Terapi Kognitif Berbasis Islam untuk Kesehatan Jiwa
Terapi Kognitif Berbasis Islam untuk Kesehatan Jiwa
M. Arfaini Alif
STIT INSIDA
alifabqori2014@[Link]
ABSTRAKSI
Salah satu konsekwensi perkembangan ilmu pengetahuan secara global saat ini adalah adanya
standardisasi ilmu pengetahuan yang dapat berlaku diseluruh dunia. Model yang didasarkan di
Barat sering dianggap sebagai solusi untuk pengetahuan dan kemajuan meski acapkali
bertentangan dengan nilai-nilai dan keyakinan Islam. Termasuk dalam penanganan gejala
gangguan kejiwaan yang menjadi ranah dalam psikologi konvensional. Cognitive Behavior
Therapy merupakan salah satu pendekatan praktis yang biasa digunakan dalam penanganan
berbagai gangguan kejiwaan yang dikenal secara umum dan dipergunakan oleh para psikolog.
Beberapa ahli telah berdiskusi tentang kemungkinan menggunakan CBT dengan komunitas
Muslim. Diskusi ini berkonsentrasi pada CBT sebagai sebuah pendekatan yang didasari pada
pemahaman dan nilai sekuler, bagaimana CBT dapat beradaptasi dan disesuaikan dengan
budaya di mana Islam mendominasi sebagian besar aspek kehidupan.
Adaptasi dari CBT berbasis Keagamaan yang dikembangkan oleh Pearce dkk. (2015), maka
hadir terapi Perilaku Kognitif Terintegrasi Islam (CBT), terapi ini mengintegrasikan
keyakinan, perilaku, praktik, dan sumber daya agama Islam untuk mengatasi agresi,
kecemasan, depresi, dan obsesif kompulsif.
Melalui pendekatan literature review, penulis mendapati, pendekatan CBT yang dimaksud
diatas mampu memberikan dampak signifikan terhadap pemulihan gejala gangguan kejiwaan.
Sungguh gejala gangguan kejiwaan menjadi problematika tersendiri yang dapat dialami
diberbagai belahan dunia, Tahun 2019, hampir satu miliar orang – termasuk 14% remaja dunia
– hidup dengan gangguan mental. Bunuh diri menyumbang lebih dari 1 dari 100 kematian dan
58% bunuh diri terjadi sebelum usia 50 tahun. Gangguan jiwamerupakan penyebab utama
kecacatan, menyebabkan 1 dari 6 tahun hidupdengan kecacatan. Orang dengan kondisi
kesehatan mental yang parah meninggal rata-rata 10 hingga 20 tahun lebih awal dari populasi
umum, sebagian besar karena penyakit fisik yang dapat dicegah. Pelecehan seksual pada masa
kanak-kanak dan korban intimidasi adalah penyebab utama depresi. Ketimpangan sosial dan
ekonomi, darurat kesehatan masyarakat, perang, dan krisis iklim adalah beberapa ancaman
struktural global terhadap kesehatan mental. ([Link]
who-highlights-urgent-need-to-transform-mental-health-and- mental-health-care)
Secara khusus pada tingkat nasional, pemerintah melalui Riset Kesehatan Dasar
(Riskesdas) 2018, melakukan penelitian terkait kesehatan mental, maka di dapat lebih
dari 19 juta penduduk berusia lebih dari 15 tahun mengalami gangguan mental
emosional, dan lebih dari 12 juta penduduk berusia lebih dari 15 tahun mengalami
depresi. (h"ps://[Link]/ar2cle/print/21100700003/kemenkes-beberkan-
[Link])
Selain itu berdasarkan Sistem Registrasi Sampel yang dilakukan Badan Litbangkes tahun
2016, diperoleh data bunuh diri pertahun sebanyak 1.800 orang atau setiap hari ada 5
orang melakukan bunuh diri, serta 47,7% korban bunuh diri adalah pada usia 10-39
tahun yang merupakan usia anak remaja dan usia produktif.
