BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Gambaran Umum PLTS
Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) adalah sebuah sistem yang
memiliki kemampuan untuk mengubah energi matahari menjadi listrik. Sinar
matahari secara langsung dimanfaatkan sebagai energi termal (panas) atau melalui
penggunaan sel fotovoltaik dalam panel surya dan kaca fotovoltaik transparan.
Teknologi solar-electric atau yang umum disebut photovoltaics (PV) mengubah
sinar matahari langsung menjadi listrik. PV dapat menyediakan listrik dalam arus
DC atau dikonversi menggunakan inverter menjadi arus DC untuk bangunan
perumahan dan komersial, termasuk daya untuk lampu keamanan dan sistem
pendingin. Dewasa ini menurut Ardian (2021), teknologi PV telah digunakan untuk
untuk memompa air, penerangan jalan dan sebagai PLTS atap untuk mengurangi
biaya energi.
Menurut Safitri et al (2019) Terdapat 2 (dua) jenis panel surya yang umum
dijumpai di pasaran, yaitu panel monokristalin dan polikristalin, selain kedua jenis
tersebut terdapat pula jenis lain yang agak jarang digunakan yakni panel thin film.
Panel surya monokristalin dibuat dengan wafer silikon yang dipotong dari kristal
tunggal, oleh karena itu disebut dengan nama monokristalin. Panel surya jenis ini
umumnya mampu menyediakan efisiensi yang lebih tinggi dibandingkan dengan
panel polikristalin karena panel surya jenis ini biasanya menggunakan tingkat
silikon yang lebih tinggi. Panel surya polikristalin, seperti juga jenis monokristalin,
juga terbuat dari silikon. Perbedaan utama adalah bahwa sel surya polikristalin
dibuat dengan melelehkan banyak fragmen silikon dan bukan dari kristal silikon
tunggal. Kekurangan panel surya polikristalin adalah umumnya efisiensi panel jenis
ini lebih rendah dari panel jenis monokristalin, namun harga mereka cenderung
lebih ekonomis.
11
Gambar 2.1 Pangsa Pasar Global Panel Surya Polikristalin, Monokristalin dan
Thin Film Periode Tahun 1980 sd 2020 (sumber [Link], 2021)
Panel surya jenis lainnya, yakni thin film terbuat dari film tipis semikonduktor
yang diaplikasikan pada kaca, plastik, atau logam. Film-filmnya sangat tipis,
seringkali hingga 20 (dua puluh) kali lebih tipis dari wafer silikon kristal yang
digunakan untuk panel monokritalin dan polikristalin. Proses pembuatan ini
membuat panel surya ini cenderung lebih fleksibel dan ringan dibandingkan jenis
panel surya lainnya. Apabila dilakukan komparasi, modul atau panel surya yang
terbuat dari wafer kristal silikon memiliki efisiensi yang lebih bagus daripada jenis
thin film. Hal tersebut menyebabkan penggunaan panel surya thin film akan
membutuhkan lebih banyak panel dan lebih banyak luasan area untuk menghasilkan
daya yang sama dengan panel surya berbasis kristal silikon. Menurut Yuliarto,
(2011) dalam laman arsip berita KESDM RI, panel surya monokristalin dan
polikristalin lebih sering dijumpai di pasaran.
