0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan25 halaman

Sampling dan Analisis Ukuran Butir

Modul ini membahas tentang teknik sampling dan analisis ukuran butir dalam pengolahan bahan galian, termasuk metode pengambilan contoh dan analisis distribusi ukuran material. Mahasiswa diharapkan mampu menghitung kadar dan penyebaran ukuran material serta memahami kesetimbangan massa dalam proses pengolahan. Selain itu, modul ini juga menjelaskan alat dan metode yang digunakan untuk analisis ukuran butir serta faktor-faktor yang mempengaruhi efisiensi pengukuran.

Diunggah oleh

Roberto Nahak
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan25 halaman

Sampling dan Analisis Ukuran Butir

Modul ini membahas tentang teknik sampling dan analisis ukuran butir dalam pengolahan bahan galian, termasuk metode pengambilan contoh dan analisis distribusi ukuran material. Mahasiswa diharapkan mampu menghitung kadar dan penyebaran ukuran material serta memahami kesetimbangan massa dalam proses pengolahan. Selain itu, modul ini juga menjelaskan alat dan metode yang digunakan untuk analisis ukuran butir serta faktor-faktor yang mempengaruhi efisiensi pengukuran.

Diunggah oleh

Roberto Nahak
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

MODUL II

SAMPLING DAN ANALISA UKURAN BUTIR

1. PENDAHULUAN
Deskripsi
Matakuliah ini merupakan Mata kuliah Dasar Keahlian yang membahas hal pokok Pengolahan
Bahan Galian yang membahas tentang metode dan peralatan dalam mengambil contoh
(sampling) dari suatu aliran material untuk mengetahui distribusi kadar dan distribusi ukuran
rata-rata dari feed, konsentrat, serta tailing.
Relevansi
Setelah selesai mata kuliah ini mahasiswa mampu menghitung kadar dan penyebaran ukuran
material pada suatu proses pengolahan bahan galian.
Kompetensi Khusus
Mahasiswa dapat mengidentifikasi permasalahan dalam pengambilan dan menyelesaikan
problematika dalam sampling dan pengukuran butiran.

2. PENYAJIAN
SUBSTANSI
Sampling
Sampling (pengambilan conto) merupakan tahap awal dari suatu analisis. Pengambilan
conto harus efektif, cukup seperlunya tapi representatif (mewakili). Sampling harus dilakukan
dalam tahapan yang benar sehingga hasil sampling yang didapat mampu mewakili material yang
begitu banyak dan dapat dipakai sebagai patokan untuk mengontrol apakah proses pengolahan
tersebut berjalan dengan baik atau tidak. Untuk hasil lebih baik dilakukan analisa
[Link] adalah jumlah satuan mineral yang dikumpulkan dari populasi sebagai
bagian dari contoh yang diperoleh dengan sekali pengambilan contoh.
Dari mekanismenya, pengambilan contoh dapat dibagi dua, yaitu :
1. Hand sampling ; Pengambilan contoh dilakukan dengan tangan, sehingga hasilnya sangat
tergantung pada ketelitian operator
a. Grab sampling

Modul II : Sampling dan Analisa Ukuran Butir 1


Pengambilan sampel pada material yang homogen dan dilakukan dengan interval tertentu
dengan menggunakan sekop. Contoh yang diperoleh biasanya kurang representatif.
b. Shovel sampling
Pengambilan sampel dengan menggunakan shovel, keuntungan cara ini lebih murah,
waktu pengambilan cepat dan memerlukan tempat yang tidak begitu luas. Material conto
yang diambil berukuran kurang dari 2 inchi.
c. Stream sampling
Alat yang digunakan Hand sampling cutter. Conto yang diambil berupa pulp (basah) dan
pengambilan searah dengan aliran (stream).
d. Pipe sampling
Alat yang digunakan pipa/tabung dengan diameter 0.5, 1.0, dan 1.5 inchi. Salah satu
ujung pipa runcing untuk dimasukkan ke material. Terdiri dari dua pipa (besar dan kecil)
sehingga terdapat rongga diantaranya untuk tempat conto. Digunakan pada material padat
yang halus dan tidak terlalu keras.
e. Coning and quatering
Langkah-langkah yang dilakukan :
− Material dicampur sehingga homogen
− Diambil secukupnya dan dibuat bentuk kerucut
− Ujung kerucut ditekan sehingga membentuk kerucut terpotong dan dibagi empat
bagian sama besar
− Dua bagian yang berseberangan diambil untuk dijadikan conto yang dianalisis
2. Mechanical sampling
Digunakan untuk pengambilan conto dalam jumlah yang besar dengan hasil yang lebih
representatif dibandingkan hand sampling.

