6
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Dasar Teori
2.1.1 Anatomi Jantung
Jantung terletak dalam rongga mediastinum yaitu antara kedua paru-paru
dengan perikardium yang membungkus jantung terdiri dari 2 lapisan. Lapisan luar
disebut perikardium varietalis dan lapisan dalam disebut perikardium visceralis.
Kedua lapisan Perikardium ini dipisahkan oleh sedikit cairan pelumas yang
berfungsi mengurangi gesekan pada gerakan memompa jantung itu sendiri (Sylvia
Price, 1999).
Jantung terletak di dalam rongga mediastinum dari rongga dada (thoraks),
diantara kedua paru. Selaput yang mengitari jantung disebut perikardium, yang
terdiri atas 2 lapisan yaitu perikardium parietalis yaitu lapisan luar yang melekat
pada tulang dada serta selaput paru dan perikardium viseralis yaitu lapisan
permukaan dari jantung itu sendiri yang juga disebut epikardium. Diantara kedua
lapisan selaput tersebut, terdapat sedikit cairan pelumas yang berfungsi
mengurangi gesekan yang timbul akibat gerakan jantung saat memompa, cairan
ini disebut cairan pericardium. Struktur jantung terdiri dari 3 lapisan (Rokhaeni H.
dkk, 2001) yaitu :
a. Lapisan luar disebut epikardium atau pericardium viseralis
b. Lapisan tengah disebut miokardium (lapisan otot)
c. Lapisan terdalam yaitu lapisan endocardium (endotel)
6
7
Gambar 2.1 Struktur Jantung dari luar depan (eksternal anterior)
Sumber : Rokhaeni H. dkk, (2001)
Gambar 2.2 Struktur Jantung dari luar belakang (eksternal posterior)
Sumber : Rokhaeni H. dkk, (2001)
8
[Link] Ruang-ruang Jantung
Ruang jantung terdiri atas 4 ruang yaitu 2 ruang yang berdinding tipis
disebut atrium (serambi) dan 2 ruang yang berdinding tebal disebut ventrikel
(bilik) dengan penjelasan sebagai berikut (Rokhaeni H. dkk, 2001) :
1. Atrium
a. Atrium kanan berfungsi sebagai penampung (reservoir) darah yang
rendah oksigen dari seluruh tubuh. Darah tersebut mengalir melalui vena
kava superior, vena kava inferior, serta sinus koronarius yang berasal dari
jantung sendiri. Kemudian darah dipompakan ke ventrikel kanan dan
selanjutnya keparu.
b. Atrium kiri menerima darah yang kaya oksigen dari kedua paru melalui
4 buah vena pulmonalis. Kemudian darah mengalir ke ventrikel kiri dan
selanjutnya keseluruh tubuh melalui aorta. Kedua atrium tersebut
dipisahkan oleh sekat yang disebut septum atrium.
2. Ventrikel
Permukaan dalam ventrikel memperlihatkan alur-alur otot yang disebut
trabekula. Beberapa alur tampak menonjol, yang disebut muskulus papilaris.
Ujung muskulus papilaris dihubungkan dengan tepi daun katup
atrioventrikuler oleh serat-serat yang disebut korda tendinae.
a. Ventrikel kanan : menerima darah dari atrium kanan dan dipompakan ke
paru-paru melalui arteri pulmonalis.
b. Ventrikel kiri : menerima darah dari atrium kiri dan dipompakan
keseluruh tubuh melalui aorta. Kedua ventrikel ini dipisahkan oleh sekat
yang disebut septum ventrikel.
9
Menurut Sylvia Price (1999), Ruangan jantung bagian atas (atrium)
secara anatomi terpisah dari ruang jantung sebelah bawah (ventrikel), oleh suatu
analus fibrous. Keempat katup jantung terletak dalam rincian ini, secara
fungsional jantung dibagi menjadi alat pompa kanan dan kiri yang memompa
darah vena menuju sirkulasi paru-paru dan darah bersih ke peredaran darah
sistemik. Pembagian fungsi ini mempermudah konseptualisasi dari urutan aliran
darah secara anatomi yaitu dari vena cava inferior, superior, atrium dextra,
ventrikel dextra, arteri pulmonalis, paru-paru, vena pulmonalis, atrium sinistra
ventrikel sinistra, aorta, kemudian darah diedarkan ke seluruh tubuh yang terlihat
pada bagian jantung di bawah ini.
1. Atrium Kanan
Atrium kanan yang tipis dindingnya berfungsi sebagai tempat penyimpanan
darah dan penyalur darah dari vena-vena sirkulasi sistemik ke dalam
ventrikel kanan dan kemudian ke paru-paru. Sekitar 80% aliran listrik balik
vena ke dalam Atrium kanan mengalir secara pasti ke dalam ventikel kanan
melalui katub semilunaris trikuspidalis, 20 % sisanya akan mengisi ventrikel
dengan kontraksi artrium.
