0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan33 halaman

Ancaman Misterius untuk Jurnalis Lana

Lana, seorang jurnalis investigasi, menemukan paket misterius berisi foto-foto dan pesan ancaman yang membuatnya merasa terancam. Setelah berkonsultasi dengan seniornya, Raka, ia memutuskan untuk mencari tahu identitas orang-orang dalam foto tersebut dan mengungkap kebenaran di balik ancaman itu. Ketika menerima kunci dan alamat gudang yang mencurigakan, Lana merasa terjebak dalam sebuah permainan berbahaya dan bertekad untuk menghadapi risiko demi mengungkap fakta.

Diunggah oleh

luciayui56
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan33 halaman

Ancaman Misterius untuk Jurnalis Lana

Lana, seorang jurnalis investigasi, menemukan paket misterius berisi foto-foto dan pesan ancaman yang membuatnya merasa terancam. Setelah berkonsultasi dengan seniornya, Raka, ia memutuskan untuk mencari tahu identitas orang-orang dalam foto tersebut dan mengungkap kebenaran di balik ancaman itu. Ketika menerima kunci dan alamat gudang yang mencurigakan, Lana merasa terjebak dalam sebuah permainan berbahaya dan bertekad untuk menghadapi risiko demi mengungkap fakta.

Diunggah oleh

luciayui56
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PICK YOUR ENEMY

Bab 1: Bayangan di Balik Cahaya


Kota Ashton, sebuah kota kecil yang tenang di tepi pantai, diselimuti kabut tipis di
penghujung musim gugur. Di sebuah apartemen sederhana di pusat kota, Lana, seorang
jurnalis investigasi muda dengan reputasi yang tajam, sedang asyik meneliti tumpukan
dokumen di mejanya. Cahaya lampu meja menerangi wajahnya yang serius, sorot matanya
yang tajam terfokus pada laporan keuangan sebuah perusahaan konstruksi yang diduga
terlibat dalam kasus korupsi.
"Ck, perusahaan abal-abal macam ini bisa menang tender milyaran rupiah? Jangan bilang
cuma modal proposal bagus doang," gerutu Lana sambil menyisir rambutnya yang berantakan
dengan jemari lentiknya. "Pasti ada main belakang nih."
Lana, yang bekerja untuk koran lokal "Suara Rakyat", dikenal karena keberaniannya
mengungkap kebenaran, meskipun itu berarti harus berhadapan dengan orang-orang
berkuasa. Ia bagaikan serigala penyendiri, selalu waspada, selalu siap menerkam
ketidakadilan yang tersembunyi di balik wajah kota yang tenang.
Malam itu, hujan mulai turun, rintik-rintiknya mengetuk jendela apartemen Lana seperti
jarijari tak terlihat yang ingin masuk. Suara sirine polisi samar-samar terdengar dari
kejauhan, menambah suasana mencekam. Lana, yang terbiasa bekerja hingga larut malam,
tidak terlalu menghiraukannya. Ia terlalu fokus pada penyelidikannya, mencoba menemukan
benang merah yang menghubungkan perusahaan konstruksi tersebut dengan beberapa pejabat
tinggi di kota Ashton.
Dering telepon yang tiba-tiba mengagetkannya. Lana meraih gagang telepon dengan sedikit
kesal.

"Halo? Siapa sih ganggu orang lagi enak-enak kerja!"


"Lana? Santai dong, ini Raka." Suara Raka, seniornya di "Suara Rakyat", terdengar di ujung
telepon.