Sampling untuk menentukan kadar air


Biasanya digunakan metode grab sampling, material diambil pada bagian ujung akhir belt
vonveyor. Material segera dimasukkan dalam kantong plastic dan di tutup rapat. Setelah di
laboratorium sampel ditimbang dan dikeringkan dan kemudian ditimbang kembali.

Modul II : Sampling dan Analisa Ukuran Butir 2


Gambar [Link] sampler pada umumnya
Sampling untuk menentukan kadar rata-rata
Sampling akan sangat tergantung pada probabilitas dan frekuensi incremental sampel.
Metode sampling dijelaskan oleh Gy (1979) dan Smith (2001) diterapkan untuk menentukan
ukuran sampel yang diperlukan untuk meningkatkan keakuratan. Metode ini mempertimbangkan
ukuran partikel, kandungan dan derajat liberasi mineral serta bentuk ukuran partikel. Rumus
dasar Gy ditulis sebagai berikut :

Dimana :
M = berat minimum sampel yang diperlukan (g)
L = berat gross material yang akan diambil (g)
C = konstanta sampling untuk material yang akan disampling (g cm-3)
d = dimensi terbesar yang akan disampling (cm)
s = ukuran kesalahan statistic.
Pada kevanyakan selisih anatara m dengan L sangat kecil, sehingga rumus dapat disederhanakan:

.
Nilai s digunakan untuk mengukur tingkat konfidensi dan prosedur sampling. Standard deviasi
dari suatu distribusi normal adalah s2 (Gy, 1979). Secara total nilai variansi adalah :

Modul II : Sampling dan Analisa Ukuran Butir 3


Konstanta C tergantung material yang akan disampling, kandungan metal, dan derajat liberasi.
Dirumuskan :

Dimana : f = factor bentuk partikel, 0.5, kecuali emas = 0.2


g = factor size range, bila 95% beratmengandung partikel < d dan 95% > d maka :

l = factor liberasi, dapat dilihat pada table berikut :

m = merupakan factor komposisi mineral dengan rumus

Dimana r dan t merupakan rata-rata dari densitas mineral berharga dan gangue mineral, a
merupakan rata-rata kandungan metal dari fraksi material

Alat yang dipergunakan, antara lain :


a. Riffle sampler
Alat ini bentuknya persegi panjang dan didalamnya terbagi beberapa sekat yang arahnya
berlawanan. Riffle-riffle ini berfungsi sebagai pembagi conto agar dapat terbagi sama
rata.
b. Vezin sampler
Pada bagian dalam dilengkapi dengan revolving cutter, yaitu pemotong yang dapat
berputar pada porosnya sehingga akan membentuk area yang bundar sehingga dapat
memotong seluruh aliran material.

Modul II : Sampling dan Analisa Ukuran Butir 4


A. Riffle Sampler

B. Vezin Sampler

.
B. Gamma ray untuk sampling Abu Batubara
Gambar II.2. Peralatan Sampling
Langkah selanjutnya setelah sampling adalah analisa yang meliputi penimbangan, pengukuran
butiran, mikroskopis dan analisis kimiawi jika diperlukan.

Modul II : Sampling dan Analisa Ukuran Butir 5


Metode Mass Balancing (Kesetimbangan Massa)
Disamping untuk menilai performance pabrik dan mengontrol operasionalnya maka diperlukan
suatu evaluasi dengan cara menghitung semua produk material dalam satuan berat. Mass
Balancing khususnya sangat penting untuk menghitung mineral berharganya atau penyebaran
logam berharganya. Sebagai bentuk awal diperkenalkan penggunaan mass balance untuk rumus
2 produk. Bila berat feed, konsentrat dan tailing disimbolkan dengan F, C, T , maka hubungan
ketiganya dengan kadar ditulis dengan f, c, t, kemudian menjadi :
F = C + T ; dimana material masuk = material keluar
Ff = Cc Tt : dimana logam mineral berharga ( mineral) seimbang, sehingga :
Ff = Cc + (F-C)t ; sehingga memberikan bentuk : F/C = (c-t) / (f-t), dimana :
F/C menunjukkan ratio of concentration

Recovery pabrik pengolahan : (Cc/Ff) x 100% atau recovery = 100c(f-t)/f(c-t)%


Akhirnya nilai dari recovery , ratio konsentrasi dan enrichment ratio (c/f) dapat ditentukan dari
hanya perhitungan menggunakan nilai kadar saja. Formula dengan dua produk sering digunakan
untuk memberikan informasi dalam rangka pengontrolan performance pabrik. Dengan cara
hanya menghitung nilai c, f, t saja secara kontinyu dan selalu dapat di update ke dalam computer.

