0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan28 halaman

Anatomi dan Fungsi Jantung Manusia

Dokumen ini membahas anatomi dan fisiologi jantung, termasuk struktur jantung, ruang-ruang jantung, katup-katup jantung, arteri koroner, dan sistem vena jantung. Jantung terdiri dari empat ruang (atrium dan ventrikel) dan dilindungi oleh perikardium, serta memiliki katup yang mengatur aliran darah. Selain itu, dokumen ini menjelaskan fungsi pembuluh darah, termasuk arteri, arteriol, kapiler, venul, dan vena dalam sistem sirkulasi.

Diunggah oleh

Hetty Fuspita
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan28 halaman

Anatomi dan Fungsi Jantung Manusia

Dokumen ini membahas anatomi dan fisiologi jantung, termasuk struktur jantung, ruang-ruang jantung, katup-katup jantung, arteri koroner, dan sistem vena jantung. Jantung terdiri dari empat ruang (atrium dan ventrikel) dan dilindungi oleh perikardium, serta memiliki katup yang mengatur aliran darah. Selain itu, dokumen ini menjelaskan fungsi pembuluh darah, termasuk arteri, arteriol, kapiler, venul, dan vena dalam sistem sirkulasi.

Diunggah oleh

Hetty Fuspita
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

6

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Dasar Teori

2.1.1 Anatomi Jantung

Jantung terletak dalam rongga mediastinum yaitu antara kedua paru-paru

dengan perikardium yang membungkus jantung terdiri dari 2 lapisan. Lapisan luar

disebut perikardium varietalis dan lapisan dalam disebut perikardium visceralis.

Kedua lapisan Perikardium ini dipisahkan oleh sedikit cairan pelumas yang

berfungsi mengurangi gesekan pada gerakan memompa jantung itu sendiri (Sylvia

Price, 1999).

Jantung terletak di dalam rongga mediastinum dari rongga dada (thoraks),

diantara kedua paru. Selaput yang mengitari jantung disebut perikardium, yang

terdiri atas 2 lapisan yaitu perikardium parietalis yaitu lapisan luar yang melekat

pada tulang dada serta selaput paru dan perikardium viseralis yaitu lapisan

permukaan dari jantung itu sendiri yang juga disebut epikardium. Diantara kedua

lapisan selaput tersebut, terdapat sedikit cairan pelumas yang berfungsi

mengurangi gesekan yang timbul akibat gerakan jantung saat memompa, cairan

ini disebut cairan pericardium. Struktur jantung terdiri dari 3 lapisan (Rokhaeni H.

dkk, 2001) yaitu :

a. Lapisan luar disebut epikardium atau pericardium viseralis

b. Lapisan tengah disebut miokardium (lapisan otot)

c. Lapisan terdalam yaitu lapisan endocardium (endotel)

6
7

Gambar 2.1 Struktur Jantung dari luar depan (eksternal anterior)


Sumber : Rokhaeni H. dkk, (2001)

Gambar 2.2 Struktur Jantung dari luar belakang (eksternal posterior)


Sumber : Rokhaeni H. dkk, (2001)
8

[Link] Ruang-ruang Jantung

Ruang jantung terdiri atas 4 ruang yaitu 2 ruang yang berdinding tipis

disebut atrium (serambi) dan 2 ruang yang berdinding tebal disebut ventrikel

(bilik) dengan penjelasan sebagai berikut (Rokhaeni H. dkk, 2001) :

1. Atrium

a. Atrium kanan berfungsi sebagai penampung (reservoir) darah yang

rendah oksigen dari seluruh tubuh. Darah tersebut mengalir melalui vena

kava superior, vena kava inferior, serta sinus koronarius yang berasal dari

jantung sendiri. Kemudian darah dipompakan ke ventrikel kanan dan

selanjutnya keparu.

b. Atrium kiri menerima darah yang kaya oksigen dari kedua paru melalui

4 buah vena pulmonalis. Kemudian darah mengalir ke ventrikel kiri dan

selanjutnya keseluruh tubuh melalui aorta. Kedua atrium tersebut

dipisahkan oleh sekat yang disebut septum atrium.

2. Ventrikel

Permukaan dalam ventrikel memperlihatkan alur-alur otot yang disebut

trabekula. Beberapa alur tampak menonjol, yang disebut muskulus papilaris.

Ujung muskulus papilaris dihubungkan dengan tepi daun katup

atrioventrikuler oleh serat-serat yang disebut korda tendinae.

a. Ventrikel kanan : menerima darah dari atrium kanan dan dipompakan ke

paru-paru melalui arteri pulmonalis.

b. Ventrikel kiri : menerima darah dari atrium kiri dan dipompakan

keseluruh tubuh melalui aorta. Kedua ventrikel ini dipisahkan oleh sekat

yang disebut septum ventrikel.


