila
partisipasi warga ikut andil serta pula sebab terdapatnya nilai tradisional sebagai kemampuan
yang bisa digerakan dalam pembangunan lewat strategi manajemen yang cocok (Hardianti,
2019).
Pada Riset yang dicoba oleh Hardianti (2019) menimpa Partisipasi Warga dalam
Pembangunan Infrastruktur Desa (Program Alokasi Dana Desa di Desa Buntongi Kecamatan
Ampana Kota menampilkan kalau tingkatan partisipasi warga dalam penerapan program dana
alokasi dana desa di desa Buntongi masih rendah. Sebaliknya riset yang dicoba oleh
(Nurbaeti, 2020) menimpa Analisis Akuntabilitas, Transparansi serta Partisipatif Warga
Pengelolaan Alokasi Dana Desa (ADD) di Desa Banjarharjo Kecamatan Banjarharjo
Kabupaten Brebes melaporkan kalau objek riset secara bertahap telah melakukan prinsip
partisipasi warga dengan Permendagri No. 113 Tahun 2014 Tentang Pengelolaan Keuangan
Desa.

291
Jurnal Al-Iqtishad Volume 18 Nomor 2 Tahun 2022 Natasya, Desmiyawati, Anggraini

Dikutip dari [Link] dengan topik permasalahan alokasi dana desa, diketahui
banyaknya pegawai pemerintahan desa yang mengemban tugas mengelola dana desa masih
kurang menguasai pengetahuan ataupun wawasan mengenai pengelolaan dana desa. Sehingga
terjadinya kesalahan yang muncul akibat kurang pahamnya pegawai pemerintahan desa
dalam menyusun laporan pengelolaan dana desa. Banyaknya dana yang dialirkan pemerintah
pusat ke pemerintah daerah terlebih ke pemerintah desa yang tidak diimbangi dengan skill
dalam melakukan pengelolaannya menyebabkan banyak terjadinya kesalahan dan tidak
ketepatan dalam mencapai sasaran anggaran.
Dalam pelaksanaan pengelolaan dana desa di Desa Koto Perambahan, Kampar, Riau
terdapat permasalahan yang dilakukan oleh mantan Kepala Desa Koto Perambahan pada
tahun 2012 – 2017 yang berinisial MY yang melakukan tindak Korupsi Dana Desa dan sudah
ditetapkan sebagai tersangka yang merugikan negara sebanyak Rp.496 juta dari dana desa
Tahun Anggaran 2015-2016 ([Link] 12/10/21)
Penelitian ini merupakan pengembangan dari penelitian Ainul (2017) dengan penelitian
Akuntabilitas Pengelolaan Alokasi Dana Desa (ADD) di Desa-Desa Kecamatan Rogojampi
Kabupaten Banyuwangi dengan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa pada tahap
perencanaan dan pelaksanaan telah sesuai dengan prosedur yang berlaku dan pengelolaannya
telah dilakukan secara akuntabel dan transparan. Untuk tahap pengawasan masih belum
berjalan dengan baik karena kurangnya transparansi masyarakat. Sedangkan untuk tahap
pertanggung jawaban juga belum berjalan dengan baik dikarenakan SDM tim pelaksana
dalam laporan administrasi yang masih kurang, sehingga diperlukan adanya pembinaan dan
pengawasan lebih dari pemerintah.
Selanjutnya Dilago (2018) dengan penelitian Transparansi Pemerintah Desa dalam
Pengelolaan Dana Desa di Desa Soatobaru Kecamatan Galela Barat Halmahera Utara dengan
hasil penelitian yang menunjukkan bahwa masyarakat dapat memperoleh dokumen mengenai
pengelolaan alokasi dana desa, walaupun akses untuk mendapatkannya tidak semua
masyarakat dapat melihat point-point dalam dokumen tersebut, dan dalam pelaksanaannya
masyarakat tidak terlalu mengetahui secara jelas.
Jurnal yang diteliti oleh terakhir di Hardianti (2019) dengan penelitian Partisipasi
Masyarakat dalam Pembangunan Infrastruktur Desa (Program Alokasi Dana Desa di Desa
Buntongi Kecamatan Ampana Kota dengan kesimpulan yaitu, partisipasi masyarakat untuk
melaksanaan kegiatan dana desa di desa Buntongi masih rendah. Kemudian kesimpulan
selanjutnya, bagian yang terkait dengan partisipasi publik dalam fase implementasi yaitu

