Dampak ESG terhadap Kinerja Perusahaan
Dampak ESG terhadap Kinerja Perusahaan
Disusun Oleh:
ISNA SOPHIA NURKHALISHA
NIM 12010123420163
Pembimbing
DAFTAR ISI...........................................................................................................2
BAB I.......................................................................................................................3
PENDAHULUAN...................................................................................................3
BAB II...................................................................................................................18
TINJAUAN PUSTAKA.......................................................................................18
BAB III..................................................................................................................57
METODE PENELITIAN....................................................................................57
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................75
BAB I
PENDAHULUAN
klim menjadi perhatian serius karena membawa berbagai tantangan yang harus di
hadapi bersama. Era globalisasi dan persaingan bisnis yang semakin ketat, perusa
haan dituntut untuk tidak hanya fokus pada pencapaian keuntungan semata, tetapi
juga harus memperhatikan aspek keberlanjutan yang meliputi tanggung jawab ling
kungan, sosial, dan tata kelola perusahaan (Hakim, Nurgupita, & Rizaldi, 2024). S
praktik bisnis saat ini sangat bergantung pada penggunaan sumber daya alam yang
tis, tetapi juga untuk memastikan kelangsungan bisnis jangka panjang dengan men
gintegrasikan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola yang baik. Kinerja ESG (E
nvironmental, Social, and Governance) menjadi indikator utama yang dinilai oleh
ndikator penting yang digunakan untuk menilai kinerja perusahaan secara menyel
uruh, tidak hanya dari sisi finansial tetapi juga dari sisi non-finansial (Farhan, 202
4). Pelestarian lingkungan dan pelaporannya kini menjadi suatu keharusan dalam
pengambilan kebijakan perusahaan, terutama yang berkaitan dengan dampak oper
an ekonomi yang dijalankan oleh perusahaan tidak hanya dituntut untuk mencipta
kan keuntungan, tetapi juga harus memperhatikan pengelolaan sumber daya alam,
ara Indonesia, ESG semakin relevan seiring meningkatnya tuntutan akan tanggung
jawab sosial dan lingkungan dari berbagai sektor, terutama bagi perusahaan-perus
ahaan terbuka yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) (Inawati & Rahmawati,
2023).
ntal, Social, and Governance (ESG) mulai menjadi perhatian utama di berbagai se
ktor, termasuk pasar modal. Penerapan ESG diyakini mampu meningkatkan reput
asi perusahaan, menciptakan nilai tambah bagi masyarakat, serta memperkuat tata
24). Survei Mandiri Institute (2024) terhadap 150 perusahaan menunjukkan bahw
dikator ESG (56%) menjadi kendala utama. Selain itu, kurangnya pemahaman (54
%), keterbatasan data (42%), serta kesulitan menentukan target dan metode penila
ian ESG turut memperlambat adopsi. Bahkan, sebagian perusahaan mengalami res
istensi dari shareholder (23%) atau menganggap ESG kurang relevan bagi model
mberikan regulasi yang jelas serta insentif seperti subsidi atau keringanan pajak ag
rganisasi untuk tidak hanya fokus pada tujuan keuangan, tetapi juga mencakup pro
ses identifikasi, penilaian, dan pengelolaan berbagai risiko serta peluang yang ber
kaitan dengan keberlanjutan dan relevan bagi kelangsungan usaha (Farhan, 2024).
ESG sendiri mengacu pada sejauh mana perusahaan dan investor memasukkan per
hatian terhadap isu lingkungan, sosial, dan tata kelola ke dalam model bisnis dan
pengambilan keputusan.
al, dan bukan sekadar kewajiban etis, tetapi juga merupakan strategi bisnis jangka
panjang yang dapat meningkatkan nilai perusahaan (firm performance) dan keperc
ayaan investor, serta memperkuat posisi pasar (market value). Pada tahun 2023, P
melakukan ekspansi dengan membuka toko ke-250 di Sorong, Papua Barat Daya.
an sebesar 13,8% dari Rp43,5 triliun pada tahun 2021 menjadi Rp49,5 triliun, tahu
n 2022, dan tahun 2024, ERAA meraih penghargaan "ESG Retailer of the Year",
orindo Tbk (AKRA) menunjukkan performa impresif dengan mencatat laba bersih
sebesar Rp2,78 triliun pada tahun 2023, meningkat 16% dari tahun sebelumnya, di
mencatat penurunan EBITDA sebesar 16,36% menjadi Rp1,66 triliun pada 2022,
diacom Tbk (BMTR) mengalami penurunan laba bersih sebesar 39,84% pada kuar
tal I 2025. Pengurangan kepemilikan saham oleh MNC Group di BMTR dan Medi
laba bersih lebih dari 80% pada kuartal I 2025 dibandingkan tahun sebelumnya. P
T Cemindo Gemilang Tbk (CMNT) juga berhasil keluar dari kerugian, mencatatk
an laba bersih sebesar Rp159 miliar pada tahun 2023, didorong oleh pertumbuhan
volume penjualan semen domestik sebesar 3%. Secara keseluruhan, data ini meng
berkaitan dengan lingkungan, sosial, dan tata kelola secara lebih efektif, sehingga
nsi energi, aspek sosial yang meliputi kesejahteraan karyawan dan tanggung jawa
b sosial kepada masyarakat, serta aspek tata kelola yang melibatkan transparansi d
gku kepentingan. Nilai perusahaan merupakan salah satu fokus utama bagi investo
aan. (Prabawati & Rahmawati, 2022). Hal ini pada gilirannya meningkatkan keper
cayaan investor karena mereka melihat bahwa perusahaan tidak hanya berorientasi
pada keuntungan jangka pendek, tetapi juga bertanggung jawab terhadap dampak
sosial dan lingkungan. Berbeda dengan Halid dan Sunarti (2023) ada hubungan po
rusahaan (market value). Nilai ini mencerminkan persepsi investor terhadap kinerj
a dan prospek perusahaan, sehingga menjadi indikator penting dalam menilai baik
buruknya suatu perusahaan, karena investor cenderung menilai perusahaan yang
menjalankan praktik ESG secara serius lebih stabil dan memiliki prospek pertumb
uhan jangka panjang yang lebih baik. Oleh karena itu, ESG bukan hanya soal me
menuhi regulasi atau tuntutan moral, tetapi juga menjadi faktor strategis yang men
dorong daya saing dan keberlanjutan perusahaan di pasar global. Perusahaan deng
an skor ESG yang tinggi cenderung memperoleh biaya modal yang lebih rendah k
arena dipersepsikan memiliki risiko yang lebih kecil. Selain itu, banyak lembaga k
euangan dan investor institusional kini menetapkan kriteria ESG sebagai syarat ut
idak terdapat pengaruh signifikan dari skor ESG terhadap kinerja perusahaan dan
nilai pasar karena Skor ESG belum menjadi bagian dari pengukuran kinerja perus
ahaan.
Penerapan prinsip ESG tidak hanya berperan dalam meningkatkan nilai pasa
r dan kinerja perusahaan, tetapi juga berkaitan erat dengan kebijakan keuangan int
tinggi guna mendukung implementasi berbagai inisiatif ESG, seperti investasi dal
an tata kelola perusahaan yang transparan. Cash holdings yang optimal menjadi sa
ngat penting agar perusahaan dapat membiayai kebutuhan mendadak terkait tangg
ung jawab sosial atau kebutuhan investasi ESG tanpa mengganggu arus kas opera
sional utama. Perusahaan yang memiliki skor ESG tinggi cenderung dipandang le
bih stabil oleh investor karena dinilai mampu mengelola risiko non-keuangan seca
lam kenaikan nilai pasar perusahaan (market value), dan dalam jangka panjang me
ndorong perusahaan untuk menyimpan kas dalam jumlah yang cukup sebagai cad
angan strategis.
Pengelolaan cash holdings harus dilakukan secara hati-hati agar tidak meni
mbulkan risiko idle cash, di mana kas yang menganggur terlalu lama akan kehilan
gan nilai akibat inflasi (Gitman & Zutter, 2015). Kerangka ESG menjelaskan kebe
radaan kas yang memadai dapat dimanfaatkan untuk merespons peluang strategis
secara cepat, seperti akuisisi bisnis berbasis keberlanjutan atau program tanggap d
arurat terhadap bencana sosial dan lingkungan. Penelitian Khalaf (2025) menjelas
kan semakin efisien dan efektif kinerja ESG, semakin tinggi nilai perusahaan. Sel
ain itu, kepemilikan kas memengaruhi nilai pasar secara positif, yang menunjukka
n bahwa ketika perusahaan memiliki cadangan kas yang tinggi, nilai pasar mereka
meningkat. Berbeda dengan Al Hares (2023) ada hubungan negatif yang signifika
n antara pengungkapan ESG dan kepemilikan kas pada tahap pengenalan, pertumb
ance (ESG) banyak terjadi ketidakkonsistenan hasil penelitian. Ahmed dan Khalaf
(2025) serta Veeravel et al. (2024) menemukan bahwa ESG berpengaruh positif te
rhadap nilai dan kinerja perusahaan, Junius et al. (2020) serta Lestari dan Hasanah
(2024) menunjukkan bahwa ESG tidak berpengaruh signifikan terhadap firm perf
ormance maupun market value. Selain itu, meskipun ada beberapa penelitian yang
Ahmed & Khalaf, 2025; Tanjaya & Ratmono, 2024), namun belum banyak studi y
ang secara spesifik menganalisis peran cash holdings sebagai mekanisme moderas
i dalam hubungan antara ESG dan firm performance maupun market value, teruta
ma dalam konteks pasar negara berkembang seperti Indonesia. Di sisi lain, belum
ada penelitian terdahulu yang secara bersamaan menguji pengaruh ESG terhadap f
irm performance dan market value dengan cash holdings sebagai variabel modera
Korelasi antara ESG dan Firm performance dan Market value dengan Cash
holdings sudah diteliti sebelumnya yang mengunakan variabel yang sama dengan
hasil yang beragam. Namun, hasil penelitian tersebut tidak konsisten, ada yang me
nemukan hasil yang positif signifikan, ada juga yang menemukan hasil yang negat
if signifikan, bahkan ada yang menemukan tidak adanya pengaruh antara variabel-
variabel yang diteliti. Hal itu menyebabkan adanya kesenjangan di dalam penelitia
n-penelitian sebelumnya. Berikut ini akan dijelakan terkait research gap dalam pe
nelitian ini.
