BAB 1
RESISTOR
1.1 Uraian Umum
Resistor adalah komponen elektronika yang berfungsi untuk
menghambat atau membatasi aliran listrik yang mengalir dalam suatu
rangkaian elektronika. Resistor termasuk komponen pasif pada
rangkaian elektronika. Sebagaimana fungsi resistor yang sesuai
namanya bersifat resistif dan termasuk salah satu komponen elektronika
dalam kategori komponen pasif. Satuan atau nilai resistansi suatu
resistor di sebut Ohm dan dilambangkan dengan simbol Omega (Ω).
Hukum Ohm menyatakan bahwa resistansi berbanding terbalik dengan
jumlah arus yang mengalir melaluinya. Selain nilai resistansi (Ohm),
resistor juga memiliki nilai yang lain seperti nilai toleransi dan
kapasitas daya yang mampu dilewatkannya. Semua nilai yang berkaitan
dengan resistor tersebut penting untuk diketahui dalam perancangan
suatu rangkaian elektronika oleh karena itu pabrikan resistor selalu
mencantumkan dalam kemasan resistor tersebut.
Berikut adalah simbol resistor dalam bentuk gambar yang
sering digunakan dalam suatu desain rangkaian elektronika.
1
Gambar 1.1 Simbol Resistor
Resistor dalam suatu teori dan penulisan formula yang
berhubungan dengan resistor disimbolkan dengan huruf “R”. Kemudian
pada desain skema elektronika resistor tetap disimbolkan dengan huruf
“R”, resistor variabel disimbolkan dengan huruf “VR” dan untuk
resistor jenis potensiometer ada yang disimbolkan dengan huruf “VR”
dan “POT”.
Kapasitas daya pada resistor merupakan nilai daya maksimum
yang mampu dilewatkan oleh resistor tersebut. Nilai kapasitas daya
resistor ini dapat dikenali dari ukuran fisik resistor dan tulisan kapasitas
daya dalam satuan Watt untuk resistor dengan kemasan fisik besar.
Menentukan kapasitas daya resistor ini penting dilakukan untuk
menghindari resistor rusak karena terjadi kelebihan daya yang mengalir
sehingga resistor terbakar dan sebagai bentuk efisiensi biaya dan tempat
dalam pembuatan rangkaian elektronika.
Toleransi resistor merupakan perubahan nilai resistansi dari
nilai yang tercantum pada badan resistor yang masih diperbolehkan dan
2
dinyatakan resistor dalam kondisi baik. Toleransi resistor merupakan
salah satu perubahan karakteristik resistor yang terjadi akibat
operasional resistor tersebut. Nilai toleransi resistor ini ada beberapa
macam yaitu resistor dengan toleransi kesalahan 1% (resistor 1%),
resistor dengan toleransi kesalahan 2% (resistor2%), resistor dengan
toleransi kesalahan 5% (resistor 5%) dan resistor dengan toleransi 10%
(resistor 10%).
Nilai toleransi resistor ini selalu dicantumkan di kemasan
resistor dengan kode warna maupun kode huruf. Sebagai contoh
resistor dengan toleransi 5% maka dituliskan dengan kode warna pada
cincin ke 4 warna emas. Resistor yang banyak dijual dipasaran pada
umumnya resistor 5% dan resistor 1%.
1.2 Jenis-Jenis Resistor
Berdasarkan jenis dan bahan yang digunakan untuk membuat
resistor dibedakan menjadi resistor kawat, resistor arang dan resistor
oksida logam atau resistor metal film.
1. Resistor Kawat (Wirewound Resistor)
Gambar 1.2 Resistor Kawat (Wirewound Resistor)
Resistor kawat atau wirewound resistor merupakan resistor
yang dibuat dengan bahan kawat yang dililitkan. Sehingga nilai
resistansi resistor ditentukan dari panjangnya kawat yang dililitkan.
Resistor jenis ini pada umumnya dibuat dengan kapasitas daya yang
besar.
3
2. Resistor Arang (Carbon Resistor)
Gambar 1.3 Resistor Arang (Carbon Resistor)
Resistor arang atau resistor karbon merupakan resistor yang
dibuat dengan bahan utama batang arang atau karbon. Resistor karbon
ini merupakan resistor yang banyak digunakan dan banyak diperjual
belikan. Dipasaran resistor jenis ini dapat kita jumpai dengan kapasitas
daya 1/16 Watt, 1/8 Watt, 1/4 Watt, 1/2 Watt, 1 Watt, 2 Watt dan 3
Watt.
3. Resistor Oksida Logam (Metal Film Resistor)
Gambar 1.4 Resistor Oksida Logam (Metal Film Resistor)
Resistor oksida logam atau lebih dikenal dengan nama resistor
metal film merupakan resistor yang dibuat dengan bahan utama oksida
logam yang memiliki karakteristik lebih baik. Resistor metal film ini
dapat ditemui dengan nilai toleransi 1% dan 2%. Bentuk fisik resistor
4
metal film ini mirip dengan resistor kabon hanya beda warna dan
jumlah cicin warna yang digunakan dalam penilaian resistor tersebut.
Sama seperti resistor karbon, resistor metal film ini juga diproduksi
dalam beberapa kapasitas daya yaitu 1/8 Watt, 1/4 Watt, 1/2 Watt.
Resistor metal film ini banyak digunakan untuk keperluan pengukuran,
perangkat industri dan perangkat militer.
