ANALISIS RASIO
PENGERTIAN
Suatu rasio mengungkapkan hubungan matematik antara suatu jumlah dengan jumlah
lainnya atau perbandingan antara satu pos dengan pos lainnya.
Analisis rasio dapat menyingkap hubungan dan sekaligus menjadi dasar pembandingan yang
menunjukkan kondisi atau kecendrungan yang tidak dapat dideteksi bila kita hanya melihat
komponen-komponen rasio itu sendiri.
Dalam hubungannya dengan keputusan yang diambil oleh perusahaan, analisis rasio
ini bertujuan untuk menilai efektivitas keputusan yang telah diambil dalam rangka
menjalankan aktivitasnya, yakni :
Keputusan investasi, yaitu keputusan yang menyangkut tentang dana yang dimiliki
perusahaan sebaiknya ditanamkan kedalam aktiva bentuk apa
Keputusan pendanaan atau pembiayaan, yaitu keputusan yang menyangkut tentang
sumber dana yang dibutuhkan untuk membiayai investasi
Keputusan operasional, keputusan mengenai produk apa yang akan dijual dan bagaimana
cara menjualnya agar memperoleh laba.
RASIO LIKUIDITAS
Likuiditas perusahaan menggambarkan kemampuan perusahaan tersebut dalam memenuhi
kewajiban jangka pendeknya kepada kreditur jangka pendek. Untuk mengukur kemampuan
ini, biasanya digunakan angka rasio, sbb :
a. Modal Kerja
Modal kerja merupakan selisih antara total aktiva lancar dengan utang lancar. Jumlah
modal kerja yang dimiliki oleh perusahaan, akan menjadi perhatian para kreditur jangka
pendek, karena angka ini menunjukkan jumlah aktiva yang dibelanjai dari sumber dana
jangka panjang, yang tidak memerlukan pembayaran kembali dalam jangka pendek. Makin
besar angka modal kerja ini, berarti makin besar tingkat proteksi kreditur jangka pendek, dan
makin besar kepastian bahwa utang jangka pendek akan dilunasi tepat waktu.
b. Current Ratio
Merupakan perbandingan antara total aktiva lancar dan utang lancar. Rasio ini dihitung
dg formula, sbb : Aktiva Lancar
Current Ratio = ----------------------
Utang Lancar
Current Ratio sangat berguna untuk mengukur likuiditas perusahaan, akan tetapi dapat
menjebak. Hal ini karena Current Ratio yang tinggi dapat disebabkan adanya piutang yang
tidak tertagih atau persediaan yang tidak terjual, yang tentu saja tidak dapat dipakai untuk
membayar utang
c. Acid Test/ Quick Ratio
Ukuran likuiditas perusahaan yang lebih teliti ditemukan pada angka rasio yang disebut
Acid Test atau Quick Ratio. Pada rasio ini, pos persediaan dan persekot biaya dikeluarkan dari
aktiva lancer, dan hanya menyisakan pos-pos aktiva lancar yang likuid saja, yang akan
dibagi dengan utang lancar.
Rasio ini dihitung dg formula, sbb :
Aktiva Lancar – Persediaan – Persekot biaya
Quick Ratio = --------------------------------------------------------------
Utang Lancar
Acid Test atau Quick Ratio dirancang untuk mengukur seberapa baik perusahaan dapat
memenuhi kewajibannya, tanpa harus melikuidasi atau terlalu bergantung pada
persediaannya.
d. Perputaran Piutang (Account Receivable Turnover)
Rasio perputaran piutang ini biasanya digunakan dalam hubungannya dengan analisis
terhadap modal kerja, karena memberikan ukuran kasar tentang seberapa cepat piutang
perusahaan berputar menjadi kas. Sedangkan angka jumlah hari piutang, menunjukkan
lamanya suatu piutang bisa ditagih.
