0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan32 halaman

Pola Tanam Berkelanjutan di Agroekosistem

Modul ini membahas pengaturan pola tanam pada berbagai agroekosistem, termasuk lahan sawah irigasi dan tadah hujan, dengan fokus pada keberlanjutan dan pemenuhan kebutuhan usaha tani. Mahasiswa diajarkan untuk merancang pola tanam yang sesuai dengan karakteristik lahan dan tanaman, serta mempertimbangkan faktor-faktor seperti ketersediaan air, tekstur tanah, dan keadaan pasar. Berbagai pola tanam alternatif juga disarankan berdasarkan masa bertanam dan kondisi lingkungan.

Diunggah oleh

tauhidirsal
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan32 halaman

Pola Tanam Berkelanjutan di Agroekosistem

Modul ini membahas pengaturan pola tanam pada berbagai agroekosistem, termasuk lahan sawah irigasi dan tadah hujan, dengan fokus pada keberlanjutan dan pemenuhan kebutuhan usaha tani. Mahasiswa diajarkan untuk merancang pola tanam yang sesuai dengan karakteristik lahan dan tanaman, serta mempertimbangkan faktor-faktor seperti ketersediaan air, tekstur tanah, dan keadaan pasar. Berbagai pola tanam alternatif juga disarankan berdasarkan masa bertanam dan kondisi lingkungan.

Diunggah oleh

tauhidirsal
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

MODUL 10

PENGATURAN POLA TANAM PADA BERBAGAI


AGROEKOSISTEM

A. PENDAHULUAN
1. Deskripsi Singkat
Pada modul ini dijelaskan bagaimana cara mengatur / merancang pola tanam
pada berbagai agroekosistem (lahan sawah irigasi, tadah hujan, lahan kering, lahan
dataran tinggi, lebak dan pasang surut) yang memenuhi kebutuhan suatu usaha tani
secara spesifik dan persyaratan keberlanjutan.
2. Tujuan Instruksional Khusus
Mahasiswa dapat merancang pola tanam pada berbagai tipe agroekosistem
(sawah irigasi, sawah tadah hujan, lahan kering, lahan dataran tinggi, lebak dan
pasang surut) secara spesifik dan berkelanjutan.

B. KEGIATAN BELAJAR
1. Materi Pembelajaran
1.1. Pengaturan pola tanam di sawah irigasi

Penciri utama ekosistem lahan sawah beririgasi (irrigated low land) adalah
potensi air irigasi > 5 bulan, ketersediaan air tidak bergantung kepada curah hujan,
dan elevasi < 700 m dpl. Selain itu, lahan yang ditanami padi sawah, susah
dikeringkan untuk memiliki aerasi baik yang diperlukan bagi pengembangan
komoditas lainnya setelah padi, sehingga intensitas tanam meningkat.
Dengan mengetahui potensi dan kendala lahan sawah, berbagai pola tanam
dapat dikembangkan, yang diselaraskan pula dengan karakteristik tanaman yang
akan dirancang ke dalam pola tanam.
Ke dalam pola tanam berbasis padi perlu mempertimbangkan hal-hal sebagai
berikut :
1) Pengembangan varietas-varietas tanaman semusim yang biasa ditanam di lahan
kering setelah padi sesuai dengan lingkungannya.
2) Pengembangan varietas-varietas yang umur pendek (cepat matang) setelah
padi.

211
3) Modifikasi budidaya padi secara sederhana seperti pada padi gogo yang cocok
untuk padi sawah (misal padi gora).
4) Modifikasi budidaya padi untuk memberi kesempatan kepada komoditas lain
dapat dikembangkan (misal Tabela).
Umumnya pada lahan sawah setelah ditanami padi, drainasenya kurang baik,
sehingga palawija kurang berkembang sempurna, sehingga perlu pemuliaan untuk
mendapatkan varietas-varietas yang cocok lingkungan.
Tanaman sebelum padi memungkinkan pula dikembangkan di sawah dengan
syarat : komoditas tersebut harus cepat matang (umur pendek, cepat dipanen yaitu
pada periode awal musim hujan s/d saat tanam padi). Namun masalahnya
komoditas yang dikembangkan sebelum padi ini akan mengalami hal-hal sebagai
berikut :
1) Peluang terbesar terjadi cekaman air (kekeringan pada masa fase awal
berkecambah sebab curah hujan belum cukup (belum teratur) pada awal
musim.
2) Kelebihan air saat fase pematangan, sehingga panen biasanya bersamaan
dengan curah hujan mendekati puncak.
3) Diperlukan periode pertumbuhan yang singkat (60-90) hari, sebab tanaman
harus cepat dipanen untuk segera diusahakan dengan tanaman padi. Oleh
karena itu tanaman yang diusahakan pada kondisi tersebut harus : cepat
dipanen, memiliki vigor tinggi, dan toleran terhadap curah hujan tinggi saat
pematangan.
Jenis komoditas yang disarankan seperti jagung muda (baby corn), kacang-
kacangan yang dipungut muda (green soybean). Pertimbangannya adalah :
 Tongkol/polong muda, biasanya dipanen  20 hari setelah polinasi.
Tanaman yang cepat dipanen (umur kurang dari 80 hari).
 Polong hijau dan tongkol muda saat dipanen tidak cepat rusak yang
disebabkan oleh curah hujan tinggi, bahkan panen dapat dilakukan saat
curah hujan tinggi.
Beda halnya dengan kacang hijau yang dipanen polong kering, cepat rusak
pada curah hujan tinggi, sementara kalau menggunakan sorghum panjang
umurnya.
Setelah tanaman utama (padi) dipanen, dapat segera diusahakan dengan
tanaman lain dan lebih banyak varietasnya, hanya kendalanya yaitu fase awal
212
pertumbuhan cukup kelembaban, dan fase lanjut kekeringan (terlebih-lebih) pada
tanaman yang umurnya panjang. Hal ini memerlukan tanaman yang tahan/toleran
kekeringan, seperti sorghum, kedelai, kacang hijau, dll.
Tanaman penghasil biji (Grain crops) yang memiliki vigor tinggi, sangat
toleran terhadap kekeringan setelah pembungaan dan daya hasil tinggi, sangat
dianjurkan untuk dikembangkan setelah padi, dan relatif mudah mencari beberapa
varietas untuk kondisi seperti ini (lebih banyak variasi). Untuk mendukung
pengembangan pola tanam khususnya di ekosistem sawah, perlu dikembangkan
program padi unggul yang memiliki sifat-sifat umur genjah, hasil tinggi, dan rasa
enak.

Melaksanakan budidaya komoditas setelah padi di sawah


Kesulitan melaksanakan budidaya komoditas setelah padi sawah adalah
mengkonversi tanah ke dalam keadaan tanah dengan aerasi baik yang cocok untuk
tanaman palawija, terutama bila tekstur tanah berat. Cara mengatasinya melalui
pengeringan dan pembasahan secara terputus-putus (bergantian), dan proses
tersebut hanya dapat dilakukan jika suplai penyinaran dan kelembaban tersedia
dari curah hujan atau irigasi.
Untuk mencegah penguapan yang dapat mempercepat kehilangan
kelembaban pada lahan sawah bekas padi, sebaiknya dilaksanakan tanpa olah
tanah (zero tillage) dengan cara sebagai berikut :
1) Tanah didrainase (2-3) hari sebelum panen padi, saat panen, jerami, dibabad
sampai bawah sekali.
2) Buat saluran drainase yang dangkal untuk mencegah banjir, segera tanam
palawija setelah panen padi (dengan modifikasi sistim pertanaman yang telah
direncanakan).
3) Benih-benih tersebut ditugal di sebelah tunggul jerami dengan maksud agar :
a. Cukup O2 tersedia pada tanah dekat lubang padi
b. Daerah dekat lubang bekas padi biasanya lebih tinggi dari tanah sekitarnya
beberapa mm, hal ini dapat memperkecil genangan dari benih yang baru
ditanam.
Faktor-faktor yang paling menentukan pola tanam di ekosistem sawah yaitu
faktor terkendali seperti pengendalian hama penyakit, penggunaan pupuk, dan
pemeliharaan tanaman. Adapun faktor tidak terkendali adalah faktor lingkungan

213
fisik (iklim, tekstur tanah, topografi) dan faktor sosial ekonomi (pemasaran hasil).
Sehingga penerapan pola tanam pada suatu ekosistem (khusus sawah) hanya perlu
memodifikasi faktor lingkungan yang tidak terkendali itu sehingga mencapai hasil
optimum.