12
Gambar 2.2 Perbedaan Tampilan Fisik Panel Surya Monokristalin dan
Polikristalin serta Thin Film (Sumber: [Link]/2018)
Tabel 2.1 Keunggulan dan Kelemahan Jenis Panel Surya Monokristalin,
Polikristalin dan Thin Film
No Jenis Panel Keunggulan Kelemahan
1. Monokristalin • Efisiensi energi Cenderung lebih mahal
tertinggi (hingga daripada jenis panel
22,5%) lainya
• Hemat tempat
• Daur hidup umumnya
lebih lama
• Cenderung lebih
efisien pada suhu yang
panas/ iklim hangat
2. Polikristalin • Lebih mudah dibuat • Efisiensi hanya
• Biaya cenderung lebih berkisar di angka 14%
rendah sd 16%
• Mampu • Lebih tidak efisien
mempertahankan tempat bila
efiensi di suhu yang dibandingkan
tinggi Monokristalin
• Cenderung tidak
estetik bila
dibandingkan jenis
monokristalin dan thin
film
13
No Jenis Panel Keunggulan Kelemahan
3. Thin Film • Lebih mudah • Efisiensi area dan
diproduksi secara energi paling rendah
massal
• Daur hidup cenderung
• Warna seragam lebih rendah
sehingga lebih estetik dibandingkan jenis
• Fleksibel panel lain
• Temperatur tinggi dan
shading cenderung • Cenderung
lebih tidak berdampak mempunyai garansi
dibandingkan jenis paling rendah
panel surya lain dibandingkan jenis
panel lain
(sumber: [Link]
Panel surya dapat bertahan antara 25 hingga 30 tahun atau bahkan lebih.
Kisaran waktu tersebut bukan merupakan daur hidup, dimana tidak serta merta
berarti bahwa panel surya akan berhenti menghasilkan listrik setelah beberapa
dekade. Namun kisaran waktu tersebut hanya menunjukkan bahwa produksi energi
panel akan menurun di bawah efisiensi yang dapat diterima dari penggunaan yang
paling umum. Menurut Gumintang et al, (2020) terdapat 2 (dua) sistem utama
pembangkit listrik PV adalah pada sistem on grid dan off grid, meskipun ada jenis
sistem lain yang merupakan sistem hibrida (hybrid) yang secara harfiah
menggabungkan sistem on dan off grid sebagai sebuah kesatuan sistem PLTS.
Perbedaan sistem PLTS tersebut menurut Al Bahar et al, (2108) adalah sistem
on grid mempunyai makna mengintegrasikan sistem PLTS dengan jaringan utama
penyediaan listrik, di Indonesia berarti menyambungkan dengan jaringan PT. PLN.
Secara harfiah energi yang dihasilkan oleh sistem PLTS anda akan dialirkan ke
jaringan utama untuk memenuhi kebutuhan listrik anda, atau bila berlebih dapat
“dijual” ke perusahaan penyediaan listrik yang anda gunakan, tergantung regulasi
di masing-masing negara. Sistem on grid tidak membutuhkan fasilitas
penyimpanan daya dikarenakan daya yang dihasilkan dialirkan melalui jaringan
utama penyediaan listrik. Sedangkan sistem PLTS off grid merupakan sistem
mandiri yang terpisah dari jaringan utama penyediaan listrik. Sistem ini jelas
membutuhkan fasilitas penyimpanan daya, karena daya yang dihasilkan tidak
14
dialirkan kepada jaringan manapun selain jaringan listrik internal gedung atau
bangunan yang terpasang sistem PLTS tersebut.
Gambar 2.3 Skema PLTS On Grid
(sumber: [Link]/2020)
Gambar 2.4 Skema PLTS Off Grid
(sumber: [Link]/2020)
15
Tabel 2.2 Perbandingan Sistem PLTS On Grid, Off Grid dan Hybrid
PLTS On Grid PLTS Off Grid PLTS Hybrid
Sistem beroperasi tanpa Sistem beroperasi Sistem beroperasi
baterai menggunakan baterai menggunakan
baterai
Tersambung dengan jala Tidak tersambung jala jala Tersambung dengan jala
jala PLN PLN jala PLN
Tidak memberikan daya Memberikan daya Memberikan daya
Cadangan selama cadangan cadangan
pemadaman Selama pemadaman Selama pemadaman
Lokasi yang telah Lokasi yang jauh, Lokasi yang telah
terpasang Kwh meter exim terpencil, pulau terluar dan terpasang Kwh meter exim
atau yang akan dan sedang kepulauan, perbatasan, atau yang akan dan sedang
dalam pengurusan pedalaman hutan, yang dalam pengurusan
pemasangan Kwh meter tidak memiliki sumber pemasangan Kwh meter
exim listrik mandiri exim
2.2. Perancangan PLTS Atap berbasis On Grid Skala Kecil
Dewasa ini telah banyak tersedia perangkat lunak untuk merancang PLTS on
grid, terutama model PLTS Atap. Beberapa perangkat lunak tersebut bahkan
menggunakan platform web application, sehingga bisa diakses tanpa perlu
mengunduh perangkat lunak dimaksud dan sangat mudah digunakan. Perangkat
lunak tersebut yang umum dikenal antara lain PV Syst 7.2 dan Helioscope.