Rasio ini dihitung dg formula, sbb :
Penjualan (kredit)
Perputaran piutang = -------------------------- (kali)
Rata-rata piutang
Jumlah hari per-tahun
Jumlah hari piutang = ---------------------------------- (hari)
Perputaran piutang
Baik tidaknya angka jumlah hari piutang, sangat bergantung dari termin kredit yang
ditawarkan perusahaan kepada para pelanggan. Dari analisis angka jumlah hari piutang ini
juga dapat memberikan petunjuk adanya masalah pada fungsi penagihan atau pada
manajemen kredit perusahaan.
e. Perputaran Persediaan (Inventory Turnover)
Rasio perputaran persediaan mengukur berapa kali persediaan perusahaan telah dijual
selama periode tertentu.
Rasio ini dihitung dg formula, sbb :
Harga Pokok Penjualan
Perputaran persediaan = -------------------------------- (kali)
Rata-rata persediaan
Jumlah hari per-tahun
Jumlah hari persediaan = ---------------------------------- (hari)
Perputaran persediaan
Apabila suatu perusahaan mempunyai rasio perputran persediaan yang lebih rendah
dibanding dengan rata-rata industrinya, maka hal ini menunjukkan adanya persediaan yang
sudah usang atau persediaan yang terlalu tinggi, dan sebaliknya.
RASIO SOLVABILITAS ( STRUKTUR MODAL )
Solvabilitas perusahaan menggambarkan kemampuan suatu perusahaan dalam
memenuhi kewajiban jangka panjangnya. Rasio yang digunakan mengukur kemampuan ini,
adalah :
1. Debt-to-Equity Ratio
Dalam mengukur risiko, fokus perhatian kreditur jangka panjang terutama ditujukan pada
prospek laba dan perkiraan arus kas. Meskipun demikian, mereka tidak dapat mengabaikan
pentingnya tetap mempertahankan keseimbangan antara proporsi aktiva yang didanai oleh
kreditur dan yang didanai oleh pemilik perusahaan.
Keseimbangan proporsi antara aktiva yang didanai oleh kreditur dan yang didanai oleh
pemilik perusahaan diukur dengan debt-to-equity, dengan formula, sbb:
Total Utang
Debt-to-Equity Ratio = ---------------------
Total Modal
Rasio ini juga dapat memberikan gambaran mengenai struktur modal yang dimiliki oleh
perusahaan, sehingga dapat dilihat tingkat risiko perusahaan.
Debt-to-equity ratio ini menunjukan jumlah aktiva yang didanai oleh kreditur untuk
setiap Rp 1,00 aktiva yang didanai oleh pemilik perusahaan. Kreditur jangka panjang pada
umumnya lebih menyukai angka debt-to-equity ratio yang kecil. Makin kecil angka rasio ini,
berarti makin besar jumlah aktiva yang didanai oleh pemilik perusahaan dan makin besar
penyangga risiko kreditur.
2. Time Interest Earned
Untuk mengukur kemampuan operasi perusahaandalam memberikan proteksi kepada
kreditur jangka panjang, khususnya dalam membayar bunga, digunakan rasio Time Interest
Earned.
Rasio ini dihitung dg formula, sbb :
Laba sebelum bunga dan pajak (EBIT)
Time Interest Earned = ----------------------------------------------------- (kali)
Biaya bunga
Tidak ada pedoman yang pasti tentang besarnya angka rasio ini yang dikatakan baik. Pada
umumnya, laba dipandang cukup untuk melindungi kreditur bila rasio ini besarnya 2 (dua)
kali atau lebih.
RASIO RETURN ON INVESTEMENT
Return on Investment mengukur tingkat pengembalian investasi yang telah dilakukan
oleh perusahaan, baik dengan menggunakan total aktiva yang dimiliki oleh perusahaan
tersebut maupun dengan menggunakan dana yang berasal dari pemilik (modal).
Return on Investment merupakan terminologi yang luas dari rasio yang digunakan untuk
mengukur hubungan antara laba yang diperoleh dan investasi yang digunakan untuk
menghasilkan laba tersebut.
