1.
Kuat tekan yang direncanakan : 18 Mpa
2. Jenis bahan :
Agregat halus : Pasir
Agregat kasar : Batu Pecah
Jenis semen :Type I PC
3. Ukuran maks agregat : 20 mm
4. Berat jenis pasir : 2,50
5. Berat jenis agregat kasar : 2,67
6. Penyerapan pasir : 3,50 %
7. Penyerapan agregat kasar : 2,50%
8. Berat volume pasir : 1400 Kg/m3
9. Berat volume batu pecah : 1600 Kg/m3
10. Persentase gabungan
Pasir : 35 %
Agregat kasar : 65 %
11. Keausan agregat kasar : 21,2 %
12. Kadar organik pasir : No.1
Diminta membuat rancangan campuran beton diatas dengan metode DOE,
ACI, dan SNI !
A. Perhitungan Rancangan Campuran Beton Metode DOE
1. Target kekuatan beton rata-rata yang hendak dicapai
f’c = 18 MPa
= 180 Kg/Cm2
2. Deviasi standar
• Volume Pekerjaan : Sedang
• Mutu Pekerjaan : Baik
• Sr : 40 Kg/Cm2
Volume Mutu Pelaksanaan
ukuran Satuan Baik Sekali Baik Cukup
Kecil ≤ 1000 45 ≤ Sr ≤55 55 ≤ Sr ≤65 65 ≤ Sr ≤70
Sedang 1000-3000 35 ≤ Sr ≤45 45 ≤ Sr ≤55 55 ≤ Sr ≤65
Besar > 3000 25 ≤ Sr ≤35 35 ≤ Sr ≤45 45 ≤ Sr ≤55
Tabel 1. Deviasi Standar
Sumber : PBI (Peraturan Beton Indonesia 1971) hal 40
3. Nilai tambah / Margin (M)
M = 1,64 x Sr
= 1,64 x 40
= 65,6 Kg/Cm2
4. Perhitungan kuat tekan rata-rata yang direncanakan :
Fcr = f’c + M
= 180 Kg/Cm2 + 65,6 Kg/Cm2
= 245,6 Kg/Cm2
5. Jenis Semen = Type I PCC
6. Jenis agregat halus = Pasir
7. Jenis agregat kasar = Batu pecah
8. Faktor air semen W/C
• Jenis semen : Type I PCC
• Jenis agregat kasar : Batu pecah
• Jenis benda uji : Silinder
Kekuatan Tekan (N/mm)
Jenis Semen Jenis Agregat Kasar Pada Umur (Hari) Bentuk
3 7 28 91 Benda Uji
Semen Portland Batu tidak dipecahkan 17 23 33 40
Silinder
Tipe I atau semen Batu Pecah 19 27 37 45
tahan sulfat tipe II, V Batu tidak dipecahkan 20 28 40 48
Kubus
Batu Pecah 23 32 45 54
Batu tidak dipecahkan 21 28 38 44
Semen Portland Silinder
Batu Pecah 25 33 44 48
Batu tidak dipecahkan 25 31 46 53
Tipe III Kubus
Batu Pecah 30 40 53 60
Tabel 2. perkiraan kuat tekan beton dengan faktor air semen 0.5, jenis semen, dan agregat kasar
yang biasa dipakai di Indonesia
• Berdasarkan tabel diatas dapat disimpulkan bahwa beton pada faktor air 0,5
dan jenis agregat kasar batu pecah dengan kuat tekan pada umur 28 hari
ialah 37 N/mm2 atau 370 Kg/Cm2 untuk silinder..
• Kuat tekan silinder = 370 Kg/Cm2 .
• Kuat tekan rata-rata = 385,6 Kg/Cm2
• W/C Silinder = 0,49 ( Dari grafik )
385,6
370
0,49
Grafik 1. Hubungan antara kuat tekan dan faktor air semen untuk benda silinder
(Ø15, H = 30).