Perhitungan metalurgi
Kebanyakan peralatan pengolahan konsentras menggunakan kesetimbangan metalurgi pada
setiap shift kerja yang kemudian dikumulatifkan ke periode yang lebih panjang (harian, bulanan,
semesteran) dan untuk menilai performance secara keseluruhan. Meskupun tonase konsentrat
dapat ditimbang langsung saat pemuatan ke lori , atau kendaraan angkut lainnya.
Contoh :
Pabrik pengolahan dengan kapasitas 210 ton. Kadar rata-rata metal 2.5%, menghasilkan 40%
konsentrat metal dan 0.2% kadar metal tailing. Maka

Maka C = 12.1 ton. Berat Tailing 210.0 – 12.1 = 197.9 ton.


Metallurgical balance pada shift 1 tersebut di atas ditabulasikan sebagai berikut :

Modul II : Sampling dan Analisa Ukuran Butir 6


Tabel II.1. Perhitungan MB 1

Distribusi metal dalam konsentrat (recovery) : 4.84 x 100/5.25 = 92.2% nilai ini akan sesuai bila
menggunakan rumus : 100c(f-t)/f(c-t)%.
Bila shif berikutnya mengolah tonase 305 ton dengan kadar feed rata-rata 2.1%, konsentrat 35%,
tailing 0.15%. maka metallurgical balance pada shift 2 ini dtabulasikan sebagai berikut :
Tabel II.2. Perhitungan MB 2

Gabungan dari kedua shif dapat dihitung berdasarkan penjumlahan semua berat material dan
perhitungan dan distribusi kadar ditabulasikan sebagai berikut :
Tabel II.3. Perhitungan MB 3

Hasil tabulasi tersebut nantinya dikumulatifkan setiap minggu, bulan, atau secara periodic.
Pengecekan perhitungan dengan menghitung berat konsentrat tailing mestinya “fit” terhadap
nilai kadar yang dihasilkan dan hal ini akan menunjukkan “perfect balance’ bila persamaan ini
terpenuhi : Ff –Cc-Tt = 0
Bila berdasarkan contoh sebelumnya, konsentrat yang dihasilkan 28.8 ton, kemudian dihitung
kadarnya, maka hasil perhitunga kesetimbangan ditunjukkan dalam tabulasi berikut :

Modul II : Sampling dan Analisa Ukuran Butir 7


Tabel II.4. Tabel MB Gabungan

Tampak bahwa actual recovery 91.6% sehingga ada uncounted loss 11.3%. Hal ini dapat
dimaklumi adanya kehilangan namun harus sekecil mungkin.

Perhitungan Faktor Dilusi dalam Material Balance


Air sangat memegang peranan penting dalam suatu mineral processing. Bukan hanya sebgai
media transport material dalam suatu sirkuit tapi juga sebagai media pemisahan mineral. Setiap
unit alat process tentunya memerlukan kebutuhan yang berbeda-beda. Pada ballmill jarang
beroperasi dengan kondisi dibawah 65%berat solid, namun pada discharge memerlukan dilution
sebelum diumpankan ke hydrocyclone. Flotasi beroperasi dengan 25 – 40% solid padatan, pada
beberapa peralatan gravity concentration dengan kondisi 57 – 70% solid.
Suatu industry pabrik pengolahan yang mengolah 10.000 ton/hari bijih memerlukan air sekitar
20m3/menit, akan memerlukan biaya tinggi jika tidak dilakukan siklus air. Bila suatu slurry
harus mengalami proses pengurangan air (dewatered) sebelum diumpankan, namun kemudian
harus ditambahkan air lagi pada saat akan masuk ke proses berikutnya karena supaya optimum
diperlukan air sesuai persyaratan tertentu dalm bentuk slurry. Sehingga pada rumus “two
product” digunakan untuk menghitung “water balance”.
Suatu hydrocyclone beroperas dengan umpan slurry yang mengandung f% berat solid dan
menghasilkan 2 produk yaitu underflow yang mengandung u% solid dan overflow yang
mengandung v% solid. Bila berat padatan feed, underflow dan overflow sebesar F, U dan V
maka kondisi setimbang hydrocylone adalah : F = U + V
Dilution ratio dari feed slurry = (100 – f) / f = f’
Dilution ratio dari underflow = (100 – u) / u = u’
Dilution ratio dari underflow = (100 – v) / v = v’