Kemudian berdasarkan nilai resistansinya, resistor dibedakan
menjadi empat yaitu :
1. Resistor tetap (Fixed Resistor)
Fixed Resistor adalah jenis Resistor yang memiliki nilai
resistansinya tetap. Nilai Resistansi atau Hambatan Resistor
ini biasanya ditandai dengan kode warna ataupun kode
Angka. Cara Menghitung Nilai Resistor berdasarkan kode
angka dan kode warna.
Contoh:
Contoh resistor SMD dengan kode 473,
maka nilai resistor tersebut adalah:
47 x 103 ohm = 47.000 ohm
= 47 K Ω
Selain dari resistor Surface Mount Device (SMD), juga
terdapat jenis resistor fixed lainnya seperti pada gambar 1.5
berikut:
Bentuk dan simbol resistor tetap (fixed resistor)
Gambar 1.5 Resistor tetap (fixed resistor)
5
2. Resistor Tidak Tetap (Variable Resistor).
Variable Resistor adalah jenis Resistor yang nilai
resistansinya dapat berubah dan diatur sesuai dengan
keinginan. Pada umumnya Variable Resistor terbagi
menjadi Potensiometer, Rheostat dan Trimpot.
Gambar 1.6 Bentuk dan simbol resistor tidak tetap
(variable resistor)
Potensiometer merupakan jenis Variable Resistor yang nilai
resistansinya dapat berubah-ubah dengan cara memutar
porosnya melalui sebuah tuas yang terdapat pada
potensiometer. Nilai Resistansi potensiometer biasanya
tertulis di badan potensiometer dalam bentuk kode angka.
Sebuah potensiometer memiliki 3 buah terminal (kaki),
seperti tampak pada gambar 1.7. Kaki A dan B adalah
sebuah resistor tetap sedangkan kaki W (kaki tengah)
memiliki kontak yang dapat bergeser sepanjang hambatan
A dan B, sehingga bila kontak digeser maka hambatan A-
W dan W-B akan berubah.
Gambar 1.7 Posisi Kaki Potensiometer
6
Rheostat merupakan jenis Variable Resistor yang dapat
beroperasi pada tegangan dan arus yang tinggi. Rheostat
(hambatan geser) merupakan resistor variabel yang
didesain untuk menangani arus dan tegangan yang tinggi.
Preset Resistor atau sering juga disebut dengan Trimpot
(Trimmer Potensiometer) adalah jenis Variable Resistor
yang berfungsi seperti Potensiometer tetapi memiliki
ukuran yang lebih kecil dan tidak memiliki tuas. Untuk
mengatur nilai resistansinya, dibutuhkan alat bantu seperti
obeng kecil untuk dapat memutar porosnya. Trimer
Potensiometer (trimpot) merupakan potensiometer yang
hanya bisa diubah nilai hambatannya dengan menggunakan
sebuah obeng untuk memutar kontaknya. Berikut lambang
dan gambar trimpot.
Gambar 1.8 Lambang dan Gambar Trimpot
3. Thermistor (Thermal Resistor)
Termistor merupakan gabungan antara kata Termo (suhu)
dan resistor (pengukur tahanan). Termistor di temukan oleh
Samuel Ruben pada tahun 1930. Thermistor adalah Jenis
Resistor yang nilai resistansinya dapat dipengaruhi oleh
suhu (Temperature). Thermistor merupakan Singkatan dari
“Thermal Resistor”. Terdapat dua jenis Thermistor yaitu
Thermistor NTC (Negative Temperature Coefficient) dan
Thermistor PTC (Positive Temperature Coefficient).
7
Termistor sering digunakan sebagai sensor panas atau dapat
juga digunakan untuk menjaga suhu suatu rangkaian atau
alat supaya tetap stabil.
Gambar 1.9 Bentuk dan simbol resistor themistor
Termistor yang peka terhadap panas yang biasanya
mempunyai koefisien suhu negatif, karena saat suhu
meningkat maka tahanan menurun atau sebaliknya. Jenis
ini sangat peka dengan perubahan suhu yang kecil. Fungsi
utamanya untuk mengubah nilai resitansi karena adanya
temperatur dalam rangkaian tersebut.
NTC (Negative Temperature Coefficient) dan PTC
(Positive Temperature Coefficient) merupakan resistor
yang nilai resistansinya berubah jika terjadi perubahan
temperatur di sekelilingnya. Untuk NTC, nilai resistansi
akan naik jika temperatur sekelilingnya turun. Sedangkan,
nilai resistansi PTC akan naik jika temperatur sekelilingnya
naik. Kedua komponen ini sering digunakan sebagai sensor
untuk mengukur suhu atau temperatur daerah di
sekelilingnya.
Kelebihan Thermistor
- Level perubahan output yang tinggi
- Respon terhadap perubahan suhu yang cepat
- Perubahan resistansi pada kedua terminal (pin)
8
Kekurangan Termistor
- Tidak linier
- Range pengukuran suhu yang sempit
- Rentan rusak
- Memerlukan supply daya
- Mengalami self heating
Thermistor terbagi 2 jenis yaitu :
1. Thermistor positif
Pada jenis ini satuan pada inputnya temperatur derajat
celcius, sedangkan pada outputnya resistansi adalah
ohm
2. Thermistor negatif
Pada jenis ini input dan outputnya sama dengan
thermistor jenis positif, perbedaannya adalah jika
temperatur naik maka resistansinya akan turun.