2. Ventrikel Kanan
Ventrikel kanan berbentuk bulan sabit yang unik, guna menghasilkan
kontraksi bertekanan rendah yang cukup untuk darah ke dalam arteri
pulmonalis. Beban kerja dari ventrikel kanan lebih ringan dari ventrikel kiri.
3. Atrium Kiri
Atrium kiri menerima darah yang sudah dioksigenasi dari paru-paru melalui
ke empat (4) vena pulmonalis, antara vena pulmonalis dan Atrium kiri tidak
10
ada katub sejati, karena itu perubahan tekanan dalam Atrium mudah sekali
membalik retrograt ke dalam pembuluh paru-paru, peningkatan Atrium kiri
yang akut akan menyebabkan bendungan paru-paru.
4. Ventrikel Kiri
Ventrikel kiri harus menghasilkan tekanan yang cukup tinggi untuk
mengatasi tekanan sirkulasi sistematik dan mempertahankan aliran darah ke
jaringan-jaringan perifer. Ventrikel kiri memiliki otot-otot yang timbul dan
bentuknya menyerupai lingkaran, mempermudah pembentukan yang tinggi
selama ventrikel berkontraksi. Pada saat kontraksi tekanan ventrikel kiri
meningkat sekitar 5 kali lebih tinggi dari ventrikel kanan bila ada hubungan
abnormal antara kedua ventrikel maka darah akan mengalir dari kiri ke kanan
melalui hubungan abnormal tersebut. Akibatnya jumlah darah dari ventrikel
kiri melalui katup aorta ke dalam aorta berkurang.
[Link] Katup-katup jantung
Menurut Rokhaeni H. dkk (2001), katup-katup jantung terdiri dari :
1. Katup atrioventrikuler
Oleh karena letaknya antara atrium dan ventrikel, maka disebut katup atrio
ventrikuler. Katup yang terletak diantara atrium kanan dan ventrikel kanan
mempunyai 3 buah daun katup, disebut katup trikuspid, sedangkan katup
yang letaknya diantara atrium kiri dan ventrikel kiri mempunyai 2 buah daun
katup disebut katup mitral. Katup atrioventrikuler memungkinkan darah
11
mengalir dari masing-masing atrium ke ventrikel pada fase diastol ventrikel
dan mencegah aliran balik pada saat sistol ventrikel (kontraksi).
2. Katup semilunar
Katup pulmonal terletak pada arteri pulmonalis, memisahkan pembuluh ini
dari ventrikel kanan, katup aorta terletak antara ventrikel kiri dan aorta.
Kedua katup semilunar ini mempunyai bentuk yang sama, terdiri dari 3 daun
katup yang simetris disertai penonjolan menyerupai corong yang dikaitkan
dengan sebuah cincin serabut. Adanya katup seminular memungkinkan darah
mengalir dari masing-masing ventrikel kearteri pulmonalis atau aorta selama
sistol ventrikel dan mencegah aliran balik waktu diastol ventrikel.
Pembukaan katup terjadi pada waktu masing-masing ventrikel berkontraksi,
dimana tekanan ventrikel lebih tinggi daripada tekanan di dalam pembuluh-
pembuluh arteri. Disebelah atas daun katup aorta terdapat tiga buah
penonjolan dinding aorta yang disebut “sinus valsava” muara arteri koronaria
terletak pada tonjolan-tonjolan ini. Sinus-sinus tersebut berfungsi melindungi
muara koroner dari penyumbatan oleh daun katup pada waktu aorta terbuka.
Menurut Sylvia Price (1999), katup-katup jantung terbagi atas yaitu :
1. Katup Atrioventrikularis
Daun-daun katup atriovetrikularis halus, tapi tahan lama. Katup trikuspidalis
yang terletak antara atrium dan ventrikel kanan mempunyai tiga buah daun
katup. Katup mitralis memisahkan Atrium kiri dan ventrikel kiri, dari kedua
katup ini terhambat melalui berkas-berkas tipis jaringan fibrosa yang disebut
korda tendinae.
12
2. Katup Semilunaris
Kedua katup semilunaris sama bentuknya, terdiri dari 3 daun katup simetris
menyerupai corong yang terhambat dengan kuat pada anulus fibrosus. Katup
aorta terletak antara vertikal kiri dan aorta, sedangkan katup pulmonalis
terletak antara vertikal kanan dan arteri pulmonalis, tepat di atas daun katup
aorta, tiga kantong yang menonjol di dinding aorta dan pulmonalis yang
disebut sinus valsalva.
Gambar 2.3 Rongga dan Katup Jantung (Hudak dan Gallo, 1999).
