PERAN JAKSA PENGACARA NEGARA DALAM PENYELESAIAN
PERKARA PERDATA MELALUI BANTUAN HUKUM NONLITIGASI
DI KEJAKSAAN NEGERI PALEMBANG
SKRIPSI
Diajukan Sebagai Persyaratan Untuk Mengikuti Ujian Komprehensif
Pada Bagian Hukum Perdata Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya
Oleh:
Muhammad Fajri Al Amin
02011382126469
HALAMAN JUDUL
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
PALEMBANG
2025
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
FAKULTAS HUKUM
PALEMBANG
HALAMAN PENGESAHAN SKRIPSI
JUDUL
PERAN JAKSA PENGACARA NEGARA DALAM PENYELESAIAN
PERKARA PERDATA MELALUI BANTUAN HUKUM NONLITIGASI
DI KEJAKSAAN NEGERI PALEMBANG
Telah Dinyatakan Memenuhi Syarat Untuk Mengikuti Ujian Komprehensif Sebagai
Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Hukum Pada Program Studi Ilmu Hukum
Universitas Sriwijaya
Palembang , 2025
Menyetujui:
Pembimbing Utama Pembimbing Pembantu
Sri Handayani S.H.,[Link] [Link] Trisaka S.H.,[Link].,BKP
NIP. 197002071996032002 NIP. 167107160660007
Mengetahui:
Ketua Bagian Hukum Perdata
Helena Primadianti Sulistyaningrum, S.H., M.H
NIP. 19860914200902204
ii
SURAT PERNYATAAN
Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama Mahasiswa : Muhammad Fajri Al Amin
Nomor Induk Mahasiswa : 02011382126449
Tempat/Tanggal Lahir : Palembang, 09 Februari 2003
Fakultas : Hukum
Strata Pendidikan : S1
Program Studi : Ilmu Hukum
Program Kekhususan/Bagian : Hukum Perdata
Dengan ini menyatakan skripsi ini tidak memuat bahan-bahan yang
sebelumnya telah diajukan untuk memperoleh gelar di Perguruan Tinggi maupun
tanpa mencantumkan sumbernya. Skripsi ini tidak memuat bahan-bahan yang
sebelumnya dipublikasikan atau ditulis oleh siapapun tanpa mencantumkan
sumber
dalam teks.
Dengan surat pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya. Apabila terbukti
telah melakukan hal-hal yang bertentangan dengan pernyataan ini, saya bersedia
menanggung segala akibat yang ditimbulkan dikemudian hari sesuai dengan yang
berlaku.
Palembang, 2025
Yang menyatakan
Muhammad Fajri Al Amin
NIM: 02011382126469
iii
MOTTO DAN PERSEMBAHAN
Janganlah terlalu khawatirkan yang ada di masa depan, jangan terlalu mengingat-
ingat apa yang sudah terjadi dimasa lalu, hiduplah di momen saat ini.
“life in the present day”
Skripsi ini dipersembahkan kepada:
1. Kedua Orang Tuaku
2. Saudaraku
3. Sahabat dan Teman-Temanku
4. Guru dan Dosenku
5. Almamater yang kubanggakan
6. Kampus Universitas Sriwijaya
iv
KATA PENGANTAR
Puji serta syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat
dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul
“Peran Jaksa Pengacara Negara dalam Penyelesaian Perkara Perdata Melalui
Bantuan Hukum Nonlitigasi di Kejaksaan Negeri Palembang”.
Penulisan skripsi ini diajukan sebagai syarat untuk mengikuti ujian
Komprehensif guna untuk memperoleh gelar Sarjana Hukum pada Program
Kekhususan Hukum Perdata Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya. Penulis
menyadari bahwa penyusunan skripsi ini masih jauh dari sempurna, baik dari segi
penulisan maupun penyajiannya. Untuk itu, penulis dengan lapang dada menerima
segala bentuk kritik dan saran yang bersifat membangun. Akhir kata, semoga
skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua.
Palembang, 2025
Penulis,
Muhammad Fajri Al Amin
v
UCAPAN TERIMA KASIH
Puji serta syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
skripsi ini dengan baik. Dalam penyelesaian skripsi ini penulis memperoleh
banyak bimbingan, arahan, serta bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu,
penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Taufiq Marwa, S.E., [Link]., selaku Rektor Universitas
Sriwijaya.
2. Bapak Prof. Dr. H. Joni Emirzon, S.H., [Link]., selaku Dekan Fakultas
Hukum Universitas Sriwijaya.
3. Bapak Dr. Muhammad Syaifuddin, S.H., [Link]., selaku Wakil Dekan I
Fakultas Hukum Sriwijaya.
4. Ibu Vegitya Ramadhani, S.H., [Link]., M.A., LL.M., selaku Wakil Dekan
II Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya.
5. Bapak Dr. Zulhidayat, S.H., M.H., selaku Wakil Dekan III Fakultas
Hukum Universitas Sriwijaya.
6. Ibu Helena Primadianti Sulistyaningrum, S.H., M.H., selaku Ketua Prodi
Hukum Perdata.
7. Ibu Sri Handayani, S.H., [Link]., selaku Pembimbing Utama yang selalu
menyempatkan waktu untuk membimbing serta memberikan arahan
kepada penulis dalam menuliskan skripsi ini. Semoga selalu diberikan
perlindungan oleh Allah SWT.
vi
8. Bapak H. Agus Trisaka S.H., [Link]., BKP., selaku Pembimbing Pembantu
yang telah menyempatkan waktu untuk membimbing serta memberikan
arahan kepada penulis dalam menuliskan skripsi ini. Semoga selalu
diberikan perlindungan oleh Allah SWT.
9. Bapak Rd. Muhammad Ikhsan, S.H., M.H., selaku Pembimbing akademik
yang selalu memberikan bimbingan serta arahan.
10. Bapak dan Ibu Dosen di bidang Hukum Perdata, serta seluruh dosen
pengajar di Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya, yang telah
memberikan ilmu, bimbingan, dan pengalaman yang sangat berharga bagi
penulis.
11. Seluruh Staff Karyawan dan Karyawati Fakultas Hukum Universitas
Sriwijaya yang telah memberikan pelayanan terbaik selama penulis
menimba ilmu.
12. Kedua orang tuaku, buya Zulkarnain dan ummi Siti Khodijah yang saya
cintai. Terima kasih telah memberikan doa, dukungan, pengorbanan, kasih
sayang, dan motivasi serta mengusahakan semua hal yang terbaik sehingga
penulis dapat menyelesaikan Pendidikan di Fakultas Hukum Universitas
Sriwijaya,
13. Saudaraku, Ahmad Rois Al Amin, Muhammad Faqih Al Amin,
Muhammad Abdul Aziz Al Amin, Muhammad Ikhwanul Muslimin Al
Amin yang saya sayangi, yang telah memberikan doa dan dukungan untuk
penulis.
vii
14. Ibu Rya Dilla Fitri, S.H., M.H. selaku Kasi Perdata dan TUN Kejaksaan
Negeri Palembang, Jaksa Pengacara Negara serta Staff dan Karyawan
DATUN yang telah banyak memberi masukan dan membantu penulis
dalam melakukan riset.
15. Keluarga Besar yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu, terima kasih
telah memberikan saran dan motivasi.
16. Tim F.2 Jaguar, terima kasih telah menjadi kisah baru dan Partner selama
PLKH berlangsung.
17. Sahabat MIN 1 Muara Enim, MTs Negeri Muara Enim, SMA Negeri 1
Muara Enim yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu.
18. Sahabat dan Teman-teman seperjuanganku Angkatan 2021 selama
perkuliahan di Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya semoga kita sukses
Bersama.
19. Dan yang terakhir semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat,
rezeki, serta perlindungan-Nya kepada seluruh pihak yang telah disebutkan
di atas, maupun kepada mereka yang tidak dapat disebutkan satu per satu.
viii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL....................................................................................................
HALAMAN PENGESAHAN SKRIPSI...................................................................
SURAT PERNYATAAN..........................................................................................
MOTTO DAN PERSEMBAHAN............................................................................
KATA PENGANTAR................................................................................................
UCAPAN TERIMA KASIH.....................................................................................
DAFTAR ISI..............................................................................................................
ABSTRAK..............................................................................................................XIII
BAB 1: PENDAHULUAN.................................................................................
A. Latar Belakang.........................................................................1
B. Rumusan Masalah....................................................................9
C. Tujuan Penelitian......................................................................9
D. Manfaat Penelitian.................................................................10
E. Ruang Lingkup Penelitian......................................................11
F. Kerangka Teori.......................................................................11
1. Teori Peranan.............................................................11
2. Teori Penegakan Hukum...........................................12
G. Metode Penelitian...................................................................13
1. Jenis Penelitian..................................................................13
[Link] Penelitian................................................14
[Link] dan Sumber Data...............................................15
[Link] Penelitian........................................................16
ix
[Link] dan Sampel Penelitian.................................17
[Link] Pengumpulan Data.........................................18
[Link] Data..............................................................19
[Link] Penarikan Kesimpulan...................................19
BAB II.........................................................................................................................
BAB II TINJAUAN PUSTAKA......................................................................
A. Tinjauan Umum Tentang Bantuan Hukum...............................20
1. Pengertian Bantuan Hukum.........................................20
[Link] dan Tujuan Bantuan Hukum..............................23
[Link] Hukum Nonlitigasi...........................................25
B. Tinjauan Umum Tentang Kejaksaan Republik Indonesia.........26
1. Pengertian Kejaksaan...................................................26
[Link] Kejaksaan..........................................................28
[Link] Kejaksaan.................................................32
[Link]...............................................................................34
[Link] dan Kedudukan Jaksa Pengacara Negara.........35
C. Tinjauan Umum Tentang Perkara Perdata................................36
1. Pengertian Hukum Perdata...........................................36
2. Perkara Hukum Perdata...............................................39
BAB III: PEMBAHASAN.................................................................................
A. Proses Pelaksanaan Bantuan Hukum Nonlitigasi yang
diberikan Jaksa Pengacara Negara dalam Penyelesaian
Perkara Perdata di Kejaksaan Negeri Palembang..................44
B. Kendala yang Dihadapi Oleh JPN dalam Penyelesaian Perkara
Perdata melalui Bantuan Hukum Nonlitigasi di Kejaksaan
Negeri Palembang..................................................................51
BAB IV: PENUTUP..........................................................................................
A. Kesimpulan...............................................................................68
B. Saran..........................................................................................69
DAFTAR PUSTAKA................................................................................................
x
xi
Nama : Muhammad Fajri Al Amin
NIM : 02011382126469
Judul : Peran Jaksa Pengacara Negara dalam Penyelesaian Perkara Perdata
Melalui Bantuan Hukum Nonlitigasi di Kejaksaan Negeri Palembang
xii
ABSTRAK
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tingginya jumlah perkara perdata yang
ditangani oleh Jaksa Pengacara Negara (JPN) di Kejaksaan Negeri Palembang
melalui mekanisme bantuan hukum nonlitigasi. Skripsi ini membahas dua
permasalahan utama, yaitu proses pelaksanaan bantuan hukum nonlitigasi yang
diberikan JPN dalam penyelesaian perkara perdata di Kejaksaan Negeri
Palembang, serta kendala-kendala yang dihadapi JPN dalam penyelesaian perkara
perdata melalui bantuan hukum nonlitigasi di Kejaksaan Negeri Palembang.
Penelitian ini bersifat empiris dengan pendekatan kualitatif, yang dilakukan
melalui wawancara langsung dengan Kepala Seksi Perdata dan Tata Usaha
Negara serta Jaksa Pengacara Negara di Kejaksaan Negeri Palembang. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa proses pelaksanaan bantuan hukum nonlitigasi
yang diberikan JPN dalam penyelesaian perkara perdata di Kejaksaan Negeri
Palembang telah sesuai dengan Peraturan Jaksa Agung Nomor: 040/A/JA/2010
tentang Standar Operasional Prosedur (SOP) Pelaksanaan Tugas, Fungsi, dan
Wewenang di Bidang Perdata dan Tata Usaha Negara. Beberapa kendala yang
dihadapi walaupun telah memenuhi 5 faktor hukum menurut Soerjono Soekanto
yang terdiri dari faktor hukum, faktor penegak hukum, faktor fasilitas dan sarana,
faktor masyarakat dan faktor kebudayaan. Kendala tersebut antara lain rendahnya
kesadaran hukum dari pihak termohon, lemahnya data dan dokumen yang
disampaikan oleh para pihak yang bersengketa serta kapasitas tenaga kerja JPN
yang tersedia belum memadai untuk mengakomodasi seluruh permintaan tersebut
secara optimal.
Kata Kunci : Jaksa Pengacara Negara, Kejaksaan Negeri Palembang, Bantuan
Hukum Nonlitigasi, Perkara perdata.
Pembimbing Utama Pembimbing Pembantu
Sri Handayani, S.H., [Link] [Link] Trisaka S.H.,[Link].,BKP
NIP. 197002071996032002 NIP. 167107160660007
Ketua Bagian Hukum Perdata
Helena Primadianti Sulistyaningrum, S.H., M.H
NIP. 19860914200902204
xiii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Secara umum peran hukum sangat penting dalam sebuah organisasi,
lembaga, perusahaan, baik kepada publik internal maupun publik eksternal.
Yang mana peran hukum disini untuk menjaga legalitas dari semua pelabuhan
yang tersebar di seluruh indonesia. hukum sendiri mempunyai tugas untuk
menyelesaikan suatu permasalahan litigasi maupun nonitigasi. Dalam sistem
hukum di Indonesia, peran Jaksa Pengacara Negara (JPN) sangat penting,
terutama dalam hal penyelesaian perkara perdata melalui bantuan hukum
nonlitigasi. Salah satu bentuk bantuan hukum yang diberikan oleh jaksa
adalah memberikan bantuan hukum kepada masyarakat yang membutuhkan,
baik secara individu maupun kelompok.1
Proses penyelesaian sengketa perdata melalui bantuan hukum
nonlitigasi ini semakin relevan mengingat beban perkara di pengadilan yang
semakin meningkat, oleh karena itu, peran jaksa dalam memberikan bantuan
hukum di luar jalur pengadilan (litigasi) sangatlah strategis untuk menjaga
akses keadilan bagi masyarakat yang kurang mampu. Dalam hal ini,
Kejaksaan Negeri Palembang memiliki peran yang sangat penting dalam
menangani perkara perdata melalui bantuan hukum nonlitigasi. Sebagai
lembaga yang memiliki kewenangan untuk mewakili negara dalam berbagai
1
Moch. Faisal Dwi Alfian, Andy Usmina Wijaya, Sekaring Ayumeida Kusnadi. Peranan
Jaksa Pengacara Negara Sebagai Caonterpart BUMN (Badan Usaha Milik Negara) di Bidang
Nonlitigasi. Jurnal Ilmu Hukum Wijaya Putra. Universitas Wijaya Putra. Surabaya. Vol. 1 No. 2
(2023), hlm. 204.
1
2
perkara hukum, kejaksaan juga dapat memberikan bantuan hukum kepada
masyarakat dalam menyelesaikan permasalahan hukum yang timbul dalam
kehidupan sehari-hari. Hal ini menjadi krusial terutama bagi masyarakat yang
tidak mampu membayar biaya pengacara atau biaya proses hukum yang
tinggi.2
Selain itu, penyelesaian perkara perdata melalui jalur nonlitigasi
memiliki banyak manfaat, baik dari segi waktu, biaya, maupun efisiensi.
Penyelesaian sengketa melalui jalur litigasi sering kali memakan waktu yang
panjang dan biaya yang tidak sedikit. Oleh karena itu, bantuan hukum
nonlitigasi menjadi alternatif yang penting dalam menciptakan sistem hukum
yang lebih cepat dan terjangkau bagi masyarakat. Meskipun bantuan hukum
nonlitigasi memiliki banyak manfaat, masih terdapat berbagai kendala yang
dihadapi oleh JPN dalam implementasinya.3
Bantuan hukum merupakan salah satu perwujudan dari jaminan
perlindungan hak asasi manusia untuk mendapatkan perlakuan secara layak
dari para penegak hukum dengan harkat dan martabatnya sebagai manusia
dalam bentuk pembelaan terhadap perkara oleh penasehat hukumnya. Tujuan
bantuan hukum jaksa adalah pemberian jasa hukum kepada instansi
pemerintah maupun lembaga negara atau BUMN atau pejabat tata usaha
2
Juristoffel Simanjuntak. Kajian Yuridis Pemberian Bantuan Hukum Jaksa Pengacara
Negara Dalam Perkara Perdata Dan Tata Usaha Negara. Jurnal Lex Administratum. Universitas
Sam Ratulangi. Manado. Vol. 6 No. 1 (2018), hlm. 157.
3
Iska Tirta Adiyaksa, Dossy Iskandar Prasetyo. Peran Serta Hambatan Fungsionalisasi
Jaksa Pengacara Negara di Bidang Perdata Dan Tata Usaha Negara : Studi Kasus Pada Kejaksaan
Negeri Sidoarjo. Jurnal Judiciary. Universitas Bhayangkara. Surabaya. Vol. 13 No. 2 (2024), hlm.
12.