Thermistor dibuat dari bahan semikonduktor. Cara
kerja Thermistor yaitu ketika suhu meningkat maka
resistansi Thermistor akan menurun. Hal ini karena
Thermistor terbuat dari bahan semikonduktor yang
mempunyai sifat menghantarkan elektron ketika suhu naik.
Thermistor yang paling sering digunakan untuk pengukuran
suhu adalah Thermistor dua kawat meskipun banyak jenis
Thermistor lainnya.
Mengukur thermistor menggunakan multimeter
digital maupun menggunakan multimeter analog, dilakukan
pada posisi kilo ohm, jika Thermistor tidak mempunyai
tahanan artinya rusak. Nilai Termistor harus stabil pada
suhu kamar dan menurun ketika ujung termistor ketika
dipanaskan. Setiap penambahan derajat Thermistor
mempunyai perubahan hambatan sangat besar. Ketika
Thermistor dihubungkan ke kontroler adalah cara terbaik
untuk mengukurnya. Pada mode VDC pasang kabel
multimeter di kabel Thermistor. Bila terukur tegangan 5
volt maka artinya tidak ada hubungan atau tahanan pada
Thermistor, jika tegangan 0 volt maka Thermistor short.
Namun jika pada suhu ruangan 25 derajat maka Thermistor
9
harus mendapat tegangan sebesar 2,5 volt. Namun ada pula
pendingin ruangan yang controllernya menggunakan
tegangan 3,3 volt ketika thermistor memutuskan arus dan
tegangan 1,7 volt ketika suhu ruangan 25 derajat.
Contoh sensor suhu yang termasuk termistor
adalah NTC (Negative Temperature Coefficient). NTC
merupakan sensor yang mengubah besaran suhu menjadi
hambatan. NTC dibuat dari campuran bahan
semikonduktor yang dapat menghasilkan hambatan
intrinsik yang akan berubah terhadap temperatur.
Adapun Karakteristik Termistor :
- Resistansi tinggi 1 kilo ohm sampai 100 kilo ohm.
- Ukuran fisik (disk, manik-manik, batang kecil).
- Manik kecil (small bead diameternya 0,005 inchi)
- Respon waktu cepat, untuk thermistor manik ½ detik.
- Lebih murah dari pada RTD (Resistance Temperature
Detector).
- Sensitivitas sangat tinggi ( 1000 kali lebih sensitif dari
pada RTD ).
- Perubahan resistansi 10% per nol derajat celsius. Misal
resistansi nominal 10 kilo Ohm.
- Resistansi akan berubah 1kOhm untuk setiap
perubahan temperatur satu derajat celcius.
- Tidak sensitif terhadap shock vibrasi.
- Thermistor dilindungi kapsul ( Plastik, teflon/ material
lembam).
- Memperlambat waktu respon karena kontak termal
kurang baik.
Bentuk Fisik Thermistor
a. Butiran
Thermistor ini digunakan pada > 7000 celsius dan
memiliki nilai resistansi 100 ohm hingga 1 mega ohm.
b. Thermistor keping
Thermistor ini digunakan dengan cara direkatkan
langsung pada benda yang diukur panasnya.
10
c. Thermistor batang
digunakan untuk menentukan perubahan panas pada
peralatan elektronik, mempunyai resistansi tinggi dan
disipasi dayanya sedang.
Pemakaian thermistor didasarkan pada 3 karakteristik
dasar:
a. Karakteristik R ( resistansi ) terhadap T (suhu )
b. Karakteristik R ( resistansi ) terhadap t (waktu)
c. Karakteristik V ( tegangan) terhadap I ( arus )
Termistor sangat menguntungkan untuk mengukur
temperatur, karena disamping harganya yang murah,
termistor memiliki resolusi tinggi dan memiliki ukuran dan
bentuk yang fleksibel. Nilai mutlak dari hambatannya
sangat tinggi, jadi untuk kabel yang panjang dan hambatan
konstan bisa ditoleransi. Tanggapan yang lambat (1ms
sampai 10s) bukan hal yang merugikan untuk aplikasi
umum. Adapun aplikasi thermistor adalah sebagai berikut :
1) Pendeteksi dan pengontrol temperatur.
Termistor-termistor disediakan sangat murah dan dapat
diandalkan sebagai sensor temperatur yang memiliki
rentang yang lebar. Kadang-kadang termistor
merupakan bagian dari osilator dan frekuensi
keluarannya menjadi fungsi temperatur.
2) Kompensasi.
Sebagian besar resistor sebagai penghubung pada PTC.
Termistor dihubungkan paralel dengan NTC yang
komponen-komponennya bisa dinonaktifkan dengan
bantuan temperatur.
3) Seperti pada relay temperatur dan saklar.
Kegunaan pada efek-efek terhadap pemanasan. Sebagai
contoh, pengkarakteristikan dengan NTC bisa
digunakan untuk mengatur tegangan dan pada
penundaan waktu dalam rangkaian.
Pengkarakterisasian dengan PTC digunakan untuk
memproteksi gelombang.
11
4) Pengukuran yang tidak langsung pada parameter-
parameter lain. Ketika termistor mengalami pemanasan
atau ketika thermistor berada dekat dengan sumber
kalor, termistor akan menilai perubahan yang
bergantung pada temperatur yang dilingkupinya. Disini
bisa dipakai untuk mengatur tingkat pencairan, aliran
gas, tingkat pemvakuman dan lain sebagainya.
