0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
42 tayangan17 halaman

Hukum Hutang Piutang dan Riba

Bab 9 membahas tentang ketentuan jual beli, hutang piutang, dan riba dalam Islam. Jual beli diatur dengan rukun dan syarat tertentu, sedangkan hutang piutang dibedakan menjadi dayn dan qarḍ, dengan hukum yang berbeda. Riba, yang dilarang dalam Islam, terbagi menjadi riba nasi'ah dan riba fadhl, yang keduanya dapat menimbulkan ketidakadilan dalam transaksi.

Diunggah oleh

ghaisanaffandi26
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
42 tayangan17 halaman

Hukum Hutang Piutang dan Riba

Bab 9 membahas tentang ketentuan jual beli, hutang piutang, dan riba dalam Islam. Jual beli diatur dengan rukun dan syarat tertentu, sedangkan hutang piutang dibedakan menjadi dayn dan qarḍ, dengan hukum yang berbeda. Riba, yang dilarang dalam Islam, terbagi menjadi riba nasi'ah dan riba fadhl, yang keduanya dapat menimbulkan ketidakadilan dalam transaksi.

Diunggah oleh

ghaisanaffandi26
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Bab 9

Menjadi Pribadi yang Dapat Dipercaya serta Terhindar


dari Riba dalam Jual Beli dan Hutang
Piutang

1. Ketentuan Jual Beli, Hutang Piutang dan Riba


a. Jual Beli
Secara bahasa, dalam bahasa Arab, jual beli berarti al-bay’u
yang berarti mengambil atau memberikan sesuatu. Secara
istilah Jual beli adalah menukar suatu barang dengan barang
yang lain dengan cara tertentu. Cara-cara itu diatur dalam
ketentuan fikih muamalah tentang jual beli. Di antaranya
rukun, syarat, dan khiyar.
Hukum asal jual beli adalah mubah atau boleh. Meskipun
demikian ada beberapa sebab yang bisa mengubah hukum asal
ini. Jual beli bisa menjadi wajib apabila menjual merupakan
suatu keharusan, seperti menjual untuk membayar hutang
yang sudah jatuh tempo. Jual beli juga bisa menjadi sunah jika
barang yang dijual sangat diperlukan oleh pembeli. Hukum jual
beli pun bisa berubah menjadi haram apabila dilakukan dalam
rangka kemaksiatan, seperti menjual barang haram, jual beli
dengan tujuan merusak harga pasar, atau menjual barang yang
bisa merusak ketentraman masyarakat.
1) Rukun dan Syarat Jual Beli
Tentu kalian sudah tahu makna rukun. Dalam fikih muamalah
rukun merupakan sesuatu yang harus ada dalam muamalah.
Jika tidak ada akan menyebabkan muamalah yang dilakukan
tidak sah. Adapun rukun jual beli terdiri dari adanya penjual
dan pembeli, ada obyek yang dijual belikan, dan akad (ijab
qabul) jual beli.
Agar jual beli sah, ada syarat tertentu yang harus dipenuhi
pada tiap-tiap rukun jual beli. Syarat-syarat itu dapat kalian
baca pada tabel berikut.
Tabel 9.1. Rukun dan Syarat Jual Beli
N Rukun dan syarat keterangan
o
1. Penjual dan Pembeli

✔ Berakal Bukan orang gila atau memiliki


keterbelakangan mental
✔ Balig Meskipun balig menjadi syarat sah
jual beli, sebagian ulama
berpendapat bahwa anak yang
belum balig tapi sudah mengerti
boleh melakukan jual beli dalam
skala kecil
✔ Dengan Bukan karena dipaksa orang lain
kehendak sendiri