Sumber : SK SNI T-15-1990-03
9. Faktor air semen maksimum = 0,60 ( Beton dalam ruang non
korosif )
Jumlah Semen Faktor Air
Uraian Minimum Semen
Per Cm³ Beton
(Kg) Maksimum
Beton dalam ruang bangunan :
a. Keadaan keliling non korosif 275 0,60
Keadaan keliling korosif
b. disebabkan oleh kondensasi 325 0,52
atau uap-uap korosif
Beton diluar ruangan :
a. Tidak terlindung dari hujan 325 0,60
dan terik matahari langsung
Terlindung dari hujan dan
b. 275 0,60
terik matahari langsung
Beton yang masuk kedalam tanah
a. Mengalami keadaan basah
325 0,55
dan kering berganti-ganti
b. Mendapat pengaruh suhu
375 0,52
alkali dari tanah atau air tanah
Beton yang kontinu berhubungan
Dengan air tanah :
a. Air tawar 275 0,57
b. Air laut 375 0,52
Tabel 3. Persyaratan jumlah semen minimum dan faktor air semen maksimum
untuk berbagai macam pembetonan dalam lingkup khusus
10. Slump = 100 mm
11. Ukuran maksimum agregat = 20 mm
12. Kadar air bebas = 225 Kg/m3
Ukuran Kadar air bebas (kg/m3 beton)
maksimum
Jenis agregat pada slump (mm)
Agregat kasar
(mm) 0-10 10-30 30-60 60-180
Alami 150 180 205 225
10
Batu pecah 100 205 230 250
Alami 135 160 180 195
20
Batu pecah 170 190 210 225
Alami 115 140 160 175
40
Batu pecah 155 175 190 205
Tabel 4. Perkiraan kadar air bebas berdasarkan ukuran maksimum agregat dan nilai slump
13. Kadar semen ( C )
• W/C = 0,49 < 0,57 Maks
C = Kadar air bebas / Faktor air semen
C = W / 0,49
= 225 Kg/m3 / 0,49
= 459,18 Kg/m3
≈ 460 Kg/m3
14. Kadar semen maksimum =-
15. Kadar semen minimum = 275 Kg/m3
Jumlah Semen Faktor Air
Uraian Minimum Semen
Per Cm³ Beton
(Kg) Maksimum
Beton dalam ruang bangunan :
a. Keadaan keliling non korosif 275 0,60
Keadaan keliling korosif
b. disebabkan oleh kondensasi 325 0,52
atau uap-uap korosif
Beton diluar ruangan :
Tidak terlindung dari hujan
a. 325 0,60
dan terik matahari langsung
Terlindung dari hujan dan
b. 275 0,60
terik matahari langsung
Beton yang masuk kedalam tanah
a. Mengalami keadaan basah
325 0,55
dan kering berganti-ganti
b. Mendapat pengaruh suhu
375 0,52
alkali dari tanah atau air tanah
Beton yang kontinu berhubungan
Dengan air tanah :
a. Air tawar 275 0,57
b. Air laut 375 0,52
Tabel 5. Persyaratan jumlah semen minimum dan faktor air semen maksimum
untuk berbagai macam pembetonan dalam lingkup khusus
16. Faktor air semen yang disesuaikan =
17. Susunan besar butir pasir = Zone 2
18. Persentasi bahan <4,8 mm = 35% ( persen agregat halus)
19. Berat Jenis Gabungan JPK = (% Agregat halus x BJ gregat halus)
+ (% Agregat kasar x BJ Agregat kasar)
= ( 35% x 2,50 )+( 65% x 2,67 )
= 0,88 + 1,74
= 2,62
20. Berat Jenis Beton Basah = 2340 Kg/m3
