LAPORAN PRAKTIKUM
GEOFISIKA EKSPLORASI
MAGNETIK
Disusun Oleh:
Muhammad Fahza Ramadhan (21100121130056)
Kelas : C
LABORATORIUM SUMBERDAYA ENERGI
DEPARTEMEN TEKNIK GEOLOGI
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2023
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Maksud
a. Mengetahui kondisi geologi bawah permukaan menggunakan ilmu
geofisika metode magnetik.
b. Mengetahui cara kerja akuisisi data metode magnetik menggunakan
excel dan software.
1.2 Tujuan
a. Dapat mengidentifikasi kondisi litologi bawah permukaan dengan
interpretasi tertentu menggunakan MagPick dan Mag2dc berlandas
kondisi suspesibilitas batuan.
b. Dapat mengidentifikasi anomali magnetik melalui variasi harian dan
nilai IGRF.
c. Dapat mengolah data menggunakan Ms Excel.
d. Dapat mengidentifikasi anomali magnetik lewat pembuatan peta
anomali menggunakan Surfer 13.
1.3 Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Praktikum geofisika ekplorasi acara seismik telah dilaksanakan pada:
Pematerian dan Pengerjaan Haslab
Hari : Kamis
Tanggal : 11 Maret 2023
Pukul : 18.30 - selesai WIB
Tempat : R. 103, Gedung Pertamina Sukowati
BAB II
LANGKAH KERJA
2.1 Pengolahan Data Excel
Gambar Keterangan
Buka Ms. Excel.
Konversikan waktu
menjadi menggunakan
rumus:
=HOUR(C3)+(MINUTE
(C3)/60)
Selisihkan waktu
menjadi menggunakan
rumus:
=D3-$D$3
Hitung rata-rata nilai T
Obs menggunakan
rumus:
=(K3+L3+M3)/3
Hitung delta per tiap titik
pengukuran dengan kode
C, A, dan J
menggunakan rumus:
=(N24-N3)/(D24-D3)
Di mana rumus itu
berupa pembagian antara
rata-rata T Obs dan
Waktu.
Hitung BD menggunakan
rumus:
=N24-N3
Di mana rumus itu
berupa pengurangan
antara titik terakhir dan
titik awal dari nilai rata-
rata T Obs per stasiun
pengukuran.
Hitung nilai Tvh
menggunakan rumus:
=($O$3*E3)+$P$3
Di mana rumus itu
berupa perkalian antara
nilai delta dengan selisih
waktu yang nantinya
hasilnya ditambah
dengan nilai BD.
Hitung BD menggunakan
rumus:
=N3-Q3-R3
Di mana rumus itu
berupa pengurangan
antara titik nilai T Obs
rata-rata dengan Tvh
dengan Tigrf.
Pada sheet sebelahnya,
isi kolom UTM X dan Y
menggunakan latitude
dan longitude pada sheet
sebelumnya serta isi pula
nilai anomali medan
magnetik total sesuai
dengan yang telah
dihitung sebelumnya.
2.2 Pengerjaan Peta (Surfer 13 dan Magpick)
Buka software Surfer 13.
Buka worksheet baru dan
input data sheet 2 pada
excel.
Lakukan grid data
dengan input data excel
sheet 2 sebagai kolom A,
B, dan C. (UTM X, UTM
Y, dan Anomali Total).
Input data grid tersebut
untuk menampilkan peta
dengan cara pilih menu
contour.
Beri warna pada menu
levels > ceklis fill colors
> pilih rainbow di fill
contours > ceklis color
scale. Peta ini akan
diinput untuk software
MagPick.
Buka software MagPick.
Input data grid yang telah
dibuat di Surfer 13
dengan cara pilih menu
file > open grid file.
Pilih menu operation >
upward continuation.
Pada elevasi, buat elevasi
tertentu. Lalu, pada
output file terdapat
output berupa peta
regional dan lokal.
Lakukan hal yang sama
elevasi lainnya.
Buka kembali software
Surfer 13 dan input
semua data regional dan
lokal sesuai dengan
elevasi yang telah
ditentukan untuk mencari
kesesuaian peta
berlandas interpretasi
masing-masing.
Gunakan tools digitize
untuk mendigit elevasi
tertinggi dan terendah.
Lalu, simpan.
Lakukan slicing dengan
menggunakan tools slice
> input data lokal1150 >
input data yang telah
didigitasi > simpan pada
data bln. dan dat.
2.3 Pengerjaan Penampang (Mag2dc)
Buka software Mag2dc.