9

Menurut Sylvia Price (1999), Ruangan jantung bagian atas (atrium)

secara anatomi terpisah dari ruang jantung sebelah bawah (ventrikel), oleh suatu

analus fibrous. Keempat katup jantung terletak dalam rincian ini, secara

fungsional jantung dibagi menjadi alat pompa kanan dan kiri yang memompa

darah vena menuju sirkulasi paru-paru dan darah bersih ke peredaran darah

sistemik. Pembagian fungsi ini mempermudah konseptualisasi dari urutan aliran

darah secara anatomi yaitu dari vena cava inferior, superior, atrium dextra,

ventrikel dextra, arteri pulmonalis, paru-paru, vena pulmonalis, atrium sinistra

ventrikel sinistra, aorta, kemudian darah diedarkan ke seluruh tubuh yang terlihat

pada bagian jantung di bawah ini.

1. Atrium Kanan

Atrium kanan yang tipis dindingnya berfungsi sebagai tempat penyimpanan

darah dan penyalur darah dari vena-vena sirkulasi sistemik ke dalam

ventrikel kanan dan kemudian ke paru-paru. Sekitar 80% aliran listrik balik

vena ke dalam Atrium kanan mengalir secara pasti ke dalam ventikel kanan

melalui katub semilunaris trikuspidalis, 20 % sisanya akan mengisi ventrikel

dengan kontraksi artrium.

2. Ventrikel Kanan

Ventrikel kanan berbentuk bulan sabit yang unik, guna menghasilkan

kontraksi bertekanan rendah yang cukup untuk darah ke dalam arteri

pulmonalis. Beban kerja dari ventrikel kanan lebih ringan dari ventrikel kiri.

3. Atrium Kiri

Atrium kiri menerima darah yang sudah dioksigenasi dari paru-paru melalui

ke empat (4) vena pulmonalis, antara vena pulmonalis dan Atrium kiri tidak
10

ada katub sejati, karena itu perubahan tekanan dalam Atrium mudah sekali

membalik retrograt ke dalam pembuluh paru-paru, peningkatan Atrium kiri

yang akut akan menyebabkan bendungan paru-paru.

4. Ventrikel Kiri

Ventrikel kiri harus menghasilkan tekanan yang cukup tinggi untuk

mengatasi tekanan sirkulasi sistematik dan mempertahankan aliran darah ke

jaringan-jaringan perifer. Ventrikel kiri memiliki otot-otot yang timbul dan

bentuknya menyerupai lingkaran, mempermudah pembentukan yang tinggi

selama ventrikel berkontraksi. Pada saat kontraksi tekanan ventrikel kiri

meningkat sekitar 5 kali lebih tinggi dari ventrikel kanan bila ada hubungan

abnormal antara kedua ventrikel maka darah akan mengalir dari kiri ke kanan

melalui hubungan abnormal tersebut. Akibatnya jumlah darah dari ventrikel

kiri melalui katup aorta ke dalam aorta berkurang.

[Link] Katup-katup jantung

Menurut Rokhaeni H. dkk (2001), katup-katup jantung terdiri dari :

1. Katup atrioventrikuler

Oleh karena letaknya antara atrium dan ventrikel, maka disebut katup atrio

ventrikuler. Katup yang terletak diantara atrium kanan dan ventrikel kanan

mempunyai 3 buah daun katup, disebut katup trikuspid, sedangkan katup

yang letaknya diantara atrium kiri dan ventrikel kiri mempunyai 2 buah daun

katup disebut katup mitral. Katup atrioventrikuler memungkinkan darah


11

mengalir dari masing-masing atrium ke ventrikel pada fase diastol ventrikel

dan mencegah aliran balik pada saat sistol ventrikel (kontraksi).

2. Katup semilunar

Katup pulmonal terletak pada arteri pulmonalis, memisahkan pembuluh ini

dari ventrikel kanan, katup aorta terletak antara ventrikel kiri dan aorta.

Kedua katup semilunar ini mempunyai bentuk yang sama, terdiri dari 3 daun

katup yang simetris disertai penonjolan menyerupai corong yang dikaitkan

dengan sebuah cincin serabut. Adanya katup seminular memungkinkan darah

mengalir dari masing-masing ventrikel kearteri pulmonalis atau aorta selama

sistol ventrikel dan mencegah aliran balik waktu diastol ventrikel.

Pembukaan katup terjadi pada waktu masing-masing ventrikel berkontraksi,

dimana tekanan ventrikel lebih tinggi daripada tekanan di dalam pembuluh-

pembuluh arteri. Disebelah atas daun katup aorta terdapat tiga buah

penonjolan dinding aorta yang disebut “sinus valsava” muara arteri koronaria

terletak pada tonjolan-tonjolan ini. Sinus-sinus tersebut berfungsi melindungi

muara koroner dari penyumbatan oleh daun katup pada waktu aorta terbuka.

