Rancang Bangun Antena Microstrip Rectangular
Menggunakan Metode Inset Feed dan DGS
Frekuensi 598 MHz TV Digital
Moh. Dimas Ibnu Mahsun 1, Achmad zidan alifiansyah 2, Rian Wahyu Indrawan 3
Fakultas Teknik Jurusan Teknik elektro, Universitas trunojoyo madura
dimasibnumahsun@[Link] 1
achmadzidanalifiansyah@gmail.com2
rianw145@gmail.com3
Abstract— Pengembangan antena mikrostrip untuk aplikasi penting, termasuk gain, bandwidth, polarisasi, dan pola radiasi.
TV digital pada frekuensi 598 MHz telah dilakukan untuk Gain yang tinggi diperlukan untuk memastikan sinyal dapat
memastikan penerimaan sinyal yang optimal di wilayah diterima dengan baik meskipun jarak antara pemancar dan
perkotaan seperti Surabaya. Dalam studi ini, antena mikrostrip penerima cukup jauh. Bandwidth yang cukup lebar
dirancang, disimulasikan, dan dibuat untuk menguji memungkinkan antena menerima berbagai frekuensi yang
kinerjanya. Hasil simulasi menunjukkan antena memiliki berdekatan, sehingga meningkatkan fleksibilitas dalam
return loss sebesar -12,27 dB, VSWR 1,639, bandwidth 359 penerimaan sinyal. Polarisasi yang tepat memaksimalkan
MHz, gain 2,26 dBi, dan pola radiasi omnidirectional. Setelah kompatibilitas dengan sinyal yang dipancarkan, dan pola
proses pembuatan, pengukuran kinerja antena menunjukkan radiasi yang sesuai memastikan cakupan area yang optimal.
return loss sebesar -25,78 dB, VSWR 1,849, dan bandwidth 154
MHz. Perbedaan antara hasil simulasi dan pembuatan Dengan mempertimbangkan berbagai faktor ini, penelitian
terutama disebabkan oleh toleransi manufaktur dan variasi dan pengembangan antena mikrostrip untuk televisi digital di
material. Meskipun demikian, hasil yang diperoleh Surabaya menjadi sangat penting. Desain yang tepat akan
menunjukkan bahwa antena mikrostrip yang dikembangkan memastikan kualitas penerimaan sinyal yang optimal, sehingga
memiliki kinerja yang baik dan sesuai untuk aplikasi TV masyarakat dapat menikmati layanan televisi digital dengan
digital pada frekuensi yang ditargetkan, dengan kemampuan kualitas terbaik.
menerima sinyal secara omnidirectional yang sangat penting B. Karakteristik Antena Microstip
dalam lingkungan perkotaan yang padat.
Antena mikrostrip adalah salah satu jenis antena yang
Kata Kunci— Antena Mikrostrip, Televisi Digital, Simulasi menggunakan teknologi mikrostrip untuk mengirim dan
CST, Return Loss, Bandwidth, Gain menerima gelombang elektromagnetik. Antena ini memiliki
berbagai karakteristik unik yang membuatnya cocok untuk
berbagai aplikasi, terutama dalam sistem komunikasi modern
I. PENDAHULUAN
seperti televisi digital, komunikasi satelit, dan perangkat
A. Latar Belakang nirkabel. Berikut adalah beberapa karakteristik utama dari
antena mikrostrip:
Pada era digital saat ini, permintaan akan akses informasi
yang cepat dan handal terus meningkat, termasuk dalam 1. Struktur dan Komposisi: Antena mikrostrip terdiri dari
layanan penyiaran televisi. Televisi digital menawarkan beberapa lapisan dasar: substrat dielektrik, patch
keunggulan dalam kualitas gambar dan suara dibandingkan konduktif, dan ground plane. Patch konduktif (biasanya
televisi analog, serta kemampuan mengirimkan informasi terbuat dari tembaga atau bahan konduktif lainnya)
tambahan. Salah satu komponen kunci dalam sistem televisi ditempatkan di atas substrat dielektrik, sedangkan ground
digital adalah antena, yang bertugas menerima sinyal dari plane terletak di bawah substrat. Patch ini bisa berbentuk
pemancar. persegi panjang, lingkaran, segitiga, atau bentuk lainnya,
tergantung pada aplikasi yang diinginkan.