culkan pertanyaan penelitian baru, yaitu apakah Environmental, Social, and Gove
rnance (ESG) berpengaruh terhadap firm performance dan market value? Pertany
aan ini relevan untuk diteliti lebih lanjut dengan pendekatan yang lebih komprehe
nsif, yaitu melalui cash holdings sebagai variabel moderasi, khususnya pada perus
Penelitian ini penting dilakukan untuk mengisi celah dalam literatur dengan
memberikan bukti empiris yang lebih relevan dan kontekstual terhadap bagaimana
ESG dapat memengaruhi kinerja dan nilai perusahaan melalui mekanisme pengelo
laan kas. Kebaruan penelitian ini mengintegrasikan tiga variabel utama, yaitu ESG
firm performance, dan market value dalam satu model penelitian yang komprehe
nsif, yang belum banyak dilakukan secara bersamaan dalam konteks pasar Indone
sia. Menggunakan data perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Penerapan ESG yang baik berdampak positif terhadap kinerja dan nilai pasa
ebih baik dan pengelolaan risiko yang efektif, sehingga meningkatkan kepercayaa
n investor. Selain itu, cash holdings diasumsikan memperkuat hubungan antara E
SG dengan firm performance dan market value karena berperan sebagai cadangan
n Market Value melalui Cash Holdings (Studi pada Perusahaan Non Finance
Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak tahun 2022 mendorong seluruh perusahaa
Komisaris BEI Pandu Sjahrir, prinsip ESG mencakup kewajiban bagi perusahaan
esember 2021, hanya 154 perusahaan atau sekitar 20% dari total perusahaan di BE
an, sosial, dan ekonomi yang ditimbulkan dari aktivitas operasional mereka sehar
i-hari. Hal ini mencerminkan masih rendahnya implementasi ESG, termasuk terba
ukkan bahwa prinsip ESG kini menjadi perhatian utama di berbagai sektor, termas
n, menciptakan nilai tambah bagi masyarakat, dan meningkatkan praktik tata kelol
pengaruh ESG terhadap kinerja perusahaan (firm performance) dan nilai pasar (m
e 2021–2023. Penelitian Halid dan Sunarti (2023) ada hubungan positif dan negati
f antara skor ESG dan kinerja perusahaan. Junius (2020) menyatakan tidak terdap
at pengaruh signifikan dari Skor ESG terhadap Kinerja Perusahaan dan Nilai Pasa
r karena Skor ESG belum menjadi bagian dari pengukuran kinerja perusahaan. Al
Hares (2023) ada hubungan negatif yang signifikan antara pengungkapan ESG da
p Firm performance pada perusahaan non finance yang terdaftar di BEI tahu
n 2021–2023?
p Market value pada perusahaan non finance yang terdaftardi BEI tahun 202
1–2023?
10. Bagaimana peran cash holdings dalam memoderasi pengaruh aspek Environ
11. Bagaimana peran cash holdings dalam memoderasi pengaruh aspek Environ
12. Bagaimana peran cash holdings dalam memoderasi pengaruh aspek Social t
13. Bagaimana peran cash holdings dalam memoderasi pengaruh aspek Govern
14. Bagaimana peran cash holdings dalam memoderasi pengaruh aspek Environ
15. Bagaimana peran cash holdings dalam memoderasi pengaruh aspek Social t
paparkan:
ap Firm performance pada perusahaan non finance yang terdaftardi BEI tah
un 2021–2023.
ap Market value pada perusahaan non finance yang terdaftardi BEI tahun 20
21–2023.
10. Menganalisis peran cash holdings sebagai variabel moderasi dalam pengaru
11. Menganalisis peran cash holdings sebagai variabel moderasi dalam pengaru
12. Menganalisis peran cash holdings sebagai variabel moderasi dalam pengaru
13. Menganalisis peran cash holdings sebagai variabel moderasi dalam pengaru
14. Menganalisis peran cash holdings sebagai variabel moderasi dalam pengaru
15. Menganalisis peran cash holdings sebagai variabel moderasi dalam pengaru
16. Menganalisis peran cash holdings sebagai variabel moderasi dalam pengaru
bel-variabel yang sedang diselidiki, diharapkan bahwa hasil temuan ini bisa berma
nfaat diantaranya :
1. Manfaat Teoritis:
Value) melalui peran moderasi cash holdings. Hasil penelitian ini juga dapat
erkait hubungan ESG, cash holdings, dan kinerja perusahaan di konteks pas
ar modal Indonesia.
2. Manfaat Praktis:
Penelitian ini dapat memberikan wawasan dan informasi yang berguna bagi
sikan aspek ESG secara efektif untuk meningkatkan kinerja dan nilai perusa
haan. Selain itu, hasil penelitian ini dapat membantu investor dan pemangku
muan ini untuk memperkuat regulasi terkait pelaporan dan praktik ESG di p
TINJAUAN PUSTAKA
an oleh R. Edward Freeman pada tahun 1984. Teori ini menegaskan bahwa manaj
lembaga keuangan, dan pemegang saham (Ma & Karaman, 2018). Perusahaan dip
andang sebagai bagian dari masyarakat, sehingga keberhasilannya diukur dari seb
otensi konflik dengan memberi prioritas pada kelompok utama seperti karyawan,
pemasok, dan pelanggan. Untuk memenuhi harapan publik, perusahaan harus men
Teori Stakeholder, menurut Freeman dan Reed dalam Siregar (2018), adalah
kelompok atau individu yang dapat mempengaruhi atau dipengaruhi oleh pencapai
s perusahaan karena dampak yang mereka terima. Ghozali dan Chariri (2007) juga
jawab tidak hanya kepada pemegang saham tetapi juga kepada para stakeholder la
innya. Kerangka teori stakeholder, perusahaan diharapkan menjalankan kewajiban
sesuai dengan hak yang dimiliki oleh masing-masing pemangku kepentingan (Nau
koko, Sutrisno, Nurkholis, & Saraswati, 2023). Hak-hak ini berbeda-beda, sehing
ak hanya diukur dari aspek keuntungan finansial semata, tetapi juga dari seberapa
baik perusahaan memenuhi tanggung jawab sosial dan lingkungannya. Seiring ber
rhatikan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola atau Environmental, Social, and
Governance (ESG). ESG menjadi indikator penting dalam menilai sejauh mana pe
an kinerja perusahaan.
al yang kuat. Implementasi ESG yang efektif akan meningkatkan kepercayaan dar
serta menurunkan risiko reputasi dan operasional. Hal ini secara tidak langsung ak
an mendorong peningkatan firm performance dan market value. Di sisi lain, cash
holdings atau kepemilikan kas memainkan peran strategis dalam menunjukkan ke
lder. Perusahaan dengan tingkat cash holdings yang cukup dinilai lebih mampu m
serta menjaga stabilitas keuangan dalam jangka panjang. Oleh karena itu, cash hol
dings dapat menjadi jalur penting yang memoderasi hubungan antara ESG dan per
forma perusahaan.
kerja yang dirancang untuk diintegrasikan ke dalam strategi organisasi dalam rang
okus pada tujuan keuangan, tetapi juga mencakup proses identifikasi, penilaian, da
dan relevan bagi kelangsungan usaha (Farhan, 2024). Konsep ESG pertama kali di
perkenalkan melalui laporan The United Nations Principles for Responsible Invest
ment pada tahun 2006, yang menyebutkan bahwa ESG merupakan istilah yang dig
haan (Nofrian & Sebrina, 2024). ESG sendiri mengacu pada sejauh mana perusah
aan dan investor memasukkan perhatian terhadap isu lingkungan, sosial, dan tata k
sial (social), dan tata kelola (governance). Faktor lingkungan atau ‘E’ menitikbera
tkan pada pelestarian alam, dengan fokus pada bagaimana aktivitas perusahaan be
rdampak terhadap lingkungan dan sejauh mana perusahaan berperan dalam menja
ga kelestarian lingkungan hidup (Durlista & Wahyudi, 2023). Faktor sosial atau
pelanggan, dan masyarakat. Sementara itu, faktor tata kelola atau ‘G’ berkaitan de
daan suatu perusahaan diharapkan mampu menciptakan nilai jangka panjang yang
danya lisensi sosial, yaitu sejauh mana masyarakat menerima dan mendukung keb
Urgensi penerapan ESG menjadi penting, terutama bila dilihat dari sudut pa
aktor penentu. Penilaian ESG dari lembaga rating dapat memengaruhi minat
investor dan harga saham. Contohnya, perusahaan dengan ESG rating tinggi
ue.
n yang mematuhi aturan ini tidak hanya memenuhi kewajiban hukum, tetapi
juga menunjukkan kepatuhan tata kelola yang baik, yang berdampak pada p
usahaan yang bertanggung jawab secara sosial dan lingkungan. Studi menun
jukkan bahwa milenial dan Gen Z bersedia membayar lebih untuk produk da
ri perusahaan dengan praktik ESG yang baik, yang secara tidak langsung me
kpatuhan terhadap prinsip ESG dapat memicu pemberitaan negatif dan men
aan yang baik dengan LSM dapat mendukung kredibilitas perusahaan dan m
yang menerapkan prinsip ESG, terutama dalam hal keselamatan kerja, kesej
ahteraan, dan lingkungan kerja yang inklusif. Hal ini berkontribusi langsung
secara berkelanjutan. ESG mendorong perusahaan untuk lebih peduli terhadap lin
gkungan, misalnya dengan menghemat energi dan mengurangi emisi dalam proses
gan masyarakat sekitar, dan menjaga kepercayaan publik. Sementara itu, dari sisi t
ata kelola, perusahaan perlu menerapkan prinsip good corporate governance untuk
mendukung praktik bisnis yang etis dan transparan. Penerapan ESG tidak hanya m
embantu perusahaan dalam menciptakan inovasi dan meningkatkan daya saing, tet
api juga mengurangi potensi risiko di masa mendatang (Putri & Bayangkara, 202
5).
sial, dan tata kelola perusahaan. Prinsip dasarnya adalah “tidak menimbulkan keru
hmatov (2022) ESG menjadi acuan utama dalam menilai apakah suatu investasi m
emenuhi mandat tersebut. Pengungkapan ESG yang biasa dinilai dalam bentuk sk
or ESG bersifat sukarela dan menjadi alat penting untuk menunjukkan komitmen
an ESG berkembang pesat dan banyak digunakan oleh konsultan bisnis di seluruh
dunia. Skor ini digunakan oleh investor dan pihak berkepentingan lainnya untuk
menilai potensi risiko dan peluang suatu perusahaan (Alareeni & Hamdan, 2020).
