0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
18 tayangan14 halaman

Cinta dan Persahabatan di SMA

Drama ini mengisahkan tentang cinta dan persahabatan di masa SMA, berfokus pada karakter Cinta dan hubungannya dengan Rangga serta sahabat-sahabatnya. Cinta menghadapi berbagai masalah emosional, termasuk masalah keluarga dan konflik dengan sahabat, yang mempengaruhi hubungannya dengan Rangga. Cerita ini menggambarkan perjalanan cinta yang rumit dan tantangan yang dihadapi oleh remaja dalam mencari jati diri dan hubungan yang sehat.

Diunggah oleh

hutabaratmario63
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
18 tayangan14 halaman

Cinta dan Persahabatan di SMA

Drama ini mengisahkan tentang cinta dan persahabatan di masa SMA, berfokus pada karakter Cinta dan hubungannya dengan Rangga serta sahabat-sahabatnya. Cinta menghadapi berbagai masalah emosional, termasuk masalah keluarga dan konflik dengan sahabat, yang mempengaruhi hubungannya dengan Rangga. Cerita ini menggambarkan perjalanan cinta yang rumit dan tantangan yang dihadapi oleh remaja dalam mencari jati diri dan hubungan yang sehat.

Diunggah oleh

hutabaratmario63
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Drama B.

Indo

Pemeran
- Agrie
- Amel
- Aurel
- Emyanema
- Gavin
- Jesslyn
- John Hanson
- Joy
- Mario
- Nieto Gavra
- Raul
Bertemakan kisah cinta masa SMA, menceritakan sosok cinta dalam
menghadapi permasalahannya, baik itu kisah cinta nya dengan Rangga ataupun
kisah persahabatan nya dengan geng-nya yang beranggotakan Ayla, Karmen,
Maura, dan Milly juga dengan orang-orang yang menyukai nya seperti Mamet
dan Borne.

Scene 1 :
(kamar cinta)

Alya sedang menceritakan masalahnya kepada keempat sahabatnya tentang ayah nya yang
telah memukulinya (Alya memperlihatkan luka di punggung nya)

1. Cinta : “Yaampun, Alya (Menutup mulutnya)


2. Alya : “mending gausah di bahas”
3. Maura : “kok ga usah di bahas sih?”
4. Cinta : “ (mengambil buku curhatan persahabatan nya) lo inget ga, kita
pernah tulis apa di buku ini? Masalah salah satu di antara kita itu masalah
kita juga, musuh salah satu di antara kita musuh kita juga”
5. Alya : “tapi bokap gue berantem sama nyokap, Cinta, bukan sama gue
(Nangis)”

Maura, Karmen, dan Cinta menatap Alya. Milly memeluk Alya

6. Cinta : “Tapikan lo sudah sering jadi korban gini, Al”


7. Alya : “(Sambil menangis) Gimana sih, gue mesti ngejelasin ke elo semua?
Terserah ya, sekarang lo mau percaya atau nggak. Bokap gue, kalo dah, kalo
dah ngamuk kek gitu, kek orang nggak sadar, tau nggak? Abis ngamuk, dia
bisa nangis kek anak kecil. Nyesel abis, nyiumin kaki nyokap gue, melukin gue"
8. Cinta : “Yaudah, intinya ya Al lu harus inget buku ini, kalau ada masalah ke
rumah ini saja, jam berapapun gue bakal bukain pintu”
9. Alya : “iya, udah ahh jangan bahas itu lagi, bahas yang lain saja. Pliss..”
Cinta menarik nafas dan mengetes suara nya
10. Cinta : “ehh udah denger puisi yang gue kirim ke lomba?”
11. Semua : “Mana.. Mana manaa”
12. Cinta : “Coba.. coba Gitar! Gitar! (Meminta gitar ke Milly)”
13. Milly : “nihh”
14. Cinta : “Mudah mudahan sih lo semua suka, soalnya ini tentang kita berlima,
Judul nya “Aku ingin bersama selamanya”

Semua merapat mendekati cinta

Ketika tunas ini tumbuh,

serupa tubuh yang mengakar.

Setiap nafas yang terhembus adalah kata.

Angan, debur dan emosi bersatu dalam jubah berpautan.

Tangan kita terikat, lidah kita menyatu.

Maka setiap apa yang terucap adalah sabda pendita ratu.

