0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
18 tayangan5 halaman

Ryu: Hidup Kedua dalam Proyek S

Ryu, yang kehilangan semua harapan hidup, berusaha mengakhiri hidupnya tetapi malah terjebak dalam proyek pemerintah yang menawarkan kehidupan baru dengan identitas baru. Setelah menerima tawaran itu, Ryu terbangun di tempat aneh bersama orang-orang yang juga ingin mengakhiri hidup mereka, namun kini harus menghadapi kenyataan baru. Dalam kebingungan dan ketidakpastian, Ryu mulai mencari alasan untuk bertahan hidup di tengah situasi yang mengancam.

Diunggah oleh

hanhanlia123
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
18 tayangan5 halaman

Ryu: Hidup Kedua dalam Proyek S

Ryu, yang kehilangan semua harapan hidup, berusaha mengakhiri hidupnya tetapi malah terjebak dalam proyek pemerintah yang menawarkan kehidupan baru dengan identitas baru. Setelah menerima tawaran itu, Ryu terbangun di tempat aneh bersama orang-orang yang juga ingin mengakhiri hidup mereka, namun kini harus menghadapi kenyataan baru. Dalam kebingungan dan ketidakpastian, Ryu mulai mencari alasan untuk bertahan hidup di tengah situasi yang mengancam.

Diunggah oleh

hanhanlia123
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Sinopsis Pembaca

Ryu hanya ingin mengakhiri hidupnya. Dia kehilangan semua alasannya untuk hidup. Semua hal
buruk terjadi dalam kehidupannya membuatnya tidak dapat berpikir tentang cara lain. Tapi karna
terlaku takut untuk mengakhiri hidupnya, Ryu mencari bantuan orang lain , saat itu dia menemukan
tweet seseorang yang akan membantunya.

Seakan semesta sedang bercanda, bukannya kematian yang menjemputnya. Namun malah bertemu
orang aneh yang menawarkan kehidupan kedua dengan identitas baru. Ryu menerima tawaran
orang itu karna berpikir tidak ada bedanya dengan kematian, namun ternyata orang itu merupakan
bagian dari project S milik pemerintah.

Ryu berencana kabur dari program itu atau mengakhiri hidupnya , namun hal tak terduga
membuatnya harus bertahan dalam project itu dan mendapati alasan lain untuk tetap hidup.

Akankah pada akhirnya Ryu memilih untuk mati atau justru bertahan dalam proyek pemerintah itu.

Chapter 1

Ending or The Beginning

Ryu menjatuhkan pandangannya kebawah, selangkah lagi dirinya akan terjun turun dari gedung itu.
Keramaian dibawah sana terus berlangsung tampak tak terusik seakan mengabaikan keadaan diatas
gedung . Gedung itu cukup tinggi, sepuluh lantai berdiri tegak menjulang . Siapapun yang jatuh dari
gedung itu dapat dipastikan langsung menghembuskan napas terakhir begitu menyentuh tanah.

Mata Ryu bergerak tidak tenang. Beberapa kilatan penyesalan terlihat dimatanya . Kilasan kejadian
mulai melompat dalam pikirannya dan membuat tangannya mulai berkeringat meskipun hembusan
angin sangat kencang diatas pembatas atap gedung.

Kilasan kejadian itu bergerak cepat, dari kematian ayahnya yang begitu tiba2 karna terkena serangan
jantung dan keadaan ibunya yang kian memburuk setelah kepergian ayahnya. Lalu orang-orang dari
pihak bank yang menagih hutang perusaahaan ayahnya dan membekukan semua aset mereka.
Seakan belum cukup, ibunya juga mengikuti jejak ayahnya untuk pergi selamanya.

Mengakhiri hidup adalah hal terakhir yang dia pikirkan untuk keluar dari segala masalahnya. Namun
dia terlalu takut untuk melakukan itu, hingga mencari saran dari internet. Menemukam seseorang
yang bersedia membantunya untuk mengakhiri hidup adalah cahaya baginya ditengah semua
kesialannya. Namun seakan semesta mengajaknya bercanda, bahkan ketika ingin mengakhiri
hidupnya, semuanya sangat sulit.

“Jadi.... Ya atau melompatlah. Aku tak memiliki banyak waktu” Sosok lain yang berdiri tak jauh dari
orang itu berbicara. Membuat Ryu kaget dan nyaris kehilangan pijakan namun beberapa saat
kemudian menyeimbangkan badannya kembali .
Tatapan Ryu tampak lebih tak fokus setelah mendengar perkataan orang lain itu, beberapa kali dia
hendak mengangkat kakinya hendak melangkah namun membatalkan gerakannya setelahnya.
Ditambah kencangnya angin membuat tubuh itu seperti beberapa kali kehilangan keseimbangnya
lagi. Sosok lain yang berdiri dibelakangnya mulai terlihat tidak sabaran melihat jam ditangannya.