2. Obyek yang Dijual


Belikan
✔ Suci Bukan benda najis
✔ Ada manfaatnya bermanfaat
✔ Dapat diserah Contoh yang tidak bisa
terimakan diserahterimakan adalah
ikan di dalam laut
✔ Milik penjual Milik sendiri atau milik orang yang
diwakili
✔ Diketahui oleh wujud, bentuk, ukuran, dan sifat-
penjual dan sifatnya jelas dan diketahui oleh dua
pembeli belah pihak
3. Akad Jual Beli (ijab
dan kabul)
✔ Ijab dan kabul Berhubungan Materi ijab kabul
berhubungan secara langsung dan
tidak berselang waktu. Misalnya:
benda yang dimaksudkan penjual
dan pembeli sama

✔ Bermakna Penjual dan pembeli bermufakat


mufakat dengan transaksi
yang dilakukan
✔ Tidak Contoh: saya jual barang ini jika
disangkutkan saya jadi pergi
urusan lain
✔ Tidak berwaktu Tidak dijual dalam jangka waktu
tertentu

2) Khiyar
Di dalam fikih muamalat tentang jual beli dikenal istilah khiyar.
Khiyar artinya memilih antara dua hal, yakni meneruskan akad
jual beli atau mengurungkannya. Adanya ketentuan tentang
khiyar agar pihak yang berjual beli dapat memikirkan
kemaslahatan masing-masing lebih jauh, sehingga tidak terjadi
penyesalan di kemudian hari atas transaksi jual beli yang sudah
ilakukan.
Khiyar ada tiga macam, yaitu khiyar majelis, syarat, dan ‘aibi.
Perhatikan tabel berikut untuk mempelajari lebih lanjut tentang
macam-macam khiyar ini.
Tabel 9.2. Macam-Macam Khiyar
N Macam- Pengertian
o Macam
Khiyar
1. Khiyar Majelis Khiyar yang terjadi selama penjual dan
pembeli masih tetap berada di tempat jual
beli
2. Khiyar Syarat Khiyar yang dijadikan syarat pada waktu
akad jual beli. Misalnya seorang pembeli
yang meminta waktu tertentu untuk
memutuskan membeli atau tidak. Batas
waktu khiyar syarat adalah tiga hari tiga
malam.
3. Khiyar ‘aibi Kebolehan pembeli mengembalikan
barang yang dibelinya atau meminta
pengurangan harga karena adanya cacat
pada barang yang terjadi sebelum akad
dan baru diketahui setelah akad jual beli.

b. Hutang Piutang
Ada dua kata dalam bahasa Arab yang diartikan sebagai
hutang piutang, yaitu dayn dan qarḍ. Dalam bahasa Indonesia
dua kata ini sama-sama diartikan dengan hutang piutang. Akan
tetapi dalam fikih muamalah dua kata ini memiliki perbedaan.
Perbedaan di antara dua kata ini memilikidampak hukum dalam
pelaksanaan fikih muamalah.
Perhatikan tabel berikut untuk memahami perbedaan istilah
dayn danqarḍ yang sama-sama berarti hutang piutang.
Tabel 9.3. Perbedaan dayn dan qarḍ
Aspek Dayn Qard
Utang secara umum, yaitu Pinjaman dalam arti khusus: seseorang
kewajiban membayar sesuatu memberikan sesuatu (biasanya uang
Pengertian di masa depan karena jual atau barang) kepada orang lain untuk
beli, sewa, pinjam- dimanfaatkan, dengan kewajiban
meminjam, atau sebab lain. mengembalikannya tanpa tambahan.
Bisa dari transaksi jual beli,
Murni karena pinjam-meminjam (akad
Asal Utang sewa, akad jasa, atau juga
khusus).
pinjaman.
Bisa berupa uang, barang,
Bentuk Biasanya berupa uang atau barang
atau jasa yang ditunda
Barang konsumsi (seperti makanan pokok).
pembayarannya.
Tidak boleh ada tambahan
dalam pelunasan kecuali Sama: tidak boleh ada tambahan saat
Hukum
disepakati sebagai hadiah pengembalian. Jika ada tambahan yang
Tambahan
sukarela (tanpa kesepakatan disyaratkan, hukumnya riba (haram).
awal).
- Beli motor kredit (bayar - Pinjam uang Rp1.000.000 untuk
Contoh cicilan) kebutuhan mendesak, lalu
Transaksi - Sewa rumah tapi bayarnya dikembalikan Rp1.000.000 tanpa
belakangan tambahan
Contoh agar mudah memahami
 Contoh Dayn:
Ali membeli laptop dari toko online dengan harga Rp5.000.000,
tetapi dia baru membayar setengahnya. Sisanya Rp2.500.000
menjadi dayn (utang) yang harus dia lunasi bulan depan.
 Contoh Qard:
Hasan meminjam uang Rp1.000.000 dari temannya untuk
memperbaiki motornya. Dia berjanji akan mengembalikannya
satu bulan kemudian. Ini disebut qard.

