0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan32 halaman

Rancangan Pabrik Biodiesel 2 Juta Ton

Dokumen ini membahas pra rancangan pabrik biodiesel dari crude palm oil (CPO) dan metanol dengan kapasitas 2.000.000 ton/tahun, yang direncanakan beroperasi pada tahun 2027 di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Proses produksi biodiesel menggunakan reaksi transesterifikasi dengan konversi lebih dari 95%, dan analisis ekonomi menunjukkan pabrik ini layak dengan ROI setelah pajak sebesar 47,71%. Pabrik ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan energi terbarukan dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil di Indonesia.

Diunggah oleh

jjkiwkiw3
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan32 halaman

Rancangan Pabrik Biodiesel 2 Juta Ton

Dokumen ini membahas pra rancangan pabrik biodiesel dari crude palm oil (CPO) dan metanol dengan kapasitas 2.000.000 ton/tahun, yang direncanakan beroperasi pada tahun 2027 di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Proses produksi biodiesel menggunakan reaksi transesterifikasi dengan konversi lebih dari 95%, dan analisis ekonomi menunjukkan pabrik ini layak dengan ROI setelah pajak sebesar 47,71%. Pabrik ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan energi terbarukan dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil di Indonesia.

Diunggah oleh

jjkiwkiw3
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

UNIVERSITAS JAYABAYA

REAKTOR RATB PADA PRA RANCANGAN


PABRIK BIODIESEL DARI CRUDE PALM OIL
DAN METANOL DENGAN PROSES
TRANSESTERIFIKASI KAPASITAS

2.000.000 TON/TAHUN

MAKALAH
Oleh
MARIA MARINI (2024710450118)
IVAN ABDILLAH K (2024710450120)
RIZATUL AUKAF (2024710450157)
HIMMATUL AULIA J (2024710450158)
MUHAMAD ICHWAN ALFARIZI (2024710450181)

PROGRAM STUDI TEKNIK KIMIA


FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI

JAKARTA
MEI 2025

i
ABSTRAK

Kebutuhan bahan bakar minyak semakin meningkat, sementara cadangan bahan


bakar fosil semakin menipis. Permasalahan ini mendorong upaya pengembangan
bahan bakar terbarukan dari tumbuhan. Indonesia kaya akan kelapa sawit, tumbuhan
ini memiliki potensi untuk digunakan sebagai bahan baku produksibahan bakar
alternatif, yaitu biodiesel. Biodiesel merupakan bahan bakar minyak yang berasal
dari bahan-bahan alam seperti minyak nabati, lemak hewani, atau pun tumbuhan
non pangan. Di Indonesia biodiesel digunakan sebagai bahan campuran untuk solar
yang berbahan baku minyak bumi. Biodiesel dibuat dengan reaksi transesterifikasi
dari crude palm oil (CPO) dan metanol dengan bantuan katalis basa yaitu kalium
hidroksida (KOH). Reaksi transesterifikasi merupakan reaksi ester yang mengalami
penukaran posisi asam lemak. Reaksi transesterifikasi merupakan reaksi yang
berjalan secara reversible. Alkohol digunakan secara berlebih untuk meningkatkan
yield alkil ester dan untuk memudahkan pemisahan fasanya dari gliserol yang
terbentuk. Kondisi operasi berada pada temperatur 60oC dan tekanan atmosfer
dengan konversi > 95%. Kapasitas produksi pabrik sebesar 2.000.000ton/tahun.
Pabrik ini direncanakan beroperasi pada tahun 2027 yang berlokasi di Kabupaten
Semarang, Jawa Tengah. Lokasi pabrik ini dekat dengan pelabuhan yang akan
meningkatkan efektivitas untuk bongkar muatan kapal tanker yang mengangkut
biodiesel, sehingga proses distribusi produk menjadi lebih mudah. Daerah ini
memiliki fasilitas transportasi yang memadai dan biaya transportasi dapat ditekan
seminimal mungkin. Berdasarkan hasil analisis ekonomi yang dilakukan, Total
Capital Investment Yang diperlukan untuk mendirikan pabrik ini sebesar Rp.
[Link].038. Total biaya produksi sebesar Rp. [Link].156. Return
of Investment (ROI) After Taxes sebesar 47,71%. Nilai Break event point (BEP)
sebesar 66,29% dan nilai inter rate of return (IRR) sebesar 70%. Dari hasil
analisis ekonomi tersebut pabrik biodiesel dengan kapasitas 2.000.000 ton
pertahun layak untuk didirikan di Indonesia.

Kata Kunci : Biodiesel, Crude Palm Oil, Metanol, Transesterifikasi.

ii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL .................................................................................................................. i
ABSTRAK ................................................................................................................................. ii
DAFTAR ISI ............................................................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN ..........................................................................................................1
1.1 Latar Belakang .......................................................................................................1
1.2 Tujuan Pendirian Pabrik .........................................................................................2
1.3 Penentuan Kapasitas ...............................................................................................3
1.3.1 Analisa Suplai dan Permintaan ................................................................3
1.3.2 Proyeksi Kebutuhan.................................................................................3
1.3.3 Kapasitas Pabrik Biodiesel Di Indonesia. ...............................................5
1.4. Rencana Lokasi Pabrik...........................................................................................7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ...............................................................................................9
2.1 Bahan Baku ............................................................................................................9
2.1.1 Bahan Baku Crude Palm Oil.........................................................................9
2.1.2 Bahan Baku Metanol ...................................................................................11
2.2 Produk Biodiesel ..................................................................................................11
2.3 Spesifikasi Bahan Baku dan Produk .....................................................................12
2.3.1 Spesifikasi Bahan Baku ..................................................................................12
2.3.2 Spesifikasi Bahan Penunjang..........................................................................13
2.3.3 Spesifikasi Produk ..........................................................................................14
2.4 Macam-Macam Proses Produksi Biodiesel ..........................................................15
2.4.1 Pirolisis (Perengkahan Termal) ......................................................................15
2.4.2 Esterifikasi-Transesterifikasi ...........................................................................16
2.4.3 Proses Produksi Biodiesel dengan Transesterifikasi .......................................16
2.5 Pemilihan Proses Produksi Biodiesel ...................................................................18
BAB III STUDI KASUS ........................................................................................................20
3.1 Uraian Proses........................................................................................................20
3.1.1 Tahap Persiapan Bahan Baku .........................................................................20
3.1.2 Tahap Proses Reaksi .......................................................................................20
3.1.3 Tahap Proses Pemurnian .................................................................................22
3.2 Diagram blok dan Flowsheet ................................................................................23
3.3 Neraca Massa Reaktor (R-01)...............................................................................25
3.4 Neraca Panas Reaktor (R-01)................................................................................26
BAB V KESIMPULAN ...........................................................................................................27
DAFTAR PUSTAKA ..............................................................................................................28

iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) semakin meningkat, sementara


cadangan bahan bakar fosil semakin menipis. Ketersediaan minyak bumi selama 10
tahun terakhir menunjukkan kecenderungan menurun, dari 346 juta barel (949 ribu
bph) pada tahun 2009 menjadi sekitar 283 juta barel (778 ribu bph) di tahun 2018.
Penurunan produksi tersebut disebabkan oleh sumur-sumur produksi minyak yang
umumnya sudah tua, sementara produksi sumur baru relatif masih terbatas. Untuk
memenuhi kebutuhan kilang minyak, Indonesia mengimpor minyak terutama dari
Timur Tengah sehingga ketergantungan impor minyak Indonesia mencapai sekitar
43% [1]. Di sisi permintaan, kebutuhan BBM dalam negeri pada tahun 2018
mencapai 465,7 juta barel/tahun yang dipenuhi dari produksi kilang dalam negeri
dan impor. Produksi BBM dari kilang dalam negeri rata-rata sebesar 278,1 juta
barel dan impor rata-rata sekitar 165,4 juta barel[2].