“aku akan membuat ini mudah. Hitungan ketiga kau tidak memberi aku jawaban. Ku anggap kau
menolak. Aku akan mendorongmu agar kau tidak perlu melompat sendiri" Sosok itu mulai
melangkah kedepan dan mulai menghitung.

Ryu menarik napas dalam dan memejamkan matanya. Mengangkat satu kakinya hendak melompat.
Namun sebelum tangan sosok lain hendak menyentuh kakinya untuk mendiringnya, ia berbicara.

“Ya aku setuju. Lagi pula tidak ada bedanya melompat atau setuju" Suaranya bergetar pasrah .
Dengan lemah Ryu berbalik dan melompat turun dari pembatas gedung dan berdiri disamping sosok
lain.

Sosok lain itu tersenyum miring dan secepat kilat memukul bagian belakang Ryu . Ryu baru saja
melompat turun dari pembatas tampak kaget dengan gerakan tiba-tiba itu dan tidak siap .

Orang yang masih berdiri tegak setelah melakukan pukulan secara tiba tiba itu mulai melangkah
sambil menyeret Ryu yang pingsan karna pukulannya, menuju sosok lain yang berdiri didepan pintu
bertuliskan exit.

“Lebih lambat 2 menit. Orang ini lebih merepotkan dari yang kukira “ . Sosok lainnya yang berdiri
didepan pintu itu berbicara sambil melihat jam yang melingkar ditangannya.

Chapter 2

The Weird Place

Disebuah ruangan berbentuk kubus dengan warna putih yang mendominasi dan hanya memiliki satu
pintu. Ruang itu nyaris kosong, hanya terdapat sebuah tempat tidur dimana Ryu berbaring serta
sebuah kursi disamping tempat tidur itu. Ryu berbaring denganmemakai pakaian pasien dan tampak
tertidur dengan lelap.

Pintu yang juga berwarna putih itu digeser kesamping secara tiba2 dan seorang pria dengan pakaian
serba hitam melangkah masuk sambil memegang tablet ditangan kanannya. Sosok itu mengeser
sedikit posisi kursi didekat tempat tidur Ryu berbaring untuk sedikit menjauh, lalu duduk dan mulai
memperhatikan tabletnya.

Pria itu menatap sosok Ryu yang tertidur dan mulai menulis sesuatu pada tabletnya. Beberapa kali
tangannya berhenti menulis dan menatap kembali kesosok yang tertidur didepannya seperti
menyelidiki sesuatu. Setelah beberapa menit berlalu pria itu berdiri tampak telah selesai dengan
urusannya dan berjalan keluar ruangan itu.

Begitu pintu tertutup, Ryu yng terbaring mulai tampak bergerak tak tenang dan mulai membuka
matanya perlahan, berusaha menyesuaikan matanya dengan cahaya diruangan itu. Dengan
kebingunan yang terlihat jelas diwajahnya ia mulai memperhatikan ruangan itu sambil berusaha
bangun untuk duduk.

Rasa aneh ditanganya membuatnya melihat kearah tangannya, sebuah cincin hitam bertuliskan X001
melingkar dijari tengahnya. Matanya menatap aneh pada cincin itu hingga dahinya juga ikut berkerut
karna berpikir keras. Tiba tiba telinganya mulai berdengung dan kepalanya terasa sakit seperti
dipukul.

“ Kau hanya perlu kembali berbaring dan kau akan baik baik aja” Pria berpakaian serba hitam itu
kembali masuk dan berbicara dengan nada rendah tanpa memalingkan wajahnya dari tablet. Dia
kembali berjalan menuju kursi disamping tempat tidur.

“ Lebih baik dari yang kuduga. Aku kira kamu akan gugur pada tahap pertama. Cukup mengesankan"
Pria itu berbicara tanpa meninggalkan pandangannya pada tabletnya.

Ryu hendak mengatakan sesuatu tapi diurungkan karna tenggorokannya terasa sangat tidak nyaman.
Ia hanya menatap sosok yang duduk disampingnya dengan wajah penuh tanda tanya. Seperti
merasakan tatapan dari orang lain, pria itu mengangkat pandangannya dari tablet dan tersenyum.