292
Jurnal Al-Iqtishad Volume 18 Nomor 2 Tahun 2022 Natasya, Desmiyawati, Anggraini

jenis pekerjaan dan pendapatan. Sedangkan tingkat Pendidikan hanya mempengaruhi proses
perencanaan, pemantauan, serta evaluasi.
Adapun beberapa perbedaan dalam penelitian ini jika dibandingkan dengan penelitian
sebelumnya yaitu pertama, pada penelitian sebelumnya meneliti satu variabel x yaitu meneliti
akuntabilitas dana desa saja. Kedua, perbedaan lainnya yaitu perbedaan pada urgensi yang
diteliti dan terdapat juga penelitian sebelumnya hanya menguji topik transparansi pemerintah
desa dalam pengelolaan dana desa, dengan tujuan apakah pemerintah desa tersebut secara
keseluruhan sudah menerapkan prinsip transparansi dalam melaksanakan pengelolaan
(ADD). Lalu yang ketiga pada penelitian sebelumnya juga lebih terfokus pada pembangunan
infrastruktur desa, sedangkan penelitian ini merujuk pada 3 variabel independen yaitu
akuntabilitas, transparansi, dan partisipasi masyarakat dengan variabel dependen pengelolaan
alokasi dana desa. Peneliti merasa perlu adanya penelitian mengenai ketiga prinsip tersebut
untuk diteliti langsung sehingga dapat mengetahui bagaimana prinsip tersebut diterapkan
dalam pengelolaan alokasi dana desa. Adapun perbedaan lainnya terletak objek dan tahun
penelitian.
Berdasarkan latar belakang serta inkonsistensi hasil penelitian terdahulu maka dapat
diklasifikasikan beberapa rumusan masalah sebagai berikut: 1). Bagaimana akuntabilitas
pengelolaan dana desa dalam perencanaan, pelaksanaan, pelapor dan pengawasan anggaran
dana desa Pemerintah Desa Koto Perambahan Kecamatan Kampa Kabupaten Kampar? 2).
Bagaimana Transparansi pengelolaan alokasi dana desa di Pemerintah Desa Koto
Perambahan Kecamatan Kampa Kabupaten Kampar? 3). Bagaimana Partisipasi Masyarakat
pada pengelolaan alokasi dana desa di Desa Koto Perambahan Kecamatan Kampa Kabupaten
Kampar?
Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1). Mendeskripsikan dan
menganalisis akuntabilitas pengelolaan alokasi dana desa di Desa Koto Perambahan
Kecamatan Kampa Kabupaten Kampar. 2). Mendeskripsikan dan menganalisis transparansi
pengelolaan alokasi dana desa di Desa Koto Perambahan Kecamatan Kampa Kabupaten
Kampar. 3). Mendeskripsikan dan menganalisis partisipasi masyarakat dalam pengelolaan
alokasi dana desa di Desa Koto Perambahan Kecamatan Kampa Kabupaten Kampar.

Penulis berharap penelitian ini bermanfaat bagi para pembaca, Adapun manfaat secara
teoritis yaitu menambah wawasan tentang akuntansi sektor publik dalam pemerintah desa
tentang akuntabilitas pengelolaan alokasi desa. Manfaat praktis bagi peneliti, penelitian ini
menjadi media untuk mengaplikasikan berbagai teori yang dipelajari. Selain itu, dengan
melakukan penelitian ini maka peneliti mendapatkan tambahan pengetahuan dan wawasan

293
Jurnal Al-Iqtishad Volume 18 Nomor 2 Tahun 2022 Natasya, Desmiyawati, Anggraini

mengenai akuntabilitas, transparansi, dan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan alokasi


dana desa. Bagi Pemerintah, agar menjadi rujukan dan masukan bagi pemerintah untuk
meningkatkan akuntabilitas, transparansi, apartisipasi masyarakat dalam pengelolaan alokasi
dana desa.

TINJAUAN LITERATUR
Stewardship Theory ( Teori Stewarship)

Teori mendasari penelitian ini adalah bagian dari agency theory yaitu stewardship
theory Donaldson dan Davis (1991) yang menggambarkan situasi dimana para manajemen
tidaklah termotivasi oleh tujuan - tujuan individu tetapi lebih ditujukan pada sasaran hasil
utama mereka untuk kepentingan organisasi. Teori tersebut mengasumsikan bahwa adanya
hubungan yang kuat antara kepuasan dan kesuksesan organisasi. Kesuksesan organisasi
menggambarkan maksimalisasi utilitas kelompok principals dan manajemen.

Teori stewardship dapat diterapkan pada penelitian akuntansi organisasi sektor publik
seperti organisasi pemerintahan yang sejak awal perkembangannya, akuntansi organisasi
sektor publik telah dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan informasi bagi hubungan antara
stewards dengan principals. Akuntansi sebagai penggerak berjalannya transaksi bergerak
kearah yang semakin kompleks dan diikuti dengan tumbuhnya spesialisasi dalam akuntansi
dan perkembangan organisasi sektor publik.

Kontrak hubungan antara stewards dan principals atas dasar kepercayaan amanah =
trust, bertindak kolektif sesuai dengan tujuan organisasi. Implikasi teori stewardship terhadap
penelitian ini, dapat menjelaskan eksistensi Pemerintah Desa sebagai suatu lembaga yang
dapat dipercaya dan bertindak sesuai dengan kepentingan publik dengan melaksanakan tugas
dan fungsinya dengan tepat untuk kesejahteraan masyarakat principal.