Gambar 1.1 Perkembangan Produksi, Impor, Ekspor dan


Rasio Ketergantungan Impor Minyak Bumi [1]

1
Berkurangnya potensi ketersedian energi fosil terutama minyak serta
komitmen internasional dalam pengurangan emisi, mendorong pemerintah
menjadikan energi baru dan terbarukan sebagai pengganti bahan bakar fosil dalam
menjaga ketahanan dan kemandirian energi Indonesia, yang tertuang dalam
Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2014 tentang Kebijakan Energi Nasional.
Sumber energi alternatif (biofuel) yang berpotensi untuk dikembangkan di
Indonesia adalah produksi biodiesel dari minyak nabati.
Salah satu komoditas perkebunan penghasil minyak nabati di Indonesia
yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku biodiesel adalah minyak kelapa sawit,
yang lebih dikenal dengan crude palm oil (CPO). Total produksi CPO Indonesia
pada tahun 2018 mencapai 47,18 juta ton[3]. Selain itu pembuatan bahan bakar dari
CPO menghasilkan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan, karena
menghasilkan emisi SOx dan NOx yang lebih rendah. CPO memiliki rantai
hidrokarbon panjang yang memungkinkan dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar
nabati (biofuel). Komposisi asam lemak dalam CPO yang paling tinggi adalah asam
oleat sebesar 55%. Kandungan asam oleat yang tinggi ini juga menjadi dasar
pertimbangan untuk digunakan sebagai bahan baku dalam produksi biodiesel dari
CPO [4].

1.2 Tujuan Pendirian Pabrik

Tujuan dari pra rancangan pabrik biodiesel dari CPO dengan proses
transesterifikasi kapasitas 2.000.000 ton/tahun ini adalah sebagai berikut.
1. Memenuhi kebutuhan dalam negeri dan luar negeri, mengurangi impor
BBM Indonesia, dan memaksimalkan potensi dalam negeri.
2. Mengimplementasikan Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2014
tentang pengembangan energi baru terbarukan sebagai pengganti bahan
bakar fosil, serta turut mengurangi emisi gas buang dan efek rumah kaca [5].
3. Membantu dan mendukung upaya pemerintah dalam penyediaan lapangan
kerja dan mengurangi tingginya jumlah pengangguran.
4. Mengaplikasikan ilmu teknik kimia, khususnya dalam bidang pra rancangan
pabrik, analisa proses dan operasi teknik kimia dengan baik dan benar sesuai
dengan prosedur.

2
1.3 Penentuan Kapasitas

Penentuan besarnya kapasitas produksi pabrik biodiesel dari Crude Palm


Oil CPO dengan proses transesterifikasi yang akan dibangun ini, didasarkan pada
beberapa pertimbangan berikut.

1.3.1 Analisa Suplai dan Permintaan

Kebutuhan BBM termasuk biodiesel di Indonesia sangat tinggi, hal tersebut


terlihat dari tingginya angka konsumsi biodiesel setiap tahunnya. Namun kebutuhan
biodiesel yang cukup tinggi ini tidak diikut dengan peningkatan produksinya,
sehingga Indonesia terus mengimpor dari negara lain. Data perkembangan
konsumsi biodiesel di Indonesia sejak tahun 2013 hingga 2022 dapat dilihat pada
Tabel 1.1.

Tabel 1.1 Data Konsumsi Biodiesel dari Tahun 2013 s/d 2022 [6].

Konsumsi Biodiesel
Tahun
dalam Ton
2013 922.000
2014 1.624.000
2015 757.000
2016 2.647.000
2017 2.263.000
2018 3.300.000
2019 5.626.000
2020 7.415.000
2021 8.180.000
2022 8.888.000

1.3.2 Proyeksi Kebutuhan


Penentuan kapasitas produksi pabrik biodiesel yang akan didirikan dapat
ditentukan dengan menganalisa kebutuhan biodiesel beberapa tahun mendatang.
Berdasarkan Tabel 1.1, kebutuhan biodiesel beberapa tahun mendatang dapat
diprediksi. Besar konsumsi biodiesel mendatang dapat diketahui dengan
menggunakan metode Least Square y = a + bx, dapat dilihat pada Tabel 1.2.

3
Tabel 1.2 Besar Konsumsi Biodiesel Mendatang dengan
Menggunakan Metode Least Square

Konsumsi Biodiesel
No. Tahun X X2 x.y
dalam Ton (Y)

1 2018 -2 3.300.000 4 -6.600.000


2 2019 -1 5.626.000 1 -5.626.000
3 2020 0 7.415.000 0 0
4 2021 1 8.180.000 1 8.180.000
5 2022 2 8.888.000 4 17.776.000

Kapasitas pabrik pada tahun kedepannya dapat ditentukan denganmenggunakan


persamaan regresi linear y = a + bx, dimana y menyatakan jumlah kebutuhan biodiesel
dan x adalah indeks tahun, maka:
(Σ𝑦)(Σ𝑋2)−(ΣX)(ΣXy)
a=
𝑛 (Σ𝑋2)− (Σ𝑋)2

𝑛 (ΣXy)−(ΣX) (Σ𝑦)
b=
𝑛 (Σ𝑋2)− (Σ𝑋)2

karena Σx = 0, maka:

a = (Σ𝑦) = 33.409.000
= 6.681.800
𝑛 5

b = ( ΣX𝑦) 1 3.730.000
2
= = 1.373.000
(Σ𝑋 ) 10

Berdasarkan perhitungan tersebut, persamaan yang didapat adalah sebagai berikut.


y = a + bx
y = 6.681.800 + (1.373.000 x indeks tahun)

4
Berdasarkan persamaan tersebut dapar diperkiraan konsumsi biodiesel dari
tahun 2024 hingga tahun 2033 yang dapat dilihat dalam Tabel 1.3.

Tabel 1.3 Proyeksi Konsumsi Biodiesel tahun 2027-2036

Indeks Proyeksi (Ton/


No. Tahun Tahun Persamaan Tahun)
(X)
1 2027 7 16.293.000
2 2028 8 17.666.000
3 2029 9 19.039.000
4 2030 10 20.412.000
5 2031 11 y = 6.681.8000 + 21.785.000
6 2032 12 1.373.000x 23.158.000
7 2033 13 24.531.000
8 2034 14 25.904.000
9 2035 15 27.277.000
10 2036 16 28.650.000

1.3.3 Kapasitas Pabrik Biodiesel Di Indonesia.

Pabrik-pabrik biodiesel telah banyak berdiri secara komersil di Indonesia.


