0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan9 halaman

Silabus dan RPP KTSP untuk Pembelajaran Inovatif

Dokumen ini membahas tentang silabus dan RPP dalam konteks Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), yang memberikan fleksibilitas bagi sekolah untuk menyusun materi sesuai kebutuhan lokal. Silabus dan RPP harus saling terkait dan mencakup komponen penting untuk mendukung pembelajaran yang efektif dan inovatif. Selain itu, pentingnya pengadaptasian RPP dalam pembelajaran inovatif ditekankan untuk melatih siswa berpikir kritis dan kreatif.

Diunggah oleh

isnaini isnaini
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan9 halaman

Silabus dan RPP KTSP untuk Pembelajaran Inovatif

Dokumen ini membahas tentang silabus dan RPP dalam konteks Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), yang memberikan fleksibilitas bagi sekolah untuk menyusun materi sesuai kebutuhan lokal. Silabus dan RPP harus saling terkait dan mencakup komponen penting untuk mendukung pembelajaran yang efektif dan inovatif. Selain itu, pentingnya pengadaptasian RPP dalam pembelajaran inovatif ditekankan untuk melatih siswa berpikir kritis dan kreatif.

Diunggah oleh

isnaini isnaini
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

SILABUS dan RPP Berbasis KTSP dalam Konteks Pembelajaran Inovatif

Dr. Suhartono, [Link].


1. Pendahuluan
Dalam rangka merespons masukan publik tentang pentingnya penyempurnaan Kurikulum
2004 yang di lapangan sering disebut Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), pada 2006
pemerintah c. q. Depdiknas mengeluarkan Kurikulum 2006 yang di lapangan sering disebut
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Perbedaan pokok KBK dan KTSP adalah pada
KBK pemerintah pusat menyediakan secara lengkap perangkat kurikulum (standar kompetensi,
indikator, materi pokok, dan sebagainya) sehingga pihak sekolah tinggal mengaplikasikannya,
sedangkan pada KTSP pihak pusat hanya menyediakan standar kompetensi dan kompetensi
dasar. Materi pokok dan indikator disusun oleh pihak sekolah sesuai dengan kebutuhan nyata di
sekolah.
Hal itu mengisyaratkan bahwa sejak pemberlakuan Kurikulum 2006 tidak ada
penyeragaman kurikulum sekolah secara nasional. Kurikulum antarsekolah dapat bahkan harus
berbeda karena tiap sekolah memunyai karakteristik, visi, kebutuhan akademis, dan tingkat
kreativitas yang berbeda. Pihak sekolah dalam hal ini memunyai wewenang untuk menentukan
muatan lokal dan mengekspresikan program akademik secara bebas—tetapi tetap dalam koridor
standar isi dan standar kompetensi lulusan yang ditetapkan oleh Badan Standar Nasional
Pendidikan (BSNP)—sehingga setiap sekolah dapat memaksimalkan potensi dan keunggulan
yang menjadi ciri distingtif sekolahnya.
Bagaimana halnya dengan silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang
merupakan satu di antara empat komponen KTSP? Dalam menjawab pertanyaan tersebut satu hal
yang penting untuk digarisbawahi adalah bahwa isi silabus dan RPP antarbidang studi
antarsekolah idealnya berbeda, tetapi format umumnya dapat sama. Hal terakhir itu penting
untuk dibahas karena terkait langsung dengan dan menjadi “kunci pembuka” praktik
pembelajaran yang merupakan jantung pendidikan.

2. Kurikulum dan Silabus


Kurikulum, silabus, dan RPP merupakan tiga mata rantai yang berurutan dalam
penyelenggaraan kegiatan pembelajaran. Pola hubungannya dapat divisualkan sebagai berikut.

Kurikulum Silabus RPP

Pola hubungan tersebut mengisyaratkan bahwa kurikulum merupakan dasar penyusunan


silabus, dan silabus merupakan dasar penyusunan RPP. Ketiganya harus sejalan dan kontennya
bersesuaian secara utuh.
Sebagai dasar penyusunan silabus dan RPP, kurikulum merupakan acuan dan pedoman
pelaksanaan kegiatan pembelajaran dalam mengembangkan berbagai ranah pendidikan (kognitif,
afektif, dan psikomotorik) (Mulyasa, 2005:37). Sebagai acuan dan pedoman, kurikulum tidak
bersifat praktis dan operasional, tetapi filosofis dan teoretis/konseptual sehingga dalam banyak
hal tampak abstrak.
Berbeda dengan kurikulum, silabus merupakan urutan materi yang disajikan dalam suatu
mata pelajaran (Nunan, 1988:14). Urutan materi tersebut tampak setelah diadakan kegiatan