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza [Link]
Eigya Munthe menjelaskan masalah kesehatan jiwa di Indonesia terkait dengan masalah
tingginya prevalensi orang dengan gangguan jiwa. Untuk saat ini Indonesia memiliki
prevalensi orang dengan gangguan jiwa sekitar 1 dari 5 penduduk, artinya sekitar 20%
populasi di Indonesia itu mempunyai potensi-potensi masalah gangguan jiwa.
CBT merupakan salah satu pendekatan terapi psikologi, CBT telah terbukti cukup berhasil
dalam mengobati berbagai gejala gangguan kejiwaan. Pemikiran irasional adalah akar
penyebab stres, kecemasan, depresi, dan penyakit lainnya, menurut terapi perilaku kognitif.
Namun, bagi seorang Muslim, buruknya ikatan dengan Allah Ta’alaa juga merupakan
penyebab kekhawatiran dan kesedihan seperti keadaan eksternal dan pola pikir yang tidak
logis. Sebab seseorang yang pesimis dan tidak bahagia percaya bahwa tidak akan pernah ada
sesuatu yang indah dalam hidupnya. Hal ini tidak berlaku bagi seorang muslim, karena Allah
Azza Wa Jalla selalu ada untuk membantu orang-orang yang lemah, tidak mampu, dan
membutuhkan.
Manusia telah beralih ke keyakinan dan keyakinan agama untuk mencari solusi atas masalah
emosional mereka selama ribuan tahun. Menurut sebagian besar penelitian, memiliki
keyakinan atau keyakinan sering kali meningkatkan kesehatan mental (Koenig, 2009).
Psikoterapi yang dikembangkan di Barat bermanfaat dalam mengurangi masalah kesehatan
mental. Namun, terkadang hal-hal tersebut tidak sesuai dengan harapan budaya kita. Dengan
demikian, kita harus menyesuaikan psikoterapi tersebut agar sesuai dengan keyakinan agama
kita.
Tujuan dari penelitian ini adalah menggunakan ayat-ayat Alquran dan Hadits untuk
memasukkan idkonsep Islam ke dalam intervensi terapi perilaku kognitif. Terapi perilaku
kognitif versi Islam disusun secara khusus berdasarkan modifikasi yang dilakukan pada
penelitian ini, yang memasukkan tema-tema Islam. Penelitian tersebut menghasilkan metode
reorganisasi kognisi Al-Quran yang mengubah pemikiran tidak logis menjadi berpikir logis.
Penelitian ini menciptakan strategi visualisasi mental Islami untuk membantu pasien rileks.
Dengan menggunakan teknik ini, hubungan seseorang dengan Allah Jalla wa ‘Alaa semakin
diperkuat. Ini membantu mengurangi rasa isolasi pasien.
CBT yang terintegrasi dengan nilai-nilai, keyakinan, dan amalan Islami yang didasarkan
dengan Al-Qur'an dan As Sunnah digunakan untk membantu klien dalam mengubah pikiran
dan perilakunya terhadap berbagai gejala gangguan kejiwaan
METODE
Penelitian ini menggunakan metode studi literatur review. Studi literatur adalah jenis penelitian
yang menggunakan data sekunder dari studi kepustakaan atau literatur yang berkaitan dengan
topik penelitian (Adi et al., 2020).
Penelitian empiris asli atau artikel penelitian yang berisi temuan dari pengamatan aktual atau
eksperimen dengan pendahuluan, metode, hasil, dan diskusi tentang penelitian.
Strategi pencarian artikel melibatkan penggunaan Google Scholar. Cognitive Behavior
Therapy, Islamic Integrated Cognitive Behavior Therapy, Terapi Kognitive dan Perilaku
Terintegrasi Islam, adalah kata kunci untuk artikel yang ditemukan. Untuk pencarian data,
kriteria bahan ulasan literatur adalah sebagai berikut: artikel desain penelitian Randomized
Controlled Trials (RCT), penelitian eksperimen, artikel asli dari sumber utama (primary
source), penelitian yang terbit dari tahun 2016 hingga 2023, teks penuh dalam bahasa Inggris
dan bahasa Indonesia.