Pilih menu system
options > begin a new
model > input data
deklinasi dan inklinasi.
Setelah input data
deklinasi dan inklinasi,
input data slice dari
Surfer 13 > ubah mag
data column menjadi 3 >
ceklis x-y position data
present. Lalu, tampilan
akan memunculkan
gambar seperti di
samping.
Buat pemodelan bawah
permukaan sesuai dengan
kondisi geologi regional
dan nilai suspesibilitas
batuan.
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
3.1 Metode Magnetik
Metode magnetik merupakan salah satu metode geofisika
eksplorasi yang memanfaatkan variasi intensitas medan magnet di
permukaan bumi. Batuan pada dasarnya memiliki sifat magnetis dan
memiliki nilai suspesibilitas. Hal ini menjadi perantara manusia dalam
mengetahui dan menginterpretasi kondisi geologi bawah permukaan baik
berupa litologi maupun struktur geologi. Metode magnetik memiliki
landasan dari gaya Coulomb antara dua kutub magnet 𝑚1 dan 𝑚2 yang
berjarak r (cm) dalam bentuk (Telford dkk, 1979):
𝑚1 𝑚2
𝐹=𝐺 𝑟
𝜇𝑜 𝑟 2
Di mana F adalah gaya yang bekerja di antara dua magnet dengan kuat
medan magnet 𝑚1 dan 𝑚2 . 𝜇 adalah permeabilitas suatu medium dengan
satuan Henry per meter 𝐻𝑚−1. Dalam medium hampa permeabilitas
mutlak sama dengan 𝜇𝑂 yang nilainya 4𝜇 𝑥 10−7 𝐻𝑚−1 . Pada dasarnya
persamaan yang terjadi pada metode magnetik dan gravity hampir sama,
tetapi metode magnetik bersifat dipole di mana gaya antara kedua kutub
magnet ini bisa bernilai (+) yang berarti tolak-menolak dan negatif (-)
yang berarti tarik-menarik.
3.1.1 Kuat Medan Magnet
⃑⃑⃑⃑⃑ merupakan besarnya medan
Kuat medan magnet (𝐻)
magnet pada suatu titik dalam ruangan yang muncul akibat kuatnya
⃑⃑⃑⃑⃑
kutub yang berada sejauh r dari titik 𝑚1 . Kuat medan magnet (𝐻)
dapat didefinisikan sebagai gaya persatuan kuat kutub magnet
dengan persamaan:
𝐹 𝑚1
⃑ =
𝐻 = 𝑟
𝑚2 𝜇𝑜 𝑟 2
⃑
Dengan r adalah jarak titik pengukuran dari m.𝐻
⃑
mempunyai satuan A/m dalam SI sedangkan cgs.𝐻
mempunyai satuan oersted.
3.1.2 Momen Magnetik
Apabila sebuah batang magnet diletakkan di medan magnet
H yang seragam, H akan mengalami sepasang gaya yang sama
bekerja secara pararel, tetapi berlawanan arah dengan besar yang
dapat didefinisikan:
𝐶 = 2(𝑚𝑙) 𝐻 sin 𝜃
Di mana 𝜃 sebagai ketetapan pada medan magnet. Gerakan ini
bergantung terhadap besaran H sebagai nilai dari 𝜃 (tidak ada
gerakan yang dihasilkan jika 𝜃 = 0). Kuantitas lain yang mana
juga memengaruhi besaran dari pasangan disebut momen
magnetik.
3.1.3 Intensitas Kemagnetan
Sekumpulan benda magnetik merupakan sejumlah benda-
benda magnet. Apabila benda magnet tersebut diletakkan dalam
medan luar, benda tersebut mengalami proses magnetisasi karena
induksi. Intensitas kemagnetan dapat didefinisikan sebagai tingkat
kemampuan menyerahkan momen magnetik dalam medan
magnetik luar dapat juga dinyatakan sebagai momen magnetik
persatuan volume:
⃑⃑
𝑀 𝑚𝑙𝑟̂
𝐼= =
𝑉 𝑉
Satuan magnetisasi dalam cgs adalah gauss atau emu. 𝐶𝑚−3 dan
dalam SI adalah 𝐴𝑚−1 .
3.1.4 Suspesibilitas Kemagnetan
Suspesibilitas kemagnetan merupakan suatu kemampuan
benda magnetik untuk dimagnetisasi yang dapat dituliskan dengan
persamaan:
𝐼 = 𝑘𝐻
Di mana besaran yang tidak berdimensi ini merupakan parameter
dasar yang digunakan dalam metode magnetik. Nilai suspesibilitas
magnetik runang hampa sama dengan nol karena hanya benda
berwujud yang dapat termagnetisasi.
