Psikoterapi Tawakkal dalam Islam
Psikoterapi Tawakkal dalam Islam
Abstrak. Permasalahan kesehatan mental seperti deperesi, stress, frustasi dan traumatik dapat
diatasi dengan psikoterapi. Salah satu psikoterapi yang dapat diterapkan adalah psikoterapi islam.
Psikoterapi islam merupakan integrasi antara ilmu psikologi dan ajaran agama Islam. Salah satu
ajaran islam mengajarkan umat manusia untuk bertawakkal. Tawakkal termasuk dalam aliran
Psikoterapi Sufistik. Tawakkal dalam tasawuf merupakan jiwa individu yang merasa dalam
ketenangan dan ketenteraman dalam keadaan apapun, baik dan buruk. Hal tersebut dapat membantu
seseorang yang mengalami permasalahan kesehatan mental. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui
bagaimana model psikoterapi tawakkal dan dikaji menggunakan metode kepustakaan. Sumber yang
digunakan terdiri dari buku dan jurnal serta Al-Qur’an dan Hadist yang membahas tentang
psikoterapi islam dan tawakkal. Berdasarkan sumber yang digunakan ditemukan bahwa model
psikoterapi tawakkal itu bersumber pada individu yang menyerahkan diri kepada Allah dengan
mengkhitiarkannya. Implementasi model psikoterapi tawakkal dapat digunakan dengan
mengintegrasikan konsep tawakkal dengan terapi Cognitive Behavioral Therapy (CBT).
Abstract. Overcoming mental health such as depression, stress, frustration and trauma can be
overcome with psychotherapy. One of the psychotherapies that can be applied is Islamic
psychotherapy. Islamic psychotherapy is an integration between psychology and Islamic religious
teachings. One of the teachings of Islam forbids human beings to put their trust. Tawakkal is
included in the school of Sufistic Psychotherapy. Tawakkal in Sufism is an individual soul that feels
calm and at ease under any circumstances, good or bad. This can help someone who is experiencing
mental health problems. This study aims to find out how the tawakkal psychotherapy model is and
is studied using the library method. The sources used consist of books and journals as well as the
Koran and Hadith which discuss Islamic Psychotherapy and Tawakkal. Based on the sources used,
it was found that the tawakkal psychotherapy model was based on individuals who surrendered
themselves to God by practicing them. The implementation of the tawakkal psychotherapy model
can be used by integrating the concept of tawakkal with Cognitive Behavioral Therapy (CBT)
therapy.
PENDAHULUAN
Perkembangan dan kemajuan zaman pada era sekarang sangat berkembang pesat
sehingga menimbulkan perubahan di berbagai aspek kehidupan. Dalam dunia pendidikan
sendiri telah mengalami banyak kemajuan cukup pesat beriringan dengan adanya tuntutan
perkembangan pada dunia global. Berkembangnya pendidikan memberikan banyak pengaruh
pada manusia. Di dalam Al-Qur’an dijelaskan mengenai keutamaan ilmu dalam Islam,
sebagaiman tercantum dalam QS. Al-Mujadilah ayat 11 yang berbunyi:
81
Rahmadhanty, Rahmawati, Shofiah, Rajab & Gustiwi
Psychology Journal of Mental Health
Volume 4, Nomor 2, Tahun 2023
ISSN 2745 - 7311
[Link]
ّٰللاُ لَ ُك ْۚ ْم َواِذَا
ح ه َ س ُح ْوا فِى ْال َمجٰ ِل ِس فَا ْف
َ س ُح ْوا يَ ْف
ِ س َّ َٰيٰٓاَيُّ َها الَّ ِذيْنَ ٰا َمنُ ْٰٓوا اِذَا قِ ْي َل لَ ُك ْم تَف
ّٰللاُ الَّ ِذيْنَ ٰا َمنُ ْوا ِم ْن ُك ْۙ ْم َوالَّ ِذيْنَ ا ُ ْوتُوا ْال ِع ْل َم َد َرجٰ ت
ش ُز ْوا يَ ْرفَ ِع ه ُ ش ُز ْوا فَا ْن ُ قِ ْي َل ا ْن
ّٰللاُ ِب َما ت َ ْع َملُ ْونَ َخ ِبيْرَو ه
Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, “Berilah
kelapangan di dalam majelis-majelis,” maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi
kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, “Berdirilah kamu,” maka berdirilah, niscaya
Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang
diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha teliti apa yang kamu kerjakan. "
Berkembangnya pendidikan tersebut juga mampu menciptakan produk-produk yang
disebut sebagai teknologi. Dengan adanya teknologi tersebut mampu memberikan pengaruh
positif, yaitu berupa kemajuan dan kesejahteraan bagi manusia (Sumiati & Is, 2017). Fitriani
(2016) menyebutkan bahwa individu dikatakan sejahtera apabila mampu menerima diri,
membangun hubungan dengan orang lain, mampu mengatasi permasalahan-permasalahan
yang menyebabkan tekanan sosial dan mampu menguasai lingkungan.
