UJI SITOTOKSIK EKSTRAK ETANOL DAN FRAKSI BIJI KURMA AJWA (Phoenix
dactylifera L.) TERHADAP SEL KANKER PAYUDARA MCF-7
Farizka Hafilda*, Muhammad Da’i
Fakultas Farmasi, Universitas Muhammadiyah Surakarta,
*E-mail: farizka.hafilda02@[Link]
Abstrak
Biji kurma Ajwa dilaporkan memiliki kandungan fenolik yang lebih tinggi daripada biji
kurma Hallawi dan Aseel. Kandungan fenolik ini meliputi flavonoid yaitu quersetin dan
asam fenolik seperti asam vanilat dan asam galat. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan
untuk mengetahui efek sitotoksik ekstrak etanol dan fraksi biji kurma Ajwa terhadap sel
kanker payudara MCF-7. Ekstraksi biji kurma Ajwa menggunakan metode maserasi
digesti selama 1 jam pada suhu 45°C dengan pelarut etanol 96% dan difraksinasi
menggunakan metode partisi cair-cair dengan pelarut etanol: air, etil asetat dan n-heksana.
Identifikasi kandungan senyawa dari ekstrak etanol dan fraksi biji kurma Ajwa
menggunakan Kromatografi Lapis Tipis. Pengujian sitotoksik menggunakan metode uji
MTT dengan seri konsentrasi 12,5; 25; 50; 100; dan 200 𝜇g/mL. Hasil uji sitotoksik dari
ekstrak etanol dan fraksi biji kurma Ajwa terhadap sel kanker MCF-7 tidak menunjukkan
adanya aktivitas penghambatan pertumbuhan sel. Nilai IC50 dari semua sampel tidak dapat
dihitung, karena persentase sel hidup yang diperoleh diatas 50%. Hasil identifikasi
senyawa pada fraksi etil asetat biji kurma Ajwa diduga mengandung senyawa fenolik,
flavonoid dan terpenoid. Fraksi n-heksana biji kurma ajwa diduga mengandung senyawa
flavonoid. Kandungan senyawa dalam ekstrak etanol dan fraksi biji kurma Ajwa tidak
memiliki aktivitas sitotoksik terhadap sel kanker payudara MCF-7.
Kata Kunci: Phoenix dactylifera L., MCF-7, partisi cair-cair, uji MTT.
Abstract
Ajwa date seeds are reported to have a higher phenolic content than Hallawi and Aseel.
This phenolic content includes flavonoids namely quersetin and phenolic acids such as
vanilic acid and gallic acid. This research was conducted with the aim to determine the
cytotoxic effect of Ajwa date seeds ethanolic extract and fraction on MCF-7 breast cancer
cells. Ajwa date seeds was extracted by using maceration digestion method for 1 hour at
45 ° C with 96% ethanol solvent and were fractionated by using liquid - liquid partition
method with solvent ethanol : water, ethyl acetate and n-hexane. Identification of the
compound content of the Ajwa date seeds ethanolic extract and fraction by using Thin
Layer Chromatography. Cytotoxic testing uses the MTT test method with a concentration
series of 12.5; 25; 50; 100; and 200 𝜇𝑔 / 𝑚𝐿. Cytotoxic test results from ethanol extract
and Ajwa date seed fraction on MCF-7 cancer cells did not show inhibitory activity of cell
growth. IC50 values from all samples cannot be calculated, because the percentage of
living cells obtained is above 50%. Ethyl acetate fraction of Ajwa date seeds is thought to
contain phenolic, flavonoids and terpenoids. The n-hexane fraction of Ajwa date seeds is
thought to contain flavonoid compounds. The content in extracts ethanol and fractions
Ajwa date seeds has no cytotoxic activity on MCF-7 breast cancer cells.
Keywords: Phoenix dactylfera, MCF-7, liquid-liquid partition, MTT Assay.
26
1. PENDAHULUAN
Kanker payudara merupakan kanker yang umum terjadi dan menjadi penyebab kematian kedua setelah
kanker paru-paru pada wanita di Amerika (Dipiro et al., 2017). Menurut data dari WHO (2018), dalam
5 tahun terakhir kanker payudara merupakan urutan pertama kasus kanker di Indonesia dengan angka
kejadian sebesar 58.256 kasus. Kanker payudara juga menjadi urutan kedua penyebab kematian di
Indonesia dengan angka kematian sebesar 22.692 jiwa. Pengobatan kanker diantaranya adalah terapi
hormon, radiasi, operasi lumpektomi ataupun mastektomi, dan kemoterapi (American Cancer Society,
2018).