"Eh, Kak Raka! Ada apa nih nelpon malam-malam gini? Jangan bilang ada berita panas lagi?"
"Bukan berita panas, Lan, tapi berita dingin. Aku dengar kabar burung, orang-orang yang
lagi kamu selidiki itu lumayan 'berbahaya'. Hati-hati, ya."
"Ah, masa sih, Kak? Mereka cuma gerombolan pengusaha sama pejabat korup, bukan mafia
kelas kakap. Lagian aku udah hampir dapet bukti kuat kok."
"Bagus deh kalau gitu. Tapi tetap jaga diri, Lan. Jangan sampai kebablasan. Ingat, nyawa
kamu cuma satu."
"Iya, iya, Kak. Aku 'kan jurnalis investigasi, bukan detektif swasta. Tau batasan kok," jawab
Lana dengan nada sedikit mengejek. "Lagian, kalau sampe kenapa-napa, siapa lagi yang
bakal ngungkap kebusukan di kota ini?"
Raka tertawa di ujung telepon. "Ya udah deh, kalau ada apa-apa, kabari aku ya."

"Sip, Kak. Eh, tapi kalau aku berhasil bongkar kasus ini, traktiran pizza jangan lupa, ya!"

"Siap, Lan! Pizza sepuasnya deh buat kamu!"


Lana menutup telepon dengan senyum puas. Ia kembali fokus pada dokumen-dokumen di
depannya. Namun, peringatan Raka tetap membuatnya sedikit waspada. Ia tahu bahwa ia
sedang bermain api. Tapi ia tidak akan mundur. Ia harus mengungkap kebenaran, apapun
risikonya.
Tiba-tiba, suara ketukan di pintu memecah konsentrasinya. Lana mengerutkan kening. Jam
sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Siapa yang bertamu selarut ini? "Ck, siapa sih
ganggu orang lagi seru-serunya?" gerutunya. Dengan sedikit ragu, ia bangkit dari kursinya
dan berjalan menuju pintu. Melalui lubang intip, ia melihat seorang pria berpostur tinggi
besar dengan topi menutupi wajahnya. Pria itu mengenakan jaket kulit hitam dan membawa
sebuah paket kecil di tangannya.
Lana merasa tidak nyaman. Ia tidak memesan apapun, dan ia tidak mengenal pria itu. Insting
jurnalistiknya mencium sesuatu yang tidak beres. Ia memutuskan untuk tidak membuka
pintu. Pria itu mengetuk lagi, kali ini lebih keras. Lana tetap diam, menunggu pria itu pergi.

"Siapa?" tanya Lana dengan suara sedikit gemetar.

Tidak ada jawaban. Hanya suara ketukan yang semakin keras.

"Pergi! Saya tidak mau diganggu!" teriak Lana.


Setelah beberapa saat, ketukan berhenti. Lana menghela napas lega. Ia kembali ke mejanya,
namun rasa penasaran mengganggunya. Ia mengintip lagi melalui lubang intip. Pria itu
sudah tidak ada. Namun, Lana melihat sebuah paket kecil tergeletak di depan pintu.

"Apa ini?" gumam Lana, rasa curiga kembali menghantuinya.


Perlahan, Lana membuka pintu dan mengambil paket itu. Paket itu dibungkus kertas cokelat
polos, tanpa nama pengirim. Hanya alamat Lana yang tercetak rapi di atasnya. Lana
membawa paket itu masuk, meletakkannya di atas meja, dan dengan hati-hati merobek
pembungkusnya.
Di dalam paket itu, terdapat lima buah foto polaroid. Lana mengambil foto pertama.
Jantungnya berdebar kencang saat melihat gambar di foto itu: dirinya sendiri, diambil secara
diam-diam saat ia sedang berjalan di taman beberapa hari yang lalu. Lana tidak ingat pernah
melihat seseorang memotretnya.
"Siapa yang mengambil foto ini?" bisiknya, suaranya tercekat di tenggorokan.
Foto-foto berikutnya semakin membuatnya bingung dan takut. Empat wajah asing
menatapnya dari foto-foto tersebut: seorang pria tua berwajah keras dengan setelan jas mahal,
seorang wanita muda dengan tato naga di lengannya, seorang pemuda berwajah dingin
dengan bekas luka di pipinya, dan seorang wanita paruh baya dengan sorot mata tajam. Lana
tidak mengenali satu pun dari mereka.
"Siapa mereka? Apa hubungannya denganku?" Lana merasa kepalanya berputar.
Dengan tangan gemetar, Lana membalik foto terakhir. Di balik foto itu, terdapat sebuah
pesan yang ditulis dengan tinta merah: "Pilih musuhmu, atau mereka akan memilihmu."
Suhu di ruangan itu seolah turun drastis. Lana merasakan hawa dingin merambat di tulang
punggungnya. Ia merasa terjebak, terancam, dan sendirian. Ia tidak tahu siapa yang
mengirim foto-foto itu, atau apa maksud dari pesan tersebut. Namun, ia tahu satu hal:
hidupnya tidak akan pernah sama lagi.