Ada lebih dari 20 pabrik yang secara konsisten telah memproduksi biodiesel dan
menjualnya secara komersial. Pabrik biodiesel tersebut masing-masing memiliki
kapasitas produksi yang berbeda-beda. Data kapasitas produksi pabrik biodiesel di
Indonesia pada tahun 2022 dapat dilihat pada Tabel 1.4.

5
Tabel 1.4 Kapasitas Produksi Pabrik Biodiesel Di Indonesia Tahun 2022

Quantity
Supplier
(Ton)
PT MUSIM MAS (MEDAN) 404.598
PT PERMATA HIJAU PALM OLEO 367.148
PT ALDABERTA 546.207
PT SARI DUMAI OLEO 364.138
PT INTIBENUA PERKASATAMA 389.426
PT CILIANDRA PERKASA 252.873
PT PELITA AGUNG AGRINDUSTRI 202.299
PT PELITA AGUNG AGRINDUSTRI 500.690
PT SARI DUMAI SEJATI 606.896
PT WILMAR BIOENERGI
1.411.034
INDONESIA
PT BAYAS BIOFUELS 758.621
PT LDC INDONESIA 424.828
PT TUNAS BARU LAMPUNG 440.000
PT MULTIMAS NABATI ASAHAN 500.690
PT SINARMAS BIO ENERGY 400.752
PT DARMEX BIOFUELS 252.873
PT BATARA ELOK SEMESTA
686.804
TERPADU
PT WILMAR NABATI INDONESIA 1.980.000
PT ECO PRIMA ENERGI 509.793
PT KUTAI REFINERY NUSANTARA 1.006.057
PT ENERGI UNGGUL PERSADA 834.483
PT SMART 529.980
PT JHONLIN AGRO RAYA 500.690
PT MULTI NABATI SULAWESI 418.759
PT PADANG RAYA CAKRAWALA 369.195
PT ENERGI UNGGUL PERSADA 801.104
PT BUMI ENERGI NABATI 356.628

Pabrik Biodiesel yang akan dibangun pada tahun 2027 ditetapkan


kapasitas produksi pabrik biodiesel ini sebesar 2.000.000 ton/tahun. Kapasitas
produksi ini merujuk pada kapasitas produksi pabrik biodiesel yang sudah berdiri
di Indonesia yang sudah terbukti secara visible dan secara ekonomi. Diharapkan
kapasitas tersebut mampu membantu pemenuhan kebutuhan biodiesel di Indonesia.

6
1.4. Rencana Lokasi Pabrik
Berdasarkan pertimbangan di atas, maka ditentukan rencana pendirian
pabrik biodiesel dari crude palm oil dengan proses transesterifikasi dengan
kapasitas 2.000.000 ton/tahun direncanakan akan didirikan di daerah Kawasan
Industri Candi Blok C, Bambankerep, Ngaliyan, Semarang, Jawa Tengah.
Pertimbangan utama yaitu lokasi yang dipilih harus memberikan biaya produksi
dan distribusi yang lebih bersaing, disamping beberapa faktor lain yang harus
dipertimbangkan misalnya pengadaan bahan baku, utilitas dan dengan tetap
memperhatikan ketersediaan tempat untuk pengembangan pabrik dan kondisi yang
aman untuk operasi pabrik [7]. Adapun faktor-faktor yangberpengaruh dalam
pemilihan lokasi pabrik adalah sebagai berikut.
1. Ketersediaan Bahan Baku (raw material oriented).
Bahan baku utama, yaitu CPO diperoleh dari PT Wilmar Indonesia
di Gresik, Jawa Timur. Dari segi lokasi pabrik, pabrik ini dekat dengan
sumber bahan baku utama, sehingga dapat menekan biaya pengangkutan
dan transportasi bahan baku yang cukup tinggi, serta dengan jarak yang
dekat ini penjagaan kualitas bahan baku dalam proses pengangkutan dan
transportasinya akan lebih mudah dikontrol. Maka dengan begitu, lokasi
pabrik yang dipilih adalah Semarang, Jawa Tengah.
2. Letak Pemasaran Produk.
Pabrik didirikan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Biodiesel langsung dapat dipasarkan ke masyarakat Indonesia berupa
biodiesel maupun dijual ke produsen lain untuk dijual kemudian sebagai
produk campuran minyak solar dan biodiesel dengan perbandingan
tertentu. Distribusi direncanakan akan dijual ke PT Pertamina depo
Balongan dan Cilacap, sehingga letak paabrik yang strategis dan biaya
pengiriman yang relative murah.

3. Ketersediaan Tenaga Kerja.


Kebutuhan tenaga kerja mudah untuk tercukupi, karena daerah Jawa
Tengah memiliki banyak sumber daya manusia yang memiliki kompetensi.
Jumlah angkatan kerja berdasarkan data BPS kota Semarang tahun 2023
adalah sebesar 951,135 jiwa dan UMK kota Semarang adalah Rp.3.060.349.
7
4. Ketersediaan Sarana Pendukung.
Kebutuhan air untuk konsumsi, sanitasi pekerja, proses produksi
serta air umpan boiler, dapat diperoleh dari sumber air sungai yang berasal
dari sungai Kali Silandak yang dekat lokasi rencana pabrik yang akan
didirikan. Kebutuhan listrik untuk kegiatan pabrik dapat dipenuhi oleh
Perusahaan Listrik Negara (PLN).
5. Transportasi
Di daerah kawasan industri semarang, fasilitas sangat mendukung,
seperti jalan tol yang berhubungan langsung dengan jalur tol Semarang-
Batang. Lokasi pabrik ini dekat dengan pelabuhan yang akan meningkatkan
efektivitas untuk bongkar muatan kapal tanker yang mengangkut biodiesel,
sehingga proses distribusi produk menjadi lebih mudah. Daerah ini
memiliki fasilitas transportasi yang memadai dan biaya transportasi dapat
ditekan seminimal mungkin.

Rencana Lokasi Pabrik

Gambar 1.2 Rencana Lokasi Pabrik dengan Google Maps

8
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Bahan Baku

2.2 Bahan Baku Crude Palm Oil


Indonesia merupakan salah satu negara penghasil Crude Palm Oil (CPO)
terbesar di dunia. Total produksi crude palm oil Indonesia mencapai 21 juta ton pada
tahun 2010 danterus meningkat hingga 22,2 juta ton pada tahun 2011 [8]. Selain itu,
tanaman kelapa sawit mempunyai produktivitas tinggi dalam menghasilkan
minyak. Efisiensi tanaman kelapa sawit sebagai penghasil minyak ini jauh lebih
tinggi (3,74 ton/ha/tahun) dibandingkan dengan minyak nabati utama lainnya;
terutama minyak kedelai, minyak bunga matahari dan minyak rapeseed [8].

Crude palm oil merupakan salah satu komoditas hasil perkebunan yang
mempunyai peran cukup penting dalam kegiatan perekonomian di Indonesia karena
kemampuannya menghasilkan minyak nabati yang banyak dibutuhkan oleh sektor
industri [9]. Indonesia merupakan negara dengan penghasil crude palm oil
terbesar di dunia [ 10 ] . Total produksi CPO Indonesia pada tahun 2019 mencapai
47,18 juta ton, dapat dilihat pada Gambar 1.2 [11].