( pada grafik dari nilai berat jenis
agregat gabungan = 2,64 dengan nilai
kadar air bebas = 210 Kg/m3 )
2340
2,62
170
Grafik 2. Berat jenis beton dalam keadaan basah
21. Kadar agregat gabungan = Berat jenis beton basah - kadar air
Bebas - kadar semen
= 2340 Kg/m3 - 225 Kg/m3 - 460 Kg/m3
= 1655 Kg/m3
22. Kadar agregat halus = Persentase bahan <4,8 mm x
Kadar agregat gabungan
= 35 % x 1655 Kg/m3
= 579,25 Kg/m3
≈ 580 Kg/m3
23. Kadar agregat kasar = Kadar agregat gabungan - Kadar
Agregat halus
= 1655 Kg/m3 - 580 Kg/m3
= 1075 Kg/m3
Tabel 1. Formulir Hasil Rancangan Campuran Beton Metode DOE
No Uraian Tabel / Grafik Nilai
1 Kuat tekan yang disyaratkan (f'c) Ditetapkan 320 Kg/cm2
2 Deviasi Standar (Sr) Ditetapkan 40 Kg/cm2
3 Nilai tambah / margin (M) - 65,6 Kg/cm2
4 Kuat tekan rata-rata (fcr) 1+3 385,6 Kg/cm2
5 Jenis semen Ditetapkan Tipe I PC
6 Jenis agregat kasar Ditetapkan Batu pecah
7 Jenis agregat halus Ditetapkan Pasir
Tabel 2 dan dan grafik
8 Faktor air semen (WC) 0,49
1
9 Faktor air semen maximum Ditetapkan (tabel 3) 0,60
10 Slump Ditetapkan (tabel 4) 100 mm
11 Ukuran masimum agregat Ditetapkan 20 mm
12 Kadar air bebas Tabel 4 225 Kg/m3
13 Kadar semen 12.09 460 Kg/m3
14 Kadar semen maximum Tidak ditetapkan -
15 Kadar semen minimum Ditetapkan 275 Kg/m3
16 Faktor air semen yang disesuaikan - -
17 Susunan besar butir pasir Analisa saringan Zone 2
18 Presentasi bahan <4,8 mm Perhitungan 35 %
19 Berat jenis agregat gabungan JPK Perhitungan 2,64
20 Berat jenis beton basah Grafik 2 2340 Kg/m3
21 kadar agregat gabungan Perhitungan 1655 Kg/m3
22 Kadar agregat halus Perhitungan 580 Kg/m3
23 Kadar agregat kasar 21 – 22 1075 Kg/m3
A. Kebutuhan bahan campuran beton secara teoritis ( per m 3 beton ) hasil
rancang campuran beton secara teoritis / kondisi SSD ( sebelum dikoreksi ).
Semen = 460 Kg/m3
Air = 225 Kg/m3
Kadar agregat halus = 580 Kg/m3
Kadar agregat kasar = 1075 Kg/m3 +
Total 2340 Kg/m3
B. Kebutuhan bahan campuran beton jika digunakan 15 buah benda uji berupa
silinder ( Ø 15 cm, tinggi 30 cm )
Silinder = ¼ πd2t
= ¼ x 3,14 x (0,15 m)2 x 0,30 m
= 0,0053 m3
Volume = [Link] x Banyaknya benda uji x Faktor koreksi
= 0,0053 m3 x 15 x 1,2
= 0,0954 m3
Tabel 2. Formulir kesimpulan hasil rancangan
Volume Air Semen Agregat Halus Agregat Kasar Berat Total
( m3) (Kg/m3) (Kg/m3) (Kg/m3) (Kg/m3) (Kg/m3)
1 225 460 580 1075 2340
1 adukan 0,0954 21 44 55 103 223
B. Perhitungan Rancangan Campuran Beton Metode ACI
Analisa Perhitungan
Fcr = f’c + M
= 180 Kg/Cm2 + 65,6 Kg/Cm2
= 245,6 Kg/Cm2
Untuk perencanaan, ditetapkan :
1. Berdasarkan kondisi lingkungan pengecoran, ditetapkan besarnya slump
rencana antara 100 mm.
