0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
14 tayangan9 halaman

Dukungan Keluarga dan Pengendalian Hipertensi Lansia

Penelitian ini mengeksplorasi hubungan antara dukungan keluarga dan perilaku lansia dalam pengendalian hipertensi di Puskesmas Lerep, Semarang. Hasil menunjukkan bahwa sebagian besar lansia menerima dukungan keluarga yang baik dan memiliki tindakan pengendalian hipertensi yang juga baik, dengan hubungan positif yang signifikan antara keduanya (p < 0,05). Dukungan keluarga berperan penting dalam meningkatkan kepatuhan lansia terhadap pengendalian hipertensi.

Diunggah oleh

Rahma dani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
14 tayangan9 halaman

Dukungan Keluarga dan Pengendalian Hipertensi Lansia

Penelitian ini mengeksplorasi hubungan antara dukungan keluarga dan perilaku lansia dalam pengendalian hipertensi di Puskesmas Lerep, Semarang. Hasil menunjukkan bahwa sebagian besar lansia menerima dukungan keluarga yang baik dan memiliki tindakan pengendalian hipertensi yang juga baik, dengan hubungan positif yang signifikan antara keduanya (p < 0,05). Dukungan keluarga berperan penting dalam meningkatkan kepatuhan lansia terhadap pengendalian hipertensi.

Diunggah oleh

Rahma dani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Jurnal Keperawatan Berbudaya Sehat

Volume 1, Nomor 1, Januari 2023


e-ISSN: xxxx
[Link]

Hubungan Dukungan Keluarga dengan Perilaku Lansia dalam Pengendalian


Hipertensi

Nensy Lavenia Tamu Ina 1, Umi Setyoningrum 2


1,2
Universitas Ngudi Waluyo, Jawa Tengah, Indonesia

Informasi Artikel Abstrak


Kata kunci:
Hipertensi merupakan penyakit tidak menular yang sering disebut
Dukungan Keluarga;
sebagai silent killer. Seiring terus meningkat angka kejadian yang
Perilaku Pengendalian
akhirnya menambah jumlah angka kematiannya. Salah satu faktor yang
Hipertensi; Lansia
mempengaruhinya adalah dukungan keluarga. Penelitian ini bertujuan
mengetahui hubungan dukungan keluarga dengan tindakan lansia dalam
pengendalian hipertensi di Puskesmas Lerep Kecamatan Ungaran Barat
Kabupaten Semarang. Desain penelitian ini deskriptif korelasional dengan
pendekatan cross [Link] dalam penelitian ini adalah lansia
penderita hipertensi di Puskesmas Lerep Kecamatan Ungaran Barat
Kabupaten Semarang yaitu sebanyak 95 lansia dengan sampel sebanyak
49 orang yang diambil dengan teknik accidental sampling. Alat
pengumpulan data yang digunakan adalah kuesioner. Data di analisis
menggunakan uji kendall’s tau dihitung menggunakan program SPSS. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa dukungan keluarga pada lansia sebagian
besar kategori baik (67,3%).Tindakan lansia dalam pengendalian hipertensi
sebagian besar kategori baik (51,0%). Terdapat hubungan positif yang
bermakna dukungan keluarga dengan tindakan lansia dalam pengendalian
hipertensi, didapatkan nilai ι sebesar 0,543 (positif) dan pvalue sebesar 0,000
< 0,05 (α). Bagi penderita hipertensi dianjurkan memperbaiki perilaku diet
yaitu memasak sendiri makanan yang dikonsumsi sehingga dapat
mengendalikan asupa garam.
Abstract
Keywords:
Hypertension is a non-communicable disease which is often referred to as a
Family support;
silent killer. As the number of incidents continues to increase, it eventually
Hypertension Control increases the number of deaths. One of the influencing factors is family
Behavior; Elderly support. This study aims to determine the relationship between family
support and the actions of the elderly in controlling hypertension at the
Lerep Health Center, West Ungaran District, Semarang Regency. The
research design was descriptive correlational with a cross-sectional
approach. The population in this study were elderly people with
hypertension at the Lerep Health Center, Ungaran Barat District, Semarang
Regency, namely 95 elderly people with a sample of 49 people who were
taken by accidental sampling technique. Data collection tool used is a
questionnaire. Data were analyzed using Kendall's test or calculated using
the SPSS program. The results showed that most of the family support for
the elderly was in the good category (67.3%). The actions of the elderly in
controlling hypertension were mostly in the good category (51.0%). There is
a significant positive relationship between family support and the actions of
the elderly in controlling hypertension, the ι value is 0.543 (positive) and the
pvalue is 0.000 <0.05 (α). For people with hypertension, it is recommended
to improve dietary behavior, namely cooking the food they eat themselves so
they can control their salt intake.