Keberhasilan pola tanam di ekosistem sawah.


Keberhasilan pola tanam di ekosistem sawah, ditentukan oleh tiga faktor
utama, yaitu :

1) Ketersediaan air
Sawah dengan pola tanam padi-padi sepanjang tahun, akan membutuhkan
air lebih banyak, karena pertanaman padi sawah paling sedikit
membutuhkan air 200 mm/bulan (atas dasar evapotranspirasi/ET),
sedangkan palawija minimal 10 mm/bulan, dapat dipenuhi dari curah hujan
atau irigasi.
Bila air irigasi cukup tersedia, petani cenderung menanam padi terus
menerus, padahal hal yang tidak sulit untuk mengatur pengeringan lahan,
dengan cara terputus-putus yang diperlukan untuk tanaman palawija.
Di beberapa daerah, kebutuhan air sebesar itu untuk lahan sawah tidak
terpenuhi sepanjang tahun, demikian pula untuk daerah-daerah yang
irigasinya terbatas, sehingga dikembangkan pola tanam padi-palawija,
dengan kebutuhan air yang lebih sedikit.
Pola tanam dengan tiga komoditas dalam setahun secara berurutan, yang
ditanam sepanjang tahun dapat dilakukan tanpa air irigasi sekali pun, asal
daerah tersebut memiliki distribusi curah hujan melebihi 2000 mm per tahun,
misal di Jawa Barat bagian Selatan (iklim basah).
Curah hujan < 1300 mm/th, intensitas penanaman dalam 1 tahun dibatasi
hanya 1 x tanam padi, selanjutnya bera, alternatifnya adalah memilih jenis
tanaman, khususnya biji-bijian setelah padi. Pada curah hujan rendah dapat
ditanam kacang hijau (umur pendek); sorghum (toleran/tahan kekeringan).
Bila periode curah hujan panjang, dapat ditanami dengan : jagung, kedelai,
kacang tanah, dan sayuran (input tinggi, keuntungan tinggi).
2) Tekstur dan topografi tanah
Tekstur berperan dalam kapasitas tanah memegang air. Pada tekstur
ringan kapasitas tanah memegang air juga rendah, sehingga sisa air di dalam

214
tanah menjadi cepat berkurang, dan tanaman yang diusahakan cepat
mengalami kekeringan. Namun pada tanah bertekstur ringan konversi lahan
sawah yang berlumpur menyebabkan aerasi baik dan lebih mudah pada tanah
bertekstur ringan, sebab lahan dapat segera diolah (dibajak) segera setelah
panen padi, sehingga lebih banyak pilihan komoditas yang dapat
dikembangkan setelah padi.
Adapun pada tanah bertekstur berat, dengan kandungan liat yang tinggi,
sulit konversi lahan berlumpur ke lahan beraerasi baik, namun kapasitas
tanah memegang air cukup tinggi, sehingga sisa kelembaban dalam tanah
dapat menopang tanaman-tanaman palawija (yang ditanam setelah padi)
dalam waktu lebih lama. Dari keadaan ini, penanaman palawija setelah padi
dapat dilakukan langsung tanpa pengolahan tanah, yang bertujuan untuk
mencegah kesulitan membajak, dan memanfaatkan sisa kelembaban yang
masih tersedia dalam tanah.
3) Keadaan pasar
Meningkatnya penggunaan lahan secara intensif dengan produk usahatani
yang bervariasi, keuntungan usahatani lebih banyak bergantung pada
efisiensi produk-produk yang dapat dipasarkan.
Permintaan pasar terhadap produk-produk tersebut bergantung pada 2
faktor, yaitu :
1. Dapat disimpan lama
2. Volume pasar
Produk-produk yang mudah disimpan lama, akan lebih mudah
dipasarkan, berbeda dengan produk yang mudah rusak (seperti : sayuran
dan buah-buahan). “Food crops” yang biasa digunakan keluarga, memiliki
volume pasar yang besar (lebih mudah dijual), terutama bila dekat ke pusat
pasar, termasuk usahatani “grain crops” (padi, jagung, kacang tanah).

Beberapa pola tanam alternatif di lahan sawah irigasi berdasarkan


ketersediaan air
(a) Lahan Sawah Irigasi 10-12 bulan
 Padi-padi-padi

215
Pola ini hanya dianjurkan pada lahan yang sulit diatur drainasenya
sehingga tanahnya selalu berlumpur. Dianjurkan : pengembalian sisa
tanaman sebagai bahan organik.
(b) Masa bertanam > 9 bulan
 Padi-padi-padi
 Padi sawah-padi sawah-palawija
 Tebu-padi sawah, atau :
 Rami-padi sawah
 Padi sawah-palawija-palawija  alternatif
 Palawija-padi sawah-palawija  alternatif
Tanaman/varietas yang berumur sedang, potensi produksi tinggi, dan nilai
ekonomi tinggi.
(c) Masa bertanam 6-9 bulan
 Padi sawah-padi sawah-palawija
 Gogorancah-padi sawah-palawija
 Padi sawah-palawija-palawija
 Palawija-padi sawah-palawija
Tanaman/varietas berumur pendek, potensi produksi sedang sampai tinggi,
dan tahan kering.
(d) Masa bertanam 4-6 bulan
 Padi sawah-palawija
 Gogorancah-palawija
 Palawija-padi sawah
Tanaman berumur sedang dan nilai ekonomi tinggi.
(e) Masa bertanam 4 bulan
 Padi sawah-bera
 Gogorancah-palawija
 Palawija-palawija
Tanaman/varietas berumur pendek dan tahan kering serta menggunakan
teknik alley cropping (tanam lorong).

216
1.2. Pola tanam di sawah tadah hujan
Lahan sawah tadah hujan (rainfed lowland), dicirikan dengan potensi irigasi
< 5 bulan, ketersediaan air sangat dipengaruhi oleh curah hujan, dan elevasi < 700
m dpl. Sawah tadah hujan terdapat hampir di seluruh propinsi di Indonesia. Di
samping tersebar di tiga propinsi di Jawa, sawah tadah hujan ini cukup luas
terdapat di Sulawesi Selatan, Sumatera Utara, Aceh, Sumatera Barat, dan di
Kalimantan. Potensi air sebagai indikasi utama produktivitas lahan sawah tadah
hujan, cukup beragam, karena tersebar pada berbagai tipe agroklimat dengan
periode masa bertanam yang berbeda (Irsal Las, dkk 1991).
Pengaturan pola tanam di sawah tadah hujan, meliputi tiga komponen utama
yaitu :

(1) Pemilihan jenis-jenis tanaman yang paling sesuai dan menguntungkan.


(2) Peningkatan frekuensi pertanaman
(3) Penyempurnaan pergiliran tanaman
Dalam tulisan ini mengenai pemilihan jenis-jenis tanaman yang paling sesuai
dan menguntungkan tidak dibahas, namun dua hal yang terakhir yaitu peningkatan
frekuensi pertanaman dan penyempurnaan pergiliran tanaman akan dibahas lebih
lanjut.
Peningkatan frekuensi (banyaknya) pertanaman yang optimal pada setiap
tipe iklim
Frekuensi pertanaman yang optimal yaitu banyaknya pertanaman yang dapat
diusahakan pada sebidang lahan dalam setahun tanpa adanya resiko kegagalan.
Contoh : Pada tipe iklim B2 padi-padi-palawija.
Tujuannya yaitu untuk memperkecil/menghilangkan masa bera yang merugikan,
karena menyia-nyiakan sumberdaya (lahan, air, sinar matahari, dan tenaga kerja)
dari waktu yang tersedia, terutama selama pada lahan tersebut tidak ada hama
penyakit yang bersifat polipag.
Frekuensi pertanaman banyak dipengaruhi oleh : (1) Umur tanaman, (2) Cara
dan waktu pengolahan tanah, (3) Jenis ekosistem lahan yang bersangkutan.
Faktor penentu utama frekuensi pertanaman pada lahan sawah tadah hujan dan
tegalan, yaitu pola curah hujan stabil, baik jumlah maupun distribusinya yang terjadi
setiap tahun. Sifat curah hujan dari masing-masing tipe curah hujan digambarkan
dalam piramida tipe C.H (Gambar 13.1).

