0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan40 halaman

Laporan Kesehatan Kerja Peningkatan Jalan

Dokumen ini adalah laporan tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja untuk proyek peningkatan jalan Metatu - Balongpanggang oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Kabupaten Gresik. Laporan ini mencakup analisis manajemen risiko terkait kecelakaan kerja dan pentingnya penerapan peraturan keselamatan di proyek konstruksi. Data yang digunakan dalam laporan diambil dari berbagai sumber dan literatur untuk mendukung identifikasi, penilaian, dan respon terhadap risiko yang ada.

Diunggah oleh

Ariya Din
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan40 halaman

Laporan Kesehatan Kerja Peningkatan Jalan

Dokumen ini adalah laporan tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja untuk proyek peningkatan jalan Metatu - Balongpanggang oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Kabupaten Gresik. Laporan ini mencakup analisis manajemen risiko terkait kecelakaan kerja dan pentingnya penerapan peraturan keselamatan di proyek konstruksi. Data yang digunakan dalam laporan diambil dari berbagai sumber dan literatur untuk mendukung identifikasi, penilaian, dan respon terhadap risiko yang ada.

Diunggah oleh

Ariya Din
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

DINAS PEKERJAAN UMUM DAN TATA RUANG BIDANG BINA MARGA

KABUPATEN GRESIK
Jl. Dr. Wahidin Sudiro Husodo No. 247, Gresik

KATA PENGANTAR

Dalam rangka menunjang penyusunan program penggunaan anggaran penyelenggaraan jalan yang
efisien dan efektif, Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Bidang Bina Marga Kabupaten Gresik,
melaksanakan kegiatan Pekerjaan Konsultansi Perancangan Peningkatan Jalan Metatu – Balongpanggang.
Sebagai tahap akhir dalam proses Pekerjaan Konsultansi Perancangan Peningkatan Jalan Metatu –
Balongpanggang, disampaikan LAPORAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA yang pada
dasarnya merupakan analisa manajemen resiko Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
Metode yang digunakan dalam penyusunan laporan Keselamatan dan Kesehatan Kerja ini adalah
pengumpulan data secara kumulatif. Data yang diambil adalah data berdasarkan hasil penelitian berbagai
macam sumber atau jurnal, dan berdasrkan data yang yang termasuk dalam berbagai macam literatur terkait
dengan manajemen resiko Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Lalu data tersebut diolah dalam suatu metode
pembahasan manajemen resiko. Dimulai dari identifikasi resiko, penilaian resiko, hingga respon resiko.
Demikian penyusunan laporan Keselamatan dan Kesehatan Kerja ini dibuat. Kami menyadari bahwa
laporan bulanan ini tidaklah sempurna, oleh karena itu kritik dan saran yang bersifat membangun sangat
berarti demi kelancaran penyusunan laporan yang lebih baik lagi. Atas perhatiannya kami ucapkan
terimakasih.

Surabaya, Desember 2024


PT. HASTA KARYA NUSA

Nur Kholis, ST
Ahli K3

Laporan Keselamatan dan Kesehatan Kerja


Konsultansi Perancangan Peningkatan Jalan Metatu - Balongpanggang
DINAS PEKERJAAN UMUM DAN TATA RUANG BIDANG BINA MARGA
KABUPATEN GRESIK
Jl. Dr. Wahidin Sudiro Husodo No. 247, Gresik

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..........................................................................................................i

DAFTAR ISI........................................................................................................................ii

DAFTAR TABEL..............................................................................................................iii

DAFTAR GAMBAR..........................................................................................................iii

BAB 1..................................................................................................................................1

PENDAHULUAN...............................................................................................................1

1.1 Latar Belakang...........................................................................................................1

1.2 Kecelakaan Kerja.......................................................................................................2

1.3 Penyebab Kecelakaan Kerja......................................................................................4

1.4 Mitigasi Kecelakaan Kerja........................................................................................5

1.5 Manajemen Resiko....................................................................................................6

1.5.1 Identifikasi Resiko...........................................................................................9

1.5.2 Penilaian Resiko...............................................................................................9

1.5.3 Analisa Resiko...............................................................................................10

1.5.4 Respon Resiko................................................................................................12

1.5.5 Pemantauan Resiko........................................................................................13

BAB 2................................................................................................................................14

PEMBAHASAN................................................................................................................14

2.1 Konsep Pembahasan................................................................................................14

2.2 Identifikasi Resiko Proyek.......................................................................................15

2.3 Penilaian Resiko Proyek..........................................................................................23

2.4 Respon Resiko Proyek.............................................................................................28

BAB 3................................................................................................................................33

PENUTUP..........................................................................................................................33

3.1 Kesimpulan..............................................................................................................33

3.2 Saran.........................................................................................................................36

Laporan Keselamatan dan Kesehatan Kerja


Konsultansi Perancangan Peningkatan Jalan Metatu - Balongpanggang
DINAS PEKERJAAN UMUM DAN TATA RUANG BIDANG BINA MARGA
KABUPATEN GRESIK
Jl. Dr. Wahidin Sudiro Husodo No. 247, Gresik

DAFTAR TABEL

Tabel 1.1 Proyek APBN 2016............................................................................................2


Tabel 1.2 The Probability-Impact Matrix (AS/NZS,1999b)..............................................10
Tabel 1.3 The Scale of Probability and Impact (Chapman, 2001).....................................10
Tabel 2.1 Identifikasi Resiko Setiap Pekerjaan.................................................................19
Tabel 2.2 Matriks Resiko (Sumber: Soehatman, 2009).....................................................24
Tabel 2.3 Penilaian Resiko.................................................................................................25
Tabel 2.4 Respon Resiko...................................................................................................28
Tabel 3.1 Hasil Pembahasan Manajemen Resiko Keselamatan dan Kesehatan Kerja......33

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 Proses Manajemen Resiko (Gray dan Larson, 2008).......................................8


Gambar 1.2 Decision Tree Analysis (Haimes, 1998).........................................................11
Gambar 1.3 Cost Risk Simulation (PMI, 2000).................................................................12
Gambar 2.1 Flowchart Pembahasan..................................................................................14

Laporan Keselamatan dan Kesehatan Kerja


Konsultansi Perancangan Peningkatan Jalan Metatu - Balongpanggang
DINAS PEKERJAAN UMUM DAN TATA RUANG BIDANG BINA MARGA
KABUPATEN GRESIK
Jl. Dr. Wahidin Sudiro Husodo No. 247, Gresik

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Proyek konstruksi merupakan suatu kegiatan konstruksi atau membangun suatu bangunan yang sesuai
dengan fungsinya, dengan sumber daya yang terbatas dan waktu yang terbatas pula, guna medapatkan hasil
konstruksi yang sesuai dengan standar kualitas yang diinginkan oleh pemilik proyek. Bangunan yang
dimaksud disini menurut [Link], dikelompokkan menjadi empat, yakni :
1. Bangunan gedung, contohnya kantor, rumah sakit, pusat perbelanjaan, hotel, rumah, apartemen, dan lain-
lain.
2. Bangunan transportasi, contohnya jalan raya, jembatan, rel kereta api, terminal, pelabuhan, bandara atau
lapangan terbang, dan lain sebagainya.
3. Bangunan air, contohnya nedungan, saluran irigasi, saluran drainase, bangunan bagi, gorong-gorong atau
box culvert, rumah pompa dan lain-lain.
4. Bangunan khusus, contohnya anjungan lepas pantai, menara jaringan listrik tegangan tinggi, menara
pemancar radio, TV, dan lain sebagainya.
Pembangunan ataupun rehabilitasi infrastruktur (Bangunan Transportasi) seperti akses jalan antar
kota, antar provinsi, maupun antar lingkungan terus berkembang di Indonesia, dimana hal ini bertujuan untuk
meningkatkan pergerakan ekonomi baik dari sisi kegiatan mata pencaharian maupun daya jual dan daya beli
masyarakat sekitar. Berdasarkan Ma’ruf (2013) bahwa pembangunan infrastruktur jalan memberikan
kontribusi positif bagi pertumbuhan ekonomi wilayah diantaranya adalah :
1. Jasa
2. Transportasi dan Komunikasi.
3. Industri Pengolahan
4. Pertambangan dan penggalian.
5. Konstruksi/bangunan
6. Pertanian, peternakan, kehutanan, dan perikanan.
7. Listrik, gas, dan air bersih.
8. Perdagangan, hotel, dan restoran.
Berdasarkan data dari Percepatan Belanja di Kemenhub dan Kementrian PUPR (2015) yang disadur dari
[Link] untuk Pembangunan Proyek infrastruktur APBN 2016 di Kemenhub yang sudah
ditanda-tangani dapat dilihat dalam Tabel 1.1 sebagai berikut :

Laporan Keselamatan dan Kesehatan Kerja


Konsultansi Perancangan Peningkatan Jalan Metatu - Balongpanggang
DINAS PEKERJAAN UMUM DAN TATA RUANG BIDANG BINA MARGA
KABUPATEN GRESIK
Jl. Dr. Wahidin Sudiro Husodo No. 247, Gresik

Tabel 1.1 Proyek APBN 2016


No. Kontrak
1 Pengadaan perlengkapan jalan di Manuju, Sulawesi Barat
2 Subsidi Operasional Angkutan Jalan di Provisni Lampung
3 Subsidi Angkutan Laut Perintis/ 5 Trayek
4 Subsidi Angkutan Ternak di Kupang, NTT
5 Subsidi Angkutan Laut dalam rangka Tol Laut
6 Repowering KN, Merak, di Bitung Sulawesi Utara
7 Pekerjaan landas pacu Bandara Domine Eduard Osok, Sorong
8 Perluasan Gedung Terminal Bandara Raden Inten Lampung
9 Pekerjaan runway Bandara Syukuran Aminuddin Amir, Sulteng
10 Pembangunan Jalan KA di Km 236.000-237.000 Dumai, Sumut
11 Perawatan dan Pengoperasian Prasarana KA di Sumatra-Jawa
12 Pembangunan Gedung Kelas ATKP di Makassar, Sulsel
.
Karena banyaknya proyek konstruksi yang sedang berjalan di wilayah Indonesia, maka semakin
diperlukannya penerapan manajemen Keselamatan dan Kesehataan Kerja di masing-masing proyek,
dikarenakan proyek konstruksi meliputi tidak hanya stakholders melainkan meliputi alat kerja, material, dan
lingkungan pula. Sehingga jika terjadi kecelakaan kerja dapat mengakibatkan kerugian (loss). Potensi
terjadinya kecelakaan kerja ini perlu dicegah atau setidaknya diminimalisir agar tidak terjadi kecelakaan
kerja. Salah satunya adalah memperketat peraturan Keselamatan dan Kesehatan Kerja di lingkungan area
proyek konstruksi serta meningkatan pengawasan penerapan peraturan Keselamatan dan Kesehatan Kerja di
lingkungan area proyek konstruksi Karena berdasarkan data yang didapat dari Widnyana (2016) yang
menyadur data dari Depnakertrans Jawa Timur (2014) dengan sumber PT. Jaminan Sosial Tenaga Kerja
(Jamsostek), angka kecelakaan kerja di Indonesia masih tergolong tinggi, tahun 2006 terjadi 95.624 kasus
kecelakaan kerja, tahun 2007 terjadi sebanyak 83.714 kasus, sedangkan pada tahun 2008 terjadi sebanyak
93.823 kasus dengan total jumlah pekerja yang sembuh sebanyak 85.090 orang dan cacat sebanyak 44 orang.
Begitu pula untuk halnya Proyek Peningkatan Jalan Kedamean - Sidoraharjo di Kota Probolinggo
nantinya yang juga memerlukan penerapan manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang dapat
meminimalisir atau zero kecelakaan kerja.

1.2 Kecelakaan Kerja


Pada saat pelaksanaan proyek konstruksi, sering kali dijumpai banyaknya pekerja yang tidak
mengindahkan atau tidak mentaati peraturan Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang telah diterapkan di
lingkungan area proyek konstruksi. Akibatnya kemungkinan terjadinya kecelakaan kerja cukup besar.

