Panduan Keperawatan Atrium Septal Defect
Panduan Keperawatan Atrium Septal Defect
Mata Kuliah:
Keperawatan Anak Sakit dan Terminal
Dosen Pengampu :
Ns. Yufitriana Amir, [Link]., MSc
Disusun Oleh :
Kelompok 4 A 2022.2
Assalamu’alaikum Wr. Wb
Puji syukur kehadirat Allah Subhanahu Wata’ala yang telah memberikan
banyak nikmat, taufik dan hidayah. Sehingga kami dapat menyelesaikan makalah
yang berjudul “Atrium Septal Defect” dengan baik dan tepat waktu. Penyusunan
makalah ini untuk memenuhi tugas Case Base Learning (CBL) mata kuliah
Keperawatan Anak Sakit dan Terminal.
Terima kasih kami ucapkan kepada Ibu Ns. Yufitriana Amir, [Link]., MSc
selaku dosen pengampu mata kuliah ini. Terimakasih juga kepada teman-teman
yang telah memberikan kontribusinya sehingga makalah ini bisa selesai pada
waktu yang telah ditentukan.
Makalah ini masih banyak kekurangan baik dari segi konten, tata bahasa
maupun susunan kalimat. Oleh sebab itu dengan segala kerendahan hati, kami
menerima segala kritik dan saran yang membangun dari pembaca. Semoga
makalah ini berguna bagi pembaca dan dapat menambah ilmu pengetahuan serta
memberikan manfaat untuk kita dan masyarakat yang membutuhkan.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb
Kelompok 4
i
DAFTAR ISI
2.4 Patofisiologi.............................................................................................. 7
2.10 Manajemen Kasus Bayi 3 Bulan dengan Atrium Septal Defect (ASD)...16
2.11 Asuhan Keperawatan pada Anak dengan Atrium Septal Defect (ASD)...18
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................... 24
ii
BAB I
PENDAHULUAN
1
pembuluh darah paru dapat menyebabkan masalah di masa dewasa, seperti
tekanan darah tinggi di paru-paru maupun gagal jantung (Alexandra M.
Menillo, 2023).
Gejala yang dialami anak dengan ASD sangat beragam dan spesifik,
sehingga perlu dilakukan skrining dan diagnosis segera, hal ini akan
berdampak pada tindakan operatif dan prognosis pasien. Anak kecil dengan
gangguan spektrum autisme biasanya tidak menunjukkan gejala dan dapat
menunggu operasi elektif atau penutupan berbasis kateter hingga usia tiga
tahun atau lebih. Namun, ketika gejala seperti kelelahan, pertumbuhan yang
buruk, atau dispnea saat aktivitas muncul, ASD harus ditutup sesegera
mungkin sesuai indikasi. Sehingga diperlukan intervensi perkutan atau
pembedahan untuk mencegah komplikasi lebih lanjut (Hakim, 2024).
1. Tujuan Khusus
Memberikan gambaran tentang konsep dan pelaksanaan asuhan
keperawatan pada anak dengan Atrium Septal Defect.
2. Tujuan Umum:
a. Untuk mengetahui definisi Atrium Septal Defect.
b. Untuk mengetahui etiologi Atrium Septal Defect.
c. Untuk mengetahui anatomi dan fisiologi pada anak dengan Atrium
Septal Defect.
d. Untuk mengetahui patofisiologi Atrium Septal Defect.
e. Untuk mengetahui manifestasi klinis Atrium Septal Defect.
f. Untuk mengetahui klasifikasi Atrium Septal Defect.
g. Untuk mengetahui komplikasi dari Atrium Septal Defect.
h. Untuk mengetahui pemeriksaan diagnostik dan laboratorium Atrium
Septal Defect.
i. Untuk mengetahui penatalaksanaan Atrium Septal Defect.
j. Untuk mengetahui manajemen kasus terkait Atrium Septal Defect.
2
k. Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada pasien dengan Atrium
Septal Defect.
1. Bagi Penulis
Penulis dapat memahami terkait konsep dasar anak dengan Atrium
Septal Defect dan melaksanakan proses asuhan keperawatan pada anak
dengan diagnosis ASD.
