Pidato tentang adab dan ahklak
Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Yang terhormat Bapak/Ibu Guru, teman-teman yang saya cintai, serta seluruh
hadirin yang berbahagia.
Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan kita
kesehatan, kesempatan, dan hidayah-Nya, sehingga kita dapat berkumpul di tempat
ini dalam keadaan yang baik. Semoga shalawat serta salam senantiasa tercurah
kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW, yang telah memberikan contoh
terbaik dalam kehidupan ini.
Pada kesempatan yang berbahagia ini, saya akan menyampaikan sedikit tentang
adab dan akhlak. Dua hal yang sangat penting dalam kehidupan kita sebagai umat
beragama dan juga sebagai manusia yang bermasyarakat.
Adab dan akhlak merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-
hari. Adab mengajarkan kita bagaimana cara bersikap yang baik terhadap orang
lain, baik dalam perbuatan maupun perkataan. Sementara itu, akhlak adalah
cerminan dari hati yang baik, yang mencerminkan karakter kita sebagai manusia.
Rasulullah SAW adalah teladan terbaik dalam hal ini, beliau selalu mengajarkan kita
untuk berakhlak mulia, baik terhadap orang tua, guru, teman, bahkan terhadap alam
sekitar.
Sebagai contoh, dalam hadits Nabi Muhammad SAW, beliau bersabda, "Sebaik-baik
kalian adalah yang paling baik akhlaknya.
" Hadits ini mengingatkan kita bahwa akhlak yang baik adalah salah satu tolak ukur
keutamaan seorang muslim. Jika kita memiliki akhlak yang baik, maka kita akan
dihormati, dihargai, dan dicintai oleh orang lain.
Adab dan akhlak yang baik juga sangat penting dalam menjaga keharmonisan
dalam kehidupan bermasyarakat. Ketika kita berbicara dengan sopan, menghormati
orang tua, serta membantu sesama, kita telah menunjukkan akhlak yang baik.
Sebaliknya, sikap sombong, kasar, dan egois hanya akan merusak hubungan kita
dengan orang lain dan menyakiti hati mereka.
Hadirin yang saya hormati,
Marilah kita semua berusaha untuk selalu menjaga adab dan akhlak kita dalam
kehidupan sehari-hari. Mulailah dengan hal-hal kecil seperti menghormati guru,
berbicara dengan sopan kepada orang tua, dan bersikap jujur. Dengan cara ini, kita
tidak hanya akan menjadi pribadi yang lebih baik, tetapi juga akan memberikan
dampak positif bagi lingkungan sekitar kita.
Sebagai penutup, saya ingin mengajak kita semua untuk selalu berusaha
memperbaiki akhlak dan adab kita, karena dengan demikian kita dapat menciptakan
masyarakat yang lebih harmonis, penuh kasih sayang, dan penuh kedamaian.
Sekian pidato yang dapat saya sampaikan. Semoga bermanfaat. Terima kasih atas
perhatian Anda.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Pidato tentang adab dan minum rasulullah saw
Assalamualaikum Warrahmatullah Wabarokatuh
. Alhamdulillaahi rabbil-'aalamiina, wash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil-
anbiyaa-i wal-mursaliina, nabiyyinaa wa habiibinaa muhammadin, wa 'alaa aalihi wa
shahbihi ajma'iin, wa man tabi'ahum bi-ihsaanin ilaa yawmid-diini, amma ba'du.
Segala puji kita panjatkan atas kehadirat Allah SWT atas segala nikmatnya yang
telah diberikan kepada kita semua. Nikmat sehat, nikmat taufiq hidayah, dan nikmat
yang paling besar adalah nikmat Iman dan Islam.
Shalawat serta salam tak lupa kita junjungkan kepada nabi besar Muhammad SAW.
Dalam kesempatan ini, saya akan membahas beberapa penjelasan tentang adab
makan dan minum ajaran Rasulullah SAW.