Permasalahan-permasalahan individu menuntut adanya penyelesaian karena apabila
tidak terselesaikan, maka akan menimbulkan permasalahan pada kesehatan mental individu.
Masa sekarang kesehatan mental sedang ramai diperbincangkan dan menjadi hal yang menarik
untuk dikaji dalam psikologi. Akan tetapi, kebanyakan masalah kesehatan mental hanya dikaji
secara biologis dan sosial saja. Sedangkan di dalam Islam manusia dilihat tidak hanya dari
aspek biologis dan sosial yang menyertainya saja, tetapi keseluruhan faktor pembentuk
kepribadian termasuk spritualnya.
Mengatasi kesehatan mental individu dapat dilakukan dengan psikoterapi. Psikoterapi
merupakan sebuah kegiatan guna melakukan perawatan ataupun penyembuhan suatu gangguan
kejiwaan melalui teknik dan metode berdasarkan pandangan psikologi. Kegiatan tersebut dapat
berlangsung apabila adanya interaksi antara terapis dan pasien (Alang, 2021).
Beragam psikoterapi telah banyak dilakukan, seperti Cognitive Behaviroal Therapy
(CBT), Psikoanalisa, Family Therapy dan beragam jenis psikoterapi lainnya. Akan tetapi, saat
ini setelah adanya pertemuan antara psikologi murni dengan psikologi transpersonal telah
melahirkan sebuah aliran baru yaitu psikoterapi islam. Aliran psikologi transpersonal
membahas dimensi kebatinan, ruhaniawan dan keagamaan, sementara psikoterapi islam
mampu memberikan solusi preventif, kuratif dan konstruktif dalam membantu memulihkan
kejiwaan individu (Rajab, 2014).
Psikoterapi islam merupakan pendekatan religius yang mengaplikasikan nilai Islam
yang berlandaskan pada Al-Quran dan Al-sunnah sebagai pedoman terapeutik. Psikoterapi
islam sering disebut sebagai pengobatan dan penyembuhan pada gangguan mental, spiritual,
moral dan fisik melalui ajaran Allah swt, malaikat, nabi serta rasul-Nya yang terkandung dalam
Al-Quran dan Al-Sunnah (AdzDzaky, 2008; Rachmaningtyas & Mubarak, 2014). Selain itu,
psikoterapi islam juga dapat memberikan pemahaman bagi individu yang memiliki
pengetahuan dan pengalaman yang keliru terhadap agama. Hal tersebut menjadi penting karena
kekeliruan individu terhadap agama dapat menyebabkan terjadinya konflik dan kecemasan
pada diri (Cahyadi, 2016).
Permasalahan kesehatan mental pada individu yang sering muncul seperti depresi, stres,
fobia, frustasi dan traumatik harus segera diselesaikan dengan mencari solusi yang cepat dan
tepat. Dalam psikoterapi islam ada aspek yang dijadikan landasan yaitu iman, ibadah, ihsan
dan tasawuf (Rajab, 2019). Psikoterapi Islam dengan model tasawuf merupakan model
82
Rahmadhanty, Rahmawati, Shofiah, Rajab & Gustiwi
Psychology Journal of Mental Health
Volume 4, Nomor 2, Tahun 2023
ISSN 2745 - 7311
[Link]
trapeutik yang tak terbantahkan dari integrasi Islam dengan psikologi (Rajab, 2019).
Psikoterapi sufistik dapat dilakukan dengan beberapa pendekatan, salah satunya yaitu
pendekatan psikoterapi tawakkal.
Di dalam al-Quran ada 70 ayat yang mengandung lafaz tawakkal. Akan tetapi, tawakkal
memiliki beragam makna. Ada yang bermakna pemelihara, penjaga dan ada juga yang
bermakna sebagai orang yang diserahi serta lain sebagainya. Secara etimologi, kata tawakkal
dapat dijumpai dalam dalam kamus Al-munawwir (1997) yang bermakna menyerahkan
sepenuhnya kepada Allah SWT. Nurmiati, Abubakar dan Parhani (2021) mendefinisikan
tawakkal sebagai sebuah sikap yang merujuk pada ketakwaan seseorang pada Allah SWT.
Sikap tersebut ditunjukkan merupakan wujud pengabdian dan sebagai upaya total seseorang
kepada Allah SWT setelah melakukan segala usaha dan perjuangan.
Tawakkal merupakan suatu keadaan individu menyerahkan diri kepada Allah dan
hanya bersandar kepada-Nya, sehingga sebagai hamba-Nya kita lebih tidak putus asa dan lebih
tenang dalam menjani kehidupan. Di dalam al-Quran surah Al-Mulk ayat 29 disebutkan bahwa
Artinya: “Katakanlah: Dialah Allah Yang Maha Penyayang kami beriman kepada-Nya dan
kepada-Nya lah kami bertawakkal. Kelak kamu akan mengetahui siapa yang berada dalam
kesesatan yang nyata.”
