0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan89 halaman

Peran Jaksa dalam Bantuan Hukum Nonlitigasi

Skripsi ini membahas peran Jaksa Pengacara Negara (JPN) dalam penyelesaian perkara perdata melalui bantuan hukum nonlitigasi di Kejaksaan Negeri Palembang. Penelitian ini menemukan bahwa pelaksanaan bantuan hukum tersebut sesuai dengan SOP yang berlaku, meskipun terdapat kendala seperti rendahnya kesadaran hukum dan kapasitas tenaga kerja JPN. Penulis berharap skripsi ini dapat memberikan manfaat dan kontribusi terhadap pemahaman tentang peran JPN dalam sistem hukum Indonesia.

Diunggah oleh

rasya octa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan89 halaman

Peran Jaksa dalam Bantuan Hukum Nonlitigasi

Skripsi ini membahas peran Jaksa Pengacara Negara (JPN) dalam penyelesaian perkara perdata melalui bantuan hukum nonlitigasi di Kejaksaan Negeri Palembang. Penelitian ini menemukan bahwa pelaksanaan bantuan hukum tersebut sesuai dengan SOP yang berlaku, meskipun terdapat kendala seperti rendahnya kesadaran hukum dan kapasitas tenaga kerja JPN. Penulis berharap skripsi ini dapat memberikan manfaat dan kontribusi terhadap pemahaman tentang peran JPN dalam sistem hukum Indonesia.

Diunggah oleh

rasya octa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PERAN JAKSA PENGACARA NEGARA DALAM PENYELESAIAN

PERKARA PERDATA MELALUI BANTUAN HUKUM NONLITIGASI


DI KEJAKSAAN NEGERI PALEMBANG

SKRIPSI

Diajukan Sebagai Persyaratan Untuk Mengikuti Ujian Komprehensif


Pada Bagian Hukum Perdata Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya

Oleh:
Muhammad Fajri Al Amin
02011382126469

HALAMAN JUDUL
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
PALEMBANG
2025
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
FAKULTAS HUKUM
PALEMBANG

HALAMAN PENGESAHAN SKRIPSI

JUDUL

PERAN JAKSA PENGACARA NEGARA DALAM PENYELESAIAN


PERKARA PERDATA MELALUI BANTUAN HUKUM NONLITIGASI
DI KEJAKSAAN NEGERI PALEMBANG

Telah Dinyatakan Memenuhi Syarat Untuk Mengikuti Ujian Komprehensif Sebagai


Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Hukum Pada Program Studi Ilmu Hukum
Universitas Sriwijaya

Palembang , 2025

Menyetujui:

Pembimbing Utama Pembimbing Pembantu

Sri Handayani S.H.,[Link] [Link] Trisaka S.H.,[Link].,BKP


NIP. 197002071996032002 NIP. 167107160660007

Mengetahui:
Ketua Bagian Hukum Perdata

Helena Primadianti Sulistyaningrum, S.H., M.H


NIP. 19860914200902204

ii
SURAT PERNYATAAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama Mahasiswa : Muhammad Fajri Al Amin

Nomor Induk Mahasiswa : 02011382126449

Tempat/Tanggal Lahir : Palembang, 09 Februari 2003

Fakultas : Hukum

Strata Pendidikan : S1

Program Studi : Ilmu Hukum

Program Kekhususan/Bagian : Hukum Perdata

Dengan ini menyatakan skripsi ini tidak memuat bahan-bahan yang


sebelumnya telah diajukan untuk memperoleh gelar di Perguruan Tinggi maupun
tanpa mencantumkan sumbernya. Skripsi ini tidak memuat bahan-bahan yang
sebelumnya dipublikasikan atau ditulis oleh siapapun tanpa mencantumkan
sumber
dalam teks.
Dengan surat pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya. Apabila terbukti
telah melakukan hal-hal yang bertentangan dengan pernyataan ini, saya bersedia
menanggung segala akibat yang ditimbulkan dikemudian hari sesuai dengan yang
berlaku.

Palembang, 2025

Yang menyatakan

Muhammad Fajri Al Amin


NIM: 02011382126469

iii
MOTTO DAN PERSEMBAHAN

Janganlah terlalu khawatirkan yang ada di masa depan, jangan terlalu mengingat-

ingat apa yang sudah terjadi dimasa lalu, hiduplah di momen saat ini.

“life in the present day”

Skripsi ini dipersembahkan kepada:

1. Kedua Orang Tuaku


2. Saudaraku
3. Sahabat dan Teman-Temanku
4. Guru dan Dosenku
5. Almamater yang kubanggakan
6. Kampus Universitas Sriwijaya

iv
KATA PENGANTAR

Puji serta syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat

dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul

“Peran Jaksa Pengacara Negara dalam Penyelesaian Perkara Perdata Melalui

Bantuan Hukum Nonlitigasi di Kejaksaan Negeri Palembang”.

Penulisan skripsi ini diajukan sebagai syarat untuk mengikuti ujian

Komprehensif guna untuk memperoleh gelar Sarjana Hukum pada Program

Kekhususan Hukum Perdata Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya. Penulis

menyadari bahwa penyusunan skripsi ini masih jauh dari sempurna, baik dari segi

penulisan maupun penyajiannya. Untuk itu, penulis dengan lapang dada menerima

segala bentuk kritik dan saran yang bersifat membangun. Akhir kata, semoga

skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua.

Palembang, 2025
Penulis,

Muhammad Fajri Al Amin

v
UCAPAN TERIMA KASIH

Puji serta syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah

memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan

skripsi ini dengan baik. Dalam penyelesaian skripsi ini penulis memperoleh

banyak bimbingan, arahan, serta bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu,

penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:

1. Bapak Prof. Dr. Taufiq Marwa, S.E., [Link]., selaku Rektor Universitas

Sriwijaya.

2. Bapak Prof. Dr. H. Joni Emirzon, S.H., [Link]., selaku Dekan Fakultas

Hukum Universitas Sriwijaya.

3. Bapak Dr. Muhammad Syaifuddin, S.H., [Link]., selaku Wakil Dekan I

Fakultas Hukum Sriwijaya.

4. Ibu Vegitya Ramadhani, S.H., [Link]., M.A., LL.M., selaku Wakil Dekan

II Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya.

5. Bapak Dr. Zulhidayat, S.H., M.H., selaku Wakil Dekan III Fakultas

Hukum Universitas Sriwijaya.

6. Ibu Helena Primadianti Sulistyaningrum, S.H., M.H., selaku Ketua Prodi

Hukum Perdata.

7. Ibu Sri Handayani, S.H., [Link]., selaku Pembimbing Utama yang selalu

menyempatkan waktu untuk membimbing serta memberikan arahan

kepada penulis dalam menuliskan skripsi ini. Semoga selalu diberikan

perlindungan oleh Allah SWT.

vi
8. Bapak H. Agus Trisaka S.H., [Link]., BKP., selaku Pembimbing Pembantu

yang telah menyempatkan waktu untuk membimbing serta memberikan

arahan kepada penulis dalam menuliskan skripsi ini. Semoga selalu

diberikan perlindungan oleh Allah SWT.

9. Bapak Rd. Muhammad Ikhsan, S.H., M.H., selaku Pembimbing akademik

yang selalu memberikan bimbingan serta arahan.

10. Bapak dan Ibu Dosen di bidang Hukum Perdata, serta seluruh dosen

pengajar di Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya, yang telah

memberikan ilmu, bimbingan, dan pengalaman yang sangat berharga bagi

penulis.

11. Seluruh Staff Karyawan dan Karyawati Fakultas Hukum Universitas

Sriwijaya yang telah memberikan pelayanan terbaik selama penulis

menimba ilmu.

12. Kedua orang tuaku, buya Zulkarnain dan ummi Siti Khodijah yang saya

cintai. Terima kasih telah memberikan doa, dukungan, pengorbanan, kasih

sayang, dan motivasi serta mengusahakan semua hal yang terbaik sehingga

penulis dapat menyelesaikan Pendidikan di Fakultas Hukum Universitas

Sriwijaya,

13. Saudaraku, Ahmad Rois Al Amin, Muhammad Faqih Al Amin,

Muhammad Abdul Aziz Al Amin, Muhammad Ikhwanul Muslimin Al

Amin yang saya sayangi, yang telah memberikan doa dan dukungan untuk

penulis.

vii
14. Ibu Rya Dilla Fitri, S.H., M.H. selaku Kasi Perdata dan TUN Kejaksaan

Negeri Palembang, Jaksa Pengacara Negara serta Staff dan Karyawan

DATUN yang telah banyak memberi masukan dan membantu penulis

dalam melakukan riset.

15. Keluarga Besar yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu, terima kasih

telah memberikan saran dan motivasi.

16. Tim F.2 Jaguar, terima kasih telah menjadi kisah baru dan Partner selama

PLKH berlangsung.

17. Sahabat MIN 1 Muara Enim, MTs Negeri Muara Enim, SMA Negeri 1

Muara Enim yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu.

18. Sahabat dan Teman-teman seperjuanganku Angkatan 2021 selama

perkuliahan di Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya semoga kita sukses

Bersama.

19. Dan yang terakhir semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat,

rezeki, serta perlindungan-Nya kepada seluruh pihak yang telah disebutkan

di atas, maupun kepada mereka yang tidak dapat disebutkan satu per satu.

viii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL....................................................................................................

HALAMAN PENGESAHAN SKRIPSI...................................................................

SURAT PERNYATAAN..........................................................................................

MOTTO DAN PERSEMBAHAN............................................................................

KATA PENGANTAR................................................................................................

UCAPAN TERIMA KASIH.....................................................................................

DAFTAR ISI..............................................................................................................

ABSTRAK..............................................................................................................XIII

BAB 1: PENDAHULUAN.................................................................................
A. Latar Belakang.........................................................................1
B. Rumusan Masalah....................................................................9
C. Tujuan Penelitian......................................................................9
D. Manfaat Penelitian.................................................................10
E. Ruang Lingkup Penelitian......................................................11
F. Kerangka Teori.......................................................................11
1. Teori Peranan.............................................................11
2. Teori Penegakan Hukum...........................................12
G. Metode Penelitian...................................................................13
1. Jenis Penelitian..................................................................13
[Link] Penelitian................................................14
[Link] dan Sumber Data...............................................15
[Link] Penelitian........................................................16

ix
[Link] dan Sampel Penelitian.................................17
[Link] Pengumpulan Data.........................................18
[Link] Data..............................................................19
[Link] Penarikan Kesimpulan...................................19
BAB II.........................................................................................................................
BAB II TINJAUAN PUSTAKA......................................................................
A. Tinjauan Umum Tentang Bantuan Hukum...............................20
1. Pengertian Bantuan Hukum.........................................20
[Link] dan Tujuan Bantuan Hukum..............................23
[Link] Hukum Nonlitigasi...........................................25
B. Tinjauan Umum Tentang Kejaksaan Republik Indonesia.........26
1. Pengertian Kejaksaan...................................................26
[Link] Kejaksaan..........................................................28
[Link] Kejaksaan.................................................32
[Link]...............................................................................34
[Link] dan Kedudukan Jaksa Pengacara Negara.........35
C. Tinjauan Umum Tentang Perkara Perdata................................36
1. Pengertian Hukum Perdata...........................................36
2. Perkara Hukum Perdata...............................................39
BAB III: PEMBAHASAN.................................................................................
A. Proses Pelaksanaan Bantuan Hukum Nonlitigasi yang
diberikan Jaksa Pengacara Negara dalam Penyelesaian
Perkara Perdata di Kejaksaan Negeri Palembang..................44
B. Kendala yang Dihadapi Oleh JPN dalam Penyelesaian Perkara
Perdata melalui Bantuan Hukum Nonlitigasi di Kejaksaan
Negeri Palembang..................................................................51
BAB IV: PENUTUP..........................................................................................
A. Kesimpulan...............................................................................68
B. Saran..........................................................................................69
DAFTAR PUSTAKA................................................................................................

x
xi
Nama : Muhammad Fajri Al Amin
NIM : 02011382126469
Judul : Peran Jaksa Pengacara Negara dalam Penyelesaian Perkara Perdata
Melalui Bantuan Hukum Nonlitigasi di Kejaksaan Negeri Palembang

xii
ABSTRAK

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tingginya jumlah perkara perdata yang


ditangani oleh Jaksa Pengacara Negara (JPN) di Kejaksaan Negeri Palembang
melalui mekanisme bantuan hukum nonlitigasi. Skripsi ini membahas dua
permasalahan utama, yaitu proses pelaksanaan bantuan hukum nonlitigasi yang
diberikan JPN dalam penyelesaian perkara perdata di Kejaksaan Negeri
Palembang, serta kendala-kendala yang dihadapi JPN dalam penyelesaian perkara
perdata melalui bantuan hukum nonlitigasi di Kejaksaan Negeri Palembang.
Penelitian ini bersifat empiris dengan pendekatan kualitatif, yang dilakukan
melalui wawancara langsung dengan Kepala Seksi Perdata dan Tata Usaha
Negara serta Jaksa Pengacara Negara di Kejaksaan Negeri Palembang. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa proses pelaksanaan bantuan hukum nonlitigasi
yang diberikan JPN dalam penyelesaian perkara perdata di Kejaksaan Negeri
Palembang telah sesuai dengan Peraturan Jaksa Agung Nomor: 040/A/JA/2010
tentang Standar Operasional Prosedur (SOP) Pelaksanaan Tugas, Fungsi, dan
Wewenang di Bidang Perdata dan Tata Usaha Negara. Beberapa kendala yang
dihadapi walaupun telah memenuhi 5 faktor hukum menurut Soerjono Soekanto
yang terdiri dari faktor hukum, faktor penegak hukum, faktor fasilitas dan sarana,
faktor masyarakat dan faktor kebudayaan. Kendala tersebut antara lain rendahnya
kesadaran hukum dari pihak termohon, lemahnya data dan dokumen yang
disampaikan oleh para pihak yang bersengketa serta kapasitas tenaga kerja JPN
yang tersedia belum memadai untuk mengakomodasi seluruh permintaan tersebut
secara optimal.

Kata Kunci : Jaksa Pengacara Negara, Kejaksaan Negeri Palembang, Bantuan


Hukum Nonlitigasi, Perkara perdata.

Pembimbing Utama Pembimbing Pembantu

Sri Handayani, S.H., [Link] [Link] Trisaka S.H.,[Link].,BKP


NIP. 197002071996032002 NIP. 167107160660007

Ketua Bagian Hukum Perdata

Helena Primadianti Sulistyaningrum, S.H., M.H


NIP. 19860914200902204

xiii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Secara umum peran hukum sangat penting dalam sebuah organisasi,

lembaga, perusahaan, baik kepada publik internal maupun publik eksternal.

Yang mana peran hukum disini untuk menjaga legalitas dari semua pelabuhan

yang tersebar di seluruh indonesia. hukum sendiri mempunyai tugas untuk

menyelesaikan suatu permasalahan litigasi maupun nonitigasi. Dalam sistem

hukum di Indonesia, peran Jaksa Pengacara Negara (JPN) sangat penting,

terutama dalam hal penyelesaian perkara perdata melalui bantuan hukum

nonlitigasi. Salah satu bentuk bantuan hukum yang diberikan oleh jaksa

adalah memberikan bantuan hukum kepada masyarakat yang membutuhkan,

baik secara individu maupun kelompok.1

Proses penyelesaian sengketa perdata melalui bantuan hukum

nonlitigasi ini semakin relevan mengingat beban perkara di pengadilan yang

semakin meningkat, oleh karena itu, peran jaksa dalam memberikan bantuan

hukum di luar jalur pengadilan (litigasi) sangatlah strategis untuk menjaga

akses keadilan bagi masyarakat yang kurang mampu. Dalam hal ini,

Kejaksaan Negeri Palembang memiliki peran yang sangat penting dalam

menangani perkara perdata melalui bantuan hukum nonlitigasi. Sebagai

lembaga yang memiliki kewenangan untuk mewakili negara dalam berbagai

1
Moch. Faisal Dwi Alfian, Andy Usmina Wijaya, Sekaring Ayumeida Kusnadi. Peranan
Jaksa Pengacara Negara Sebagai Caonterpart BUMN (Badan Usaha Milik Negara) di Bidang
Nonlitigasi. Jurnal Ilmu Hukum Wijaya Putra. Universitas Wijaya Putra. Surabaya. Vol. 1 No. 2
(2023), hlm. 204.

1
2

perkara hukum, kejaksaan juga dapat memberikan bantuan hukum kepada

masyarakat dalam menyelesaikan permasalahan hukum yang timbul dalam

kehidupan sehari-hari. Hal ini menjadi krusial terutama bagi masyarakat yang

tidak mampu membayar biaya pengacara atau biaya proses hukum yang

tinggi.2

Selain itu, penyelesaian perkara perdata melalui jalur nonlitigasi

memiliki banyak manfaat, baik dari segi waktu, biaya, maupun efisiensi.