3
negara untuk bertindak sebagai kuasa pihak perkara di dalam perkara perdata
atau tata usaha negara berdasarkan surat kuasa khusus.4
Sebagai bagian dari sistem hukum di Indonesia, jaksa pengacara
negara (JPN) memegang peran yang sangat penting dalam mewujudkan
keadilan bagi seluruh lapisan masyarakat.5 Oleh karena itu, penelitian ini akan
memberikan kontribusi penting dalam memahami peran jaksa pengacara
negara dalam proses penyelesaian perkara perdata yang berbasis pada bantuan
hukum nonlitigasi. Dalam perjalanan sistem hukum di Indonesia,
penyelesaian perkara perdata sering kali menjadi salah satu persoalan yang
kompleks, terutama bagi masyarakat yang tidak memiliki akses memadai
untuk memperoleh bantuan hukum. Hal ini menciptakan kesenjangan dalam
pemberian keadilan, di mana hanya segelintir orang yang memiliki
kemampuan finansial yang dapat mengakses proses hukum dengan baik.6
JPN dalam mewakili Negara memiliki pendekatan tertentu untuk
menghadapi permasalahan keperdataan. Pendekatan yang dimaksud adalah
dengan tidak menggunakan pendekatan sebagaimana Jaksa berlaku sebagai
penuntut umum. Tetapi Jaksa akan melakukan penyelesaian suat masalah
keperdataan dengan cara, baik secara litigasi maupun non litigasi yang dalam
hal ini dapat berlaku sebagai Pemohon dan Termohon dalam litigasi, JPN
lebih mengedepankan dan mengutamakan penyelesaian suatu perkara perdata
4
Djoko Prakoso. 2005. Eksistensi Jaksa Ditengah Tengah Masyarakat. Jakarta : Ghalia
Indonesia. Hlm. 44.
5
Ibid.
6
Musdalifah Asiyatum Syafaat, Aldilla Yulia Wiellys Sutikno, Mariya Asiz. Peran Jaksa
Pengacara Negara Dalam Pemberian Bantuan Hukum Di Kejaksaan Negeri Sorong. Jurnal
Equality before the Law. Universitas Pendidikan Muhammadiyah. Sorong. Vol 3 No. 2 (2023),
hlm. 82.
4
dengan menggunakan jalur non litigasi, JPN juga tidak menggunakan atribut
atau seragam kejaksaan. Pendekatan demikian merupakan pendekatan yang
selama ini dilakukan oleh para JPN dan masih dirasakan efektif, adanya
gugatan perdata dari masyarakat atau perselisihan antar lembaga Negara,
dalam hal ini JPN dapat melakuan mediasi dan penyelesaian secara non
litigasi sehingga akan tercipta keadilan, kepastian hukum dan kemanfaatan
dalam penanganan perkara Perdata serta perselisihan antar lembaga negara
tersebut.7
Bantuan hukum nonlitigasi yang diberikan oleh JPN menjadi sangat
relevan untuk menjembatani kesenjangan tersebut. Bantuan hukum
nonlitigasi merupakan bentuk pendampingan hukum yang tidak melibatkan
proses pengadilan secara langsung. Bentuknya bisa berupa konsultasi hukum,
mediasi, fasilitasi penyelesaian sengketa, atau penyusunan dokumen hukum.
Keberadaan bantuan hukum ini tidak hanya mempercepat proses penyelesaian
sengketa, tetapi juga mengurangi beban pengadilan yang semakin meningkat.
Masyarakat yang tidak mampu membayar biaya pengacara dapat memperoleh
haknya untuk mendapatkan layanan hukum yang setara dengan mereka yang
memiliki sumber daya lebih.
Sebagai lembaga yang memiliki tugas untuk mewakili negara,
Kejaksaan Negeri Palembang memiliki kewenangan untuk memberikan
bantuan hukum nonlitigasi ini, baik dalam bentuk mediasi maupun negosiasi
7
Andy Sasongko. Penerapan Fungsi Hukum Jaksa Pengacara Negara untuk Mewujudkan
Kepastian Hukum, Keadilan, dan Kemanfaatan dalam Perkara Perdata dan Tata Usaha Negara
(Berdasarkan kajian Filsafat Hukum). Journal of Law, Society, and Islamic [Link]
Sebelas Maret. Surakarta. Vol. 10 No. 2 (2022), hlm. 118-119.
5
penyelesaian perkara perdata.8 Kejaksaan Negeri Palembang berperan sebagai
fasilitator dalam penyelesaian sengketa perdata yang dihadapi oleh
masyarakat. Selain itu, jaksa pengacara negara juga berfungsi sebagai
pemberi nasihat hukum, yang akan membantu pihak-pihak yang terlibat
dalam sengketa untuk mencapai penyelesaian yang adil dan sesuai dengan
ketentuan hukum yang [Link], meskipun konsep bantuan hukum
nonlitigasi sudah ada dan diterapkan, implementasinya dalam praktik sering
kali menghadapi berbagai tantangan. Beberapa tantangan tersebut antara lain
adalah kurangnya kesadaran dari masyarakat tentang pentingnya bantuan
hukum nonlitigasi, serta keterbatasan sumber daya manusia yang ada di
Kejaksaan Negeri Palembang. Di samping itu, tantangan lain yang juga
penting untuk dicatat adalah ketidaktahuan masyarakat mengenai prosedur
dan mekanisme dalam mendapatkan bantuan hukum tersebut.
Pentingnya keberadaan bantuan hukum nonlitigasi ini tercermin dalam
Undang-Undang No. 16 Tahun 2011 tentang Bantuan Hukum, yang
menegaskan kewajiban negara untuk menyediakan bantuan hukum kepada
masyarakat miskin dan tidak mampu. Hal ini menunjukkan bahwa negara
berperan aktif dalam memastikan tercapainya akses keadilan yang setara bagi
seluruh lapisan masyarakat, termasuk dalam penyelesaian perkara perdata
melalui jalur [Link] hukum nonlitigasi diharapkan dapat menjadi
solusi yang lebih efisien dan efektif dalam menyelesaikan sengketa perdata
dibandingkan dengan penyelesaian melalui jalur litigasi yang cenderung
8
Rusdianto. Fungsi Kejaksaan Sebagai Pengacara Negara dalam Perspektif Penegakan
Hukum di Indonesia. Jurnal Cakrawala Hukum. Universitas Merdeka Malang. Jawa Timur. Vol. 6
No. 1 (2015), hlm. 101.
6
memakan waktu lebih lama dan biaya yang lebih besar. 9 Kejaksaan Negeri
Palembang, dengan peranannya sebagai pengacara negara, memainkan peran
penting dalam hal ini. Oleh karena itu, penelitian ini berfokus pada
bagaimana Kejaksaan Negeri Palembang mengimplementasikan bantuan
hukum nonlitigasi dalam penyelesaian perkara perdata, serta kendala yang
dihadapi dalam menjalankan tugas tersebut.
Pada bagian selanjutnya, penelitian ini akan mendalami lebih lanjut
mengenai peran dan kendala yang dihadapi oleh jaksa pengacara negara, serta
bagaimana mereka mengatasi hambatan-hambatan tersebut dalam
memberikan pelayanan hukum kepada masyarakat. Hal ini penting untuk
memberikan gambaran yang jelas mengenai efektivitas dan keberlanjutan
sistem bantuan hukum nonlitigasi yang diterapkan oleh Kejaksaan Negeri
Palembang. Banyak pihak yang belum sepenuhnya memahami mengenai
penggunaan jasa pengacara negara dalam di bidang pemerintahan dan bidang
yang dijabatnya sehingga bila menghadapi permasalahan hukum dalam
bidang tugasnya ia masih berkonsultasi dengan pihak lain yang mengerti atau
juga menggunakan jasa penasehat hukum dari Lembaga Bantuan Hukum atau
pengacara.10
Peran jaksa sebagai pengacara negara ialah dalam bentuk
pengembalian keuangan dan/atau aset negara, jaksa bertindak baik sebagai
penggugat/pemohon maupun bisa juga sebagai tergugat/termohon berhadapan
9
Musdalifah Asiyatum Syafaat, Aldilla Yulia Wiellys Sutikno, Mariya Asiz. [Link], hlm.
84.
10
Lusia Evy. 2013. Peran Jaksa Pengacara Negara Dalam Penanganan Perkara Perdata.
Yogyakarta: Genta Press. hlm.22
7
dengan berbagai pihak yang telah mengambil keuangan dan/atau aset negara.
Jaksa adalah pejabat fungsional sebagai penuntut umum dan pelaksana
putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, serta
melakukan pengawasan atas pelaksanaan putusan lepas bersyarat serta diberi
wewenang sebagai jaksa pengacara negara.11
Dalam Undang-Undang Kejaksaan Republik Indonesia terdapat
pengaturan mengenai tugas serta wewenang jaksa yang dijadikan sebagai
acuan atau pedoman dalam pelaksanaannya dimasyarakat. 12 Menurut Undang-
Undang Nomor 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia (UU
No. 16 Tahun 2004) Di bidang perdata dan tata usaha negara, kejaksaan
memiliki tugas dan wewenang untuk mewakili negara atau pemerintah dalam
kedudukannya selaku kuasa hukum pemerintah. Pada Pasal 30 ayat (2)
kejaksaan dengan kuasa khusus dapat bertindak baik di dalam maupun di luar
pengadilan untuk dan atas nama negara atau pemerintah.13
Peran, fungsi dan wewenang Kejaksaan dalam bidang perdata dan tata
usaha negara dijabarkan dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 38
Tahun 2010 dan Peraturan Jaksa Agung No. Per-025/A/JA/11/2015 tentang
petunjuk pelaksanaan Penegakan Hukum, Bantuan Hukum, Pertimbangan
Hukum, Pelayanan Hukum, Tindakan Hukum Lainnya di Bidang Perdata dan
Tata Usaha Negara yaitu :
11
R.M Surachman dan Andi Hamzah, 1996, Jaksa di Berbagai Negara, Peranan dan
Kedudukannya, Sinar Grafika.
12
Marwan Effendi. 2005. Kejaksaan RI: Posisi Dan Fungsinya Dari Perspektif Hukum.
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. hlm 69.
13
Ibid. hlm 70.
8
1. Penegakan Hukum adalah kegiatan Jaksa Pengacara Negara (JPN) untuk
mengajukan gugatan atau permohonan kepada pengadilan di bidang
perdata dalam rangka memelihara ketertiban hukum, kepastian hukum,
dan melindungi kepentingan Negara Pemerintah serta hak hak keperdataan
masyarakat;
2. Bantuan Hukum adalah pemberian jasa hukum di bidang perdata oleh
Jaksa Pengacara Negara (JPN) kepada negara atau pemerintahan untuk
bertindak sebagai kuasa hukum berdasarkan surat kuasa khusus baik
secara non litigasi maupun litigasi;
3. Pertimbangan Hukum adalah pemberian Jasa Hukum yang diberikan oleh
Jaksa Pengacara Negara (JPN) kepada Negara atau Pemerintah berupa
Pendapat Hukum (Legal Opinion) dan atau Pendampingan Hukum (Legal
Asistance) serta Audit Hukum atas dasar permintaan dari lembaga maupun
instansi pemerintah pusat;
4. Pelayanan Hukum adalah pemberian Jasa Hukum oleh Jaksa Pengacara
Negara (JPN) secara tertulis maupun lisan kepada masyarakat, yang
meliputi perorangan dan badan hukum, terkait masalah Perdata dan Tata
Usaha Negara dalam bentuk konsultasi, pendapat atau informasi; dan
5. Tindakan Hukum Lain adalah pemberian jasa hukum oleh Jaksa Pengacara
Negara (JPN) dalam rangka menyelamatkan dan memulihkan
Keuangan/Kekayaan Negara serta menegakkan kewibawaan pemerintah
antara lain untuk bertindak sebagai konsilator, mediator atau fasiliator
dalam hal terjadi sengketa atau perselisihan antar Negara atau Pemerintah.
9
Berdasarkan penjelasan diatas, maka penting untuk dilakukan
penelitian lebih lanjut mengenai peran Jaksa Pengacara Negara (JPN) dalam
menyelesaikan perkara tersebut agar kedepannya badan usaha patuh atas
kewajiban yang harus dilakukan. Oleh karena itu menarik untuk dikaji secara
berlanjut dan sangat tertarik untuk mengangkat judul “Peran Jaksa
Pengacara Negara dalam Penyelesaian Perkara Perdata melalui Bantuan
Hukum Nonlitigasi di Kejaksaan Negeri Palembang”
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka rumusan
permasalahan yang akan dibahas dalam penulisan skripsi ini adalah:
1. Bagaimana proses pelaksanaan bantuan hukum nonlitigasi yang
diberikan Jaksa Pengacara Negara dalam penyelesaian perkara perdata di
Kejaksaan Negeri Palembang?
2. Apa kendala yang dihadapi Jaksa Pengacara Negara di Kejaksaan Negeri
Palembang dalam penyelesaian perkara perdata melalui bantuan hukum
nonlitigasi di Kejaksaan Negeri Palembang?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan yang dibahas dalam penulisan skripsi ini,
maka, tujuan yang diharapkan dari penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui proses pelaksanaan bantuan hukum nonlitigasi yang
diberikan Jaksa Pengacara Negara dalam penyelesaian perkara perdata di
Kejaksaan Negeri Palembang .
10
2. Untuk mengetahui kendala yang dihadapi oleh Jaksa Pengacara Negara di
Kejaksaan Negeri Palembang dalam Penyelesaian Perkara Perdata melalui
bantuan hukum nonlitigasi di Kejaksaan Negeri Palembang.
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis :
Penelitian ini dapat memberikan masukan mengenai bagaimana proses
pelaksanaan bantuan hukum nonlitigasi dan kinerja Jaksa Pengacara
Negara dalam penyelesaian perkara perdata di Kejaksaan Negeri
Palembang
2. Manfaat Praktis :
a. Kejaksaan
Manfaat penelitian ini dapat memberikan masukan mengenai
bagaimana proses pelaksanaan bantuan hukum nonlitigasi dan kinerja
jaksa pengacara negara dalam memberikan bantuan hukum nonlitigasi
dapat dioptimalkan, terutama dalam membantu penyelesaian perkara
perdata.
b. Penulis
Manfaat untuk penulis dapat memberikan referensi dan wawasan yang
baru terhadap penulis mengenai Peran Jaksa Pengacara Negara dalam
penyelesaian perkara perdata melalui bantuan hukum nonlitigasi di
Kejaksaan Negeri Palembang.
11
E. Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup penelitian ini mencakup beberapa aspek yang relevan
dengan topik utama yaitu peran Jaksa Pengacara Negara (JPN) dalam
penyelesaian perkara perdata melalui bantuan hukum nonlitigasi di Kejaksaan
Negeri Palembang.
F. Kerangka Teori
1. Teori Peranan
Peranan adalah aspek dinamis yang berupa tindakan atau perilaku
yang dilaksanakan oleh seseorang yang menempati atau memangku suatu
posisi dan melaksanakan hak-hak dan kewajiban sesuai dengan
kedudukannya.14 Kedudukan adalah suatu wadah yang isinya adalah hak
dan kewajiban tertentu. sedangkan hak dan kewajiban tersebut dapat
dikatakan sebagai [Link] karena itu, maka seseorang yang mempunyai
kedudukan tertentu dapat dikatakan sebagai pemegang peran (role
occupant). Sebagai pemegang peran, ia diharapkan oleh hukum memenuhi
harapan-harapan tertentu sebagai dilapalkan di dalam peraturan-peraturan.
Dengan demikian ia dituntut memenuhi peran yang diharapkan (role
expectation). Oleh karena itu pengaruh-pengaruh yang bekerja atas diri si
14
Soerjono Soekanto. Sosiologi Suatu Pengantar, (Jakarta: Rajawali Press, 2002), hlm.
223.
12
pemegang peran, maka dapat terjadi suatu jarak antara peran yang
diharapkan dengan peran yang dilakukan (role performance).15
Hubungan antara teori peranan dengan Kejaksaan Negeri Palembang
sebagai sarana atau alat yang sangat melekat hal ini ditunjukan terhadap
peranan Jaksa Pengacara Negara dalam penyelesaian perkara perdata
melalui bantuan hukum nonlitigasi. Serta dari kelompok masyarakat cukup
berpengaruh karena memiliki peranan sebagai subjek penegak hukum
dalam menyelesaikan perkara perdata.
2. Teori Penegakan Hukum
Menurut Soerjono Soekanto, yang menjadi pokok persoalan dari
suatu penegakan hukum ialah mengenai faktor-faktor yang
memperngaruhinya, yang mana faktor tersebut bersifat netral artinya
dampak positif atau negatifnya terletak pada isi faktor-faktor itu, berikut
faktor-faktor tersebut :
a. Faktor hukum itu sendiri, dalam penulisan ini hanya berfokus pada
undang-undang saja.
b. Faktor penegak hukum, yaitu elemen-elemen yang terlibat dalam
membentuk hukum maupun yang melakukan upaya agar tegaknya suatu
hukum yang dibuat tersebut.
c. Faktor sarana atau fasilitas yang mendukung terlaksananya suatu
penegakan hukum.
15
Satjipto Rahardjo. Hukum dan perubahan sosial, (Bandung: Alumni, 1979), hlm. 119.