217
0 12

1 11
2 10
3 9
4 8
5 E4 D4 7
6 6
7 E3 D3 5
C3
8 4
9 D2 3
E2 C2
B2
10 2
11 E1 D1 C1 B1 1
12 A1

0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
JUMLAH BULAN BASAH
Gambar 10.1 Piramida Tipe Curah Hujan

Keterangan :

Bulan kering : bulan dengan curah hujan < 100 mm/bl


Bulan basah : bulan dengan curah hujan > 200 mm/bl
Bulan pertumbuhan : bulan dengan curah hujan ≥ 100 mm/bl
Periode bulan kering : tidak memungkinkan untuk penanaman
apapun.
Periode bulan pertumbuhan yaitu penanaman palawija, padi gogo dan sayuran
Periode bulan basah yaitu penanaman padi sawah dapat dilaksanakan.
Frekuensi penanaman dipengaruhi pula oleh sifat kemampuan tanah memegang air.
Tanah bertekstur liat (lempung) yaitu membantu peningkatan frekuensi penanaman
Tanah bertekstur pasir (ringan) yaitu mengurangi kemampuan frekuensi
penanaman.

218
Penyempurnaan pergiliran tanaman
Pergiliran tanaman pilihan/ideal yaitu pergiliran tanaman yang tepat tanam
dan tepat waktu, sehingga dapat menjamin : (1) Keselamatan tanaman, (2) Produksi,
(3) Kelestarian sumberdaya (kesuburan tanah/dan pendapatan petani).
Dalam pengaturan pola tanam pada sawah tadah hujan, menentukan jenis-
jenis tanaman dan waktu tanam yang paling cocok pada kondisi pola curah hujan
setempat, dapat dilaksanakan dengan menggunakan metode “tarik giring”
(Abdulhay dan Sulaeman, 1984).
Langkah-langkahnya seperti di bawah ini :
a. Buatlah grafik batang pola curah hujan bulanan di daerah setempat (minimal
dari data 10 tahun terakhir).

350

300

250

200

150

100

50

Sep Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags

Gambar 10.2 Contoh grafik batang curah hujan bulanan rata-rata 10 tahun (1999-2008) di
Kecamatan X (Tipe Curah Hujan C3).

b. Buat grafik batang kebutuhan air setiap jenis tanaman yang telah diprioritaskan
berdasarkan kesesuaian teknis dan ekonomis.
Cara pembuatan sebagai berikut :

b.1. Periksa daftar kebutuhan air setiap jenis tanaman selama periode
pertumbuhannya (sejak tanam sampai dengan panen), yang tertera pada
Tabel 10.1.

219
b.2. Gunakan pedoman umum angka perbandingan rata-rata kebutuhan air
setiap fase pertumbuhan tanaman (ditetapkan berdasarkan rata-rata
perbandingan kebutuhan air dari beberapa jenis tanaman) sebagai berikut :
– Fase pertumbuhan awal :2
– Fase pertumbuhan lanjutan :3
– Fase pertumbuhan generatif : 4,5
– Fase pertumbuhan pematangan :3
Jumlah : 12,5
Tabel 10.1 Kebutuhan air berbagai jenis komoditas tanaman pangan

Kebutuhan air per


No Jenis Komoditas Umur Tanaman (hari)
periode pertanaman (mm)
1. Padi 110 712
2. Jagung 100 450
3. Kacang tanah 100 435
4. Kedelai 85 338
5. Kacang hijau 65 200
6. Ubi jalar 110 379
7 Kacang tunggak 95 210
8. Wortel 60 135
9. Mentimun 60 135
10. Lobak 70 157
11. Bawang putih 90 243
12. Bawang merah 100 345
13. Tomat 90 310
14. Kubis/kol 90 202
15. Terong 90 324
16. Kacang panjang 100 285

b.3. Hitung kebutuhan air setiap fase pertumbuhan dengan menggunakan data
Tabel 10.1 kolom 4, dan perbandingan kebutuhan air pada b2.

Contoh untuk tanaman jagung :


Kebutuhan air dalam satu periode pertumbuhan tiap fase pertumbuhan sebagai
berikut:
2
Pertumbuhan awal = x450  73mm
12,5
3
Pertumbuhan lanjutan = x450  109 mm
12,5
4,5
Pertumbuhan generatif = x450  164 mm
12,5
3
Pematangan = x450  109 mm
12,5

220
b.4. Perhatikan Tabel 10.2, tentang umur setiap jenis tanaman (hari) dalam
setiap fase pertumbuhannya.
Tabel 10.2 Umur setiap jenis tanaman (hari) pada setiap fase tumbuh
Fase pertumbuhan Umur
No Jenis tanaman Tanaman
Awal Lanjutan Generatif Pematangan
1. Padi (IR. 36) 50 - 30 30 110
2. Jagung 20 30 30 20 100
3. Kacang tanah 15 25 40 25 105
4. Kedelai 15 15 35 20 85
5. Kacang hijau 15 15 25 10 65
6. Ubi jalar 20 40 40 20 120
7. Wortel 10 40 50 20 120
8. Mentimun 10 30 30 20 90
9. Lobak 10 25 25 10 70
10. Bawang merah 10 30 40 20 150
11. Tomat 10 35 30 15 90
12. Kubis/kol 10 80 - - 90
13. Terong 10 30 30 20 90

Contoh untuk tanaman jagung :

Umur fase pertumbuhan awal = 20 hari


Umur fase pertumbuhan lanjutan = 30 hari
Umur fase generatif = 30 hari
Umur fase pematangan = 20 hari
Umur tanaman = 100 hari
b.5. Dengan diketahui data kebutuhan air setiap fase pertumbuhan dan umur
pada setiap fase pertumbuhan Dapat dibuat grafik batang kebutuhan air
tanaman jagung (Gambar 10.3).

mm 164

150

109 109
100
73

50

Hari

Gambar 10.3 Grafik batang kebutuhan air tanaman jagung.

221
Setelah grafik batang kebutuhan air semua tanaman prioritas selesai dibuat
selanjutnya melaksanakan metode ; tarik-giring, dengan terlebih dahulu
memperhatikan penggolongan musim tanam selama setahun sebagai bahan
pertimbangan umum dalam menempatkan waktu tanam pada golongan-golongan
musim seperti pada Gambar 9.1 (Modul 9). (Musim labuhan, musim rendengan,
musim marengan, dan musim kemarau).
c. Cara pelaksanaan metode “Tarik-giring”
c.1. Cobakan setiap grafik batang kebutuhan air setiap jenis tanaman,
diletakkan di atas grafik batang pola curah hujan bulanan.

– Cari titik singgung kedua grafik yang memiliki ketinggian-ketinggian


batang yang sama/hampir sama.
– Bila salah satu grafik batang kebutuhan air, ada yang memiliki
kedudukan yang serasi/sama dengan kedudukan grafik batang curah
hujan berarti salah satu jenis tanaman itu telah dapat ditentukan waktu
tanam/musim tanamnya yang tepat/sesuai dengan kondisi curah hujan
setempat (Gambar 10.4)
Contoh : Penyusunan pola tanam pada tipe curah hujan C3 (Oldeman).

Tabel 10.3 Data curah hujan di wilayah Kecamatan Y selama 10 tahun terakhir
(1996 - 2005).

Tahun
Bulan 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005
(Dalam milimeter)
Januari 274 135 512 385 175,5 142 308 356 521 333
Februari 106 150 99 229 276 62 285 390 303 179
Maret 465 216 54 280 202 296 273 333 465 423
April 196 161 74 456 96 384 249 272 273 227
Mei 70 175 50 190 120 26 171 140 49 85
Juni 187 27 42 160 74 0 64 97 14 179
Juli 78 50 0 85 0 0 0 6 0 57
Agustus 19 0 14 16 120 0 130 85 0 0
September 280 24 22 7 88 0 190 49 6 74
Oktober 90,5 4 268 49 32 22 190 57 15 185
November 291 271 342 143 56 373 227 151 204 361
Desember 176 295 82 334 28 159 341 431 281 0

c.2. Sisa grafik curah hujan setahun yang belum terisi,agar terus dicoba diisi
dengan grafik batang tanaman lainnya sampai semua grafik curah hujan itu
terisi secara optimal oleh grafik batang tanaman-tanaman lain sehingga
target frekuensi pertanaman di tipe curah hujan daerah itu terpenuhi.