Modul II : Sampling dan Analisa Ukuran Butir 8


Berat air yang masuk ke dalam cyclone harus seimbang dengan jumlah air yang keluar dalam
dua produk dengan rumus waterbalance : Ff’ = Uu’ + Vv’.
Bila dikombinasikan dengan F = U + V maka akan menjadi : U/F = (f’- v’) / (u’- v’)

ANALISA UKURAN BUTIR


Ukuran dan bentuk
Analisa butiran menyajikan secara kuantitatif mengenai ukuran distribusi ukuran dalam suatu
material. Namun secara pasti dan tepat sutu partikel yang irregular tidak bisa diukur. Beberapa
istilah untuk mendefinisikan bentuk-bentuk butir.
Tabel II.5. Bentuk-bentuk Butir

Ada beberapa cara dan alat untukmenanalisa ukuran butir. Test ayakan adalah yang paling umum
digunakan. Bahkan uji test ayakan dapat sampai ukuran 75 μm, meskipun masih bisa dengan
teknologi subsieving masih biya menganalisa sampai 5 μm. Beberapa tahun terakhir telah
digunakan difraksi laser. Berikut ini beberapa metode untuk analisa ukuran butir.

Modul II : Sampling dan Analisa Ukuran Butir 9


Tabel II.6. Metode Test Ukuran Butir

Test Ukuran Butir dengan Metode Ayakan


Test ini didasarkan pada ukuran lubang bukaan pada ayakan. Ukuran ayakan ini ditetapkan
dengan standar German DIN 4188, Standar ASTM E11, American Tyler and French series,
AFNOR, dan Standar British, BS 1796. Berikut ukuran standar British.
Tabel II.7. Standar Ukuran Versi British

Modul II : Sampling dan Analisa Ukuran Butir 10


Woven wire (ayakan kawat anyam) paling awal dideain dengan ukuran mesh, yaitu ukuran
dengan dasar banyaknya jumlah kawat per inch, yang menunjukkan jumlah lubang per luas inch.
Namun sekarang ayakan telah didesain sesuai dengan ukuran lubang bukaan, sehingga
memudahkan dalam penggunaannya.

Gambar II.3. Tipe Lubang Ayakan jenis Anyaman (woven)

Tujuan analisis ini adalah untuk mengetahui :


1. Jumlah produksi suatu alat
2. Distribusi partikel pada ukuran tertentu
3. Ratio of concentration
4. Recovery suatu mineral pada setiap fraksi

Standar ukuran ukuran butiran (screen)


Ukuran yang digunakan bisa dinyatakan dengan mesh maupun mm (metrik). Yang dimaksud
mesh adalah jumlah lubang yang terdapat dalam satu inchi persegi (square inch), sementara jika
dinyatakan dalam mm maka angka yang ditunjukkan merupakan besar material yang diukuran
butir. Perbandingan antara luas lubang bukaan dengan luas permukaan screen disebut prosentase
opening. Pelolosan material dalam ukuran butiran dipengaruhi oleh beberapa hal, yaitu :
1. Ukuran material yang sesuai dengan lubang ukuran butiran
2. Ukuran rata-rata material yang menembus lubang ukuran butiran
3. Sudut yang dibentuk oleh gaya pukulan partikel
4. Komposisi air dalam material yang akan diukuran butir