13
d. Faktor masyarakat, ialah lingkungan yang diberlakukan dan diterapkan
suatu hukum tersebut.
e. Faktor kebudayaan, Kebudayaan memiliki peran penting dalam sistem
hukum. Ia membentuk nilai-nilai dasar yang menjadi fondasi hukum,
sekaligus memengaruhi cara hukum dijalankan dan diterima oleh
masyarakat.16
Sehubungan dengan pokok permasalahan yang dibahas dimana
faktor yang paling terlihat dalam pelaksanaan peranan Jaksa Pengacara
Negara yaitu faktor penegak hukum. Oleh karena itu, teori ini dapat
menunjukan terkait pelaksanaan peranan Jaksa Pengacara Negara sebagai
penegak hukum dalam penyelenggara kekuasaan negara dalam bidang
Perdata.
G. Metode Penelitian
Menurut Winarno Surakhmad metode penelitian adalah cara-cara
yang digunakan oleh peneliti dalam mendekati objek yang diteliti, cara
tersebut merupakan pedoman bagi seorang peneliti dalam melaksanakan
penelitian sehingga data dapat dikumpulkan secara efektif dan efisien guna
dianalisis sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.17
1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian pada penelitian ini yaitu penelitian hukum empiris,
hukum empiris adalah penelitian yang berfokus pada pengamatan dan
16
Soerjono Soekanto. Faktor- Faktor Yang Mempengaruhi Penegakkan Hukum, (Jakarta:
PT. Raja Grafindo Persada, 2007), hlm. 5.
17
Winarno Surakhmad, Pengantar Penelitian Ilmiah, (Bandung: Tarsito, 1994), hal. 131.
14
analisis terhadap implementasi hukum pada masyarakat. Jenis penelitian
ini mempergunakan seluruh fakta empiris, baik secara wawancara maupun
dengan cara pengamatan langsung. Penelitian empiris juga diterapkan
untuk mengamati hasil berupa arsip juga.18
Berdasarkan dengan yang apa penulis kaji dalam penelitian yang berjudul
Peran Jaksa Pengacara Negara dalam penyelesaian perkara perdata melalui
bantuan hukum nonlitigasi di Kejaksaan Negeri Palembang. Adapun
metode penelitian yang digunakan dengan cara dilakukan pengumpulan
data yang dilakukan dengan cara observasi di lapangan dan wawancara
dengan jaksa yang menangani perkara tersebut yang bersangkutan dengan
metode penelitian empiris.
2. Pendekatan Penelitian
a. Pendekatan Perundang-undangan (Statute Approach)
Pendekatan perundang undangan adalah pendekatan yang mengkaji
peraturan perundang-undangan dan regulasi yang relevan dengan suatu
yang diteliti dalam suatu masalah dalam penelitian ini.19
b. Pendekatan Kasus (Case Approach)
Pendekatan kasus adalah suatu pendekatan yang diperoleh dengan cara
wawancara berbagai pihak-pihak yang terkait isu hukum yang
diteliti,hasil wawancara merupakan data primer dalam penelitian ini.20
18
Mukti Fajar dan Yulianto Achmad, Dualisme Penelitian Hukum Empiris &
Normatif, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010), hlm. 280.
19
Soerjono Soekanto dan Sri Mamudjii. Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan
Singkat, (Jakarta: Rajawali Pers, 2015), hlm.13.
20
Jonaedi Efendi dan Johnny Ibrahim. Metode Penelitian Hukum Normatif dan Empiris,
Jakarta: Kencana, 2016), hlm.145
15
c. Pendekatan Sosiologi Hukum (Sosiological Approach)
Pendekatan sosiologi hukum ini yaitu suatu pendekatan yang digunakan
untuk meneliti efektivitas bekerjanya hukum di dalam masyarakat.
Yang mana dilakukan melalui studi empiris atau penelitian langsung ke
lapangan untuk mengumpulkan data dari hasil wawancara pada pihak
yang terkait dengan pembahasan ini.21
3. Jenis dan Sumber Data
Jenis data dan sumber data yang akan digunakan oleh penulis
dalam penelitian ialah:
a. Data primer adalah sebuah data yang didapatkan langsung dari
masyarakat atau narasumber tertentu yang berkaitan dengan penelitian
sebagai sumber utama melalui penelitian lapangan.22 Berdasarkan
penelitian ini data primer penulis peroleh dengan terjun langsung ke
lokasi penelitian melalui studi di Kejaksaan Negeri Palembang.
b. Data sekunder adalah suatu data yang penulis peroleh dari hasil
membaca dan memahami buku-buku atau literatur-literatur dan
peraturan perundang-undangan yang berhubungan dengan isu hukum
yang sedang diteliti. Data sekunder meliputi bahan-bahan hukum:
1. Bahan Hukum Primer
Yaitu bahan-bahan hukum yang memiliki sifat mengikat yang terdiri
dari:
21
Amiruddin dan Zainal Asikin. Pengantar Metode Penelitian Hukum, (Jakarta: Raja
Grafindo Persada, 2008), hlm. 152.
22
Soekanto. Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta: Universitas Indonesia, 2012), hlm.
196.
16
a. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945,
b. Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2004 Tentang Kejaksaan
Republik Indonesia, LN. 2004 / No. 67, TLN No. 4401.
c. Peraturan Kejaksaan Republik Indonesia Tahun 2021 tentang
Pedoman Pelaksanaan Penegakan Hukum, Bantuan Hukum,
Pertimbangan Hukum, Tindakan Hukum Lain, dan Pelayanan
Hukum di Bidang Perdata dan Tata Usaha Negara,
BN.2021/No.1364.
d. Peraturan Jaksa Agung Republik Indonesia Nomor PER-
018/A/J.A/07/2014 tentang Standar Operasional Prosedur Pada
Jaksa Muda Bidang Perdata dan Tata Usaha Negara.
e. Peraturan Jaksa Agung Republik Indonesia Nomor
PER-006/A/JA/07/2017 tentang Organisasi dan Tata Kerja
Kejaksaan Republik Indonesia, BN. 2017/ No.1069.
2. Bahan hukum sekunder memiliki fungsi sebagai penjabaran
berdasarkan bahan hukum primer. Penjabaran ini dapat bersumber
dari buku, jurnal hukum, serta artikel.
4. Lokasi Penelitian
Dalam proses pengambilan data penelitian skripsi ini berlangsung
di Kejaksaan Negeri Palembang yang berada pada wilayah hukumnya.
Terkhususnya di bidang Perdata dan Tata Usaha Negara.
5. Populasi dan Sampel Penelitian
a. Populasi
17
Populasi adalah keseluruhan kelompok individu-individu, kelompok,
atau objek di mana Anda ingin menggeneralisasikan hasil penelitian. 23
Maka dalam penelitian ini penulis menetapkan populasi yakni seluruh
pihak di Kejaksaan Negeri Palembang baik itu Jaksa maupun pegawai
di Kejaksaan Negeri Palembang yang memiliki kaitan dengan peranan
Jaksa Pengacara Negara dalam penyelesaian sengketa perdata.
b. Sampel
Sampel adalah bagian terpilih dari populasi yang diseleksi melalui
metode sampling dalam sebuah penelitian.24 Pada proses pengambilan
sampel ini hanya mengambil sebagian sehingga dapat dikategorikan
studi Sampling Purposif karena tidak meneliti keseluruhan populasi.
Sampling purposif adalah metode pengambilan sampel yang di mana
peneliti memilih objek sampel berdasarkan kriteria tertentu yang
dianggap relevan dengan tujuan penelitian. Teknik ini digunakan dalam
konteks dimana pemahaman mendalam tentang fenomena yang sedang
diteliti diperlukan, dan peneliti berfokus pada individu atau kelompok
yang memiliki pengetahuan atau pengalaman spesifik terkait topik yang
diteliti. Sampel yang diambil pada penelitian ini hanya melibatkan
beberapa orang responden untuk dilakukan sesi wawancara sehingga
mendapatkan informasi yang akurat.
Responden tersebut adalah:
23
Ketut Swarjana, Populasi-Sampel, Teknik dan Sampling dalam Penelitian,(Yogyakarta:
Andi, 2022), hlm. 4.
24
Ibid, hlm .13.
18
1. Kepala Seksi Perdata dan Tata Usaha Negara Kejaksaan Negeri
Palembang.
2. Jaksa Pengacara Negara di bidang Perdata dan Tata Usaha Negara
Kejaksaan Negeri Palembang.
6. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan oleh penulis dalam
penelitian yaitu:
a. Studi Kepustakaan
Studi kepustakaan adalah segala usaha yang dilakukan oleh peneliti
untuk menghimpun informasi yang relevan dengan topik atau masalah
yang akan atau sedang diteliti.25 Adapun topik atau masalah yang
diteliti tersebut berkaitan dengan peranan Jaksa Pengacara Negara di
Kejaksaan Negeri Palembang dalam penyelesaian sengketa perdata.
b. Studi Lapangan
Studi Lapangan adalah pengumpulan data secara langsung kelapangan
dengan mempergunakan Teknik pengumpulan data seperti observasi,
wawancara, dan dokumentasi.26 Jenis penelitian ini bertujuan untuk
pengumpulan data primer yang didapat langsung dari responden di
Kejaksaan Negeri Palembang bidang Perdata dan Tata Usaha Negara.
c. Wawancara
Adapun teknik ini dilakukan oleh penulis dengan wawancara berupa
25
Purwono, Studi Kepustakaan. Jurnal Pustakawan Utama UGM. Yogyakarta. Vol. 6 No.
2 (2008), hlm. 8.
26
Busyairi Ahmad dan M. Saleh Laha, Penerapan Studi Lapangan dalam Meningkatkan
Kemampuan Analisis Masalah (Studi Kasus pada Mahasiswa Sosiologi IISIP Yapis Biak). Jurnal
Nalar Pendidikan. Universitas Negeri Makassar. Makassar. Vol. 8 No. 1 (2020), hlm. 65.
19
tanya jawab yang dilakukan oleh penulis dan pihak Jaksa Pengacara
Negara di Kejaksaan Negeri Palembang dengan menyiapkan terlebih
dahulu pertanyaan sebelum melakukan wawancara.
7. Analisis Data
Menurut Noeng Muhadjir mengemukakan pengertian analisis data
sebagai upaya mencari dan menata secara sistematis catatan hasil
observasi, wawancara, dan lainnya untuk meningkatkan pemahaman
peneliti tentang kasus yang diteliti dan menyajikannya sebagai temuan
bagi orang lain.27 Selanjutnya data tersebut disusun dan ditempatkan secara
sistematis sesuai urutan terhadap permasalahan yang sedang diteliti.
8. Teknik Penarikan Kesimpulan
Dalam penelitian ini penulis menarik kesimpulan dengan cara
induktif. Pertama penulis memperoleh fakta dan data hasil dari penelitian
langsung ke lapangan, data dan fakta yang diperoleh tersebut diolah dan
dianalisis kemudian ditarik kesimpulan yang bersifat umum.
27
Ahmad Rijalli, Analisis Data Kuantitatif. Jurnal Alhadharah UIN Antasari
Banjarmasin. Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin. Banjarmasin. Vol.17 No. 33 (2018),
hlm. 84.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Umum Tentang Bantuan Hukum
1. Pengertian Bantuan Hukum
Sistem hukum Indonesia dan Undang-Undang Dasar 1945 menjamin
adanya persamaan dihadapan hukum seperti yang tertuang dalam Pasal 27
ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 disebutkan “Setiap warga Negara
bersamaan kedudukannya dalam hukum dan pemerintahan itu dengan tidak
ada kecualinya”.28 Salah satu upaya untuk mewujudkan keadilan atau
kesamaaan kedudukan dalam hukum yaitu dengan adanya bantuan hukum
bagi setiap warga negara yang terlibat dalam kasus hukum.
Menurut Soerjono Soekanto, bantuan hukum pada pokoknya
memiliki arti bantuan hukum yang diberikan oleh para ahli bagi warga
masyarakat yang memerlukan untuk mewujudkan hak-haknya serta juga
mendapatkan perlindungan hukum yang wajar.29
Bantuan hukum diberikan oleh lembaga bantuan hukum atau
organisasi kemasyarakatan yang memberi layanan bantuan hukum, yang
meliputi menjalankan kuasa, mendampingi, mewakili, membela, dan/atau
melakukan tindakan hukum lain untuk kepentingan hukum penerima
bantuan hukum. Dalam pelaksanaannya, selanjutnya pemberi bantuan
28
Angga dan Ridwan Arifin, Penerepan Bantuan Hukum Bagi Masyarakat Kurang
Mampu di Indonesia. Jurnal Hukum. Universitas Negeri Semarang. Semarang. Vol 4. No. 2
(2018), hlm. 219.
29
Ibid.
20
21
hukum diberikan hak melakukan rekrutmen terhadap Advokat, Paralegal,
Jaksa Pengacara Negara, Akademisi, dan Mahasiswa Fakultas Hukum.30
Bantuan hukum memiliki kedudukan yang cukup penting dalam
setiap sistem peradilan pidana, perdata, dan tata usaha negara tidak
terkecuali di Negara Indonesia. Secara umum dapat dikatakan bahwa
bantuan hukum mempunyai tujuan yang terarah pada bermacam-macam
kategori sosial di dalam masyarakat, yaitu: 31
1) Menjamin dan memenuhi hak bagi penerima bantuan hukum untuk
mendapatkan akses keadilan;
2) Mewujudkan hak konstitusional segala warganegara sesuai dengan
prinsip persamaan kedudukan di dalam hukum;
3) Menjamin kepastian penyelenggaraan bantuan hukum dilaksanakan
secara merata di seluruh wilayah Indonesia;
4) Mewujudkan peradilan yang efektif, efisien, dan dapat dipertanggung
jawabkan.
Terdapat dua istilah terkait dengan bantuan hukum yaitu legal aid
dan legalassistance. Istilah legal aid biasanya dipergunakan untuk
menunjukkan pengertian bantuan hukum dalam arti sempit, yaitu
pemberian jasa-jasa dibidang hukum kepada seseorang yang terlibat dalam
suatu perkara secara cuma-cuma khususnya bagi yang tidak mampu.
30
Deni Achmad, Peranan Mahasiswa Fakultas Hukum Sebagai Pelaksana Bantuan
Hukum (Legal AID) Kepada Masyarakat. Jurnal Ilmu Hukum. Universitas Lampung. Bandar
Lampung. Vol 9. No. 1 (2015), hlm 19.
31
Herning Setyowati dan Nurul Muchiningtias, Peran Advokat Dalam Memberikan
Bantuan Hukum Kepada Masyarakat Dalam Perspektif Hak Asasi Manusia. Jurnal Hukum.
Universitas Negeri Semarang. Semarang. Vol 2. No. 2 (2018), hlm 156.
22
Sedangkan pengertian legal assistance dipergunakan untuk menunjukkan
pengertian bantuan hukum dalam artiluas, karena di samping bantuan
hukum terhadap mereka yang tidak mampu, juga pemberian bantuan
hukum yang dilakukan oleh para pengacara yang mempergunakan
honorarium atau mendapatkan pembayaran sejumlah uang dari klien.32
Menurut Adnan Buyung Nasution bantuan hukum atau (Legal aid),
merupakan pemberian jasa di bidang hukum kepada seseorang yang
terlibat dalam suatu kasus atau perkara:
1. Pemberian jasa bantuan hukum dilakukan dengan cuma-cuma,
2. Bantuan jasa hukum dalam legal aid lebih dikhususkan bagi yang
tidak mampu dalam lapisan masyarakat miskin,
3. Dengan demikian motivasi utama konsep legal aid adalah
menegakkan hukum dengan jalan membela kepentingan hak asasi
rakyat kecil yang tak punya dan buta hukum.
Menurut ketentuan Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 16
Tahun 2011 tentang Bantuan Hukum, bantuan hukum didefinisikan sebagai
layanan hukum yang diberikan secara cuma-cuma oleh pihak yang
berwenang kepada masyarakat yang memenuhi syarat sebagai penerima
bantuan. Sementara itu, Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang
Advokat menegaskan bahwa bantuan hukum merupakan jasa yang
disediakan oleh advokat tanpa memungut biaya kepada klien yang tidak
32
Tri Astuti Handayani, Bantuan Hukum Bagi Masyarakat Tidak Mampu Dalam Perspektif
Teori Keadilan Bermartabat. Jurnal Refleksi Hukum. Advokat di Bojonegoro. Jawa Timur. Vol 9.
No. 1 (2015), hlm 17-18.
23
mampu secara finansial. Di sisi lain, dalam Peraturan Pemerintah Nomor 83
Tahun 2008 mengenai pemberian bantuan hukum secara cuma-cuma,
disebutkan bahwa bantuan hukum gratis meliputi berbagai bentuk layanan
seperti konsultasi hukum, pendampingan, perwakilan, pembelaan, hingga
pelaksanaan tindakan hukum lainnya yang bertujuan melindungi
kepentingan pencari keadilan dari kalangan tidak mampu, tanpa adanya
imbalan honorarium dari pihak penerima.33
2. Fungsi dan Tujuan Bantuan Hukum
Pada dasarnya, pemberian bantuan hukum kepada masyarakat
miskin yang diberikan oleh Advokat, tidak terlalu berbeda dengan konsep
bantuan hukum diberikan oleh advokat pada umumnya. yaitu bantuan
hukum yang meliputi masalah hukum keperdataan, pidana, dan tata
usaha negara baik litigasi maupun non-litigasi.
Hal ini sebagaimana diatur dalam Pasal 4 UU No. 16 Tahun 2011 yang
mengatur bahwa:
1. Bantuan hukum diberikan kepada penerima bantuan hukum yang
menghadapi masalah hukum.
