Rancangan Pabrik Biodiesel 2 Juta Ton
Rancangan Pabrik Biodiesel 2 Juta Ton
2.000.000 TON/TAHUN
MAKALAH
Oleh
MARIA MARINI (2024710450118)
IVAN ABDILLAH K (2024710450120)
RIZATUL AUKAF (2024710450157)
HIMMATUL AULIA J (2024710450158)
MUHAMAD ICHWAN ALFARIZI (2024710450181)
JAKARTA
MEI 2025
i
ABSTRAK
ii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL .................................................................................................................. i
ABSTRAK ................................................................................................................................. ii
DAFTAR ISI ............................................................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN ..........................................................................................................1
1.1 Latar Belakang .......................................................................................................1
1.2 Tujuan Pendirian Pabrik .........................................................................................2
1.3 Penentuan Kapasitas ...............................................................................................3
1.3.1 Analisa Suplai dan Permintaan ................................................................3
1.3.2 Proyeksi Kebutuhan.................................................................................3
1.3.3 Kapasitas Pabrik Biodiesel Di Indonesia. ...............................................5
1.4. Rencana Lokasi Pabrik...........................................................................................7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ...............................................................................................9
2.1 Bahan Baku ............................................................................................................9
2.1.1 Bahan Baku Crude Palm Oil.........................................................................9
2.1.2 Bahan Baku Metanol ...................................................................................11
2.2 Produk Biodiesel ..................................................................................................11
2.3 Spesifikasi Bahan Baku dan Produk .....................................................................12
2.3.1 Spesifikasi Bahan Baku ..................................................................................12
2.3.2 Spesifikasi Bahan Penunjang..........................................................................13
2.3.3 Spesifikasi Produk ..........................................................................................14
2.4 Macam-Macam Proses Produksi Biodiesel ..........................................................15
2.4.1 Pirolisis (Perengkahan Termal) ......................................................................15
2.4.2 Esterifikasi-Transesterifikasi ...........................................................................16
2.4.3 Proses Produksi Biodiesel dengan Transesterifikasi .......................................16
2.5 Pemilihan Proses Produksi Biodiesel ...................................................................18
BAB III STUDI KASUS ........................................................................................................20
3.1 Uraian Proses........................................................................................................20
3.1.1 Tahap Persiapan Bahan Baku .........................................................................20
3.1.2 Tahap Proses Reaksi .......................................................................................20
3.1.3 Tahap Proses Pemurnian .................................................................................22
3.2 Diagram blok dan Flowsheet ................................................................................23
3.3 Neraca Massa Reaktor (R-01)...............................................................................25
3.4 Neraca Panas Reaktor (R-01)................................................................................26
BAB V KESIMPULAN ...........................................................................................................27
DAFTAR PUSTAKA ..............................................................................................................28
iii
BAB I
PENDAHULUAN
1
Berkurangnya potensi ketersedian energi fosil terutama minyak serta
komitmen internasional dalam pengurangan emisi, mendorong pemerintah
menjadikan energi baru dan terbarukan sebagai pengganti bahan bakar fosil dalam
menjaga ketahanan dan kemandirian energi Indonesia, yang tertuang dalam
Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2014 tentang Kebijakan Energi Nasional.
Sumber energi alternatif (biofuel) yang berpotensi untuk dikembangkan di
Indonesia adalah produksi biodiesel dari minyak nabati.
Salah satu komoditas perkebunan penghasil minyak nabati di Indonesia
yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku biodiesel adalah minyak kelapa sawit,
yang lebih dikenal dengan crude palm oil (CPO). Total produksi CPO Indonesia
pada tahun 2018 mencapai 47,18 juta ton[3]. Selain itu pembuatan bahan bakar dari
CPO menghasilkan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan, karena
menghasilkan emisi SOx dan NOx yang lebih rendah. CPO memiliki rantai
hidrokarbon panjang yang memungkinkan dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar
nabati (biofuel). Komposisi asam lemak dalam CPO yang paling tinggi adalah asam
oleat sebesar 55%. Kandungan asam oleat yang tinggi ini juga menjadi dasar
pertimbangan untuk digunakan sebagai bahan baku dalam produksi biodiesel dari
CPO [4].