222
c.3. Pada waktu penentuan waktu tanam yang sesungguhnya di lapangan, agar
dicek kembali situasi curah hujan sesungguhnya yang terjadi pada bulan atau
dekade saat itu. Bila curah hujan itu tak sesuai dengan grafik curah hujan
rata-rata (dari 10 tahun) agar menunggu sampai batas curah hujan memadai.

Curah Hujan (mm)

400

350
300
250

200
150
100
Padi
50 IR 36
Jagung

Sept Okt Nop Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags

Gambar 10.4. Pola tanam ganda: Jagung-Padi IR.36; Metode : Tarik- Giring; Lahan
Sawah tadah hujan; Tipe curah hujan : C3; (Frekuensi Pertanaman 2x)

Menentukan waktu tanam yang relatif tepat berdasarkan formula “Wickham”


Akhir-akhir ini sering terjadi bencana kekeringan padi gadu (spekulasi) di
beberapa daerah Jawa Barat, sebagai akibat kelambatan tanam padi rendeng, dan
memaksakan padi gadu. Sebenarnya hal tersebut tidak perlu terjadi apabila
dilaksanakan pola tanam yan baik. Salah satu pola tanam untuk daerah-daerah
demikian adalah gogorancah-padi gadu-palawija atau sayuran. Untuk menanam
gogorancah, perlu ditentukan waktu tanam yang tepat, sehingga padi gadu akan
selamat, dan masih tersedia waktu untuk palawija setelah tanam padi gadu
(Sulaeman dkk, 1984).
Langkah-langkah persiapan untuk menentukan waktu tanam, perlu diketahui
hal-hal sebagai berikut:

a. Rata-rata curah hujan per dekade dan per bulan untuk jangka waktu 10-30 tahun
dari lokasi yang akan dikembangkan pada pola tanam dengan memasukkan
gogorancah.

223
b. Varietas padi yang akan ditanam beserta umur tanaman tersebut (dihitung dari
semai).
c. Lamanya di persemaian apabila padi tersebut disemaikan dulu untuk padi sawah
biasa.
d. Grafik rata-rata curah hujan per dekade dan per bulan dalam jangka waktu
1(satu) tahun di atas kertas grafik dengan skala hari (Gambar 13.5).
Apabila iklim dalam keadaan normal, penentuan waktu tanam dapat dilakukan
dengan formula “Wickham” sebagai berikut :

t = S- [½(U-R) + P]
t = Waktu tanam yang akan dicari (tanggal)
S = Saat curah hujan mencapai rata-rata per bulan (tanggal)
U = Umur tanaman (misal padi) dihitung sejak semai (dalam hari)
R = Lama bulan hujan yang sama atau lebih dan rata-rata curah hujan (dalam
hari) yaitu a1 a2.
P = Lama dalam persemaian (Cisadane 20 hari)
[ ] = Harga mutlak

Untuk mencari S Tarik garis horizontal dari rata-rata curah hujan per bulan
(161 mm) pada sumbu y sehingga memotong grafik di a1 dan a2 (gambar).
Bila a1 dan a2 diproyeksikan pada sumbu x akan memotong sumbu x di b1 dan
b2. Maka b1 adalah saat curah hujan mencapai rata-rata (S).
Bila umur Cisadane 135 hari, dan R yaitu b1-b2 sebanyak 154 hari, dan umur di
persemaian 20 hari.
Maka penjabaran formula tersebut menjadi sebagai berikut :

t = S-[½ (135 - 154) + 20]

= S-[½(19) + 20]

= S – 29 (dibulatkan)

224
Curah hujan (mm)

500

400

300

200 161 mm a2
a1

R
100 b1 b2

Bulan 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7
Jml hari 31 30 31 30 31 31 28 31 30 31 30 31
per bulan

Gambar 10.5 Grafik rata-rata curah hujan di wilayah Kecamatan Y 1996-2005.

Jadi t merupakan waktu tanam yang tepat adalah maju 29 hari dari tanggal
curah hujan mencapai rata-rata (8 November) yaitu tanggal 9 Oktober, kira-kira
curah hujan sekitar 60 mm.
Dengan menggunakan formula tersebut memungkinkan penanaman
gogorancah dilaksanakan dalam waktu yang tepat sehingga memungkinkan pula
untuk menerapkan Gogorancah-padi gadu-palawija.
Dari semua faktor yang telah disebutkan, iklim merupakan faktor yang sangat
krusial, dan paling mengemuka saat ini, yaitu dengan adanya perubahan iklim
global, dan telah menjadi tantangan besar dalam keberlangsungan produksi
pertanian. Untuk mengantisipasi keadaan ini, agar setiap komoditas di dalam pola
tanam dapat terselamatkan, pemerintah dalam hal ini kementrian pertanian melalui
Indonesian Agency For Agriculural Research and Development (IAARD) sejak
tahun 2007 telah mengkompilasi informasi jadwal tanam padi sebagai basis pola
tanam untuk setiap wilayah di seluruh Indonesia. Kegiatan ini terus dikembangkan
secara terintegrasi melalui program Integrated Cropping Calender Information
Systems (ICCIS) dan / atau SIKATAM (Sistem Informasi Kalender Tanam
Terpadu). Melalui program ini dapat diketahui potensi sebaran luas wilayah untuk
ditentukan jadwal tanamnya berdasarkan pengelompokkan data curah hujan, apakah
berlebihan, normal, atau kering (BMKG, 2012). ICCIS merupakan pedoman atau
alat yang menyediakan informasi mengenai kondisi wilayah di seluruh Indonesia
atas dasar prediksi musim, meliputi jadwal tanam disetiap sub wilayah, pola tanam,

225
luas lahan yang terancam banjir dan kekeringan, potensi terserang hama penyakit,
varietas padi, dan kebutuhan benih, serta rekomendasi dosis pupuk. Kesemua ini
sangat diperlukan untuk mempersiapkan penanaman pada musim berikutnya.
Tantangan di dalam mengembangkan ICCIS antara lain : (1) Adanya peningkatan
variabilitas dan perubahan iklim yang tidak terduga, menyulitkan didalam ketepatan
menentukan waktu tanam, (2) menurunnya produksi dan produktivitas, memerlukan
informasi inovasi teknologi yang sangat komplek, (3) adanya fragmentasi dan
konversi lahan pertanian ke non pertanian yang semakin besar, akan menyebabkan
hasil padi semakin menurun.
ICCIS dapat diakses di website melalui alamat sebagai berikut :
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
(Haris Syahbuddin dan Eleonora Runtunuwu, 2013).

Beberapa pola tanam alternatif di lahan sawah tadah hujan berdasarkan


ketersediaan air.
Lahan Sawah Tadah Hujan

A. Masa bertanam > 9 bulan


 Padi sawah-palawija-palawija
 Palawija-padi sawah-palawija
 Gogorancah- padi sawah-palawija
 Gogorancah-palawija-palawija
Tanaman/varietas berumur sedang, potensi produksi tinggi dan nilai
ekonomi tinggi.
B. Masa bertanam 6-9 bulan
 Palawija-padi sawah-palawija
 Padi sawah-palawija-palawija
 Gogorancah-palawija-palawija
Tanaman /varietas berumur pendek dan tahan kering.
C. Masa bertanam 4-6 bulan
 Padi sawah-palawija

226
 Gogorancah-palawija
 Palawija-palawija
Tanaman/varietas berumur sedang dan nilai ekonomi tinggi.
D. Masa bertanam < 4 bulan
 Padi sawah-palawija
 Gogorancah-palawija
 Palawija-palawija
Tanaman/varietas umur pendek dan tahan kering dimantapkan dengan alley
cropping.