2. Bantuan hukum sebagaimana dijelaskan pada ayat (1) meliputi masalah
hukum keperdataan, pidana, dan tata usaha negara baik litigasi maupun
non-litigasi.
3. Bantuan hukum sebagaimana dijelaskan pada ayat (1) meliputi
menjalankan kuasa, mendampingi, mewakili, membela, dan/atau
33
Ibid.
24
melakukan tindakan hukum lain untuk kepentingan hukum penerima
bantuan hukum.
Oleh karena itu, maka organisasi bantuan hukum sangat dibutuhkan
untuk membantu upaya penegakan hukum. Terdapat juga beberapa fungsi
yang dilaksanakan untuk menjalankan pemberian bantuan hukum yaitu :34
i. Dengan adanya bantuan hukum akan terwujud persamaan di hadapan
hukum (Equality before the law). Proses hukum yang fair dan impartial
hanya akan terjadi apabila pihak-pihak yang bersengketa memiliki
posisi dankekuatan yang seimbang, terutama dari sisi pengetahuan dan
keterampilan hukum;
ii. Apabila proses hukum berjalan secara fair dan impartial, semua
kebenaran materiil dapat terungkap. Dengan adanya posisi dan
kekuatan yang seimbang, manipulasi dan hegemoni atas fakta dan
kebenaran dapat dicegah. Dengan demikian, bantuan hukum berfungsi
memperkuat upaya menegakkan keadilan substansial melalui proses
hukum yang fair dan impartial;
iii. Bantuan hukum memberikan ruang interaksi antara para ahli dan
profesi hukum dengan masyarakat umum. Interaksi itu akan
menumbuhkan pemahaman dan kesadaran bagaimana memposisikan
suatu aturan hukum dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Hukum
adalah seperangkat aturan yang harus dipatuhi. Jika terdapat
permasalahan harus diselesaikan melalui jalur hukum, termasuk pada
34
Todung Mulya Lubis, Bantuan Hukum dan Kemiskinan Struktural, (Jakarta:
LP3ES,1986), hlm. 51-55.
25
saat terdapat aturan yang merugikan hak konstitusional warga negara
juga harus diselesaikan melalui mekanisme hukum. Bantuan hukum
berfungsi untuk membangun budaya kepatuhan terhadap hukum
sebagai salah satu ciri utama masyarakat yang beradab;
iv. Kepatuhan terhadap hukum hanya akan berkembang pada saat
masyarakat memahami kedudukan dan materi aturan hukum.
Pemahaman tersebut dengan sendirinya akan meningkatkan
keberdayaan hukum masyarakat yang sangat diperlukan, baik untuk
melakukan hubungan hukum, menjalani prosedur hukum, bahkan untuk
mengkritisi materi serta praktik penegakan hukum.35
3. Bantuan Hukum Nonlitigasi
Sebagaimana yang telah dibahas pada poin sebelumnya,
bahwasannya nonlitigasi merujuk pada segala bentuk penyelesaian sengketa
atau masalah hukum yang tidak melibatkan proses peradilan atau
persidangan di pengadilan. Secara sederhana, non-litigasi adalah upaya
penyelesaian masalah hukum melalui metode alternatif yang lebih damai,
efisien, dan tidak memerlukan keputusan pengadilan.
Dalam penyelesaian nonlitigasi berfokus pada komunikasi,
negoisasi, dan kerja sama antara pihak pihak yang bersengketa, selain itu
memberikan berupa pendampingan di luar ranah pengadilan serta
memberikan solusi yang tepat untuk melakukan penyelesaian sengketa
35
Bambang Sutiyoso, Atqo Darmawan Aji, dan Guntar Mahendro, Peran Dan Tanggung
Jawab Organisasi Bantuan Hukum Dalam Memberikan Akses Keadilan Secara Prodeo Di Daerah
Istimewa Yogyakarta. Jurnal Ius Quia Iustum Fakultas Hukum. Universitas Islam Indonesia.
Yogyakarta. Vol 30. No.1 (2023), hlm 206-207.
26
perdata yang dasarnya bisa membuat kesepahaman antara kedua belah
pihak.
Nonlitigasi sering dipilih karena prosesnya yang lebih cepat, biaya
yang lebih rendah, dan lebih fleksibel dibandingkan dengan proses litigasi
yang formal dan sering kali memakan waktu lama di pengadilan. Selain itu,
pendekatan nonlitigasi juga lebih memungkinkan untuk mempertahankan
hubungan baik antara pihak-pihak yang bersengketa, terutama dalam
konteks bisnis atau keluarga.
B. Tinjauan Umum Tentang Kejaksaan Republik Indonesia
1. Pengertian Kejaksaan
Kejaksaan RI adalah lembaga negara yang melaksanakan kekuasaan
negara, khususnya di bidang penuntutan. Sebagai badan yang berwenang
dalam penegakan hukum dan keadilan, Kejaksaan dipimpin oleh Jaksa
Agung yang dipilih oleh dan bertanggung jawab kepada Presiden. Dalam
kejaksaan terdiri dari Kejaksaan Agung, Kejaksaan Tinggi, dan Kejaksaan
Negeri merupakan suatu kekuasaan negara khususnya dibidang penuntutan,
yang mana semuanya merupakan satu kesatuan yang utuh yang tidak dapat
dipisahkan.36
Posisi Kejaksaan menurut Friedman merupakan bagian dari legal
structure yang menentukan bisa atau tidaknya hukum itu dilaksanakan
36
Endah Cahyani, Pencegahan Tindak Pidana Korupsi Pengadaan Barang dan Jasa
Pemerintah. Indonesian Journal of Criminal Law and Criminology. Fakultas Hukum Universitas
Muhammadiyah Yogyakarta. Vol 3. No. 2 (2022), hlm. 83.
27
dengan baik. Legal Structure sendiri terdiri dimulai dari kepolisian,
Kejaksaan, pengadilan dan Badan Pelaksana Pidana (Lapas).37
Kejaksaan RI dalam kedudukannya sebagai lembaga eksekutif yang
mempunyai tugas dan wewenang penegakan hukum lebih berperan aktif
mewujudkan arah kebijakan pembangunan hukum, hal ini tidak akan
menjadi kenyataan atau hanya menjadi sia-sia bila kedudukan dan fungsi
kejaksaan tidak di dudukan pada tempat yang tepat dan benar secara hukum,
artinya peraturan perundang-undangan hendaknya mendudukkan Kejaksaan
sebagai badan yang merdeka dan independen, sehingga dengan bebas tanpa
ditekan atau tertekan bertanggung jawab serta cara etika, moral, hukum,
bahkan secara keyakinannya dalam menjalankan tugas dan wewenangnya.38
Sebagai lembaga penegak hukum melaksanakan tugasnya secara
merdeka dengan menjujung tinggi hak asasi manusia dalam negara hukum
berdasarkan Pancasila dan Undang Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945 serta diatur secara khusus dalam Undang-Undang
Nomor 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia.39
37
Ook Mufrohim, dan Ratna Herawati, Independensi Lembaga Kejaksaan sebagai Legal
Structure didalam Sistem Peradilan Pidana (Criminal Justice System) di Indonesia. Jurnal
Pembangunan Hukum Indonesia. Fakultas Hukum, Universitas Diponegoro. Vol 2. No.3 (2020),
hlm. 374.
38
Ibid.
39
Suwari Akhmaddhian, dan Wisnu Gita Prapanca, Penegakan Hukum Terhadap Jaksa
Yang Melakukan Tindak Pidana Narkotika. Journal of Multidisciplinary Studies. Fakultas Hukum,
Universitas Kuningan. Indonesia. Vol 10. No. 01 (2019), hlm 60.
28
2. Sejarah Kejaksaan
Kejaksaan merupakan salah satu institusi penegak hukum yang memiliki
peranan krusial dan strategis. Secara yuridis, peran kejaksaan dalam masa
kemerdekaan mulai diakui sejak diberlakukannya Undang-Undang Nomor
15 Tahun 1961 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Kejaksaan. Meskipun
demikian, eksistensi lembaga serupa kejaksaan sebenarnya telah ada jauh
sebelum masa penjajahan, tepatnya pada masa pemerintahan Kerajaan
Majapahit. Pada masa tersebut, sudah terdapat pejabat yang menangani
urusan hukum, dikenal dengan sebutan Dhyaksa dan Adhyaksa, yang
berperan sebagai pejabat tinggi dalam bidang hukum. 40
Menurut W.F. Stutterheim, Dhyaksa yaitu pejabat negara di zaman
Kerajaan Majapahit, singkatnya pada saat Prabu Hayam Wuruk tengah
berkuasa (1350-1389 M). Dhyaksa adalah hakim yang diberi tugas untuk
menangani masalah peradilan dalam sidang pengadilan. Para dhyaksa ini
dipimpin oleh seorang adhyaksa, yakni hakim tertinggi yang memimpin dan
mengawasi para dhyaksa. pada masa itu, kebijakan hukum dan penegakan
hukum masih bertumpu pada seorang pejabat secara pribadi berdasarkan
pengakuan raja atas kemampuan dalam bidang hukum, peran Adhyaksan
dan Dhyaksa dapat memberikan pengaruh yang pesat pada kejayaan
Kerajaan Majapahit, dalam menjaga stabilitas negara dengan penegakan
hukum secara adil dan tegas. 41
40
Tim MaPPI-FHUI. Bunga Rampai Kejaksaan Republik Indonesia. (Depok: Badan
Penerbit Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2015), hlm. V.
41
Ibid.
29
Perlu diketahui Kejaksaan adalah badan negara yang sudah ada
sebelum kita merdeka, demikian pula peraturannya. Sehingga pada dasarnya
Kejaksaan RI adalah meneruskan apa yang telah diatur di dalam Indische
Staatsregeling, oleh karena itu kedudukannya menempatkan Kejaksaan
Agung berdampingan dengan Mahkamah Agung. Agar ketentuan yang ada
di dalamnya yang mengatur kedudukan Kejaksaan, pada dasarnya adalah
sama dengan ketentuan di dalam UUD negeri Belanda.42
Sejak awal berdiri, kedudukan Kejaksaan RI mengalami
perkembangan di Indonesia. Pada awal masa Proklamasi Kemerdekaan
Indonesia, tepatnya pada tanggal 19 Agustus 1945, Rapat PPKI
memutuskan mengenai kedudukan Kejaksaan berada di dalam lingkungan
Departemen Kehakiman.43 Perubahan besar terjadi ketika Presiden Soekarno
membacakan Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Konsekuensi dari perubahan
politik yang terjadi adalah Presiden menata ulang lembaga-lembaga dan
institusi pemerintahan dengan keadaan yang baru. Setahun setelah
dikeluarkannya Dekrit Presiden, pemerintah dan DPR mengesahkan UU
Kejaksaan yang pertama dalam sejarah negara kita, yakni UU No. 15 Tahun
1961 tentang Pokok-Pokok Kejaksaan RI. Di dalam UU No. 15 Tahun 1961
tentang Pokok-Pokok Kejaksaan RI disebutkan bahwa Kejaksaan
merupakan alat negara penegak hukum dan alat revolusi yang tugasnya
sebagai Penuntut Umum.
42
Yusril Ihza Mahendra. Kedudukan Kejaksaan Agung dan Posisi Jaksa Agung Dalam
Sistem Presidensial di Bawah UUD 1945. (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2012), hlm. 4.
43
Marwan Effendy. Kejaksaan Republik Indonesia: (Posisi dan Fungsinya dari
Prespektif Hukum). (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2005), hlm. 67.
30
Perubahan besar berikutnya yang terjadi setelah dikeluarkannya
Undang-Undang Kejaksaan ini adalah Kejaksaan disebut sebagai
Departemen Kejaksaan yang diselenggarakan oleh menteri. Berdasarkan hal
tersebut maka pengangkatan Jaksa Agung tidak lagi melalui Menteri
Kehakiman melainkan langsung diangkat oleh Presiden, karena kedudukan
Jaksa Agung disini adalah sebagai anggota kabinet yang bertanggung jawab
secara langsung kepada Presiden.
Ketika kekuasaan Presiden Soekarno beralih kepada Presiden
Soeharto, perubahan pada Kejaksaan juga terjadi. Walaupun Undang-
Undang No. 15 Tahun 1961 terus berlaku hingga tahun 1991, namun dalam
praktiknya Kejaksaan Agung tidak lagi disebut sebagai Departemen
Kejaksaan dan Jaksa Agung tidak lagi disebut sebagai Menteri Jaksa Agung.
Institusi ini disebut sebagai Kejaksaan Agung yang dipimpin oleh seorang
Jaksa Agung dan kewenangan untuk pengangkatan dan Jaksa Agung tetap
ada di tangan Presiden. Walaupun Jaksa Agung tidak lagi disebut menteri
namun kedudukannya tetap sejajar dengan menteri negara dan di periode ini
mulai muncul suatu konvensi ketatanegaraan, yakni Jaksa Agung selalu
diangkat di awal kabinet dan berakhir masa jabatannya dengan berakhir
masa bakti kabinet tersebut.44
Perubahan berikutnya terjadi setelah adanya UU No. 5 Tahun 1991
tentang Kejaksaan Republik Indonesia. UU No. 5 Tahun 1991 menyebut
bahwa Kejaksaan sebagai “lembaga pemerintahan yang melaksanakan
kekuasaan negara di bidang penuntutan dalam tatanan susunan kekuasaan
44
Yusril Ihza Mahendra, [Link].,hlm.15-16.
31
badan-badan penegak hukum dan keadilan”. Dari konsideran ini terdapat
perubahan penting dimana terdapat penegasan terhadap pandangan
kedudukan institusi Kejaksaan yang sebelumnya dikatakan sebagai alat
negara namun setelah berlakunya undang-undang ini berubah menjadi
lembaga pemerintahan.
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1991 tetap berlaku hingga
Indonesia memasuki masa reformasi. Yusril Ihza Mahendra menyampaikan
bahwa ketika proses penyusunan Undang-Undang Kejaksaan yang baru
berlangsung, muncul dorongan dari kalangan akademisi dan aktivis LSM
agar lembaga penegak hukum memiliki kemandirian. Hal ini memunculkan
wacana untuk memisahkan Kejaksaan dari struktur kekuasaan eksekutif.
Mereka berargumen bahwa Kejaksaan seharusnya berada dalam lingkup
kekuasaan yudikatif, mengacu pada ketentuan Pasal 24 ayat (3) Undang-
Undang Dasar 1945. Di sisi lain, DPR dalam proses legislasi tersebut juga
mendukung agar Kejaksaan dapat menjalankan tugasnya secara independen.
Akan tetapi, pihak Pemerintah memilih untuk mempertahankan posisi
Kejaksaan sebagai bagian dari institusi pemerintah yang menjalankan fungsi
penuntutan atas nama negara.
Kekuasaan negara di bidang penuntutan dilakukan secara
independen dalam tata susunan kekuasaan badan penegak hukum dan
keadilan. Setelah proses tarik-ulur terjadi di dalam pembahasan RUU
tersebut akhirnya DPR menarik usulan mereka tentang Jaksa Agung yang
independen dan akhirnya disepakati Jaksa Agung tetaplah pejabat negara
32
yang diangkat dan diberhentikan oleh Presiden, karena dalam sistem
presidensial, Kejaksaan Agung memang berada di bawah ranah eksekutif,
maka menjadi kewenangan presiden mengangkat dan memberhentikan
Jaksa Agung.45
3. Kewenangan Kejaksaan
Di Negara Kesatuan Republik Indonesia, hukum merupakan urat
nadi seluruh aspek kehidupan. Hukum mempunyai posisi strategis dan
dominan dalam kehidupan masyarakat berbangsa dan bernegara. Hukum,
sebagai suatu sistem, dapat berperan dengan baik dan benar ditengah
masyarakat jika instrumen pelaksanaanya di lengkapi dengan kewenangan-
kewenangan dalam bidang penegakan hukum. Salah satu di antara
kewenangan-kewenangan itu adalah Kejaksaan Republik Indonesia.46
Hak dan juga kewenangan untuk berbuat sesuatu adalah pengertian
dari wewenang yang merupakan kata dasar dari kewenangan. Kekuasaan
formal merupakan kewenangan yang disebut sebagai kekuasaan yang
bersumber dari undang-undang yaitu kekuasaan legislate maupun kekuasaan
eksekutif administratif. Kekuasaan terhadap suatu bidang legislative
(pemerintahan) atau kekuasaan terhadap sekelompok orang tertentu dari
suatu golongan merupakan beberapa wewenang yang biasanya mencakup
kewenangan itu sendiri.
45
Ibid., hlm. 21-22.
46
Sri Soemantri, Bunga Rampai Hukum Tata Negara Indonesia, (Bandung:
Alumni,1992), hlm. 27.
33
Kewenangan dari Kejaksaan terdapat pada pasal 30 sampai pasal 37
Undang -Undang Nomor 16 Tahun 2004 Tentang Kejaksaan Negara
Republik Indonesia yang terdiri atas:
Pada bidang Pidana :
b. Melakukan penuntutan terhadap perkara pidana;
c. Melaksanakan putusan serta penetapan yang dilakukan oleh hakim
terhadap putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap;
d. Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan dari putusan pidana;
e. Melakukan penyidikan tindak pidana berdasarkan UU;
f. Melengkapi berkas perkara sehingga dapat dilanjutkan dengan
pemeriksaan tambahan sebelum diarahkan pada pengadilan dan
berkoordinasi dengan penyidik dalam penyelenggaraannya.