Menggunakan beberapa sumber database yang tersedia di Google Schoolar dan Research Get,
saya menemukan artikel. Dalam pendekatan analisis yang sederhana, meringkas ulasan kritis
untuk setiap penulis.
Hasil dari literature review pada sepuluh artikel, penulis menemukan adanya pengaruh
intervensi CBT yang terintegrasi Islam dalam pemulihan gejala gangguan kejiwaan.
Tabel I.
Matrik analisa data pada jurnal yang digunakan dalam literature review
Agus Riza, Budi Penelitian ini dilakukan Proses yang diberikan selama
Purwoko, Retno Tri dengan menggunakan sessi memberikan dampak
Hariastuti. Islamic pendekatan metode naratif yang cukup signifikan
Cognitive Behavior kualitatif. Pendekatan terhadap siswa yang
Therapy to Improve kualitatif menekankan pada mengalami tingkat kasih
Student Self- narasi data dalam proses sayang diri sedang-rendah
Compassion, Advances konseling. Analisis data menunjukkan keberhasilan
in Social Science, menggunakan metode yang signifikan, hal ini
Education and triangulasi. Dalam penelitian ditandai dengan sikap
Humanities Research, ini pendekatan kualitatif individu, proses belajar, dan
volume 491 bertujuan untuk mengetahui kemampuan bersikap baik dan
gambaran besar permasalahan peduli terhadap individu.
kecemasan proses belajar Proses konseling kelompok
siswa dan terjadinya low self. masih dilakukan secara
bertahap.
Faculty of Medicine,
University of Malaya,
Malaysia
Hasil dari sepuluh jurnal di atas menunjukan bahwa ada kaitan yang saling berhubungan dalam
pendekatan CBT yang terintegrasi dengan Islam, Hasil review literatur menunjukkan bahwa
ada banyak cara untuk melakukan intervensi dengan CBT terintegrasi Islam dalam
memberikan penanganan gejala gangguan kejiwaan.
Sebagai bagian kedalaman dalam pemaparan dalam literature reviewe ini, dan memperkaya
khasanah dalam praktek intervensi, maka penulis memberikan beberapa penjelasan yang
sangat fundamental terkait dengan Kesehatan dan gejaala gangguan kejiwaan dalam perspektif
Islam.
A. MENGENAL KESEHATAN JIWA DALAM ISLAM
Sesungguhnya kondisi jiwa yang selamat dari berbagai berbagai gejala-gangguan seperti
agressive, kecemasan, depressi, dan was-was merupakan prasayarat terbentuknya
kesehatan jiwa. Al-Qur’an dan As-Sunnah memberikan isyarat tentang hal tersebut.
(Muhammad ‘Audah Muhammad dan Kamal Ibrahim Mursi, cet ke-4, 1997, hlm. 19)
Al Imam al-Ghazali dan Ibnu Qayyim mengungkapkan kesehatan jiwa terjadi karena
adanya keseimbangan antara tuntutan \isik, jiwa, dan ruh, al-Ghazali menyematkan
tentang dorongan jiwa seseorang menjadi dua, yakni: dorongan hawa nafsu (motivasi
dunia) dan dorongan petunjuk (motivasi spiritual/agama)1. Allah Ta’ala ber\irman
terkait dorongan hawa nafsu:
Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini,
yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan,
binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi
Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (QS. Al-Imran: 14)
Adapun dorongan petunjuk, maka didasarkan pada motivasi spiritual/agama dimana
seseorang terhubung antara dirinya dengan Rabb, pemenuhan kebutuhan ruh dan
perbaikan kehidupan di dunia dan akhirat, motivasi ini ditandai dengan beberapa
perbuatan: tawakal kepada Allah, mencintai Allah dan Rasul-Nya, takut dan pengharapan
kepada Allah, berzikir dan syukur kepada-Nya, bersabar dan senantiasa memuji-Nya.
Imam al-Ghazali berpendapat bahwa dorongan dan motivasi petunjuk didapat melalui
mujahadah (perjuangan) dan pendidikan untuk menumbuhkannya dalam diri sehingga
ia dapat bersikap moderat antara dorongan hawa nafsu dan dorongan petunjuk. Beliau
juga memandang asas dalam kesehatan jiwa terwujud ketika seseorang mampu
mengendalikan tekanan emosi-emosi.