Sedangkan untuk analisis keekonomian PLTS skala kecil, terutama PLTS on grid
berbasis PLTS Atap telah banyak tersedia perangkat lunak berbasis web seperti E-
Smart yang dikembangkan oleh Pusat Penelitian Dan Pengembangan Teknologi
Ketenagalistrikan, Energi Baru, Terbarukan Dan Konversi Energi (P3TEBTKE)
Kementerian ESDM RI dan Kalkulator Surya yang dikembangkan oleh Institute for
Essential Services Reform (IESR).
16
Gambar 2.5 Hasil Simulasi PLTS Atap menggunakan PV Syst
(Sumber: Ozcan & Erzoz, 2018)
Gambar 2.6 Tampilan Input Data Aplikasi PV Syst
(sumber: [Link]
Secara umum dalam perencanaan PLTS atap, dua langkah utama yang perlu
dilakukan adalah:
1) Analisis lokasi pemasangan panel surya pada bangunan milik pelanggan
PLN. Langkah ini merupakan langkah yang sangat penting untuk
memastikan efektif atau tidaknya pemasangan PLTS atap oleh pelanggan
PLN.
17
2) Analisis sistem kelistrikan untuk menjadi pelanggan PT. PLN (Persero)
dengan PLTS atap. Proses ini termasuk di dalamnya berkonsultasi atau
mengkomunikasikan rencana pemasangan PLTS atap kepada PLN.
Mengingat, setiap PLN wilayah yang melayani pengajuan pemasangan
PLTS atap dapat memiliki kebijakan atau persyaratan tertentu.
Beberapa parameter yang perlu diperhatikan dalam tahapan analisis
pemasangan panel surya antara lain analisis tipe dan stuktur atap, analisis bayangan
dan analisis luas area yang tersedia.
Gambar 2.7 Skema Alur Perencanaan PLTS Atap
(sumber: Panduan Perencanaan dan Pemanfaatan PLTS Atap di Indonesia,
USAID dan Kementerian ESDM RI, 2020)
18
Setelah dilakukan analisis teknis untuk perencanaan PLTS Atap, tahapan
selanjutnya adalah perancangan desain teknis PLTS Atap tersebut, agar dicapai
kemanfaatan yang optimal. Skema di bawah ini menunjukkan proses perancangan
sistem PLTS atap yang akan dibangun. Secara umum, terdapat 2 (dua) tahapan
dalam perancangan sistem PLTS, yaitu perancangan ukuran energi yang
dibutuhkan, dan perancangan sistem kelistrikan PLTS itu sendiri.
Gambar 2.8 Skema Proses Perancangan PLTS Atap
(sumber: Panduan Perencanaan dan Pemanfaatan PLTS Atap di Indonesia,
USAID dan Kementerian ESDM RI, 2020)
Pada penelitian akan dilakukan perancangan menggunakan aplikasi
Helioscope berbasis website. Aplikasi HelioScope yang dibuat oleh Folsom Labs
pada tahun 2011 yang dapat digunakan untuk melakukan simulasi perencanaan
pemasangan PLTS termasuk PLTS Atap dengan tampilan bersifat geotagging yang
dapat dilakukan beberapa analisis termasuk potensi shading dari bangunan sekitar
dan pohon/vegetasi serta performa dari komponen penyusun PLTS tersebut
meliputi jenis panel dan inverter yang digunakan. Parameter yang dibutuhkan
perangkat lunak ini meliputi spesifikasi teknis komponen penyusun PLTS
dimaksud antara lain seperti jenis dan jumlah modul surya dan jenis inverter serta
19
parameter non komponen seperti lokasi dan koordinat PLTS, jenis atap data
meteorologi dan potensi shading. Helioscope memiliki fitur yang sangat membantu
dalam melakukan desain PLTS di sebuah atap gedung, adapun fitur yang terdapat
pada perangkat lunak Helioscope diantaranya dapat merancang simulasi elektrikal
dengan menampilkan single line diagram (SLD), menghasilkan laporan yang
secara otomatis dan dapat menentukan tata letak modul surya berdasarkan kondisi
lahan, atap dan penghalang di sekitarnya. Parameter-parameter dasar yang perlu
diatur pada awal perancangan menggunakan Helioscope adalah: tipe PLTS yang
akan dirancang yakni skala rumah tangga, komersial atau bahkan pembangkit
(utility) dan unit ukuran yang akan digunakan yakni US metric atau international
metric.