Pada bidang Perdata dan Tata Usaha Negara :
Kejaksaan dengan kuasa khusus, dapat bertindak baik di dalam maupun di
luar pengadilan untuk dan atas nama negara atau pemerintah.
Pada bidang ketertiban dan ketenteraman umum, Kejaksaan turut
menyelenggarakan kegiatan:
a. peningkatan kesadaran hukum masyarakat;
b. pengamanan kebijakan penegakan hukum;
c. pengawasan peredaran barang cetakan;
d. pengawasan aliran kepercayaan yang dapat membahayakan masyarakat
dan negara;
e. pencegahan penyalahgunaan dan/atau penodaan agama;
34
f. penelitian dan pengembangan hukum serta statistik kriminal.
4. Jaksa
Jaksa menurut Pasal 1 ayat (1) Undang-undang Nomor 16 Tahun
2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia adalah “Pejabat fungsional
yang diberi wewenang oleh undang-undang untuk bertindak sebagai
penuntut umum dan pelaksana putusan pengadilan yang telah memperoleh
kekuatan hukum tetap, serta wewenang lain berdasarkan undang-undang.47
Pada tahun 2004 dengan keluarnya Undang-undang Nomor 16
Tahun 2004, kedudukan jaksa semakin mempertegas posisi Jaksa sebagai
pejabat fungsional yang diberi wewenang oleh Undang-undang untuk
bertindak sebagai Penuntut Umum dan Pelaksana Putusan Pengadilan yang
telah memperoleh kekuatan hukum tetap dan wewenang lain berdasarkan
Undang-undang, Oleh karenanya maka dijelaskan dalam pejabat hukum
yang memiliki wewenang terhadap kelangsungan penuntutan berbagai jenis
perkara. Dengan demikian pengertian Jaksa pada Undang-Undang No. 16
Tahun 2004 lebih luas dari pada pasal 1 butir 6a [Link] dua
kewenangan jaksa yang biasa dilaksanakan yaitu:48
a. Sebagai penuntut umum, dan Sebagai eksekutor.
b. Melakukan penuntutan dan melaksanakan penetapan hakim.
47
Undang-Undang No. 16 Tahun 2004 Tentang Kejaksaan Republik Indonesia, Pasal 1
Ayat (1).
48
Laden Marpaung, Penanganan Perkara Pidana (Jakarta: Sinar Grafika, 2009), 188–
189.
35
5. Peranan dan Kedudukan Jaksa Pengacara Negara
Kejaksaan Republik Indonesia tidak hanya berperan sebagai
penuntut umum, tetapi dalam hal menangani perkara Perdata dan Tata
Usaha Negara, Jaksa memiliki kuasa khusus untuk bertindak baik
didalam maupun diluar pengadilan untuk dan atas nama negara atau
pemerintah dalam bidang Perdata dan Tata Usaha Negara. Berdasarkan
tugas dan wewenang Kejaksaan tersebut Jaksa Pengacara Negara
merupakan sebutan Jaksa dalam Bidang Perdata dan Tata Usaha
Negara.49
Kejaksaan selaku pengacara negara dan istilah “Jaksa Pengacara
Negara (JPN)”, tidak disebut secara eksplisit oleh Undang-Undang Nomor
16 Tahun 2004 Tentang Kejaksaan RI. Justru istilah JPN termasuk
dalam Pasal 32 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1991 Tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
Pengertian JPN juga dijabarkan dalam Peraturan Jaksa Agung RI
Nomor: PER025/A/JA/11/2015 Tentang Petunjuk Pelaksanaan
Penegakan Hukum, Bantuan Hukum, Pertimbangan Hukum, Tindakan
Hukum Lain dan Pelayanan Hukum dibidang Perdata dan Tata Usaha
Negara:50
49
Dahlan Sinaga, Kemandirian dan Kebebasan Hakim Memutus Perkara Pidana
Dalam Negara Hukum Pancasila: Suatu Perspektif Teori Keadilan Bermartabat , Cetakan II.
(Bandung: Nusa Media, 2017), hlm 13.
50
Iska Tirta Adiyaksa, dan Dossy Iskandar Prasetyo, Peran Serta Hambatan
Fungsionalisasi Jaksa Pengacara Negaradi Bidang Perdata dan Tata Usaha Negara: Studi pada
Kejaksaan Negeri Sidoarjo. Journal of Police and Law Enforcement. Universitas Bhayangkara
Surabaya. Vol 1. No.1 (2023), hlm. 21.
36
“Jaksa Pengacara Negara adalah jaksa yang berdasarkan Surat Kuasa
Khusus melakukan penegakan hukum dan bantuan hukum atau
berdasarkan surat perintah melakukan pertimbangan hukum, tindakan
hukum lain dan pelayanan hukum di bidang perdata dan tata usaha
[Link] Kuasa Khusus (SKK) adalah surat yang berisi pemberian
kuasa kepada pihak lain gunamelaksanakan kepentingan tertentu dan
atas nama pemberi kuasa.”
Lebih lanjut Pasal 24 Peraturan Presiden Nomor 38 Tahun 2010
Tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kejaksaan Republik
Indonesia menyebutkan tugas JPN, yaitu:51
“Jaksa Agung Muda Perdata dan Tata Usaha Negara mempunyai tugas
dan wewenang penegakan hukum, bantuan hukum, pertimbangan
hukum dan tindakan hukum lain kepada negara dan pemerintah, meliputi
lembaga/badan negara,lembaga/instansi pemerintah pusat dan daerah,
BUMN/BUMD di bidang perdata dan tata usaha negara untuk
menyelamatkan, memulihkan kekayaan negara, menegakkan kewibawaan
pemerintah dan negara serta memberikan pelayanan hukum kepada
masyarakat.”
Tugas, fungsi dan wewenang Kejaksaan dalam bidang perdata dan tata
usaha negara dijabarkandalam Peraturan Presiden Republik Indonesia
No. 38 Tahun 2010 dan Peraturan Jaksa Agung No.
Per-025/A/JA/11/2015 tentang petunjuk pelaksanaan Penegakan Hukum,
Bantuan Hukum, Pertimbangan Hukum, Tindakan Hukum Lain dan
Pelayanan Hukum di Bidang Perdata dan Tata Usaha Negara.
C. Tinjauan Umum Tentang Perkara Perdata
1. Pengertian Hukum Perdata
Hukum perdata adalah hukum yang mengatur mengenai hubungan
hukum antara hak dan kewajiban hak dan kewajiban orang atau badan
51
Ibid.,hlm.22.
37
hukum yang satu dengan orang atau badan hukum yang lain dalam
pergaulan hidup masyarakat, dengan menitikberatkan pada kepentingan
perseorangan atau individu.52 Menurut Sudikno Mertokusumo, Hukum
perdata adalah hukum anatarperorangan yang mengatur hak dan kewajiban
perorangan yang satu terhadap yang lain di dalam hubungan keluarga dan di
dalam pergaulan masyarakat.53
Dalam Hukum perdata terdapat dalam arti luas dan dalam arti
sempit, yang mana menurut Prof. Subekti, perkataan hukum perdata dalam
arti yang luas meliputi semua hukum privat materiel, yaitu segala hukum
pokok yang mengatur kepentingan perseorangan. Lebih lanjut menurut
beliau, perkataan Perdata juga lazim dipakai sebagai lawan dari Pidana.
Namun ada juga yang memakai perkataan Hukum Sipil untuk hukum privat
materiel, tetapi karena perkataan Sipil itu juga lazim dipakai sebagai lawan
dari militer, maka lebih baik dipakai istilah Hukum Perdata untuk segenap
peraturan hukum privat materiel. Adapun perkataan hukum perdata dalam
arti yang sempit dipakai sebagai lawan hukum dagang.54
Menurut Prof. Soedewi Masjchoen Sofwan, Hukum Perdata tertulis
sebagaimana diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, yang
selanjutnya disebut Hukum Perdata, merupakan Hukum Perdata dalam arti
52
P.N.H. Simanjuntak, Hukum Perdata Indonesia, (Jakarta: Kencana, 2021), hlm. 7.
53
Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum Suatu Pengantar, (Yogyakarta: Liberty,
1986), hlm. 108
54
Subekti, Pokok-Pokok Hukum Perdata, (Jakarta: Intermasa, 1995), hlm. 9.
38
sempit. Adapun Hukum perdata dalam arti luas termasuk didalamnya
Hukum dagang.55 Dengan demikian, maka dari itu , bahwa:
a. Hukum perdata dalam arti sempit meliputi seluruh peraturan-peraturan
yang terdapat dalam KUH Per, yaitu: Hukum Pribadi, Hukum Benda
(Hukum Harta Kekayaan), Hukum Keluarga, Hukum Waris, Hukum
Perikatan serta Hukum Pembuktian dan Daluwarsa.
b. Hukum perdata dalam arti luas meliputi seluruh peraturan-peraturan yang
terdapat dalam KUH Per, KUHD beserta peraturan undang-undang
tambahan lainnya (seperti Hukum Agraria, Hukum Adat, Hukum Islam,
dan Hukum Perburuhan).
Jadi dapat disimpulkan, bahwa Hukum Perdata ini dapat berbentuk
tertulis, seperti yang dimuat dan diatur dalam KUH Per (Burgerlijk
Wetboek) dan KUHD (Wetboek van Koophandel), serta peraturan
perundang-undangan lainnya, dan dapat juga berbentuk tidak tertulis, seperti
Hukum Adat.56
Hukum perdata terbagi menjadi hukum perdata materiel dan hukum
perdata formil. Adapun menurut Prof. Soediman Kartohadiprodjo, yang
dimaksudkan dengan Hukum Perdata materiel ialah kesemuanya kaidah
hukum yang menentukan dan mengatur hak- hak dan kewajiban perdata.
Lawannya ialah Hukum Perdata Formil, yaitu kesemuanya kaidah hukum
yang menentukan dan mengatur bagaimana caranya melaksanakan hak-hak
55
Sri Soedewi Masjchoen Sofwan, Hukum Perdata: Hukum benda, (Yogyakarta: Liberty,
1981), hlm. 1.
56
P.N.H. Simanjuntak, Op. cit, hlm. 8.
39
dan kewajiban-kewajiban perdata tersebut.57 Oleh karena itu, dapat
disimpulkan bahwa yang dimaksudkan dengan:
i. Hukum Perdata Materiel adalah aturan-aturan hukum yang mengatur hak
hak dan kewajiban perdata. Misalnya Hukum Dagang, Hukum
Perkawinan, Hukum Waris, Hukum Perjanjian, dan Hukum Adat.
ii. Hukum perdata formil adalah aturan-aturan hukum yang mengatur
bagaimana caranya melaksanakan serta mempertahankan hak-hak dan
kewajiban-kewajiban perdata (Hukum Perdata Materiel), misalnya
Hukum Acara Perdata.
2. Perkara Hukum Perdata
Perkara perdata merupakan perkara mengenai perselisihan antara
kepentingan perseorangan atau antara kepentingan suatu badan pemerintah
dengan kepentingan perseorangan. misalnya perselisihan tentang perjanjian
jual beli, sewa menyewa, pembagian waris, dan hak milik. Pada proses
penyelesaian perkara perdata di pengadilan telah diatur dalam hukum acara
perdata. Hukum acara perdata atau hukum formil perdata adalah alat untuk
menyelenggarakan hukum materiil, sehingga hukum acara itu harus
digunakan sesuai dengan keperluan hukum materiil dan hukum acara tidak
boleh digunakan apabila bertentangan dengan hukum materiil.58
Menurut Abdulkadir Muhammad Perkara perdata dapat terjadi
karena pelanggaran terhadap hak seseorang, seperti diatur dalam hukum
57
Soediman Krtohadiprodjo, Pengantar Tata Hukum di Indonesia, (Jakarta: Ghalia
Indonesia, 1984), hlm. 72.
58
G. Wijers, Het Gezag van Gewijsde in Burgerlijke Landraad zaken, dalam Supomo,
Hukum Acara Perdata Pengadilan Negeri, (Jakarta: Pradnya Paramita, 2000), hlm. 10.
40
perdata. Pelanggaran hak seseorang itu dapat terjadi karena perbuatan
melawan hukum yang menimbulkan kerugian bagi orang lain, seperti diatur
dalam undang-undang atau karena wanprestasi, yaitu tidak memenuhi
kewajiban dalam pelaksanaan kontrak yang menimbulkan kerugian bagi
orang lain. kerugian yang timbul itu dapat berupa kerugian materil,
misalnya kerusakan atas barang atau berupa kerugian imaterial, misalnya
kehilangan hak menikmati barang atau pencemaran nama baik. Pelanggaran
hak seseorang itu dapat terjadi karena kesengajaan atau karena kelalaian.
Pada perkara perdata, inisiatif berperkara datang dari pihak yang dirugikan.
Karena itu, pihak yang yang dirugikan mengajukan perkaranya ke
pengadilan untuk memperoleh penyelesaian berupa pemulihan, penggantian
kerugian, dan menghentikan perbuatan yang merugikan itu.59
Penyelesaian perkara perdata memiliki solusi bisa penyelesaian
melalui jalur litigasi atau nonlitigasi. Kebanyakan orang lebih banyak
menggunakan metode litigasi Pengadilan daripada metode nonlitigasi.
Namun, penyelesaian konflik hukum perdata melalui jalur mediasi
menggunakan layanan mediator bersertifikat atau melibatkan lembaga
khusus yang menangani dan menyelesaikan sengketa perdata di luar
pengadilan adalah lebih efisien, murah, dan adil.60
59
Abdulkadir Muhammad. Hukum Perdata Indonesia, (Bandung: Citra Aditya Sakti,
1990), hlm. 19-20.
60
Jaidun, dan Syaharie Jaang, Alternatif Penyelesaian Sengketa Perdata Di Pengadilan.
Jurnal Ilmu Hukum. Universitas Widya Gama Mahakam Samarinda, Indonesia. Vol 16. No. 2
(2024), hlm. 204.
41
BAB III
PEMBAHASAN
Penelitian yang penulis lakukan bertujuan untuk meneliti bagaimana
bantuan hukum nonlitigasi yang diberikan oleh Jaksa Pengacara Negara, dan
untuk mendukung hal tersebut. lokasi penelitian yang penulis ajukan sebagai
tempat untuk penelitian untuk memperoleh data fisik, serta wawancara bertempat
di Kejaksaan Negeri Palembang yang beralamat di Jalan Gubernur H. Bastari,
Jakabaring, Kota Palembang, Sumatera Selatan. Melaksanakan tugas penuntutan
tindak pidana umum dan khusus, serta menyelesaikan perkara perdata dan tata
usaha negara merupakan fungsi dan peranan Kejaksaan Negeri Palembang dalam
melaksanakan tugasnya. Dalam menjalankannya Kejaksaan Negeri Palembang
dipimpin oleh Kepala Kejaksaan Negeri dan dibawahnya terdapat struktural yang
membantu dalam proses kegiatan pekerjaan. Struktural ini dibagi menjadi 6
bagian yang dipimpin oleh Kepala Bagian/Seksi yang meliputi seksi tindak Pidana
umum, seksi tindak Pidana khusus, seksi Inteligen, seksi Perdata dan Tata Usaha
Negara, seksi tindak Badan Pemulihan Aset, dan bagian pembinaan.
Berikut struktur organisasi Kejaksaan Negeri Palembang dan struktur organisasi
seksi Perdata dan Tata Usaha Negara di Kejaksaan Negeri Palembang :
42
43
Bagan 1
Struktur Organisasi Kejaksaan Negeri Palembang
Sumber: Kejaksaan Negeri Palembang
44
Bagan 2
Struktur Organisasi Seksi Perdata dan Tata Usaha Negara di Kejaksaan
Negeri Palembang
Sumber: Bidang Perdata dan Tata Usaha Negara Kejaksaan Negeri Palembang
45
A. Proses Pelaksanaan Bantuan Hukum Nonlitigasi yang diberikan Jaksa
Pengacara Negara dalam Penyelesaian Perkara Perdata di Kejaksaan
Negeri Palembang
Dalam menjalankan tugas dan fungsinya dalam memberikan bantuan
hukum, Jaksa Pengacara Negara (JPN) harus terlebih dahulu menerima Surat
Kuasa Khusus. Surat ini memberikan wewenang khusus kepada JPN untuk
mewakili pihak yang memberikan kuasa, yang dalam hal ini adalah lembaga
negara, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Badan Usaha Milik Daerah
(BUMD), atau lembaga pemerintahan lainnya. Dengan adanya Surat Kuasa
Khusus, JPN dapat bertindak atas nama instansi yang diwakilinya dalam
berbagai proses hukum.
Berdasarkan wawancara dengan Ibu Rya Dilla Fitri, selaku Kepala
Seksi Perdata dan Tata Usaha Negara, dijelaskan bahwa tidak semua Jaksa
dapat bertugas sebagai Jaksa Pengacara Negara (JPN). Hanya jaksa tertentu
yang ditunjuk berdasarkan struktur organisasi dan diberikan kuasa khusus
untuk menjalankan peran sebagai JPN. Jaksa yang mendapatkan wewenang ini
bertanggung jawab dalam melaksanakan tugasdan fungsi di bidang perdata dan
tata usaha negara sesuai dengan ketentuan yang berlaku.61
Ibu Rya Dilla Fitri, selaku Kepala Seksi Perdata dan Tata Usaha
Negara, menjelaskan mekanisme yang harus dilakukan oleh Jaksa Pengacara
Negara (JPN) dalam memberikan bantuan hukum kepada klien, seperti
61
Hasil wawancara dengan ibu Rya Dilla Fitri. Kepala Seksi Perdata dan Tata Usaha
Negara Kejaksaan Negeri Palembang. Pada tanggal 25 Februari 2025.
