0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
14 tayangan85 halaman

Dampak ESG terhadap Kinerja Perusahaan

Dokumen ini adalah rancangan usulan penelitian tesis yang membahas pengaruh Environmental, Social, and Governance (ESG) terhadap kinerja perusahaan dan nilai pasar dengan cash holdings sebagai variabel moderasi. Penelitian ini berfokus pada perusahaan non-finansial yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia antara tahun 2021-2023, dengan tujuan untuk memahami bagaimana penerapan prinsip ESG dapat meningkatkan reputasi dan nilai perusahaan. Selain itu, dokumen ini juga mencatat tantangan dalam penerapan ESG dan pentingnya kolaborasi antara perusahaan dan pemerintah untuk mengatasi kendala tersebut.

Diunggah oleh

minanti
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
14 tayangan85 halaman

Dampak ESG terhadap Kinerja Perusahaan

Dokumen ini adalah rancangan usulan penelitian tesis yang membahas pengaruh Environmental, Social, and Governance (ESG) terhadap kinerja perusahaan dan nilai pasar dengan cash holdings sebagai variabel moderasi. Penelitian ini berfokus pada perusahaan non-finansial yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia antara tahun 2021-2023, dengan tujuan untuk memahami bagaimana penerapan prinsip ESG dapat meningkatkan reputasi dan nilai perusahaan. Selain itu, dokumen ini juga mencatat tantangan dalam penerapan ESG dan pentingnya kolaborasi antara perusahaan dan pemerintah untuk mengatasi kendala tersebut.

Diunggah oleh

minanti
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENGARUH ENVIRONMENTAL, SOCIAL, AND

GOVERNANCE (ESG) TERHADAP FIRM PERF


ORMANCE DAN MARKET VALUE DENGAN CA
SH HOLDINGS SEBAGAI VARIABEL
MODERASI
(STUDI PADA PERUSAHAAN NON FINANCE
YANG TERDAFTAR DI BEI TAHUN 2021-2023)

Rancangan Usulan Penelitian Untuk Tesis


Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Derajat Sarjana
S-2 Magister Manajemen Program Magister Manajemen Universitas Dipo
negoro

Disusun Oleh:
ISNA SOPHIA NURKHALISHA
NIM 12010123420163

PROGRAM STUDI MAGISTER MANAJEMEN


FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2025
PERSETUJUAN RANCANGAN USULAN PENELITIAN

Yang bertandatangan dibawah ini menyatakan tesis berjudul:

PENGARUH ENVIRONMENTAL, SOCIAL, AND


GOVERNANCE (ESG) TERHADAP FIRM PERFORMANCE DA
N MARKET VALUE DENGAN CASH HOLDINGS SEBAGAI
VARIABEL MODERASI
(STUDI PADA PERUSAHAAN NON FINANCE
YANG TERDAFTAR DI BEI TAHUN 2021-2023)

Yang disusun oleh Isna Sophia Nurkhalisha, NIM 12010123420163 telah


disetujui untuk dipertahankan di depan Dewan Penguji pada tanggal 28 Mei 2025

Pembimbing

Dr. E. Hersugondo, S.E., M.M.


DAFTAR ISI

DAFTAR ISI...........................................................................................................2

BAB I.......................................................................................................................3

PENDAHULUAN...................................................................................................3

1.1. Latar Belakang.............................................................................................3

1.2. Perumusan Masalah...................................................................................13

1.3. Tujuan Penelitian.......................................................................................15

1.4. Manfaat Penelitian.....................................................................................17

BAB II...................................................................................................................18

TINJAUAN PUSTAKA.......................................................................................18

2.1. Teori Stakeholders.....................................................................................18

2.2. Environmental, Social, and Governance (ESG)........................................20

2.3. Firm Performance......................................................................................24

2.4. Market Value..............................................................................................26

2.5. Cash Holdings............................................................................................28

2.6. Penelitain Terdahulu..................................................................................30

2.7. Pengembangan Hipotesis...........................................................................40

2.8. Kerangka Teoritis.......................................................................................54

2.9. Hipotesis Penelitian....................................................................................55

BAB III..................................................................................................................57

METODE PENELITIAN....................................................................................57

3.1. Jenis Dan Sumber Data..............................................................................57

3.2. Populasi Dan Sampel.................................................................................57


3.3. Definisi Operasional Variabel Pengukuran Variabel.................................59

3.4. Metode Pengumpulan Data........................................................................61

3.5. Prosedur Pengumpulan Data......................................................................63

3.6. Teknik Analisa Data...................................................................................64

3.6.1 Statistik Deskriptif.........................................................................65

3.6.2 Analisis Regresi Data Panel..............................................................65

3.6.3 Estimasi Regresi Data Panel..........................................................66

3.6.4 Pemilihan Model Estimasi Regresi Data Panel..............................67

3.6.5 Uji Asumsi Klasik..........................................................................69

3.6.6 Pengujian Hipotesis........................................................................71

3.6.7 Moderated Regression Analysis (MRA)........................................74

DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................75
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Pertumbuhan populasi global yang pesat, isu lingkungan seperti perubahan i

klim menjadi perhatian serius karena membawa berbagai tantangan yang harus di

hadapi bersama. Era globalisasi dan persaingan bisnis yang semakin ketat, perusa

haan dituntut untuk tidak hanya fokus pada pencapaian keuntungan semata, tetapi

juga harus memperhatikan aspek keberlanjutan yang meliputi tanggung jawab ling

kungan, sosial, dan tata kelola perusahaan (Hakim, Nurgupita, & Rizaldi, 2024). S

trategi keberlanjutan menjadi kebutuhan penting karena kegiatan operasional dan

praktik bisnis saat ini sangat bergantung pada penggunaan sumber daya alam yang

terbatas. Menurut Darma (2024) penerapan program keberlanjutan menjadi krusia

l mengingat keberhasilan bisnis di masa depan sangat dipengaruhi oleh kemampua

n perusahaan dalam menjalankan praktik yang berkelanjutan. Program-program b

erkelanjutan perusahaan tidak hanya bertujuan untuk memenuhi tanggung jawab e

tis, tetapi juga untuk memastikan kelangsungan bisnis jangka panjang dengan men

gintegrasikan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola yang baik. Kinerja ESG (E

nvironmental, Social, and Governance) menjadi indikator utama yang dinilai oleh

para investor dan pemangku kepentingan (Inawati & Rahmawati, 2023).

Konsep Environmental, Social, and Governance (ESG) menjadi salah satu i

ndikator penting yang digunakan untuk menilai kinerja perusahaan secara menyel

uruh, tidak hanya dari sisi finansial tetapi juga dari sisi non-finansial (Farhan, 202

4). Pelestarian lingkungan dan pelaporannya kini menjadi suatu keharusan dalam
pengambilan kebijakan perusahaan, terutama yang berkaitan dengan dampak oper

asional terhadap lingkungan serta kepentingan para pemangku kepentingan Kegiat

an ekonomi yang dijalankan oleh perusahaan tidak hanya dituntut untuk mencipta

kan keuntungan, tetapi juga harus memperhatikan pengelolaan sumber daya alam,

keberlanjutan lingkungan, dan kesejahteraan sosial masyarakat sekitar. Harmonisa

si antara aktivitas ekonomi dan tanggung jawab sosial-lingkungan menjadi elemen

penting dalam menciptakan pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan (Marthi

n; Salinding Inggit, 2017). Environmental, Social, and Governance (ESG) telah

menjadi perhatian global dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan. Di neg

ara Indonesia, ESG semakin relevan seiring meningkatnya tuntutan akan tanggung

jawab sosial dan lingkungan dari berbagai sektor, terutama bagi perusahaan-perus

ahaan terbuka yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) (Inawati & Rahmawati,

2023).

Fenomena global menunjukkan bahwa penerapan prinsip-prinsip Environme

ntal, Social, and Governance (ESG) mulai menjadi perhatian utama di berbagai se

ktor, termasuk pasar modal. Penerapan ESG diyakini mampu meningkatkan reput

asi perusahaan, menciptakan nilai tambah bagi masyarakat, serta memperkuat tata

kelola perusahaan yang transparan dan akuntabel. Namun, implementasinya masih

menghadapi berbagai tantangan, dimana implementasi praktik ramah lingkungan

dan pelaporan keberlanjutan masih rendah di beberapa Perusahaan (Mas et al., 20

24). Survei Mandiri Institute (2024) terhadap 150 perusahaan menunjukkan bahw

a biaya tinggi (58%), minimnya dukungan pemerintah (58%), dan kompleksitas in

dikator ESG (56%) menjadi kendala utama. Selain itu, kurangnya pemahaman (54

%), keterbatasan data (42%), serta kesulitan menentukan target dan metode penila
ian ESG turut memperlambat adopsi. Bahkan, sebagian perusahaan mengalami res

istensi dari shareholder (23%) atau menganggap ESG kurang relevan bagi model

bisnis mereka (18%) (Iswenda, 2025).

Gambar 1.1 Kendala Perusahaan dalam Penerapan ESG


Sumber : [Link] 2025

Sebagai upaya dalam mengatasi tantangan dalam penerapan ESG di Indones

ia, diperlukan kolaborasi antara perusahaan dan pemerintah. Pemerintah perlu me

mberikan regulasi yang jelas serta insentif seperti subsidi atau keringanan pajak ag

ar perusahaan terdorong menerapkan prinsip keberlanjutan. Selain itu, penyederha

naan indikator ESG, peningkatan pemahaman melalui pelatihan, dan standarisasi

pelaporan juga sangat dibutuhkan. Environmental, Social, and Governance (ESG)

merupakan sebuah kerangka kerja yang dirancang untuk diintegrasikan ke dalam s

trategi organisasi dalam rangka meningkatkan nilai perusahaan. ESG membantu o

rganisasi untuk tidak hanya fokus pada tujuan keuangan, tetapi juga mencakup pro

ses identifikasi, penilaian, dan pengelolaan berbagai risiko serta peluang yang ber

kaitan dengan keberlanjutan dan relevan bagi kelangsungan usaha (Farhan, 2024).

ESG sendiri mengacu pada sejauh mana perusahaan dan investor memasukkan per
hatian terhadap isu lingkungan, sosial, dan tata kelola ke dalam model bisnis dan

pengambilan keputusan.

Environmental, Social, and Governance (ESG) bukan hanya kewajiban mor

al, dan bukan sekadar kewajiban etis, tetapi juga merupakan strategi bisnis jangka

panjang yang dapat meningkatkan nilai perusahaan (firm performance) dan keperc

ayaan investor, serta memperkuat posisi pasar (market value). Pada tahun 2023, P

T Ace Hardware Indonesia Tbk (ACES) mencatat pertumbuhan penjualan toko ya

ng sama (Same Store Sales Growth/SSSG) sebesar 13,2%, melampaui ekspektasi p

asar sebesar 7% (Yuanitan, 2024), dengan strategi rebranding AZKO, perusahaan

melakukan ekspansi dengan membuka toko ke-250 di Sorong, Papua Barat Daya.

PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) (2023) membukukan pertumbuhan penjual

an sebesar 13,8% dari Rp43,5 triliun pada tahun 2021 menjadi Rp49,5 triliun, tahu

n 2022, dan tahun 2024, ERAA meraih penghargaan "ESG Retailer of the Year",

mencerminkan komitmennya terhadap praktik bisnis berkelanjutan. PT AKR Corp

orindo Tbk (AKRA) menunjukkan performa impresif dengan mencatat laba bersih

sebesar Rp2,78 triliun pada tahun 2023, meningkat 16% dari tahun sebelumnya, di

dorong oleh kinerja solid di segmen kawasan industry (Akra, 2024).

PT Avia Avian Tbk (AVIA) menunjukkan pemulihan, setelah sebelumnya

mencatat penurunan EBITDA sebesar 16,36% menjadi Rp1,66 triliun pada 2022,

AVIA berhasil meningkatkan EBITDA sebesar 15,85% menjadi Rp1,93 triliun pa

da 2023. Namun, tidak semua perusahaan mencatat kinerja positif. PT Global Me

diacom Tbk (BMTR) mengalami penurunan laba bersih sebesar 39,84% pada kuar

tal I 2025. Pengurangan kepemilikan saham oleh MNC Group di BMTR dan Medi

a Nusantara Citra juga berpotensi mempengaruhi nilai pasar perusahaan. Sebalikn


ya, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) menunjukkan kebangkitan dengan peningkatan

laba bersih lebih dari 80% pada kuartal I 2025 dibandingkan tahun sebelumnya. P

T Cemindo Gemilang Tbk (CMNT) juga berhasil keluar dari kerugian, mencatatk

an laba bersih sebesar Rp159 miliar pada tahun 2023, didorong oleh pertumbuhan

volume penjualan semen domestik sebesar 3%. Secara keseluruhan, data ini meng

gambarkan dinamika kinerja berbagai emiten besar di Indonesia dengan beragam

pencapaian dan tantangan sepanjang 2022 hingga 2025.

Penerapan prinsip ESG membantu perusahaan untuk mengelola risiko yang

berkaitan dengan lingkungan, sosial, dan tata kelola secara lebih efektif, sehingga

mampu meningkatkan kinerja perusahaan (firm performance) secara berkelanjutan,

dengan mengintegrasikan aspek lingkungan seperti pengelolaan limbah dan efisie

nsi energi, aspek sosial yang meliputi kesejahteraan karyawan dan tanggung jawa

b sosial kepada masyarakat, serta aspek tata kelola yang melibatkan transparansi d

an akuntabilitas, perusahaan dapat membangun reputasi yang baik di mata peman

gku kepentingan. Nilai perusahaan merupakan salah satu fokus utama bagi investo

r karena mencerminkan persepsi pasar terhadap keberhasilan dan prospek perusah

aan. (Prabawati & Rahmawati, 2022). Hal ini pada gilirannya meningkatkan keper

cayaan investor karena mereka melihat bahwa perusahaan tidak hanya berorientasi

pada keuntungan jangka pendek, tetapi juga bertanggung jawab terhadap dampak

sosial dan lingkungan. Berbeda dengan Halid dan Sunarti (2023) ada hubungan po

sitif dan negatif antara skor ESG dan kinerja perusahaan.

Kepercayaan investor sering kali tercermin dalam peningkatan nilai pasar pe

rusahaan (market value). Nilai ini mencerminkan persepsi investor terhadap kinerj

a dan prospek perusahaan, sehingga menjadi indikator penting dalam menilai baik
buruknya suatu perusahaan, karena investor cenderung menilai perusahaan yang

menjalankan praktik ESG secara serius lebih stabil dan memiliki prospek pertumb

uhan jangka panjang yang lebih baik. Oleh karena itu, ESG bukan hanya soal me

menuhi regulasi atau tuntutan moral, tetapi juga menjadi faktor strategis yang men

dorong daya saing dan keberlanjutan perusahaan di pasar global. Perusahaan deng

an skor ESG yang tinggi cenderung memperoleh biaya modal yang lebih rendah k

arena dipersepsikan memiliki risiko yang lebih kecil. Selain itu, banyak lembaga k

euangan dan investor institusional kini menetapkan kriteria ESG sebagai syarat ut

ama dalam pengambilan keputusan investasi. Namun, Junius (2020) menyatakan t

idak terdapat pengaruh signifikan dari skor ESG terhadap kinerja perusahaan dan

nilai pasar karena Skor ESG belum menjadi bagian dari pengukuran kinerja perus

ahaan.

Penerapan prinsip ESG tidak hanya berperan dalam meningkatkan nilai pasa

r dan kinerja perusahaan, tetapi juga berkaitan erat dengan kebijakan keuangan int

ernal perusahaan pengelolaan cash holdings. Perusahaan harus memiliki likuiditas

tinggi guna mendukung implementasi berbagai inisiatif ESG, seperti investasi dal

am teknologi ramah lingkungan, program kesejahteraan karyawan, serta peningkat

an tata kelola perusahaan yang transparan. Cash holdings yang optimal menjadi sa

ngat penting agar perusahaan dapat membiayai kebutuhan mendadak terkait tangg

ung jawab sosial atau kebutuhan investasi ESG tanpa mengganggu arus kas opera

sional utama. Perusahaan yang memiliki skor ESG tinggi cenderung dipandang le

bih stabil oleh investor karena dinilai mampu mengelola risiko non-keuangan seca

ra baik, termasuk risiko lingkungan dan sosial. Kepercayaan investor tercermin da

lam kenaikan nilai pasar perusahaan (market value), dan dalam jangka panjang me
ndorong perusahaan untuk menyimpan kas dalam jumlah yang cukup sebagai cad

angan strategis.

Pengelolaan cash holdings harus dilakukan secara hati-hati agar tidak meni

mbulkan risiko idle cash, di mana kas yang menganggur terlalu lama akan kehilan

gan nilai akibat inflasi (Gitman & Zutter, 2015). Kerangka ESG menjelaskan kebe

radaan kas yang memadai dapat dimanfaatkan untuk merespons peluang strategis

secara cepat, seperti akuisisi bisnis berbasis keberlanjutan atau program tanggap d

arurat terhadap bencana sosial dan lingkungan. Penelitian Khalaf (2025) menjelas

kan semakin efisien dan efektif kinerja ESG, semakin tinggi nilai perusahaan. Sel

ain itu, kepemilikan kas memengaruhi nilai pasar secara positif, yang menunjukka

n bahwa ketika perusahaan memiliki cadangan kas yang tinggi, nilai pasar mereka

meningkat. Berbeda dengan Al Hares (2023) ada hubungan negatif yang signifika

n antara pengungkapan ESG dan kepemilikan kas pada tahap pengenalan, pertumb

uhan, dan goncangan/penurunan.

Beberapa penelitian sebelumnya terkait Environmental, Social, and Govern

ance (ESG) banyak terjadi ketidakkonsistenan hasil penelitian. Ahmed dan Khalaf

(2025) serta Veeravel et al. (2024) menemukan bahwa ESG berpengaruh positif te

rhadap nilai dan kinerja perusahaan, Junius et al. (2020) serta Lestari dan Hasanah

(2024) menunjukkan bahwa ESG tidak berpengaruh signifikan terhadap firm perf

ormance maupun market value. Selain itu, meskipun ada beberapa penelitian yang

memasukkan cash holdings sebagai variabel moderasi atau intervening (misalnya

Ahmed & Khalaf, 2025; Tanjaya & Ratmono, 2024), namun belum banyak studi y

ang secara spesifik menganalisis peran cash holdings sebagai mekanisme moderas

i dalam hubungan antara ESG dan firm performance maupun market value, teruta
ma dalam konteks pasar negara berkembang seperti Indonesia. Di sisi lain, belum

ada penelitian terdahulu yang secara bersamaan menguji pengaruh ESG terhadap f

irm performance dan market value dengan cash holdings sebagai variabel modera

si dalam satu model penelitian terintegrasi di perusahaan-perusahaan yang terdafta

r di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada periode terkini, yaitu 2021–2023.

Korelasi antara ESG dan Firm performance dan Market value dengan Cash

holdings sudah diteliti sebelumnya yang mengunakan variabel yang sama dengan

hasil yang beragam. Namun, hasil penelitian tersebut tidak konsisten, ada yang me

nemukan hasil yang positif signifikan, ada juga yang menemukan hasil yang negat

if signifikan, bahkan ada yang menemukan tidak adanya pengaruh antara variabel-

variabel yang diteliti. Hal itu menyebabkan adanya kesenjangan di dalam penelitia

n-penelitian sebelumnya. Berikut ini akan dijelakan terkait research gap dalam pe

nelitian ini.