3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.2 Etiologi
ASD adalah kelainan bawaan yang terjadi akibat gangguan
perkembangan struktur jantung selama masa embrionik. Penyebabnya dapat
melibatkan faktor genetik dan lingkungan, di antaranya:
1. Faktor Genetik:
• Riwayat keluarga dengan penyakit jantung bawaan.
• Sindrom genetik seperti Down syndrome, di mana ASD tipe
primum sering ditemukan.
2. Faktor Lingkungan:
• Infeksi maternal selama kehamilan, seperti rubella.
4
• Paparan zat beracun, termasuk obat-obatan tertentu (misalnya,
alkohol, litium, atau obat anti-kejang).
• Penyakit autoimun ibu, seperti lupus eritematosus sistemik.
• Diabetes gestasional yang tidak terkontrol.
3. Mutasi Genetik:
Mutasi pada gen tertentu yang terlibat dalam pembentukan jantung, seperti
gen NKX2-5, TBX5, atau GATA4.
4. Idiopatik:
Dalam banyak kasus, tidak ada penyebab pasti yang teridentifikasi.
5
Dinding jantung terdiri dari 3 lapisan:
• Lapisan luar (epikardium)
• Lapisan tengah (miokardium)
• Lapisan dalam (endokardium)
Jantung terdiri dari 4 ruang, yaitu dua berdinding tipis disebut
atrium (serambi) dan dua berdinding tebal disebut ventrikel (bilik)
1. Atrium
1) Atrium kanan berfungsi sebagai penampung darah rendah oksigen
dari seluruh tubuh. Kemudian darah dipompakan keventrikel kanan
melalui katup dan selanjut ya ke paru
2) Atrium kiri menerima darah yang kaya oksigen dari kedua paru
melalui 4 buah vena pulmonalis. Kemudian darah mengalir ke
ventrikel kiri melalui katup dan selanjutnya ke seluruh tubuh
2. Ventrikel
Merupakan alur-alur otot yang disebut trabekula. Alur yang
menonjol disebut muskulus papilaris, ujung ya dihubungkan dengan
tepi daun katub.
1) Ventrikel kanan menerima darah dari atrium kanan dan
dipompakan ke paru melalui arteri pulmonalis
2) Ventrikel kiri menerima darah dari atrium kiri dan dipompakan
keseluruh tubuh melalui aorta. Kedua ventrikel dipisahkan oleh
sekat yang disebut septum ventrikel
3. Katup-katup jantung
1) Katup atrioventrikuler
Terletak antara atrium dan ventrikel. Katup yang terletak diantara
atrium kanan dan ventrikel kanan mempunyai 3 buah daun katup
(trikuspid). Sedangkan katup yang terletak diantara atrium kiri dan
ventrikel kiri mempunyai dua buah daun kamp (mitral).
6
Memungkinkan darah mengalir dan atrium ke ventrikel pada vase
diastol dan mencegah aliran balik pada fase sistolik
2) Katup semilunar
a) Katup pulmonal pada arteri pulmonalis dan memisahkan
pembuluh ini dari ventrikel kanan
b) Katup aorta terletak antara ventrikel kiri dan aorta. Kedua
katup ini mempunyai bentuk yang sama terdiri dari 3 buah
daun katup yang simetris
2.4 Patofisiologi
Karena tekanan atrium kiri sedikit melebihi tekanan atrium kanan,
darah mengalir dari atrium kiri ke atrium kanan, sehingga menyebabkan
peningkatan aliran darah beroksigen ke sisi kanan jantung. Meskipun
perbedaan tekanan rendah, laju aliran yang tinggi masih dapat terjadi karena
resistensi pembuluh darah paru yang rendah dan distensibilitas atrium kanan
yang lebih besar, yang selanjutnya mengurangi resistensi aliran. Volume ini
dapat ditoleransi dengan baik oleh ventrikel kanan karena dialirkan di bawah
tekanan yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan defek septum ventrikel.
Meskipun terdapat pembesaran atrium dan ventrikel kanan, gagal jantung
tidak biasa terjadi pada ASD tanpa komplikasi. Perubahan pembuluh darah
paru biasanya baru terjadi setelah beberapa dekade jika kelainan tidak
diperbaiki.