Sesuai dengan investasi mana yang digunakan, maka rasio ini dibagi menjadi 2 (dua),
sbb :
1. Return on Total Assets (ROA)
Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan dalam memanfaatkan aktivanya untuk
memperoleh laba atau mengukur tingkat pengembalian investasi yang telah dilakukan oleh
perusahaan dengan menggunakan seluruh dana (aktiva) yang dimilikinya. Rasio ini dapat
diperbandingkan dengan tingkat bunga yang berlaku.
Rasio ini dihitung dg formula, sbb :
Laba setelah pajak tetapi sebelum bunga
Return on Total Assets = --------------------------------------------------------- (%)
Aktiva rata-rata
Laba yang digunakan adalah laba setelah pajak, sebelum bunga, untuk menggambarkan
besarnya laba yang diperoleh perusahaan sebelum didistribusikan baik kepada kreditur
maupun pemilik perusahaan.
2. Return on Equity (ROE)
Apabila kita ingin melihat tingkat investasi dengan menggunakan dana yang berasal dari
pemilik perusahaan saja, maka digunakan rasio Return on Common Stock-holders’Equity atau
Return on Equity (ROE)
Rasio ini dihitung dg formula, sbb :
Laba bersih setelah pajak – Deviden Saham Istimewa
Return on Equity = ------------------------------------------------------------------------ (%)
Rata-rata Modal Saham Biasa
Laba yang digunakan adalah laba bersih setelah pajak dikurangi deviden untuk para
pemegang saham istimewa (bila ada). Hal ini dimaksudkan untuk menggambarkan besarnya
laba yang benar-benar tersedia dan tersisa bagi para pemegang saham biasa.
RASIO PEMANFAATAN AKTIVA (ASSET UTILIZATION RATIO)
Pada prinsipnya, setiap aktiva yang dimiliki oleh perusahaan diharapkan untuk dapat
mendukung perolehan penghasilan yang menguntungkan. Untuk mengukur efisiensi dan
efektivitas pemanfaatan aktiva dalam memperoleh penghasilan tersebut, dapat digunakan
rasio-rasio perputaran aktiva, sbb :
1. Rasio Perputaran Total Aktiva
Rasio ini mengukur aktivitas aktiva dan kemampuan perusahaan dalam penghasilkan
penjualan melalui penggunaan aktiva tersebut dan juga mengukur seberapa efisien aktiva
tersebut telah dimanfaatkan untuk memperoleh penghasilan.
Rasio ini dihitung dg formula, sbb :
Penjualan
Perputaran Aktiva = -------------------------- (kali)
Aktiva Rata-rata
2. Rasio Perputaran Modal Kerja
Menghubungkan penjualan dengan modal kerja, memberikan indikasi perputaran modal
kerja selama periode tertentu.
Rasio ini dihitung dg formula, sbb :
Penjualan
Perputaran Modal Kerja = -------------------------------- (kali)
Modal Kerja Rata-rata
Secara umum, rasio perputaran modal kerja yang rendah memberi indikasi tidak
menguntungkannya penggunaan modal kerja. Dengan kata lain, penjualan tidak cukup baik
dalam kaitannya dengan modal kerja yang tersedia (tidak efisien). Sebaliknya rasio yang
tinggi mennjukkan telah terjadi kelebihan kapasitas.
3. Rasio Perputaran Aktiva Tetap
Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan untuk membuat aktiva tetap produktif
dengan penghasilkan penjualan, dan juga mengukur sfisiensi penggunaan aktiva tetap.
Rasio ini dihitung dg formula, sbb :
Penjualan
Perputaran Aktiva Tetap = --------------------------------- (kali)
Aktiva Tetap Rata-rata
4. Rasio Perputaran Aktiva Lain-lain
Rasio ini juga dimaksudkan untuk mengukur sfisiensi penggunaan aktiva lain-lain dalam
menghasilkan penjualan.