Akuntabilitas
Pemerintah desa melaksanakan tugasnya dalam membuat pertanggung jawaban
keuangan berupa penyajian laporan keuangan yang akuntabel dan transparan sesuai dengan
karakteristik laporan keuangan relevan, andal, dapat dipahami dan dapat dibandingkan.
Akuntabilitas pengelolaan dana desa merupakan salah satu bentuk transparansi pemerintah
desa steward terhadap masyarakat principal dalam pengelolaan alokasi dana desa, yaitu
dengan cara memberikan akses informasi keuangan kepada masyarakat sehingga pelayanan
publik maupun kesejahteraan masyarakat dapat tercapai secara maksimal. Akuntabilitas
terkait erat dengan instrumen untuk kegiatan kontrol terutama dalam hal pencapaian hasil

294
Jurnal Al-Iqtishad Volume 18 Nomor 2 Tahun 2022 Natasya, Desmiyawati, Anggraini

pada pelayanan publik dan menyampaikannya secara transparan kepada masyarakat


(Arifiyadi, 2008.)

Undang-Undang No.6 Tahun 2014 Pasal 24 menyatakan bahwa yang dimaksud dengan
akuntabilitas adalah asas yang menentukan bahwa setiap kegiatan dan hasil akhir kegiatan
penyelenggaraan pemerintahan desa harus dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat
desa sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Transaparansi adalah
keterbukaan informasi kepada publik, apabila publik membutuhkan informasi tersebut bisa
didapatkan. Dengan adanya keterbukaan maka dana desa dapat dikontrol dan diawasi dengan
baik oleh pihak yang berwenang, serta dana desa tersebut dapat dipertanggung jawabkan oleh
pihak yang mengelolanya.

Partisipasi Mayarakat

Partisipasi masyarakat bisa menjadi salah satu faktor yang menentukan efektivitas
pengelolaan dana desa. Semakin tinggi partisipasi masyarakat maka cenderung semakin
tinggi pula efektifitas pengelolaan dana desa. Hal ini sesuai dengan agency theory bahwa
partisipasi masyarakat merupakan salah satu penilaian principal pada kinerja dari agent.
Partisipasi masyarakat adalah keterlibatan peran sertanya masyarakat dalam kegiatan
pemerintahan, sehingga berdampak pada proses evaluasi dan kontrol kinerja pemerintah dan
meminimalisir penyalahgunaan wewenang.

Namun saat ini masih banyak aparat desa yang belum menciptakan akuntabilitas dan
transparansi, hal ini terbukti dengan adanya penelitian (Riyanto, 2015) yang melakukan
penelitian tentang akuntabilitas finansial dalam pengelolaan Alokasi Dana Desa (ADD) di
Kecamatan Marangkayu Kabupaten Kutai Kartanegara menunjukan mulai dari pelaksanaan
sampai dengan pencapaian hasilnya dapat dipertanggungjawabkan di depan seluruh pihak
Pemerintah Desa, tetapi belum dapat dipertanggungjawabkan kepada seluruh masyarakat
desa.

Penelitian ini sejalan dengan penelitian Amirullah (2016) yang melakukan penelitian
tentang pengelolaan keuangan desa Brumbungan Kidul, penelitian ini menunjukan bahwa
secara keseluruhan pengelolaan keuangan desa sudah baik. Namun, pada tahap perencanaan
dan pertanggung jawaban terjadi ketidaksesuaian, karena terjadi keterlambatan dalam
penyusunan peraturan desa dan pengelolaan keuangan desa tidak diinformasikan kepada
seluruh masyarakat desa Brumbungan Kidul. Kurangnya pengetahuan dari pemerintah desa
menjadi faktor penghambat dalam pengelolaan keuangan desa. Penelitian Mada (2017)

295
Jurnal Al-Iqtishad Volume 18 Nomor 2 Tahun 2022 Natasya, Desmiyawati, Anggraini

menyatakan bahwa partisipasi masyarakat berpengaruh positif dan signifikan terhadap


akuntabilitas pengelolaan dana desa yang mana dapat disimpulkan bahwa masyarakat turut
ikut serta berpartisipasi dalam pengelolaan dana desa.

Pengembangan dan penerapan sistem akuntabilitas, transparansi, dan partisipasi


masyarakat merupakan bentuk dukungan pelaksanaan dan kelancaran di dalam pengelolaan
ADD dalam setiap penyelenggaraan dan pembangunan pemerintah agar berlangsung berhasil,
bersih dan bertanggung jawab dan tidak ada lagi tindak penyelewengan yang akan terjadi