Gambar 2.9 Contoh Perancangan PLTS Atap menggunakan Helioscope
Gambar 2.10 Contoh Hasil Single Line Diagram Output Helioscope
20
Parameter output yang dihasilkan perangkat lunak Helioscope antara lain
estimasi produksi energi dari sistem PLTS Atap per bulan, perangkat lunak ini juga
dapat memprediksi sistem rugi daya dan parameter mana yang paling
mempengaruhi rugi daya tersebut. Hal ini tentu sangat membantu dalam melakukan
perancangan terutama pada PLTS Atap skala kecil.
2.3. Analisis Keekonomian pada PLTS Skala Kecil
Metode analisis keekonomian untuk pemasangan PLTS atap menurut
Kacaribu (2022) dapat menggunakan beberapa metode antara lain Net Present
Value (NPV), Benefit Cost Ratio (BCR), dan Payback Period (PBP). Pada studi ini
analisis dititikberatkan pada nilai PBP sebagai pembanding akan lama kembali
modal sebagai gambaran kepada UMKM masa pengembalian modal. Analisis perlu
dilakukan dikarenakan selama ini masih terdapat paradigma bahwa PLTS
membutuhkan investasi yang besar diawal sehingga harus dilakukan perencanaan
untuk mendapatkan hasil yang tepat guna, baik secara produksi energi maupun
keekonomian. Aspek yang digunakan dalam perhitungan analisis keekonomian
secara garis besar adalah faktor biaya (cost) dan pendapatan (revenue/benefit).
Faktor biaya meliputi biaya investasi dan biaya perawatan, sedangkan pendapatan
atau manfaat dihitung berdasarkan nilai produksi energi baik impor maupun ekspor.
Perhitungan tersebut juga akan memperhitungkan faktor diskonto dan inflasi.
2.3.1. Net Present Value (NPV)
Analisis Net Present Value (NPV) menurut Halim (2009) dalam Kossi,
(2019), menyatakan bahwa seluruh aliran kas bersih dinilai berdasarkan
faktor diskon (discount faktor). Perhitungan Net Present Value (NPV)
dipergunakan persamaan menurut Kacaribu (2022):
𝑁𝑃𝑉 = 𝑃𝑊𝐵 − 𝑃𝑊𝐶 (2.1)
Dimana:
NPV = Net Present Value
PWB = Present Worth Benefit
PWC = Present Worth Cost
21
2.3.2. Benefit Cost Ratio (BCR)
Metode Benefit Cost Ratio (BCR) menurut (Kacaribu) 2022 adalah
metode analisis yang berfungsi sebagai validasi hasil evaluasi yang telah
dilakukan dengan metode lain, dengan menekankan komparasi antara nilai
manfaat (benefit) yang akan diperoleh dengan faktor biaya (cost) dan
investasi (investment). Perhitungan BCR digunakan persamaan rumus
perhitungan sebagai berikut:
𝑃𝑊𝐵
𝐵𝐶𝑅 = 𝑃𝑊𝐶 (2.2)
Dimana:
PWB = Present Worth Benefit
PWC = Present Worth Cost
2.3.3. Payback Period (PBP)
Perhitungan Payback Period menurut Halim (2009) dalam
Kossi (2019) adalah metode untuk menghitung lama kurun waktu yang
dibutuhkan untuk pengembalian nilai investasi melalui penerimaan yang
dihasilkan oleh suatu kegiatan (investasi). Persamaan untuk menghitung PBP
menggunakan persamaan menurut dirumuskan sebagai berikut:
𝐼𝑛𝑣𝑒𝑠𝑡𝑚𝑒𝑛𝑡 𝐶𝑜𝑠𝑡
𝑃𝑃 = 𝑌𝐵𝑅 + (2.3)
𝐾𝑢𝑚𝑢𝑙𝑎𝑡𝑖𝑓 𝑁𝑃𝑉
Dimana:
Year before recovery (YBR) = Jumlah tahun sebelum tahun pengembalian
final
Investment Cost = Biaya investasi awal.