Laporan Keselamatan dan Kesehatan Kerja


Konsultansi Perancangan Peningkatan Jalan Metatu - Balongpanggang
DINAS PEKERJAAN UMUM DAN TATA RUANG BIDANG BINA MARGA
KABUPATEN GRESIK
Jl. Dr. Wahidin Sudiro Husodo No. 247, Gresik

Kecelakaan kerja adalah suatu kejadian yang tidak dikehendaki dan tidak diduga semula yang dapat
menimbulkan korban manusia dan atau harta benda (Permenaker No. 03/MEN/1998). Pengertian lain
kecelakaan kerja adalah semua kejadian yang tidak direncanakan yang menyebabkan atau berpotensial
menyebabkan cidera, kesakitan, kerusakan atau kerugian lainnya (Standar AS/NZS 4801:2001). Sedangkan
definisi kecelakaan kerja menurut OHSAS 18001:2007 adalah kejadian yang berhubungan dengan pekerjaan
yang dapat menyebabkan cidera atau kesakitan (tergantung dari keparahannya) kejadian kematian atau
kejadian yang dapat menyebabkan kematian. Berikut ini beberapa pengertian kecelakaan kerja dari beberapa
sumber buku:
1. Menurut Suma'mur (2009), kecelakaan kerja adalah suatu kejadian atau peristiwa yang tidak diinginkan
yang merugikan terhadap manusia, merusak harta benda atau kerugian terhadap proses.
2. Menurut Gunawan dan Waluyo (2015), kecelakaan adalah suatu kejadian yang (tidak direncanakan) dan
tidak diharapkan yang dapat mengganggu proses produksi/operasi, merusak harta benda/aset, mencederai
manusia, atau merusak lingkungan.
3. Menurut Heinrich (1980), kecelakaan kerja atau kecelakaan akibat kerja adalah suatu kejadian yang tidak
terencana dan tidak terkendali akibat dari suatu tindakan atau reaksi suatu objek, bahan, orang, atau radiasi
yang mengakibatkan cidera atau kemungkinan akibat lainnya.
4. Menurut Reese (2009), kecelakaan kerja merupakan hasil langsung dari tindakan tidak aman dan kondisi
tidak aman, yang keduanya dapat dikontrol oleh manajemen. Tindakan tidak aman dan kondisi tidak aman
disebut sebagai penyebab langsung (immediate/primary causes) kecelakaan karena keduanya adalah
penyebab yang jelas / nyata dan secara langsung terlibat pada saat kecelakaan terjadi.
5. Menurut Tjandra (2008), kecelakaan kerja adalah suatu kecelakaan yang terjadi pada saat seseorang
melakukan pekerjaan. Kecelakaan kerja merupakan peristiwa yang tidak direncanakan yang disebabkan
oleh suatu tindakan yang tidak berhati-hati atau suatu keadaan yang tidak aman atau kedua-duanya.
Dapat diketahui menurut Bird and Germain (1990) terdapat tiga jenis kecelakaan kerja, yakni :
1. Accident merupakan suatu kejadian yang tidak diinginkan yang menimbulkan kerugian baik bagi manusia
maupun terhadap harta benda.
2. Incident merupakan kejadian yang tidak diinginkan yang belum menimbulkan kerugian.
3. Near miss merupakan kejadian hampir celaka dengan kata lain kejadian ini hampir menimbulkan kejadian
incident ataupun accident.
Sedangkan berdasarkan lokasi dan waktu, kecelakaan kerja dapat dibagi menjadi 4 (empat) jenis
(Sedarmayanti, 2011), yakni
1. Kecelakaan kerja akibat langsung kerja.
2. Kecelakaan pada saat atau waktu kerja.
3. Kecelakaan di perjalanan (dari rumah ke tempat kerja dan sebaliknya, melalui jalan yang wajar).
4. Penyakit akibat kerja.

Laporan Keselamatan dan Kesehatan Kerja


Konsultansi Perancangan Peningkatan Jalan Metatu - Balongpanggang
DINAS PEKERJAAN UMUM DAN TATA RUANG BIDANG BINA MARGA
KABUPATEN GRESIK
Jl. Dr. Wahidin Sudiro Husodo No. 247, Gresik

Kemudian dapat ditilik pula dalam penelitian Suma’mur (1981), kecelakaan kerja dapat dibagi menjadi 3
(tiga) jenis, yakni
1. Kecelakaan kerja ringan merupakan kecelakaan kerja yang memerlukan pengobatan pada hari itu juga dan
bisa melakukan pekerjaannya Kembali atau istirahat kurang dari 2 (dua) hari (contoh terpeleset, tergores,
terkena pecahan beling, terjatuh, dan terkilir).
2. Kecelakaan kerja sedang merupakan kecelakaan kerja yang memerlukan pengobatan dan perlu istirahat
selama lebih dari 2 (dua) hari (contoh terjepit, luka sampai robek, luka bakar).
3. Kecelakaan kerja berat merupakan kecelakaan kerja yang mengalamu amputasi serta kegagalan fungsi
tubuh (contoh patah tulang).
Seperti apa yang telah disebutkan dalam penelitiannya, Widodo (2015) menyebutkan bahwa kecelakaan kerja
terjadi karena perilaku personil yang kurang hati-hati atau ceroboh atau bisa juga karena kondisi yang tidak
aman, apakah itu berupa fisik ataupun pengaruh lingkungan.

1.3 Penyebab Kecelakaan Kerja


Berdasarkan hasil statistik, penyebab kecelakaan kerja 85% disebabkan tindakan yang berbahaya (unsafe act)
dan 15% disebabkan oleh kondisi yang berbahaya (unsafe condition). Penjelasan kedua penyebab kecelakaan
kerja tersebut adalah sebagai berikut (Ramli, 2010):
1. Kondisi yang berbahaya (unsafe condition) yaitu faktor-faktor lingkungan fisik yang dapat menimbulkan
kecelakaan seperti mesin tanpa pengaman, penerangan yang tidak sesuai, Alat Pelindung Diri (APD) tidak
efektif, lantai yang berminyak, dan lain-lain.
2. Tindakan yang berbahaya (unsafe act) yaitu perilaku atau kesalahan-kesalahan yang dapat menimbulkan
kecelakaan seperti ceroboh, tidak memakai alat pelindung diri, dan lain-lain, hal ini disebabkan oleh
gangguan kesehatan, gangguan penglihatan, penyakit, cemas serta kurangnya pengetahuan dalam proses
kerja, cara kerja, dan lain-lain.
Sedangkan menurut Ridley (2008), penyebab terjadinya kecelakaan kerja adalah sebagai berikut:
a. Situasi Kerja
1. Pengendalian manajemen yang kurang.
2. Standar kerja yang minim.
3. Tidak memenuhi standar.
4. Perlengkapan yang gagal atau tempat kerja yang tidak mencukupi.
b. Kesalahan Orang
1. Keterampilan dan pengetahuan yang minim.
2. Masalah fisik atau mental.
3. Motivasi yang minim atau salah penempatan.
4. Perhatian yang kurang.

Laporan Keselamatan dan Kesehatan Kerja


Konsultansi Perancangan Peningkatan Jalan Metatu - Balongpanggang
DINAS PEKERJAAN UMUM DAN TATA RUANG BIDANG BINA MARGA
KABUPATEN GRESIK
Jl. Dr. Wahidin Sudiro Husodo No. 247, Gresik

c. Tindakan Tidak Aman


1. Tidak mengikuti metode kerja yang telah disetujui.
2. Mengambil jalan pintas.
3. Menyingkirkan atau tidak menggunakan perlengkapan keselamatan kerja.
d. Kecelakaan
1. Kejadian yang tidak terduga.
2. Akibat kontak dengan mesin atau listrik yang berbahaya.
3. Terjatuh.
4. Terhantam mesin atau material yang jatuh dan sebagainya.
Kecelakaan kerja juga bisa disebabkan oleh beberapa faktor sebagai berikut (Rachmawati, 2008):
1. Faktor fisik, yang meliputi penerangan, suhu udara, kelembaban, cepat rambat udara, suara, vibrasi
mekanis, radiasi, tekanan udara, dan lain-lain.
2. Faktor kimia, yaitu berupa gas, uap, debu, kabut, awan, cairan, dan benda-benda padat.
3. Faktor biologi, baik dari golongan hewan maupun dari tumbuh-tumbuhan.
4. Faktor fisiologis, seperti konstruksi mesin, sikap, dan cara kerja.
5. Faktor mental-psikologis, yaitu susunan kerja, hubungan di antara pekerja atau dengan pengusaha,
pemeliharaan kerja, dan sebagainya.

1.4 Mitigasi Kecelakaan Kerja


Kecelakaan kerja dapat dicegah dengan memperhatikan beberapa faktor, antara lain sebagai berikut
(Suma’mur, 2009):
a. Faktor Lingkungan
Lingkungan kerja yang memenuhi persyaratan pencegahan kecelakaan kerja, yaitu:
1. Memenuhi syarat aman, meliputi higiene umum, sanitasi, ventilasi udara, pencahayaan dan penerangan di
tempat kerja dan pengaturan suhu udara ruang kerja.
2. Memenuhi syarat keselamatan, meliputi kondisi gedung dan tempat kerja yang dapat menjamin
keselamatan.
3. Memenuhi penyelenggaraan ketatarumahtanggaan, meliputi pengaturan penyimpanan barang, penempatan
dan pemasangan mesin, penggunaan tempat dan ruangan.

b. Faktor Mesin dan peralatan kerja


Mesin dan peralatan kerja harus didasarkan pada perencanaan yang baik dengan memperhatikan ketentuan
yang berlaku. Perencanaan yang baik terlihat dari baiknya pagar atau tutup pengaman pada bagian-bagian
mesin atau perkakas yang bergerak, antara lain bagian yang berputar. Bila pagar atau tutup pengaman telah
terpasang, harus diketahui dengan pasti efektif tidaknya pagar atau tutup pengaman tersebut yang dilihat dari

Laporan Keselamatan dan Kesehatan Kerja


Konsultansi Perancangan Peningkatan Jalan Metatu - Balongpanggang
DINAS PEKERJAAN UMUM DAN TATA RUANG BIDANG BINA MARGA
KABUPATEN GRESIK
Jl. Dr. Wahidin Sudiro Husodo No. 247, Gresik

bentuk dan ukurannya yang sesuai terhadap mesin atau alat serta perkakas yang terhadapnya keselamatan
pekerja dilindungi.
c. Faktor Perlengkapan kerja
Alat pelindung diri merupakan perlengkapan kerja yang harus terpenuhi bagi pekerja. Alat pelindung diri
berupa pakaian kerja, kacamata, sarung tangan, yang kesemuanya harus cocok ukurannya sehingga
menimbulkan kenyamanan dalam penggunaannya.
d. Faktor manusia
Pencegahan kecelakaan terhadap faktor manusia meliputi peraturan kerja, mempertimbangkan batas
kemampuan dan ketrampilan pekerja, meniadakan hal-hal yang mengurangi konsentrasi kerja, menegakkan
disiplin kerja, menghindari perbuatan yang mendatangkan kecelakaan serta menghilangkan adanya
ketidakcocokan fisik dan mental.
Kecelakaan kerja juga dapat dikurangi, dicegah atau dihindari dengan menerapkan program yang
dikenal dengan tri-E atau Triple E, yaitu (Sedarmayanti,2011):
1. Engineering (Teknik). Engineering artinya tindakan pertama adalah melengkapi semua perkakas dan
mesin dengan alat pencegah kecelakaan (safety guards) misalnya tombol untuk menghentikan bekerjanya
alat/mesin (cut of switches) serta alat lain, agar mereka secara teknis dapat terlindungi.
2. Education (Pendidikan). Education artinya perlu memberikan pendidikan dan latihan kepada para pegawai
untuk menanamkan kebiasaan bekerja dan cara kerja yang tepat dalam rangka mencapai keadaan yang
aman (safety) semaksimal mungkin.
3. Enforcement (Pelaksanaan). Enforcement artinya tindakan pelaksanaan, yang memberi jaminan bahwa
peraturan pengendalian kecelakaan dilaksanakan.

1.5 Manajemen Resiko


Menurut The Association for Project Management (APM,1997) Resiko adalah rangkaian suatu
kejadian yang tidak pasti, jika terjadi maka dapat mempengaruhi pencapaian dari tujuan awal proyek.
Sedangkan berdasarkan The Institution of Civil Engineers and Faculty and Institue of Actuaries (ICE dan
FIA, 1998), menyebutkan bahwa resiko adalah suatu kejadian yang jika terjadi dapat menyebabkan baik dan
buruknya terhadap pencapaian proyek. Selain itu dalam peraturan Australian and New Zealand Standards
(AS/NZS, 1996) menjelaskan resiko adalah suatu peristiwa yang terjadi dan dapat memberikan pengaruh
terhadap hasil proyek yang diinginkan. The Project Management Institute (PMI, 2000) menerbitkan resiko
adalah sebuah kejadian atau kondisi yang tidak pasti, jika terjadi dapat mempunyai pengaruh positif maupun
negatif pada performa proyek seperti halnya biaya, waktu, dan mutu. Maka dapat dijelaskan secara umum
bahwa resiko adalah sebuah kejadian atau peristiwa yang jika terjadi dapat memberikan pengaruh terhadap
tujuan proyek baik pengaruh buruk maupun pengaruh baik.