Gambar 2.1 Produksi CPO di Indonesia Tahun 2015 s/d 2019[11]

9
Dari Tabel 1.2 terlihat bahwa CPO memiliki efisiensi produktivitas minyak
paling besar dengan angka produksi yang tertinggi dan kebutuhan lahan terendah
dibandingkan dengan minyak nabati lainnya seperti minyak kedelai, minyak bunga
matahari dan minyak rapeseed. Komposisi asam lemak tertinggi pada CPO adalah
asam oleat sebesar 55%. Kandungan asam oleat yang tinggi tersebut menunjukkan
angka perolehan akan biodiesel yang tinggi pula. Selain itu, dengan kandungan
asam lemak jenuh yang tinggi akan menghasilkan cetane number yang tinggi, hal
ini menunjukan kualitas biodiesel yang dihasilkan akan tinggi. Berbagai
pertimbangan tersebut menjadi dasar penggunaan CPO sebagai bahan baku dalam
produksi biodiesel di Indonesia [4].

Tabel 2.1 Data Produksi dan Produktivitas Minyak dalam


Berbagai Jenis Bahan Alternatif di Indonesia [8]
Persentase Produktivitas Persentase
Tanaman Produksi Luasan
dari Rata Hasil dari Luas
Penghasil (Juta Lahan
Produksi Minyak Lahan Total
Minyak Ton) (Juta Ha)
Total (%) (Ton/Ha/Tahun) (%)
Kedelai 35,19 34,24 0,38 96,63 42,27
Bunga 11,09 10,79 0,48 22,95 10,47
Matahari
Rapeseed 18,34 17,84 0,67 27,95 12,45

Crude 36,90 35,90 3,74 9,86 4,50


Palm Oil
Total 102,78 219,15

Tanaman palm oil bisa menghasilkan dua jenis minyak dari buah yang sama.
Proses pengepresan daging buah sawit akan menghasilkan crude palm oil (CPO)
dan inti sawit akan menghasilkan crude palm kernel oil (CPKO). Kedua jenis
minyak ini, CPO dan CPKO mempunyai karakteristik kimia, fisik dan gizi unik
yang berbeda. CPO kaya dengan asam palmitat (C16) sedangkan CPKO kaya
dengan asam laurat (C12) dan asam miristat (C14). Pada prakteknya, dibandingkan
CPKO, CPO lebih banyak diproses lanjut menjadi minyak goreng, yang sering
disebut sebagai minyak sawit.

10
2.1.2 Bahan Baku Metanol

Metanol atau methyl alkohol adalah produk industri petrokimia yang


merupakan turunan dari gas alam. Metanol merupakan salah satu senyawa
hidrokarbon dari golongan alkohol (CnH2n+2O) dengan gugus alkil hidroksil (-OH).
Metanol mempunyai berat molekul 32,043 g/mol dan berwujud cair pada suhu
lingkungan dan tekanan atmosferis. Titik didih metanol sebesar 64,7°C dan titik
leburnya sebesar -98,68°C. Metanol mempunyai sifat mudah menguap, tidak
berwarna, mudah terbakar, dan beracun dengan bau yang khas.

2.2 Produk Biodiesel

Biodiesel adalah bahan bakar yang berupa ester mono alkil atau methyl ester
yang diturunkan dari rantai panjang yang diturunkan dari minyak nabati atau lemak
hewani. Ester mono alkil merupakan produk reaksi alkohol rantai lurus seperti
metanol dan etanol, dengan asam lemak atau minyak (triolein) membentuk gliserol

dan ester dari asam lemak rantai panjang [12]. Biodiesel memiliki karakteristik
yang sama dengan minyak solar sehingga dapat digunakan sebagai bahan bakar
alternatif untuk kendaraan bermesin diesel. Bahan bakar biodiesel memiliki
beberapa keunggulan dibandingkan dengan solar, yaitu: [13].
• Memiliki kualitas yang lebih baik dengan cetane number yang tinggi. Selain
itu, biodiesel memiliki sifat pelumasan yang sangat baik, lebih baik daripada
bahan bakar diesel konvensional, sehingga dapat memperpanjang masa
pakai mesin.
• Ramah lingkungan karena biodiesel tidak mengandung sulfur sehingga
tidak ada emisi SOx. Biodegradable: jauh lebih mudah terurai oleh
mikroorganisme dibandingkan minyak mineral.
• Meningkatkan nilai produk pertanian Indonesia. Memungkinkan diproduksi
dalam skala kecil menengah sehingga bisa diproduksi di pedesaan, serta
menurunkan ketergantungan suplai minyak dari negara asing.

11
Biodiesel secara nyata dapat mengurangi pencemaran, dengan kandungan
belerang yang sangat rendah, jika dipergunakan bersama minyak solar, biodiesel
dapat mengurangi atau menghilangkan kandungan belerang dalam minyak diesel.
Diharapkan dengan pemakaian biodiesel, pengurangan pencemaran udara dariemisi
kendaraan bermotor, dengan menjadikan biodiesel bagian dari solusi transformasi
energi bersih dan ramah lingkungan di Indonesia.

2.3 Spesifikasi Bahan Baku dan Produk

2.3.1 Spesifikasi Bahan Baku

[Link] Crude palm oil (CPO)

Tabel 2.2 Komposisi Crude palm oil (CPO)


Komposisi Kadar
Trigliserida 98,50%
Asam Lemak Bebas 1,00%
Air 0,50%

A. Trigliserida
Rumus Molekul : C57H104O6
Fase : Cair
Berat Molekul : 885,432 kg/kmol
Densitas : 907,8 kg/m3
Kapasitas panas (Cp) : 1874,43 kJ/kmol K (25C)
Titik Leleh : 35-40 oC
Kelarutan : Larut dalam kloroform, tidak larut dalam air
Kadar : 98,50%

B. Asam Lemak Bebas Rumus


Molekul : C18H34O2
Fase : Cair
Berat Molekul : 282,467 kg/kmol
Densitas : 895,0 kg/m3
Kapasitas panas (Cp) : 684,32 kJ/kmol K (25C)

12
Titik Didih : 360,0 oC
Kelarutan : Larut dalam metanol (2,5%), gliserol (2,2%),
tidak larut dalam air
Kadar : 1,00%

C. Air
Rumus Molekul : H2O
Fase : Cair
Berat Molekul : 18,015 kg/kmol
Densitas : 1000 kg/m3
Kapasitas panas (Cp) : 75,55 kJ/kmol K (25C)
Titik Didih : 100 oC
Kadar : 0,50%

[Link] Metanol
Rumus Molekul : CH3OH
Fase : Cair
Berat Molekul : 32,042 kg/kmol
Densitas : 792,0 kg/m3
Kapasitas panas (Cp) : 79,93 kJ/kmol K (25C)
Titik Didih : 64,64 oC
Kelarutan : Larut dalam air (>90%)
Kemurnian : 99,85% (0,15% lainnya adalah air)