Penyelesaian sengketa melalui jalur litigasi sering kali memakan waktu yang

panjang dan biaya yang tidak sedikit. Oleh karena itu, bantuan hukum

nonlitigasi menjadi alternatif yang penting dalam menciptakan sistem hukum

yang lebih cepat dan terjangkau bagi masyarakat. Meskipun bantuan hukum

nonlitigasi memiliki banyak manfaat, masih terdapat berbagai kendala yang

dihadapi oleh JPN dalam implementasinya.3

Bantuan hukum merupakan salah satu perwujudan dari jaminan

perlindungan hak asasi manusia untuk mendapatkan perlakuan secara layak

dari para penegak hukum dengan harkat dan martabatnya sebagai manusia

dalam bentuk pembelaan terhadap perkara oleh penasehat hukumnya. Tujuan

bantuan hukum jaksa adalah pemberian jasa hukum kepada instansi

pemerintah maupun lembaga negara atau BUMN atau pejabat tata usaha

2
Juristoffel Simanjuntak. Kajian Yuridis Pemberian Bantuan Hukum Jaksa Pengacara
Negara Dalam Perkara Perdata Dan Tata Usaha Negara. Jurnal Lex Administratum. Universitas
Sam Ratulangi. Manado. Vol. 6 No. 1 (2018), hlm. 157.
3
Iska Tirta Adiyaksa, Dossy Iskandar Prasetyo. Peran Serta Hambatan Fungsionalisasi
Jaksa Pengacara Negara di Bidang Perdata Dan Tata Usaha Negara : Studi Kasus Pada Kejaksaan
Negeri Sidoarjo. Jurnal Judiciary. Universitas Bhayangkara. Surabaya. Vol. 13 No. 2 (2024), hlm.
12.
3

negara untuk bertindak sebagai kuasa pihak perkara di dalam perkara perdata

atau tata usaha negara berdasarkan surat kuasa khusus.4

Sebagai bagian dari sistem hukum di Indonesia, jaksa pengacara

negara (JPN) memegang peran yang sangat penting dalam mewujudkan

keadilan bagi seluruh lapisan masyarakat.5 Oleh karena itu, penelitian ini akan

memberikan kontribusi penting dalam memahami peran jaksa pengacara

negara dalam proses penyelesaian perkara perdata yang berbasis pada bantuan

hukum nonlitigasi. Dalam perjalanan sistem hukum di Indonesia,

penyelesaian perkara perdata sering kali menjadi salah satu persoalan yang

kompleks, terutama bagi masyarakat yang tidak memiliki akses memadai

untuk memperoleh bantuan hukum. Hal ini menciptakan kesenjangan dalam

pemberian keadilan, di mana hanya segelintir orang yang memiliki

kemampuan finansial yang dapat mengakses proses hukum dengan baik.6

JPN dalam mewakili Negara memiliki pendekatan tertentu untuk

menghadapi permasalahan keperdataan. Pendekatan yang dimaksud adalah

dengan tidak menggunakan pendekatan sebagaimana Jaksa berlaku sebagai

penuntut umum. Tetapi Jaksa akan melakukan penyelesaian suat masalah

keperdataan dengan cara, baik secara litigasi maupun non litigasi yang dalam

hal ini dapat berlaku sebagai Pemohon dan Termohon dalam litigasi, JPN

lebih mengedepankan dan mengutamakan penyelesaian suatu perkara perdata


4
Djoko Prakoso. 2005. Eksistensi Jaksa Ditengah Tengah Masyarakat. Jakarta : Ghalia
Indonesia. Hlm. 44.
5
Ibid.
6
Musdalifah Asiyatum Syafaat, Aldilla Yulia Wiellys Sutikno, Mariya Asiz. Peran Jaksa
Pengacara Negara Dalam Pemberian Bantuan Hukum Di Kejaksaan Negeri Sorong. Jurnal
Equality before the Law. Universitas Pendidikan Muhammadiyah. Sorong. Vol 3 No. 2 (2023),
hlm. 82.
4

dengan menggunakan jalur non litigasi, JPN juga tidak menggunakan atribut

atau seragam kejaksaan. Pendekatan demikian merupakan pendekatan yang

selama ini dilakukan oleh para JPN dan masih dirasakan efektif, adanya

gugatan perdata dari masyarakat atau perselisihan antar lembaga Negara,

dalam hal ini JPN dapat melakuan mediasi dan penyelesaian secara non

litigasi sehingga akan tercipta keadilan, kepastian hukum dan kemanfaatan

dalam penanganan perkara Perdata serta perselisihan antar lembaga negara

tersebut.7

Bantuan hukum nonlitigasi yang diberikan oleh JPN menjadi sangat

relevan untuk menjembatani kesenjangan tersebut. Bantuan hukum

nonlitigasi merupakan bentuk pendampingan hukum yang tidak melibatkan

proses pengadilan secara langsung. Bentuknya bisa berupa konsultasi hukum,

mediasi, fasilitasi penyelesaian sengketa, atau penyusunan dokumen hukum.

Keberadaan bantuan hukum ini tidak hanya mempercepat proses penyelesaian

sengketa, tetapi juga mengurangi beban pengadilan yang semakin meningkat.

Masyarakat yang tidak mampu membayar biaya pengacara dapat memperoleh

haknya untuk mendapatkan layanan hukum yang setara dengan mereka yang

memiliki sumber daya lebih.

Sebagai lembaga yang memiliki tugas untuk mewakili negara,

Kejaksaan Negeri Palembang memiliki kewenangan untuk memberikan

bantuan hukum nonlitigasi ini, baik dalam bentuk mediasi maupun negosiasi

7
Andy Sasongko. Penerapan Fungsi Hukum Jaksa Pengacara Negara untuk Mewujudkan
Kepastian Hukum, Keadilan, dan Kemanfaatan dalam Perkara Perdata dan Tata Usaha Negara
(Berdasarkan kajian Filsafat Hukum). Journal of Law, Society, and Islamic [Link]
Sebelas Maret. Surakarta. Vol. 10 No. 2 (2022), hlm. 118-119.
5

penyelesaian perkara perdata.8 Kejaksaan Negeri Palembang berperan sebagai

fasilitator dalam penyelesaian sengketa perdata yang dihadapi oleh

masyarakat. Selain itu, jaksa pengacara negara juga berfungsi sebagai

pemberi nasihat hukum, yang akan membantu pihak-pihak yang terlibat

dalam sengketa untuk mencapai penyelesaian yang adil dan sesuai dengan

ketentuan hukum yang [Link], meskipun konsep bantuan hukum

nonlitigasi sudah ada dan diterapkan, implementasinya dalam praktik sering

kali menghadapi berbagai tantangan. Beberapa tantangan tersebut antara lain

adalah kurangnya kesadaran dari masyarakat tentang pentingnya bantuan

hukum nonlitigasi, serta keterbatasan sumber daya manusia yang ada di

Kejaksaan Negeri Palembang. Di samping itu, tantangan lain yang juga

penting untuk dicatat adalah ketidaktahuan masyarakat mengenai prosedur

dan mekanisme dalam mendapatkan bantuan hukum tersebut.

Pentingnya keberadaan bantuan hukum nonlitigasi ini tercermin dalam

Undang-Undang No. 16 Tahun 2011 tentang Bantuan Hukum, yang

menegaskan kewajiban negara untuk menyediakan bantuan hukum kepada

masyarakat miskin dan tidak mampu. Hal ini menunjukkan bahwa negara

berperan aktif dalam memastikan tercapainya akses keadilan yang setara bagi

seluruh lapisan masyarakat, termasuk dalam penyelesaian perkara perdata

melalui jalur [Link] hukum nonlitigasi diharapkan dapat menjadi

solusi yang lebih efisien dan efektif dalam menyelesaikan sengketa perdata

dibandingkan dengan penyelesaian melalui jalur litigasi yang cenderung


8
Rusdianto. Fungsi Kejaksaan Sebagai Pengacara Negara dalam Perspektif Penegakan
Hukum di Indonesia. Jurnal Cakrawala Hukum. Universitas Merdeka Malang. Jawa Timur. Vol. 6
No. 1 (2015), hlm. 101.
6

memakan waktu lebih lama dan biaya yang lebih besar. 9 Kejaksaan Negeri

Palembang, dengan peranannya sebagai pengacara negara, memainkan peran

penting dalam hal ini. Oleh karena itu, penelitian ini berfokus pada

bagaimana Kejaksaan Negeri Palembang mengimplementasikan bantuan

hukum nonlitigasi dalam penyelesaian perkara perdata, serta kendala yang

dihadapi dalam menjalankan tugas tersebut.

Pada bagian selanjutnya, penelitian ini akan mendalami lebih lanjut

mengenai peran dan kendala yang dihadapi oleh jaksa pengacara negara, serta

bagaimana mereka mengatasi hambatan-hambatan tersebut dalam

memberikan pelayanan hukum kepada masyarakat. Hal ini penting untuk

memberikan gambaran yang jelas mengenai efektivitas dan keberlanjutan

sistem bantuan hukum nonlitigasi yang diterapkan oleh Kejaksaan Negeri

Palembang. Banyak pihak yang belum sepenuhnya memahami mengenai

penggunaan jasa pengacara negara dalam di bidang pemerintahan dan bidang

yang dijabatnya sehingga bila menghadapi permasalahan hukum dalam

bidang tugasnya ia masih berkonsultasi dengan pihak lain yang mengerti atau

juga menggunakan jasa penasehat hukum dari Lembaga Bantuan Hukum atau

pengacara.10

Peran jaksa sebagai pengacara negara ialah dalam bentuk

pengembalian keuangan dan/atau aset negara, jaksa bertindak baik sebagai

penggugat/pemohon maupun bisa juga sebagai tergugat/termohon berhadapan

9
Musdalifah Asiyatum Syafaat, Aldilla Yulia Wiellys Sutikno, Mariya Asiz. [Link], hlm.
84.
10
Lusia Evy. 2013. Peran Jaksa Pengacara Negara Dalam Penanganan Perkara Perdata.
Yogyakarta: Genta Press. hlm.22
7

dengan berbagai pihak yang telah mengambil keuangan dan/atau aset negara.

Jaksa adalah pejabat fungsional sebagai penuntut umum dan pelaksana

putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, serta

melakukan pengawasan atas pelaksanaan putusan lepas bersyarat serta diberi

wewenang sebagai jaksa pengacara negara.11

Dalam Undang-Undang Kejaksaan Republik Indonesia terdapat

pengaturan mengenai tugas serta wewenang jaksa yang dijadikan sebagai

acuan atau pedoman dalam pelaksanaannya dimasyarakat. 12 Menurut Undang-

Undang Nomor 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia (UU

No. 16 Tahun 2004) Di bidang perdata dan tata usaha negara, kejaksaan

memiliki tugas dan wewenang untuk mewakili negara atau pemerintah dalam

kedudukannya selaku kuasa hukum pemerintah. Pada Pasal 30 ayat (2)

kejaksaan dengan kuasa khusus dapat bertindak baik di dalam maupun di luar

pengadilan untuk dan atas nama negara atau pemerintah.13

Peran, fungsi dan wewenang Kejaksaan dalam bidang perdata dan tata

usaha negara dijabarkan dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 38

Tahun 2010 dan Peraturan Jaksa Agung No. Per-025/A/JA/11/2015 tentang

petunjuk pelaksanaan Penegakan Hukum, Bantuan Hukum, Pertimbangan

Hukum, Pelayanan Hukum, Tindakan Hukum Lainnya di Bidang Perdata dan

Tata Usaha Negara yaitu :

11
R.M Surachman dan Andi Hamzah, 1996, Jaksa di Berbagai Negara, Peranan dan
Kedudukannya, Sinar Grafika.
12
Marwan Effendi. 2005. Kejaksaan RI: Posisi Dan Fungsinya Dari Perspektif Hukum.
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. hlm 69.
13
Ibid. hlm 70.
8

1. Penegakan Hukum adalah kegiatan Jaksa Pengacara Negara (JPN) untuk

mengajukan gugatan atau permohonan kepada pengadilan di bidang

perdata dalam rangka memelihara ketertiban hukum, kepastian hukum,

dan melindungi kepentingan Negara Pemerintah serta hak hak keperdataan

masyarakat;

2. Bantuan Hukum adalah pemberian jasa hukum di bidang perdata oleh

Jaksa Pengacara Negara (JPN) kepada negara atau pemerintahan untuk

bertindak sebagai kuasa hukum berdasarkan surat kuasa khusus baik

secara non litigasi maupun litigasi;

3. Pertimbangan Hukum adalah pemberian Jasa Hukum yang diberikan oleh

Jaksa Pengacara Negara (JPN) kepada Negara atau Pemerintah berupa

Pendapat Hukum (Legal Opinion) dan atau Pendampingan Hukum (Legal

Asistance) serta Audit Hukum atas dasar permintaan dari lembaga maupun

instansi pemerintah pusat;

4. Pelayanan Hukum adalah pemberian Jasa Hukum oleh Jaksa Pengacara

Negara (JPN) secara tertulis maupun lisan kepada masyarakat, yang

meliputi perorangan dan badan hukum, terkait masalah Perdata dan Tata

Usaha Negara dalam bentuk konsultasi, pendapat atau informasi; dan

5. Tindakan Hukum Lain adalah pemberian jasa hukum oleh Jaksa Pengacara

Negara (JPN) dalam rangka menyelamatkan dan memulihkan

Keuangan/Kekayaan Negara serta menegakkan kewibawaan pemerintah

antara lain untuk bertindak sebagai konsilator, mediator atau fasiliator

dalam hal terjadi sengketa atau perselisihan antar Negara atau Pemerintah.
9

Berdasarkan penjelasan diatas, maka penting untuk dilakukan

penelitian lebih lanjut mengenai peran Jaksa Pengacara Negara (JPN) dalam

menyelesaikan perkara tersebut agar kedepannya badan usaha patuh atas

kewajiban yang harus dilakukan. Oleh karena itu menarik untuk dikaji secara

berlanjut dan sangat tertarik untuk mengangkat judul “Peran Jaksa

Pengacara Negara dalam Penyelesaian Perkara Perdata melalui Bantuan

Hukum Nonlitigasi di Kejaksaan Negeri Palembang”

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka rumusan

permasalahan yang akan dibahas dalam penulisan skripsi ini adalah:

1. Bagaimana proses pelaksanaan bantuan hukum nonlitigasi yang

diberikan Jaksa Pengacara Negara dalam penyelesaian perkara perdata di

Kejaksaan Negeri Palembang?

2. Apa kendala yang dihadapi Jaksa Pengacara Negara di Kejaksaan Negeri

Palembang dalam penyelesaian perkara perdata melalui bantuan hukum

nonlitigasi di Kejaksaan Negeri Palembang?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan permasalahan yang dibahas dalam penulisan skripsi ini,

maka, tujuan yang diharapkan dari penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui proses pelaksanaan bantuan hukum nonlitigasi yang

diberikan Jaksa Pengacara Negara dalam penyelesaian perkara perdata di

Kejaksaan Negeri Palembang .


10

2. Untuk mengetahui kendala yang dihadapi oleh Jaksa Pengacara Negara di

Kejaksaan Negeri Palembang dalam Penyelesaian Perkara Perdata melalui

bantuan hukum nonlitigasi di Kejaksaan Negeri Palembang.

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis :

Penelitian ini dapat memberikan masukan mengenai bagaimana proses

pelaksanaan bantuan hukum nonlitigasi dan kinerja Jaksa Pengacara

Negara dalam penyelesaian perkara perdata di Kejaksaan Negeri

Palembang

2. Manfaat Praktis :

a. Kejaksaan

Manfaat penelitian ini dapat memberikan masukan mengenai

bagaimana proses pelaksanaan bantuan hukum nonlitigasi dan kinerja

jaksa pengacara negara dalam memberikan bantuan hukum nonlitigasi

dapat dioptimalkan, terutama dalam membantu penyelesaian perkara

perdata.

b. Penulis

Manfaat untuk penulis dapat memberikan referensi dan wawasan yang

baru terhadap penulis mengenai Peran Jaksa Pengacara Negara dalam

penyelesaian perkara perdata melalui bantuan hukum nonlitigasi di

Kejaksaan Negeri Palembang.


11

E. Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup penelitian ini mencakup beberapa aspek yang relevan

dengan topik utama yaitu peran Jaksa Pengacara Negara (JPN) dalam

penyelesaian perkara perdata melalui bantuan hukum nonlitigasi di Kejaksaan

Negeri Palembang.

F. Kerangka Teori

1. Teori Peranan

Peranan adalah aspek dinamis yang berupa tindakan atau perilaku

yang dilaksanakan oleh seseorang yang menempati atau memangku suatu

posisi dan melaksanakan hak-hak dan kewajiban sesuai dengan

kedudukannya.14 Kedudukan adalah suatu wadah yang isinya adalah hak

dan kewajiban tertentu. sedangkan hak dan kewajiban tersebut dapat

dikatakan sebagai [Link] karena itu, maka seseorang yang mempunyai

kedudukan tertentu dapat dikatakan sebagai pemegang peran (role

occupant). Sebagai pemegang peran, ia diharapkan oleh hukum memenuhi

harapan-harapan tertentu sebagai dilapalkan di dalam peraturan-peraturan.

Dengan demikian ia dituntut memenuhi peran yang diharapkan (role

expectation). Oleh karena itu pengaruh-pengaruh yang bekerja atas diri si

14
Soerjono Soekanto. Sosiologi Suatu Pengantar, (Jakarta: Rajawali Press, 2002), hlm.

223.
12

pemegang peran, maka dapat terjadi suatu jarak antara peran yang

diharapkan dengan peran yang dilakukan (role performance).15

Hubungan antara teori peranan dengan Kejaksaan Negeri Palembang

sebagai sarana atau alat yang sangat melekat hal ini ditunjukan terhadap

peranan Jaksa Pengacara Negara dalam penyelesaian perkara perdata

melalui bantuan hukum nonlitigasi. Serta dari kelompok masyarakat cukup

berpengaruh karena memiliki peranan sebagai subjek penegak hukum

dalam menyelesaikan perkara perdata.