Adab makan yang pertama adalah mendahulukan makan daripada sholat ketika
makanan telah siap. Ketika hidangan telah siap dan iqomah sholat telah
dikumandangkan, maka yang didahulukan makan daripada sholatnya sesuai dengan
sabda Rasulullah Shalallahu’alaihi wasallam: “Jika hidangan makan malam telah
siap dan iqomah sholat telah dikumandangkan, maka mulailah dengan makan
malam.” (HR Bukhori, Muslim, Ahmad, At-Thirmidzi, An-Nasai, dan Ad-Darmi).
Rasulullah SAW juga bersabda: “Jika telah siap hidangan makan malam untuk
kalian dan juga telah dikumandangkan iqamah sholat, maka mulailah dengan makan
malam dan jangan terburu-buru sampai selesai.
(HR Bukhori, Muslim, Ahmad, At-Thirmidzi, Abu Daud). Faedahnya supaya hati kita
tenang dan tidak memikirkan makanan ketika sholat.
Oleh karena itu, yang menjadi titik ukur kita adalah tingkat lapar seseorang. Apabila
seseorang sangat lapar dan makanan telah dihidangkan maka hendaknya dia
makan lebih dahulu.
Namun, hendaknya hal ini jangan sering dilakukan. Kedua, membaca bismillah
sebelum makan dan minum dan mengambil makanan dari yang terdekat.
Diriwayatkan dari Umar bin Abi Salamah: “Ketika aku masih kecil dalam didikan
Rasulullah Salallahualaihi Wasallam dan tanganku mengambil makanan dari segala
sisi piring, maka Rasulullah berkata kepadaku: ‘Wahai anak, bacalah basmalah dan
makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah apa yang dekat darimu.” (HR
Bukhori, Muslim, Ahmad, Abu Daud dan Ibnu Majah).
Ketiga, tidak berlebihan dalam makan dan tidak juga kekurangan. Rasulullah
Sholallahualaihi wasalam menasehati untuk bijak dalam segala hal, termasuk dalam
makanan. Setiap orang harus mengira-ngira seberapa banyak yang dia butuhkan
agar tidak berlebihan dan tidak juga kekurangan. Sesungguhnya berlebih-lebihan
adalah adalah di antara sifat setan yang sangat dibenci Allah Ta’ala sebagaimana
disebutkan dalam QS Al Isra ayat 26-27 dan Al Araf ayat 31. Sifat berlebih-lebihan
juga merupakan ciri orang kafir
sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Seorang mukmin makan dengan satu
lambung, sedangkan orang kafir makan dengan tujuh lambung” (HR Bukhari dan
Muslim). Semoga
dengan ceramah singkat pada hari ini bermanfaat bagi kita semua dan semoga Allah
SWT memberikan kemudahan kepada kita dalam mengamalkan apa yang kita
ketahui ini.
Demikian saya akhiri, kurang lebihnya saya mohon maaf. Wabilahi taufik wal
hidayah,
wasalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh.
Pidato tentang sabar mengahadp ujian hidup
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Saudara-saudaraku yang budiman, pada kesempatan kali ini, saya ingin berbagi
tentang sabar menghadapi ujian hidup. Ya, hidup ini memang seperti ujian yang tak
pernah berhenti. Kadang kala kita dihadapkan pada cobaan yang membuat hati dan
pikiran terusik. Namun, sebagai seorang muslim, kita harus tetap bersabar.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an, "Dan sesungguhnya Anda pasti akan diuji
dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta benda, jiwa, dan buah-
buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, yang
apabila ditimpa musibah mereka mengatakan, 'Kami milik Allah dan kami akan
kembali kepada-Nya.'" (QS Al-Baqarah: 155-156)
Dari kutipan ini, kita dapat memahami bahwa ujian dan cobaan adalah bagian dari
hidup. Namun, Allah SWT menjanjikan pahala bagi orang-orang yang sabar dalam
menghadapinya. Jadi, saat kita diuji dengan kesulitan, jangan marah atau putus asa.
Ingatlah bahwa cobaan itu datang dari Allah dan Dia hanya memberikan ujian yang
kita mampu melewati.
Selain itu, Allah SWT juga memberikan perintah dan larangan dalam hidup ini.