Imam Al-Ghazali (Al-Faruqi, Ma’afi & Haibaiti, 2022) mengemukakan bahwa
tawakkal merupakan suatu bentuk pengendalian hati yang dilakukan kepada Allah SWT karena
menyadari bahwa segala sesuatu yang terjadi merupakan atas kekuasaan-Nya. Rustan (2021)
mengungkapkan bahwa tawakkal bermakna berserah diri pada Allah SWT ketika menghadapi
atau menunggu hasil dari suatu pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan. Selain dapat
membantu mengatasi permasalahan kesehatan mental, tawakkal juga menjadi salah satu
penentu tingkat keimanan bagi umat Islam (Al-Faruqi, Ma’afi & Haibaiti, 2022).
Dalam Psikoterapi Sufistik juga dikenal bahwa fungsi tawakkal adalah sebagai tajalli,
tahalli dan takhalli. Berfungsi sebagai tajalli karena dengan bertawakkal hati menjadi tentram
saat menerima cobaan. Tahalli karena dengan bertawakkal akan menumbuhkan kesehatan
mental dan ketenangan batin. Takhalli maksudnya dengan bertawakkal dapat mengindari
seseorang untuk jatuh pada hal yang buruk (Rajab, 2014).
Berdasarkan pernyataan di atas, diketahui bahwa tawakkal dapat menjadi salah satu
psikoterapi islam yang dapat dilakukan untuk mengurangi maupun mengatasi permasalahan
kesehatan mental, terutama bagi umat Islam. Selain itu, tawakkal juga dapat meningkatkan
keimanan seorang muslim sehingga penting untuk membahas lebih lanjut mengenai tawakkal
sebagai psikoterapi islam.
METODE
Metode yang digunakan penulis dalam penulisan artikel ini yaitu menggunakan metode
penelitian kepustakaan (library research). Library research tersebut merupakan teknik
pengumpulan data dengan mengadakan studi telaah yang dilakukan melalui buku-buku,
literatur-literatur, maupun laporan-laporan yang berhubungan dengan penelitian yang
dilaksanakan (Nazir, 2013).
83
Rahmadhanty, Rahmawati, Shofiah, Rajab & Gustiwi
Psychology Journal of Mental Health
Volume 4, Nomor 2, Tahun 2023
ISSN 2745 - 7311
[Link]
Sugiyono (2012) berpendapat bahwa studi kepustakaan berkaitan dengan kajian teoritis
yang bekaitan dengan nilai, budaya dan norma yang berkembang pada situasi sosial yang
diteliti. Dalam penulisan ini ditelaah dari tulisan-tulisan kepustakaan yang relevan yang
diangkat sebagai permasalahan dalam topik penulisan ini. Pada penulisan artikel ini berasal
dari sumber sekunder, seperti buku, jurnal dan artikel ilmiah serta Al-Quran dan hadist yang
membahas tentang Psikoterapi, baik secara umum maupun Islam dan yang membahas tentang
tawakkal.
HASIL
Psikoterapi islam menurut Nashori dkk (2019) terbagi dua macam. Pertama yaitu
Original Islamic Psychology Intervention. Ini merupakan penerapan teknik psikoterapi islam
berdasarkan interpretasi ahli Al-Qur’an dan hadis. Kedua yaitu Integrative Islamic Psychology
Intervention di mana terdapat integrasi antara psikoterapi dalam perspektif Islam dengan
perspektif psikologi kontemporer.
Saat ini, pengembangan psikoterapi Islam telah banyak dilakukan. Salah satu bentuk
lain penerapan psikoterapi islam yang dapat dilakukan adalah dengan mengintegrasikan
perilaku Tawakkal dengan Psikoterapi barat, yaitu tawakkal dengan Cognitive Behavioral
Therapy (CBT). CBT merupakan suatu bentuk perlakuan psikologis yang memperhatikan
interaksi-interaksi antara cara berpikir, merasakan dan berperilaku seseorang. Konsep CBT
menekankan pada peranan kognitif terhadap perasaan dan perilaku seseorang. Terapi ini
berfokus pada perubahan pemikiran atau keyakinan yang negatif (Beck, 1995; Yusuf &
Setianto, 2013).
Terapi perilaku-kognitif (CBT) mengacu pada pendekatan pengobatan yang didasarkan
pada premis bahwa (a) proses kognitif terlibat dalam pengembangan dan pemeliharaan
psikopatologi, terutama tekanan emosional dan gangguan fungsi, sementara juga (b) gangguan
kognitif tersebut mungkin dapat muncul selama sesi terapi. Hal tersebut menyebabkan
penerapan CBT ini membutuhkan terapis untuk menyesuaikan intervensi dalam membantu
klien dengan sebaik-baiknya (Kazantzis dkk, 2018). CBT meyakini bahwa perubahan pada
klien akan terjadi apabila individu tersebut belajar untuk berpikir dengan cara yang rasional
(Yusuf, Umar & Patresia, 2011; Yusuf & Setianto, 2013).