1.3 Pola Tanam di Lahan Kering


Lahan kering adalah lahan yang dapat digunakan untuk usaha pertanian
dengan menggunakan air secara terbatas, dan biasanya hanya mengandalkan dari
curah hujan. Lahan ini memiliki kondisi agroekosistem yang beragam, umumnya
berlereng dengan kondisi kemantapan lahan yang lebih labil (peka terhadap erosi),
terutama bila pengelolaannya tidak memperhatikan kaidah konservasi tanah.
Untuk usaha pertanian, lahan kering dapat dibagi dalam dua jenis penggunaan
lahan, yaitu lahan tegalan dan pekarangan. Lahan kering dibedakan juga ke dalam
lahan kering beriklim basah (dryland-wetclimate) dengan karakteristik curah hujan
> 2000 mm/th, masa bertanam > 6 bulan, dan elevasi > 700 m dpl; dan lahan
kering beriklim kering (dryland-dry climate) dengan karakteristik curah hujan <
2000 mm/th, masa bertanam < 6 bulan, dan elevasi < 700 m dpl.

Pola tanam di lahan kering dapat menggunakan tanaman semusim (Annual


Crops). “Annual upland crops” adalah tanaman semusim di lahan kering yang
siklus hidupnya kurang dari 12 bulan, dan tanaman segera mati setelah buahnya
dipanen. Atau sejak tumbuh sampai dengan menghasilkan (panen) memerlukan
waktu kurang dari 12 bulan.
Yang termasuk “Annual Upland Crops”
a. Grain Crops (Biji-bijian), dicirikan dengan produk yang memiliki nilai
ekonomis dalam bentuk biji kering.
Budidayanya, kepadatan tinggi, sedikit membutuhkan tenaga kerja, sedikit
memerlukan biaya (low material input), tapi hasil per unit area stabil.
Yang termasuk ‘grain crops’ yaitu :

227
– Sereal (jagung, gandum, sorghum).
– Legum (kacang hijau, kedelai, kacang tanah).
b. Vegetables Crops (sayur-sayuran)
– Hasil ekonomi = bagian tanaman succulent
– Budidayanya memerlukan biaya dan keuntungan lebih tinggi
– Contoh : tomat, kubis, cowpeas, dsb.
c. Root Crops
– Hasil ekonomi = bagian akar
– Dibudidayakan dalam kisaran lingkungan yang cukup luas, sehingga
variasi hasil dan keuntungan sangat beragam
– Contoh : ubi jalar, ubi kayu.
d. Non Food Crops
– Hasil yang bernilai ekonomi, bukan bagian tanaman yang dapat dimakan,
melainkan bagian tanaman yang digunakan untuk keperluan industri.
– Contoh : tembakau, kapas
Pada umumnya tanaman-tanaman semusim yang dikembangkan di lahan
kering adalah :

– Tanaman yang umurnya pendek, cepat matang (cepat dipanen)


– Umur kurang dari 140 hari
– Sifat morfologi berlainan
Dengan bervariasinya komoditas, teknik budidaya, kebutuhan tenaga
kerja/biaya untuk memproduksi mengindikasikan banyak alternatif bagi petani
untuk melaksanakan usahataninya.
Bagi petani yang mampu baik teknologi maupun modal, akan mengusahakan
komoditas yang high input. Contoh : tomat (50 hari orang kerja (HOK) per
hektar), biaya lebih tinggi, namun potensi keuntungan lebih tinggi pula (2-3) kali
“grain crops”.
Sebaliknya : bagi yang kurang mampu, akan mengusahakan komoditas yang
“Low Input”, contoh : jagung (kurang dari 50 HOK per hektar). Petani yang
memiliki lahan sempit tetapi tenaga kerja cukup banyak, dapat mengusahakan
tanaman secara intensif. Dengan beragam penampilan tanaman yang disebabkan
oleh perbedaaan sifat-sifat morfologi, memberikan peluang yang cukup besar
untuk melaksanakan tanam ganda di lahan kering. Tiga syarat varietas/kultivar

228
untuk meningkatkan intensitas tanam : (1) umur pendek, (2) toleran kekeringan,
(3) toleran naungan.
Pola tanam di lahan kering
Beberapa pola tanam yang penting di lahan kering dapat diklasifikasikan ke
dalam dua kelompok yaitu :

(1) Dengan menggunakan tanaman-tanaman semusim yang cepat matang/umur


pendek.
(2) Dengan menggunakan tanaman-tanaman semusim yang lambat matang
(umur panjang).
Dengan tanaman berumur pendek (kurang dari 4 bulan) dapat dianjurkan
pola tanam berurutan (sequential cropping)sepanjang tahun.

Bentuk lain dari intercropping dapat dilakukan, misalnya :

 Padi + jagung (selama musim hujan) sebab keduanya toleran terhadap curah
hujan tinggi bahkan pada saat panen sekalipun.
 Jagung + legum, biasanya ditanam sebagai tanaman kedua dan panen
bersamaan dengan musim kering.
 Sereal + legum sering digunakan karena :
– Penting sebagai bahan makanan
– Mudah disimpan (tidak memerlukan perlakuan khusus dalam
penyimpanan) seperti temperatur
– Mudah dipasarkan
Pola tanam dengan tanaman-tanaman yang umur panjang (lambat matang),
siklus hidup lebih dari 6 bulan. Misalnya : ubikayu, rami, jarak, dan tebu.
Spesies-spesies tersebut dengan karakteristik sabagai berikut :
– Memiliki kanopi besar
– Ditanam dalam barisan yang relatif lebih lebar
– Pertumbuhan lambat pada fase awal (perlu waktu > 2 bulan, selanjutnya
saling menaungi).
Pola tanam dengan melibatkan tanaman yang berumur panjang dapat
dibedakan dalam 2 hal yaitu :
a. Intercropping tanaman semusim yang berumur pendek (merupakan
komponen dominan dalam kasus tersebut).

229
b. Intercropping tanaman semusim yang berumur panjang (merupakan
komponen dominan dalam kasus tersebut).
Pada kasus (a), kelompok tanaman yang berumur pendek dan panjang
ditanam secara bersama-sama dalam bentuk tumpangsari, agar tanaman yang
berumur pendek itu dapat dipanen sebelum tanaman yang berumur panjang saling
menutup tanah.
Tanaman semusim yang umur panjang biasa ditanam pada awal musim
hujan, sehingga perlu melakukan seleksi terhadap tanaman yang berumur pendek
untuk beradaptasi dengan curah hujan di wilayah tersebut.
Misalnya :
– Di Indonesia : curah hujan sangat tinggi, sehingga padi dan jagung
merupakan tumpangsari utama yang ditanam pada fase awal dari
pertumbuhan ubi kayu. Kedua komoditas tersebut toleran terhadap curah
hujan tinggi s/d panen.
– Di Thailand curah hujan rendah, legum lebih banyak ditumpangsarikan
dengan ubikayu atau dengan rami.
Bila tanaman semusim yang berumur panjang mulai matang, ILD menurun
dan lebih banyak cahaya menembus tanah, dan fase itulah tanaman semusim yang
berumur pendek dapat ditanam sebagai tanaman kedua yang ditanam secara
tumpangsari, pada akhir musim hujan (saat curah hujan berkurang).
Jenis tanaman yang umum : legum umur pendek. Kasus seperti ini sering
dilakukan di Indonesia, legum ditumpangsarikan dengan ubikayu fase matang.
Pada kasus (b), dengan menggunakan tanaman semusim yang berumur panjang
sebagai tanaman dominan, maka :
– Tanaman semusim yang berumur panjang biasanya merupakan sumber
utama penghasilan petani.
– Sedangkan tanaman semusim yang berumur pendek yang ditumpangsarikan
sebagai tambahan bahan makanan sambil menunggu tanaman utama.
– Contoh : Tumpangsari tebu dan kacang hijau, lebih dari 80% nilai hasil
berasal dari tebu.
3 faktor penting yang menentukan penyusunan pola tanam di lahan kering yaitu :
(1) curah hujan, (2) karakteristik tanah, (3) permintaan pasar.