Table 1.1 Research Gap


N
Research Gap Hasil Nama Peneliti
o.
Adanya perbedaan pengaruh Pengaruh positif Ahmed & Khalaf (202
ESG terhadap firm value 5); Veeravel et al. (202
1
4); Xaviera et al. (202
4)
Tidak berpengaruh signifika Junius et al. (2020); Le
n stari & Hasanah (202
4)
Adanya perbedaan pengaruh Pengaruh positif Sari (2025); Veeravel
2 ESG terhadap firm performa et al. (2024); Tanjaya
nce & Ratmono (2024)
Tidak berpengaruh signifika Junius et al. (2020); Ta
n njaya & Ratmono (202
4, data lengkap dan se
belum Covid-19)
Adanya perbedaan pengaruh Pengaruh positif signifikan Audito & Yuyetta (202
3 ESG terhadap market value 4); Ahmed & Khalaf
(2025); Nabiela (2025)
Tidak berpengaruh signifika
Junius et al. (2020)
n
4 Adanya perbedaan pengaruh Pengaruh negative AlHares et al. (2023)
ESG terhadap cash holdings
Pengaruh positif (tidak langs Ahmed & Khalaf (202
ung) 5)
Tidak berpengaruh signifika Lestari & Hasanah (20
n 24)
Adanya pengaruh moderasi c Memoderasi secara positif
Ahmed & Khalaf (202
5 ash holdings terhadap ESG d
5)
an firm value
Tidak berpengaruh signifika Lestari & Hasanah (20
n 24)
Adanya perbedaan pengaruh Hanya berpengaruh di tahap
6 ESG berdasarkan siklus hidu matang Xaviera et al. (2024)
p perusahaan (life cycle)
Adanya pengaruh ESG secar Lingkungan (E) negatif, Sosi
7 a individu (E, S, G) terhadap al (S) tidak berpengaruh, Go Nabiela (2025)
firm value atau market value vernance (G) positif
Sumber : Jurnal Penelitian Terdahulu

Kesenjangan dan keterbatasan dari penelitian-penelitian sebelumnya memun

culkan pertanyaan penelitian baru, yaitu apakah Environmental, Social, and Gove

rnance (ESG) berpengaruh terhadap firm performance dan market value? Pertany

aan ini relevan untuk diteliti lebih lanjut dengan pendekatan yang lebih komprehe

nsif, yaitu melalui cash holdings sebagai variabel moderasi, khususnya pada perus

ahaan-perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2021–2023.

Penelitian ini penting dilakukan untuk mengisi celah dalam literatur dengan

memberikan bukti empiris yang lebih relevan dan kontekstual terhadap bagaimana

ESG dapat memengaruhi kinerja dan nilai perusahaan melalui mekanisme pengelo

laan kas. Kebaruan penelitian ini mengintegrasikan tiga variabel utama, yaitu ESG

firm performance, dan market value dalam satu model penelitian yang komprehe

nsif, yang belum banyak dilakukan secara bersamaan dalam konteks pasar Indone

sia. Menggunakan data perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Penerapan ESG yang baik berdampak positif terhadap kinerja dan nilai pasa

r perusahaan. Perusahaan dengan skor ESG tinggi diasumsikan memiliki reputasi l

ebih baik dan pengelolaan risiko yang efektif, sehingga meningkatkan kepercayaa
n investor. Selain itu, cash holdings diasumsikan memperkuat hubungan antara E

SG dengan firm performance dan market value karena berperan sebagai cadangan

likuiditas untuk mendukung kegiatan berkelanjutan. Berdasarkan uraian di atas pe

nelitian ingin mengkaji secara mendalam terkait dengan "Pengaruh

Environmental, Social, and Governance (ESG) terhadap Firm Performance da

n Market Value melalui Cash Holdings (Studi pada Perusahaan Non Finance

yang Terdaftar di BEI Tahun 2021–2023)":

1.2. Perumusan Masalah

Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak tahun 2022 mendorong seluruh perusahaa

n tercatat untuk menerapkan prinsip Environmental, Social, and Governance (ES

G) sebagai bagian dari transparansi dan akuntabilitas kinerja perusahaan. Menurut

Komisaris BEI Pandu Sjahrir, prinsip ESG mencakup kewajiban bagi perusahaan

untuk secara bertahap menyampaikan laporan keberlanjutan. Namun, hingga 30 D

esember 2021, hanya 154 perusahaan atau sekitar 20% dari total perusahaan di BE

I yang telah konsisten menerbitkan laporan keberlanjutan. Ini menunjukkan bahw

a sekitar 80% perusahaan belum secara optimal mengungkapkan dampak lingkung

an, sosial, dan ekonomi yang ditimbulkan dari aktivitas operasional mereka sehar

i-hari. Hal ini mencerminkan masih rendahnya implementasi ESG, termasuk terba

tasnya pedoman keberlanjutan perusahaan di Indonesia. Fenomena global menunj

ukkan bahwa prinsip ESG kini menjadi perhatian utama di berbagai sektor, termas

uk pasar modal. Penerapan ESG diyakini mampu memperkuat reputasi perusahaa

n, menciptakan nilai tambah bagi masyarakat, dan meningkatkan praktik tata kelol

a perusahaan yang transparan dan bertanggung jawab. Namun demikian, praktik r

amah lingkungan dan pelaporan keberlanjutan di banyak perusahaan masih mengh


adapi berbagai tantangan implementasi, terutama dalam menyeimbangkan kepenti

ngan ekonomi dan keberlanjutan (Mas et al., 2024).

Kesenjangan ini menunjukkan perlunya penelitian lanjutan untuk mengkaji

pengaruh ESG terhadap kinerja perusahaan (firm performance) dan nilai pasar (m

arket value), dengan mempertimbangkan cash holdings sebagai variabel moderasi,

terutama dalam konteks perusahaan-perusahaan yang terdaftar di BEI pada period

e 2021–2023. Penelitian Halid dan Sunarti (2023) ada hubungan positif dan negati

f antara skor ESG dan kinerja perusahaan. Junius (2020) menyatakan tidak terdap

at pengaruh signifikan dari Skor ESG terhadap Kinerja Perusahaan dan Nilai Pasa

r karena Skor ESG belum menjadi bagian dari pengukuran kinerja perusahaan. Al

Hares (2023) ada hubungan negatif yang signifikan antara pengungkapan ESG da

n kepemilikan kas pada tahap pengenalan, pertumbuhan, dan goncangan/penuruna

n. Berdasarkan pada permasalahan dan research gap, sehingga dirumuskan bebera

pa pertanyaan penelitian yakni:

1. Apakah aspek Environmental, Social, and Governance berpengaruh terhada

p Firm performance pada perusahaan non finance yang terdaftar di BEI tahu

n 2021–2023?

2. Apakah aspek Environmental berpengaruh terhadap Firm performance pada

perusahaan non finance yang terdaftar di BEI tahun 2021–2023?

3. Apakah aspek Social berpengaruh terhadap Firm performance pada perusah

aan non finance yang terdaftar di BEI tahun 2021–2023?

4. Apakah aspek Governance berpengaruh terhadap Firm performance pada pe

rusahaan non finance yang terdaftar di BEI tahun 2021–2023?


5. Apakah aspek Environmental, Social, dan Governance berpengaruh terhada

p Market value pada perusahaan non finance yang terdaftardi BEI tahun 202

1–2023?

6. Apakah aspek Environmental berpengaruh terhadap Market value pada peru

sahaan non finance yang terdaftardi BEI tahun 2021–2023?

7. Apakah aspek Social berpengaruh terhadap Market value pada perusahaan n

on finance yang terdaftardi BEI tahun 2021–2023?

8. Apakah aspek Governance berpengaruh terhadap Market value pada perusa

haan non finance yang terdaftardi BEI tahun 2021–2023?

9. Bagaimana peran cash holdings dalam memoderasi pengaruh aspek Environ

mental terhadap Firm performance?

10. Bagaimana peran cash holdings dalam memoderasi pengaruh aspek Environ

mental, Social, dan Governance terhadap Firm performance?

11. Bagaimana peran cash holdings dalam memoderasi pengaruh aspek Environ

mental terhadap Firm performance?

12. Bagaimana peran cash holdings dalam memoderasi pengaruh aspek Social t

erhadap Firm performance?

13. Bagaimana peran cash holdings dalam memoderasi pengaruh aspek Govern

ance terhadap Firm performance?

14. Bagaimana peran cash holdings dalam memoderasi pengaruh aspek Environ

mental terhadap Market Value?

15. Bagaimana peran cash holdings dalam memoderasi pengaruh aspek Social t

erhadap Market Value?


16. Bagaimana peran cash holdings dalam memoderasi pengaruh aspek Govern

ance terhadap Market Value?

1.3. Tujuan Penelitian

Berikut adalah tujuan penelitian berdasarkan rumusan masalah yang telah di

paparkan:

1. Mengetahui pengaruh aspek Environmental, Social, dan Governance terhad

ap Firm performance pada perusahaan non finance yang terdaftardi BEI tah

un 2021–2023.

2. Mengetahui pengaruh aspek Environmental terhadap Firm performance pad

a perusahaan non finance yang terdaftardi BEI tahun 2021–2023.

3. Mengetahui pengaruh aspek Social terhadap Firm performance pada perusa

haan non finance yang terdaftardi BEI tahun 2021–2023.

4. Mengetahui pengaruh aspek Governance terhadap Firm performance pada p

erusahaan non finance yang terdaftardi BEI tahun 2021–2023.

5. Mengetahui pengaruh aspek Environmental, Social, dan Governance terhad

ap Market value pada perusahaan non finance yang terdaftardi BEI tahun 20

21–2023.

6. Mengetahui pengaruh aspek Environmental terhadap Market value pada per

usahaan non finance yang terdaftardi BEI tahun 2021–2023.

7. Mengetahui pengaruh aspek Social terhadap Market value pada perusahaan

non finance yang terdaftardi BEI tahun 2021–2023.

8. Mengetahui pengaruh aspek Governance terhadap Market value pada perusa

haan non finance yang terdaftardi BEI tahun 2021–2023.


9. Menganalisis peran cash holdings sebagai variabel moderasi dalam pengaru

h aspek Environmental, Social, dan Governance terhadap Firm performance.

10. Menganalisis peran cash holdings sebagai variabel moderasi dalam pengaru

h aspek Environmental terhadap Firm performance.

11. Menganalisis peran cash holdings sebagai variabel moderasi dalam pengaru

h aspek Social terhadap Firm performance.

12. Menganalisis peran cash holdings sebagai variabel moderasi dalam pengaru

h aspek Governance terhadap Firm performance.

13. Menganalisis peran cash holdings sebagai variabel moderasi dalam pengaru

h aspek Environmental, Social, dan Governance terhadap Market Value.

14. Menganalisis peran cash holdings sebagai variabel moderasi dalam pengaru

h aspek Environmental terhadap Market Value.

15. Menganalisis peran cash holdings sebagai variabel moderasi dalam pengaru

h aspek Social terhadap Market Value.

16. Menganalisis peran cash holdings sebagai variabel moderasi dalam pengaru

h aspek Governance terhadap Market Value.

1.4. Manfaat Penelitian

Peneliti memiliki harapan melalui upaya memahami keterkaitan antara varia

bel-variabel yang sedang diselidiki, diharapkan bahwa hasil temuan ini bisa berma

nfaat diantaranya :

1. Manfaat Teoritis:

Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya khazanah ilmu pengetahuan ter

utama dalam bidang manajemen keuangan dan keberlanjutan perusahaan de

ngan menguji pengaruh aspek Environmental, Social, dan Governance (ES


G) terhadap kinerja perusahaan (Firm performance) dan nilai pasar (Market

Value) melalui peran moderasi cash holdings. Hasil penelitian ini juga dapat

menjadi referensi bagi penelitian selanjutnya dalam mengembangkan teori t

erkait hubungan ESG, cash holdings, dan kinerja perusahaan di konteks pas

ar modal Indonesia.

2. Manfaat Praktis:

Penelitian ini dapat memberikan wawasan dan informasi yang berguna bagi

manajemen perusahaan dalam merumuskan strategi bisnis yang mengintegra

sikan aspek ESG secara efektif untuk meningkatkan kinerja dan nilai perusa

haan. Selain itu, hasil penelitian ini dapat membantu investor dan pemangku

kepentingan lainnya dalam menilai dampak penerapan ESG terhadap nilai p

asar dan stabilitas keuangan perusahaan, khususnya melalui pengelolaan kas

yang optimal. Regulator dan pembuat kebijakan juga dapat menggunakan te

muan ini untuk memperkuat regulasi terkait pelaporan dan praktik ESG di p

asar modal Indonesia.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Teori Stakeholders

Teori pemangku kepentingan (Stakeholder Theory) pertama kali diperkenalk

an oleh R. Edward Freeman pada tahun 1984. Teori ini menegaskan bahwa manaj

emen perusahaan harus mengelola perusahaan dengan memperhatikan kepentinga

n berbagai pihak yang terkait, seperti karyawan, pelanggan, pemasok, pemerintah,

lembaga keuangan, dan pemegang saham (Ma & Karaman, 2018). Perusahaan dip

andang sebagai bagian dari masyarakat, sehingga keberhasilannya diukur dari seb

erapa baik perusahaan memenuhi tanggung jawab sosialnya. Kepentingan para pe

mangku kepentingan sangat beragam dan dinamis, manajemen perlu menangani p

otensi konflik dengan memberi prioritas pada kelompok utama seperti karyawan,

pemasok, dan pelanggan. Untuk memenuhi harapan publik, perusahaan harus men

gelola pemangku kepentingan dan keberlanjutan secara efektif, termasuk melalui

komunikasi yang transparan mengenai isu keuangan dan non-keuangan, sesuai de

ngan konsep triple bottom line (Velte, 2024).

Teori Stakeholder, menurut Freeman dan Reed dalam Siregar (2018), adalah

kelompok atau individu yang dapat mempengaruhi atau dipengaruhi oleh pencapai

an tujuan perusahaan. Wheelen dan Hunger (2021) menjelaskan bahwa stakeholde

r adalah pihak-pihak yang memiliki kepentingan terhadap keberadaan dan aktivita

s perusahaan karena dampak yang mereka terima. Ghozali dan Chariri (2007) juga

mendukung pandangan ini. Dalam teori stakeholder, eksistensi perusahaan sangat

bergantung pada pemangku kepentingan, sehingga perusahaan memiliki tanggung

jawab tidak hanya kepada pemegang saham tetapi juga kepada para stakeholder la
innya. Kerangka teori stakeholder, perusahaan diharapkan menjalankan kewajiban

sesuai dengan hak yang dimiliki oleh masing-masing pemangku kepentingan (Nau

koko, Sutrisno, Nurkholis, & Saraswati, 2023). Hak-hak ini berbeda-beda, sehing

ga perusahaan harus mengenali dan berinteraksi dengan lingkungan stakeholder u

ntuk memahami kewajibannya terhadap mereka.

Keterlibatan teori stakeholder akan mendorong perusahaan untuk berkontrib

usi pada kinerja berkelanjutan dan mengungkapkannya dalam laporan keberlanjut

an. Para pemangku kepentingan mencakup karyawan, konsumen, pemasok, komu

nitas, pemerintah, hingga lembaga keuangan. Keberhasilan sebuah perusahaan tid

ak hanya diukur dari aspek keuntungan finansial semata, tetapi juga dari seberapa

baik perusahaan memenuhi tanggung jawab sosial dan lingkungannya. Seiring ber

kembangnya kesadaran terhadap keberlanjutan, perusahaan dituntut untuk mempe

rhatikan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola atau Environmental, Social, and

Governance (ESG). ESG menjadi indikator penting dalam menilai sejauh mana pe

rusahaan berkontribusi terhadap pembangunan berkelanjutan dan memenuhi ekspe

ktasi pemangku kepentingannya. Pelaporan dan kinerja ESG mencerminkan sejau

h mana perusahaan berkomitmen terhadap tanggung jawab sosialnya, yang pada g

ilirannya dapat memengaruhi persepsi pemangku kepentingan terhadap reputasi d

an kinerja perusahaan.

Teori stakeholder (pemangku kepentingan) memberikan kerangka konseptu

al yang kuat. Implementasi ESG yang efektif akan meningkatkan kepercayaan dar

i para stakeholder, memperkuat hubungan jangka panjang dengan pihak eksternal,

serta menurunkan risiko reputasi dan operasional. Hal ini secara tidak langsung ak

an mendorong peningkatan firm performance dan market value. Di sisi lain, cash
holdings atau kepemilikan kas memainkan peran strategis dalam menunjukkan ke

siapan dan fleksibilitas keuangan perusahaan dalam merespons kebutuhan stakeho

lder. Perusahaan dengan tingkat cash holdings yang cukup dinilai lebih mampu m

endanai inisiatif keberlanjutan, menanggapi tekanan stakeholder secara responsif,

serta menjaga stabilitas keuangan dalam jangka panjang. Oleh karena itu, cash hol

dings dapat menjadi jalur penting yang memoderasi hubungan antara ESG dan per

forma perusahaan.

2.2. Environmental, Social, and Governance (ESG)

Environmental, Social, and Governance (ESG) merupakan sebuah kerangka

kerja yang dirancang untuk diintegrasikan ke dalam strategi organisasi dalam rang

ka meningkatkan nilai perusahaan. ESG membantu organisasi untuk tidak hanya f

okus pada tujuan keuangan, tetapi juga mencakup proses identifikasi, penilaian, da

n pengelolaan berbagai risiko serta peluang yang berkaitan dengan keberlanjutan

dan relevan bagi kelangsungan usaha (Farhan, 2024). Konsep ESG pertama kali di

perkenalkan melalui laporan The United Nations Principles for Responsible Invest

ment pada tahun 2006, yang menyebutkan bahwa ESG merupakan istilah yang dig

unakan di pasar modal untuk menggambarkan kinerja non-keuangan suatu Perusa

haan (Nofrian & Sebrina, 2024). ESG sendiri mengacu pada sejauh mana perusah

aan dan investor memasukkan perhatian terhadap isu lingkungan, sosial, dan tata k

elola ke dalam model bisnis dan pengambilan keputusan.

ESG terdiri dari tiga komponen utama, yaitu lingkungan (environmental), so

sial (social), dan tata kelola (governance). Faktor lingkungan atau ‘E’ menitikbera

tkan pada pelestarian alam, dengan fokus pada bagaimana aktivitas perusahaan be

rdampak terhadap lingkungan dan sejauh mana perusahaan berperan dalam menja
ga kelestarian lingkungan hidup (Durlista & Wahyudi, 2023). Faktor sosial atau

‘S’ mencerminkan bagaimana perusahaan membangun reputasinya serta menjaga

hubungan yang harmonis dengan para pemangku kepentingan, seperti karyawan,

pelanggan, dan masyarakat. Sementara itu, faktor tata kelola atau ‘G’ berkaitan de

ngan penerapan prinsip-prinsip good corporate governance, seperti transparansi, a

kuntabilitas, dan integritas dalam pengelolaan perusahaan (Farhan, 2024). Kebera

daan suatu perusahaan diharapkan mampu menciptakan nilai jangka panjang yang

berkelanjutan. Oleh karena itu, keberlanjutan perusahaan sangat ditentukan oleh a

danya lisensi sosial, yaitu sejauh mana masyarakat menerima dan mendukung keb

eradaan serta aktivitas perusahaan.

Urgensi penerapan ESG menjadi penting, terutama bila dilihat dari sudut pa

ndang para pemangku kepentingan yang menuntut perusahaan untuk bertanggung

jawab secara lingkungan, sosial, dan tata kelola.

1. Investor, semakin mempertimbangkan aspek ESG sebelum menanamkan m

odal. Reputasi perusahaan, transparansi, dan kinerja keberlanjutan menjadi f

aktor penentu. Penilaian ESG dari lembaga rating dapat memengaruhi minat

investor dan harga saham. Contohnya, perusahaan dengan ESG rating tinggi

cenderung memperoleh kepercayaan investor dan meningkatkan market val

ue.

