Kecelakaan lalu lintas, berdasarkan UU Lalu Lintas dan Angkutan Jalan No.
22 Tahun 2009,
Kanit Polsek Patuk 2024
Menurut Pasal 1 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan
Jalan mendefinisikan bahwa lalu lintas adalah gerak kendaraan dan orang di ruang lalu lintas
jalan.
Menurut definisi dari Oglesby dan Hicks (1988), kecelakaan kendaraan adalah peristiwa yang
tidak terduga dan terjadi dengan cepat, dengan tabrakan sebagai puncak dari serangkaian
kejadian yang buruk.
Ada juga pendapat menurut Oglesby dan Hicks (1993), ada beberapa faktor yang menyebabkan
terjadinya kecelakaan lalu-lintas.
Menurut Dephub RI (2006), terdapat beberapa jenis kecelakaan lalu lintas,
Pengelompokan lokasi rawan kecelakaan lalu lintas menurut Pusdiklat Perhubungan Darat
(1998),
Pedoman Penanganan Lokasi Rawan Kecelakaan (Pd T-09- 2004-B) menyediakan berbagai
teknik, termasuk metode pembobotan yang menggunakan nilai Angka Ekuivalen Kecelakaan
(AEK) dengan mempertimbangkan Batas Kontrol Atas (BKA).
Secara garis besar, penanggulangan kecelakaan lalu lintas di Indonesia dibedakan atas tiga
macam bentuk penanggulangan yaitu (Tahir, 2006
Model konseptual tentang bagaimana teori berhubungan dengan berbagai faktor yang telah di
identifikasikan sebagai masalah yang penting (Sugiyono,2013).
Rizki Utami Putri (2022) menganalisis Evaluasi Geometrik pada Lengkung Horizontal dengan
Metode Bina Marga pada Ruas Jalan Pauh – Sarolangun.
Widika Rahmawan (2018) menganalisis Evaluasi Geometrik dan Usulan Redesain Geometrik
Jalan Wonosari – Pracimantoro.
Anjali Putri Lisu Langi, Joice E. Waani, dan Lintong Elisabeth (2019) menganalisis Evaluasi
Geometrik pada Ruas Jalan Manado – Tomohon KM 8 – KM 10.
Dwi Ratmoko Setyabudi dan Berlian Kushari (2018) menganalisis
Evaluasi dan Redesain Geometri Jalan Yogyakarta - Wonosari km 23 – km
26,6. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kondisi geometri eksisting
dan mengusulkan desain ulang jalan Yogyakarta - Wonosari pada km 23 – km
26,6. Metode perhitungan mengacu pada Tata Cara Perencanaan Geometrik
Jalan Antar Kota (TPGJAK) Tahun 1997. Kesimpulan dari penelitian ini
adalah: 1) Kondisi trase eksisting pada jalan Yogyakarta – Wonosari Km 23 –
Km 23,2; Km 24,3 – Km 24,6; dan Km 26,4 – Km 26,6 masih terdapat kondisi
yang tidak memenuhi standar dari Direktorat Jenderal Bina Marga 1997. 2)
Dari hasil analisis kondisi eksisting, bahwa kondisi jalan Yogyakarta –
Wonosari Km 23 – Km 23,2; Km 24,3 – Km 24,6; dan Km 26,4 – Km 26,6
tidak memenuhi standar dari Direktorat Jenderal Bina Marga, maka perlu
dilakukan redesain terhadap jalan tersebut. 3) Berdasarkan analisis dan
pembahasan, trase alternatif jalan Yogyakarta – Wonosari Km 23 – Km 23,2;
Km 24,3 – Km 24,6; dan Km 26,4 – Km 26,6 sudah memenuhi persyaratan dari
Direktorat Jenderal Bina Marga.
Ifan Ma’ani (2021) menganalisis tentang studi Analisis Geometrik Jalan
Raya dan Daerah Rawan Kecelakaan (Blackspot) pada Ruas Jalan Magelang –
Salatiga KM 12+058 – KM 13+103. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa
titik rawan kecelakaan lalu lintas ( black spot) dan menganalisa kondisi
geometrik pada ruas jalan Magelang – Salatiga. Metode perhitungan mengacu
pada Tata Cara Perencanaan Geometrik Jalan Antar Kota ( TPGJAK ) Tahun
1997. Penelitian ini dapat diambil kesimpulan : 1) Untuk tikungan PI1 dengan
sudut pusat 35° tidak perlu dilakukan perbaikan karena sudah memenuhi syarat
berdasarkan standar TPGJAK Dirjen Bina Marga 1997. 2) Pada perhitungan
PI2 Besar jari-jari pada tikungan eksisting dengan sudut pusat 102° adalah
50,45 m. Jadi, tikungan pada ruas Jalan Raya Magelang – Salatiga Perlu
diperbaiki 3) Jadi alinyemen vertikal dari ruas jalan Magelang-Salatiga tersebut
masih dalam standar Tata Cara Perencanaan Geometrik Jalan Antar Kota,
Dirjen Bina Marga 1997. 4) Berdasarkan hasil perhitungan EAN dalam satu
segmen, EANr dan EANc maka dapat disimpulkan merupakan daerah rawan
kecelakaan, dimana apabila nilai EAN > EANc karena nilai 215,5 > 231,823.