5) Detektor gelombang yang memiliki panjang gelombang
yang lebar. Aplikasi termistor pada fhoto detektor
panjang gelombang dihasilkan pada salah satu detektor
suhu yang disebut dengan termistor bolometer.
Bolometer adalah alat untuk mengukur energi radiasi
atau sinar elektromagnet, biasa digunakan dalam
militer sebagai detektor pada kamera pencitra panas.
Bolometer biasa dikenal dan banyak dipakai publik
sebagai sensor infra merah. Prinsip kerja bolometer
adalah dengan mengukur nilai pertambahan dari nilai
tahanan akibat pemanasan dari penyinaran.
Thermistor berfungsi sebagai alat pengatur
temperatur atau suhu dalam ruangan dengan sehingga
termistor ini dapat mengatur kerja kompresor secara
otomatis berdasarkan setting temperatur pada Remote AC,
jika setting pada remote AC di settting 250 C dan kemudian
suhu di dalam ruangan sudah terpenuhi mencapai 250 C
maka dengan sendirinya termistor ini mengirim sinyal pada
komponen PCB Indoor untuk memutus hubungan arus ke
kompresor begitupun sebaliknya jika temperatur mulai naik
maka termistor ini akan memerintah kompresor bekerja
kembali, ukuran termis ini sangat kecil kira-kira 3.5mm.
Prinsip dasar dari termistor ini adalah merubah nilai
tahanan jika suhu atau temperatur mengenai termistor.
Pada Unit AC terdapat dua jenis termistor yaitu
termistor temperatur ruangan yang berfungsi menerima
sinyal perubahan temperatur dari hembusan evaporator, dan
termistor Pipa evaporator, yang berfungsi menerima
perubahan temperatur pada pipa AC. Sering dijumpai pada
merk-merk AC tertentu yang rusak pada bagian ini,
12
kerusakan yang timbul pada alat termistor ini sudah dapat
di kenali secara visual yaitu pada display led kontrol indoor
selalu berkedip-kedip atau bisa juga diperbaiki dengan
mengamplas termistor pipa, tapi tetap tidak bertahan lama
dan kalau display led masih berkedip-kedip maka termistor
harus diganti dengan yang baru yang sesuai dengan
ukurannya (socketnya) karena pada beberapa merk AC,
termistor ini mempunyai socket yang berbeda-beda.
4. LDR (Light Dependent Resistor)
LDR atau Light Dependent Resistor adalah jenis resistor
yang nilai Resistansinya dipengaruhi oleh intensitas cahaya
yang diterimanya.
Gambar 1.10 Bentuk dan simbol LDR (Light Dependent
Resistor)
Karakteristik LDR terdiri dari dua macam, yaitu Laju Recovery dan
Respon Spektral.
1. Laju Recovery
Bila sebuah LDR dibawa dari suatu ruangan dengan level kekuatan
cahaya tertentu kedalam suatu ruangan yang gelap, maka bisa kita
amati bahwa nilai resistansi dari LDR tidak akan segera berubah
resistansinya pada keadaan ruangan gelap tersebut. Namun LDR
tersebut hanya akan bisa mencapai harga dikegelapan setelah
mengalami selang waktu tertentu. Laju recovery merupakan suatu
ukuran praktis dan suatu kenaikan nilai resistansi dalam waktu tertentu.
Harga ini ditulis dalam K/detik, untuk LDR tipe arus harganya lebih
13
besar dari 200 K/detik (selama 20 menit pertama mulai dari level
cahaya 100 lux), kecepatan tersebut akan lebih tinggi pada arah
sebaliknya, yaitu pindah dari tempat gelap ke tempat terang yang
memerlukan waktu kurang dari 10 ms untuk mencapai resistansi yang
sesuai dengan level cahaya 400 lux.
2. Respon Spektral
LDR tidak mempunyai sensitivitas yang sama untuk setiap
panjang gelombang cahaya yang jatuh padanya (yaitu warna). Bahan
yang biasa digunakan sebagai penghantar arus listrik yaitu tembaga,
alumunium, baja, emas, dan perak. Dari kelima bahan tersebut tembaga
merupakan penghantar yang paling banyak digunakan karena
mempunyai daya hantar yang baik.
Pada keadaan gelap tanpa cahaya sama sekali, LDR memiliki
nilai resistansi yang besar (sekitar beberapa Mega ohm). Nilai
resistansinya ini akan semakin kecil jika cahaya yang jatuh ke
permukaannya semakin terang. Pada keadaan terang benderang (siang
hari) nilai resistansinya dapat mengecil, lebih kecil dari 1 kilo ohm.
Dengan sifat LDR yang demikian maka LDR biasa digunakan sebagai
sensor cahaya. Contoh penggunaannya adalah pada lampu taman dan
lampu di jalan yang bisa menyala di malam hari dan padam di siang
hari secara otomatis.
1.3 Hubungan antara Arus, Tegangan dan Hambatan
Suatu rangkaian listrik terdapat hubungan erat antara arus,
tegangan dan tahanan. Hubungan ini telah dibuktikan dengan
percobaan-percobaan oleh seorang ilmuan yang bernama ohm.