[Link] Arteri Koroner
Arteri koroner adalah cabang pertama dari sirkulasi sistemik, sirkulasi
koroner terdiri dari Arteri koroner kanan dan arteri koroner kiri (Rokhaeni H.
dkk, 2001) :
1. Arteri koroner kiri (Left Main Coronary Artery)
Mempunyai 2 cabang besar yaitu ramus desenden anterior dan ramus
sirkumpleks. Arteri ini melingkari jantung dalam dua lekukan anatomis
13
eksternal yaitu sulkus atrioventrikuler yang melingkari jantung diantara
atrium dan ventrikuler, dan sulkus interventrikuler yang memisahkan kedua
ventrikuler. Pertemuan kedua lekukan ini dibagian permukaan posterior
jantung merupakan suatu bagian yang kritis dipandang dari sudut anatomis.
Tempat ini dikenal dengan sebutan kruks jantung dan merupakan salah satu
bagian terpenting dari jantung. Nodus atrio ventrikuler berlokasi pada titik
pertemuan ini dan pembuluh darah yang melewati kruks tersebut merupakan
pembuluh yang memasok nutrisi untuk Atrio Ventricular Node (AVN).
Arteri koronaria kiri bercabang segera sesudah meninggalkan pangkalnya di
aorta. Ramus sirkumfleks berjalan di sisi kiri jantung di sulkus
atrioventrikuler kiri. Perjalanan secara berkeliling ini sesuai dengan sebutan
dan fungsinya sebagai pembuluh sirkumfleks. Demikian juga sebutan ramus
desenden anterior, yang menyatakan jalan anatomis dari cabang arteri
tersebut. Arteri tersebut terdapat disebelah depan kiri dan turun kebagian
bawah permukaan jantung melalui sulkus interventrikuler sebelah depan.
Kemudian melintasi apeks jantung berbalik arah dan terus mengarah keatas
sepanjang permukaan bawah dari sulkus interventrikuler untuk bersatu
dibagian distal dengan cabang arteri koroner kanan. Jalur-jalur anatomis ini
menghasilkan suatu hubungan antara arteri koroner penyediaan nutrisi otot
jantung.
2. Arteri koroner kanan
Berjalan kesisi kanan jantung, pada sulkus anterio ventrikuler kanan. Pada
dasarnya arteri koronaria kanan memberi makan pada atrium kanan, ventrikel
14
kanan dan dinding sebelah dalam dari ventrikel kiri, ramus sirkumfleks
memberi nutrisi pada atrium kiri dan dinding samping serta bawah dari
ventrikel kiri. Ramus desenden anterior memberi nutrisi pada dinding depan
ventrikel kiri yang masif. Meskipun Nodus SA (Sino Atrial Node) letaknya di
atrium kanan, tetapi hanya 55% kebutuhan nutrisinya di pasok oleh arteri
koronaria kanan, sedang 42% lainnya dipasok oleh cabang arteri sirkumfleks
kiri. Nutrisi untuk nodus AV dipasok oleh arteri yang melintasi kruks yakni
90% dari arteri koroner kanan dan 10% dari arteri sirkumpleks.
Gambar 2.4 Arteri Koroner (Rokhaeni H. dkk, 2001)
[Link] Vena Jantung
Distribusi vena koroner sesungguhnya parallel dengan distribusi arteri
koroner, menurut Rokhaeni H. dkk (2001), sistem vena jantung mempunyai 3
bagian yaitu :
1. Vena tebesian
Merupakan sistem yang terkecil, menyalurkan sebagian darah dari
miokardium atrium kanan dan ventrikel kanan.
15
2. Vena kardiaka anterior
Mempunyai fungsi yang cukup berarti, mengosongkan sebagian besar isi
vena ventrikel langsung ke atrium kanan.
3. Sinus koronarius
Dari cabangnya merupakan sistem vena yang paling besar dan paling
penting ; berfungsi menyalurkan pengembalian darah vena miokard kedalam
atrium kanan melalui ostinum sinus koronarius yang bermuara disamping
vena kava inferior.
2.1.2 Fisiologi Jantung
[Link] Pembuluh darah
1. Arteri
a. Arteri
Berfungsi untuk transportasi darah dengan tekanan yang tinggi ke
jaringan-jaringan. Karena itu sistem arteri mempunyai dinding yang kuat,
dan darah mengalir dengan cepat menuju jaringan. Dinding aorta dan
arteri relatif mengandung banyak jaringan elastis. Dinding tersebut
teregang waktu sistol dan mengadakan recoil pada saat diastole.
b. Arteriol
Adalah cabang-cabang paling ujung dari sistem arteri, berfungsi
sebagai katup pengontrol untuk mengatur pengaliran darah ke kapiler.
Arteriol juga mempunyai dinding yang kuat. Arteriol mampu
konstriksi/menyempit secara komplit atau dilatasi/melebar sampai
16
beberapa kali ukuran normal, sehingga dapat mengatur aliran darah
kapiler.