7
2.5 Manifestasi Atrium Septal Defect (ASD)
Manifestasi klinis-Pasien mungkin tidak menunjukkan gejala.
Penutupan ASD secara spontan kemungkinan besar terjadi pada pasien yang
lebih muda dan pasien dengan cacat kecil (Vick & Bezold, 2017). Mereka
dapat mengalami gagal jantung (HF), terutama pada dekade ketiga atau
keempat kehidupan jika ASD tidak terdiagnosis, karena tekanan arteri
pulmonalis mulai meningkat. Terdapat murmur yang khas. Pasien berisiko
mengalami disritmia atrium (mungkin disebabkan oleh pembesaran atrium dan
peregangan serat konduksi) dan penyakit obstruksi pembuluh darah paru serta
pembentukan emboli di kemudian hari akibat aliran darah paru yang
meningkat secara kronis.
Manifestasi Klinis:
a. Gejala pada Anak-anak:
• Banyak anak dengan ASD kecil tidak menunjukkan gejala atau hanya
memiliki gejala ringan.
• Untuk defek yang lebih besar, gejala dapat mencakup:
a) penyakit jantung kongestif: Sesak napas, terutama saat beraktivitas.
b) Pertumbuhan yang lambat: Anak dengan ASD besar bisa memiliki
penurunan pertumbuhan.
c) Infeksi saluran pernapasan berulang: Infeksi pernapasan bisa lebih
sering terjadi pada anak-anak dengan ASD.
b. Gejala pada Dewasa:
• Fatigue atau kelelahan yang tidak biasa, terutama saat aktivitas fisik.
• Palpitasi (detak jantung yang cepat atau tidak teratur).
• Sesak napas (terutama pada aktivitas fisik atau posisi tidur tertentu).
• Edema (pembengkakan pada kaki dan pergelangan kaki).
• Stroke atau emboli: Pada beberapa pasien, ASD dapat menyebabkan
pembentukan bekuan darah yang bisa bergerak ke otak, menyebabkan
stroke.
c. Tanda Fisik:
8
• Pada pemeriksaan fisik, bisa ditemukan murmur jantung, terutama
murmur sistolik pada area pulmonal (di sisi kiri dada).
• SPLIT S2: Suara jantung kedua yang terpisah dengan jelas, yang lebih
terdengar pada ASD besar.
d. Ekokardiografi dan Elektrokardiogram (EKG):
• Ekokardiografi adalah alat diagnostik utama yang digunakan untuk
menilai ukuran defek dan efeknya terhadap fungsi jantung.
• Pada EKG, bisa ditemukan dekat pada aksis jantung kanan (right axis
deviation), hipertrofi atrium kanan atau hipertrofi ventrikel kanan,
terutama pada defek besar.
9
• Penyebab: Jika ASD besar menyebabkan volume darah yang lebih
besar kembali ke atrium kanan dan ventrikel kanan, maka ventrikel
kanan bisa mengalami hipertrofi dan akhirnya gagal jantung.
• Manifestasi: Sesak napas, pembengkakan kaki, kelelahan, dan
penurunan kapasitas fisik. Gagal jantung bisa terjadi akibat
peningkatan beban pada ventrikel kanan.
3. Atrial Arrhythmias (Aritmia Atrium)
• Penyebab: Penyebab utama aritmia pada ASD adalah peningkatan
volume darah di atrium kanan yang dapat menyebabkan distensi dan
disfungsi atrium, serta gangguan pada sistem konduksi listrik.
• Jenis Aritmia: Salah satu yang paling umum adalah fibrilasi atrium,
yang terjadi pada banyak pasien dengan ASD, terutama pada orang
dewasa yang tidak diobati.
• Risiko: Fibrilasi atrium dapat menyebabkan stroke atau emboli
sistemik jika bekuan darah terbentuk di atrium yang terdistensi.
4. Stroke dan Emboli Sistemik
• Penyebab: Pada pasien dengan ASD, terutama yang memiliki shunting
kanan-ke-kiri, ada risiko pembekuan darah terbentuk di atrium kanan
yang kemudian bisa berpindah ke atrium kiri dan kemudian masuk ke
sirkulasi sistemik. Hal ini dapat menyebabkan stroke atau emboli ke
organ lain.