Hubungan antara arus, tegangan dan hambatan disebut dengan Hukum
Ohm, yang berbunyi sebagai berikut : “besar arus dalam suatu
rangkaian adalah berbanding lurus dengan beda tegangan dan
berbanding terbalik dengan tahanan” bila dibuat rumusnya maka akan
ditampilkan sebagai berikut :
I = kuat arus, satuannya amper (A)
V=tegangan, satuannya volt (V)
R=tahanan, satuannya ohm (Ω)
14
Di atas adalah rumus bunyi hukum ohm tentang arus. Menurut
hukum ohm tentang tegangan adalah : “ Besarnya tegangan listrik
sebanding dengan kuat arus dan tahanan”, bila ditulis dalam persamaan
adalah sebagai berikut :
V=IxR
Dan rumus berikutnya adalah tentang :” Besarnya tahanan
berbanding lurus dengan tegangan dan berbanding terbalik dengan arus
listrik”, bila ditulis dalam persamaan adalah sebagai berikut :
Untuk mengetahui besarnya daya maksimum yang bisa bekerja pada
resistor tersebut maka perhitungan daya yang harus dilakukan sebagai
berikut :
P = daya, satuannya Watt (W)
I = kuat arus, satuannya amper (A)
V = tegangan, satuannya volt (V)
R = tahanan, satuannya ohm (Ω)
1.4 Cara Mengetahui Nilai Resistor
1.4.1 Cara Mengetahui Nilai Resistor dengan Perhitungan
Setiap tahanan atau resistor biasanya sudah tertentu nilai
ohmnya, ada yang sudah tertera pada body resistor tersebut dan ada
pula dengan kode warna. Jika yang tertera pada body resistor maka itu
ada pada resistor tidak tetap (variable resistor), thermistor dan LDR.
Jika pada resistor tetap, penentuan nilai resistor terletak pada kode
warna yang ada pada resistor tersebut.
Berikut ini akan dijelaskan cara mengetahui nilai resistor tetap
berdasarkan kode warna. Resistor ini mempunyai bentuk seperti tabung
dengan dua kaki di kiri dan kanan. Pada badannya terdapat lingkaran
membentuk cincin kode warna, kode ini untuk mengetahui besar
resistansi tanpa harus mengukur besarnya dengan ohm meter. Kode
warna tersebut adalah standar manufaktur yang dikeluarkan oleh EIA
(Electronic Industries Association).
15
Gambar 1.11 Nilai Resistor berdasarkan Kode Warna
16
Tabel 1.1 Nilai Warna Pada Resistor
Besaran resistansi suatu resistor dibaca dari posisi cincin yang
paling depan ke arah cincin toleransi. Biasanya posisi cincin toleransi
ini berada pada badan resistor yang paling pojok atau juga dengan lebar
yang lebih menonjol, sedangkan posisi cincin yang pertama agak
sedikit ke dalam. Dengan demikian pemakai sudah langsung
mengetahui berapa toleransi dari resistor tersebut.
Kalau kita telah bisa menentukan mana cincin yang pertama
selanjutnya adalah membaca nilai resistansinya. Jumlah cincin yang
melingkar pada resistor umumnya sesuai dengan besar toleransinya.
Biasanya resistor dengan toleransi 5%, 10% atau 20% memiliki 3
cincin (tidak termasuk cincin toleransi). Tetapi resistor dengan toleransi
1% atau 2% (toleransi kecil) memiliki 4 cincin (tidak termasuk cincin
toleransi). Cincin pertama dan seterusnya berturut-turut menunjukkan
besar nilai satuan, dan cincin terakhir adalah faktor pengalinya.
Misalnya resistor dengan cincin kuning, violet, merah dan
emas. Cincin berwarna emas adalah cincin toleransi. Dengan demikian
urutan warna cincin resistor ini adalah, cincin pertama berwarna
kuning, cincin kedua berwarna violet dan cincin ke tiga berwarna
17
merah. Cincin ke empat yang berwarna emas adalah cincin toleransi.
Dari tabel 1.1 diketahui jika cincin toleransi berwarna emas, berarti
resistor ini memiliki toleransi 5%. Nilai resistansinya dihitung sesuai
dengan urutan warnanya. Pertama yang dilakukan adalah menentukan
nilai satuan dari resistor ini. Karena resistor ini resistor 5% (yang
biasanya memiliki tiga cincin selain cincin toleransi), maka nilai
satuannya ditentukan oleh cincin pertama dan cincin kedua.
Jika dilihat pada tabel 1.1, diketahui cincin kuning nilainya = 4
dan cincin violet nilainya = 7. Jadi cincin pertama dan kedua atau
kuning dan violet berurutan, nilai satuannya adalah 47. Cincin ketiga
adalah faktor pengali, dan jika warna cincinnya merah berarti faktor
pengalinya adalah 100. Sehingga dengan ini diketahui nilai resistansi
resistor tersebut adalah nilai satuan faktor pengali atau 47 x 100 =
4700 Ohm = 4,7 kilo ohm (pada rangkaian elektronika biasanya ditulis
4K7 Ohm) dan toleransinya adalah + 5%. Arti dari toleransi itu sendiri
adalah batasan nilai resistansi minimum dan maksimum yang di miliki
oleh resistor tersebut. Jadi nilai sebenarnya dari resistor 4,7k Ohm + 5%
adalah :4700 x 5% = 235 ohm. Jadi nilai maksimum pada resistor
tersebut adalah 4700 + 235 = 4935 Ohm. Sedangkan minimum pada
resistor tersebut adalah 4700 – 235 = 4465 Ohm.
