Chapter 4 :
Leano sudah siap untuk melanjutkan perjalanannya mencari Bunga Lhevannya lainnya. Dia
ingin mengunjungi Elysian, kota yang terkenal dengan musik dan seni. Ael memberinya
petunjuk tentang lokasi Bunga Lhevannya berwarna lavender yang akan membawanya ke
Elysian.
"Bunga Lhevannya berwarna lavender tumbuh di Hutan Berbisik," kata Ael. "Hutan itu
dipenuhi dengan makhluk-makhluk magis yang berbahaya. Kau harus berhati-hati."
Leano mengangguk. Dia tahu bahwa perjalanan ke Elysian tidak akan mudah.
"Aku siap menghadapi tantangannya," kata Leano. "Aku ingin melihat Elysian."
Ael tersenyum. "Aku yakin kau akan berhasil, Leano. Kau memiliki kekuatan yang luar
biasa."
Leano mengucapkan selamat tinggal kepada Ael dan keluarganya. Dia berjanji untuk
kembali ke Lhevannya setelah mengunjungi Elysian.
Leano memulai perjalanannya menuju Hutan Berbisik. Hutan itu tampak gelap dan
misterius. Pohon-pohonnya tinggi menjulang, dan ranting-rantingnya saling bersentuhan,
membentuk lorong-lorong yang gelap dan sempit.
Saat Leano berjalan di dalam hutan, dia mendengar suara-suara aneh. Dia mendengar
suara gemerisik daun, suara burung hantu, dan suara makhluk-makhluk lain yang tidak bisa
dia kenali.
Leano merasa sedikit takut. Dia tahu bahwa dia sedang berada di tempat yang berbahaya.
Tiba-tiba, Leano mendengar suara langkah kaki yang mendekat. Dia menoleh dan melihat
sekelompok makhluk kecil yang menyerupai goblin. Mereka memiliki mata merah menyala
dan gigi-gigi tajam.
"Siapa kau?" tanya salah satu goblin dengan suara serak.
"Aku Leano," jawab Leano. "Aku sedang mencari Bunga Lhevannya."
"Bunga Lhevannya?" tanya goblin itu. "Kau tidak boleh mengambil bunga itu."
Goblin-goblin itu menyerang Leano. Mereka menyerang dengan pedang kayu dan tombak
bambu. Leano berusaha menghindar, tetapi goblin-goblin itu terlalu banyak.
Leano terdesak. Dia berusaha menghindar dari serangan goblin-goblin itu, tetapi mereka
terlalu banyak. Tiba-tiba, Leano merasakan sensasi aneh mengalir di tubuhnya.
Tanpa sadar, Leano mengangkat tangannya dan mengarahkannya ke tanah. Tanah di
bawah kaki goblin-goblin itu bergetar dan retak. Sebuah lubang besar terbuka di tanah, dan
goblin-goblin itu terjatuh ke dalam lubang.
Leano terkejut. Dia tidak sengaja menggunakan kekuatannya. Dia tidak tahu bagaimana
dia bisa melakukan itu.
"Apa yang terjadi?" gumam Leano. "Aku tidak sengaja melakukan itu."
Leano merasa takut dan bingung. Dia tidak tahu bagaimana mengendalikan kekuatannya.
Leano berlari secepat mungkin, melarikan diri dari goblin-goblin itu. Dia tidak tahu ke mana
harus pergi, tetapi dia harus menjauh dari goblin-goblin itu.
Setelah beberapa saat berlari, Leano sampai di sebuah tebing. Dia tidak bisa lari lagi. Dia
terjebak.
Goblin-goblin itu mengejar Leano. Mereka berteriak dan mengacungkan senjata mereka.
Leano merasa putus asa. Dia tidak tahu bagaimana dia bisa melarikan diri dari goblin-goblin
itu.
Tiba-tiba, Ael dan Allu muncul dari balik pohon. Mereka melihat Leano dengan mata
terbelalak.
"Leano, kau baik-baik saja?" tanya Ael dengan cemas.