Ketika kita menghadapi cobaan yang sulit, janganlah kita melampiaskan emosi
dengan melakukan hal-hal yang dilarang-Nya. Kita harus tetap berpegang teguh
pada ajaran agama dan menjalankan perintah-Nya.
Kesabaran merupakan salah satu sifat yang sangat dihargai dalam Islam. Tidak
hanya dituntut dalam menghadapi ujian hidup, tetapi juga ketika berinteraksi dengan
sesama manusia. Nah, pertanyaan pertama untuk kalian, apa saja manfaat dari
kesabaran itu sendiri?
Salah satu hikmah kesabaran dalam Islam adalah menjadikan kita lebih kuat secara
emosional dan mental. Dalam situasi sulit, kesabaran akan membantu kita
menghadapinya dengan lapang dada. Tetapi, bagaimana cara meningkatkan
kesabaran? Siapa yang bisa memberikan jawabannya?
Selain itu, kesabaran juga akan membantu kita dalam menjalankan ibadah. Misalnya
dalam menjalankan shalat, puasa, atau berhaji. Lantas, apa saja hikmah yang bisa
kita dapatkan ketika kita bersabar dalam menjalankan ibadah-ibadah tersebut?
Saudara-saudara yang budiman, kesabaran dalam Islam memiliki banyak hikmah
yang dapat kita ambil hikmahnya. Namun, pada akhirnya, kesabaran adalah ujian
yang diberikan oleh Allah untuk menguji kesabaran dan keimanan kita.
Jadi, tunggu apa lagi? Mari kita bersama-sama belajar dari hikmah kesabaran dalam
Islam dan berusaha menjadi lebih sabar dari hari ke hari
Akhir kata, mari kita hadapi ujian hidup dengan penuh kesabaran. Ingatlah bahwa
setiap cobaan yang kita lewati akan mendatangkan pahala dari Allah SWT. Jadi,
janganlah kita mudah menyerah. Bersabarlah, lakukan apa yang baik, dan
percayalah bahwa di balik setiap cobaan ada hikmah yang tak terduga.
Terima kasih untuk perhatian kalian semua!
Terimakasih, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Meneladan Rasulullah: Empat Prinsip Utama untuk
Membentuk Karakter
adalah teladan abadi yang tak pernah habis untuk dikaji, sekalipun
sepanjang hayat kita dedikasikan untuk mempelajarinya. Dari setiap
aspek kehidupan beliau, tersimpan nilai-nilai kebaikan yang relevan lintas
zaman, menjadi pedoman bagi umat manusia.
Dalam aspek spiritual, Rasulullah menunjukkan hubungan mendalam
dengan Allah SWT melalui ketekunan ibadah, keikhlasan hati, dan
kesabaran luar biasa saat menghadapi ujian hidup. Dalam ranah sosial,
beliau tampil sebagai sosok yang lemah lembut, adil, dan penuh toleransi,
merangkul semua kalangan tanpa memandang status atau latar
belakang.
Sebagai pemimpin, Rasulullah SAW mempersembahkan teladan
kepemimpinan yang penuh empati, bijaksana dalam mengambil
keputusan, dan selalu mengutamakan musyawarah. Dengan segala
keutamaan ini, beliau adalah panutan ideal untuk diteladani. Allah SWT
sendiri berfirman dalam QS. Al-Ahzab ayat 21:
Baca Juga Kisah Uwais Al Qarni, Pemuda Istimewa di Mata Rasulullah
َلَقْد َكاَن َلُكْم ِفْي َر ُس ْوِل الّٰلِه ُاْس َوٌة َح َس َنٌة ِّلَمْن َكاَن َيْر ُج وا الّٰلَه َواْلَيْوَم اٰاْلِخ َر َوَذَكَر الّٰلَه َكِثْيًر ۗاۗا
Artinya: “Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan
yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan
(kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah.
