0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
9 tayangan27 halaman

Pemilihan Sensor dan Transduser

Dokumen ini membahas tentang pemilihan sensor dan transduser yang tepat berdasarkan persyaratan seperti linearitas, sensitivitas, dan tanggapan waktu. Terdapat tiga kategori sensor yaitu thermal, mekanis, dan optik, serta penjelasan mengenai berbagai jenis sensor seperti bimetal, termistor, RTD, dan strain gage. Selain itu, dijelaskan juga tentang transduser yang memerlukan sumber energi sendiri dan dari luar.

Diunggah oleh

yudhatri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
9 tayangan27 halaman

Pemilihan Sensor dan Transduser

Dokumen ini membahas tentang pemilihan sensor dan transduser yang tepat berdasarkan persyaratan seperti linearitas, sensitivitas, dan tanggapan waktu. Terdapat tiga kategori sensor yaitu thermal, mekanis, dan optik, serta penjelasan mengenai berbagai jenis sensor seperti bimetal, termistor, RTD, dan strain gage. Selain itu, dijelaskan juga tentang transduser yang memerlukan sumber energi sendiri dan dari luar.

Diunggah oleh

yudhatri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

2SKS Teori

Dedi Nurcipto,MT

Universitas Dian Nuswantoro


Semarang
 Dalam memilih peralatan sensor dan
transduser yang tepat dan sesuai dengan
sistem yang akan disensor maka perlu
diperhatikan persyaratan umum sensor berikut
ini :
1. Linearitas
Ada banyak sensor yang menghasilkan sinyal
keluaran yang berubah secara kontinyu
sebagai tanggapan terhadap masukan yang
berubah secara kontinyu. Sebagai contoh,
sebuah sensor panas dapat menghasilkan
tegangan sesuai dengan panas yang
dirasakannya.
2. Sensitivitas
Sensitivitas akan menunjukan seberapa jauh
kepekaan sensor terhadap kuantitas yang
diukur.
Sensitivitas sering juga dinyatakan dengan
bilangan yang menunjukan “perubahan
keluaran dibandingkan unit perubahan
masukan”.
Beberepa sensor panas dapat memiliki
kepekaan yang dinyatakan dengan “satu volt
per derajat”, yang berarti perubahan satu derajat
pada masukan akan menghasilkan perubahan
satu volt pada keluarannya.
 Sensor panas lainnya dapat saja memiliki
kepekaan “dua volt per derajat”, yang berarti
memiliki kepakaan dua kali dari sensor yang
pertama.
 Linieritas sensor juga mempengaruhi
sensitivitas dari sensor. Apabila tanggapannya
linier, maka sensitivitasnya juga akan sama
untuk jangkauan pengukuran keseluruhan.
3. Tanggapan Waktu
 Tanggapan waktu pada sensor menunjukan
seberapa cepat tanggapannya terhadap
perubahan masukan.
 Sebagai contoh, instrumen dengan tanggapan
frekuensi yang jelek adalah sebuah termometer
merkuri. Masukannya adalah temperatur dan
keluarannya adalah posisi merkuri. Misalkan
perubahan temperatur terjadi sedikit demi
sedikit dan kontinyu terhadap waktu.
 Frekuensi adalah jumlah siklus dalam satu
detik dan diberikan dalam satuan hertz (Hz). {
1 hertz berarti 1 siklus per detik, 1 kilohertz
berarti 1000 siklus per detik]. Pada frekuensi
rendah, yaitu pada saat temperatur berubah
secara lambat, termometer akan mengikuti
perubahan tersebut dengan “setia”.
 Tetapi apabila perubahan temperatur sangat
cepat, maka tidak diharapkan akan melihat
perubahan besar pada termometer merkuri,
karena ia bersifat lamban dan hanya akan
menunjukan temperatur rata-rata.
Secara umum berdasarkan fungsi dan
penggunaannya sensor dapat dikelompokan
menjadi 3 bagian yaitu:
a. sensor thermal (panas)
b. sensor mekanis
c. sensor optik (cahaya)
 Sensor thermal adalah sensor yang digunakan
untuk mendeteksi gejala perubahan
panas/temperature/suhu pada suatu dimensi
benda atau dimensi ruang tertentu.
 Contohnya; bimetal, termistor, termokopel, RTD,
photo transistor, photo dioda, photo multiplier,
photovoltaik, infrared pyrometer, hygrometer, dsb.
 Bimetal adalah sensor suhu yang terbuat dari
dua buah lempengan logam yang berbeda
koefisien muainya (α) yang direkatkan menjadi
satu. Bila suatu logam dipanaskan maka akan
terjadi pemuaian, besarnya pemuaian
tergantung dari jenis logam dan tingginya
temperatur kerja logam tersebut.
 Dalam aplikasinya bimetal dapat dibentuk
menjadi saklar Normally Closed (NC) atau
Normally Open (NO)
Disini berlaku rumus pengukuran temperature dwi-logam yaitu