Salah satu penyedia data ESG terkemuka adalah Refinitiv Eikon, yang meni
lai kinerja ESG berdasarkan 186 indikator utama yang dianggap relevan untuk ber
a dan digunakan untuk menyusun skor ESG perusahaan. Skor ini mencerminkan k
rdasarkan informasi yang tersedia secara public (Dobrick, Klein, & Zwergel, 202
3). Menurut Dobrick (2023) penilaian ESG ada tiga, yaitu Environmental terdapat
tiga kategori, yaitu penggunaan sumber daya (resource use), emisi (emission), dan
inovasi (innovation). Sementara itu, untuk skor social terdapat empat kategori pen
ilaian, yaitu tenaga kerja (workforce), hak asasi manusia (human rights), tanggung
jawab kepada masyarakat (community), dan tanggung jawab produk (product resp
onsibility). Selanjutnya pada skor governance terdapat tiga kategori penilaian, yait
Nilai perusahaan merupakan salah satu fokus utama bagi investor karena me
i sangat erat kaitannya dengan harga saham, di mana harga saham mencerminkan
ekspektasi pasar terhadap kinerja dan potensi perusahaan tersebut (Prabawati & R
penilaian publik secara langsung terhadap kinerja aktual perusahaan. Brigham dan
ilai sekarang dari arus kas yang dihasilkan oleh aset perusahaan selama periode w
g baik dan pengambilan keputusan jangka panjang yang bertujuan untuk memaksi
dengan orientasi jangka panjang guna meningkatkan nilai perusahaan serta memb
erikan keuntungan maksimal kepada para pemegang saham (Prabawati & Rahma
wati, 2022). Perusahaan publik, manajer dan karyawan bertindak atas nama peme
gang saham, sehingga mereka memiliki tanggung jawab untuk menjalankan kebija
kan yang mendukung peningkatan nilai pemegang saham (Brigham, 2016). Invest
or cenderung memilih perusahaan yang memiliki kinerja dan nilai yang baik. Harg
a saham yang tinggi tidak hanya menunjukkan nilai perusahaan yang besar, tetapi
juga membangun kepercayaan pasar terhadap stabilitas dan potensi kinerja perusa
haan ke depan. Karena itu, nilai perusahaan sering dijadikan sebagai tolok ukur ut
ama bagi investor, sebab semakin tinggi harga saham perusahaan, maka semakin t
alam pergerakan harga saham. Oleh karena itu, manajer harus mempertimbangkan
(Brigham & Houston, 2019). Nilai perusahaan, dapat di ukur dengan beberapa me
tode yang dapat digunakan, salah satunya adalah rasio Tobin’s Q. Konsep ini dipe
rkenalkan oleh peraih Nobel asal Amerika Serikat, James Tobin. Tobin’s Q meng
gambarkan perbandingan antara nilai pasar aset perusahaan dengan biaya penggan
tiannya (Siagian & Ningrum, 2019). Rasio ini dipandang relevan dalam mengesti
masi nilai perusahaan secara adil karena mencakup berbagai komponen seperti hut
ang, modal saham, aset perusahaan, saham biasa, dan ekuitas (Prabawati & Rahm
awati, 2022). Selain itu, Tobin’s Q juga memberikan gambaran mengenai efektivit
as dan efisiensi perusahaan dalam memanfaatkan seluruh sumber daya yang dimili
kinya, termasuk aset berwujud dan tidak berwujud yang telah terbentuk dalam pro
Market value atau nilai pasar merupakan nilai total saham suatu perusahaan
yang diperdagangkan di pasar saham pada waktu tertentu. Nilai ini mencerminkan
persepsi investor terhadap kinerja dan prospek perusahaan, sehingga menjadi indi
kator penting dalam menilai baik buruknya suatu perusahaan. Berbeda dengan nila
i buku yang didasarkan pada catatan akuntansi internal perusahaan, market value
ditentukan oleh harga saham yang terbentuk di bursa, hasil interaksi antara permin
taan dan penawaran pasar (Samudra & Ardini, 2020). Horngren et al. (2012) menj
elaskan bahwa nilai pasar suatu saham sangat dipengaruhi oleh laba bersih, posisi
ntara itu, menurut Ratnasari dan Astuti (2014), market value merupakan nilai kese
luruhan saham yang terbentuk di pasar dalam periode tertentu. Lubis (2024) mena
mbahkan bahwa harga saham di pasar, yang merupakan hasil kesepakatan pelaku
Menurut Jogiyanto (2015:188), market value adalah harga saham yang terbe
ntuk di pasar saham pada suatu waktu tertentu yang mencerminkan interaksi antar
a penawaran dan permintaan. Market value berbeda dengan nilai buku (book valu
tara itu, Horngren et al. (2013:28) menyatakan bahwa market value merupakan ha
rga yang dapat digunakan untuk membeli atau menjual satu lembar saham, yang n
ilainya bervariasi tergantung pada laba perusahaan, kondisi keuangan, dan prospe
k masa depan perusahaan. Market value dipandang sebagai refleksi publik terhada
p reputasi, kredibilitas, dan kinerja perusahaan secara aktual. Market value diguna
kan untuk mengetahui nilai riil suatu aset perusahaan yang tercermin melalui mek
anisme pasar. Secara umum, perusahaan dengan market value yang besar cenderu
as, dan prospek yang lebih baik dibandingkan perusahaan dengan market value ya
ng kecil.
san investasi karena nilai pasar yang tinggi menunjukkan bahwa perusahaan diang
gap sehat dan memiliki prospek yang baik. Sebaliknya, nilai pasar yang rendah da
pat menjadi sinyal adanya masalah dalam operasional perusahaan atau ketidakpast
ian prospek bisnis di masa depan (Ratnasari & Astuti, 2014). Market value dapat
diukur melalui beberapa pendekatan. Salah satu ukuran yang paling umum diguna
kan dalam penelitian keuangan adalah Tobin's Q. Tobin's Q pertama kali diperken
alkan oleh James Tobin dan didefinisikan sebagai perbandingan antara nilai pasar
aset perusahaan dengan nilai pengganti (replacement cost) dari aset tersebut. Rasi
o ini digunakan untuk menilai apakah suatu perusahaan dinilai terlalu tinggi atau t
sar menghargai perusahaan dibandingkan dengan nilai asetnya. Nilai Tobin’s Q >
1 menunjukkan bahwa pasar menilai perusahaan lebih tinggi daripada nilai buku a
setnya, yang bisa diartikan sebagai sinyal positif terhadap prospek perusahaan. Se
baliknya, jika Tobin’s Q < 1, maka pasar menilai perusahaan lebih rendah dari nil
ai bukunya. Selain Tobin’s Q, indikator lain yang juga sering digunakan untuk me
ngukur market value adalah Price to Book Value (PBV) dan Price to Earnings Rat
Cash holdings atau persediaan kas di tangan adalah uang tunai yang dimiliki
perusahaan dan termasuk dalam kategori aset lancar. Kas ini sangat penting untuk
r gaji karyawan, pembelian bahan baku, serta pengeluaran rutin lainnya (Fina, 202
0). Perusahaan perlu memiliki jumlah kas yang optimal tidak terlalu banyak, tetap
i juga tidak terlalu sedikit. Jika jumlah kas terlalu sedikit, maka perusahaan berisik
ewajiban jangka pendek yang harus segera dibayar (Alhazami et al., 2024). Sebali
knya, jika perusahaan menyimpan kas dalam jumlah yang terlalu besar, hal ini jug
a tidak efisien karena dana tersebut menjadi menganggur (idle cash) dan tidak me
nghasilkan keuntungan apa pun. Selain itu, risiko penurunan nilai uang karena infl
butuhan mendadak lainnya (Saragih, 2016). Menurut teori Trade-off Theory, perus
ahaan harus menyeimbangkan antara manfaat memegang kas sebagai alat likuidita
s dengan biaya peluang dari dana yang tidak diinvestasikan. Sementara menurut P
ecking Order Theory, perusahaan lebih memilih menggunakan kas internal terlebi
h dahulu sebelum mencari pembiayaan eksternal karena kas internal dianggap lebi
eynes dalam Ali et al. (2016), terdapat tiga motif utama perusahaan dalam melaku
kan cash holding. Pertama, transaction motive, yaitu kas yang ditahan untuk mem
enuhi kebutuhan arus kas masuk dan keluar dalam jangka pendek. Kedua, precaut
ionary motive, yang menggambarkan sikap perusahaan dan rumah tangga menaha
n kas sebagai persiapan menghadapi kewajiban di masa depan yang tidak bisa dipr
ediksi dengan pasti saat ini. Ketiga, speculative motive, yaitu kas yang disimpan u
ntuk mengambil peluang terkait kemungkinan kenaikan suku bunga di masa depa
dalam jumlah besar dengan harga yang lebih murah di masa depan.
Cash holding juga memiliki kelemahan karena kas merupakan bentuk aset y
ang paling kurang menguntungkan. Hal ini dikarenakan nilai uang saat ini berbeda
dengan nilai uang di masa depan, yang dikenal sebagai time value of money (nilai
waktu dari uang). Jika perusahaan menyimpan sejumlah besar kas tanpa menggun
akannya, maka jumlah kas tersebut tetap sama, bahkan nilainya bisa menurun diba
ndingkan jika dana tersebut diinvestasikan pada aset riil. Konsep time value of mo
ney mengacu pada prinsip bahwa menerima uang sekarang lebih menguntungkan
dibandingkan menerima uang di kemudian hari. Uang yang tersedia saat ini bisa d
Temuan terdahulu mengenai ESG ini biasa berfokus dalam keterkaitan pada
dua faktor penting, firma performance, serta market value dengan cash holdings: b
erikut ini penelitian terdahulu yang memjadi pedoman temuan ini ialah:
1. Ahmed, O., & Khalaf, B. A. (2025). The impact of ESG on firm value:
The moderating role of cash holdings. Heliyon, 11(2). Makalah ini mene
liti apakah kinerja Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola (ESG) berdampa
ari 27 negara Uni Eropa, sampel komprehensif yang terdiri dari 1.144 pe
signifikan dari uji Hausman, regresi efek tetap telah dianalisis. Hasilnya
lah untuk mengikuti prinsip dan pedoman ESG dan menyimpan lebih ba
nyak kas karena hal ini akan meningkatkan nilai perusahaan secara subst
ansial. Hasil kami kuat karena regresi Tobit memberikan hasil yang seru
lah ini, menguji pengaruh skor pengungkapan ESG terhadap kinerja per
usahaan yang terdaftar di Bursa Efek Nasional (BNE). Studi ini menggu
nakan 167 perusahaan sampel dari tahun 2010 hingga 2020. Kami meng
(ROA), laba atas ekuitas (ROE), Tobin's Q, dan rasio Harga Laba (rasio
resi data panel dinamis untuk menguji pengaruh pengungkapan ESG ter
eberlanjutan.
3. Junius, D., Adisurjo, A., Rijanto, Y. A., & Adelina, Y. E. (2020). The im
ki dampak kinerja ESG terhadap kinerja perusahaan dan nilai pasar. Tot
digunakan, nilai pasar. Temuan dalam penelitian ini adalah tidak ada pe
ngaruh yang signifikan dari Skor ESG terhadap Kinerja Perusahaan dan
Nilai Pasar karena Skor ESG belum menjadi bagian dari pengukuran kin
ffect dengan periode lag hanya satu tahun, dan juga jumlah perusahaan y
ata sekunder, yang diperoleh dari laporan tahunan dan laporan keberlanj
perusahaan.
5. Xaviera, A., Febrianto, R., Widiastuty, E., & Iswardi, I. (2024). ESG, Fi
rm Value, and Life Cycle: Evidences from South East Asia. Jurnal Dina
mika Akuntansi dan Bisnis, 11(2), 331-334. Studi ini menyelidiki dampa
rtimbangkan fase perusahaan dalam siklus hidup. Sampel terdiri dari per
A). Data dikumpulkan dari Refinitiv Eikon Database, dengan sampel dit
uhi nilai perusahaan hanya ketika perusahaan berada dalam tahap matan
g, sementara hubungan campuran diamati ketika dimensi ESG individua
enelitian ini adalah untuk menguji dampak kinerja ESG dan subkompon
den yang digunakan dalam penelitian ini adalah kinerja perusahaan yang
rdiri dari 375 perusahaan yang memiliki skor ESG pada database Bloom
ive sampling. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini a
sil empiris penelitian ini menunjukkan bahwa kinerja ESG tidak berdam
pak pada kinerja perusahaan dengan data lengkap dan sebelum Covid-19.