Pengobatan kanker bersifat toksik, banyak efek samping dan harganya mahal sehingga
diperlukan terapi alternatif yang aman, efektif, dan terjangkau seperti obat-obatan herbal. Salah satu
tanaman yang memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai obat antikanker adalah Phoenix
dactylifera L. atau biasa disebut kurma (Rahmani et al., 2014). Bagian dari kurma yang dapat
dimanfaatkan tidak hanya buahnya. Biji kurma juga bermanfaat dalam meningkatkan sistem imun,
menurunkan resiko kanker dan kardiovaskuler (Sundar et al., 2017).
Biji kurma Ajwa diketahui memiliki kandungan senyawa fenolik yang lebih tinggi daripada
biji kurma Hallawi dan Aseel terutama pada flavonoid dan asam fenolat (Ahmed et al.,2016). Fenolik
dapat mencegah aktivasi prokarsinogen menjadi karsinogen dengan menghambat enzim metabolism
fase I seperti CYP 450. Fenolik juga memfasilitasi detoksifikasi dan penghilangan karsinogen dengan
menginduksi enzim metabolisme fase II seperti glutathione S-transferase (GST) (Al-Zubaidy et al.,
2016). Fenolik yang dideteksi dari biji kurma Ajwa adalah quersetin, rutin dan asam galat (Afsal dan
Arul, 2018).
Kandungan senyawa flavonoid yang diidentifikasi dari biji kurma Mesir yaitu quersetin,
genistein, luteolin dan apigenin. Asam fenolat yang ditemukan dalam biji kurma Iraq adalah asam
vanilat dan asam galat. Senyawa terpenoid juga diperoleh dari biji kurma Mesir, senyawa ini adalah
stigmasterol dan sitosterol (Alghabban dan Awad, 2017; Ammar et al., 2009). Kandungan senyawa
flavonoid, terpenoid dan asam fenolik dalam biji kurma diduga juga terkait dalam aktivitas antioksidan
(Al-Farsi et al., 2005). Antioksidan dapat mencegah kerusakan oksidatif pada sel yang dapat
menyebabkan terjadinya kanker. Radikal bebas yang bereaksi dengan lipid, protein dan asam nukleat
dapat menimbulkan kerusakan oksidatif pada sel. Kerusakan ini dapat menyebabkan terjadinya
disregulasi siklus sel (Yasin et al., 2015; Zhang et al., 2013).
Omran et al. (2017) melaporkan bahwa fraksi aseton biji kurma Zahidi dapat menghambat
pertumbuhan sel kanker MCF-7 dengan mencegah pembentukan kanker payudara dengan nilai IC50
sebesar 202 𝜇g/mL. Senyawa fenolik yang mungkin terkait dalam penghambatan pertumbuhan sel
kanker MCF-7 adalah quersetin dan genistein. Genistein dapat menghambat angiogenesis dari sel
27
kanker. Quersetin dapat menyebabkan penghentian siklus sel, peningkatan protein Bax proapoptosis,
dan mengaktifkan caspase 3, 8 dan 9 untuk apoptosis pada sel kanker MCF-7 (Khan et al., 2016).
Penelitian lain menunjukkan adanya aktivitas sitotoksik dari ekstrak biji kurma terhadap sel kanker
kolon (HCT116) dan sel kanker hati (HepG2) dengan nilai IC50 berturut-turut sebesar 122,18 𝜇g/mL
dan 200,90 𝜇g/mL (Sheikh et al., 2014). Sejauh ini penelitian tentang aktivitas sitotoksik fraksi biji
kurma Ajwa (Phoenix dactylifera L.) masih sangat terbatas. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui
efek sitotoksik dari ekstrak etanol dan fraksi biji kurma Ajwa terhadap sel kanker payudara MCF-7.
2. METODE
2.1 ALAT
Rotary evaporator (heidolph), waterbath (Memmert), sonikator (Branson 2510), lampu UV 254 nm
dan 366 nm, 96-well plate (Iwaki), handtally counter (Kenko, model HT-302), kamera (Opti Lab),
blender (Miyako), mikropipet (Socorex), mikroskop (Olympus, tipe CKX41), inkubator (Binder, tipe
inkubator CO2), hemasitometer, vorteks (Thermolyne corporation, tipe Maxi Mix II 37600), pipet
pasteur, conical tube, cytotoxic safety cabinet (Esco, tipe cytoculture), Elisa reader (Elx800 Bio Tech).