Tujuan dari pra rancangan pabrik biodiesel dari CPO dengan proses
transesterifikasi kapasitas 2.000.000 ton/tahun ini adalah sebagai berikut.
1. Memenuhi kebutuhan dalam negeri dan luar negeri, mengurangi impor
BBM Indonesia, dan memaksimalkan potensi dalam negeri.
2. Mengimplementasikan Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2014
tentang pengembangan energi baru terbarukan sebagai pengganti bahan
bakar fosil, serta turut mengurangi emisi gas buang dan efek rumah kaca [5].
3. Membantu dan mendukung upaya pemerintah dalam penyediaan lapangan
kerja dan mengurangi tingginya jumlah pengangguran.
4. Mengaplikasikan ilmu teknik kimia, khususnya dalam bidang pra rancangan
pabrik, analisa proses dan operasi teknik kimia dengan baik dan benar sesuai
dengan prosedur.
2
1.3 Penentuan Kapasitas
Tabel 1.1 Data Konsumsi Biodiesel dari Tahun 2013 s/d 2022 [6].
Konsumsi Biodiesel
Tahun
dalam Ton
2013 922.000
2014 1.624.000
2015 757.000
2016 2.647.000
2017 2.263.000
2018 3.300.000
2019 5.626.000
2020 7.415.000
2021 8.180.000
2022 8.888.000
3
Tabel 1.2 Besar Konsumsi Biodiesel Mendatang dengan
Menggunakan Metode Least Square
Konsumsi Biodiesel
No. Tahun X X2 x.y
dalam Ton (Y)
𝑛 (ΣXy)−(ΣX) (Σ𝑦)
b=
𝑛 (Σ𝑋2)− (Σ𝑋)2
karena Σx = 0, maka:
a = (Σ𝑦) = 33.409.000
= 6.681.800
𝑛 5
b = ( ΣX𝑦) 1 3.730.000
2
= = 1.373.000
(Σ𝑋 ) 10
4
Berdasarkan persamaan tersebut dapar diperkiraan konsumsi biodiesel dari
tahun 2024 hingga tahun 2033 yang dapat dilihat dalam Tabel 1.3.
5
Tabel 1.4 Kapasitas Produksi Pabrik Biodiesel Di Indonesia Tahun 2022
Quantity
Supplier
(Ton)
PT MUSIM MAS (MEDAN) 404.598
PT PERMATA HIJAU PALM OLEO 367.148
PT ALDABERTA 546.207
PT SARI DUMAI OLEO 364.138
PT INTIBENUA PERKASATAMA 389.426
PT CILIANDRA PERKASA 252.873
PT PELITA AGUNG AGRINDUSTRI 202.299
PT PELITA AGUNG AGRINDUSTRI 500.690
PT SARI DUMAI SEJATI 606.896
PT WILMAR BIOENERGI
1.411.034
INDONESIA
PT BAYAS BIOFUELS 758.621
PT LDC INDONESIA 424.828
PT TUNAS BARU LAMPUNG 440.000
PT MULTIMAS NABATI ASAHAN 500.690
PT SINARMAS BIO ENERGY 400.752
PT DARMEX BIOFUELS 252.873
PT BATARA ELOK SEMESTA
686.804
TERPADU
PT WILMAR NABATI INDONESIA 1.980.000
PT ECO PRIMA ENERGI 509.793
PT KUTAI REFINERY NUSANTARA 1.006.057
PT ENERGI UNGGUL PERSADA 834.483
PT SMART 529.980
PT JHONLIN AGRO RAYA 500.690
PT MULTI NABATI SULAWESI 418.759
PT PADANG RAYA CAKRAWALA 369.195
PT ENERGI UNGGUL PERSADA 801.104
PT BUMI ENERGI NABATI 356.628
6
1.4. Rencana Lokasi Pabrik
Berdasarkan pertimbangan di atas, maka ditentukan rencana pendirian
pabrik biodiesel dari crude palm oil dengan proses transesterifikasi dengan
kapasitas 2.000.000 ton/tahun direncanakan akan didirikan di daerah Kawasan
Industri Candi Blok C, Bambankerep, Ngaliyan, Semarang, Jawa Tengah.
