Zaman modern awal
Raja Henry VIII menjadi Kepala Tertinggi Gereja Inggris.
Selama periode Tudor, Renaisans mencapai Inggris melalui budaya Italia, yang memperkenalkan
kembali seni serta debat pendidikan dan ilmiah dari zaman klasik.[58] Selama periode ini, Inggris
mulai mengembangkan keterampilan angkatan laut, dan penjelajahan lautan untuk membangun
koloni.[59][60]
Henry VIII memisahkan diri dari persekutuan dengan Gereja Katolik, ia kemudian mengesahkan
Undang-Undang Supremasi pada tahun 1534 yang menyatakan bahwa raja adalah kepala dari
Gereja Inggris. Berbeda dengan sebagian besar Protestanisme Eropa lainnya, akar dari
pemisahan Inggris dari Gereja Katolik ini lebih ke arah politis ketimbang alasan teologis. [catatan 4]
Henry juga secara hukum menggabungkan negeri leluhurnya, Wales, menjadi bagian dari
Kerajaan Inggris dengan mengesahkan Undang-Undang Wales 1535-1542. Ada beberapa konflik
agama internal yang terjadi selama masa pemerintahan putri Henry, Mary I dan Elizabeth I.
Mary menghantarkan Inggris kembali ke pelukan Katolik, sedangkan Elizabeth memisahkannya
sekali lagi, lalu menegaskan supremasi Gereja Inggris lebih kuat lagi dengan membentuk
Anglikan.
Armada Inggris di bawah pimpinan Francis Drake berhasil mengalahkan armada Spanyol pada
periode Elizabethan. Setelah persaingan panjang dengan Spanyol, koloni pertama Inggris di
Amerika akhirnya berhasil didirikan pada 1585 oleh penjelajah Walter Raleigh di Virginia dan
menamakannya Roanoke. Pemanfaatan koloni Roanoke ini gagal dan dikenal sebagai "koloni
yang hilang", koloni ini kemudian ditinggalkan karena kurangnya persediaan makanan.[62]
Bersama East India Company, Inggris juga bersaing dengan Belanda dan Prancis di Timur.
Struktur politik Inggris berubah pada tahun 1603 saat Wangsa Stuart, dengan rajanya James VI
dari Skotlandia, kerajaan yang menjadi musuh lama Kerajaan Inggris, mewarisi takhta Inggris.
James kemudian menciptakan persatuan personal antara Kerajaan Inggris dan Kerajaan
Skotlandia.[63][64] James menobatkan dirinya sebagai Raja Britania Raya, meskipun hal tersebut
tidak diakui oleh hukum Inggris.[65] Di bawah pemerintahannya, Alkitab Versi Raja James
diterbitkan pada tahun 1611. Alkitab ini tidak hanya mengalahkan karya-karya Shakespeare
sebagai karya sastra terbesar dalam bahasa Inggris, tetapi juga menjadi versi standar dari Alkitab
yang paling banyak dibaca oleh umat Kristiani selama empat ratus tahun.
Restorasi Inggris pada masa Raja Charles II berhasil memulihkan
kembali monarki dan perdamaian setelah Perang Saudara Inggris.