Abu Zaid al-Balkhi seorang ulama Islam abad ke-3 Hijriah mengisyaratkan bahwa
Kesehatan jiwa itu terwujud dalam 2 hal:
1. Bebas dari gejala gangguan dan gejolak kejiwaan yang memengaruhi dirinya.
2. Adanya kemampuan bersosialisasi dan adaptasi terhadap dirinya dan orang
lain serta lingkungan.
Ia menjelaskan bahwa gejala gangguan kejiwaan ada 4 yaitu: Marah (agresif), Takut
(Phobia), Sedih (depresi), dan was-was (Obsessif). (Abu Zaid AL Balkhi, MAshoolihu
Al Abdaan Wa Al Anfus, hlm. 118)
Adapun Al Imam Ibnu Taymiyyah setelah menjelaskan tentang karakteristik penyakit
yang menimpa badan, Ia mengatakan “Demikian juga penyakit hati, ia merupakan satu
hal yang memberikan kerusakan pada hati (jiwa), ia dapat merusak persepsi dan
keinginan, persepsi-persepsinya didasarkan pada syubhat yang ditampilkan sehingga
ia tak mampu melihat kebenaran, atau melihat sesuatu yang menjadi kebalikannya,
yaitu kekeliruan menjadi kebenaran, kehendak dan keinginannya membenci
kebenaran dan menyukai kebatilan, dengan demikian penyakit di sini terkadang juga
dimaknai dengan syak dan keraguan. (Tqiyuddin Ahmad Bin Taymiyyah, cet. Ke-3, hlm.
3)
Sementara Al Imam Ibnu Qayyim menegaskan hati yang sehat tumbuh di dalamnya
dorongan keimanan, ketaqwaan, penyucian jiwa. Adapun hati yang sakit maka yang
terjadi adalah dorongan hawa nafsu, dan ketundukan kepadanya.
Dengan demikian dari paparan singkat para ulama ahli kejiwaan klasik Islam di atas
dapat dipahami bahwa kesehatan jiwa merupakan suatu kemampuan seorang
individu dalam mengatur dan mengelola unsur-unsur dirinya baik itu unsur
jasmani (badan) maupun unsur nafs (jiwa), serta mampu memenuhi kebutuhan
ruhiahnya sehingga terwujud keserasian antara fungsi dalam unsur tersebut dan
tercipta penyesuaian diri, baik dengan diri sendiri, orang lain, maupun orang
sekitarnya secara dinamis berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai
pedoman hidup menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.
وﻣﺮض
Sungguh Anda telah mengetahui bahwa bersikap moderat dalam perilaku merupakan
tanda kesehatan jiwa dan melenceng dari sikap moderat merupakan tanda adanya
penyakit. (Ibnu Qudaamah1978, hlm. 154)
Selain itu, karakteristik jiwa yang sehat di tandai dengan kemampuan dalam
mengendalikan hawa nafsunya, hal ini karena hawa nafsu itu sendiri terkadang
memiliki kemampuan dalam mengendalikan pikiran, alam perasaan, keinginan, dan
bahkan mendorong untuk melakkan sesuatu yang tidak terpuji dan berdampak
negatif, (Samih a2f az zayn, 1991)
Dengan demikian kemampuan dalam mengenalikan hawa nafsu sangat penting sekali
untuk mewujudkan Kesehatan jiwa.
Kesehatan jiwa juga di tandai dengan adanya keseimbangan antara tuntutan \isik, jiwa,
dan ruh. Utsman Najati, salah ahli kejiwaan muslim kontemporer menyepakati apa
yang disampaikan oleh al-Ghazali di mana kesehatan jiwa dapat terwujud ketika ada
keseimbangan antara tuntutan kebutuhan \isik dan ruh. Beliau juga mengisyaratkan
karakter jiwa yang sehat ditandai dengan empat hal:
1. Mampu berinteraksi dengan Rabb-nya
2. Mampu berinteraksi antara ia dengan dirinya sendiri
3. Mampu berinteraksi antara dirinya dengan orang lain
4. Mampu berinteraksi dengan lingkungannya
Keempat hal di atas direaliasasikan dalam beberapa perbuatan dan tindakan, antara
lain:
1. Kemampuan melaksanakan berbagai ibadah yang dibebankan, baik ibadah wajib
maupun ibadah sunah.