2.2 BAHAN
Biji kurma Ajwa, aquades, etanol 96%, n-heksan teknis, etil asetat teknis, sel kanker payudara (MCF-
7), Dimethyl Sulfoxide (DMSO), media kultur DMEM (Dulbecco’s Modified Eagle’s Medium), MTT
(3- (4,5- Dimethylthiazol- 2-yl)-2, 5- diphenyltetrazolium bromide), Tripsin- EDTA, buffer fosfat salin
(PBS), Fetal Bovine Serum (FBS), Sodium Dodecyl Sulfate (SDS) 10% dalam HCl 0.01 N, Penicillin-
Streptomycin 1%, silika GF254, kloroform p.a, methanol p.a, pereaksi semprot FeCl3, pereaksi
semprot sitroborat, pereaksi semprot dragendorff, dan pereaksi semprot anisaldehid- H2SO4.
2.3 PREPARASI BAHAN, EKSTRAKSI DAN FRAKSINASI
Biji kurma Ajwa dipisahkan dari daging buahnya, dan dicuci menggunakan air bersih untuk
menghilangkan sisa daging buah yang masih menempel. Biji kurma dikeringkan dibawah sinar
matahari dan dipecah menjadi 2 bagian yang kemudian dikeringkan kembali dengan cara disangrai.
Biji kurma yang telah kering diserbukkan menggunakan blender. Ditimbang serbuk biji kurma Ajwa
sebanyak 200 gram dan diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan 2000 mL pelarut etanol
96% selama 1 jam pada suhu 45 ºC sambil diaduk menggunakan stirrer magnetic. Ekstraksi biji kurma
Ajwa dilakukan remaserasi sebanyak 2x. Hasil ekstrak biji kurma Ajwa diuapkan pelarutnya
menggunakan rotary evaporator dan waterbath.
Ekstrak etanol biji kurma Ajwa yang diperoleh ditimbang sebanyak 10 gram dan dilarutkan
kedalam 100 mL air: etanol (1:1) untuk difraksinasi. Fraksinasi menggunakan metode partisi cair-cair
dengan pelarut n-heksan dan etil asetat dalam corong pisah 250 mL. Partisi dimulai dengan pelarut
28
yang bersifat non polar ke pelarut yang lebih polar. Pelarut yang bersifat polar tidak digunakan lebih
dulu karena dapat menarik komponen senyawa non polar. Etanol memiliki bentuk struktur yang lebih
kecil dari n-heksan, sehingga dapat dengan mudah menembus dinding sel dan melarutkan komponen
senyawa (Siregar et al., 2018). Fraksi etanol: air, etil asetat dan n-heksan yang diperoleh kemudian
diuapkan pelarutnya dengan rotary evaporator dan waterbath hingga diperoleh ekstrak kental.
2.4 IDENTIFIKASI KANDUNGAN SENYAWA
Ekstrak etanol dan tiap-tiap fraksi dari biji kurma Ajwa diidentifikasi kandungan senyawanya.
Kromatografi lapis tipis dipilih sebagai metode untuk identifikasi senyawa dan digunakan fase normal.
Fase diam yang digunakan adalah silika GF254, dan fase gerak yang digunakan yaitu kloroform p.a:
metanol p.a. Perbandingan untuk fase gerak adalah 10: 1. Deteksi bercak dilakukan dibawah sinar
tampak, sinar UV 254 nm, sinar UV 366 nm. Digunakan pula pereaksi semprot seperti pereaksi
sitroborat, pereaksi dragendorff, pereaksi anisaldehid-H2SO4 dan pereaksi FeCl3 sebagai pendeteksi
bercak.
2.5 UJI SITOTOKSIK
Sel MCF-7 dan media DMEM dimasukkan ke dalam 96 - wellplate dengan kepadatan 104, untuk setiap
sumurannya diisi 100 𝜇L dan diinkubasi menggunakan inkubator CO2 selama semalam. Dibuat larutan
stok dari ekstrak etanol dan tiap-tiap fraksi biji kurma Ajwa. Ditimbang ±10 mg sampel dan dilarutkan
menggunakan 100 𝜇L DMSO. Dibuat 5 seri konsentrasi (12,5 𝜇g/mL; 25 𝜇g/mL; 50 𝜇g/mL; 100
𝜇g/mL dan 200 𝜇g/mL) dari larutan stok dan ditambahkan pada tiap sumuran sebanyak 100 𝜇L
sebagai perlakuan sampel. Dibuat 3 kali replikasi untuk tiap seri konsentrasi dan diinkubasi 24 jam
menggunakan inkubator CO2. Kontrol pelarut diisi dengan media DMEM, sel MCF-7 dan DMSO.