Akibat posisi politik, agama dan sosial yang saling bertentangan, Perang Saudara Inggris terjadi
antara para pendukung Parlemen dan pendukung Raja Charles I, yang masing-masingnya dikenal
dengan sebutan Roundhead dan Cavalier. Perang ini adalah bagian dari rangkaian perang
berkelanjutan yang dikenal sebagai Perang Tiga Kerajaan, yang juga melibatkan Skotlandia dan
Irlandia. Pada akhirnya, parlemen berhasil menang, Charles I kemudian dieksekusi dan
pemerintahan kerajaan diganti menjadi Persemakmuran Inggris. Pemimpin pasukan Parlemen,
Oliver Cromwell, menobatkan dirinya sebagai Lord Protector pada tahun 1653.[66] Setelah
kematian Cromwell, putranya, Richard mengundurkan diri dan tidak bersedia menjabat sebagai
Lord Protector. Kemudian, Charles II dipanggil kembali untuk menempati jabatan sebagai Raja
Inggris pada tahun 1660. Pada masa Charles II, melalui Restorasi Inggris, konstitusi kerajaan
dirombak. Konstitusi baru ini menyatakan bahwa Raja dan Parlemen harus memerintah Inggris
bersama-sama, meskipun pada kenyataannya parlemen akan memiliki kekuasaan yang lebih
nyata. Kebijakan ini disahkan dalam Undang-Undang Deklarasi Hak 1689. Undang-undang ini
juga menyatakan bahwa undang-undang hanya bisa dibuat oleh Parlemen dan tidak bisa
ditangguhkan oleh Raja, dan Raja tidak diperkenankan memungut pajak atau menambah tentara
tanpa persetujuan dari parlemen.[67] Dengan didirikannya Royal Society pada tahun 1660, ilmu
pengetahuan di Inggris juga mengalami perkembangan yang pesat.
Kebakaran Besar London yang terjadi pada tahun 1666 menghanguskan sebagian besar kota
London, tetapi dibangun kembali tidak lama sesudahnya.[68] Dalam Parlemen, dua faksi muncul
sebagai kekuatan utama, yaitu Tory dan Whig. Tory merupakan pendukung kerajaan (royalis),
sedangkan Whig beraliran liberal klasik. Faksi Tory pada awalnya mendukung James II. Namun,
bersama Whig, kedua faksi ini kemudian berbalik menggulingkan takhta James dalam Revolusi
Agung pada tahun 1688. Setelah jatuhnya takhta James, pangeran Belanda, William III,
diundang untuk meneruskan takhta sebagai Raja Inggris. Di Skotlandia, muncul gerakan-gerakan
yang menamakan dirinya sebagai Jacobites. Gerakan ini menolak kepemimpinan William dan
menginginkan takhta tetap dipegang oleh keturunan dari James II. Setelah diadakan perundingan,
Parlemen Inggris dan Parlemen Skotlandia sepakat untuk menggabungkan masing-masing
kerajaan dalam sebuah kesatuan politik bernama Kerajaan Britania Raya pada tahun 1707.[63][69]
Untuk menegaskan "persatuan politik" tersebut, lembaga-lembaga seperti hukum dan gereja
nasional di masing-masing kerajaan tetap terpisah.[70]
Zaman kontemporer
Coalbrookdale by Night oleh Philip James de
Loutherbourg, 1801. Suasana malam hari di Coalbrookdale pada masa Revolusi Industri.
Di bawah Kerajaan Britania Raya yang baru terbentuk, peranan dari Royal Society yang
dikombinasikan dengan sedang berlangsungnya era Pencerahan di Inggris dan Skotlandia
menghasilkan inovasi yang berkembang pesat dalam bidang sains dan teknologi. Perkembangan
ini selanjutnya membuka jalan bagi terbentuknya Imperium Britania. Sedangkan di dalam negeri,
hal tersebut memicu munculnya Revolusi Industri, yaitu suatu periode terjadinya perubahan
besar dalam bidang sosial ekonomi dan kebudayaan di Inggris, menghasilkan sistem pertanian,
manufaktur, teknik, dan pertambangan yang terindustrialisasi serta memelopori pembangunan
jalan-jalan baru dan jaringan kereta api untuk memfasilitasi revolusi ini.[71] Dibukanya Kanal
Bridgewater di Inggris Utara pada tahun 1761 menghantarkan Inggris ke era kanal Britania.[72][73]
Pada tahun 1825, lokomotif uap kereta penumpang permanen pertama, Stockton and Darlington
Railway, dibuka untuk umum.[72]
Pada masa Revolusi Industri, banyak penduduk pedesaan di Inggris yang pindah ke wilayah
perkotaan untuk bekerja di pabrik-pabrik seperti London, Manchester, dan Birmingham. Kota-
kota ini selanjutnya dijuluki sebagai "Kota Gudang" dan "Bengkel Dunia".[74][75] Inggris berhasil
mempertahankan kestabilan pemerintahannya saat Revolusi Prancis meletus. William Pitt
menjadi Perdana Menteri Britania Raya pada usia 24 tahun saat pemerintahan George III. Saat
terjadinya Perang Napoleon, Napoleon Bonaparte berencana untuk menyerang Inggris dari
tenggara. Namun rencana ini gagal. Tentara Britania di bawah pimpinan Horatio Nelson berhasil
mengalahkan Tentara Napoleon di laut. Sedangkan di darat tentara Napoleon juga berhasil
dikalahkan di bawah pimpinan Arthur Wellesley. Perang Napoleon ini menumbuhkan konsep
"Britishness" dan identitas nasional "British", bersama dengan orang-orang Skotlandia dan
Wales.[76]
The Cenotaph, Whitehall, memorial untuk mengenang Tentara
Britania Raya yang gugur dalam Perang Dunia.