” Terlepas dari berbagai aspek sebelumnya, ternyata Rasulullah SAW juga
memberikan pengajaran kepada umatnya tentang prinsip dasar yang
perlu kita tanamkan kepada anak. Apa saja? Simak tulisan ini sampai
selesai. Baca Juga Amalan Mujarab Lancarkan Rezeki ala Rasulullah SAW
1. Menanamkan Nilai-Nilai Tauhid
Dalam menanamkan nilai tauhid atau pengesaan Allah, Rasulullah SAW
mengajarkan untuk memulainya dengan memperkenalkan anak pada
pengetahuan tentang Tuhan secara sederhana. Salah satu caranya adalah
melalui pembiasaan mengucapkan kalimat tahlil, yaitu Laa ilaha illa Allah.
Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan
oleh Al-Baihaqi dari Ibnu Abbas:
َأ
ِاْفَتُح ْواَعَلى ِصْبَياِنُكْم َّوَل َكِلَمٍة ِباَل ِإٰلَه: َعِن الَّنِبِّي َصَّلى الّٰلُه َعَلْيِه َوَس َّلَم َقاَل، َعِن اْبِن َعَّباٍس
ِإاَّل الّٰلُه
Baca Juga Apa yang Dibaca Rasulullah saat Ziarah Kubur?
Artinya: Dari Ibnu Abbas, dari Nabi Muhammad Saw, ia bersabda:
“Ajarkanlah kepada anak-anak kalian kalimat pertama, dengan
mengucapkan, ‘Laa ilaha illa Allah’.” (HR. Al-Baihaqi) Setelah itu, kita
dapat mengajarkan anak tentang tauhid melalui praktik atau materi yang
lebih mendalam.
Misalnya, mengajarkan bahwa jika kita menjaga syariat Allah, maka Allah
akan melindungi kita; atau saat menghadapi kesulitan, kita harus
memohon pertolongan hanya kepada Allah. Selain itu, ajarkan pula bahwa
segala yang terjadi di alam semesta adalah ketetapan Allah. Seperti yang
dijelaskan dalam sebuah hadits diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, bersumber
dari Ibnu Abbas juga:
َيا ُغاَل ُم ِإِّني: َفَقاَل، ُكْنُت َخ ْلَف َر ُس ْوِل الّٰلِه َصَّلى الّٰلُه َعَلْيِه َوَس َّلَم َيْوًما: َقاَل، َعِن اْبِن َعَّباٍس
َوِإَذا، ِإَذا َس َأْلَت َفاْس َأِل الّٰلَه، ِاْح َفِظ الّٰلَه َتِج ْدُه ُتَج اَهَك، ِاْح َفِظ الّٰلَه َيْح َفْظَك، ُأَعِّلُمَك َكِلَماٍت
َلْم َيْنَفُعْوَك ِإاَّل،اْس َتَعْنَت َفاْس َتِعْن ِبالّٰلِه َواْعَلْم َأَّن اُألَّمَة َلِو اْجَتَمَعْت َعَلى َأْن َيْنَفُعْوَك ِبَش ْي ٍء
َأ
َوِإِن اْجَتَمُعْوا َعَلى ْن َيُضُّرْوَك ِبَش ْي ٍء َلْم َيُضُّرْوَك ِإاَّل ِبَش ْي ٍء َقْد َكَتَبُه الّٰلُه، ِبَش ْي ٍء َقْد َكَتَبُه الّٰلُه َلَك
َأل
ُر ِفَعِت ا ْقاَل ُم َوَج َّفِت الُّصُح ُف، َعَلْيَك
Artinya:
Dari Ibnu Abbas, ia berkata: Pada suatu hari aku berada tepat di belakang
Rasulullah SAW. Lantas beliau bersabda: “Wahai anak, sungguh aku akan
mengajarkan kepada kalian beberapa kalimat: 1) Jagalah (syariat) Allah,
maka Dia akan menjagamu, 2) jagalah Allah, maka kamu akan mendapati-
Nya di hadapanmu, 3) apabila kamu memohon, memohonlah kepada
Allah, dan 4) apabila kamu meminta sesuatu, maka mintalah kepada
Allah. Ketahuilah, jika umat manusia berkumpul untuk memberikan
kemanfaatan kepadamu dengan sesuatu, maka kemanfaatan itu tiada
berguna kecuali dengan apa yang telah Allah tetapkan atasmu. Begitu
pula jika umat manusia berkumpul untuk mencelakakanmu dengan