Rasio ini dihitung dg formula, sbb :
Penjualan
Perputaran Aktiva Lain-lain = ------------------------------------- (kali)
Aktiva Lain-lain Rata-rata
RASIO KINERJA OPERASI (OPERATING PERFORMANCE RATIO)
Untuk dapat meraih keuntungan, pengelola perusahaan harus mampu bekerja secara
efisien dan kinerja operasi perusahaan harus senantiasa ditingkatkan. Untuk mengukur
kinerja operasi perusahaan, digunakan beberapa angka rasio dengan denominator (penyebut)
penjualan, sbb :
1. Rasio Laba Kotor terhadap Penjualan (Gross Profit Margin)
Rasio ini mengukur efisiensi produksi dan penentuan harga jual.
Rasio ini dihitung dg formula, sbb :
Laba Kotor
Laba Kotor thd Penjualan = ------------------- (%)
Penjualan
2. Rasio Laba Bersih terhadap Penjualan (Net Profit Margin)
Rasio ini mengukur seluruh efisiensi, baik produksi, administrasi, pemasaran, pendanaan,
penentuan harga maupun manajemen pajak.
Rasio ini dihitung dg formula, sbb :
Laba Bersih
Laba Bersih thd Penjualan = ------------------- (%)
Penjualan
Kombinasi rasio GPM dan NPM akan dapat memberikan informasi yang berharga mengenai
struktur biaya dan laba perusahaan, serta memungkinkan untuk melihat sumber efisiensi dan
ketidakefisienan perusahaan.
3. Rasio Laba Usaha terhadap Penjualan (Operating Income Margin)
Pada rasio ini , angka laba yang digunakan adalah yang berasal dari kegiatan usaha
pokok/utama perusahaan.
Rasio ini dihitung dg formula, sbb :
Laba Usaha
Laba Usaha thd Penjualan = ------------------- (%)
Penjualan
Rasio ini menggambarkan tentang efisiensi perusahaan pada kegiatan utama perusahaan.
4. Rasio Harga Pokok Penjualan terhadap Penjualan dan Rasio Biaya Usaha terhadap
Penjualan
Rasio ini bertujuan untuk melihat struktur biaya perusahaan.
Rasio ini dihitung dg formula, sbb :
HPP
HPP thd Penjualan = ------------------- (%)
Penjualan
Biaya Usaha
Biaya Usaha thd Penjualan = ------------------- (kali)
Penjualan
Rasio HPP thd Penjualan yang tinggi, selain menjadi indikator kerawanan terhadap
perubahan harga, juga mempengaruhi strategi penentuan biaya usaha.
RASIO INVESTOR
Beberapa angka rasio yang sering digunakan, adalah sbb :
1. Earning Per Common Share (EPS)
Adalah jumlah laba yang menjadi hak untuk setiap pemegang satu lembar saham biasa.
EPS yang sederhana dihitung dg formula, sbb :
Laba Bersih – Deviden saham istimewa
EPS = --------------------------------------------------------------------------------
Rata-rata tertimbang jumlah lembar saham biasa yg beredar
2. Percentage of Earning Retained (PER)
Rasio ini mengukur proporsi laba yang dihasilkan perusahaan saat ini, yang ditahan untuk
keperluan pertumbuhan (ekspansi)
Rasio ini dihitung dg formula, sbb :
Laba Bersih – Semua Deviden
PER = -----------------------------------------------
Laba Bersih
3. Devidend Payout
Rasio ini mengukur proporsi laba bersih per-satu lembar saham biasa yang dibayarkan
dalam bentuk deviden.
Rasio ini dihitung dg formula, sbb :
Deviden per-lembat saham biasa
Devidend Payout = ---------------------------------------------
Earning Per Share (EPS)
Investor yang mengharapkan memperoleh capital gain akan lebih menyukai angka rasio
ini yang rendah, sebaliknya investor yang menyukai deviden, ingin rasio ini yang tinggi.