1
sistematisasi substansi kajian berdasarkan pengelompokan kompetensi-kompetensi yang
dirumuskan sebelumnya.
Urutan materi secara tidak langsung mengungkapkan ruang lingkup materi (Yulianto,
2004:3). Dari urutan materi dapat diketahui batasan hal-hal yang harus dipelajari. Dengan kata
lain, urutan materi mengisyaratkan cakupan materi.
Dalam rancangan pembelajaran, ruang lingkup materi berimplikasi pada ruang lingkup
waktu. Karena itu, sejalan dengan pemikiran Omagio (1986:411), silabus yang baik harus
memberikan peluang dan otoritas penuh kepada guru untuk menentukan ruang lingkup dan
urutan materi serta alokasi waktu.
Silabus juga dapat diberi pengertian lain yang sejalan. Salim (Tim Pengembang Pedoman
Umum Pengembangan Silabus [TPPUPS], 2003:28) menyatakan bahwa silabus merupakan garis
besar, ringkasan, ikhtisar, atau pokok-pokok isi (materi) pelajaran. Sering pula silabus diartikan
sebagai produk pengembangan kurikulum yang berupa penjabaran lebih lanjut standar
kompetensi dan kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa. Hal itu mengisyaratkan bahwa
pengembangan silabus berbasis kompetensi mensyaratkan dirumuskannya secara jelas
kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran. Dengan
menggunakan tolok ukur penguasaan kompetensi dasar, siswa terhindar dari kegiatan
mempelajari materi yang tidak perlu, yakni materi yang tidak menunjang tercapainya penguasaan
kompetensi dasar (Depdiknas, 2003a:21).
Sebagai produk pengembangan kurikulum, silabus tidak hanya harus berdasar padanya,
tetapi harus merupakan jabaran konkret pemikiran filosofis kurikulum. Di samping itu, silabus
harus memudahkan orang dalam memahami kurikulum karena pemikiran pada silabus bersifat
praktis, bukan teoretis filosofis (Yulianto, 2004:4).
Dalam penyusunan silabus, prinsip (1) sesuai dengan kondisi siswa dan (2) relevan,
konsisten, dan adekuat (kecukupan antarkomponen silabus) (Depdiknas, 2003b:11) perlu
diperhatikan. Pelanggaran terhadap kedua prinsip tersebut harus dihindari agar (1) silabus sesuai
(match) dengan tuntutan lapangan dan (2) tidak muncul kendala pengoperasionalan.
Silabus dapat disusun berdasarkan prosedur berikut.
(1) Perencanaan
Pada tahap perencanaan, penyusun silabus—secara individual maupun kolektif—
mengumpulkan informasi dan referensi yang sesuai serta mengidentifikasi sumber belajar,
termasuk narasumber yang diperlukan dalam pengembangan silabus.
(2) Pelaksanaan
Pelaksanaan penyusunan silabus dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
(1) merumuskan standar kompetensi, (2) merumuskan kompetensi dasar, (3) merumuskan
indikator, (4) merumuskan materi standar, (5) merumuskan standar proses (KBM), dan (6)
merumuskan standar penilaian. Sesuai dengan langkah-langkah tersebut, format silabus
berbasis kompetensi setidak-tidaknya memuat komponen berikut: (1) standar kompetensi, (2)
kompetensi dasar, (3) indikator, (4) materi standar, (5) standar proses (KBM), dan (6) standar
penilaian (Mulyasa, 2007:2008—2010). Komponen utama tersebut dapat divariasikan
dan/atau dilengkapi dengan komponen lain sesuai dengan kebutuhan.
(3) Revisi
Draf silabus yang telah disusun perlu diuji kelayakannya melalui analisis kualitas silabus,
penilaian ahli, dan uji lapangan. Berdasarkan uji kelayakan kemudian dilakukan revisi.
Revisi perlu dilakukan secara berkelanjutan sejak awal penyusunan draf hingga silabus
dilaksanakan dalam kegiatan pembelajaran (Mulyasa, 2005:169).

2
Berikut ini merupakan contoh format silabus. Di lapangan, format tersebut dapat diadaptasi
atau dikembangkan sesuai dengan kebutuhan.

SILABUS
Nama Sekolah : ............................................................
Mata Pelajaran : ............................................................
Kelas/Semester : ............................................................