Bab 2: Teka-teki dalam Polaroid


Pagi menjelang, namun sinar matahari tak mampu menembus awan kelabu yang menyelimuti
kota Ashton. Lana terbangun dengan perasaan gelisah. Mimpi buruk tentang foto-foto
misterius dan pesan ancaman itu masih menghantuinya. Ia bangkit dari tempat tidur, merasa
lelah dan linglung. Semalam, ia nyaris tidak bisa tidur. Setiap kali ia memejamkan mata,
bayangan wajah-wajah asing dalam foto-foto itu muncul di benaknya.
Lana memutuskan untuk mandi air dingin untuk menyegarkan pikirannya. Sambil
menggosok gigi, ia menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya tampak pucat dan lelah,
lingkaran hitam terlihat jelas di bawah matanya. "Ini nggak bisa dibiarin," gumamnya pada
diri sendiri. "Gue harus cari tahu siapa mereka dan apa mau mereka."
Setelah berpakaian rapi, Lana membuat secangkir kopi hitam kental. Ia lalu mengeluarkan
foto-foto polaroid dari amplop cokelat dan menyebarkannya di atas meja makan. Ia menatap
foto-foto itu satu per satu, mencoba mengingat-ingat di mana ia pernah melihat wajah-wajah
tersebut.
Pria tua berwajah keras dengan setelan jas mahal itu... Lana merasa pernah melihatnya di
suatu tempat, tapi ia tidak bisa mengingatnya. Wanita muda dengan tato naga di lengannya...
Apakah ia pernah bertemu dengannya di sebuah kafe? Atau mungkin di bar? Pemuda
berwajah dingin dengan bekas luka di pipinya... Wajahnya mengingatkan Lana pada
seseorang, tapi siapa? Dan wanita paruh baya dengan sorot mata tajam itu... Lana merasa
pernah melihatnya di koran, tapi ia tidak yakin.
Lana menghela napas frustrasi. Ia merasa seperti sedang bermain puzzle, tapi ia tidak
memiliki potongan-potongan yang cukup untuk membentuk gambar yang utuh. Ia
memutuskan untuk membawa foto-foto itu ke kantor dan meminta bantuan rekan-rekannya.
Mungkin mereka mengenali salah satu wajah di foto tersebut.
Sesampainya di kantor "Suara Rakyat", Lana langsung menuju meja Raka, seniornya yang
juga sahabatnya. Raka adalah seorang jurnalis senior yang berpengalaman dan memiliki
banyak koneksi. Lana percaya Raka bisa membantunya memecahkan misteri ini.

"Kak Raka, gue butuh bantuan lo," kata Lana dengan nada serius.
Raka, yang sedang asyik mengetik di komputernya, menoleh dan menatap Lana dengan
heran.
"Ada apa, Lan? Kok kayaknya serius banget?"