Laporan Keselamatan dan Kesehatan Kerja


Konsultansi Perancangan Peningkatan Jalan Metatu - Balongpanggang
DINAS PEKERJAAN UMUM DAN TATA RUANG BIDANG BINA MARGA
KABUPATEN GRESIK
Jl. Dr. Wahidin Sudiro Husodo No. 247, Gresik

Resiko pun juga memiliki berbagai macam tipe dalam siklus kehidupan proyek (project life-cycle),
menurut Mulholland and Christian (1999) dibagi menjadi beberapa parameter, yakni :
1. Engineering Design, termasuk pada saat investigasi awal proyek (survey awal) serta dalam kriterian desain
proyek dan estimasi biaya pekerjaan proyek konstruksi.
2. Procurement, melibatkan proses pemesanan material dalam jangka waktu yang panjang, proses pabrikasi,
dan performa sub-kontraktor ataupun vendor yang terlibat.
3. Construction, termasuk perencanaan sumber pendapatan pekerja, ksesalahan konstruksi pada saat
pelaksanaan, dan faktor cuaca.
4. Project Management, melibatkan pengalaman manajemen, prosedur pelaksanaan proyek atau SOP
(Standart Operasional Proyek), dan kontrol manajemen proyek baik dari sisi biaya, waktu, maupun
kualitas/mutu.
Resiko di atas perlu diatur agar terorganisir dan terkendalikan dengan baik, hal ini dapat disebut
sebagai manajemen resiko (Waring and Glendon, 1998). Vaughn (1997) juga menjelaskan bahwa fungsi
paling mendasar dari manajemen resiko adalah mendesain dan menerapkan prosedur untuk meminimalisir
efek negative jika resiko terjadi. Pengertian manajemen resiko yang hampir mirip juga disebutkan dalam
Australian and Nez Zealand Standards (AS/NZS, 1999), yakni suatu pendekatan logis dan sistematis yang
terdiri dari mengidentifikasi, menganalisa, dan mengamati resiko guna meminimalisir kerugian (loss) dan
memaksimalkan kesempatan yang baik. Pada dasarnya pula esensi tujuan dari manajemen resiko adalah untuk
meningkatkan performa proyek konstruksi dengan menggunakan sebuah pendekatan logis termasuk
pengidentifikasian masalah, penilaian masalah, dan pengendalian masalah dengan focus manajemen resiko
yang dapat mengurangi ancaman atau dampak kerugian dan memaksimalkan kesempatan baik (Chapman and
Ward, 1997). The Association for Project Management (APM, 1997) yang mengembangkan Project Risk
Analysis and Management guide (PRAM) menjelaskan bahwa manajemen resiko merupak suatu proses yang
terdiri dari 6 tahap yakni :
1. Mendefinisikan Proyek
2. Fokus pada sistem PRAM.
3. Identifikasi resiko
4. Penilaian resiko
5. Perencanaan respon resiko
6. Pengaturan resiko
Tidak jauh berbeda, Project Management Institute (PMI 2000) dan Australian and New Zealand Satandards
(AS/NZS, 1999b) meneybutkan pula bahwa proses manajemen resiko terdiri dari 6 tahap, namun keduanya
menjunjung beberapa aspek manajemen resiko yang berbeda. AS/NZS (1999b) mengemban penilaian resiko
dalam 2 tahap yang berbeda yakni analisa dan evaluasi resiko dengan proses manajemen resiko yang terdiri

Laporan Keselamatan dan Kesehatan Kerja


Konsultansi Perancangan Peningkatan Jalan Metatu - Balongpanggang
DINAS PEKERJAAN UMUM DAN TATA RUANG BIDANG BINA MARGA
KABUPATEN GRESIK
Jl. Dr. Wahidin Sudiro Husodo No. 247, Gresik

dari memunculkan konteks atau topik, identifikasi resiko, analisa resiko, evaluasi resiko, perlakuan resiko,
mengamati resiko, dan meninjau ulang resiko (review). Sedangkan PMI (2000) lebih menekankan bahwa
penilaian resiko dibagi menjadi analisa resiko kualitatif dan analisa resiko kuantitatif dengan proses
manajamen resiko yang terdiri dari perencanaan manajemen resiko, identifikasi resiko, analisa resiko
kualitatif, analisa rresiko kuantitatif, perencanaan respon resiko, mengamati resiko, dan pengkontrolan resiko.
Dari proses manajemen resiko di atas maka dapat diambil kesimpulan bahwa proses manajemen
resiko terdiri dari 4 tahap yang penting dan wajib dipenuhi yakni Identifikasi resiko, penilaian resiko, respon
resiko, dan kontrol respon resiko (Gray dan Larson, 2008). Dimana untuk penjelasan singkat Proses
Manajemen Resiko dapat dilihat dalam gambar 1.1 di bawah.

Step 1. Risk Identification


Analyze the project to identify sources of risk

Known Risk

Step 2. Risk Assessment

New Risk Assess risk in terms of:


- Severity of impact
- Likelihood of occurring
- Controllability

Risk Assessment

Step 3. Risk Response Development


New Risk
Develop a strategy to reduce possible damage
and develop contingency plans

Risk Management Plan

Step 4. Risk Response Control


New Risk - Implement risk Strategy
- Monitoring and adjust plan for new risk
- Change management

Gambar 1.1 Proses Manajemen Resiko (Gray dan Larson, 2008)

Tujuan dari manajemen risiko menurut AS/NZS 4360 (2004) adalah sebagai berikut :
1. Membantu meminimalisasikan meluasnya efek yang tidak diinginkan terjad..
2. Memaksimalkan pencapaian tujuanorganisasi dengan meminimalkan kerugian.

Laporan Keselamatan dan Kesehatan Kerja


Konsultansi Perancangan Peningkatan Jalan Metatu - Balongpanggang
DINAS PEKERJAAN UMUM DAN TATA RUANG BIDANG BINA MARGA
KABUPATEN GRESIK
Jl. Dr. Wahidin Sudiro Husodo No. 247, Gresik

3. Melaksanakan program manajemen secara efisien sehingga memberikan keuntungan bukan kerugiaN.
4. Melakukan peningkatan pengambilan keputusan pada semua level.
5. Menyusun program yang tepat untuk menimalisasi kerugian pada saat terjadi kegagalan.
6. Menciptakan manajemen proaktif bukan reaktif.
Manfaat dari manajemen risiko adalah dapat mencegah perusahaan dari kegagalan, yang mana
sebagian besar dapat menghancurkan fasilitas/aset. Menurut AS/NZS 4360 (2004) manfaat menerapkan
manjemen risiko adalah :
1. Memperkecil kemungkinan suatu kejadian yang tidak diinginkan dan mengurangi efek yang ditimbulkan
dari kemungkinan tersebut.
2. Meningkatkan produktifitas kerja.
3. Membantu meningkatkan perencanaan kerja perusahaan yang efektif, lingkungan kerja, produksi dan
mencapai performa perusahaan yang lebih baik.
4. Mendapatkan keuntungan dari segi ekonomi dan kemudahan untuk memenuhi target perusahaan dan
perlindungan asset.
5. Meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan karyawan.

1.5.1 Identifikasi Resiko


Tujuan dari identifikasi resiko ini adalah dapat mengidentifikasi tipe dan penyebab penting terjadinya
resiko dan ketidak-pastian yang dapat mempengaruhi tujuan proyek yang telah disusun sesuai rencana (ICE
dan FIA, 1998), baik resiko tersebut dapat dikontrol dan juga didokumentasikan karakteristiknya. Jika suatu
resiko tidak diidentifikasi dengan baik, maka ada kemungkinan bahwa resiko ini tidak dapat dianalisa dan
diatur dalam langkah selanjutnya.
Terdapat beberapa metode untuk mengidentifikasi resiko dalam literature manajemen. Tetapi teknik
dan pendekatan untuk mengidentifikasi resiko yang sering digunakan menurut PMI (2000) adalah
peninnjauan dokumentasi (identifikasi resiko berdasarkan pekerjaan sebelumnya yang sebidang), tukar
pikiran (brainstorming), teknik Delphi (berdasarkan ahli), wawancara pelaku proyek konstruksi, checklist
(didapat dari literature), dan teknik diagram (mengidentifikasi penyebab terjadinya resiko, salah satunya
dengan menggunakan fishbone diagram atau diagram tulang ikan).

1.5.2 Penilaian Resiko


Lalu semua resiko yang telah teridentifikasi diolah dalam penilain probability and impact matrix
(matriks kemungkinan dan dampak) dengan menggunakan pendekatan kualitatif (PMI, 2000). Penilaian
resiko probability and impact ini digunakan untuk menentukan level sebuah resiko. Dimana probability and
impact dari sebuah resiko dinilai dan diplot dalam 2 dimensi garis (tabel) yang dapat disebut sebagai tabel
matriks. Dimana posisi dalam tabel matriks mewakili level dari sebuah resiko mulai dari rendah hingga sangat

Laporan Keselamatan dan Kesehatan Kerja


Konsultansi Perancangan Peningkatan Jalan Metatu - Balongpanggang
DINAS PEKERJAAN UMUM DAN TATA RUANG BIDANG BINA MARGA
KABUPATEN GRESIK
Jl. Dr. Wahidin Sudiro Husodo No. 247, Gresik

tinggi. Semakin tinggi level resikonya, khususnya dengan probability resiko dan impact resiko yang tinggi
maka sebaiknya diolah dalam tahap selanjutnya, yakni analisa resiko dan perlu diatur dengan hati-hati.
Berikut untuk ilustrasi probability and impact matrix risk (AS/NZS, 1999b) dapat dolohat dalam tabel 1.2 di
bawah.
Tabel 1.2 The Probability-Impact Matrix (AS/NZS,1999b)

Impact
Probability Lo Hig
Very Low Medium Very High
w h
Almost
H H E E E
Certain
Likely M H H E E
Possible L M H E E
Unlikely L L M H E
Very Unlikely L L M H H
Dimana E adalah Extreme risk, H adalah High risk, M adalah Moderate risk, dan L adalah Low risk

Skala yang digunakan dalam menilai probability sebuah resiko dan impact sebuah resiko dapat dibagi
menjadi 2 yakni ordinal dan cardinal (PMI, 2000). Skala ordinal menggunakan nilai berupa kata seperti very
unlikely, unlikely, possible, likely, dan almost certain. Sedangkan skala cardinal menggunakan nilai angka
yang terdiri dari 0.1, 0.3, 0.5, 0.7, 0.9. Ilustrasi singkat terkai skala penilaian probability dan impact dapat
dilihat dalam tabel 1.3 di bawah.
Tabel 1.3 The Scale of Probability and Impact (Chapman, 2001)

Cardinal Ordinal
Probability Impact on Cost Impact on Time
Scale Scale
0.9 Very High > 70% > £20m > 15 weeks
0.7 High 51%-70% £5m – £20m 10 – 15 weeks
0.5 Medium 31%-50% £0.5m – £5m 5 – 10 weeks
0.5 Low 10%-30% £0.1m – £0.5m 1 – 5 weeks
0.1 Very Low < 10% <£ 0.1m < 1 week

Penilaian resiko ini merupakan sebuah analisa resiko secara kualitatif sehingga jika ingin membuat
sebuah prioritas penyelesaian resiko tidak disarankan menggunakan ini. Sebaiknya diselesaikan dalam tahap
berikutnya yakni analisa resiko yang dapat disebut sebagai pendekatan kuantitatif.

Laporan Keselamatan dan Kesehatan Kerja


Konsultansi Perancangan Peningkatan Jalan Metatu - Balongpanggang
DINAS PEKERJAAN UMUM DAN TATA RUANG BIDANG BINA MARGA
KABUPATEN GRESIK
Jl. Dr. Wahidin Sudiro Husodo No. 247, Gresik

1.5.3 Analisa Resiko


Dalam tahap analisa resiko ini, probability dan impact masing-masing resiko yang dijelaskan dalam
tahap penilaian resiko di atas, dikerucutkan atau dirincikan dengan menggunakan analisa resiko kuantitatif
untuk mendapatkan resiko yang terjadi di lingkungan proyek secara keseluruhan (PMI, 2000). Tujuan dalam
analisa resiko ini adalah mengidentifikasi resiko yang sudah memiliki konsekuensi signifikan dalam performa
proyek, jika terjadi (ICE dan FIA, 1998).
Terdapat beberapa teknik yang telah dikembangkan dalam mencapai analisa resiko yang sesuai dan
akurat, yakni menggunakan alat dasar dari analisa resiko kuantitatif yang terdiri dari :
1. Sensitivity analysis adalah mengidentifikasi resiko yang dapat memberikan potensi efek terbesar dalam
performa atau kinerja sebuah proyek dengan membedakan masing-masing resiko tersendiri dan menilai
dampak yang didapat proyek secara keseluruham (Flanagan dan Norman, 1993).
2. Decision Tree adalah sebuah ilustrasi diagram mengambil keputusan dengan menggunakan sebuah proses
yang beralasan untuk memilih alternative terbaik yang tersedia diantara alternative lainnya (PMI, 2000).
Dimana ilustrasi analisa decision tree dapat diliha pada gmbar 1.2 berikut.