Pada masyarakat muslim, psikoterapi diterapkan dengan melihat korelasi antara teori
dan metode ajaran Islam. Islam mengajarkan bahwa setiap manusia yang sedang mengalami
masalah atau kesulitan akan mampu mengatasinya atas izin dari Allah SWT. Hal tersebut
dikarenakan Allah SWT telah menganugerahkan manusia dengan bermacam-macam
kemampuan untuk menyelesaikan permasalahan hidup. Kemampuan tersebut tergantung dari
sejauh mana keberhasilan manusia untuk mampu mengaktualisasikan potensi yang ada dalam
dirinya. Dalam QS. Al-A’raf: 42 juga dijelaskan mengenai hal tersebut, sebagai berikut:
ٰٰۤ ُ
ب ْال َجنَّ ْۚ ِة ْ َ ول ِٕى َك ا
ُ ٰصح سا ا ََِّل ُو ْس َع َهآ ا ُ ِّت ََل نُ َك ِل
ً ف نَ ْف ِ ٰص ِلح َ َوالَّ ِذيْنَ ٰا َمنُ ْوا َو
ع ِملُوا ال ه
َُه ْم فِ ْي َها ٰخ ِلد ُْون
Artinya: "Dan orang-orang yang beriman serta mengerjakan kebajikan, Kami tidak akan
membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya. Mereka itulah penghuni surga;
mereka kekal di dalamnya,"
84
Rahmadhanty, Rahmawati, Shofiah, Rajab & Gustiwi
Psychology Journal of Mental Health
Volume 4, Nomor 2, Tahun 2023
ISSN 2745 - 7311
[Link]
Berdasarkan hal ini, diharapkan pelaksanaan psikoterapi secara Islami tidak hanya
bertujuan menyembuhkan masalah psikologis, tetapi meningkatkan keimanan seorang muslim
kepada Tuhan-nya. Seorang terapis juga perlu menyadari bahwa keimanan yang benar kepada
Allah SWT selalu berpangkal kepada jiwa yang sehat.
Integrasi antara konsep tawakkal dan CBT dapat digunakan oleh masyarakat muslim.
Dengan asumsi bahwa kognisi seseorang dapat mempengaruhi individu tersebut merasakan
dan berperilaku sehingga kontrol pada pikiran sangat penting. Diharapkan dengan adanya
kontrol pikiran ini, individu dapat diarahkan menuju tawakkal kepada Allah SWT.
Dalam pelaksanaan terapi, konsep tawakkal kepada Allah dapat dijalankan dengan
menggunakan metode-metode dalam CBT. Konsep tawakkal yang diintegrasikan dalam terapi
dapat berperan sebagai peneguh pendirian dan bahan argumen untuk melawan kognisi irasional
atas suatu masalah. Konsep tawakkal, baik dalam hal aspek lahiriah dan nonlahiriah dapat
diintegrasikan dalam CBT dengan proses rekonstruksi kognitif, seperti metode thought
stopping, rational-emotive behavior therapy, dan cognitive therapy serta menjadi bagian dalam
terapi coping skill.
Hasil penelitian Faradillah & Amriana (2020) menemukan bahwa teknik thought
stopping cukup efektif menangani perasaan trauma individu dari keluarga broken home.
Kemudian penelitian yang dilakukan oleh Yanti dan Saputra (2018) menemukan bahwa
rational emotive behavioral therapy dapat membantu meningkatkan motivasi belajar peserta
didik. Penelitian lain yang dilakukan Semaraputri dkk (2020) menemukan bahwa cognitive
behavioral dapat memberikan pengaruh terhadap coping skill seseorang. Dengan demikian,
penerapan psikoterapi Tawakkal dalam Islam dapat dilakukan dengan memodifikasi dari
psikoterapi kontemporer.
Seorang terapis perlu mengakomodasi dimensi religi dan spiritual dalam praktik
psikoterapi. Dimensi religi dan spiritual adalah dimensi yang sama terintegrasinya dalam diri
seseorang seperti dimensi biologis, psikologis dan sosiokultural. Dalam hal penyembuhan
masalah kejiwaan atau dalam menghadapi masalah yang sulit, meningkatkan keimanan dapat
membantu seseorang menghadapi masalah-masalah yang sedang dihadapi. Seorang terapis
juga membutuhkan keimanan yang benar dan juga kokoh untuk menjalankan psikoterapi
dengan efektif (Sutoyo, 2017). Selain itu, penanaman nilai dan spiritual disertai keyakinan pada
agama dapat menimbulkan ketenangan jiwa dan kebahagiaan hidup, sehingga seseorang akan
menjalani kehidupan yang bermakna (Alawiyah & Handayani, 2019).