Menurut Sylvia Price (1999), katup-katup jantung terbagi atas yaitu :

1. Katup Atrioventrikularis

Daun-daun katup atriovetrikularis halus, tapi tahan lama. Katup trikuspidalis

yang terletak antara atrium dan ventrikel kanan mempunyai tiga buah daun

katup. Katup mitralis memisahkan Atrium kiri dan ventrikel kiri, dari kedua

katup ini terhambat melalui berkas-berkas tipis jaringan fibrosa yang disebut

korda tendinae.
12

2. Katup Semilunaris

Kedua katup semilunaris sama bentuknya, terdiri dari 3 daun katup simetris

menyerupai corong yang terhambat dengan kuat pada anulus fibrosus. Katup

aorta terletak antara vertikal kiri dan aorta, sedangkan katup pulmonalis

terletak antara vertikal kanan dan arteri pulmonalis, tepat di atas daun katup

aorta, tiga kantong yang menonjol di dinding aorta dan pulmonalis yang

disebut sinus valsalva.

Gambar 2.3 Rongga dan Katup Jantung (Hudak dan Gallo, 1999).

[Link] Arteri Koroner

Arteri koroner adalah cabang pertama dari sirkulasi sistemik, sirkulasi

koroner terdiri dari Arteri koroner kanan dan arteri koroner kiri (Rokhaeni H.

dkk, 2001) :

1. Arteri koroner kiri (Left Main Coronary Artery)

Mempunyai 2 cabang besar yaitu ramus desenden anterior dan ramus

sirkumpleks. Arteri ini melingkari jantung dalam dua lekukan anatomis


13

eksternal yaitu sulkus atrioventrikuler yang melingkari jantung diantara

atrium dan ventrikuler, dan sulkus interventrikuler yang memisahkan kedua

ventrikuler. Pertemuan kedua lekukan ini dibagian permukaan posterior

jantung merupakan suatu bagian yang kritis dipandang dari sudut anatomis.

Tempat ini dikenal dengan sebutan kruks jantung dan merupakan salah satu

bagian terpenting dari jantung. Nodus atrio ventrikuler berlokasi pada titik

pertemuan ini dan pembuluh darah yang melewati kruks tersebut merupakan

pembuluh yang memasok nutrisi untuk Atrio Ventricular Node (AVN).

Arteri koronaria kiri bercabang segera sesudah meninggalkan pangkalnya di

aorta. Ramus sirkumfleks berjalan di sisi kiri jantung di sulkus

atrioventrikuler kiri. Perjalanan secara berkeliling ini sesuai dengan sebutan

dan fungsinya sebagai pembuluh sirkumfleks. Demikian juga sebutan ramus

desenden anterior, yang menyatakan jalan anatomis dari cabang arteri

tersebut. Arteri tersebut terdapat disebelah depan kiri dan turun kebagian

bawah permukaan jantung melalui sulkus interventrikuler sebelah depan.

Kemudian melintasi apeks jantung berbalik arah dan terus mengarah keatas

sepanjang permukaan bawah dari sulkus interventrikuler untuk bersatu

dibagian distal dengan cabang arteri koroner kanan. Jalur-jalur anatomis ini

menghasilkan suatu hubungan antara arteri koroner penyediaan nutrisi otot

jantung.

2. Arteri koroner kanan

Berjalan kesisi kanan jantung, pada sulkus anterio ventrikuler kanan. Pada

dasarnya arteri koronaria kanan memberi makan pada atrium kanan, ventrikel
14

kanan dan dinding sebelah dalam dari ventrikel kiri, ramus sirkumfleks

memberi nutrisi pada atrium kiri dan dinding samping serta bawah dari

ventrikel kiri. Ramus desenden anterior memberi nutrisi pada dinding depan

ventrikel kiri yang masif. Meskipun Nodus SA (Sino Atrial Node) letaknya di

atrium kanan, tetapi hanya 55% kebutuhan nutrisinya di pasok oleh arteri

koronaria kanan, sedang 42% lainnya dipasok oleh cabang arteri sirkumfleks

kiri. Nutrisi untuk nodus AV dipasok oleh arteri yang melintasi kruks yakni

90% dari arteri koroner kanan dan 10% dari arteri sirkumpleks.

Gambar 2.4 Arteri Koroner (Rokhaeni H. dkk, 2001)

[Link] Vena Jantung

Distribusi vena koroner sesungguhnya parallel dengan distribusi arteri

koroner, menurut Rokhaeni H. dkk (2001), sistem vena jantung mempunyai 3

bagian yaitu :

1. Vena tebesian

Merupakan sistem yang terkecil, menyalurkan sebagian darah dari

miokardium atrium kanan dan ventrikel kanan.


15

2. Vena kardiaka anterior

Mempunyai fungsi yang cukup berarti, mengosongkan sebagian besar isi

vena ventrikel langsung ke atrium kanan.

3. Sinus koronarius

Dari cabangnya merupakan sistem vena yang paling besar dan paling

penting ; berfungsi menyalurkan pengembalian darah vena miokard kedalam

atrium kanan melalui ostinum sinus koronarius yang bermuara disamping

vena kava inferior.