230
Beberapa pola tanam Alternatif di lahan kering bedasarkan ketersediaan air
Lahan kering

A. Masa bertanam > 9 bulan


 Tumpangsari padi gogo + jagung, alley cropping ubikayu - kacang-
kacangan – kacang-kacangan.
 Tumpangsari padi gogo + jagung + kacang-kacangan – tumpangsari
jagung + kacang-kacangan.
 Tumpangsari padi gogo + jagung – alley croping ubikayu (rapat).
 Padi gogo – kacang-kacangan – kacang-kacangan.
Tanaman berumur sedang, potensi produksi tinggi, dan nilai ekonomi tinggi.
B. Masa bertanam 6-9 bulan
 Tumpangsari padi gogo + jagung – alley cropping ubikayu – kacang-
kacangan.
 Tumpangsari padi gogo + jagung + kacang-kacangan.
 Tumpangsari padi gogo + jagung - tumpangsari kacang-kacangan dan
jagung.
 Tumpang sari padi gogo + jagung-alley cropping ubikayu (rapat).
 Padi gogo – kacang-kacangan – kacang-kacangan.
Tanaman/varietas berumur pendek, dan toleran kekeringan.
C. Masa bertanam 4-6 bulan
 Tumpang sari padi gogo + jagung – alley cropping ubikayu (rapat).
 Tumpangsari padi gogo + jagung – tumpangsari kacang-kacangan +
jagung.
 Padi gogo – tumpangsari jagung + kacang-kacangan.
Tanaman/varietas berumur pendek, dan toleran kekeringan.
D. Masa bertanam < 4 bulan
 Tumpangsari padi gogo-jagung
 Padi gogo – palawija
 Palawija – palawija
Tanaman/varietas berumur pendek dan tahan kering serta menggunakan
teknik alley cropping.

231
1.4 Pola tanam di dataran tinggi

Lahan dataran tinggi (hilly land) atau high altitude area, atau daerah hulu,
memiliki berbagai karakteristik sebagai berikut :
 Topografi berbukit bergelombang
 Elevasi > 700 m dpl
 Didominasi kemiringan >15 %
 Areal cukup luas (di Indonesia) 151.889.000 ha (84% dari total area)
 Produktivitas lahan masih dapat ditingkatkan dengan didukung jumlah
penduduk yang berlebihan dari petani sawah banyak menyerap tenaga kerja.
 Sebagian besar petani, usahatani ilegal yang dapat merusak sumberdaya alam,
disebabkan faktor sosial ekonomi.
 Standar hidup rendah dibandingkan petani dataran rendah.
 Memiliki potensi penurunan produktivitas bila salah mengelolanya
Pengelolaan di dataran tinggi, perlu menyertakan prinsip-prinsip konservasi,
terutama pencegahan terhadap erosi. Erosi akan meningkat :
– Dengan bertambah curam lereng
– Seringnya pengolahan tanah
– Intensif penanaman
– Seringnya hujan
Menyebabkan :
– Berkurang ukuran partikel-partikel tanah
– Berkurang tajuk-tajuk penutupan tanah
Dengan cepat menurunkan produktivitas lahan dan laju erosi meningkat.
Pemilihan pola tanam pada ekosistem ini harus mampu menekan erosi
sekecil mungkin. Pola tanam ganda ideal mengurangi erosi tanpa mengorbankan
lahan yang dapat digunakan untuk tanaman-tanaman yang bernilai ekonomi tinggi.
Dengan tajuk-tajuk tanaman yang cukup untuk menutup tanah, air hujan
tidak langsung menimpa tanah dan erosi berkurang.
Hal ini dapat ditempuh melalui :
– Intercropping – tanah tertutup sepanjang tahun
– Relay cropping – sisa-sisa tanaman untuk mulsa
Pola tanam tradisional, biasanya dilakukan petani untuk budidaya ladang
berpindah (shifting cultivation). Hal ini tidak dibenarkan dan dilarang, karena

232
dengan budidaya ladang berpindah, akan membuka hutan yang masih subur,
sehingga dengan membakar sisa-sisa tanaman, menyebabkan banyak kehilangan
bahan organik.
Pola ladang berpindah, penanaman dilakukan (2-3) kali, setelah kesuburan
tanah menurun, segera membuka lagi lahan baru dan yang lama dibiarkan, begitu
seterusnya.
Biasanya tahun I hasil baik.
Tahun II hasil berkuang.
Tahun III hasil sangat sedikit, seterusnya pindah lagi.
Dengan bertambahnya penduduk dan menurunnya area yang dapat
digunakan untuk ladang berpindah, meyebabkan fase bera jadi pendek dan
frekuensi penanaman jadi meningkat.
Dengan demikian menyebabkan kesuburan tanah menurun, gulma yang
tahan bakar tumbuh pada kesuburan tanah rendah, dan lebih banyak semak-semak
yang tumbuh daripada pohon-pohon, akhirnya produktivitas lahan menurun.
Pengaturan pola tanam
Pola tanam yang dianjurkan, perlu dicari bentuk pola tanam yang dapat
meningkatkan intensitas tanam, dan memenuhi kebutuhan penduduk tanpa
merusak lingkungan. Penyusunan pola tanam ditujukan untuk produktivitas dan
konservasi. Ke dalam penyusunan pola tanam di dataran tinggi diklasifikasikan
menjadi 3 kategori, sebagai berikut :
1) Melibatkan tanaman tahuan (perennial crops).
2) Melibatkan tanaman tahunan + semusim.
3) Melibatkan tanaman semusim saja (annual crops).
Perennial Crops (Tanaman Tahunan)
Sangat baik untuk konservasi tanah, sebab :
– Siklus hidup panjang
– Memerlukan budidaya minimum
– Memiliki kanopi lebat untuk menutup tanah
a. Jenis tanaman yang dianjurkan yaitu pohon buah-buahan dan industri
Pada kasus penggunaan pohon buah-buahan (fruit tree farming), pada saat
tanaman masih muda dan kecil, penutupan tanah oleh kanopi belum mencukupi,
sehingga pohon buah-buahan harus dikelola untuk mencegah erosi, melalui 3
cara, sebagai berikut :
1) Pengolahan tanah minimum

233
2) Tanami dengan cover crops (penutup tanah) seperti : kacang-kacangan yang
merambat segera setelah penanaman pohon buah-buahan sehingga
tanah kosong tertutup vegetasi.

Alternatif lain, tanam dengan “fast maturing annuals” sebelum tanaman


tahunan dipanen, tanaman semusim berumur pendek ditanam di antara tanaman
buah-buahan (interculture).
Setelah tanaman buah-buahan berkembang penuh, dapat ditanami dengan
tanaman-tanaman tertentu yang memerlukan naungan seperti : coklat, kopi
(tumpangtangga). Tanaman-tanaman tersebut merangsang keseimbangan ekologi
karena :
– Berpengaruh terhadap hama penyakit
– Memperkecil erosi
– Mempertahankan retensi air di dalam tanah
Keuntungan lain dari tanaman buah-buahan :
– Beberapa tanaman secara ekologi beradaptasi tinggi terhadap dataran
tinggi.
– Menghasilkan secara regular (dipanen berkali-kali) dengan satu kali
tanam.
– Modal dan tenaga kerja yang diperlukan berasal dari tenaga keluarga
petani itu sendiri.
– Produk dapat langsung dikonsumsi.
– Secara ekonomi labih menguntungkan untuk menghindari penebangan
dan pembakaran.
b. Selain tanaman buah-buahan dapat pula menggunakan tanaman industri
(industrial forest plantation). Tanaman industri yaitu tanaman yang memiliki
nilai ekonomi untuk industri dan diusahakan pada lahan terbuka (tidak melulu
pada lahan perkebunan), untuk diambil hasilnya dalam bentuk : kayu, bubur
kayu (pulp wood), tiang-tiang, bahan bakar, dan sebagainya.
Menggunakan tanaman tahunan + semusim (perennial + annual interculture)
Tanaman sela antara perennial + annual, dapat meminimkan kompetisi, dan
meningkatkan komplementer. Karakteristik tanaman semusim, cepat tumbuh dan
matang, cepat dipanen, dan memerlukan budidaya intensif, sehingga mudah trejadi
erosi, terutama pada lahan-lahan yang sangat miring. Adapun karakteristik tanaman
tahunan :
– Pertumbuhan lambat
– Sejak tanam sampai panen, waktunya panjang