DISKUSI
Psikoterapi Islam
85
Rahmadhanty, Rahmawati, Shofiah, Rajab & Gustiwi
Psychology Journal of Mental Health
Volume 4, Nomor 2, Tahun 2023
ISSN 2745 - 7311
[Link]
Dewasa ini, meskipun beragam psikoterapi dianggap sebagai intervensi psikologis yang
efektif, mekanisme utama perubahan psikoterapi masih diperdebatkan. Telah disarankan
bahwa semua bentuk psikoterapi memberikan konteks yang memungkinkan klien mengubah
makna pengalaman dan gejala sedemikian rupa untuk membantu klien merasa lebih baik dan
berfungsi lebih adaptif (Locher, Meier & Gaab, 2019).
Psikoterapi Islam muncul sebagai satu alternatif yang dapat digunakan dalam mengatasi
permasalahan mental, terutama bagi seorang muslim. Psikoterapi islam ialah teknik
penyembuhan yang dapat diterapkan sebagai sebuah usaha, baik preventif, kuratif dan
rehabilitatif. Tujuan dilakukan psikoterapi islam ini adalah untuk mengatasi bermacam-macam
permasalahan fisik, mental hingga spiritual berdasarkan pandangan Islam yang bersumber dari
Al-Qur’an dan hadis (Saifudin, 2022). Diharapkan dengan menerapkan psikoterapi islam ini
tidak hanya dapat menyembuhkan permasalahan seseorang, tetapi juga dapat mendekatkan
seseorang kepada Allah SWT.
Pada dasarnya seseorang yang mampu bertawakkal kepada Allah tidak akan berkeluh
kesah dan merasa gelisah ketika dihadapkan dengan situasi tidak menyenangkan. Seseorang
yang bertawakkal akan senantiasa memperoleh nikmat dan karunia dari Allah SWT. Hal
tersebut akan membuatnya selalu merasakan ketenangan, kententraman dan kegembiraan. Di
dalam ajaran agama Islam, tawakkal merupakan landasan atau tumpuan akhir ketika seseorang
melakukan suatu usaha atau perjuangan. Suatu usaha atau perjuangan tersebut disebut dengan
ikhtiar. Itulah sebabnya tawakkal diartikan sebagai penyerahan diri dan ikhtiar sepenuhnya.
Seseorang memang tidak akan mampu bersikap tawakkal secara langsung dan utuh, tetapi jika
ia berusaha mengembangkan ilmu maka akan terjadi secara bertahap (Syabiq, 1994; Nurhasan,
2019).
Di dalam al-Quran surat ath-Thalaq ayat 3 juga dijelaskan mengenai Tawakkal dan
Ikhtiar yang berbunyi:
Bagi kalangan Sufi, konsep tawakkal lebih mengarah pada paham Jabariyah. Menurut
paham Jabariyah, tawakkal merupakan keadaan menggantungkan segala yang terjadi dalam
hidup hanya kepada Allah SWT. Hal tersebut didasarkan pada penghayatan akhir berupa
penghayatan yang di luar kemampuan dan ikhtiar manusia, tetapi karena kehendak Allah
semata. Akan tetapi, seorang sufi bernama Jalaluddin Rumi menafsirkan tawakkal dengan lebih
dinamis dan tidak hanya memandang tawakkal sebagai penyerahan total kepada kehendak
Tuhan. Baginya tawakkal bukanlah penerimaan pasif, tetapi sebagai sebuah usaha aktif
seseorang dengan menggunakan kekuatan untuk memilih. Jalaluddin Rumi menyatakan
“taburkan benih, lalu berserahlah kepada yang Maha Kuasa” (Kartanegara, 2004; Nurhasan,
2019).
86
Rahmadhanty, Rahmawati, Shofiah, Rajab & Gustiwi
Psychology Journal of Mental Health
Volume 4, Nomor 2, Tahun 2023
ISSN 2745 - 7311
[Link]
Sikap tawakkal mengacu pada sebuah wujud dari keyakinan dalam hati yang dilakukan
dengan cara memberikan motivasi kepada manusia agar berusaha kuat untuk menyerahkan
semua harapan hanya kepada Allah SWT. Hal tersebut menjadi tolak ukur tingkat keimanan
seseorang kepada Allah SWT. Selain berusaha mendidik untuk berusaha, dalam ajaran agama
Islam juga mengajarkan umatnya untuk berserah dan berharap hanya kepada Allah. Dengan
kata lain, umat manusia menyerahkan iman dan keyakinannya kepada Allah di dalam semua
urusan, maka pada suatu saat mereka akan merasakan keajaiban tawakkal (Nurmiati, Abubakar
& Parhani, 2021).
Menurut Al-Faruqi, Ma’afi dan Haibaiti (2022) mengacu pada pendapat Buya Hamka
yang merupakan salah satu tokoh pergerakan Islam, tawakkal merupakan kondisi ketika
seseorang menyerahkan segala keputusan dan segala permasalahan hanya kepada Allah SWT.
Hal tersebut dilakukan setelah adanya ikhtiar dan usaha yang dilakukan. Tawakkal juga harus
dilakukan dengan disertai perasaan syukur dan sabar menerima segala ketetapan-Nya.