Dinding arteriol mengandung sedikit jaringan elastis dan lebih
banyak otot polos. Otot ini dipersyarafi oleh serabut saraf kolinergik yang
fungsinya vasodilatasi. Arteriol merupakan penentu utama
resistensi/tahanan aliran darah, perubahan kecil pada diameternya
menyebabkan perubahan yang besar terhadap resistensi perifer.
c. Kapiler
Berfungsi sebagai tempat pertukaran cairan dan nutrisi antara lain
darah dan ruang interstitial. Untuk peran ini kapiler dilengkapi dinding
yang sangat tipis dan permeable terhadap subtansi-subtansi bermolekul
halus.
(Rokhaeni H. dkk, 2001)
2. Venul Dan Vena
a. Venul
Dinding venul hanya sedikit lebih tebal daripada dinding kapiler.
Venul berfungsi menampung darah dari kapiler dan secara bertahap
bergabung ke dalam vena yang lebih besar.
b. Vena
Berfungsi sebagai jalur transportasi dari jaringan kembali ke
jantung. Karena tekanan dalam sistem vena rendah (0-5 mmHg), maka
dinding vena tipis namun berotot dan ini memungkinkan vena
17
berkontraksi sehingga mempunyai kemampuan untuk menyimpan atau
menampung darah sesuai kebutuhan tubuh.
Tabel 2.1 Sifat berbagai pembuluh darah manusia
Pembuluh Tebal Diameter Luas
darah Dinding Lumen Penampang
Aorta 2 mm 2,5 cm 4,5 cm
Arteri 1 mm 0,4 cm 20 cm
Arteriol 20 mikron 30 mikron 400 cm
Kapiler 1 mikron 5 mikron 4.500 cm
Venul 1 mikron 20 mikron 4.000 cm
Vein 0,5 mm 5 mm 40 cm
V. Kava 2,5 mm 3 cm 18 cm
Pembuluh-pembuluh darah tersebut membentuk lingkaran
sirkulasi, yang mempunyai perbedaan tebal dinding, besar rongga dan
luas diameter seperti yang terlihat pada tabel 2.1 di atas. Lingkaran
sirkulasi dapat dibagi atas dua bagian besar, yaitu : sirkulasi sistemik dan
sirkulasi pulmonal.
(Rokhaeni H. dkk, 2001)
[Link] Sistem Konduksi dan Hantaran
Di dalam otot jantung terdapat jaringan khusus yang menghantarkan
aliran listrik. Jaringan tersebut mempunyai sifat-sifat yang khusus, yaitu :
1. Otomatisasi-kemampuan untuk menimbulkan impuls secara spontan.
2. Irama – pembentukan impuls yang teratur.
3. Daya konduksi-kemampuan untuk menyalurkan impuls.
4. Daya rangsang-kemampuan untuk bereaksi terhadap rangsang.
18
Berdasarkan sifat-sifat tersebut di atas, maka secara spontan dan teratur
jantung akan menghasilkan impuls-impuls yang disalurkan melalui sistem hantar
untuk merangsang otot jantung dan bisa menimbulkan kontraksi otot. Perjalanan
impuls dimulai dari nodus SA nodus AV, sampai ke serabut Purkinye
(Rokhaeni H. dkk, 2001).
1. Nodus SA
a. Disebut pemicu alami karena secara teratur mengeluarkan aliran
listrik/impuls yang kemudian menggerakan jantung secara otomatis.
b. Pada keadaan normal impuls yang dikeluarkan frekuensinya 60-100
kali/menit.
c. Nodus SA dapat menghasilkan impuls karena adanya sel-sel
“pacemaker” yang mengeluarkan impuls secara otomatis. Sel ini
dipengaruhi oleh syaraf simpatis dan parasimpatis.
d. Bila seseorang dalam keadaan marah maka rangsangan syaraf simpatis
meningkat dan syaraf parasimpatis menurun, berakibat dengan
takhikardia.
e. “Valsava manuver” menyebabkan rangsangan simpatis menurun dan
para-simpatis meningkat sehingga mengakibatkan bradikardia.
f. Nodus SA terletak di dekat muara vena kava superior.
2. Traktus Internodal
a. Menghantarkan impuls dari nodus SA ke nodus AV.
b. Traktus internodal terdiri dari :
1) Anterior tract
19
2) Middle tract
3) Posterior tract
3. BRACHMAN Bundle
Menghantarkan impuls dari nodus SA ke atrium kiri.
4. Nodus AV
Letaknya di dalam dinding septum (sekat) atrium sebelah kanan, tepat
di atas katup tricuspid dekat muara sinus koronarius. Mempunyai dua fungsi
yang penting (Rokhaeni H. dkk, 2001) :
a. Impuls jantung ditahan disini selama 0,08-0,12 detik, untuk
memungkinkan pengisian ventrikel selama atrium berkontraksi.
b. Mengatur jumlah impuls atrium yang mencapai ventrikel.
c. Nodus AV dapat menghasilkan impuls dengan frekuensi 40-60
kali/menit.