Pertimbangan utama yaitu lokasi yang dipilih harus memberikan biaya produksi
dan distribusi yang lebih bersaing, disamping beberapa faktor lain yang harus
dipertimbangkan misalnya pengadaan bahan baku, utilitas dan dengan tetap
memperhatikan ketersediaan tempat untuk pengembangan pabrik dan kondisi yang
aman untuk operasi pabrik [7]. Adapun faktor-faktor yangberpengaruh dalam
pemilihan lokasi pabrik adalah sebagai berikut.
1. Ketersediaan Bahan Baku (raw material oriented).
Bahan baku utama, yaitu CPO diperoleh dari PT Wilmar Indonesia
di Gresik, Jawa Timur. Dari segi lokasi pabrik, pabrik ini dekat dengan
sumber bahan baku utama, sehingga dapat menekan biaya pengangkutan
dan transportasi bahan baku yang cukup tinggi, serta dengan jarak yang
dekat ini penjagaan kualitas bahan baku dalam proses pengangkutan dan
transportasinya akan lebih mudah dikontrol. Maka dengan begitu, lokasi
pabrik yang dipilih adalah Semarang, Jawa Tengah.
2. Letak Pemasaran Produk.
Pabrik didirikan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Biodiesel langsung dapat dipasarkan ke masyarakat Indonesia berupa
biodiesel maupun dijual ke produsen lain untuk dijual kemudian sebagai
produk campuran minyak solar dan biodiesel dengan perbandingan
tertentu. Distribusi direncanakan akan dijual ke PT Pertamina depo
Balongan dan Cilacap, sehingga letak paabrik yang strategis dan biaya
pengiriman yang relative murah.
8
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Crude palm oil merupakan salah satu komoditas hasil perkebunan yang
mempunyai peran cukup penting dalam kegiatan perekonomian di Indonesia karena
kemampuannya menghasilkan minyak nabati yang banyak dibutuhkan oleh sektor
industri [9]. Indonesia merupakan negara dengan penghasil crude palm oil
terbesar di dunia [ 10 ] . Total produksi CPO Indonesia pada tahun 2019 mencapai
47,18 juta ton, dapat dilihat pada Gambar 1.2 [11].
9
Dari Tabel 1.2 terlihat bahwa CPO memiliki efisiensi produktivitas minyak
paling besar dengan angka produksi yang tertinggi dan kebutuhan lahan terendah
dibandingkan dengan minyak nabati lainnya seperti minyak kedelai, minyak bunga
matahari dan minyak rapeseed. Komposisi asam lemak tertinggi pada CPO adalah
asam oleat sebesar 55%. Kandungan asam oleat yang tinggi tersebut menunjukkan
angka perolehan akan biodiesel yang tinggi pula. Selain itu, dengan kandungan
asam lemak jenuh yang tinggi akan menghasilkan cetane number yang tinggi, hal
ini menunjukan kualitas biodiesel yang dihasilkan akan tinggi. Berbagai
pertimbangan tersebut menjadi dasar penggunaan CPO sebagai bahan baku dalam
produksi biodiesel di Indonesia [4].
Tanaman palm oil bisa menghasilkan dua jenis minyak dari buah yang sama.
Proses pengepresan daging buah sawit akan menghasilkan crude palm oil (CPO)
dan inti sawit akan menghasilkan crude palm kernel oil (CPKO). Kedua jenis
minyak ini, CPO dan CPKO mempunyai karakteristik kimia, fisik dan gizi unik
yang berbeda. CPO kaya dengan asam palmitat (C16) sedangkan CPKO kaya
dengan asam laurat (C12) dan asam miristat (C14). Pada prakteknya, dibandingkan
CPKO, CPO lebih banyak diproses lanjut menjadi minyak goreng, yang sering
disebut sebagai minyak sawit.
10
2.1.2 Bahan Baku Metanol
Biodiesel adalah bahan bakar yang berupa ester mono alkil atau methyl ester
yang diturunkan dari rantai panjang yang diturunkan dari minyak nabati atau lemak
hewani. Ester mono alkil merupakan produk reaksi alkohol rantai lurus seperti
metanol dan etanol, dengan asam lemak atau minyak (triolein) membentuk gliserol
dan ester dari asam lemak rantai panjang [12]. Biodiesel memiliki karakteristik
yang sama dengan minyak solar sehingga dapat digunakan sebagai bahan bakar
alternatif untuk kendaraan bermesin diesel. Bahan bakar biodiesel memiliki
beberapa keunggulan dibandingkan dengan solar, yaitu: [13].