Gambar 1.2 Decision Tree Analysis (Haimes, 1998)

3. Simulation adalah sebuah model yang didesain sedemikian rupa yang mana dinilai untuk bekerja dicara
yang sama dengan yang asli (Flanagan dan Norman, 1993). Simulais proyekn ini menggunakan sebuah
model untuk mengkerucutkan atau merinci ketidak-pastian di level tertentu kedalam dampak yang
berpotensi pada tujuan awal proyek. Sebagai contoh adalah sebuag simulasi resiko pembiayaan tertuang
dalam gambar 1.3 sebagai berikut.

Laporan Keselamatan dan Kesehatan Kerja


Konsultansi Perancangan Peningkatan Jalan Metatu - Balongpanggang
DINAS PEKERJAAN UMUM DAN TATA RUANG BIDANG BINA MARGA
KABUPATEN GRESIK
Jl. Dr. Wahidin Sudiro Husodo No. 247, Gresik

Gambar 1.3 Cost Risk Simulation (PMI, 2000)

1.5.4 Respon Resiko


Ada 4 teknik yang biasanya digunakan dalam respon resiko, diantaranya adalah avoidance
(dihindari), transferred (dipindahkan), mitigated (dicegah), dan accepted (diterima) (PMI, 2000). Sementara
peneliti lainnya mendeskripsikan tekni di atas sebagai berikut :
1. Risk Avoidance adalah Penghindaran resiko. Risiko biasanya dihindari jika efek risiko pada proyek sangat
tinggi, dan untuk menghilangkan atau meminimalkannya akan sangat sulit. Misalnya, kontraktor dapat
memutuskan untuk tidak mengajukan penawaran karena proyek tersebut memiliki risiko yang sangat
tinggi.
2. Risk Transferred adalah Risiko dapat dialihkan kepada pihak lain yang akan bertanggung jawab atas
konsekuensi risiko yang telah dialihkan tersebut. Ada dua cara utama untuk melakukan ini: (a)
mengalihkan aktivitas berbahaya ke pihak lain, misalnya menyewa subkontraktor untuk melakukan
pekerjaan itu, (b) mentransfer risiko keuangan, misalnya, kontraktor dapat mengambil asuransi untuk
menutupi risiko tersebut aktivitas.
3. Risk Mitigation adalah Dengan mengurangi kemungkinan dan / atau dampak dari risiko yang tidak dapat
diterima, efek negatif pada kinerja proyek dapat dikurangi. Misalnya, kontraktor dapat mengadopsi metode
konstruksi baru untuk mengurangi waktu penyelesaian.
4. Risk Acceptance adalah Jika tidak ada strategi yang sesuai untuk meminimalkan risiko, itu mungkin harus
diterima. Ada dua jenis penerimaan risiko, yaitu: penerimaan aktif dan penerimaan pasif. Penerimaan aktif

Laporan Keselamatan dan Kesehatan Kerja


Konsultansi Perancangan Peningkatan Jalan Metatu - Balongpanggang
DINAS PEKERJAAN UMUM DAN TATA RUANG BIDANG BINA MARGA
KABUPATEN GRESIK
Jl. Dr. Wahidin Sudiro Husodo No. 247, Gresik

membutuhkan asuransi diri atau kemungkinan, sedangkan penerimaan pasif menyiratkan bahwa tidak ada
rencana khusus yang dikembangkan untuk menangani risiko yang diterima.

1.5.5 Pemantauan Resiko


Tahap terakhir, menurut Tah dan Carr (2000) pemantauan risiko, digunakan untuk memastikan bahwa
tindakan yang diterapkan bekerja dengan baik. Ini adalah sistem untuk menyimpan catatan risiko yang
teridentifikasi, memantau risiko yang terjadi dan pengaruhnya terhadap proyek, dan kemudian mengendalikan
tindakan yang diterapkan dan mengevaluasi keefektifannya dalam meminimalkan risiko (PMI, 2000). Ini
mungkin melibatkan pemilihan strategi alternatif, pengambilan tindakan korektif dan / atau perencanaan
ulang proyek. Oleh karena itu, jika tindakan yang diterapkan pada risiko tersebut menimbulkan efek negatif,
maka risiko tersebut perlu dianalisis kembali atau diambil respons baru; jika peluang terjadinya suatu risiko
telah berlalu, maka risiko tersebut dapat dihilangkan dari proyek.
Menurut PMI (2000), pemantauan resiko dapat dilaksanakan jika respon resiko telah diterapkan
sesuai dengan rencana, respon resiko ternyata efektif dalam penerapannya sesuai de ngan yang diharapkan,
asumsi proyek sebelumnya masih valid, dan resiko telah terjadi atau bangkit dikarenakan berlum
teridentifikasi sebelumnya.
Ada beberapa teknik untuk memantau risiko, seperti: audit respons risiko proyek, tinjauan risiko
proyek berkala dan analisis nilai yang diperoleh (PMI, 2000). Mereka dijelaskan sebagai berikut:
1. Dalam audit respons risiko proyek, efektivitas respons risiko dievaluasi selama pelaksanaan proyek.
2. Tinjauan risiko proyek harus diatur secara berkala untuk mengatasi setiap perubahan risiko yang
diprioritaskan selama proyek.
3. Analisis nilai yang diperoleh digunakan untuk mengevaluasi kinerja proyek dalam hal biaya dan waktu
terhadap rencana dasar. Rincian analisis nilai yang diperoleh dijelaskan di bab berikutnya.
Hasil dari pemantauan risiko meliputi: pembaruan rencana respons risiko dan database risiko (PMI,
2000). Apakah risiko telah terjadi atau tidak, bersama dengan tindakan apa pun yang diambil untuk
menangani risiko harus didokumentasikan dan dievaluasi dan ditempatkan ke dalam database risiko. Ini akan
membantu tim proyek dalam proses pembelajaran tentang risiko untuk proyek-proyek mendatang.

Laporan Keselamatan dan Kesehatan Kerja


Konsultansi Perancangan Peningkatan Jalan Metatu - Balongpanggang
DINAS PEKERJAAN UMUM DAN TATA RUANG BIDANG BINA MARGA
KABUPATEN GRESIK
Jl. Dr. Wahidin Sudiro Husodo No. 247, Gresik

BAB 2
PEMBAHASAN

2.1 Konsep Pembahasan


Pada pembahasan resiko dalam melaksanakan kegiatan Keselamatan dan Kesehatan Kerja selama di
lapangan, diperlukan adanya sebuah kerangka pembahasan mitigasi. Dalam pembahasan ini hanya digunakan
penilaian resiko atau analisa resiko kualitatif, dan pemantauan resiko atau risk monitoring juga tidak
dilaksanakan karena hasil rspon resiko belum diterapkan (masih fase perencanaan). Berikut langkah-langkah
pembahsanannya dapat dilihat dalam gambar 2.1 flow chart di bawah.

START

Research Design
- Variable Research
- Population and Sample
- Data Collection

Identification Risk
- Literature
- Interview & Observation

Risk Assessment
- Expert Judgement
- Assessment the level of risks
- Scaling the result of assessment

Risk Response
- Responded the highest category of risks

Conclusion

FINISH

Gambar 2.1 Flowchart Pembahasan

Laporan Keselamatan dan Kesehatan Kerja


14
Konsultansi Perancangan Peningkatan jalan Metatu – Balongpanggang
DINAS PEKERJAAN UMUM DAN TATA RUANG BIDANG BINA MARGA
KABUPATEN GRESIK
Jl. Dr. Wahidin Sudiro Husodo No. 247, Gresik

2.2 Identifikasi Resiko Proyek


Dalam Perencanaan Proyek Peningkatan Jalan Metatu – Balongpanggang diperlukan adanya
identifikasi resiko dari masing-masing pekerjaan yang akan dikerjakan di lapangan nantinya sehingga
kecelakaan kerja dapat diminimalisir atau bahkan zero accident. Dalam mengidentifikasi resiko untuk proyek
Peningkatan Jalan Kedamean-Sidoraharjo ini, digunakan metode brainstorming, checklist, dan fishbone
diagram. Berikut pekerjaan-pekerjaan yang berada dalam cakupan Proyek Peningkatan Jalan Metatu –
Balongpanggang beserta resiko yang dapat terjadi di kemudian hari :
1. Pekerjaan Mobilisasi, merupakan suatu pekerjaan hilir mudiknya equipment atau alat kerja yang
digunakan dan dibutuhkan dalam lingkungan proyek gunan menunjang penyelesaian proyek dan
tercapainya tujuan proyek sesuai dengan biaya, mutu, dan waktu yang telah direncanakan. Dalam
pekerjaan mobilisasi pun tidak luput dari dari terjadinya resiko pekerjaan, berdasarkan Indrayani (2017)
resiko yang dapat terjadi diantaranya adalah pekerja tergores atau terpotong material tajam, pekerja
tersandung, pekerja jatuh dari ketinggian yang sama, pekerja tergigit ular.
2. Pekerjaan Manajemen dan Keselamatan Lalu Lintas, merupakan suatu pekerjaan guna mengatur dan
mengorganisir pekerjaan Keselamatan dalam berlalu lintas ketika proyek berjalan. Pun pekerjaan ini tidak
luput dari terjadinya resiko, melalui proses brainstorming didapat contoh resiko pekerja tertabrak
kendaraan yang lewat, terjadinya kemacetan lalu lintas akibat pelaksanaan proyek, menyempitnya akses
lalu lintas akibat pelaksanaan proyek.
3. Pekerjaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja, merupakan suatu pekerjaan guna mengatur dan
mengorganisir pekerjaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang diterpakan di area proyek. Pun
pekerjaan ini tidak luput dari terjadinya resiko, melalui proses brainstorming didapat contoh resiko tidak
ditaatinya peraturan Keselamatan dan Kesehatan Kerja, pekerja tidak memakai APD, penggunaan alat
kerja yang bukan ahlinya, tidak terpasangnya papan peringatan K3.
4. Pekerjaan Manajemen Mutu, merupakan pekerjaan yang dilaksanakan guna menjaga kualitas atau mutu
suatu pekerjaan agar tujuan mutu suatu proyek dapat tercapai sesuai dengan yang direncanakan. Dalam
pekerjaan ini juga terdapat resiko yang dapat timbul, berdasarkan hasil brainstorming dapat ditemukan
adanya cacat produk, material yang didatangkan tidak sesuai dengan spesifikasi, alat kerja yang
didatangkan tidak tepat guna, tujuan proyek tidak tercapai sesuai dengan yang direncanakan, menurut
Indrayani (2017) diantaranya adalah Iritasi kulit terkena percikan semen, mata pekerja terkena percikan
adonan beton, pekerja terjatuh dari scaffolding, pekerja terjatuh dari truck mixer/pump truck, pekerja
terpapar getaran vibrator, pekerja tersayat besi, pekerja tertusuk besi bendrat, pekerja terjepit mesin
bending, pekerja tercepit alat kerja (tang) atau terjepit besi, pekerja terpotong jarinya pada mesin
pemotong besi (bar cutter).
5. Pekerjaan Galian untuk Pasangan batu dan Rekonstruksi, merupakan suatu pekerjaan yang berfungsi
untuk membuat tembok penahan tanah jalan sehingga adanya penahan tanah agar tanah tidak longor dan