"Aku tidak apa-apa," jawab Leano. "Tapi, aku tidak mengerti apa yang terjadi."
"Kau baru saja menggunakan kekuatanmu," kata Allu. "Kekuatan tanah."
Leano terkejut. "Kekuatan tanah? Apa maksudmu?"
"Kau memiliki kekuatan yang luar biasa, Leano," kata Ael. "Kekuatan itu mengalir dalam
darahmu."
Leano merasa bingung. Dia tidak tahu bagaimana dia bisa memiliki kekuatan seperti itu.
"Aku tidak tahu bagaimana aku bisa melakukan itu," kata Leano. "Aku tidak bisa
mengendalikan kekuatan itu."
"Kau akan belajar mengendalikannya," kata Ael. "Kau hanya perlu berlatih."
Leano merasa lega karena Ael dan Allu tidak takut padanya. Mereka malah membantu dia
memahami kekuatannya.
"Terima kasih, Ael, Allu," kata Leano. "Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan tanpa
kalian."
Ael tersenyum. "Kami selalu ada untukmu, Leano."
Leano merasa bersyukur karena dia memiliki teman-teman yang baik. Dia tahu bahwa dia
tidak sendirian dalam perjalanannya.
Leano, Ael, dan Allu melanjutkan perjalanan menuju Hutan Berbisik. Mereka harus berhati-
hati karena masih banyak bahaya yang mengintai di hutan itu.
Setelah menelusuri Hutan Berbisik selama beberapa jam, Leano, Ael, dan Allu bertemu
dengan sebuah pohon yang sangat besar. Pohon itu menjulang tinggi, jauh lebih tinggi dari
pohon-pohon lainnya di hutan itu. Batangnya sangat tebal, dan dahan-dahannya yang
besar menjulur ke segala arah, membentuk kanopi yang luas dan gelap. Pohon itu tampak
berbeda dari pohon-pohon lainnya di hutan itu.
"Pohon itu aneh," kata Leano. "Aku belum pernah melihat pohon seperti itu sebelumnya."
"Itu adalah Pohon Penjaga," kata Ael. "Pohon itu menjaga pintu masuk ke Elysian."
"Pintu masuk?" tanya Leano. "Bagaimana caranya?"
"Bunga Lhevannya berwarna lavender tumbuh di atas Pohon Penjaga," kata Ael. "Tapi, kau
harus berhati-hati. Pohon itu dijaga oleh makhluk-makhluk magis yang berbahaya."
"Makhluk-makhluk magis?" tanya Leano. "Seperti apa mereka?"
"Aku tidak tahu," jawab Ael. "Aku belum pernah melihat mereka. Tapi, aku tahu bahwa
mereka sangat kuat."
Leano merasa sedikit takut. Dia tidak yakin apakah dia siap menghadapi makhluk-makhluk
magis yang menjaga Pohon Penjaga.
"Kita harus berhati-hati," kata Allu. "Kita harus bersiap untuk menghadapi bahaya."
Leano, Ael, dan Allu berjalan mendekati Pohon Penjaga. Mereka semakin dekat dan
semakin dekat.
Tiba-tiba, mereka mendengar suara gemuruh yang sangat keras. Tanah bergetar, dan
pohon-pohon di sekitar mereka bergoyang.
"Ada apa?" tanya Leano dengan cemas.
"Itu adalah suara dari Pohon Penjaga," kata Ael. "Pohon itu sedang marah."
Leano, Ael, dan Allu melihat ke atas. Mereka melihat sebuah mata besar yang menyala di
tengah Pohon Penjaga. Mata itu menatap mereka dengan tajam.
"Siapa kalian?" tanya suara yang dalam dan menakutkan. Suara itu berasal dari Pohon
Penjaga.
Leano, Ael, dan Allu terdiam. Mereka tidak tahu bagaimana harus menjawab.
"Kami hanya ingin melihat Bunga Lhevannya," jawab Leano dengan gugup.
"Bunga Lhevannya?" tanya Pohon Penjaga. "Kau tidak boleh mengambil bunga itu."