LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PSIKIATRI
PADA PASIEN DENGAN WAHAM DI RSDM MARTANI CILACAP
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Praktik Early Exposure Keperawatan
Psikiatri
Dosen Pembimbing : Ns. SUCI RATNA ESTRIA, [Link]., [Link]
DISUSUN OLEH:
Nama Mahasiswa : [Link]
NIM : 2211010054
Tingkat/Semester : 6
PROGRAM STUDI KEPERAWATAN DIII
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO
2025
1. Masalah Utama
Gangguan Proses Pikir: Waham
2. Proses terjadinya masalah
A. Definisi waham
Waham merupakan keyakinan ini berasal dari pemikiran klien yang sudah
kehilangan kontrol (Direja, 2018). Gangguan isi pikir adalah ketidakmampuan
individu memproses stimulus internal dan eksternal secara akurat. Gangguan
orientasi realitas adalah ketidakmampuan menilai dan berespons pada realitas.
Klien tidak dapat membedakan lamunan dan kenyataan sehingga muncul
perilaku yang sukar untuk dimengerti dan menakutkan. Gangguan ini biasanya
ditemukan pada pasien skizofrenia dan psikotik lain. Waham merupakan bagian
dari gangguan orientasi realita pada isi pikir dan pasien skizofrenia
menggunakan waham untuk memenuhi kebutuhan psikologisnya yang tidak
terpenuhi oleh kenyataan dalam hidupnya. Misalnya : harga diri, rasa aman,
hukuman yang terkait dengan perasaan bersalah atau perasaan takut mereka
tidak dapat mengoreksi dengan alasan atau logika (Kusumawati, 2016).
Menurut (Depkes RI, 2016) Waham adalah suatu keyakinan klien yang tidak
sesuai dengan kenyataan, tetapi dipertahankan dan tidak dapat diubah secara
logis oleh orang lain. Waham adalah keyakinan yang keliru tentang isi pikiran
yang dipertahankan secara kuat atau terus menerus namun tidak sesuai dengan
kenyataan (SDKI,2017)
Macam-Macam Waham
1. Waham kebesaran : individu meyakini bahwa ia memiliki kebesaran
atau kekuasaan khusus dan diucapkan berulang kali, tetapi tidak sesuai
atau, “Saya punya tambang emas” (Slametiningsih et al., 2019)
2. Waham curiga : individu meyakini bahwa ada seseorang atau kelompok
yang berusaha merugikan/mecederai dirinya dan diucapkan berulang
kali, tetapi tidak sesuai kenyataan. Contoh, “Saya tahu seluruh saudara
saya ingin menghancurkan hidup saya karena mereka iri dengan
kesuksesan saya.” (Slametiningsih et al., 2019)
3. Waham agama : individu memiliki keyakinan terhadap suaru agama
secara berlebihan dan diucapkan berulang kali, tetapi tidak sesuai
kenyataan. Contoh, “Kalau saya mau masuk surga, saya harus
menggunakan pakaian putih setiap hari.”(Slametiningsih et al., 2019)
4. Waham somatik : individu meyakini bahwa tubuh atau bagian tubuhnya
terganggu atau terserang penyakit dan diucapkan berulang kali, tetapi
tidak sesuai kenyataan. Contoh ,”Saya sakit kanker.” (Kenyataannya
pada pemeriksaan laboratorium tidak ditemukan tanda-tanda kanker,
tetapi pasien terus mengatakan bahwa ia sakit kanker) (Slametiningsih
et al., 2019)
5. Waham nihilistik : individu meyakini bahwa dirinya sudah tidak ada di
dunia/meninggal dan diucapkakan berulang kali, tetapi tidak sesuai
kenyaaan. Misalnya, “ini kan alam kubur ya, semua yang ada di sini
adalah roh-roh.”(Slametiningsih et al., 2019)
B. Faktor Predisposisi
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya waham yang dijelaskan
oleh towsend adalah
a. Teori biologis
Faktor genetik: memiliki anggota keluarga dengan kelainan yang
sama (orang tua, saudara kandung, sanak saudara lain), atau
kecacatan sejak lahir terjadi pada bagian hipokampus otak.