2.1.2 Fisiologi Jantung

[Link] Pembuluh darah

1. Arteri

a. Arteri

Berfungsi untuk transportasi darah dengan tekanan yang tinggi ke

jaringan-jaringan. Karena itu sistem arteri mempunyai dinding yang kuat,

dan darah mengalir dengan cepat menuju jaringan. Dinding aorta dan

arteri relatif mengandung banyak jaringan elastis. Dinding tersebut

teregang waktu sistol dan mengadakan recoil pada saat diastole.

b. Arteriol

Adalah cabang-cabang paling ujung dari sistem arteri, berfungsi

sebagai katup pengontrol untuk mengatur pengaliran darah ke kapiler.

Arteriol juga mempunyai dinding yang kuat. Arteriol mampu

konstriksi/menyempit secara komplit atau dilatasi/melebar sampai


16

beberapa kali ukuran normal, sehingga dapat mengatur aliran darah

kapiler.

Dinding arteriol mengandung sedikit jaringan elastis dan lebih

banyak otot polos. Otot ini dipersyarafi oleh serabut saraf kolinergik yang

fungsinya vasodilatasi. Arteriol merupakan penentu utama

resistensi/tahanan aliran darah, perubahan kecil pada diameternya

menyebabkan perubahan yang besar terhadap resistensi perifer.

c. Kapiler

Berfungsi sebagai tempat pertukaran cairan dan nutrisi antara lain

darah dan ruang interstitial. Untuk peran ini kapiler dilengkapi dinding

yang sangat tipis dan permeable terhadap subtansi-subtansi bermolekul

halus.

(Rokhaeni H. dkk, 2001)

2. Venul Dan Vena

a. Venul

Dinding venul hanya sedikit lebih tebal daripada dinding kapiler.

Venul berfungsi menampung darah dari kapiler dan secara bertahap

bergabung ke dalam vena yang lebih besar.

b. Vena

Berfungsi sebagai jalur transportasi dari jaringan kembali ke

jantung. Karena tekanan dalam sistem vena rendah (0-5 mmHg), maka

dinding vena tipis namun berotot dan ini memungkinkan vena


17

berkontraksi sehingga mempunyai kemampuan untuk menyimpan atau

menampung darah sesuai kebutuhan tubuh.

Tabel 2.1 Sifat berbagai pembuluh darah manusia

Pembuluh Tebal Diameter Luas


darah Dinding Lumen Penampang
Aorta 2 mm 2,5 cm 4,5 cm
Arteri 1 mm 0,4 cm 20 cm
Arteriol 20 mikron 30 mikron 400 cm
Kapiler 1 mikron 5 mikron 4.500 cm
Venul 1 mikron 20 mikron 4.000 cm
Vein 0,5 mm 5 mm 40 cm
V. Kava 2,5 mm 3 cm 18 cm

Pembuluh-pembuluh darah tersebut membentuk lingkaran

sirkulasi, yang mempunyai perbedaan tebal dinding, besar rongga dan

luas diameter seperti yang terlihat pada tabel 2.1 di atas. Lingkaran

sirkulasi dapat dibagi atas dua bagian besar, yaitu : sirkulasi sistemik dan

sirkulasi pulmonal.

(Rokhaeni H. dkk, 2001)

[Link] Sistem Konduksi dan Hantaran

Di dalam otot jantung terdapat jaringan khusus yang menghantarkan

aliran listrik. Jaringan tersebut mempunyai sifat-sifat yang khusus, yaitu :

1. Otomatisasi-kemampuan untuk menimbulkan impuls secara spontan.

2. Irama – pembentukan impuls yang teratur.

3. Daya konduksi-kemampuan untuk menyalurkan impuls.

4. Daya rangsang-kemampuan untuk bereaksi terhadap rangsang.


18

Berdasarkan sifat-sifat tersebut di atas, maka secara spontan dan teratur

jantung akan menghasilkan impuls-impuls yang disalurkan melalui sistem hantar

untuk merangsang otot jantung dan bisa menimbulkan kontraksi otot. Perjalanan

impuls dimulai dari nodus SA  nodus AV, sampai ke serabut Purkinye

(Rokhaeni H. dkk, 2001).

1. Nodus SA

a. Disebut pemicu alami karena secara teratur mengeluarkan aliran

listrik/impuls yang kemudian menggerakan jantung secara otomatis.

b. Pada keadaan normal impuls yang dikeluarkan frekuensinya 60-100

kali/menit.

c. Nodus SA dapat menghasilkan impuls karena adanya sel-sel

“pacemaker” yang mengeluarkan impuls secara otomatis. Sel ini

dipengaruhi oleh syaraf simpatis dan parasimpatis.

d. Bila seseorang dalam keadaan marah maka rangsangan syaraf simpatis

meningkat dan syaraf parasimpatis menurun, berakibat dengan

takhikardia.

e. “Valsava manuver” menyebabkan rangsangan simpatis menurun dan

para-simpatis meningkat sehingga mengakibatkan bradikardia.

f. Nodus SA terletak di dekat muara vena kava superior.

2. Traktus Internodal

a. Menghantarkan impuls dari nodus SA ke nodus AV.

b. Traktus internodal terdiri dari :

1) Anterior tract
19

2) Middle tract

3) Posterior tract

3. BRACHMAN Bundle

Menghantarkan impuls dari nodus SA ke atrium kiri.