2. Teori Penegakan Hukum

Menurut Soerjono Soekanto, yang menjadi pokok persoalan dari

suatu penegakan hukum ialah mengenai faktor-faktor yang

memperngaruhinya, yang mana faktor tersebut bersifat netral artinya

dampak positif atau negatifnya terletak pada isi faktor-faktor itu, berikut

faktor-faktor tersebut :

a. Faktor hukum itu sendiri, dalam penulisan ini hanya berfokus pada

undang-undang saja.

b. Faktor penegak hukum, yaitu elemen-elemen yang terlibat dalam

membentuk hukum maupun yang melakukan upaya agar tegaknya suatu

hukum yang dibuat tersebut.

c. Faktor sarana atau fasilitas yang mendukung terlaksananya suatu

penegakan hukum.

15
Satjipto Rahardjo. Hukum dan perubahan sosial, (Bandung: Alumni, 1979), hlm. 119.
13

d. Faktor masyarakat, ialah lingkungan yang diberlakukan dan diterapkan

suatu hukum tersebut.

e. Faktor kebudayaan, Kebudayaan memiliki peran penting dalam sistem

hukum. Ia membentuk nilai-nilai dasar yang menjadi fondasi hukum,

sekaligus memengaruhi cara hukum dijalankan dan diterima oleh

masyarakat.16

Sehubungan dengan pokok permasalahan yang dibahas dimana

faktor yang paling terlihat dalam pelaksanaan peranan Jaksa Pengacara

Negara yaitu faktor penegak hukum. Oleh karena itu, teori ini dapat

menunjukan terkait pelaksanaan peranan Jaksa Pengacara Negara sebagai

penegak hukum dalam penyelenggara kekuasaan negara dalam bidang

Perdata.

G. Metode Penelitian

Menurut Winarno Surakhmad metode penelitian adalah cara-cara

yang digunakan oleh peneliti dalam mendekati objek yang diteliti, cara

tersebut merupakan pedoman bagi seorang peneliti dalam melaksanakan

penelitian sehingga data dapat dikumpulkan secara efektif dan efisien guna

dianalisis sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.17

1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian pada penelitian ini yaitu penelitian hukum empiris,

hukum empiris adalah penelitian yang berfokus pada pengamatan dan

16
Soerjono Soekanto. Faktor- Faktor Yang Mempengaruhi Penegakkan Hukum, (Jakarta:
PT. Raja Grafindo Persada, 2007), hlm. 5.
17
Winarno Surakhmad, Pengantar Penelitian Ilmiah, (Bandung: Tarsito, 1994), hal. 131.
14

analisis terhadap implementasi hukum pada masyarakat. Jenis penelitian

ini mempergunakan seluruh fakta empiris, baik secara wawancara maupun

dengan cara pengamatan langsung. Penelitian empiris juga diterapkan

untuk mengamati hasil berupa arsip juga.18

Berdasarkan dengan yang apa penulis kaji dalam penelitian yang berjudul

Peran Jaksa Pengacara Negara dalam penyelesaian perkara perdata melalui

bantuan hukum nonlitigasi di Kejaksaan Negeri Palembang. Adapun

metode penelitian yang digunakan dengan cara dilakukan pengumpulan

data yang dilakukan dengan cara observasi di lapangan dan wawancara

dengan jaksa yang menangani perkara tersebut yang bersangkutan dengan

metode penelitian empiris.

2. Pendekatan Penelitian

a. Pendekatan Perundang-undangan (Statute Approach)

Pendekatan perundang undangan adalah pendekatan yang mengkaji

peraturan perundang-undangan dan regulasi yang relevan dengan suatu

yang diteliti dalam suatu masalah dalam penelitian ini.19

b. Pendekatan Kasus (Case Approach)

Pendekatan kasus adalah suatu pendekatan yang diperoleh dengan cara

wawancara berbagai pihak-pihak yang terkait isu hukum yang

diteliti,hasil wawancara merupakan data primer dalam penelitian ini.20

18
Mukti Fajar dan Yulianto Achmad, Dualisme Penelitian Hukum Empiris &
Normatif, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010), hlm. 280.
19
Soerjono Soekanto dan Sri Mamudjii. Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan
Singkat, (Jakarta: Rajawali Pers, 2015), hlm.13.
20
Jonaedi Efendi dan Johnny Ibrahim. Metode Penelitian Hukum Normatif dan Empiris,
Jakarta: Kencana, 2016), hlm.145
15

c. Pendekatan Sosiologi Hukum (Sosiological Approach)

Pendekatan sosiologi hukum ini yaitu suatu pendekatan yang digunakan

untuk meneliti efektivitas bekerjanya hukum di dalam masyarakat.

Yang mana dilakukan melalui studi empiris atau penelitian langsung ke

lapangan untuk mengumpulkan data dari hasil wawancara pada pihak

yang terkait dengan pembahasan ini.21

3. Jenis dan Sumber Data

Jenis data dan sumber data yang akan digunakan oleh penulis

dalam penelitian ialah:

a. Data primer adalah sebuah data yang didapatkan langsung dari

masyarakat atau narasumber tertentu yang berkaitan dengan penelitian

sebagai sumber utama melalui penelitian lapangan.22 Berdasarkan

penelitian ini data primer penulis peroleh dengan terjun langsung ke

lokasi penelitian melalui studi di Kejaksaan Negeri Palembang.

b. Data sekunder adalah suatu data yang penulis peroleh dari hasil

membaca dan memahami buku-buku atau literatur-literatur dan

peraturan perundang-undangan yang berhubungan dengan isu hukum

yang sedang diteliti. Data sekunder meliputi bahan-bahan hukum:

1. Bahan Hukum Primer

Yaitu bahan-bahan hukum yang memiliki sifat mengikat yang terdiri

dari:
21
Amiruddin dan Zainal Asikin. Pengantar Metode Penelitian Hukum, (Jakarta: Raja
Grafindo Persada, 2008), hlm. 152.
22
Soekanto. Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta: Universitas Indonesia, 2012), hlm.

196.
16

a. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945,

b. Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2004 Tentang Kejaksaan

Republik Indonesia, LN. 2004 / No. 67, TLN No. 4401.

c. Peraturan Kejaksaan Republik Indonesia Tahun 2021 tentang

Pedoman Pelaksanaan Penegakan Hukum, Bantuan Hukum,

Pertimbangan Hukum, Tindakan Hukum Lain, dan Pelayanan

Hukum di Bidang Perdata dan Tata Usaha Negara,

BN.2021/No.1364.

d. Peraturan Jaksa Agung Republik Indonesia Nomor PER-

018/A/J.A/07/2014 tentang Standar Operasional Prosedur Pada

Jaksa Muda Bidang Perdata dan Tata Usaha Negara.

e. Peraturan Jaksa Agung Republik Indonesia Nomor

PER-006/A/JA/07/2017 tentang Organisasi dan Tata Kerja

Kejaksaan Republik Indonesia, BN. 2017/ No.1069.

2. Bahan hukum sekunder memiliki fungsi sebagai penjabaran

berdasarkan bahan hukum primer. Penjabaran ini dapat bersumber

dari buku, jurnal hukum, serta artikel.

4. Lokasi Penelitian

Dalam proses pengambilan data penelitian skripsi ini berlangsung

di Kejaksaan Negeri Palembang yang berada pada wilayah hukumnya.

Terkhususnya di bidang Perdata dan Tata Usaha Negara.

5. Populasi dan Sampel Penelitian

a. Populasi
17

Populasi adalah keseluruhan kelompok individu-individu, kelompok,

atau objek di mana Anda ingin menggeneralisasikan hasil penelitian. 23

Maka dalam penelitian ini penulis menetapkan populasi yakni seluruh

pihak di Kejaksaan Negeri Palembang baik itu Jaksa maupun pegawai

di Kejaksaan Negeri Palembang yang memiliki kaitan dengan peranan

Jaksa Pengacara Negara dalam penyelesaian sengketa perdata.

b. Sampel

Sampel adalah bagian terpilih dari populasi yang diseleksi melalui

metode sampling dalam sebuah penelitian.24 Pada proses pengambilan

sampel ini hanya mengambil sebagian sehingga dapat dikategorikan

studi Sampling Purposif karena tidak meneliti keseluruhan populasi.

Sampling purposif adalah metode pengambilan sampel yang di mana

peneliti memilih objek sampel berdasarkan kriteria tertentu yang

dianggap relevan dengan tujuan penelitian. Teknik ini digunakan dalam

konteks dimana pemahaman mendalam tentang fenomena yang sedang

diteliti diperlukan, dan peneliti berfokus pada individu atau kelompok

yang memiliki pengetahuan atau pengalaman spesifik terkait topik yang

diteliti. Sampel yang diambil pada penelitian ini hanya melibatkan

beberapa orang responden untuk dilakukan sesi wawancara sehingga

mendapatkan informasi yang akurat.

Responden tersebut adalah:

23
Ketut Swarjana, Populasi-Sampel, Teknik dan Sampling dalam Penelitian,(Yogyakarta:
Andi, 2022), hlm. 4.
24
Ibid, hlm .13.
18

1. Kepala Seksi Perdata dan Tata Usaha Negara Kejaksaan Negeri

Palembang.

2. Jaksa Pengacara Negara di bidang Perdata dan Tata Usaha Negara

Kejaksaan Negeri Palembang.

6. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan oleh penulis dalam

penelitian yaitu:

a. Studi Kepustakaan

Studi kepustakaan adalah segala usaha yang dilakukan oleh peneliti

untuk menghimpun informasi yang relevan dengan topik atau masalah

yang akan atau sedang diteliti.25 Adapun topik atau masalah yang

diteliti tersebut berkaitan dengan peranan Jaksa Pengacara Negara di

Kejaksaan Negeri Palembang dalam penyelesaian sengketa perdata.

b. Studi Lapangan

Studi Lapangan adalah pengumpulan data secara langsung kelapangan

dengan mempergunakan Teknik pengumpulan data seperti observasi,

wawancara, dan dokumentasi.26 Jenis penelitian ini bertujuan untuk

pengumpulan data primer yang didapat langsung dari responden di

Kejaksaan Negeri Palembang bidang Perdata dan Tata Usaha Negara.

c. Wawancara

Adapun teknik ini dilakukan oleh penulis dengan wawancara berupa


25
Purwono, Studi Kepustakaan. Jurnal Pustakawan Utama UGM. Yogyakarta. Vol. 6 No.
2 (2008), hlm. 8.
26
Busyairi Ahmad dan M. Saleh Laha, Penerapan Studi Lapangan dalam Meningkatkan
Kemampuan Analisis Masalah (Studi Kasus pada Mahasiswa Sosiologi IISIP Yapis Biak). Jurnal
Nalar Pendidikan. Universitas Negeri Makassar. Makassar. Vol. 8 No. 1 (2020), hlm. 65.
19

tanya jawab yang dilakukan oleh penulis dan pihak Jaksa Pengacara

Negara di Kejaksaan Negeri Palembang dengan menyiapkan terlebih

dahulu pertanyaan sebelum melakukan wawancara.

7. Analisis Data

Menurut Noeng Muhadjir mengemukakan pengertian analisis data

sebagai upaya mencari dan menata secara sistematis catatan hasil

observasi, wawancara, dan lainnya untuk meningkatkan pemahaman

peneliti tentang kasus yang diteliti dan menyajikannya sebagai temuan

bagi orang lain.27 Selanjutnya data tersebut disusun dan ditempatkan secara

sistematis sesuai urutan terhadap permasalahan yang sedang diteliti.

8. Teknik Penarikan Kesimpulan

Dalam penelitian ini penulis menarik kesimpulan dengan cara

induktif. Pertama penulis memperoleh fakta dan data hasil dari penelitian

langsung ke lapangan, data dan fakta yang diperoleh tersebut diolah dan

dianalisis kemudian ditarik kesimpulan yang bersifat umum.

27
Ahmad Rijalli, Analisis Data Kuantitatif. Jurnal Alhadharah UIN Antasari
Banjarmasin. Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin. Banjarmasin. Vol.17 No. 33 (2018),
hlm. 84.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum Tentang Bantuan Hukum

1. Pengertian Bantuan Hukum

Sistem hukum Indonesia dan Undang-Undang Dasar 1945 menjamin

adanya persamaan dihadapan hukum seperti yang tertuang dalam Pasal 27

ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 disebutkan “Setiap warga Negara

bersamaan kedudukannya dalam hukum dan pemerintahan itu dengan tidak

ada kecualinya”.28 Salah satu upaya untuk mewujudkan keadilan atau

kesamaaan kedudukan dalam hukum yaitu dengan adanya bantuan hukum

bagi setiap warga negara yang terlibat dalam kasus hukum.

Menurut Soerjono Soekanto, bantuan hukum pada pokoknya

memiliki arti bantuan hukum yang diberikan oleh para ahli bagi warga

masyarakat yang memerlukan untuk mewujudkan hak-haknya serta juga

mendapatkan perlindungan hukum yang wajar.29

Bantuan hukum diberikan oleh lembaga bantuan hukum atau

organisasi kemasyarakatan yang memberi layanan bantuan hukum, yang

meliputi menjalankan kuasa, mendampingi, mewakili, membela, dan/atau

melakukan tindakan hukum lain untuk kepentingan hukum penerima

bantuan hukum. Dalam pelaksanaannya, selanjutnya pemberi bantuan

28
Angga dan Ridwan Arifin, Penerepan Bantuan Hukum Bagi Masyarakat Kurang
Mampu di Indonesia. Jurnal Hukum. Universitas Negeri Semarang. Semarang. Vol 4. No. 2
(2018), hlm. 219.
29
Ibid.

20
21

hukum diberikan hak melakukan rekrutmen terhadap Advokat, Paralegal,

Jaksa Pengacara Negara, Akademisi, dan Mahasiswa Fakultas Hukum.30

Bantuan hukum memiliki kedudukan yang cukup penting dalam

setiap sistem peradilan pidana, perdata, dan tata usaha negara tidak

terkecuali di Negara Indonesia. Secara umum dapat dikatakan bahwa

bantuan hukum mempunyai tujuan yang terarah pada bermacam-macam

kategori sosial di dalam masyarakat, yaitu: 31

1) Menjamin dan memenuhi hak bagi penerima bantuan hukum untuk

mendapatkan akses keadilan;

2) Mewujudkan hak konstitusional segala warganegara sesuai dengan

prinsip persamaan kedudukan di dalam hukum;

3) Menjamin kepastian penyelenggaraan bantuan hukum dilaksanakan

secara merata di seluruh wilayah Indonesia;

4) Mewujudkan peradilan yang efektif, efisien, dan dapat dipertanggung

jawabkan.

Terdapat dua istilah terkait dengan bantuan hukum yaitu legal aid

dan legalassistance. Istilah legal aid biasanya dipergunakan untuk

menunjukkan pengertian bantuan hukum dalam arti sempit, yaitu

pemberian jasa-jasa dibidang hukum kepada seseorang yang terlibat dalam

suatu perkara secara cuma-cuma khususnya bagi yang tidak mampu.

30
Deni Achmad, Peranan Mahasiswa Fakultas Hukum Sebagai Pelaksana Bantuan
Hukum (Legal AID) Kepada Masyarakat. Jurnal Ilmu Hukum. Universitas Lampung. Bandar
Lampung. Vol 9. No. 1 (2015), hlm 19.
31
Herning Setyowati dan Nurul Muchiningtias, Peran Advokat Dalam Memberikan
Bantuan Hukum Kepada Masyarakat Dalam Perspektif Hak Asasi Manusia. Jurnal Hukum.
Universitas Negeri Semarang. Semarang. Vol 2. No. 2 (2018), hlm 156.
22

Sedangkan pengertian legal assistance dipergunakan untuk menunjukkan

pengertian bantuan hukum dalam artiluas, karena di samping bantuan

hukum terhadap mereka yang tidak mampu, juga pemberian bantuan

hukum yang dilakukan oleh para pengacara yang mempergunakan

honorarium atau mendapatkan pembayaran sejumlah uang dari klien.32

Menurut Adnan Buyung Nasution bantuan hukum atau (Legal aid),

merupakan pemberian jasa di bidang hukum kepada seseorang yang

terlibat dalam suatu kasus atau perkara:

1. Pemberian jasa bantuan hukum dilakukan dengan cuma-cuma,

2. Bantuan jasa hukum dalam legal aid lebih dikhususkan bagi yang

tidak mampu dalam lapisan masyarakat miskin,

3. Dengan demikian motivasi utama konsep legal aid adalah

menegakkan hukum dengan jalan membela kepentingan hak asasi

rakyat kecil yang tak punya dan buta hukum.

Menurut ketentuan Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 16

Tahun 2011 tentang Bantuan Hukum, bantuan hukum didefinisikan sebagai

layanan hukum yang diberikan secara cuma-cuma oleh pihak yang

berwenang kepada masyarakat yang memenuhi syarat sebagai penerima

bantuan. Sementara itu, Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang

Advokat menegaskan bahwa bantuan hukum merupakan jasa yang

disediakan oleh advokat tanpa memungut biaya kepada klien yang tidak

32
Tri Astuti Handayani, Bantuan Hukum Bagi Masyarakat Tidak Mampu Dalam Perspektif
Teori Keadilan Bermartabat. Jurnal Refleksi Hukum. Advokat di Bojonegoro. Jawa Timur. Vol 9.
No. 1 (2015), hlm 17-18.
23

mampu secara finansial. Di sisi lain, dalam Peraturan Pemerintah Nomor 83

Tahun 2008 mengenai pemberian bantuan hukum secara cuma-cuma,

disebutkan bahwa bantuan hukum gratis meliputi berbagai bentuk layanan

seperti konsultasi hukum, pendampingan, perwakilan, pembelaan, hingga

pelaksanaan tindakan hukum lainnya yang bertujuan melindungi

kepentingan pencari keadilan dari kalangan tidak mampu, tanpa adanya

imbalan honorarium dari pihak penerima.33

2. Fungsi dan Tujuan Bantuan Hukum

Pada dasarnya, pemberian bantuan hukum kepada masyarakat

miskin yang diberikan oleh Advokat, tidak terlalu berbeda dengan konsep

bantuan hukum diberikan oleh advokat pada umumnya. yaitu bantuan

hukum yang meliputi masalah hukum keperdataan, pidana, dan tata

usaha negara baik litigasi maupun non-litigasi.