“ Anda baru saja dihipnotis dan tertidur seharian penuh. Wajar jika merasa haus dan tidak nyaman.
Maaf aku tidak bisa memberikan minun padamu. Namun aku akan memberikan info yang perlu kau
tau. Aku harap kau tidak lupa alasan kau disini. Dan tentu kamu tidak akan berpikir semudah itu
bukan mendapatkan kesempatan kehidupan baru dari kami. Tapi bagi orang orang seperti kalian
tidak ada bedanya bukan.” Pria itu tersenyum mengejek dan mulai menahan dagunya dengan satu
tangannya. Mulai memandang orang yang berbaring dengan tatapan yang sulit diartikan. Lalu dia
kembali mengatakan sesuatu.

“ well... i kinda like you. Aku akan memberikan nasihat bagus untukmu. Jangan pernah berteman
dengan siapapun bergitu kau keluar dari ruangan ini" Pria itu beranjak bangkit dan menuju pintu.

“ Bangun dan kenakan pakaian dibawah tempat tidurmu. Dalam sepuluh menit akan ada orang yang
menjemputmu. Mereka sangat tidak sabaran. Jika jadi kamu, aku akan bergegas" Pria itu kemudian
menutup pintu. Dengan linglung Ryu berusaha bangkit dan mulai menganti bajunya dengan pakaian
yang ditaruh dibawah tempat tidurnya.

Otaknya mulai mencerna bagaimana dia bisa sampai pada posisi ini. Kepalanya mulai mengingat
rentetan kejadian dan mengambil kesimpulan. Harusnya dirinya tidak pernah mengirim pesan bodoh
itu atau melihat tweet itu.

Orang yang datang selanjutnya memakai pakaian seperti perawat serta bermasker putih, hanya
terlihat matanya yang berwarna merah seperti orang sakit. Orang itu tidak berbicara dan hanya
menyuruh pihak lain untuk berjalan mengikutinya keruangan lain dengan tatapan matanya. Begitu
keluar dari ruangan terlihat lorong panjang yang memiliki banyak pintu dengan kaca kecil disisi
kanan dan disisi kirim.

Kemanapun memandang hanya warna putih yang mendominasi, bahkan lantainya berwarna putih.
Lorong itu berbau seperti bahan pembersih bleaching. Sunyi, lorong itu begitu sunyi bahkan jejak
langkah pelan kedua orang itu terdengar sangat jelas. Diamnya kedua orang itu menambah sunyi
keadaan.

Orang yang berjalan didepan melangkah menuju lift yang terletak diujung lorong. Lift itu berwarna
silver, satu satunya hal yang berwarna berbeda ditempat itu. Namun justru hal itu malah memberi
nuansa lebih mencekam pada lift itu. Ruangan lift itu mirip lift pada umumnya namun bedanya lift
tersebut tidak memiliki tombol lantai. Bahkan lift itu tidak memiliki layar yang menunjukan angka
lantai, sehingga orang yang menaiki lift tidak dapat mengetahui posisi lantai tujuan mereka.

Begitu lift terbuka terlihat ruangan serba putih yang sangat besar dimana terdapat banyak tempat
tidur mirip kamar asrama, diujung ruangan tersebut terdapat pintu yang sepertinya merupakan
toilet. Tanpa perlu penjelasan, semua orang dapat mengerti jika itu akan menjadi tempat tinggal
orang yang baru sadar itu.

Beberapa orang sudah lebih dulu berada ditempat itu, namun jelas mereka sama bingungnya.
Terlihat jelas mereka semua diam dan sepertinya memperhatikam lift. Orang yang berpakaian
perawat itu berbalik dan memberikan sebuah handphone dari sakunya, lalu berjalan kembali menuju
lift.

Layar handphone yang mati itu tiba tiba menyala dan menunjukan kalimat.

“ Selamat datang X001 . Tempat ini adalah tempat anda untuk menetap dalam beberapa hari. Semua
keperluan anda disediakan dalam loker sesuai kode pada cincin anda. Makanan dan minuman akan
disediakan sesuai jadwal oleh petugas kami. Bertemanlah dengan baik kode lain"

Ryu memperhatikan wajah wajah diruangn itu. Sepertinya keadaan semua orang sama seperti
dirinya, bingung dan curiga satu sama lain. Dengan perlahan Ryu berjalan menuju ke tempat tidur
bertuliskan X001 yang berada paling ujung. Beberapa orang masih memperhatikan dirinya bahkan
setelah dirinya duduk.