2. Jarak antara tulangan dan ukuran penampang balok hanya memungkinkan
penggunaan agregat maksimum = 20 mm dan hasil pemeriksaan
dilaboratorium, pada kondisi kering muka (saturated surface dry, SSD)
diperoleh :
a. Sifat agregat kasar (batu pecah) :
- Specify gravity = 2,67
- Berat volume padat = 1600 Kg/m3
b. Sifat agregat halus :
- Specify gravity = 2,50
- Berat volume padat = 1400 Kg/m3
Tabel 12. Jumlah air perlu setiap m3 beton dan udara terperangkap untuk berbagai slump
dan ukuran maksimum agregat
Slump
Berat air [kg/m3] beton untuk ukuran agregat berbeda
[mm]
10mm 12,5mm 20mm 25mm 38mm 50mm 75mm 150 mm
25-50 208 199 187 179 163 154 142 125
75-100 228 217 202 193 179 169 157 136
150-170 243 228 214 202 187 178 169 -
Persentase udara [%] yang ada dalam unit beton
3,0 2,5 2,0 1,5 1,0 0,5 0,3 0,2
3. Dari tabel 12 dengan ketentuan diatas diperoleh berat air campuran beton
dan presentase udara yang terperangkap sebagai berikut :
- Jumlah air = 202 Kg/m3
- Persentase udara yang terperangkap = 2,0 %
4. Mengingat konstruksi beton terlindungi, tidak diperlukan tabel 8 sehingga
W/C rasio rencana diperoleh berdasarkan pada kekuatan tekan rencana.
Kurva pada gambar 4 didasarkan pada benda uji silinder berisi 150 mm,
maka f’cr = 385,6 Kg/Cm2 sehingga dari kurva 4 didapat W/C = 0,47
5. Dari hasil langkah 3 dan 4 dihitung berat semen perlu untuk 1 m 3 beton :
Berat semen = 202 Kg/m3 / 0,47 = 429,78 Kg/m3 ≈ 430 Kg/m3 beton.
Tabel 13. Presentase volume agregat kasar / satuan volume beton
Ukuran maksimum Presentase volume agregat kasar dibandingkan dengan satuan
agregat kasar ( mm) volume beton untuk modulus kehalusan agregat halus tertentu
2,40 2,60 2,80 3,00
10,0 50 48 46 44
12,5 59 57 55 53
20,0 66 64 62 60
25,0 71 69 67 65
37,5 75 73 71 69
50,0 78 76 74 72
75,0 82 80 78 76
150,0 87 85 83 81
6. Dari tabel 13 dengan ketentuan :
• Ukuran maksimum agregat kasar = 20 mm
• Angka modulus kehalusan agregat halus = 2,40 ( Ditentukan
Sendiri )
• Diperoleh nilai volume agregat kasar sebesar = 0,66
• Dengan demikian berat agregat kasar perlu yang memiliki berat volume
= 1600 Kg/m3
= 0,66 X 1600 Kg/m3
= 1056 kg/m3
7. penentuan proporsi unsur beton bagi adukan beton untuk setiap m 3 beton dari
tahapan perhitungan yang telah dilakukan:
• Volume semen = 430 / (3,15 X 1000) =0,136 m3
• Volume air = 202 / (1 X 1000) =0,202 m3
• Volume agregat kasar =1056 / (2,67 X 1000) = 0,395 m3
• Volume udara terlengkap = 2,0 % =0,02 m3 +
Total volume diluar unsur agregat halus =0,753 m3
Dari perhitungan diatas, volume agregat halus dalam setiap m 3 beton :
• Volume agregat halus = (1,0 – 0,753) = 0,247 m3
Dengan nilai specific grafity = 2,50 kondisi SSD
• Berat rencana agregat halus = (0,247 X 2,50 X 1000)kg = 617,5 kg
= 618 Kg
8. Perhitungan berat bagi setiap m3 beton adalah :
Semen = 430 Kg
Air = 202 Kg