sesuatu, maka tiada mampu mereka mencelakakanmu kecuali atas
ketetapan Allah. Pena-pena telah terangkat dan lembaran (takdir) telah
kering.” (HR. Tirmidzi)
2. Menanamkan Nilai-nilai Tata Krama
Selanjutnya, prinsip dasar yang perlu ditanamkan kepada anak adalah
tata krama atau akhlak mulia. Untuk memulainya, kita tidak perlu
menggunakan materi yang rumit. Cukup dengan pendekatan aktivitas
sehari-hari, seperti mengajarkan anak untuk mengucapkan salam saat
masuk rumah atau sepulang bermain. Nilai ini diajarkan langsung oleh
Rasulullah SAW melalui hadits yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari
Anas RA:
َأ
ِإَذا َدَخ ْلَت، َيا ُبَنَّي: َقاَل ِلْي َر ُس ْوُل الّٰلِه َصَّلى الّٰلُه َعَلْيِه َوَس َّلَم: َوَعْن َنٍس َر ِضَي الّٰلُه َعْنُه َقاَل
َيُكْن َبَر َكًة َعَلْيَك َوَعَلى أْهِل َبْيِتَك، َفَس ِّلْم، َعَلى َأْهِلَك
Artinya:
Dari Anas RA, ia berkata: Rasulullah SAW pernah bersabda kepadaku:
“Wahai anakku, apabila kamu masuk ke keluargamu, maka ucapkanlah
salam. Niscaya (dengan salam itu) kamu akan memperoleh keberkahan,
begitu juga dengan keluargamu.” (HR. At-Tirmidzi)
Dalam konteks kekinian, menanamkan nilai tata krama melalui salam
dapat diartikan sebagai bentuk tegur sapa anak kepada orang tua atau
anggota keluarga. Dengan demikian, anak belajar menunjukkan sikap
hormat, perhatian, dan kepedulian dalam hubungan sehari-hari. Selain
salam, Rasulullah SAW juga mengajarkan tata krama kepada anak melalui
adab meminta izin dalam aktivitas tertentu, seperti meminjam barang
atau memasuki rumah orang lain. Dalam sebuah hadits, diceritakan
bahwa sahabat Anas RA pernah ditegur Rasulullah SAW karena masuk
rumah tanpa izin. Keesokan harinya, beliau menegur Anas untuk
mengajarkan adab tersebut.
َأ َأ
َفُكْنُت ْدُخ ُل ِبَغْيِر: ُكْنُت َخاِدًما ِللَّنِبِّي َصَّلى الّٰلُه َعَلْيِه َوَس َّلَم َقاَل: َعْن َنٍس َر ِضَي الّٰلُه َعْنُه َقاَل
َأ َأ
َكَما ْنَت َيا ُبَنَّي َفِإَّنُه َقْد َحَدَث َبْعَدَك ْمٌر اَل َتْدُخ َلَّن ِإاَّل ِبِإْذٍن: اْس ِتْئَذاٍن َفِج ْئُت َيْوًما َفَقاَل
Artinya:
Dari Anas RA, ia berkata: Aku pernah menjadi pembantu Nabi
Muhammad Saw. Kemudian aku pernah masuk tanpa meminta izin.
Tatkala aku datang pada hari berikutnya, Nabi bersabda: “Tetaplah di
tempatmu, wahai anakku. Sungguh telah terjadi suatu perkara setelahmu.
Maka (selanjutnya) janganlah sekali-kali masuk tanpa izin.” (HR. Bukhari)
Pelajaran dari Rasulullah SAW ini adalah pedoman yang dapat kita jadikan
acuan. Dalam penerapannya, kita dapat menyesuaikan dengan situasi
dan kondisi masing-masing. Wallahu a’lam bisshawab
Kisah Thalhah bin Ubaidillah sebagai Perisai
Rasulullah
Kisah Thalhah yang begitu ikonik terjadi saat perang Uhud. Perang Uhud
sendiri merupakan perang lanjutan setelah sebelumnya kaum Quraisy
kalah pada perang Badar. Hingga karena itu, mereka dikobarkan dengan
amarah akibat dendam kekalahan sebelumnya.