Corresponding author:
Email: umisetyoningrum@[Link]
Jurnal Keperawatan Berbudaya Sehat (e-ISSN: -), Vol, 1 No 1, Januari 2023
DOI: 1035473/JKBS.v1i1.2148
Jurnal Keperawatan Berbudaya Sehat (e-ISSN: -), Vol, 1 No 1, Januari 2023/ page 1-8 2
Umi Setyoningrum - Hubungan Dukungan Keluarga dengan Perilaku Lansia dalam Pengendalian Hipertensi

PENDAHULUAN
Lanjut usia (lansia) merupakan seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas.
(Kemenkes RI, 2017). Jumlah penduduk lansia dari tahun ke tahun cenderung meningkat.
Kecenderungan peningkatan persentase kelompok lansia dibandingkan kelompok usia lainnya yang
cukup pesat sejak tahun 2013 (8,9% di Indonesia dan 13,4% di dunia) hingga tahun 2020 (21,4% di
Indonesia dan 35,1% di dunia) dan 2021 (41% di Indonesia dan 35,1% di dunia). Ditinjau dari
aspek kesehatan, kelompok lansia akan mengalami penurunan derajat kesehatan baik secara
alamiah maupun akibat penyakit (Kemenkes RI, 2017). Masalah kesehatan akibat dari proses
penuaan dan sering terjadi pada sistem kardiovaskuler yang merupakan proses degeneratif,
diantaranya yaitu penyakit hipertensi (Kellicker & Buckley, 2013).
Proporsi hipertensi juga meningkat seiring dengan peningkatan kelompok umur. Pola ini
terjadi pada dua riset kesehatan dasar terakhir di tahun 2013 dan 2018. Secara fisiologis semakin
tinggi umur seseorang maka semakin berisiko untuk mengidap hipertensi. Jumlah penderita
hipertensi usia 55-64 tahun di tahun 2013 sebesar 45,9%, meningkat di tahun 2018 menjadi 55,2%.
Jumlah tersebut sama dengan untuk penderita usia 65-74 tahun yaitu sebanyak 57,6%, meningkat di
tahun 2018 menjadi 63,2%. Sedangkan untuk usia lebih dari 75 tahun 2013 sebesar 63,8%,
meningkat di tahun 2018 meningkat menjadi 69,5% (Kementerian Kesehatan RI, 2019). Lansia
penderita hipertensi yang tidak melakukan pengendalian hipertensi tekanan darah dengan baik, maka
akan berpotensi untuk mengalami berbagai komplikasi cukup mematikan. Komplikasi hipertensi
diantaranya stroke, dimensia atau pikun, kerusakan pembuluh darah halus mata, komplikasi juga
terjadi dalam pembuluh darah beserta jantung (Marliani, Lili& Tantan, 2017). Peningkatan angka
kematian akibat komplikasi dapat dilakukan dengan upaya pengendalian hipertensi.
Pengendalian hipertensi merupakan reaksi seseorang yang mempunyai tekanan darah
persisten dimana tekanan sistoliknya diatas 140 mmHg dan diastoliknya di atas 90 mmHg dalam
upaya pengaturan berbagai tindakan agar pelaksanaan perawatan sesuai dengan rencana tenaga
kesehatan (Suadi, 2015;). Pengendalian hipertensi dengan gerakan PATUH, yaitu atasi hipertensi
dengan pengobatan yang tepat dengan periksa kesehatan secara rutin, tetap diet dengan pola makan
gizi seimbang, menjaga pola istrahat yang cukup dan upayakan aktivitas fisik dengan aman
(P2PTM Kemenkes RI, 2019). Namun demikian ternyata banyak penderita hipertensi yang tidak
melakukan upaya pengendalian hipertensi dengan baik diantaranya tidak melakukan pemeriksaan
rutin, tidak melakukan diet, kurangnya aktivitas fisik hingga istirahat yang kurang. Salah satu faktor
yang mempengaruhi upaya pengendalian hipertensi pada lansia adalah dukungan keluarga
(Yolandari, 2012).
Pengendalian hipertensi memerlukan dukungan dari keluarga. Dukungan dari keluarga
merupakan cara untuk memberikan bantuan kepada anggota keluarga lainnya baik dalam bentuk
moril maupun material. Bantuan tersebut dapat berupa saran motivasi dan informasi serta dapat
berupa bantuan yang nyata (Karunia, 2016). Manajemen yang efektif dalam mengatasi masalah
hipertensi memerlukan dukungan dari keluarga. Keluarga sebagai agen sosial utama dalam
mempromosikan kese hat an dan kesejahteraan. Keluarga memainkan peran dalam aspek
manajemen hipertensi termasuk kepatuhan dalam pengobatan, modifikasi gaya hidup dan tindak
lanjut kunjungan kepelayanankesehatan (Yolandari, 2012).
Dukungan keluarga akan menambah rasa percaya diri dan motivasi untuk menghadapi
masalah dan meningkatkan kepuasan hidup. Dalam hal ini keluarga harus dilibatkan dalam program
pendidikan sehingga keluarga dapat memenuhi kebutuhan pasien. Keluarga menjadi support system
dalam kehidupan lansia yang menderita hipertensi, agar keadaan yang dialami tidak semakin
memburuk dan terhindar dari komplikasi akibat hipertensi. Dukungan keluarga juga diperlukan
dalam perawatan hipertensi yaitu dengan cara mengatur pola makan yang sehat, mengajak
berolahraga, dan menemani dalam pemeriksaan kesehatan (Susriyanti, 2014).
Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan hasil yang berbeda. Penelitian Indriani
(2020) menunjukkan dukungan keluarga berhubungan dengan tindakan lansia dalam pengendalian
hipertensi, diperoleh nilai p= 0,025< α=0,05. Hasil tersebut tidak didukung sepenuhnya oleh
Jurnal Keperawatan Berbudaya Sehat (e-ISSN: -), Vol, 1 No 1, Januari 2023/ page 1-8 3
Umi Setyoningrum - Hubungan Dukungan Keluarga dengan Perilaku Lansia dalam Pengendalian Hipertensi