NPV Kumulatif = Jumlah kas bersih
22
2.4. Analisis Kebijakan Pemanfaatan PLTS Atap Sektor UMKM
Kebijakan publik menurut Anggara (2016) dibedakan menjadi 3 (tiga) pokok
pikiran yakni analisis kebijakan, kebijakan publik, dan anjuran kebijakan.
Kebijakan publik secara garis besar mencakup tahap-tahap perumusan masalah
kebijakan, implementasi kebijakan, dan evaluasi kebijakan. Analisis kebijakan
berhubungan dengan penyelidikan serta deskripsi sebab dan konsekuensi kebijakan
publik. Dalam analisis kebijakan, dapat dianalisis pembentukan, substansi, dan
dampak dari kebijakan tertentu. Adapun anjuran kebijakan secara khusus
berhubungan dengan tindakan yang harus dilakukan oleh pemerintah dengan
menganjurkan kebijakan tertentu melalui diskusi, persuasi atau aktivitas politik.
Kebijakan publik dengan membuat proyek percontohan pemasangan PLTS Atap
pada sektor UMKM sesuai dengan teori kebijakan publik perlu mendapat analisis
sehubungan dengan potensi dampak yang ditimbulkan.
Penggunaan energi sektor UMKM yang mayoritas masih menggunakan
bahan bakar konvesional dan juga listrik PT. PLN, membutuhkan transisi ke sumber
energi yang lebih bersih dan hemat. Opsi pemanfaatan dan penghematan energi
tersebut bisa ditempuh melalui pemasangan PLTS Atap yang tersambung ke jala
utama PT. PLN. Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 49
Tahun 2018 tentang Penggunaan Sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya Atap
Oleh Konsumen PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) telah memberikan peluang
pemanfaatan dan penghematan tersebut, termasuk tentunya ke sektor UMKM yang
merupakan salah satu penyumbang lapangan kerja. Menurut data KESDM RI,
pengguna PLTS Atap pada bulan Juni 2020 telah mencapai 2.346 pelanggan,
dimana penggunanya didominasi oleh pelanggan rumah tangga. Namun dari segi
kapasitas, masih tetap didominasi oleh industri yang mempunyai ambisi
menghasilkan produk ramah lingkungan. Hal ini menimbulkan pertanyaan apakah
terdapat kendala yang cukup besar bagi sektor UMKM untuk turut berperan serta
dalam pemanfaatan EBT terutama energi surya melalui penggunaan PLTS Atap.
Peran masyarakat dalam RUEN dan beberapa Peraturan Daerah tentang RUED
telah diatur secara tegas, walaupun tidak semua memberikan narasi tentang PLTS
atap pada UMKM, seperti ditunjukkan pada Tabel 2.3. Kebijakan dalam
23
memberikan proyek percontohan yang diharapkan dapat menjadi sarana
“empowering” sektor UMKM untuk turut menggunakan PLTS Atap ini perlu
mendapat analisis, setidaknya dalam lokasi di Desa Trangsan, Kab. Sukoharjo
apakah proyek percontohan dimaksud dapat meningkatkan minat peran serta
menggunakan PLTS Atap secara mandiri (non hibah).