2. Pemerintah, mendorong praktik keberlanjutan melalui regulasi seperti POJK

No. 51/POJK.03/2017 yang mewajibkan pelaporan keberlanjutan. Perusahaa

n yang mematuhi aturan ini tidak hanya memenuhi kewajiban hukum, tetapi

juga menunjukkan kepatuhan tata kelola yang baik, yang berdampak pada p

eningkatan kinerja dan kepercayaan pasar.


3. Konsumen, lebih peduli terhadap keberlanjutan dan memilih produk dari per

usahaan yang bertanggung jawab secara sosial dan lingkungan. Studi menun

jukkan bahwa milenial dan Gen Z bersedia membayar lebih untuk produk da

ri perusahaan dengan praktik ESG yang baik, yang secara tidak langsung me

ndorong peningkatan penjualan dan profitabilitas perusahaan.

4. Media, berperan penting dalam membentuk citra publik perusahaan. Ketida

kpatuhan terhadap prinsip ESG dapat memicu pemberitaan negatif dan men

urunkan kepercayaan publik. Sebaliknya, pelaporan ESG yang baik dapat m

eningkatkan reputasi perusahaan dan menarik lebih banyak dukungan dari in

vestor serta konsumen.

5. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), mengawasi implementasi ESG dan

mendorong perusahaan untuk bertindak etis serta ramah lingkungan. Kemitr

aan yang baik dengan LSM dapat mendukung kredibilitas perusahaan dan m

enunjukkan komitmen terhadap keberlanjutan, yang penting dalam memban

gun hubungan dengan stakeholder.

6. Tenaga Kerja, karyawan cenderung lebih loyal dan produktif di perusahaan

yang menerapkan prinsip ESG, terutama dalam hal keselamatan kerja, kesej

ahteraan, dan lingkungan kerja yang inklusif. Hal ini berkontribusi langsung

terhadap kinerja perusahaan (firm performance) dan efisiensi pengelolaan su

mber daya, termasuk cash holdings.

Perapan prinsip ESG, perusahaan dapat meningkatkan kinerja keuangannya

secara berkelanjutan. ESG mendorong perusahaan untuk lebih peduli terhadap lin

gkungan, misalnya dengan menghemat energi dan mengurangi emisi dalam proses

produksi. Di sisi sosial, perusahaan diharapkan menciptakan lingkungan kerja yan


g aman, memberikan kepastian kerja bagi karyawan, menjalin hubungan baik den

gan masyarakat sekitar, dan menjaga kepercayaan publik. Sementara itu, dari sisi t

ata kelola, perusahaan perlu menerapkan prinsip good corporate governance untuk

mendukung praktik bisnis yang etis dan transparan. Penerapan ESG tidak hanya m

embantu perusahaan dalam menciptakan inovasi dan meningkatkan daya saing, tet

api juga mengurangi potensi risiko di masa mendatang (Putri & Bayangkara, 202

5).

Investasi yang bertanggung jawab bukan hanya soal mengejar keuntungan fi

nansial semata, tapi juga mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan, so

sial, dan tata kelola perusahaan. Prinsip dasarnya adalah “tidak menimbulkan keru

gian”, bahkan jika memungkinkan, turut mendorong perubahan positif. Menurut S

hmatov (2022) ESG menjadi acuan utama dalam menilai apakah suatu investasi m

emenuhi mandat tersebut. Pengungkapan ESG yang biasa dinilai dalam bentuk sk

or ESG bersifat sukarela dan menjadi alat penting untuk menunjukkan komitmen

perusahaan terhadap keberlanjutan. Dalam beberapa tahun terakhir, sistem penilai

an ESG berkembang pesat dan banyak digunakan oleh konsultan bisnis di seluruh

dunia. Skor ini digunakan oleh investor dan pihak berkepentingan lainnya untuk

menilai potensi risiko dan peluang suatu perusahaan (Alareeni & Hamdan, 2020).

Salah satu penyedia data ESG terkemuka adalah Refinitiv Eikon, yang meni

lai kinerja ESG berdasarkan 186 indikator utama yang dianggap relevan untuk ber

bagai sektor industri. Indikator tersebut dikelompokkan menjadi 10 kategori utam

a dan digunakan untuk menyusun skor ESG perusahaan. Skor ini mencerminkan k

inerja, komitmen, serta efektivitas perusahaan dalam menerapkan prinsip ESG, be

rdasarkan informasi yang tersedia secara public (Dobrick, Klein, & Zwergel, 202
3). Menurut Dobrick (2023) penilaian ESG ada tiga, yaitu Environmental terdapat

tiga kategori, yaitu penggunaan sumber daya (resource use), emisi (emission), dan

inovasi (innovation). Sementara itu, untuk skor social terdapat empat kategori pen

ilaian, yaitu tenaga kerja (workforce), hak asasi manusia (human rights), tanggung

jawab kepada masyarakat (community), dan tanggung jawab produk (product resp

onsibility). Selanjutnya pada skor governance terdapat tiga kategori penilaian, yait

u manajerial (management), pemegang saham (shareholders), dan strategi tanggun

g jawab sosial perusahaan (CSR strategy).

2.3. Firm performance

Nilai perusahaan merupakan salah satu fokus utama bagi investor karena me

ncerminkan persepsi pasar terhadap keberhasilan dan prospek perusahaan. Nilai in

i sangat erat kaitannya dengan harga saham, di mana harga saham mencerminkan

ekspektasi pasar terhadap kinerja dan potensi perusahaan tersebut (Prabawati & R

ahmawati, 2022). Menurut Harmono (2021), harga saham di pasar mencerminkan

penilaian publik secara langsung terhadap kinerja aktual perusahaan. Brigham dan

Houston (2019) menyatakan bahwa nilai perusahaan dapat didefinisikan sebagai n

ilai sekarang dari arus kas yang dihasilkan oleh aset perusahaan selama periode w

aktu tertentu. Pandangan ini menekankan pentingnya pengelolaan perusahaan yan

g baik dan pengambilan keputusan jangka panjang yang bertujuan untuk memaksi

malkan nilai perusahaan.

Pasar saham mempertimbangkan prospek masa depan perusahaan dalam me

nentukan harga sahamnya, sehingga manajer perlu mengambil keputusan strategis

dengan orientasi jangka panjang guna meningkatkan nilai perusahaan serta memb

erikan keuntungan maksimal kepada para pemegang saham (Prabawati & Rahma
wati, 2022). Perusahaan publik, manajer dan karyawan bertindak atas nama peme

gang saham, sehingga mereka memiliki tanggung jawab untuk menjalankan kebija

kan yang mendukung peningkatan nilai pemegang saham (Brigham, 2016). Invest

or cenderung memilih perusahaan yang memiliki kinerja dan nilai yang baik. Harg

a saham yang tinggi tidak hanya menunjukkan nilai perusahaan yang besar, tetapi

juga membangun kepercayaan pasar terhadap stabilitas dan potensi kinerja perusa

haan ke depan. Karena itu, nilai perusahaan sering dijadikan sebagai tolok ukur ut

ama bagi investor, sebab semakin tinggi harga saham perusahaan, maka semakin t

inggi pula potensi pengembalian investasi (Fatma & Chouaibi, 2021).

Meskipun demikian, penting untuk diingat bahwa tindakan manajerial yang

ditujukan untuk meningkatkan nilai perusahaan belum tentu langsung tercermin d

alam pergerakan harga saham. Oleh karena itu, manajer harus mempertimbangkan

dampak strateginya terhadap harga saham secara menyeluruh dan berkelanjutan

(Brigham & Houston, 2019). Nilai perusahaan, dapat di ukur dengan beberapa me

tode yang dapat digunakan, salah satunya adalah rasio Tobin’s Q. Konsep ini dipe

rkenalkan oleh peraih Nobel asal Amerika Serikat, James Tobin. Tobin’s Q meng

gambarkan perbandingan antara nilai pasar aset perusahaan dengan biaya penggan

tiannya (Siagian & Ningrum, 2019). Rasio ini dipandang relevan dalam mengesti

masi nilai perusahaan secara adil karena mencakup berbagai komponen seperti hut

ang, modal saham, aset perusahaan, saham biasa, dan ekuitas (Prabawati & Rahm

awati, 2022). Selain itu, Tobin’s Q juga memberikan gambaran mengenai efektivit

as dan efisiensi perusahaan dalam memanfaatkan seluruh sumber daya yang dimili

kinya, termasuk aset berwujud dan tidak berwujud yang telah terbentuk dalam pro

ses operasionalnya (Dzahabiyya, Jhoansyah, & Danial, 2020).


2.4. Market value

Market value atau nilai pasar merupakan nilai total saham suatu perusahaan

yang diperdagangkan di pasar saham pada waktu tertentu. Nilai ini mencerminkan

persepsi investor terhadap kinerja dan prospek perusahaan, sehingga menjadi indi

kator penting dalam menilai baik buruknya suatu perusahaan. Berbeda dengan nila

i buku yang didasarkan pada catatan akuntansi internal perusahaan, market value

ditentukan oleh harga saham yang terbentuk di bursa, hasil interaksi antara permin

taan dan penawaran pasar (Samudra & Ardini, 2020). Horngren et al. (2012) menj

elaskan bahwa nilai pasar suatu saham sangat dipengaruhi oleh laba bersih, posisi

keuangan, prospek pertumbuhan, serta kondisi ekonomi secara keseluruhan. Seme

ntara itu, menurut Ratnasari dan Astuti (2014), market value merupakan nilai kese

luruhan saham yang terbentuk di pasar dalam periode tertentu. Lubis (2024) mena

mbahkan bahwa harga saham di pasar, yang merupakan hasil kesepakatan pelaku

pasar, dapat dianggap merepresentasikan nilai pasar perusahaan.

Menurut Jogiyanto (2015:188), market value adalah harga saham yang terbe

ntuk di pasar saham pada suatu waktu tertentu yang mencerminkan interaksi antar

a penawaran dan permintaan. Market value berbeda dengan nilai buku (book valu

e) yang merupakan nilai saham menurut pembukuan akuntansi perusahaan. Semen

tara itu, Horngren et al. (2013:28) menyatakan bahwa market value merupakan ha

rga yang dapat digunakan untuk membeli atau menjual satu lembar saham, yang n

ilainya bervariasi tergantung pada laba perusahaan, kondisi keuangan, dan prospe

k masa depan perusahaan. Market value dipandang sebagai refleksi publik terhada

p reputasi, kredibilitas, dan kinerja perusahaan secara aktual. Market value diguna

kan untuk mengetahui nilai riil suatu aset perusahaan yang tercermin melalui mek
anisme pasar. Secara umum, perusahaan dengan market value yang besar cenderu

ng lebih menarik bagi investor karena diasumsikan memiliki kestabilan, kredibilit

as, dan prospek yang lebih baik dibandingkan perusahaan dengan market value ya

ng kecil.

Investor menggunakan market value sebagai dasar untuk mengambil keputu

san investasi karena nilai pasar yang tinggi menunjukkan bahwa perusahaan diang

gap sehat dan memiliki prospek yang baik. Sebaliknya, nilai pasar yang rendah da

pat menjadi sinyal adanya masalah dalam operasional perusahaan atau ketidakpast

ian prospek bisnis di masa depan (Ratnasari & Astuti, 2014). Market value dapat

diukur melalui beberapa pendekatan. Salah satu ukuran yang paling umum diguna

kan dalam penelitian keuangan adalah Tobin's Q. Tobin's Q pertama kali diperken

alkan oleh James Tobin dan didefinisikan sebagai perbandingan antara nilai pasar

aset perusahaan dengan nilai pengganti (replacement cost) dari aset tersebut. Rasi

o ini digunakan untuk menilai apakah suatu perusahaan dinilai terlalu tinggi atau t

erlalu rendah oleh pasar.

Menurut Ningrum (2021), Tobin's Q memberikan gambaran sejauh mana pa

sar menghargai perusahaan dibandingkan dengan nilai asetnya. Nilai Tobin’s Q >

1 menunjukkan bahwa pasar menilai perusahaan lebih tinggi daripada nilai buku a

setnya, yang bisa diartikan sebagai sinyal positif terhadap prospek perusahaan. Se

baliknya, jika Tobin’s Q < 1, maka pasar menilai perusahaan lebih rendah dari nil

ai bukunya. Selain Tobin’s Q, indikator lain yang juga sering digunakan untuk me

ngukur market value adalah Price to Book Value (PBV) dan Price to Earnings Rat

io (PER). Metrik-metrik ini digunakan untuk membandingkan harga saham denga


n nilai buku dan laba perusahaan, yang juga memberikan sinyal tentang persepsi p

asar terhadap nilai dan potensi perusahaan.

2.5. Cash Holdings

Cash holdings atau persediaan kas di tangan adalah uang tunai yang dimiliki

perusahaan dan termasuk dalam kategori aset lancar. Kas ini sangat penting untuk

menjaga kelancaran aktivitas operasional sehari-hari perusahaan, seperti membaya

r gaji karyawan, pembelian bahan baku, serta pengeluaran rutin lainnya (Fina, 202

0). Perusahaan perlu memiliki jumlah kas yang optimal tidak terlalu banyak, tetap

i juga tidak terlalu sedikit. Jika jumlah kas terlalu sedikit, maka perusahaan berisik

o mengalami kesulitan likuiditas dalam menghadapi pengeluaran mendadak atau k

ewajiban jangka pendek yang harus segera dibayar (Alhazami et al., 2024). Sebali

knya, jika perusahaan menyimpan kas dalam jumlah yang terlalu besar, hal ini jug

a tidak efisien karena dana tersebut menjadi menganggur (idle cash) dan tidak me

nghasilkan keuntungan apa pun. Selain itu, risiko penurunan nilai uang karena infl

asi atau perubahan nilai tukar juga bisa berdampak negatif.

Cash holdings dapat dimanfaatkan untuk kepentingan lain, seperti pembayar

an dividen kepada pemegang saham, pembelian kembali saham (share buyback), a

tau digunakan sebagai cadangan saat menghadapi ketidakpastian ekonomi atau ke

butuhan mendadak lainnya (Saragih, 2016). Menurut teori Trade-off Theory, perus

ahaan harus menyeimbangkan antara manfaat memegang kas sebagai alat likuidita

s dengan biaya peluang dari dana yang tidak diinvestasikan. Sementara menurut P

ecking Order Theory, perusahaan lebih memilih menggunakan kas internal terlebi

h dahulu sebelum mencari pembiayaan eksternal karena kas internal dianggap lebi

h fleksibel dan tanpa biaya transaksi tambahan (Sutarman et al., 2022).


Cash holding memiliki berbagai tujuan atau motif yang berbeda. Menurut K

eynes dalam Ali et al. (2016), terdapat tiga motif utama perusahaan dalam melaku

kan cash holding. Pertama, transaction motive, yaitu kas yang ditahan untuk mem

enuhi kebutuhan arus kas masuk dan keluar dalam jangka pendek. Kedua, precaut

ionary motive, yang menggambarkan sikap perusahaan dan rumah tangga menaha

n kas sebagai persiapan menghadapi kewajiban di masa depan yang tidak bisa dipr

ediksi dengan pasti saat ini. Ketiga, speculative motive, yaitu kas yang disimpan u

ntuk mengambil peluang terkait kemungkinan kenaikan suku bunga di masa depa

n. Cash holding digunakan oleh perusahaan untuk berbagai keperluan, seperti me

mbiayai transaksi harian, melakukan investasi eksternal melalui pembelian saham,

investasi internal untuk ekspansi pabrik, membagikan dividen kepada investor, me

nyimpan kas sebagai dana cadangan, serta memanfaatkan kesempatan pembelian

dalam jumlah besar dengan harga yang lebih murah di masa depan.

Cash holding juga memiliki kelemahan karena kas merupakan bentuk aset y

ang paling kurang menguntungkan. Hal ini dikarenakan nilai uang saat ini berbeda

dengan nilai uang di masa depan, yang dikenal sebagai time value of money (nilai

waktu dari uang). Jika perusahaan menyimpan sejumlah besar kas tanpa menggun

akannya, maka jumlah kas tersebut tetap sama, bahkan nilainya bisa menurun diba

ndingkan jika dana tersebut diinvestasikan pada aset riil. Konsep time value of mo

ney mengacu pada prinsip bahwa menerima uang sekarang lebih menguntungkan

dibandingkan menerima uang di kemudian hari. Uang yang tersedia saat ini bisa d

iinvestasikan untuk mendapatkan imbal hasil positif sehingga menghasilkan lebih

banyak uang di masa depan (Valentina & Wahyudi, 2021).


2.6. Penelitain Terdahulu

Temuan terdahulu mengenai ESG ini biasa berfokus dalam keterkaitan pada

dua faktor penting, firma performance, serta market value dengan cash holdings: b

erikut ini penelitian terdahulu yang memjadi pedoman temuan ini ialah:

1. Ahmed, O., & Khalaf, B. A. (2025). The impact of ESG on firm value:

The moderating role of cash holdings. Heliyon, 11(2). Makalah ini mene

liti apakah kinerja Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola (ESG) berdampa

k pada nilai pasar dan kepemilikan kas perusahaan. Mengambil sampel d

ari 27 negara Uni Eropa, sampel komprehensif yang terdiri dari 1.144 pe

rusahaan dikumpulkan dari LSEG Data & Analytics selama periode 11 t

ahun (2013–2023). Penelitian ini menerapkan regresi panel (teknik efek

tetap dan acak) untuk menyelidiki hubungan tersebut; berdasarkan hasil

signifikan dari uji Hausman, regresi efek tetap telah dianalisis. Hasilnya

menunjukkan bahwa semakin efisien dan efektif kinerja ESG, semakin ti

nggi nilai perusahaan. Selain itu, kepemilikan kas memengaruhi nilai pa

sar secara positif, yang menunjukkan bahwa ketika perusahaan memiliki

cadangan kas yang tinggi, nilai pasar mereka meningkat. Rekomendasi u

tama yang diberikan kepada berbagai anggota dewan di kawasan UE ada

lah untuk mengikuti prinsip dan pedoman ESG dan menyimpan lebih ba

nyak kas karena hal ini akan meningkatkan nilai perusahaan secara subst

ansial. Hasil kami kuat karena regresi Tobit memberikan hasil yang seru

pa dengan teknik efek tetap.

2. Veeravel, V., Murugesan, V. P., & Narayanamurthy, V. (2024). Does E

SG disclosure really influence the firm performance? Evidence from Ind


ia. The Quarterly Review of Economics and Finance, 95, 193-202. Maka

lah ini, menguji pengaruh skor pengungkapan ESG terhadap kinerja per

usahaan yang terdaftar di Bursa Efek Nasional (BNE). Studi ini menggu

nakan 167 perusahaan sampel dari tahun 2010 hingga 2020. Kami meng

kapitalisasi skor pengungkapan ESG keseluruhan yang diambil sebagai

proksi untuk mengukur pengaruh pengungkapan keberlanjutan terhadap

kinerja perusahaan. Selanjutnya, kami mempertimbangkan laba atas aset

(ROA), laba atas ekuitas (ROE), Tobin's Q, dan rasio Harga Laba (rasio

P/E) sebagai ukuran kinerja perusahaan. Kami menggunakan analisis reg

resi data panel dinamis untuk menguji pengaruh pengungkapan ESG ter

hadap kinerja perusahaan. Untuk mengatasi masalah endogenitas, kami

menerapkan model Generalised Method of Moments (GMM). Hasil stud

i menunjukkan hubungan positif antara pengungkapan ESG dan kinerja

perusahaan. Hal ini menunjukkan bahwa keinginan perusahaan untuk m

eningkatkan kinerja mereka perlu lebih memperhatikan pengungkapan k

eberlanjutan.