Standar Kompetensi Indikator Materi Standar Standar


Kompetensi Dasar Standar Proses (KBM) Penilaian

Guru Mata Pelajaran,

............................

3. Silabus dan RPP


Di depan sudah dinyatakan bahwa RPP bersumber pada silabus. Hal itu berarti bahwa
RPP merupakan produk pengembangan silabus. Mengapa RPP diperlukan? Tidak cukupkah
silabus? Untuk kepentingan nonpraktis, misalnya mengidentifikasi urutan dan ruang lingkup
materi, silabus sudah cukup. Akan tetapi, pembelajaran di ruang kelas bersifat praktis, misalnya
guru harus menskenariokan kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan dan harus menilai hasil
belajar siswa. Untuk kepentingan operasional tersebut kehadiran RPP diperlukan agar
pembelajaran dapat berjalan secara terencana.
RPP sekurang-kurangnya memuat komponen berikut: kompetensi dasar, indikator, tujuan
pembelajaran, materi standar, metode pembelajaran, kegiatan pembelajaran, sumber belajar, dan
penilaian. Komponen-komponen tersebut mengisyaratkan bahwa RPP harus menggambarkan
kegiatan pembelajaran secara nyata. Hal itu berarti bahwa komponen-komponen operasional,
misalnya kegiatan pembelajaran dan penilaian, menduduki peran penting. Berikut ini merupakan
contoh format RPP yang, seperti halnya silabus, di lapangan penggunaannya dapat diadaptasi
sesuai dengan kebutuhan.

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Mata Pelajaran : .....................................................................


Satuan Pendidikan : .....................................................................
Kelas/Semester : .....................................................................
Pertemuan ke : .....................................................................
Alokasi Waktu : ...............................................jam pembelajaran

Kompetensi Dasar
1. ............................................................................................
2. ............................................................................................

3
Indikator
1.1. .........................................................................................
1.2. .........................................................................................
2.1. .........................................................................................
2.2. .........................................................................................
(Tulis kompetensi dasar dan indikator secara lengkap sesuai dengan silabus)

Tujuan Pembelajaran
1. ............................................................................................
2. ............................................................................................
(Rumuskan tujuan pembelajaran dengan lengkap sesuai dengan indikator)

Materi Pembelajaran
1. ............................................................................................
2. ............................................................................................
(Tulis materi secara garis besar dengan mengaitkannya secara langsung dengan indikator dan
tujuan pembelajaran)

Metode Pembelajaran
1. ............................................................................................
2. ............................................................................................
(Tulis cara yang digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran)

Kegiatan Pembelajaran
1. Kegiatan awal (pembukaan/apersepsi)
a. ........................................................................................
b. ........................................................................................

2. Kegiatan inti (pembentukan kompetensi)


a. ........................................................................................
b. ........................................................................................

3. Kegiatan akhir (penutup)


a. ........................................................................................
b. ........................................................................................
(Tulis kegiatan yang akan dilakukan dari awal hingga akhir untuk mencapai tujuan dan
membentuk kompetensi)

Sumber Belajar
1. ............................................................................................
2. ............................................................................................
(Tulis sumber belajar yang digunakan, termasuk alat peraga, media, dan bahan
pembelajaran/buku sumber)

4
Penilaian
1. ............................................................................................
2. ............................................................................................
(Tulis model penilaian yang digunakan untuk mengetahui tercapai atau tidaknya tujuan
pembelajaran)

Mengetahui, Guru Mata Pelajaran,


Kepala Sekolah ................

......................... .............................