Laporan Keselamatan dan Kesehatan Kerja


15
Konsultansi Perancangan Peningkatan jalan Metatu – Balongpanggang
DINAS PEKERJAAN UMUM DAN TATA RUANG BIDANG BINA MARGA
KABUPATEN GRESIK
Jl. Dr. Wahidin Sudiro Husodo No. 247, Gresik

untuk menggali badan jalan yang perlu adanya perbaikan pondasi. Dalam pelaksanaannya juga terdapat
resiko, berdasarkan Indrayani (2017) diantaranya adalah pekerja terkena pacul atau alat gali lainnya,
pekerja terpeleset atau jatuh, pekerja terkena longsoran galian.
6. Pekerjaan Timbunan Biasa Dari Hasil Galian merupakan pekerjaan urugan yang dapat berupa material
limestone, pasir padat, ataupun sirtu padat di lingkungan proyek guna akses jalan atau landasan pekerjaan
di area proyek. Menurut proyek Pekerjaan Pembangunan Jembatan Provinsi Tk. Lean 20 M di Bali yang
diterbitkan oleh CV. Karya Wiguna Utama, resiko yang dapat terjadi salah satu diantaranya adalah
Gangguan kesehatan akibat kondisi kerja secara umum, kecelakaan akibat jenis dan cara penggunaan alat
kerja yang salah, kecelakaan akibar peraturan lalu lintas yang kurang baik.
7. Pekerjaan Timbunan Pilihan (diukur di atas bak truk), merupakan pekerjaan urugan yang dapat berupa
material limestone, pasir padat, ataupun sirtu padat di lingkungan proyek guna akses jalan atau landasan
pekerjaan di area proyek. Menurut proyek Pekerjaan Pembangunan Jembatan Provinsi Tk. Lean 20 M di
Bali yang diterbitkan oleh CV. Karya Wiguna Utama, resiko yang dapat terjadi salah satu diantaranya
adalah Gangguan kesehatan akibat kondisi kerja secara umum, kecelakaan akibat jenis dan cara
penggunaan alat kerja yang salah, kecelakaan akibar peraturan lalu lintas yang kurang baik.
8. Pekerjaan Pemotongan Pohon, merupakan pekerjaan pemotongan pohon untuk mendapatkan lahan
pengerjaan konstruksi. Dalam pelaksanaanya pula didapat resiko seperti pekerja terkena alat pemotong,
pekerja tertimpa pohon, pekerja terpeleset atau terjatuh, pekerjan terciprat serpihan kayu atau tanah.
9. Pekerjaan Penanamam Pohon, merupakan pekerjaan penanaman pohon untuk penghijauan lahan. Dalam
pelaksanaanya pula didapat resiko seperti pekerja terkena cangkul atau sekrop, pekerja tertimpa pohon,
pekerja terpeleset atau terjatuh, pekerjan terciprat tanah.
10. Pekerjaan Geotekstil Non Woven, digunakan untuk memisahkan dua lapisan tanah yang mempunyai
distribusi ukuran partikel berbeda. Fungsinya adalah membantu mencegah tanah dasar berbutir halus dari
pemompaan ke dasar jalan granular yang permeabel, sehingga mencegah dua lapisan yang berdekatan
dari pencampuran struktur. Dalam pelaksanaanya pula didapat resiko seperti pekerja cedera terjebak atau
cedera terbentur saat pemasangan geotextile dan kecelakaan akibat penerangan di lokasi proyek kurang.
11. Pekerjaan Penyiapan Badan Jalan, merupakan suatu pekerjaan pekerjaan penyiapan, penggaruan dan
pemadatan yang dilaksanakan sebelum pengahamparan lapis pondasi yang berada pada jalur lalu lintas
termasuk jalur tempat perhentian dan persimpangan. Penyiapan, Penggaruan, dan Pemadatan lapis
pondasi semen tanah. Menilik pada Proyek yang dijalankan oleh CV. Alpine Construction resiko yang
dapat terjadi adalah pekerja terkena atau tertimpa alat berat, dan menurut hasil pengalaman dari CV.
Karya Wiguna Utama dapat terjadi kecelakaan kerja akibat pengaturan lalu lintas yang kurang baik,
Kecelakaan akibat operasional alat berat di tempat lokasi pemadatan, kecelakaan akibat metode
penimbunan tanah pada jalan tanjakan.

Laporan Keselamatan dan Kesehatan Kerja


16
Konsultansi Perancangan Peningkatan jalan Metatu – Balongpanggang
DINAS PEKERJAAN UMUM DAN TATA RUANG BIDANG BINA MARGA
KABUPATEN GRESIK
Jl. Dr. Wahidin Sudiro Husodo No. 247, Gresik

12. Pekerjaan Lapis Pondasi Agregat Kelas A, merupakan pekerjaan lapis dasar sebelum dilaksanakannya
penghamparan pekerjaan aspal. Dimana pekerjaan ini pun dapat menimbulkan resiko di kemudian hari,
berdasarkan pengalaman dari CV. Karya Wiguna Utama didapatkan resiko terjadi kecelakaan pada saat
dump truck menurunkan agregat, terjadi iritasi pada kulit dan paru-paru akibat debu agregat yang kering,
terluka oleh mesin penghampar karena pengoperasian yang tidak benar, terluka oleh peralatan kerja
akibat jarak antar pekerja yang terlalu dekat.
13. Pekerjaan Lapis Pondasi Agregat Kelas B, merupakan merupakan salah satu item dalam pekerjaan

rekonstruksi/ peningkatan kapasitas struktur dengan tujuan sebagai bagian dari konstruksi perkerasan
untuk menyebarkan beban roda. Dimana pekerjaan ini pun dapat menimbulkan resiko di kemudian hari,
berdasarkan pengalaman dari CV. Karya Wiguna Utama didapatkan resiko terjadi kecelakaan pada saat
dump truck menurunkan agregat, terjadi iritasi pada kulit dan paru-paru akibat debu agregat yang kering,
terluka oleh mesin penghampar karena pengoperasian yang tidak benar, terluka oleh peralatan kerja
akibat jarak antar pekerja yang terlalu dekat.
14. Pekerjaan Lapis Resap Pengikat – Aspal Cair/Emulsi, merupakan suatu lapisan pengikat yang sering
disebut sebagai prime coat serta lapisan ikat aspal cair yang diletakkan di atas lapis pondasi agregat Klas
A. Dimana pekerjaan ini pun dapat menimbulkan resiko di kemudian hari, berdasarkan pengalaman dari
CV. Karya Wiguna Utama didapatkan resiko terluka akibat percikan aspal panas, terluka oleh api
pembakaran, terjadi bahaya kebakaran, terjadi iritasi pada kulit, mata, dan paru-paru akibat uap dan aspal
panas, kecelakaan karena tertabrak oleh kendaraan yang melintas.
15. Pekerjaan Lapis Aus (AC – BC), merupakan jenis perkerasan AC-BC yang digunakan sebagai lapis
pertama aspal. AC-BC berfungsi sebagai lapisan kedap air, tahan terhadap terbentuknya alur,
mempunyai kehalusan permukaan, mampu menyalurkan beban, dan mempunyai tahanan gelincir.
Dimana pekerjaan ini pun dapat menimbulkan resiko di kemudian hari, berdasarkan pengalaman dari
CV. Karya Wiguna Utama didapatkan resiko terjadi terluka akibat percikan aspal panas, terluka oleh api
pembakaran, terjadi bahaya kebakaran, terjadi iritasi pada kulit, mata, dan paru-paru akibat uap dan aspal
panas, terluka oleh pemadat aspal, terluka oleh mesin penghampar aspal (finisher).
16. Pekerjaan Lapis Perekat – Aspal Cair/Emulsi, merupakan pekerjaan lapis perekat atau tack coat sebelum
dilaksanakannya penghamparan pekerjaan aspal. Dimana pekerjaan ini pun dapat menimbulkan resiko di
kemudian hari, berdasarkan pengalaman dari CV. Karya Wiguna Utama didapatkan resiko terjadi terluka
akibat percikan aspal panas, terluka oleh api pembakaran, terjadi bahaya kebakaran, terjadi iritasi pada
kulit, mata, dan paru-paru akibat uap dan aspal panas, kecelakaan karena tertabrak oleh kendaraan yang
melintas.
17. Pekerjaan Lapis Aus (AC – WC), merupakan jenis perkerasan AC-WC yang digunakan sebagai lapis
aus permukaan aspal. AC-WC berfungsi sebagai lapisan kedap air, tahan terhadap terbentuknya alur,

Laporan Keselamatan dan Kesehatan Kerja


17
Konsultansi Perancangan Peningkatan jalan Metatu – Balongpanggang
DINAS PEKERJAAN UMUM DAN TATA RUANG BIDANG BINA MARGA
KABUPATEN GRESIK
Jl. Dr. Wahidin Sudiro Husodo No. 247, Gresik

mempunyai kehalusan permukaan, mampu menyalurkan beban, dan mempunyai tahanan gelincir.
Dimana pekerjaan ini pun dapat menimbulkan resiko di kemudian hari, berdasarkan pengalaman dari
CV. Karya Wiguna Utama didapatkan resiko terjadi terluka akibat percikan aspal panas, terluka oleh api
pembakaran, terjadi bahaya kebakaran, terjadi iritasi pada kulit, mata, dan paru-paru akibat uap dan aspal
panas, terluka oleh pemadat aspal, terluka oleh mesin penghampar aspal (finisher).
18. Pekerjaan Pondasi Cerucuk, Penyediaan dan Pemancangan, merupakan pekerjaan pondasi yang termasuk
dalam jenis pondasi dangkal, yang biasa digunakan sebagai pondasi suatu saluran drainase sederhana.
Berdasarkan hasil brainstorming didapatkan beberapa resiko yang dapat terjadi, yakni tersayat pecahan
bamboo, tertusuk bamboo, terkena goresan gergaji akibat pemotongan bamboo, terkena pukulan alat
kerja dari pemancangan bamboo.
19. Pekerjaan Pasangan Batu dengan Acian, merupakan pekerjaan plengsengan batu kali yang dapat
berfungsi sebagai dinding penahan tanah agar tidak terjadi longsor dan dapat berfungsi sebagai pondasi
suatu bangunan di atasnya. Dalam pelaksanaannya pula didapat resiko, dengan menggunakan metode
brainstorming, seperti pekerja terkena batu, pekerja terpeleset atau terjatuh, pekerja terciprat serpihan
batu, pekerja terkena debu mortar.
20. Pekerjaan Pondasi Cerucuk, Penyediaan dan Pemancangan, merupakan pekerjaan pondasi yang termasuk
dalam jenis pondasi dangkal, yang biasa digunakan sebagai pondasi suatu saluran drainase sederhana.
Berdasarkan hasil brainstorming didapatkan beberapa resiko yang dapat terjadi, yakni tersayat pecahan
bamboo, tertusuk bamboo, terkena goresan gergaji akibat pemotongan bamboo, terkena pukulan alat
kerja dari pemancangan bamboo.
21. Pekerjaan Pembongkaran Pasangan Batu, merupakan pekerjaan pembongkaran plengsengan batu kali
yang lama, yang dapat berfungsi sebagai dinding penahan tanah agar tidak terjadi longsor, lalu diganti
dengan plengsengan batu kali yang baru, dikarenakan plengesengan yang lama sudah mencapai batas
kekuatannya. Menurut pengalaman dari CV. Karya Wiguna Utama didapatkan resiko potensi kecelakaan
akibat terkena cangkul atau alat gali dari sesame pekerja, terkena cangkul sendiri, runtuhnya lereng
galian, terpeleset pada saat menggali, tertimpa benda hjatuh dari atas, bahaya terperosok ke tempat
penggalian, bahaya akibat genangan air di tempat galian..
22. Pekerjaan Marka Jalan Termoplastik, merupakan pekerjaan pengecatan marka di area jalan utama guna
membagi jalan menjadi beberapa lajur. Menurut hasil pengalaman dari CV. Karya Wiguna Utama, resiko
pekerjaan pengecatan diantaranya adalah terjadi iritasi pada kulit, mata, dan paru-paru, terjadi
luka/gatal/noda pada tangan/kaki, kecelakaan akibat kurangnya penerangan, terluka akibat alat semprot
cat atau alat mekanis pengecatan.
23. Pekerjaan Pemindahan Tiang PJU, Merupakan pekerjaan pemindahan tiang penerangan jalan guna
mendapat lahan untuk pekerjaan konstruksi, resiko pekerjaan diantaranya pekerja tertimpa tiang pju,
pekerja terjatuh atau terpeleset, pekerja terkena serpihan tanah.

