0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan4 halaman

Hukum Waris dan Sewa Menyewa Islam

Dokumen ini membahas tugas UAS mengenai hukum perdata Islam dan sewa menyewa. Pertama, dijelaskan tentang hak waris beda agama dan anak angkat, mencakup aspek normatif dan empiris dari kedua sistem hukum. Kedua, dibahas tanggung jawab pemberi sewa dan penyewa dalam kasus kerusakan atau kehilangan objek sewaan, dengan pendekatan normatif dan empiris.

Diunggah oleh

FC CAHAYA BARU
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan4 halaman

Hukum Waris dan Sewa Menyewa Islam

Dokumen ini membahas tugas UAS mengenai hukum perdata Islam dan sewa menyewa. Pertama, dijelaskan tentang hak waris beda agama dan anak angkat, mencakup aspek normatif dan empiris dari kedua sistem hukum. Kedua, dibahas tanggung jawab pemberi sewa dan penyewa dalam kasus kerusakan atau kehilangan objek sewaan, dengan pendekatan normatif dan empiris.

Diunggah oleh

FC CAHAYA BARU
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

TUGAS UAS

Di susun untuk memenuhi tugas UAS pada Mata Kuliah “Hukum Perdata Islam Indonesia”
Semester IV (Genap)
Dosen Pengampuh : Hamdani Rokan, MA

Disusun Oleh:

Aghil Samudra Arya 2311450021

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM PANCA BUDI PERDAGANGAN-


SIMALUNGUN
T.A 2025-2026
SOAL
1. Jelaskan secara Normatif dan Empiris tentang Hak Waris Beda Agama, dan Anak Angkat?
2. Jelaskan dan selesaikan persoalan dalam hukum normatif dan empiris tentang sewa
menyewa. Jika Objec yang disewa rusak, atau hilang?

JAWABAN

[Link] Nomor 1

Hak Waris Beda Agama:

Normatif:
Dalam sistem hukum Indonesia, terdapat dua sistem utama yang mengatur hak waris. Pada
ranah hukum Islam melalui KHI, ahli waris diharuskan beragama Islam, yang membekukan
hak pewarisan bagi mereka yang berbeda agama dengan pewaris—berdasarkan prinsip
keislaman yang bersumber dari Al-Quran dan hadis. Sementara itu, menurut KUHPerdata,
pewarisan dihitung berdasarkan hubungan darah tanpa mempertimbangkan perbedaan
keagamaan, sehingga anak atau ahli waris dari keluarga beda agama dapat menerima warisan
secara sah.

Empiris:
Meskipun aturan normatif di KHI membatasi hak waris bagi ahli waris beda agama, dalam
pelaksanaannya hakim sering memutuskan untuk mengalokasikan bagian warisan bagi ahli
waris tersebut melalui mekanisme wasiat wajibah. Langkah ini diambil guna mewujudkan
keadilan dan memastikan kepastian hukum serta meredam konflik keluarga yang timbul dari
permasalahan beda agama.

Hak Waris Anak Angkat:

Normatif:
Menurut KUHPerdata, anak angkat diakui sebagai ahli waris dengan hak yang hampir sejajar
dengan anak kandung, meskipun terdapat batasan tertentu—misalnya, hanya mendapatkan
bagian yang tidak tercakup dalam wasiat. Di sisi lain, sistem hukum Islam umumnya tidak
mengakui hak waris untuk anak angkat, karena hak waris dalam hukum Islam sangat
mengutamakan hubungan nasab, sehingga anak angkat tidak diberikan hak otomatis seperti
anak kandung.
Empiris:
Dalam praktiknya, terutama melalui putusan pengadilan atau pemrosesan oleh notaris,
seringkali anak angkat memperoleh porsi warisan yang setara dengan anak kandung.
Pendekatan empiris ini mengakomodasi kebutuhan keadilan dan kepentingan keluarga,
meskipun ada perbedaan antara ketentuan normatif di KUHPerdata dan hukum Islam.

[Link] Nomor 2

Pendekatan Normatif

Dalam kerangka hukum positif, sewa menyewa diatur oleh KUH Perdata yang menetapkan
bahwa pemberi sewa berkewajiban menyerahkan barang sewaan dalam kondisi baik serta
memelihara agar selalu layak pakai. Jika terjadi kerusakan atau hilangnya objek yang disewa,
maka aturannya menyatakan bahwa:

• Pemberi sewa harus memastikan kondisi objek sesuai standar pemakaian. Apabila
terdapat cacat atau kerusakan yang sudah ada atau karena keadaan di luar kendali
penyewa (misalnya bencana), maka perbaikan atau ganti rugi seharusnya menjadi
tanggung jawab pemberi sewa.
• Penyewa wajib menjaga dan merawat barang yang disewa serta mengganti kerusakan
jika disebabkan oleh kelalaian sendiri. Namun, bila dapat dibuktikan bahwa kerusakan
atau kehilangan disebabkan oleh faktor eksternal yang tidak dapat dikendalikan, maka
beban kerugian tidak sepenuhnya berada pada penyewa. Selain itu, perjanjian sewa
sering memuat klausul baku yang memperjelas pembagian tanggung jawab yang harus
dipatuhi oleh kedua belah pihak.

Pendekatan Empiris (Praktis)

Di lapangan, permasalahan mengenai rusaknya objek sewaan atau hilangnya barang sering kali
diselesaikan dengan melihat fakta-fakta yang ada. Jika terjadi kerusakan, misalnya pada sebuah
rumah kontrakan, pengadilan dan mediator akan mengevaluasi apakah hal tersebut timbul
akibat pemakaian yang tidak hati-hati oleh penyewa atau sudah merupakan cacat bawaan
dan/atau akibat force majeure. Jika kerusakan disebabkan oleh kelalaian, maka penyewa wajib
mengganti kerugian tersebut. Namun, jika kerusakan terjadi karena keadaan di luar
kekuasaannya, maka penyelesaian bisa ditempuh dengan negosiasi ulang, pengurangan sewa,
atau kompensasi lain yang disepakati bersama. Dalam praktik bisnis sewa menyewa,
mekanisme penyelesaian sengketa ini sering dimasukkan ke dalam perjanjian dan dijalankan
melalui mediasi atau arbitrase ketika sengketa muncul.

Anda mungkin juga menyukai