4. Pengoperasian RPP dalam Konteks Pembelajaran Inovatif


Sekalipun berstatus sebagai pedoman operasional kegiatan pembelajaran, RPP dapat
dioperasionalkan secara fleksibel. Apa yang tertulis dalam RPP dapat dipatuhi secara
keseluruhan, dapat pula sebagian. Pengadaptasian isi RPP dimungkinkan asalkan sesuai dengan
kebutuhan di lapangan. Yang terpenting adalah bahwa pengadaptasian isi RPP tidak berdampak
negatif bagi ketercapaian penguasaan kompetensi.
Dalam konteks pembelajaran inovatif, pengadaptasian RPP bahkan penting terutama
ketika konten pembelajaran berorientasi pada upaya melatih siswa agar mampu berpikir kritis
dan kreatif. Mengapa penting dan bagaimana posisi berpikir kritis kalau dikaitkan dengan
kreativitas yang menjadi kunci keterampilan abad XXI?
Kreativitas memunyai beberapa karakteristik yang satu di antaranya adalah berpikir
kritis. Berpikir kritis mencakup keterampilan menganalisis argumen, melakukan inferensi
dengan menggunakan penalaran induktif atau deduktif, menilai atau memberikan pertimbangan,
dan membuat keputusan atau memecahkan masalah. Keterampilan-keterampilan itu berkembang
pesat pada usia muda sehingga tepat bila diajarkan secara komprehensif di sekolah. Dalam
mengajarkannya, pendekatan pengajaran yang digunakan idealnya diejawantahkan dalam teknik-
teknik pengajaran yang berorientasi pada pengembangan berpikir kreatif, misalnya teknik
pemecahan masalah kreatif (creative problem solving [CPS] techniques).
Dalam konsep yang sederhana seperti yang dieksplisitkan dalam banyak kamus,
kreativitas ialah kemampuan untuk mencipta atau berkreasi. Dalam konsep yang luas, seperti
yang dinyatakan oleh Dellas and Gaier (Jackson, 2006:7), kreativitas ialah kemampuan
menggunakan imajinasi, kesadaran, dan intelektual, seperti halnya perasaan dan emosi, untuk
menggerakkan ide-ide yang lazim digunakan ke arah yang baru yang belum tereksplorasi
sbelumnya. Dengan menggunakan sudut pandang lain, Covey (Jackson, 2006:8) menyatakan
bahwa kreativitas ialah kemampuan menggunakan kebebasan untuk memilih melakukan atau
tidak melakukan sesuatu. Definisi-definisi yang lain dikemukakan oleh Jackson dan Shaw
(2006:91) bahwa secara personal kreativitas ialah sesuatu yang baru bagi individu yang
wujudnya sering berupa transfer atau adaptasi ide dari satu konteks ke konteks lain; sebagai area
kerja, kreativitas ialah sesuatu yang mencakup eksplorasi teritori dan pengambilan risiko baru;
sebagai desain yang mempromosikan ide holistik tentang kelayakan sesuatu (graduateness),
kreativitas adalah kapasitas untuk menghubungkan dan melakukan sesuatu berdasarkan apa yang
telah dipelajari dan menggunakan pengetahuan untuk belajar pada situasi lain; sebagai perasaan

5
terlibat dalam kompleksitas, kreativitas ialah kesanggupan bekerja dalam keberagaman dan
kemajemukan yang di dalamnya terdapat konflik, tekanan, ketertarikan, dan kendala; dan sebagai
proses menghadirkan kurikulum yang sebenarnya (real curriculum), kreativitas ialah kegiatan
mengikuti harapan-harapan standar tentang bagaimana seharusnya kerangka kurikulum.
Dari konsep-konsep di depan dapat dinyatakan bahwa dalam kreativitas terdapat
beberapa kata kunci, yaitu orisinal/baru, intelektual, bebas, ekspresif, imajinatif, kompleks,
standar, dan diharapkan (expected). Kata-kata kunci tersebut sejalan dengan tipikal atau
karakteristik kreativitas menurut banyak ahli. Oliver dkk., (2006:42—43), misalnya, menyatakan
bahwa kreativitas memunyai 15 karakteristik berikut: 1) bebas dari rutinitas (tidak terikat oleh
konvensi, jadwal, atau harapan biasa), 2) mengekspresikan imajinasi (identik dengan konsep
kreativitas secara personal seperti dalam definisi di depan), 3) personal (sesuatu yang hanya
dapat diciptakan oleh orang yang bersangkutan dan hal itu terkait dengan kenyataan bahwa
kreativitas bersifat subjektif), 4) independen (berbeda dengan konvensi, aturan, atau bentuk
sosial), 5) berisiko (berpeluang salah atau disalahkan), 6) superfisialitas (dalam arti positif
bermakna bebas dari justifikasi sebelumnya), 7) manusiawi (commonplace/setiap orang
berpotensi menciptakan hal baru), 8) infeksius (dapat ditangkap atau dipahami orang lain), 9)
inkremental (ada sedikit peningkatan dari sebelumnya dan tidak merusak atau menghancurkan
hal yang telah ada), 10) orisinal (sesuatu yang lebih, bukan repetisi), 11) radikal (unik), 12)
perlahan-lahan (being struck by the muse/tidak “terus terang”), 13) metakognisi (menghendaki
kemampuan untuk menengok ke belakang untuk melihat apa yang telah dilakukan atau yang
telah terjadi), 14) menjauh dari realitas (menjauh dari kepedulian sehari-hari), dan 15)
ekspresinya berkerangka (memunyai kerangka kerja).
Untuk melatihkan dan membiasakan kreativitas peserta didik, pendekatan pembelajaran
tersebut dapat diimplementasikan dalam banyak teknik, seperti yang disebutkan di depan, di
antaranya teknik pemecahan masalah kreatif. Teknik pemecahan masalah kreatif terdiri atas tiga
langkah: formulasi pertanyaan, pemunculan ide, dan evaluasi dan perencanaan tindakan.