Dalam geologi, suspesibilitas magnet batuan dapat
membantu untuk menentukan jenis litologi dengan parameter
tertentu. Telford (1990) mengklasifikasikan nilai suspesibilitas
batuan menjadi tiga jenis, yaitu sedimen, metamorf, dan beku.
3.1.5 Induksi Magnetik
Bila benda magnetik diletakkan dalam medan magnet luar
H, kutub-kutub internalnya akan menyerahkan diri dengan H dan
terbentuk suatu medan magnet batu yang besarnya:
𝐻 = 4𝑝𝑘𝐻
3.2 Akuisisi Data Magnetik
Pada proses pengolahan data dengan output nilai anomali medan
magnetik, output data yang dihasilkan berupa posisi titik stasiun
pengukuran, koordinat, elevasi, nilai pembacaan, deklineasi, dan inklinasi.
Setelah didapatnya data tersebut, dibutuhkan suatu koreksi terhadap data
medan magnetik. Koreksi yang dibutuhkan adalah koreksi harian, koreksi
IGRF, dan koreksi topografi.
3.2.1 Koreksi Harian
Koreksi harian merupakan anomali medan magnetik bumi
akibat adanya perbedaan waktu dan efek radiasi matahari dalam
satu hari. Waktu yang dimaksudkan harus mengacu atau sesuai
dengan waktu pengukuran data medan magnetik di setiap titik
lokasi (stasiun pengukuran) yang akan dikoreksi. Apabila nilai
variasi harian negatif, maka koreksi harian dilakukan dengan cara
menambahkan nilai variasi harian yang terekan pada waktu tertentu
terhadap data medan magnetik yang akan dikoreksi. Sebaliknya
apabila variasi harian bernilai positif, maka koreksinya dilakukan
dengan cara mengurangkan nilai variasi harian yang terekan pada
waktu tertentu terhadap data medan magnetik yang akan dikoreksi.
3.2.2 Koreksi IGRF
Data hasil pengukuran medan magnetik pada dasarnya
adalah konstribusi dari tiga komponen dasar, yaitu medan
magnetik utama bumi, medan magnetik luar dan medan anomali.
Nilai medan magnetik utama tidak lain adalah niali IGRF. Jika
nilai medan magnetik utama dihilangkan dengan koreksi harian,
maka kontribusi medan magnetik utama dihilangkan dengan
koreksi IGRF. Koreksi IGRFdapat dilakukan dengan cara
mengurangkan nilai IGRF terhadap nilai medan magnetik total
yang telah terkoreksi harian pada setiap titik pengukuran pada
posisi geografis yang sesuai.
3.2.3 Koreksi Topografi
Koreksi topografi dilakukan jika pengaruh topografi dalam
survei megnetik sangat kuat. Koreksi topografi dalam survei
geomagnetik tidak mempunyai aturan yang jelas. Salah satu
metode untuk menentukan nilai koreksinya adalah dengan
membangun suatu model topografi menggunakan pemodelan
beberapa prisma segiempat (Suryanto, 1988). Ketika melakukan
pemodelan, nilai suseptibilitas magnetik (k) batuan topografi harus
diketahui, sehingga model topografi yang dibuat, menghasilkan
nilai anomali medan magnetik (ΔHtop) sesuai dengan fakta.
3.3 Geologi Regional
Geologi regional sendiri merupakan suatu gambaran dari konstelasi
atau susunan geologi pada daerah penelitian. Pada daerah penelitian
praktikan sendiri mencakup Kabupaten Lampung Selatan dan sekitarnya.
Geologi regional Kabupaten Lampung Selatan akan mencakup dua aspek
penting yang berguna pada interpretasi akuisisi data geologi bawah
permukaan menggunakan ilmu geofisika metode magnetik, yaitu
stratigrafi dan struktur geologi. Stratigrafi sendiri akan mengkaji jenis,
karakteristik, hubungan dan proses yang mewakili dari formasi yang
terbentuk. Struktur geologi menjelaskan mengenai struktur apa saja yang
berkembang pada daerah penelitian.
3.3.1 Stratigrafi
Susunan stratigrafi regional Kabupaten Lampung Selatan
dari yang tertua ke yang muda, sebagai berikut:
• Sekis Way Galih (Pzgs)
Tersusun atas batuan metamorf berupa sekis amfibol
hijau dan amfibol orthogenesa dioritan dengan umur
Paleozoikum.