46
lembaga pemerintah, BUMN, dan BUMD. Prosesnya dimulai dengan
pengajuan surat permohonan dari klien, disertai dengan pemberian Surat Kuasa
Khusus (SKK) kepada Kejaksaan Negeri Palembang. Setelah itu, Kepala
Kejaksaan Negeri Palembang akan menerbitkan Surat Kuasa Khusus Substitusi
yang diberikan kepada Kepala Seksi Perdata dan Tata Usaha Negara.
Selanjutnya, JPN melaksanakan tugasnya sesuai dengan ketentuan yang diatur
dalam Peraturan Jaksa Agung Nomor: 040/A/J.A/12/2010 tentang Standar
Operasional Prosedur (SOP) Pelaksanaan Tugas, Fungsi, dan Wewenang di
Bidang Perdata dan Tata Usaha Negara
Berikut alur proses bantuan hukum :
Bagan 3
Alur Proses Bantuan Hukum
Sumber: Bagian Perdata dan TUN Kejari Palembang Tahun 2025
47
Dalam menjalankan bantuan hukum, Jaksa Pengacara Negara (JPN)
harus berpedoman pada Standar Operasional Prosedur (SOP) yang telah
ditetapkan. Tugas utama JPN dalam perkara perdata dan tata usaha negara
adalah mewakili lembaga negara, instansi pemerintah baik di tingkat pusat
maupun daerah, serta BUMN dan BUMD. Wewenang ini diberikan melalui
Surat Kuasa Khusus (SKK), yang memungkinkan JPN bertindak sebagai
penggugat/pemohon maupun tergugat/termohon dalam penyelesaian perkara,
baik melalui jalur litigasi maupun nonlitigasi.
Berikut alur prosedur pemberian bantuan hukum secara non litigasi (diluar
pengadilan):
1. Penerimaan Surat Kuasa Khusus
Lembaga negara, lembaga pemerintah, BUMN, dan BUMD yang
memerlukan bantuan hukum harus mengajukan surat permohonan kepada
Kejaksaan. Permohonan ini bertujuan agar Kejaksaan dapat bertindak
sebagai pengacara, baik dalam posisi penggugat/pemohon maupun
tergugat/termohon, dalam perkara perdata atau tata usaha negara yang
sedang dihadapi. Pengajuan ini harus disertai dengan Surat Kuasa Khusus
(SKK) yang memberikan hak substitusi dari negara atau pemerintah kepada
Kejaksaan, serta dokumen pendukung lainnya yang berkaitan dengan
perkara tersebut.
2. Penunjukan Jaksa Pengacara Negara
Jaksa Pengacara Negara (JPN) ditunjuk dan ditetapkan oleh Kepala
Kejaksaan melalui penerimaan Surat Kuasa Khusus yang di dalamnya
48
mencakup hak substitusi. Penunjukan ini dilakukan dengan melampirkan
surat kuasa yang diberikan oleh Kepala Kejaksaan sebagai dasar resmi bagi
JPN dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya.
3. Proses Penyelesaian Perkara Nonlitigasi
Secara umum, setiap perkara perdata diupayakan untuk diselesaikan terlebih
dahulu melalui jalur nonlitigasi (di luar pengadilan). Jika upaya tersebut
tidak membuahkan hasil, barulah perkara dilanjutkan ke jalur litigasi
(pengadilan). Berikut adalah prosedur pelaksanaan penyelesaian perkara
perdata melalui jalur nonlitigasi:
a. Proses Negosiasi serta Penandatanganan Memorandum Of
Understanding (MOU)
Tahap negosiasi dan penandatanganan Memorandum of Understanding
(MOU) merupakan langkah awal dalam proses pemberian bantuan
hukum nonlitigasi. Pada tahap ini, pihak penggugat/pemohon dan
tergugat/termohon dipertemukan dengan pendampingan Jaksa Pengacara
Negara yang bertugas untuk memfasilitasi negosiasi guna mencari solusi
terbaik dan mencapai kesepakatan atas permasalahan yang dihadapi. Jika
negosiasi berjalan dengan baik dan menghasilkan kesepakatan, maka
proses dilanjutkan dengan penandatanganan MOU dalam bentuk
dokumen tertulis yang ditandatangani oleh kedua belah pihak serta Jaksa
Pengacara Negara sebagai perwakilan kuasa yang mewakili
penggugat/pemohon atau tergugat/termohon. Namun, apabila proses
nonlitigasi tidak membuahkan hasil dan kesepakatan tidak tercapai, maka
49
penyelesaian perkara dapat dilanjutkan ke tahap berikutnya melalui jalur
litigasi di pengadilan.
b. Proses Penyusunan Akta Perdamaian
Tahap negosiasi dan penandatanganan Memorandum of Understanding
(MOU) merupakan langkah awal dalam proses pemberian bantuan
hukum nonlitigasi. Pada tahap ini, pihak penggugat/pemohon dan
tergugat/termohon dipertemukan dengan pendampingan Jaksa Pengacara
Negara yang bertugas untuk memfasilitasi negosiasi guna mencari solusi
terbaik dan mencapai kesepakatan atas permasalahan yang dihadapi. Jika
negosiasi berjalan dengan baik dan menghasilkan kesepakatan, maka
proses dilanjutkan dengan penandatanganan MOU dalam bentuk
dokumen tertulis yang ditandatangani oleh kedua belah pihak serta Jaksa
Pengacara Negara sebagai perwakilan kuasa yang mewakili
penggugat/pemohon atau tergugat/termohon. Namun, apabila proses
nonlitigasi tidak membuahkan hasil dan kesepakatan tidak tercapai, maka
penyelesaian perkara dapat dilanjutkan ke tahap berikutnya melalui jalur
litigasi di pengadilan.
c. Proses Penandatanganan Akta Perdamaian
Penandatanganan akta perdamaian dapat dilakukan oleh kedua belah
pihak jika akta tersebut dibuat secara di bawah tangan, dengan syarat
harus disaksikan oleh minimal dua orang saksi. Namun, jika akta
perdamaian disusun dalam bentuk akta notaris, maka agar memiliki
kekuatan eksekutorial yang mengikat sebagaimana Undang-Undang, akta
50
tersebut harus didaftarkan di kepaniteraan pengadilan. Pendaftaran
dilakukan di pengadilan yang berada dalam wilayah hukum tempat Jaksa
Pengacara Negara menjalankan tugasnya. Setelah proses pendaftaran
selesai, akta perdamaian memiliki kekuatan hukum yang sah dan dapat
dilaksanakan oleh kedua belah pihak sesuai dengan isi kesepakatan yang
telah disetujui.
Berdasarkan alur Standar Operasional Prosedur (SOP) yang telah
dijelaskan, dapat disimpulkan bahwa proses pemberian bantuan hukum
dilakukan secara sistematis dan terstruktur. Hal ini dibuktikan dengan
banyaknya perkara bantuan hukum nonlitigasi yang berhasil ditangani oleh
Jaksa Pengacara Negara di Kejaksaan Negeri Palembang, menunjukkan bahwa
prosedur yang diterapkan berjalan dengan baik dan sesuai dengan ketentuan
yang berlaku.
Berikut data bantuan hukum nonlitigasi di Kejaksaan Negeri Palembang :
Tabel 1
Data Bantuan Hukum Nonlitigasi di Kejaksaan Negeri Palembang
Tahun Jenis Masuk Selesai Sisa Keterangan
Perkara
2022 Perdata 93 23 70 Proses
Nonlitigasi
2023 Perdata 512 127 385 Proses
Nonlitigasi
51
2024 Perdata 325 44 281 Proses
Nonlitigasi
Sumber: Bagian Perdata dan TUN Kejari Palembang Tahun 2025
Kepala Seksi Perdata dan Tata Usaha Negara ibu Rya Dilla Fitri
mengemukakan bahwa Jaksa Pengacara Negara baru dapat menjalankan
tugasnya jika telah mendapatkan Surat Kuasa Khusus (SKK) yang memuat hak
substitusi, berdasarkan data pada tahun 2022 Surat Kuasa Khusus perkara
nonlitigasi terdapat 93 SKK yang diterbitkan, lalu ditutup sebanyak 23 SKK,
sehingga tersisa 70 SKK, total pemulihan keuangan negara sebesar Rp.
[Link]. dan pada tahun 2023 terdapat 512 Surat Kuasa Khusus yang
diterbitkan, dengan rincian SKK ditutup sebanyak 127 SKK, dan tersisa 385
SKK, total pemulihan keuangan negara naik dari tahun sebelumnya sebesar Rp.
[Link]. kemudian pada tahun 2024 terdapat 325 Surat Kuasa Khusus
yang diterbitkan, dan ditutup dengan 44 SKK, yang tersisa 281 SKK dengan
total pemulihan keuangan negara sebesar Rp. [Link].
Disamping itu kompetensi yang dimiliki oleh Jaksa Pengacara Negara
dalam melaksanakan bantuan hukum telah sesuai dengan SOP yang ada, hal ini
dibuktikan dalam beberapa perkara yang telah ditangani, melalui bantuan
hukum nonlitigasi yang diberikan kepada Jaksa Pengacara Negara dengan
Surat Kuasa Khusus atas peran sertanya dalam pencapaian target penerimaan
pajak 2022 pemulihan keuangan negara sebesar Rp. [Link],00.
Kemudian pada tahun 2023 terdapat perkara perdata yang ditangani oleh JPN
52
serta pada tahun 2024 Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) meminta upaya
bantuan hukum terkait penagihan piutang pajak daerah seperti pajak reklame,
pajak restoran hingga pajak hotel. Dari sinergitas antara Bapenda Kota
Palembang dengan pihak Kejaksaan khususnya bidang Perdata dan Tata Usaha
Negara Kejari Palembang telah berhasil memulihkan kerugian negara sebesar
Rp. 449.492.440.
Penyelesaian sengketa melalui jalur nonlitigasi dilakukan oleh Jaksa
Pengacara Negara melalui beberapa tahap meliputi, tahap negosiasi, tahap
penandatanganan kesepakatan atau nota, tahap penyususnan rumusan
perjanjian atau akta perdamaian, tahap penandatanganan perjanjian atau akta
perdamaian dan tahap pelaksanaan isi perjanjian.
B. Kendala yang Dihadapi Oleh JPN dalam Penyelesaian Perkara Perdata
melalui Bantuan Hukum Nonlitigasi di Kejaksaan Negeri Palembang
Jaksa Pengacara Negara, dalam konteks pemberian bantuan hukum, berfungsi
sebagai perwakilan resmi dari Kejaksaan, khususnya dalam ranah perdata dan
tata usaha negara. Tugas utama Jaksa Pengacara Negara adalah bertindak
sebagai kuasa hukum dalam proses penyelesaian perkara perdata dan tata usaha
negara yang melibatkan negara atau instansi pemerintah. Dalam
pelaksanaannya, untuk dapat mewakili klien, seorang Jaksa Pengacara Negara
harus memperoleh Surat Kuasa Khusus (SKK) yang diajukan oleh pihak yang
membutuhkan bantuan hukum. Klien yang dapat diwakili oleh Jaksa Pengacara
Negara adalah lembaga atau instansi pemerintah dan negara yang memiliki
kedudukan vertikal, seperti Badan Pertanahan Nasional, Kementerian
53
Kesehatan, dan berbagai lembaga negara lainnya yang menjalankan fungsi
administratif dan pengaturan publik.
Selain menjalankan tugas dalam penyelesaian dan penegakan hukum di
bidang perdata, kejaksaan juga memiliki kewenangan untuk menangani perkara
perdata dan tata usaha negara, yakni mewakili pemerintah serta negara dengan
tujuan menyelesaikan sengketa di bidang tersebut. Berdasarkan Pasal 30 ayat
(2) Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik
Indonesia, disebutkan bahwa dalam perkara perdata dan tata usaha negara,
kejaksaan dengan kuasa khusus berwenang bertindak baik di dalam maupun di
luar pengadilan atas nama negara dan pemerintah. Ketentuan ini memberikan
kejaksaan kewenangan khusus dalam menangani perkara perdata dan tata
usaha negara.
Soerjono Soekanto mengemukakan yang menjadi pokok persoalan dari
suatu penegakan hukum ialah mengenai faktor-faktor yang memperngaruhinya,
yaitu faktor hukum itu sendiri, faktor penegak hukum, faktor sarana atau
fasilitas, faktor masyarakat, dan faktor kebudayaan. Berikut ini akan diuraikan
yang mempengaruhi bantuan hukum perkara perdata nonlitigasi oleh Jaksa
Pengacara Negara di Kejaksaan Negeri Palembang yang akan diukur melalui
hukum yang mengatur, sumber daya manusia yang meliputi keterampilan Jaksa
Pengacara Negara.
1. Faktor Hukum
Merujuk pada teori ilmu hukum, disampaikan dengan jelas terkait
kaidah hukum yang terbagi ke dalam beberapa aspek sejarah mendalam
54
yang diharapkan hukum tersebut benar-benar merepresentasikan fungsi
untuk setiap kaidahnya yang mana harus mengantongi berbagai unsur
seperti filosofis, sosiologis dan tidak lupa yuridis. Maksud dari unsur
filosofis dikorelasikan dengan kesesuaian hukum sebagai bagian dari nilai
yang positif pada hukum tersebut, sementara unsur sosiologis bertalian kuat
pada suatu kaidah yang bisa dipaksakan perwujudannya oleh pihak
penguasa kendati penduduknya tidak bisa menerima secara komprehensif
atau dengan kata lain kaidah demikian berlaku karena ada validasi dari
pihak masyarakat, dan yang ketiga unsur yuridis menjadi penentu pada
kaidah yang kedudukannya lebih tinggi stratanya atau yang dibentuk dengan
pondasi yang sudah ditetapkan.
Dasar hukum yang menjadi patokan dalam pemberian bantuan
hukum ini adalah Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2011 tentang bantuan
hukum, kaidah hukum tersebut menghadirkan suatu ketetapan yang
mengarah pada pihak penegak hukum ketika merampungkan setiap perkara
yang ada. Sementara untuk representasi pelaksanaan amanah pihak jaksa
pengacara negara memegang teguh ketetapan konstitusi yang termuat dalam
Peraturan Kejaksaan Nomor 7 Tahun 2021 tentang pedoman pelaksanaan
penegakan hukum, bantuan hukum, pertimbangan hukum, tindakan hukum
lain, dan pelayanan hukum di bidang perdata dan tata usaha negara. Diatur
dalam BAB II mengenai bantuan hukum, bahwa jaksa pengacara negara
memberikan layanan bantuan hukum kepada Negara atau Pemerintah untuk
bertindak sebagai kuasa hukum berdasarkan Surat Kuasa Khusus. Serta
55
Peraturan Jaksa Nomor 040/A/JA/2010 mengenai Standar Operating
Prosedur (SOP) pelaksanaan tugas, fungsi, dan wewenang perdata dan tata
usaha negara.
Berdasarkan wawancara yang penulis lakukan bersama ibu Rya
Dilla Fitri, S.H., M.H. selaku Kepala Seksi Perdata dan Tata Usaha Negara,
Kaidah hukum memainkan peran krusial dalam memastikan apakah
pemberian bantuan hukum dapat terlaksana dengan baik atau tidak.
Peraturan perundang-undangan menjadi landasan utama yang mengatur dan
membimbing Jaksa Pengacara Negara dalam melaksanakan tugasnya
sebagai kuasa hukum bagi pemerintah dan negara. Dengan demikian,
bantuan hukum yang diberikan harus selaras dan sejalan dengan prinsip-
prinsip hukum yang berlaku, agar dapat memberikan kepastian hukum dan
keadilan yang sesuai dengan ketentuan yang ada.62
2. Faktor Penegak Hukum
Penegak hukum merupakan sumber daya manusia yang memainkan peran
penting sebagai penegak hukum, untuk mencapai tujuan yang telah
ditentukan sebelumnya, penegak hukum dalam hal ini adalah Jaksa
Pengacara Negara memiliki peranan penting yang ditunjang oleh beberapa
faktor, yaitu:
a. Kemampuan Jaksa Pengacara Negara
Setiap Jaksa Pengacara Negara harus memiliki keahlian dalam
menjalankan tugasnya, khususnya di bidang masing-masing, seperti
62
Hasil wawancara dengan ibu Rya Dilla Fitri. Kepala Seksi Perdata dan Tata Usaha
Negara Kejaksaan Negeri Palembang. Pada tanggal 25 Februari 2025.
56
pidana khusus, pidana umum, perdata dan tata usaha negara, barang
bukti, intelijen, serta pembinaan. Dalam bidang tata usaha negara, Jaksa
Pengacara Negara dituntut untuk memiliki keterampilan dalam
menangani perkara perdata dan tata usaha negara, baik dalam konteks
ketatanegaraan atas nama negara maupun demi kepentingan umum.