Lana menunjukkan foto-foto polaroid kepada Raka. "Lo kenal sama orang-orang ini?"
Raka mengambil foto-foto itu dan mengamati satu per satu dengan seksama. Ia mengerutkan
kening. "Gue nggak kenal mereka, Lan. Emang mereka siapa?"
Lana menceritakan tentang paket misterius dan pesan ancaman yang ia terima. Raka
mendengarkan dengan saksama, ekspresinya semakin serius.
"Ini nggak beres, Lan," kata Raka setelah Lana selesai bercerita. "Lo yakin lo nggak punya
musuh atau saingan yang mungkin ngirim ini?"
Lana menggeleng. "Gue nggak punya musuh, Kak. Paling cuma beberapa orang yang nggak
suka sama berita-berita yang gue tulis. Tapi mereka nggak mungkin sampe segitunya."
"Lo harus hati-hati, Lan," kata Raka dengan nada khawatir. "Orang-orang yang ada di foto
ini keliatannya bukan orang sembarangan. Mungkin mereka terlibat dalam sesuatu yang
berbahaya."
"Gue tahu, Kak. Makanya gue minta bantuan lo. Lo 'kan punya banyak kenalan. Mungkin
lo bisa bantu gue cari tahu siapa mereka."
Raka mengangguk. "Oke, Lan. Gue akan coba bantu. Tapi lo juga harus hati-hati. Jangan
gegabah. Kalau ada apa-apa, langsung hubungi gue." "Siap, Kak," jawab Lana.
Lana merasa sedikit lega setelah bercerita kepada Raka. Ia tahu ia tidak sendirian dalam
menghadapi misteri ini. Raka akan membantunya. Bersama-sama, mereka akan
mengungkap siapa orang-orang di balik foto-foto itu dan apa yang mereka inginkan dari
Lana.
Siang harinya, Lana memutuskan untuk pergi ke kantin. Ia ingin makan siang dengan Raka
dan mendiskusikan langkah selanjutnya. Ia juga ingin mencari informasi di perpustakaan
kantor, yang memiliki koleksi berita dan dokumen yang lebih lengkap daripada perpustakaan
umum.
Saat Lana tiba di kantin "Suara Rakyat", suasana terasa tegang. Beberapa rekan Lana
tampak berbisik-bisik, menatap Lana dengan tatapan aneh. Lana merasa tidak nyaman. Ia
merasa seperti sedang diawasi.

"Ada apa sih?" tanya Lana pada Dina, salah satu rekan kerjanya.

Dina mendekat dan berbisik, "Lo hati-hati, Lan. Gue denger ada orang yang nyariin lo."

"Siapa?" tanya Lana, jantungnya berdebar kencang.

"Gue nggak tahu. Tapi katanya dia keliatannya galak banget," jawab Dina.

Lana merasa semakin tidak nyaman. Ia memutuskan untuk langsung menemui Raka.
Raka masih berada di ruangan saat Lana mengetuk pintu.

"Masuk, Lan," kata Raka.


Lana masuk dan menutup pintu di belakangnya. "Kak, gue kayaknya lagi diawasi," kata
Lana dengan nada cemas.

Raka mengerutkan kening. "Diawasi? Sama siapa?"

"Gue nggak tahu. Tapi Dina bilang ada orang yang nyariin gue."

Raka tampak khawatir. "Lo yakin?"

Lana mengangguk. "Gue yakin. Gue ngerasa ada yang ngikutin gue dari tadi."
Raka berpikir sejenak. "Oke, Lan. Gini aja. Lo tetap di sini dulu. Gue akan coba cari tahu
siapa yang nyariin lo. Kalau udah aman, gue kabarin lo."

Lana mengangguk. Ia merasa lebih aman berada di kantor, dikelilingi oleh rekan-rekannya.
Raka keluar dari ruangan dan berbicara dengan beberapa orang di kantor. Lana
memperhatikan dari jendela ruangan Raka. Ia melihat Raka berbicara dengan seorang pria
berbadan tegap yang mengenakan setelan jas hitam. Pria itu tampak serius dan
mengintimidasi. Lana merasa takut.

Setelah beberapa saat, Raka kembali ke ruangannya.

"Gimana, Kak?" tanya Lana.