Pada dasarnya memberi hutang hukumnya boleh. Bahkan jika


memberihutang kepada orang yang berhutang dipahami
sebagai bagian dari kebaikandalam membantu sesama, maka
hukumnya menjadi sunah. Bahkan memberihutang bisa
menjadi wajib apabila orang yang berhutang berada pada
situasi darurat yang sangat memerlukan bantuan hutang dari
orang lain. Di sisi lainpemberian hutang juga bisa menjadi
haram, jika diketahui bahwa hutangyang diberikan akan
digunakan untuk kemaksiatan.
Islam mengajarkan ketika seseorang memberikan pinjaman
hutang, makaia dianjurkan untuk menagih hutang dengan cara
yang baik dan menunggusampai orang yang memiliki hutang
mampu membayar hutangnya. kadangkadangorang yang
berutang tidak selamanya bisa membayar tepat waktu. Bisa
jadi karena terkena musibah, ada kebutuhan yang sangat
mendesak,dipecat dari pekerjaan, atau alasan lainnya.
Sedangkan mengembalikan hutang hukumnya wajib. Setiap
orang yang berhutang, fardu ain hukumnya untuk membayar
hutangnya. Meskipunorang yang menghutangi tidak
menagihnya, orang yang berhutang tetapwajib membayarnya.
Pada saat orang yang berhutang sudah memiliki uanguntuk
melunasi hutangnya, ia tidak boleh menunda-nunda pelunasan
[Link] ada orang yang mampu membayar hutang, tetapi
selalu ditunda-tunda, maka orang itu sudah berbuat zalim.
Agar hutang piutang sah, maka ada rukun dan syarat yang
harusdipenuhi. Rukun dan syarat hutang piutang hampir sama
dengan jual beli. Bedanya terletak di kalimat ijab dan kabul
dalam akad perjanjiannya. Rukunhutang piutang terdiri dari
orang yang berhutang dan berpiutang, barangatau harta yang
dihutangkan, dan akad (ijab kabul) hutang piutang.
Seperti jual beli, ada syarat tertentu yang harus dipenuhi pada
tiap-tiaprukun, agar hutang piutang sah secara hukum. Syarat-
syarat itu dapat kalianbaca pada tabel berikut.
Tabel 9.4. Rukun dan syarat hutang piutang
N Rukun Syarat
o
1. Orang yang berhutang Balig dan berakal
dan berpiutang
2. Barang atau harta yang Jelas jumlah, kadar, dan
dihutangkan takarannya
3. Akad ijab kabul Tidak mempersyaratkan
tambahan tertentu

Ada beberapa anjuran yang diajarkan dalam Islam apabila


terjaditransaksi hutang piutang. Anjuran ini terdapat dalam Q.S.
al-Baqarah/2:282. Anjuran itu adalah menuliskan hutang
piutang, menghadirkan saksi, danmemberikan jaminan. Dengan
demikian pihak yang berhutang akan terikatdalam tanggung
jawab untuk melunasi hutangnya.
c. Riba
Riba berasal dari kata dalam bahasa Arab yang berarti lebih
atau [Link] istilah riba berarti tambahan pada
harta yang disyaratkan dalamtransaksi dari dua pelaku akad
dalam tukar menukar antara harta denganharta.
Secara umum, riba terbagi menjadi dua macam. Yaitu riba
nasiah dan riba fadal