METODE PENELITIAN
Populasi merupakan wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang
mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari
dan kemudian ditarik kesimpulannya. Populasi dalam penelitian ini adalah aparatur desa dan
masyarakat Desa Koto Perambahan Kecamatan Kampa. Kecamatan Bangko Memiliki
wilayah pemerintahan desa sebanyak 6 dusun.
Penelitian ini menggunakan metode purposive sampling yaitu teknik penentuan sampel
dengan pertimbangan tertentu, artinya subjek tersebut memahami dan menguasai
permasalahan serta bersedia memberikan informasi yang lengkap dan akurat terkait dengan
data-data yang dibutuhkan dalam penelitian ini. Peneliti mengambil responden adalah
responden yang terlibat langsung terhadap pengelolaan pengeloaan alokasi dana desa yang
terdiri dari aparatur desa dan masyarakat desa yang berkaitan langsung dengan pengelolaan
alokasi dana desa yang terdiri dari beberapa koresponden yaitu: Kepala Desa, Sekretaris
Desa, Bendahara Desa, Kepala Badan Permusyawaratan Desa, Masyarakat Desa (Pemilik
warung yang merupakan anggota BPD, Guru Paud, Ketua RT) 3 Koresponden.
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini melibatkan upaya-
upaya penting, seperti mengajukan pertanyaan dan prosedur, mengumpulkan data yang
spesifik dari narasumber, menganalisis data secara induktif, dan menafsirkan makna data.
Pendekatan studi kasus adalah pendekatan kualitatif yang penelitinya mengeksplorasi
kehidupan nyata, sistem terbatas kontemporer (kasus) atau beragam sistem terbatas (berbagai
kasus), melalui pengumpulan data yang detail dan mendalam melibatkan beragam sumber
informasi atau sumber melalui pengamatan, wawancara, bahan audiovisual, dokumen dan
berbagai laporan. Penelitian kualitatif ini berakar pada latar alamiah sebagai keutuhan
manusia yang menjadi alat penelitiannya.
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teknik triangulasi dalam menganalisis data.
Teknik triangulasi merupakan teknik pemeriksaan keabsahan data dengan observasi

296
Jurnal Al-Iqtishad Volume 18 Nomor 2 Tahun 2022 Natasya, Desmiyawati, Anggraini

penelitian di lapangan yang selanjutnya hasil observasi ini dilakukan crosscheck melalui
persepsi peneliti.

Gambar 1. Model Penelitian

Akuntabilitas
(X1)

Transparansi Pengelolaan Alokasi


(X2) Dana Desa
(Y)

Partisipasi
Masyarakat
(X3)

Sumber: Dari Penelitian Terdahulu Yang Dikembangkan Untuk Penelitian

HASIL DAN PEMBAHASAN


Penerapan Kinerja Pengelolaan Alokasi Dana Desa

Berikut ini peneliti uraikan hasil wawancara peneliti dengan narasumber tentang
ketapatan sasaran, adapun hasil wawancaranya adalah sebagai berikut:

Hasil Wawancara dengan Kepala Desa


Apakah Kinerja Pelaksanaan telah sesuai hasil dengan program yang sudah
dilaksanakan?
“Sejauh ini jika sudah direncanakan di APBDes, maka wajib dilaksanakan kecuali ada
perubahan bahwa dana dalam kondisi tertentu seperti pandemi covid-19. berbuat
sesuai juknis baik tingkat desa, kabupaten, kecamatan dan pusat”
Hasil Wawancara dengan Bendahara Desa
Bagaimana terkait dengan kasus kades yang dulu?
“Sejauh Dana sudah masuk tetapi tidak dikerjakan ke pembangunan (DD). Dana
sudah masuk ke rekening desa. Sisa lebih anggaran dimasukkan ke rekening desa
sehingga tahun depan bisa dianggarkan kembali.”
Hasil Wawancara dengan Kepala Badan Permusyawaratan Desa
Bagaimana kasus terdahulu bisa terjadi?
“Sebelum kades yang ini, terjadi penyimpangan dana. Mantan kades yang lama sudah
diingatkan oleh BPD tapi kades tidak mengindahkan walau sudah dibuat secara baik.
Anggaran yang ada tidak direalisasikan, ada kelebihan dana yang fiktif. Pada sisa
lebih anggaran (dana yang tidak dikerjakan pada tahun tersebut)”

297
Jurnal Al-Iqtishad Volume 18 Nomor 2 Tahun 2022 Natasya, Desmiyawati, Anggraini

Kinerja Pengelolaan Alokasi Dana Desa Selanjutnya di singkat menjadi ADD di Desa
Koto Perambahan secara umum telah berjalan dengan baik. Sesuatu yang direncanakan telah
dilaksanakan dan dapat dipertanggung jawabkan. Seperti yang sudah diinformasikan pada
data ADD, untuk kasus yang peneliti angkat maka ADD yang bisa peneliti analisis adalah
ADD tahun 2016 dan tahun 2017 karena dimasa itu, terjadi kasus yang dilakukan kepala desa
atas ADD. Walau demikian, pemerintah pusat sama sekali tidak menurunkan jumlah ADD
dari tahun 2016 ke tahun 2017 meski telah terjadi kasus tersebut. Sehingga dapat disimpulkan
bahwa tidak ada keterkaitan jumlah ADD yang dicairkan pemerintah pusat ke desa meski
desa tersebut melakukan tindakan korupsi dana desa. Dalam hal ini, mantan kepala desa
tersebut telah membayar atas tindakan melanggar hukum yang dilakukannya dan program
desa terus berlanjut demi kesejahteraan masyarakat desa melalui ADD.