"Tenang aja, Lan. Udah aman. Orang itu cuma kurir. Dia nganter paket buat lo," jawab
Raka.

Lana merasa lega. "Paket? Paket apa?"


Raka menyerahkan sebuah amplop cokelat kecil kepada Lana. "Ini. Gue nggak tahu isinya
apa. Tapi pengirimnya nggak nyantumin nama."
Lana menatap amplop itu dengan ragu. Ia merasa takut untuk membukanya. Tapi ia juga
penasaran. Ia ingin tahu apa isi amplop itu.
Dengan tangan gemetar, Lana membuka amplop tersebut. Di dalamnya, terdapat sebuah
kunci dan secarik kertas kecil. Di kertas itu, tertulis sebuah alamat: "Gudang 47,
Pelabuhan Utara." Lana menatap Raka dengan tatapan bingung. "Ini apa, Kak?"
Raka menggelengkan kepala. "Gue nggak tahu, Lan. Tapi gue rasa ini ada hubungannya
sama foto-foto yang lo terima kemarin."
Lana merasakan jantungnya berdebar kencang. Ia merasa seperti sedang ditarik ke dalam
sebuah permainan berbahaya. Ia tidak tahu apa yang menunggunya di gudang 47. Tapi ia
tahu ia harus pergi ke sana. Ia harus mencari tahu siapa yang mengirimnya pesan dan apa
yang mereka inginkan darinya.

Bab 3: Bayang-Bayang di Pelabuhan Utara


Lana menatap kunci dan alamat di tangannya, perasaan campur aduk berkecamuk dalam
dirinya. Penasaran, takut, dan sedikit tertantang – semuanya bercampur menjadi satu. Ia
menatap Raka, mencari jawaban di mata seniornya itu. Namun, Raka hanya diam, raut
wajahnya dipenuhi kekhawatiran.