Warna Resistor disamping:
Kuning-ungu-merah-emas maka nilai resistor
adalah: 47 x 102 ohm = 4700 ohm
= 4K7 ohm
Dengan Toleransi 5%
Apabila resistor di atas di ukur dengan menggunakan ohm
meter dan nilainya berada pada rentang nilai maksimum dan minimum
(4465 s/d 4935) maka resistor tadi masih memenuhi standar. Nilai
toleransi ini diberikan oleh pabrik pembuat resistor untuk
mengantisipasi karakteristik bahan yang tidak sama antara satu resistor
dengan resistor yang lainnya sehingga para desainer elektronika dapat
memperkirakan faktor toleransi tersebut dalam rancangannya.
Semakin kecil nilai toleransinya, semakin baik kualitas
resistornya. Sehingga dipasaran resistor yang mempunyai nilai toleransi
18
1% (contohnya : resistor metal film) jauh lebih mahal dibandingkan
resistor yang mempunyai toleransi 5% (resistor carbon)
Spesifikasi lain yang perlu diperhatikan dalam memilih
resistor pada suatu rancangan selain besar resistansi adalah besar
wattnya atau daya maksimum yang mampu ditahan oleh resistor.
Karena resistor bekerja dengan dialiri arus listrik, maka akan terjadi
disipasi daya berupa panas sebesar :
Semakin besar ukuran fisik suatu resistor, bisa menunjukkan
semakin besar kemampuan disipasi daya resistor tersebut. Umumnya di
pasar tersedia ukuran 1/8, 1/4, 1/2, 1, 2, 5, 10 dan 20 watt. Resistor
yang memiliki disipasi daya maksimum 5, 10 dan 20 watt umumnya
berbentuk balok memanjang persegi empat berwarna putih, namun ada
juga yang berbentuk silinder dan biasanya untuk resistor ukuran besar
ini nilai resistansi di cetak langsung dibadannya tidak berbentuk cincin-
cincin warna melainkan langsung tertera pada body resistor tersebut,
misalnya 100Ω5W atau 1KΩ10W.
1.4.2 Cara Mengukur Nilai Resistor dengan Pengukuran
Menggunakan Multimeter
Bagian yang paling penting dalam pembacaan tahanan menggunakan
multimeter adalah :
1. Pengaturan pengali pada knop multimeter
2. Kalibrasi
3. Pembacaan skala
Adapun langkah pengukuran adalah sebagai berikut :
1. Siapkan multimeter.
2. Tancapkan probe merah pada terminal + dan probe hitam pada
terminal – (com). Pada saat pemasangan probe pastikan dan
biasakan warna probe sesuai dengan terminalnya, meskipun
sebenarnya tidak akan mempengaruhi pengukuran atau
membahayakan alat ukur itu sendiri.
3. Baca besar resistor berdasarkan gelang warnanya. Hal ini
dilakukan untuk menentukan pemilihan pengali pada knop
multimeter.
19
4. Pilih pengali dengan mengarahkan knop multimeter pada pengali
tahanan. Pemilihan pengali disesuaikan dengan besar tahanan
yang akan diukur.
5. Lakukan kalibrasi alat ukur. Perlu diingat bahwasanya kalibrasi
dilakukan setiap kali kita mengganti besar pengalinya. Adapun
langkah kalibrasi akan dijelaskan pada bagian contoh
pengukuran.
6. Lakukan pembacaan skala. Perlu diingat bahwa dalam
pembacaan skala pada multimeter cari garis skala yang memiliki
penunjuk angka nol di sebelah kanan. Biasanya garis skala
pengukuran tahanan berwarna hijau dan ditandai dengan simbol
Ω.
Contoh pengukuran :
Ukur tahanan resistor di bawah ini
Gambar 1.12 Resistor dengan gelang warna
Langkah pengukuran :
Siapkan multimeter dan tancapkan probe merah pada terminal positif
(+) dan probe hitam pada terminal negatif (-)
Gambar 1.13 Cara Pemasangan Probe Multimeter
20
Untuk menentukan faktor pengali lakukan pembacaan tahanan
resistor berdasarkan gelang warna resistor. Karena resistor di atas
warnanya adalah orange, orange, kuning dan emas maka nilai warnanya
adalah sebagai berikut:
Tabel 1.2 Proses Pengukuran
Toleransi Toleransi
Gelang Warna Bobot Hasil
bawah atas
Gelang 1 kuning 4
Gelang 2 hijau 5 450000
ohm 427500 472500
ohm ohm
Gelang 3 Kuning 104
Gelang 4 Emas 5% 5,00%
Pemilihan pengali pada multimeter berdasarkan besar tahanan
yang telah dihitung melalui pembacaan gelang warna. Jika berdasarkan
pembacaan gelang warna resistor memiliki tahanan sebesar 450000Ω =
450KΩ. Untuk itu pengali tahanan dipilih yang x 1K.
Gambar 1.14 Pengali Multimeter
Lakukan kalibrasi dengan menyatukan ujung kedua probe
menjadi satu seperti pada gambar di bawah ini.
21
Gambar 1.15 Menghubungkan probe multimeter
Dari hasil penyatuan ujung probe diketahui bahwa jarum
penunjuk belum menunjuk pada skala nol. Untuk itu kita perlu
melakukan kalibasi, dengan memutar knop adj sampai jarum penunjuk
menunjuk skala nol.