penelitian Daziah dan Rahayu (2020) mendapatkan hasil bahwa dukungan penghargaan keluarga
tidak berhubungan dengan perilaku perawatan hipertensi, dengan nilai p-value=0,124. Peneliti
melakukan perbaikan penelitian dengan menambahkan jumlah responden penelitian karena pada
penelitian sebelumnya jumlah sampel yang diteliti kurang dari 50 responden.
Hasil studi pendahuluan yang dilakukan di Puskesmas Lerep Kecamatan Ungaran Barat
Kabupaten Semarang diperoleh data jumlah lansia di Desa Lerep Kecamatan Ungaran Barat
Kabupaten Semarang. Jumlah lansia yang terdata di puskesmas Lerep sebanyak 4.640 orang,
dimana yang mendapat pelayanan sebanyak 539 orang yaitu 187 laki- laki dan 352 perempuan. Dari
jumlah lansia tersebut yang terdeteksi mengalami hipertensi sebanyak 95 orang. Hal tersebut
menunjukkan bahwa jumlah lansia di wilayah kerja Puskesmas Lerep cukup banyak termasuk yang
mengalami hipertensi. Peneliti juga melakukan pengumpulan data terkait dengan dukungan
keluarga dan tindakan lansia dalam pengendalian hipertensi terhadap 10 orang lansia yang
mengalami hipertensi dengan menggunakan kuesioner yang diadobsi dari penelitian Cahyawaty
(2019) diperoleh lansia yang mempunyai perilaku pengendalian hipertensi yang kurang baik
meskipun mereka mendapatkan dukungan dari keluarga yang [Link] studi pendahuluan tersebut
tidak sesuai dengan teori dari Herlinah, Wiarsih, dan Rekawati (2013) yang menyatakan perilaku
manusia dalam mengendalikan penyakit ditentukan oleh hal yang berbeda pada tiap individu.
Perilaku tersebut dapat dipengaruhi oleh dukungan lingkungan sekitar termasuk keluarga dan juga
kemauan dari dalam diri sendiri untuk mengendalikan penyakit.

METODE
Desain penelitian ini deskriptif korelasional dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam
penelitian ini adalah lansia penderita hipertensi di Puskesmas Lerep Kecamatan Ungaran Barat
Kabupaten Semarang yaitu sebanyak 95 lansia dengan sampel sebanyak 49 orang yang diambil
dengan teknik accidental sampling. Alat pengumpulan data yang digunakan adalah kuesioner. Data
di analisis menggunakan uji kendall’s tau dihitung menggunakan program SPSS.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Karaktersitik Responden

Gambar 1 Karakteristik Responden lansia di Puskesmas Lerep Kecamatan Ungaran


Barat Kabupaten Semarang
Dari gambar 1 dapat dilihat bahwa sebagian besar 56-65 tahun (lansia akhir) (73,5%), perempuan
(71,4%), berpendidikan rendah (SD, SMP, SLTP)yaitu (83,7%) dan iburumah tangga (63,3%).
Jurnal Keperawatan Berbudaya Sehat (e-ISSN: -), Vol, 1 No 1, Januari 2023/ page 1-8 4
Umi Setyoningrum - Hubungan Dukungan Keluarga dengan Perilaku Lansia dalam Pengendalian Hipertensi

Dukungan Keluarga pada Lansia

Gambar 2. Dukungan keluarga pada lansia di Puskesmas Lerep Kecamatan Ungaran


Barat Kabupaten Semarang
Berdasarkan gambar 2 sebagian besar dukungan keluarga dengan kategori baik yaitu sebanyak 33
dari 49 responden (67,3%) yaitu pada indikator dukungan instrumental (69,6%).