Kontrol sel diisi dengan media DMEM dan sel MCF-7 tanpa DMSO. Kontrol media diisi dengan
media DMEM saja.
Media sel DMEM dibuang dengan cara plate dibalikkan 180° pada tempat pembuangan dan
sisa cairan yang ada ditiriskan diatas tisu. Ditambahkan pada tiap sumuran sebanyak 100 𝜇L reagen
MTT (1 mL MTT + 9 mL media DMEM) dan diinkubasi selama 2 jam menggunakan inkubator CO2.
Reaksi reduksi yang terjadi dihentikan dengan pemberian reagen stopper berupa larutan SDS (Sodium
Dodecyl Sulfate) 10% dalam HCl dan diinkubasi pada suhu kamar, selama semalam pada tempat yang
gelap. Dibaca absorbansi formazan pada panjang gelombang 550 nm menggunakan ELISA reader.
Data absorbansi digunakan untuk menghitung persentase sel hidup, rumus perhitungan sel hidup
adalah (bila absorbansi kontrol pelarut lebih rendah daripada kontrol sel):
(𝐴𝑏𝑠𝑜𝑟𝑏𝑎𝑛𝑠𝑖 𝑝𝑒𝑟𝑙𝑎𝑘𝑢𝑎𝑛 − 𝐴𝑏𝑠𝑜𝑟𝑏𝑎𝑛𝑠𝑖 𝑘𝑜𝑛𝑡𝑟𝑜𝑙 𝑚𝑒𝑑𝑖𝑎)
% 𝑠𝑒𝑙 ℎ𝑖𝑑𝑢𝑝 = × 100%
(𝐴𝑏𝑠𝑜𝑟𝑏𝑎𝑛𝑠𝑖 𝑘𝑜𝑛𝑡𝑟𝑜𝑙 𝑝𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡 − 𝐴𝑏𝑠𝑜𝑟𝑏𝑎𝑛𝑠𝑖 𝑘𝑜𝑛𝑡𝑟𝑜𝑙 𝑚𝑒𝑑𝑖𝑎)
29
Dicari persamaan regresi linier dari konsentrasi ekstrak dan fraksi pada biji kurma Ajwa versus
% sel hidup. Persamaan regresi yang diperoleh ini digunakan untuk perhitungan IC50 dari ekstrak dan
fraksi biji kurma Ajwa. Dicari nilai konsentrasi X menggunakan nilai Y= 50% dan dihitung antilog
dari konsentrasi X tersebut.
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Determinasi tanaman dilakukan di Laboratorium Program Studi Biologi Fakultas Ilmu Pengetahuan
Alam Universitas Sebelas Maret. Kunci determinasi tanaman adalah sebagai berikut:
1b-2b-3b-4b-12b-13b-14b-17a ____________________________________ ______224. Arecaceae
1b-6b-21b-22b-25b-28b-35a _____________________________________ __________1. Phoenix
1 ___________________________________________________________ Phoenix dactylifera L.
Hasil kunci determinasi tanaman menunjukkan bahwa benar tanaman yang digunakan dalam
penelitian merupakan tanaman Phoenix dactylifera L. Ekstraksi pada biji kurma Ajwa dilakukan
dengan maserasi digesti. Serbuk biji kurma Ajwa direndam dalam etanol 96% pada suhu 45°C selama
1 jam. Pemilihan metode ini karena merupakan kondisi yang optimal untuk ekstraksi biji kurma (Al-
farsi dan Lee, 2008). Rendemen yang diperoleh dari ekstrak etanol biji kurma adalah 13,47%
ditunjukkan dalam Tabel 1. Ekstrak etanol yang diperoleh diambil 10 gram untuk difraksinasi. Metode
untuk fraksinasi yang digunakan adalah partisi cair-cair. Etanol: air, etil asetat, dan n-heksan
digunakan sebagai pelarut pada partisi cair-cair. Hasil rendemen yang diperoleh pada fraksi etanol: air,
etil asetat, dan n-heksan biji kurma Ajwa secara berurutan yaitu 22,3 %; 6,9% dan 16,2%. Data
rendemen ekstrak dan fraksi dari biji kurma ajwa disajikan pada Tabel 2 sebagai berikut:
Tabel 1. Rendemen Ekstrak Etanol dan Fraksi-Fraksi Biji Kurma Ajwa
Sampel Berat (gram) Berat (gram) % rendemen
Ekstrak etanol 200 26,94 13,47
F. etanol: air 2,23 22,3
F. etil asetat 10 0,69 6,9
F. n-heksana 1,62 16,2
Hasil rendemen pada fraksi polar yaitu etanol:air diperoleh rendemen yang lebih tinggi dari
fraksi etil asetat dan n-heksana. Fraksi polar efektif dalam melarutkan senyawa fenolik seperti
flavonoid dan asam fenolat. Diduga terjadi peningkatan kandungan asam fenolik karena pengeringan
30
dengan sinar matahari dan suhu tinggi. Al-Farsi et al. (2005) menjelaskan adanya degradasi tanin oleh
suhu dan enzim pematangan selama proses pengeringan, sehingga terjadi pelepasan asam fenolat.