A. Formulasi pertanyaan
(1) Dalam kegiatan briefing ini siswa mengajukan pertanyaan untuk klarifikasi tentang
hambatan yang menyebabkan solusi terhadap masalah sulit ditemukan. Siswa juga
mengajukan pertanyaan untuk klarifikasi tentang apakah hambatan tersebut tidak dapat
diubah atau diminimalkan.
(2) Setiap siswa juga diminta memformulasikan pertanyaan tentang “bagaimana kita
dapat….”
(3) Setiap siswa menulis masalah pada kertas masing-masing kemudian menulisnya pada
flipchart. Kata-kata terpenting diulang (circled) oleh penulis masalah, kemudian
direformulasi. Pernyataan masalah final ditulis pada flipchart yang semua siswa dapat
melihatnya.

B. Pemunculan ide
B.1 Teknik putar posisi (Reversals)
Ketika guru memancing respons siswa dengan memberikan pernyataan negatif tentang
topik pembelajaran, siswa memberikan respons opositif sehingga sejalan dengan upaya-
upaya penemuan solusi masalah.
B.2 Analogi

6
Untuk memudahkan siswa menemukan masalah dan memberikan solusi, kepada mereka
diberikan analogi. Siswa memanfaatkan analogi yang dibuat guru sebagai landasan untuk
memudahkan penemuan masalah dan pemberian solusi.
B.3 Teknik bunga
Siswa menulis masalah yang sudah ditemukannya pada tengah flipchart. Siswa lain
ditanyai tentang kata yang berasosisi dengannya. Kata-kata tersebut ditulis secara
melingkar dan berlapis seperti bunga. Kata-kata yang berkategori paling asing, menarik,
atau menantang digunakan sebagai dasar untuk memunculkan ide-ide baru.

C. Evaluasi dan perencanaan tindakan


Pada kegiatan ini setiap siswa mendapatkan nomor kecil sesuai dengan nomor urut pada
kertas berwarna hijau, kuning, dan merah. Hijau merupakan simbol untuk ide yang orisinal
dan dapat direalisasikan (feasible), kuning merupakan simbol untuk ide yang umum dan
dapat dilakukan, dan merah adalah simbol untuk ide yang tidak mungkin direalisasikan.
Nomor-nomor berwarna tersebut kemudian dipasang pada kertas karton sesuai dengan
kualitas ide dengan posisi hijau pada bagian atas, kuning pada bagian tengah, dan merah
pada bagian bawah.
C.1 Pengelompokan
(1) Siswa melakukan pengelompokan ide sesuai dengan kategori tertentu agar antaride
tidak tumpang tindih atau bahkan bertabrakan.
(2) Siswa kemudian memilih satu ide terfavorit dengan berdasar kualitas kebaruan,
kebutuhan, dan kemungkinan dapat dilakukan.
C.2 Perencanaan tindakan
Siswa dalam kelompok kecil (3—4 orang) menjawab pertanyaan apa, kapan, siapa, di
mana, mengapa, bagaimana, dan seberapa banyak. Kegiatan tersebut dimaksudkan untuk
menentukan ide yang dimunculkan sebelumnya dalam rencana tindakan.

C.3 Presentasi cepat


Siswa melakukan presentasi cepat (5—10 menit) tentang hasil kerja kelompok dalam
menyelesaikan masalah. Pada saat presentasi, siswa menjelaskan ide, nama tindakan yang
dilakukan, tujuan tindakan, dampak positif dan negatif, diseminasi, dan hasil yang
diperoleh.