Hahhh... Di luar itu pasir, di luar itu debu

Hanya angin meniup saja lalu terbang hilang tak ada.

Tapi kita tetap menari, menari cuma kita yang tahu.

Jiwa ini tandu maka duduk saja.

Maka akan kita bawa semua. Karena kita adalah satu.

15. Alya : “Bagus bangett”


16. Maura : “ihh Cinta”
17. Cinta : “Suka tapi yaa??”
18. Karmen : “suka bangett”

Berawal dari puisi berakhir dengan kisah cinta. Kisah Rangga dan Cinta di mulai pada
pengumuman pemenang lomba puisi di sekolah. Cinta yang merupakan juara setiap
tahun nya di kejutkan oleh Rangga yang merupakan juara baru. Cinta yang
penasaran dengan karya ciptaan Rangga. Puisi yang di tulis oleh rangga di baca
terus menerus oleh Cinta dan mencoba untuk memahami nya. Cinta yang kagum
dengan puisi Rangga, Cinta bingung kenapa seorang yang berbakat ini jarang
terlihat?
Scene 2 :
Cinta memasuki ruang perpustakaan, dan mencari sosok Rangga, setelah
menemukan nya dia langsung mendekati

1. Cinta : “lo rangga ya? Gue mau ucapin selamat ya buat lo!”
2. Rangga : “selamat kenapa?”
3. Cinta : “Sebagai pemenang lomba tahun ini!?”
4. Rangga : “Saya ga pernah ikut lomba puisi, apalagi menang!? Maaf ya, saya
lagi baca! (Jutek)
5. Cinta : “Gue belum selesai ngomong (menatap Rangga berjalan keluar)”
6. Rangga : “Saya habis lempar pulpen ke orang yang berisik di ruangan ini. Saya
gamau pulpen itu balik ke muka saya karena saya berisik gara gara kamu!”
7. Cinta : “Saya mau ngomong sebentar, disini saja”
8. Rangga : “yaudah cepetan”
9. Cinta : “mading mau wawancara kamu, buat profile juara lomba puisi”
10. Rangga : “sudah saya bilang, saya ga pernah ikut lomba puisi”
11. Cinta : “terserah lo deh, menurut dewan juri nya lo yang juara”
12. Rangga : “wawancara saja dewan jurinya”
13. Cinta : “hah? Jadi lo gamau di wawancara?”
14. Rangga : “Enggak!”

Cinta dengan amarah nya kembali ke ruang mading.


Scene 3 :
1. Cinta : “Reseee… laga nya sudah kayak superstar aja, mendingan sekarang
gue wawancara Duta sheila on 7! Dewa kek! Nyebelin bgt (sambil bolak
balik)”
2. Milly : “kenapa sih ta? Lo di apain? Tarik nafas dulu”
3. Cinta : “ngeselin banget, masa dia bilang dia gamau di wawancara, dia bukan
pemenang nya lah, gue di suruh wawancara dewan juri lah! Kurang ajar ga
sih?”
4. Karmen : “loh? Yang mana anaknya? Gue timpa deh sekarang!”
5. Cinta : “engga, gabisa begitu men, nanti dia ngerasa penting lagi”

Cinta menarik nafas berat. Pintu di ketuk, mamet masuk.

6. Mamet : “anu.. mau ngumpulin anu”


7. Karmen : “apasih met??”
8. Mamet : “Ci..Cinta dengerin ga? Lagu.. yang Mamet kasih ke cinta..?”
9. Cinta : “emm iya sudah makasih ya! (tersenyum maksa”
10. Mamet : “cinta, ntar dimuat ya??”
11. Cinta : “iya..iya”
12. Karmen : Keluar! Keluar!”
13. Karmen : “lo bolak balik mulu kayak..”
14. Borne : “kayak apa? (menatap heran) Sorry deh kalo ganggu, gue cuman mau
tanya, jadi kan ta nanti sore pergi?”
15. Cinta : “yaudah deh ntar sore gue telfon”

Karena cinta kesal dengan Rangga, besoknya cinta memberikan surat yang membuat
Rangga emosi.
Scene 4 :
Cinta sedang latihan berpuisi dengan gitarnya, sambil berbincang bincang dengan
sahabatnya yang sedang baca buku, tiba tiba Rangga datang.