• Risiko: Stroke iskemik lebih sering terjadi pada pasien dengan ASD
yang lebih besar dan memiliki riwayat fibrilasi atrium atau shunting
kanan-ke-kiri.
5. Endokarditis Infektif
• Penyebab: Meskipun risiko endokarditis infektif pada ASD lebih
rendah dibandingkan dengan kelainan jantung lainnya seperti valve,
namun jika ASD tidak ditangani dengan baik dan ada adanya aliran
darah yang abnormal, risiko infeksi pada jantung tetap ada.
• Patofisiologi: Infeksi pada endokardium dapat terjadi akibat aliran
darah yang turbulen atau adanya luka pada dinding atrium.
10
6. Gagal Jantung Kanan (Right Heart Failure)
• Penyebab: Akibat beban berlebih pada ventrikel kanan akibat volume
darah yang besar yang mengalir kembali ke atrium kanan, ventrikel
kanan bisa mengalami dilatasi dan akhirnya gagal jantung kanan.
• Gejala: Pembengkakan ekstremitas bawah, ascites (penumpukan cairan
di perut), dan penurunan toleransi aktivitas fisik.
7. Penurunan Fungsi Kognitif atau Kualitas Hidup
• Penyebab: Kondisi jantung yang tidak terkontrol, terutama jika disertai
dengan aritmia atau stroke, dapat memengaruhi suplai darah ke otak,
yang berpotensi menyebabkan gangguan kognitif.
• Manifestasi: Penurunan konsentrasi, masalah memori, dan kelelahan
yang tidak biasa.
11
• Penyebab: Primum ASD terjadi karena kegagalan pembentukan
sekat yang memisahkan atrium kiri dan kanan pada tahap
perkembangan embrionik.
• Fitur: Ini lebih jarang terjadi daripada jenis secundum dan sering
terkait dengan kelainan jantung lainnya seperti defek katup
atrioventrikular dan Down syndrome.
c) Sinus Venosus ASD
• Lokasi: Terletak pada bagian atas septum atrium, dekat dengan
tempat vena cava superior dan inferior memasuki atrium kanan.
• Penyebab: Biasanya terjadi akibat gangguan perkembangan venous
return yang normal pada tahap embrionik.
• Fitur: Merupakan jenis ASD yang lebih jarang, sering kali
berhubungan dengan malformasi pada aliran darah vena ke atrium.
d) Coronary Sinus ASD
• Lokasi: Terjadi di area sinus koronarius, yang merupakan
pembuluh vena yang mengalirkan darah dari jantung ke atrium
kanan.
• Penyebab: Jenis ini sangat jarang dan melibatkan malformasi
dalam pembentukan atau pengalihan aliran darah dari vena
koronarius ke atrium kanan.
• Fitur: Terkait dengan kelainan pada sirkulasi vena jantung.
12
Definisi: Diameter lubang antara 5 mm dan 10 mm. Pada ukuran
ini, biasanya sudah ada shunting darah yang lebih signifikan antara
atrium kiri dan kanan, yang bisa mempengaruhi fungsi jantung.
c) ASD Besar
Definisi: Diameter lubang lebih dari 10 mm. Pada ASD besar,
aliran darah yang tidak normal antara atrium kiri dan kanan dapat
menyebabkan hipertensi pulmonal, pembesaran jantung, dan
komplikasi lainnya seperti gagal jantung atau aritmia.
13
• Kondisi: Beberapa ASD kecil mungkin tidak terdeteksi sejak lahir
dan dapat berkembang dengan gejala seiring bertambahnya usia,
terutama saat dewasa. Komplikasi seperti aritmia atau hipertensi
pulmonal dapat berkembang lebih lambat.
b) ASD yang Terdiagnosis Dini
• Kondisi: Pada banyak anak-anak dengan ASD, terutama jenis
secundum, diagnosis dapat dilakukan sejak dini karena adanya
gejala atau pemeriksaan rutin. Penanganan lebih awal dapat
mencegah perkembangan komplikasi lebih lanjut.