4. Nodus AV

Letaknya di dalam dinding septum (sekat) atrium sebelah kanan, tepat

di atas katup tricuspid dekat muara sinus koronarius. Mempunyai dua fungsi

yang penting (Rokhaeni H. dkk, 2001) :

a. Impuls jantung ditahan disini selama 0,08-0,12 detik, untuk

memungkinkan pengisian ventrikel selama atrium berkontraksi.

b. Mengatur jumlah impuls atrium yang mencapai ventrikel.

c. Nodus AV dapat menghasilkan impuls dengan frekuensi 40-60

kali/menit.

5. Bundle of HIS

Berfungsi mengantarkan impuls dari nodus AV ke sistem “branch bundle”

6. Sistem “Bundle Branch”

Merupakan lanjutan dari “bundle of Hiss” yang bercabang menjadi

dua, yaitu :

a. Right Bundle Branch” (RBB/cabang kanan) : mengirim impuls ke otot

jantung ventrikel kanan.

b. “Left Bundle Branch” (LBB/cabang kiri), yang terbagi dua, yakni :

1) Deviasi ke belakang (left posterior vesicle), mengantarkan impuls ke

endokard ventrikel kiri bagian posterior dan inferior.


20

2) Deviasi ke depan (left anterior vesicle), menghantarkan impuls ke

endokard ventrikel kiri bagian anterior dan superior.

7. Sistem Purkinye

a. Merupakan bagan ujung dari bundle branch.

b. Menghantarkan/mengirimkan impuls menuju lapisan subendokard pada

kedua ventrikel, sehingga terjadi depolarisasi yang diikuti oleh kontraksi

ventrikel.

c. Sel-sel pacemaker di subendokard ventrikel dapat menghasilkan impuls

dengan frekuensi 20-40 kali/menit.

Pemacu-pemacu cadangan ini mempunyai fungsi sangat penting,

yakni untuk mencegah berhentinya denyut jantung pada waktu pemacu alami

(nodus SA) tidak berfungsi.

Gambar 2.5 Sistem Konduksi Jantung

[Link] Siklus Jantung


21

Pada waktu aktifitas depolarisasi menjalar ke seluruh ventrikel, ventrikel

berkontraksi dan tekanan di dalamnya meningkat. Pada waktu tekanan di dalam

ventrikel melebihi tekanan atrium, katup mitral dan tricuspid menutup dan

terdengar sebagai bunyi jantung pertama. Fase kontraksi ventrikel yang

berlangsung sebelum katup-katup semilunar terbuka disebut fase kontraksi

isovolumetrik. Disebut demikian karena tekanan di dalam ventrikel meningkat

tanpa ada darah yang keluar, sampai tekanan di dalam ventrikel melebihi tekanan

aorta atau arteri pulmonalis, di saat mana katup-katup semi-lunar terbuka dan

darah keluar dari ventrikel. Ejeksi darah dari ventrikel (terutama ventrikel kiri)

berlangsung sangat cepat pada permulaan sehingga kadang-kadang menimbulkan

suara yang merupakan komponen akhir dari bunyi jantung satu. Fase ini disebut

fase ejeksi cepat.

Sesudah darah keluar dari ventrikel maka tekanan di dalam ventrikel akan

menurun pada saat tekanan ventrikel menurun lebih rendah dari tekanan aorta

atau a. pulmonalis, maka katup-katup semilunar akan menutup dan terdengarlah

bunyi jantung kedua.

Selama katup mitral dan trikuspid menutup, darah dari vena pulmonalis

dan vena kava tetap mengisi kedua atrium yang menyebabkan peningkatan

tekanan di atrium. Sementara itu tekanan di kedua ventrikel terus menurun

sehingga menjadi lebih rendah dari tekanan atrium, dan katup mitral serta

trikuspid akan terbuka.

Setelah katup-katup mitral dan katup-katup tricuspid terbuka maka darah

akan mengalir dari kedua atrium ke kedua ventrikel mula-mula secara cepat (fase
22

pengisian cepat), dan makin lama makin lambat sampai berhenti, yakni sewaktu

tekanan di atrium dan ventrikel sama. Sebelum saat akhir diastole ventrikel

(diastole ventrikel dimulai sesudah penutupan katup semilunar) aktifitas listrik

yang menimbulkan gelombang P pada EKG menyebabkan atrium berkontraksi,

dan sisa darah di dalam atrium akan masuk ke dalam ventrikel. Kemudian

mulailah kontraksi ventrikel lagi.

Terbukanya katup ini tidak menimbulkan suara kecuali bila ada kelainan

katup (opening snap pada stenosis mitral). Fase diantara penutupan katup

semilunar dan pembukaan katup mitral/tricuspid dinamakan fase relaksasi

isovolumetrik ventrikel.

(Rokhaeni H. dkk, 2001)

[Link] Potensial aksi dan sifat-sifat fisiologi.