Meski begitu, sebenarnya pasukan Muslim akan mendapatkan
kemenangan andai pasukan pemanah di atas bukit mendengarkan
perintah Rasul untuk tetap berjaga. Posisi menjadi berbalik saat mereka
menuruni bukit untuk mengambil harta rampasan perang.
Karena terdesak, Thalhah bin Ubaidillah dari Muhajirin, serta 11 orang
Anshar melindungi Rasulullah dengan mengantar beliau menuju atas
bukit.
Sayangnya, tentu karena posisi berbanding terbalik dan kaum muslim
saat itu terdesak, sepanjang perjalanan terdapat banyak halangan dari
musuh.
Satu per satu kaum Anshar jatuh bertumbangan sementara Thalhah
bertahan untuk mendampingi Rasul menuju bukit.
Dia memeluk Rasulullah dengan tangan kiri serta dadanya, kemudian
mengayunkan pedang di tangan kanan ke segala arah untuk menghalau
panah yang datang.
Dia juga dengan berani mengayunkan pedang ke musuh yang
mengerubungi tanpa mempedulikan tubuhnya yang terluka akibat
sabetan pedang dan panah. Total terdapat sekitar 70 anak panah yang
menancap pada tubuh Thalhah dengan jari tangan yang putus.
Karena inilah, dia mendapat gelar Asy-Syahidu Hayyu atau
seorang syahid yang hidup akibat banyak yang mengira bahwa Thalhah
telah syahid, namun ternyata masih hidup
Wafatnya Thalhah bin Ubaidillah
Kisah Thalhah bin Ubaidillah pun berakhir dengan wafatnya pada saat
perang Jamal. Saat pertempuran terjadi, Ali bin Abi Thalib
memperingatkan agar Thalhah mundur.
Perang ini sendiri terjadi akibat perseteruan antara pengangkatan Ali bin
Abi Thalib serta pembunuhan Utsman. Sementara itu, Thalhah bin
Ubaidillah berada di pihak berlawanan dengan Ali.
Thalhah pun keluar dari pasukan saat teringat bahwa perkataan Rasul
bahwa orang yang memerangi Ali adalah orang yang zalim
Hingga kemudian sebuah anak panah mengenai betis Thalhah. Karena
menancap dengan luka terlalu dalam, beliau pun akhirnya wafat di
usianya ke 60 tahun. Tubuh Thalhah bin Ubaidillah dikuburkan di sebuah
tempat dekat padang rumput Basra.
Rasulullah sendiri suatu ketika berkata pada para sahabat mengenai
Thalhah bin Ubaidillah, “Orang ini adalah yang termasuk gugur. Dan
barangsiapa yang senang dengan melihat seorang syahid berjalan di atas
bumi, maka lihatlah Thalhah.”
Maksud dari sabda Rasul ini merujuk pada masa Thalhah yang
mengerahkan segenap hidupnya demi menjadi perisai Rasul saat perang
Uhud. Rasulullah sendiri saat itu juga terluka amat parah dengan gigi
taring yang patah serta bibir dan kening yang sobek.
Thalhah yang dipenuhi dengan panah menancap, luka tebasan pedang
dan lembing hingga jari yang terputus nyatanya berusaha bertahan
hingga akhir demi ingin melindungi Rasulullah.
Kisah Abu Dujanah
Pada zaman kenabian Rasulullah, ada salah seorang sahabat Rasulullah SAW bernama
Abu Dujanah. la seorang sahabat yang ketika selesai salat selalu langsung pulang dengan
tidak membaca doa.
Ia pun tidak menunggu agar Rasulullah selesai membaca doa beliau terlebih dahulu.
Perilaku Abu Dujanah ini pun kemudian dirasakan oleh Rasulullah SAW, sehingga suatu
saat beliau bertanya ke Abu Dujanah.
"Apa yang menyebabkan engkau berperilaku demikian wahai Abu Dujanah?"