5. Bundle of HIS
Berfungsi mengantarkan impuls dari nodus AV ke sistem “branch bundle”
6. Sistem “Bundle Branch”
Merupakan lanjutan dari “bundle of Hiss” yang bercabang menjadi
dua, yaitu :
a. Right Bundle Branch” (RBB/cabang kanan) : mengirim impuls ke otot
jantung ventrikel kanan.
b. “Left Bundle Branch” (LBB/cabang kiri), yang terbagi dua, yakni :
1) Deviasi ke belakang (left posterior vesicle), mengantarkan impuls ke
endokard ventrikel kiri bagian posterior dan inferior.
20
2) Deviasi ke depan (left anterior vesicle), menghantarkan impuls ke
endokard ventrikel kiri bagian anterior dan superior.
7. Sistem Purkinye
a. Merupakan bagan ujung dari bundle branch.
b. Menghantarkan/mengirimkan impuls menuju lapisan subendokard pada
kedua ventrikel, sehingga terjadi depolarisasi yang diikuti oleh kontraksi
ventrikel.
c. Sel-sel pacemaker di subendokard ventrikel dapat menghasilkan impuls
dengan frekuensi 20-40 kali/menit.
Pemacu-pemacu cadangan ini mempunyai fungsi sangat penting,
yakni untuk mencegah berhentinya denyut jantung pada waktu pemacu alami
(nodus SA) tidak berfungsi.
Gambar 2.5 Sistem Konduksi Jantung
[Link] Siklus Jantung
21
Pada waktu aktifitas depolarisasi menjalar ke seluruh ventrikel, ventrikel
berkontraksi dan tekanan di dalamnya meningkat. Pada waktu tekanan di dalam
ventrikel melebihi tekanan atrium, katup mitral dan tricuspid menutup dan
terdengar sebagai bunyi jantung pertama. Fase kontraksi ventrikel yang
berlangsung sebelum katup-katup semilunar terbuka disebut fase kontraksi
isovolumetrik. Disebut demikian karena tekanan di dalam ventrikel meningkat
tanpa ada darah yang keluar, sampai tekanan di dalam ventrikel melebihi tekanan
aorta atau arteri pulmonalis, di saat mana katup-katup semi-lunar terbuka dan
darah keluar dari ventrikel. Ejeksi darah dari ventrikel (terutama ventrikel kiri)
berlangsung sangat cepat pada permulaan sehingga kadang-kadang menimbulkan
suara yang merupakan komponen akhir dari bunyi jantung satu. Fase ini disebut
fase ejeksi cepat.
Sesudah darah keluar dari ventrikel maka tekanan di dalam ventrikel akan
menurun pada saat tekanan ventrikel menurun lebih rendah dari tekanan aorta
atau a. pulmonalis, maka katup-katup semilunar akan menutup dan terdengarlah
bunyi jantung kedua.
Selama katup mitral dan trikuspid menutup, darah dari vena pulmonalis
dan vena kava tetap mengisi kedua atrium yang menyebabkan peningkatan
tekanan di atrium. Sementara itu tekanan di kedua ventrikel terus menurun
sehingga menjadi lebih rendah dari tekanan atrium, dan katup mitral serta
trikuspid akan terbuka.
Setelah katup-katup mitral dan katup-katup tricuspid terbuka maka darah
akan mengalir dari kedua atrium ke kedua ventrikel mula-mula secara cepat (fase
22
pengisian cepat), dan makin lama makin lambat sampai berhenti, yakni sewaktu
tekanan di atrium dan ventrikel sama. Sebelum saat akhir diastole ventrikel
(diastole ventrikel dimulai sesudah penutupan katup semilunar) aktifitas listrik
yang menimbulkan gelombang P pada EKG menyebabkan atrium berkontraksi,
dan sisa darah di dalam atrium akan masuk ke dalam ventrikel. Kemudian
mulailah kontraksi ventrikel lagi.
Terbukanya katup ini tidak menimbulkan suara kecuali bila ada kelainan
katup (opening snap pada stenosis mitral). Fase diantara penutupan katup
semilunar dan pembukaan katup mitral/tricuspid dinamakan fase relaksasi
isovolumetrik ventrikel.
(Rokhaeni H. dkk, 2001)
[Link] Potensial aksi dan sifat-sifat fisiologi.
Sifat-sifat fisiologi sel-sel khusus di nodus SA dan AV sangat berbeda dengan
sel-sel pada lintasan penghantar dan miokardium disebabkan perbedaan sifat
potensial aksi lambat dan cepat. Sifat otomatisitas, kemampuan spontan
membangkitkan infuls, timbul dari perubahan otomatis sewaktu fase istirahat
dari respon lambat potensial aksi. Pada masa ini nodus SA berdepolarisasi secara
spontan dengan kecepatan intrinsik tercepat, kira-kira 60-100 kali denyut
permenit. Karena itu berfungsi sebagai pacu jantung alami.
a. Bunyi
jantung satu dan dua
23
Depolarisasi menyebar dari nodus AV melalui cabang berkas menuju
miokardium ventrikel meningkat melebihi tekanan atrium akibat katup AV
menutup, inilah yang menimbulkan bunyi jantung pertama.