Teori biokimia: peningkatan dari dopamin neurotransmiter yang
dipertukarkan menghasilkan gejala-gejala peningkatan aktivitas
yang berlebihan
b. Teori psikososial
Teori sistem keluarga bawen dalam towsend (1998 : 147)
menggambarkan perkembangan skizofrenia sebagai suatu
perkembangan disfungsi keluarga. Teori interpersonal menyatakan
bahwa orang yang mengalami psikosis akan menghasilkan hubungan
orang tua anak yang penuh akan kecemasan.
c. Teori psikodinamik
Ego menjadi lebih lemah karena penggunaan mekanisme
pertahanan ego pada waktu kecemasan yang ekstrim menjadi suatu yang
maladaptif dan perilakunya sering kali merupakan penampilan dan
segmen id dalam kepribadian.
C. Faktor Presipitasi
a. Biologis
Stressor biologis yang berhubungan dengan neurobiologis yang
maladaptif termasuk gangguan dalam putaran umpan balik otak yang
mengatur perubahan isi informasi dan abnormalitas pada mekanisme
pintu masuk dalam otak yang mengakibatkan ketidakmampuan untuk
secara selektif menanggapi rangsangan (Slametiningsih et al., 2019).
b. Stres lingkungan
Lingkungan secara biologis menetapkan ambang toleransi terhadap
stres yang berinterasksi dengan stressor lingkungan untuk menentukan
terjadinya gangguan prilaku (Slametiningsih et al., 2019).
c. Pemicu gejala
Pemicu yang biasanya terdapat pada respon neurobiologis yang
maladaptif berhubungan dengan kesehatan lingkungan, sikap dan
prilaku individu, seperti : gizi buruk, kurang tidur, infeksi, keletihan,
rasa bermusuhan atau lingkungan yang penuh kritik, masalah
perumahan, kelainan terhadap penampilan, stres gangguan dalam
berhubungan interpersonal, kesepian, tekanan, pekerjaan, kemiskinan,
keputusasaan dan sebagainya (Slametiningsih et al., 2019).
D. Tanda dan gejala
Beberapa tanda dan gejala umum pada pasien waham yaitu (Kemenkes RI,
2021):
Klien mengungkapkan sesuatu yang diyakininya (tentang agama,
kebesaran, kecurigaan, keadaan dirinya) berulang kali secara
berlebihan tetapi tidak sesuai kenyataan.
Meyakini memiliki kebesaran/ kekuasaan khusus yang diucapkan
berulangkali tetapi tidak sesuai kenyataan.
Meyakini ada seseorang/ kelompok yang berusaha mencederai
dirinya yang diucapkan berulangkali tetapi tidak sesuai kenyataan.
Klien tampak tidak mempunyai orang lain
Curiga, bermusuhan, merusak diri sendiri, orang lain dan
lingkungan, takut dan sangat waspada, tidak tepat menilai
lingkungan/realitas, ekspresi wajah tegang, mudah tersingung
4. Dasar Penetapan Masalah Klien
a. Pohon masalah (Pathway/psikopatologi)
(Natasya et al., 2021)
b. Masalah keperawatan dan data yang perlu dikaji
Data yang Perlu Dikaji
1) Resiko tinggi mencederai diri, orang lain dan lingkungan
a) Data subjektif: Klien memberi kata-kata ancaman, mengatakan benci dan
kesal pada seseorang, klien suka membentak dan menyerang orang yang
mengusiknya jika sedang kesal, atau marah, melukai / merusak barang-barang
dan tidak mampu mengendalikan diri.
b) Data objektif: Mata merah, wajah agak merah, nada suara tinggi dank eras,
bicara menguasai, ekspresi marah, pandangan tajam, merusak dan melempar
barang-barang.
2) Kerusakan komunikasi : verbal
a) Data subjektif: Klien mengungkapkan sesuatu yang tidak realistik
b) Data objektif: Flight of ideas, kehilangan asosiasi, pengulangan kata-kata
yang didengar dan kontak mata kurang
3) Perubahan isi pikir : waham
a) Data subjektif : Klien mengungkapkan sesuatu yang diyakininya ( tentang
agama, kebesaran, kecurigaan, keadaandirinya) berulang kali secara berlebihan
tetapi tidak sesuai kenyataan.