Sifat-sifat fisiologi sel-sel khusus di nodus SA dan AV sangat berbeda dengan

sel-sel pada lintasan penghantar dan miokardium disebabkan perbedaan sifat

potensial aksi lambat dan cepat. Sifat otomatisitas, kemampuan spontan

membangkitkan infuls, timbul dari perubahan otomatis sewaktu fase istirahat

dari respon lambat potensial aksi. Pada masa ini nodus SA berdepolarisasi secara

spontan dengan kecepatan intrinsik tercepat, kira-kira 60-100 kali denyut

permenit. Karena itu berfungsi sebagai pacu jantung alami.

a. Bunyi

jantung satu dan dua


23

Depolarisasi menyebar dari nodus AV melalui cabang berkas menuju

miokardium ventrikel meningkat melebihi tekanan atrium akibat katup AV

menutup, inilah yang menimbulkan bunyi jantung pertama.

Gelombang repolarisasi menyebar melalui miokardium ventrikel dan

ventrikel dalam keadaan istirahat. Ketika otot-otot relaksasi, maka tekanan

ventikel turun sampai lebih rendah dari tekanan atrium. Akibatnya katup

simularis tertutup dan terdengarlah bunyi jantung kedua.

b. Curah

Jantung

Volume darah yang dipompa oleh tiap ventrikel permenit dikenal dengan

istilah curah jantung. Besar curah jantung ini berubah-rubah, maka

diperlukan suatu indicator fungsi jantung yang akurat. Yang dikenal dengan

sebutan indeks jantung (cardiac indeks), indeks jantung ini didapat dengan

membagi curah jantung dengan permukaan tubuh, berkisar antara 2,8 sampai

3,6 liter/m2, curah sekuncup adalah volume darah yang dikeluarkan oleh

ventrikel perdetik sekitar 2/3 dari volume darah dalam ventrikel pada akhir

diastole (volume akhir diastole) dikeluarkan selama sistolik, jumlah darah

yang dikeluarkan tersebut dikenal dengan fraksi ejeksi, sedangkan volume

darah yang tersisa dalam ventrikel pada akhir sistolik disebut volume akhir

sistolik.

[Link] Konsumsi Oksigen Jantung


24

Proses metabolisme jantung adalah aerobik, yang membutuhkan oksigen.

Jelaslah bahwa konsumsi oksigen jantung berhubungan erat dengan aktifitas

metabolisme. Pada kondisi basal konsumsi oksigen jantung adalah 7-10 ml/100

gram miokardium/menit. Jika jantung tidak mendapat oksigen untuk beberapa

menit maka aktifitas mekanik akan terhenti. Peningkatan aktifitas jasmani yang

berat, juga akan meningkatkan kebutuhan oksigen. Penambahan pasukan oksigen

hanya didapat dengan meningkatkan aliran darah koroner.

1. Faktor-faktor Penentu Konsumsi Oksigen Jantung

Skema di bawah ini memperlihatkan beberapa faktor utama yang

menentukan konsumsi oksigen jantung.

Tekanan sistolik Volume


ventrikel

Tegangan intramiokard

Konsumsi oksigen miokard

Kontraktilitas Frekuensi denyut jantung

Konsumsi oksigen jantung terutama ditentukan oleh tegangan

intramiokard, kontraksi miokard dan frekuensi denyut jantung. Tegangan

intramiokard ditentukan oleh tekanan sistolik dan volume ventrikel. Tekanan

yang tinggi dan volume yang berlebihan akan meningkatkan tegangan

intramiokard, misalnya pada hipertensi, dilatasi ventrikel dan hipertrofi ventrikel.


25

Frekuensi jantung merupakan faktor lain yang mempengaruhi kebutuhan

oksigen miokard. Jika frekuensi denyut meningkat, maka kebutuhan oksigen

akan meningkat pula.

Kontraktilitas menggambarkan regangan serabut miokard. Kontraktilitas

miokard akan meningkat pada saat kerja jasmani dan tekanan sistolik meningkat,

akibatnya konsumsi oksigen meningkat pula.

[Link] Faktor-Faktor Penentu Kerja Jantung

Fungsi jantung dipengaruhi oleh 4 faktor utama yang saling terkait dalam

menentukan isi sekuncup (stroke volume) dan curah jantung (cardiac output),

yakni :

1. Beban awal (preload)

2. Kontraktilitas.

3. Beban akhir (afterload)

4. Frekuensi jantung.

Curah jantung merupakan faktor utama yang perlu diperhitungkan dalam

sirkulasi, karena curah jantung mempunyai peranan penting dalam transportasi

darah yang memasok berbagai nutrisi.

Curah jantung adalah jumlah darah yang dipompakan oleh ventrikel

dalam satu menit. Nilai normal pada orang dewasa berkisar 5 L/menit. Tetapi

besar curah jantung yang normal nilainya tergantung dari kebutuhan jaringan

perifer akan oksigen dan nutrisi.


26

Karena curah jantung yang dibutuhkan juga tergantung pada besarnya

ukuran tubuh, maka diperlukan suatu indikator fungsi jantung yang lebih akurat

yaitu indeks jantung (cardiac index). Indeks jantung didapat dengan membagi

curah jantung dengan luas permukaan tubuh, besarnya kira-kira 2,8-4,2

liter/menit pada orang dewasa. Pengaturah curah jantung tergantung dari dua

variabel, yaitu frekuensi jantung dan volume sekuncup.