Tindakan Pengendalian Hipertensi

Gambar 3. Tindakan Pengendalian Hipertensi


Dari gambar 3 dijelaskan bahwa tindakan lansia dalam pengendalian hipertensi di Puskesmas
Lerep Kecamatan Ungaran Barat Kabupaten Semarang sebagian besar kategori baik yaitu sebanyak
25dari 49 responden (51,0%) yaitu pada indikator pola makan (64,9%).

Hubungan Dukungan Keluarga dengan Tindakan lansia dalam pengendalian Hipertensi


Tabel 1. Hubungan Dukungan Keluarga dengan Tindakan lansia dalam pengendalian
hipertensi
Dukungan Perilaku Pengendalian Hipertensi
Keluarga
Kurang Baik Total
Frekuensi Prosentase Frekuensi Prosentase Frekuensi Prosentase
Kurang 10 87.5 2 12.5 16 100
Baik 14 30.3 23 69.7 33 100
Jumlah 24 49 25 51 49 100
t=0.537; p value=0.000

Berdasarkan hasil analisis dukungan keluarga dengan tindakan lansia dalam pengendalian
hipertensi di Puskesmas Lerep Kecamatan Ungaran Barat Kabupaten Semarang, diperoleh hasil
responden yang kurang mendapat dukungan keluarga sebanyak 16 orang dimana sebagian besar
mempunyai perilaku pengendalian hipertensi kategori kurang yaitu sebanyak 14 orang (87,5%)
lebih banyak dari pada kategori baik yaitu sebanyak 2 orang (12,5%). Diperoleh pula hasil
responden yang mendapat dukungan keluarga yang baik sebanyak 33 orang dimana sebagian
besar mempunyai perilaku pengendalian hipertensi kategori baik yaitu sebanyak 23 orang (69,7%)
Jurnal Keperawatan Berbudaya Sehat (e-ISSN: -), Vol, 1 No 1, Januari 2023/ page 1-8 5
Umi Setyoningrum - Hubungan Dukungan Keluarga dengan Perilaku Lansia dalam Pengendalian Hipertensi