Identifikasi kandungan senyawa dengan kromatografi lapis tipis pada ekstrak dan fraksi biji
kurma Ajwa menggunakan fase gerak kloroform p.a: metanol p.a dengan perbandingan 10:1. Pereaksi
semprot yang digunakan untuk deteksi bercak adalah sitroborat, dragendorff, anisaldehid-H2SO4 dan
FeCl3. Deteksi flavonoid dengan pereaksi semprot sitroborat, hasil dianggap positif senyawa flavonoid
apabila terdapat fluoresensi berwarna hijau, biru, kuning atau ungu yang dilihat pada sinar UV 366 nm
(Wagner & Bladt, 1996). Pereaksi semprot FeCl3 digunakan untuk mendeteksi senyawa fenolik, jika
warna abu-abu yang muncul pada sinar tampak menunjukkan hasil yang positif senyawa fenolik
(Saifudin, 2014). Deteksi senyawa alkaloid menggunakan pereaksi semprot dragendorff, hasil
dianggap positif senyawa alkaloid bila terdapat bercak berwarna coklat yang dilihat pada sinar tampak
danasinar UV 254 nm. Senyawa terpenoid dideteksi menggunakan pereaksi semprot anisaldehid-
H2SO4, positif mengandung senyawa terpenoid bila terdapat hasil bercak berwarna merah, merah-
violet, biru-violet yang dilihat pada sinar UV 254 nm atau adanya bercak berwarna coklat yang dilihat
padaasinar tampak (Wagner & Bladt, 1996). Profil KLT pada ekstrak dan fraksi biji kurma Ajwa dapat
dilihat pada Gambar 2 sebagai berikut:
a b c d e f
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
Gambar 1. Profil KLT biji kurma ajwa menggunakan fase gerak kloroform: metanol (10:1). deteksi pada uv 254
nm(a), deteksi pada uv 366 nm (b), deteksi fenolik pada sinar tampak menggunakan reagen fecl3 (c), deteksi
flavonoid pada uv 366 nm menggunakan reagen sitroborat (d), deteksi terpenoid menggunakan reagen
anisaldehid-h2so4 (e), deteksi alkaloid menggunakan reagen dragendorff (f). keterangan: 1)ekstrak etanol, 2)
[Link]:air, 3) [Link] asetat dan 4) f.n-heksana
Diketahui pada Gambar 2, ekstrak etanol dan fraksi etanol: air dari biji kurma Ajwa tidak
menunjukkan adanya bercak, hal ini diduga karena senyawa yang terkandung dalam ekstrak dan fraksi
ini sangat polar. Senyawa yang bersifat polar akan berada pada dasar tempat penotolan. Senyawa yang
sangat polar sulit untuk dipisahkan dengan KLT fase diam maupun terbalik. Metode kromatografi lapis
31
tipis lebih cocok untuk senyawa semi polar (Saifudin, 2014). Pengeringan sampel menggunakan sinar
matahari dan suhu tinggi diduga juga dapat mempengaruhi konsentrasi dari senyawa aktif. Al-Farsi et
al. (2005) melaporkan bahwa pengeringan dengan sinar matahari dapat menurunkan kadar flavonoid
dan terpenoid karena terjadi degradasi oleh enzim. Enzim yang terlibat yaitu peroksidase dan polifenol
oksidase.