Kinerja ESG memiliki dampak positif pada ROA dan ROE selama Covi
d-19 Studi ini juga menemukan bahwa tidak ada hubungan ukuran dewa
RTA). Praktik tata kelola perusahaan yang baik harus mengatasi isu-isu
penting seperti faktor lingkungan, sosial, dan ekonomi yang saat ini men
(ARDL) dan analisis data menggunakan Eviews versi 10. Penelitian ini
mengevaluasi efek jangka pendek dan jangka panjang ESG terhadap kin
unting, 13(3). Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh ESG Dis
gunakan leverage dan firm size sebagai variabel kontrol. Populasi dalam
II70 (Jakarta Islamic Index 70) secara berturut-turut selama periode 201
ifikan terhadap Nilai Pasar, dan Risiko Lingkungan Sektor Industri mele
nggal dari tren global ESG. Penelitian ini menganalisis pengaruh ESG te
unakan data 14 perusahaan JII dan CGPI (2013–2023). Hasil regresi dat
ikan terhadap nilai pasar dan ROA, sementara aspek sosial tidak berpeng
an nilai pasar. ROA memoderasi hubungan sosial dan tata kelola terhada
p nilai pasar, tetapi tidak pada aspek lingkungan. Temuan ini menegaska
10. AlHares, A., AlEmadi, N., Abu-Asi, T., & Al Abed, R. (2023). Environ
an ESG, dan khususnya 5 negara dari Organisasi untuk Kerja Sama dan
engan kinerja perusahaan yang lebih tinggi dan nilai kas yang positif. M
kan, investor, dan organisasi bisnis. Yang terpenting, studi kami mengun
Table 2.1
Penelitian Terdahulu
Metode Peneliti Variabel Hasil
No Nama, Tahun, Judul
an Penelitian Penelitian
Ahmed, O., & Khalaf, Analisis regresi d Variable Independen: Hasil penelitian menunjukkan bahw
B. A.(2025). The impa ata panel ESG a semakin efisien dan efektif kinerj
ct of ESG on firm valu a ESG, semakin tinggi nilai perusah
e: The moderating role Variable dependen : aan. Selain itu, kepemilikan kas me
1 of cash holdings. firm value mengaruhi nilai pasar secara positif,
yang menunjukkan bahwa ketika pe
Variable moderasi : rusahaan memiliki cadangan kas ya
cash holdings. ng tinggi, nilai pasar mereka menin
gkat.
Veeravel, V., Muruges Analisis regresi d Variable Independen: Hasil studi menunjukkan hubungan
an, V. P., & Narayana ata panel ESG positif antara pengungkapan ESG d
murthy, V.(2024). Doe an kinerja perusahaan. Hal ini menu
2 s ESG disclosure reall Variable dependen : njukkan bahwa keinginan perusaha
y influence the firm pe firm value an untuk meningkatkan kinerja mer
rformance? Evidence f eka perlu lebih memperhatikan pen
rom India. gungkapan keberlanjutan.
Junius, D., Adisurjo, analisis regresi b Variable Independen: Temuan dalam penelitian ini adalah
A., Rijanto, Y. A., & erganda ESG tidak ada pengaruh yang signifikan
Adelina, Y. E.(2020). dari Skor ESG terhadap Kinerja Per
3 The impact of ESG per Variable dependen : usahaan dan Nilai Pasar karena Sko
formance to firm perfo firm performance, mar r ESG belum menjadi bagian dari p
rmance and market val ket value. engukuran kinerja perusahaan.
ue.
4 Lestari, T. U., & Hasa analisis regresi d Variable Independen: Temuan menunjukkan bahwa peng
nah, S. I.(2024). The I ata panel ESG Disclosure, Hedg ungkapan ESG tidak memiliki dam
mpact of ESG Disclos ing Policy, Cash Holdi pak signifikan terhadap nilai Perusa
ure, Hedging Policy, a ng haan. Kebijakan lindung nilai berda
nd Cash Holding on Fi mpak positif terhadap nilai Perusah
rm Value. Variable dependen : aan. Dan kepemilikan kas tidak me
Firm Value. nunjukkan pengaruh yang signifika
n terhadap nilai perusahaan.
Xaviera, A., Febrianto, analisis regresi b Variable Independen: Studi ini menemukan bahwa kinerja
R., Widiastuty, E., & I erganda ESG Disclosure, Hedg ESG terkait dengan nilai perusahaa
swardi, I.(2024). ESG, ing Policy, Cash Holdi n tahun berikutnya di perusahaan-p
Firm Value, and Life ng erusahaan SEA. Kinerja ESG meme
5 Cycle: Evidences from ngaruhi nilai perusahaan hanya keti
South East Asia. Variable dependen : ka perusahaan berada dalam tahap
Firm Value. matang, sementara hubungan camp
uran diamati ketika dimensi ESG in
dividual diuji.
Tanjaya, F., & Ratmon analisis regresi b Variable Independen: Berdasarkan hasil empiris penelitia
o, D.(2024). Pengaruh erganda Environmental, Social, n ini menunjukkan bahwa kinerja E
Environmental, Social, dan Governance (ES SG tidak berdampak pada kinerja p
dan Governance (ES G) erusahaan dengan data lengkap dan
G) terhadap kinerja per sebelum Covid-19. Kinerja ESG me
6 usahaan dengan variab Variable dependen : miliki dampak positif pada ROA da
el moderasi board siz kinerja perusahaan n ROE selama Covid-19 Studi ini j
e. uga menemukan bahwa tidak ada h
Variable moderasi : ubungan ukuran dewan antara kiner
cash holdings. ja ESG dan kinerja perusahaan.
board size.
Sari, S. R.(2025). Peng Metode Auto Re Variable Independen: Hasilnya menunjukkan bahwa pela
aruh Environmental, S gressive Distribu Environmental, Social, poran ESG yang baik secara signifi
ocial, and Governance ted Lag (ARDL) and Governance (ES kan meningkatkan kinerja perusaha
7 (ESG) Terhadap Firm G) an, menekankan pentingnya penera
performance: Analisis pan praktik ESG dalam strategi bisn
Jangka Pendek Dan Ja Variable dependen : is untuk perusahaan di Indonesia.
ngka Panjang Firm performance
Audito, J., & Yuyetta, MRA (Moderate Variable Independen: Hasil penelitian menunjukkan bahw
E. N. A.(2024). Pengar d Regression An Environment, Social, a Pengungkapan ESG memiliki pen
uh Environment, Socia alysis). Governance (Esg) Dis garuh positif signifikan terhadap Ni
l, Governance (Esg) D closure lai Pasar, dan Risiko Lingkungan S
isclosure Terhadap Ma ektor Industri melemahkan hubunga
8
rket value Dengan Env Variable dependen : n antara Pengungkapan ESG dan Ni
ironmental Risk Of In Market Value lai Pasar.
dustry Sector Sebagai
Variabel Moderasi Variable moderasi : E
nvironmental Risk
9 Nabiela, L. F. A.(202 analisis regresi d Variable Independen: Hasil regresi data panel menunjukk
5). Analisis Pengaruh ata panel Environmental, Social, an bahwa aspek lingkungan berdam
Environmental, Social, Governance pak negatif signifikan terhadap nilai
Governance Terhadap pasar dan ROA, sementara aspek so
Company Market valu Variable dependen : sial tidak berpengaruh. Tata kelola
e Yang Terdaftar Pada Company Market valu berpengaruh positif signifikan terha
Corporate Governance e dap profitabilitas dan nilai pasar. R
Perception Index (CG OA memoderasi hubungan sosial d
PI) Periode 2013–202 Variabel moderasi : Co an tata kelola terhadap nilai pasar, t
3: Kinerja Keuangan S rporate Governance Pe etapi tidak pada aspek lingkungan.
ebagai Variable Interv rception Index Temuan ini menegaskan pentingnya
ening governance dalam keberlanjutan pe
rusahaan.
AlHares, A., AlEmadi, Analisi dengan b Variable Independen: Hasilnya menunjukkan ada hubung
N., Abu-Asi, T., & Al asis data Refiniti Environmental, Social, an negatif yang signifikan antara pe
Abed, R.(2023). Envir v Eikon and Governance disclo ngungkapan ESG dan kepemilikan
10 onmental, Social, and sure kas pada tahap pengenalan, pertum
Governance disclosure buhan, dan goncangan/penurunan.
impact on cash holdin Variable dependen :
gs in OECD countries. cash holdings
sumber daya yang berkelanjutan. Pengelolaan lingkungan yang baik tidak hanya
merupakan bentuk tanggung jawab sosial perusahaan tetapi juga dapat meningkat
kan kinerja perusahaan (firm performance) secara finansial dan non-finansial (Hor
ngren et al., 2012). Aspek sosial dalam kerangka ESG mencakup berbagai aktivita
pemangku kepentingan lainnya. Aspek ini menjadi elemen penting dalam memba
ngun citra perusahaan yang positif dan menjaga hubungan harmonis dengan berba
gai pihak eksternal maupun internal. Aspek governance dalam ESG (Environment
al, Social, Governance) merujuk pada mekanisme, proses, dan kebijakan yang me
ngatur tata kelola perusahaan agar berjalan secara transparan, akuntabel, dan beret
ika. Tata kelola perusahaan yang baik sangat berperan dalam meningkatkan kinerj
usan yang tepat, dan peningkatan kepercayaan investor (Horngren et al., 2012).
Penelitian terdahulu menunjukkan adanya hubungan positif antara pengelola
Firm performance.
sumber daya yang berkelanjutan. Pengelolaan lingkungan yang baik tidak hanya
merupakan bentuk tanggung jawab sosial perusahaan tetapi juga dapat meningkat
kan kinerja perusahaan (firm performance) secara finansial dan non-finansial (Hor
ngren et al., 2012). Menurut Samudra & Ardini (2020), persepsi pasar terhadap ki
nerja perusahaan juga dipengaruhi oleh komitmen perusahaan dalam aspek lingku
ngan. Hal ini karena investor cenderung memberikan nilai lebih kepada perusahaa
asi dan regulasi yang semakin ketat. Nilai pasar (market value) perusahaan yang ti
nggi sering kali mencerminkan keyakinan investor bahwa perusahaan mampu bert
ahan dan berkembang dalam jangka panjang dengan memperhatikan aspek lingku
ngan.
ng memiliki strategi operasional yang lebih efisien dan inovatif, seperti pengguna
an teknologi ramah lingkungan dan penghematan sumber daya. Hal ini dapat men
Sejalan dengan itu, cash holdings yang dimiliki perusahaan juga dipengaruhi oleh
an et al., 2022).
raktik ramah lingkungan memiliki kinerja keuangan yang lebih baik dan nilai pasa
r yang lebih tinggi dibanding perusahaan yang tidak memperhatikan aspek ini (Ni
Aspek sosial dalam kerangka ESG mencakup berbagai aktivitas dan tanggun
pentingan lainnya. Aspek ini menjadi elemen penting dalam membangun citra per
usahaan yang positif dan menjaga hubungan harmonis dengan berbagai pihak ekst
ernal maupun internal. Kinerja sosial yang baik dapat mempengaruhi firm perfor
a perusahaan tidak hanya ditentukan oleh kondisi internal, tetapi juga oleh perseps
i pasar dan hubungan sosial yang kuat. Hal ini diperkuat oleh Ratnasari dan Astuti
(2014) yang menjelaskan bahwa persepsi positif dari publik terhadap aspek sosial
perusahaan mampu meningkatkan nilai pasar dan kepercayaan investor, yang seca
an, aspek sosial dapat berkontribusi pada peningkatan efisiensi operasional dan pr
ofitabilitas.