3. Junius, D., Adisurjo, A., Rijanto, Y. A., & Adelina, Y. E. (2020). The im

pact of ESG performance to firm performance and market value. Jurnal

Aplikasi Akuntansi, 5(1), 21-41. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidi

ki dampak kinerja ESG terhadap kinerja perusahaan dan nilai pasar. Tot

al sampel yang digunakan adalah 271 perusahaan tercatat (1355 observa

si firm-years) dalam periode lima tahun (2013-2017), yang terdiri dari e

mpat negara ASEAN (Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Thailand). St

udi ini dianalisis menggunakan analisis regresi berganda dengan model e


fek acak dan statistik deskriptif. Variabel independen adalah Skor ESG;

variabel dependen adalah tiga indikator kinerja (Return on Assets, Retur

n on Equity, dan Tobin's Q) dan rasio Price-Earnings; variabel kontrol a

dalah ukuran perusahaan, usia perusahaan, leverage keuangan, dan indus

tri. Penelitian ini berkontribusi untuk memperluas cakupan tinjauan liter

atur mengenai kinerja ESG dengan menganalisisnya di negara-negara be

rkembang dan juga dengan menggunakan variabel dependen yang jarang

digunakan, nilai pasar. Temuan dalam penelitian ini adalah tidak ada pe

ngaruh yang signifikan dari Skor ESG terhadap Kinerja Perusahaan dan

Nilai Pasar karena Skor ESG belum menjadi bagian dari pengukuran kin

erja perusahaan. Penelitian ini terbatas dalam melakukan penelitian lag e

ffect dengan periode lag hanya satu tahun, dan juga jumlah perusahaan y

ang telah memiliki skor ESG terbatas.

4. Lestari, T. U., & Hasanah, S. I. (2024). The Impact of ESG Disclosure,

Hedging Policy, and Cash Holding on Firm Value. International Journa

l of Management and Business Applied, 3(2), 129-144. Penelitian ini ber

tujuan untuk menguji pengaruh pengungkapan ESG, kebijakan lindung n

ilai, dan kepemilikan kas terhadap nilai perusahaan. Metode pengambila

n sampel yang digunakan adalah purposive sampling, dengan fokus pada

perusahaan sektor energi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Sampel

terdiri dari 11 perusahaan selama periode 2018 hingga 2023, menghasilk

an total 60 observasi. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah d

ata sekunder, yang diperoleh dari laporan tahunan dan laporan keberlanj

utan perusahaan. Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis r


egresi data panel. Temuan menunjukkan bahwa pengungkapan ESG tida

k memiliki dampak signifikan terhadap nilai perusahaan. Penelitian ini

mengungkapkan bahwa banyak perusahaan di Indonesia belum menerap

kan konsep keberlanjutan atau mengungkapkan informasi ESG kepada p

ublik. Pengungkapan ESG masih dalam tahap pengembangan dan belum

diadopsi secara luas, sehingga belum menjadi pertimbangan utama bagi

investor. Sebaliknya, kebijakan lindung nilai berdampak positif terhadap

nilai perusahaan, yang menunjukkan bahwa perusahaan yang menerapka

n strategi lindung nilai dapat meningkatkan nilainya. Sementara itu, kep

emilikan kas tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap nilai

perusahaan.

5. Xaviera, A., Febrianto, R., Widiastuty, E., & Iswardi, I. (2024). ESG, Fi

rm Value, and Life Cycle: Evidences from South East Asia. Jurnal Dina

mika Akuntansi dan Bisnis, 11(2), 331-334. Studi ini menyelidiki dampa

k kinerja ESG pada nilai perusahaan di masa mendatang, dengan mempe

rtimbangkan fase perusahaan dalam siklus hidup. Sampel terdiri dari per

usahaan non-keuangan yang terdaftar di lima negara Asia Tenggara (SE

A). Data dikumpulkan dari Refinitiv Eikon Database, dengan sampel dit

entukan menggunakan teknik pengambilan sampel purposive. Studi ini

mencakup periode dari 2013 hingga 2022, menghasilkan 1.080 observas

i perusahaan-tahun. Dengan menggunakan analisis regresi berganda, stu

di ini menemukan bahwa kinerja ESG terkait dengan nilai perusahaan ta

hun berikutnya di perusahaan-perusahaan SEA. Kinerja ESG memengar

uhi nilai perusahaan hanya ketika perusahaan berada dalam tahap matan
g, sementara hubungan campuran diamati ketika dimensi ESG individua

l diuji. Temuan-temuan ini mendukung gagasan bahwa dampak kinerja t

erkait ESG mungkin tidak langsung tercermin dalam nilai perusahaan ta

hun berjalan tetapi di masa depan.

6. Tanjaya, F., & Ratmono, D. (2024). Pengaruh Environmental, Social, da

n Governance (ESG) terhadap kinerja perusahaan dengan variabel mode

rasi board size. Diponegoro Journal of Accounting, 13(3). Tujuan dari p

enelitian ini adalah untuk menguji dampak kinerja ESG dan subkompon

en ESG terhadap kinerja perusahaan dan dampak ukuran dewan pada hu

bungan antara kinerja ESG terhadap kinerja perusahaan. Variabel depen

den yang digunakan dalam penelitian ini adalah kinerja perusahaan yang

indikator kinerja perusahaannya adalah pengembalian aset, pengembalia

n ekuitas, dan Tobin's Q. Kinerja ESG dan subkomponen ESG digunaka

n sebagai variabel independen. Selanjutnya, penelitian ini menggunakan

ukuran dewan sebagai variabel moderasi. Sampel dalam penelitian ini te

rdiri dari 375 perusahaan yang memiliki skor ESG pada database Bloom

berg dalam periode 2018-2022. Data yang digunakan dalam penelitian i

ni adalah data sekunder dan dipilih dengan menggunakan metode purpos

ive sampling. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini a

dalah analisis regresi berganda untuk menguji hipotesis. Berdasarkan ha

sil empiris penelitian ini menunjukkan bahwa kinerja ESG tidak berdam

pak pada kinerja perusahaan dengan data lengkap dan sebelum Covid-19.

Kinerja ESG memiliki dampak positif pada ROA dan ROE selama Covi
d-19 Studi ini juga menemukan bahwa tidak ada hubungan ukuran dewa

n antara kinerja ESG dan kinerja perusahaan.

7. Sari, S. R. (2025). Pengaruh Environmental, Social, and Governance (E

SG) Terhadap Firm performance: Analisis Jangka Pendek Dan Jangka

Panjang (Doctoral dissertation, UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKA

RTA). Praktik tata kelola perusahaan yang baik harus mengatasi isu-isu

penting seperti faktor lingkungan, sosial, dan ekonomi yang saat ini men

jadi perhatian besar. Penelitian ini mengevaluasi dampak Lingkungan, S

osial, dan Tata Kelola (ESG) terhadap kinerja perusahaan di Indonesia y

ang terdaftar di Jakarta Islamic Index 70 (JII70) selama periode 2018-20

22. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan purposive sampl

ing. Penelitian ini menggunakan metode Autoregressive Distributed Lag

(ARDL) dan analisis data menggunakan Eviews versi 10. Penelitian ini

mengevaluasi efek jangka pendek dan jangka panjang ESG terhadap kin

erja perusahaan. Hasilnya menunjukkan bahwa pelaporan ESG yang bai

k secara signifikan meningkatkan kinerja perusahaan, menekankan penti

ngnya penerapan praktik ESG dalam strategi bisnis untuk perusahaan di

Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan panduan dan reko

mendasi bagi investor dalam membuat keputusan investasi, baik untuk j

angka pendek maupun jangka panjang.

8. Audito, J., & Yuyetta, E. N. A. (2024). Pengaruh Environment, Social,

Governance (ESG) Disclosure Terhadap Market value Dengan Environ

mental Risk Of Industry Sector Sebagai Variabel Moderasi (Studi Empir

is pada perusahaan non finance yang terdaftarpada Indeks JII70 (Jakarta


Islamic Index 70) BEI periode 2019-2022). Diponegoro Journal of Acco

unting, 13(3). Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh ESG Dis

closure terhadap Nilai Pasar dan menguji Environmental Risk of Industr

y Sector sebagai pengaruh moderasi antara ESG Disclosure dengan Nilai

Pasar. Variabel independen penelitian ini, ESG Disclosure diukur meng

gunakan ESG Disclosure Score yang dipublikasikan oleh Bloomberg Te

rminal, untuk variabel dependen Market value diukur menggunakan Tob

in’s Q ratio, dan untuk variabel moderasi Environmental Risk of Industr

y Sector diukur menggunakan GHG Emission, Climate change risk, dan

Energy Consumption Disclosure dengan analisis isi. Penelitian ini meng

gunakan leverage dan firm size sebagai variabel kontrol. Populasi dalam

penelitian ini adalah perusahaan-perusahaan yang terdaftar pada Indeks J

II70 (Jakarta Islamic Index 70) secara berturut-turut selama periode 201

9-2022. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan metode p

urposive sampling yaitu pengambilan sampel berdasarkan kriteria-kriteri

a tertentu yang telah ditetapkan. Total jumlah perusahaan yang dijadikan

sampel sebanyak 110 perusahaan, metode analisis dalam penelitian ini a

dalah metode MRA (Moderated Regression Analysis). Hasil penelitian

menunjukkan bahwa Pengungkapan ESG memiliki pengaruh positif sign

ifikan terhadap Nilai Pasar, dan Risiko Lingkungan Sektor Industri mele

mahkan hubungan antara Pengungkapan ESG dan Nilai Pasar.

9. Nabiela, L. F. A. (2025). Analisis Pengaruh Environmental, Social, Gov

ernance Terhadap Company Market value Yang Terdaftar Pada Corpor

ate Governance Perception Index (CGPI) Periode 2013–2023: Kinerja


Keuangan Sebagai Variable Intervening (Doctoral dissertation, UIN Su

nan Kalijaga Yogyakarta). Studi menunjukkan bahwa implementasi goo

d governance dan kesadaran lingkungan di Indonesia masih rendah, terti

nggal dari tren global ESG. Penelitian ini menganalisis pengaruh ESG te

rhadap company market value dengan ROA sebagai pemoderasi, mengg

unakan data 14 perusahaan JII dan CGPI (2013–2023). Hasil regresi dat

a panel menunjukkan bahwa aspek lingkungan berdampak negatif signif

ikan terhadap nilai pasar dan ROA, sementara aspek sosial tidak berpeng

aruh. Tata kelola berpengaruh positif signifikan terhadap profitabilitas d

an nilai pasar. ROA memoderasi hubungan sosial dan tata kelola terhada

p nilai pasar, tetapi tidak pada aspek lingkungan. Temuan ini menegaska

n pentingnya governance dalam keberlanjutan perusahaan.

10. AlHares, A., AlEmadi, N., Abu-Asi, T., & Al Abed, R. (2023). Environ

mental, Social, and Governance disclosure impact on cash holdings in O

ECD countries. Penelitian ini menyelidiki bagaimana kepemilikan kas di

pengaruhi oleh praktik pengungkapan lingkungan, sosial, dan tata kelola

(ESG) perusahaan. Penelitian ini memberikan wawasan berharga tentan

g diskusi yang sedang berlangsung di seluruh dunia tentang pengungkap

an ESG, dan khususnya 5 negara dari Organisasi untuk Kerja Sama dan

Pembangunan Ekonomi (OECD), yaitu Amerika Serikat, Kanada, Inggri

s, Jepang, dan Australia, selama periode 2012–2021. Menggunakan basi

s data Refinitiv Eikon untuk mengukur variabel-variabel tersebut. Hasiln

ya menunjukkan ada hubungan negatif yang signifikan antara pengungk

apan ESG dan kepemilikan kas pada tahap pengenalan, pertumbuhan, da


n goncangan/penurunan. Kepemilikan kas yang lebih rendah dikaitkan d

engan kinerja perusahaan yang lebih tinggi dan nilai kas yang positif. M

eskipun menggunakan parameter ekonometrik yang berbeda, pengukura

n lain, variabel kontrol tambahan, pencocokan skor kecenderungan, dan

pendekatan variabel instrumental, hasil kami tetap tidak berubah (Arayss

i et al., 2020). Makalah ini memiliki rekomendasi untuk pembuat kebija

kan, investor, dan organisasi bisnis. Yang terpenting, studi kami mengun

gkap bagaimana tingkat pengungkapan ESG yang lebih tinggi menghasil

kan praktik penyimpanan uang tunai yang lebih baik.

Table 2.1
Penelitian Terdahulu
Metode Peneliti Variabel Hasil
No Nama, Tahun, Judul
an Penelitian Penelitian
Ahmed, O., & Khalaf, Analisis regresi d Variable Independen: Hasil penelitian menunjukkan bahw
B. A.(2025). The impa ata panel ESG a semakin efisien dan efektif kinerj
ct of ESG on firm valu a ESG, semakin tinggi nilai perusah
e: The moderating role Variable dependen : aan. Selain itu, kepemilikan kas me
1 of cash holdings. firm value mengaruhi nilai pasar secara positif,
yang menunjukkan bahwa ketika pe
Variable moderasi : rusahaan memiliki cadangan kas ya
cash holdings. ng tinggi, nilai pasar mereka menin
gkat.
Veeravel, V., Muruges Analisis regresi d Variable Independen: Hasil studi menunjukkan hubungan
an, V. P., & Narayana ata panel ESG positif antara pengungkapan ESG d
murthy, V.(2024). Doe an kinerja perusahaan. Hal ini menu
2 s ESG disclosure reall Variable dependen : njukkan bahwa keinginan perusaha
y influence the firm pe firm value an untuk meningkatkan kinerja mer
rformance? Evidence f eka perlu lebih memperhatikan pen
rom India. gungkapan keberlanjutan.
Junius, D., Adisurjo, analisis regresi b Variable Independen: Temuan dalam penelitian ini adalah
A., Rijanto, Y. A., & erganda ESG tidak ada pengaruh yang signifikan
Adelina, Y. E.(2020). dari Skor ESG terhadap Kinerja Per
3 The impact of ESG per Variable dependen : usahaan dan Nilai Pasar karena Sko
formance to firm perfo firm performance, mar r ESG belum menjadi bagian dari p
rmance and market val ket value. engukuran kinerja perusahaan.
ue.
4 Lestari, T. U., & Hasa analisis regresi d Variable Independen: Temuan menunjukkan bahwa peng
nah, S. I.(2024). The I ata panel ESG Disclosure, Hedg ungkapan ESG tidak memiliki dam
mpact of ESG Disclos ing Policy, Cash Holdi pak signifikan terhadap nilai Perusa
ure, Hedging Policy, a ng haan. Kebijakan lindung nilai berda
nd Cash Holding on Fi mpak positif terhadap nilai Perusah
rm Value. Variable dependen : aan. Dan kepemilikan kas tidak me
Firm Value. nunjukkan pengaruh yang signifika
n terhadap nilai perusahaan.
Xaviera, A., Febrianto, analisis regresi b Variable Independen: Studi ini menemukan bahwa kinerja
R., Widiastuty, E., & I erganda ESG Disclosure, Hedg ESG terkait dengan nilai perusahaa
swardi, I.(2024). ESG, ing Policy, Cash Holdi n tahun berikutnya di perusahaan-p
Firm Value, and Life ng erusahaan SEA. Kinerja ESG meme
5 Cycle: Evidences from ngaruhi nilai perusahaan hanya keti
South East Asia. Variable dependen : ka perusahaan berada dalam tahap
Firm Value. matang, sementara hubungan camp
uran diamati ketika dimensi ESG in
dividual diuji.
Tanjaya, F., & Ratmon analisis regresi b Variable Independen: Berdasarkan hasil empiris penelitia
o, D.(2024). Pengaruh erganda Environmental, Social, n ini menunjukkan bahwa kinerja E
Environmental, Social, dan Governance (ES SG tidak berdampak pada kinerja p
dan Governance (ES G) erusahaan dengan data lengkap dan
G) terhadap kinerja per sebelum Covid-19. Kinerja ESG me
6 usahaan dengan variab Variable dependen : miliki dampak positif pada ROA da
el moderasi board siz kinerja perusahaan n ROE selama Covid-19 Studi ini j
e. uga menemukan bahwa tidak ada h
Variable moderasi : ubungan ukuran dewan antara kiner
cash holdings. ja ESG dan kinerja perusahaan.
board size.
Sari, S. R.(2025). Peng Metode Auto Re Variable Independen: Hasilnya menunjukkan bahwa pela
aruh Environmental, S gressive Distribu Environmental, Social, poran ESG yang baik secara signifi
ocial, and Governance ted Lag (ARDL) and Governance (ES kan meningkatkan kinerja perusaha
7 (ESG) Terhadap Firm G) an, menekankan pentingnya penera
performance: Analisis pan praktik ESG dalam strategi bisn
Jangka Pendek Dan Ja Variable dependen : is untuk perusahaan di Indonesia.
ngka Panjang Firm performance
Audito, J., & Yuyetta, MRA (Moderate Variable Independen: Hasil penelitian menunjukkan bahw
E. N. A.(2024). Pengar d Regression An Environment, Social, a Pengungkapan ESG memiliki pen
uh Environment, Socia alysis). Governance (Esg) Dis garuh positif signifikan terhadap Ni
l, Governance (Esg) D closure lai Pasar, dan Risiko Lingkungan S
isclosure Terhadap Ma ektor Industri melemahkan hubunga
8
rket value Dengan Env Variable dependen : n antara Pengungkapan ESG dan Ni
ironmental Risk Of In Market Value lai Pasar.
dustry Sector Sebagai
Variabel Moderasi Variable moderasi : E
nvironmental Risk
9 Nabiela, L. F. A.(202 analisis regresi d Variable Independen: Hasil regresi data panel menunjukk
5). Analisis Pengaruh ata panel Environmental, Social, an bahwa aspek lingkungan berdam
Environmental, Social, Governance pak negatif signifikan terhadap nilai
Governance Terhadap pasar dan ROA, sementara aspek so
Company Market valu Variable dependen : sial tidak berpengaruh. Tata kelola
e Yang Terdaftar Pada Company Market valu berpengaruh positif signifikan terha
Corporate Governance e dap profitabilitas dan nilai pasar. R
Perception Index (CG OA memoderasi hubungan sosial d
PI) Periode 2013–202 Variabel moderasi : Co an tata kelola terhadap nilai pasar, t
3: Kinerja Keuangan S rporate Governance Pe etapi tidak pada aspek lingkungan.
ebagai Variable Interv rception Index Temuan ini menegaskan pentingnya
ening governance dalam keberlanjutan pe
rusahaan.
AlHares, A., AlEmadi, Analisi dengan b Variable Independen: Hasilnya menunjukkan ada hubung
N., Abu-Asi, T., & Al asis data Refiniti Environmental, Social, an negatif yang signifikan antara pe
Abed, R.(2023). Envir v Eikon and Governance disclo ngungkapan ESG dan kepemilikan
10 onmental, Social, and sure kas pada tahap pengenalan, pertum
Governance disclosure buhan, dan goncangan/penurunan.
impact on cash holdin Variable dependen :
gs in OECD countries. cash holdings

2.7. Pengembangan Hipotesis


2.7.1 Pengaruh Aspek Environmental, Social, Governance terhadap Firm Perfo
rmance
Aspek environmental dalam kerangka ESG (Environmental, Social, Govern

ance) mencakup upaya perusahaan dalam menjaga kelestarian lingkungan, seperti

pengelolaan limbah, efisiensi energi, pengurangan emisi karbon, dan penggunaan

sumber daya yang berkelanjutan. Pengelolaan lingkungan yang baik tidak hanya

merupakan bentuk tanggung jawab sosial perusahaan tetapi juga dapat meningkat

kan kinerja perusahaan (firm performance) secara finansial dan non-finansial (Hor

ngren et al., 2012). Aspek sosial dalam kerangka ESG mencakup berbagai aktivita

s dan tanggung jawab perusahaan terhadap karyawan, pelanggan, komunitas, serta

pemangku kepentingan lainnya. Aspek ini menjadi elemen penting dalam memba

ngun citra perusahaan yang positif dan menjaga hubungan harmonis dengan berba

gai pihak eksternal maupun internal. Aspek governance dalam ESG (Environment

al, Social, Governance) merujuk pada mekanisme, proses, dan kebijakan yang me

ngatur tata kelola perusahaan agar berjalan secara transparan, akuntabel, dan beret

ika. Tata kelola perusahaan yang baik sangat berperan dalam meningkatkan kinerj

a perusahaan (firm performance) melalui pengendalian risiko, pengambilan keput

usan yang tepat, dan peningkatan kepercayaan investor (Horngren et al., 2012).
Penelitian terdahulu menunjukkan adanya hubungan positif antara pengelola

an aspek environmental, social and governance dengan firm performance (Ningru

m, 2021). Berikut hipotesis penelitian ini adalah

H1: Aspek Environmental, Social, Governance berpengaruh positif terhadap

Firm performance.