Agregat halus = 618 Kg
Agregat kasar = 1056 Kg +
total = 2306 Kg
Hasil Rancangan Sebelum Koreksi
Semen = 430 Kg
Air = 202 Kg
Agregat halus = 618 Kg
Agregat kasar = 1056 Kg +
total = 2306 Kg
Untuk 1 adukan benda uji :
Untuk 1 adukan benda uji :
Silinder = 15 buah
1
Volume = πd2tx jumlah benda uji x faktor koreksi
4
1
= 3,14 x (0,15)2 x 0,30x 15 x 1,2
4
= 0,0954 m3
Tabel 2. Formulir kesimpulan hasil rancangan
Volume Air Semen Agregat Halus Agregat Kasar Berat Total
( m3) (Kg/m3) (Kg/m3) (Kg/m3) (Kg/m3) (Kg/m3)
1 202 430 618 1056 2306
1 adukan 0,0954 19,27 41,02 59,96 100,74 220,99
PERHITUNGAN KOREKSI
1. Penyerapan Air ( Absorpsi )
• Agregat halus = 3,50 % X 618 = 21,63 Kg/m3
• Agregat kasar = 2,50 % X 1056 = 26,40 Kg/m3 +
Total penyerapan air = 48,03 Kg/m3
Hasil rancangan setelah koreksi
Semen = 430 = 430 kg/m3
Air = 202 + 48,03 =250,03 kg/m3
Agregat Halus = 618 – 21,63 = 596,37 kg/m3
Batu pecah = 1056 – 26,40 = 1029,6 kg/m3
Total = 2306 kg/m³
C. Perhitungan Rancangan Campuran Beton Metode SNI
Metode perhitungan yang digunakan dalam perencanaan campuran
beton adalah metode SNI 03-2834-2000.
Adapun tahapan yang dilakukan dalam perencanaan campuran beton
adalah sebagai berikut ini.
1. Menetapkan kuat tekan beton (f’c) pada umur 28 hari
Kuat tekan beton yang direncanakan pada umur 28 hari adalah 18 MPa.
2. Menetapkan nilai deviasi standar (S)
Tabel 3.4 Nilai Deviasi Standar untuk berbagai Tingkat
Pengendalian Mutu Pekerjaan
Tingkat Pengendalian Mutu Pekerjaan Sd (MPa)
Memuaskan 2,8
Sangat Baik 3,5
Baik 4,2
Cukup 5,6
Jelek 7,0
Tanpa Kendali 8,4
(Sumber: SNI 03 2834-2000)
Deviasi standar dihitung berdasarkan volume pembetonan yang akan
dibuat dan mutu pekerjaan. Nilai deviasi standar yang digunakan dalam
perencanaan campuran ini sebesar 4 Mpa yaitu tingkat pengendalian
mutu pekerjaan baik karena sudah mempunyai pengalaman sebelumnya.
3. Menghitung nilai tambah
Nilai tambah dapat dihitung menggunakan persamaan 3.3, adapun
hasilnya sebagai berikut ini.
M = 1,64 x 4 = 6,56 MPa
4. Menghitung kuat tekan beton rata-rata yang ditargetkan (f’cr)
menggunakan persamaan 3.4, maka
f’cr = f’c + M
= 18 + 6,56
f’cr = 24,56 MPa
5. Jenis semen yang telah ditetapkan adalah semen portland komposit yang
penggunaannya tidak memakai persyaratan khusus, jadi sama seperti semen tipe
1.
6. Jenis agregat halus yang digunakan yaitu alami, menggunakan pasir merapi.
7. Jenis agregat kasar yang digunakan yaitu batu pecah clereng ukuran maksimal
20 mm.
8. Menentukan nilai faktor air semen dengan cara menggunakan grafik
“hubungan antara kuat tekan rata-rata dan faktor air semen berdasarkan umur
benda uji dan jenis semen” sebagai berikut ini.
a. Perkiraan kekuatan tekan dari Tabel 3.5 dapat diketahui dari jenis semen,
jenis agregat, bentuk benda uji yang digunakan dan umur beton pada
kekuatan tekan.