2.3.2 Spesifikasi Bahan Penunjang

[Link] Asam Klorida


Rumus Molekul : HCl
Fase : Cair
Berat Molekul : 36,461 kg/kmol
Densitas : 1190 kg/m3
Kapasitas panas (Cp) : 98,37 kJ/kmol K (25C)
Titik Didih : 48,0 oC
Kelarutan : Larut dalam air
Kemurnian : 37% (63% lainnya adalah air)

13
[Link] Kalium Hidroksida
Rumus Molekul : KOH
Fase : Cair
Berat Molekul : 56,106 kg/kmol
Densitas : 1490 kg/m3
Kapasitas panas (Cp) : 80,20 kJ/kmol K (25C)
Kelarutan : Larut dalam air
Kemurnian : 48% (52% lainnya adalah air)

2.3.4 Spesifikasi Produk

[Link] Biodiesel
Rumus Molekul : C19H36O2
Fase : Cair
Berat Molekul : 296,494 kg/kmol
Densitas : 873,90 kg/m3
Kapasitas panas (Cp) : 624,81 kJ/kmol K (25C)
Titik nyala : 93,0oC
Kelarutan : Tidak larut dalam air
Komposisi : Kandungan Ester Minimal 97,7%
Trigliserida  1,15%
Asam lemak bebas  0,55%
Gliserol  0,24%
Air  0,35%

[Link] Gliserol
Rumus Molekul : C3H8O3
Fase : Cair
Berat Molekul : 92,095 kg/kmol
Densitas : 1260,78 kg/m3
Kapasitas panas (Cp) : 218,90 kJ/kmol K (25C)
Kelarutan : Tidak larut dalam air
Titik Didih : 288,85 oC
Kemurnian : Minimal 95%

14
Pengotor : Asam lemak bebas terlarut  5%

[Link] Kalium Klorida


Rumus Molekul : KCl
Fase : Cair
Berat Molekul : 74,551 kg/kmol
Densitas : 198,40 kg/m3
Kapasitas panas (Cp) : 139,90 kJ/kmol K (25C)
Kemurnian : ±34,0% (Air ±66,0%)

2.4 Macam-Macam Proses Produksi Biodiesel

Biodiesel dapat diproduksi dengan beberapa proses yaitu proses pirolisis


(perengkahan termal), esterifikasi-transesterifikasi, dan transesterifikasi. Dari
berbagai jenis proses yang ada, proses transesterifikasi merupakan metode yang
paling disukai dan paling banyak digunakan. Adapun uraian masing-masing
prosesnya adalah sebagai berikut.

2.4.2 Pirolisis (Perengkahan Termal)

Dalam proses pirolisis atau perengkahan termal, minyak nabati/hewani


dipanaskan terlebih dahulu dan didekomposisi pada suhu tinggi (lebih dari 350℃)
terlepas dari adanya katalis atau tidak. Produk yang berbeda (gas dan cairan)
dianalisis berdasarkan perbedaan suhu didihnya untuk menentukan jenis produk
yang tepat.

Pirolisis memiliki proses yang cukup efektif, sederhana (tidak perlu


pencucian, pengeringan atau penyaringan), tidak boros, dan bebas polusi. Namun,
proses pirolisis memerlukan suhu tinggi dan peralatan yang mahal serta
menghasilkan biodiesel dengan kemurnian rendah (mengandung molekul
heterogen termasuk abu dan residu karbon).

Gambar 2.2 Proses Produksi Biodiesel secara Pirolisis

15
2.4.3 Esterifikasi-Transesterifikasi

Biodiesel dapat diproduksi dengan gabungan reaksi esterifikasi dan


transesterifikasi untuk meningkatkan rendemen biodiesel yang dihasilkan.
Transesterifikasi dikatalisis oleh asam atau basa, sedangkan esterifikasi,
bagaimanapun hanya dikatalisis oleh asam. Namun, reaksi esterifikasi berbeda
dengan transesterifikasi. Proses esterifikasi hanya mengkonversi asam lemak bebas
menjadi ester, sedangkan reaksi transesterifikasi mengubah trigliserida menjadi
ester. Proses esterifikasi dalam produksi biodiesel dilakukan dengan mereaksikan
asam lemak bebas dan alkohol dengan bantuan katalis asam. Esterifikasi umumnya
dilakukan ketika bahan baku minyak memiliki kadar asam lemak bebas yang tinggi
(>5%), untuk menghindari banyaknya pembentukan sabun pada tahap reaksi
transesterifikasi.

Gambar 2.3 Proses Produksi Biodiesel secara Esterifikasi-Transesterifikasi

2.4.4 Proses Produksi Biodiesel dengan Transesterifikasi


Proses produksi biodiesel dari minyak nabati membutuhkan langkah-
langkah seperti tahap persiapan bahan baku, tahap proses reaksi yaitu
transesterifikasi dan netralisasi, dan diakhiri dengan tahap pemisahan produk.
Langkah-langkah tersebut dilakukan untuk menghasilkan produk biodiesel dengan
kualitas sesuai dengan standar yang diharapkan.

16
Gambar 2.4 Proses Produksi Biodiesel secara Transesterifikasi

Reaksi transesterifikasi merupakan reaksi ester yang mengalami penukaran


posisi asam lemak [14]. Reaksi transesterifikasi merupakan reaksi yang berjalan
secara reversible. Alkohol digunakan secara berlebih untuk meningkatkan yield
alkil ester dan untuk memudahkan pemisahan fasanya dari gliserol yang
terbentuk[15]. Pada produksi biodiesel, prinsipnya proses transesterfikasi adalah
mengeluarkan gliserin dari minyak dan mereaksikanasam lemak bebasnya dengan
alkohol menjadi metil ester [16]. Proses transesterifikasi mengkonversi asam-asam
lemak dari trigliserida menjadi metil ester/biodiesel dengan metanol memiliki
reaksi sebagai berikut.

Reaksi transesterifikasi dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor


eksternal. Faktor internal merupakan kondisi yang berasal dari minyak atau
karakteristik minyak, seperti kadar air dan asam lemak bebas. Faktor eksternal
menyangkut proses reaksi diantaranya adalah kandungan asam lemak bebas dan
kadar air pada minyak, jenis katalis dan konsentrasinya, rasio jumlah alkohol
dengan minyak dan jenis alkohol, suhu dan lama reaksi, dan intensitas pencampuran
[16].