Hal ini sebagaimana diatur dalam Pasal 4 UU No. 16 Tahun 2011 yang

mengatur bahwa:

1. Bantuan hukum diberikan kepada penerima bantuan hukum yang

menghadapi masalah hukum.

2. Bantuan hukum sebagaimana dijelaskan pada ayat (1) meliputi masalah

hukum keperdataan, pidana, dan tata usaha negara baik litigasi maupun

non-litigasi.

3. Bantuan hukum sebagaimana dijelaskan pada ayat (1) meliputi

menjalankan kuasa, mendampingi, mewakili, membela, dan/atau

33
Ibid.
24

melakukan tindakan hukum lain untuk kepentingan hukum penerima

bantuan hukum.

Oleh karena itu, maka organisasi bantuan hukum sangat dibutuhkan

untuk membantu upaya penegakan hukum. Terdapat juga beberapa fungsi

yang dilaksanakan untuk menjalankan pemberian bantuan hukum yaitu :34

i. Dengan adanya bantuan hukum akan terwujud persamaan di hadapan

hukum (Equality before the law). Proses hukum yang fair dan impartial

hanya akan terjadi apabila pihak-pihak yang bersengketa memiliki

posisi dankekuatan yang seimbang, terutama dari sisi pengetahuan dan

keterampilan hukum;

ii. Apabila proses hukum berjalan secara fair dan impartial, semua

kebenaran materiil dapat terungkap. Dengan adanya posisi dan

kekuatan yang seimbang, manipulasi dan hegemoni atas fakta dan

kebenaran dapat dicegah. Dengan demikian, bantuan hukum berfungsi

memperkuat upaya menegakkan keadilan substansial melalui proses

hukum yang fair dan impartial;

iii. Bantuan hukum memberikan ruang interaksi antara para ahli dan

profesi hukum dengan masyarakat umum. Interaksi itu akan

menumbuhkan pemahaman dan kesadaran bagaimana memposisikan

suatu aturan hukum dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Hukum

adalah seperangkat aturan yang harus dipatuhi. Jika terdapat

permasalahan harus diselesaikan melalui jalur hukum, termasuk pada

34
Todung Mulya Lubis, Bantuan Hukum dan Kemiskinan Struktural, (Jakarta:
LP3ES,1986), hlm. 51-55.
25

saat terdapat aturan yang merugikan hak konstitusional warga negara

juga harus diselesaikan melalui mekanisme hukum. Bantuan hukum

berfungsi untuk membangun budaya kepatuhan terhadap hukum

sebagai salah satu ciri utama masyarakat yang beradab;

iv. Kepatuhan terhadap hukum hanya akan berkembang pada saat

masyarakat memahami kedudukan dan materi aturan hukum.

Pemahaman tersebut dengan sendirinya akan meningkatkan

keberdayaan hukum masyarakat yang sangat diperlukan, baik untuk

melakukan hubungan hukum, menjalani prosedur hukum, bahkan untuk

mengkritisi materi serta praktik penegakan hukum.35

3. Bantuan Hukum Nonlitigasi

Sebagaimana yang telah dibahas pada poin sebelumnya,

bahwasannya nonlitigasi merujuk pada segala bentuk penyelesaian sengketa

atau masalah hukum yang tidak melibatkan proses peradilan atau

persidangan di pengadilan. Secara sederhana, non-litigasi adalah upaya

penyelesaian masalah hukum melalui metode alternatif yang lebih damai,

efisien, dan tidak memerlukan keputusan pengadilan.

Dalam penyelesaian nonlitigasi berfokus pada komunikasi,

negoisasi, dan kerja sama antara pihak pihak yang bersengketa, selain itu

memberikan berupa pendampingan di luar ranah pengadilan serta

memberikan solusi yang tepat untuk melakukan penyelesaian sengketa


35
Bambang Sutiyoso, Atqo Darmawan Aji, dan Guntar Mahendro, Peran Dan Tanggung
Jawab Organisasi Bantuan Hukum Dalam Memberikan Akses Keadilan Secara Prodeo Di Daerah
Istimewa Yogyakarta. Jurnal Ius Quia Iustum Fakultas Hukum. Universitas Islam Indonesia.
Yogyakarta. Vol 30. No.1 (2023), hlm 206-207.
26

perdata yang dasarnya bisa membuat kesepahaman antara kedua belah

pihak.

Nonlitigasi sering dipilih karena prosesnya yang lebih cepat, biaya

yang lebih rendah, dan lebih fleksibel dibandingkan dengan proses litigasi

yang formal dan sering kali memakan waktu lama di pengadilan. Selain itu,

pendekatan nonlitigasi juga lebih memungkinkan untuk mempertahankan

hubungan baik antara pihak-pihak yang bersengketa, terutama dalam

konteks bisnis atau keluarga.

B. Tinjauan Umum Tentang Kejaksaan Republik Indonesia

1. Pengertian Kejaksaan

Kejaksaan RI adalah lembaga negara yang melaksanakan kekuasaan

negara, khususnya di bidang penuntutan. Sebagai badan yang berwenang

dalam penegakan hukum dan keadilan, Kejaksaan dipimpin oleh Jaksa

Agung yang dipilih oleh dan bertanggung jawab kepada Presiden. Dalam

kejaksaan terdiri dari Kejaksaan Agung, Kejaksaan Tinggi, dan Kejaksaan

Negeri merupakan suatu kekuasaan negara khususnya dibidang penuntutan,

yang mana semuanya merupakan satu kesatuan yang utuh yang tidak dapat

dipisahkan.36

Posisi Kejaksaan menurut Friedman merupakan bagian dari legal

structure yang menentukan bisa atau tidaknya hukum itu dilaksanakan

36
Endah Cahyani, Pencegahan Tindak Pidana Korupsi Pengadaan Barang dan Jasa
Pemerintah. Indonesian Journal of Criminal Law and Criminology. Fakultas Hukum Universitas
Muhammadiyah Yogyakarta. Vol 3. No. 2 (2022), hlm. 83.
27

dengan baik. Legal Structure sendiri terdiri dimulai dari kepolisian,

Kejaksaan, pengadilan dan Badan Pelaksana Pidana (Lapas).37

Kejaksaan RI dalam kedudukannya sebagai lembaga eksekutif yang

mempunyai tugas dan wewenang penegakan hukum lebih berperan aktif

mewujudkan arah kebijakan pembangunan hukum, hal ini tidak akan

menjadi kenyataan atau hanya menjadi sia-sia bila kedudukan dan fungsi

kejaksaan tidak di dudukan pada tempat yang tepat dan benar secara hukum,

artinya peraturan perundang-undangan hendaknya mendudukkan Kejaksaan

sebagai badan yang merdeka dan independen, sehingga dengan bebas tanpa

ditekan atau tertekan bertanggung jawab serta cara etika, moral, hukum,

bahkan secara keyakinannya dalam menjalankan tugas dan wewenangnya.38

Sebagai lembaga penegak hukum melaksanakan tugasnya secara

merdeka dengan menjujung tinggi hak asasi manusia dalam negara hukum

berdasarkan Pancasila dan Undang Undang Dasar Negara Republik

Indonesia Tahun 1945 serta diatur secara khusus dalam Undang-Undang

Nomor 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia.39

37
Ook Mufrohim, dan Ratna Herawati, Independensi Lembaga Kejaksaan sebagai Legal
Structure didalam Sistem Peradilan Pidana (Criminal Justice System) di Indonesia. Jurnal
Pembangunan Hukum Indonesia. Fakultas Hukum, Universitas Diponegoro. Vol 2. No.3 (2020),
hlm. 374.
38
Ibid.
39
Suwari Akhmaddhian, dan Wisnu Gita Prapanca, Penegakan Hukum Terhadap Jaksa
Yang Melakukan Tindak Pidana Narkotika. Journal of Multidisciplinary Studies. Fakultas Hukum,
Universitas Kuningan. Indonesia. Vol 10. No. 01 (2019), hlm 60.
28

2. Sejarah Kejaksaan

Kejaksaan merupakan salah satu institusi penegak hukum yang memiliki

peranan krusial dan strategis. Secara yuridis, peran kejaksaan dalam masa

kemerdekaan mulai diakui sejak diberlakukannya Undang-Undang Nomor

15 Tahun 1961 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Kejaksaan. Meskipun

demikian, eksistensi lembaga serupa kejaksaan sebenarnya telah ada jauh

sebelum masa penjajahan, tepatnya pada masa pemerintahan Kerajaan

Majapahit. Pada masa tersebut, sudah terdapat pejabat yang menangani

urusan hukum, dikenal dengan sebutan Dhyaksa dan Adhyaksa, yang

berperan sebagai pejabat tinggi dalam bidang hukum. 40

Menurut W.F. Stutterheim, Dhyaksa yaitu pejabat negara di zaman

Kerajaan Majapahit, singkatnya pada saat Prabu Hayam Wuruk tengah

berkuasa (1350-1389 M). Dhyaksa adalah hakim yang diberi tugas untuk

menangani masalah peradilan dalam sidang pengadilan. Para dhyaksa ini

dipimpin oleh seorang adhyaksa, yakni hakim tertinggi yang memimpin dan

mengawasi para dhyaksa. pada masa itu, kebijakan hukum dan penegakan

hukum masih bertumpu pada seorang pejabat secara pribadi berdasarkan

pengakuan raja atas kemampuan dalam bidang hukum, peran Adhyaksan

dan Dhyaksa dapat memberikan pengaruh yang pesat pada kejayaan

Kerajaan Majapahit, dalam menjaga stabilitas negara dengan penegakan

hukum secara adil dan tegas. 41

40
Tim MaPPI-FHUI. Bunga Rampai Kejaksaan Republik Indonesia. (Depok: Badan
Penerbit Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2015), hlm. V.
41
Ibid.
29

Perlu diketahui Kejaksaan adalah badan negara yang sudah ada

sebelum kita merdeka, demikian pula peraturannya. Sehingga pada dasarnya

Kejaksaan RI adalah meneruskan apa yang telah diatur di dalam Indische

Staatsregeling, oleh karena itu kedudukannya menempatkan Kejaksaan

Agung berdampingan dengan Mahkamah Agung. Agar ketentuan yang ada

di dalamnya yang mengatur kedudukan Kejaksaan, pada dasarnya adalah

sama dengan ketentuan di dalam UUD negeri Belanda.42

Sejak awal berdiri, kedudukan Kejaksaan RI mengalami

perkembangan di Indonesia. Pada awal masa Proklamasi Kemerdekaan

Indonesia, tepatnya pada tanggal 19 Agustus 1945, Rapat PPKI

memutuskan mengenai kedudukan Kejaksaan berada di dalam lingkungan

Departemen Kehakiman.43 Perubahan besar terjadi ketika Presiden Soekarno

membacakan Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Konsekuensi dari perubahan

politik yang terjadi adalah Presiden menata ulang lembaga-lembaga dan

institusi pemerintahan dengan keadaan yang baru. Setahun setelah

dikeluarkannya Dekrit Presiden, pemerintah dan DPR mengesahkan UU

Kejaksaan yang pertama dalam sejarah negara kita, yakni UU No. 15 Tahun

1961 tentang Pokok-Pokok Kejaksaan RI. Di dalam UU No. 15 Tahun 1961

tentang Pokok-Pokok Kejaksaan RI disebutkan bahwa Kejaksaan

merupakan alat negara penegak hukum dan alat revolusi yang tugasnya

sebagai Penuntut Umum.

42
Yusril Ihza Mahendra. Kedudukan Kejaksaan Agung dan Posisi Jaksa Agung Dalam
Sistem Presidensial di Bawah UUD 1945. (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2012), hlm. 4.
43
Marwan Effendy. Kejaksaan Republik Indonesia: (Posisi dan Fungsinya dari
Prespektif Hukum). (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2005), hlm. 67.
30

Perubahan besar berikutnya yang terjadi setelah dikeluarkannya

Undang-Undang Kejaksaan ini adalah Kejaksaan disebut sebagai

Departemen Kejaksaan yang diselenggarakan oleh menteri. Berdasarkan hal

tersebut maka pengangkatan Jaksa Agung tidak lagi melalui Menteri

Kehakiman melainkan langsung diangkat oleh Presiden, karena kedudukan

Jaksa Agung disini adalah sebagai anggota kabinet yang bertanggung jawab

secara langsung kepada Presiden.

Ketika kekuasaan Presiden Soekarno beralih kepada Presiden

Soeharto, perubahan pada Kejaksaan juga terjadi. Walaupun Undang-

Undang No. 15 Tahun 1961 terus berlaku hingga tahun 1991, namun dalam

praktiknya Kejaksaan Agung tidak lagi disebut sebagai Departemen

Kejaksaan dan Jaksa Agung tidak lagi disebut sebagai Menteri Jaksa Agung.

Institusi ini disebut sebagai Kejaksaan Agung yang dipimpin oleh seorang

Jaksa Agung dan kewenangan untuk pengangkatan dan Jaksa Agung tetap

ada di tangan Presiden. Walaupun Jaksa Agung tidak lagi disebut menteri

namun kedudukannya tetap sejajar dengan menteri negara dan di periode ini

mulai muncul suatu konvensi ketatanegaraan, yakni Jaksa Agung selalu

diangkat di awal kabinet dan berakhir masa jabatannya dengan berakhir

masa bakti kabinet tersebut.44

Perubahan berikutnya terjadi setelah adanya UU No. 5 Tahun 1991

tentang Kejaksaan Republik Indonesia. UU No. 5 Tahun 1991 menyebut

bahwa Kejaksaan sebagai “lembaga pemerintahan yang melaksanakan

kekuasaan negara di bidang penuntutan dalam tatanan susunan kekuasaan


44
Yusril Ihza Mahendra, [Link].,hlm.15-16.
31

badan-badan penegak hukum dan keadilan”. Dari konsideran ini terdapat

perubahan penting dimana terdapat penegasan terhadap pandangan

kedudukan institusi Kejaksaan yang sebelumnya dikatakan sebagai alat

negara namun setelah berlakunya undang-undang ini berubah menjadi

lembaga pemerintahan.

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1991 tetap berlaku hingga

Indonesia memasuki masa reformasi. Yusril Ihza Mahendra menyampaikan

bahwa ketika proses penyusunan Undang-Undang Kejaksaan yang baru

berlangsung, muncul dorongan dari kalangan akademisi dan aktivis LSM

agar lembaga penegak hukum memiliki kemandirian. Hal ini memunculkan

wacana untuk memisahkan Kejaksaan dari struktur kekuasaan eksekutif.

Mereka berargumen bahwa Kejaksaan seharusnya berada dalam lingkup

kekuasaan yudikatif, mengacu pada ketentuan Pasal 24 ayat (3) Undang-

Undang Dasar 1945. Di sisi lain, DPR dalam proses legislasi tersebut juga

mendukung agar Kejaksaan dapat menjalankan tugasnya secara independen.

Akan tetapi, pihak Pemerintah memilih untuk mempertahankan posisi

Kejaksaan sebagai bagian dari institusi pemerintah yang menjalankan fungsi

penuntutan atas nama negara.

Kekuasaan negara di bidang penuntutan dilakukan secara

independen dalam tata susunan kekuasaan badan penegak hukum dan

keadilan. Setelah proses tarik-ulur terjadi di dalam pembahasan RUU

tersebut akhirnya DPR menarik usulan mereka tentang Jaksa Agung yang

independen dan akhirnya disepakati Jaksa Agung tetaplah pejabat negara


32

yang diangkat dan diberhentikan oleh Presiden, karena dalam sistem

presidensial, Kejaksaan Agung memang berada di bawah ranah eksekutif,

maka menjadi kewenangan presiden mengangkat dan memberhentikan

Jaksa Agung.45

3. Kewenangan Kejaksaan

Di Negara Kesatuan Republik Indonesia, hukum merupakan urat

nadi seluruh aspek kehidupan. Hukum mempunyai posisi strategis dan

dominan dalam kehidupan masyarakat berbangsa dan bernegara. Hukum,

sebagai suatu sistem, dapat berperan dengan baik dan benar ditengah

masyarakat jika instrumen pelaksanaanya di lengkapi dengan kewenangan-

kewenangan dalam bidang penegakan hukum. Salah satu di antara

kewenangan-kewenangan itu adalah Kejaksaan Republik Indonesia.46

Hak dan juga kewenangan untuk berbuat sesuatu adalah pengertian

dari wewenang yang merupakan kata dasar dari kewenangan. Kekuasaan

formal merupakan kewenangan yang disebut sebagai kekuasaan yang

bersumber dari undang-undang yaitu kekuasaan legislate maupun kekuasaan

eksekutif administratif. Kekuasaan terhadap suatu bidang legislative

(pemerintahan) atau kekuasaan terhadap sekelompok orang tertentu dari

suatu golongan merupakan beberapa wewenang yang biasanya mencakup

kewenangan itu sendiri.