Penerapan Akuntabilitas Dalam Pengelolaan Alokasi Dana Desa


Berikut ini peneliti uraikan hasil wawancara peneliti dengan narasumber tentang
ketapatan sasaran, adapun hasil wawancaranya adalah sebagai berikut:

Hasil Wawancara dengan Kepala Desa


Bagaimanakah bentuk kewajiban dari perkembangan ADD di Desa Koto
Perambahan?
“Dana dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah, pemerintah daerah ke
pemerintah desa. Bermanfaat bagi kemuajuan sebuah desa dari segala bidang
(infrastruktur). Perkembangan sesuai dengan apa yang menjadi kebutuhan desa. Tiap
tahun berbeda tergantung prioritas. Ada musrembangdus, mengundang RT/RW,
dusun/tokoh masyarakat untuk merencanakan apa yang akan diusulkan ditingkat desa.
Di tingkat desa akan menampung aspirasi kedalam LKPDes-APBDes.”
Hasil Wawancara dengan Sekretaris Desa
Bagaimana mekanisme dalam pengelolaan ADD
“Perencanaan ADD : musdes (kades, BPD, perangkat desa, tokoh masy, pendidikan,
keagamaan...lengkaplah), ditunjuk tim utk penyusun RKPDes (rencana kerja) –
LKPDes (pembangunan apa yg perlu dilaksanakan)- diajukan ke tingkat kab lalu
dikerutukan ke APDes – pelaksana TPK/Sekdes/Bendahara dittd oleh kades sebagai
pertanggungjawaban anggaran. Pencairan dari TPK ke kades. Kades ACC baru
dilaksanakan oleh TPK”.
Hasil Wawancara dengan Guru PAUD
Apakah prosedur perencanaan untuk pengelolaan ADD sudah sesuai dan sudah
terlaksana dengan baik?
“Kalau setau saya itu kadang ada, kadang enggak juga. Contohnya honor guru.
Umpamanya yang bukan PNS, ya pokoknya insentif desa ini seperti kami guru paud ada
dianggarkan untuk kami sekali enam bulan dibayarkan”.

298
Jurnal Al-Iqtishad Volume 18 Nomor 2 Tahun 2022 Natasya, Desmiyawati, Anggraini

Pemerintah desa Koto Perambahan menjalankan sesuai juknis baik tingkat desa,
kabupaten, kecamatan dan pusat. Seluruh perangkat desa terutama sekretaris desa yang
menjadi tulang punggung desa menjalakan akuntabilitas dalam pengelolaan alokasi dana desa
sesuai dengan regulasi.

Penerapan Transparansi Dalam Pengelolaan Alokasi Dana Desa


Berikut ini peneliti uraikan hasil wawancara peneliti dengan narasumber tentang
ketapatan sasaran, adapun hasil wawancaranya adalah sebagai berikut:

Hasil Wawancara dengan Ketua BPD


Bagaimanakah Keterbukaan pemerintah desa terhadap pengelolaan ADD?
“Dana desa yg dikelola kades, kami dr BPD untuk transparan dalam penggunaan dana,
dana yang dikucurkan melalui BPD, dimusyawarahkan dulu dengan melibatkan semua
pihak. Setelah pelaksanaan selesai, kami minta kepada kades untuk diumumkan melalui
baleho yang tersebar di 6 dusun. BPD mengawasi kinerja kades – keuangan maupun
sosial”.
Hasil Wawancara dengan Kepala Desa
Bagaimana pemerintah desa mewujudkan prinsip transparansi atau keterbukaan
dalam pengelolaan ADD?
“Ada suatu bangunan infrastruktur wajib melibatkan masyarakat miskin/cacat/kurang
dalam perekonomian, diberdayakan untuk bekerja didalamnya secara bersama dengan
memberi upah atas pekerjaan yang mereka laksanakan. Kades mempublikasi dipapan
informasi desa, dana desa dikucurkan kemana, ada disuatu tempat akan dilaksanakan
pembangunan”
Hasil Wawancara dengan anggota BPD
Bagaimana keterbukaan pemerintah desa dalam pengelolaan ADD itu kepada
masyarakat?
“Pertama kan, kalau saya ini kan sebagai anggota BPD kan, nah pertama sekali kalau
ADD itu cair kan dipanggil dulu kan aparat pemerintah desa nya kan,nanti setelah itu di
musyawarahkan anggarannya untuk dusun ini kegiatan yang akan dilakukan apa dan
anggarannya berapa maksudnya ya direncanakan dulu sesuai dengan apa kebutuhan
dari dusun-dusundi desa koto perambahan ini. Kalau untukketerbukaan ya sudah
terbuka lah menurt saya. Kalau kepala desa nya transparansi terkait informasi yang
harusnya menjadi informasi umum”.
Pemerintah Desa Koto Perambahan telah mewujudkan penerapan transparansi dalam
pengelolaan ADD dengan cara mempublikasikan penggunaan ADD dipapan informasi desa
yang berisi pengalokasian dana desa. Selain itu pemerintah desa setiap melakukan kegiatan,
selalu melibatkan anggota BPD sebagai pengawas didalam melaksanakan kegiatan untuk
anggaran. Setelah pelaksanaan selesai dilaksanakan, BPD meminta kepada kepala desa untuk

299
Jurnal Al-Iqtishad Volume 18 Nomor 2 Tahun 2022 Natasya, Desmiyawati, Anggraini

diumumkan melalui baleho yang tersebar di enam dusun. BPD bertugas mengawasi kinerja
kepala desa – keuangan maupun sosial.