17
2.5 Pemilihan Proses Produksi Biodiesel

Tabel. 2.3 Perbandingan Proses Produksi Biodiesel

Parameter Pirolisis Esterifikasi-Transesterifikasi Transesterifikasi


Bahan Baku Crude Palm Oil Crude Palm Oil dengan asam Crude Palm Oil dengan
dengan asam lemak lemak bebas > 5% asam lemak bebas < 5%
bebas > 5% (± Rp. (± Rp. 3.000/kg) (± Rp. 3.500/kg)
3.000/kg) Metanol Metanol
Bahan Baku
(± Rp. 7.000/kg) (± Rp. 7.000/kg)
Fase Cair Cair Cair
Ketersediaan Lokal Lokal Lokal
Toksisitas Tidak Beracun Tidak beracun + Beracun Tidak beracun + Beracun
Bahan Katalis Zeolit H2SO4 KOH
Pembantu (± Rp. 2.000/kg) (± Rp. 90.000/kg) (± Rp. 30.000/kg)
KOH
(± Rp. 30.000/kg)
Fase Cair Cair Cair
Ketersediaan Impor Lokal Lokal
Toksisitas Tidak Beracun Beracun Beracun
Suhu 500℃ 60℃-70℃ 60℃-70℃
Kondisi Tekanan 1 atm 1 atm 1 atm
Operasi Jenis Reaktor Circulating Fluidized Bed Reaktor Alir Tangki Reaktor Alir Tangki
Berpengaduk (RATB) Berpengaduk (RATB)
Reaktor 1 buah 2 buah 1 buah
(± $50.000/buah) (± $35.000/buah) (± $35.000/buah)
Kemurnian <20% >96% >96%
Konversi 20% 95-99,5% 95-99,5%
Produk Samping Arang dan Syngas Gliserol Gliserol

18
Berdasarkan perbandingan proses produksi biodiesel pada Tabel 2.1, dipilih proses
produksi secara Transesterifikasi. Hal ini didasarkan atas beberapa pertimbangan yaitu:

• Bahan baku CPO yang digunakan dalam proses transesterifikasi memiliki


kandungan asam lemak bebas yang lebih rendah dibandingkan dengan CPO
yang digunakan dalam proses pirolisis dan esterifikasi-transesterifikasi yaitu
dibawah 5%. Bahan baku CPO dengan kandungan asam lemak bebas dibawah
5% akan lebih mudah diproduksi menjadi biodiesel dibandingkan dengan CPO
dengan CPO dengan kandungan asam lemak bebas diatas 5%. Hal ini dapat
dilihat dari konversinya.

• Proses Transesterifikasi memiliki harga katalis yang lebih murah dibandingkan


proses Esterifikasi-transesterifikasi. Ketersedian katalis proses
Transesterifikasi juga tersedia di lokal dibandingkan proses Pirolisis yang
katalisnya harus diimpor.

• Proses transesterifikasi dan proses esterifikasi-transesterifikasi memiliki range


suhu yang lebih rendah dibandingkan proses pirolisis, maka hal ini lebih
menguntungkan dari segi cost. Proses transesterifikasi juga menggunakan jenis
reaktor RATB, berbeda dengan proses pirolisis yang menggunakan jenis
reaktor PFB yang memiliki harga reaktor lebih mahal dibandingkan RATB.
Pengguanaan jumlah reaktor pada proses transesterifikasi juga 1 buah
dibandingkan dengan proses esterifikasi-transesterifikasi yang menggunakan 2
buah.

• Proses transesterifikasi memiliki konversi produk yang lebih baik dari proses
pirolisis dengan konversi produk sebesar 95 – 99,5%.

• Proses transesterifikasi memiliki kemurnian produk > 96% lebih baik dari
proses pirolisis dengan kemurnian produk <20%.

• Produk samping yang dihasilkan pada proses transesterifikasi dan esterifikasi-


transesterifikasi menghasilkan produk samping berupa gliserol. Gliserol yang
merupakan produk samping dapat dijual ke pasaran sehingga dapat menambah
nilai ekonomis.

19
BAB III
STUDI KASUS

3.1 Uraian Proses


Proses produksi biodiesel ini menggunakan minyak nabati sebagai bahan
baku utamanya yaitu crude palm oil (CPO). Dalam produksi biodiesel ini
dibutuhkan langkah-langkah seperti tahap persiapan bahan baku, tahap proses
reaksi, dan diakhiri dengan tahap pemurnian produk. Hal-hal tersebut dilakukan
untuk menghasilkan produk biodiesel dengan kualitas sesuai dengan standar yang
diharapkan.

3.1.1 Tahap Persiapan Bahan Baku

Proses persiapan bahan baku ini diawali dengan memanaskan bahan baku
utama yaitu CPO pada suhu 60 oC dalam tangki (T-03), untuk mencegah terjadinya
penggumpalan pada tangki dan pompa, karena CPO memiliki titik tuang 35-40 oC.
Kemudian CPO dialirkan dari T-03 ke reaktor (R-01).
Kemudian menyiapkan katalis homogen basa yaitu KOH dan alkohol yaitu
metanol. Metanol dari tangki penyimpanan bahan baku (T-01) dan KOH cair dari
tangki penyimpanan bahan baku (T-02) yang bersuhu 30 oC dan bertekanan 1 atm,
dicampurkan pada mixer (M-01). Pada mixer terjadi pencampuran dengan bantuan
pengaduk untuk menghomogenkan kedua larutan tersebut pada temperatur 30 oC
dan tekanan 1 atm. Kemudian setelah keduanya homogen, campuranmetanol dan
KOH dipanaskan pada suhu 60 oC. Setelah itu dialirkan menuju reaktoralir tangki
berpengaduk (RATB) (R-01).

3.1.2 Tahap Proses Reaksi


Tahap proses reaksi terbagi menjadi dua yaitu, proses reaksi
transesterifikasi dan proses reaksi netralisasi.

20
[Link] Tahap Proses Reaksi Transesterifikasi
Saat campuran metanol dan KOH telah siap, bahan baku crude palm oil
(CPO) ditransfer ke RATB (R-01), perbandingan molar antar metanol dengan
minyak sebesar 6:1 dan katalis KOH dengan kemurnian 48% digunakan sebanyak
5% berat minyak. Reaksi berlangsung pada temperatur 60oC dan tekanan 1 atm
dengan waktu tinggal 40 menit.
Dalam proses ini digunakan katalis homogen basa, untuk meningkatkan laju
reaksi dan konversi dalam produksi biodiesel, digunakan katalis [12]. Katalis
homogen basa dipilih karena memiliki reaksi yang berjalan lebih cepat
dibandingkan katalis homogen asam. Selain itu, kondisi operasi reaksinya pun
hanya membutuhkan temperatur yang rendah. Sedangkan katalis heterogen kurang
diminati karena operasinya membutuhkan suhu operasi yang tinggi, aktivitas katalis
menurun setelah beberapa jam operasi, dan ketidaksempurnaan reaksi [17].
Proses transesterifikasi ini reaksinya merupakan reaksi setimbang dengan
kalor reaksi kecil. Penggeseran reaksi ke kanan biasanya dilakukan dengan
mengunakan alkohol berlebih, untuk meningkatkan laju reaksi dan konversi dalam
produksi biodiesel. Rasio perbandingan metanol dengan trigliserida, umumnya
sebesar 6:1 [17]. Berbagai alkohol rantai pendek seperti metanol, etanol, atau amil
alkohol dapat digunakan sebagai pelarut. Namun, dalam proses produksi biodiesel,
metanol paling disukai. Hal tersebut dikarenakan polaritasnya yang lebih besar,
proses recovery yang mudah, dan harganya murah, selain itu metanol mampu
memberikan laju reaksi yang lebih tinggi dibandingkan alkohol lainnya.
Mekanisme reaksi transesterfikasi diawali dengan pemisahan gliserol dari
minyak, kemudian disusul dengan bereaksinya asam lemak bebas dengan alkohol
menjadi metil ester [16]. Metode ini dapat mencapai konversi 99,5%dengan waktu
reaksi 32-60 menit pada suhu 70oC dan tekanan atmosfer dengan pengunaan katalis
homogen basa (KOH) [18]. Proses transesterifikasi mengkonversi asam-asam
lemak dari trigliserida menjadi metil ester/biodieseldengan metanol memiliki reaksi
sebagai berikut.