Tawakkal tidak hanya bermakna tinggal diam, tidak bekerja dan tidak berusaha serta
juga bukan menyerahkan diri pada keadaan dan nasib maupun menunggu saja yang akan
terjadi. Hal tersebut bukan merupakan pengertian dari tawakkal yang diajarkan oleh al-Qur’ān,
melainkan Tawakkal ialah bekerja keras dan berjuang dengan giat untuk mencapai suatu
tujuan. Kemudian, setelah melakukan usaha dengan sungguh-sungguh baru menyerahkan diri
kepada Allah supaya tujuan itu tercapai berkat, rahmat dan inayahnya.
Syēkh Abdūl Qādir al-Jailanī (1956) membagi tawakkal menjadi tiga macam yaitu Al-
Tāwakkūl, Al-Tāslīm, dan Al-Tāfwīdl. Al-tawakkil yaitu individu yang berserah diri
mengharapkan janji-janji Allah. Sementara makna Al-tāslīm ialah orang yang menyerahkan
diri seutuhnya hanya kepada Allah karena memahami bahwa Allah merupakan satu-satunya
dzat yang paling tepat untuk dipasrahi segala urusan (al-Yamani, 2012). Individu juga
memahami bahwa Allah maha kuasa, maha kaya, maha pemurah, maha penyayang, maha
pengasih, maha pengabul Do’a dan maha segalanya. Selain itu, karena pengetahuan tentang
sifat-sifat Allah tersebut, muslim ini bersedia menyerahkan segala urusan yang dihadapinya
hanya kepada Allah (al-Yamani, 2012).
Al-tāfwīdl memiliki makna yaitu keadaan ketika seorang muslim tidak lagi
kebingungan mengenai nasib dirinya, tidak lagi mempermasalahkan dalam bentuk apa jaminan
yang diberikan Tuhan, tidak berkeluh-kesah atas kekurangan yang dirasakan, melainkan
menerima segala ketentuan dan ketetapan-Nya, baik yang dicita-citakan ataupun atas hal-hal
yang tidak disangka-sangka. Hal ini terjadi karena mereka sudah menerima terhadap ketentuan
Tuhannya, baik ataupun buruk bagi dirinya karena menyadari bahwa segala sesuatu yang
menjadi ketetapan Allah merupakan hal yang baik bagi dirinya (Al-Jailani, 1956; Nurhasan,
2019).
Banyak pendapat berbeda-beda mengenai tawakkal. Ada yang pasif hanya
menyerahkan sepenuhnya kepada Allah. Namun, ada juga yang aktif mengusahkan dengan
berikhtiar pada sesuatu yang ingin ia capai kemudian ia menyerahkan hasilnya kepada Allah
swt. Sebagaimana Firman Allah (QS Ali Imran 3:159: Artinya: “Kemudian apabila kamu telah
membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai
orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya”.
Bagi seorang mukmin yang mampu bersikap tawakkal, maka akan memberikan
ketenangan, bersikap optimis, stabil dan memiliki ketenangan dalam jiwanya. Tawakkal
merupakan keadaan seorang mukmin yang ketika memandang alam dan segala hal yang
terdapat didalamnya, ia menyadari tidak akan terlepas dari kuasa Allah SWT. Hal tersebut
sebagaimana tercantum dalam QS. Al-Furqan: 58, sebagai berikut:
87
Rahmadhanty, Rahmawati, Shofiah, Rajab & Gustiwi
Psychology Journal of Mental Health
Volume 4, Nomor 2, Tahun 2023
ISSN 2745 - 7311
[Link]
Artinya: “dan bertawakallah kepada Allah yang hidup (kekal) yang tidak mati, dan bertasbihlah
dengan memuji-Nya dan cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa-dosa hamba-Nya.”
Berangkat dari ayat tersebut, menunjukkan bahwa seorang muslim semestinya merasa
tenang dengan Tuhan-nya, setelah ia melaksanakan kewajiban-kewajiban yang diperintahkan
oleh Allah SWT. Sesungguhnya seorang muslim di dalam menghadapi persoalan-persoalan
yang berada diluar kehendak dan kemampuannya tidak perlu merasa khawatir.
Tawakkal didefinisikan beragam oleh banyak orang. Nurmiati, Abubakar dan Parhani
(2021) merangkum beberapa pendapat ulama mengenai makna tawakkal. Pendapat pertama
menurut Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya ‘Ulumiddin yakni tawakkal merupakan sikap
menyandarkan diri kepada Allah dalam berbagai keadaan yang disertai dengan jiwa dan hati
yang tenang. Pendapat selanjutnya menurut Ibn Qayyim al-Jauziyah, tawakkal ialah sebuah
amalan dan sikap penghambaan yang hanya dilakukan kepada Allah SWT yang dilakukan
dengan usaha untuk memperoleh ridha-Nya. Kemudian, pendapat menurut Yusuf al-Qardhawi
di mana tawakkal merupakan permohonan terhadap pertolongan dengan melakukan
penyerahan diri yang dilakukan sebagai salah satu bentuk ibadah.