2. Memiliki keimanan terhadap 6 rukun iman
3. Gemar bertaubat
4. Senantiasa takut dan berharap kepada-Nya
5. Bersabar dalam menghadapi berbagai ujian dan musibah
6. Bersyukur ketika mendapatkan nikmat
7. Tawadhu
8. Memilki etika dalam pergaulan
Dan berbagai macam perilaku positif lainnya yang ditampilkan dalam diri seorang
mukmin.
Tabel II
Bisikan dan Gangguan Setan
No Bisikan Setan Gangguan Setan (Ruuhi)
1 Melalui hembusan was-was Kemasukan JIn
2 Memperdaya sesuatu yang sebenarnya Tersihir
jahat dan buruk menjadi baik
3 Melalui pintu masuk setan : tamak, hasad, Penyakit ‘Ain
mempertuarutkan syahwat, pemarah, cinta
pujian, cinta dunia, berhias secara
berlebihan, cinta kedudukan, sombong,
dan angkuh, tinggi hati
4 Menakut-nakuti (seperti takut miskin Terganggu dalam bacaan
sehingga menjadi kikir) sholat
5 Menganggap baik perbuatan mungkar
6 Antara berlebihan dalam ibadah tanpa dalil
atau meremehkan
7 Bersandar semata-mata dengan akal tanpa
teks-teks wahyu
REFERENSI
Al Balkhi, Abu Zaid, Mashaalihul Abdaan Wa Al Anfus, Riyadh : Markaz Al Malik Fasihal
Lil Buhuts Waa Ad Diraasaat Al Islaamiyyah, 1424 H.
Al Maqdisi, Ahmad Bin Abdurrahmaan Bin Qudaamah, Mukhtashar Minhajul Qashidiin,
Daar Al Bayaan : Beirut, 1978 M.
Anas Ahmad Karzuun, Manhaj Islam Fii Tazkiyati An nafs,Makah : Universitas Ummul
Quro, 1415 H.
Abdul Karim Utsman, Ad Diroosah An Nafsiyyah ‘Inda Al Muslimiin, Mesir :
Maktabah Wahbah.
Adbul Mujib, Konsepsi Dasar Kepribadian Islam, Majalah Tazkiyah, Volume 3,
Desember, 2003.
Ali Hasan Al Halabi,Mawaaridull Amaan, Daar Ibnu Jauzi : Dammam, 1428 H.
Ahmad Shodiq, Prophetic Character Building, Jakarta : Kencana, edisi pertama, 2018.
Abu Bara Usahamh Bin Yasin Al Ma’ani, Setan Diantara Dengki dan ‘Ain, Lumajang : RLC,
2017.
Anwar Abdul Aziz Al Abaadasa, Usus As Sihhah An Nafsiyyah Min Manzhuru Al Islaami,
November 2011
Amiruddin, Psikoterapi Dalam Perspektif Islam, Ihyaa Al ‘Arabiyyah, Tahun ke-5, NO. 10,
Januari – juni 2015
Desmita, Psikologi Perkembangan Peserta Didik,Bandung: PT Remaja Rodakarya, 2009
Gudnanto, Peran Bimbingan Dan Konseling Islami Untuk Mencetak Generasi Emas
Indonesia, Jurnal Keguruan Ilmu Pendidikan, Vol II, No. 2, 2014.
Hamdani Bakran Adz-Dzaky, Konseling dan Psikoterapi Islam Yogyakarta:
Pajar Pustaka Baru, 2006.
Hijrah Academy, Modul Certi\ied HIjrah Mind Practitioner.
Ibnu Al Qoyyim AL Jauziyyah, Muhamad Bin Abu Bakar, Ighaatsatullahaafan Fii