234
– Satu kali tanam panen berkali-kali
– Tanah sedikit diolah dan erosi diperkecil
Menggunakan tanaman semusim (Annual crops)
Dengan meningkatnya jumlah penduduk secara terus menerus, terjadi fragmentasi
dari pengelolaan area ke dalam satuan unit-unit usahatani yang kecil, sehingga
penanaman tanaman semusim di dataran tinggi menyebabkan kurangnya konservasi
tanah.
Kejadian itu terjadi karena :
a. Produktivitas (dalam bentuk kalori per unit area per unit waktu dari suatu lahan)
untuk serealia dan root crops, merupakan bahan makanan utama untuk petani-
petani pada umumnya di Asia dan lebih tinggi dibandingkan perennial crops.
Contoh : padi atau ubijalar menghasilkan > 2 kali setahun dalam bentuk kalori
dibandingkan mangga atau kelapa.
b. Potensial dari tanaman-tanaman semusim mampu mengabsorbsi tenaga kerja
lebih banyak daripada perennial crops.
c. Dengan siklus hidup yang pendek dari annual, sehingga dapat diusahakan
beberapa kali.
Pengusahaan tanaman semusim di dataran tinggi berbukit tetap harus mengacu
kepada 2 hal “produktivitas dan konservasi”.
Menurut USDA, klasifikasi penggunaan lahan (diberlakukan) di Jepang dan
Filipina sebagai berikut :
a. Kemiringan lahan berkisar antara 0% sampai 5% (≤ 5%)
diusahakan dengan tanaman-tanaman sayuran.
b. Middle slope (8-15%) buah-buahan
c. Steep slope (16-30%) penghijauan
d. > 30 % untuk dihutankan
1.5 Pola tanam di lahan pasang surut
Keberadaan lahan rawa cukup luas di dunia. Di Australia diestimasi lahan
sulfat masam mencapai 80.000 km2. Finland dan Sweden, 4760 km2, Afrika
mencapai 2 juta hektar dan Indonesia cukup luas, lahan rawa di Indonesia sekitar
33,40 juta ha, yang terdiri atas rawa pasang surut 20 juta ha dan rawa lebak 13,40
juta ha dan tresebar di tiga pulau besar yaitu Sumatera, Kalimantan, dan Papua
(Widjaja-Adhi, 1986). Di Indonesia pembukaan lahan rawa pasang surut

235
dilakukan berkaitan dengan program transmigrasi yang dimulai tahun 1969
melalui Proyek Pembukaan Persawahan Pasang Surut (P4S).
Pemanfaatan lahan pasang surut untuk pertanian merupakan pilihan yang
strategis untuk mengimbangi penciutan lahan produktif di Jawa akibat alih fungsi
ke sektor non pertanian, misalnya perumahan dan industri. Menurut Suriadikarta
et al., (1999), lahan rawa yang telah dibuka, mencapai 2,40 juta ha, yaitu 1,50 juta
ha di Kalimantan dan 0,90 ha di Sumatera. Lahan rawa di Papua sampai saat ini
belum dibuka untuk pertanian. Pengembangan lahan rawa memerlukan
perencanaan, pengelolaan, dan pemanfaatan yang tepat serta penerapan teknologi
yang sesuai, terutama pengelolaan tanah dan air. Dengan upaya seperti itu
diharapkan lahan rawa dapat menjadi lahan pertanian yang produktif
berkelanjutan, dan berwawasan lingkungan (Widjaja-Adhi, 1986).
Budidaya
a) Jenis tanaman dan varietas
Komoditas yang dapat dibudidayakan di daerah pasang surut dapat
dikelompokan dalam tanaman pangan, sayuran, buah-buahan, tanaman
industri dan ikan. Komoditas utama adalah tanaman pangan, kelapa,
rambutan, dan jeruk.

– Tanaman pangan yang banyak dibudidayakan adalah padi sawah lokal


yang berumur dalam ( 8 bulan) seperti Lemo, Bayan Putih, dan Karang
Dukuh. Usaha pembuatan tabukan dapat mengendalikan kedalaman air,
sehingga dapat dikembangkan varietas unggul seperti IR 64, atau yang
lainnya.
– Pengujian adaptasi varietas unggul memungkinkan petani untuk tanam
dua kali padi di lahan tabukan. Tanaman berurutan antara padi unggul
diikuti oleh padi lokal dapat dikembangkan di daerah pasang-surut.
Pengujian padi sawah yang tahan terhadap pH rendah dan air dalam,
sangat membantu pengembangan daerah pasang surut.
Tanaman pangan yang dibudidayakan di guludan adalah jagung. Beberapa
petani menanam monokultur ubikayu, apabila kesuburan tanahnya sudah
menurun. Dalam jangka panjang, lahan guludan ini akan digunakan untuk tanaman
kelapa, rambutan dan jeruk. Sehabis dua kali ubikayu biasanya tanaman tahunan
sudah besar, dan penanaman komoditas pangan akan hilang.

236
Perbaikan cara budidaya dan pengaturan kombinasi yang baik terbukti dapat
memperbaiki kombinasi tanaman, sehingga bisa ditanami tiga tanaman yaitu
jagung/ubikayu/jagung. Tanaman kacang tunggak ataupun kacang-kacangan
lainnya perlu diusahakan di musim kemarau, untuk dapat menutupi tanah
sepanjang tahun. Pola tanam pangan ini hanya dapat bertahan selam 5 tahun,
sesudah komoditas tahunan besar, tanaman pangan tidak dapat diusahakan lagi.

b) Pengolahan tanah dan pemupukan


Aktivitas utama dalam usaha pengembangan wilayah pasang surut dikenal
dengan kanalisasi, untuk membuang air masam dan mencuci atau merendam
dengan air tawar. Untuk tanah-tanah yang selalu tergenang air, dibuat tabukan
yang dihubungkan dengan kanal-kanal tersebut, sehingga air asamnya terbuang.
– Pengolahan tanah
Pembuatan tabukan tersebut menimbulkan tumpukan tanah yang disebut
puntukan. Pada tahun berikutnya, puntukan tersebut bertambah besar dan
panjang, sehingga terbentuk guludan. Pengelolaan lahan ini akan
membentuk sistim Surjan di lahan pasang surut.
Petani lokal dan transmigran melakukan pengolahan tanah dengan
sistim tradisional yaitu ditajak (dibabat), dipuntal dan selanjutnya diurai
(disebarkan sesudah rumputnya busuk).
– Kondisi pengolahan tanah demikian cukup berhasil untuk lahan yang selalu
tergenang, tetapi kegiatan tersebut memerlukan waktu yang cukup lama
sehingga sulit untuk mengintensifkan pola tanam.
Pada tanah yang airnya tidak dalam, petani masih melakukan metode
pengolahan tanah secara tradisional, walaupun dapat dilakukan
pencangkulan
c) Proteksi tanaman
Daerah pasang surut yang ditanami padi secara intensif, mendapat hambatan
serius dari hama tanaman. Tikus sawah, penggerek batang, walang sangit, dan
binatang liar, merupakan hama utama. Penyakit fisiologis dan keracunan besi dan
aluminium juga banyak mengganggu pertumbuhan tanaman pangan di daerah
pasang surut.
Penanaman padi unggul di daerah pasang surut sering gagal di persemaian,
akibat serangan hama orong-orong (Gryllotalpa africana). Hal ini terjadi di