Dalam Psikoterapi Sufistik, psikoterapi melalui tiga tahap, yaitu sebagai tajalli, tahali,
dan takhalli. Ketiga fungsi tersebut saling keterkaitan. Pertama, yaitu tahap Takhali berupa
pengenalan agar klien dapat membersihkan diri. Tahap ini dapat dilakukan dengan beberapa
cara, seperti pengenalan diri, kontrol diri dengan berpuasa dan pembersihan diri dengan
membaca Al-Qur’an maupun berdzikir. Tahap selanjutnya yaitu Tahalli meliputi proses
penyembuhan atau perbaikan diri. Tujuan tahap ini dilakukan adalah untuk menimbulkan sifat-
sifat terpuji yang bisa dilakukan dengan beberapa cara, seperti menanamkan nilai-nilai
Tawakkal. Tahap terakhir adalah Tajalli yaitu memusatkan diri pada interaksi antar sesama
manusia. Dengan adanya tawakkal, individu akan merasa tentram dan tenang tidak mudah
gelisah jika menghadapi cobaan dan ujian sehingga dapat meningkatkan kesehatan mental
(Subandi, 2013).
Tawakkal digunakan oleh terapis secara berkesinambungan. Terapis akan memberikan
panduan kepada klien nya agar senantiasa sabar dalam menghadapi masalah serta menyerahkan
semua yang terjadi kepada Allah. Ketika klien mengamalkan ajaran ataupun konsep tawakkal
maka klien tersebut akan merasakan ketenangan dan ketentraman, karena klien akan merasa
bahwa apapun yang terjadi sesuatu yang menimpanya baik dan buruk sudah ketentuan dari
Allah SWT.
Iskandar, Noupal dan Setiawan (2018) menemukan bahwa tawakkal dapat menurunkan
kecemasan siswa kelas XII yang akan mengikuti ujian. Riyanty dan Nurendra (2021) juga
menyebutkan bahwa tawakkal dapat dijadikan coping religious atau upaya yang dilakukan
seseorang ketika dihadapkan dengan situasi yang menekan (stressful). Penelitian yang
dilakukan oleh Ikhwanisifa dan Raudatussalamah (2022) juga menemukan bahwa tawakkal
dapat meningkatkan kesejahteraan subjektif pada masyarakat Melayu. Berdasarkan
pernyataan-pernyataan tersebut menunjukkan bahwa tawakkal memiliki korelasi dengan
88
Rahmadhanty, Rahmawati, Shofiah, Rajab & Gustiwi
Psychology Journal of Mental Health
Volume 4, Nomor 2, Tahun 2023
ISSN 2745 - 7311
[Link]
kesehatan mental, seperti menurunkan kecemasan dan stres serta dapat meningkatkan
kesejahteraan diri.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Jailani, (1956). al-Ghuniyah li Thalib Thariq al-Haq. Beirut: Dar al-Kutub al-Islamiyah
Al-Yamani. (2012). Pelatihan Lengkap Tazkiyatun Nafs. Jakarta: Zaman
Alang, H. M. S. (2021). Metode Terapi Islam dalam Pembinaan Mental. A;-Irsyad Al-Nafs,
Jurnal Bimbingan Penyuluhan Islam, 8(1), 11-21.
Alawiyah, D., & Handayani, I. (2019). Penanaman Nilai Spiritual dalam Dimensi Psikoterapi
Islam di PP. Rehabilitasi Salafiyah Syafi’iyah Nashrun Minallah. Konseli: Jurnal
Bimbingan dan Konseling (E-Journal), 6(1), 23-32.
Asrofi, A. (2022). Konsep Tawakkal Dalam Tasawuf Sebagai Psikoterapi Quarter Life Crisis.
Skripsi Tidak Diterbitkan.
Cahyadi, A. (2016). Psikoterapi dalam Pandangan Islam. El-Afkar, 5(2), 107-114.
Fitriani, A. (2016). Peran Religiusitas dalam Meningkatkan Psychological Well Being. Al-
AdYaN, 11(1), 1-24.
Faradillah, S. S., & Amriana. (2020). Cognitive Behavioral Therapy dengan Teknik Thought
Stopping untuk Menangani Trauma Psikologis Mahasiswa yang Mengalami Broken
Home. Prophetic: Proffesional, Empathy and Islamic Counseling Journal, 3(1), 83-94.
Fox, R. (2017). Research in psychotherapy. Routledge.
Goldfried, M. R. (2013). What should we expect from psychotherapy? Clin. Psychol. Rev. 33,
862–869. doi: 10.1016/[Link].2013.05.003.
Ikhwanisifa & Raudatussalamah. (2022). Peran Religious Coping dan Tawakal Untuk
Meningkatkan Subjective Wellbeing pada Masyarakat Melayu. Jurnal Psikologi, 18(1),
44-50.
Iskandar, B. J., Noupal, M., & Setiawan, K. C. (2018). Sikap Tawakal dengan Kecemasan
Menghadapi Ujian Nasional pada Siswa Kelas XII Madrasah Aliyah di Kota
Palembang. Psikis: Jurnal Psikologi Islam, 4(1), 17-26.