"Kak," panggil Lana pelan, suaranya sedikit bergetar. "Menurut lo... gue harus ke sana?"
Raka menghela napas panjang, mengusap wajahnya dengan kasar. "Jujur, Lan, gue nggak
tahu. Ini terlalu beresiko. Kita sama sekali buta, nggak tahu apa yang nunggu lo di sana."
Lana menggigit bibir bawahnya, menimbang-nimbang perkataan Raka. Di satu sisi, ia takut
akan bahaya yang mungkin menunggunya. Tapi di sisi lain, rasa penasaran dan keinginan
untuk mengungkap kebenaran begitu kuat. Ia tidak bisa tinggal diam dan membiarkan
orangorang tak dikenal ini mengancamnya.
"Tapi Kak," Lana berkata dengan suara lebih mantap, "gue nggak bisa diem aja. Gue harus
tahu siapa mereka dan apa mau mereka dari gue." Ia mengepalkan tangannya, tekadnya
menguat. "Gue nggak akan biarin mereka menang."
Raka terdiam sejenak, menatap Lana dengan sorot mata yang sulit diartikan. Ia tahu Lana,
gadis itu keras kepala dan pantang menyerah. Melarangnya hanya akan sia-sia.
"Oke, Lan," Raka akhirnya berkata, nada suaranya terdengar pasrah. "Gue nggak bisa larang
elo. Tapi, janji sama gue, lo harus hati-hati. Jangan pergi sendiri. Ajak gue, atau Dito, atau
siapapun yang lo percaya."
Lana mengangguk, lega karena Raka tidak melarangnya. "Gue akan ajak Dito, Kak. Dia
jago bela diri, bisa lindungi gue."
Dito, fotografer "Suara Rakyat" yang berbadan kekar dan terlatih bela diri, memang sering
menjadi partner Lana saat meliput berita-berita kriminal. Lana tahu ia bisa mengandalkan
Dito dalam situasi genting.
"Bagus," Raka mengangguk setuju. "Kalian saling jaga, ya. Dan ingat, kalau ada yang
nggak beres, langsung kabur. Jangan nekat." "Siap, Kak," jawab Lana mantap.
Lana segera mencari Dito dan menceritakan semuanya. Dito, seperti yang sudah diduga,
langsung setuju untuk menemani Lana. Mereka pun mulai bersiap. Dito mengambil tas
ranselnya dan mengisinya dengan peralatan yang mungkin dibutuhkan: senter, kamera kecil,
pisau lipat, dan semprotan merica. Lana sendiri diam-diam menyelipkan pistol kecil di balik
jaketnya. Ia tidak pernah menggunakannya, tapi kali ini ia merasa perlu untuk berjaga-jaga.
Sore itu, suasana di Pelabuhan Utara terasa mencekam. Langit mendung, angin bertiup
kencang, dan ombak laut menghantam dermaga dengan suara berdebur yang keras. Lana
dan
Dito tiba di depan gudang 47. Gudang tua itu tampak kusam dan menyeramkan, catnya
mengelupas, dan jendela-jendelanya pecah. Suasana di sekitarnya sunyi senyap, hanya
terdengar suara angin dan burung camar yang sesekali melintas.
Lana merasakan jantungnya berdetak lebih cepat. Ia mengeluarkan kunci dari saku jaketnya
dan memasukkannya ke dalam lubang kunci gembok yang mengunci pintu gudang. Kunci
itu masuk dengan pas. Dengan tangan gemetar, Lana memutar kunci dan mendorong pintu
gudang yang berat itu.
Pintu terbuka dengan suara berderit yang panjang dan memekakkan telinga, membuat bulu
kuduk Lana merinding. Di dalam, suasana gelap gulita, hanya ada sedikit cahaya yang
menyelinap dari celah-celah dinding. Bau apak dan debu menyeruak, membuat Lana
terbatuk.
Dito segera menyalakan senternya, sinarnya menembus kegelapan dan menyinari bagian
dalam gudang. Gudang itu terlihat kosong dan berantakan. Tumpukan peti kayu
berserakan di mana-mana, diselubungi jaring laba-laba yang tebal.

"Nggak ada siapa-siapa, Lan," kata Dito, suaranya bergema di dalam gudang yang luas.
Lana melangkah masuk dengan hati-hati, matanya menjelajahi setiap sudut gudang. Ia
merasa kecewa. Ia berharap menemukan petunjuk atau jawaban di gudang itu. Tapi
gudang itu terlihat seperti gudang biasa yang sudah lama ditinggalkan.
Tiba-tiba, Lana mendengar suara langkah kaki dari arah belakang mereka. Ia berbalik,
jantungnya berdebar kencang. Sinar senter Dito mengarah ke sumber suara. Sesosok
bayangan muncul dari balik tumpukan peti. Bayangan itu mendekati mereka dengan
perlahan.
Lana dan Dito siaga, tubuh mereka menegang. Bayangan itu semakin dekat. Lana bisa
melihat wajahnya dengan jelas di bawah cahaya senter. Itu adalah pemuda berwajah
dingin dengan bekas luka di pipinya, salah satu orang di dalam foto polaroid.
Pemuda itu tersenyum sinis, sorot matanya tajam dan penuh ancaman. "Selamat datang
di permainan, Nona Lana," katanya dengan suara dingin yang membuat Lana
merinding. "Kalian sudah masuk perangkap."
Lana merasakan jantungnya berdetak lebih kencang. Ia tahu ia dalam bahaya.
Permainan yang sesungguhnya baru saja dimulai.