Keterampilan ini menjadi krusial ketika Jaksa Pengacara Negara
dibekali dengan kompetensi yang memadai, sehingga dapat menjalankan
tugasnya secara optimal. Kemampuan tersebut juga diperoleh melalui
pelatihan atau diklat yang bertujuan untuk meningkatkan kinerja saat
bertugas di kejaksaan sesuai dengan penempatannya.
b. Kompetensi Jaksa Pengacara Negara
Selain keahlian, kompetensi Jaksa Pengacara Negara turut
berperan dalam meningkatkan daya guna pemberian bantuan hukum
pada perkara perdata nonlitigasi, khususnya di bidang perdata dan tata
usaha negara di Kejaksaan Negeri Palembang. Jaksa Pengacara Negara
yang terlatih dengan baik dan memiliki pengetahuan yang memadai
sangat dibutuhkan dalam unit perdata dan tata usaha negara. Setiap
tanggung jawab yang diberikan harus dijalankan secara optimal.
Kompetensi sendiri mencakup empat karakteristik utama, yaitu
pengetahuan, keterampilan, perilaku, dan pengalaman. Keempat aspek
ini diperoleh melalui pelatihan atau diklat yang diikuti oleh Jaksa Muda,
sehingga dalam pelaksanaan tugasnya dapat sesuai dengan standar
operasional prosedur (SOP) yang berlaku.
57
Dalam menjalankan tugas memberikan bantuan hukum, Jaksa Pengacara
Negara (JPN) berpegang pada prinsip-prinsip yang harus diterapkan. Salah
satunya adalah profesionalisme dalam menjalankan tugas, di mana JPN wajib
memberikan bantuan hukum sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam
Surat Kuasa Khusus serta menjalankan kewenangan yang telah ditetapkan.
Selain itu, dalam melaksanakan tugasnya, JPN harus bekerja secara optimal
dan memastikan kualitas layanan hukum yang diberikan, terutama dalam aspek
kompetensi terkait hukum materiil dan formil di bidang perdata serta tata usaha
negara. Selain itu, integritas juga menjadi aspek fundamental yang harus
dijaga, dengan menghindari segala bentuk pelanggaran hukum maupun etika
selama proses pemberian bantuan hukum berlangsung.
Berdasarkan hasil penelitian wawancara bersama Kepala Seksi Perdata
dan Tata Usaha Negara Kejaksaan Negeri Palembang, ibu Rya Dilla Fitri
bahwa penegak hukum di Kejaksaan Negeri Palembang terutama dalam
pemberian bantuan hukum, seorang Jaksa Pengacara Negara dibekali oleh
pengetahuan, kompetensi, serta keterampilan. Ketiga hal tersebut diperoleh
dari pelatihan dan diklat yang dijalani, sehingga JPN dapat menjalankan tugas
sesuai dengan SOP yang berlaku. Di Kejaksaan Negeri Palembang JPN telah
bekerja sesuai dengan kompetensi yang ada, hal ini dibuktikan dengan
banyaknya perkara perdata dan tata usaha negara yang telah ditangani dengan
baik periode 2022, 2023, dan 2024 sebanyak 194 perkara nonlitigasi.63Dari
fungsi penegak hukum yang terkait ialah fungsi Jaksa Pengacara Negara dalam
63
Hasil wawancara dengan ibu Rya Dilla Fitri. Kepala Seksi Perdata dan Tata Usaha
Negara Kejaksaan Negeri Palembang. Pada tanggal 25 Februari 2025.
58
rangka menegakan hukum pada perkara perdata nonlitigasi di Kejaksaan
Negeri Palembang dengan memberikan bantuan hukum sesuai dengan
Peraturan Jaksa Nomor 040/A/JA/2010 mengenai Standar Operating Prosedur
(SOP) pelaksanaan tugas, fungsi, dan wewenang perdata dan tata usaha negara.
3. Faktor Sarana atau Fasilitas Pendukung
Kondisi fasilitas menjadi faktor penting dalam menilai dari segi
kelengkapan, jumlah, serta fungsi peralatan yang dibutuhkan untuk
mendukung dan mempermudah pelaksanaan bantuan hukum dalam perkara
perdata nonlitigasi di Kejaksaan Negeri Palembang. Agar manfaat dari
fasilitas tersebut dapat dioptimalkan, Kejaksaan Negeri Palembang perlu
memastikan ketersediaan serta kualitas sarana yang menunjang proses
pemberian bantuan hukum di bidang perdata nonlitigasi. Berikut ini adalah
gambaran kondisi fasilitas yang tersedia di Kejaksaan Negeri Palembang,
khususnya di Bidang Perdata dan Tata Usaha Negara:
Tabel 1 Data Fasilitas Seksi Perdata dan Tata Usaha Negara di
Kejaksaan Negeri Palembang
Fasilitas Jumlah
Alat Scan 2
Komputer 4
Meja Kerja 4
Lemari 2
Ruang Rapat 1
TV LED 2
59
Rak Besi 1
Sumber: Bagian Perdata dan TUN Kejari Palembang Tahun 2025
Berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala Seksi Perdata dan Tata
Usaha Negara, Ibu Rya Dilla Fitri, beliau menjelaskan bahwa fasilitas dan
sarana memiliki peran krusial dalam proses pemberian bantuan hukum pada
perkara perdata. Dalam pelaksanaannya, berbagai dokumen penting, seperti
Memorandum of Understanding (MoU), Legal Opinion, dan dokumen
hukum lainnya, harus diketik dan disusun dengan baik. Oleh karena itu,
keberadaan perangkat pendukung seperti komputer dan printer menjadi
kebutuhan utama guna memperlancar proses tersebut. Diiringi dengan
lemari dan rak besi yang selama ini memang dibutuhkan untuk pengarsipan
dokumen. Selanjutnya dalam hal sarana, yaitu ruang kerja datun memang
tidak terlalu luas, namun hal ini tidak mengganggu jalannya proses
pekerjaan, karena pegawai yang ada di seksi datun tidak terlalu banyak,
sekitar 12 pegawai tetap, meliputi 1 kepala sub seksi perdata dan tata usaha
negara, 1 kepala sub seksi Pertimbangan Hukum, 2 Jaksa Pengacara Negara,
8 staff perdata dan tata usaha negara dan 1 merupakan pegawai honorer.64
Sejalan dengan pernyataan Ibu Dian Febriani, selaku Jaksa
Pengacara Negara, fasilitas yang tersedia di Seksi Perdata dan Tata Usaha
Negara dinilai sudah memadai. Hal ini dibuktikan dengan kelancaran proses
pekerjaan tanpa hambatan yang signifikan, meskipun terkadang muncul
64
Hasil wawancara dengan ibu Rya Dilla Fitri. Kepala Seksi Perdata dan Tata Usaha
Negara Kejaksaan Negeri Palembang. Pada tanggal 25 Februari 2025.
60
kendala kecil, seperti kehabisan kertas, tinta printer, atau perlengkapan alat
tulis kantor lainnya, permasalahan tersebut dapat segera diatasi berkat
dukungan inventaris yang disediakan oleh bagian umum.65
Berdasarkan data yang diperoleh, fasilitas pendukung untuk
pemberian bantuan hukum telah tersedia dengan cukup memadai. Hal ini
ditunjukkan dengan adanya lemari dan rak besi yang digunakan untuk
menyimpan dokumen-dokumen penting terkait dengan penegakan hukum,
bantuan hukum, perlindungan hukum, serta pelayanan hukum. Selain itu,
terdapat pula perangkat komputer dan printer yang berperan dalam
penyusunan serta pencetakan dokumen-dokumen esensial, seperti berkas
acara perkara perdata. Dalam rangka mendukung kelancaran proses
pemberian bantuan hukum, Seksi Perdata dan Tata Usaha Negara juga
dilengkapi dengan ruang rapat yang mampu menampung sekitar 8 hingga 10
orang. Ruangan ini dilengkapi dengan meja rapat serta sebuah TV LED
yang berfungsi sebagai sarana bagi Jaksa Pengacara Negara untuk
memberikan penjelasan sebelum memulai tugas, baik dalam lingkup Seksi
Perdata dan Tata Usaha Negara maupun dalam pemaparan kepada pihak
yang terlibat dalam perkara. Fasilitas ini memungkinkan penyampaian
informasi terkait proses hukum yang berlaku dapat dilakukan dengan lebih
baik dan sistematis.66
4. Faktor Masyarakat
65
Hasil wawancara dengan ibu Dian Febriani. Jaksa Pengacara Negara Kejaksaan Negeri
Palembang. Pada tanggal 25 Februari 2025.
66
Hasil wawancara dengan ibu Rya Dilla Fitri. Kepala Seksi Perdata dan Tata Usaha
Negara Kejaksaan Negeri Palembang. Pada tanggal 25 Februari 2025.
61
Faktor dari masyarakat menjadi salah satu elemen penting yang
memengaruhi peran dan pelaksanaan bantuan hukum non-litigasi oleh Jaksa
Pengacara Negara (JPN). Kondisi dan keterlibatan masyarakat sering kali
berperan dalam menentukan sejauh mana proses bantuan hukum dapat
berjalan dengan lancar, terutama dalam hal komunikasi, pemberian data
pendukung, serta implementasi hasil pertimbangan hukum dari JPN. Salah
satu hambatan yang paling sering ditemui adalah kurangnya pemahaman
hukum yang memadai di kalangan masyarakat dan bahkan aparatur
pemerintahan.
Menurut Ibu Dian Febriani, selaku Jaksa Pengacara Negara Kejaksaan
Negeri Palembang, pemahaman masyarakat mengenai bantuan hukum
sangat penting untuk kepentingan mereka sendiri, tidak sedikit yang masih
belum memahami batas kewenangan JPN dan mengira bahwa jaksa dapat
memberikan bantuan hukum untuk permasalahan perdata pribadi, seperti
konflik keluarga, sengketa utang piutang, atau warisan. Padahal, JPN hanya
bertugas mewakili institusi negara atau pemerintah dalam rangka
melindungi kepentingan negara sesuai dengan Pasal 30 ayat (2) Undang-
Undang Nomor 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia,
disebutkan bahwa dalam perkara perdata dan tata usaha negara, kejaksaan
dengan kuasa khusus berwenang bertindak baik di dalam maupun di luar
pengadilan atas nama negara dan pemerintah.67
67
Hasil wawancara dengan ibu Dian Febriani. Jaksa Pengacara Negara Kejaksaan Negeri
Palembang. Pada tanggal 25 Februari 2025.
62
Berdasarkan wawancara yang dilakukan dengan Ibu Rya Dilla Fitri,
selaku Kepala Seksi Perdata dan Tata Usaha Negara, di sisi lain, ekspektasi
yang terlalu tinggi dari masyarakat terhadap Kejaksaan juga menjadi
kendala. Ada anggapan bahwa JPN akan menyelesaikan persoalan secara
cepat dan otomatis berpihak kepada pemohon, tanpa memahami bahwa JPN
bekerja berdasarkan peraturan perundang-undangan dan mengedepankan
objektivitas demi kepentingan negara, bukan kepentingan perseorangan.
Persepsi yang keliru ini sering kali menimbulkan rasa kecewa ketika
kenyataan tidak sesuai dengan harapan masyarakat. Secara keseluruhan,
dapat dikatakan bahwa masyarakat memiliki peran penting dalam
mendukung keberhasilan bantuan hukum non-litigasi oleh JPN. Oleh karena
itu, peningkatan literasi hukum, partisipasi aktif dalam program edukatif,
dan pemahaman yang benar mengenai tugas serta fungsi JPN perlu terus
ditingkatkan agar bantuan hukum yang diberikan dapat berjalan baik dan
tepat sasaran.68
5. Faktor Kebudayaan
Kebudayaan memiliki peran penting dalam mengatur kehidupan
masyarakat, membantu mereka dalam bertindak, bersikap, dan berinteraksi
dengan orang lain. Di Indonesia, kebudayaan pada dasarnya berlandaskan
hukum adat yang berlaku di masyarakat. Hal ini karena budaya hukum
mencerminkan perilaku serta kebiasaan yang diterapkan dalam kehidupan
sehari-hari. Dalam menjalankan tugas, fungsi, dan perannya, Jaksa
68
Hasil wawancara dengan ibu Rya Dilla Fitri. Kepala Seksi Perdata dan Tata Usaha
Negara Kejaksaan Negeri Palembang. Pada tanggal 25 Februari 2025.
63
Pengacara Negara tetap berpedoman pada budaya hukum yang berkembang
di masyarakat. Dengan memahami dan menghormati budaya hukum yang
ada, Jaksa Pengacara Negara dapat menjalankan tugasnya secara lebih
efektif dan sesuai dengan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh masyarakat.
Berdasarkan wawancara yang dilakukan dengan Ibu Rya Dilla Fitri,
selaku Kepala Seksi Perdata dan Tata Usaha Negara, diketahui bahwa
budaya dan masyarakat memiliki hubungan yang sangat erat. Budaya
membentuk perilaku masyarakat, sementara masyarakat menjalankan
perilaku yang didasarkan pada hukum adat yang berasal dari budaya yang
telah mengakar, hubungan ini tidak hanya berlaku bagi masyarakat, tetapi
juga bagi Jaksa Pengacara Negara. Dengan menjalankan tugas sesuai
dengan budaya serta hukum yang berlaku, Jaksa Pengacara Negara dapat
memberikan bantuan hukum kepada masyarakat, pemerintah, dan negara
secara lebih baik. Sikap dan tindakan yang selaras dengan budaya serta
aturan hukum akan membantu memastikan bahwa proses pemberian
bantuan hukum berjalan dengan lancar dan sesuai dengan ketentuan yang
ada.69
Sejalan dengan Ibu Dian Febriani, selaku Jaksa Pengacara Negara
Kejaksaan Negeri Palembang, budaya memiliki peran yang sama
pentingnya dengan masyarakat dalam membentuk aturan yang berlaku.
Hukum adat yang berasal dari kebudayaan masyarakat dapat membantu
Jaksa Pengacara Negara dalam menjalankan tugasnya. Dengan memahami
69
Hasil wawancara dengan ibu Rya Dilla Fitri. Kepala Seksi Perdata dan Tata Usaha
Negara Kejaksaan Negeri Palembang. Pada tanggal 25 Februari 2025.
64
hukum adat, Jaksa Pengacara Negara dapat bersikap lebih bijak dan
memberikan pelayanan yang lebih baik dalam membantu masyarakat. Hal
ini membuat proses pemberian bantuan hukum menjadi lebih baik dan
sesuai dengan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat.70
Kebudayaan yang berasal dari masyarakat terbentuk melalui
kebiasaan yang dilakukan secara terus-menerus. Sikap dan perilaku
masyarakat yang diwariskan dari generasi ke generasi menjadi bagian dari
budaya yang diterapkan dalam hukum adat. Hukum adat ini tetap bertahan
dan tercermin dalam kehidupan masyarakat hingga saat ini. Dalam
menjalankan tugasnya, khususnya di Kejaksaan Negeri Palembang, Jaksa
Pengacara Negara turut menerapkan nilai-nilai budaya tersebut. Dengan
memahami dan menghormati hukum adat yang berlaku di masyarakat,
mereka dapat memberikan bantuan hukum dengan lebih baik. Pendekatan
ini tidak hanya membantu masyarakat dalam memahami hak-hak
hukumnya, tetapi juga memastikan bahwa bantuan hukum yang diberikan
sesuai dengan nilai-nilai sosial dan budaya yang dianut oleh masyarakat
setempat.
Berdasarkan analisis penulis terhadap hasil penelitian, proses pemberian
bantuan hukum oleh Jaksa Pengacara Negara di Kejaksaan Negeri Palembang
berjalan dengan baik. Hal ini karena pelaksanaannya sudah sesuai dengan
Standar Operasional Prosedur (SOP) yang berlaku. Selain itu, proses ini juga
telah memenuhi faktor-faktor penting dalam penegakan hukum menurut
70
Hasil wawancara dengan ibu Dian Febriani. Jaksa Pengacara Negara Kejaksaan Negeri
Palembang. Pada tanggal 25 Februari 2025.
65
Soerjono Soekanto, yaitu faktor hukum, aparat penegak hukum, sarana dan
fasilitas, masyarakat, serta kebudayaan. Meskipun belum sepenuhnya
sempurna, terutama dalam faktor masyarakat yang masih menghadapi kendala
terkait kesadaran hukum, faktor-faktor lainnya telah terpenuhi dengan baik.
Jaksa Pengacara Negara dalam memberikan bantuan hukum tidak
selamanya berjalan dengan baik, kendala pada saat proses bantuan hukum
menjadi tantangan tersendiri yang harus dihadapi oleh JPN. Berdasarkan hasil
penelitian dan wawancara yang penulis lakukan bersama ibu Dian Febriani di
Kejaksaan Negeri Palembang, terdapat beberapa kendala yang dihadapi oleh
jaksa pengacara negara dalam penerapan bantuan hukum nonlitigasi yang
diberikan.71
1. Rendahnya Kesadaran Hukum
Salah satu hambatan yang berasal dari faktor masyarakat adalah
rendahnya tingkat pemahaman hukum, baik di kalangan masyarakat umum
maupun aparatur pemerintahan yang menjadi pemohon bantuan hukum.
Banyak dari mereka belum sepenuhnya memahami prosedur, ruang lingkup,
dan batas kewenangan Jaksa Pengacara Negara (JPN) dalam memberikan
bantuan hukum non-litigasi. Hal ini sering menyebabkan permohonan
diajukan tanpa kelengkapan dokumen yang memadai atau tidak sesuai
dengan peraturan yang berlaku, sehingga memperlambat proses tindak
lanjut oleh JPN. Di samping itu, masih ada pandangan keliru yang
menganggap JPN sebagai pembela individu atau lembaga tertentu, padahal
71
Hasil wawancara dengan ibu Dian Febriani. Jaksa Pengacara Negara Kejaksaan Negeri
Palembang. Pada tanggal 25 Februari 2025.