lebih banyak dari pada kategori kurang yaitu sebanyak 10 orang (30,3%).
Hasil uji statistik dengan menggunakanuji Korelasi Kendall’s Tau didapatkan nilai ι sebesar
0,543 (positif) dan pvalue sebesar 0,000. Hal tersebut menunjukkan arah hubungan dari dukungan
keluarga dengan tindakan lansia dalam pengendalian hipertensi adalah positif dengan kekuatan
hubungan kategori kuat (nilai ι antara 0,5-0,7). Nilai p sebesar sebesar 0,000 < 0,05 (α) yang
menunjukkan ada hubungan yang bermakna dukungan keluarga dengan tindakan lansia dalam
pengendalian hipertensi. Berdasarkan hasil tersebut maka dapat disimpulkan ada hubungan positif
yang bermakna dukungan keluarga dengan tindakan lansia dalam pengendalian hipertensi di
Puskesmas Lerep Kecamatan Ungaran Barat Kabupaten Semarang. Artinya jika dukungan keluarga
semakin baik maka tindakan lansia dalam pengendalian hipertensi di Puskesmas Lerep Kecamatan
Ungaran Barat Kabupaten Semarang semakin baik juga.
Penelitian ini menemukan keluarga dalam memberikan dukungan kategori baik yaitu
sebanyak 16 dari 49 responden (32,7%). Bentuk dukungan keluarga yang baik yaitu dukungan
instrumental yang ditunjukkan dengan membantu melakukan aktivitas yang tidak bisa dilakukan
yaitu sebanyak 47 dari 49 orang (95,9%) dan menemani danmengunjungi waktu sakit yaitu
sebanyak 46 dari 49 orang (93,9%). Keluarga juga memberikan dukungan emosional yang baik
yang ditunjukkan dengan memberikan suasana nyaman di rumah yaitu sebanyak dari 46 orang
(93,9%).
Hasil ini didukung oleh penelitian yang dilakukan di Desa Kangkung Mranggen Kabupaten
Demakyang menunjukkan dukungan keluarga kepada lanjut usia hipertensi untuk melakukan
upaya perawatan kesehatan dimasa pandemi covid-19 sebagian kategori baik yaitu sebanyak 85
orang (88,55%) (Soesanto, 2021). Penelitian di Samarinda menunjukkan dukungan keluarga pada
lansia dalam pengontrolan hipertensi yang memberi dukungan dengan baik sebanyak 24 orang
lansia (64.9%) (Dayanti, 2016). Hasil penelitian sebelumnya tersebut menunjukkan bahwa keluarga
memberikan dukungan yangbaik bagi lansia penderitahipertensi.
Keluarga lansia penderita hipertensi memberikan dukungan instrumental dan emosional yang
baik dalam pengendalian hipertensi. Mereka membantu lansia melakukan aktivitas yang tidak bisa
dilakukan dan menemani waktu sakitserta berupaya untuk memberikan suasana nyaman di
[Link] tersebut sesuai dengan teori yang menyebutkan lansia penderita hipertensi mendapatkan
dukungan instrumental seperti penyediaan fasilitas, tenaga dan keuangan serta keluarga yang dapat
memberikan waktu kepada lansia dapat mempermudah lansia untuk mengendalikan hipertensi.
Dukungan emosional keluarga mempengaruhi perasaan dan motivasi dalam mengikuti program
terapi termasuk kepada lansia dengan penyakit kronis (Friedman, 2014).
Dukungan keluarga dapat mempengaruhi fungsi psikososial dan koping lansia dalam
menghadapi masalah. Kurangnya dukungan keluarga membuat koping negatif pada lansia, sehingga
secara tidak langsung akan mempengaruhi kepatuhan lansia hipertensi dalam kepatuhan kontrol
rutin (Miller, 2015). Salah satu faktor yang mempengaruhi dukungan keluarga pada lansia penderita
hipertensi adalah bertempat tinggal bersama dengan keluarga (Wahyu, 2014).
Lansia yang bertempat tinggal bersama dengan anak ataupun anggota keluarga lainnya
memungkinkan lebih mudah untuk memberikan bantuan dengan maksimal. Lansia yang tinggal
dengan anaknya memungkinkan setiap saat keluarga dapat membantu kebutuhan lansia dengan
hipertensi tersebut. Keluarga menyadari lansia penderita hipertensi sangat membutuhkan kehadiran
keluarga. Keluarga sebagai orang yang tinggal satu rumah dan dekat dengan lansia penderita
hipertensi dituntut untuk selalu siapmemberikan dukungan baik berupa informasi, penghargaan,
instrumental dan emosionalbagi lansia penderita hipertensi (Wahyu, 2014).
Penelitian ini juga menemukan masih adanya keluarga pada lansia penderita hipertensi di
Puskesmas Lerep Kecamatan Ungaran Barat Kabupaten Semarang yang kurang dalam memberikan
dukungan yaitu sebanyak 16 dari 49 responden (32,7%). Bentuk dukungan keluarga yang kurang
yaitu dukungan emosional yang ditunjukkan dengan melarang untuk tetap menjalin hubungan
dengan lingkunganyaitu sebanyak 45 dari 49 responden (91,8%). Bentuk dukungan keluarga yang
kurang juga pada dukungan informasi yang ditunjukkan dengan keluarga tidak mencari informasi
Jurnal Keperawatan Berbudaya Sehat (e-ISSN: -), Vol, 1 No 1, Januari 2023/ page 1-8 6
Umi Setyoningrum - Hubungan Dukungan Keluarga dengan Perilaku Lansia dalam Pengendalian Hipertensi