Menurut Anggara (2016) terdapat 3 (tiga) poin utama yang perlu mendapat
perhatian khusus dalam analisis kebijakan publik. Poin pertama, adalah titik
penjelasan kebijakan, bukan anjuran kebijakan yang “pantas”. Poin kedua,
merupakan sebab dan konsekuensi dari kebijakan publik yang dianalisis
menggunakan metodologi ilmiah. Poin ketiga, analisis dilakukan dalam rangka
mengembangkan teori-teori umum yang dapat diandalkan tentang kebijakan publik
dan pembentukannya sehingga dapat diterapkan di tempat dan bidang-bidang
kebijakan yang berbeda. Analisis kebijakan publik sangat berguna dalam
merumuskan ataupun mengimplementasikan kebijakan publik. Teori-teori dalam
analisis kebijakan publik pada akhirnya dapat digunakan untuk mengembangkan
kebijakan publik yang baik pada masa yang akan datang.
Kebijakan pendanaan terhadap pembangunan EBT, sebenarnya telah pernah
dilakukan melalui Program the Indonesia Domestic Biogas Programme (IDBP),
yang juga dikenal dengan Program Biogas Rumah (BIRU) merupakan program
yang didanai oleh Kedutaan Besar Kerajaan Belanda (RNE). Secara nasional
program ini bekerjasama dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral
melalui Direktorat Jendral Energi Terbarukan dan Konservasi Energi. Program ini
berjalan sejak bulan 15 Mei 2009 hingga 31 Desember 2012. Menurut penelitian
yang dilakukan Wanta (2017) jenis digester yang digunakan adalah digester fixed-
dome dimana masa pakainya mampu bertahan lebih dari 15 tahun. Kebijakan
pembiayaan program ini adalah setiap digester yang dibangun, Program BIRU
memberikan subsidi sebesar Rp. 2.000.000. Subsidi tidak diberikan langsung
kepada peternak tetapi melalui Lembaga Mitra Pembangun (CPO) atau koperasi
susu. Pemilik digester dapat membayar tunai atau kredit kepada CPO atau koperasi
susu untuk melunasi biaya sisa pembangunan.
24
Tabel 2.3 Aspek Peran Serta Masyarakat yang Diatur Dalam RUEN dan RUED
yang Telah Diundangkan
No Regulasi Narasi
1. Peraturan Presiden Republik Indonesia Pasal 3, Ayat (2) Huruf d:
Nomor 22 Tahun 2017 Tentang Rencana
“masyarakat untuk berpartisipasi dalam
Umum Energi Nasional
pelaksanaan pembangunan nasional bidang
energi.”
2. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur BAB V Tentang Peran Serta Masyarakat,
Nomor 6 Tahun 2019 Tentang Rencana Pasal 9:
Umum Energi Daerah Provinsi Jawa
1) Masyarakat baik secara perseorangan
Timur Tahun 2019 - 2050
maupun kelompok dapat berperan serta
dalam RUED-P.
2) Peran serta masyarakat sebagaimana
dimaksud pada ayat dapat dilakukan
dalam bentuk pemberian gagasan, data,
informasi, dan kegiatan.
3) Ketentuan lebih lanjut mengenai peran
serta masyarakat sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) diatur dalam
Peraturan Gubernur.
3. Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Pasal 2 Huruf b:
Barat Nomor 11 Tahun 2019 Tentang
“masyarakat untuk berpartisipasi dalam
Rencana Umum Energi Daerah Tahun
pelaksanaan pembangunan daerah di
2019-2050
Bidang Energi”
4. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah Pasal 3, Huruf b:
Nomor 12 Tahun 2018 Tentang Rencana
“masyarakat untuk berpartisipasi dalam
Umum Energi Daerah Provinsi Jawa
pelaksanaan pembangunan daerah di
Tengah
Bidang Energi.”
BAB V
PERAN SERTA MASYARAKAT
Pasal 8
1) Masyarakat baik secara perseorangan
maupun kelompok dapat berperan
dalam RUED-P dilakukan melalui:
(a) proses perencanaan;
(b) pelaksanaan; dan
(c) pengawasan.
25
No Regulasi Narasi
2) Peran serta masyarakat dalam proses
perencanaan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) huruf a dapat dilakukan
dalam bentuk pemberian gagasan, data,
informasi tertulis.