45
Ibid., hlm. 21-22.
46
Sri Soemantri, Bunga Rampai Hukum Tata Negara Indonesia, (Bandung:
Alumni,1992), hlm. 27.
33

Kewenangan dari Kejaksaan terdapat pada pasal 30 sampai pasal 37

Undang -Undang Nomor 16 Tahun 2004 Tentang Kejaksaan Negara

Republik Indonesia yang terdiri atas:

Pada bidang Pidana :

b. Melakukan penuntutan terhadap perkara pidana;

c. Melaksanakan putusan serta penetapan yang dilakukan oleh hakim

terhadap putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap;

d. Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan dari putusan pidana;

e. Melakukan penyidikan tindak pidana berdasarkan UU;

f. Melengkapi berkas perkara sehingga dapat dilanjutkan dengan

pemeriksaan tambahan sebelum diarahkan pada pengadilan dan

berkoordinasi dengan penyidik dalam penyelenggaraannya.

Pada bidang Perdata dan Tata Usaha Negara :

Kejaksaan dengan kuasa khusus, dapat bertindak baik di dalam maupun di

luar pengadilan untuk dan atas nama negara atau pemerintah.

Pada bidang ketertiban dan ketenteraman umum, Kejaksaan turut

menyelenggarakan kegiatan:

a. peningkatan kesadaran hukum masyarakat;

b. pengamanan kebijakan penegakan hukum;

c. pengawasan peredaran barang cetakan;

d. pengawasan aliran kepercayaan yang dapat membahayakan masyarakat

dan negara;

e. pencegahan penyalahgunaan dan/atau penodaan agama;


34

f. penelitian dan pengembangan hukum serta statistik kriminal.

4. Jaksa

Jaksa menurut Pasal 1 ayat (1) Undang-undang Nomor 16 Tahun

2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia adalah “Pejabat fungsional

yang diberi wewenang oleh undang-undang untuk bertindak sebagai

penuntut umum dan pelaksana putusan pengadilan yang telah memperoleh

kekuatan hukum tetap, serta wewenang lain berdasarkan undang-undang.47

Pada tahun 2004 dengan keluarnya Undang-undang Nomor 16

Tahun 2004, kedudukan jaksa semakin mempertegas posisi Jaksa sebagai

pejabat fungsional yang diberi wewenang oleh Undang-undang untuk

bertindak sebagai Penuntut Umum dan Pelaksana Putusan Pengadilan yang

telah memperoleh kekuatan hukum tetap dan wewenang lain berdasarkan

Undang-undang, Oleh karenanya maka dijelaskan dalam pejabat hukum

yang memiliki wewenang terhadap kelangsungan penuntutan berbagai jenis

perkara. Dengan demikian pengertian Jaksa pada Undang-Undang No. 16

Tahun 2004 lebih luas dari pada pasal 1 butir 6a [Link] dua

kewenangan jaksa yang biasa dilaksanakan yaitu:48

a. Sebagai penuntut umum, dan Sebagai eksekutor.

b. Melakukan penuntutan dan melaksanakan penetapan hakim.

47
Undang-Undang No. 16 Tahun 2004 Tentang Kejaksaan Republik Indonesia, Pasal 1
Ayat (1).
48
Laden Marpaung, Penanganan Perkara Pidana (Jakarta: Sinar Grafika, 2009), 188–
189.
35

5. Peranan dan Kedudukan Jaksa Pengacara Negara

Kejaksaan Republik Indonesia tidak hanya berperan sebagai

penuntut umum, tetapi dalam hal menangani perkara Perdata dan Tata

Usaha Negara, Jaksa memiliki kuasa khusus untuk bertindak baik

didalam maupun diluar pengadilan untuk dan atas nama negara atau

pemerintah dalam bidang Perdata dan Tata Usaha Negara. Berdasarkan

tugas dan wewenang Kejaksaan tersebut Jaksa Pengacara Negara

merupakan sebutan Jaksa dalam Bidang Perdata dan Tata Usaha

Negara.49

Kejaksaan selaku pengacara negara dan istilah “Jaksa Pengacara

Negara (JPN)”, tidak disebut secara eksplisit oleh Undang-Undang Nomor

16 Tahun 2004 Tentang Kejaksaan RI. Justru istilah JPN termasuk

dalam Pasal 32 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1991 Tentang

Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Pengertian JPN juga dijabarkan dalam Peraturan Jaksa Agung RI

Nomor: PER025/A/JA/11/2015 Tentang Petunjuk Pelaksanaan

Penegakan Hukum, Bantuan Hukum, Pertimbangan Hukum, Tindakan

Hukum Lain dan Pelayanan Hukum dibidang Perdata dan Tata Usaha

Negara:50

49
Dahlan Sinaga, Kemandirian dan Kebebasan Hakim Memutus Perkara Pidana
Dalam Negara Hukum Pancasila: Suatu Perspektif Teori Keadilan Bermartabat , Cetakan II.
(Bandung: Nusa Media, 2017), hlm 13.
50
Iska Tirta Adiyaksa, dan Dossy Iskandar Prasetyo, Peran Serta Hambatan
Fungsionalisasi Jaksa Pengacara Negaradi Bidang Perdata dan Tata Usaha Negara: Studi pada
Kejaksaan Negeri Sidoarjo. Journal of Police and Law Enforcement. Universitas Bhayangkara
Surabaya. Vol 1. No.1 (2023), hlm. 21.
36

“Jaksa Pengacara Negara adalah jaksa yang berdasarkan Surat Kuasa


Khusus melakukan penegakan hukum dan bantuan hukum atau
berdasarkan surat perintah melakukan pertimbangan hukum, tindakan
hukum lain dan pelayanan hukum di bidang perdata dan tata usaha
[Link] Kuasa Khusus (SKK) adalah surat yang berisi pemberian
kuasa kepada pihak lain gunamelaksanakan kepentingan tertentu dan
atas nama pemberi kuasa.”

Lebih lanjut Pasal 24 Peraturan Presiden Nomor 38 Tahun 2010

Tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kejaksaan Republik

Indonesia menyebutkan tugas JPN, yaitu:51

“Jaksa Agung Muda Perdata dan Tata Usaha Negara mempunyai tugas
dan wewenang penegakan hukum, bantuan hukum, pertimbangan
hukum dan tindakan hukum lain kepada negara dan pemerintah, meliputi
lembaga/badan negara,lembaga/instansi pemerintah pusat dan daerah,
BUMN/BUMD di bidang perdata dan tata usaha negara untuk
menyelamatkan, memulihkan kekayaan negara, menegakkan kewibawaan
pemerintah dan negara serta memberikan pelayanan hukum kepada
masyarakat.”

Tugas, fungsi dan wewenang Kejaksaan dalam bidang perdata dan tata

usaha negara dijabarkandalam Peraturan Presiden Republik Indonesia

No. 38 Tahun 2010 dan Peraturan Jaksa Agung No.

Per-025/A/JA/11/2015 tentang petunjuk pelaksanaan Penegakan Hukum,

Bantuan Hukum, Pertimbangan Hukum, Tindakan Hukum Lain dan

Pelayanan Hukum di Bidang Perdata dan Tata Usaha Negara.

C. Tinjauan Umum Tentang Perkara Perdata

1. Pengertian Hukum Perdata

Hukum perdata adalah hukum yang mengatur mengenai hubungan

hukum antara hak dan kewajiban hak dan kewajiban orang atau badan

51
Ibid.,hlm.22.
37

hukum yang satu dengan orang atau badan hukum yang lain dalam

pergaulan hidup masyarakat, dengan menitikberatkan pada kepentingan

perseorangan atau individu.52 Menurut Sudikno Mertokusumo, Hukum

perdata adalah hukum anatarperorangan yang mengatur hak dan kewajiban

perorangan yang satu terhadap yang lain di dalam hubungan keluarga dan di

dalam pergaulan masyarakat.53

Dalam Hukum perdata terdapat dalam arti luas dan dalam arti

sempit, yang mana menurut Prof. Subekti, perkataan hukum perdata dalam

arti yang luas meliputi semua hukum privat materiel, yaitu segala hukum

pokok yang mengatur kepentingan perseorangan. Lebih lanjut menurut

beliau, perkataan Perdata juga lazim dipakai sebagai lawan dari Pidana.

Namun ada juga yang memakai perkataan Hukum Sipil untuk hukum privat

materiel, tetapi karena perkataan Sipil itu juga lazim dipakai sebagai lawan

dari militer, maka lebih baik dipakai istilah Hukum Perdata untuk segenap

peraturan hukum privat materiel. Adapun perkataan hukum perdata dalam

arti yang sempit dipakai sebagai lawan hukum dagang.54

Menurut Prof. Soedewi Masjchoen Sofwan, Hukum Perdata tertulis

sebagaimana diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, yang

selanjutnya disebut Hukum Perdata, merupakan Hukum Perdata dalam arti

52
P.N.H. Simanjuntak, Hukum Perdata Indonesia, (Jakarta: Kencana, 2021), hlm. 7.
53
Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum Suatu Pengantar, (Yogyakarta: Liberty,
1986), hlm. 108
54
Subekti, Pokok-Pokok Hukum Perdata, (Jakarta: Intermasa, 1995), hlm. 9.
38

sempit. Adapun Hukum perdata dalam arti luas termasuk didalamnya

Hukum dagang.55 Dengan demikian, maka dari itu , bahwa:

a. Hukum perdata dalam arti sempit meliputi seluruh peraturan-peraturan

yang terdapat dalam KUH Per, yaitu: Hukum Pribadi, Hukum Benda

(Hukum Harta Kekayaan), Hukum Keluarga, Hukum Waris, Hukum

Perikatan serta Hukum Pembuktian dan Daluwarsa.

b. Hukum perdata dalam arti luas meliputi seluruh peraturan-peraturan yang

terdapat dalam KUH Per, KUHD beserta peraturan undang-undang

tambahan lainnya (seperti Hukum Agraria, Hukum Adat, Hukum Islam,

dan Hukum Perburuhan).

Jadi dapat disimpulkan, bahwa Hukum Perdata ini dapat berbentuk

tertulis, seperti yang dimuat dan diatur dalam KUH Per (Burgerlijk

Wetboek) dan KUHD (Wetboek van Koophandel), serta peraturan

perundang-undangan lainnya, dan dapat juga berbentuk tidak tertulis, seperti

Hukum Adat.56

Hukum perdata terbagi menjadi hukum perdata materiel dan hukum

perdata formil. Adapun menurut Prof. Soediman Kartohadiprodjo, yang

dimaksudkan dengan Hukum Perdata materiel ialah kesemuanya kaidah

hukum yang menentukan dan mengatur hak- hak dan kewajiban perdata.

Lawannya ialah Hukum Perdata Formil, yaitu kesemuanya kaidah hukum

yang menentukan dan mengatur bagaimana caranya melaksanakan hak-hak

55
Sri Soedewi Masjchoen Sofwan, Hukum Perdata: Hukum benda, (Yogyakarta: Liberty,
1981), hlm. 1.
56
P.N.H. Simanjuntak, Op. cit, hlm. 8.
39

dan kewajiban-kewajiban perdata tersebut.57 Oleh karena itu, dapat

disimpulkan bahwa yang dimaksudkan dengan:

i. Hukum Perdata Materiel adalah aturan-aturan hukum yang mengatur hak

hak dan kewajiban perdata. Misalnya Hukum Dagang, Hukum

Perkawinan, Hukum Waris, Hukum Perjanjian, dan Hukum Adat.

ii. Hukum perdata formil adalah aturan-aturan hukum yang mengatur

bagaimana caranya melaksanakan serta mempertahankan hak-hak dan

kewajiban-kewajiban perdata (Hukum Perdata Materiel), misalnya

Hukum Acara Perdata.

2. Perkara Hukum Perdata

Perkara perdata merupakan perkara mengenai perselisihan antara

kepentingan perseorangan atau antara kepentingan suatu badan pemerintah

dengan kepentingan perseorangan. misalnya perselisihan tentang perjanjian

jual beli, sewa menyewa, pembagian waris, dan hak milik. Pada proses

penyelesaian perkara perdata di pengadilan telah diatur dalam hukum acara

perdata. Hukum acara perdata atau hukum formil perdata adalah alat untuk

menyelenggarakan hukum materiil, sehingga hukum acara itu harus

digunakan sesuai dengan keperluan hukum materiil dan hukum acara tidak

boleh digunakan apabila bertentangan dengan hukum materiil.58

Menurut Abdulkadir Muhammad Perkara perdata dapat terjadi

karena pelanggaran terhadap hak seseorang, seperti diatur dalam hukum


57
Soediman Krtohadiprodjo, Pengantar Tata Hukum di Indonesia, (Jakarta: Ghalia
Indonesia, 1984), hlm. 72.
58
G. Wijers, Het Gezag van Gewijsde in Burgerlijke Landraad zaken, dalam Supomo,
Hukum Acara Perdata Pengadilan Negeri, (Jakarta: Pradnya Paramita, 2000), hlm. 10.
40

perdata. Pelanggaran hak seseorang itu dapat terjadi karena perbuatan

melawan hukum yang menimbulkan kerugian bagi orang lain, seperti diatur

dalam undang-undang atau karena wanprestasi, yaitu tidak memenuhi

kewajiban dalam pelaksanaan kontrak yang menimbulkan kerugian bagi

orang lain. kerugian yang timbul itu dapat berupa kerugian materil,

misalnya kerusakan atas barang atau berupa kerugian imaterial, misalnya

kehilangan hak menikmati barang atau pencemaran nama baik. Pelanggaran

hak seseorang itu dapat terjadi karena kesengajaan atau karena kelalaian.

Pada perkara perdata, inisiatif berperkara datang dari pihak yang dirugikan.

Karena itu, pihak yang yang dirugikan mengajukan perkaranya ke

pengadilan untuk memperoleh penyelesaian berupa pemulihan, penggantian

kerugian, dan menghentikan perbuatan yang merugikan itu.59

Penyelesaian perkara perdata memiliki solusi bisa penyelesaian

melalui jalur litigasi atau nonlitigasi. Kebanyakan orang lebih banyak

menggunakan metode litigasi Pengadilan daripada metode nonlitigasi.

Namun, penyelesaian konflik hukum perdata melalui jalur mediasi

menggunakan layanan mediator bersertifikat atau melibatkan lembaga

khusus yang menangani dan menyelesaikan sengketa perdata di luar

pengadilan adalah lebih efisien, murah, dan adil.60

59
Abdulkadir Muhammad. Hukum Perdata Indonesia, (Bandung: Citra Aditya Sakti,
1990), hlm. 19-20.
60
Jaidun, dan Syaharie Jaang, Alternatif Penyelesaian Sengketa Perdata Di Pengadilan.
Jurnal Ilmu Hukum. Universitas Widya Gama Mahakam Samarinda, Indonesia. Vol 16. No. 2
(2024), hlm. 204.
41
BAB III

PEMBAHASAN

Penelitian yang penulis lakukan bertujuan untuk meneliti bagaimana

bantuan hukum nonlitigasi yang diberikan oleh Jaksa Pengacara Negara, dan

untuk mendukung hal tersebut. lokasi penelitian yang penulis ajukan sebagai

tempat untuk penelitian untuk memperoleh data fisik, serta wawancara bertempat

di Kejaksaan Negeri Palembang yang beralamat di Jalan Gubernur H. Bastari,

Jakabaring, Kota Palembang, Sumatera Selatan. Melaksanakan tugas penuntutan

tindak pidana umum dan khusus, serta menyelesaikan perkara perdata dan tata

usaha negara merupakan fungsi dan peranan Kejaksaan Negeri Palembang dalam

melaksanakan tugasnya. Dalam menjalankannya Kejaksaan Negeri Palembang

dipimpin oleh Kepala Kejaksaan Negeri dan dibawahnya terdapat struktural yang

membantu dalam proses kegiatan pekerjaan. Struktural ini dibagi menjadi 6

bagian yang dipimpin oleh Kepala Bagian/Seksi yang meliputi seksi tindak Pidana

umum, seksi tindak Pidana khusus, seksi Inteligen, seksi Perdata dan Tata Usaha

Negara, seksi tindak Badan Pemulihan Aset, dan bagian pembinaan.

Berikut struktur organisasi Kejaksaan Negeri Palembang dan struktur organisasi

seksi Perdata dan Tata Usaha Negara di Kejaksaan Negeri Palembang :

42
43

Bagan 1
Struktur Organisasi Kejaksaan Negeri Palembang

Sumber: Kejaksaan Negeri Palembang


44

Bagan 2
Struktur Organisasi Seksi Perdata dan Tata Usaha Negara di Kejaksaan

Negeri Palembang

Sumber: Bidang Perdata dan Tata Usaha Negara Kejaksaan Negeri Palembang
45

A. Proses Pelaksanaan Bantuan Hukum Nonlitigasi yang diberikan Jaksa

Pengacara Negara dalam Penyelesaian Perkara Perdata di Kejaksaan

Negeri Palembang

Dalam menjalankan tugas dan fungsinya dalam memberikan bantuan

hukum, Jaksa Pengacara Negara (JPN) harus terlebih dahulu menerima Surat

Kuasa Khusus. Surat ini memberikan wewenang khusus kepada JPN untuk

mewakili pihak yang memberikan kuasa, yang dalam hal ini adalah lembaga

negara, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Badan Usaha Milik Daerah

(BUMD), atau lembaga pemerintahan lainnya. Dengan adanya Surat Kuasa

Khusus, JPN dapat bertindak atas nama instansi yang diwakilinya dalam

berbagai proses hukum.