Penerapan Partisipasi Masyarakat Dalam Pengelolaan Alokasi Dana Desa


Berikut ini peneliti uraikan hasil wawancara peneliti dengan narasumber tentang
ketapatan sasaran, adapun hasil wawancaranya adalah sebagai berikut:

Hasil Wawancara dengan Kepala Desa


Bagaimanakah tingkat partisipasi masyarakat dalam pengelolaan ADD?
“Kelihatan apabila sebuah kegiatan tidak terlaksana. Maka timbul pertanyaan ke
masyarakat ke TPK dan seluruh unsur yang terkait”.
Hasil Wawancara dengan Bendahara Desa
Bagaimana partisipasi masyarakat dalam pengelolaan ADD?
“Masyarakat sangat antusias karena banyak untuk pemberdayaan masyarakat.
Misalnya gaji guru paud, guru ngaji, ghorim – dibayarkan untuk insentif guru oleh
desa.”
Hasil Wawancara dengan ketua RT
Menurut bapak apakah masyarakat desa di Desa Koto Perambahan ini sudah
mengawasi mulai dari perencanaan sampai dilaksanakannya kegiatan
pembangunan/ pemberdayaan tersebut?
“Kalau di awasi ya diawasi ya, masyarakat pun ikut serta contohnya ada semenisasi
masyarakat ikut mengawasi apakah betul disitu sudah dilaksanakan atau belum.
Kalau ditanya diawasi ya pasti ada, kan juga diawasi oleh BPD juga kan. Contohnya
semenisasijalan, apakah sudah sesuai ukuran jalan untuk semenisasi atau tidaj sesuai,
nah kalau tidak sesuai kan itu yang disanggah masyarakat kan”.

Penerapan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan alokasi dana desa di Desa Koto
Perambahan secara umum berjalan dengan baik, Pemerintah Desa Koto melibatkan
masyarakat mulai dari perencanaan sampai dengan pertanggungjawaban. Partisipasi
masyarakat lainnya di Desa Koto sebagai salah satu bentuk pengawasan dari masyarakat
melalui BPD, nantinya BPD yang akan menyampaikan kepada kepala desa. Namun
terkadang dari kepala desa sendiri yang langsung berkomunikasi dengan masyarakat.

KESIMPULAN DAN SARAN


Pengelolaan alokasi dana desa di Desa Koto Perambahan secara umum berjalan dengan
baik untuk akuntabilitas. Pemerintah Desa Koto Perambahan memiliki akuntabilitas didalam
pengelolaan dana desa dari mulai tahap perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan
pertanggung jawaban dengan mengikuti aturan yang berlaku. Realisasi dana desa juga
diperuntukkan demi kesejahteraan masyarakat desa Koto Perambahan. Pengelolaan alokasi

300
Jurnal Al-Iqtishad Volume 18 Nomor 2 Tahun 2022 Natasya, Desmiyawati, Anggraini

dana desa di Desa Koto Perambahan secara umum berjalan dengan baik untuk transparansi.
Pemerintah Desa Koto Perambahan membuka diri dan terbuka kepada masyarakat atas
pengalokasian dana desa yang diterima dari pusat, mulai dari menempelkan informasi
tersebut di beberapa papan pengumuman, baleho, dan akses internet melalui website.
Pengelolaan alokasi dana desa di Desa Koto Perambahan secara umum berjalan dengan
baik untuk partisipasi masyarakat. Pemerintah Desa Koto Perambahan melibatkan
masyarakat mulai dari perencanaan sampai dengan pertanggung jawaban realisasi dana desa.
Salah dengan melibatkan masyarakat didalam kegiatan pelaksanaan yang menggunakan
anggaran dari dana desa. Terdapat faktor yang menghambat didalam alokasi dana desa adalah
pada tahap pencairan yang mengalami keterlambatan. Karena sebagian besar didalam
pengalokasian dana desa Koto Perambahan adalah untuk pemberdayaan seperti honor
pegawai, maka besar harapan untuk tahap pencairan sesuai dengan waktunya. Untuk
pelaksanaan kegiatan infrastruktur yaitu jalan, diharapkan ada penambahan dana karena
mengingat luasnya Desa Koto Perambahan.
Mengacu kepada permasalahan yang terjadi di Desa Koto Perambahan dengan kasus
mantan kepala desa maka diharapkan untuk membentuk tim yang bisa bersikap independen.
Karena menurut pengakuan salah satu pegawai setempat mengatakan bahwa sebelumnya
mantan kades yang bermasalah tersebut sudah diingatkan untuk menyelesaikan kasus yang
sedang dihadapi agar tidak sampai kejalur hukum, namun tidak diindahkan. Berdasarkan
pengenaan penalti untuk dana BLT tahun 2021 yang diterima pemerintah Desa Koto,
hendaknya selalu update permandegri terbaru. Berdasarkan data, masih terdapat masyarakat
yang buta huruf, maka hendaknya dari dana desa yang ada, dialokasi untuk pengentasan buta
huruf.
Dalam penelitian ini belum melibatkan tokoh masyarakat dan masyarakat setempat
lebih luas dan bervariasi. Dalam penelitian ini hanya menggunakan 3 variabel independen
yaitu akuntabilitas, transparansi, dan partisipasi masyarakat, diduga masih ada faktor yang
mempengaruhi pengelolaan ADD dengan variabel independen penelitian seperti variabel
sistem pengendalian internal. Dalam penelitian ini masih terdapat keterbatasan dalam
menambahkan item pertanyaan wawancara kepada nara sumber yang membahas mengenai
kasus yang terjadi di Desa Koto Perambahan, Kampar, Riau.