3) Peran serta masyarakat dalam
pelaksanaan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) huruf b dapat dilakukan
melalui:
(a) pengembangan demplot biogas;
(b) pengembangan demplot gas rawa;
(c) pengembangan demplot
Pembangkat Listrik Tenaga Mikro
Hidro (PLTMH); dan
(d) kegiatan lainnya yang mendukung
pelaksanaan sasaran dan target
RUED-P.
4) Peran serta masyarakat dalam
pengawasan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) huruf c dapat dilakukan
melalui penyampaian data dan
informasi.
5) Gagasan, data dan informasi
sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
dan ayat (4) disampaikan secara
langsung dan/atau tertulis kepada
Gubernur melalui Perangkat Daerah.
6) Ketentuan lebih lanjut mengenai peran
serta masyarakat diatur lebih lanjut
dengan Peraturan Gubernur.
Menurut penelitian yang dilakukan di India oleh Deloitte (2019), terdapat
beberapa aspek kendala dan tantangan pengembangan dan pemanfaatan PLTS
Atap/ On grid di sektor UMKM, diantaranya kendala operasional, teknis, finansial,
komersial dan tingkat kesadaran untuk menggunakan PLTS. Adapun rincian dari
kendala-kendala tersebut disajikan pada tabel 2.4.
26
Tabel 2.4 Kendala Pemanfaatan PLTS On Grid pada Sektor UMKM di India
(Deloiite, 2019)
No Jenis Kendala Keterangan
Kendala Operasional • UMKM tidak memiliki kapasitas dan pengetahuan
untuk memelihara peralatan yang dipasang di
tempat mereka.
• UMKM enggan berinvestasi dalam peningkatan
kapasitas SDM atau melibatkan pihak ketiga untuk
pemeliharaan PLTS.
• Utilitas distribusi enggan untuk mempromosikan
sistem PLTS Atap karena resiko kehilangan
konsumen penghasil pendapatan tinggi mereka.
Kendala Teknis • Beberapa UMKM memiliki luas area atap yang
tidak memadai.
• UMKM terutama yang terletak di daerah industri
yang padat di mana area atap yang dapat
digunakan sangat terbatas karena potensi
bayangan benda-benda disekitarnya.
• UMKM menggunakan atap kurang tahan lama
seperti seng yang perlu diganti secara berkala,
sehingga mengurangi minat menggunakan PLTS
Atap.
Kendala Pembiayaan • Kelayakan pinjaman beberapa UMKM tidak
(Finansial) memadai.
• Sejumlah besar unit UMKM tidak memiliki
riwayat/ profil pinjaman.
• Pemasangan sistem surya atap membutuhkan
investasi awal yang tinggi.
• Biaya transaksi untuk lembaga keuangan tinggi
karena ukuran usaha/bisnis yang lebih kecil.
• UMKM menghadapi kesulitan dalam memenuhi
persyaratan agunan mereka karena pabrik / mesin
yang ada sudah diagunkan sebagai jaminan untuk
pinjaman modal eksisting.
Kendala Komersial • UMKM cenderung menghadapi ketidakpastian
bisnis.
• (Renewable Energi Service Company) RESCOs
tidak aktif di segmen UMKM
• UMKM cenderung menghadapi risiko penundaan
pembayaran dari konsumen.
• Perencanaan bisnis UMKM cenderung dalam
waktu pendek (6-7 tahun), sehingga dapat
27
No Jenis Kendala Keterangan
menimbulkan kekhawatiran untuk berkomitmen
untuk proyek jangka panjang, seperti memasang
PLTS Atap.
Kendala Kesadaran • Kesadaran akan skema PLTS Atap dan insentif
(Awareness) untuk adopsinya rendah di kalangan sektor
UMKM.
• Terdapat pandangan skeptis keterbatasan
kemampuan teknis dari sistem PLTS Atap.