• Diorit Sekampung Terdaunkan (Kds)
Tersusun atas batuan beku jenis diorit dan diorit kuarsa
berumur Kapur Tengah.
• Granit Jatibaru (Tejg)
Tersusun atas batuan beku granit merah jambu dengan
umur geologi Eosen.
• Formasi Lampung (QtI)
Kumpulan jenis batuan yang terbentuk akibat aktivitas
vulkanik berupa tuf batuapung, tuf rhyolitik, tuf pada tufit,
betulempung tufaan, dan batupasir tufaan dengan umur Pliosen
– Plistosen.
3.3.2 Struktur Geologi
Wilayah Kabupaten Lampung Selatan termasuk dalam
Cekungan Sumatera Selatan yang berumur Paleogen – Neogen.
Cekungan ini terbentuk akibat adanya interaksi antara Paparan
Sunda (sebagai bagian dari lempeng Kontinen Asia) dan lempeng
Samudera Hindia. Interaksi kedua lempeng tersebut dipengaruhi
oleh adanya aktivitas tektonik berupa subduksi di mana lempeng
Samudera Hindia bergerak ke arah utara menunjam masuk ke
bawah Lempeng Benua Eurasia.
Cekungan Sumatera Selatan mengakibatkan keterdapatan
tiga pola sesar utama yang terbentuk hasil dari perubahan arah
subduksi. De Coster (1974) menyebutkan bahwa pada dasarnya
terdapat dua komponen utama yang menunjukkan struktur geologi
di Cekungan Sumatera Selatan, yaitu adanya batuan dasar berumur
pra-Tersier yang membentuk half graben, horst, dan blok sesar.
Selain itu, terdapat juga elemen struktur berarah NW-SE serta
adanya struktur depresi di arah NE yang keduanya terbentuk akibat
orogen.
BAB IV
PEMBAHASAN
Pada hari Kamis, 11 Mei 2023 telah dilaksanakan praktikum geofisika
eksplorasi acara magnetik secara luring di R. 103 untuk penyampaian materi dan
pengerjaan haslab. Praktikum dilakukan dengan memahami prinsip kerja
magnetik dan tahapan akuisisi data. Pada tahapan akusisi data, praktikan belajar
mengenai pengolahan data melalui excel. Setelah dilakukannya pengolahan data
melalui excel, praktikan belajar mengolah data menggunakan software magnetik
berupa Magpick dan Mag2dc. Tidak lupa dalam proses pembuatan peta yang
dibutuhkan dalam interpretasi digunakannya software Surfer 13. Hasil pemodelan
ini nantinya akan diinterpretasikan secara general bagaimana kondisi geologi
bawah permukaan dari sudut pandang magnetik dengan melihat parameter fisis
berupa suspesibilitas batuan.
4.1 Interpretasi Kualitatif
Praktikan telah melakukan akuisisi data untuk memperoleh data
anomali medan magnetik dan koreksi yang dibutuhkan melalui
penggambaran peta 2 dimensi di daerah Kabupaten Lampung Selatan.
Anomali medan magnet di daerah penelitian yang memiliki kisaran nilai
anomali medan magnet antara -450 nT – 400 nT. Klosur tinggi berwarna
merah berada di suatu puncakan daerah penelitian dengan rentang nilai
350 nT – 400 nT. Klosur sedang berwarna jingga hingga kuning tersebar
memanjang dari timur – tengah – hingga ujung tenggara daerah penelitian
dengan rentang nilai 50 nT – 250 nT. Klosur rendah berwarna hijau hingga
biru keunguan menyebar di bagian barat daya, barat, dan barat laut daerah
penelitian dengan rentang nilai -450 nT – 50 nT.
Kemudian, praktikan melakukan kontinuasi ke atas terhadap peta
anomali magnetik menggunakan software Magpick. Proses ini dilakukan
agar medan potensial dapat terkoreksi. Pada koreksi elevasi 1150 m sudah
mulai tidak berubah secara siginifikan sehingga sudah bisa dikatakan
mewakili anomali regional di daerah penelitian.
4.2 Interpretasi Kuantitatif
Praktikan telah melakukan akuisisi data untuk memperoleh kondisi
geologi bawah permukaan dengan parameter fisis suspesibilitas di daerah
Kabupaten Lampung Selatan dalam bentuk pemodelan penampang 2D.