Deteksi kandungan senyawa dalam biji kurma Ajwa menggunakan pereaksi semprot dapat
dilihat pada Tabel 2. Hasil deteksi pada fraksi etil asetat diduga adanya kandungan fenolik, flavonoid
dan terpenoid. Ditunjukkan dengan nilai Rf 0,13 bercak warna abu tua setelah disemprot pereaksi
FeCl3, dan coklat setelah disemprot pereaksi anisaldehid-H2SO4. Bercak berfluoresensi kuning dengan
nilai Rf 0,38; 0,60 dan 0,73 yang dilihat pada sinar UV 366 nm setelah disemprot pereaksi sitroborat.
Hasil deteksi pada fraksi n-heksan diduga mengandung senyawa flavonoid dengan nilai Rf 0,88
dengan fluoresensi berwarna merah muda yang dilihat pada sinar UV 366 nm.
Tabel 2. Deteksi Kandungan Senyawa dalam Biji Kurma Ajwa dengan Pereaksi Semprot
Anisaldehid
Sinar UV FeCl3 Sitroborat
- H2SO4
Perkiraan
Sampel Spot Rf
Senyawa
Sinar UV 366 Sinar
254 nm 366 nm
tampak nm tampak
Ekstrak - - - - - - - -
FAa - - - - - - - -
1 0, 13 Abu - abu - Abu tua - Coklat
2 0, 38 Abu - abu Kuning - Kuning - Fenolik,
FEb flavonoid,
3 0, 60 - Kuning - Kuning - terpenoid
4 0, 73 - Kuning - Kuning -
FHc 1 0, 88 - Merah - Merah - Flavonoid
muda muda
a
Fraksi etanol: air, b Fraksi etil asetat, c Fraksi n-heksan
Ekstrak etanol, fraksi etanol:air, fraksi etil asetat dan fraksi n-heksan biji kurma Ajwa setelah disemprot menggunakan
pereaksi dragendorff tidak menunjukkan adanya bercak coklat pada sinar tampak.
Pengujian sitotoksik dilakukan pada ekstrak etanol dan fraksi biji kurma Ajwa. Metode uji
sitotoksik yang digunakan adalah MTT Assay. Prinsip dari metode ini yaitu terjadinya reduksi garam
tetrazolium (3- (4,5- dimetiltiazol-2-il)-2, 5- difeniltetrazolium bromid) oleh sistem reduktase. Sistem
reduktase pada sel yang hidup akan membentuk kristal formazan berwarna ungu. Semakin besar
intensitas warna ungunya, maka jumlah sel yang hidup semakin banyak (CCRC, 2013). Dibaca
32
absorbansinya menggunakan ELISA reader dan dihitung persentase sel hidup dari ekstrak dan fraksi
biji kurma Ajwa.
Parameter yang digunakan dalam uji sitotoksik ini yaitu nilai IC50 yang dihitung berdasarkan
persentase sel hidup. Hasil uji sitotoksik ekstrak dan fraksi biji kurma Ajwa terhadap sel kanker
payudara MCF-7 pada konsentrasi 12,5 ; 25; 50; 100 dan 200 𝜇g/mL menunjukkan persentase sel
hidup yang tinggi, sehingga nilai IC50nya tidak dapat dihitung. Hasil dari penelitian ini adalah tidak
terdapat aktivitas sitotoksik dari ekstrak dan fraksi biji kurma Ajwa terhadap sel kanker payudara
MCF-7. Grafik konsentrasi vs persentase sel hidup ekstrak dan fraksi biji kurma Ajwa terhadap sel
kanker payudara MCF-7 dapat dilihat pada Gambar 1 dibawah ini:
Konsentrasi Vs % Sel Hidup
145
140
135
% Sel Hidup
130
125
120
115
110
105
1.0 51.0 101.0 151.0 201.0
Konsentrasi
Ekstrak Etanol Fraksi Etanol: air
Fraksi Etil asetat Fraksi N-Heksana
Gambar 2. Grafik konsentrasi ekstrak etanol, fraksi etanol:air, fraksi etil asetat, dan fraksi n-heksana biji
kurma terhadap % sel hidup MCF-7
Hasil dalam penelitian ini tidak menunjukkan adanya hubungan yang linier antara konsentrasi
sampel dengan respon yaitu kematian sel, dapat dilihat pada Gambar 1 persentase sel hidup masih
tinggi setelah diberi perlakuan dengan sampel. Jumlah persentase sel hidup pada fraksi etanol: air lebih
kecil dari ekstrak etanol, fraksi etil asetat dan fraksi n-heksan, hal ini diduga karena adanya kandungan
fenolik yang lebih tinggi pada pelarut polar. Khalid et al (2017) menyebutkan bahwa polaritas pelarut
berpengaruh dalam meningkatkan kelarutan fenolik. Kombinasi pelarut organik-air lebih efektif
terhadap ekstraksi total kandungan fenolik.
