MODEL EVALUASI CIPP
Model Evaluasi CIPP (Context, Input, Process, Product) yang dikembangkan oleh
Daniel L. Stufflebeam pada tahun 1960-an bertujuan untuk menyediakan pendekatan evaluasi
yang praktis dan kredibel dalam pelaporan akuntabilitas pelaksanaan program. Model ini
menekankan empat komponen utama evaluasi: konteks, masukan, proses, dan produk. Fokus
utama dari model CIPP adalah membina dan membantu pengembangan program melalui
penilaian yang berkelanjutan, proaktif, dan berorientasi pada pembuatan kebijakan.1
Stufflebeam dan Zhang menjelaskan secara garis besar ringkasan dari komponen
evaluasi konteks, masukan, proses, dan produk.2
1. Evaluasi konteks bertujuan untuk menilai sejauh mana program yang dievaluasi
sesuai dengan kebutuhan dan relevan dengan kondisi yang ada. Hal ini melibatkan
identifikasi masalah yang mendasari dan penetapan tujuan serta prioritas program
yang tepat. Dengan demikian, evaluasi konteks membantu memastikan bahwa
program dirancang untuk menjawab kebutuhan yang signifikan.
2. Evaluasi masukan berfokus pada strategi yang digunakan dalam program serta
pemanfaatan sumber daya yang tersedia, termasuk sumber daya manusia, sarana
prasarana, dan keuangan. Evaluasi ini penting untuk menilai kesiapan dan kelayakan
rencana implementasi program, serta untuk memastikan bahwa sumber daya yang
dialokasikan dapat mendukung pencapaian tujuan program.
3. Evaluasi proses memantau pelaksanaan program sesuai dengan rencana yang telah
ditetapkan. Melalui evaluasi ini, dapat diidentifikasi apakah program dijalankan
sebagaimana mestinya, serta mengungkapkan hambatan atau kendala yang mungkin
terjadi selama pelaksanaan. Informasi ini berguna untuk melakukan perbaikan dan
penyesuaian yang diperlukan agar program dapat berjalan lebih efektif.
4. Evaluasi produk menilai hasil dan dampak dari implementasi program, baik dalam
jangka pendek maupun jangka panjang. Evaluasi ini membantu menentukan apakah
tujuan program telah tercapai dan sejauh mana program memberikan manfaat yang
diharapkan. Dengan demikian, evaluasi produk memberikan dasar untuk pengambilan
keputusan terkait kelanjutan, modifikasi, atau penghentian program.
1
N Suri, S & Hariyatii, “Literature Study : Cipp Evaluation Model In The Educational Evaluation,”
Jurnal Cahaya Pendidikan 10, No. 1 (2024): 20–30,
Https://[Link]/Https://[Link].10.33373/Chypen.V10i1.5950.
2
Daniel L. Stufflebeam And Guili Zhang, The Cipp Evaluation Model: How To Evaluate For
Improvement (London: The Guilford Press, 2016).
Aspek-aspek yang telah dijelaskan di atas merupakan elemen utama dalam evaluasi
CIPP dan menjadi titik perhatian dalam penilaiannya. Berdasarkan uraian tersebut, dapat
disimpulkan bahwa setiap jenis evaluasi dalam model CIPP memiliki komponen inti masing-
masing. Nilai utama dari evaluasi terletak pada manfaat program yang dievaluasi. Evaluasi
konteks menitikberatkan pada penilaian tujuan program, sedangkan evaluasi masukan sangat
berkaitan dengan tahap perencanaan. Evaluasi proses berfokus pada pelaksanaan program,
dan evaluasi produk menilai hasil serta dampak yang dihasilkan dari pelaksanaan program.
Proses evaluasi dengan model CIPP memungkinkan tercapainya hasil evaluasi yang
menyeluruh karena adanya penilaian terhadap tiap komponen kunci. 3 Gambar 1 berikut
memberikan gambaran visual mengenai hubungan antar komponen utama dalam model
evaluasi CIPP.
Gambar 1 Hubungan antar komponen utama dalam model evaluasi CIPP
METODE PENELITIAN/EVALUASI
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis studi kasus untuk
mengevaluasi kepemimpinan kolaboratif di Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA)
Aisyiah. Pendekatan yang digunakan adalah model CIPP (Context, Input, Process, Product)
untuk menganalisis berbagai aspek kepemimpinan. Pada tahap konteks, peneliti akan
menganalisis latar belakang dan kebutuhan LKSA Aisyiah. Peneliti akan menggali faktor-
faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi kepemimpinan kolaboratif, termasuk visi,
misi, dan tujuan organisasi. Selanjutnya, pada tahap masukan peneliti akan mengevaluasi
sumber daya yang tersedia, seperti kualitas tenaga kepemimpinan, pelatihan yang diberikan,
3
Suri, S & Hariyatii, “Literature Study : Cipp Evaluation Model In The Educational Evaluation.”
serta alat dan metode yang digunakan dalam pelaksanaan kolaborasi. Data akan dikumpulkan
melalui wawancara mendalam dengan pemimpin dan anggota tim di LKSA. Ketiga, pada
tahap proses yaitu mengamati dan menganalisis proses kepemimpinan kolaboratif yang
diterapkan. Peneliti akan mencatat interaksi, komunikasi, dan strategi yang digunakan dalam
pengambilan keputusan, serta bagaimana partisipasi anggota tim dalam proses tersebut.
Terakhir, peneliti akan mengevaluasi hasil dari kepemimpinan kolaboratif yang diterapkan.
Ini mencakup dampak terhadap kinerja organisasi, kepuasan anggota, dan pencapaian tujuan
yang telah ditetapkan. Data akan dianalisis untuk memberikan gambaran tentang efektivitas
kepemimpinan kolaboratif di LKSA Aisyiah.