Gelombang repolarisasi menyebar melalui miokardium ventrikel dan
ventrikel dalam keadaan istirahat. Ketika otot-otot relaksasi, maka tekanan
ventikel turun sampai lebih rendah dari tekanan atrium. Akibatnya katup
simularis tertutup dan terdengarlah bunyi jantung kedua.
b. Curah
Jantung
Volume darah yang dipompa oleh tiap ventrikel permenit dikenal dengan
istilah curah jantung. Besar curah jantung ini berubah-rubah, maka
diperlukan suatu indicator fungsi jantung yang akurat. Yang dikenal dengan
sebutan indeks jantung (cardiac indeks), indeks jantung ini didapat dengan
membagi curah jantung dengan permukaan tubuh, berkisar antara 2,8 sampai
3,6 liter/m2, curah sekuncup adalah volume darah yang dikeluarkan oleh
ventrikel perdetik sekitar 2/3 dari volume darah dalam ventrikel pada akhir
diastole (volume akhir diastole) dikeluarkan selama sistolik, jumlah darah
yang dikeluarkan tersebut dikenal dengan fraksi ejeksi, sedangkan volume
darah yang tersisa dalam ventrikel pada akhir sistolik disebut volume akhir
sistolik.
[Link] Konsumsi Oksigen Jantung
24
Proses metabolisme jantung adalah aerobik, yang membutuhkan oksigen.
Jelaslah bahwa konsumsi oksigen jantung berhubungan erat dengan aktifitas
metabolisme. Pada kondisi basal konsumsi oksigen jantung adalah 7-10 ml/100
gram miokardium/menit. Jika jantung tidak mendapat oksigen untuk beberapa
menit maka aktifitas mekanik akan terhenti. Peningkatan aktifitas jasmani yang
berat, juga akan meningkatkan kebutuhan oksigen. Penambahan pasukan oksigen
hanya didapat dengan meningkatkan aliran darah koroner.
1. Faktor-faktor Penentu Konsumsi Oksigen Jantung
Skema di bawah ini memperlihatkan beberapa faktor utama yang
menentukan konsumsi oksigen jantung.
Tekanan sistolik Volume
ventrikel
Tegangan intramiokard
Konsumsi oksigen miokard
Kontraktilitas Frekuensi denyut jantung
Konsumsi oksigen jantung terutama ditentukan oleh tegangan
intramiokard, kontraksi miokard dan frekuensi denyut jantung. Tegangan
intramiokard ditentukan oleh tekanan sistolik dan volume ventrikel. Tekanan
yang tinggi dan volume yang berlebihan akan meningkatkan tegangan
intramiokard, misalnya pada hipertensi, dilatasi ventrikel dan hipertrofi ventrikel.
25
Frekuensi jantung merupakan faktor lain yang mempengaruhi kebutuhan
oksigen miokard. Jika frekuensi denyut meningkat, maka kebutuhan oksigen
akan meningkat pula.
Kontraktilitas menggambarkan regangan serabut miokard. Kontraktilitas
miokard akan meningkat pada saat kerja jasmani dan tekanan sistolik meningkat,
akibatnya konsumsi oksigen meningkat pula.
[Link] Faktor-Faktor Penentu Kerja Jantung
Fungsi jantung dipengaruhi oleh 4 faktor utama yang saling terkait dalam
menentukan isi sekuncup (stroke volume) dan curah jantung (cardiac output),
yakni :
1. Beban awal (preload)
2. Kontraktilitas.
3. Beban akhir (afterload)
4. Frekuensi jantung.
Curah jantung merupakan faktor utama yang perlu diperhitungkan dalam
sirkulasi, karena curah jantung mempunyai peranan penting dalam transportasi
darah yang memasok berbagai nutrisi.
Curah jantung adalah jumlah darah yang dipompakan oleh ventrikel
dalam satu menit. Nilai normal pada orang dewasa berkisar 5 L/menit. Tetapi
besar curah jantung yang normal nilainya tergantung dari kebutuhan jaringan
perifer akan oksigen dan nutrisi.
26
Karena curah jantung yang dibutuhkan juga tergantung pada besarnya
ukuran tubuh, maka diperlukan suatu indikator fungsi jantung yang lebih akurat
yaitu indeks jantung (cardiac index). Indeks jantung didapat dengan membagi
curah jantung dengan luas permukaan tubuh, besarnya kira-kira 2,8-4,2
liter/menit pada orang dewasa. Pengaturah curah jantung tergantung dari dua
variabel, yaitu frekuensi jantung dan volume sekuncup.
