2.
1 Asuhan keperawatan jiwa pada gangguan psikososial depresi
2.1.1 Definisi
Depresi merupakan gangguan mood berupa kesedihan yang intens,
berlangsung dalam waktu lama, dan mengganggu kehidupan normal yang insidennya
semakin meningkat seiring dengan meningkatnya tekanan hidup. Menurut World
Health Organization (WHO) depresi merupakan suatu gangguan mental yang
ditandai dengan mood tertekan, kehilangan kesenangan dan minat, perasaan bersalah
atau harga diri rendah, gangguan makan atau tidur, kurang energy dan konsentrasi
rendah. Masalah ini dapat dapat akut atau kronik dan menyebabkan gangguan
kemampuan individu untuk beraktifitas sehari-hari. Depresi dapat terjadi pada
keadaan normal sebagai bagian dalam perjalanan proses kematangan dari emosi
sehingga definisi depresi adalah sebagai berikut :
1. pada keadaan normal merupakan gangguan kemurungan (kesedihan, patah
semangat) yang di tandai dengan perasaan tidak pas, menurunnya kegiatan,
dan pesimisme menghadapi masa yang akan dating
2. pada kasus patologis, merupakan ketidakmauan ekstrim untuk bereaksi
terhadap rangsangan disertai menurunnya nilai diri, delusi ketidakpuasan,
tidak mampu, dan putus asa.
Menurut Rice PL (1992), depresi adalah gangguan mood, kondisi emosional
berkepanjangan yang mewarnai seluruh proses mental (berpikir, berperasaan, dan
berperilaku) seseorang. Pada umumnya mood yang secara dominan muncul adalah
perasaan tidak berdaya dan kehilangan harapan.
Menurut Kusumanto (1981) depresi adalah suatu perasaan kesedihan yang
psikopatologis, yang disertai perasaan sedih, kehilangan minat dan kegembiraan,
berkurangnya energy yang menuju pada meningkatnya keadaan mudah lelah yang
sangat nyata sesudah bekerja sedikit saja, dan berkurang aktivitas. Depresi dapat
merupakan suatu gejala atau kumpulan gejala (sindrom).
2.1.2 Faktor penyebab
1. faktor genetik
Beberapa kasus depresi murni berasal dari faktor genetik, orang yang
memiliki keluarga depresi lebih cenderung menderita depresi. Riwayat keluarga
gangguan bipolar, pengguna alkohol, skizofrenia, atau gangguan mental lainnya juga
meningkatkan risiko terjadinya depresi.
2. faktor non genetik
Status perkawinan, usia, jenis kelamin, geogrefis, kepribadian, stersor sosial,
dukungan sosial, pekerjaan merupakan faktor-faktor yang digolongkan dalam faktor
non genetik.
2.1.3 Jenis Depresi
1. jenis depresi berdasarkan tingkat penyakit
mild depression/ minor depression dan dysthymic disorder
pada depresi ringan, mood yang rendah dating dan pergi dan penyakit dating setelah
kejadian stressful yang spesifik. Individu akan merasa cemas dan juga tidak
bersemangat. Perubahan gaya hidup biasanya dibutuhkan untuk mengurangi depresi
jenis ini.
Minor depression
Ditandai dengan adanya dua gejala pada Depressive episode namun tidak lebih dari
lima gejala depresi muncul selama dua minggu berturut-turut, dan gejala itu bukan
karena pengaruh obat-obatan ataupun penyakit.
Dysthymic disorder
Merupakan bentuk depresi yang kurang parah. Depresi ini menimbulkan gangguan
mood ringan dalam jangka waktu yang lama sehingga seseorang dapat tidak dapat
bekerja optimal.
Moderate depression
Pada depresi sedang mood yang rendah berlangsung terus menerus dan individu
mengalami simtom fisik juga walaupun berbeda-beda tiap individu.
Severe depretion/major depression
Depresi berat adalah penyakit yang tingkat depresinya parah. Individu akan
mengalami gangguan dalam kemampuan untuk bekerja, tidur, makan, dan menikmati
hal yang menyenangkan, dan penting untuk mendapatkan bantuan medis secepat
mungkin.
2. jenis depresi menurut penyebab
Menurut Greg Wilkinson (1995) dapat digolongkan menjadi:
a. depresi Reaktif
pada depresi reaktif, gejalanya diperkirakan akibat stress luar, seperti kehilangan
seseorang atau pekerjaan.
b. depresi endogenus
gejalanya tanpa di akibatkan karena faktor luar. Seseorang didiagnosis mengalami
depresi reaktif jika menunjukan tanda-tanda sedih, menarik diri, suasana hati
sedih yang berbeda dari kesedihan biasa, dan gejala khusus lainnya.