RIBA NASI'AH
→ Pengertian: Tambahan yang terjadi karena adanya
penundaan waktu pembayaran dalam transaksi.
Penyebab:
 Penangguhan (tunda waktu)
 Ada tambahan (kelebihan) atas pinjaman atau tukar-
menukar
Contoh-Contoh:
Seorang pedagang, Ali, meminjam uang sebesar
Rp10.000.000 dari Budi. Mereka sepakat bahwa Ali harus
mengembalikan pinjaman itu setelah 3 bulan, dengan
tambahan Rp1.000.000 sebagai "imbalan" atas tenggang
waktu pelunasan.
Jadi, setelah 3 bulan, Ali harus membayar Rp11.000.000
kepada Budi.
Penjelasan:
Ini disebut Riba Nasi'ah karena terjadi penambahan (riba)
atas pinjaman uang yang dibayarkan setelah tempo tertentu.
Riba Nasi'ah adalah riba karena ada tambahan syarat waktu
yang diperhitungkan untuk keuntungan, bukan karena adanya
jual beli barang atau jasa.
Contoh:
Amir membeli beras dari Hasan sebanyak 100 kg. Mereka
sepakat harga beras adalah Rp1.000.000, tetapi
pembayarannya ditunda selama 2 bulan. Namun, karena
pembayaran ditunda, Hasan mensyaratkan bahwa harganya
menjadi Rp1.200.000.
Penjelasan:
Pada transaksi ini terjadi penundaan pembayaran disertai
penambahan harga karena penundaan tersebut. Inilah yang
disebut Riba Nasi'ah dalam jual beli: tambahan biaya yang
dikenakan bukan karena faktor normal perdagangan, melainkan
semata-mata karena penundaan pembayaran.
Riba Fadhl
Riba Fadhl adalah pertukaran barang sejenis dengan
kadar atau takaran yang berbeda disertai tambahan
(kelebihan) dari salah satu pihak. Ini dilarang dalam Islam
karena dianggap mengambil keuntungan secara tidak adil
dalam transaksi tukar-menukar barang ribawi (seperti emas,
perak, gandum, garam, kurma, dan jelai).
Kelompok
Barang Contoh Barang Ketentuan Jual Beli
Ribawi
- Jika sama jenis: harus
Emas batangan, sama beratnya dan tunai.
Emas dan
perhiasan, koin dinar- - Jika beda jenis (misal
Perak
dirham, uang kertas emas dengan uang): wajib
tunai, boleh beda nilai.
- Jika sama jenis: harus
sama takaran/berat dan
Gandum, beras,
Makanan tunai.
kurma, garam,
Pokok - Jika beda jenis (beras vs
jagung, tepung
kurma): wajib tunai, boleh
beda takaran.
🛒 Contoh Praktis Transaksi
Situasi Hukum Penjelasan
Tukar 10 gram emas dengan Harus tunai saat
❌ Haram
10 gram emas, tapi bayar transaksi. Tidak boleh
(ada riba)
belakangan ada penundaan.
Tukar 10 gram emas dengan
Boleh beda nilai asal
Rp10 juta (uang kertas) ✅ Halal
langsung tunai.
secara langsung dan lunas
Tukar 1 kg beras dengan 1,5 Kalau sejenis, harus
kg beras tanpa tunai ❌ Haram sama jumlah dan
(hutang) tunai.
Tukar 2 kg kurma dengan 3 Boleh beda jumlah asal
✅ Halal
kg beras secara tunai langsung tunai.
Tukar garam dengan garam Kalau sama berat dan
yang berbeda kualitas, tapi ✅ Halal tunai, boleh walaupun
tunai dan sama berat kualitas berbeda.