Gambar 1.16 Putar knop sampai menunjuk angka 0
Jika kalibrasi multimeter sudah dilakukan, kita tinggal
melakukan pengukuran dengan menghubungkan kedua ujung probe
multimeter pada kedua ujung kaki resistor seperti pada gambar berikut
ini.
Gambar 1.17 Cara Pengukuran Resistor
22
Dari hasil pengukuran menunjukkan hasil :
Gambar 1.18 Membaca multimeter melalui jarum penunjuk
Berdasarkan gambar di atas hasil menunjukkan 450. Dari hasil
penunjukan tersebut kemudian dikalikan dengan pengali (1K) sehingga
hasilnya :
tahanan = 450 x 1000
= 450000
= 450K Ω
Pada pengukuran resistor dengan menggunakan multimeter
analog seperti gambar di atas tidak akan tepat pada penunjukkan 450
kilo ohm, karena adanya nilai toleransi pada resistor yang terletak pada
gelang terakhir.
Untuk penjelasan selanjutnya dan lebih detail bisa dilihat pada
tabel berikut ini.
Tabel 1.3 Hasil Pengukuran
Hasil
Toleransi Toleransi
Gelang Warna Bobot Hasil Peng Keterangan
Bawah Atas
ukuran
Gelang
Orange 3
1
Gelang 330000
Orange 3
2 ohm
3267000 333300 450000 resistor
Gelang ohm ohm ohm rusak
Kuning 104
3
Gelang
Emas 5% 5,00%
4
23
Dari tabel di atas diketahui ternyata resistor rusak. Hal ini dikarenakan
nilai hasil pengukuran tidak ada dalam rentang toleransi bawah (326700
Ω) dan toleransi atas (333300 Ω) dari hasi pengukuran melalui
pengamatan gelang warna
1.5 Cara Mengukur Resistor
1.5.1 Hubungan Seri pada Resistor
Penahan atau resistor yang disambung secara seri ialah jika
ujung kaki belakang tahanan R1 disambungkan pada ujung kaki depan
tahanan R2 dan ujung kaki belakang R2 disambungkan pada ujung kaki
depan tahanan R3 hingga seterusnya.
Ketiga rangkaian resistor tersebut dapat diganti dengan satu
resistor tanpa mengubah keadaan (baik arus maupun tegangan). Arus
yang masuk pada rangkaian seri akan melewati tahanan R1, R2, dan
R3, maka rangkaian seri memiliki arus yang sama disetiap masing-
masing tahanan. Sedangkan jumlah seluruh tegangan disetiap masing-
masing tahanan sama dengan tegangan sumber. Sesuai dengan
persamaan berikut:
Arus yang melalui disetiap tahanan adalah sama,
maka :
Dapat diperoleh:
24
Tahanan total dari rangkaian seri merupakan penjumlahan dari masing-
masing beban, dimana tahanan total :
……………….. (1.3)
Arus yang mengalir pada rangkaian seri untuk masing-masing beban
adalah sama dengan arus sumber, secara matematika arus sumber ( ):
Dimana :
…………………….. (1.5)
…………………….. (1.6)
…………………….. (1.7)
…………………….. (1.8)
Tegangan sumber pada rangkaian seri merupakan penjumlahan
tegangan yang mengalir pada masing-masing beban
Data pengukuran untuk rangkaian tiga buah resistor yang diserikan
seperti gambar 1.17 berikut ini :
R1 R2 R3
100k 2k2 47k
V1
12V
+
Gambar 1.19 Rangkaian Seri
Tabel 1. 4 Data pengukuran
Titik Data
No Data Teoritis % Kesalahan
Pengukuran Pengukuran
1 160 KΩ 162,2 KΩ 2
2 12 Volt 12 Volt 0
3 6,6 Volt 7,3 Volt 10
25
Titik Data
No Data Teoritis % Kesalahan
Pengukuran Pengukuran
4 0,145 Volt 0,160 Volt 10
5 2,25 Volt 3,431 Volt 35
6 0,075 mA 0,074 mA 2
7 0,075 mA 0,074 mA 2
8 0,075 mA 0,074 mA 2
9 0,075 mA 0,074 mA 2
Dengan membandingkan data pengukuran dengan multimeter
analog yang dilakukan dengan analis teoritis menggunakan rumus 1.3
sampai dengan rumus 1.6, terlihat kesalahan pengukuran paling kecil
adalah 2 % dan yang paling besar adalah 35%. Hal ini bisa disebabkan
human error maupun oleh alat ukur yang digunakan, akan tetapi data
pengukuran membuktikan bahwa karateristik jika beberapa tahanan
dialiri arus listrik maka akan mengasilkan data seperti persamaan 1.3
sampai 1.8
1.5.2 Hubungan Paralel pada Resistor
Tahanan atau resistor yang dihubungkan secara paralel adalah
jika semua ujung kaki depan tahanan R1, R2, dan R3 disambungkan
atau disimpulkan pada satu titik dan semua ujung kaki belakangnya
juga disambungkan atau disimpulkan pada satu titik.
Arus yang masuk pada rangkaian tersebut akan terbagi di titik
a, sebagian arus melalui R1 dan sebagiannya lagi melalui R2 serta
sebagian lagi melalui R3. Besarnya arus yang melalui tiap tahanan akan
berbeda sesuai dengan nilai tahanannya. Sedangkan beda potensialnya
atau tegangan pada tiap masing-masing tahanan adalah sama dengan
tegangan sumber.