Laporan Keselamatan dan Kesehatan Kerja


18
Konsultansi Perancangan Peningkatan jalan Metatu – Balongpanggang
DINAS PEKERJAAN UMUM DAN TATA RUANG BIDANG BINA MARGA
KABUPATEN GRESIK
Jl. Dr. Wahidin Sudiro Husodo No. 247, Gresik

24. Pekerjaan Pemasangan Guardrail, merupakan Pagar Pengaman Jalan atau alat keselamatan jalan yang
terbuat dari baja lembaran yang dibentuk/diforming dengan mesin cold-roll sehingga menghasilkan beam
baja profil atau disebut W-Beam. Dalam pelaksanaanya didapat resiko seperti pekerja tertimpa guardrail,
pekerja tergores guardrail.

identifikasi resiko dalam Tabel 2.1 di bawah serta dapat dilihat sistem identifikasi resiko dengan jelas dalam
gambar 2.1 fishbone diagram di bawah.
Tabel 2.1 Identifikasi Resiko Setiap Pekerjaan

Jenis Pekerjaan No. Identifikasi Resiko


DIVISI 1. UMUM
Mobilisasi
pekerja tergores atau terpotong material
1
tajam
Mobilisasi 2 pekerja tersandung
3 pekerja jatuh dari ketinggian yang sama
4 pekerja tergigit ular
Manajemen dan Keselamatan Lalu
Lintas
5 pekerja tertabrak kendaraan yang lewat
terjadinya kemacetan lalu lintas akibat
Manajemen dan Keselamatan Lalu 6
pelaksanaan proyek
Lintas
menyempitnya akses lalu lintas akibat
7
pelaksanaan proyek
Keselamatan dan Kesehatan Kerja
8 tidak ditaatinya peraturan K3
9 pekerja tidak memakai APD
Keselamatan dan Kesehatan Kerja
10 penggunaan alat kerja yang bukan ahlinya

11 tidak terpasangnya papan peringatan K3

Manajemen Mutu
12 Iritasi kulit terkena percikan semen

13 mata pekerja terkena percikan adonan beton


Manajemen Mutu
14 pekerja tersayat besi

15 pekerja tertusuk besi bendrat

Laporan Keselamatan dan Kesehatan Kerja


19
Konsultansi Perancangan Peningkatan jalan Metatu – Balongpanggang
DINAS PEKERJAAN UMUM DAN TATA RUANG BIDANG BINA MARGA
KABUPATEN GRESIK
Jl. Dr. Wahidin Sudiro Husodo No. 247, Gresik

DIVISI 3. PEKERJAAN TANAH DAN GEOSINTETIK

16 pekerja terkena pacul atau alat gali lainnya

17 Pekerja Terkena Alat Berat


Galian Biasa (termasuk Pembuangan)
18 pekerja terpeleset atau jatuh
19 pekerja terkena longsoran galian
Gangguan kesehatan akibat kondisi kerja
20
secara umum
kecelakaan akibat jenis dan cara penggunaan
Timbunan Biasa dari bekas galian 21
alat kerja yang salah
kecelakaan akibat peraturan lalu lintas yang
22
kurang baik
Gangguan kesehatan akibat kondisi kerja
23
secara umum
Timbunan Pilihan dari sumber galian kecelakaan akibat jenis dan cara penggunaan
24
(sirtu) alat kerja yang salah
kecelakaan akibat peraturan lalu lintas yang
25
kurang baik
Gangguan kesehatan akibat kondisi kerja
26
secara umum

Pemotongan Pohon Pilihan kecelakaan akibat jenis dan cara penggunaan


27
alat kerja yang salah

28 Pekerja tetimpa pohon

Gangguan kesehatan akibat kondisi kerja


29
secara umum

Penanaman Pohon kecelakaan akibat jenis dan cara penggunaan


30
alat kerja yang salah

31 Pekerja tetimpa pohon

Geotekstil Non Moven Gangguan kesehatan akibat kondisi kerja


32
secara umum
kecelakaan akibat jenis dan cara penggunaan
33
alat kerja yang salah
34 kecelakaan akibat peraturan lalu lintas yang

Laporan Keselamatan dan Kesehatan Kerja


20
Konsultansi Perancangan Peningkatan jalan Metatu – Balongpanggang
DINAS PEKERJAAN UMUM DAN TATA RUANG BIDANG BINA MARGA
KABUPATEN GRESIK
Jl. Dr. Wahidin Sudiro Husodo No. 247, Gresik

kurang baik
kecelakaan kerja akibat pengaturan lalu lintas
35
yang kurang baik
Kecelakaan akibat operasional alat berat di
Penyiapan Badan Jalan 36
tempat lokasi pemadatan
kecelakaan akibat metode penimbunan tanah
37
pada jalan tanjakan
DIVISI 5. PERKERASAN BERBUTIR DAN PERKERASAN BETON SEMEN
kecelakaan pada saat dump truck
38
menurunkan agregat
terjadi iritasi pada kulit dan paru-paru akibat
39
debu agregat yang kering
Lapis Pondasi Agregat Kelas A
terluka oleh mesin penghampar karena
40
pengoperasian yang tidak benar
terluka oleh peralatan kerja akibat jarak antar
41
pekerja yang terlalu dekat
kecelakaan pada saat dump truck
42
menurunkan agregat
terjadi iritasi pada kulit dan paru-paru akibat
43
debu agregat yang kering
Lapis Pondasi Agregat Kelas B
terluka oleh mesin penghampar karena
44
pengoperasian yang tidak benar
terluka oleh peralatan kerja akibat jarak antar
45
pekerja yang terlalu dekat
DIVISI 6. PERKERASAN ASPAL

46 terjadi terluka akibat percikan aspal panas

47 terluka oleh api pembakaran


48 terjadi bahaya kebakaran
Lapis Perekat - Aspal Cair/Emulsi terjadi iritasi pada kulit, mata, dan paru-paru
49
akibat uap dan aspal panas
kecelakaan karena tertabrak oleh kendaraan
50
yang melintas

Lataston Lapis Aus (AC-WC) 51 terjadi terluka akibat percikan aspal panas

Laporan Keselamatan dan Kesehatan Kerja


21
Konsultansi Perancangan Peningkatan jalan Metatu – Balongpanggang
DINAS PEKERJAAN UMUM DAN TATA RUANG BIDANG BINA MARGA
KABUPATEN GRESIK
Jl. Dr. Wahidin Sudiro Husodo No. 247, Gresik

52 terluka oleh api pembakaran


53 terjadi bahaya kebakaran
terjadi iritasi pada kulit, mata, dan paru-paru
54
akibat uap dan aspal panas
55 terluka oleh pemadat aspal
terluka oleh mesin penghampar aspal
56
(finisher)

57 terjadi terluka akibat percikan aspal panas

58 terluka oleh api pembakaran

59 terjadi bahaya kebakaran


Lataston Lapis Aus (AC-BC)
terjadi iritasi pada kulit, mata, dan paru-paru
60
akibat uap dan aspal panas

61 terluka oleh pemadat aspal

terluka oleh mesin penghampar aspal


62
(finisher)

63 terjadi terluka akibat percikan aspal panas

64 terluka oleh api pembakaran


65 terjadi bahaya kebakaran
Lapis Resap Pengikat - Aspal
terjadi iritasi pada kulit, mata, dan paru-paru
Cair/Emulsi 66
akibat uap dan aspal panas
kecelakaan karena tertabrak oleh kendaraan
67
yang melintas
DIVISI 7. STRUKTUR
68 tersayat pecahan bamboo
69 tertusuk bamboo
Fondasi Cerucuk, Penyediaan dan terkena goresan gergaji akibat pemotongan
70
Pemancangan bamboo
terkena pukulan alat kerja dari pemancangan
71
bamboo
bahaya akibat pipa gas, pipa air, dan
72
Pasangan Batu konduktor listrik yang terkena galian

73 kecelakaan akibat terkena cangkul atau alat

Laporan Keselamatan dan Kesehatan Kerja


22
Konsultansi Perancangan Peningkatan jalan Metatu – Balongpanggang
DINAS PEKERJAAN UMUM DAN TATA RUANG BIDANG BINA MARGA
KABUPATEN GRESIK
Jl. Dr. Wahidin Sudiro Husodo No. 247, Gresik

gali dari sesama pekerja


terkena cangkul sendiri, runtuhnya lereng
74
galian
75 terpeleset pada saat menggali
76 tertimpa benda jatuh dari atas
77 bahaya terperosok ke tempat penggalian

78 bahaya akibat genangan air di tempat galian

kecelakaan akibat terkena alat acian dari


79
sesama pekerja

Plesteran 1:3 Acian 80 terkena debu semen

81 Tertimpa semen
82 tertimpa benda jatuh dari atas
DIVISI 9. PEKERJAAN HARIAN DAN PEKERJAAN LAIN-LAIN

Marka Jalan Termoplastik 83 terjadi iritasi pada kulit, mata, dan paru-paru

Gangguan kesehatan akibat kondisi kerja


84
secara umum

Pemindahan Tiang PJU kecelakaan akibat jenis dan cara penggunaan


85
alat kerja yang salah

86 Pekerja tetimpa tiang pju

Gangguan kesehatan akibat kondisi kerja


87
secara umum

Pemindahan dan Pemasangan Guardrail kecelakaan akibat jenis dan cara penggunaan
88
alat kerja yang salah

89 Pekerja tetimpa baja guardrail

2.3 Penilaian Resiko Proyek


Tahap selanjutnya adalah penilaian resiko dengan menggunakan resiko matrix yang sudah ada,
dimana dapat dilihat dalam tabel 2.2 di bawah, dengan mengkatergorikan masing-masing resiko terhadap
probability terjadinya dengan impact yang didapat terhadap tujuan proyek (kerugian/loss). Sebelum resiko
dimasukkan dalam bentuk matriks, diperlukan adanya penggunaan skala penilaian probability impact baik
secara cardinal maupun secara ordinal. Dalam Pembahasan ini ditentukan dengan skala penilaian sebagai
berikut :

Laporan Keselamatan dan Kesehatan Kerja


23
Konsultansi Perancangan Peningkatan jalan Metatu – Balongpanggang
DINAS PEKERJAAN UMUM DAN TATA RUANG BIDANG BINA MARGA
KABUPATEN GRESIK
Jl. Dr. Wahidin Sudiro Husodo No. 247, Gresik

Part 1 (Risk Frequency/Probability in project)


• 1 Sangat Jarang
Risk Frequency/Probability: < 3 times occur
• 2 Jarang
Risk Frequency/Probability: 3-5 times occur
• 3 Medium
Risk Frequency/Probability: 6-7 times occur
• 4 Sering
Risk Frequency/Probability: 8-10 times occur
• 5 Sangat Sering
Risk Frequency/Probability: >10 times occur
Part 2 (Risk Impact to Cost)
• 1 Sangat Rendah
Risk Impact to Cost :0 - 0,5 Billion
• 2 Rendah
Risk Impact to Cost: 0,6 - 2,5 Billion
• 3 Moderate
Risk Impact to Cost: 2,6 – 12,5 Billion
• 4 Tinggi
Risk Impact to Cost: 12,6 - 25 Billion
• 5 Sangat Tinggi
Risk Impact to Cost: > 25 Billion
Tabel 2.2 Matriks Resiko (Sumber: Soehatman, 2009)

Impact
Probability
1 2 3 4 5
5 H H E E E
4 M H H E E
3 L M H E E
2 L L M H E
1 L L M H H
Keterngan :
E adalah Extreme risk, H adalah High risk, M adalah Moderate risk, dan L adalah Low risk

Laporan Keselamatan dan Kesehatan Kerja


24
Konsultansi Perancangan Peningkatan jalan Metatu – Balongpanggang
DINAS PEKERJAAN UMUM DAN TATA RUANG BIDANG BINA MARGA
KABUPATEN GRESIK
Jl. Dr. Wahidin Sudiro Husodo No. 247, Gresik

Berikut hasil penilaian resiko secara kualitatif, dalam tabel 2.3, yang sudah mempunyai nilai
probability dan impact yang didapat dari expert judgement pelaku proyek, sehingga dapat diketahui kaegori
level resikonya dari masing-masing pekerjaan.
Tabel 2.3 Penilaian Resiko

Penilaian Resiko
Jenis Pekerjaan No. Identifikasi Resiko Kategori
Probability Impact
pekerja tergores atau terpotong material
1 2 3 M
tajam
2 pekerja tersandung 4 1 M
Mobilisasi
3 pekerja jatuh dari ketinggian yang sama 2 3 M
4 pekerja tergigit ular 1 3 M
5 pekerja tertabrak kendaraan yang lewat 3 4 E
Manajemen dan terjadinya kemacetan lalu lintas akibat
Keselamatan Lalu 6 5 2 H
pelaksanaan proyek
Lintas menyempitnya akses lalu lintas akibat
7 5 1 H
pelaksanaan proyek
8 tidak ditaatinya peraturan K3 5 4 E

Keselamatan dan 9 pekerja tidak memakai APD 5 5 E


Kesehatan Kerja 10 penggunaan alat kerja yang bukan ahlinya 2 2 L
11 tidak terpasangnya papan peringatan K3 4 4 E
12 Iritasi kulit terkena percikan semen 2 1 L
mata pekerja terkena percikan adonan
13 2 2 L
Manajemen Mutu beton
14 pekerja tersayat besi 3 2 M
15 pekerja tertusuk besi bendrat 3 1 L
pekerja terkena pacul atau alat gali
16 2 2 L
Galian Biasa Galian lainnya
Biasa (termasuk 17 pekerja terpeleset atau jatuh 4 2 H
Pembuangan)
18 pekerja terkena longsoran galian 2 3 M
Gangguan kesehatan akibat kondisi kerja
19 2 1 L
secara umum
Timbunan Biasa kecelakaan akibat jenis dan cara
20 3 4 E
dari bekas galian penggunaan alat kerja yang salah
kecelakaan akibat peraturan lalu lintas
21 3 5 E
yang kurang baik

Laporan Keselamatan dan Kesehatan Kerja


25
Konsultansi Perancangan Peningkatan jalan Metatu – Balongpanggang
DINAS PEKERJAAN UMUM DAN TATA RUANG BIDANG BINA MARGA
KABUPATEN GRESIK
Jl. Dr. Wahidin Sudiro Husodo No. 247, Gresik