Pemodelan yang dilakukan menggunakan software Mag2dc di mana nilai
suspesibilitas di daerah penelitian harus disesuaikan dengan kondisi
geologi regional agar interpretasi yang dilakukan dapat dikatakan tepat.
Praktikan telah menyesuaikan nilai suspesibilitas terhadap kondisi
geologi regional berlandas klasifikasi Telford (1990). Pada lapisan yang
paling tua, praktikan menginterpretasikan sebagai batuan metamorf berupa
sekis sebagai bagian dari Sekis Way Galih (Pzgs). Batu sekis disini juga
berperan sebagai footwall dari struktur geologi yang berkembang.
Interpretasi praktikan didukung oleh kondisi regional di mana
keterdapatannya suatu half graben. Half graben sendiri merupakan struktur
geologi yang dibatasi oleh sesar di sepanjang satu sisi batasnya.
Foot Wall
Hanging Wall
Lalu, half graben pada lapisan batuan disini dimainkan perannya
oleh batuan beku, seperti diorit sebagai Dioirit Sekampung Terdaunkan
(Kds), granit sebagai Granit Jatibaru (Tejg), dan rhyolit sebagai Formasi
Lampung (Qtl). Tidak hanya itu, pada lapisan paling muda, praktikan
menginterpretasikan sebagai batupasir dan batu lempung di Formasi
Lampung (Qtl). Praktikan menyesuaikan kondisi regional pada interpretasi
pemodelan sehingga terbentuklah sesar normal pada half graben dengan
litologi batuan beku yang mengisi sesuai dengan urutan stratigrafinya.
Lapisan tertua merupakan batuan metamorf yang mengalami
proses perubahan akibat suhu dan tekanan tertentu dengan menghasilkan
sekis. Lalu, lapisan kedua dan ketiga merupakan batuan beku yang berasal
dari aktivitas vulkanik. Setelah terjadiny aktivitas vulkanik, gaya endogen
mulai bekerja dibuktikannya dengan keterdapat half graben dan blok sesar
normal. Pada akhirnya, lapisan-lapisan selanjutnya mulai mengalami
pengendapan piroklastik sehingga lapisan sebelumnya mulai mengalami
erosi dibuktikan dengan keterdapatan foot wall.
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
• Pada interpretasi kualitatif menggunakan peta yang dihasilkan oleh
software Surfer 13, praktikan mendapati suatu anomali magnetik yang
disebabkan oleh ketidakseragaman litologi bawah permukaan.
• Pada interpretasi kuantitatif menggunakan pemodelan penampang
yang dihasilkan oleh software Mag2dc, praktikan mendapati suatu
proyeksi model litologi dan struktur geologi bawah permukaan. Pada
kondisi litologinya, praktikan menggunakan klasifikasi Telford (1990)
untuk menyesuaikan nilai suspesibilitas batuan dan mendapati 6
litologi yang berbeda. Jenis litologi yang terinterpretasi termasuk pada
Sekis Way Galih, Satuan Diorit Terdaunkan, Granit Jatibaru dan
Formasi Lampung di Geologi Regional Kabupaten Lampung Selatan.
Pada kondisi struktur geologinya, praktikan mendapati suatu kondisi
sesar ekstensional berupa half graben di mana sekis sebagai hanging
wall yang tererosikan sehingga half graben-nya diisi oleh litologi
batuan beku.
5.2 Saran
• Untuk asisten, agar lebih jelas dalam menjelaskan materi.
• Untuk penulis, agar lebih mencerna materi yang telah dijelaskan oleh
asisten dengan mengulang powerpoint materi dan melakukan
pengerjaan haslab dengan semaksimal mungkin.
• Untuk pembaca, penulis ucapkan terima kasih dan mengharapkan
saran atau kritik supaya dapat meminimalisasi kesalahan-kesalahan
yang terjadi di masa yang akan datang.
DAFTAR PUSTAKA
Fanani, M. I. (2014). Interpretasi Struktur Bawah Permukaan Daerah Potensi
Panas Bumi Berdasarkan Data Geomagnetik. Skripsi, 1-108.
Santosa, B. (2012). Interpretasi Metode Magnetik Untuk Penentuan Struktur
Bawah Permukaan di Sekitar Gunung Kelud Kabupaten Kediri. Jurnal
Penelitian Fisika dan Aplikasinya Vol 2 (1), 7-14.
Santoso, D. (2002). Pengantar Teknik Geofisika. Bandung: Penerbit ITB.
LAMPIRAN