Cash holdings yang dimiliki perusahaan menjadi faktor penting dalam mend
wab sosial perusahaan (CSR), serta dukungan terhadap komunitas, tanpa menggan
ggu kelancaran operasional sehari-hari (Fina, 2020; Saragih, 2016). Teori Trade-o
harus mengelola kas secara optimal agar dapat memenuhi kebutuhan sosial sekali
ang mampu mengelola aspek sosial dengan baik biasanya menunjukkan kinerja ya
ng lebih baik melalui peningkatan produktivitas dan reputasi yang positif di mata
pasar (Ratnasari & Astuti, 2014; Ningrum, 2021). Dengan dukungan kas yang me
madai, aspek sosial ini dapat diperkuat sehingga berdampak positif pada firm perf
k pada mekanisme, proses, dan kebijakan yang mengatur tata kelola perusahaan a
gar berjalan secara transparan, akuntabel, dan beretika. Tata kelola perusahaan ya
ce) melalui pengendalian risiko, pengambilan keputusan yang tepat, dan peningkat
an kepercayaan investor (Horngren et al., 2012). Nilai pasar perusahaan (market v
alue) dan kinerja finansialnya sangat dipengaruhi oleh reputasi dan kredibilitas ya
ng dibangun melalui governance yang baik (Ratnasari & Astuti, 2014; Lubis, 202
tensi konflik kepentingan, fraud, dan penyimpangan lain yang dapat merugikan pe
rusahaan. Hal ini selaras dengan pandangan Jogiyanto (2015) yang menyatakan ba
hwa market value mencerminkan interaksi penawaran dan permintaan yang dipen
dings secara optimal. Menurut teori Trade-off dan Pecking Order (Saragih, 2016;
Sutarman et al., 2022), perusahaan dengan governance yang kuat cenderung memi
liki pengelolaan kas yang efisien sehingga dapat mendukung kebutuhan operasion
rnance yang baik memiliki kinerja yang lebih stabil dan nilai pasar yang lebih ting
gi dibanding perusahaan dengan governance yang buruk (Ratnasari & Astuti, 201
4; Ningrum, 2021). Oleh karena itu, governance tidak hanya berperan langsung da
lam meningkatkan firm performance, tetapi juga dapat berperan melalui mekanis
alue
Aspek Environmental dalam praktik Environmental, Social, and Governanc
energi, pengelolaan limbah, dan konservasi sumber daya alam. Aspek Social dala
m dimensi ESG mencakup komitmen dan tanggung jawab sosial perusahaan terha
syarakat luas. Praktik sosial ini meliputi perlakuan adil terhadap tenaga kerja, hak
asasi manusia, kesehatan dan keselamatan kerja, hubungan komunitas, serta keber
agaman dan inklusi. Aspek Governance dalam indikator ESG berfokus pada siste
najemen, struktur dewan direksi, hak pemegang saham, pengendalian internal, sert
an bahwa perusahaan dengan skor ESG yang tinggi cenderung memiliki nilai pasa
Market Value.
energi, pengelolaan limbah, dan konservasi sumber daya alam. Praktik lingkungan
yang baik tidak hanya berkaitan dengan keberlanjutan (sustainability) tetapi juga b
erdampak pada persepsi pasar dan nilai perusahaan (market value). Menurut Samu
dra dan Ardini (2020), perusahaan yang memiliki komitmen tinggi terhadap lingk
ungan akan mendapatkan kepercayaan lebih dari investor karena dianggap mampu
mengelola risiko jangka panjang secara efektif, termasuk risiko iklim dan regulasi.
Komitmen terhadap lingkungan juga menjadi sinyal positif kepada pasar tentang k
asar.
kkan bahwa perusahaan dengan skor ESG yang tinggi cenderung memiliki nilai p
asar (market value) yang lebih besar. Hal ini disebabkan oleh persepsi investor ya
ggap memiliki prospek pertumbuhan yang lebih stabil dan reputasi yang baik. Sel
ain itu, Lubis (2024) menambahkan bahwa dalam konteks pasar keuangan yang se
makin terintegrasi dengan isu keberlanjutan, aspek Environmental tidak lagi diang
gap sebagai beban biaya tambahan, melainkan sebagai investasi strategis untuk m
eningkatkan daya saing jangka panjang. Maka dari itu, implementasi aspek lingku
ngan yang efektif diyakini mampu meningkatkan valuasi perusahaan di mata pasa
engan price to book value (PBV) dan market capitalization. Hal ini mengindikasik
an, komunitas, dan masyarakat luas. Praktik sosial ini meliputi perlakuan adil terh
adap tenaga kerja, hak asasi manusia, kesehatan dan keselamatan kerja, hubungan
kan memperoleh legitimasi dari masyarakat jika mereka menjalankan praktik sosi
al yang baik, yang pada akhirnya meningkatkan reputasi dan persepsi positif di m
ata investor (Suchman, 1995). Dalam konteks ini, pasar modal memandang perusa
haan yang memiliki tanggung jawab sosial yang tinggi sebagai entitas yang lebih s
tabil dan memiliki risiko lebih rendah dalam jangka panjang, sehingga akan berda
sosial memiliki pengaruh positif terhadap nilai pasar karena dianggap mencermink
n pasar. Praktik sosial yang kuat memperkuat citra perusahaan dan menumbuhkan
ahaan tersebut. Temuan serupa juga disampaikan oleh Samudra dan Ardini (2020)
yang menjelaskan bahwa perusahaan yang menerapkan aspek sosial secara konsis
ten dan transparan dapat menarik minat investor institusional, karena mereka cend
rutama pada perusahaan yang melakukan praktik tanggung jawab sosial secara sist
ematis dan terdokumentasi dalam laporan keberlanjutan. Hal ini membuktikan bah
wa dimensi sosial menjadi pertimbangan penting dalam membentuk nilai pasar di
Aspek Governance dalam indikator ESG berfokus pada sistem tata kelola pe
omite audit yang independen. Tata kelola perusahaan yang baik akan meningkatka
awasan internal yang kuat, dan kepatuhan terhadap regulasi serta etika bisnis. Ber
dasarkan teori agensi, tata kelola perusahaan yang efektif berperan penting dalam
& Meckling, 1976). Ketika praktik governance diterapkan secara optimal, seperti t
ransparansi laporan keuangan, dewan komisaris yang independen, serta audit yang
an market value.
vernance memiliki pengaruh signifikan dan positif terhadap nilai pasar perusahaan.
gan dan stabilitas perusahaan yang menerapkan tata kelola yang baik.
Selanjutnya, Samudra dan Ardini (2020) menemukan bahwa perusahaan dengan ti
ngkat tata kelola tinggi cenderung menarik minat investor jangka panjang karena
dianggap lebih tahan terhadap krisis, lebih mampu mengelola risiko strategis, dan
itu, Lubis (2024) menjelaskan bahwa investor saat ini semakin memperhatikan as
pek tata kelola dalam pengambilan keputusan investasi. Tata kelola yang lemah se
ang berdampak negatif terhadap nilai pasar saham. Berikut hipotesis penelitian ini
adalah
pek sosial dalam konteks Environmental, Social, and Governance (ESG) mencaku
masyarakat, serta komitmen terhadap hak asasi manusia dan keadilan sosial. Aspe
k governance dalam kerangka ESG mencakup sistem tata kelola perusahaan yang
ng memiliki tingkat cash holdings yang cukup dapat menjalankan program lingku
ngan lebih fleksibel dan efisien, sehingga dapat meningkatkan kinerja perusahaan
an loyalitas konsumen.
khirnya dapat memengaruhi struktur keuangan dan alokasi kas perusahaan. Cash
holdings (simpanan kas) memainkan peran penting sebagai buffer keuangan yang
tingkat cash holdings yang cukup dapat menjalankan program lingkungan lebih fl
eksibel dan efisien, sehingga dapat meningkatkan kinerja perusahaan (firm perfor
mance) melalui peningkatan reputasi, efisiensi biaya jangka panjang, dan loyalitas
konsumen.
n tingkat cash holdings yang tinggi memiliki fleksibilitas dalam membiayai proye
ional. Triyono dan Fadila (2023), yang menemukan bahwa environmental perform
ance akan lebih berdampak signifikan terhadap firm performance apabila perusaha
an memiliki cadangan kas yang mencukupi. Selain itu, Hasyim et al. (2021) dalam
rm performance.
2.7.11 Peran Cash holdings dalam Memoderasi Pengaruh Aspek Social terha
n dengan masyarakat, serta komitmen terhadap hak asasi manusia dan keadilan so
sial. Penerapan kebijakan sosial yang baik dapat meningkatkan reputasi perusahaa
Studi oleh Ferreira dan Vilela (2004) menunjukkan bahwa perusahaan deng
an cadangan kas yang besar memiliki kapasitas lebih tinggi untuk merespons pelu
ang dan tekanan eksternal. Selain itu, Nguyen et al. (2021) mengungkapkan bahw
jawab sosial secara konsisten dan tidak terputus, yang pada akhirnya berdampak p
ositif pada kinerja perusahaan. Dengan demikian, cash holdings tidak hanya mend
ukung pelaksanaan aspek sosial, tetapi juga berperan sebagai mekanisme moderas
H11: Cash holdings memoderasi pengaruh aspek Social terhadap Firm perfo
rmance.
Aspek governance dalam kerangka ESG mencakup sistem tata kelola perusa
efektif, serta mekanisme pengawasan yang baik. Governance yang kuat mampu m
bahwa sumber daya perusahaan, termasuk kas, dikelola secara optimal. Cash hold
ings memainkan peran strategis sebagai alat yang dapat digunakan secara lebih efi
sien dalam organisasi yang memiliki sistem tata kelola yang baik. Perusahaan den
gan tata kelola yang efektif cenderung lebih mampu menghindari pemborosan kas
dan menggunakan dana yang tersedia untuk investasi produktif yang dapat mendo
ilikan kas dalam jumlah besar dapat menimbulkan konflik antara manajer dan pem
ilik, kecuali jika ada pengawasan tata kelola yang kuat. Sementara itu, Dittmar, M
e yang baik mampu mengelola kas dengan lebih efektif, sehingga berdampak posit
if terhadap firm performance. Hal ini mengindikasikan bahwa cash holdings tidak
hanya berfungsi sebagai cadangan likuiditas, tetapi juga menjadi instrumen yang
am kerangka tata kelola yang baik. Berikut hipotesis penelitian ini adalah
performance.
cara lebih adaptif, yang dapat meningkatkan persepsi investor terhadap perusahaa
lolaan limbah yang bertanggung jawab, efisiensi energi, serta konservasi sumber d
aya alam. Selain itu, Almeida, Campello, dan Weisbach (2004) menunjukkan bah
perusahaan memiliki tata kelola lingkungan yang kuat dan didukung oleh likuidita
s yang memadai, investor cenderung merespons positif, yang tercermin pada peni
ngkatan nilai pasar perusahaan. Aspek sosial dalam konteks keberlanjutan perusah
k asasi manusia, berkontribusi pada komunitas lokal, serta menjaga hubungan bai
atakan bahwa likuiditas internal seperti kas memberikan ruang bagi perusahaan un
tuk bertindak cepat dalam situasi yang membutuhkan respons sosial. Lebih lanjut,
Ferrell, Liang, dan Renneboog (2016) menegaskan bahwa perusahaan yang memil
iki komitmen sosial tinggi dan didukung oleh posisi kas yang kuat cenderung me
Aspek governance mengacu pada sistem tata kelola perusahaan yang baik, t
dap hak-hak pemegang saham. Governance yang baik menjadi faktor kunci dalam
d, Mansi, dan Maxwell (2008) menyatakan bahwa perusahaan dengan tata kelola
yang baik lebih mampu mengelola kelebihan kas untuk menghasilkan nilai tamba
h. Sementara itu, menurut Dittmar dan Mahrt-Smith (2007), nilai kas lebih besar p
ada perusahaan dengan governance yang kuat karena investor percaya bahwa kas t
ersebut akan digunakan secara produktif. Berikut hipotesis penelitian ini adalah
cara lebih adaptif, yang dapat meningkatkan persepsi investor terhadap perusahaa
lolaan limbah yang bertanggung jawab, efisiensi energi, serta konservasi sumber d
aya alam. Perusahaan yang aktif dalam menerapkan prinsip lingkungan yang baik
cenderung memperoleh kepercayaan dan persepsi positif dari investor karena men
unjukkan orientasi jangka panjang dan kepedulian terhadap isu global. Namun, im
sial yang cukup besar. Peran cash holdings menjadi penting, karena menyediakan
isiatif lingkungan secara cepat dan strategis, yang pada akhirnya memperkuat dam
Menurut Opler et al. (1999), perusahaan dengan tingkat kas yang tinggi me
miliki kemampuan untuk mengejar peluang investasi tanpa harus bergantung pada
pembiayaan eksternal, terutama dalam konteks yang sensitif seperti proyek lingku
ngan. Selain itu, Almeida, Campello, dan Weisbach (2004) menunjukkan bahwa k
ahaan memiliki tata kelola lingkungan yang kuat dan didukung oleh likuiditas yan
arket Value.