tentang pengobatan untuk membantu saya dalam penyembuhan penyakit hipertensi lingkungan yaitu
sebanyak 24 dari 49 responden (49,0%). Bentuk dukungan keluarga yang kurang lainnya yaitu
dukungan instrumental yang ditunjukkan dengan tidak peduli terhadap makanan dan minuman yang
saya konsumsi lingkunganyaitu sebanyak 30 dari 49 responden (61,2%).
Hasil ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan di Kabupaten Madiun yang menunjukkan
dukungan keluarga bagi lansia dalam pengendalian hipertensi sebagian besar tidak baik yaitu
sebanyak 17 orang (51,5%) (Cahyawaty, 2019). Penelitian di Kabupaten Madiun lainnya juga
menunjukkan 14 orang (58,1%) dari 24 lansia yang mengalami dukungan keluarga kurang
(Prisdiantika, 2015). Hal tersebut menunjukkan masih ditemukan keluarga kurang memberikan
dukungan bagi lansia penderita hipertensi.
Keluarga lansia penderita hipertensi kurang memberikan dukungan instrumental, emosional
dan informasi dalam pengendalian hipertensi. Keluarga lansia tidak peduli terhadap makanan dan
minuman yang sayakonsumsi, melarang untuk tetap menjalin hubungan denganlingkungan dan tidak
mencari informasi tentang pengobatan penyakit hipertensi. Keluarga merupakan sebuah sumber
pertolongan diantaranya kesehatan penderita dalam hal kebutuhan makan dan minum. Keluarga
lansia harus memperhatikan pola makan yang tidak baik seperti terlalu banyak makan garam dan
lemak (Setiadi, 2018). Informasi dari keluarga terkait dengan hipertensi akan meningkatkan
pengetahuan bagi penderitanya. Pengetahuan penderita tentang hipertensi dan obat-obatan
dibutuhkan dalam mencapai kepatuhan yang lebih tinggi dalam terapi pengobatannya (Marliani,
Lili & Tantan, 2017). Dukungankeluarga dapat meningkatkan perilaku pengendalian hipertensi baik
sehingga lansia hipertensi dapat lebih mengendalikan hipertensi. Salah satu faktor yang
mempengaruhi dukungan keluarga adalah social ekonomi keluarga.
Kondisi sosial ekonomi keluarga dapat berdampak pada kemampuan keluarga untuk
memberikan dukungan khususnya terkait dengan penyediaan sarana dan prasarana. Keluarga yang
terikat dengan pekerjaan maka tidak memiliki banyak waktu untuk memperhatikan serta
mendampingi penderita hipertensi dibandingkan dengan keluarga yang tidak terikat pekerjaan,
mereka memiliki sedikit waktu sehingga dapat menyebabkan lemahnya ketidakpatuhan dalam
mengkonsumsi obat dan upaya perawatan kesehatan lainnya(Marliani, Lili & Tantan, 2017).
Hasil penelitian menunjukkan tindakan lansia dalam pengendalian hipertensi di Puskesmas
Lerep Kecamatan Ungaran Barat Kabupaten Semarang kategori baik yaitu sebanyak 25dari 49
responden (51,0%).Bentuk perilaku yang baik yaitu pola makan yang ditunjukkan dengantidak
makan yang dilarang oleh dokteryaitu sebanyak 43dari 49 responden (87,7%) dan tidak makan
terlalu banyak garamyaitu sebanyak 42dari 49 responden (85,7%).Bentuk perilaku yang baik yaitu
pola istirahat yang ditunjukkan dengan merasa kurang istirahat sering badan merasa sakityaitu
sebanyak 44 dari 49 responden (89,8%).
Tindakan lansia dalam pengendalian hipertensi kategori baik yaitu pada pola makan dan
istirahat. Pola makan yang baik dengan tidak makan yang dilarang oleh dokterdan tidak makan
terlalu banyak garam. Pola istirahat yang baik ditunjukkan dengan merasa kurang istirahat sering
badan merasa sakitkalau kurang [Link] garam atau sodium chlorid (NaCl) mempengaruhi
tingkat hipertensi. Pengendalian konsumsi garam dapat mengendalikan rasa haus dan mengurangi
mendorong untuk minum. Hal ini menjaga volume darah didalam tubuh, yang berarti jantung tidak
harus memompa lebih giat sehingga tekanan darah lebih terkendali. Selain itu, durasi tidur yang
cukup dapat mengendalikan rata-rata tekanan darah dan denyut jantung juga aktivitas sistem saraf
simpatik dan mengurangi stress fisik dan psikososial, pada akhirnya mencegah hipertensi yang
berkelanjutan(Soeharto, 2018).
Peneliti juga menemukan sebagian besar lansia penderita hipertensi di Puskesmas Lerep
Kecamatan Ungaran Barat Kabupaten Semarang yang mempunyai perilaku kategori kurang dalam
pengendalian hipertensi yaitusebanyak 24 dari 49 responden (49,0%).Bentuk perilaku yang
kurang baik yaitu pengobatan yang ditunjukkan dengan kurang dari tiga kali dalam satu bulan
selalu ke puskesmas untuk pengobatanyaitu sebanyak 40 dari 49 responden (81,6%). Bentuk
perilaku yang kurang baik yaitu pola makan yang ditunjukkan dengankeluarga tidak memasak
Jurnal Keperawatan Berbudaya Sehat (e-ISSN: -), Vol, 1 No 1, Januari 2023/ page 1-8 7
Umi Setyoningrum - Hubungan Dukungan Keluarga dengan Perilaku Lansia dalam Pengendalian Hipertensi