r = jari-jari pembengkokan
t = tebal gabungan bilah terikat
n = perbandingan modulus elastis,bahan ekspansi rendah dengan
bahan ekspansi tinggi (EB/EA)
m = perbandingan tebal bahan ekspansi muai rendah dengan yang
ekspansi tinggi
T-T0 = kenaikan temperature
α1, α2 = koefisien muai panas logam 1 dan logam 2
Termistor adalah alat semikonduktor yang berkelakuan
sebagai tahanan dengan koefisien tahanan temperatur
yang tinggi, yang biasanya negatif. Umumnya tahanan
termistor pada temperatur ruang dapat berkurang 6%
untuk setiap kenaikan temperatur sebesar 1 drajat C.
sehingga termistor sangat sesuai untukpengukuran,
pengontrolan dan kompensasi temperatur secara
presisi
Tahanan mengikuti perubahan eksponensial dengan suhu, dan bukan
hubungan polinomial. Jadi untuk termistor

Keterangan :
R0 = tahanan pada suhu rujukan T0
B= suatu konstanta yang ditentukan dengan eksperimen
(antara
3500 sampai 4600K)
Berdasarkan koefisien suhunya, thermistor dibedakan menjadi 2
jenis, yaitu :

1. NTC (Negative Temperature Coeficient) Merupakan


thermistor yang mempunyai koefisien negatif, artinya
perbandingan antara suhu dengan resistansinya
berbanding terbalik. jika resistansi meningkat maka suhu
akan menurun dan sebaliknya.
2. PTC (Positive Temperature Coeficient) Merupakan
Thermistor yang memiliki koefisien positif, yaitu antara
suhu dengan resistansinya sebanding. Jika resistansinya
naik maka suhunya juga akan mengalami kenaikan juga,
begitupun sebaliknya
RTD berfungsi untuk mengubah suhu menjadi resistansi/hambatan
listrik yang sebanding dengan perubahan suhu. Semakin tinggi
suhu, resistansinya semakin besar.
RTD dibuat dari bahan kawat tahan korosi, kawat tersebut dililitkan
pada bahan keramik isolator.
Resistance Thermal Detector (RTD)
perubahan tahanannya lebih linear terhadap
temperatur uji tetapi koefisien lebih rendah dari
thermistor dan model matematis linier adalah:

Keterangan :
Ro = tahanan konduktor pada temperature
awal ( biasanya 0oC)
RT = tahanan konduktor pada temperatur
toC
α = koefisien temperatur tahanan
Δt = selisih antara temperatur kerja dengan
temperatur awal
Berfungsi sebagai sensor suhu rendah dan tinggi, yaitu suhu serendah
300°F sampai dengan suhu tinggi yang digunakan pada proses industri
baja, gelas dan keramik yang lebih dari 3000°F Thermokopel dibentuk
dari dua buah penghantar yang berbeda jenisnya (besi dan Prinsip
Kerja )
 Sensor mekanis adalah sensor yang mendeteksi
perubahan gerak mekanis, seperti perpindahan
atau pergeseran atau posisi, gerak lurus dan
melingkar, tekanan, aliran, level dsb.
 Contoh; strain gage, linear variable deferential
transformer (LVDT), proximity, potensiometer,
load cell, bourdon tube, dsb.
Strain gage adalah sebuah transduser yang mengubah
suatu pergeseran mekanis menjadi perubahan tahanan.
Strain gage merupakan sebuah alat seperti biskuit tipis,
yang disatukan keberbagai bahan guna mengukur
renggangan yang diberikan padanya
Sensitivitas sebuah strain gage dijelaskan dengan
suatu karakteristik yang disebut faktor gage (K) yang
didefinisikan sebagai perubahan satuan tahanan
dibagi dengan perubahan satuan panjang, atau

Keterangan :
K = faktor gage
R = tahanan gage nominal
∆R = ◌ܴ perubahan tahan gage
L = panjang nominal bahan percobaan (kondisi tidak
terenggang)
∆l = ◌݈ perubahan panjang bahan percobaan

Suku ∆l// ◌݈ dalam penyebut persamaan adalah


renggangan α, sehingga persamaan diatas dapat dituliskan
sebagai
 Sensor optic atau cahaya adalah sensor yang
mendeteksi perubahan cahaya dari sumber
cahaya, pantulan cahaya ataupun bias cahaya
yang mengernai benda atau ruangan.
 Contoh; photo cell, photo transistor, photo diode,
photo voltaic, photo multiplier, pyrometer optic,
dsb.
a. Self generating transduser (transduser
pembangkit sendiri) Self generating transduser
adalah transduser yang hanya memerlukan
satu sumber energi.
Contoh: piezo electric, termocouple, photovoltatic,
termistor, dsb.
Ciri transduser ini adalah dihasilkannya suatu
energi listrik dari transduser secara langsung.
Dalam hal ini transduser berperan sebagai
sumber tegangan
 External power transduser (transduser daya dari
luar) External power transduser adalah
transduser yang memerlukan sejumlah energi
dari luar untuk menghasilkan suatu keluaran.
 Contoh: RTD (resistance thermal detector), Starin
gauge, LVDT (linier variable differential
transformer), Potensiometer, NTC, dsb.

Anda mungkin juga menyukai