2.7.15 Peran Cash holdings dalam Memoderasi Pengaruh Aspek Social terha
g jawab sosial tanpa gangguan finansial, yang pada gilirannya berdampak pada pe
ningkatan nilai pasar. Aspek sosial dalam konteks keberlanjutan perusahaan menc
anusia, berkontribusi pada komunitas lokal, serta menjaga hubungan baik dengan
pemangku kepentingan. Praktik sosial yang baik dapat meningkatkan reputasi per
njang yang positif dengan masyarakat dan karyawan. Dampak positif ini pada akh
irnya akan tercermin dalam peningkatan market value perusahaan. Namun demiki
an, atau kampanye sosial perusahaan. Almeida, Campello, dan Weisbach (2004)
menyatakan bahwa likuiditas internal seperti kas memberikan ruang bagi perusaha
an untuk bertindak cepat dalam situasi yang membutuhkan respons sosial. Lebih l
anjut, Ferrell, Liang, dan Renneboog (2016) menegaskan bahwa perusahaan yang
memiliki komitmen sosial tinggi dan didukung oleh posisi kas yang kuat cenderun
g memiliki persepsi pasar yang lebih baik. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya
kepercayaan investor terhadap keberlangsungan dan kredibilitas strategi sosial per
lue.
efektif dan efisien, sehingga meningkatkan nilai pasar perusahaan. Aspek governa
nce mengacu pada sistem tata kelola perusahaan yang baik, termasuk transparansi,
g saham. Tata kelola yang efektif mampu meningkatkan kepercayaan investor dan
nce tidak hanya mengurangi konflik keagenan, tetapi juga memastikan bahwa sum
ber daya perusahaan, termasuk kas, digunakan secara bijak dan strategis untuk me
ndukung tujuan jangka panjang perusahaan. Keberadaan praktik tata kelola yang k
uat mendorong pasar untuk memberikan penilaian yang lebih positif terhadap peru
angan bagi perusahaan untuk mengambil peluang investasi atau menghadapi ketid
akpastian pasar. Namun, akumulasi kas yang tinggi juga dapat menimbulkan kekh
awatiran akan agency problem, terutama jika tidak disertai dengan tata kelola yan
g kuat. Oleh karena itu, governance yang baik menjadi faktor kunci dalam memas
tikan bahwa cash holdings tidak disalahgunakan, melainkan dikelola secara efisie
k lebih mampu mengelola kelebihan kas untuk menghasilkan nilai tambah. Semen
tara itu, menurut Dittmar dan Mahrt-Smith (2007), nilai kas lebih besar pada perus
ahaan dengan governance yang kuat karena investor percaya bahwa kas tersebut a
kan digunakan secara produktif. Berikut hipotesis penelitian ini adalah H16: Cash
nce dan Market value dengan Cash holdings sebagai variabel moderasi. Hubunga
n-hubungan yang diteliti dalam penelitian ini didasarkan pada landasan teori serta
gka pemikiran ini disusun secara sistematis untuk menggambarkan hubungan kaus
rsa Efek Indonesia (BEI) pada periode 2021-2023. Berdasarkan penjelasan tersebu
ESG
Firm Performance
Environmental (Y1)
(X1)
Social (X2)
Market Value
(Y2)
Governance
(X3)
Cash Holdings (Z)
Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran
Sumber : Ahmed (2025), Veeravel (2024), Junius (2020), Lestari (2024), Xaviera (2024), Tan
jaya (2024), Sari (2025), Audito (2024), Nabiela (2025), dan AlHares (2023).
pengaruh antar variabel yang telah dijabarkan dan gambar kerangka pikir penelitia
Firm performance pada perusahaan non finance yang terdaftardi BEI tahun
2021–2023.
H3. Aspek Social berpengaruh positif terhadap Firm performance pada perusaha
Market value pada perusahaan non finance yang terdaftardi BEI tahun 2021
–2023.
H6. Aspek Environmental berpengaruh positif terhadap Market value pada perus
H7. Aspek Social berpengaruh positif terhadap Market value pada perusahaan n
H9. Cash holdings memoderasi pengaruh aspek Environmental, Social, dan Gov
ernance terhadap Firm performance pada perusahaan non finance yang terd
erformance pada perusahaan non finance yang terdaftardi BEI tahun 2021–2
023.
H11. Cash holdings memoderasi pengaruh aspek Social terhadap Firm performan
H12. Cash holdings memoderasi pengaruh aspek Governance terhadap Firm perf
ormance pada perusahaan non finance yang terdaftardi BEI tahun 2021–202
3.
H13. Cash holdings memoderasi pengaruh aspek Environmental, Social, dan Gov
ernance terhadap Market value pada perusahaan non finance yang terdaftard
value pada perusahaan non finance yang terdaftardi BEI tahun 2021–2023.
H15. Cash holdings memoderasi pengaruh aspek Social terhadap Market value pa
lue pada perusahaan non finance yang terdaftardi BEI tahun 2021–2023.
BAB III
METODE PENELITIAN
Pendekatan penelitian ini, dengan jenis kuantitatif dengan sumber data yang
berasal dari data sekunder (Bahri & Zamzam, 2021). Data tersebut diperoleh dari l
aporan tahunan di BEI selama periode 2021 hingga 2023. Daftar perusahaan dan l
aporan tahunan didapat dari situs resmi BEI dan pengumuman Pengumuman BEI
3.2.1 Populasi
Populasi ini meliputi seluruh perusahaan non finance terdaftar di BEI dalam
g ada di Bursa Efek Indonesia (BEI) telah menunjukkan komitmen terhadap prinsi
elaporan 2023, sebanyak 873 perusahaan atau sekitar 97% dari total emiten telah
memenuhi kewajiban ini, sesuai dengan Peraturan OJK No. 51/POJK.03/2017 dan
3.2.2 Sampel
mpling, yaitu teknik penentuan sampel berdasarkan kriteria tertentu yang relevan
lity report) atau mengungkapkan informasi ESG secara lengkap selama peri
ode 2021–2023.
market value, cash holdings) tersedia secara lengkap selama tahun pengama
tan.
Bagian ini akan memberikan penjelasan dan deskripsi tentang definisi dari s
1. Variable independen
pada variabel dependen, baik secara positif maupun negatif. Variabel inde
d Governance) adalah suatu konsep yang merujuk pada tiga aspek utama k
a. Environmental,
ggunaan sumber daya, emisi, dan inovasi. Dari ketiga kategori tersebut, ter
b. Social
l dibagi menjadi empat kategori penilaian, yaitu tenaga kerja, hak asasi ma
untuk menilai skor social. Rentang nilai dari skor social berkisar dari 0 hin
gga 100. Semakin tinggi skor social, semakin baik performa sosial Perusah
aan.
c. Governance
aham, dan strategi tanggung jawab sosial perusahaan. Skor governance dih
2. Variable dependen
a. Firm performance
Firm performance atau kinerja perusahaan merupakan ukuran sejau
A dan ROE. ROA atau return on asset, adalah indikator profitabilitas yan
ugondo, 2022). ROA dapat diukur dengan rumus sebagai berikut (AlHare
s et al., 2023).
Laba Bersih
Return on Assets = x 100%
Total Aset
b. Market value
Market value atau nilai pasar adalah nilai total dari saham perusaha
3. Variable moderasi
dap variabel dependen, variable moderasi penelitian ini adalah Cash holdi
ngs (Audito & Yuyetta, 2024). Cash Holding adalah jumlah kas dan setara
kas yang dimiliki oleh perusahaan pada suatu waktu tertentu. Berfungsi se
oldings dengan:
yang diperoleh secara tidak langsung dari sumber-sumber yang telah tersedia, baik
yang dipublikasikan oleh pihak resmi maupun lembaga penyedia data keuangan.
Data sekunder dipilih karena seluruh informasi yang dibutuhkan telah tersedia dal
asi yang didapat sesuai laporan tahunan serta laporan keuangan. Objek dan sampel
penelitian mencakup perusahaan yang ada di BEI dari periode 2021-2023. Kemud
ian temuan ini menggunakan metode studi literatur yang melibatkan kajian pada j
urnal, literatur, dan buku, baik yang berskala nasional atau internasional, sebagai c
ontoh dari metode penelitian literatur terapan. Metode pengumpulan data yang dig
1. Dokumentasi
n untuk memperoleh data dan informasi dalam bentuk buku, arsip, dokumen, tu
lisan angka dan gambar yang berupa laporan serta keterangan yang dapat mend
bsite resmi perusahaan dan atau website resmi Bursa Efek Indonesia.
2. Studi Kepustakaan
uku, catatan, majalah, referensi lainnya, serta hasil penelitian sebelumnya yang
relevan, untuk mendapatkan jawaban dan landasan teori mengenai masalah yan
g akan diteliti.
tahapan sistematis untuk memperoleh data sekunder yang relevan dengan variabel
donesia (BEI) selama periode tahun 2021–2023 dan telah menerbitkan lapor
s) dan/atau dari penyedia skor ESG seperti Bloomberg, Refinitiv, atau sumb
er sekunder lainnya yang tersedia secara publik. Jika perusahaan tidak memi
liki skor ESG secara agregat, maka data diperoleh dari pengungkapan aspek
ah ditentukan.
n tahunan yang dipublikasikan di situs resmi BEI maupun situs resmi masin
liputi Return on Assets (ROA). Sementara itu, market value diukur menggu
nakan data kapitalisasi pasar (market capitalization) yang juga diambil dari l
Data cash holdings diperoleh dari laporan posisi keuangan (neraca) dengan
cara membandingkan kas dan setara kas terhadap total aset. Rasio ini diguna
Seluruh data yang telah dikumpulkan kemudian dicatat dalam tabel Excel da
i data antar tahun. Selanjutnya, data yang telah lengkap akan digunakan untu
Analisis data merupakan salah satu proses penelitian yang dilakukan setela
h semua data yang diperlukan guna memecahkan permasalahan yang diteliti sudah
diperoleh secara lengkap. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adala
h analisis kuantitatif. Teknik analisis data yang digunakan yaitu teknik perhitunga
n statistik deskriptif berupa analisis regresi data panel. Teknik pengujian hipotesis
ebagai adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum a
erti frekuensi, rata-rata, dan standar deviasi, yang memberikan deskriptif informas
Penelitian ini dengan teknis analisis yang digunakan adalah teknik analisis
regresi data panel. Menurut (Caraka, 2017) data panel adalah gabungan antara dat
a cross section dan data time series, dimana unit cross section yang sama diukur p
ada waktu yang berbeda. Analissi regresi data panel adalah analisis regresi yang di
dasarkan pada data panel untuk mengamati hubungan antara satu variabel terikat
(dependent variabel) dengan satu atau lebih variabel bebas independen variabel. R
Y =α + β 1 X 1+ β 2 X 2+ β 3 X 3+ β 3 M 1+e
Keterangan:
α = Konstanta
X₁ = Environmental (Lingkungan)
X₂ = Social (Sosial)
X₃ = Governance (Tata Kelola)
M = Cash Holdings
i = Perusahaan ke-i
eries) serta data silang (cross section), maka tidak dapat dilihat perbedaannya baik
antar individu maupun antar waktu. Data gabungan ini diperlakukan sebagai suatu
Square (OLS).