Gangguan kesehatan akibat kondisi kerja


22 2 1 L
secara umum
Timbunan Pilihan
kecelakaan akibat jenis dan cara
dari sumber galian 23 3 4 E
penggunaan alat kerja yang salah
(sirtu)
kecelakaan akibat peraturan lalu lintas
24 3 5 E
yang kurang baik
Gangguan kesehatan akibat kondisi kerja
25 2 1 L
secara umum
Penanaman Pohon kecelakaan akibat jenis dan cara
26 3 4 E
penggunaan alat kerja yang salah
27 Pekerja tetimpa pohon 3 5 E
kecelakaan pada saat menurunkan
28 2 4 H
Geotekstil Non geotekstil dari dump truck atau pick up.
Moven terluka oleh peralatan kerja akibat jarak
29 1 2 L
antar pekerja yang terlalu dekat
kecelakaan kerja akibat pengaturan lalu
30 3 5 E
lintas yang kurang baik
Penyiapan Badan Kecelakaan akibat operasional alat berat
31 2 4 H
Jalan di tempat lokasi pemadatan
kecelakaan akibat metode penimbunan
32 2 3 M
tanah pada jalan tanjakan
kecelakaan pada saat dump truck
33 2 4 H
menurunkan agregat
terjadi iritasi pada kulit dan paru-paru
34 1 2 L
Lapis Pondasi akibat debu agregat yang kering
Agregat Kelas A terluka oleh mesin penghampar karena
35 2 3 M
pengoperasian yang tidak benar
terluka oleh peralatan kerja akibat jarak
36 1 2 L
antar pekerja yang terlalu dekat
kecelakaan pada saat dump truck
37 2 4 H
menurunkan agregat
terjadi iritasi pada kulit dan paru-paru
38 1 2 L
Lapis Pondasi akibat debu agregat yang kering
Agregat Kelas B terluka oleh mesin penghampar karena
39 2 3 M
pengoperasian yang tidak benar
terluka oleh peralatan kerja akibat jarak
40 1 2 L
antar pekerja yang terlalu dekat
Lapis Perekat - 41 terjadi terluka akibat percikan aspal panas 3 3 H
Aspal Cair/Emulsi
42 terluka oleh api pembakaran 2 4 H
43 terjadi bahaya kebakaran 2 5 E
44 terjadi iritasi pada kulit, mata, dan paru- 3 2 M

Laporan Keselamatan dan Kesehatan Kerja


26
Konsultansi Perancangan Peningkatan jalan Metatu – Balongpanggang
DINAS PEKERJAAN UMUM DAN TATA RUANG BIDANG BINA MARGA
KABUPATEN GRESIK
Jl. Dr. Wahidin Sudiro Husodo No. 247, Gresik

paru akibat uap dan aspal panas


kecelakaan karena tertabrak oleh
45 2 5 E
kendaraan yang melintas
46 terjadi terluka akibat percikan aspal panas 3 3 H
47 terluka oleh api pembakaran 2 4 H

Lataston Lapis Aus 48 terjadi bahaya kebakaran 2 5 E


(AC-WC) dan (AC terjadi iritasi pada kulit, mata, dan paru-
49 3 2 M
– BC) paru akibat uap dan aspal panas
50 terluka oleh pemadat aspal 2 5 E
terluka oleh mesin penghampar aspal
51 1 3 M
(finisher)
52 terjadi terluka akibat percikan aspal panas 3 3 H
53 terluka oleh api pembakaran 2 4 H
Lapis Resap
54 terjadi bahaya kebakaran 2 5 E
Pengikat - Aspal
Cair/Emulsi terjadi iritasi pada kulit, mata, dan paru-
55 3 2 M
paru akibat uap dan aspal panas
kecelakaan karena tertabrak oleh
56 2 5 E
kendaraan yang melintas
57 tertusuk bamboo 1 4 H
Fondasi Cerucuk, terkena goresan gergaji akibat
Penyediaan dan 58 1 2 L
pemotongan bamboo
Pemancangan terkena pukulan alat kerja dari
59 2 4 H
pemancangan bamboo
60 pekerja terkena batu 3 3 H
Pasangan Batu 61 pekerja terpeleset atau terjatuh 2 2 M
62 pekerja terciprat serpihan batu 2 1 L
kecelakaan akibat terkena alat acian dari
63 2 1 L
sesama pekerja
64 terkena debu semen 2 3 M
Plesteran 1:3 Acian
65 Tertimpa semen 2 1 L
66 tertimpa benda jatuh dari atas 2 1 L
Marka Jalan terjadi iritasi pada kulit, mata, dan paru-
67 5 1 H
Termoplastik paru
Pemindahan Tiang Gangguan kesehatan akibat kondisi kerja
68 3 4 L
PJU secara umum
69 kecelakaan akibat jenis dan cara 3 5 E
penggunaan alat kerja yang salah

Laporan Keselamatan dan Kesehatan Kerja


27
Konsultansi Perancangan Peningkatan jalan Metatu – Balongpanggang
DINAS PEKERJAAN UMUM DAN TATA RUANG BIDANG BINA MARGA
KABUPATEN GRESIK
Jl. Dr. Wahidin Sudiro Husodo No. 247, Gresik

70 Pekerja tetimpa tiang pju 3 4 E


Gangguan kesehatan akibat kondisi kerja
71 3 4 L
Pemindahan dan secara umum
Pemasangan kecelakaan akibat jenis dan cara
72 3 5 E
Guardrail penggunaan alat kerja yang salah
73 Pekerja tetimpa baja guardrail 3 4 E

2.4 Respon Resiko Proyek


Dari penilaian resiko yang telah dilakukan pada subbab sebelumnya, maka tahap berikutnya adalah
menentukan respon atau evaluasi resiko atau tanggapan terhadap katergori level sebuah resiko, apakah
sebaiknya resiko tersebut dihindari (avoindance), ditransfer (transferred), dicegah (mitigated), dan diterima
(acceptance). Tanggapan dapat dilakukan dengan menggunakan acuan standart dari AS/NZS4360 dan PMI
(2000) dalam tabel 2.4 di bawah ini.
Tabel 2.4 Respon Resiko

Resiko Sangat
Resiko tidak dapat diterima, wajib dihindari
Tinggi / Extreme Av
(avoidance)
(15-25)
Resiko Tinggi / Resiko perlu pertimbangan untuk direduksi
Trf
High (8-12) atau dipindah (transferred)
Resiko tindakan untuk mengurangi resiko
Resiko Sedang /
dengan pencegahan agar tidak terjadi Mtg
Moderate (4-6)
(mitigation)
Resiko Rendah /
Resiko dapat diterima (accptance) Acc
Low (1-3)
(Sumber : AS/NZS4360 & PMI 2000)
Berikut hasil respon atau evaluasi resiko berdasarkan hasil penilaian atau analisa resiko kualitatif
yang telah dilakukan sebelumnya, dapat dilihat pada Tabel 2.5 berikut.

Tabel 2.5 Hasil Respon Resiko

Jenis Pekerjaan No. Identifikasi Resiko Kategori Respon

Laporan Keselamatan dan Kesehatan Kerja


28
Konsultansi Perancangan Peningkatan jalan Metatu – Balongpanggang
DINAS PEKERJAAN UMUM DAN TATA RUANG BIDANG BINA MARGA
KABUPATEN GRESIK
Jl. Dr. Wahidin Sudiro Husodo No. 247, Gresik

pekerja tergores atau terpotong material


1 M Mtg
tajam
2 pekerja tersandung M Mtg
Mobilisasi
3 pekerja jatuh dari ketinggian yang sama M Mtg
4 pekerja tergigit ular M Mtg
5 pekerja tertabrak kendaraan yang lewat E Av
Manajemen dan terjadinya kemacetan lalu lintas akibat
Keselamatan 6 H Trf
pelaksanaan proyek
Lalu Lintas menyempitnya akses lalu lintas akibat
7 H Trf
pelaksanaan proyek
8 tidak ditaatinya peraturan K3 E Av
9 pekerja tidak memakai APD E Av
Keselamatan dan
Kesehatan Kerja penggunaan alat kerja yang bukan
10 L Acc
ahlinya
11 tidak terpasangnya papan peringatan K3 E Av
12 Iritasi kulit terkena percikan semen L Acc
mata pekerja terkena percikan adonan
13 L Acc
Manajemen Mutu beton
14 pekerja tersayat besi M Mtg
15 pekerja tertusuk besi bendrat L Acc
pekerja terkena pacul atau alat gali
16 L Acc
Galian Biasa lainnya
(termasuk 17 pekerja terpeleset atau jatuh H Trf
Pembuangan)
18 pekerja terkena longsoran galian M Mtg
Gangguan kesehatan akibat kondisi kerja
19 L Acc
secara umum
Timbunan Biasa kecelakaan akibat jenis dan cara
20 E Av
dari bekas galian penggunaan alat kerja yang salah
kecelakaan akibat peraturan lalu lintas
21 E Av
yang kurang baik
Gangguan kesehatan akibat kondisi kerja
22 L Acc
secara umum
Timbunan Pilihan
kecelakaan akibat jenis dan cara
dari sumber 23 E Av
penggunaan alat kerja yang salah
galian (sirtu)
kecelakaan akibat peraturan lalu lintas
24 E Av
yang kurang baik
Penanaman 25 Gangguan kesehatan akibat kondisi kerja L Acc
Pohon secara umum

Laporan Keselamatan dan Kesehatan Kerja


29
Konsultansi Perancangan Peningkatan jalan Metatu – Balongpanggang
DINAS PEKERJAAN UMUM DAN TATA RUANG BIDANG BINA MARGA
KABUPATEN GRESIK
Jl. Dr. Wahidin Sudiro Husodo No. 247, Gresik

kecelakaan akibat jenis dan cara


26 E Av
penggunaan alat kerja yang salah
27 Pekerja tetimpa pohon E Av
kecelakaan pada saat menurunkan
28 M Mtg
Geotekstil Non geotekstil dari dump truck atau pick up.
Moven terluka oleh peralatan kerja akibat jarak
29 L Acc
antar pekerja yang terlalu dekat
kecelakaan kerja akibat pengaturan lalu
30 E Av
lintas yang kurang baik
Penyiapan Badan Kecelakaan akibat operasional alat berat
31 H Trf
Jalan di tempat lokasi pemadatan
kecelakaan akibat metode penimbunan
32 M Mtg
tanah pada jalan tanjakan
kecelakaan pada saat dump truck
33 H Trf
menurunkan agregat
terjadi iritasi pada kulit dan paru-paru
34 L Acc
Lapis Pondasi akibat debu agregat yang kering
Agregat Kelas A terluka oleh mesin penghampar karena
35 M Mtg
pengoperasian yang tidak benar
terluka oleh peralatan kerja akibat jarak
36 L Acc
antar pekerja yang terlalu dekat
kecelakaan pada saat dump truck
37 H Trf
menurunkan agregat
terjadi iritasi pada kulit dan paru-paru
38 L Acc
Lapis Pondasi akibat debu agregat yang kering
Agregat Kelas B terluka oleh mesin penghampar karena
39 M Mtg
pengoperasian yang tidak benar
terluka oleh peralatan kerja akibat jarak
40 L Acc
antar pekerja yang terlalu dekat
41 terjadi terluka akibat percikan aspal panas H Trf
42 terluka oleh api pembakaran H Trf
Lapis Perekat -
43 terjadi bahaya kebakaran E Av
Aspal
Cair/Emulsi terjadi iritasi pada kulit, mata, dan paru-
44 M Mtg
paru akibat uap dan aspal panas
kecelakaan karena tertabrak oleh
45 E Av
kendaraan yang melintas
46 terjadi terluka akibat percikan aspal panas H Trf
Lataston Lapis 47 terluka oleh api pembakaran H Trf
Aus (AC-WC)
dan (AC-BC) 48 terjadi bahaya kebakaran E Av
49 terjadi iritasi pada kulit, mata, dan paru- M Mtg