“ Aku pikir dia adalah orang terakhir. Sekarang kita genap dua puluh orang” Seorang pria bertubuh
kecil berbicara memecahkan keheningan yang ada. Beberapa orang mengangguk mengiyakan
perkataan pria itu. Diruanganan itu terdapat sepuluh pria dan sepuluh wanita. Beberapa orang
sepertinya mulai membangun pertemanan terlihat dari beberapa orang yang saling duduk bersama,
meskipun tetap dalam keadaan diam.

Remaja laki laki yang duduk tidak jauh dari pintu berjalan kearah Ryu sambil tersenyum ia
menyodorkan apel. Dengan agak ragu X001 mengambil apel berwarna hijau itu lalu meletakannya
diatas tempat tidur.

“ apel itu tidak beracun, aku sudah mencobanya lebih dulu. Sebelum kamu datang perawat itu
memberikan kami apel dalam box “ Remaja itu mengangap Ryu tidak memakan apel karna takut
diracuni.

Ryu mengeleng pelan dan menyentuh lehernya sendiri lalu berdehem pelan. Seakan mengerti,
remaja itu mengambilkan air untuk Ryu. Setelah beberapa tegukan air, wajah Ryu terlihat sangat
lega.

“ terima kasih" itu adalah kata pertama yang diucapakan Ryu setelah sekian lama ditempat aneh itu.

“sama-sama. Aku [Link] X009 " Ryu diam dan terlihat agak segan untuk berbicara dengan
Andrew. Namun melihat andrew seperti menunggu Ryu untuk berbicara, Ryu mau tak mau
berbicara. Lagipula informasi tempat aneh itu tidak mungkin datang sendiri.
“ Aku Ryu Kodeku X001. Apa kamu tau kenapa kita disini?” Ryu berusaha berhati-hati, tidak ada
salahnya berjaga2.

“nama yang unik. Bukannya setiap orang disini memiliki alasan yang sama untuk berada ditempat ini
kan? Kamu juga kan? “ Andrew melihat Ryu dengan pandangan menyelidik.

“ semua disini menerima tawaran orang itu? “ Ryu mengatakn hal yang berada dikepalanya. Andrew
mengangguk pelan dan terlihat berpikir untuk mengatakan sesuatu.

“sebelum kamu datang kami semua saling bertanya. Kami semua adalah orang-orang yang ingin
mengakhiri hidup kami namun terlalu takut untuk melakukannya sehingga membuat janji dengan
seseorang yang dapat membantu kami untuk melakukannya “ melihat Ryu yang seperti masih
menunggu perkataannya, Andrew melanjutkan penjelasannya.

“ Awalnya kami mengira kami semua berjanji dengan orang yang sama. Tapi ternyata orang-orang
itu berbeda. Tapi semuanya saling bertemu diinternet meskipun itu media social yang berbeda. Aku
sendiri bertemu orang itu diwebsite sekolahku dan telah berteman dengannya selama 2 tahun. Agak
mengejutkan aku dijebak walaupun berencana mati. Pada akhirnya aku takut mati “ andrew tertawa
mendengarkan perkataannya sendiri. Sepertinya kenyataan dirinya dijebak ketika hendak bunuh diri
adalah hal terlucu baginya.

“menurutmu berapa persen kemungkinan kita dijebak dan dijadikan kelinci percobaan lalu akan
dibedah?” Andrew bertanya disela2 tawanya. Ryu menatap aneh pada andrew.

“ Ah lupakan. Jangan menjawab. Aku tidak sanggup mendengar" andrew menutup telinganya
dengan kedua tangannya. Karna setengah berteriak, suara andrew menarik perhatian beberapa
orang. Ryu yang kurang menyukai perhatian mulai menunduk, menyembunyikan wajahnya.

Chapter 3

Common questions

Didukung oleh AI

The narrative employs a combination of introspective monologues, environmental descriptions, and interactions with other characters to convey Ryu's internal struggle and transformation. His initial despair is mirrored in the cold, sterile white environment of the project, while his introspective thoughts reveal his longing for escape and eventual acceptance of a new identity . Dialogue with characters like Andrew provides external reflection on shared dilemmas and individual fears, serving as a catalyst for introspection and reevaluation of purpose . The juxtaposition of Ryu's confused state upon waking and his gradual adaptation to the codes of the project structure symbolize his transformative journey from desperation to reluctant participation in a controlled new life .

Ryu's environment and interactions with other participants reveal underlying psychological and emotional themes of despair, isolation, and reluctant camaraderie. The sterile, white-dominated environment, devoid of personal touch and filled with anonymous individuals, echoes Ryu's initial emotional state and existential crises—his feelings of despair and entrapment . The interaction with Andrew and other participants, all of whom share a history of suicidal ideation but fear of death, introduces a reluctant camaraderie and mutual curiosity about their predicament, thus underscoring themes of shared human experience and the search for meaning and identity despite external manipulation .