2.7.2 Pengaruh Aspek Environmental terhadap Firm performance

Aspek environmental dalam kerangka ESG (Environmental, Social, Govern

ance) mencakup upaya perusahaan dalam menjaga kelestarian lingkungan, seperti

pengelolaan limbah, efisiensi energi, pengurangan emisi karbon, dan penggunaan

sumber daya yang berkelanjutan. Pengelolaan lingkungan yang baik tidak hanya

merupakan bentuk tanggung jawab sosial perusahaan tetapi juga dapat meningkat

kan kinerja perusahaan (firm performance) secara finansial dan non-finansial (Hor

ngren et al., 2012). Menurut Samudra & Ardini (2020), persepsi pasar terhadap ki

nerja perusahaan juga dipengaruhi oleh komitmen perusahaan dalam aspek lingku

ngan. Hal ini karena investor cenderung memberikan nilai lebih kepada perusahaa

n yang menunjukkan tanggung jawab terhadap lingkungan, mengingat risiko reput

asi dan regulasi yang semakin ketat. Nilai pasar (market value) perusahaan yang ti

nggi sering kali mencerminkan keyakinan investor bahwa perusahaan mampu bert

ahan dan berkembang dalam jangka panjang dengan memperhatikan aspek lingku

ngan.

Manajemen perusahaan yang memprioritaskan aspek environmental cenderu

ng memiliki strategi operasional yang lebih efisien dan inovatif, seperti pengguna

an teknologi ramah lingkungan dan penghematan sumber daya. Hal ini dapat men

urunkan biaya operasional dan meningkatkan produktivitas yang berujung pada pe


ningkatan kinerja keuangan perusahaan (Lubis, 2024; Ratnasari & Astuti, 2014).

Sejalan dengan itu, cash holdings yang dimiliki perusahaan juga dipengaruhi oleh

pengelolaan aspek environmental. Pengelolaan kas yang optimal memungkinkan

perusahaan untuk berinvestasi dalam teknologi hijau dan program-program keberl

anjutan lainnya tanpa mengorbankan likuiditas perusahaan (Saragih, 2016; Sutarm

an et al., 2022).

Penelitian terdahulu menunjukkan adanya hubungan positif antara pengelola

an aspek environmental dengan firm performance. Perusahaan yang menerapkan p

raktik ramah lingkungan memiliki kinerja keuangan yang lebih baik dan nilai pasa

r yang lebih tinggi dibanding perusahaan yang tidak memperhatikan aspek ini (Ni

ngrum, 2021). Berikut hipotesis penelitian ini adalah

H2: Aspek Environmental berpengaruh positif terhadap Firm performance.

2.7.3 Pengaruh Aspek Social terhadap Firm performance

Aspek sosial dalam kerangka ESG mencakup berbagai aktivitas dan tanggun

g jawab perusahaan terhadap karyawan, pelanggan, komunitas, serta pemangku ke

pentingan lainnya. Aspek ini menjadi elemen penting dalam membangun citra per

usahaan yang positif dan menjaga hubungan harmonis dengan berbagai pihak ekst

ernal maupun internal. Kinerja sosial yang baik dapat mempengaruhi firm perfor

mance secara signifikan karena mampu meningkatkan loyalitas karyawan, kepuas

an pelanggan, dan dukungan masyarakat sekitar yang pada akhirnya mendukung p

roduktivitas dan pertumbuhan perusahaan. Menurut Horngren et al. (2012), kinerj

a perusahaan tidak hanya ditentukan oleh kondisi internal, tetapi juga oleh perseps

i pasar dan hubungan sosial yang kuat. Hal ini diperkuat oleh Ratnasari dan Astuti

(2014) yang menjelaskan bahwa persepsi positif dari publik terhadap aspek sosial
perusahaan mampu meningkatkan nilai pasar dan kepercayaan investor, yang seca

ra tidak langsung juga memengaruhi kinerja finansial perusahaan. Dengan demiki

an, aspek sosial dapat berkontribusi pada peningkatan efisiensi operasional dan pr

ofitabilitas.

Cash holdings yang dimiliki perusahaan menjadi faktor penting dalam mend

ukung implementasi program sosial. Kas yang cukup memungkinkan perusahaan

untuk melakukan investasi sosial seperti pelatihan karyawan, kegiatan tanggung ja

wab sosial perusahaan (CSR), serta dukungan terhadap komunitas, tanpa menggan

ggu kelancaran operasional sehari-hari (Fina, 2020; Saragih, 2016). Teori Trade-o

ff dan Pecking Order (Sutarman et al., 2022) menjelaskan bagaimana perusahaan

harus mengelola kas secara optimal agar dapat memenuhi kebutuhan sosial sekali

gus menjaga likuiditas. Penelitian terdahulu mengindikasikan bahwa perusahaan y

ang mampu mengelola aspek sosial dengan baik biasanya menunjukkan kinerja ya

ng lebih baik melalui peningkatan produktivitas dan reputasi yang positif di mata

pasar (Ratnasari & Astuti, 2014; Ningrum, 2021). Dengan dukungan kas yang me

madai, aspek sosial ini dapat diperkuat sehingga berdampak positif pada firm perf

ormance. Berikut hipotesis penelitian ini adalah

H3: Aspek Social berpengaruh positif terhadap Firm performance.

2.7.4 Pengaruh Aspek Governance terhadap Firm performance

Aspek governance dalam ESG (Environmental, Social, Governance) meruju

k pada mekanisme, proses, dan kebijakan yang mengatur tata kelola perusahaan a

gar berjalan secara transparan, akuntabel, dan beretika. Tata kelola perusahaan ya

ng baik sangat berperan dalam meningkatkan kinerja perusahaan (firm performan

ce) melalui pengendalian risiko, pengambilan keputusan yang tepat, dan peningkat
an kepercayaan investor (Horngren et al., 2012). Nilai pasar perusahaan (market v

alue) dan kinerja finansialnya sangat dipengaruhi oleh reputasi dan kredibilitas ya

ng dibangun melalui governance yang baik (Ratnasari & Astuti, 2014; Lubis, 202

4). Sistem governance yang kuat membantu perusahaan dalam meminimalisasi po

tensi konflik kepentingan, fraud, dan penyimpangan lain yang dapat merugikan pe

rusahaan. Hal ini selaras dengan pandangan Jogiyanto (2015) yang menyatakan ba

hwa market value mencerminkan interaksi penawaran dan permintaan yang dipen

garuhi oleh persepsi terhadap tata kelola perusahaan.

Governance yang baik juga memungkinkan perusahaan mengelola cash hol

dings secara optimal. Menurut teori Trade-off dan Pecking Order (Saragih, 2016;

Sutarman et al., 2022), perusahaan dengan governance yang kuat cenderung memi

liki pengelolaan kas yang efisien sehingga dapat mendukung kebutuhan operasion

al dan investasi strategis, termasuk program-program yang meningkatkan kinerja

perusahaan. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa perusahaan dengan gove

rnance yang baik memiliki kinerja yang lebih stabil dan nilai pasar yang lebih ting

gi dibanding perusahaan dengan governance yang buruk (Ratnasari & Astuti, 201

4; Ningrum, 2021). Oleh karena itu, governance tidak hanya berperan langsung da

lam meningkatkan firm performance, tetapi juga dapat berperan melalui mekanis

me pengelolaan cash holdings sebagai sumber daya penting perusahaan. Berikut h

ipotesis penelitian ini adalah

H4: Aspek Governance berpengaruh positif terhadap Firm performance.

2.7.5 Pengaruh Aspek Environmental, Social, Governance terhadap Market V

alue
Aspek Environmental dalam praktik Environmental, Social, and Governanc

e (ESG) mencerminkan sejauh mana perusahaan melakukan tanggung jawabnya t

erhadap pelestarian lingkungan hidup, seperti pengurangan emisi karbon, efisiensi

energi, pengelolaan limbah, dan konservasi sumber daya alam. Aspek Social dala

m dimensi ESG mencakup komitmen dan tanggung jawab sosial perusahaan terha

dap para pemangku kepentingan seperti karyawan, pelanggan, komunitas, dan ma

syarakat luas. Praktik sosial ini meliputi perlakuan adil terhadap tenaga kerja, hak

asasi manusia, kesehatan dan keselamatan kerja, hubungan komunitas, serta keber

agaman dan inklusi. Aspek Governance dalam indikator ESG berfokus pada siste

m tata kelola perusahaan yang mencakup transparansi, akuntabilitas, integritas ma

najemen, struktur dewan direksi, hak pemegang saham, pengendalian internal, sert

a keberadaan komite audit yang independen.

Penelitian Lubis (2024) mendukung pandangan tersebut dengan menunjukk

an bahwa perusahaan dengan skor ESG yang tinggi cenderung memiliki nilai pasa

r (market value) yang lebih besar.

H5: Aspek Environmental, Social, Governance berpengaruh positif terhadap

Market Value.

2.7.6 Pengaruh Aspek Environmental terhadap Market Value

Aspek Environmental dalam praktik Environmental, Social, and Governanc

e (ESG) mencerminkan sejauh mana perusahaan melakukan tanggung jawabnya t

erhadap pelestarian lingkungan hidup, seperti pengurangan emisi karbon, efisiensi

energi, pengelolaan limbah, dan konservasi sumber daya alam. Praktik lingkungan

yang baik tidak hanya berkaitan dengan keberlanjutan (sustainability) tetapi juga b
erdampak pada persepsi pasar dan nilai perusahaan (market value). Menurut Samu

dra dan Ardini (2020), perusahaan yang memiliki komitmen tinggi terhadap lingk

ungan akan mendapatkan kepercayaan lebih dari investor karena dianggap mampu

mengelola risiko jangka panjang secara efektif, termasuk risiko iklim dan regulasi.

Komitmen terhadap lingkungan juga menjadi sinyal positif kepada pasar tentang k

eberlangsungan usaha perusahaan, yang pada akhirnya dapat meningkatkan nilai p

asar.

Penelitian Ningrum (2021) mendukung pandangan tersebut dengan menunju

kkan bahwa perusahaan dengan skor ESG yang tinggi cenderung memiliki nilai p

asar (market value) yang lebih besar. Hal ini disebabkan oleh persepsi investor ya

ng positif terhadap perusahaan yang menjalankan praktik keberlanjutan, yang dian

ggap memiliki prospek pertumbuhan yang lebih stabil dan reputasi yang baik. Sel

ain itu, Lubis (2024) menambahkan bahwa dalam konteks pasar keuangan yang se

makin terintegrasi dengan isu keberlanjutan, aspek Environmental tidak lagi diang

gap sebagai beban biaya tambahan, melainkan sebagai investasi strategis untuk m

eningkatkan daya saing jangka panjang. Maka dari itu, implementasi aspek lingku

ngan yang efektif diyakini mampu meningkatkan valuasi perusahaan di mata pasa

r. Sementara itu, Ratnasari dan Astuti (2014) menemukan bahwa pengungkapan p

raktik lingkungan dalam laporan tahunan dan keberlanjutan berhubungan positif d

engan price to book value (PBV) dan market capitalization. Hal ini mengindikasik

an bahwa pasar merespon positif perusahaan yang transparan dan bertanggung ja

wab terhadap dampak lingkungannya. Berikut hipotesis penelitian ini adalah

H6: Aspek Environmental berpengaruh positif terhadap Market Value.

2.7.7 Pengaruh Aspek Social terhadap Market Value


Aspek Social dalam dimensi ESG mencakup komitmen dan tanggung jawab

sosial perusahaan terhadap para pemangku kepentingan seperti karyawan, pelangg

an, komunitas, dan masyarakat luas. Praktik sosial ini meliputi perlakuan adil terh

adap tenaga kerja, hak asasi manusia, kesehatan dan keselamatan kerja, hubungan

komunitas, serta keberagaman dan inklusi. Menurut teori legitimasi, perusahaan a

kan memperoleh legitimasi dari masyarakat jika mereka menjalankan praktik sosi

al yang baik, yang pada akhirnya meningkatkan reputasi dan persepsi positif di m

ata investor (Suchman, 1995). Dalam konteks ini, pasar modal memandang perusa

haan yang memiliki tanggung jawab sosial yang tinggi sebagai entitas yang lebih s

tabil dan memiliki risiko lebih rendah dalam jangka panjang, sehingga akan berda

mpak pada peningkatan market value.

Penelitian yang dilakukan oleh Ningrum (2021) menunjukkan bahwa aspek

sosial memiliki pengaruh positif terhadap nilai pasar karena dianggap mencermink

an kepedulian perusahaan terhadap isu-isu sosial yang penting bagi masyarakat da

n pasar. Praktik sosial yang kuat memperkuat citra perusahaan dan menumbuhkan

kepercayaan investor, yang berujung pada meningkatnya permintaan saham perus

ahaan tersebut. Temuan serupa juga disampaikan oleh Samudra dan Ardini (2020)

yang menjelaskan bahwa perusahaan yang menerapkan aspek sosial secara konsis

ten dan transparan dapat menarik minat investor institusional, karena mereka cend

erung memiliki pandangan jangka panjang dan mempertimbangkan faktor ESG da

lam keputusan investasinya. Sementara itu, penelitian Lubis (2024) mengungkapk

an bahwa faktor sosial memiliki korelasi positif terhadap market capitalization, te

rutama pada perusahaan yang melakukan praktik tanggung jawab sosial secara sist

ematis dan terdokumentasi dalam laporan keberlanjutan. Hal ini membuktikan bah
wa dimensi sosial menjadi pertimbangan penting dalam membentuk nilai pasar di

tengah tren investasi yang mengedepankan prinsip sustainable investing. Berikut

hipotesis penelitian ini adalah

H7: Aspek Social berpengaruh positif terhadap Market Value.

2.7.8 Pengaruh Aspek Governance terhadap Market Value

Aspek Governance dalam indikator ESG berfokus pada sistem tata kelola pe

rusahaan yang mencakup transparansi, akuntabilitas, integritas manajemen, strukt

ur dewan direksi, hak pemegang saham, pengendalian internal, serta keberadaan k

omite audit yang independen. Tata kelola perusahaan yang baik akan meningkatka

n kepercayaan investor karena mencerminkan manajemen risiko yang sehat, peng

awasan internal yang kuat, dan kepatuhan terhadap regulasi serta etika bisnis. Ber

dasarkan teori agensi, tata kelola perusahaan yang efektif berperan penting dalam

mengurangi konflik kepentingan antara manajemen dan pemegang saham (Jensen

& Meckling, 1976). Ketika praktik governance diterapkan secara optimal, seperti t

ransparansi laporan keuangan, dewan komisaris yang independen, serta audit yang

objektif, hal ini meningkatkan kepercayaan pasar terhadap integritas perusahaan d

an mengurangi risiko investasi. Kepercayaan ini akan tercermin dalam peningkata

n permintaan saham perusahaan, yang kemudian berkontribusi terhadap peningkat

an market value.

Penelitian oleh Prasetyo dan Wibowo (2021) menunjukkan bahwa aspek go

vernance memiliki pengaruh signifikan dan positif terhadap nilai pasar perusahaan.

Hal ini disebabkan oleh meningkatnya keyakinan investor terhadap keberlangsun

gan dan stabilitas perusahaan yang menerapkan tata kelola yang baik.
Selanjutnya, Samudra dan Ardini (2020) menemukan bahwa perusahaan dengan ti

ngkat tata kelola tinggi cenderung menarik minat investor jangka panjang karena

dianggap lebih tahan terhadap krisis, lebih mampu mengelola risiko strategis, dan

memiliki arah kebijakan yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan. Sementara

itu, Lubis (2024) menjelaskan bahwa investor saat ini semakin memperhatikan as

pek tata kelola dalam pengambilan keputusan investasi. Tata kelola yang lemah se

ring diasosiasikan dengan manipulasi keuangan dan ketidakstabilan perusahaan, y

ang berdampak negatif terhadap nilai pasar saham. Berikut hipotesis penelitian ini

adalah

H8: Aspek Governance berpengaruh positif terhadap Market Value.

2.7.9 Peran Cash holdings dalam Memoderasi Pengaruh Aspek Environment

al Social, and Governance terhadap Firm performance

Aspek Environmental dalam kerangka ESG mengacu pada tindakan perusah

aan dalam menjaga kelestarian lingkungan, seperti efisiensi energi, pengelolaan li

mbah, pengurangan emisi karbon, dan penggunaan sumber daya berkelanjutan. As

pek sosial dalam konteks Environmental, Social, and Governance (ESG) mencaku

p tanggung jawab perusahaan terhadap kesejahteraan karyawan, hubungan dengan

masyarakat, serta komitmen terhadap hak asasi manusia dan keadilan sosial. Aspe

k governance dalam kerangka ESG mencakup sistem tata kelola perusahaan yang

mencerminkan transparansi, akuntabilitas, struktur dewan direksi yang efektif, ser

ta mekanisme pengawasan yang baik. Governance yang kuat mampu meminimalk

an konflik kepentingan, mengurangi risiko manajerial, dan memastikan bahwa su

mber daya perusahaan, termasuk kas, dikelola secara optimal.


Cash holdings (simpanan kas) memainkan peran penting sebagai buffer keu

angan yang memungkinkan perusahaan mendanai proyek-proyek ramah lingkung

an tanpa harus bergantung sepenuhnya pada pembiayaan eksternal. Perusahaan ya

ng memiliki tingkat cash holdings yang cukup dapat menjalankan program lingku

ngan lebih fleksibel dan efisien, sehingga dapat meningkatkan kinerja perusahaan

(firm performance) melalui peningkatan reputasi, efisiensi biaya jangka panjang, d

an loyalitas konsumen.

Triyono dan Fadila (2023), yang menemukan bahwa environmental, social,

governance akan lebih berdampak signifikan terhadap firm performance apabila p

erusahaan memiliki cadangan kas yang mencukupi.

H9: Cash holdings memoderasi pengaruh aspek Environmental, Social, and

Governance terhadap Firm performance.