Berdasarkan wawancara dengan Ibu Rya Dilla Fitri, selaku Kepala

Seksi Perdata dan Tata Usaha Negara, dijelaskan bahwa tidak semua Jaksa

dapat bertugas sebagai Jaksa Pengacara Negara (JPN). Hanya jaksa tertentu

yang ditunjuk berdasarkan struktur organisasi dan diberikan kuasa khusus

untuk menjalankan peran sebagai JPN. Jaksa yang mendapatkan wewenang ini

bertanggung jawab dalam melaksanakan tugasdan fungsi di bidang perdata dan

tata usaha negara sesuai dengan ketentuan yang berlaku.61

Ibu Rya Dilla Fitri, selaku Kepala Seksi Perdata dan Tata Usaha

Negara, menjelaskan mekanisme yang harus dilakukan oleh Jaksa Pengacara

Negara (JPN) dalam memberikan bantuan hukum kepada klien, seperti

61
Hasil wawancara dengan ibu Rya Dilla Fitri. Kepala Seksi Perdata dan Tata Usaha
Negara Kejaksaan Negeri Palembang. Pada tanggal 25 Februari 2025.
46

lembaga pemerintah, BUMN, dan BUMD. Prosesnya dimulai dengan

pengajuan surat permohonan dari klien, disertai dengan pemberian Surat Kuasa

Khusus (SKK) kepada Kejaksaan Negeri Palembang. Setelah itu, Kepala

Kejaksaan Negeri Palembang akan menerbitkan Surat Kuasa Khusus Substitusi

yang diberikan kepada Kepala Seksi Perdata dan Tata Usaha Negara.

Selanjutnya, JPN melaksanakan tugasnya sesuai dengan ketentuan yang diatur

dalam Peraturan Jaksa Agung Nomor: 040/A/J.A/12/2010 tentang Standar

Operasional Prosedur (SOP) Pelaksanaan Tugas, Fungsi, dan Wewenang di

Bidang Perdata dan Tata Usaha Negara

Berikut alur proses bantuan hukum :

Bagan 3
Alur Proses Bantuan Hukum

Sumber: Bagian Perdata dan TUN Kejari Palembang Tahun 2025


47

Dalam menjalankan bantuan hukum, Jaksa Pengacara Negara (JPN)

harus berpedoman pada Standar Operasional Prosedur (SOP) yang telah

ditetapkan. Tugas utama JPN dalam perkara perdata dan tata usaha negara

adalah mewakili lembaga negara, instansi pemerintah baik di tingkat pusat

maupun daerah, serta BUMN dan BUMD. Wewenang ini diberikan melalui

Surat Kuasa Khusus (SKK), yang memungkinkan JPN bertindak sebagai

penggugat/pemohon maupun tergugat/termohon dalam penyelesaian perkara,

baik melalui jalur litigasi maupun nonlitigasi.

Berikut alur prosedur pemberian bantuan hukum secara non litigasi (diluar

pengadilan):

1. Penerimaan Surat Kuasa Khusus

Lembaga negara, lembaga pemerintah, BUMN, dan BUMD yang

memerlukan bantuan hukum harus mengajukan surat permohonan kepada

Kejaksaan. Permohonan ini bertujuan agar Kejaksaan dapat bertindak

sebagai pengacara, baik dalam posisi penggugat/pemohon maupun

tergugat/termohon, dalam perkara perdata atau tata usaha negara yang

sedang dihadapi. Pengajuan ini harus disertai dengan Surat Kuasa Khusus

(SKK) yang memberikan hak substitusi dari negara atau pemerintah kepada

Kejaksaan, serta dokumen pendukung lainnya yang berkaitan dengan

perkara tersebut.

2. Penunjukan Jaksa Pengacara Negara

Jaksa Pengacara Negara (JPN) ditunjuk dan ditetapkan oleh Kepala

Kejaksaan melalui penerimaan Surat Kuasa Khusus yang di dalamnya


48

mencakup hak substitusi. Penunjukan ini dilakukan dengan melampirkan

surat kuasa yang diberikan oleh Kepala Kejaksaan sebagai dasar resmi bagi

JPN dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya.

3. Proses Penyelesaian Perkara Nonlitigasi

Secara umum, setiap perkara perdata diupayakan untuk diselesaikan terlebih

dahulu melalui jalur nonlitigasi (di luar pengadilan). Jika upaya tersebut

tidak membuahkan hasil, barulah perkara dilanjutkan ke jalur litigasi

(pengadilan). Berikut adalah prosedur pelaksanaan penyelesaian perkara

perdata melalui jalur nonlitigasi:

a. Proses Negosiasi serta Penandatanganan Memorandum Of

Understanding (MOU)

Tahap negosiasi dan penandatanganan Memorandum of Understanding

(MOU) merupakan langkah awal dalam proses pemberian bantuan

hukum nonlitigasi. Pada tahap ini, pihak penggugat/pemohon dan

tergugat/termohon dipertemukan dengan pendampingan Jaksa Pengacara

Negara yang bertugas untuk memfasilitasi negosiasi guna mencari solusi

terbaik dan mencapai kesepakatan atas permasalahan yang dihadapi. Jika

negosiasi berjalan dengan baik dan menghasilkan kesepakatan, maka

proses dilanjutkan dengan penandatanganan MOU dalam bentuk

dokumen tertulis yang ditandatangani oleh kedua belah pihak serta Jaksa

Pengacara Negara sebagai perwakilan kuasa yang mewakili

penggugat/pemohon atau tergugat/termohon. Namun, apabila proses

nonlitigasi tidak membuahkan hasil dan kesepakatan tidak tercapai, maka


49

penyelesaian perkara dapat dilanjutkan ke tahap berikutnya melalui jalur

litigasi di pengadilan.

b. Proses Penyusunan Akta Perdamaian

Tahap negosiasi dan penandatanganan Memorandum of Understanding

(MOU) merupakan langkah awal dalam proses pemberian bantuan

hukum nonlitigasi. Pada tahap ini, pihak penggugat/pemohon dan

tergugat/termohon dipertemukan dengan pendampingan Jaksa Pengacara

Negara yang bertugas untuk memfasilitasi negosiasi guna mencari solusi

terbaik dan mencapai kesepakatan atas permasalahan yang dihadapi. Jika

negosiasi berjalan dengan baik dan menghasilkan kesepakatan, maka

proses dilanjutkan dengan penandatanganan MOU dalam bentuk

dokumen tertulis yang ditandatangani oleh kedua belah pihak serta Jaksa

Pengacara Negara sebagai perwakilan kuasa yang mewakili

penggugat/pemohon atau tergugat/termohon. Namun, apabila proses

nonlitigasi tidak membuahkan hasil dan kesepakatan tidak tercapai, maka

penyelesaian perkara dapat dilanjutkan ke tahap berikutnya melalui jalur

litigasi di pengadilan.

c. Proses Penandatanganan Akta Perdamaian

Penandatanganan akta perdamaian dapat dilakukan oleh kedua belah

pihak jika akta tersebut dibuat secara di bawah tangan, dengan syarat

harus disaksikan oleh minimal dua orang saksi. Namun, jika akta

perdamaian disusun dalam bentuk akta notaris, maka agar memiliki

kekuatan eksekutorial yang mengikat sebagaimana Undang-Undang, akta


50

tersebut harus didaftarkan di kepaniteraan pengadilan. Pendaftaran

dilakukan di pengadilan yang berada dalam wilayah hukum tempat Jaksa

Pengacara Negara menjalankan tugasnya. Setelah proses pendaftaran

selesai, akta perdamaian memiliki kekuatan hukum yang sah dan dapat

dilaksanakan oleh kedua belah pihak sesuai dengan isi kesepakatan yang

telah disetujui.

Berdasarkan alur Standar Operasional Prosedur (SOP) yang telah

dijelaskan, dapat disimpulkan bahwa proses pemberian bantuan hukum

dilakukan secara sistematis dan terstruktur. Hal ini dibuktikan dengan

banyaknya perkara bantuan hukum nonlitigasi yang berhasil ditangani oleh

Jaksa Pengacara Negara di Kejaksaan Negeri Palembang, menunjukkan bahwa

prosedur yang diterapkan berjalan dengan baik dan sesuai dengan ketentuan

yang berlaku.

Berikut data bantuan hukum nonlitigasi di Kejaksaan Negeri Palembang :

Tabel 1

Data Bantuan Hukum Nonlitigasi di Kejaksaan Negeri Palembang

Tahun Jenis Masuk Selesai Sisa Keterangan


Perkara

2022 Perdata 93 23 70 Proses


Nonlitigasi

2023 Perdata 512 127 385 Proses


Nonlitigasi
51

2024 Perdata 325 44 281 Proses


Nonlitigasi

Sumber: Bagian Perdata dan TUN Kejari Palembang Tahun 2025

Kepala Seksi Perdata dan Tata Usaha Negara ibu Rya Dilla Fitri

mengemukakan bahwa Jaksa Pengacara Negara baru dapat menjalankan

tugasnya jika telah mendapatkan Surat Kuasa Khusus (SKK) yang memuat hak

substitusi, berdasarkan data pada tahun 2022 Surat Kuasa Khusus perkara

nonlitigasi terdapat 93 SKK yang diterbitkan, lalu ditutup sebanyak 23 SKK,

sehingga tersisa 70 SKK, total pemulihan keuangan negara sebesar Rp.

[Link]. dan pada tahun 2023 terdapat 512 Surat Kuasa Khusus yang

diterbitkan, dengan rincian SKK ditutup sebanyak 127 SKK, dan tersisa 385

SKK, total pemulihan keuangan negara naik dari tahun sebelumnya sebesar Rp.

[Link]. kemudian pada tahun 2024 terdapat 325 Surat Kuasa Khusus

yang diterbitkan, dan ditutup dengan 44 SKK, yang tersisa 281 SKK dengan

total pemulihan keuangan negara sebesar Rp. [Link].

Disamping itu kompetensi yang dimiliki oleh Jaksa Pengacara Negara

dalam melaksanakan bantuan hukum telah sesuai dengan SOP yang ada, hal ini

dibuktikan dalam beberapa perkara yang telah ditangani, melalui bantuan

hukum nonlitigasi yang diberikan kepada Jaksa Pengacara Negara dengan

Surat Kuasa Khusus atas peran sertanya dalam pencapaian target penerimaan

pajak 2022 pemulihan keuangan negara sebesar Rp. [Link],00.

Kemudian pada tahun 2023 terdapat perkara perdata yang ditangani oleh JPN
52

serta pada tahun 2024 Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) meminta upaya

bantuan hukum terkait penagihan piutang pajak daerah seperti pajak reklame,

pajak restoran hingga pajak hotel. Dari sinergitas antara Bapenda Kota

Palembang dengan pihak Kejaksaan khususnya bidang Perdata dan Tata Usaha

Negara Kejari Palembang telah berhasil memulihkan kerugian negara sebesar

Rp. 449.492.440.

Penyelesaian sengketa melalui jalur nonlitigasi dilakukan oleh Jaksa

Pengacara Negara melalui beberapa tahap meliputi, tahap negosiasi, tahap

penandatanganan kesepakatan atau nota, tahap penyususnan rumusan

perjanjian atau akta perdamaian, tahap penandatanganan perjanjian atau akta

perdamaian dan tahap pelaksanaan isi perjanjian.

B. Kendala yang Dihadapi Oleh JPN dalam Penyelesaian Perkara Perdata

melalui Bantuan Hukum Nonlitigasi di Kejaksaan Negeri Palembang

Jaksa Pengacara Negara, dalam konteks pemberian bantuan hukum, berfungsi

sebagai perwakilan resmi dari Kejaksaan, khususnya dalam ranah perdata dan

tata usaha negara. Tugas utama Jaksa Pengacara Negara adalah bertindak

sebagai kuasa hukum dalam proses penyelesaian perkara perdata dan tata usaha

negara yang melibatkan negara atau instansi pemerintah. Dalam

pelaksanaannya, untuk dapat mewakili klien, seorang Jaksa Pengacara Negara

harus memperoleh Surat Kuasa Khusus (SKK) yang diajukan oleh pihak yang

membutuhkan bantuan hukum. Klien yang dapat diwakili oleh Jaksa Pengacara

Negara adalah lembaga atau instansi pemerintah dan negara yang memiliki

kedudukan vertikal, seperti Badan Pertanahan Nasional, Kementerian


53

Kesehatan, dan berbagai lembaga negara lainnya yang menjalankan fungsi

administratif dan pengaturan publik.

Selain menjalankan tugas dalam penyelesaian dan penegakan hukum di

bidang perdata, kejaksaan juga memiliki kewenangan untuk menangani perkara

perdata dan tata usaha negara, yakni mewakili pemerintah serta negara dengan

tujuan menyelesaikan sengketa di bidang tersebut. Berdasarkan Pasal 30 ayat

(2) Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik

Indonesia, disebutkan bahwa dalam perkara perdata dan tata usaha negara,

kejaksaan dengan kuasa khusus berwenang bertindak baik di dalam maupun di

luar pengadilan atas nama negara dan pemerintah. Ketentuan ini memberikan

kejaksaan kewenangan khusus dalam menangani perkara perdata dan tata

usaha negara.

Soerjono Soekanto mengemukakan yang menjadi pokok persoalan dari

suatu penegakan hukum ialah mengenai faktor-faktor yang memperngaruhinya,

yaitu faktor hukum itu sendiri, faktor penegak hukum, faktor sarana atau

fasilitas, faktor masyarakat, dan faktor kebudayaan. Berikut ini akan diuraikan

yang mempengaruhi bantuan hukum perkara perdata nonlitigasi oleh Jaksa

Pengacara Negara di Kejaksaan Negeri Palembang yang akan diukur melalui

hukum yang mengatur, sumber daya manusia yang meliputi keterampilan Jaksa

Pengacara Negara.

1. Faktor Hukum

Merujuk pada teori ilmu hukum, disampaikan dengan jelas terkait

kaidah hukum yang terbagi ke dalam beberapa aspek sejarah mendalam


54

yang diharapkan hukum tersebut benar-benar merepresentasikan fungsi

untuk setiap kaidahnya yang mana harus mengantongi berbagai unsur

seperti filosofis, sosiologis dan tidak lupa yuridis. Maksud dari unsur

filosofis dikorelasikan dengan kesesuaian hukum sebagai bagian dari nilai

yang positif pada hukum tersebut, sementara unsur sosiologis bertalian kuat

pada suatu kaidah yang bisa dipaksakan perwujudannya oleh pihak

penguasa kendati penduduknya tidak bisa menerima secara komprehensif

atau dengan kata lain kaidah demikian berlaku karena ada validasi dari

pihak masyarakat, dan yang ketiga unsur yuridis menjadi penentu pada

kaidah yang kedudukannya lebih tinggi stratanya atau yang dibentuk dengan

pondasi yang sudah ditetapkan.

Dasar hukum yang menjadi patokan dalam pemberian bantuan

hukum ini adalah Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2011 tentang bantuan

hukum, kaidah hukum tersebut menghadirkan suatu ketetapan yang

mengarah pada pihak penegak hukum ketika merampungkan setiap perkara

yang ada. Sementara untuk representasi pelaksanaan amanah pihak jaksa

pengacara negara memegang teguh ketetapan konstitusi yang termuat dalam

Peraturan Kejaksaan Nomor 7 Tahun 2021 tentang pedoman pelaksanaan

penegakan hukum, bantuan hukum, pertimbangan hukum, tindakan hukum

lain, dan pelayanan hukum di bidang perdata dan tata usaha negara. Diatur

dalam BAB II mengenai bantuan hukum, bahwa jaksa pengacara negara

memberikan layanan bantuan hukum kepada Negara atau Pemerintah untuk

bertindak sebagai kuasa hukum berdasarkan Surat Kuasa Khusus. Serta


55

Peraturan Jaksa Nomor 040/A/JA/2010 mengenai Standar Operating

Prosedur (SOP) pelaksanaan tugas, fungsi, dan wewenang perdata dan tata

usaha negara.

Berdasarkan wawancara yang penulis lakukan bersama ibu Rya

Dilla Fitri, S.H., M.H. selaku Kepala Seksi Perdata dan Tata Usaha Negara,

Kaidah hukum memainkan peran krusial dalam memastikan apakah

pemberian bantuan hukum dapat terlaksana dengan baik atau tidak.

Peraturan perundang-undangan menjadi landasan utama yang mengatur dan

membimbing Jaksa Pengacara Negara dalam melaksanakan tugasnya

sebagai kuasa hukum bagi pemerintah dan negara. Dengan demikian,

bantuan hukum yang diberikan harus selaras dan sejalan dengan prinsip-

prinsip hukum yang berlaku, agar dapat memberikan kepastian hukum dan

keadilan yang sesuai dengan ketentuan yang ada.62

2. Faktor Penegak Hukum

Penegak hukum merupakan sumber daya manusia yang memainkan peran

penting sebagai penegak hukum, untuk mencapai tujuan yang telah

ditentukan sebelumnya, penegak hukum dalam hal ini adalah Jaksa

Pengacara Negara memiliki peranan penting yang ditunjang oleh beberapa

faktor, yaitu:

a. Kemampuan Jaksa Pengacara Negara

Setiap Jaksa Pengacara Negara harus memiliki keahlian dalam

menjalankan tugasnya, khususnya di bidang masing-masing, seperti

62
Hasil wawancara dengan ibu Rya Dilla Fitri. Kepala Seksi Perdata dan Tata Usaha
Negara Kejaksaan Negeri Palembang. Pada tanggal 25 Februari 2025.
56

pidana khusus, pidana umum, perdata dan tata usaha negara, barang

bukti, intelijen, serta pembinaan. Dalam bidang tata usaha negara, Jaksa

Pengacara Negara dituntut untuk memiliki keterampilan dalam

menangani perkara perdata dan tata usaha negara, baik dalam konteks

ketatanegaraan atas nama negara maupun demi kepentingan umum.