Kandungan senyawa fenolik, flavonoid dan terpenoid dari ekstrak etanol dan fraksi biji kurma
Ajwa dalam penelitian ini tidak menunjukkan adanya aktivitas sitotoksik terhadap sel kanker payudara
MCF-7. Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan menggunakan
kultivar kurma yang berbeda yaitu biji kurma Zahidi yang menunjukkan nilai IC50 sebesar 202 µg/
mL yang termasuk dalam kategori aktivitas sitotoksik lemah (Omran et al., 2017). Diduga adanya
33
kemungkinan hilangnya senyawa aktif pada proses pengeringan sampel. Penelitian Al-Farsi et al.
(2005) menyebutkan bahwa pengeringan dibawah sinar matahari dapat menurunkan kandungan
senyawa flavonoid dan terpenoid. Proses pengeringan juga dapat meningkatkan kandungan fenolik
bebas. Komplek senyawa fenolik, seperti tanin dan lignin mengalami hidrolisis oleh suhu atau enzim
pada saat pengeringan yang menyebabkan pelepasan senyawa fenolik. Penelitian Réblová (2012)
melaporkan bahwa penggunaan suhu tinggi dapat menurunkan aktivitas dari fenolik, khususnya asam
fenolik yang kurang teroksidasi seperti asam vanilat.
4. PENUTUP
Kesimpulan dari hasil penelitian ini yaitu ekstrak etanol, fraksi etanol: air, fraksi etil asetat dan fraksi
n-heksana biji kurma Ajwa tidak memiliki aktivitas sitotoksik terhadap sel kanker payudara MCF-7
karena persentase sel hidup masih lebih dari 50% sehingga nilai IC50 tidak dapat dihitung. Hasil
identifikasi kandungan senyawa menggunakan KLT, diduga adanya kandungan fenolik, flavonoid dan
terpenoid dalam fraksi etil asetat. Fraksi n-heksan diduga juga mengandung senyawa flavonoid.
Penelitian mengenai pemanfaatan dari biji kurma Ajwa memang belum banyak, sehingga perlu adanya
pengembangan lebih lanjut mengenai cara pengeringan dan ekstraksi biji kurma yang baik serta
pemanfaatannya dalam kehidupan.
PERSANTUNAN
Terimakasih kepada Allah SWT atas nikmat islam dan iman. Ibu, saudara, dosen pembimbing, bapak/
ibu laboran, teman - teman dan pihak lain yang telah mendukung berjalannya penelitian ini.
DAFTAR PUSTAKA
Afsal, I., & Arul, B. (2018). Phytochemical Screening of Ajwa Seed ( Phoenix dactylifera L .) Extract
by HPTLC Fingerprinting Method. International Journal of Pharmacy and Pharmaceutical
Research, 11(2).
Ahmed, A., Arshad, M. U., Saeed, F., Ahmed, R. S., & Chatha, S. A. S. (2016). Nutritional Probing
and HPLC Profiling of Roasted Date Pit Powder. Pakistan Journal of Nutrition, (March).
[Link]
Al-Farsi, M., Alasalvar, C., Morris, A., Baron, M., & Shahidi, F. (2005). Comparison of antioxidant
activity, anthocyanins, carotenoids, and phenolics of three native fresh and sun-dried date
(Phoenix dactylifera L.) varieties grown in Oman. Journal of Agricultural and Food Chemistry,
53(19), 7592–7599. [Link]
Al-farsi, M., & Lee, C. Y. (2008). Optimization of phenolics and dietary fibre extraction from date
seeds. Food Chemistry, (June), 11. [Link]
Al-Zubaidy, A. A., Sahib, H. B., & Hussein, Z. A. (2016). The anti–Angiogenic activity of phoenix
dactylifera seeds extracts. International Journal of Pharmacy and Pharmaceutical Sciences,
8(1), 311–315.
34
Alghabban, S. L., & Awad, Z. J. (2017). Research Journal of Pharmaceutical , Biological and
Chemical Sciences The phytochemical screening of some polyphenolic compounds present in
Phoenix dactylifera L . seeds cultivated in Iraq . September – October. Research Journal of
Pharmaceutical, Biological and Chemical Sciences, 8(137), 137–142.
American Cancer Society. (2018). Breast Cancer Facts & Figures 2017-2018. In Atlanta: American
Cancer Society, Inc. Retrieved from [Link]
statistics/[Link]
Ammar, N. M., Al-Okbi, S., Abouel-Kassem, Mohamed, D., & El-Kassem, L. T. A. (2009).