• Memiliki kualitas yang lebih baik dengan cetane number yang tinggi. Selain
itu, biodiesel memiliki sifat pelumasan yang sangat baik, lebih baik daripada
bahan bakar diesel konvensional, sehingga dapat memperpanjang masa
pakai mesin.
• Ramah lingkungan karena biodiesel tidak mengandung sulfur sehingga
tidak ada emisi SOx. Biodegradable: jauh lebih mudah terurai oleh
mikroorganisme dibandingkan minyak mineral.
• Meningkatkan nilai produk pertanian Indonesia. Memungkinkan diproduksi
dalam skala kecil menengah sehingga bisa diproduksi di pedesaan, serta
menurunkan ketergantungan suplai minyak dari negara asing.
11
Biodiesel secara nyata dapat mengurangi pencemaran, dengan kandungan
belerang yang sangat rendah, jika dipergunakan bersama minyak solar, biodiesel
dapat mengurangi atau menghilangkan kandungan belerang dalam minyak diesel.
Diharapkan dengan pemakaian biodiesel, pengurangan pencemaran udara dariemisi
kendaraan bermotor, dengan menjadikan biodiesel bagian dari solusi transformasi
energi bersih dan ramah lingkungan di Indonesia.
A. Trigliserida
Rumus Molekul : C57H104O6
Fase : Cair
Berat Molekul : 885,432 kg/kmol
Densitas : 907,8 kg/m3
Kapasitas panas (Cp) : 1874,43 kJ/kmol K (25C)
Titik Leleh : 35-40 oC
Kelarutan : Larut dalam kloroform, tidak larut dalam air
Kadar : 98,50%
12
Titik Didih : 360,0 oC
Kelarutan : Larut dalam metanol (2,5%), gliserol (2,2%),
tidak larut dalam air
Kadar : 1,00%
C. Air
Rumus Molekul : H2O
Fase : Cair
Berat Molekul : 18,015 kg/kmol
Densitas : 1000 kg/m3
Kapasitas panas (Cp) : 75,55 kJ/kmol K (25C)
Titik Didih : 100 oC
Kadar : 0,50%
[Link] Metanol
Rumus Molekul : CH3OH
Fase : Cair
Berat Molekul : 32,042 kg/kmol
Densitas : 792,0 kg/m3
Kapasitas panas (Cp) : 79,93 kJ/kmol K (25C)
Titik Didih : 64,64 oC
Kelarutan : Larut dalam air (>90%)
Kemurnian : 99,85% (0,15% lainnya adalah air)
13
[Link] Kalium Hidroksida
Rumus Molekul : KOH
Fase : Cair
Berat Molekul : 56,106 kg/kmol
Densitas : 1490 kg/m3
Kapasitas panas (Cp) : 80,20 kJ/kmol K (25C)
Kelarutan : Larut dalam air
Kemurnian : 48% (52% lainnya adalah air)
[Link] Biodiesel
Rumus Molekul : C19H36O2
Fase : Cair
Berat Molekul : 296,494 kg/kmol
Densitas : 873,90 kg/m3
Kapasitas panas (Cp) : 624,81 kJ/kmol K (25C)
Titik nyala : 93,0oC
Kelarutan : Tidak larut dalam air
Komposisi : Kandungan Ester Minimal 97,7%
Trigliserida 1,15%
Asam lemak bebas 0,55%
Gliserol 0,24%
Air 0,35%
[Link] Gliserol
Rumus Molekul : C3H8O3
Fase : Cair
Berat Molekul : 92,095 kg/kmol
Densitas : 1260,78 kg/m3
Kapasitas panas (Cp) : 218,90 kJ/kmol K (25C)
Kelarutan : Tidak larut dalam air
Titik Didih : 288,85 oC
Kemurnian : Minimal 95%
14
Pengotor : Asam lemak bebas terlarut 5%
15
2.4.3 Esterifikasi-Transesterifikasi
16
Gambar 2.4 Proses Produksi Biodiesel secara Transesterifikasi
17
2.5 Pemilihan Proses Produksi Biodiesel
18
Berdasarkan perbandingan proses produksi biodiesel pada Tabel 2.1, dipilih proses
produksi secara Transesterifikasi. Hal ini didasarkan atas beberapa pertimbangan yaitu:
• Proses transesterifikasi memiliki konversi produk yang lebih baik dari proses
pirolisis dengan konversi produk sebesar 95 – 99,5%.