Tabel 3.5 Perkiraan Kekuatan Tekan (MPa) beton dengan faktor air semen 0,5
dan agregat kasar yang biasa dipakai di Indonesia
Kekuatan Tekan (MPa)
Pada Umur (hari) Bentuk
Jenis Semen Jenis Agregat Kasar
Benda
3 7 28 91
Uji
Semen Portland Batu tidak dipecahkan 17 23 33 40
Silinder
Tipe 1 Batu pecah 19 27 37 45
Semen Tahan Batu tidak dipecahkan 20 28 40 48
Kubus
Sulfat Tipe II, V Batu pecah 23 32 45 54
Batu tidak dipecahkan 21 28 38 44
Silinder
Semen Portland Batu pecah 25 33 44 48
Tipe III Batu tidak dipecahkan 25 31 46 53
Kubus
Batu pecah 30 40 53 60
(Sumber: SNI 03-2834-2000)
Dari tabel diatas didapatkan kekuatan tekannya yaitu sebesar 37 MPa.
b. Setelah itu, lihat pada Gambar 3.6 yaitu tentang hubungan antara kuat
tekan rata-rata dan faktor air semen dengan benda uji berbentuk silinder.
c. Buat garis tegak lurus ke atas melalui faktor air semen 0,5 sampai
memotong kurva dengan warna merah, selanjutnya buat garis lurus ke kanan
dari angka kuat tekan 37 MPa sampai garis tersebut menyentuh garis
warna merah.
d. Lalu buat garis lengkung melalui titik perpotongan dari sub. Butir b secara
proporsional.
e. Kemudian buat garis lurus ke kanan dari angka fcr sebesar 24,56 MPa sampai
menyentuh garis lengkung (kurva baru) yang sudah dibuat atau ditentukan
dari sub butir c, diatas .
f. Selanjutnya buat garis lurus ke bawah melalui titik perpotongan tersebut.
Kemudian dari garis tersebut didapatkan nilai fas sebesar 0,66 dan
selengkapnya dapat dilihat pada Gambar 3.6.
37
Gambar 3.6 Hubungan Antara Kuat Tekan Rata-Rata dan Faktor Air Semen
(Benda Uji Berbentuk Silinder Dengan Diameter 150 mm × Tinggi 300 mm)
(Sumber: SNI 03-2834-2000)
9. Menentukan nilai faktor air semen maksmimum
Setelah ditentukan nilai fas dari gambar diatas, kemudian dilanjutkan dengan
menentukan faktor air semen (fas) maksimum yang dapat ditentukan dari
Tabel 3.6.
Tabel 3.6 Persyaratan fas dan Jumlah Semen Minimum Untuk Berbagai
Pembetonan dan Lingkungan Khusus
Jumlah Semen Minimum Nilai fas
Jenis Pembetonan
per m3 beton (Kg) Maksimum
Beton di dalam ruang bangunan
a. keadaan keliling non-korosif 275 0,6
b. keadaan keliling korosif
disebabkan oleh kondensasi atau 325 0,52
uap korosif
Beton di luar ruangan bangunan
a. tidak terlindung dari hujan
325 0,6
danterik matahari langsung
[Link] dari hujan dan terik
275 0,6
matahari langsung
Beton masuk ke dalam tanah
a. mengalami keadaan basah dan
325 0,55
kering berganti-ganti
b. mendapat pengaruh sulfat dan
Tabel 3.10
alkali dari tanah
Beton yang kontinu berhubungan
Tabel 3.11
dengan air tawar dan air laut
(Sumber: SNI 03-2834-2000)
Nilai faktor air semen maksimum yang didapat dari Tabel 3.6 adalah sebesar
0,6 yaitu jenis pembetonan di dalam ruang bangunan dengan keadaan keliling
non korosif.
10. Menetapkan nilai slump
Tinggi slump perencanaan yang ditetapkan adalah sebesar 100 mm.