21
[Link] Tahap Proses Netralisasi
Dari reaktor RATB (R-01), produk dialirkan menuju neutralizer (NZ-01).
Tahap netralisasi produk dilakukan dengan penambahan larutan asam (HCl) hingga
mencapai pH netral yaitu pH 7. Proses ini beroperasi pada temperatur 30oC dan
tekanan 1 atm. Proses ini memiliki reaksi sebagai berikut.
HCl + KOH → KCl + H2O

3.1.3 Tahap Proses Pemurnian


Tahap proses pemurnian terbagi menjadi tiga yaitu, prosess dekantasi,
pencucian dan evaporasi. Tahap pertama dekantasi, tahap ini sebagai tahap
pemurnian awal berdasarkan densitas dan kelarutannya. Prosesnya dilakukan
dengan mengalirkan produk dari neutralizer NZ-01 ke dekanter DC-01. Terpisahnya
fase mulaiterbentuk segera setelah pengadukan campuran dihentikan. Hal tersebut
terjadi karena keduanya memiliki massa jenis dan afinitas kimia yang berbeda.
Produk atasyang memiliki densitas lebih rendah yaitu biodiesel, dengan beserta sisa
trigliserida, metanol, dan air, dialirkan ke washing tower (WT-01). Sementara,
produk bawah yaitu KCl dan gliserol dengan sedikit asam lemak bebas yang terlarut
olehnya, dialirkan ke unit pengolahan limbah (UPL).
Tahap selanjutnya adalah pencucian pada washing tower (WT-01). Pada
tahap ini dilakukan pemurnian biodiesel lebih lanjut, dengan penambahan air
berlebih. Langkah pencucian berturut-turut dengan air akan menghilangkan sisa-
sisa metanol, karena kontaminan ini larut dalam air. Perhatian yang harus diberikan
adalah hindari pembentukan emulsi selama langkah pencucian, karena akan
mengurangi efisiensi proses. Kemudian seluruh produk dari WT-01 ditransfer ke
DC-02. Pada DC-02, fase berat berupa metanol dan air akan dialirkan ke unit
pengolah limbah, sedangkan fase ringan yaitu biodiesel dan sisa-sisa air di pompa
ke evaporator (EV-01).
Pada proses akhir, sisa-sisa air harus dihilangkan dengan langkah evaporasi.
Pada EV-01 terjadi tahap pemisahan akhir untuk menghilangkan sisa air yang masih
belum terpisahkan dari biodiesel, dengan cara dievaporasi pada suhu 105C, hingga
diperoleh biodiesel dengan kemurnian minimum 96,5%. Kemudian produk utama
biodiesel akan disimpan pada tangki penyimpanan (T-05) dan siap untuk uji
karakterisasi untuk memastikan pemenuhan kualitas produk.

22
3.2 Diagram Blok dan Flowsheet

Gambar 3.1. Diagram Blok Produksi Biodiesel

23
FLOWSHEET PRARANCANGAN PABRIK BIODIESEL DARI CRUDE PALM OIL
DENGAN PROSES TRANSESTERIFIKASI KAPASITAS 2.000.000 TON/TAHUN
Steam

Cold Water
Keterangan :
UPL
T : Tangki
14

TC
EV-01 H : Heater
V : Valve
AIR
1
C-01 P : Pompa
Tanki
M : Mixer
P-01 FC
Methanol
WT
HE : Heat Exchanger
T-01
HE-01 FC
R : Reaktor
FC 01
2
P-07 P-09 C : Condensor
11

FC DC-02 UPL NZ : Netralizer


FC P-10 13
WT : Washing Tower
P-05
FC DC : Decanter
Tanki KOH 3

EV : Evaporator
4 Controller FC

T-02
P-02
9
Controller FC
UPL : Unit Pengolahan Limbah
6
: Arus Utama
TC Tanki Produk
P-11 Biodiesel : Cold Water
FC
: Steam
C-02
Tanki FC
TC
Crude
R-01 FC P-13 15
T-05 : Condensat
5
DC-01
Palm Oil 01
7
8 T-06 : Hot Water
T-03 HE-02
P-06
: Arus pengendali listrik
P-12
P-03 P-08 : Pneumatic Flow
FC : Flow Controller
Tanki
HCl TC : Temperature Controller
T-04 FC

P-04
Condensat

Hot Water

Laju Alir (kg/jam)


Komponen 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15
H2O 88,94 7262,06 7188,91 1365,40 8554,29 5589,86 18528,32 0,00 18528,32 35305,14 53833,37 51141,70 2691,70 2557,09 134,58
KCL 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 18142,51 17779,66 362,85 0,00 362,85 344,71 18,14 0,00 18,14
KOH 0,00 13965,50 13653,79 0,00 13653,79 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
HCL 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 8872,80 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
CH3OH 59292,39 0,00 59292,39 0,00 29942,66 0,00 29942,66 0,00 29942,66 0,00 29942,66 28445,52 1497,13 1422,28 74,86
C57H104O6 0,00 0,00 0,00 273075,90 2730,76 0,00 2730,76 0,00 2730,76 0,00 2730,76 0,00 2730,76 0,00 2730,76
C18H34O2 0,00 0,00 0,00 2730,80 2730,76 0,00 2730,76 60,08 2670,68 0,00 2670,68 0,00 2670,68 0,00 2670,68
C19H36O2 0,00 0,00 0,00 0,00 271578,00 0,00 271578,00 0,00 271578,00 0,00 271578,00 0,00 271578,00 0,00 271578,00
C3H8O3 0,00 0,00 0,00 0,00 28118,35 0,00 28118,35 27555,99 562,37 0,00 562,37 0,00 562,37 0,00 562,37
Total 59381,33 21227,56 80135,09 277172,10 357308,61 14462,66 371771,37 45395,73 326375,64 35305,14 361680,69 79931,93 281748,78 3979,36 277769,39

Gambar 3.2. Flowsheet Produksi Biodiesel

24
3.3 Neraca Massa Reaktor

Gambar 3.3 Laju Alir Massa Reaktor

Tabel 3.1 Neraca Massa Reaktor

Komponen BM Masuk Keluar


(Kg/Mol) F1 F4 F5
Mol/Jam kg/jam Mol/Jam kg/jam Mol/Jam kg/jam
C57H104O6 885,432 308,41 273075,9 0 0,00 3,084097 2730,76
CH3OH 32,042 0,00 0,00 1850,4584 59292,4 934,4815 29942,66
45
C19H36O2 296,49 0,00 0,00 0 0,00 915,9769 271578
C3H8O3 92,095 0,00 0,00 0 0,00 305,3256 28118,35
KOH 56,106 0,00 0,00 243,35708 13653,8 243,3571 13653,79
62
H2O 18,015 4,83 1365,40 25,450805 7188,910 30,28464 8554,29
16
C18H34O2 282,467 9,67 2730,80 0 0,00 9,667668 2730,76
Sub Total 277172 80135 357309
Total 357309 357309
(kg/jam)