89
Rahmadhanty, Rahmawati, Shofiah, Rajab & Gustiwi
Psychology Journal of Mental Health
Volume 4, Nomor 2, Tahun 2023
ISSN 2745 - 7311
[Link]
Kazantzis, N., Luong, H. K., Usatoff, A. S., Impala, T., Yew, R. Y., & Hofmann, S. G.
(2018). The Processes of Cognitive Behavioral Therapy: A Review of Meta-Analyses.
Cognitive Therapy and Research, 42(4), 349–[Link].1007/s10608-018-9920-y.
Locher, C., Meier, S., & Gaab, J. (2019). Psychotherapy: A World of Meanings. Conceptual
Analysis, 10, 1-8.
Muzakkir. (2018). Tasawuf Dan Kesehatan: Psikoterapi Dan Obat Penyakit Hati. Jakarta:
Prendamedia Group.
Nashori, F., Diana, R. R., & Hidayat, B. (2019). The trends in Islamic psychology in Indonesia.
In Research in the social scientific study of religion (pp. 162–180). Leiden, Brill.
[Link] 10.1163/9789004416987_010.
Nurhasan. (2019). Konsep Tawakkal Menurut Jalaluddin Rumi. Pancawahana: Jurnal Studi
Islam, 14(2), 100-113.
Nurmiati., Abubakar, A., & Parhani, A. (2021). Nilai Tawakal dalam Al-Qur’an. Palita:
Journal of Social Religion Research, 6(1), 81-98.
Purnamasari, E. (2019). Psikoterapi Dan Tasawuf Dalam Mengatasi Krisis Manusia Modern.
Jurnal El-Afkar, 8(2), 89-102.
Rachmaningtyas, F., & Mubarak. (2014). Psikoterapi Islam pada Pasien Gangguan Jiwa Akibat
Penyalahgunaan Narkoba di Pondok Inabah Banjarmasin. Studia Insania, 2(2), 131-
146.
Rajab, K. (2014). Methodology Of Islamic Psychotherapy In Islamic Boarding School
Suryalaya Tasik Malaya. Indonesian Journal Of Islam And Muslim Societies, 4(2), 257-
289.
Rajab, K. (2019). Psikoterapi Islam. Jakarta: Bumi Aksara.
Riyanty, I. N., & Nurendra, A. M. (2021). Mindfulness dan Tawakal untuk Mengurangi
Depresi Akibat Pemutusan Hubungan Kerja pada Karyawan di Era Pandemi Covid-19.
Cognicia, 9(1), 40-44.
Rusandi, M. A., & Liza, L, O. (2017). Integrasi Konsep Tawakal Sebagai Alternatif Strategi
Konseling. Prosiding Seminar Nasional Bimbingan Dan Konseling.
Rustan, R. (2021). Tawakal: Status Hadis dan Pandangan Ulama. DIALEKTIKA, 14(2), 79-91.
Saifudin, A. (2022). Peluang dan Tantangan Psikoterapi Islam di Indonesia. Buletin Psikologi,
30(1), 22-44.
Sartika, A., & Kurniawan, I. N. (2015). Skala Tawakkal Kepada Allah: Pengemabngan
Ukuran-Ukuran Psikologis Surrender To God Dalam Persepktif Islam. Jurnal
Psikologika, 20(2), 129-142.
Semaraputri, S. A. K. T., Hamidah., & Budisetyani, I. G. A. P. W. (2020). Cognitive-
Behavioral Coping Skill Training pada Narapidana yang Sedang Menjalani Program
Rehabilitasi. Jurnal Diversita, 6(2), 183-193.
Subandi, M. A. (2013). Psikologi Agama & Kesehatan Mental. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Sumiati., & Is, S. S. (2017). Dampak Ilmu Pengetahuan Teknologi terhadap Iman dan Takwa
Mahasiswa. Jurnal Tarbawi, 2(2), 111-120.
Sutoyo, A. (2017). Peran Iman dalam Pengembangan Pribadi Konselor yang Efektif. Jurnal
Psikoedukasi dan Konseling, 1(1), 11-17.
Waslah. (2017). Peran Ajaran Tasawuf Sebagai Psikoterapi Mengatasi Konflik Batin. Jurnal
Lentera: Kajian Keagamaan, Keilmuan Dan Teknologi, 3(1), 25-38.
Yanti, L. M., & Saputra, S. M. (2018). Penerapan Pendekatan REBT (Rational Emotive
Behavior Therapy) untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa. Fokus, 1(6), 249-257.
Yusuf, U., & Setianto, R. L. (2013). Efektivitas “Cognitive Behavior Therapy” terhadap
Penurunan Derajat Stres. Mimbar, 29(2), 175-186.
90
Rahmadhanty, Rahmawati, Shofiah, Rajab & Gustiwi
Psychology Journal of Mental Health
Volume 4, Nomor 2, Tahun 2023
ISSN 2745 - 7311
[Link]
91