1. Pemeriksaan Diagnostik
Dengan teknik medis terbaru, hal ini tidaklah sulit untuk
mendiagnosis penyakit jantung kongenital. alat diagnostik ASD meliputi:
a. Pemeriksaan fisik
b. auskultasi
c. pemeriksaan elektro kardiografi
d. pemeriksaan X-Foto Thorax AP
e. pemeriksaan echocardioraphy
2. Pemeriksaan Laboratorium
pemeriksaan laboratorium adalah untuk membantu dokter di dalam
memahami derajat keterlibatan beberapa komorbid. Pemeriksaan
laboratorium meliputi pemeriksaan darah lengkap, koagulasi dan
pemeriksaan metabolik dasar.
14
bawaan lainnya, seperti lubang kecil di jantung, dapat menutup seiring
bertambahnya usia anak. Setelah didiagnosis, penyakit jantung yang serius
harus diobati segera. Perawatan mungkin termasuk obat-obatan, prosedur, atau
operasi jantung. Gejala atau komplikasi dari penyakit jantung bawaan dapat
diobati dengan obat. Anak-anak mungkin disarankan untuk menjalani operasi
jantung jika mereka memiliki penyakit jantung bawaan yang parah. Operasi
jantung yang dilakukan untuk mengobati penyakit jantung bawaan termasuk:
1. Obat-obatan
Pemberian obat dimaksudkan untuk memperbaiki perubahan
hemodinamik, dan sebelum tindakan definitif diambil, dianggap sebagai
terapi sementara. Gagal jantung dapat diobati dengan obat-obatan berikut:
a. obat inotropik seperti digoksin atau obat inotropik lain seperti
dobutamin atau dopamin. Digoksin untuk neonatus misalnya, dipakai
dosis 30 µg/kg. Dosis pertama diberikan setengah dosis digitalisasi,
yang kedua diberikan 8 jam kemudian sebesar seperempat dosis
sedangkan dosis ketiga diberikan 8 jam berikutnya sebesar seperempat
dosis. Dosis rumat diberikan setelah 8-12 jam pemberian dosis terakhir
dengan dosis seperempat dari dosis digitalisasi. Obat inotropik
isoproterenol dengan dosis 0,05-1 µg/kg/menit diberikan bila terdapat
bradikardia, sedangkan bila terdapat takikardia diberikan dobutamin 5-
10 µg/ kg/menit atau dopamin bila laju jantung tidak begitu tinggi
dengan dosis 2-5 µg/kg/menit. Digoksin tidak boleh diberikan pada
pasien dengan perfusi sistemik yang buruk dan jika ada penurunan
fungsi ginjal, karena akan memperbesar kemungkinan intoksikasi
digitalis.
b. Vasodilator, yang biasa dipakai adalah kaptopril dengan dosis 0,1-0,5
mg/kg/hari terbagi 2-3 kali per oral.
c. Diuretik, yang sering digunakan adalah furosemid dengan dosis 1-2
mg/kg/ hari per oral atau intravena.
2. Kateterisasi Jantung
15
Dengan menggunakan kateter, tabung tipis dan fleksibel yang
digunakan untuk memperbaiki PJB, operasi jantung terbuka tidak
diperlukan. Kateterisasi jantung, misalnya, adalah prosedur yang
memasukkan satu atau lebih kateter ke dalam pembuluh darah untuk
memperbaiki lubang atau area yang menyempit di jantung. Dalam
prosedur ini, alat kecil dimasukkan ke dalam jantung untuk memperbaiki
penyakit. Selama beberapa tahun, beberapa prosedur kateter harus
dilakukan secara bertahap.
3. Operasi Jantung
Untuk memperbaiki penyakit jantung bawaan seorang anak, mungkin
diperlukan operasi jantung terbuka atau minimal invasif. Jenis operasi
jantung tergantung pada penyakit yang dimiliki pasien. Operasi jantung
dilakukan untuk mengatasi masalah jantung ketika pengobatan obat dan
terapi suppositori tidak dapat mengatasi lagi. Tindakan pembedahan
korektif dapat dilakukan dengan cepat pada penyakit jantung bawaan.