Modul II : Sampling dan Analisa Ukuran Butir 11


5. Letak perlapisan material pada permukaan sebelum diukuran butir
Kapasitas screen secara umum tergantung pada :
1. Luas penampang screen
2. Ukuran bukaan
3. Sifat dari umpan seperti ; berat jenis, kandungan air, temperatur
4. Tipe mechanical screen yang digunakan
Efisiensi screen dalam mechanical engineering didefinisikan sebagai perbandingan dari energi
keluaran dengan eneri masukan. Dengan demikian dalam screening bukannya efisiensi
melainkan ukuran keefektifan dari operasi.
Faktor-faktor yang mempengaruhi effisiensi screen :
1. Lamanya umpan berada dalam screen
2. Jumlah lubang yang terbuka
3. Kecepatan umpan
4. Tebalnya lapisan umpan
5. Cocoknya lubang ukuran butiran dengan bentuk dan ukuran rata-rata material yang diolah.
Dari hasil pengukuran butiran dilakukan analisa mikroskop sehingga didapatkan hasil bahwa
pada ukuran butir yang paling kecil derajat liberasinya makin besar. Dengan demikian berarti
makin kecil ukuran butir makin sempurna material terliberasi atau terbebaskan dari ikatan
gangue mineral. Selain itu dari hasil pengukuran butiran yang dilakukan dengan dua ukuran
butiran akan dapat dibandingkan satu sama lainnya sehingga dapat diketahui efisiensi
pengukuran butiran yang paling baik.
Derajat liberasi adalah perbandingan antara jumlah berat mineral bebas dan berat mineral yang
sama seluruhnya (bebas dan terikat).
Efisiensi yaitu perbandingan antara undersize yang lolos dengan undersize yang seharusnya
lolos.

Metode Pelaksanan Test Ayakan


Peralatan yang diperlukan dalam analisis ukuran butir antara lain ukuran butiran, timbangan,
mikroskop dan alat sampling. Untuk melakukan analisis lebih baik digunakan dua ukuran butiran
dengan salah satunya dipakai sebagai pembanding.

Modul II : Sampling dan Analisa Ukuran Butir 12


Gambar II.4. Ayakan skala Laboratorium

(Vibrating Sieve Shaker)

Tipe Ayakan Duduk. Ayakan disusun mulai dari ukuran lubang terbesar di bagian atas
dan paling kecil di bagian dasar. Diameter ayakan 200 mm. Bahan rangka dari bronze.

Modul II : Sampling dan Analisa Ukuran Butir 13


Hasil ayakan ini di plotkan pada grafik

Gambar II.5. Jumlah partikel secara kumulati berat


Metode Microscopic
Digunakan sebagai metode yang absolute, karena satu-satunya metode pengukuran yang bersifat
individual untuk tiap-tiap butir (Anon 1993, Allen 1997).

Gambar II.6. Hasil foto miksoskopik dengan Teknnologi JKMRC

Modul II : Sampling dan Analisa Ukuran Butir 14


Proyeksi gambar dari partikel adalah dua dimensi sehingga akan diinterpretasikan.

Metode Laser
Instrumen ini dipakai oleh Fraunhofer untuk analisa butir yang bervariasi dari 1 – 2000 mikron

Gambar II.7. Metode Laser


Metode On line particle analysis
Metode ini biasanya untuk mengukur partikel dari slurry. Alat ini dibuat oleh Armco
Autometrics by Thermo Gamma metric. Gambar berikut adalah tipe PSM-400 MPX yang dapat
menghandel slurries sampai 60% solid dengan hasil output lima fraksi simultan

Gambar II.7. PSM-400 MPX untuk metode Online particle

Modul II : Sampling dan Analisa Ukuran Butir 15


Metso mengembangkan system online dengan memproses gambar ukuran butir yang bergerak
pada belt conveyor maupun produk dari crusher. Kelemahan alat ini adalah tidak dapat
mendeteksi partikel yang berada di bagian bawah partikel yang menutupinya. Selanjutnya
CSIRO mengembangkan pula dengan menerapkan system ultrasonic.

Gambar II.8. Metode dengan memproses gambar secara digitasi

LATIHAN
1. Proses flotasi mengerjakan feed dengan rata-rata kadar 0.8% tembaga. Produk konsentrat
memiliki kadar rata-rata 25% Cu dan tailing 0.15% Cu. Hitung recovery copper dalam
konsentrat, ratio konsentrasi dan enrichment ratio.
Jawab :
- Recovery concentration

- ratio of concentration

- enrichment ratio

Modul II : Sampling dan Analisa Ukuran Butir 16


2. Suatu smelter setiap bulan menerima konsentrat dari mill 3120 ton kadar 41.5%.
Pengawasan produk konsentrat tiap akhir tahap kegiatan dianalisa setiap awal dan akhir
bulan dutampilkan pada table berikut :

Produksi konsentrat setiap bulan dihitung sebagai berikut :