sendiri makanan khusus makan yang mengurangi garamyaitu sebanyak 47dari 49 responden
(95,9%).Bentuk perilaku yang kurang baik yaitu pola istirahat yang ditunjukkan dengan seminggu
kurang dari tiga kali olahraga jalan pagi yaitu sebanyak 33 dari 49 responden (67,3%).
Hasil uji statistik dengan menggunakan uji Korelasi Kendall’s Tau didapatkannilai ι sebesar 0,543
(positif) dan pvalue sebesar 0,000. Hal tersebut menunjukkan arah hubungan dari dukungan
keluarga dengan tindakan lansia dalam pengendalian hipertensi adalah positif dengan kekuatan
hubungan kategori kuat (nilai ι antara 0,5-0,7). Nilai p sebesar sebesar 0,000 < 0,05 (α) yang
menunjukkan ada hubungan yang bermakna dukungan keluarga dengan tindakan lansia dalam
pengendalian hipertensi. Berdasarkan hasil tersebut maka dapat disimpulkan ada hubungan positif
yang bermakna dukungan keluarga dengan tindakan lansia dalam pengendalian hipertensi di
Puskesmas Lerep Kecamatan Ungaran Barat Kabupaten Semarang. Artinya jika dukungan
keluarga semakin baik maka tindakan lansia dalam pengendalian hipertensi di Puskesmas Lerep
Kecamatan Ungaran Barat Kabupaten Semarang semakin baik juga.
Berdasarkan hasil analisis dukungan keluarga dengan tindakan lansia dalam pengendalian
hipertensidi Puskesmas Lerep Kecamatan Ungaran Barat Kabupaten Semarang, diperoleh hasil
responden yang kurang mendapat dukungan keluarga dimana sebagian besar mempunyai perilaku
pengendalian hipertensi kategori kurang yaitu sebanyak 14 orang (87,5%). Dukungan keluarga
yang kurang baik mengakibatkan lansia dalam pengendalian hipertensi menjadi kurang baik. Hal
tersebut ditunjukkan dengankeluarga melarang lansia untuk menjalin hubungan dengan
lingkungan sehingga pengobatan yang dilakukan kurang dari tiga kali dalam satu bulan ke
puskesmas.
Berdasarkan hasil analisis dukungan keluarga dengan tindakan lansia dalam pengendalian
hipertensidi Puskesmas Lerep Kecamatan Ungaran Barat Kabupaten Semarang, diperoleh hasil
responden yang kurang mendapat dukungan keluarga namun lansia mempunyai perilaku
pengendalian hipertensi yang baikyaitu sebanyak 2 orang (12,5%). Keluarga yang kurang dalam
memberikan dukungan instrumental ternyata tidak mempengaruhi pola makan lansia dalam
pengendalian hipertensi. Lansia penderita hipertensi menyatakan keluarga tidak peduli terhadap
makanan dan minuman yang di konsumsiakan tetapi mereka tidak mengkonsumsi makan yang
terlalu banyak garam.
Diperoleh pula hasil responden yang mendapat dukungan keluarga yang baik dimana sebagian
besar mempunyai perilaku pengendalian hipertensi kategori baik yaitu sebanyak 23 orang
(69,7%). Dukungan instrumental yang baik mendorong lansia penderita hipertensi mempunyai
pola makan yang baik. Keluarga yang mengunjungi waktu sakitmenyebabkan mereka tidak
mengkonsumsi makan yang dilarang oleh dokter. Diperoleh pula hasil responden yang mendapat
dukungan keluarga yang baik dimana sebagian besar mempunyai perilaku pengendalian
hipertensi kategori kurang yaitu sebanyak 10 orang (30,3%). Keluarga yang telah memberikan
dukungan emosional yang baik ternyata belum dapat mengubah pola makan lansia penderita
hipertensi. Keluarga berupaya untuk memberikan suasana nyaman di rumahnamun makanan bagi
lansia penderita hipertensi tidak dikurangi jumlah penyedap rasa yang digunakan yaitu garam.
Studi ini tidak terlepas dari ketidakmampuan peneliti untuk mengontrol sepenuhnya
keterbatasan faktor-faktor lain (misalnya motivasi dan demografi) yang dimungkinkan juga
mempengaruhi hasil penelitian ini dimana faktor-faktor tersebut dapat meningkatkan atau
menurunkan perilaku dalam pengendalian hipertensi pada lansia. Keterbatasan lain peneliti juga
tidak menggunakan pertanyaan pendalaman terkait dengan variabel yang diteliti sehingga
responden tidak dapat menyampaikan jawabannya secara lebih lengkap. Peneliti juga kesulitan
memahami bahasa responden (khususnya bahasa jawa) sehingga peneliti memerlukan asisten untuk
mencari data responden.

SIMPULAN
Dukungan keluarga pada lansia sebagian besar kategori baik yaitu sebanyak 33 dari 49 responden
(67,3%). Tindakan lansia dalam pengendalian hipertensi sebagian besar kategori baik yaitu
Jurnal Keperawatan Berbudaya Sehat (e-ISSN: -), Vol, 1 No 1, Januari 2023/ page 1-8 8
Umi Setyoningrum - Hubungan Dukungan Keluarga dengan Perilaku Lansia dalam Pengendalian Hipertensi