Menurut Caraka (2017) model ini mengasumsikan bahwa intersep dan koe
fisien regressor dianggap konstan untuk seluruh unit waktu. Salah satu cara untuk
memperhatikan unit cross section atau unit time series adalah dengan memasukka
a. Least Square Dummy Variable (LSDV) dapat digunakan untuk melakukan esti
Menurut Caraka (2017) pada model REM mengestimasi data panel dimana
variabel gangggan mungkin saling berhubngan antar waktu dan antar individu. M
odel random effect sering disebut juga Error Components Model (ECM) karena su
ku error memuat dua komponen yaitu error cross section dan time series.
pat seefisien mungkin. Menurut Caraka (2017) ada tiga pengujian dalam menentu
kan model yang akan digunakan dalam pengolahan data panel yaitu uji chow (Ch
ow Test), uji hausman (Hausman Test) dan uji LM (Lagrange Multiplier Test).
Chow test digunakan untuk memilih kedua model diantara Model Commo
n Effect dan Model Fixed Effect. Asumsi bahwa setiap unit cross section memiliki
unit cross section memiliki perilaku yang berbeda menjadi dasar dari uji chow. Hi
b. Jika p-value cross-section F < 0,05, maka H0 ditolak. Artinya model yan
Random effect. Alasan dilakukannya uji hausman didasarkan pada model fixed eff
ect model yang mengandung suatu unsur trade off yaitu hilangnya unsur derajat b
ebas dengan memasukkan variabel dummy dan model Random Effect yang harus
a. Chi square ≥ Chi square tabel maka Ho ditolak. Dapat disimpulkan bahw
b. Chi square < Chi square tabel maka Ho diterima. Dapat disimpulkan bah
Atau
a. Jika p-value cross-secion random < 0,05 artinya Ho ditolak, maka peneliti
dastisitas pada model yang dipilih. Hipotesis dari teknik pengujian model ini adala
h sebagai berikut :
H1 : terjadi heteroskedastisitas
Kriteria untuk pengambilan keputusan pada uji Langrage Multiplier, sebagai berik
ut:
a. Jika LM tes ≥ chi quare tabel, maka Ho ditolak. Artinya model yang sesu
b. Jika LM tes < chi square tabel, maka Ho diterima. Artinya model yang se
Untuk menguji apakah model regresi yang digunakan dalam penelitian ini
layak atau tidak untuk digunakan maka perlu dilakukan uji asumsi klasik. Uji asu
msi klasik yang digunakan adalah uji heteroskedasitas dan uji multikolinearitas.
orelasi antar variabel independen atau bebas. Menurut Ghozali (2018), tujuan uji
orelasi antara variabel bebas. Model regersi yang baik memiliki model yang didal
amnya tidak terjadi kolerasi diantara variabel independen. Uji multikolinearitas dil
Jika nilai VIF > 10, maka terdapat multikolonieritas dalam data.
mengetahui apakah dalam sebuah model regresi terjadi ketidaksamaan varian dari
guji terjadi atau tidaknya heteroskedastisitas maka dilihat dari nilai koefisien korel
asi Rank Spearman antara masingmasing variabel bebas dengan variabel pengang
gu. Apabila nilai probabilitas (sig) > dari 0,05 maka tidak terjadi heteroskedastisit
as.
[Link] Uji Autokorelasi
a residual (galat) pada satu observasi dengan residual pada observasi lainnya dala
m model regresi. Autokorelasi umumnya terjadi pada data time series, namun juga
perlu diuji pada data panel yang memiliki dimensi waktu. Uji autokorelasi dilakuk
enyesuaian model atau menggunakan metode estimasi yang mampu mengatasi aut
okorelasi, seperti model Generalized Least Squares (GLS) atau metode regresi rob
salah satu asumsi dalam analisis regresi klasik yang penting dipenuhi, terutama
Uji normalitas dilakukan dengan menggunakan uji Jarque-Bera (JB). Uji ini
Jika nilai probabilitas (p-value) > 0,05, maka residual terdistribusi normal
Jika nilai probabilitas (p-value) ≤ 0,05, maka residual tidak terdistribusi
normal
pengamatan visual melalui histogram residual dan normal probability plot (P-P
ara simultan maupun parsial pada semua variabel independen terhadap variabel de
Uji simultan (atau uji F) pada regresi linier berganda bertujuan untuk mengu
ji apakah model regresi yang digunakan secara keseluruhan layak dan dapat diteri
ma. Uji ini menguji apakah variabel independen secara bersama-sama (simultan) b
H₀ : β₁ = β₂ = 0
(Variabel ESG dan Cash holdings secara simultan tidak berpengaruh terha
Hₐ : β₁ ≠ 0 atau β₂ ≠ 0
Jika nilai probabilitas (p-value) > 0,05, maka H₀ diterima, yang berarti var
iabel ESG dan Cash holdings secara bersama-sama tidak berpengaruh sign
Jika nilai probabilitas (p-value) ≤ 0,05, maka H₀ ditolak, yang berarti varia
l dependen dalam model regresi. Dalam penelitian ini, pengujian dilakukan untuk
mengetahui apakah Environmental, Social, and Governance (ESG) dan Cash hold
ings memiliki pengaruh yang signifikan secara parsial terhadap Firm performance
dan Market Value. Pengujian dilakukan pada tingkat kepercayaan 95% atau tingk
at signifikansi (α) sebesar 5%. Hipotesis yang diuji secara parsial adalah sebagai b
erikut:
H₀: β ≤ 0
ESG atau Cash holdings tidak berpengaruh positif secara signifikan terhad
Hₐ: β > 0
Jika nilai probabilitas (p-value) > 0,05, maka H₀ diterima, yang berarti bah
ap variabel dependen.
Jika nilai probabilitas (p-value) ≤ 0,05, maka H₀ ditolak, yang berarti bah
iabel dependen.
mampuan model regresi dalam menjelaskan variasi dari variabel dependen. Dalam
penelitian ini, uji R² dilakukan untuk mengetahui sejauh mana variabel independe
n yaitu Environmental, Social, and Governance (ESG) dan Cash holdings mampu
menjelaskan perubahan pada variabel dependen yaitu Firm performance dan Mar
ket value (Deny, 2008). Nilai R² berada pada rentang 0 hingga 1. Semakin mendek
ati angka 1, maka semakin besar proporsi variasi dari variabel dependen yang dap
penden sangat rendah. Selain R², dalam model regresi berganda juga digunakan ni
lai Adjusted R², yang memberikan hasil lebih akurat karena memperhitungkan ju
mlah variabel independen yang digunakan dalam model. Adjusted R² lebih sesuai
untuk model yang memiliki lebih dari satu variabel independen, seperti dalam pen
elitian ini.
3.6.7 Moderated Regression Analysis (MRA)
ependen dipengaruhi oleh variabel moderator. Dengan kata lain, MRA bertujuan
melihat apakah kekuatan atau arah pengaruh variabel bebas terhadap variabel terik
at berubah tergantung pada nilai variabel moderator. MRA digunakan untuk meng
uji peran Cash holdings sebagai variabel moderator yang memoderasi pengaruh E
Value.
MRA menguji apakah interaksi antara ESG dan Cash holdings memberikan
pengaruh yang signifikan terhadap Firm performance dan Market Value. Model r
egresi yang digunakan akan mencakup variabel ESG, Cash Holdings, dan variabel
interaksi antara ESG dan Cash Holdings, yang secara matematis dapat ditulis seba
gai berikut:
Keterangan:
si
α = Konstanta
ε = Error/residual
Interpretasi koefisien β₃ (interaksi) menjadi kunci dalam analisis moderasi.
Jika β₃ signifikan, maka Cash holdings memoderasi hubungan ESG terhadap Fir
m performance dan Market Value, artinya pengaruh ESG pada kinerja dan nilai pa
Ahmed, O., & Khalaf, B. A. (2025). The impact of ESG on firm value: The moder
ating role of cash holdings. Heliyon, 11(2).
Akra. (2024). AKRA Net Profit FY 2023 IDR 2.78 Trillion, up 16%YoY Earning
s boosted by strong performance in Industrial estate Segment. Retrieved from
[Link] website: [Link]
idr-278-trillion-up-16yoy-earnings-boosted-by-strong-performance-in-indust
rial-estate-segment?utm_source=[Link]
Alareeni, B. A., & Hamdan, A. (2020). ESG impact on performance of US S&P 5
00-listed firms. Corporate Governance: The International Journal of Busine
ss in Society, 20(7), 1409–1428.
AlHares, A., AlEmadi, N., Abu-Asi, T., & Al Abed, R. (2023). Environmental, so
cial, and governance disclosure impact on cash holdings in OECD countries.
Journal of Governance and Regulation, 12(2), 104–119. [Link]
495/jgrv12i2art10
Alhazami, L., Judijanto, L., Harto, B., Sulistianingsih, S., Utami, A. T., Rustam,
H. A., & Meta, W. (2024). MANAJEMEN KEUANGAN: Praktik bagi Wirau
saha Pemula. PT. Sonpedia Publishing Indonesia.
Audito, J., & Yuyetta, E. N. A. (2024). PENGARUH ENVIRONMENT, SOCIAL
GOVERNANCE (ESG) DISCLOSURE TERHADAP MARKET VALUE D
ENGAN ENVIRONMENTAL RISK OF INDUSTRY SECTOR SEBAGAI
VARIABEL MODERASI (Studi Empiris pada perusahaan non finance yang
terdaftarpada Indeks JII70 (Jakarta Islamic Index 70) BEI periode 2. Dipone
goro Journal of Accounting, 13(3).
Bahri, S., & Zamzam, H. F. (2021). Model Penelitian Kuantitatif Berbasis SEM-A
MOS Mengenal SEM-AMOS. Yogyakarta: Deepublish.
Brigham, E. F. (2016). Financial Management: Theory and Practice. Canada: Ce
ngage Learning.
Brigham, E. F., & Houston, J. F. (2019). Fundamentals of financial management.
Cengage Learning.
Chariri, A., & Ghozali, I. (2007). Teori Akuntansi. In Semarang: Badan Penerbit
Universitas Diponegoro (Vol. 409). 2017: Diponegoro University.