Antena mikrostrip merupakan salah satu jenis antena yang
banyak digunakan dalam komunikasi modern, termasuk televisi 2. Ukuran dan Bobot: Salah satu keunggulan utama dari
digital. Antena ini memiliki beberapa keunggulan seperti antena mikrostrip adalah ukurannya yang kecil dan
ukuran yang kompak, bobot yang ringan, biaya produksi yang bobotnya yang ringan. Ini membuatnya sangat cocok
relatif rendah, dan kemudahan integrasi dengan perangkat untuk aplikasi yang memerlukan perangkat yang ringkas
elektronik lainnya. Selain itu, antena mikrostrip dapat dan portabel, seperti ponsel, drone, dan perangkat medis.
dirancang untuk beroperasi pada frekuensi tertentu dengan
performa optimal. 3. Kemudahan Pembuatan dan Integrasi: Antena mikrostrip
mudah diproduksi menggunakan teknologi pencetakan
Sebagai salah satu kota metropolitan terbesar di Indonesia, fotolitografi, yang juga digunakan dalam pembuatan
Surabaya memiliki kebutuhan yang tinggi akan layanan televisi papan sirkuit tercetak (PCB). Ini memungkinkan integrasi
digital. Untuk memastikan penerimaan sinyal yang baik di yang mudah dengan sirkuit elektronik lainnya, menjadikan
wilayah ini, diperlukan desain antena yang sesuai dengan antena ini pilihan yang populer dalam desain perangkat
frekuensi penyiaran yang digunakan. Salah satu frekuensi elektronik modern.
tengah yang digunakan untuk siaran televisi digital di Surabaya
adalah 598 MHz. 4. Frekuensi Operasi: Frekuensi operasi antena mikrostrip
ditentukan oleh dimensi patch dan sifat dielektrik dari
Frekuensi ini berada dalam rentang UHF (Ultra High substrat. Antena ini dapat dirancang untuk beroperasi pada
Frequency), yang umum digunakan untuk penyiaran televisi berbagai rentang frekuensi, mulai dari beberapa ratus MHz
digital. Desain antena mikrostrip yang beroperasi pada hingga beberapa GHz, tergantung pada aplikasi yang
frekuensi 598 MHz harus mempertimbangkan beberapa faktor diinginkan.
ISSN 2615-5788 Print (2615-7764) Vol 9 No. 3 @ 2024 Dimas 1, Zidan 2 & Rian 3
JURNAL TEKNIK ELEKTRO DAN KOMPUTER TRIAC 2022
[Link]
5. Polarisasi: Antena mikrostrip dapat menghasilkan
berbagai jenis polarisasi, termasuk polarisasi linier dan
polarisasi sirkular. Polarisasi linier dapat dicapai dengan
menggunakan patch persegi panjang atau bentuk
sederhana lainnya, sedangkan polarisasi sirkular biasanya
memerlukan desain patch yang lebih kompleks atau
penggunaan teknik khusus seperti truncation.
6. Gain dan Efisiensi: Antena mikrostrip umumnya memiliki
Gain yang lebih rendah dibandingkan dengan antena jenis
lain seperti antena parabola atau yagi. Namun, Gain dapat
ditingkatkan dengan menggunakan array mikrostrip, yang
menggabungkan beberapa elemen patch untuk
meningkatkan kekuatan sinyal. Efisiensi antena mikrostrip
dipengaruhi oleh sifat material substrat dan kualitas
fabrikasi.
7. Pola Radiasi: Pola radiasi antena mikrostrip biasanya
bersifat unidirectional atau bidirectional, dengan lobus
utama yang tegak lurus terhadap patch. Pola radiasi ini
dapat dimodifikasi dengan mengubah bentuk dan ukuran
patch, serta dengan menambahkan elemen-elemen parasit
untuk mengarahkan energi radiasi.
8. Bandwidth: Bandwidth antena mikrostrip umumnya
sempit, yang berarti antena ini biasanya bekerja secara
optimal pada rentang frekuensi yang terbatas. Namun,
teknik-teknik seperti penggunaan substrat dengan
konstanta dielektrik rendah atau desain patch berbentuk
khusus dapat digunakan untuk memperluas bandwidth.
9. Impedansi dan Matching: Impedansi input antena Gambar 1. Flowchart Penelitian
mikrostrip harus cocok dengan impedansi sumber atau Langkah awal dari perancangan memilih frekuensi
saluran transmisi untuk memaksimalkan transfer energi kerja yang diinginkan, dalam perancangan ini
dan mengurangi refleksi sinyal. Teknik matching seperti menggunakan frekuensi kerja 538-658 MHz. Setelah itu
penggunaan transformer impedansi atau stub matching memilih bahan substrat yang akan dipakai yaitu FR-4
sering digunakan untuk mencapai kondisi ini.
Epoxy. Setelah kedua hal tersebut dilakukan maka
perancangan antena dapat dilakukan, mulai dari penentuan
dimensi patch, groundplane, substratm dan feedline.