Perbedaan Riba Fadhl dan Riba Nasi'ah


Aspek Riba Fadhl Riba Nasi'ah
Pertukaran barang ribawi
Penundaan/penangguhan
sejenis dengan
dalam penyerahan barang
takaran/berat yang
Definisi ribawi, biasanya ada
tidak sama, ada
tambahan karena
tambahan/kelebihan dari
penundaan waktu.
salah satu pihak.
Kelebihan (tambahan) yang
Fokus Kelebihan dalam jumlah
muncul karena ada
Masala (fisik) saat tukar-menukar
penundaan waktu
h barang sejenis.
pembayaran.
Contoh Menukar 1 kg beras Meminjamkan 100 gram
dengan 1,2 kg beras emas, lalu harus
Aspek Riba Fadhl Riba Nasi'ah
mengembalikan 110 gram
langsung.
emas setelah 1 bulan.
Jika barang sejenis
(misalnya emas dengan
Syarat Jika transaksi tidak tunai
emas, gandum dengan
Dilaran dan ada tambahan karena
gandum) dan tidak
g waktu.
sama
ukuran/takarannya.
Larang Pada ketidakadilan
Pada ketidakadilan
an karena tambahan atas
dalam takaran saat
Fokusn dasar waktu (utang-
transaksi.
ya piutang).

Islam mengharamkan ribakarena:


 Menimbulkan ketidakadilan
 Menguntungkan satu pihak secara zalim
 Merusak sistem keuangan sehat dalam masyarakat