2.2 Pengetahuan

2.2.1 Pengertian Pengetahuan

Pengetahuan adalah merupakan hasil tahu, dan ini terjadi setelah orang

melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi

melalui pancaindra manusia, yakni indra penglihatan, pendengaran, penciuman,

rasa, dan raba. sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan

telinga (Notoatmodjo S, 2003).

2.2.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan

Menurut Notoatmodjo S (2003), pengetahuan dipengaruhi oleh beberapa

faktor yaitu :

a. Faktor pendidikan dan pelatihan

b. Faktor lingkungan internal dan eksternal

c. Faktor pengalaman

d. Faktor ekonomi
27

2.2.3 Tingkatan-Tingkatan Pengetahuan

Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk

terbentuknya tindakan seseorang (over behaviour). Pengetahuan yang dicakup di

dalam kognitif mempunyai 6 tingkat (Notoatmodjo S, 2003), yaitu:

1. Tahu

Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari

sebelumnya. Termasuk kedalam pengetahuan mengingat kembali terhadap

sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan

yang telah diterima.

2. Memahami

Memahami diartikan sebagai kemampuan menjelaskan secara benar tentang

objek yang diketahui, dan dapat mengiterpretasi materi tersebut secara benar.

3. Aplikasi

Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang

telah dipelajari pada situasi atau kondisi sebenarnya.

4. Analisis

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek

kedalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam suatu struktur

organisasi tersebut.

5. Sintesis
28

Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau

menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang

baru.

6. Evaluasi

Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau

penilaian terhadap suatu materi atau objek.

Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket

yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau

responden (Notoatmodjo S, 2003).

2.3 Standar Pelayanan Ruang ICCU

2.3.1 Pengertian Pelayanan Intensive

Unit pelayanan intensif adalah ruang perawatan terpisah di dalam rumah

sakit yang dikelola khusus untuk merawat pasien sakit berat dan kritis dengan

melibatkan tenaga terlatih khusus dan didukung dengan peralatan khusus.

Pelayanan intensif adalah tingkat pelayanan medis dan keperawatan yang tidak

terdapat di ruang biasa (Depkes RI, 1992).

Intensive Cardiac Care Unit (ICCU) adalah suatu bagian dari rumah sakit

yang terpisah, dengan staf yang khusus dan perlengkapan yang khusus yang

ditujukan untuk observasi, perawatan dan terapi pasien-pasien yang menderita

penyakit, cidera atau penyulit-penyulit yang mengancam jiwa atau potensial

mengancam jiwa dengan prognosis dubia (Depkes RI, 2003).


29

2.3.2 Pelaksanaan Pelayanan ICCU

Pelaksanaan pelayanan Intensive Cardiac Care Unit (ICCU) adalah

berbasis rumah sakit, diperuntukkan dan ditentukan oleh kebutuhan pasien yang

sakit kritis. Tujuan dari pelayanan intensive dan berkelanjutan serta mencegah

fragmentasi pengelolaan Pasien kritis (Depkes RI, 2003), meliputi :

1. Pasien-pasien yang secara fisiologis tidak stabil dan memerlukan dokter,

perawat, perawatan napas yang terkoordinasi dan berkelanjutan, sehingga

memerlukan perhatian yang teliti, agar dapat dilakukan pengawasan yang

konstan dan titrasi terapi.

2. Pasien-pasien yang dalam bahaya mengalami dekompensasi fisiologis dan

karena itu memerlukan pemantauan konstan dan kemampuan tim pelayanan

intensive untuk melakukan intervensi segera untuk mencegah timbulnya

penyulit yang merugikan.

2.3.3 Standar Minimum Pelayanan Intensive (ICCU)

Menurut Depkes RI (2003), tingkat pelayanan ICCU harus disesuaikan

dengan kelas rumah sakit. Tingkat pelayanan ditentukan oleh jumlah staf,

fasilitas, pelayanan penunjang, jumlah dan macam pasien yang dirawat.

Pelayanan ICCU harus memiliki kemampuan minimal sebagai berikut :

1. Resusitasi jantung paru

2. Pengelolaan jalan napas, termasuk intubasi trakeal dan penggunaan ventilator

sederhana

3. Therapi oksigen
30

4. Pemantauan EKG, pulse oksimetri terus menerus

5. Pemberian nutrisi enteral dan parenteral

6. Pemeriksaan laboratorium khusus dengan cepat dan menyeluruh

7. Pelaksanaan terapi secara titrasi

8. Kemampuan melaksanakan teknik khusus sesuai dengan kondisi pasien

9. Memberikan tunjangan fungsi vital dengan alat-alat portabel selama

transportasi pasien gawat

10. Kemampuan melakukan fisioterapi dada

2.4 Keperawatan

2.4.1 Pengertian Keperawatan

Menurut Depkes RI (1997), definisi keperawatan adalah : Keperawatan

adalah suatu bentuk pelayanan profesional yang merupakan bagian integral dari

pelayanan kesehatan berdasarkan bio-psiko-sosial-spiritual. Pelayanan

keperawatan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pelayanan kesehatan,

sehingga setiap perubahan yang terjadi sistem pelayanan kesehatan akan

mempengaruhi sistem pelayanan keperawatan. Selanjutnya pada perubahan

sistem pelayanan keperawatan akan membawa perubahan pada peran dan fungsi

perawat.