sebanyak 25 dari 49 responden (51,0%). Ada hubungan positif yang bermakna dukungan keluarga
dengan tindakan lansia dalam pengendalian hipertensi di Puskesmas Lerep Kecamatan Ungaran
Barat Kabupaten Semarang, didapatkannilai ι sebesar 0,543 (positif) dan pvalue sebesar 0,000 <
0,05 (α). Sebaiknya masyarakat penderita hipertensi dapat mengatur perilaku yang dapat
meningkatkan aktivitas seperti olahraga ringan sehingga dapat mengendalikan tekanan darah dan
merelaksasikan tubuh. Sebaiknya perawat meningkatkan pemahaman keluarga penderita terkait
dengan hipertensi termasuk dukungan yang dapat diberikan melalui penyuluhan yang kontinyu dan
berkesinambungan. Diharapkan peneliti selanjutnya diharapkan dapat mengendalikan variabel lain
yang mempengaruhi penelitian ini misalnya pengetahuan atau demografi responden dengan
menambahkan sebagai variabel independen. Penelitian selanjutnya juga dapat meningkatkan model
penelitian yang lebih kompleks misalnya multivariate dan memperluas obyek penelitian sehingga
diperoleh hasil penelitian yang lebih lengkap.

DAFTAR PUSTAKA
Cahyawaty, M. I. (2019). Hubungan Dukungan Keluarga dengan Perilaku Lansia dalam
Pengendalian Hipertensi di Wilayah Puskesmas Pilangkenceng Kabupaten Madiun. STIKES
Bhakti Husada Mulia Madiun.
Dayanti, N. K. (2016). Hubungan antara Dukungan Keluarga dengan Motivasi Lansia dalam
Pengontrolan Hipertensi di Posyandu Mawar Merah Wilayah Kerja Puskesmas Juanda
Kelurahan Air Hitam. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Samarinda.
Friedman. (2014). Buku Ajar Keperawatan Keluarga (5th ed.). Jakarta: EGC.
Herlinah, L., Wiarsih, W., & Rekawati, E. (2013). Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Perilaku
Lansia Dalam Pengendalian Hipertensi. Jurnal Keperawatan Komunitas, 1(2), 104172.
Kellicker & Buckley, K. &. (2013). Strokecomplications : Deep Venous thrombosis. Glendale.
California: Cinahl information sistem.
Kemenkes RI., K. (2017). Situasi dan Analisis Lanjut Usia. Retrieved from
[Link] w/16092300002/infodatin-situasi-lanjut- usia-lansia-
[Link]
Kementerian Kesehatan RI. (2019). Infodatin. Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI.
Hipetensi si Pembunuh Senyap. Jakarta.
Marliani, Lili. & Tantan, S. (2017). 100 Questions & Answers Hipertensi. Jakarta: Gramedia.
Miller. (2015). Nursing Care of Older Adult, Theori and Practice. 2ndEd. Philadelphia: J.B
Lippincott Co.
P2PTM Kemenkes RI, P. K. (2019). Kendalikan Hipertensi dengan
PATUH. Apa itu PATUH? Retrieved fromKementerian Kesehatan
RI. [Link] p2ptm/hipertensi-penyakit-jantung-dan-
pembuluh-darah/kendalikan-hipertensi- dengan-patuh-apa-itu-patuh
Prisdiantika, L. (2015). Hubungan Antara Dukungan Keluarga Dengan Perilaku Pengendalian
Hipertensi Pada Lansia Di Desa Jerukgulung Kecamatan Balerejo Kabupaten Madiun.
Journal of Holistic and Traditional Medicine, 01(01), 6–14.
Setiadi. (2018). Konsep & proses keperawatan keluarga. Yogyakarta:Graha Ilmu.
Soesanto, E. (2021). Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Upaya Perawatan Kesehatan Lanjut
Usia Hipertensi dimasa Pandemi Covid-19. Jurnal Keperawatan Dan Kesehatan
Masyarakat STIKES Cendekia Utama Kudus, 10(2), 170–179. Retrieved from
htpp://[Link].a [Link]
Suadi, A. (2015). Sistem Pengendalian Manajemen. Yogyakarta: BPFE.
Susriyanti. (2014). Hubungan Dukungan Keluarga dengan Perilaku Perawatan Hipertensi pada
Lansia di GampingSleman Yogyakarta. Sekolah tinggi ilmu kesehatan ‘aisyiyah yogyakarta.
Wahyu, N. (2014). Hubungan antara dukungan keluarga dan self care management lansia dengan
hipertensi di Posyandu Lansia Kelurahan Manyar Sabrangan Surabaya. Indonesian Journal of
Community Health Nursing., 3(1), 79–88.
Jurnal Keperawatan Berbudaya Sehat (e-ISSN: -), Vol, 1 No 1, Januari 2023/ page 1-8 9
Umi Setyoningrum - Hubungan Dukungan Keluarga dengan Perilaku Lansia dalam Pengendalian Hipertensi

Anda mungkin juga menyukai