• Proses transesterifikasi memiliki kemurnian produk > 96% lebih baik dari
proses pirolisis dengan kemurnian produk <20%.
19
BAB III
STUDI KASUS
Proses persiapan bahan baku ini diawali dengan memanaskan bahan baku
utama yaitu CPO pada suhu 60 oC dalam tangki (T-03), untuk mencegah terjadinya
penggumpalan pada tangki dan pompa, karena CPO memiliki titik tuang 35-40 oC.
Kemudian CPO dialirkan dari T-03 ke reaktor (R-01).
Kemudian menyiapkan katalis homogen basa yaitu KOH dan alkohol yaitu
metanol. Metanol dari tangki penyimpanan bahan baku (T-01) dan KOH cair dari
tangki penyimpanan bahan baku (T-02) yang bersuhu 30 oC dan bertekanan 1 atm,
dicampurkan pada mixer (M-01). Pada mixer terjadi pencampuran dengan bantuan
pengaduk untuk menghomogenkan kedua larutan tersebut pada temperatur 30 oC
dan tekanan 1 atm. Kemudian setelah keduanya homogen, campuranmetanol dan
KOH dipanaskan pada suhu 60 oC. Setelah itu dialirkan menuju reaktoralir tangki
berpengaduk (RATB) (R-01).
20
[Link] Tahap Proses Reaksi Transesterifikasi
Saat campuran metanol dan KOH telah siap, bahan baku crude palm oil
(CPO) ditransfer ke RATB (R-01), perbandingan molar antar metanol dengan
minyak sebesar 6:1 dan katalis KOH dengan kemurnian 48% digunakan sebanyak
5% berat minyak. Reaksi berlangsung pada temperatur 60oC dan tekanan 1 atm
dengan waktu tinggal 40 menit.
Dalam proses ini digunakan katalis homogen basa, untuk meningkatkan laju
reaksi dan konversi dalam produksi biodiesel, digunakan katalis [12]. Katalis
homogen basa dipilih karena memiliki reaksi yang berjalan lebih cepat
dibandingkan katalis homogen asam. Selain itu, kondisi operasi reaksinya pun
hanya membutuhkan temperatur yang rendah. Sedangkan katalis heterogen kurang
diminati karena operasinya membutuhkan suhu operasi yang tinggi, aktivitas katalis
menurun setelah beberapa jam operasi, dan ketidaksempurnaan reaksi [17].
Proses transesterifikasi ini reaksinya merupakan reaksi setimbang dengan
kalor reaksi kecil. Penggeseran reaksi ke kanan biasanya dilakukan dengan
mengunakan alkohol berlebih, untuk meningkatkan laju reaksi dan konversi dalam
produksi biodiesel. Rasio perbandingan metanol dengan trigliserida, umumnya
sebesar 6:1 [17]. Berbagai alkohol rantai pendek seperti metanol, etanol, atau amil
alkohol dapat digunakan sebagai pelarut. Namun, dalam proses produksi biodiesel,
metanol paling disukai. Hal tersebut dikarenakan polaritasnya yang lebih besar,
proses recovery yang mudah, dan harganya murah, selain itu metanol mampu
memberikan laju reaksi yang lebih tinggi dibandingkan alkohol lainnya.
Mekanisme reaksi transesterfikasi diawali dengan pemisahan gliserol dari
minyak, kemudian disusul dengan bereaksinya asam lemak bebas dengan alkohol
menjadi metil ester [16]. Metode ini dapat mencapai konversi 99,5%dengan waktu
reaksi 32-60 menit pada suhu 70oC dan tekanan atmosfer dengan pengunaan katalis
homogen basa (KOH) [18]. Proses transesterifikasi mengkonversi asam-asam
lemak dari trigliserida menjadi metil ester/biodieseldengan metanol memiliki reaksi
sebagai berikut.
21
[Link] Tahap Proses Netralisasi
Dari reaktor RATB (R-01), produk dialirkan menuju neutralizer (NZ-01).