1. Rangga : “bisa ngomong sebentar?”

Cinta dan teman-teman nya menatap kebingungan

2. Rangga : “gabisa ini!?”


3. Cinta : “ngomongin apa dulu?”

Rangga kembali ke posisi nya sambil menunjukkan sebuah surat.

4. Cinta : “kita ngomong di luar (sambil menaruh gitar dan beranjak keluar)”
5. Rangga : “maksut nya apa ini?”
6. Cinta : “surat gue di baca juga? Kirain cuman baca, bacaan yang penting saja.
7. Rangga : “kamu ini kenapa sih? Tersinggung karena saya gamau di
wawancara!? Ya udah wawancara sekarang, gausah manja.”
8. Cinta : “enak aja lo ngatain gue manja. Lo mau di wawancara sekarang? Basi..
mading nya udah siap terbit.”

Rangga terdiam, dan Cinta pergi dengan amarah.

9. Cinta : “liat deh tu cowo, nyebebelin banget kan!? Liat aja gaya nya.”
10. Milly : “tapi ta, lo harus tetap wawancara dia kan.”
11. Cinta : “ males banget, yaudah lah ntar cari data-data nya saja kalau ga tanya
wali kelas nya aja. Gampang!

Scene 5 :
Setelah membaca bukunya Rangga, Cinta mengembalikan ke meja dengan bungkus
kertas

1. Rangga : “apaan ini?”


2. Kribo : “tau!”
3. Rangga : “Wah, ketemu ini!”
4. Kribo : “nemu buku kayak nemu cewe cakep lu”

Setelah membuka nya, Rangga melamun saat membaca sesuatu.


Scene 6 :

1. Rangga : “Cinta”
2. Cinta : “kenapa? Manggil? Mau ngajak berantem lagi?”
3. Rangga : “engga, saya mau bilang makasih sama kamu. Saya sempet
kebingungan cari nya, buku nya langka.”
4. Cinta : “terus?”
5. Rangga : “Terus apa? Kok senyum?”
6. Cinta : “terus apa? (cinta tersenyum)”
7. Rangga : “ya sudah gitu saja. Makasih ya”

Scene 7 :
Keesokan hari nya, Borne dan teman-temannya menghampiri Rangga yang sedang
baca buku sendiri. Borne marah karena kemarin rangga ngobrol dengan Cinta.

1. Borne : “ada urusan apa lo sama cinta!?”


2. Rangga : “oh, urusan pribadi”
3. Borne : “iya gue tau, tapi apa!?”
4. Teman nya Borne : “Heh asal lo tau, Borne itu pacar nya Cinta. Kalau lo
berurusan sama Borne lu hadepin gue, dia dan dia, Ngerti!?”
5. Borne : “gini aja kesepakatan nya, kalau lo kalah lawan gue, lo jangan ganggu
Cinta lagi!”
6. Rangga : “saya yakin ga ada yang merasa terganggu, kecuali kamu dan
bodyguard ini.”

Perkelahian pun terjadi, Rangga kalah dan bonyok. Rangga tidak masuk dua hari
karena bonyok.

Scene 8 :
Cinta mendatangi kelas Rangga.
1. Kribo : “cari siapa?”
2. Cinta : “Rangga”
3. Kribo : “oh, si Rangga sudah ga masuk dua hari, gatau kenapa”
4. Cinta : “kemana?”
5. Kribo : “Pulang kampung kali ke mars ketemu keluarga besar nya, keluarga
alien”
6. Cinta : “yaudah (pergi)”

Keesokan harinya cinta mendatangi kelas Rangga dan menghampiri Rangga yang
sedang membaca buku. Rangga berbohong pada Cinta soal Borne.

Scene 9 :
1. Cinta : “Rangga”
2. Rangga : “Ada apa, ta?”
3. Cinta : “katanya kamu sakit habis di gebukin orang. Gimana sih ceritanya?”
4. Rangga : “Oh, ini? Kemarin pas turun dari bus ada tauran terus ikut kena
keroyok. Tumben kamu nanyain saya? Merasa kehilangan ya?”
5. Cinta : “hmm, kalo kamu mikirnya kayak begitu, balik ke kelas aja deh.”
6. Rangga : “jangan, jangan, bercanda”

Semenjak hari itu merekapun semakin dekat. Pada suatu malam Rangga dan Cinta
kencan di sebuah cafe. Namun sebelum berangkat Alya menelfon dan ingin ke rumah
nya. Namun Cinta berbohong, dia bilang mau ke Rumah Sakit, akhirnya Cinta pergi
dengan Rangga. Saat Cinta pulang, mama nya ingin ke Rumah Sakit untuk
menjenguk Alya, karena mencoba bunuh diri. Cinta sangat terpukul dan sangat
menyesali karena lebih memilih bersenang-senang dengan Rangga, di banding
menemani Alya yang sedang butuh di temani.