Allah berfirman dalam [Link]-Baqarah/2:275 sebagai berikut.
Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. (Al-
Baqarah/2:27
2. Jual Beli, Hutang Piutang, dan Riba di Era Modern
Siswa yang budiman, sekarang ini kita tinggal di era modern.
Bahkan kitasudah berada pada tahapan revolusi industri yang
keempat sejak era modernlahir. Ada banyak hal baru yang
belum pernah terjadi pada masa RasulullahSaw. Pada sub bab
ini, kalian akan mempelajari beberapa transaksi baru
yangbelum terjadi di masa Rasulullah Saw. Di antaranya adalah
transaksi jual belisecara kredit menggunakan leasing dan
bunga bank yang banyak menjadidalam masalah jual beli dan
hutang piutang. Kalian akan mempelajaribagaimakah fikih
muamalah membahas persoalan-persoalan ini.
a. Jual Beli online
Penjelasan tentang ketentuan jual beli yang kalian baca pada
sub bab sebelumini merupakan produk hukum Islam pada saat
jual beli masih dilakukandalam bentuk tatap muka. Keberadaan
penjual, pembeli, maupun barangyang dijual belikan sama-
sama hadir secara fisik. Demikian juga denganakad ijab kabul
yang dilakukan secara langsung antara penjual dan pembeli.
Pada era digital sekarang ini, praktik jual beli mengalami
[Link] teknologi digital menyebabkan terjadinya
praktik jual beli onlineatau daring. Baik penjual, pembeli,
maupun barang yang dijual belikan tidakhadir secara fisik,
melainkan saling berjauhan. Akad ijab kabul juga tidakdilakukan
secara langsung. Proses transaksi terjadi di ruang virtual
yangdifasilitasi oleh internet.
Kalian tentu sudah mengenal berbagai aplikasi jual beli online.
Pernahkahkalian melakukan transaksi menggunakan aplikasi
jual beli online? Pernahkankalian bertanya bag aimanakah fikih
muamalah melihat p erkembangan ini?
Siswa yang budiman, dalam jualbeli online, penjual, pembeli,
barangyang dijual belikan, serta akad jualbeli memang tidak
berlangsung secaratatap muka. Penjual dan pembelidipisahkan
oleh ruang yang berbeda. Barang yang dijual belikan juga
tidakbosan dilihat secara langsung olehpembeli. Akad ijab
kabul juga tidakterjadi secara langsung.
Meskipun demikian aktivitas jual beli online pada dasarnya
tetapmemenuhi rukun dalam fikih muamalah. Penjual dan
pembeli, meskipuntidak dalam satu majelis, keduanya ada.
Pemeriksaan barang yang dijual bisadilakukan dengan melihat
gambar atau video dan spesifikasi produk yangdijual.
Sedangkan akad ijab dan kabul diwakili oleh aplikasi
permohonanbarang oleh pihak penjual serta pengisian aplikasi
oleh pihak pembeli.
Oleh karena itu, secara umum jual beli online merupakan
aktivitas yangdiperbolehkan. Hanya saja yang perlu
diperhatikan adalah agar transaksijual beli online tidak
mengandung unsur penipuan, judi, dan riba. Dalam halini nilai
kejujuran, tanggung jawab, dan kepercayaan menjadi faktor
pentingdalam jual beli online.
b. Jual Beli Secara Kredit menggunakan leasing
Jual beli secara kredit adalah transaksi jual beli yang
pembayarannyadilakukan setelah penyerahan barang dalam
jangka waktu tertentu yangtelah disepakati oleh kedua belah
pihak. Kalian tentu sudah mengetahuipraktik jual beli kredit.
Misalnya kredit mobil, motor, ponsel, perabotanrumah tangga
dan lain-lain. Jual beli kredit seperti ini menjadi pilihanbanyak
orang karena dengan dana yang terbatas, dapat membawa
pulangbarang yang diinginkan. Meskipun demikian pembeli
harus mengalokasikandana lebih besar untuk mengangsur
pembayarannya.
Secara umum, para ulama berpandangan bahwa jual beli
kredithukumnya boleh dan halal. Kebolehan jual beli kredit
dikarenakan transaksiyang dilakukan berdasarkan akad jual
beli, bukan hutang piutang. Transaksiini memang melahirkan
kewajiban/hutang di sisi pembeli yang menyebabkanadanya
tambahan harga karena dibayarkan secara kredit. Namun
bentukhutangnya bukan qarḍ, melainkan dayn, (lihat kembali
tabel 9.3.). Padadasarnya akadnya tetap jual beli dan harga
disepakati antara penjual danpembeli.
Meskipun demikian terjadi perbedaan pendapat di kalangan
ulama apabilajual beli kredit melibatkan pihak ketiga. Pihak
ketiga yang dimaksudkanadalah lembaga keuangan (finance).
Praktik jual beli kredit seperti ini disebutdengan leasing. Dalam
leasing, pihak penjual memindahkan penagihanpembayaran
kepada lembaga keuangan. Pembeli tidak lagi berhutang
kepadapenjual melainkan kepada finance yang membayar
pembelian barang kepak penjual.
Sebagian ulama, khususnya yang mengikuti mazhab
Syafi’iberpandangan bahwa jual beli kredit melalui leasing sah
dan halal. Pandanganini didasarkan pada analisa bahwa
transaksi yang digunakan dalam leasingadalah akad syuf’ah
atau sistem akuisisi yang diperbolehkan dalam fikihmuamalah.
Dalam akad syuf’ah, barang yang dibeli menjadi milik
bersama(māl musytarak) antara pembeli dengan finance. Jika