Tampak ada kenaikan jumlah material awal dari 3102 menjadi 3156, namun hal ini
menyebabkan pendapatan metal menurun dari 41.5% menjadi 40.7%. Meskipun kandungan
metal untuk pengamatan/pengontrolan secara sampling berulang-ulang pada stockpile ataupun
truk, namun akan lebih akurat dengan meninbang kadar konsentrat pada setiap shift daripada
cara di atas.
3. Dari kumulatif shift balance total feed bulanan pada pabrik flotasi adalah 28,760 ton kering
dengan kadar 1.1% copper. Kadar konsentrat dan tailing 24.9% dan 0.12% Cu. Berat
konsentrat yang diterima smelter selama 1 bulan 1090.7 ton, kadar 24.7% Cu. Pada awal
bulan, 257 ton konsentrat dikirim ke smelter dan 210 ton pada akhir bulan. Buat tabulasi

Modul II : Sampling dan Analisa Ukuran Butir 17


keseimbangan produksi, hitung unaccounted losses dari copper dan bandingkan recovery
actual dan teoritis
Jawab :
Perubahan jumlah yang diterima smelter : = 210 -257 = -47 ton. Sehingga produksi
konsentrat menjadi : 1090.7 – 47 – 1043.7 ton
Metallurgical balance :

Actual recovery : 82.1% dan teoritical recovery adalah : 82.1% + 7.3% = 89.4%. tampak ada
penyimpangan yang sangat besar, hal ini menunjukkan adanya ketidaktepatan saat sampling,
penghitungan kadar, dan penimbangan dari flowstream.

4. Suatu sirkuit pengolahan sebagai berikut :

Umpan masuk ke rodmill 20 ton/hari dalam kondisi kering. Densitas 2900 kg/m3. Umpan ke
cyclone 35% berat solid . Hasil analisis ukuran :
Rod mill discharge 26.9% ukuran +250 μm
Ball mill discharge 4.9% ukuran + 250 μm
Feed cyclone 13.8% ukuran +250 μm
Hitung aliran volumetric feed ke cyclone

Modul II : Sampling dan Analisa Ukuran Butir 18


Jawab :
Material balance pada cyclone : F = 20 + B, dimana F adalah feed cyclone dan B adalah
discharge ball mill. Sehinggu a F = 20 + (F – 20)
13.8F = (26.9 x 20) + ( F – 20) x 4.9…… (dimana F = 49.4 t/jam)
Volumetric aliran padat : 49.4 x 1000/2900 = 17.0 m3/jam
Volumetric aliran air : 49.4 x 65/35 = 91.7 m3/jam
Sehingga aliran umpan ke cyclone : 17.0 + 91.7 = 108.7 m3/jam

5. Kecepatan umpan ke cyclone 20t/jam solid kering. Umpan mengandung 30%padatan,


underflow 50% padatan dan overflow 15% padatan. Hitung tonase padatan pada underflow.
Jawaban :
Dilution ratio pada feed slurry = 70/30 = 2.33
Dilution ratio pada underflow = 50/50 = 1.00
Dilution ratio pada overflow = 85/15 = 5.67
Material balance pada cyclone = 20 = U + V
20 x 2.33 = 1.00 U + 5.67 V
46.6 = U + 5.67(20 – U)
U = 14.3 ton/jam

6. Dalam suatu analisis secara grain counting didapatkan data sebagai berikut :
Ukuran Berat Jumlah Butir Mineral A Jumlah Butir Mineral B
(mesh) (gram) Bebas Terikat Bebas Terikat
+ 28 20 4 6.5 6 2.5
+35 50 10 12.25 8 6.75
-35 30 12 2 10 2

Hitung derajat liberasi bijih maupun kadar bijih bila BJ mineral A = 7 dan BJ mineral B = 2,5
Jawab :
Derajat Liberasi fraksi (+28#) mineral A = 4x7 x100%/(10,5x7) = 38,09
Kadar mineral A pada fraksi (+28#) = 10,5x7 x100%/((10,5x7)+(8,25x2,5)) = 77,57
Dengan cara yang sama dapat dihitung kadar (KD) maupun Derajat Liberasi (DL) tiap fraksi.