Cinta pun membenci Rangga. Ia memutuskan untuk menjauhi Rangga. Akibat


kejadian yang di alami oleh Alya. Karmen, Milly dan Mauren bertengkar. Cinta
semakin merasa bersalah, ia pun memutuskan untuk mengakhiri kedekatan nya
dengan Rangga. Menurutnya Rangga lah yang telah mengubah sikap dan
perilakunya. Dengan kesal, Rangga menanggapinya tegas, Permintaan Cinta soal
mengakhiri kedekatan mereka di sepakati oleh Rangga dan Rangga akan menjauhi
Cinta.
Scene 10 :

1. Maura : “Eughhh Kacau.. semuanya kacau.. (sambil mengutak ngatik


handphone nya)
2. Karmen : “Lo tuh kebanyakan ngomel tahu gak!?”
3. Maura : ”udah deh, lo tuh gausa banyak omong deh!”
4. Karmen : “lo gausah marah marah gitu, lo kenapa sih!?!”
5. Maura : “eh Men, jangan karena lo jago olahraga dsn bisa segala nya gue jadi
takut sama lo!”

Cinta diam diam ingin masuk ke ruang mading dan mengurungkan niatnya ketika
mendengar sahabatnya sedang bertengkar.

6. Milly : “(Menangis) sekarang giliran gue yang ngomong.. gue tahu di antara
kita gue yang paling tulalit, kalian semua anggep gue badut. Tapi inget, kita
itu ga boleh berantem. Liat nih.. emang nya kita pernah masalahin siapa yang
lebih jago di antara yang lain? Engga kan? Karena kita itu temenan.
7. Karmen : “mil.. mil.. Ga ada yang anggep lo gabisa apa apa (sambil memeluk
Milly) kita tuh kayak gini karena kita lagi ngaco.”

Cinta yang menangis dan terharu dari luar Ruang Mading, lalu pergi menuju lorong
kelas.

Scene 11 :
1. Rangga : “Cinta!”

Cinta hanya diam dan menunduk, Rangga mengejar nya.


2. Rangga : “Kamu gapapa? Kenapa sih?”
3. Cinta : “Rangga, kayaknya kita gausah ketemu-ketemu lagi”
4. Rangga : “Maksut kamu?”

5. Cinta : “Pokoknya, berhenti deketin saya lagi!”

6. Rangga : “Ngedeketin kamu!? Kayak nya ada yang ga jelas deh!?”

7. Cinta : “Sejak gue ketemu lo, gue jadi orang yang beda, orang yang ga bener!”

8. Rangga : “Gini ga ta! Salah satu di antara kita itu pasti lebih punya punya hati
dan otak! Tapi kayaknya kamu gapunya dua-duanya deh! (pergi)”

9. Rangga : “Jangan ada maaf-maaf lagi. Saya setuju! Kita engga usah ada
hubungan lagi.”

Cinta yang menatap kepergian Rangga, ia terpaksa karena terbawa suasana.

Setelah Alya pulih dari sakitnya, Cinta langsung kepada Alya dan juga sahabatnya
yang lain dan merekapun memaafkan cinta, setelah lama berjauhan ternyata
keduanya memiliki rasa kerinduan satu sama lain. Cinta pun berniat untuk
mengungkapkan perasaan nya, namun Rangga harus tetap meninggalkan Indonesia
dan mengakhiri pertemuan nya dengan Cinta, Rangga memberikan buku pada Cinta,
pada akhir halaman buku terdapat puisi “Ada Apa Dengan Cinta?” dimana ia berjanji
akan kembali di saat bulan purnama tiba di New York.

Scene 12 :
1. Maura : “Udah deh ta! Kali ini lupain tentang gengsi lo.”
2. Karmen : “Sekarang lo harus jujur sejujur jujurnya sama kita”
3. Cinta : “Ini lo pada ngomongin apaansi!?”
4. Alya : “Lo yakin, lo ga punya perasaan apa-apa sama Rangga?”