25
3.4 Neraca Panas Reaktor (R-01)

CH3OH ΔH4 ΔHs in ΔHr


H2O Steam T = ℃
ΔH2 KOH P=1 ΔH5
T = 30℃ T = 60℃
P=1 P=1
R-01
C57H104O6 C57H104O6

H2O CH3OH
C18H34O2 ΔHs Out
Steam
C19H36O2
T=℃
P=1 C3H8O3
KOH
H2O
C18H34O2

Gambar 3.13 Laju Alir Panas Reaktor (R-01)

Tabel 3.11 Neraca Panas Reaktor (R-01)


ΔH in (kJ) ΔH out (kJ)
Komponen
ΔH2 ΔH4 ΔH5
C57H104O6 20233236,46 0 202332,36
CH3OH 0 5176750 2614258,76
C19H36O2 0 0 20030904,10
C3H8O3 0 0 2339252,42
KOH 0 683103 683103,34
H2O 200411 1055192 1255602,63
C18H34O2 231552,2523 0 231552,25
ΔHr - - 943738588,45
Steam 56212894,13
Sub Total 20665199,71 6915045
Total 83793139 83793139

26
BAB V
KESIMPULAN
Biodiesel dapat dibuat dengan proses reaksi transesterifikasi dari crude palm oil dan
metanol dengan bantuan katalis KOH. Pabrik biodiesel dirancang dengan kapasitas produksi
sebesar 2.000.000 ton/tahun. Pada pabrik biodiesel ini dibutuhkan beberapa alat untuk
menunjang perancangan pabrik tersebut salah satunya yaitu reaktor. Reaktor yang dipakai
yaitu RATB yang berfungsi untuk mereaksikan crude palm oil dengan methanol dengan
bantuan katalis KOH. Spesifikasi reaktor tersebut yaitu :
1. Kapasitas : 687,09 m3
2. Diameter Tangki : 8,6 m
3. Tinggi Tangki : 10,75 m
4. Tinggi Tutup Tangki : 2,02 m
5. Tebal Tangki : 0,01 m
6. Diameter Jaket : 0,05 m
7. Tinggi Jaket Pemanas : 10,83 m
8. Bahan Konstruksi : Carbon Steel SA 203 Grade C
Dari hasil perhitungan didapatkan neraca massa input sebesar 357.309 kg/jam dan
neraca massa output 357.309 kg/jam. Untuk neraca panas input sebesar 83.793.139 KJ dan
neraca panas output 83.793.139 KJ.

27
DAFTAR PUSTAKA

[1] K. ESDM, “OUTLOOK ENERGI INDONESIA 2018 Issn 25 27 - 3000,” 2018.


[2] Ministry of Energy and Mineral Resources, “Handbook Of Energy & Economic Statistics
Of Indonesia 2018 Final Edition,” Minist. Energy Miner. Resour., p. 73, 2018.
[3] Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia, “Kinerja Industri Sawit 2021 dan Outlook
2022,” htps://[Link]/News/20519/Kinerja-Industri-Sawit-2021-Prospek-
2022tps://[Link]/News/20519/Kinerja-Industri-Sawit-2021-Prospek-2022, 2021,
[Online]. Available: [Link]
[4] A. P. P. Nugroho, D. Fitriyanto, and A. Roesyadi, “Pembuatan Biofuel dari Minyak Kelapa
Sawit melalui Proses Hydrocracking dengan Katalis Ni- C-6-2,” J. Tek. Pomits, vol. 3, no.
2, pp. 1–7, 2014.
[5] R. Indonesia, “PP No. 79 Thn [Link].” pp. 1–36, 2014.
[6] U. S. D. of A. USDA, “Biofuels Annual Report,” pp. 1–20, 2020.
[7] M. S. Peters and K. D. Timmerhaus, Plant design and economics for chemical engineers.
1991.
[8] O. World, Tribology-Fundamentals and Advancements, Jurgen Geg. eropa: InTech, 2017.
[9] Kemendag, “Market Brief Kelapa Sawit dan Olahannya,” ITPC Hambg., pp. 1–35, 2013.
[10] Indexmundi, “Palm Oil Production By Country In 1000 MT,” Palm Oil Production By
Country In 1000 MT, 2020. [Link]
oil
[11] GAPKI, Kinerja Industri Sawit Indonesia 2019. Jakarta: GAPKI, 2020.
[12] I. Aziz, “Kinetika Reaksi Transesterifikasi Minyak Goreng Bekas,” J. Kim. Val., vol. 1, no.
1, pp. 19–23, 2007, doi: 10.15408/jkv.v1i1.209.
[13] R. I. Puji A. I., Indah D., Pembuatan Biodiesel dari Minyak Jelantah. Indramayu, 2010.
[14] T. L. M. B. FREEDMAN, E.H. PRYDE, “Variables Affecting the Yields of Fatty Esters
from Transesterified Vegetable Oils,” Var. Affect. Yields Fat. Esters from Transesterified
Veg. Oils, 1984, doi: 10.1145/3017680.3017802.
[15] E. . Freedman, B., Butterfield, R.O., Pryde, “Transesterification kinetics of soybean oil,”
Transesterification Kinet. soybean oil, vol. 1986.
[16] A. C. Pinto et al., “Biodiesel: An overview,” J. Braz. Chem. Soc., vol. 16, no. 6 B, pp.
1313–1330, 2005, doi: 10.1590/S0103-50532005000800003.
[17] J. Van Gerpen, “Biodiesel processing and production,” Fuel Process. Technol., vol. 86, no.
10, pp. 1097–1107, 2005, doi: 10.1016/[Link].2004.11.005.
[18] N. T. Tanaka H., Suzuki T., “Miscibility and Transesterification in Bisphenol A
27
polycarbonate/poly (ethylene terephthalate) Blends,” Miscibility
TransesterificationBisphenol A polycarbonate/poly (ethylene terephthalate)
Blends, 1989.

[19] Aries, R.S., and Newton, R.D., “Chemical Engineering Cost Estimation”.

[20] A. Budiyanto, Neraca Massa Evaporator (Single Unit dan Multiple Unit)
dan Drying. Riau: Fakultas teknik Universitas Riau, 2018.

[21] E. . Brownell, L.E., and Young, Process Equipment Desig. New york: John
Wiley and Sons, Inc, 1959.

[22] R. W. Serth and T. Lestina, Process Heat Transfer. New York: Mc Graw
Hill Book Co, In, 2007. doi: 10.1016/B978-0-12-373588-1.X5000-1.

[23] M. S. Peters and K. D. Timmerhaus, PLANT DESIGN AND ECONOMICS


FOR CHEMICAL ENGINEERS. Singapore: McGraw-Hill Book Co, 1991.

[24] Mc Cabe, W.L., Smith, J.C. and Harriot, P, Unit Operation of Chemical
Engineering, 5 th. Singapore: Mc. Graw Hill Book Co., 1985.

[25] Perry, R.H and Green, D. Chemical Engineering Handbook, 7th ed. New
York: Mc Graw Hill Book Co Inc, 1999.

28

Anda mungkin juga menyukai