Tahap netralisasi produk dilakukan dengan penambahan larutan asam (HCl) hingga
mencapai pH netral yaitu pH 7. Proses ini beroperasi pada temperatur 30oC dan
tekanan 1 atm. Proses ini memiliki reaksi sebagai berikut.
HCl + KOH → KCl + H2O
22
3.2 Diagram Blok dan Flowsheet
23
FLOWSHEET PRARANCANGAN PABRIK BIODIESEL DARI CRUDE PALM OIL
DENGAN PROSES TRANSESTERIFIKASI KAPASITAS 2.000.000 TON/TAHUN
Steam
Cold Water
Keterangan :
UPL
T : Tangki
14
TC
EV-01 H : Heater
V : Valve
AIR
1
C-01 P : Pompa
Tanki
M : Mixer
P-01 FC
Methanol
WT
HE : Heat Exchanger
T-01
HE-01 FC
R : Reaktor
FC 01
2
P-07 P-09 C : Condensor
11
EV : Evaporator
4 Controller FC
T-02
P-02
9
Controller FC
UPL : Unit Pengolahan Limbah
6
: Arus Utama
TC Tanki Produk
P-11 Biodiesel : Cold Water
FC
: Steam
C-02
Tanki FC
TC
Crude
R-01 FC P-13 15
T-05 : Condensat
5
DC-01
Palm Oil 01
7
8 T-06 : Hot Water
T-03 HE-02
P-06
: Arus pengendali listrik
P-12
P-03 P-08 : Pneumatic Flow
FC : Flow Controller
Tanki
HCl TC : Temperature Controller
T-04 FC
P-04
Condensat
Hot Water
24
3.3 Neraca Massa Reaktor
25
3.4 Neraca Panas Reaktor (R-01)
H2O CH3OH
C18H34O2 ΔHs Out
Steam
C19H36O2
T=℃
P=1 C3H8O3
KOH
H2O
C18H34O2
26
BAB V
KESIMPULAN
Biodiesel dapat dibuat dengan proses reaksi transesterifikasi dari crude palm oil dan
metanol dengan bantuan katalis KOH. Pabrik biodiesel dirancang dengan kapasitas produksi
sebesar 2.000.000 ton/tahun. Pada pabrik biodiesel ini dibutuhkan beberapa alat untuk
menunjang perancangan pabrik tersebut salah satunya yaitu reaktor. Reaktor yang dipakai
yaitu RATB yang berfungsi untuk mereaksikan crude palm oil dengan methanol dengan
bantuan katalis KOH. Spesifikasi reaktor tersebut yaitu :
1. Kapasitas : 687,09 m3
2. Diameter Tangki : 8,6 m
3. Tinggi Tangki : 10,75 m
4. Tinggi Tutup Tangki : 2,02 m
5. Tebal Tangki : 0,01 m
6. Diameter Jaket : 0,05 m
7. Tinggi Jaket Pemanas : 10,83 m
8. Bahan Konstruksi : Carbon Steel SA 203 Grade C
Dari hasil perhitungan didapatkan neraca massa input sebesar 357.309 kg/jam dan
neraca massa output 357.309 kg/jam. Untuk neraca panas input sebesar 83.793.139 KJ dan
neraca panas output 83.793.139 KJ.
27
DAFTAR PUSTAKA
[19] Aries, R.S., and Newton, R.D., “Chemical Engineering Cost Estimation”.
[20] A. Budiyanto, Neraca Massa Evaporator (Single Unit dan Multiple Unit)
dan Drying. Riau: Fakultas teknik Universitas Riau, 2018.
[21] E. . Brownell, L.E., and Young, Process Equipment Desig. New york: John
Wiley and Sons, Inc, 1959.
[22] R. W. Serth and T. Lestina, Process Heat Transfer. New York: Mc Graw
Hill Book Co, In, 2007. doi: 10.1016/B978-0-12-373588-1.X5000-1.
[24] Mc Cabe, W.L., Smith, J.C. and Harriot, P, Unit Operation of Chemical
Engineering, 5 th. Singapore: Mc. Graw Hill Book Co., 1985.
[25] Perry, R.H and Green, D. Chemical Engineering Handbook, 7th ed. New
York: Mc Graw Hill Book Co Inc, 1999.
28