Modul II : Sampling dan Analisa Ukuran Butir 19


Ukuran Berat DL Fraksi Kadar Fraksi DLxBerat KD x Berat
+28 20 39,09 77,57 781,8 1551,45
+35 50 44,94 80,87 2247,19 4042,83
-35 30 85,71 75,82 2571,43 2274,66
Jumlah 100 5600,42 7869,94

Derajat Liberasi bijih = jumlah kolom 5 : jumlah kolom 2 = 5600,42 : 100 = 56%
Kadar Bijih = jumlah kolom 6 : jumlah kolom 2 = 7869,94 : 100 = 78,699 %
Dalam mencari kadar bijih jangan sampai kadar tiap fraksi dijumlahkan dan hasilnya dibagi tiga.
Hal ini salah karena berat tiap fraksi tidak sama.
7. Suatu bijih timbal (lead) kadar rata-rata 5%Pb, disampling secara rutin dengan tingkat
kepercayaan 0.1%Pb,95 kali. Pb terliberasi sempurna dari kuarsa pada ukuran 150μm. Bila
sampling dilakukan selama kegiatan crushing dengan ukuran paling besar 25 mm sehingga :

Dengan s = 0.01 maka

Asumsikan bahwa secara stikiometri PbS bahwa bijih terdiri dari 58% PbS dimana
a = 0.058, r = 7.5, t = 2.65, m = 117.8 gcm-3

Dalam pelaksanaan, diperlukan kira-kira 350 kg bijih harus disampling untuk


mendapatkan konfidensi yang dipersyaratkan. Dengan derajat linerasi d = 0.015 cm
maka

Dimana M = 1 g

Modul II : Sampling dan Analisa Ukuran Butir 20


8. Bila sample di crused dengan 3 tahap sehingga menjadi 5mm,1 mm sampai 40 μm maka :

9. Suatu aliran slurry mengandung kuarsa dimasukkan ke dalam jerigen dengan kapasitas 1
liter. Kecepatan sampai jerigen penuh adalah 7 detik. Densitas dari pulp/slurry
1400kg/m3. Hitung % berat solid dan jumlah massa kuarsa yang mengalir bersama
slurry.
Jawab:
Densitas kuarsa adalah 2650 kg/m3.
100 𝑋 2650 𝑥 (1400−1000)
% berat solid : x = = 45.9%
1400 𝑥 (2650−1000)
1 𝑙𝑖𝑡𝑒𝑟 3600 m3
Volume aliran : F = 7 𝑑𝑒𝑡𝑖𝑘 = = 7000 = 0.51m3/h
h
0.51 𝑥 1400 𝑥 45.9
M== = 330.5 kg/h
100

10. Suatu pompa mengumpankan 2 slurry stream. Satu stream memiliki kecepatan alir
5m3/jam , mengandung 40% solid berat. Stream lainnya 3.4 m3/jam mengandung 55%
solid . Hitung tonase berat kering padatan yang dipompa tiap jamnya.

Modul II : Sampling dan Analisa Ukuran Butir 21


Jawab :
Slurry stream pertama memiliki kecepatan alir 5m3/jam dengan kandungan padatan 40%
solid. Maka pupl density =

Atau

Maka padatan yang dialirkan pada slury 1

Slurry stream kedua memiliki kecepatan 3.4 m3/jam dengan kandungan solid 55%. Pulp
density = 1579 kg/m3. Solid yang dialirkan 1.82 t/jam.
Jadi tonase kering padatan yang dipompakan : 1.82 + 2.73 = 4.55 t/jam
Catatan :
Pada kasus-kasus tertentu diperlukan model matematika dari % solid terhadap volume

Perbandingan berat air terhadap berat air dalam slurry disebut dilution ratio

11. Suatu pabrik flotasi mengolah 500 ton padatan per jam. Dalam feed pulp mengandung
40% berat solid. Waktu kondisioning 5 menit dan dicampur reagent sebelum dipompakan
ke sel flotasi. Hitung volume bak tanki kondisioning yang diperlukan (densitas padatan
adalah 2700 kg/m3).
Jawab :
Volume padatan dalam slurry yang mengalir : = kecepatan aliran massa / densitas
= 500 x 1000/2700 = 185.2 m3/jam
Kecepatan Aliran masa air dalam slurry : = kecepatan aliran padatan x ratio dilusi
= 500 x (100-40) / 40 = 750 ton/jam

Modul II : Sampling dan Analisa Ukuran Butir 22


Sehingga volume air yang mengalir : 750 m3/jam
Kecepatan aliran volume slurry : 750 + 182.2 = 935.2 m3/jam
Dikarenakan ada waktu kondisioning 5 menit maka tangki kondisioning harus memiliki
volume sebesar : 935.2 x 5/60 = 77.9 m3.