Perawat sebagai salah satu tenaga kesehatan yang merupakan sumber

daya utama dalam pembangunan kesehatan, bertanggung jawab dalam

memberikan pelayanan keperawatan profesional kepada masyarakat akan


31

kesehatan. Berdasarkan Hasil Lokakarya Keperawatan, yang dikutip dalam

Soeroso (2003), pelayanan keperawatan adalah :

“Suatu bentuk pelayanan profesional yang merupakan bagian integral dari

pelayanan kesehatan berdasarkan ilmu dan kiat keperawatan berbentuk

pelayanan biologis, psikologis, sosiologis, spiritual yang komprehensif/

holistik yang ditujukan kepada individu, keluarga dan masyarakat baik dalam

keadaan sakit atau sehat yang mencakup seluruh proses kehidupan manusia”.

2.4.2 Penilaian Keperawatan

Menurut Nursalam (2002), Dalam menilai kualitas pelayanan

keperawatan kepada klien digunakan standar praktek keperawatan yang

merupakan pedoman bagi perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan.

Standar praktek keperawatan telah dijabarkan oleh PPNI (2000), yang mengacu

dalam tahap proses keperawatan meliputi :

1. Pengkajian, merupakan pengumpulan data tentang status kesehatan pasien

secara sistematis, menyeluruh, akurat, singkat, dan berkesinambungan.

2. Diagnosa keperawatan adalah menganalisa data pengkajian untuk

merumuskan diagnosa keperawatan melalui analisis, interprestasi data,

identifikasi masalah pasien dan perumusan diagnosa keperawatan.

3. Perencanaan adalah membuat rencana tindakan keperawatan untuk mengatasi

masalah dan meningkatkan kesehatan pasien.

4. Implementasi merupakan pelaksanaan tindakan yang telah diidentifikasi

dalam rencana asuhan keperawatan.


32

5. Evaluasi memantau kemajuan pasien terhadap tindakan keperawatan dalam

mencapai tujuan dan merevisi data dasar dan perencanaan.

2.4.3 Peran dan Fungsi Perawat

Berdasarkan hasil Karya Nasional Keperawatan 1983 dalam Depkes RI

(1997), peran utama perawat adalah :

1. Pelaksanaan pelayanan keperawatan.

2. Pengelola dalam bidang pelayanan keperawatan dan institusi pendidikan

keperawatan.

3. Pendidik dalam ilmu keperawatan.

4. Peneliti dan pengembangan ilmu keperawatan.

Peran Perawat Selain di atas menurut Gaffar (1999), peran Perawat antara

lain adalah sebagai berikut :

1. Pelaksana

Peran ini dikenal dengan istilah Care Giver yaitu Perawat memberikan

asuhan keperawatan secara langsung atau tidak langsung kepada klien

sebagai individu, keluarga dan masyarakat.

2. Pendidik

Sebagai pendidik atau health educator, perawat berperan mendidik individu,

keluarga, kelompok dan masyarakat serta tenaga keperawatan atau tenaga

kesehatan yang berada di bawah tanggung jawab. Peran ini dapat berupa

penyuluhan kesehatan kepada klien (individu, keluarga, kelompok dan

masyarakat)
33

3. Pengelola

Dalam hal ini perawat mempunyai peran tanggung jawab dalam mengelola

pelayanan dan pendidikan keperawatan yang berada di bawah tanggung

jawabnya sesuai dengan konsep manajemen keperawatan dalam kerangka

paradigma keperawatan dan sebagai pengelola perawat berperan dalam

memantau dan menjamin kualitas asuhan atau pelayanan keperawatan serta

mengorganisasikan dan mengendalikan pelayanan keperawatan.

4. Peneliti

Sebagai peneliti dibidang keperawatan diharapkan mampu

mengidentifikasikan masalah penelitian, menerapkan prinsip dan metode

penelitian serta memanfaatkan hasil penelitian untuk meningkatkan mutu

asuhan atau pelayanan dan pendidikan kesehatan.

Menurut Depkes RI (1997), Fungsi seorang perawat adalah :

1. Merencanakan pelayanan keperawatan.

2. Mengkaji kebutuhan keperawatan.

3. Melaksanakan rencana keperawatan individu.

4. Mengevaluasi hasil pelayanan keperawatan.

2.5 Kerangka Konsep

Pasien dengan
Fungsi fisiologi
tidak stabil Tindakan
perawat Kemampuan /
Intensive keterampilan
Care  Pengetah
individual
uan : Anatomi
dan fisiologi
Pasien dengan jantung
Dekompensasi
fisiologi

Anda mungkin juga menyukai