TEMA: BULLYING NO, ADAB YES
Potret kehidupan sebuah keluarga : Bapak Y, Ibu X, dan kedua anaknya: Putra (17 thn), Putri (12 thn)
dan Ragil (5 thn)
Scene 1: <latar: ruang tamu> seorang ibu, melihat berita online (via HP/laptop) tentang berita
bullying anak, berujung Tindakan criminal bahkan bunuh diri. Ibu tersebut gelisah dan resah, namun
meyakinkan diri sendiri untuk optimis dan bahwa dirinya mampu menjadi seorang ibu yang
melindungi anak-anaknya dengan penanaman karakter dari rumah dan keluarga.
VO: Membesarkan serta mendidik anak di zaman serba modern dan digital ini menjadi sebuah
tantangan terbesar bagi para orang tua. Cara-cara yang diturunkan oleh para sesepuh dulu, kiranya
perlu diadaptasi lalu diadaptasi. Anak tumbuh di eranya masing-masing, dan tugas orang tua adalah
untuk memastikan anak dapat tumbuh dan berkembang dengan sehat secara fisik dan mental.
Scene 2: <latar: kamar anak/ ruang keluarga> Ibu tadi (sebut saja Ibu X) melihat anaknya (anggap
Namanya Putri) yang sedih sedih. Anak tersebut memandangi buku Pelajaran yang mendapat nilai
50. Ibu X, menepuk-nepuk dan Pundak dan memeluk anak tersebut, menenangkannya sambil
berkata “terima kasih ya nak, sudah berusaha. Alhamdulillah dapat 50. Besok pengen ibu buatin apa,
biar makin semangat sekolahnya?”
VO: membuat anak nyaman dan merasa diterima di rumah, karena rumah adalah tempat kita
Kembali bukan? Hasil apa pun yang diperoleh, mari kita apresiasi. Karena anak telah berusaha dan
berjuang dengan baik. Tugas orang tua adalah untuk terus menyalakan api semangat dan dan
keinginan anak untuk terus berusaha dan tidak berhenti di Tengah jalan.
Scene 3: <latar: teras rumah> Putra bersama teman-temannya (sekitar 3 atau 4 orang) sedang
bercanda dan bergurau. Ayah Putra (Bpk. Y) terlihat pulang dari kerja (sebagai tukang bangunan).
Putra menghampiri Ayahnya, mencium tangannya dan membawakan tasnya. Ketika berjalan menuju
masuk rumah, teman-teman Putra ikut berdiri dan salim kepada Ayah Putra.
Bpk. Y: (basa-basi) iki jenenge sopo, arek endi? Facebook e opo? (dengan gaya ramah, tidak
mengintimidasi, supel)
Lalu satu persatu teman Putra memperkenalkan diri, sekaligus memberitahu akun FB mereka. Ada
yang memang tidak punya FB. Bpk Y mengeluarkan HP dan mencoba melihat akun mereka satu
persatu.
Bpk Y: iki wisata ng ndi rek? He, ngerti nggon iki? Kopi ne enak, nggon e yo penak, sejuk… (basa-basi
dengan Upaya mendekati circle teman-teman anaknya) Kapan-kapan aku jak en ngopi yo, rek? (lalu
masuk ke dalam rumah)
Teman-teman Putra: bapakmu kok gaul put? Bapakmu asik put, ngerti nggon-nggon seng keren
VO: menjadi orang tua perlu menyelami dunia anak, sedikit tahu tentang dunia dan teman-
temannya. Bukan untuk membatasi dan mengekang anak, namun untuk menjadi lebih dekat dan
membuat anak merasa nyaman untuk berbagi cerita apa pun dengan orang tuanya.
Scene 4: <ruang tamu> Ragil sedang asyik bermain HP. Ibu X baru pulang dari kegiatan pengajian.
Tanpa merampas HP dengan kasar, Ibu X mengajak dengan lembut:
Ibu X: Nduk, ayok bikin kreasi puding yuk.
Ragil: halah buk, aku sek main game iki lo. Wes kate menang.
Ibu X: Ibuk enteni 5 menit ngkas ngge.
Ragil: Hm, 10 menit?
Ibuk: ngge pun. Deal 10 menit.
Ragil: sip (dengan gaya jempol)
Ibuk: (basa-basi bertanya tentang game apa, Namanya apa, cara mainnya gimana)
VO : membesarkan anak adalah hal yang tidak pernah diajarkan di bangku sekolah. Menjadi orang
tua tentunya proses panjang yang dilakukan dengan learning by doing, belajar dari pengalaman.
Menghadapi anak itu sama seperti menghadapi versi kecil diri orang tua itu sendiri. Orang tua
mencari cara terbaik untuk membuat kesepakatan, karena sudah tidak zamannya lagi orang tua
keluar otot saat membuat peraturan dengan anak.
Scene 4: <ruang keluarga> Putra meminta izin kepada Bpk Y dan Ibu x. Hari Sabtu besok Dia ingin ikut
teman-temannya nonton sholawat Habib Syeikh.
Putra: Pak, Buk, kulo benjeng ningali Habib Syeikh kaleh lare-lare ngge?
Ibu X: ten pundi acarane Le?
Putra: ten Pasuruan.
Bpk Y: lo, kok adoh?
(saling menyampaikan pendapat, tanpa marah-marah hingga ada kesepakatan bersama)
Closing bu lurah: <latar:rumah keluarga yg jadi tokoh>
“Membangun mental anak berawal dari rumah masing-masing. Bagaimana nantinya anak tersebut
memiliki sopan santun saat di luar, memiliki rasa percaya diri, dan mampu membawa dirinya sendiri
di arah yang positif dan bermanfaat bagi diriny asendiri. Peran orang tua tersebut tidak dapat
digantikan oleh siapapun. Meski zaman telah maju. Anak tidak akan mendapat kasih sayang dan
perhatian yang lebih baik selain dari orang tua sendiri. Mari lindungi anak dari bully, dan hindarkan
mereka menjadi pembully dengan Pendidikan karakter yang kuat dari rumah.