Antioxidant and Estrogen Like Activity of the Seed of Phoenix dactylifera L. Palm Growing in
Egyptian Oases. Report and Opinion, 1(3), 1–8. Retrieved from
[Link]
d_Estrogen_Like_Activity_of_the_Seed_of_Phoenix_dactylifera_L_Palm_Growing_in_Egypt
ian_Oases/links/[Link]
Ammar, N. M., El-Kassem, L. T. ., El-Sayed, N. H., Calabria, L. M., & Mabry, T. J. (2009). Flavonoid
Constituents and Antimicrobial Activity of Date ( Phoenix dactylifera L .) Seeds Growing in
Egypt. Medicinal and Aromatic Plant Science and Biotechnology, 1–5.
CCRC. (2013). Protokol Uji sitotoksik metode mtt. Cancer Chemoprevention Research Center
Fakultas Farmasi UGM, 8.
Dipiro Joseph T et al. (2017). Chapter e1: Health Literacy and Medication Use. 10 edition, 1–6513.
Khalid, S., Ahmad, A., & Kaleem, M. (2017). Antioxidant activity and phenolic contents of Ajwa
date and their effect on lipo-protein profile. Functional Foods in Health and Disease, 7(6), 396–
410.
Khan, F., Ahmed, F., Pushparaj, P. N., Abuzenadah, A., Kumosani, T., Barbour, E., … Gauthaman,
K. (2016). Ajwa Date (Phoenix dactylifera L.) extract inhibits human breast adenocarcinoma
(MCF7) cells in vitro by inducing apoptosis and cell cycle arrest. PLoS ONE, 11(7), 1–17.
[Link]
Omran, R., Al-Taee, Z. M., Hashim, H. O., & Al-Jassani, M. J. (2017). Preventive effects of phoenix
dactylifera polyphenols against 7,12-dimethylbenz(A)anthracene-induced mammary cancer.
Asian Journal of Pharmaceutical and Clinical Research, 10(7), 172–181.
[Link]
Rahmani, A. H., Aly, S. M., Ali, H., Babiker, A. Y., & Srikar, S. (2014). Therapeutic effects of date
fruits ( Phoenix dactylifera ) in the prevention of diseases via modulation of anti-tumour activity.
Int Journal Clin Med, 7(3), 483–491.
Réblová, Z. (2012). Effect of temperature on the antioxidant activity of phenolic acids. Czech Journal
of Food Sciences, 30(2), 171–177. [Link]
Saifudin, A. (2014). Senyawa Alam Metabolit Sekunder. In Journal of Natural Medicines (Vol. 67).
Sheikh, D. M. El, El-kholany, E. A., & Kamel, S. M. (2014). Nutritional Value , Cytotoxicity , Anti-
Carcinogenic and Beverage Evaluation of Roasted Date Pits. World Journal of Dairy & Food
Sciences, 9(2), 308–316. [Link]
Siregar, Y. D. I., Rudiana, T., & Riyadi, W. (2018). Identifikasi Komposisi Kimia dan Uji Aktivitas
Antioksidan dari Biji Kurma (Phoenix dactylifera). Jurnal Kimia VALENSI, 4(2), 182–189.
[Link]
Sundar, R. V, Segaran, G., Shankar, S., Settu, S., & Ravi, L. (2017). Bioactivity of Phoenix dactylifera
seed and its phytochemical analysis. International Journal of Green Pharmacy, 11(2)(April).
35
Wagner, H., & Bladt, S. (1996). Plant Drug Analysis. In The Cambridge Companion to Wittgenstein,
Second Edition. [Link]
World Health Organization. (2018). Indonesia Fact Source: Globocan 2018. The Global Cancer
Observatory, 256, 2018–2019.
Yasin, B. R., El-Fawal, H. A. N., & Mousa, S. A. (2015). Date (Phoenix dactylifera) polyphenolics
and other bioactive compounds: A traditional islamic remedy’s potential in prevention of cell
damage, cancer therapeutics and beyond. International Journal of Molecular Sciences, 16(12),
30075–30090. [Link]
Zhang, C.-R., Aldosari, S. A., Vidyasagar, P. S. P. V, Nair, K. M., & Nair, M. G. (2013). Antioxidant
and Anti-in fl ammatory Assays Con fi rm Bioactive Compounds in Ajwa Date Fruit. Journal
of Agricultural and Food Chemistry.
36