Cinta tidak menjawabnya, dia hanya menggambarkan wajah yang sedang


memikirkan sesuatu, dengan mata berkaca-kaca, semua menatap Cinta.

5. Alya : “Cinta? Bener Rangga ga pernah sekalipun terlintas di pikirian lo?”

Cinta menangis

6. Maura : “Ya ampun ta..”


7. Milly : “Ta?..ta?? Lo jatuh cinta sama Rangga?
8. Cinta : “Gue sayang banget sama rangga (sambil menangis)”
9. Maura : “Yaampun Cinta”
10. Cinta : “Gue juga bingung, gue gabisa lupain dia, Gue takut lo semua jauhin
gue karena gue sama dia.”
11. Milly : “Engga mungkin lah ta”
12. Maura : “Yaudah gini saja, mending lo cepetan ungkapin perasaan lo ke
Rangga”
13. Cinta : “Gabisaa.. dia udah benci sama gue. Gue sudah nyakitin dia.”
14. Alya : “Ya makanya itu, lo jelasin sama dia kalau lo waktu itu lagi emosi. Kalo
Rangga beneran sayang sama lo pasti dia ngertiin perasaan lo”
15. Cinta : “tapi gue belum siap, gue butuh waktu yang tepat”
16. Karmen : “Kalau menurut gue ta, lo harus cepetan ngomong sama Rangga,
karena waktu itu gue liat pa Wardiman pelukan sama Rangga, kayak
perpisahan gitu.”

Cinta berpikir cara untuk menemui Rangga. Cinta dan teman-temannya berurusan
dengan satpam di bandara.

Scene 13 :
1. Alya : “Ta, itu Rangga, Ta!

Semua teriak dan berlari mengejar Rangga

2. Satpam : “eh pada mau kemana ini?”


3. Karmen : “Pa kami butuh ketemu sama calon penumpang yang disana”
4. Cinta : “iya, itu dia ada disana (menunjuk Rangga)
5. Satpam : “iya tapi tetap gaboleh masuk Dek”
6. Alya : “pak boleh bicara sebentar?”

Alya menjelaskan Satpam tersebut dan mengajak negosiasi.

7. Satpam : “iya silahkan! Tapi Mbak ini saja”


8. Cinta : “Saya? Iya makasih ya pak”
9. Milly : “Makasih ya Pak”

Cinta berlarian mengejar Rangga

10. Cinta : “Rangga…”


11. Rangga : “Cintaaa!???”
12. Cinta : “Ranggaa… waktu terakhir kali saya ketemu sama kamu, saya ga
marah sama kamu, saya marah sama diri saya sendiri. Rangga maafin saya,
saya gamau kamu ninggalin saya..”
13. Rangga : “Maksud kamu?”
14. Cinta : “Saya.. saya sayang banget sama kamu”
15. Rangga : “Saya juga sayang sama kamu Ta, Sayang sekali!”
16. Cinta : “Kamu enggak jadi pergi kan?”
17. Rangga : “Saya harus pergi, Ta”
18. Cinta : “Engga, ini engga fair”
19. Ayah Rangga : “Rangga!”
20. Rangga : “Sebentar yahh”

Rangga mengambil buku harian nya yang ada di dalam tas dan memberikan nya
kepada Cinta..

21. Rangga : “Bacalah halaman terakhir di buku ini.”

Cinta menangis dan Ranggapun pergi

Cinta membaca buku harian Rangga. Cinta menangis, tetapi saat membaca di
beberapa bait terakhir, tangis Cinta bercampur dengan tawa dan bahagia.
Ada Apa Dengan Cinta?
Perempuan datang atas nama cinta
Bunda pergi karena cinta
Digenangi air racun jingga adalah wajahmu
Seperti bulan lelap tidur di hatimu
yang berdinding kelam dan kedinginan
Ada apa dengannya
Meninggalkan hati untuk dicaci
Lalu sekali ini aku melihat karya surga
dari mata seorang hawa
Ada apa dengan cinta
Tapi aku pasti akan kembali
dalam satu purnama
Untuk mempertanyakan kembali cintanya.
Bukan untuknya, bukan untuk siapa
tapi untukku
Karena aku ingin kamu, itu saja.

Tamat.

Anda mungkin juga menyukai