Ryu's experience in the white room with the mysterious government project severely challenges his sense of autonomy and free will. Initially, his decision to end his life and subsequent agreement to the project's offer stems from a passive resignation rather than an active choice, suggesting a diminished sense of control over his life . The environment, protocols, and the mysterious man's commanding presence reinforce this lack of autonomy, as Ryu must navigate the new setting according to imposed rules without prior knowledge or consent, such as wearing coded rings and following instructed schedules . This setting forces Ryu to question his decisions' independence, as he navigates an uncertain space aimed at reshaping his identity and purpose .

The isolated environment with its predominance of white affects the psychological state of participants by inducing an initial sense of disorientation and emotional numbness, mirroring the blankness they feel amidst personal crises. The white color symbolizes sterility, control, and loss of individuality—conveying an institutional and impersonal atmosphere that suppresses emotional expression and autonomy . As the participants adapt, this environment heightens feelings of vulnerability, involuntary uniformity, and eventual reconsideration of their identities, forcing them to re-evaluate the essence of existence and purpose within imposed confines . This backdrop becomes a critical stage for exploring themes of control, anonymity, and the psychological impact of a dispassionate setting on human psyche and interaction .

The government's project raises significant ethical concerns, primarily concerning consent and participant awareness. The narrative shows that participants, including Ryu, are coerced into joining the project under misleading pretenses of assistance with suicide, lacking informed consent and understanding of the project's true nature . The forcible nature of their induction, marked by hypnosis and misleading contracts, highlights deceptive practices that compromise ethical standards regarding individual autonomy and rights . The project violates principles of informed consent and manipulates vulnerable individuals into participating in experiments without complete knowledge, thereby raising questions about moral responsibility and exploitation .

The government project provides Ryu with a transformative opportunity by offering an escape from his past and a chance at a new identity. However, it is wrapped in enigma and coercion, as Ryu is knocked unconscious and wakes up in a sterile, controlled environment . It serves as a catalyst for change by forcing Ryu to find new reasons to live, thereby shifting his perspective away from death . The enigmatic nature of the project is highlighted by its secretive operations, the mysterious figure's advice against forming friendships, and the coded environment, which suggest hidden motives and possible exploitation .

Ryu’s interactions with Andrew and other participants highlight their collective predicament and the imposed reality they struggle against. Although they share a common background of suicidal ideation and expectancy of a life-ending aid, they find themselves in a shared, controlled environment, leading to a rediscovery of interpersonal connections . Their dialogues reflect reluctance towards forming friendships, dictated by the project's warnings, and illustrate a shared skepticism and curiosity about their situation . The interactions underscore a collective grappling with lost autonomy and the norm-defying structure they find themselves in, forming a complicated bond shaped by shared uncertainty and the need for reassurance within a strange reality .

Ryu is driven to consider ending his life due to a series of unfortunate events, including the sudden death of his father from a heart attack, his mother's declining health and eventual passing, and financial troubles caused by creditors freezing their assets . Seeking solace, Ryu turns to the internet, where he connects with someone who offers help in ending his life . His encounter with a mysterious individual proposing a new identity through a government project creates a pivotal moment. Although Ryu initially sees no difference between jumping or agreeing to the offer, the encounter diverts him from ending his life and entangles him in the mysterious Project S .

The mysterious man in black plays a pivotal role in shaping Ryu's journey within the project. He acts as an authority figure who dictates the terms of Ryu's new existence, providing instructions, warnings, and a chilling dose of reality that Ryu's path is not entirely his own . His initial interaction with Ryu, involving coercion and hypnosis, emphasizes control and manipulates Ryu into accepting the project without understanding its full implications . This figure's influence propels Ryu into a journey of uncertainty and forced compliance, pushing him to reconsider his perception of control and self-determination within an imposed structure .

The narrative explores the concept of identity by contrasting Ryu's past identity crisis with the strictures and anonymity within the project, symbolized by the coded rings. These rings depersonalize the participants, replacing their names with codes like X001, indicating a loss of former identity and individuality . Ryu's prior experiences, defined by loss and desperation, compel him to accept the coded existence initially as an escape. However, this de-identification raises questions about self-perception and the authenticity of the 'new life' promised, as Ryu and others are forced to navigate a communal yet isolative experience defined by numbers rather than personal histories .

Anda mungkin juga menyukai