Penelitian yang dilakukan Wakuma (2018) di India, menunjukkan adanya
tingkat positif bagi pelaku UMKM untuk turut menggunakan sumber energi yang
berasal dari EBT. Mengingat peran sentral UMKM di India, pemerintah India pun
gencar mempromosikan penggunaan EBT di sektor produktif kecil dan mikro
tersebut. Penelitian yang dilakukan oleh Nur Safiah et al (2019), menunjukkan
bahwa gambaran pentingnya peran UMKM tersebut juga tergambar jelas di
Indonesia. Sektor UMKM adalah salah satu penopang ekonomi nasional, dengan
jumlah keseluruhan sekitar 64 juta di seluruh Indonesia pada tahun 2020 dimana
angka tersebut mencapai 99,9 persen dari keseluruhan usaha yang beroperasi di
Indonesia. Memperhatikan hal tersebut, sektor ini jelas membutuhkan perhatian
khusus dari Pemerintah.
Saat ini belum terdapat regulasi khusus pemanfaatan PLTS Atap di sektor
produktif skala UMKM di Indonesia, dimana regulasi yang ada masih mewajibkan
biaya tambahan seperti capacity charge cost kepada pengguna skala industri.
Skema pembiayaan dengan kredit lunak atau sistem sewa juga belum tersedia luas,
padahal menurut studi yang dilakukan IESR (2021) terhadap sektor UMKM di Kota
Surakarta, Kota Semarang, Kabupaten Semarang, Kabupaten Cilacap dan
Kabupaten Tegal pada sektor UMKM rata-rata merasa “agak suka” dengan konsep
PLTS Atap dengan 4 (empat) poin ketertarikan utama adalah yang paling disukai
dari konsep PLTS Atap adalah penghematan, ramah lingkungan,
modern/keren/inovatif serta adanya ketertarikan untuk mencoba.
28
Gambar 2.11 Persentase empat besar hal yang paling disukai dari konsep PLTS
Atap pada Survey Market UMKM di Kota Surakarta, Kota Semarang, Kabupaten
Semarang, Kabupaten Cilacap dan Kabupaten Tegal (IESR, 2020)
Gambaran harapan yang ingin didapatkan apabila menggunakan PLTS Atap,
UMKM di lokasi yang sama menyatakan bahwa ingin dicapai penghematan biaya
listrik, dapat berkontribusi untuk lingkungan, penghematan yang diperoleh dapat
digunakan untuk pengeluaran lainnya dan meningkatkan performa branding dari
produk responden menurut penelitian yang dilakukan oleh IESR (2020).
Gambar 2.12 Harapan Setelah Menggunakan PLTS Atap pada Survey Market
UMKM di Kota Surakarta, Kota Semarang, Kabupaten Semarang, Kabupaten
Cilacap dan Kabupaten Tegal (IESR, 2020)
Hasil survei tersebut menunjukkan masih terbuka luasnya pangsa pasar
UMKM untuk turut berperan serta menggunakan PLTS Atap. Hal ini perlu
ditindaklanjuti dengan berbagai opsi pembiayaan PLTS Atap dengan mengadopsi
berbagai opsi pembiayaan proyek-proyek Energi Baru Terbarukan khususnya
proyek PLTS yang sudah ada dan mengembangkan model pembiayaan dan
pengelolaan yang inovatif dengan memperhitungkan skala usaha dan produksi.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang pun gencar mempromosikan penggunaan
EBT dalam rangka mencapai tujuan yang telah diamanatkan dalam Peraturan
Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 12 Tahun 2018 Tentang Rencana Umum
Energi Daerah Provinsi Jawa Tengah yakni pencapaian porsi EBT pada bauran
29
energi sebesar 21,32% telah mendorong sektor produktif untuk menggunakan
PLTS atap. Keseriusan ini telah ditunjukkan melalui Surat Edaran Gubernur Jawa
Tengah Nomor: 671.25/0004468 Tanggal 1 Maret 2019 Tentang Implementasi
Pembangunan PLTS Atap yang ditujukan kepada sektor industri, bisnis dan
Pemerintah. Sebagai langkah tindak lanjut, diberitakan oleh laman Portal Berita
Porvinsi Jawa Tengah ([Link]), Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral
Provinsi Jawa Tengah akan melaksanakan kegiatan percontohan pembangunan
PLTS atap pada sektor produktif yakni UMKM.
30