Tindakan pembedahan korektif ini biasanya dilakukan setelah rancang-
bangun oksigenator yang aman ditemukan, terutama untuk bayi.
Metode yang banyak dipakai adalah “henti sirkulasi” sehingga
lapangan operasi menjadi bersih dari genangan darah dan tidak terganggu
oleh kanula vena. Ada beberapa kelainan jantung bawaan yang
memerlukan pembedahan korektif pada usia neonatus misalnya anomali
total drainase vena pulmonalis dengan obstruksi, transposisi tanpa defek
septum ventrikel, trunkus arteriosus dengan gagal jantung. Sebagian lagi
pembedahan dapat ditunda sampai usia lebih besar atau memerlukan
operasi paliatif untuk menunggu saat yang tepat untuk koreksi.
2.10 Manajemen Kasus Bayi 3 Bulan dengan Atrium Septal Defect (ASD)
16
1. Identifikasi Pasien
• Status pernapasan: Pasien mengalami ronki, retraksi interkostal,
penggunaan cuping hidung, dan ventilasi IPPV sudah terpasang.
Penting untuk memantau saturasi oksigen secara berkala untuk
memastikan oksigenasi yang optimal.
• Hemodinamik: Tekanan darah rendah (60/30 mmHg), perfusi
jaringan dingin, CRT 4 detik, dan nadi 155x/menit
mengindikasikan syok. Pemantauan tekanan darah, nadi, dan CRT
dilakukan tiap jam.
• Kesadaran: Pasien somnolen dengan GCS 6, menunjukkan
gangguan neurologis akibat hipoksia. Evaluasi neurologis perlu
dilakukan setiap 4 jam.
• Output urin: Produksi urin ±3 cc/jam melalui kateter menunjukkan
fungsi ginjal masih adekuat, namun harus dimonitor untuk
mendeteksi awal gagal ginjal akut.
2. Manajemen dan Pemberian Terapi
• Distress pernapasan
Optimalkan ventilasi mekanis (IPPV) sesuai kebutuhan, pantau
parameter ventilator (PEEP, FiO2, tidal volume). Berikan oksigen
suplemental dengan target saturasi >94%. Pemberian Diuretik
(misalnya furosemid) diberikan untuk mengurangi kongesti paru
jika ada tanda-tanda overload cairan.
• Stabilisasi hemodinamik
Pemberian cairan resusitasi bolus NaCl 0,9% sebanyak 10 ml/kg
dalam 15-20 menit, diikuti evaluasi. Pemberian inotropik
(dobutamin/dopamin) Berikan untuk meningkatkan kontraktilitas
jantung dan mendukung perfusi sistemik.
• Nutrisi dan cairan
Lakukan pemasangan NGT untuk pemberian nutrisi enteral jika
bayi tidak dapat menyusu secara oral. Jika tidak memungkinkan,
17
pertimbangkan nutrisi parenteral total (TPN) dengan kolaborasi tim
nutrisi.
• Terapi spesifik ASD
Lakukan konsultasikan dengan tim kardiologi pediatrik untuk
evaluasi lebih lanjut melalui ekokardiografi. Diskusikan
kemungkinan intervensi jangka panjang (kateterisasi atau operasi
koreksi ASD).
• Manajemen infeksi:
Berikan antibiotik empiris jika ada tanda-tanda sepsis setelah kultur
darah diambil dan Pemantauan suhu untuk mencegah infeksi
nosokomial.
3. Edukasi Keluarga
Jelaskan kondisi ASD, dampaknya terhadap kesehatan bayi, dan
rencana penanganan medis. Edukasi keluarga untuk mengenali gejala
seperti sesak napas memburuk, lemas, atau penurunan kesadaran dan
hindari paparan debu atau asap yang dapat memperburuk kondisi bayi.
4. Kolaborasi Interdisipliner
• Tim kardiologi pediatrik: Untuk evaluasi dan rencana intervensi
ASD.
• Tim gizi: Untuk pengaturan nutrisi enteral atau parenteral.
• Intensivis pediatrik: Untuk pengelolaan pasien di ruang ICU.