2.2 Pengetahuan
2.2.1 Pengertian Pengetahuan
Pengetahuan adalah merupakan hasil tahu, dan ini terjadi setelah orang
melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi
melalui pancaindra manusia, yakni indra penglihatan, pendengaran, penciuman,
rasa, dan raba. sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan
telinga (Notoatmodjo S, 2003).
2.2.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan
Menurut Notoatmodjo S (2003), pengetahuan dipengaruhi oleh beberapa
faktor yaitu :
a. Faktor pendidikan dan pelatihan
b. Faktor lingkungan internal dan eksternal
c. Faktor pengalaman
d. Faktor ekonomi
27
2.2.3 Tingkatan-Tingkatan Pengetahuan
Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk
terbentuknya tindakan seseorang (over behaviour). Pengetahuan yang dicakup di
dalam kognitif mempunyai 6 tingkat (Notoatmodjo S, 2003), yaitu:
1. Tahu
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari
sebelumnya. Termasuk kedalam pengetahuan mengingat kembali terhadap
sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan
yang telah diterima.
2. Memahami
Memahami diartikan sebagai kemampuan menjelaskan secara benar tentang
objek yang diketahui, dan dapat mengiterpretasi materi tersebut secara benar.
3. Aplikasi
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang
telah dipelajari pada situasi atau kondisi sebenarnya.
4. Analisis
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek
kedalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam suatu struktur
organisasi tersebut.
5. Sintesis
28
Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau
menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang
baru.
6. Evaluasi
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau
penilaian terhadap suatu materi atau objek.
Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket
yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau
responden (Notoatmodjo S, 2003).
2.3 Standar Pelayanan Ruang ICCU
2.3.1 Pengertian Pelayanan Intensive
Unit pelayanan intensif adalah ruang perawatan terpisah di dalam rumah
sakit yang dikelola khusus untuk merawat pasien sakit berat dan kritis dengan
melibatkan tenaga terlatih khusus dan didukung dengan peralatan khusus.
Pelayanan intensif adalah tingkat pelayanan medis dan keperawatan yang tidak
terdapat di ruang biasa (Depkes RI, 1992).
Intensive Cardiac Care Unit (ICCU) adalah suatu bagian dari rumah sakit
yang terpisah, dengan staf yang khusus dan perlengkapan yang khusus yang
ditujukan untuk observasi, perawatan dan terapi pasien-pasien yang menderita
penyakit, cidera atau penyulit-penyulit yang mengancam jiwa atau potensial
mengancam jiwa dengan prognosis dubia (Depkes RI, 2003).
29
2.3.2 Pelaksanaan Pelayanan ICCU
Pelaksanaan pelayanan Intensive Cardiac Care Unit (ICCU) adalah
berbasis rumah sakit, diperuntukkan dan ditentukan oleh kebutuhan pasien yang
sakit kritis. Tujuan dari pelayanan intensive dan berkelanjutan serta mencegah
fragmentasi pengelolaan Pasien kritis (Depkes RI, 2003), meliputi :
1. Pasien-pasien yang secara fisiologis tidak stabil dan memerlukan dokter,
perawat, perawatan napas yang terkoordinasi dan berkelanjutan, sehingga
memerlukan perhatian yang teliti, agar dapat dilakukan pengawasan yang
konstan dan titrasi terapi.
2. Pasien-pasien yang dalam bahaya mengalami dekompensasi fisiologis dan
karena itu memerlukan pemantauan konstan dan kemampuan tim pelayanan
intensive untuk melakukan intervensi segera untuk mencegah timbulnya
penyulit yang merugikan.
2.3.3 Standar Minimum Pelayanan Intensive (ICCU)
Menurut Depkes RI (2003), tingkat pelayanan ICCU harus disesuaikan
dengan kelas rumah sakit. Tingkat pelayanan ditentukan oleh jumlah staf,
fasilitas, pelayanan penunjang, jumlah dan macam pasien yang dirawat.
Pelayanan ICCU harus memiliki kemampuan minimal sebagai berikut :
1. Resusitasi jantung paru
2. Pengelolaan jalan napas, termasuk intubasi trakeal dan penggunaan ventilator
sederhana
3. Therapi oksigen
30
4. Pemantauan EKG, pulse oksimetri terus menerus
5. Pemberian nutrisi enteral dan parenteral
6. Pemeriksaan laboratorium khusus dengan cepat dan menyeluruh
7. Pelaksanaan terapi secara titrasi
8. Kemampuan melaksanakan teknik khusus sesuai dengan kondisi pasien
9. Memberikan tunjangan fungsi vital dengan alat-alat portabel selama
transportasi pasien gawat
10. Kemampuan melakukan fisioterapi dada
2.4 Keperawatan
2.4.1 Pengertian Keperawatan
Menurut Depkes RI (1997), definisi keperawatan adalah : Keperawatan
adalah suatu bentuk pelayanan profesional yang merupakan bagian integral dari
pelayanan kesehatan berdasarkan bio-psiko-sosial-spiritual. Pelayanan
keperawatan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pelayanan kesehatan,
sehingga setiap perubahan yang terjadi sistem pelayanan kesehatan akan
mempengaruhi sistem pelayanan keperawatan. Selanjutnya pada perubahan
sistem pelayanan keperawatan akan membawa perubahan pada peran dan fungsi
perawat.