DAFTAR PUSTAKA

Amirullah, M. (2016). Pengelolaan Keuangan Desa Berdasarkan Permendagri 113 Tahun


2014 (Studi Kasus Pada Desa Brumbungan Kidul Kecamatan Maron Kabupaten

301
Jurnal Al-Iqtishad Volume 18 Nomor 2 Tahun 2022 Natasya, Desmiyawati, Anggraini

Probolinggo). Jurnal Fakultas, Doctoral Dissertation, University of Muhammadiyah


Malang.
Ardiyanti, R. (2019). Pengaruh transparansi, akuntabilitas, partisipasi masyarakat dalam
pengelolaan dana desa terhadap pemberdayaan masyarakat pada Desa Woro
Kecamatan Kragan Kabupaten Rembang. UIN Walisongo.
Arfan, I., Muhyarsyah, H. T., & Oktaviani, A. (2014). Metodologi Penelitian Bisnis. Jakarta:
Erlangga.
Arifiyadi, T. (2008). Konsep Tentang Akuntabilitas Dan Implementasinya Di Indonesia.
Jakarta: Inspektorat Jenderal Depkominfo.
Arikunto, S. (2010). Metode peneltian. Jakarta: Rineka Cipta.
Arsyad, L. (2005). Perencanaan Keuangan (Pengantar Perencanaan Pembangunan
Ekonomi Daerah). Yogyakarta: BPFE.
Bastian, I. (2016). Akuntansi Sektor Publik: Suatu Pengantar. Jakarta: Erlangga.
Basuki, S. (1993). Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Creswell, J. W. (2010). Research Design: Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, Dan Mixed.
Yogyakarta: PT Pustaka Pelajar.
Damayanti, W. (2018). Transparansi Dan Akuntabilitas Pemerintah Desa Dalam
Pengelolaan Alokasi Dana Desa (Studi kasus: Desa Tegiri dan Desa Sumberagung
Kecamatan Batuwarno, Kabupaten Wonogiri). Universitas Muhammadiyah
Surakarta.
Davis, J. H., Schoorman, F. D., & Donaldson, L. (1997). Toward a stewardship theory of
management. Academy of Management Review, 22(1), 20–47.
Dilago, R., Lumolos, J., & Waworundeng, W. (2018). Transparansi Pemerintah Desa Dalam
Pengelolaan Dana Desa Di Desa Soatobaru Kecamatan Galela Barat Kabupaten
Halmahera Utara. Jurnal Eksekutif, 1(1).
Dura, J. (2016). Pengaruh akuntabilitas pengelolaan keuangan alokasi dana desa, kebijakan
desa, dan kelembagaan desa terhadap kesejahteraan masyarakat. Jurnal Ilmiah Bisnis
Dan Ekonomi Asia, 10(2), 26–32.
Hamid, A. (2016). Transparansi dan Akuntabilitas Pengelolaan Keuangan Alokasi Dana
Desa (ADD) Dalam Pencapaian Good Governance (Studi Empiris Kecamatan
Bontomarannu Kabupaten Gowa). Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar.
Hardianti, S. (2017). Partisipasi masyarakat dalam pembangunan infrastruktur desa (program
alokasi dana desa di Desa Buntongi Kecamatan Ampana Kota). Katalogis, 5(1).
Iznillah, M. L., Hasan, A., & Mutia, Y. (2018). Analisis Transparansi dan Akuntabilitas