Keterampilan ini menjadi krusial ketika Jaksa Pengacara Negara

dibekali dengan kompetensi yang memadai, sehingga dapat menjalankan

tugasnya secara optimal. Kemampuan tersebut juga diperoleh melalui

pelatihan atau diklat yang bertujuan untuk meningkatkan kinerja saat

bertugas di kejaksaan sesuai dengan penempatannya.

b. Kompetensi Jaksa Pengacara Negara

Selain keahlian, kompetensi Jaksa Pengacara Negara turut

berperan dalam meningkatkan daya guna pemberian bantuan hukum

pada perkara perdata nonlitigasi, khususnya di bidang perdata dan tata

usaha negara di Kejaksaan Negeri Palembang. Jaksa Pengacara Negara

yang terlatih dengan baik dan memiliki pengetahuan yang memadai

sangat dibutuhkan dalam unit perdata dan tata usaha negara. Setiap

tanggung jawab yang diberikan harus dijalankan secara optimal.

Kompetensi sendiri mencakup empat karakteristik utama, yaitu

pengetahuan, keterampilan, perilaku, dan pengalaman. Keempat aspek

ini diperoleh melalui pelatihan atau diklat yang diikuti oleh Jaksa Muda,

sehingga dalam pelaksanaan tugasnya dapat sesuai dengan standar

operasional prosedur (SOP) yang berlaku.


57

Dalam menjalankan tugas memberikan bantuan hukum, Jaksa Pengacara

Negara (JPN) berpegang pada prinsip-prinsip yang harus diterapkan. Salah

satunya adalah profesionalisme dalam menjalankan tugas, di mana JPN wajib

memberikan bantuan hukum sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam

Surat Kuasa Khusus serta menjalankan kewenangan yang telah ditetapkan.

Selain itu, dalam melaksanakan tugasnya, JPN harus bekerja secara optimal

dan memastikan kualitas layanan hukum yang diberikan, terutama dalam aspek

kompetensi terkait hukum materiil dan formil di bidang perdata serta tata usaha

negara. Selain itu, integritas juga menjadi aspek fundamental yang harus

dijaga, dengan menghindari segala bentuk pelanggaran hukum maupun etika

selama proses pemberian bantuan hukum berlangsung.

Berdasarkan hasil penelitian wawancara bersama Kepala Seksi Perdata

dan Tata Usaha Negara Kejaksaan Negeri Palembang, ibu Rya Dilla Fitri

bahwa penegak hukum di Kejaksaan Negeri Palembang terutama dalam

pemberian bantuan hukum, seorang Jaksa Pengacara Negara dibekali oleh

pengetahuan, kompetensi, serta keterampilan. Ketiga hal tersebut diperoleh

dari pelatihan dan diklat yang dijalani, sehingga JPN dapat menjalankan tugas

sesuai dengan SOP yang berlaku. Di Kejaksaan Negeri Palembang JPN telah

bekerja sesuai dengan kompetensi yang ada, hal ini dibuktikan dengan

banyaknya perkara perdata dan tata usaha negara yang telah ditangani dengan

baik periode 2022, 2023, dan 2024 sebanyak 194 perkara nonlitigasi.63Dari

fungsi penegak hukum yang terkait ialah fungsi Jaksa Pengacara Negara dalam

63
Hasil wawancara dengan ibu Rya Dilla Fitri. Kepala Seksi Perdata dan Tata Usaha
Negara Kejaksaan Negeri Palembang. Pada tanggal 25 Februari 2025.
58

rangka menegakan hukum pada perkara perdata nonlitigasi di Kejaksaan

Negeri Palembang dengan memberikan bantuan hukum sesuai dengan

Peraturan Jaksa Nomor 040/A/JA/2010 mengenai Standar Operating Prosedur

(SOP) pelaksanaan tugas, fungsi, dan wewenang perdata dan tata usaha negara.

3. Faktor Sarana atau Fasilitas Pendukung

Kondisi fasilitas menjadi faktor penting dalam menilai dari segi

kelengkapan, jumlah, serta fungsi peralatan yang dibutuhkan untuk

mendukung dan mempermudah pelaksanaan bantuan hukum dalam perkara

perdata nonlitigasi di Kejaksaan Negeri Palembang. Agar manfaat dari

fasilitas tersebut dapat dioptimalkan, Kejaksaan Negeri Palembang perlu

memastikan ketersediaan serta kualitas sarana yang menunjang proses

pemberian bantuan hukum di bidang perdata nonlitigasi. Berikut ini adalah

gambaran kondisi fasilitas yang tersedia di Kejaksaan Negeri Palembang,

khususnya di Bidang Perdata dan Tata Usaha Negara:

Tabel 1 Data Fasilitas Seksi Perdata dan Tata Usaha Negara di

Kejaksaan Negeri Palembang

Fasilitas Jumlah

Alat Scan 2

Komputer 4

Meja Kerja 4

Lemari 2

Ruang Rapat 1

TV LED 2
59

Rak Besi 1

Sumber: Bagian Perdata dan TUN Kejari Palembang Tahun 2025

Berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala Seksi Perdata dan Tata

Usaha Negara, Ibu Rya Dilla Fitri, beliau menjelaskan bahwa fasilitas dan

sarana memiliki peran krusial dalam proses pemberian bantuan hukum pada

perkara perdata. Dalam pelaksanaannya, berbagai dokumen penting, seperti

Memorandum of Understanding (MoU), Legal Opinion, dan dokumen

hukum lainnya, harus diketik dan disusun dengan baik. Oleh karena itu,

keberadaan perangkat pendukung seperti komputer dan printer menjadi

kebutuhan utama guna memperlancar proses tersebut. Diiringi dengan

lemari dan rak besi yang selama ini memang dibutuhkan untuk pengarsipan

dokumen. Selanjutnya dalam hal sarana, yaitu ruang kerja datun memang

tidak terlalu luas, namun hal ini tidak mengganggu jalannya proses

pekerjaan, karena pegawai yang ada di seksi datun tidak terlalu banyak,

sekitar 12 pegawai tetap, meliputi 1 kepala sub seksi perdata dan tata usaha

negara, 1 kepala sub seksi Pertimbangan Hukum, 2 Jaksa Pengacara Negara,

8 staff perdata dan tata usaha negara dan 1 merupakan pegawai honorer.64

Sejalan dengan pernyataan Ibu Dian Febriani, selaku Jaksa

Pengacara Negara, fasilitas yang tersedia di Seksi Perdata dan Tata Usaha

Negara dinilai sudah memadai. Hal ini dibuktikan dengan kelancaran proses

pekerjaan tanpa hambatan yang signifikan, meskipun terkadang muncul

64
Hasil wawancara dengan ibu Rya Dilla Fitri. Kepala Seksi Perdata dan Tata Usaha
Negara Kejaksaan Negeri Palembang. Pada tanggal 25 Februari 2025.
60

kendala kecil, seperti kehabisan kertas, tinta printer, atau perlengkapan alat

tulis kantor lainnya, permasalahan tersebut dapat segera diatasi berkat

dukungan inventaris yang disediakan oleh bagian umum.65

Berdasarkan data yang diperoleh, fasilitas pendukung untuk

pemberian bantuan hukum telah tersedia dengan cukup memadai. Hal ini

ditunjukkan dengan adanya lemari dan rak besi yang digunakan untuk

menyimpan dokumen-dokumen penting terkait dengan penegakan hukum,

bantuan hukum, perlindungan hukum, serta pelayanan hukum. Selain itu,

terdapat pula perangkat komputer dan printer yang berperan dalam

penyusunan serta pencetakan dokumen-dokumen esensial, seperti berkas

acara perkara perdata. Dalam rangka mendukung kelancaran proses

pemberian bantuan hukum, Seksi Perdata dan Tata Usaha Negara juga

dilengkapi dengan ruang rapat yang mampu menampung sekitar 8 hingga 10

orang. Ruangan ini dilengkapi dengan meja rapat serta sebuah TV LED

yang berfungsi sebagai sarana bagi Jaksa Pengacara Negara untuk

memberikan penjelasan sebelum memulai tugas, baik dalam lingkup Seksi

Perdata dan Tata Usaha Negara maupun dalam pemaparan kepada pihak

yang terlibat dalam perkara. Fasilitas ini memungkinkan penyampaian

informasi terkait proses hukum yang berlaku dapat dilakukan dengan lebih

baik dan sistematis.66

4. Faktor Masyarakat

65
Hasil wawancara dengan ibu Dian Febriani. Jaksa Pengacara Negara Kejaksaan Negeri
Palembang. Pada tanggal 25 Februari 2025.
66
Hasil wawancara dengan ibu Rya Dilla Fitri. Kepala Seksi Perdata dan Tata Usaha
Negara Kejaksaan Negeri Palembang. Pada tanggal 25 Februari 2025.
61

Faktor dari masyarakat menjadi salah satu elemen penting yang

memengaruhi peran dan pelaksanaan bantuan hukum non-litigasi oleh Jaksa

Pengacara Negara (JPN). Kondisi dan keterlibatan masyarakat sering kali

berperan dalam menentukan sejauh mana proses bantuan hukum dapat

berjalan dengan lancar, terutama dalam hal komunikasi, pemberian data

pendukung, serta implementasi hasil pertimbangan hukum dari JPN. Salah

satu hambatan yang paling sering ditemui adalah kurangnya pemahaman

hukum yang memadai di kalangan masyarakat dan bahkan aparatur

pemerintahan.

Menurut Ibu Dian Febriani, selaku Jaksa Pengacara Negara Kejaksaan

Negeri Palembang, pemahaman masyarakat mengenai bantuan hukum

sangat penting untuk kepentingan mereka sendiri, tidak sedikit yang masih

belum memahami batas kewenangan JPN dan mengira bahwa jaksa dapat

memberikan bantuan hukum untuk permasalahan perdata pribadi, seperti

konflik keluarga, sengketa utang piutang, atau warisan. Padahal, JPN hanya

bertugas mewakili institusi negara atau pemerintah dalam rangka

melindungi kepentingan negara sesuai dengan Pasal 30 ayat (2) Undang-

Undang Nomor 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia,

disebutkan bahwa dalam perkara perdata dan tata usaha negara, kejaksaan

dengan kuasa khusus berwenang bertindak baik di dalam maupun di luar

pengadilan atas nama negara dan pemerintah.67

67
Hasil wawancara dengan ibu Dian Febriani. Jaksa Pengacara Negara Kejaksaan Negeri
Palembang. Pada tanggal 25 Februari 2025.
62

Berdasarkan wawancara yang dilakukan dengan Ibu Rya Dilla Fitri,

selaku Kepala Seksi Perdata dan Tata Usaha Negara, di sisi lain, ekspektasi

yang terlalu tinggi dari masyarakat terhadap Kejaksaan juga menjadi

kendala. Ada anggapan bahwa JPN akan menyelesaikan persoalan secara

cepat dan otomatis berpihak kepada pemohon, tanpa memahami bahwa JPN

bekerja berdasarkan peraturan perundang-undangan dan mengedepankan

objektivitas demi kepentingan negara, bukan kepentingan perseorangan.

Persepsi yang keliru ini sering kali menimbulkan rasa kecewa ketika

kenyataan tidak sesuai dengan harapan masyarakat. Secara keseluruhan,

dapat dikatakan bahwa masyarakat memiliki peran penting dalam

mendukung keberhasilan bantuan hukum non-litigasi oleh JPN. Oleh karena

itu, peningkatan literasi hukum, partisipasi aktif dalam program edukatif,

dan pemahaman yang benar mengenai tugas serta fungsi JPN perlu terus

ditingkatkan agar bantuan hukum yang diberikan dapat berjalan baik dan

tepat sasaran.68

5. Faktor Kebudayaan

Kebudayaan memiliki peran penting dalam mengatur kehidupan

masyarakat, membantu mereka dalam bertindak, bersikap, dan berinteraksi

dengan orang lain. Di Indonesia, kebudayaan pada dasarnya berlandaskan

hukum adat yang berlaku di masyarakat. Hal ini karena budaya hukum

mencerminkan perilaku serta kebiasaan yang diterapkan dalam kehidupan

sehari-hari. Dalam menjalankan tugas, fungsi, dan perannya, Jaksa

68
Hasil wawancara dengan ibu Rya Dilla Fitri. Kepala Seksi Perdata dan Tata Usaha
Negara Kejaksaan Negeri Palembang. Pada tanggal 25 Februari 2025.
63

Pengacara Negara tetap berpedoman pada budaya hukum yang berkembang

di masyarakat. Dengan memahami dan menghormati budaya hukum yang

ada, Jaksa Pengacara Negara dapat menjalankan tugasnya secara lebih

efektif dan sesuai dengan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh masyarakat.

Berdasarkan wawancara yang dilakukan dengan Ibu Rya Dilla Fitri,

selaku Kepala Seksi Perdata dan Tata Usaha Negara, diketahui bahwa

budaya dan masyarakat memiliki hubungan yang sangat erat. Budaya

membentuk perilaku masyarakat, sementara masyarakat menjalankan

perilaku yang didasarkan pada hukum adat yang berasal dari budaya yang

telah mengakar, hubungan ini tidak hanya berlaku bagi masyarakat, tetapi

juga bagi Jaksa Pengacara Negara. Dengan menjalankan tugas sesuai

dengan budaya serta hukum yang berlaku, Jaksa Pengacara Negara dapat

memberikan bantuan hukum kepada masyarakat, pemerintah, dan negara

secara lebih baik. Sikap dan tindakan yang selaras dengan budaya serta

aturan hukum akan membantu memastikan bahwa proses pemberian

bantuan hukum berjalan dengan lancar dan sesuai dengan ketentuan yang

ada.69

Sejalan dengan Ibu Dian Febriani, selaku Jaksa Pengacara Negara

Kejaksaan Negeri Palembang, budaya memiliki peran yang sama

pentingnya dengan masyarakat dalam membentuk aturan yang berlaku.

Hukum adat yang berasal dari kebudayaan masyarakat dapat membantu

Jaksa Pengacara Negara dalam menjalankan tugasnya. Dengan memahami

69
Hasil wawancara dengan ibu Rya Dilla Fitri. Kepala Seksi Perdata dan Tata Usaha
Negara Kejaksaan Negeri Palembang. Pada tanggal 25 Februari 2025.
64

hukum adat, Jaksa Pengacara Negara dapat bersikap lebih bijak dan

memberikan pelayanan yang lebih baik dalam membantu masyarakat. Hal

ini membuat proses pemberian bantuan hukum menjadi lebih baik dan

sesuai dengan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat.70

Kebudayaan yang berasal dari masyarakat terbentuk melalui

kebiasaan yang dilakukan secara terus-menerus. Sikap dan perilaku

masyarakat yang diwariskan dari generasi ke generasi menjadi bagian dari

budaya yang diterapkan dalam hukum adat. Hukum adat ini tetap bertahan

dan tercermin dalam kehidupan masyarakat hingga saat ini. Dalam

menjalankan tugasnya, khususnya di Kejaksaan Negeri Palembang, Jaksa

Pengacara Negara turut menerapkan nilai-nilai budaya tersebut. Dengan

memahami dan menghormati hukum adat yang berlaku di masyarakat,

mereka dapat memberikan bantuan hukum dengan lebih baik. Pendekatan

ini tidak hanya membantu masyarakat dalam memahami hak-hak

hukumnya, tetapi juga memastikan bahwa bantuan hukum yang diberikan

sesuai dengan nilai-nilai sosial dan budaya yang dianut oleh masyarakat

setempat.

Berdasarkan analisis penulis terhadap hasil penelitian, proses pemberian

bantuan hukum oleh Jaksa Pengacara Negara di Kejaksaan Negeri Palembang

berjalan dengan baik. Hal ini karena pelaksanaannya sudah sesuai dengan

Standar Operasional Prosedur (SOP) yang berlaku. Selain itu, proses ini juga

telah memenuhi faktor-faktor penting dalam penegakan hukum menurut

70
Hasil wawancara dengan ibu Dian Febriani. Jaksa Pengacara Negara Kejaksaan Negeri
Palembang. Pada tanggal 25 Februari 2025.
65

Soerjono Soekanto, yaitu faktor hukum, aparat penegak hukum, sarana dan

fasilitas, masyarakat, serta kebudayaan. Meskipun belum sepenuhnya

sempurna, terutama dalam faktor masyarakat yang masih menghadapi kendala

terkait kesadaran hukum, faktor-faktor lainnya telah terpenuhi dengan baik.

Jaksa Pengacara Negara dalam memberikan bantuan hukum tidak

selamanya berjalan dengan baik, kendala pada saat proses bantuan hukum

menjadi tantangan tersendiri yang harus dihadapi oleh JPN. Berdasarkan hasil

penelitian dan wawancara yang penulis lakukan bersama ibu Dian Febriani di

Kejaksaan Negeri Palembang, terdapat beberapa kendala yang dihadapi oleh

jaksa pengacara negara dalam penerapan bantuan hukum nonlitigasi yang

diberikan.71

1. Rendahnya Kesadaran Hukum

Salah satu hambatan yang berasal dari faktor masyarakat adalah

rendahnya tingkat pemahaman hukum, baik di kalangan masyarakat umum

maupun aparatur pemerintahan yang menjadi pemohon bantuan hukum.