2.7.10 Peran Cash holdings dalam Memoderasi Pengaruh Aspek Environmen

tal terhadap Firm performance

Aspek Environmental dalam kerangka ESG mengacu pada tindakan perusah

aan dalam menjaga kelestarian lingkungan, seperti efisiensi energi, pengelolaan li

mbah, pengurangan emisi karbon, dan penggunaan sumber daya berkelanjutan. Pe

nerapan inisiatif lingkungan membutuhkan investasi yang signifikan, yang pada a

khirnya dapat memengaruhi struktur keuangan dan alokasi kas perusahaan. Cash

holdings (simpanan kas) memainkan peran penting sebagai buffer keuangan yang

memungkinkan perusahaan mendanai proyek-proyek ramah lingkungan tanpa har

us bergantung sepenuhnya pada pembiayaan eksternal. Perusahaan yang memiliki

tingkat cash holdings yang cukup dapat menjalankan program lingkungan lebih fl

eksibel dan efisien, sehingga dapat meningkatkan kinerja perusahaan (firm perfor
mance) melalui peningkatan reputasi, efisiensi biaya jangka panjang, dan loyalitas

konsumen.

Penelitian oleh Alkurdi et al. (2019) menunjukkan bahwa perusahaan denga

n tingkat cash holdings yang tinggi memiliki fleksibilitas dalam membiayai proye

k-proyek strategis berkelanjutan yang berdampak pada peningkatan kinerja operas

ional. Triyono dan Fadila (2023), yang menemukan bahwa environmental perform

ance akan lebih berdampak signifikan terhadap firm performance apabila perusaha

an memiliki cadangan kas yang mencukupi. Selain itu, Hasyim et al. (2021) dalam

penelitiannya menyimpulkan bahwa cash holdings berperan sebagai mediator dala

m hubungan antara faktor non-keuangan dan kinerja perusahaan. Berikut hipotesis

penelitian ini adalah

H10: Cash holdings memoderasi pengaruh aspek Environmental terhadap Fi

rm performance.

2.7.11 Peran Cash holdings dalam Memoderasi Pengaruh Aspek Social terha

dap Firm performance

Aspek sosial dalam konteks Environmental, Social, and Governance (ESG)

mencakup tanggung jawab perusahaan terhadap kesejahteraan karyawan, hubunga

n dengan masyarakat, serta komitmen terhadap hak asasi manusia dan keadilan so

sial. Penerapan kebijakan sosial yang baik dapat meningkatkan reputasi perusahaa

n, menciptakan loyalitas karyawan, dan memperkuat hubungan dengan pemangku

kepentingan. Namun, untuk melaksanakan inisiatif sosial secara optimal, perusaha

an memerlukan likuiditas yang memadai. Peran cash holdings menjadi penting. C

ash holdings memberikan fleksibilitas finansial bagi perusahaan untuk mendanai


berbagai program sosial seperti pelatihan karyawan, kegiatan pengabdian masyara

kat, dan kampanye kesejahteraan, bahkan saat menghadapi tekanan keuangan.

Studi oleh Ferreira dan Vilela (2004) menunjukkan bahwa perusahaan deng

an cadangan kas yang besar memiliki kapasitas lebih tinggi untuk merespons pelu

ang dan tekanan eksternal. Selain itu, Nguyen et al. (2021) mengungkapkan bahw

a keberadaan kas yang cukup memungkinkan perusahaan melaksanakan tanggung

jawab sosial secara konsisten dan tidak terputus, yang pada akhirnya berdampak p

ositif pada kinerja perusahaan. Dengan demikian, cash holdings tidak hanya mend

ukung pelaksanaan aspek sosial, tetapi juga berperan sebagai mekanisme moderas

i yang menguatkan pengaruh aspek sosial terhadap peningkatan firm performance.

Berikut hipotesis penelitian ini adalah

H11: Cash holdings memoderasi pengaruh aspek Social terhadap Firm perfo

rmance.

2.7.12 Peran Cash holdings dalam Memoderasi Pengaruh Aspek Governance

terhadap Firm performance

Aspek governance dalam kerangka ESG mencakup sistem tata kelola perusa

haan yang mencerminkan transparansi, akuntabilitas, struktur dewan direksi yang

efektif, serta mekanisme pengawasan yang baik. Governance yang kuat mampu m

eminimalkan konflik kepentingan, mengurangi risiko manajerial, dan memastikan

bahwa sumber daya perusahaan, termasuk kas, dikelola secara optimal. Cash hold

ings memainkan peran strategis sebagai alat yang dapat digunakan secara lebih efi

sien dalam organisasi yang memiliki sistem tata kelola yang baik. Perusahaan den

gan tata kelola yang efektif cenderung lebih mampu menghindari pemborosan kas
dan menggunakan dana yang tersedia untuk investasi produktif yang dapat mendo

rong peningkatan kinerja perusahaan.

Penelitian Jensen (1986) melalui agency theory menunjukkan bahwa kepem

ilikan kas dalam jumlah besar dapat menimbulkan konflik antara manajer dan pem

ilik, kecuali jika ada pengawasan tata kelola yang kuat. Sementara itu, Dittmar, M

ahrt-Smith, dan Servaes (2003) menemukan bahwa perusahaan dengan governanc

e yang baik mampu mengelola kas dengan lebih efektif, sehingga berdampak posit

if terhadap firm performance. Hal ini mengindikasikan bahwa cash holdings tidak

hanya berfungsi sebagai cadangan likuiditas, tetapi juga menjadi instrumen yang

memperkuat pengaruh governance terhadap kinerja perusahaan jika digunakan dal

am kerangka tata kelola yang baik. Berikut hipotesis penelitian ini adalah

H12: Cash holdings memoderasi pengaruh aspek Governance terhadap Firm

performance.

2.7.13 Peran Cash holdings dalam Memoderasi Pengaruh Aspek Environmen

tal, Social, Governance terhadap Market Value

Cash holdings memungkinkan perusahaan merespons tekanan lingkungan se

cara lebih adaptif, yang dapat meningkatkan persepsi investor terhadap perusahaa

n dan mendorong peningkatan nilai pasar. Aspek environmental dalam praktik ke

berlanjutan perusahaan mencakup inisiatif untuk mengurangi emisi karbon, penge

lolaan limbah yang bertanggung jawab, efisiensi energi, serta konservasi sumber d

aya alam. Selain itu, Almeida, Campello, dan Weisbach (2004) menunjukkan bah

wa ketersediaan kas yang besar memberikan ketahanan terhadap ketidakpastian da

n memungkinkan perusahaan mengalokasikan sumber daya secara efisien. Ketika

perusahaan memiliki tata kelola lingkungan yang kuat dan didukung oleh likuidita
s yang memadai, investor cenderung merespons positif, yang tercermin pada peni

ngkatan nilai pasar perusahaan. Aspek sosial dalam konteks keberlanjutan perusah

aan mencakup bagaimana perusahaan memperlakukan karyawan, menghormati ha

k asasi manusia, berkontribusi pada komunitas lokal, serta menjaga hubungan bai

k dengan pemangku kepentingan. Almeida, Campello, dan Weisbach (2004) meny

atakan bahwa likuiditas internal seperti kas memberikan ruang bagi perusahaan un

tuk bertindak cepat dalam situasi yang membutuhkan respons sosial. Lebih lanjut,

Ferrell, Liang, dan Renneboog (2016) menegaskan bahwa perusahaan yang memil

iki komitmen sosial tinggi dan didukung oleh posisi kas yang kuat cenderung me

miliki persepsi pasar yang lebih baik.

Aspek governance mengacu pada sistem tata kelola perusahaan yang baik, t

ermasuk transparansi, akuntabilitas, independensi dewan, serta perlindungan terha

dap hak-hak pemegang saham. Governance yang baik menjadi faktor kunci dalam

memastikan bahwa cash holdings tidak disalahgunakan, melainkan dikelola secar

a efisien untuk mendukung peningkatan nilai perusahaan di mata investor. Harfor

d, Mansi, dan Maxwell (2008) menyatakan bahwa perusahaan dengan tata kelola

yang baik lebih mampu mengelola kelebihan kas untuk menghasilkan nilai tamba

h. Sementara itu, menurut Dittmar dan Mahrt-Smith (2007), nilai kas lebih besar p

ada perusahaan dengan governance yang kuat karena investor percaya bahwa kas t

ersebut akan digunakan secara produktif. Berikut hipotesis penelitian ini adalah

H13: Cash holdings memoderasi pengaruh aspek Environmental, Social, Go

vernance terhadap Market Value.


2.7.14 Peran Cash holdings dalam Memoderasi Pengaruh Aspek Environmen

tal terhadap Market Value

Cash holdings memungkinkan perusahaan merespons tekanan lingkungan se

cara lebih adaptif, yang dapat meningkatkan persepsi investor terhadap perusahaa

n dan mendorong peningkatan nilai pasar. Aspek environmental dalam praktik ke

berlanjutan perusahaan mencakup inisiatif untuk mengurangi emisi karbon, penge

lolaan limbah yang bertanggung jawab, efisiensi energi, serta konservasi sumber d

aya alam. Perusahaan yang aktif dalam menerapkan prinsip lingkungan yang baik

cenderung memperoleh kepercayaan dan persepsi positif dari investor karena men

unjukkan orientasi jangka panjang dan kepedulian terhadap isu global. Namun, im

plementasi strategi berbasis lingkungan sering kali membutuhkan dukungan finan

sial yang cukup besar. Peran cash holdings menjadi penting, karena menyediakan

fleksibilitas keuangan bagi perusahaan untuk merespons dan berinvestasi dalam in

isiatif lingkungan secara cepat dan strategis, yang pada akhirnya memperkuat dam

pak aspek lingkungan terhadap peningkatan market value perusahaan.

Menurut Opler et al. (1999), perusahaan dengan tingkat kas yang tinggi me

miliki kemampuan untuk mengejar peluang investasi tanpa harus bergantung pada

pembiayaan eksternal, terutama dalam konteks yang sensitif seperti proyek lingku

ngan. Selain itu, Almeida, Campello, dan Weisbach (2004) menunjukkan bahwa k

etersediaan kas yang besar memberikan ketahanan terhadap ketidakpastian dan me

mungkinkan perusahaan mengalokasikan sumber daya secara efisien. Ketika perus

ahaan memiliki tata kelola lingkungan yang kuat dan didukung oleh likuiditas yan

g memadai, investor cenderung merespons positif, yang tercermin pada peningkat

an nilai pasar perusahaan. Berikut hipotesis penelitian ini adalah


H14: Cash holdings memoderasi pengaruh aspek Environmental terhadap M

arket Value.

2.7.15 Peran Cash holdings dalam Memoderasi Pengaruh Aspek Social terha

dap Market Value

Cash holdings yang memadai, perusahaan dapat terus menjalankan tanggun

g jawab sosial tanpa gangguan finansial, yang pada gilirannya berdampak pada pe

ningkatan nilai pasar. Aspek sosial dalam konteks keberlanjutan perusahaan menc

akup bagaimana perusahaan memperlakukan karyawan, menghormati hak asasi m

anusia, berkontribusi pada komunitas lokal, serta menjaga hubungan baik dengan

pemangku kepentingan. Praktik sosial yang baik dapat meningkatkan reputasi per

usahaan, memperkuat loyalitas pelanggan, serta membangun hubungan jangka pa

njang yang positif dengan masyarakat dan karyawan. Dampak positif ini pada akh

irnya akan tercermin dalam peningkatan market value perusahaan. Namun demiki

an, untuk mempertahankan dan mengembangkan inisiatif sosial secara berkelanjut

an, perusahaan memerlukan fleksibilitas keuangan agar dapat merespons kebutuha

n sosial tanpa mengganggu stabilitas operasional.

Cash holdings memungkinkan perusahaan untuk lebih adaptif dalam menda

nai kegiatan sosial, seperti program pengembangan masyarakat, pelatihan karyaw

an, atau kampanye sosial perusahaan. Almeida, Campello, dan Weisbach (2004)

menyatakan bahwa likuiditas internal seperti kas memberikan ruang bagi perusaha

an untuk bertindak cepat dalam situasi yang membutuhkan respons sosial. Lebih l

anjut, Ferrell, Liang, dan Renneboog (2016) menegaskan bahwa perusahaan yang

memiliki komitmen sosial tinggi dan didukung oleh posisi kas yang kuat cenderun

g memiliki persepsi pasar yang lebih baik. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya
kepercayaan investor terhadap keberlangsungan dan kredibilitas strategi sosial per

usahaan. Berikut hipotesis penelitian ini adalah

H15: Cash holdings memoderasi pengaruh aspek Social terhadap Market Va

lue.

2.7.16 Peran Cash holdings dalam Memoderasi Pengaruh Aspek Governance

terhadap Market Value

Governance yang baik memastikan bahwa penggunaan kas dilakukan secara

efektif dan efisien, sehingga meningkatkan nilai pasar perusahaan. Aspek governa

nce mengacu pada sistem tata kelola perusahaan yang baik, termasuk transparansi,

akuntabilitas, independensi dewan, serta perlindungan terhadap hak-hak pemegan

g saham. Tata kelola yang efektif mampu meningkatkan kepercayaan investor dan

menciptakan mekanisme pengawasan internal yang kuat. Good corporate governa

nce tidak hanya mengurangi konflik keagenan, tetapi juga memastikan bahwa sum

ber daya perusahaan, termasuk kas, digunakan secara bijak dan strategis untuk me

ndukung tujuan jangka panjang perusahaan. Keberadaan praktik tata kelola yang k

uat mendorong pasar untuk memberikan penilaian yang lebih positif terhadap peru

sahaan, sehingga berdampak pada meningkatnya market value.

Cash holdings, memiliki peran strategis dalam memberikan fleksibilitas keu

angan bagi perusahaan untuk mengambil peluang investasi atau menghadapi ketid

akpastian pasar. Namun, akumulasi kas yang tinggi juga dapat menimbulkan kekh

awatiran akan agency problem, terutama jika tidak disertai dengan tata kelola yan

g kuat. Oleh karena itu, governance yang baik menjadi faktor kunci dalam memas

tikan bahwa cash holdings tidak disalahgunakan, melainkan dikelola secara efisie

n untuk mendukung peningkatan nilai perusahaan di mata investor. Harford, Mans


i, dan Maxwell (2008) menyatakan bahwa perusahaan dengan tata kelola yang bai

k lebih mampu mengelola kelebihan kas untuk menghasilkan nilai tambah. Semen

tara itu, menurut Dittmar dan Mahrt-Smith (2007), nilai kas lebih besar pada perus

ahaan dengan governance yang kuat karena investor percaya bahwa kas tersebut a

kan digunakan secara produktif. Berikut hipotesis penelitian ini adalah H16: Cash

holdings memoderasi pengaruh aspek Governance terhadap Market Value.

2.8. Kerangka Teoritis

Kerangka pemikiran teoritis ini menyajikan pengembangan model mengenai

pengaruh ESG (Environmental, Social, dan Governance) terhadap Firm performa

nce dan Market value dengan Cash holdings sebagai variabel moderasi. Hubunga

n-hubungan yang diteliti dalam penelitian ini didasarkan pada landasan teori serta

temuan dari penelitian-penelitian terdahulu yang relevan. Dengan demikian, keran

gka pemikiran ini disusun secara sistematis untuk menggambarkan hubungan kaus

al antara variabel-variabel tersebut dalam konteks perusahaan yang terdaftar di Bu

rsa Efek Indonesia (BEI) pada periode 2021-2023. Berdasarkan penjelasan tersebu

t, kerangka pemikiran yang dikembangkan adalah sebagai berikut:

ESG
Firm Performance
Environmental (Y1)
(X1)

Social (X2)
Market Value
(Y2)
Governance
(X3)
Cash Holdings (Z)
Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran
Sumber : Ahmed (2025), Veeravel (2024), Junius (2020), Lestari (2024), Xaviera (2024), Tan
jaya (2024), Sari (2025), Audito (2024), Nabiela (2025), dan AlHares (2023).

2.9. Hipotesis Penelitian

Berdasarkan rumusan permasalahan penelitian, tabulasi penelitian terdahulu,

pengaruh antar variabel yang telah dijabarkan dan gambar kerangka pikir penelitia

n sehingga bisa di rumuskan hipotesis sebagai berikut:

H1. Aspek Environmental, Social, dan Governance berpengaruh positif terhadap

Firm performance pada perusahaan non finance yang terdaftardi BEI tahun

2021–2023.

H2. Aspek Environmental berpengaruh positif terhadap Firm performance pada

perusahaan non finance yang terdaftardi BEI tahun 2021–2023

H3. Aspek Social berpengaruh positif terhadap Firm performance pada perusaha

an non finance yang terdaftardi BEI tahun 2021–2023.

H4. Aspek Governance berpengaruh positif terhadap Firm performance pada pe

rusahaan non finance yang terdaftardi BEI tahun 2021–2023.

H5. Aspek Environmental, Social, dan Governance berpengaruh positif terhadap

Market value pada perusahaan non finance yang terdaftardi BEI tahun 2021

–2023.

H6. Aspek Environmental berpengaruh positif terhadap Market value pada perus

ahaan non finance yang terdaftardi BEI tahun 2021–2023.

H7. Aspek Social berpengaruh positif terhadap Market value pada perusahaan n

on finance yang terdaftardi BEI tahun 2021–2023.


H8. Aspek Governance berpengaruh positif terhadap Market value pada perusah

aan non finance yang terdaftardi BEI tahun 2021–2023.

H9. Cash holdings memoderasi pengaruh aspek Environmental, Social, dan Gov

ernance terhadap Firm performance pada perusahaan non finance yang terd

aftardi BEI tahun 2021–2023.

H10. Cash holdings memoderasi pengaruh aspek Environmental terhadap Firm p

erformance pada perusahaan non finance yang terdaftardi BEI tahun 2021–2

023.

H11. Cash holdings memoderasi pengaruh aspek Social terhadap Firm performan

ce pada perusahaan non finance yang terdaftardi BEI tahun 2021–2023.

H12. Cash holdings memoderasi pengaruh aspek Governance terhadap Firm perf

ormance pada perusahaan non finance yang terdaftardi BEI tahun 2021–202

3.

H13. Cash holdings memoderasi pengaruh aspek Environmental, Social, dan Gov

ernance terhadap Market value pada perusahaan non finance yang terdaftard

i BEI tahun 2021–2023.

H14. Cash holdings memoderasi pengaruh aspek Environmental terhadap Market

value pada perusahaan non finance yang terdaftardi BEI tahun 2021–2023.

H15. Cash holdings memoderasi pengaruh aspek Social terhadap Market value pa

da perusahaan non finance yang terdaftardi BEI tahun 2021–2023.

H16. Cash holdings memoderasi pengaruh aspek Governance terhadap Market va

lue pada perusahaan non finance yang terdaftardi BEI tahun 2021–2023.
BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Jenis Dan Sumber Data

Pendekatan penelitian ini, dengan jenis kuantitatif dengan sumber data yang

berasal dari data sekunder (Bahri & Zamzam, 2021). Data tersebut diperoleh dari l

aporan tahunan di BEI selama periode 2021 hingga 2023. Daftar perusahaan dan l

aporan tahunan didapat dari situs resmi BEI dan pengumuman Pengumuman BEI

No. Peng-00012/[Link]/01-2025 tanggal 22 Januari 2025.

3.2. Populasi Dan Sampel

3.2.1 Populasi

Populasi ini meliputi seluruh perusahaan non finance terdaftar di BEI dalam

periode 2021-2023. Dimana Fokus penelitian ini pada perusahaan-perusahaan yan

g ada di Bursa Efek Indonesia (BEI) telah menunjukkan komitmen terhadap prinsi

p Environmental, Social, and Governance (ESG) dengan menyampaikan Laporan

Keberlanjutan (Sustainability Report) (Wahyuni & Rofiah, 2017). Hingga tahun p

elaporan 2023, sebanyak 873 perusahaan atau sekitar 97% dari total emiten telah

memenuhi kewajiban ini, sesuai dengan Peraturan OJK No. 51/POJK.03/2017 dan

Surat Edaran OJK No. 16/SEOJK.04/2021.