angsuran dari pembelisudah selesai, maka kepemilikan harta
berpindah kepada pihak [Link] angsuran lunas,
barang itu tetap menjadi milik bersama sesuaidengan
kesepakatan.
Namun ada juga pendapat yang berbeda, yang menilai jual beli
kreditmenggunakan leasing termasuk praktik riba. Pendapat ini
didasarkan padapenilaian bahwa transaksi yang terjadi antara
pembeli dan pihak financeadalah akad hutang piutang qarḍ,
yaitu pihak pembeli meminjam uangkepada pihak bank untuk
membeli barang kepada pihak penjual. Pihakpembeli
berkewajiban membayar uang yang dipinjam ke pihak
financedengan cara mengangsur sejumlah uang yang dipinjam
ditambah denganbunga pinjaman. Bunga pinjaman inilah yang
dipahami sebagai kelebihandalam akad hutang piutang
sehingga bernilai riba dan hukumnya haram.
c. Bunga Bank
Sebagian dari kalian tentu sudah pernah bertransaksi dengan
bank. Misalnyabagi para penerima Kartu Indonesia Pintar (KIP).
Pemerintah memberikanbantuan tunai kepada penerima KIP
melalui bank. Uang bantuan disimpan di dalam rekening bank.
Penerima KIP dapat mengambil uang bantuan ituuntuk
keperluan untuk membeli perlengkapan sekolah/kursus, uang
sakudan biaya transportasi, dan lain sebagainya.
Selain berfungsi menyimpan dana masyarakat melalui
tabungan, sepertidana KIP, bank juga dapat berfungsi
menyalurkan dana kepada pihakpihakyang membutuhkan
melalui sistem kredit atau pinjaman. Masyarakatdapat
mengajukan pinjaman dana ke bank dalam bentuk hutang
piutang. Masyarakat dapat menggunakan dana pinjaman itu
untuk berbagai macamkeperluan, seperti modal usaha,
membangun rumah, atau keperluan lainyang membutuhkan
dana besar. Masyarakat harus mengembalikan danapinjaman
itu dengan cara mengangsur. Angsuran itu terdiri dari
pembayarandana yang dipinjam beserta bunga bank yang
dikenakan kepada nasabah.
Para ulama berbeda pandangan terhadap kehalalan bunga
bank [Link] ada kesepakatan (ijmā’) di antara para ulama
tentang bunga [Link] termasuk riba yang diharamkan
dalam fikih muamalah ataukahtidak. Perbedaan pandangan
tentang bunga bank merata di seluruh duniaIslam. Perbedaan
itu juga terjadi di antara ulama-ulama di Indonesia.
Sebagian ulama memahami bahwa bunga bank merupakan
riba. Pandangan ini menilai bunga bank merupakan tambahan
yang bernilai riba nasi’ah. Sebab akad yang terjadi antara
peminjam dan bank adalah akan hutang piutang. Sementara
akad hutang piutang tidak membolehkan adanya kelebihan
dalam pembayaran hutang. Kelebihan dalam mebayar hutang
termasuk riba nasi’ah yang hukumnya haram. Di antara ulama
yang menganggap bunga bank sebagai riba adalah Dr. Yusuf
Qardawi (Mesir) dan Syaikh bin Baz (Arab Saudi).
Ada sebagian ulama yang memandang bunga bank sebagai
bagi hasil keuntungan usaha. Meski pembagian hasil itu sudah
ditentukan nilainya di awal, hal itu sah karena sudah melewati
proses saling riḍa di antara kedua belah pihak. Dengan
demikian bunga bank bukan termasuk riba yang diharamkan.
Karenanya pandangan ini menyimpulkan bahwa bunga bank
halal. Di antara ulama yang berpandangan seperti ini adalah
Syeikh Mahmud Syaltut dan Dr. Ali Jum’ah dari Universitas Al-
Azhar Mesir.
Di Indonesia, organisasi kemasyarakatan (ormas) seperti
Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Muhammadiyah telah
mengeluarkan fatwa bahwa bunga bank termasuk riba
sehingga hukumnya haram. MUI mengeluarkan fatwa haram
pada tahun 2003, sedangkan Muhammadiyah mengelurkannya
pada tahun 2010. Dua ormas itu mendorong umat Islam agar
berpindah dari bank konvensional yang berbabis bunga ke bank
syariah yang menggunakan sistem bagi hasil. Meskipun
demikian Muhammadiyah masih menerima faktor kedaruratan.
Bagi umat Islam yang tidak memiliki pilihan selain
menggunakan transaksi perbankan, maka hukumnya menjadi
boleh dan halal.
Para ulama yang tergabung dalam Nahdhatul Ulama juga
belum bersepakat tentang bunga bank. Pada Munas ‘Alim
Ulama NU di Bandar Lampung tahun 1992, terdapat tiga
pendapat tentang hukum bunga bank. Pendapat pertama
menyamakan bunga bank dengan riba, karenanya hukumnya
haram. Pendapat kedua tidak menyamakan bunga bank dengan
riba, sehingga hukumnya halal. Pendapat ketiga
berpandanngan bahwa bunga bank termasuk masalah syubhat.
Meskipun demikian, Munas memandang perlu untuk mencari
jalan keluar menentukan sistem perbankan yang sesuai dengan
hukum Islam.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa bunga bank adalah
masalah khilāfiyah. Ada ulama yang menyamakannya dengan
riba sehingga hukumnya haram. Ada yang menganggapnya
bukan riba sehingga halal. Terhadap perbedaan seperti ini, kita
harus mengedepankan toleransi dan sikap saling menghargai.
Soal pendapat mana yang dipilih dikembalikan kepada
kemantapan hati masing-masing.