b) Data objektif : Klien tampak tidak mempunyai orang lain, curiga,
bermusuhan, merusak (diri, orang lain, lingkungan), takut, kadangpanik, sanga
waspada, tidak tepat menilail ingkungan / realitas, ekspresi wajah klien tegang,
mudah tersinggung
4) Gangguan harga diri rendah
a) Data subjektif: Klien mengatakan saya tidak mampu, tidak bisa, tidak tahu
apa-apa, bodoh, mengkritik diri sendiri, mengungkapkan perasaan malu
terhadap diri sendiri
b) Data objektif: Klien terlihat lebih suka sendiri, bingung bila disuruh memilih
alternatif tindakan, ingin mencedaerai diri/ ingin mengakhiri hidup
3. Diagnosa keperawatan
a. Resiko tinggi mencederai diri, orang lain dan lingkungan
b. Kerusakan komunikasi : verbal
c. Perubahan isi pikir : waham
4. Rencana tindakan keperawatan
No Diagnosa Perencanaan: Tujuan & Intervensi
Keperawatan Kriteria Hasil
1 Gangguan TUM: Pasien dapat berpikir Bina hubungan saling
Proses Pikir: sesuai realita. Setelah percaya dengan
Waham diberikan asuhan komunikasi terapeutik: -
keperawatan selama … x … Beri salam - Perkenalkan
menit, pasien diharapkan: - diri, tanyakan nama
Mau menerima kehadiran panggilan yang disukai -
perawat - Mengatakan mau Jelaskan tujuan interaksi
menerima bantuan perawat - - Yakinkan pasien dalam
Tidak menunjukkan tanda- keadaan aman - Jamin
tanda curiga - Mengijinkan kerahasiaan pasien -
duduk di samping Tunjukkan sikap terbuka
& jujur - Perhatikan
kebutuhan dasar pasien
2 Gangguan TUK 2: Pasien dapat Bantu pasien
Proses Pikir: mengidentifikasi stressor mengidentifikasi
Waham atau pencetus wahamnya. kebutuhan yang tidak
Setelah diberikan asuhan terpenuhi: - Diskusikan
keperawatan selama … x … kejadian traumatis yang
menit, pasien diharapkan: - menimbulkan rasa takut,
Dapat menyebutkan ansietas, atau perasaan
kejadian-kejadian sesuai tidak dihargai -
urutan waktu - Diskusikan dengan
Menghubungkan kejadian pasien cara mengatasi
traumatis/kebutuhan tidak kejadian traumatis -
terpenuhi dengan wahamnya Diskusikan hubungan
kejadian dengan waham
pasien
3 Gangguan TUK 3: Pasien dapat Diskusikan pengalaman
Proses Pikir: mengidentifikasi wahamnya. waham pasien tanpa
Waham Setelah diberikan asuhan berargumentasi: -
keperawatan selama … x … Nyatakan keraguan
menit, pasien diharapkan perawat terhadap
dapat membedakan pernyataan pasien -
pengalaman nyata dengan Diskusikan frekuensi,
wahamnya intensitas, dan durasi
waham pasien - Bantu
pasien membedakan
situasi nyata dengan
persepsi yang salah
4 Gangguan TUK 4: Pasien dapat Diskusikan hobi atau
Proses Pikir: melakukan teknik distraksi. aktivitas yang disukai: -
Waham Setelah diberikan asuhan Anjurkan pasien memilih
keperawatan selama … x … aktivitas yang
menit, pasien diharapkan membutuhkan perhatian
dapat melakukan aktivitas fisik - Libatkan pasien
konstruktif sesuai minatnya dalam aktivitas orientasi
realita - Bicara dengan
pasien tentang topik
nyata - Beri penghargaan
atas upaya positif pasien
5 Gangguan TUK 5: Pasien dapat Diskusikan dengan
Proses Pikir: memanfaatkan obat dengan pasien tentang manfaat
Waham baik. Setelah diberikan dan risiko penggunaan
asuhan keperawatan selama obat: - Pantau
… x … menit, pasien penggunaan obat dan
diharapkan: - Menyebutkan beri pujian jika
manfaat minum obat - dilakukan dengan benar -
Memahami konsekuensi Diskusikan akibat
tidak minum obat - berhenti minum obat
Mengenali dosis, efek tanpa konsultasi dengan
terapi, dan efek samping dokter - Anjurkan pasien
obat berkonsultasi jika terjadi
efek samping obat
DAFTAR PUSTAKA
Kemenkes RI. (2021). Waham.
[Link]
Natasya, M., Akademik, P., Klinik, P., Ners, P. S., Yarsi, S., & Bukittinggi, S.
(2021). Asuhan keperawatan jiwa waham. 1–17.
Slametiningsih, Yunitri, N., Nuraenah, & Hendra. (2019). Buku Ajar Kep Jiwa
Gangguan Penelitian. Bukuajar, KEPJIWA, 1–91.
[Link] AJAR KEP JIWA
GANGGUAN PENELITIAN [Link]