Abu Dujanah selanjutnya menjawab, "Ini karena ada pohon kurma yang menjuntai di
pekaranganku. Pohon ini bukan milikku. Jadi aku buru-buru membersihkannya dan kurma
itu aku serahkan kepada pemiliknya, yakni tetanggaku (dikenal sebagai seorang yang
munafik)".
"Aku melakukannya tanpa sedikit pun diberi dan mengharapkan imbalan. Hal ini aku lakukan
juga agar anak-anakku tidak memakan kurma tersebut karena kurma itu tidak halal untukku
dan keluargaku. Tetapi, suatu ketika aku jumpai anakku sudah lebih dahulu bangun dan
kulihat dia tengah memakan kurma tersebut. Oleh karena itu, aku datangi anakku dan lekas
aku masukkan tanganku agar bisa mengeluarkan kurma tersebut dari mulutnya. Namun
saking kencangnya, anakku menangis berlinangan air mata. Begitulah ya Rasulullah," jelas
Abu Dujanah.
Mendengar kisah itu Rasulullah SAW seketika menangis dan kemudian beliau memanggil
tokoh munafik tersebut. Kepadanya, Rasulullah berkata,
"Maukah engkau jika aku minta kamu menjual pohon kurma yang kamu miliki itu? Aku akan
membelinya dengan sepuluh kali lipat dari harga pohon kurma itu. Pohonnya terbuat dari
batu zamrud berwarna biru. Disirami dengan emas merah, tangkainya dari mutiara putih. Di
situ tersedia bidadari yang cantik jelita sesuai dengan hitungan buah kurma yang ada."
Begitu tawaran Nabi SAW Namun, lelaki yang dikenal sebagai seorang penjual yang
munafik ini lantas menjawab dengan tegas,
"Aku tak pernah berdagang dengan memakai sistem jatuh tempo. Aku tidak mau menjual
apa pun kecuali dengan uang kontan dan tidak pakai janji."
Di tengah proses itu, tiba-tiba Sayidina Abu Bakar as-Shiddiq Radhiyallahu anhu datang. Ia
lantas berkata,
"Ya sudah, aku beli dengan sepuluh kali lipat dari harga kurma yang paling bagus di kota
ini."
Mendengar ini, orang munafik tersebut berkata kegirangan, "Baiklah, aku jual pohon ini."
Setelah sepakat, Abu Bakar segera menyerahkan pohon kurma kepada Abu Dujanah pada
saat itu juga. Rasulullah SAW kemudian bersabda,
"Hai Abu Bakar, aku yang menanggung gantinya untukmu." Mendengar sabda Nabi ini,
Sayidina Abu Bakar merespon dengan bergembira bukan main. Begitu pula Abu Dujanah.
Si munafik berlalu. la berjalan mendatangi istrinya. Lalu mengisahkan kisah yang baru saja
terjadi pada hari itu.
"Aku telah mendapat untung banyak hari ini. Aku mendapat sepuluh pohon kurma yang
lebih bagus. Padahal kurma yang aku jual itu tidaklah berpindah dan masih tetap di
pekarangan rumahku. Aku tetap yang akan memakannya lebih dahulu lalu buah-buahnya
pun tidak akan pernah aku berikan kepada tetangga kita itu sedikit pun."
Pada malam harinya, saat si munafik tidur terjadi peristiwa yang tak diduga. Pohon kurma
yang berada di pekarangan rumah si munafik itu tiba-tiba berpindah posisi.
Pohon kurma itu kini berdiri di atas tanah milik Abu Dujanah. Seolah-olah tak pernah
sekalipun tampak pohon tersebut tumbuh di atas tanah si munafik dan berpindah dengan
bantuan tangan manusia ke pekarangan Abu Dujanah.
Tempat asal pohon itu tumbuh diketahui rata dengan tanah seperti tanah rata yang normal.
Saat terbangun pagi harinya, si munafik keheranan.
Kisah ini dapat dijadikan sebagai pelajaran bagi kita, yakni betapa hati-hatinya sahabat
Rasulullah, Abu Dujanah, menjaga diri dan keluarganya dari makanan yang haram. Sesulit
dan seberat apa pun hidup, seseorang tidak boleh memakan makanan untuk dirinya sendiri
dan keluarganya dari barang haram.