Jika arus yang melalui tahanan R1 dinyatakan dengan I1, R2
dinyatakan dengan I2, dan R3 dinyatakan dengan I3, maka:
26
Ketiga arus tersebut berasal dari arus yang masuk pada titik a,
sehingga:
I = I1 + I2 + I3
atau,
karena V = V1 = V2 = V3 maka,
Tahanan total dari rangkaian paralel dapat ditentukan dengan
persamaan:
……………….. (1.9)
Arus yang mengalir pada rangkaian paralel untuk masing-masing beban
adalah sama secara matematika arus masuk ( ):
27
Dimana :
…………………….. (1.11)
…………………….. (1.12)
…………………….. (1.13)
…………………….. (1.14)
Tegangan sumber pada rangkaian seri merupakan penjumlahan
tegangan yang mengalir pada masing-masing beban
Data pengukuran untuk rangkaian tiga buah resistor yang diparalelkan
seperti gambar berikut adalah :
R1
100k
R2
1k
R3
22k
V1
11V
+
Tabel 1. 5 Data pengukuran
Titik Data
No Data Teoritis % Kesalahan
Pengukuran Pengukuran
1 0,60 KΩ 0,643 KΩ 7
2 11 Volt 11 Volt 0
3 6,6 Volt 7,3 Volt 10
4 0,145 Volt 0,160 Volt 10
5 2,25 Volt 3,431 Volt 35
6 0,075 mA 0,074 mA 2
7 0,05 mA 0,11 mA 55
28
Titik Data
No Data Teoritis % Kesalahan
Pengukuran Pengukuran
8 11,5 mA 11,04 mA 4
9 0,2 mA 0,24 mA 17
1.6 Fungsi Resistor
Fungsi-fungsi Resistor di dalam Rangkaian Elektronika diantaranya
adalah sebagai berikut :
1. Sebagai Pembatas Arus listrik (Current Limitter)
Sebagai analoginya dapat digambarkan sebagai berikut :
jika sebuah resistor dipasang secara paralel maka akan menjadi
pembagi arus listrik. Ini bisa diibaratkan dengan sebuah resistor
adalah sebuah bendungan dan air yang mengalir dianggap arus
listrik. Jika sebuah sungai terdapat dua bendungan yang
digunakan untuk membagi air tersebut, maka bendungan pertama
sebagai resistor 1 dan bendungan kedua sebagai resistor 2. Maka
besarnya arus air tergantung dari besar kecilnya bukaan pintu
bendungan. Semakin besar besar pintu bendungan dibuka,
semakin besar juga arus air yang akan melewati pintu bendungan
tersebut, dan jika bukaan di tiap-tiap pintu bendungan tersebut
sama besarnya maka arus air yang mengalir akan terbagi rata di
kedua pintu bendungan tersebut. Maka pembatas arus listrik
dapat ditentukan dengan besarnya resistor yang dipasang. Ini
yang dinamakan dengan current limitter.
2. Sebagai Pengatur Arus listrik
Resistor adalah komponen elektronika yang selalu
digunakan dalam setiap rangkaian elektronika karena dia
berfungsi sebagai pengatur arus listrik. Bila kita menginginkan
arus yang besar maka kita pasang resistor yang nilai resistansi
(tahanan) nya kecil, mendekati nol atau sama dengan nol atau
tidak dipasang sama sekali dengan demikian arus tidak lagi
dibatasi.
3. Sebagai Pembagi Tegangan listrik (Voltage Divide)
Fungsi yang ketiga dari resistor adalah sebagai pembagi
tegangan. Contoh resistor sebagai pembagi tegangan adalah :
sebuah tegangan misalnya 5V dapat dibagi tegangannya secara
proporsional sesuai nilai hambatannya. Pada rangkaian itu
29
dipasang dua resistor secara seri dengan nilai resistor yang sama
yaitu 10 K ohm (R1=R2=10 K ohm) dan nilai tegangan pada
rangkaian itu adalah 5 volt. Maka tegangan pada masing-masing
resistor adalah bernilai 2,5 volt. Bila R1 dan R2 diganti menjadi
20 kilo ohm dan 30 kilo ohm berturut-turut, maka tegangan pada
R1 = 2V dan pada R2 = 3V
4. Sebagai Penurun Tegangan listrik
Contoh resistor sebagai penurun tegangan dapat kita lihat
berdasarkan rumus resistor yang akan menentukan besarnya
tegangan keluaran setelah melewati resistor tersebut. Resistor
adalah komponen pasif yang pemasanganya dapat terbalik karena
memang tidak memiliki polaritas. Fungsi resistor adalah sebagai
penghambat tegangan, nah dari prinsip kerja inilah kemudian
dalam penggunaanya resistor dapat difungsikan sebagai penurun
tegangan sehingga diperoleh besar tegangan sesuai yang kita
inginkan. Namun perlu diperhatikan pula untuk menurunkan
tegangan dengan resistor ini sebaiknya digunakan untuk
tegangan kecil saja, yang juga memiliki arus kecil. Karena kalau
arus terlalu besar maka dapat dipastikan resistor tersebut akan
terbakar atau putus karena tidak kuat menahan aliran arus yang
besar. Kita ambil contoh pada tegangan 12 volt DC, ingin
diturunkan menjadi 3 volt DC untuk keperluan menyalakan LED.
Arus listrik yang bekerja pada rangkaian adalah 0,01 A, maka
cara mencari nilai resistor yang cocok pada rangkaian adalah
sebagai berikut:
30