3.2.2 Sampel

Sampel dalam penelitian ini ditentukan dengan menggunakan purposive sa

mpling, yaitu teknik penentuan sampel berdasarkan kriteria tertentu yang relevan

dengan tujuan penelitian. Sampel ini dipilih berdasarkan kriteria-kriteria berikut:

1. Perusahaan non finance yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.


2. Perusahaan non finance yang menerbitkan laporan keberlanjutan (sustainabi

lity report) atau mengungkapkan informasi ESG secara lengkap selama peri

ode 2021–2023.

3. Data keuangan dan informasi terkait variabel penelitian (firm performance,

market value, cash holdings) tersedia secara lengkap selama tahun pengama

tan.

3.3. Definisi Operasional Variabel Pengukuran Variabel

Bagian ini akan memberikan penjelasan dan deskripsi tentang definisi dari s

etiap variabel yang digunakan, beserta cara operasionalisasi dan pengukurannya.

1. Variable independen

Menurut Sugiyono (2020), variabel independen atau variabel bebas

merupakan variabel yang memiliki pengaruh atau menyebabkan perubahan

pada variabel dependen, baik secara positif maupun negatif. Variabel inde

penden dalam penelitian ini adalah ESG. ESG (Environmental, Social, an

d Governance) adalah suatu konsep yang merujuk pada tiga aspek utama k

eberlanjutan dan tanggung jawab perusahaan dalam menjalankan aktivitas

bisnisnya, yaitu aspek lingkungan (environmental), sosial (social), dan tata

kelola perusahaan (governance).

a. Environmental,

Berdasarkan Revinitif ESG Score Berdasarkan Revinitif ESG Score,

penilaian komponen environmental dibagi menjadi tiga kategori, yaitu pen

ggunaan sumber daya, emisi, dan inovasi. Dari ketiga kategori tersebut, ter

dapat 68 metrik penilaian yang digunakan untuk menilai skor environment


al. Rentang nilai dari skor ini dinilai dari skala 0 hingga 100, dimana sema

kin tinggi skor yang diperoleh menunjukkan kinerja lingkungan perusahaa

n yang lebih baik.

b. Social

Berdasarkan Revinitif ESG Score (2023), penilaian komponen socia

l dibagi menjadi empat kategori penilaian, yaitu tenaga kerja, hak asasi ma

nusia, tanggung jawab kepada masyarakat, dan tanggung jawab produk. Te

rdapat 62 metrik penilaian dari keempat kategori tersebut yang digunakan

untuk menilai skor social. Rentang nilai dari skor social berkisar dari 0 hin

gga 100. Semakin tinggi skor social, semakin baik performa sosial Perusah

aan.

c. Governance

Berdasarkan Revinitif ESG Score (2023), penilaian komponen gover

nance dibagi menjadi tiga kategori penilaian, yaitu manajerial, pemegang s

aham, dan strategi tanggung jawab sosial perusahaan. Skor governance dih

itung menggunakan 56 metrik penilaian dari ketiga kategori tersebut Skor i

ni berkisar antara 0 hingga 100, dimana semakin tinggi skor governance m

engindikasikan tata kelola perusahaan yang semakin baik.

2. Variable dependen

Variabel dependen atau variabel terikat merupakan variabel yang dip

engaruhi atau menjadi akibat karena adanya variabel independent (Sugiyo

no, 2017). Variabel dependen dalam penelitian ini adalah.

a. Firm performance
Firm performance atau kinerja perusahaan merupakan ukuran sejau

h mana perusahaan berhasil mencapai tujuan dan targetnya dalam kegiata

n operasional, keuangan, serta keberlanjutan jangka panjang. Firm perfor

mance dapat dinilai dengan menggunakan rasio profitabilitas seperti RO

A dan ROE. ROA atau return on asset, adalah indikator profitabilitas yan

g digunakan untuk mengukur sejauh mana perusahaan dapat menghasilka

n keuntungan dengan menggunakan asset yang dimiliki (Nugroho & Hers

ugondo, 2022). ROA dapat diukur dengan rumus sebagai berikut (AlHare

s et al., 2023).

Laba Bersih
Return on Assets = x 100%
Total Aset

b. Market value

Market value atau nilai pasar adalah nilai total dari saham perusaha

an yang diperdagangkan di pasar modal pada suatu waktu tertentu. Menu

rut Brigham (2016) Market value dapat diukur dengan.

M arket Cap+Total Liabilitas


Market Value =
T otal Aset

3. Variable moderasi

Variabel moderasi merupakan variabel yang mempengaruhi hubunga

n antara variabel independen dan variabel dependen. Variabel moderasi be

rsifat memperkuat atau memperlemah pengaruh variabel independen terha

dap variabel dependen, variable moderasi penelitian ini adalah Cash holdi

ngs (Audito & Yuyetta, 2024). Cash Holding adalah jumlah kas dan setara

kas yang dimiliki oleh perusahaan pada suatu waktu tertentu. Berfungsi se

bagai likuiditas yang siap digunakan untuk memenuhi kebutuhan operasio


nal sehari-hari, pembayaran kewajiban mendadak, serta peluang investasi

yang memerlukan dana cepat. Menurut Muncef (2017) pengukuran Cash h

oldings dengan:

Kas dan Setara Kas


Cash Holding Ratio =
Total Aset

3.4. Metode Pengumpulan Data

Penelitian ini menggunakan metode pengumpulan data sekunder, yaitu data

yang diperoleh secara tidak langsung dari sumber-sumber yang telah tersedia, baik

yang dipublikasikan oleh pihak resmi maupun lembaga penyedia data keuangan.

Data sekunder dipilih karena seluruh informasi yang dibutuhkan telah tersedia dal

am laporan-laporan perusahaan dan basis data yang dapat diakses publik.

Penelitian ini juga menerapkan teknik pengumpulan data melalui dokument

asi yang didapat sesuai laporan tahunan serta laporan keuangan. Objek dan sampel

penelitian mencakup perusahaan yang ada di BEI dari periode 2021-2023. Kemud

ian temuan ini menggunakan metode studi literatur yang melibatkan kajian pada j

urnal, literatur, dan buku, baik yang berskala nasional atau internasional, sebagai c

ontoh dari metode penelitian literatur terapan. Metode pengumpulan data yang dig

unakan dalam penelitian ini adalah:

1. Dokumentasi

Dokumentasi menurut Sugiyono (2017) adalah suatu cara yang digunaka

n untuk memperoleh data dan informasi dalam bentuk buku, arsip, dokumen, tu

lisan angka dan gambar yang berupa laporan serta keterangan yang dapat mend

ukung penelitian. Dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan data kemudia

n ditelaah. Peneliti mengumpulkan data sekunder berupa laporan keuangan tah


unan Perusahaan Perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia melalui we

bsite resmi perusahaan dan atau website resmi Bursa Efek Indonesia.

2. Studi Kepustakaan

Studi kepustakaan merupakan suatu jenis penelitian yan digunakan dalam

pengumpulan informasi dan data secara mendalam melalui berbagai literatur, b

uku, catatan, majalah, referensi lainnya, serta hasil penelitian sebelumnya yang

relevan, untuk mendapatkan jawaban dan landasan teori mengenai masalah yan

g akan diteliti.

3.5. Prosedur Pengumpulan Data

Prosedur pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui tahapan-

tahapan sistematis untuk memperoleh data sekunder yang relevan dengan variabel

penelitian, yaitu Environmental, Social, and Governance (ESG), firm performanc

e, market value, dan cash holdings. Adapun langkah-langkah pengumpulan data y

ang dilakukan adalah sebagai berikut:

1. Identifikasi Populasi dan Sampel

Peneliti mengidentifikasi seluruh perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek In

donesia (BEI) selama periode tahun 2021–2023 dan telah menerbitkan lapor

an keberlanjutan (sustainability report) atau mengungkapkan skor ESG. Dari

populasi sebanyak 873 perusahaan, penentuan sampel dilakukan secara purp

osive sampling berdasarkan perusahaan non finance yang terdaftar di BEI.

2. Pengumpulan Data ESG (Environmental, Social, and Governance)

Data ESG dikumpulkan melalui laporan keberlanjutan (sustainability report

s) dan/atau dari penyedia skor ESG seperti Bloomberg, Refinitiv, atau sumb

er sekunder lainnya yang tersedia secara publik. Jika perusahaan tidak memi
liki skor ESG secara agregat, maka data diperoleh dari pengungkapan aspek

E (lingkungan), S (sosial), dan G (tata kelola) berdasarkan indikator yang tel

ah ditentukan.

3. Pengumpulan Data Firm performance dan Market Value

Data kinerja perusahaan (firm performance) diperoleh dari laporan keuanga

n tahunan yang dipublikasikan di situs resmi BEI maupun situs resmi masin

g-masing perusahaan. Indikator yang digunakan untuk firm performance me

liputi Return on Assets (ROA). Sementara itu, market value diukur menggu

nakan data kapitalisasi pasar (market capitalization) yang juga diambil dari l

aporan keuangan atau platform data keuangan seperti Bloomberg.

4. Pengumpulan Data Cash Holdings

Data cash holdings diperoleh dari laporan posisi keuangan (neraca) dengan

cara membandingkan kas dan setara kas terhadap total aset. Rasio ini diguna

kan sebagai indikator untuk mengukur tingkat kepemilikan kas perusahaan.

5. Pencatatan dan Pengelolaan Data

Seluruh data yang telah dikumpulkan kemudian dicatat dalam tabel Excel da

n dilakukan verifikasi ulang untuk memastikan kelengkapan serta konsistens

i data antar tahun. Selanjutnya, data yang telah lengkap akan digunakan untu

k keperluan analisis statistik dan pengujian hipotesis.

3.6. Teknik Analisa Data

Analisis data merupakan salah satu proses penelitian yang dilakukan setela

h semua data yang diperlukan guna memecahkan permasalahan yang diteliti sudah

diperoleh secara lengkap. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adala

h analisis kuantitatif. Teknik analisis data yang digunakan yaitu teknik perhitunga
n statistik deskriptif berupa analisis regresi data panel. Teknik pengujian hipotesis

yang digunakan adalah uji F dan uji t.

3.6.1 Statistik Deskriptif

Analisis deskriptif adalah statistik yang digunakan untuk menganalisis dat

a dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul s

ebagai adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum a

tau generalisasi (Sugiyono, 2019:206). Statistik deskriptif merupakan statistik sep

erti frekuensi, rata-rata, dan standar deviasi, yang memberikan deskriptif informas

i tentang sekumpulan data (Sekaran & Roger Bougie, 2016).

3.6.2 Analisis Regresi Data Panel

Penelitian ini dengan teknis analisis yang digunakan adalah teknik analisis

regresi data panel. Menurut (Caraka, 2017) data panel adalah gabungan antara dat

a cross section dan data time series, dimana unit cross section yang sama diukur p

ada waktu yang berbeda. Analissi regresi data panel adalah analisis regresi yang di

dasarkan pada data panel untuk mengamati hubungan antara satu variabel terikat

(dependent variabel) dengan satu atau lebih variabel bebas independen variabel. R

egresi data panel dapat dirumuskan dengan persamaan sebagai berikut:

Y =α + β 1 X 1+ β 2 X 2+ β 3 X 3+ β 3 M 1+e

Keterangan:

Y = Firm performance dan Market value (variabel terikat)

α = Konstanta

β₁, β₂, β₃ = Koefisien regresi masing-masing variabel bebas

X₁ = Environmental (Lingkungan)

X₂ = Social (Sosial)
X₃ = Governance (Tata Kelola)

M = Cash Holdings

i = Perusahaan ke-i

t = Tahun ke-t (periode 2021–2023)

ε = Komponen error atau residual

3.6.3 Estimasi Regresi Data Panel

Ada beberapa metode yang digunakan untuk mengestimasi model regresi

dengan data panel, yaitu:

[Link] Model Common Effect

Menurut Caraka (2017) dengan menggabungkan data runtut waktu (time s

eries) serta data silang (cross section), maka tidak dapat dilihat perbedaannya baik

antar individu maupun antar waktu. Data gabungan ini diperlakukan sebagai suatu

kesatuan pengamatan untuk mengestimasi model dengan metode Ordinary Least

Square (OLS).

[Link] Model Fixed Effect

Menurut Caraka (2017) model ini mengasumsikan bahwa intersep dan koe

fisien regressor dianggap konstan untuk seluruh unit waktu. Salah satu cara untuk

memperhatikan unit cross section atau unit time series adalah dengan memasukka

n variabel dummy untuk memberikan perbedaan nilai parameter yang berbeda-bed

a. Least Square Dummy Variable (LSDV) dapat digunakan untuk melakukan esti

masi pada data panel fixed effect model.

[Link] Model Random Effect

Menurut Caraka (2017) pada model REM mengestimasi data panel dimana

variabel gangggan mungkin saling berhubngan antar waktu dan antar individu. M
odel random effect sering disebut juga Error Components Model (ECM) karena su

ku error memuat dua komponen yaitu error cross section dan time series.

3.6.4 Pemilihan Model Estimasi Regresi Data Panel

Pemilihan model secara statistik dilakukan agar dugaan yang diperoleh da

pat seefisien mungkin. Menurut Caraka (2017) ada tiga pengujian dalam menentu

kan model yang akan digunakan dalam pengolahan data panel yaitu uji chow (Ch

ow Test), uji hausman (Hausman Test) dan uji LM (Lagrange Multiplier Test).

[Link] Uji Chow

Chow test digunakan untuk memilih kedua model diantara Model Commo

n Effect dan Model Fixed Effect. Asumsi bahwa setiap unit cross section memiliki

perilaku yang sama cenderung tidak realistis mengingat dimungkinkannya setiap

unit cross section memiliki perilaku yang berbeda menjadi dasar dari uji chow. Hi

potesis dari teknik pengujian model ini adalah sebagai berikut :

H0 : model common effect

H1 : model fixed effect

Kriteria untuk pengambilan keputusan pada uji chow, sebagai berikut:

a. Jika p-value cross-section F ≥ 0,05, maka H0 diterima. Artinya model ya

ng sesuai digunakan adalah model common effect.

b. Jika p-value cross-section F < 0,05, maka H0 ditolak. Artinya model yan

g sesuai untuk digunakan adalah model fixed effect.

[Link] Uji Hausman

Uji hausman digunakan untuk membandingkan model Fixed Effect dengan

Random effect. Alasan dilakukannya uji hausman didasarkan pada model fixed eff

ect model yang mengandung suatu unsur trade off yaitu hilangnya unsur derajat b
ebas dengan memasukkan variabel dummy dan model Random Effect yang harus

memperhatikan ketiadaan pelanggaran asumsi dari setiap komponen galat. Hipote

sis dari teknik pengujian model ini adalah sebagai berikut :

H0 : Model Random Effect

H1 : Model Fixed Effect

Kriteria untuk pengambilan keputusan pada uji hausman, sebagai berikut:

a. Chi square ≥ Chi square tabel maka Ho ditolak. Dapat disimpulkan bahw

a model yang digunakan ialah random effect.

b. Chi square < Chi square tabel maka Ho diterima. Dapat disimpulkan bah

wa model yang digunakan ialah fixed effect.

Atau

a. Jika p-value cross-secion random < 0,05 artinya Ho ditolak, maka peneliti

an ini lebih sesuai menggunakan model fixed effect.

b. Jika p-value cross-secion random ≥ 0,05 artinya Ho diterima, maka peneli

tian ini lebih sesuai menggunakna model random effect.

[Link] Uji Langrage Multiplier

Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat unsur heteroske

dastisitas pada model yang dipilih. Hipotesis dari teknik pengujian model ini adala

h sebagai berikut :

H0 : tidak terjadi heteroskedastisitas

H1 : terjadi heteroskedastisitas

Kriteria untuk pengambilan keputusan pada uji Langrage Multiplier, sebagai berik

ut:
a. Jika LM tes ≥ chi quare tabel, maka Ho ditolak. Artinya model yang sesu

ai untuk digunakan adalah model random effect.

b. Jika LM tes < chi square tabel, maka Ho diterima. Artinya model yang se

suai untuk digunakan adalah model common effect.

3.6.5 Uji Asumsi Klasik

Untuk menguji apakah model regresi yang digunakan dalam penelitian ini

layak atau tidak untuk digunakan maka perlu dilakukan uji asumsi klasik. Uji asu

msi klasik yang digunakan adalah uji heteroskedasitas dan uji multikolinearitas.

[Link] Uji Multikolinieritas

Uji multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah ditemukan adanya k

orelasi antar variabel independen atau bebas. Menurut Ghozali (2018), tujuan uji

multikolinearitas adalah untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya k

orelasi antara variabel bebas. Model regersi yang baik memiliki model yang didal

amnya tidak terjadi kolerasi diantara variabel independen. Uji multikolinearitas dil

ihat dari nilai tolerance dan Variance Inflation Factor (VIF):

 Jika nilai VIF < 10, berarti tidak terdapat multikolonieritas.

 Jika nilai VIF > 10, maka terdapat multikolonieritas dalam data.

[Link] Uji Heteroskedastisitas

Ghozali (2018) mengatakan bahwa uji heteroskedastisitas bertujuan untuk

mengetahui apakah dalam sebuah model regresi terjadi ketidaksamaan varian dari

residual suatu pengamatan ke pengamatan lain. Uji heteroskedastisitas untuk men

guji terjadi atau tidaknya heteroskedastisitas maka dilihat dari nilai koefisien korel

asi Rank Spearman antara masingmasing variabel bebas dengan variabel pengang
gu. Apabila nilai probabilitas (sig) > dari 0,05 maka tidak terjadi heteroskedastisit

as.
[Link] Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat korelasi antar

a residual (galat) pada satu observasi dengan residual pada observasi lainnya dala

m model regresi. Autokorelasi umumnya terjadi pada data time series, namun juga

perlu diuji pada data panel yang memiliki dimensi waktu. Uji autokorelasi dilakuk

an dengan menggunakan uji Durbin-Watson (DW test). Nilai statistik DW berkisa

r antara 0 sampai 4, dengan interpretasi sebagai berikut:

 Nilai DW mendekati 2: tidak terdapat autokorelasi

 Nilai DW < 1,5: terdapat autokorelasi positif

 Nilai DW > 2,5: terdapat autokorelasi negatif

Apabila hasil uji menunjukkan adanya autokorelasi, maka perlu dilakukan p

enyesuaian model atau menggunakan metode estimasi yang mampu mengatasi aut

okorelasi, seperti model Generalized Least Squares (GLS) atau metode regresi rob

ust standard error.

[Link] Uji Normalitas

Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah data residual dalam

model regresi terdistribusi secara normal. Distribusi normal residual merupakan

salah satu asumsi dalam analisis regresi klasik yang penting dipenuhi, terutama

jika model regresi digunakan untuk keperluan inferensial (pengujian hipotesis).

Uji normalitas dilakukan dengan menggunakan uji Jarque-Bera (JB). Uji ini

mengukur normalitas berdasarkan nilai skewness (kemiringan distribusi) dan

kurtosis (keruncingan distribusi) dari residual. Kriteria pengambilan keputusan

dalam uji Jarque-Bera adalah sebagai berikut:

 Jika nilai probabilitas (p-value) > 0,05, maka residual terdistribusi normal
 Jika nilai probabilitas (p-value) ≤ 0,05, maka residual tidak terdistribusi

normal

Selain uji Jarque-Bera, uji normalitas juga dapat didukung dengan

pengamatan visual melalui histogram residual dan normal probability plot (P-P

Plot) untuk melihat pola penyebaran residual.

3.6.6 Pengujian Hipotesis

Pengujian hipotesis dilakukan untuk melihat apakah terdapat pengaruh sec

ara simultan maupun parsial pada semua variabel independen terhadap variabel de

penden. baik secara simultan maupun parsial.