11. Menetapkan ukuran besar butir agregat maksmimum
Ukuran besar butir agregat maksimum yang digunakan yaitu sebesar 20 mm.
12. Menetapkan nilai kadar air bebas
Kadar air bebas dapat ditentukan dari Tabel 3.10, dengan menggunakan data
ukuran agregat maksimum, jenis batuan, dan slump rencana. Setelah
didapatkan hasil perkiraan kebutuhan air per meter kubik beton, kemudian
jumlah kebutuhan air dapat dihitung menggunakan persamaan 3.3.
Tabel 3.10 Perkiraan Kebutuhan Air per Meter Kubik Beton
Ukuran Slump (mm)
Maksimum
Jenis Batuan
Agregat 0 – 10 10 – 30 30 – 60 60 – 180
(mm)
Batu tak dipecahkan 150 180 205 225
10
Batu pecah 180 205 230 250
Batu tak dipecahkan 135 160 180 195
20
Batu pecah 170 190 210 225
Batu tak dipecahkan 115 140 160 175
40
Batu pecah 155 175 190 205
(Sumber: SNI 03-2834-2000)
2 1
W = 3 𝑊ℎ + 𝑊𝑘
3
2 1
= 3 195 + 3 225
= 205 kg
Dari perhitungan diatas didapatkan nilai kadar air bebasnya adalah sebesar
205 kg.
13. Menghitung kebutuhan semen
Jumlah kebutuhan semen dihitung berdasarkan persamaan 3.7.
𝑊 𝑎𝑖𝑟
Wsemen = 𝑓𝑎𝑠
205
= 0,66
Wsemen = 310,60 kg
Dari perhitungan diatas didapatkan jumlah kebutuhan semennya adalah
sebesar 310,60 kg.
14. Menetapkan kebutuhan semen yang digunakan
Setelah menghitung kebutuhan semen dengan persamaan 3.7, maka perlu
dicari kebutuhan semen minimum dengan melihat Tabel 3.6. Dari tabel
tersebut didapatkan nilai kebutuhan semen minimumnya adalah sebesar 275
kg. Jika kebutuhan semen yang diperoleh dari perhitungan ternyata lebih
sedikit dari pada kebutuhan semen minimum berdasarkan Tabel 3.6, maka
yang digunakan adalah kebutuhan semen dengan nilai yang terbesar dari
kedua cara tersebut.
15. Menentukan persentase agregat halus dan kasar
Persentase jumlah agregat ditentukan oleh besar ukuran maksimum agregat
kasar, nilai slump, faktor air semen, dan daerah gradasi agregat halus. Untuk
menentukan persentase jumlah agregat halus dapat dilihat pada Gambar 3.3
karena ukuran butir maksimum yang digunakan yaitu 20 mm dan slump yang
digunakan adalah sebesar 60-180 mm. Selain itu, digunakan gradasi daerah
nomor 2 yang dihasilkan dari pengujian modulus halus butir agregat halus
pada sub bab 5.3.2.
a. Tarik garis tegak lurus ke atas melalui faktor air semen yang sudah
didapatkan sebelumnya sebesar 0,66 sampai memotong kurva bagian atas
pada daerah gradasi no 2.
b. Kemudian dari titik perpotongan batas lengkung kurva atas dan batas
lengkung kurva bawah pada daerah gradasi nomor 2, ditarik garis
mendatar ke kiri sampai memotong sumbu tegak.
c. Dari penarikan garis atas dan garis bawah tersebut didapatkan angka yaitu
sebesar 36,5 dan 29,5.
50
40
Gambar 4.15 Persen Pasir Terhadap Kadar Total Agregat yang Dianjurkan Untuk
Ukuran Butir Maksimum 20 mm
(Sumber: SNI 03-2834-2000)
d. Nilai persentase agregat halus dan agregat kasar dapat dihitung dengan
menggunakan rumus dibawah ini.