302
Jurnal Al-Iqtishad Volume 18 Nomor 2 Tahun 2022 Natasya, Desmiyawati, Anggraini

Pengelolaan Keuangan Desa Di Kecamatan Bengkalis. Jurnal Akuntansi (Media Riset


Akuntansi & Keuangan), 7(1).
Keuangan, K. (2021). Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan. Retrieved from
[Link]
Kharisma, V. D. (2013). Implementasi Kebijakan Pemanfaatan Alokasi Dana Desa. JIANA
(Jurnal Ilmu Administrasi Negara), 12(2), 94–102.
Kholmi, M. (2016). Akuntabilitas pengelolaan alokasi dana desa (studi di desa kedungbetik
kecamatan kesamben kabupaten jombang). Jurnal Ekonomika Bisnis, 7(2), 143–182.
Kisnawati, B., Astini, Y., & Oktaviani, R. N. (2018). Transparansi dan akuntabilitas
pengelolaan keuangan Alokasi Dana Desa (ADD) di Kecamatan Moyo Hilir
Kabupaten Sumbawa Besar. VALID Jurnal Ilmiah, 15(1), 1–10.
Mada, S., Kalangi, L., & Gamaliel, H. (2017). Pengaruh kompetensi aparat pengelola dana
desa, komitmen organisasi pemerintah desa, dan partisipasi masyarakat terhadap
akuntabilitas pengelolaan dana desa di Kabupaten Gorontalo. Jurnal Riset Akuntansi
Dan Auditing “Goodwill,” 8(2).
Nordiawan, D., Putra, I. S., & Rahmawati, M. (2012). Akuntansi Pemerintahan. Jakarta:
Salemba Empat.
Nurbaeti, N. (2020). Analisis Akuntabilitas, Transparansi dan Partisipatif Masyarakat
pengelolaan Alokasi Dana Desa (ADD) di Desa Banjarharjo Kabupaten Brebes.
Fakultas Ekonomi dan Bisnis.
Peraturan Bupati Nomor 7 tahun 2016. tentang pedoman teknis pengelolaan dana desa.
Peraturan pemerintah Nomor 72 tahun 2005. tentang desa.
Peraturan pemerintah RI Nomor 72 tahun 2005. tentang sumber kedudukan keuangan desa.
Permendagri Nomor 113 tahun 2014. tentang pengelolaan keuangan daerah.
Permendagri Nomor 37 tahun 2007. tentang pedoman pengelolaan keuangan desa.
Raco, J. R. (2010). Metode Peneltian Kualitatif. Jakarta: Grasindo.
Risya, U., & Nurodin, I. (2017). Pengaruh transparansi dan akuntabilitas terhadap
pengelolaan keuangan desa. Jurnal Ilmiah Ilmu Ekonomi (Jurnal Akuntansi, Pajak
Dan Manajemen), 6(11), 74–80.
Riyanto, T. (2015). Akuntabilitas Finansial Dalam Pengelolaan Alokasi Dana Desa (Add) di
Kantor Desa Perangat Selatan Kecamatan Marangkayu Kabupaten Kutai Kartanegara.
Ejournal Administrasi Negara, 3(1), 199–130.
Samryn. (2015). Pengantar Akuntansi. Jakarta: Raja Grafindo.
Siyoto, S., & Sodik, M. A. (2015). Dasar metodologi penelitian. Jakarta: Literasi Media

303
Jurnal Al-Iqtishad Volume 18 Nomor 2 Tahun 2022 Natasya, Desmiyawati, Anggraini

Publishing.
Soemarso, S. R. (2004). Revisi Akuntansi Suatu Pengantar. Jakarta: Salemba Empat.
Solekhan, M. (2012). Penyelenggaraan pemerintahan desa: berbasis partisipasi masyarakat
dalam membangun mekanisme akuntabilitas. Malang: Setara Press.
Sugiyono. (2012). Metode Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif. Bandung: Alfabeta.
Sugiyono. (2017). Metode Penelitian Pendidikan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung:
Alfabeta.
Sumpeno, W. (2011). Perencanaan Desa Terpadu. Banda Aceh: Read.
Sunardjo, U. (1984). Tinjauan Sepintas Tentang Pemerintahan Desa Dan Kelurahan.
Bandung: Tarsito.
Syahadatina, R. (2017). Akuntabilitas Pengelolaan Alokasi Dana Desa di Desa Rapa Laok
Kecamatan Omben Kabupaten Sampang. Jurnal Akuntansi Dan Investasi, 2(1), 1–18.
Syamsi, S. (2015). Partisipasi Masyarakat Dalam Mengontrol Penggunaan Anggaran Dana
Desa. JISIP: Jurnal Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik, 3(1).
Ultafiah, W. (2017). Pengaruh Akuntabilitas. Transparansi Dan Partisipasi Terhadap
Pengelolaan Dana Desa Untuk Mewujudkan Good Governance Pada Desa di
Kecamatan Merapi Barat Kabupaten Lahat. Universitas Muhammadiyah Palembang.
Undang-undang Nomor 6 Tahun 2014. tentang desa dan pengelolaan keuangan desa.
Utami, K., & Syofyan, E. (2013). Pengaruh Pengetahuan Dewan tentang Anggaran terhadap
Pengawasan Keuangan Daerah dengan Variabel Pemoderasi Partisipasi Masyarakat
dan Transparansi Kebijakan Publik. Wahana Riset Akuntansi, 1(1), 63–86.
Waluyo. (2007). Manajemen Publik: Konsep, Aplikasi, Dan Implementasinya Dalam
Pelaksanaan Otonomi Daerah. Bandung: Mandar Maju.
Wida, S. A., Supatmoko, D., & Kurrohman, T. (2017). Akuntabilitas Pengelolaan Alokasi
Dana Desa (ADD) di Desa–Desa Kecamatan Rogojampi Kabupaten Banyuwangi. E-
Journal Ekonomi Bisnis Dan Akuntansi, 4(2), 148–152.
Yuliansyah, R. D. (2016). Akuntansi Desa. Jakarta: Salemba Empat.

304

Anda mungkin juga menyukai