3. Nilai kejujuran, tanggung jawab, dan kepercayaan


dalam fikih muamalah
Siswa yang budiman, mengapa permasalahan muamalah
seperti transaksi jual beli dan hutang piutang perlu diatur
sedemikian rupa? Seperti yang sudah dijelaskan di awal
pembahasan bab, hal ini dikarenakan manusia memiliki potensi
sifat tamak dan rakus. Jika tidak dibatasi, sifat tamak dan rakus
ini bisa menyebabkan kerugian pihak lain.
Sifat tamak dan rakus itu bisa menyebabkan manusia
memakan makanan dengan cara batil. Misalnya dengan
mempraktikkan riba, memakan yang bukan haknya, dan
mendapatkan keuntungan jual beli dengan cara menipu.
Praktik-praktik semacam ini jamak terjadi pada masa jahiliyah.
Salah satunya adalah praktik riba yang cenderung menipu dan
mengeksploitasi masyarakat miskin. Oleh karena itulah riba
dilarang dalam Islam.
Melalui fikih muamalah, Islam ingin menghadirkan praktik jual
beli dan hutang piutang yang adil berdasarkan kejujuran,
tanggung jawab, dan kepercayaan. Misalnya, dengan adanya
akad yang harus ada dalam jual beli ataupun hutang piutang,
dua belah pihak memiliki kesepakatan yang jelas dalam
bertransaksi semenjak awal. Tidak ada pihak yang bisa menipu
pihak yang lain. Dengan demikian adanya akad pada dasarnya
mengajarkan kejujuran sebagai nilai utama dalam bertransaksi.
Demikian juga dengan tanggung jawab. Adanya akad yang
jelas dalam hutang piutang, ditambah anjuran untuk mencatat
hutang, mengadakan saksi, dan memberikan jaminan,
mendorong orang yang berhutang agar bertanggung jawab
dalam membayar hutang. Sikap tanggung jawab itu juga
bermakna menjaga kepercayaan orang yang memberi hutang.
Sebab pada dasarnya orang akan bersedia memberikan hutang
hanya jika ia percaya bahwa orang yang berhutang itu bisa
melunasinya.
Kejujuran dan tanggung jawab dalam bermuamalah akan
melahirkan kepercayaan. Seseorang yang dikenal jujur dan
bertanggung jawab akan mendapat kepercayaan dari banyak
pihak dalam melakukan kerjasama jual beli maupun hutang
piutang. Peluang kerjasama ini bisa membuka keuntungan yang
besar. Orang tidak akan ragu bertransaksi jual beli dengan
seorang yang jujur dan bertanggungjawab. Seorang yang
dikenal jujur dan bertanggung jawab juga tidak akan kesulitan
mengajukan pinjaman dana ke pihak lain, baik untuk tambahan
modal usaha maupun kepentingan yang lain.
Sebaliknya, jika kejujuran dan tanggung jawab tidak dimiliki
oleh seseorang, ia akan kesulitan mendapatkan kepercayaan
dari orang lain. Jika dia mengembangkan jual beli, tidak banyak
yang percaya bertransaksi dengannya. Jika dia mengajukan
pinjaman ke pihak lain, baik dari perorangan maupun lembaga
keuangan seperti bank, koperasi, dan lain sebagainya, ia juga
akan kesulitan mendapatkannya.

Anda mungkin juga menyukai