II. BAHAN DAN METODE Selanjutnya proses desain dan simulai menggunakan
A. Perancangan Antena Microstrip software CST Studio Suite 2019 serta optimasi ukuran
Beberapa tahapan yang dibutuhkan dalam antena agar parameter yang diinginkan terpenuhi. Setelah
perancangan antena Microstrip, dapat dilihat dalam itu, dilakukan fabrikasi dan pengukuran mengunakan
flowchart berikut : VNA Analyzer serta percobaan langsung dengan TV
Digital. Analisis data bisa dilakukan apabila semua
langkah diatas sudah dilakukan
Parameter antena yang akan dibuat, perhitungan
dengan rumus, metode yang digunakan optimasi antenna
(inset feed) dan DGS Defected Ground Structure (DGS)
Jenis DGS yang digunakan yaitu dengan cara
menghilangkan (etching) sebagian elemen ground plane).
B. Perhitungan Antena Microstrip
Perhitungan rumus berikut dilakukan untuk
mendapatkan nilai dimensi antena Microstrip rectangular
single patch pada frekuensi center 598 MHz. Pada
perancangan desain antena Microstrip rectangular
terdapat 5 tahap perhitungan antara lain menentukan lebar
patch, panjang patch, lebar substrat, panjang substrat, dan
lebar saluran pencatu. Untuk dimensi groundplane,
nilainya adalah sama dengan substrat. Dan selanjutnya
grandplane akan di potong sampai hasil sesuai dengan
yang di inginkan.
W=
c
√ 2
2 f r ε r +1
(1)
{ [
L=Leff −2 Δ L (2) 2h ε 0 , 61
Wf = B−1−¿ ( 2 B−1 ) + r−1 ¿ ( B−1 )+ 0(9),39−
π 2 εr εr
1 60 π
2
ε e= {ε + 1+ ( ε r −1 ) F }
2 r
(3) B= (10)
Z 0 √ εr
c
λ 0= (11)
1 f
F=
√(
λ0
)
h (4) λ g=
1+12 (12)
W √ εr
λg
Lf = (13)
c 1 4
Leff = (5) Keterangan:
2 f r √ εe B = Konstanta
Z 0 = Impedansi karakteristik (Ω)
Wf = Lebar feed (mm)
Δ L=0,412 h
(W
( ε e + 0 ,3 ) h + 0,264 ) (6)
ε r = Konstanta dielektrik
λ 0 = Panjang gelombang (m)
W
(
( ε e −0,258 ) h +0,813 ) λ g = Panjang Gelombang Transmisi
Lf = Panjang feed (mm)
dimana:
Selanjutnya untuk spesifikasi dari desain antenna
c = Kecepatan cahaya ( 3 ×10 8 m/ s ) Microstrip yang telah kita buat adalah sebagai
W = Lebar patch antena berikut.
L = Panjang patch antena
Leff = Panjang efektif patch antena TABLE I. TABEL SPESIFIKASI ANTENA
ΔL = Kelebihan panjang patch akibat efek No Parameter Spesifikasi
fringing field 1 Bahan dielektrik FR-4
ε r= Konstanta dielektrik substrat 2 Konstanta dielektrik 4.3
εe = Permetivitas efektif substrat
3 Tebal dielektrik 1.6 mm
fr = Frekuensi kerja antenna (Hz)
4 Bahan patch Copper (Tembaga)
h = Tebal substrat (cm)
F = Fungsi logaritmik elemen peradiasi 5 Tebal patch 0.035 mm
Mencari lebar patch pada antena mikrostrip 6 Lebar patch 43,67 mm
rectangular dapat menggunakan persamaan (2.1).
7 Panjang substrat 200 mm
Selanjutnya menghitung panjang patch antena
mikrostrip rectangular menggunakan persamaan 8 Lebar substrat 150 mm
(2.2a) dengan terlebih dahulu mencari permitivitas 9 Panjang ground 50 mm
efektif substrat menggunakan (2.2b) dan mencari
fungsi logaritmik elemen peradiasi pada persamaan 10 Lebar ground 150 mm
(2.2c). Setelah panjang dan lebar patch antena 11 Lebar feedline 3 mm
mikrostip rectangular diketahui, selanjutnya dapat
12 Panjang feedline 60 mm
menghitung panjang dan lebar substrat dan
groundplane antena mikrostrip rectangular 13 lebar inset 3,5 mm
menggunakan rumus berikut : 14 Panjang Inset 1 mm
Lg =2× L (7)
W g=2 ×W (8)
dimana:
Lg = Panjang groundplane
W g= Lebar groundplane
W= Lebar patch antena
L = Panjang patch antena
Impedansi output yang dibutuhkan dari antena
dapat mempengaruhi ukuran feedline pada antena
mikrostrip. Untuk mendapatkan ukuran lebar dan
panjang feedline dari antena mikrostrip dapat
digunakan perhitungan dengan rumus berikut :
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Simulasi CST Studio Suite 2019
Gambar 8. Impedansi
B. Hasil Fabrikasi dan Pengukuran VNA
Hasil dari fabrikasi dan final dari sebuah proses
desain hingga pencetakan pcb dan menjadi sebuah
antenna Microstrip dengan desain rectangular adalah
Gambar 2. Patch Antena Microstrip sebagai berikut.