[Link] Pengujian Hipotesis Simultan (Uji F)

Uji simultan (atau uji F) pada regresi linier berganda bertujuan untuk mengu

ji apakah model regresi yang digunakan secara keseluruhan layak dan dapat diteri

ma. Uji ini menguji apakah variabel independen secara bersama-sama (simultan) b

erpengaruh signifikan terhadap variabel dependen. Uji simultan dilakukan untuk

mengetahui apakah variabel Environmental, Social, and Governance (ESG) dan C

ash holdings secara bersama-sama memiliki pengaruh signifikan terhadap Firm p

erformance dan Market Value.

Hipotesis yang diuji adalah:

 H₀ : β₁ = β₂ = 0

(Variabel ESG dan Cash holdings secara simultan tidak berpengaruh terha

dap Firm performance dan Market Value.)

 Hₐ : β₁ ≠ 0 atau β₂ ≠ 0

(Variabel ESG dan/atau Cash holdings secara simultan berpengaruh terhad

ap Firm performance dan Market Value.)


Penentuan hasil uji simultan dapat dilihat pada tabel ANOVA (Analysis of

Variance) dari output regresi. Pengujian menggunakan tingkat signifikansi sebesar

5% (α = 0,05). Kriteria pengambilan keputusan:

 Jika nilai probabilitas (p-value) > 0,05, maka H₀ diterima, yang berarti var

iabel ESG dan Cash holdings secara bersama-sama tidak berpengaruh sign

ifikan terhadap Firm performance dan Market Value.

 Jika nilai probabilitas (p-value) ≤ 0,05, maka H₀ ditolak, yang berarti varia

bel ESG dan Cash holdings secara bersama-sama berpengaruh signifikan t

erhadap Firm performance dan Market Value.

[Link] Uji Hipotesis Parsial (Uji t)

Uji parsial (Uji t) digunakan untuk mengetahui apakah masing-masing vari

abel independen secara individu (parsial) berpengaruh signifikan terhadap variabe

l dependen dalam model regresi. Dalam penelitian ini, pengujian dilakukan untuk

mengetahui apakah Environmental, Social, and Governance (ESG) dan Cash hold

ings memiliki pengaruh yang signifikan secara parsial terhadap Firm performance

dan Market Value. Pengujian dilakukan pada tingkat kepercayaan 95% atau tingk

at signifikansi (α) sebesar 5%. Hipotesis yang diuji secara parsial adalah sebagai b

erikut:

 H₀: β ≤ 0

ESG atau Cash holdings tidak berpengaruh positif secara signifikan terhad

ap Firm performance atau Market Value.

 Hₐ: β > 0

ESG atau Cash holdings berpengaruh positif secara signifikan terhadap Fi

rm performance atau Market Value.


Kriteria pengambilan keputusan adalah sebagai berikut:

 Jika nilai probabilitas (p-value) > 0,05, maka H₀ diterima, yang berarti bah

wa variabel independen secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhad

ap variabel dependen.

 Jika nilai probabilitas (p-value) ≤ 0,05, maka H₀ ditolak, yang berarti bah

wa variabel independen secara parsial berpengaruh signifikan terhadap var

iabel dependen.

[Link] Uji Koefisien Determinasi ( R2)

Uji koefisien determinasi (R²) digunakan untuk mengukur seberapa besar ke

mampuan model regresi dalam menjelaskan variasi dari variabel dependen. Dalam

penelitian ini, uji R² dilakukan untuk mengetahui sejauh mana variabel independe

n yaitu Environmental, Social, and Governance (ESG) dan Cash holdings mampu

menjelaskan perubahan pada variabel dependen yaitu Firm performance dan Mar

ket value (Deny, 2008). Nilai R² berada pada rentang 0 hingga 1. Semakin mendek

ati angka 1, maka semakin besar proporsi variasi dari variabel dependen yang dap

at dijelaskan oleh variabel independen dalam model. Sebaliknya, nilai R² yang me

ndekati 0 menunjukkan bahwa kemampuan model dalam menjelaskan variabel de

penden sangat rendah. Selain R², dalam model regresi berganda juga digunakan ni

lai Adjusted R², yang memberikan hasil lebih akurat karena memperhitungkan ju

mlah variabel independen yang digunakan dalam model. Adjusted R² lebih sesuai

untuk model yang memiliki lebih dari satu variabel independen, seperti dalam pen

elitian ini.
3.6.7 Moderated Regression Analysis (MRA)

Moderated Regression Analysis (MRA) adalah teknik analisis yang digunak

an untuk menguji apakah hubungan antara variabel independen dengan variabel d

ependen dipengaruhi oleh variabel moderator. Dengan kata lain, MRA bertujuan

melihat apakah kekuatan atau arah pengaruh variabel bebas terhadap variabel terik

at berubah tergantung pada nilai variabel moderator. MRA digunakan untuk meng

uji peran Cash holdings sebagai variabel moderator yang memoderasi pengaruh E

SG (Environmental, Social, Governance) terhadap Firm performance dan Market

Value.

MRA menguji apakah interaksi antara ESG dan Cash holdings memberikan

pengaruh yang signifikan terhadap Firm performance dan Market Value. Model r

egresi yang digunakan akan mencakup variabel ESG, Cash Holdings, dan variabel

interaksi antara ESG dan Cash Holdings, yang secara matematis dapat ditulis seba

gai berikut:

Keterangan:

 Y = Firm performance dan Market value (variabel terikat)

 ESG = Environmental, Social, Governance (variabel bebas)

 CashHoldings = Kas yang dimiliki perusahaan (variabel moderator)

 ESG × CashHoldings = Variabel interaksi yang menunjukkan efek modera

si

 α = Konstanta

 β₁, β₂, β₃ = Koefisien regresi

 ε = Error/residual
Interpretasi koefisien β₃ (interaksi) menjadi kunci dalam analisis moderasi.

Jika β₃ signifikan, maka Cash holdings memoderasi hubungan ESG terhadap Fir

m performance dan Market Value, artinya pengaruh ESG pada kinerja dan nilai pa

sar perusahaan berbeda-beda tergantung pada tingkat kas yang dimiliki.


DAFTAR PUSTAKA

Ahmed, O., & Khalaf, B. A. (2025). The impact of ESG on firm value: The moder
ating role of cash holdings. Heliyon, 11(2).
Akra. (2024). AKRA Net Profit FY 2023 IDR 2.78 Trillion, up 16%YoY Earning
s boosted by strong performance in Industrial estate Segment. Retrieved from
[Link] website: [Link]
idr-278-trillion-up-16yoy-earnings-boosted-by-strong-performance-in-indust
rial-estate-segment?utm_source=[Link]
Alareeni, B. A., & Hamdan, A. (2020). ESG impact on performance of US S&P 5
00-listed firms. Corporate Governance: The International Journal of Busine
ss in Society, 20(7), 1409–1428.
AlHares, A., AlEmadi, N., Abu-Asi, T., & Al Abed, R. (2023). Environmental, so
cial, and governance disclosure impact on cash holdings in OECD countries.
Journal of Governance and Regulation, 12(2), 104–119. [Link]
495/jgrv12i2art10
Alhazami, L., Judijanto, L., Harto, B., Sulistianingsih, S., Utami, A. T., Rustam,
H. A., & Meta, W. (2024). MANAJEMEN KEUANGAN: Praktik bagi Wirau
saha Pemula. PT. Sonpedia Publishing Indonesia.
Audito, J., & Yuyetta, E. N. A. (2024). PENGARUH ENVIRONMENT, SOCIAL
GOVERNANCE (ESG) DISCLOSURE TERHADAP MARKET VALUE D
ENGAN ENVIRONMENTAL RISK OF INDUSTRY SECTOR SEBAGAI
VARIABEL MODERASI (Studi Empiris pada perusahaan non finance yang
terdaftarpada Indeks JII70 (Jakarta Islamic Index 70) BEI periode 2. Dipone
goro Journal of Accounting, 13(3).
Bahri, S., & Zamzam, H. F. (2021). Model Penelitian Kuantitatif Berbasis SEM-A
MOS Mengenal SEM-AMOS. Yogyakarta: Deepublish.
Brigham, E. F. (2016). Financial Management: Theory and Practice. Canada: Ce
ngage Learning.
Brigham, E. F., & Houston, J. F. (2019). Fundamentals of financial management.
Cengage Learning.
Chariri, A., & Ghozali, I. (2007). Teori Akuntansi. In Semarang: Badan Penerbit
Universitas Diponegoro (Vol. 409). 2017: Diponegoro University.
Darma Sabri, M. A., Utami, S., & Harmen, H. (2024). Manajemen Sumber Daya
Manusia Dalam Konteks Perencanaan Pembangunan. Kuala Lumpur: Syiah
Kuala University Press.
Deny, K. (2008). Linear regression. In Linear Regression.
Dobrick, J., Klein, C., & Zwergel, B. (2023). Size bias in refinitiv ESG data. Fina
nce Research Letters, 55, 104014.
Durlista, M. A., & Wahyudi, I. (2023). Pengaruh pengungkapan environmental, so
cial dan governance (ESG) terhadap kinerja perusahaan pada perusahaan sub
sektor pertambangan batu bara periode 2017-2022. Jurnal Ilmiah Manajeme
n, Ekonomi, & Akuntansi (MEA), 7(3), 210–232.
Dzahabiyya, J., Jhoansyah, D., & Danial, R. D. M. (2020). Analisis nilai perusaha
an dengan model rasio tobinâ€TM s q. JAD: Jurnal Riset Akuntansi & Keuang
an Dewantara, 3(1), 46–55.
Era. (2023). Erajaya Maintains Positive Performance, Records Sales Growth of 13
8%. Retrieved from EraJaya website: [Link]
jaga-kinerja-positif-catat-pertumbuhan-penjualan-13-8?utm_source=chatgpt.
com
Farhan, M. (2024). Keseimbangan Risiko dan Imbal Hasil Dalam Strategi Investa
si Berkelanjutan: Pendekatan Integratif Terhadap Faktor Lingkungan, Sosial,
dan Tata Kelola Perusahaan (ESG). Currency: Jurnal Ekonomi Dan Perbank
an Syariah, 2(2), 243–264.
Fina, C. (2020). Analisis Pengaruh Cash Flow, Leverage, Net Working Capital da
n Ukuran Perusahaan terhadap Cash Holding pada Perusahaan Sub Sektor Pr
operty dan Real Estate di Bursa Efek Indonesia. FIN-ACC (Finance Accounti
ng), 5(3).
Guizani, M. (2017). The financial determinants of corporate cash holdings in an
oil rich country: Evidence from Kingdom of Saudi Arabia. Borsa Istanbul Re
view, 17 (3), 133–143.
Hakim, L., Nurgupita, R. K., & Rizaldi, M. (2024). Integrasi Etika Bisnis: Sebuah
Perspektif Baru Dalam Keberlanjutan Perusahaan & Sosial Kemasyarakatan.
JIMAT (Jurnal Ilmiah Mahasiswa Akuntansi) Undiksha, 15(04), 836–850.
Halid, S., Rahman, R. A., Mahmud, R., Mansor, N., & Wahab, R. A. (2023). A lit
erature review on ESG score and its impact on firm performance. Internation
al Journal of Academic Research in Accounting Finance and Management S
ciences, 13(1), 272–282.
Handayani, N., Harmono, H., & Zuhroh, D. (2021). Analisis pengaruh kinerja keu
angan terhadap perubahan harga saham perusahaan konstruksi. Jurnal Peneli
tian Teori & Terapan Akuntansi (PETA), 6(1), 1–15.
Horngren, C., Harrison, W., Oliver, S., Best, P., Fraser, D., Tan, R., & Willett, R.
(2012). Accounting. New York: Pearson Higher Education AU.
Hunger, J. D. (2021). Essentials of Strategic Management. London: Pearson Educ
ation Limited.
Inawati, W. A., & Rahmawati, R. (2023). Dampak Environmental, Social, Dan Go
vernance (ESG) Terhadap Kinerja Keuangan. Jurnal Akademi Akuntansi, 6
(2), 225–241.
Iswenda, B. A. (2025). Biaya & Dukungan Pemerintah Jadi Kendala Utama Perus
ahaan Terapkan ESG. Retrieved from GoodStats website: [Link]
/article/biaya-dan-dukungan-pemerintah-menjadi-kendala-utama-perusahaan-
dalam-menerapkan-esg-Q96gw
Junius, D., Adisurjo, A., Rijanto, Y. A., & Adelina, Y. E. (2020). The impact of E
SG performance to firm performance and market value. Jurnal Aplikasi Akun
tansi, 5(1), 21–41.
Lakshmi, A. (2024). Indonesia’s GoTo makes first profit and remains open to Gra
b merger. Retrieved from Financial Times website: [Link]
nt/1888016c-e2a1-4d92-aca4-9fe9a1ab38f4?utm_source=[Link]
Lestari, T. U., & Hasanah, S. I. (2024). The Impact of ESG Disclosure, Hedging P
olicy, and Cash Holding on Firm Value. International Journal of Manageme
nt and Business Applied, 3(2), 129–144.
Lubis, A. F., & Sari, S. P. (2024). Pengaruh Persistensi Laba, Profit Potensial, Str
uktur Modal, dan Kesempatan Bertumbuh Terhadap Kualitas Laba. Jurnal E
mt Kita, 8(3), 1058–1071.
Ma, F., & Karaman, S. (2018). Sparse-to-dense: Depth prediction from sparse dep
th samples and a single image. 2018 IEEE International Conference on Robo
tics and Automation (ICRA), 4796–4803. IEEE.
Marthin; Salinding Inggit, M. B. . A. (2017). Implementasi Prinsip Corporate Soc
ial Responsibility (Csr) Berdasarkan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007
Tentang Perseroan Terbatas. J. Priv. & Com. L., 1, 111.
Mas, I. G. A. M. A., Pratiwi, A., Nurhayati, N., Apriyanto, A., Kusumastuti, S. Y.,
& Wijaya, R. (2024). Green Economy. Jambi: PT. Sonpedia Publishing Indo
nesia.
Nabiela, L. F. A. (2025). Analisis Pengaruh Environmental, Social, Governance T
erhadap Company Market Value Yang Terdaftar Pada Corporate Governan
ce Perception Index (CGPI) Periode 2013–2023: Kinerja Keuangan Sebagai
Variable Intervening. Yogyakarta: UIN Sunan Kali Jaga.
Naukoko, P. A., Sutrisno, T., Nurkholis, N., & Saraswati, E. (2023). Tata Kelola P
erusahaan dan Kualitas Pengungkapan CSR. Jurnal Akuntansi Manado (JAI
M), 476–486.
Nofrian, M. R., & Sebrina, N. (2024). Pengaruh ESG terhadap Nilai Perusahaan d
engan Kepemilikan Pemerintah dan Sensitivitas Industri Sebagai Variabel Pe
moderasi. Jurnal Nuansa Karya Akuntansi, 2(1), 17–33.
Nugroho, N. A., & Hersugondo, H. (2022). Analisis pengaruh environment, social
governance (esg) disclosure terhadap kinerja keuangan perusahaan. E-Bisnis
Jurnal Ilmiah Ekonomi Dan Bisnis, 15(2), 233–243.
Prabawati, P. I., & Rahmawati, I. P. (2022). The effects of Environmental, Social,
and Governance (ESG) scores on firm values in ASEAN member countries.
Jurnal Akuntansi Dan Auditing Indonesia, 119–129.
Putri, F. A., & Bayangkara, I. B. K. (2025). Analisis Environmental, Social, dan G
overnance (ESG) Terhadap Nilai Perusahaan Pada PT Antam Tbk. Jurnal Pu
blikasi Ekonomi Dan Akuntansi, 5(2), 185–194.
Ratnasari, D., & Astuti, D. (2014). Pengaruh Bid Ask Spread, Market Value, dan
Variance Return Terhadap Holding Period. Jurnal Finesta, 2(1), 99–102.
Samudra, B., & Ardini, L. (2020). Pengaruh Struktur Modal, Kinerja Keuangan,
Dan Ukuran Perusahaan Terhadap Harga Saham. Jurnal Ilmu Dan Riset Aku
ntansi (JIRA), 9(5).
Saragih, A. E. (2016). Analisis Perbedaan Abnormal Return Dan Volume Perdaga
ngan Saham Sebelum Dan Sesudah Pengumuman Pembelian Kembali Saham
(Buyback) Pada perusahaan non finance yang terdaftarDi Bursa Efek Indone
sia. Jurnal Riset Akuntansi & Keuangan, 13–34.
Sari, S. R. (2025). Pengaruh Environmental, Social, And Governance (ESG) Terh
adap Firm Performance: Analisis Jangka Pendek Dan Jangka Panjang. Yog
yakarta: UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA.
Sekaran, U., & Roger Bougie. (2016). Research Methods for Business.
Shmatov, C., & Castelli, C. R. (2022). Quantitative methods for ESG finance. Ne
w Jersey: John Wiley & Sons.
Siagian, T. S., & Ningrum, D. A. (2019). Manajemen Sumber Daya Manusia dan
Usaha Mikro Kecil Menengah. Padang: PT Inovasi Pratama Internasional.
Siregar, I. F., Roekhudin, R., & Purwanti, L. (2018). Firm value predictor and the
role of corporate social responsibility. Jurnal Keuangan Dan Perbankan, 22
(3), 475â – 485.
Sugiyono, S. (2017). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung:
Alfabeta. Procrastination And Task Avoidance: Theory, Research and Treat
ment. New York: Plenum Press, Yudistira P, Chandra.
Sutarman, A., Karamoy, H., Gamaliel, H., Studi, P., Akuntansi, M., Ekonomi, F.,
& Bisnis, D. (2022). Pengaruh Asimetri Informasi, Konsentrasi Kepemilikan,
Manajemen Laba Dan Pertumbuhan Aset Terhadap Cost of Equity Capital Pa
da Perusahaan Perkebunan Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia. Jurnal
Riset Akuntansi Dan Auditing "GOODWILL, 13(1), 13–24.
Tanjaya, F., & Ratmono, D. (2024). Pengaruh Environmental, Social, dan Govern
ance (ESG) terhadap kinerja perusahaan dengan variabel moderasi board size.
Diponegoro Journal of Accounting, 13(3).
Valentina, F., & Wahyudi, A. S. (2021). Pengaruh Cr, Der, Ito, Roa Dan Pbv Ter
hadap Return Saham Pada Perusahaan Food And Beverage Yang Terdaftar
Di Bursa Efek Indonesia 2013-2019.
Veeravel, V., Murugesan, V. P., & Narayanamurthy, V. (2024). Does ESG disclos
ure really influence the firm performance? Evidence from India. The Quarter
ly Review of Economics and Finance, 95, 193–202.
Velte, P. (2024). Sustainable board governance and environmental performance: E
uropean evidence. Business Strategy and the Environment, 33(4), 3397–3421.
Wahyuni, D., & Rofiah, C. (2017). Kualitas Pelayanan Dan Pengaruhnya Terhada
p Loyalitas Pelanggan Yang Di Moderasi Oleh Kepuasan Di Bank Muamalat
Jombang. Eksis: Jurnal Riset Ekonomi Dan Bisnis, 12(1), 69–82. [Link]
org/10.26533/eksis.v12i1.84
Xaviera, A., Febrianto, R., Widiastuty, E., & Iswardi, I. (2024). ESG, Firm Value,
and Life Cycle: Evidences from South East Asia. Jurnal Dinamika Akuntansi
Dan Bisnis, 11(2), 331–334.
Yuanitan, Q. (2024). Initial Report: PT Ace hardware Indonesia Tbk (FRA:4AH1)
27%% 3-yr Potential Upside (EIP, Fernando KHO). Retrieved from Next Ge
n Investors website: [Link]
ace-hardware-indonesia?utm_source=[Link]

Anda mungkin juga menyukai