66
JPN bekerja atas dasar perlindungan terhadap kepentingan negara, sesuai
dengan Pasal 30 ayat (2) Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2004 tentang
Kejaksaan Republik Indonesia, disebutkan bahwa dalam perkara perdata
dan tata usaha negara, kejaksaan dengan kuasa khusus berwenang bertindak
baik di dalam maupun di luar pengadilan atas nama negara dan pemerintah.
Rendahnya literasi hukum ini turut mempersulit komunikasi serta sinergi
dalam proses penyelesaian masalah hukum secara nonlitigasi.
2. Lemahnya Data dari Klien
Data diperlukan sebagai bukti bahwa adanya permasalahan yang
terjadi pada suatu perkara, jika data yang ada tidak sesuai atau bahkan tidak
lengkap maka akan membuat pelapor ataupun terlapor dalam situasi yang
mengambang. Hal ini disebabkan karena lemahnya data yang diberikan,
sehingga membuat proses pemberian bantuan hukum kurang maksimal.
Tentunya Jaksa Pengacara Negara mengharapkan data ataupun dokumen
yang diberikan oleh klien harus lengkap dan jelas untuk membantu jalannya
perkara hukum. Data serta dokumen yang dapat dikatakan lemah adalah
data yang tidak memiliki kekuatan hukum yang mengikat antara pihak
tergugat/termohon dan penggugat/pemohon, seperti tidak adanya surat
perjanjian (dokumen) yang ditanda tangani kedua belah pihak atau data
yang valid menganai sengketa yang terjadi.
3. Kapasitas tenaga kerja rendah.
Permintaan terhadap bantuan hukum non-litigasi terus meningkat,
terutama dari instansi pemerintah pusat, daerah, BUMN, dan BUMD,
67
seiring tumbuhnya kesadaran akan pentingnya telaah hukum maupun
pendampingan kontrak. Namun, jumlah Jaksa Pengacara Negara (JPN) yang
tersedia belum memadai untuk mengakomodasi seluruh permintaan tersebut
secara optimal, sehingga beberapa permohonan harus antre atau bahkan
tidak dapat ditindaklanjuti. Selain itu, tidak semua jaksa memiliki
kompetensi khusus dalam bidang hukum perdata dan tata usaha negara,
karena sebagian besar berasal dari latar belakang pidana umum. Di banyak
satuan kerja, seperti Kejaksaan Negeri, sering kali hanya terdapat satu atau
dua JPN yang harus menangani berbagai bentuk bantuan hukum secara
bersamaan, mulai dari pemberian pendapat hukum, pendampingan, hingga
audit hukum. Keterbatasan tenaga profesional ini berdampak pada kualitas
dan kecepatan layanan hukum, serta berpotensi menimbulkan keterlambatan
dalam penyelesaian sengketa maupun pendampingan proyek pemerintah.
Berdasarkan kendala yang dialami oleh Jaksa Pengacara Negara di
Kejaksaan Negeri Palembang diatas, hal tersebut membuktikan bahwa dalam
pelaksanaannya, bantuan hukum nonlitigasi tidak selalu berjalan dengan baik,
adanya kendala tersebut menjadi pengaruh terhadap proses bantuan hukum
nonlitigasi yaitu negosiasi yang berjalan, namun tidak turut mengurangi kinerja
dari Jaksa Pengacara Negara.
Menurut Analisa penulis terkait bantuan hukum nonlitigasi yang
diberikan oleh Jaksa Pengacara Negara pada bidang perdata di Kejaksaan
Negeri Palembang, dapat dikatakan belum cukup baik, karena terdapat satu
faktor yang mempengaruhi peran JPN dalam menyelesaikan bantuan hukum
68
nonlitigasi yang diberikan, yaitu terkadang kesadaran hukum kalangan
masyarakat umum maupun aparatur pemerintahan yang menjadi termohon
bantuan hukum lalai dengan tidak menghadiri pertemuan antara JPN, sehingga
membuat Jaksa Pengacara Negara lebih berusaha dengan melayangkan surat
panggilan kepada termohon agar dapat menghadiri pertemuan tersebut. Dan
jika tergugat/termohon masih lalai, maka termohon dianggap tidak kooperatif
menjalani proses negosiasi, dan penyelesaian kasus dapat dinaikan
menggunakan jalur pengadilan (litigasi).
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pembahasan yang telah dibahas pada bab
terdahulu, maka penulis dapat menarik kesimpulan:
1. Dalam proses bantuan hukum nonlitigasi, Jaksa Pengacara Negara di
Kejaksaan Negeri Palembang telah melaksanakan tugas dan fungsinya
sesuai dengan Standar Operational Prosedur (SOP) yang berlaku menurut
Peraturan Jaksa Nomor 040/A/JA/2010 mengenai Standar Operating
Prosedur (SOP) pelaksanaan tugas, fungsi, dan wewenang perdata dan tata
usaha negara. Berdasarkan hasil penelitian dan wawancara bersama Kepala
Seksi Perdata dan Tata Usaha Negara Kejaksaan Negeri Palembang dan
Jaksa Pengacara, pemberian bantuan hukum nonlitigasi telah dilakukan
dengan baik terhitung dari tahun 2022 sebanyak 23 SKK, tahun 2023
sebanyak 127 SKK, dan tahun 2024 sebanyak 44 SKK.
2. Bantuan hukum yang diberikan oleh Jaksa Pengacara Negara di Kejaksaan
Negeri Palembang dapat dikatakan belum maksimal walaupun telah
memenuhi 5 faktor hukum menurut Soerjono Soekanto yang terdiri dari
faktor hukum, faktor penegak hukum, faktor fasilitas dan sarana, faktor
masyarakat dan faktor kebudayaan, masih terdapat kendala yang dialami
oleh Jaksa Pengacara Negara, yaitu :
69
70
1. Rendahnya kesadaran hukum baik dari kalangan masyarakat umum
maupun aparatur pemerintahan yang menjadi pemohon bantuan hukum.
2. Lemahnya Data dari Klien
3. Kapasitas tenaga kerja yang rendah
B. Saran
Berdasarkan kesimpulan tersebut, maka penulis memberikan saran
sebagai berikut:
1. Jaksa Pengacara Negara di Kejaksaan Negeri Palembang diharapkan dapat
lebih aktif dalam memberikan penyuluhan hukum terkait bantuan hukum
nonlitigasi kepada masyarakat, instansi pemerintah, BUMN, maupun
BUMD sebagai pihak penerima layanan. Penyuluhan ini bertujuan agar
pihak-pihak tersebut dapat memahami secara menyeluruh prosedur
pemberian bantuan hukum, sehingga ketika mereka menghadapi perkara
perdata, mereka sudah memiliki pemahaman dasar yang memadai.
2. Diharapkan hambatan yang selama ini dihadapi oleh Jaksa Pengacara
Negara dalam menjalankan tugasnya di Kejaksaan Negeri Palembang dapat
diminimalkan apabila masyarakat serta instansi terkait mendapatkan edukasi
hukum yang mencakup pula kendala yang dihadapi oleh JPN dalam
pemberian bantuan hukum. Dengan adanya penyuluhan yang komprehensif,
para klien akan lebih siap saat menghadapi persoalan perdata, serta turut
membantu Jaksa Pengacara Negara dalam mengatasi kendala yang timbul
dalam proses bantuan hukum nonlitigasi.
DAFTAR PUSTAKA
Buku
Abdulkadir Muhammad. 1990. Hukum Perdata Indonesia. Bandung: Citra Aditya
Sakti.
Amiruddin dan Zainal Asikin. 2008. Pengantar Metode Penelitian Hukum.
Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Dahlan Sinaga. 2017. Kemandirian dan Kebebasan Hakim Memutus Perkara
Pidana Dalam Negara Hukum Pancasila: Suatu Perspektif Teori
Keadilan Bermartabat. Bandung: Nusa Media.
Djoko Prakoso. 2005. Eksistensi Jaksa Ditengah Tengah Masyarakat. Jakarta :
Ghalia Indonesia.
G. Wijers, Het Gezag van Gewijsde in Burgerlijke Landraad zaken, dalam
Supomo. 2000. Hukum Acara Perdata Pengadilan Negeri. Jakarta:
Pradnya Paramita.
Jonaedi Efendi dan Johnny Ibrahim. 2016. Metode Penelitian Hukum Normatif
dan Empiris. Jakarta: Kencana.
Ketut Swarjana. 2022. Populasi-Sampel, Teknik dan Sampling dalam Penelitian.
Yogyakarta: Andi.
Laden Marpaung. 2009. Penanganan Perkara Pidana. Jakarta: Sinar Grafika.
Lusia Evy. 2013. Peran Jaksa Pengacara Negara Dalam Penanganan Perkara
Perdata. Yogyakarta: Genta Press.
Marwan Effendi. 2005. Kejaksaan RI: Posisi Dan Fungsinya Dari Perspektif
Hukum. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Mukti Fajar dan Yulianto Achmad. 2010. Dualisme Penelitian Hukum Empiris &
Normatif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
P.N.H. Simanjuntak. 2021. Hukum Perdata Indonesia. Jakarta: Kencana.
R.M Surachman dan Andi Hamzah. 1996. Jaksa di Berbagai Negara, Peranan
dan Kedudukannya. Sinar Grafika.
71
72
Satjipto Rahardjo. 1979. Hukum dan Perubahan Sosial. Bandung: Alumni.
Soediman Krtohadiprodjo. 1984. Pengantar Tata Hukum di Indonesia. Jakarta:
Ghalia Indonesia.
Soerjono Soekanto. 2002. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali Press.
------------. 2007. Faktor- Faktor Yang Mempengaruhi Penegakkan Hukum.
Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
------------. 2015. Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat. Jakarta:
Rajawali Pers.
Soekanto. 2012. Pengantar Penelitian Hukum. Jakarta: Universitas Indonesia.
Subekti. 1995. Pokok-Pokok Hukum Perdata. Jakarta: Intermasa
Sudikno Mertokusumo. 1986. Mengenal Hukum Suatu Pengantar. Yogyakarta:
Liberty.
Sri Soedewi Masjchoen Sofwan. 1981. Hukum Perdata: Hukum Benda.
Yogyakarta: Liberty.
Sri Soemantri. 1992. Bunga Rampai Hukum Tata Negara Indonesia. Bandung:
Alumni.
Tim MaPPI-FHUI. 2015. Bunga Rampai Kejaksaan Republik Indonesia. Depok:
Badan Penerbit Fakultas Hukum Universitas Indonesia.
Todung Mulya Lubis. 1986. Bantuan Hukum dan Kemiskinan Struktural. Jakarta:
LP3ES.
Winarno Surakhmad. 1994. Pengantar Penelitian Ilmiah, Bandung: Tarsito.
Yusril Ihza Mahendra. 2005. Kedudukan Kejaksaan Agung dan Posisi Jaksa
Agung Dalam Sistem Presidensial di Bawah UUD 1945. Jakarta:
Kencana Prenada Media Group.
Peraturan Perundang-Undangan
Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia.
LN. 2004/No. 67, TLN No. 4401.
73
Jurnal
Ahmad Rijalli. 2018. “Analisis Data Kuantitatif”. Jurnal Alhadharah UIN
Antasari Banjarmasin. Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin.
Banjarmasin. Vol.17 No. 33.
Andy Sasongko. 2022. “Penerapan Fungsi Hukum Jaksa Pengacara Negara untuk
Mewujudkan Kepastian Hukum, Keadilan, dan Kemanfaatan dalam
Perkara Perdata dan Tata Usaha Negara (Berdasarkan kajian Filsafat
Hukum) ”. Journal of Law, Society, and Islamic [Link]
Sebelas Maret. Surakarta. Vol. 10 No. 2.
Angga dan Ridwan Arifin. 2018. “Penerepan Bantuan Hukum Bagi Masyarakat
Kurang Mampu di Indonesia”. Jurnal Hukum. Universitas Negeri
Semarang. Semarang. Vol 4. No. 2.
Bambang Sutiyoso, Atqo Darmawan Aji, dan Guntar Mahendro. 2023. “Peran
Dan Tanggung Jawab Organisasi Bantuan Hukum Dalam Memberikan
Akses Keadilan Secara Prodeo Di Daerah Istimewa Yogyakarta”. Jurnal
Ius Quia Iustum Fakultas Hukum. Universitas Islam Indonesia.
Yogyakarta. Vol 30. No.1.
Busyairi Ahmad dan M. Saleh Laha. 2020. ‘Penerapan Studi Lapangan dalam
Meningkatkan Kemampuan Analisis Masalah (Studi Kasus pada
Mahasiswa Sosiologi IISIP Yapis Biak)”. Jurnal Nalar Pendidikan.
Universitas Negeri Makassar. Makassar. Vol. 8 No. 1.
Deni Achmad. 2015. “Peranan Mahasiswa Fakultas Hukum Sebagai Pelaksana
Bantuan Hukum (Legal AID) Kepada Masyarakat”. Jurnal Ilmu Hukum.
Universitas Lampung. Bandar Lampung. Vol 9. No. 1.
Endah Cahyani. 2022. “Pencegahan Tindak Pidana Korupsi Pengadaan Barang
dan Jasa Pemerintah”. Indonesian Journal of Criminal Law and
Criminology. Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
Vol 3. No. 2.
Herning Setyowati dan Nurul Muchiningtias. 2018. “Peran Advokat Dalam
Memberikan Bantuan Hukum Kepada Masyarakat Dalam Perspektif Hak
Asasi Manusia”. Jurnal Hukum. Universitas Negeri Semarang.
Semarang. Vol 2. No. 2.
Iska Tirta Adiyaksa, Dossy Iskandar Prasetyo. 2024. “Peran Serta Hambatan
Fungsionalisasi Jaksa Pengacara Negara di Bidang Perdata Dan Tata
Usaha Negara : Studi Kasus Pada Kejaksaan Negeri Sidoarjo”.
Universitas Bhayangkara. Surabaya. Vol. 13 No. 2.
74
Jaidun, dan Syaharie Jaang. 2024. “Alternatif Penyelesaian Sengketa Perdata Di
Pengadilan”. Jurnal Ilmu Hukum. Universitas Widya Gama Mahakam
Samarinda, Indonesia. Vol 16. No. 2.
Juristoffel Simanjuntak. 2018. “Kajian Yuridis Pemberian Bantuan Hukum Jaksa
Pengacara Negara Dalam Perkara Perdata Dan Tata Usaha Negara”.
Jurnal Lex Administratum. Universitas Sam Ratulangi. Manado. Vol. 6
No. 1.
Moch. Faisal Dwi Alfian, Andy Usmina Wijaya, Sekaring Ayumeida Kusnadi.
2023. “Peranan Jaksa Pengacara Negara Sebagai Caonterpart BUMN
(Badan Usaha Milik Negara) di Bidang Nonlitigasi”. Jurnal Ilmu Hukum
Wijaya Putra. Universitas Wijaya Putra. Surabaya. Vol. 1 No. 2.
Musdalifah Asiyatum Syafaat, Aldilla Yulia Wiellys Sutikno, Mariya Asiz. 2023.
“Peran Jaksa Pengacara Negara Dalam Pemberian Bantuan Hukum Di
Kejaksaan Negeri Sorong”. Jurnal Equality before the Law. Universitas
Pendidikan Muhammadiyah. Sorong. Vol 3 No. 2.
Ook Mufrohim, dan Ratna Herawati. 2020. “Independensi Lembaga Kejaksaan
sebagai Legal Structure didalam Sistem Peradilan Pidana (Criminal
Justice System) di Indonesia”. Jurnal Pembangunan Hukum Indonesia.
Fakultas Hukum, Universitas Diponegoro. Vol 2. No.3.
Purwono. 2008. “Studi Kepustakaan”. Jurnal Pustakawan Utama UGM.
Yogyakarta. Vol. 6 No. 2.
Rusdianto. 2015. “Fungsi Kejaksaan Sebagai Pengacara Negara dalam Perspektif
Penegakan Hukum di Indonesia”. Jurnal Cakrawala Hukum. Universitas
Merdeka Malang. Jawa Timur. Vol. 6 No. 1.
Suwari Akhmaddhian, dan Wisnu Gita Prapanca. 2019. “Penegakan Hukum
Terhadap Jaksa Yang Melakukan Tindak Pidana Narkotika”. Journal of
Multidisciplinary Studies. Fakultas Hukum, Universitas Kuningan.
Indonesia. Vol 10. No. 01.
Tri Astuti Handayani. 2015. “Bantuan Hukum Bagi Masyarakat Tidak Mampu
Dalam Perspektif Teori Keadilan Bermartabat”. Jurnal Refleksi Hukum.
Advokat di Bojonegoro. Jawa Timur. Vol 9. No. 1.
75
Wawancara
Hasil wawancara dengan ibu Dian Febriani. Jaksa Pengacara Negara Kejaksaan
Negeri Palembang. Pada tanggal 25 Februari 2025.
Hasil wawancara dengan ibu Rya Dilla Fitri. Kepala Seksi Perdata dan Tata Usaha
Negara Kejaksaan Negeri Palembang. Pada tanggal 25 Februari 2025.
76
LAMPIRAN