%AH = (50 + 40)/2
= 70%
%AK = 100% - %AH
= 100% - 70%
%AK = 30%
Dari perhitungan di atas didapatkan nilai persentase agregat halus (%AH)
sebesar 70% dan agregat kasar (%AK) sebesar 30%.
16. Menghitung berat jenis SSD agregat gabungan.
Berat jenis SSD agregat halus dan agregat kasar dapat diketahui dari
pengujian berat jenis agregat halus dan agregat kasar yang sudah dijelaskan pada
sub bab 5.2.1 dan 5.3.1. Dari pengujian berat jenis tersebut didapatkan angka
berat jenis agregat halus (BJAH) yaitu sebesar 2,5 dan berat jenis agregat kasar
(BJAK) yaitu sebesar 2,58. Setelah didapatkan berat jenis kedua agregat tersebut,
kemudian berat jenis agregat gabungan dapat dihitung menggunakan persamaan
3.5.
BJgabungan = %AH x BJAH + %AK x BJAK
= 70% x 2,50 + 30% x 2,67
= 2,551
Dari perhitungan diatas didapatkan berat jenis agregat gabungannya
(BJgabungan) yaitu sebesar 2,551.
17. Menentukan berat isi beton
Berat isi beton basah ditentukan berdasarkan grafik pada Gambar 3.5 dengan
memasukkan berat jenis agregat gabungan dan kadar air bebas.
a. Buat kurva baru sesuai dengan berat jenis agregat gabungan secara
proporsional dengan memperhatikan kurva sebelah atas dan bawahnya
yang sudah ada.
b. Lalu tarik garis tegak lurus ke atas dari nilai kadar air yang digunakan
yaitu 225 kg/m3 sampai memotong kurva baru berat jenis gabungan tersebut.
c. Kemudian dari titik potong tersebut, ditarik garis mendatar kearah kiri
sampai memotong sumbu tegak.
d. Dari penarikan garis tersebut didapatkan nilai berat isi beton adalah
sebesar 2290 kg/m3.
2290
2,551
170
Gambar 4.16 Perkiraan Berat Isi Beton Basah yang Telah Selesai Dipadatkan
(Sumber: SNI 03-2834-2000)
18. Menghitung proporsi campuran beton
Proporsi campuran yang dihitung adalah proporsi campuran kebutuhan
material penyusun beton. Proporsi agregat halus dapat dicari menggunakan
persamaan 3.7 dan untuk menghitung proporsi agregat kasar dapat digunakan
persamaan 3.8.
WAH = (Wisi beton basah – Wsemen – Wair) x %AH
= (2.290 – 310,60 - 225) x 70%
= 1228,08 kg/m3
WAK = (Wisi beton basah – Wsemen – Wair) x %AK
= (2.290 – 310,60 - 225) x 30%
= 526,32 kg/m3
Dari perhitungan diatas didapatkan berat agregat halus (WAH) adalah
sebesar
1228,08 kg/m3 dan berat agregat kasar (WAK) adalah sebesar 526,32
kg/m3.
19. Proporsi Campuran untuk 1 m3 beton :
a. Semen Portland = 418,37 kg/m3
b. Air = 225 kg/m3
c. Agregat Halus = 1228,08 kg/m3
d. Agregat Kasar = 526,32 kg/m3
Untuk 1 adukan benda uji :
Untuk 1 adukan benda uji :
Silinder = 15 buah
1
Volume = πd2tx jumlah benda uji x faktor koreksi
4
1
= 3,14 x (0,15)2 x 0,30x 15 x 1,2
4
= 0,0954 m3
Tabel 2. Formulir kesimpulan hasil rancangan
Volume Air Semen Agregat Halus Agregat Kasar Berat Total
( m3) (Kg/m3) (Kg/m3) (Kg/m3) (Kg/m3) (Kg/m3)
1 225 418,37 1228,08 526,32 2330
1 adukan
0,0954 21,465 39,913 117,159 50,210 228,747