Laporan Keselamatan dan Kesehatan Kerja


30
Konsultansi Perancangan Peningkatan jalan Metatu – Balongpanggang
DINAS PEKERJAAN UMUM DAN TATA RUANG BIDANG BINA MARGA
KABUPATEN GRESIK
Jl. Dr. Wahidin Sudiro Husodo No. 247, Gresik

paru akibat uap dan aspal panas


50 terluka oleh pemadat aspal E Av
terluka oleh mesin penghampar aspal
51 M Mtg
(finisher)
52 terjadi terluka akibat percikan aspal panas H Trf
53 terluka oleh api pembakaran H Trf
Lapis Resap
54 terjadi bahaya kebakaran E Av
Pengikat - Aspal
Cair/Emulsi terjadi iritasi pada kulit, mata, dan paru-
55 M Mtg
paru akibat uap dan aspal panas
kecelakaan karena tertabrak oleh
56 E Av
kendaraan yang melintas
57 tertusuk bamboo M Mtg
Fondasi Cerucuk, terkena goresan gergaji akibat
Penyediaan dan 58 H Trf
pemotongan bamboo
Pemancangan terkena pukulan alat kerja dari
59 L Acc
pemancangan bamboo
bahaya akibat pipa gas, pipa air, dan
60 H Trf
konduktor listrik yang terkena galian
kecelakaan akibat terkena cangkul atau
61 M Mtg
alat gali dari sesama pekerja
terkena cangkul sendiri, runtuhnya lereng
62 H Trf
galian
Pasangan Batu
63 terpeleset pada saat menggali L Acc
64 tertimpa benda jatuh dari atas M Mtg
65 bahaya terperosok ke tempat penggalian H Trf
bahaya akibat genangan air di tempat
66 H Trf
galian
kecelakaan akibat terkena alat acian dari
67 M Mtg
sesama pekerja
Plesteran 1:3 68 terkena debu semen L Acc
Acian
69 Tertimpa semen M Mtg
70 tertimpa benda jatuh dari atas L Acc
terjadi iritasi pada kulit, mata, dan paru-
71 L Acc
paru
Marka Jalan 72 terjadi luka/gatal/noda pada tangan/kaki M Mtg
Termoplastik 73 kecelakaan akibat kurangnya penerangan H Trf
terluka akibat alat semprot cat atau alat
74 E Av
mekanis pengecatan

Laporan Keselamatan dan Kesehatan Kerja


31
Konsultansi Perancangan Peningkatan jalan Metatu – Balongpanggang
DINAS PEKERJAAN UMUM DAN TATA RUANG BIDANG BINA MARGA
KABUPATEN GRESIK
Jl. Dr. Wahidin Sudiro Husodo No. 247, Gresik

Gangguan kesehatan akibat kondisi kerja


75 L Acc
secara umum
Pemindahan kecelakaan akibat jenis dan cara
Tiang PJU 76 M Mtg
penggunaan alat kerja yang salah
77 Pekerja tetimpa tiang pju E Av
Gangguan kesehatan akibat kondisi kerja
78 L Acc
Pemindahan dan secara umum
Pemasangan kecelakaan akibat jenis dan cara
79 M Mtg
Guardrail penggunaan alat kerja yang salah
80 Pekerja tetimpa baja guardrail E AV

Laporan Keselamatan dan Kesehatan Kerja


32
Konsultansi Perancangan Peningkatan jalan Metatu – Balongpanggang
DINAS PEKERJAAN UMUM DAN TATA RUANG BIDANG BINA MARGA
KABUPATEN GRESIK
Jl. Dr. Wahidin Sudiro Husodo No. 247, Gresik

BAB 3
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dari pembahasan di atas maka dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa setiap resiko yang terjadi pada
masing-masing pekerjaan yang masih dalam cakupan atau lingkup Proyek Peningkatan Jalan Metatu –
Balongpanggang, dapat direspon sesuai dengan kategori level sebuah resiko. Kategori level sebuah resiko
dapat dibagi menjadi 4 katergori, diantaranya adalah Extreme Risk, High Risk, Moderate, and Low Risk.
Sedangkan untuk respon kategori level resiko dapat dibagi menjadi 4, yakni dihindari (avoidance), ditransfer
(transferred), dicegah (mitigation), dan diterima (acceptance). Dimana untuk hasil pembahasan dapat dilihat
dalam tabel 3.1 di bawah ini.
Tabel 3.1 Hasil Pembahasan Manajemen Resiko Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Jenis Pekerjaan No. Identifikasi Resiko Kategori Respon


pekerja tergores atau terpotong material
1 M Mtg
tajam
2 pekerja tersandung M Mtg
Mobilisasi
3 pekerja jatuh dari ketinggian yang sama M Mtg
4 pekerja tergigit ular M Mtg
5 pekerja tertabrak kendaraan yang lewat E Av
Manajemen dan terjadinya kemacetan lalu lintas akibat
Keselamatan 6 H Trf
pelaksanaan proyek
Lalu Lintas menyempitnya akses lalu lintas akibat
7 H Trf
pelaksanaan proyek
8 tidak ditaatinya peraturan K3 E Av
9 pekerja tidak memakai APD E Av
Keselamatan dan
Kesehatan Kerja penggunaan alat kerja yang bukan
10 L Acc
ahlinya
11 tidak terpasangnya papan peringatan K3 E Av
12 Iritasi kulit terkena percikan semen L Acc
mata pekerja terkena percikan adonan
13 L Acc
Manajemen Mutu beton
14 pekerja tersayat besi M Mtg
15 pekerja tertusuk besi bendrat L Acc

Laporan Keselamatan dan Kesehatan Kerja


33
Konsultansi Perancangan Peningkatan jalan Metatu – Balongpanggang
DINAS PEKERJAAN UMUM DAN TATA RUANG BIDANG BINA MARGA
KABUPATEN GRESIK
Jl. Dr. Wahidin Sudiro Husodo No. 247, Gresik

pekerja terkena pacul atau alat gali


16 L Acc
Galian Biasa lainnya
(termasuk 17 pekerja terpeleset atau jatuh H Trf
Pembuangan)
18 pekerja terkena longsoran galian M Mtg
Gangguan kesehatan akibat kondisi kerja
19 L Acc
secara umum
Timbunan Biasa kecelakaan akibat jenis dan cara
20 E Av
dari bekas galian penggunaan alat kerja yang salah
kecelakaan akibat peraturan lalu lintas
21 E Av
yang kurang baik
Gangguan kesehatan akibat kondisi kerja
22 L Acc
secara umum
Timbunan Pilihan
kecelakaan akibat jenis dan cara
dari sumber 23 E Av
penggunaan alat kerja yang salah
galian (sirtu)
kecelakaan akibat peraturan lalu lintas
24 E Av
yang kurang baik
Gangguan kesehatan akibat kondisi kerja
25 L Acc
secara umum
Penanaman kecelakaan akibat jenis dan cara
Pohon 26 E Av
penggunaan alat kerja yang salah
27 Pekerja tetimpa pohon E Av
kecelakaan pada saat menurunkan
28 M Mtg
Geotekstil Non geotekstil dari dump truck atau pick up.
Moven terluka oleh peralatan kerja akibat jarak
29 L Acc
antar pekerja yang terlalu dekat
kecelakaan kerja akibat pengaturan lalu
30 E Av
lintas yang kurang baik
Penyiapan Badan Kecelakaan akibat operasional alat berat
31 H Trf
Jalan di tempat lokasi pemadatan
kecelakaan akibat metode penimbunan
32 M Mtg
tanah pada jalan tanjakan
kecelakaan pada saat dump truck
33 H Trf
menurunkan agregat
terjadi iritasi pada kulit dan paru-paru
34 L Acc
Lapis Pondasi akibat debu agregat yang kering
Agregat Kelas A terluka oleh mesin penghampar karena
35 M Mtg
pengoperasian yang tidak benar
terluka oleh peralatan kerja akibat jarak
36 L Acc
antar pekerja yang terlalu dekat
kecelakaan pada saat dump truck
Lapis Pondasi 37 H Trf
menurunkan agregat
Agregat Kelas B
38 terjadi iritasi pada kulit dan paru-paru L Acc

Laporan Keselamatan dan Kesehatan Kerja


34
Konsultansi Perancangan Peningkatan jalan Metatu – Balongpanggang
DINAS PEKERJAAN UMUM DAN TATA RUANG BIDANG BINA MARGA
KABUPATEN GRESIK
Jl. Dr. Wahidin Sudiro Husodo No. 247, Gresik

akibat debu agregat yang kering


terluka oleh mesin penghampar karena
39 M Mtg
pengoperasian yang tidak benar
terluka oleh peralatan kerja akibat jarak
40 L Acc
antar pekerja yang terlalu dekat
41 terjadi terluka akibat percikan aspal panas H Trf
42 terluka oleh api pembakaran H Trf
Lapis Perekat -
43 terjadi bahaya kebakaran E Av
Aspal
Cair/Emulsi terjadi iritasi pada kulit, mata, dan paru-
44 M Mtg
paru akibat uap dan aspal panas
kecelakaan karena tertabrak oleh
45 E Av
kendaraan yang melintas
46 terjadi terluka akibat percikan aspal panas H Trf
47 terluka oleh api pembakaran H Trf

Lataston Lapis 48 terjadi bahaya kebakaran E Av


Aus (AC-WC) terjadi iritasi pada kulit, mata, dan paru-
49 M Mtg
dan (AC-BC) paru akibat uap dan aspal panas
50 terluka oleh pemadat aspal E Av
terluka oleh mesin penghampar aspal
51 M Mtg
(finisher)
52 terjadi terluka akibat percikan aspal panas H Trf
53 terluka oleh api pembakaran H Trf
Lapis Resap
54 terjadi bahaya kebakaran E Av
Pengikat - Aspal
Cair/Emulsi terjadi iritasi pada kulit, mata, dan paru-
55 M Mtg
paru akibat uap dan aspal panas
kecelakaan karena tertabrak oleh
56 E Av
kendaraan yang melintas
57 tertusuk bamboo M Mtg
Fondasi Cerucuk, terkena goresan gergaji akibat
Penyediaan dan 58 H Trf
pemotongan bamboo
Pemancangan terkena pukulan alat kerja dari
59 L Acc
pemancangan bamboo
Pasangan Batu bahaya akibat pipa gas, pipa air, dan
60 H Trf
konduktor listrik yang terkena galian
kecelakaan akibat terkena cangkul atau
61 M Mtg
alat gali dari sesama pekerja
62 terkena cangkul sendiri, runtuhnya lereng H Trf
galian

Laporan Keselamatan dan Kesehatan Kerja


35
Konsultansi Perancangan Peningkatan jalan Metatu – Balongpanggang
DINAS PEKERJAAN UMUM DAN TATA RUANG BIDANG BINA MARGA
KABUPATEN GRESIK
Jl. Dr. Wahidin Sudiro Husodo No. 247, Gresik

63 terpeleset pada saat menggali L Acc


64 tertimpa benda jatuh dari atas M Mtg
65 bahaya terperosok ke tempat penggalian H Trf
bahaya akibat genangan air di tempat
66 H Trf
galian
kecelakaan akibat terkena alat acian dari
67 M Mtg
sesama pekerja
Plesteran 1:3 68 terkena debu semen L Acc
Acian
69 Tertimpa semen M Mtg
70 tertimpa benda jatuh dari atas L Acc
terjadi iritasi pada kulit, mata, dan paru-
71 L Acc
paru

Marka Jalan 72 terjadi luka/gatal/noda pada tangan/kaki M Mtg


Termoplastik 73 kecelakaan akibat kurangnya penerangan H Trf
terluka akibat alat semprot cat atau alat
74 E Av
mekanis pengecatan
Gangguan kesehatan akibat kondisi kerja
75 L Acc
secara umum
Pemindahan kecelakaan akibat jenis dan cara
Tiang PJU 76 M Mtg
penggunaan alat kerja yang salah
77 Pekerja tetimpa tiang pju E Av
Gangguan kesehatan akibat kondisi kerja
78 L Acc
Pemindahan dan secara umum
Pemasangan kecelakaan akibat jenis dan cara
79 M Mtg
Guardrail penggunaan alat kerja yang salah
80 Pekerja tetimpa baja guardrail E AV

3.2 Saran
Dalam pelaksanaan Proyek Perencanaan Peningkatan jalan Metatu – Balongpanggang nantinya,
penilaian resiko yang telah ditemukan perlu diperdalam lagi dengan menggunakan analisa resiko kuantitatif
agar dampak terhadap biaya maupun waktu terhadap tujuan proyek yang ingin dicapai dapat terlihat jelas.
Sedangkan untuk respon resiko yang telah ditemukan agar bisa diterapkan dalam lingkungan kerja proyek
nantinya, sehingga pemantauan atau risk monitoring dapat diaplikasikan di lapangan. Salah satunya adalah
dengan menggunakan tools sebuah laporan Job Safety Analysis (JSA) yang berfungsi sebagai konrol
pemantauan resiko. Untuk contoh laporan JSA dapat dilihat dalam lampiran.

Laporan Keselamatan dan Kesehatan Kerja


36
Konsultansi Perancangan Peningkatan jalan Metatu – Balongpanggang
DINAS PEKERJAAN UMUM DAN TATA RUANG BIDANG BINA MARGA
KABUPATEN GRESIK
Jl. Dr. Wahidin Sudiro Husodo No. 247, Gresik

Laporan Keselamatan dan Kesehatan Kerja


37
Konsultansi Perancangan Peningkatan jalan Metatu – Balongpanggang

Anda mungkin juga menyukai