5. Pencegahan Komplikasi
Pantau tanda-tanda syok lanjut (CRT >4 detik, oliguria, hipotensi
memburuk). Monitor fungsi organ (ginjal, hati, dan jantung) secara
berkala dan lakukan evaluasi berkala dengan ekokardiografi untuk
memantau progresi ASD.
2.11 Asuhan Keperawatan pada Anak dengan Atrium Septal Defect (ASD)
KASUS
18
By. K, bayi perempuan berusia 3 bulan, didiagnosis dengan Atrial
Septal Defect (ASD), mengalami keluhan utama sesak napas, tidak mau
menyusu, sulit tidur, dan gelisah. Pemeriksaan fisik menunjukkan adanya
gangguan pada sistem pernapasan berupa ronki, retraksi interkostal, dan
penggunaan cuping hidung saat bernapas, yang mengindikasikan distress
pernapasan. Selain itu, bayi dalam kondisi hemodinamik tidak stabil,
dengan tekanan darah rendah (60/30 mmHg), perfusi jaringan dingin, CRT
4 detik, serta nadi 155x/menit. Kesadaran bayi menurun (somnolen)
dengan GCS 6 dan ventilator IPPV terpasang, menandakan adanya
gangguan oksigenasi dan perfusi yang signifikan. Produksi urin melalui
kateter ±3 cc/jam menunjukkan fungsi ginjal yang masih adekuat, namun
perlu dimonitor mengingat kondisi kritis pasien. Riwayat kelahiran
spontan tanpa komplikasi dan ketiadaan faktor risiko genetik serupa tidak
menyingkirkan kemungkinan pengaruh lingkungan seperti paparan debu
yang sering memicu gangguan kesehatan pada orang tua.
Pemeriksaan Penunjang:
Analisa Data
19
1 DS : Ibu pasien mengatakan Ketidakseimbangan Gangguan pertukaran
nafas pasien cepat dan sesak ventilasi - perfusi gas
DO : pasien nampak
tachipnea, frekuensi napas
40 x/mnt, SaO2 50-60 % dan
makin turun, ronchi positif
(+), retraksi intercostal
positif (+), pernafasan
cuping hidung
Nadi : 155x/mnt
20
2. Penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan
kontraktilitas ditandai dengan anak tidak banyak aktifitas dan
lemas, takikardia, dispnea, Perubahan warna kulit, CRT > 3 detik,
gambaran EKG aritmia, TD : 60/30 mmHg, nadi : 155x/mnt.
4. Monitor saturasi
oksigen
Terapeutik :
Edukasi :
21
prosedur pemantauan
4. Monitor aritmia
Terapeutik :
94 %
Kolaborasi :
Kolaborasi pemberian
antiaritmia, jika perlu
22
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Di antara berbagai kelainan bawaan (congenital anomaly) yang
ada, penyakit jantung bawaan (PJB) merupakan kelainan yang sering
ditemukan. Adapun contoh penyakit jantung bawaan adaah Atrium Septal
Defect (ASD).
Atrium Septal Defect (ASD) adalah penyakit jantung bawaan
berupa lubang (defek) pada septum interatrial (sekat antar serambi) yang
terjadi karena kegagalan fungsi septum interatrial semasa janin. Atrial
Septal Defect (ASD) adalah suatu lubang pada dinding (septum) yang
memisahkan jantung bagian atas (atrium kiri dan atrium kanan).
Perawatan mungkin termasuk obat-obatan, prosedur, atau operasi
jantung. Gejala atau komplikasi dari penyakit jantung bawaan dapat
diobati dengan obat. Anak-anak mungkin disarankan untuk menjalani
operasi jantung jika mereka memiliki penyakit jantung bawaan yang parah
3.2 Saran
1. Bagi pembaca di sarankan untuk memahami hal-hal yang berkaitan
dengan jantung ASD Sehingga dapat di lakukan upaya-upaya yang
bermanfaat untuk menanganinya secara efektif dan efisien.
2. Mahasiswa kesehatan sebaiknya memahami dan mnegetahui konsep.
Atrium septum defek / ventrikel septum defek dan askep nya guna
unttuk mengaplikasikan dalam memberikan pelayanan kepada pasien
3. Perawat memiliki pengetahuan tentang ASD untuk dapat
mengantisipasi orang tua dalam menjalani pengobatan untuk sehingga
penyakit lebih berat dapat dihindari.