Banyak perusahaan yang telah memiliki kebijakan deviden yang mantap dan tidak
meninginkan terjadinya fluktuasi deviden (khususnya arah yang menurun), karena hal ini
justru akan berpengaruh negatif terhadap harga saham.
4. Devidend Yield
Rasio ini menunjukkan hubungan antara deviden yang dibayarkan untuk setiap satu
lembar saham biasa dan harga pasar saham biasa perlembar.
Rasio ini dihitung dg formula, sbb :
Deviden per-lembat saham biasa
Devidend Yield = -----------------------------------------------------
Harga pasar per-lembar saham biasa
5. Book Value Per Share
Rasio ini menunjukkan jumlah stockholders’equity (modal sendiri) yang berkaitan
dengan setiap lembar saham yang beredar.
Rasio ini dihitung dg formula, sbb :
Total stockholders’equity – Preferred Stock
Book Value Per Share = ------------------------------------------------------------
Jumlah lembar saham biasa yang beredar
Rasio ini digunakan sangat terbatas oleh analis, karena perhitungannya didasarkan
pada data historis, apabila harga pasar berada dibawah nilai bukunya, investor
memandang bahwa perusahaan tidak cukup potensial.
Ilustrasi
PT ANDIKA
Neraca Komparatif
Per-31 Des 2009 dan 2010
(dalam ribuan Rupiah)
31 Desember
2010 2009
AKTIVA
Aktiva lancar
Kas dan Bank 431 377
Deposito 51.429 19.000
Piutang dagang 29.535 17.462
Piutang lain-lain 4.022 3.570
Persediaan 56.190 51.549
Persekot biaya 1.683 1.823
Total Aktv Lancar 142.290 93.781
Aktiva Tetap bersih 511.480 533.522
Aktiva lain-lain
Pekerjaan dlm pelaksanaan 16.154 32.207
Biaya ditangguhkan 22.864 25.264
Aktiva lainnya 4.544 4.341
Total aktv lain-lain 43.552 61.812
TOTAL AKTIVA 697.322 689.115
UTANG DAN MODAL
Utang lancar
Utang dagang 5.624 1.920
[Link] jt tempo 25.000 25.000
[Link] perush afiliasi 2.186 2.551
Utang lain-lain 1.590 1.430
Total Utang lancar 39.216 35.778
Utang bank 87.500 112.500
Utang program pensiun 12.508 12.097
Utang PPh ditangguhkan 44.759 32.564
Total Utang 183.983 192.939
Modal Sendiri
Modal saham 136.413 136.413
Md sh disetor lainnya 277.760 277.760
Laba ditahan 99.166 82.003
Total modal sendiri 513.339 496.176
TOTAL UTANG DAN MODAL 697.322 689.115
Diminta :
1. Lakukanlah analisis dari lap. Keuangan di atas dan deskripsikan hasil analisis yg saudara
peroleh ! ( analisis rasio : likuiditas dan solvabilitas ).
PT ANDIKA
Laporan Laba-rugi Komparatif
Untuk tahun yang berakhir 31 Des 2009 dan 2010
(dalam ribuan Rupiah)
Tahun
2010 2009
Penjualan 217.332 154.831
Harga Pokok Penjualan 153.231 130.456
Laba kotor 64,101 24.375
Biaya usaha 1.442 2.999
Laba usaha 62.659 21.376
Pendapatan (biaya) lain-lain
Pendapatan bunga 1.589 803
Biaya bunga (7.087) (7.066)
Kerugian kurs (221) (105)
Biaya lain-lain (2.741) (934)
Laba diluar usaha (8.460) (7.302)
Laba sebelum pajak 54.199 14.074
Pajak penghasilan 12.195 3.167
Laba bersih 42.004 10.907
Laba bersih per-saham 0,17 0,04
Diminta :
2. Lakukanlah analisis dari lap. Keuangan di atas dan deskripsikan hasil analisis yg
saudara peroleh ! ( analisis rasio kinerja operasi ).