Banyak dari mereka belum sepenuhnya memahami prosedur, ruang lingkup,

dan batas kewenangan Jaksa Pengacara Negara (JPN) dalam memberikan

bantuan hukum non-litigasi. Hal ini sering menyebabkan permohonan

diajukan tanpa kelengkapan dokumen yang memadai atau tidak sesuai

dengan peraturan yang berlaku, sehingga memperlambat proses tindak

lanjut oleh JPN. Di samping itu, masih ada pandangan keliru yang

menganggap JPN sebagai pembela individu atau lembaga tertentu, padahal

71
Hasil wawancara dengan ibu Dian Febriani. Jaksa Pengacara Negara Kejaksaan Negeri
Palembang. Pada tanggal 25 Februari 2025.
66

JPN bekerja atas dasar perlindungan terhadap kepentingan negara, sesuai

dengan Pasal 30 ayat (2) Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2004 tentang

Kejaksaan Republik Indonesia, disebutkan bahwa dalam perkara perdata

dan tata usaha negara, kejaksaan dengan kuasa khusus berwenang bertindak

baik di dalam maupun di luar pengadilan atas nama negara dan pemerintah.

Rendahnya literasi hukum ini turut mempersulit komunikasi serta sinergi

dalam proses penyelesaian masalah hukum secara nonlitigasi.

2. Lemahnya Data dari Klien

Data diperlukan sebagai bukti bahwa adanya permasalahan yang

terjadi pada suatu perkara, jika data yang ada tidak sesuai atau bahkan tidak

lengkap maka akan membuat pelapor ataupun terlapor dalam situasi yang

mengambang. Hal ini disebabkan karena lemahnya data yang diberikan,

sehingga membuat proses pemberian bantuan hukum kurang maksimal.

Tentunya Jaksa Pengacara Negara mengharapkan data ataupun dokumen

yang diberikan oleh klien harus lengkap dan jelas untuk membantu jalannya

perkara hukum. Data serta dokumen yang dapat dikatakan lemah adalah

data yang tidak memiliki kekuatan hukum yang mengikat antara pihak

tergugat/termohon dan penggugat/pemohon, seperti tidak adanya surat

perjanjian (dokumen) yang ditanda tangani kedua belah pihak atau data

yang valid menganai sengketa yang terjadi.

3. Kapasitas tenaga kerja rendah.

Permintaan terhadap bantuan hukum non-litigasi terus meningkat,

terutama dari instansi pemerintah pusat, daerah, BUMN, dan BUMD,


67

seiring tumbuhnya kesadaran akan pentingnya telaah hukum maupun

pendampingan kontrak. Namun, jumlah Jaksa Pengacara Negara (JPN) yang

tersedia belum memadai untuk mengakomodasi seluruh permintaan tersebut

secara optimal, sehingga beberapa permohonan harus antre atau bahkan

tidak dapat ditindaklanjuti. Selain itu, tidak semua jaksa memiliki

kompetensi khusus dalam bidang hukum perdata dan tata usaha negara,

karena sebagian besar berasal dari latar belakang pidana umum. Di banyak

satuan kerja, seperti Kejaksaan Negeri, sering kali hanya terdapat satu atau

dua JPN yang harus menangani berbagai bentuk bantuan hukum secara

bersamaan, mulai dari pemberian pendapat hukum, pendampingan, hingga

audit hukum. Keterbatasan tenaga profesional ini berdampak pada kualitas

dan kecepatan layanan hukum, serta berpotensi menimbulkan keterlambatan

dalam penyelesaian sengketa maupun pendampingan proyek pemerintah.

Berdasarkan kendala yang dialami oleh Jaksa Pengacara Negara di

Kejaksaan Negeri Palembang diatas, hal tersebut membuktikan bahwa dalam

pelaksanaannya, bantuan hukum nonlitigasi tidak selalu berjalan dengan baik,

adanya kendala tersebut menjadi pengaruh terhadap proses bantuan hukum

nonlitigasi yaitu negosiasi yang berjalan, namun tidak turut mengurangi kinerja

dari Jaksa Pengacara Negara.

Menurut Analisa penulis terkait bantuan hukum nonlitigasi yang

diberikan oleh Jaksa Pengacara Negara pada bidang perdata di Kejaksaan

Negeri Palembang, dapat dikatakan belum cukup baik, karena terdapat satu

faktor yang mempengaruhi peran JPN dalam menyelesaikan bantuan hukum


68

nonlitigasi yang diberikan, yaitu terkadang kesadaran hukum kalangan

masyarakat umum maupun aparatur pemerintahan yang menjadi termohon

bantuan hukum lalai dengan tidak menghadiri pertemuan antara JPN, sehingga

membuat Jaksa Pengacara Negara lebih berusaha dengan melayangkan surat

panggilan kepada termohon agar dapat menghadiri pertemuan tersebut. Dan

jika tergugat/termohon masih lalai, maka termohon dianggap tidak kooperatif

menjalani proses negosiasi, dan penyelesaian kasus dapat dinaikan

menggunakan jalur pengadilan (litigasi).


BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil pembahasan yang telah dibahas pada bab

terdahulu, maka penulis dapat menarik kesimpulan:

1. Dalam proses bantuan hukum nonlitigasi, Jaksa Pengacara Negara di

Kejaksaan Negeri Palembang telah melaksanakan tugas dan fungsinya

sesuai dengan Standar Operational Prosedur (SOP) yang berlaku menurut

Peraturan Jaksa Nomor 040/A/JA/2010 mengenai Standar Operating

Prosedur (SOP) pelaksanaan tugas, fungsi, dan wewenang perdata dan tata

usaha negara. Berdasarkan hasil penelitian dan wawancara bersama Kepala

Seksi Perdata dan Tata Usaha Negara Kejaksaan Negeri Palembang dan

Jaksa Pengacara, pemberian bantuan hukum nonlitigasi telah dilakukan

dengan baik terhitung dari tahun 2022 sebanyak 23 SKK, tahun 2023

sebanyak 127 SKK, dan tahun 2024 sebanyak 44 SKK.

2. Bantuan hukum yang diberikan oleh Jaksa Pengacara Negara di Kejaksaan

Negeri Palembang dapat dikatakan belum maksimal walaupun telah

memenuhi 5 faktor hukum menurut Soerjono Soekanto yang terdiri dari

faktor hukum, faktor penegak hukum, faktor fasilitas dan sarana, faktor

masyarakat dan faktor kebudayaan, masih terdapat kendala yang dialami

oleh Jaksa Pengacara Negara, yaitu :

69
70

1. Rendahnya kesadaran hukum baik dari kalangan masyarakat umum

maupun aparatur pemerintahan yang menjadi pemohon bantuan hukum.

2. Lemahnya Data dari Klien

3. Kapasitas tenaga kerja yang rendah

B. Saran

Berdasarkan kesimpulan tersebut, maka penulis memberikan saran

sebagai berikut:

1. Jaksa Pengacara Negara di Kejaksaan Negeri Palembang diharapkan dapat

lebih aktif dalam memberikan penyuluhan hukum terkait bantuan hukum

nonlitigasi kepada masyarakat, instansi pemerintah, BUMN, maupun

BUMD sebagai pihak penerima layanan. Penyuluhan ini bertujuan agar

pihak-pihak tersebut dapat memahami secara menyeluruh prosedur

pemberian bantuan hukum, sehingga ketika mereka menghadapi perkara

perdata, mereka sudah memiliki pemahaman dasar yang memadai.

2. Diharapkan hambatan yang selama ini dihadapi oleh Jaksa Pengacara

Negara dalam menjalankan tugasnya di Kejaksaan Negeri Palembang dapat

diminimalkan apabila masyarakat serta instansi terkait mendapatkan edukasi

hukum yang mencakup pula kendala yang dihadapi oleh JPN dalam

pemberian bantuan hukum. Dengan adanya penyuluhan yang komprehensif,

para klien akan lebih siap saat menghadapi persoalan perdata, serta turut

membantu Jaksa Pengacara Negara dalam mengatasi kendala yang timbul

dalam proses bantuan hukum nonlitigasi.


DAFTAR PUSTAKA

Buku

Abdulkadir Muhammad. 1990. Hukum Perdata Indonesia. Bandung: Citra Aditya


Sakti.

Amiruddin dan Zainal Asikin. 2008. Pengantar Metode Penelitian Hukum.


Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Dahlan Sinaga. 2017. Kemandirian dan Kebebasan Hakim Memutus Perkara


Pidana Dalam Negara Hukum Pancasila: Suatu Perspektif Teori
Keadilan Bermartabat. Bandung: Nusa Media.

Djoko Prakoso. 2005. Eksistensi Jaksa Ditengah Tengah Masyarakat. Jakarta :


Ghalia Indonesia.

G. Wijers, Het Gezag van Gewijsde in Burgerlijke Landraad zaken, dalam


Supomo. 2000. Hukum Acara Perdata Pengadilan Negeri. Jakarta:
Pradnya Paramita.

Jonaedi Efendi dan Johnny Ibrahim. 2016. Metode Penelitian Hukum Normatif
dan Empiris. Jakarta: Kencana.

Ketut Swarjana. 2022. Populasi-Sampel, Teknik dan Sampling dalam Penelitian.


Yogyakarta: Andi.

Laden Marpaung. 2009. Penanganan Perkara Pidana. Jakarta: Sinar Grafika.

Lusia Evy. 2013. Peran Jaksa Pengacara Negara Dalam Penanganan Perkara
Perdata. Yogyakarta: Genta Press.

Marwan Effendi. 2005. Kejaksaan RI: Posisi Dan Fungsinya Dari Perspektif
Hukum. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Mukti Fajar dan Yulianto Achmad. 2010. Dualisme Penelitian Hukum Empiris &
Normatif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

P.N.H. Simanjuntak. 2021. Hukum Perdata Indonesia. Jakarta: Kencana.

R.M Surachman dan Andi Hamzah. 1996. Jaksa di Berbagai Negara, Peranan
dan Kedudukannya. Sinar Grafika.

71
72

Satjipto Rahardjo. 1979. Hukum dan Perubahan Sosial. Bandung: Alumni.

Soediman Krtohadiprodjo. 1984. Pengantar Tata Hukum di Indonesia. Jakarta:


Ghalia Indonesia.

Soerjono Soekanto. 2002. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali Press.

------------. 2007. Faktor- Faktor Yang Mempengaruhi Penegakkan Hukum.


Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

------------. 2015. Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat. Jakarta:


Rajawali Pers.

Soekanto. 2012. Pengantar Penelitian Hukum. Jakarta: Universitas Indonesia.

Subekti. 1995. Pokok-Pokok Hukum Perdata. Jakarta: Intermasa

Sudikno Mertokusumo. 1986. Mengenal Hukum Suatu Pengantar. Yogyakarta:


Liberty.

Sri Soedewi Masjchoen Sofwan. 1981. Hukum Perdata: Hukum Benda.


Yogyakarta: Liberty.

Sri Soemantri. 1992. Bunga Rampai Hukum Tata Negara Indonesia. Bandung:
Alumni.

Tim MaPPI-FHUI. 2015. Bunga Rampai Kejaksaan Republik Indonesia. Depok:


Badan Penerbit Fakultas Hukum Universitas Indonesia.

Todung Mulya Lubis. 1986. Bantuan Hukum dan Kemiskinan Struktural. Jakarta:
LP3ES.

Winarno Surakhmad. 1994. Pengantar Penelitian Ilmiah, Bandung: Tarsito.

Yusril Ihza Mahendra. 2005. Kedudukan Kejaksaan Agung dan Posisi Jaksa
Agung Dalam Sistem Presidensial di Bawah UUD 1945. Jakarta:
Kencana Prenada Media Group.

Peraturan Perundang-Undangan

Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia.


LN. 2004/No. 67, TLN No. 4401.
73

Jurnal

Ahmad Rijalli. 2018. “Analisis Data Kuantitatif”. Jurnal Alhadharah UIN


Antasari Banjarmasin. Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin.
Banjarmasin. Vol.17 No. 33.

Andy Sasongko. 2022. “Penerapan Fungsi Hukum Jaksa Pengacara Negara untuk
Mewujudkan Kepastian Hukum, Keadilan, dan Kemanfaatan dalam
Perkara Perdata dan Tata Usaha Negara (Berdasarkan kajian Filsafat
Hukum) ”. Journal of Law, Society, and Islamic [Link]
Sebelas Maret. Surakarta. Vol. 10 No. 2.

Angga dan Ridwan Arifin. 2018. “Penerepan Bantuan Hukum Bagi Masyarakat
Kurang Mampu di Indonesia”. Jurnal Hukum. Universitas Negeri
Semarang. Semarang. Vol 4. No. 2.

Bambang Sutiyoso, Atqo Darmawan Aji, dan Guntar Mahendro. 2023. “Peran
Dan Tanggung Jawab Organisasi Bantuan Hukum Dalam Memberikan
Akses Keadilan Secara Prodeo Di Daerah Istimewa Yogyakarta”. Jurnal
Ius Quia Iustum Fakultas Hukum. Universitas Islam Indonesia.
Yogyakarta. Vol 30. No.1.

Busyairi Ahmad dan M. Saleh Laha. 2020. ‘Penerapan Studi Lapangan dalam
Meningkatkan Kemampuan Analisis Masalah (Studi Kasus pada
Mahasiswa Sosiologi IISIP Yapis Biak)”. Jurnal Nalar Pendidikan.
Universitas Negeri Makassar. Makassar. Vol. 8 No. 1.

Deni Achmad. 2015. “Peranan Mahasiswa Fakultas Hukum Sebagai Pelaksana


Bantuan Hukum (Legal AID) Kepada Masyarakat”. Jurnal Ilmu Hukum.
Universitas Lampung. Bandar Lampung. Vol 9. No. 1.

Endah Cahyani. 2022. “Pencegahan Tindak Pidana Korupsi Pengadaan Barang


dan Jasa Pemerintah”. Indonesian Journal of Criminal Law and
Criminology. Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
Vol 3. No. 2.

Herning Setyowati dan Nurul Muchiningtias. 2018. “Peran Advokat Dalam


Memberikan Bantuan Hukum Kepada Masyarakat Dalam Perspektif Hak
Asasi Manusia”. Jurnal Hukum. Universitas Negeri Semarang.
Semarang. Vol 2. No. 2.

Iska Tirta Adiyaksa, Dossy Iskandar Prasetyo. 2024. “Peran Serta Hambatan
Fungsionalisasi Jaksa Pengacara Negara di Bidang Perdata Dan Tata
Usaha Negara : Studi Kasus Pada Kejaksaan Negeri Sidoarjo”.
Universitas Bhayangkara. Surabaya. Vol. 13 No. 2.
74

Jaidun, dan Syaharie Jaang. 2024. “Alternatif Penyelesaian Sengketa Perdata Di


Pengadilan”. Jurnal Ilmu Hukum. Universitas Widya Gama Mahakam
Samarinda, Indonesia. Vol 16. No. 2.

Juristoffel Simanjuntak. 2018. “Kajian Yuridis Pemberian Bantuan Hukum Jaksa


Pengacara Negara Dalam Perkara Perdata Dan Tata Usaha Negara”.
Jurnal Lex Administratum. Universitas Sam Ratulangi. Manado. Vol. 6
No. 1.

Moch. Faisal Dwi Alfian, Andy Usmina Wijaya, Sekaring Ayumeida Kusnadi.
2023. “Peranan Jaksa Pengacara Negara Sebagai Caonterpart BUMN
(Badan Usaha Milik Negara) di Bidang Nonlitigasi”. Jurnal Ilmu Hukum
Wijaya Putra. Universitas Wijaya Putra. Surabaya. Vol. 1 No. 2.

Musdalifah Asiyatum Syafaat, Aldilla Yulia Wiellys Sutikno, Mariya Asiz. 2023.
“Peran Jaksa Pengacara Negara Dalam Pemberian Bantuan Hukum Di
Kejaksaan Negeri Sorong”. Jurnal Equality before the Law. Universitas
Pendidikan Muhammadiyah. Sorong. Vol 3 No. 2.

Ook Mufrohim, dan Ratna Herawati. 2020. “Independensi Lembaga Kejaksaan


sebagai Legal Structure didalam Sistem Peradilan Pidana (Criminal
Justice System) di Indonesia”. Jurnal Pembangunan Hukum Indonesia.
Fakultas Hukum, Universitas Diponegoro. Vol 2. No.3.

Purwono. 2008. “Studi Kepustakaan”. Jurnal Pustakawan Utama UGM.


Yogyakarta. Vol. 6 No. 2.

Rusdianto. 2015. “Fungsi Kejaksaan Sebagai Pengacara Negara dalam Perspektif


Penegakan Hukum di Indonesia”. Jurnal Cakrawala Hukum. Universitas
Merdeka Malang. Jawa Timur. Vol. 6 No. 1.

Suwari Akhmaddhian, dan Wisnu Gita Prapanca. 2019. “Penegakan Hukum


Terhadap Jaksa Yang Melakukan Tindak Pidana Narkotika”. Journal of
Multidisciplinary Studies. Fakultas Hukum, Universitas Kuningan.
Indonesia. Vol 10. No. 01.

Tri Astuti Handayani. 2015. “Bantuan Hukum Bagi Masyarakat Tidak Mampu
Dalam Perspektif Teori Keadilan Bermartabat”. Jurnal Refleksi Hukum.
Advokat di Bojonegoro. Jawa Timur. Vol 9. No. 1.
75

Wawancara

Hasil wawancara dengan ibu Dian Febriani. Jaksa Pengacara Negara Kejaksaan
Negeri Palembang. Pada tanggal 25 Februari 2025.

Hasil wawancara dengan ibu Rya Dilla Fitri. Kepala Seksi Perdata dan Tata Usaha
Negara Kejaksaan Negeri Palembang. Pada tanggal 25 Februari 2025.
76

LAMPIRAN

Anda mungkin juga menyukai