London menjadi kawasan metropolitan terbesar dan terpadat di dunia pada era Victoria, serta
juga menjadi kota perdagangan paling prestisius dalam Imperium Britania.[77] Pergolakan politik
di dalam negeri memunculkan gerakan-gerakan seperti Chartisme dan Suffragette menyebabkan
dilakukannya reformasi legislatif dan pemberlakuan hak pilih universal.[78] Pergesekan kekuasaan
di Eropa tengah dan timur mengakibatkan meletusnya Perang Dunia I. Ratusan ribu tentara
Inggris tewas karena berjuang untuk Britania Raya sebagai bagian dari Blok Sekutu.[catatan 5] Dua
dekade kemudian, dalam Perang Dunia II, Inggris sekali lagi menjadi bagian dari Blok Sekutu.
Pada akhir Perang Phoney, Winston Churchill menjadi Perdana Menteri. Berkembangnya
teknologi perang menyebabkan banyak kota yang hancur akibat serangan udara dalam peristiwa
The Blitz. Setelah perang usai, Imperium Britania menerapkan kebijakan dekolonisasi terhadap
negara-negara jajahannya. Perang juga menyebabkan pesatnya perkembangan teknologi;
automobil menjadi sarana utama transportasi dan mesin jet yang dikembangkan oleh Frank
Whittle menyebabkan inovasi perjalanan udara menjadi lebih luas.[80] Perusahaan-perusahaan
nasional di Inggris dinasionalisasi, dan National Health Service (NHS) didirikan pada tahun
1948. NHS Inggris menyediakan layanan kesehatan yang didanai oleh pemerintah bagi semua
warga Inggris secara gratis sesuai kebutuhan, tetapi tetap dibayar melalui pajak umum. Dalam
bidang pemerintahan, reformasi pemerintahan daerah dilakukan pada pertengahan abad ke-20.[81]
[82]
Sejak abad ke-20, terjadi perpindahan penduduk secara besar-besaran ke Inggris, sebagian besar
berasal dari bagian lain Kepulauan Britania, tetapi juga ada yang berasal dari negara-negara
Persemakmuran, terutama dari Asia Selatan.[83] Sejak tahun 1970 juga terjadi perubahan besar
dalam sektor manufaktur dan pertumbuhan sektor industri jasa.[84] Sebagai bagian dari Britania
Raya, Inggris bergabung dengan organisasi Masyarakat Ekonomi Eropa, yang selanjutnya
menjadi Uni Eropa. Pada akhir abad ke-20, pemerintahan daerah di Britania Raya mengalami
perubahan dengan diberikannya devolusi pada Skotlandia, Wales, dan Irlandia Utara.[85] Namun,
Inggris tetap menjadi bagian dari yurisdiksi Britania Raya.[86] Devolusi atau pelimpahan
kekuasaan ini mendorong terbentuknya identitas "English" dan rasa patriotisme yang lebih kuat.
[87][88]
Akibatnya, tidak ada devolusi yang diberikan kepada Inggris, upaya untuk menciptakan
sebuah sistem serupa dalam hal pemerintahan daerah juga ditolak dalam referendum. [89]