237
persemaian kering. Biasanya penggenangan dapat mengatasi serangan orong-
orong tersebut. Pada persemaian kering pemberian Furadan 3G dengan dosis 1
kg/ha bahan aktif dapat menekan serangan orong-orong. Pemberian Furadan 3 G
dengan dosis 1 kg/ha b.a sebanyak 3 kali di persemaian waktu tanam, dan umur 30
hari adalah 60% lebih efektif daripada tanpa penggunaan Furadan 3G.
Hama-hama penting lainnya dapat diatasi dengan penggunaan insektisida
yang tepat sedini mungkin, hama tikus memang sulit dikendalikan di daerah
pasang surut yang bersebrangan dengan hutan rawa, akan berhasil jika dilakukan
secara terpadu. Upaya tersebut dimulai dengan sanitasi, gropyokan, dan
rodentisida, usaha lain juga perlu ditunjang dengan tertib tanam yang baik.
d) Alat-alat pertanian
Alat-alat pertanian yang biasa digunakan oleh petani pasang surut adalah
tajak, kait, dan golok. Tajak biasanya digunakan untuk pembabatan rumput di
daerah sawah yang basah. Alat ini sangat efektif dan berbentuk cangkul yang
matanya seperti parang.
Sesudah rumput dibabat, lalu dikait untuk ditumpuk menjadi satu tumpukan,
sehingga terjadilah beberapa puntukan di daerah sawah. Sesudah rumput busuk
akan diuraikan dan disebar. Alat ini tidak berfungsi sebagai pengolah tanah, tetapi
untuk membersihkan lahan yang bahan organiknya tebal untuk ditanami padi
sawah. Pada tanah alluvial, alat tajak ini mungkin masih cukup efektif. Pada tanah
mineral (kumbisol)/pasang surut yang bahan organiknya sudah tipis, tanahnya
perlu diolah. Penggunaan cangkul, bajak dan traktor tangan atau traktor mini dapat
digunakan.
e) Sistim pengairan
– Sistim kanalisasi
Sistim kanalisasi di daerah pasang surut dapat mengurangi dalamnya
genangan air. Padi sawah unggul umur genjah dapat ditanam pada waktu
musim hujan, di mana padi lokal masih dalam persemaian. Pada tanah-tanah
yang bergambut tebal, masih sulit diatasi tingginya genangan air. Kanalisasi
perlu diikuti pengelolaan lahan dengan sistim surjan yang membentuk
tabukan (bagian bawah) dan guludan (bagian atas yang kering).
– Sistim surjan
Sistim ini bermanfaat besar dalam mengurangi genangan air tabukan pada
musim hujan dan mengurangi kekurangan air di musim kemarau. Pola tanam
238
padi unggul diikuti oleh padi lokal dapat diterapkan di lahan tabukan.
Produksi padinya dapat meningkat dua kali lipat padi sawah lokal yang
hanya menghasilkan 2,5 ton/ha/thn. Pada guludan dapat ditingkatkan
tanaman pangan, dari dua kali jagung menjadi jagung /ubikayu/jagung.
Dimusim kemarau ditanam kacang-kacangan penutup tanah. Adanya
beberapa tanaman pangan dalam setahun pada lahan pasang surut yang
dikelola secara sistim surjan (Gambar 10.6) dapat meningkatkan produksi
setara gabah dan pendapatan bersih petani antara 2-2,5 kali pola petani.
Pola tanam
Petani transmigran yang ditempatkan di daerah pasang surut kebanyakan
melakukan penanaman satu kali padi sawah lokal di bagian yang basah. Padi
sawah mulai disebar di persemaian kering pada waktu musim hujan (Nov, Des)
yang disebut taradakan.
Waktu umur sekitar 30 hari, benih tersebut dipindah ke persemaian basah
yang airnya dangkal (ampakan). Sesudah berumur sekitar 40 hari, benih tersebut
dipindah ke persemaian yang agak dalam yang disebut lacakan. Umur benih
lacakan bergantung pada surutnya air di sawah pasang surut. Biasanya waktu
tanam di daerah pasang surut berlangsung sekitar April dan panen di bulan
Juli/Agustus (Gambar 10.6). Padi lokal tersebut dapat menghasilkan gabah kering
2-4 ton/ha/thn.

Adapun pola tanam alternatif di lahan rawa pasang surut dan lebak (Surjan dan
bukan surjan), adalah sebagai berikut :

Lahan Rawa Pasang Surut dan Lebak

A. Lahan rawa pasang surut bukan surjan


1. Padi sawah – padi sawah – bera
2. Padi sawah – padi sawah – palawija
B. Lahan pasang surut dengan surjan
1. Bagian bawah (tabukan) :
– Padi sawah – padi sawah – palawija
2. Bagian atas (guludan) :
– Palawija – palawija – palawija
– Padi gogo – palawija – palawija

239
C. Lahan rawa lebak

1. Padi sawah (air dalam) – padi sawah (air dalam) – bera

2. Padi sawah (air dalam) – padi sawah (air dalam) – palawija

Curah hujan

(mm)
400

300

200

100

Okt Nop Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep

Padi Sawah (Lokal)

B A L
A Ampakan
T
B Taradakan
Pola
Petani Jagung I Jagung II L Lacakan
G
T Tabukan

G Guludan
PS. PB 36
Padi Sawah (Lokal)
T
B A L
Pola
Introduksi
G Jagung I Jagung II

Ubikayu

G G
T T

Gambar . 10.6 Model sistim surjan serta pola tanam yang diuji di pasang surut, Barambai,
Kalimantan Selatan (Imtias Basa, dkk, 1983).

Simpulan untuk mengatur/merancang pola tanam pada berbagai


agroekosistem secara spesifik dan berkelanjutan, beberapa pertanyaan perlu
diajukan sbb:

240
Persyaratan untuk memenuhi kebutuhan usahatani:

 Apakah ada pasar bagi tanaman yang diusulkan dalam pola tanam?
 Apakah tanaman cocok bagi jenis tanah pada lahan yang ada?
 Apakah tanaman cocok bagi kondisi kelembaban dan iklim usaha tani?
 Dapatkah tanaman dibudidayakan dengan peralatan yang ada pada usaha tani
atau dengan perubahan minimal pada peralatan?
 Apakah tanaman memenuhi kebutuhan pakan dan pupuk hijau pada usaha
taninya, serta kebutuhan tunai dan sub sistem bagi rumah tangga tani tersebut?

Persyaratan keberlanjutan. Persyaratan pola tanam bagi keberlanjutan meliputi


prinsip-prinsip berikut ini.

 Apakah pola tanam memberikan pengendalian gulma yang efektif?


 Apakah pola tanam memberikan keseimbangan antara produksi tanaman
dengan pelestarian tanah?
 Apakah pola tanam membantu pembentukan tanah?
 Apakah pola tanam mencakup sistem perakaran yang menembus tanah rapat,
membawa unsur hara ke permukan dan memungkinkan udara dan air
memasuki tanah secara lebih mudah?
 Apakah pola tanam memberikan pengendalian serangga dan penyakit yang
efektif?
 Apakah pola tanam secara efektif menggunakan kelembaban yang ada?
Apakah praktek-praktek pelestarian kelembaban tercakup? Apakah tanaman
yang serakah akan kelembaban diganti dengan tumbuh-tumbuhan yang lebih
sedikit memerlukan kelembaban?
 Apakah pola tanaman memberikan suatu keragaman tanaman yang memadai
untuk meningkatkan stabilitas dan meminimalkan risiko?
 Apakah tanaman menghindari pembentukan unsur-unsur yang tidak
dikehendaki?
Mungkin tidak ada pola tanam yang dapat menampung semua tujuan itu,
namun jika hanya beberapa saja dimasukkan sudah dapat membantu membentuk
suatu sistem yang berkelanjutan.

241
2. Latihan dan Tugas Khusus
1. Mahasiswa ditugaskan membuat resume dari modul ini dengan mencatat hal-
hal penting dalam merancang pola tanam spesifik lokasi dan berkelanjutan pada
setiap agroekosistem.
2. Mahasiswa ditugaskan untuk latihan merancang pola tanam di lahan kering
ataupun tadah hujan atas dasar curah hujan normal, dan bandingkan dengan
SIKATAM, melalui penentuan waktu tanam.

3. Evaluasi Formatif
1. Faktor-faktor apa yang perlu diperhatikan dalam merancang pola tanam
spesifik berkelanjutan di agroekosistem tadah hujan, lahan dataran tinggi, dan
pasang surut?
2. Berhubungan dengan perubahan iklim global, bagaimana merancang pola
tanam di agroekosistem sub optimal agar terhindar dari kekeringan? Jelaskan!

3. DAFTAR PUSTAKA
Abdulhay, O. Sulaeman N. 1984. Petunjuk Teknis Penentuan Pola Pertanaman.
Dinas Pertanian Propinsi Jawa Barat.

Gower, A.A, and R.A. Gomez. 1983. Multiple Cropping in the Humid Tropics of
Asia. International Developement Research Centre (IDRC): 176. Otawa.

Haris Syahbudin and Eleonora Runtunuwu. 2013. Cropping Calender for


Adaptation in Grouping with Climate Change Procedury International
Seminar: Technology Innovation for Increasing Rice Production and
Conservary Environment Under Global Climate Change. IRRI.

Yuyun Yuwariahas AS. 2011. Dasar-Dasar Sistem Tanam Ganda. Jurusan Budidaya
Pertanian. Fakultas Pertanian. UNPAD.

242

Anda mungkin juga menyukai