Darma Sabri, M. A., Utami, S., & Harmen, H. (2024). Manajemen Sumber Daya
Manusia Dalam Konteks Perencanaan Pembangunan. Kuala Lumpur: Syiah
Kuala University Press.
Deny, K. (2008). Linear regression. In Linear Regression.
Dobrick, J., Klein, C., & Zwergel, B. (2023). Size bias in refinitiv ESG data. Fina
nce Research Letters, 55, 104014.
Durlista, M. A., & Wahyudi, I. (2023). Pengaruh pengungkapan environmental, so
cial dan governance (ESG) terhadap kinerja perusahaan pada perusahaan sub
sektor pertambangan batu bara periode 2017-2022. Jurnal Ilmiah Manajeme
n, Ekonomi, & Akuntansi (MEA), 7(3), 210–232.
Dzahabiyya, J., Jhoansyah, D., & Danial, R. D. M. (2020). Analisis nilai perusaha
an dengan model rasio tobinâ€TM s q. JAD: Jurnal Riset Akuntansi & Keuang
an Dewantara, 3(1), 46–55.
Era. (2023). Erajaya Maintains Positive Performance, Records Sales Growth of 13
8%. Retrieved from EraJaya website: [Link]
jaga-kinerja-positif-catat-pertumbuhan-penjualan-13-8?utm_source=chatgpt.
com
Farhan, M. (2024). Keseimbangan Risiko dan Imbal Hasil Dalam Strategi Investa
si Berkelanjutan: Pendekatan Integratif Terhadap Faktor Lingkungan, Sosial,
dan Tata Kelola Perusahaan (ESG). Currency: Jurnal Ekonomi Dan Perbank
an Syariah, 2(2), 243–264.
Fina, C. (2020). Analisis Pengaruh Cash Flow, Leverage, Net Working Capital da
n Ukuran Perusahaan terhadap Cash Holding pada Perusahaan Sub Sektor Pr
operty dan Real Estate di Bursa Efek Indonesia. FIN-ACC (Finance Accounti
ng), 5(3).
Guizani, M. (2017). The financial determinants of corporate cash holdings in an
oil rich country: Evidence from Kingdom of Saudi Arabia. Borsa Istanbul Re
view, 17 (3), 133–143.
Hakim, L., Nurgupita, R. K., & Rizaldi, M. (2024). Integrasi Etika Bisnis: Sebuah
Perspektif Baru Dalam Keberlanjutan Perusahaan & Sosial Kemasyarakatan.
JIMAT (Jurnal Ilmiah Mahasiswa Akuntansi) Undiksha, 15(04), 836–850.
Halid, S., Rahman, R. A., Mahmud, R., Mansor, N., & Wahab, R. A. (2023). A lit
erature review on ESG score and its impact on firm performance. Internation
al Journal of Academic Research in Accounting Finance and Management S
ciences, 13(1), 272–282.
Handayani, N., Harmono, H., & Zuhroh, D. (2021). Analisis pengaruh kinerja keu
angan terhadap perubahan harga saham perusahaan konstruksi. Jurnal Peneli
tian Teori & Terapan Akuntansi (PETA), 6(1), 1–15.
Horngren, C., Harrison, W., Oliver, S., Best, P., Fraser, D., Tan, R., & Willett, R.
(2012). Accounting. New York: Pearson Higher Education AU.
Hunger, J. D. (2021). Essentials of Strategic Management. London: Pearson Educ
ation Limited.
Inawati, W. A., & Rahmawati, R. (2023). Dampak Environmental, Social, Dan Go
vernance (ESG) Terhadap Kinerja Keuangan. Jurnal Akademi Akuntansi, 6
(2), 225–241.
Iswenda, B. A. (2025). Biaya & Dukungan Pemerintah Jadi Kendala Utama Perus
ahaan Terapkan ESG. Retrieved from GoodStats website: [Link]
/article/biaya-dan-dukungan-pemerintah-menjadi-kendala-utama-perusahaan-
dalam-menerapkan-esg-Q96gw
Junius, D., Adisurjo, A., Rijanto, Y. A., & Adelina, Y. E. (2020). The impact of E
SG performance to firm performance and market value. Jurnal Aplikasi Akun
tansi, 5(1), 21–41.
Lakshmi, A. (2024). Indonesia’s GoTo makes first profit and remains open to Gra
b merger. Retrieved from Financial Times website: [Link]
nt/1888016c-e2a1-4d92-aca4-9fe9a1ab38f4?utm_source=[Link]
Lestari, T. U., & Hasanah, S. I. (2024). The Impact of ESG Disclosure, Hedging P
olicy, and Cash Holding on Firm Value. International Journal of Manageme
nt and Business Applied, 3(2), 129–144.
Lubis, A. F., & Sari, S. P. (2024). Pengaruh Persistensi Laba, Profit Potensial, Str
uktur Modal, dan Kesempatan Bertumbuh Terhadap Kualitas Laba. Jurnal E
mt Kita, 8(3), 1058–1071.
Ma, F., & Karaman, S. (2018). Sparse-to-dense: Depth prediction from sparse dep
th samples and a single image. 2018 IEEE International Conference on Robo
tics and Automation (ICRA), 4796–4803. IEEE.
Marthin; Salinding Inggit, M. B. . A. (2017). Implementasi Prinsip Corporate Soc
ial Responsibility (Csr) Berdasarkan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007
Tentang Perseroan Terbatas. J. Priv. & Com. L., 1, 111.
Mas, I. G. A. M. A., Pratiwi, A., Nurhayati, N., Apriyanto, A., Kusumastuti, S. Y.,
& Wijaya, R. (2024). Green Economy. Jambi: PT. Sonpedia Publishing Indo
nesia.
Nabiela, L. F. A. (2025). Analisis Pengaruh Environmental, Social, Governance T
erhadap Company Market Value Yang Terdaftar Pada Corporate Governan
ce Perception Index (CGPI) Periode 2013–2023: Kinerja Keuangan Sebagai
Variable Intervening. Yogyakarta: UIN Sunan Kali Jaga.
Naukoko, P. A., Sutrisno, T., Nurkholis, N., & Saraswati, E. (2023). Tata Kelola P
erusahaan dan Kualitas Pengungkapan CSR. Jurnal Akuntansi Manado (JAI
M), 476–486.
Nofrian, M. R., & Sebrina, N. (2024). Pengaruh ESG terhadap Nilai Perusahaan d
engan Kepemilikan Pemerintah dan Sensitivitas Industri Sebagai Variabel Pe
moderasi. Jurnal Nuansa Karya Akuntansi, 2(1), 17–33.
Nugroho, N. A., & Hersugondo, H. (2022). Analisis pengaruh environment, social
governance (esg) disclosure terhadap kinerja keuangan perusahaan. E-Bisnis
Jurnal Ilmiah Ekonomi Dan Bisnis, 15(2), 233–243.
Prabawati, P. I., & Rahmawati, I. P. (2022). The effects of Environmental, Social,
and Governance (ESG) scores on firm values in ASEAN member countries.
Jurnal Akuntansi Dan Auditing Indonesia, 119–129.
Putri, F. A., & Bayangkara, I. B. K. (2025). Analisis Environmental, Social, dan G
overnance (ESG) Terhadap Nilai Perusahaan Pada PT Antam Tbk. Jurnal Pu
blikasi Ekonomi Dan Akuntansi, 5(2), 185–194.
Ratnasari, D., & Astuti, D. (2014). Pengaruh Bid Ask Spread, Market Value, dan
Variance Return Terhadap Holding Period. Jurnal Finesta, 2(1), 99–102.
Samudra, B., & Ardini, L. (2020). Pengaruh Struktur Modal, Kinerja Keuangan,
Dan Ukuran Perusahaan Terhadap Harga Saham. Jurnal Ilmu Dan Riset Aku
ntansi (JIRA), 9(5).
Saragih, A. E. (2016). Analisis Perbedaan Abnormal Return Dan Volume Perdaga
ngan Saham Sebelum Dan Sesudah Pengumuman Pembelian Kembali Saham
(Buyback) Pada perusahaan non finance yang terdaftarDi Bursa Efek Indone
sia. Jurnal Riset Akuntansi & Keuangan, 13–34.
Sari, S. R. (2025). Pengaruh Environmental, Social, And Governance (ESG) Terh
adap Firm Performance: Analisis Jangka Pendek Dan Jangka Panjang. Yog
yakarta: UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA.
Sekaran, U., & Roger Bougie. (2016). Research Methods for Business.
Shmatov, C., & Castelli, C. R. (2022). Quantitative methods for ESG finance. Ne
w Jersey: John Wiley & Sons.
Siagian, T. S., & Ningrum, D. A. (2019). Manajemen Sumber Daya Manusia dan
Usaha Mikro Kecil Menengah. Padang: PT Inovasi Pratama Internasional.
Siregar, I. F., Roekhudin, R., & Purwanti, L. (2018). Firm value predictor and the
role of corporate social responsibility. Jurnal Keuangan Dan Perbankan, 22
(3), 475â – 485.
Sugiyono, S. (2017). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung:
Alfabeta. Procrastination And Task Avoidance: Theory, Research and Treat
ment. New York: Plenum Press, Yudistira P, Chandra.
Sutarman, A., Karamoy, H., Gamaliel, H., Studi, P., Akuntansi, M., Ekonomi, F.,
& Bisnis, D. (2022). Pengaruh Asimetri Informasi, Konsentrasi Kepemilikan,
Manajemen Laba Dan Pertumbuhan Aset Terhadap Cost of Equity Capital Pa
da Perusahaan Perkebunan Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia. Jurnal
Riset Akuntansi Dan Auditing "GOODWILL, 13(1), 13–24.
Tanjaya, F., & Ratmono, D. (2024). Pengaruh Environmental, Social, dan Govern
ance (ESG) terhadap kinerja perusahaan dengan variabel moderasi board size.
Diponegoro Journal of Accounting, 13(3).
Valentina, F., & Wahyudi, A. S. (2021). Pengaruh Cr, Der, Ito, Roa Dan Pbv Ter
hadap Return Saham Pada Perusahaan Food And Beverage Yang Terdaftar
Di Bursa Efek Indonesia 2013-2019.
Veeravel, V., Murugesan, V. P., & Narayanamurthy, V. (2024). Does ESG disclos
ure really influence the firm performance? Evidence from India. The Quarter
ly Review of Economics and Finance, 95, 193–202.
Velte, P. (2024). Sustainable board governance and environmental performance: E
uropean evidence. Business Strategy and the Environment, 33(4), 3397–3421.
Wahyuni, D., & Rofiah, C. (2017). Kualitas Pelayanan Dan Pengaruhnya Terhada
p Loyalitas Pelanggan Yang Di Moderasi Oleh Kepuasan Di Bank Muamalat
Jombang. Eksis: Jurnal Riset Ekonomi Dan Bisnis, 12(1), 69–82. [Link]
org/10.26533/eksis.v12i1.84
Xaviera, A., Febrianto, R., Widiastuty, E., & Iswardi, I. (2024). ESG, Firm Value,
and Life Cycle: Evidences from South East Asia. Jurnal Dinamika Akuntansi
Dan Bisnis, 11(2), 331–334.
Yuanitan, Q. (2024). Initial Report: PT Ace hardware Indonesia Tbk (FRA:4AH1)
27%% 3-yr Potential Upside (EIP, Fernando KHO). Retrieved from Next Ge
n Investors website: [Link]
ace-hardware-indonesia?utm_source=[Link]