2.1.4 rentang Respon
Tahapan depresi menurut teori DAB-DP oleh Elizabeth Kubler-Ross menyebutkan 5
anak tangga terjadinya depresi:
1. Denial (penyangkalan)
Depresi diawali fase penyangkalan (denial). Pertanyaan seperti “Mengapa
begini, mengapa bukan begitu? Seharusnya begini, seharusnya tidak begitu.”
adalah contoh bentuk-bentuk penyangkalan. Jika fase ini tak segera disadari,
penyandang masalah akan sampai pada tangga berikutnya.
2. Anger (amarah)
Penyangkalan berlarut-larut bisa menyeret penyandang masalah pada kondisi
tak terbendung, yakni kemarahan. Jika terus terhanyut dalam penyangkalan
dan kemarahan, ia akan protes terhadap “si masalah”, bahkan terhadap dirinya
sendiri. Kondisi ini sering menyudutkan penyandang masalah pada kondisi
alone and lonely (sendiri dan kesepian), ia merasa yang paling menderita di
dunia.
3. Bargaining (penawaran)
Jika seseorang mengalami masalah tak mampu memahami dan mengatasi
masalahnya. Jika seseorang yang sedang bermasalah merasa “mengapa ini
terjadi pada saya? (mengapa bukan pada orang lain)”, pertanda ia sudah
berada dalam fase pra-depresi.
4. Depresi
Ketika seorang mengalami masalah dengan 3 beban di atas sekaligus
(penyangkalan + kemarahan + penawaran), kemudian jika berkelanjutan akan
mengalami kondisi depresi, stres berat yang tak tertahankan. Penyelesaian
terutama berada pada penyandang depresi – kemampuan mengatasi depresi
tidak ditentukan oleh besar-kecil atau berat-ringannya masalah, karena hal ini
bersifat subjektif. Berat bagi seseorang, belum tentu berat bagi yang lain.
Seseorang yang memiliki persepsi diri baik (positif), lebih mudah lepas dari
jerat depresi. Sebaliknya, seseorang dengan persepsi diri buruk (negatif),
justru lebih suka berlarut-larut dalam masalahnya.
5. Acceptance (penerimaan)
Saat seseorang menyadari masalahnya, dan kemudian berinisiatif mengambil
solusi, kemudian telah sampai pada fase penerimaan. Pemahaman sesorang
terhadap masalah menjadi pembuka sumbat masalahnya. Pemahaman
menumbuhkan keikhlasan – berbeda dari kepasrahan, yang terkesan fatalistik
(menyerah dan tidak berbuat apa-apa lagi). Keikhlasan memberi ruang pada
penyandang masalah memahami masalahnya dan berani mengambil langkah.
Sesungguhnya fase Acceptance bukan anak tangga ke-5 yang harus dicapai
setelah seorang penyandang masalah melalui dulu 4 anak tangga sebelumnya.
Sebab, siapa pun penyandang masalah bisa segera sampai pada fase ini,
sehingga ia tidak perlu sampai pada fase depresi. Dengan demikian, bisa saja
begitu muncul masalah, seseorang segera sadar diri untuk berada pada posisi
Acceptance, sehingga tidak perlu lagi ada Denial atau ada Anger atau ada
Bargaining.
2.1.5 tanda dan gejala
[Link] Tanda Depresi
1. tidak stabil dalam hal emosi atau mudah marah
2. gangguan nyata fungsi atau aktifitas sehari-hari
3. memiliki kesehatan yang tidak stabil
4. mengekspresikan kenegatifan
5. berpikiran atau bertindak untuk melakukan percobaan bunuh diri
[Link] Gejala depresi terdiri dari :
a. gangguan emosi
gejala gangguan emosi dapat berupa perasaan sedih, murung, iritabilitas,
preokupasi dengan kematian.
b. gangguan kognitif
gejala gangguan kognitif dapat berupa mengkritik diri sendiri, merasa
bersalah, perasaan bersalah, perasaan tak berharga, kepercayaan diri turun, pesimis,
dan putus asa. Penurunan fungsi kognitif seperti bingung, konsentrasi buruk,
perhatian kurang, daya ingat menurun, dan sering ragu.
c. keluhan somatic
gejala keluhan somatic dapat berupa sakit kepala, keluhan saluran pencernaan,
keluhan haid dan lain-lain.
d. gangguan pskomotor
gejala gangguan pskomotor dapat berupa gerakan lambat, pembicaraan
lambat, malas, merasa tidak bertenaga.
d. gangguan vegetative
gejala gangguan vegetative dapat berupa gangguan makan, gangguan tidur,
dan gangguan fungsi seksual.
Sumber :
Lumongga, D. N. (2016). Depresi: Tinjauan Psikologis. Kencana.
Irawan, H. (2013). Gangguan depresi pada lanjut usia. Cermin Dunia
Kedokteran, 40(11), 815-819.
Radityo, E. (2012). Depresi dan gangguan tidur. Jurnal.