4. Pelayanan keperawatan dapat memberikan anjuran kepada orang tua
untuk melalukan terapi agar ASD dapat teratasi.
23
DAFTAR PUSTAKA
Abrahamyan, L., Dharma, C., Alnasser, S., Fang, J., Austin, PC, Lee, DS, ... &
Horlick, EM (2021). Hasil jangka panjang setelah penutupan defek septum
atrium melalui operasi transkateter berdasarkan usia dan dibandingkan
dengan kontrol populasi. Intervensi Kardiovaskular , 14 (5), 566-575.
Anas, Citra Apriani & Paembonan, Fitria Ariesanti. (2023). Tricuspid Annular
Plane Systolic Excursion (TAPSE) sebagai parameter ekokardiografi untuk
menilai fungsi ventrikel kanan pasien atrial septal defect RSUP
[Link] Sudirohusodo Makassar. Jurnal Teknik Kardiovaskular, 3 (1)
35-44.
Bradley, EA, & Zaidi, AN (2020). Cacat septum atrium. Klinik kardiologi , 38 (3),
317-324.
Gelb, B.D. (2004). "Molecular genetics of atrial septal defects and related
disorders." Current Opinion in Cardiology, 19(3), 216-220.
Hockenberry, M. J., & Wilson, D. (2018). Wong's Nursing Care of Infants and
Children-E-Book: Wong's Nursing Care of Infants and Children-E-Book.
Elsevier Health Sciences
Hoffman, J.I.E., & Kaplan, S. (2002). "The incidence of congenital heart disease."
Journal of the American College of Cardiology, 39(12), 1890-1900.
24
Hakim, An Nahl., dkk. (2024). Laporan Kasus: Atrial Septal Defect. Surabaya
Biomedical Journal, 4 (1) 54-59.
Hockenberry, M. J., David W., Cheryl, C.R. (2019). Wong’s Nursing Care of
Infants and Children. Elsevier Health Sciences
Lopez, L., Houyel, L., Colan, SD, Anderson, RH, Béland, MJ, Aiello, VD, ... &
Franklin, RC (2018). Klasifikasi defek septum ventrikel untuk iterasi
kesebelas Klasifikasi Penyakit Internasional—berusaha mencapai
konsensus: laporan dari Masyarakat Internasional untuk Tata Nama
Penyakit Jantung Anak dan Bawaan. The Annals of thoracic surgery , 106
(5), 1578-1589.
Madjawati, Ana. (2020). Hubungan Gejala Klinis Servical Syndrome dengan Foto
Polos Servikal Tiga Posisi. Mandala of Health : A Scientific Journal. 13
(1).
Nashat, H., Montanaro, C., Li, W., Kempny, A., Wort, SJ, Dimopoulos, K., ... &
Babu-Narayan, SV (2018). Defek septum atrium dan hipertensi arteri
pulmonalis. Jurnal penyakit toraks , 10 (Suppl 24), S2953.
25
Oster, M., Bhatt, AB, Zaragoza-Macias, E., Dendukuri, N., & Marelli, A. (2019).
Terapi intervensional versus terapi medis untuk defek septum atrium
secundum: tinjauan sistematis (bagian 2) untuk pedoman AHA/ACC 2018
untuk penanganan orang dewasa dengan penyakit jantung bawaan: laporan
dari American College of Cardiology/American Heart Association Task
Force on Clinical Practice Guidelines. Circulation , 139 (14), e814-e830.
Pollard, Brian J., dkk. (2011). Handbook of Clinical Anaesthesia third edition.
Manchester: CRC Press.
Sihono, Bagas & Fitriyani. (2023). Diagnosa dan Tatalaksana Cervical Root
Syndrome: Laporan Kasus. Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan. 10 (3).
Silvia, N., Widyahening, I.S., Soemarko, D.S. 2017. Efektivitas Latihan Leher dan
Bahu dalam Mengurangi Nyeri Leher dan Bahu pada Pekerja Kantor
dengan Komputer: Laporan Kasus Berbasis Bukti 7.
26