Gambar 3. Groundplane dan Substrat
Gambar 9. Konektor Groundplane
Gambar 4. Feedline dan Inset Feed
Gambar 5. S1,1 Return Loss
Gambar 10. Konektor transmission line
Gambar 6. VSWR
Gambar 11. Gambar antenna tampak depan
Gambar 7. Gain
Gambar 16. Scanning Channel
Gambar 12. Gambar antenna tampak depan
Gambar 17. Chanel 1 penggunaan antena TV digital
Gambar 13. Nilai S1,1 Return Loss
Gambar 18. Chanel 2 penggunaan antena TV digital
Gambar 14. VSWR
C. Percobaan ke Tv Digital
Dari hasil percobaan langsung ke TV digital yang
berada di ruang prodi Teknik Elektro menunjukan
scanning channel sebanyak 9 channel TV diantara lain
RCTI, TRANS TV, TRANS 7, MNC TV, GLOBAL
TV, I NEWS TV, CNN INDONESIA, CNCB
INDONESIA, dan TV 9. Gambar yang dihasilkan dari
antena microstip sangat jelas.
Gambar 19. Chanel 3 penggunaan antena TV digital
Gambar 15. Tv keadaan tidak ada channel
Gambar 24. Chanel 8 penggunaan antena TV digital
Gambar 20. Chanel 4 penggunaan antena TV digital
Gambar 25. Chanel 9 penggunaan antena TV digital
Gambar 21. Chanel 5 penggunaan antena TV digital
Parameter Simulasi fabrikasi
Return Loss -12.37 dBi -25,78 dBi
VSWR 1.639 1,849
Bandwidth 359 MHz 154 MHz
Gain 2,26 dBi -
Pola Radiasi Omnidirectional -
Antena yang dirancang untuk TV digital mulanya di cek
Gambar 22. Chanel 6 penggunaan antena TV digital
nilai s1,1 dan nilai VSWR nya. Hasil dari pengukuran
simulasi dan fabrikasi ada perbedaan yang cukup signifikan,
pada bagian S1,1 return loss ada peningkatan pada
pengukuran VNA atau setelah fabrikasi, VSWR turun tetapi
masih bisa ditolerisasi, sera hasil bandwidt yang didapatkan
dari hasil simulasi dan fabrikasi menurun tetapi masih cukup
untuk digunakan sesuai parameter yang ditentukan. Dari
hasil pengecekan tersebut tampak bahwa antenna yang
dirancang memiliki nilai yang cukup bagus di mana
bandwidth yang di dapat adalah 154. Kemudian penggunaan
antenna yang telah kami buat menghasilkan 9 Channel pada
TV digital dengan gambar yang tampak jernih dan enak
untuk di tonton.
Gambar 23. Chanel 7 penggunaan antena TV digital IV. KESIMPULAN
Antena Microstrip dengan patch rectangular
menggunakan metode inset feed dan metode DGS sangat
bagus di gunakan sebagai antenna TV digital area Surabaya.
Hal ini dibuktikan dengan percobaan antena microstip
bekerja pada frekuensi 424 – 578 MHz dengan titik tengah
598 MHz menghasilkan bandwith 154 Mhz dengan output 9
channel dengan tampilan bersih dan enak di pandang oleh
mata.
DAFTAR PUSTAKA
[4] K. Elissa, “Title of paper if known,” unpublished.
[1] G. Eason, B. Noble, and I. N. Sneddon, “On certain integrals of [5] R. Nicole, “Title of paper with only first word capitalized,” J. Name
Lipschitz-Hankel type involving products of Bessel functions,” Phil. Stand. Abbrev., in press.
Trans. Roy. Soc. London, vol. A247, pp. 529–551, April 1955. [6] Y. Yorozu, M. Hirano, K. Oka, and Y. Tagawa, “Electron
(references) spectroscopy studies on magneto-optical media and plastic substrate
[2] J. Clerk Maxwell, A Treatise on Electricity and Magnetism, 3rd ed., interface,” IEEE Transl. J. Magn. Japan, vol. 2, pp. 740–741, August
vol. 2. Oxford: Clarendon, 1892, pp.68–73. 1987 [Digests 9th Annual Conf. Magnetics Japan, p. 301, 1982].
[3] I. S. Jacobs and C. P. Bean, “Fine particles, thin films and exchange [7] M. Young, The Technical Writer’s Handbook. Mill Valley, CA:
anisotropy,” in Magnetism, vol. III, G. T. Rado and H. Suhl, Eds. University Science, 1989.
New York: Academic, 1963, pp. 271–350.