Teknik pembelajaran pemecahan masalah kreatif tersebut sejalan dengan substansi


pembelajaran inovatif, yakni interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi siswa
untuk berpartisipasi aktif, dan memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan
kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis siswa.
Dalam perealisasian pembelajaran berorientasi kreativitas, seperti yang terisyaratkan pada
pemilihan teknik pembelajaran di depan, kurikulum idealnya disikapi sebagai sesuatu yang
dinamis. Guru dapat memaksimalkan kreativitas agar siswa mendapatkan banyak tambahan
kompetensi yang membekalinya pada kehidupan global.
Sejalan dengan hal tersebut, kreativitas pendidik idealnya difokuskan pada hal-hal berikut.
Nmr. Fokus
1 Mengorientasikan kata kerja kompetensi dasar pada kompetensi abad XXI
2 Mengorientasikan substansi materi kompetensi dasar pada kompetensi abad XXI
3 Mengorientasikan kata kerja indikator pencapaian kompetensi pada kompetensi abad

7
XXI
4 Mengorientasikan substansi materi indikator pencapaian kompetensi pada kompetensi
abad XXI
5 Mengorientasikan kondisi (condition) tujuan pembelajaran pada tradisi belajar modern
abad XXI
6 Mengembangkan materi pembelajaran sesuai dengan kebutuhan kompetensi abad XXI
7 Mengembangkan media pembelajaran sesuai dengan kebutuhan kompetensi abad XXI
8 Memilih dan mengembangkan teknik pembelajaran berorientasi kreativitas.

5. Simpulan
Berdasarkan paparan di muka dapat disimpulkan bahwa kurikulum, silabus, dan RPP
merupakan tiga mata rantai kegiatan pembelajaran. Konten ketiganya harus sejalan. RPP disusun
berdasarkan silabus, silabus berdasarkan kurikulum.
Baik silabus maupun RPP memiliki beberapa variasi format. Tidak ada format yang
dibakukan. Yang penting untuk diperhatikan adalah bahwa komponen minimal yang harus ada
tercantum dalam silabus atau RPP. Komponen minimal silabus adalah (1) standar kompetensi,
(2) kompetensi dasar, (3) indikator, (4) materi standar, (5) standar proses (KBM), dan (6) standar
penilaian; sedangkan komponen minimal RPP adalah kompetensi dasar, indikator, tujuan
pembelajaran, materi standar, metode pembelajaran, kegiatan pembelajaran, sumber belajar, dan
penilaian.
Dalam praktik pembelajaran, RPP dapat dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan
pembelajaran di kelas. Dalam konteks pembelajaran inovatif, pemodifikasian itu dipandang
penting terutama ketika pembelajaran berorientasi pada upaya mengondisikan peserta didik dapat
berpikir kritis dan kreatif.

Daftar Rujukan
Depdiknas. 2003a. Kerangka Dasar Pengembangan Silabus dan Sistem Penilaian Hasil Belajar
Siswa SLTP Berbasis Kompetensi. Jakarta.

Depdiknas. 2003b. Pedoman Pengembangan Silabus. Jakarta.

Depdiknas. 2005. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang
Standar Nasional Pendidikan. Jakarta.

Jackson, Norman dan Shaw, Malcolm. 2006. “Developing Subject Perspectives on Creativity in
Higher Education”. Dalam Jackson, Norman dkk. (ed.). Developing Creativity in Higher
Education: An Imaginative Curriculum. London: Routledge.

Jackson, Norman. 2006. “Imagining a Different World”. Dalam Jackson, Norman dkk. (ed.).
Developing Creativity in Higher Education: An Imaginative Curriculum. London:
Routledge.

Mulyasa, E. 2005. Kurikulum Berbasis Kompetensi: Konsep, Karakteristik, dan Implementasi.


Bandung: Remaja Rosdakarya.

Mulyasa, E. 2007. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.

8
Nunan, D. 1988. The Learned-centered Curricullum. Cambridge: Cambridge University Press.

Oliver, Martin dkk. 2006. “Students’ Experiences of Creativity”. Dalam Jackson, Norman dkk.
(ed.). Developing Creativity in Higher Education: An Imaginative Curriculum. London:
Routledge.

Omaggio, A. C. 1986. Teaching Language in Context: Proficiency Oriented Instruction. Boston:


Heinle & Heinle Publishers.

Tim Pengembang Pedoman Umum Pengembangan Silabus. 2003. Pedoman Umum


Pengembangan Silabus Berbasis Kompetensi SMA. Jakarta.

Yulianto, B. 2004. “KBK Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia: Pengembangan Silabus
dan Rencana Pembelajaran”. Makalah disajikan dalam Seminar Pengembangan Kurikulum
Berbasis Kompetensi Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia untuk Guru SLTP/MTs,
SMU/MA, dan SMK tanggal 17 Februari 2004 di Unesa. Surabaya.

Anda mungkin juga menyukai