12. Hitung%solid yang dipompakan dari sump pada soal di atas?.


Jawab.
Kecepatan pada slurry 1 2.73 t/jam. Slurry mengandung 40% solid, maka kecepatan air
2.73x60/40 = 4.10 t/jam
Dengan cara yang sama , maka pada slurry 2
= 1.82 x 45/55 = 1.49 t/jam
Total berat slury yang dipompa = 2.73 + 4.10 + 1.82 + 1.49 = 10,14 t/jam
Maka %solid terhadap berat = 4.55 x 100/10.14 = 44.9%

Rangkuman
1. Metode Hand Sampling : Grab sampling, Shovel sampling, Strip sampling, Pipe
sampling, Cone and quartering.
2. Metode Mechanical sampling : Riffle sampling, Vezin sampling, online analisis, on
stream ash analisis
3. Metode pengukuran ukuran butir :sieve analisis, sub sieve analisis, laser diffraction,
optical miksroskop, electron mikroskop, elutriation, sedimentation.
4. Derajat liberasi adalah perbandingan antara jumlah berat mineral bebas dan berat mineral
yang sama seluruhnya (bebas dan terikat).
5. slurry yang mengandung f% berat solid dan menghasilkan 2 produk yaitu underflow yang
mengandung u% solid dan overflow yang mengandung v% solid. Bila berat padatan feed,
underflow dan overflow sebesar F, U dan V maka kondisi setimbang hydrocylone adalah
:F=U+V
Dilution ratio dari feed slurry = (100 – f) / f = f’
Dilution ratio dari underflow = (100 – u) / u = u’
Dilution ratio dari underflow = (100 – v) / v = v’

Modul II : Sampling dan Analisa Ukuran Butir 23


Berat air yang masuk ke dalam cyclone harus seimbang dengan jumlah air yang keluar
dalam dua produk dengan rumus waterbalance : Ff’ = Uu’ + Vv’.
Bila dikombinasikan dengan F = U + V maka akan menjadi : U/F = (f’- v’) / (u’- v’)

3. PENUTUP
Tes Formatif
1. Dolomit yang akan digunakan dalam blast furnace dengan laju pengumpanan 200ton/jam
dengan menggunakan belt conveyor dengan kecepatan 61 m/menit. Dari hasil analisis
menunjukkan 95% lebih kecil dari 7 cm. Alat pengambil sampel yang bergerak
berlawanan arah dgn kecepatan 60 cm/detik dapat mengambil 20 kali tiap jam.
Perkirakan jumlah sampel yang dapat dikumpulkan selama 10 menit.
2. Butir-butir nugget emas diamati di bawah mikroskop dengan data frekuensi distribusi
sebagai berikut :

Dengan asumsi bentuk butir nugget hamper seragam. Tentukan distribusi ukuran pada
fraksi ukuran berat. Data density nugget emas = 17580 kg/m3.
3. Bijih dari ROM dibawa dengan belt conveyor dan disampling secara regular. Hasil
analisa ayak dan distribusi Fe dengan data sebagai berikut :

Specidfic gravity bijih 5.5 dan gangue mineral 2.55. tentukan jumlah minimal sampel
yang diperlukan agar dapat mewakili bijih ROM.

Umpan Balik
Dari jawaban yang ada di latihan dan tes formatif menunjukkan, bahwa dalam memahami
Modul 1 sudah baik, karena dari hasil jawaban semua soal sudah benar, dan kesulitan yang

Modul II : Sampling dan Analisa Ukuran Butir 24


disampaikan hanya fasilitas yang kurang , tapi masih bisa ditolerir, sehingga bisa dilanjutkan
Modul berikutnya.

Tindak Lanjut
Untuk mahasiswa yang sudah bisa menjawah dengan baik semua latihan dan tes formatif bisa
langsung belajar keModul berikutnya, untuk yang belum betul jawaban soalnya supaya
memperbaiki kembali ,dengan begitu tidak akan mengalami kesulitan pada saat ujian akhir
semester nanti.

Kunci Jawaban
(Disampaikan pada saat tatap muka)

Modul II : Sampling dan Analisa Ukuran Butir 25

Anda mungkin juga menyukai