Perawat sebagai salah satu tenaga kesehatan yang merupakan sumber
daya utama dalam pembangunan kesehatan, bertanggung jawab dalam
memberikan pelayanan keperawatan profesional kepada masyarakat akan
31
kesehatan. Berdasarkan Hasil Lokakarya Keperawatan, yang dikutip dalam
Soeroso (2003), pelayanan keperawatan adalah :
“Suatu bentuk pelayanan profesional yang merupakan bagian integral dari
pelayanan kesehatan berdasarkan ilmu dan kiat keperawatan berbentuk
pelayanan biologis, psikologis, sosiologis, spiritual yang komprehensif/
holistik yang ditujukan kepada individu, keluarga dan masyarakat baik dalam
keadaan sakit atau sehat yang mencakup seluruh proses kehidupan manusia”.
2.4.2 Penilaian Keperawatan
Menurut Nursalam (2002), Dalam menilai kualitas pelayanan
keperawatan kepada klien digunakan standar praktek keperawatan yang
merupakan pedoman bagi perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan.
Standar praktek keperawatan telah dijabarkan oleh PPNI (2000), yang mengacu
dalam tahap proses keperawatan meliputi :
1. Pengkajian, merupakan pengumpulan data tentang status kesehatan pasien
secara sistematis, menyeluruh, akurat, singkat, dan berkesinambungan.
2. Diagnosa keperawatan adalah menganalisa data pengkajian untuk
merumuskan diagnosa keperawatan melalui analisis, interprestasi data,
identifikasi masalah pasien dan perumusan diagnosa keperawatan.
3. Perencanaan adalah membuat rencana tindakan keperawatan untuk mengatasi
masalah dan meningkatkan kesehatan pasien.
4. Implementasi merupakan pelaksanaan tindakan yang telah diidentifikasi
dalam rencana asuhan keperawatan.
32
5. Evaluasi memantau kemajuan pasien terhadap tindakan keperawatan dalam
mencapai tujuan dan merevisi data dasar dan perencanaan.
2.4.3 Peran dan Fungsi Perawat
Berdasarkan hasil Karya Nasional Keperawatan 1983 dalam Depkes RI
(1997), peran utama perawat adalah :
1. Pelaksanaan pelayanan keperawatan.
2. Pengelola dalam bidang pelayanan keperawatan dan institusi pendidikan
keperawatan.
3. Pendidik dalam ilmu keperawatan.
4. Peneliti dan pengembangan ilmu keperawatan.
Peran Perawat Selain di atas menurut Gaffar (1999), peran Perawat antara
lain adalah sebagai berikut :
1. Pelaksana
Peran ini dikenal dengan istilah Care Giver yaitu Perawat memberikan
asuhan keperawatan secara langsung atau tidak langsung kepada klien
sebagai individu, keluarga dan masyarakat.
2. Pendidik
Sebagai pendidik atau health educator, perawat berperan mendidik individu,
keluarga, kelompok dan masyarakat serta tenaga keperawatan atau tenaga
kesehatan yang berada di bawah tanggung jawab. Peran ini dapat berupa
penyuluhan kesehatan kepada klien (individu, keluarga, kelompok dan
masyarakat)
33
3. Pengelola
Dalam hal ini perawat mempunyai peran tanggung jawab dalam mengelola
pelayanan dan pendidikan keperawatan yang berada di bawah tanggung
jawabnya sesuai dengan konsep manajemen keperawatan dalam kerangka
paradigma keperawatan dan sebagai pengelola perawat berperan dalam
memantau dan menjamin kualitas asuhan atau pelayanan keperawatan serta
mengorganisasikan dan mengendalikan pelayanan keperawatan.
4. Peneliti
Sebagai peneliti dibidang keperawatan diharapkan mampu
mengidentifikasikan masalah penelitian, menerapkan prinsip dan metode
penelitian serta memanfaatkan hasil penelitian untuk meningkatkan mutu
asuhan atau pelayanan dan pendidikan kesehatan.
Menurut Depkes RI (1997), Fungsi seorang perawat adalah :
1. Merencanakan pelayanan keperawatan.
2. Mengkaji kebutuhan keperawatan.
3. Melaksanakan rencana keperawatan individu.
4. Mengevaluasi hasil pelayanan keperawatan.
2.5 Kerangka Konsep
Pasien dengan
Fungsi fisiologi
tidak stabil Tindakan
perawat Kemampuan /
Intensive keterampilan
Care Pengetah
individual
uan : Anatomi
dan fisiologi
Pasien dengan jantung
Dekompensasi
fisiologi