Bab 4: Tiga Lawan Satu


Lana merasakan darahnya membeku. Perangkap. Kata-kata pemuda itu bergema di
telinganya seperti lonceng kematian. Ia melirik Dito, yang kini berdiri di sampingnya
dengan rahang mengeras dan tangan terkepal erat. Suasana di gudang yang tadinya sunyi
mencekam kini terasa lebih menyesakkan.
"Siapa lo?" tanya Lana, suaranya terdengar lebih tenang dari yang ia rasakan. Ia berusaha
menyembunyikan rasa takutnya, menampilkan wajah berani meskipun jantungnya berdebar
kencang.
Pemuda itu terkekeh sinis, "Lo nggak perlu tahu siapa gue. Yang perlu lo tahu, lo udah
nginjek wilayah yang bukan seharusnya lo masuki." Ia melangkah maju, mendekati Lana
dan Dito dengan langkah pelan yang mengancam. "Dan sekarang, lo harus bayar harganya."
Dito bergerak cepat, berdiri di depan Lana, melindunginya. "Jangan macam-macam!"
bentaknya, suaranya menggelegar di dalam gudang. "Minggir, atau lo bakal berurusan sama
gue!"
Pemuda itu hanya tersenyum mengejek. "Oh ya? Cuma berdua? Kayaknya kurang seru."
Ia bertepuk tangan dua kali.
Tiba-tiba, dua sosok lain muncul dari balik tumpukan peti. Lana mengenali mereka: wanita
muda dengan tato naga di lengannya dan wanita paruh baya berwajah dingin. Mereka
mengepung Lana dan Dito, memotong jalan keluar mereka.
"Tiga lawan satu?" Dito menyeringai. "Kayaknya seru nih." Ia melepas jaketnya dan
melemparkannya ke Lana. "Pegang ini, Lan. Lo mundur aja, biar gue yang urus mereka."
Lana menangkap jaket Dito, namun ia tidak mundur. Ia tidak akan membiarkan Dito
bertarung sendirian. Ia merogoh saku jaketnya, mencari semprotan merica yang ia
bawa.
"Jangan remehin kami, bocah!" teriak wanita bertato sambil menyerang Dito dengan
tendangan cepat. Dito menghindar dan membalas dengan pukulan ke arah wajah
wanita itu. Perkelahian pun tak terelakkan.
Gudang tua itu menjadi arena pertarungan. Suara benturan, teriakan, dan erangan
bercampur menjadi satu. Dito bertarung dengan gagah berani, melawan dua lawan
sekaligus. Ia lincah dan kuat, namun lawan-lawannya juga bukan orang sembarangan.
Wanita bertato itu terlatih dalam bela diri, sementara wanita paruh baya itu
menggunakan sebuah tongkat besi sebagai senjata.
Lana tidak tinggal diam. Ia menyemprotkan semprotan merica ke arah wanita paruh
baya itu, membuat wanita itu menjerit kesakitan dan menutup wajahnya. Kesempatan
itu digunakan Dito untuk menendang tongkat besi dari tangan wanita itu.
Namun, saat Dito lengah, pemuda berwajah dingin itu menyerangnya dari belakang. Ia
menendang lutut Dito, membuat Dito terjatuh. Dito mencoba bangkit, namun pemuda
itu menindihnya dan menghujani wajahnya dengan pukulan bertubi-tubi.
Lana panik. Ia berlari ke arah pemuda itu dan memukul kepalanya dengan senter.
Pemuda itu mengerang kesakitan dan melepaskan Dito. Dito mengambil kesempatan
itu untuk menendang pemuda itu hingga terjengkang.
Perkelahian itu berlangsung sengit. Lana dan Dito berjuang mati-matian melawan tiga
lawan yang lebih terlatih. Mereka terluka, namun mereka tidak menyerah. Mereka
harus keluar dari gudang itu hidup-hidup.
Tiba-tiba, suara sirene polisi terdengar dari kejauhan. Suara itu semakin lama semakin
dekat. Para penyerang Lana terlihat panik. Mereka saling berpandangan, lalu melarikan
diri melalui pintu belakang gudang.
Lana dan Dito terduduk lemas, napas mereka terengah-engah. Tubuh mereka penuh
luka dan memar. Namun, mereka selamat. Mereka berhasil mengalahkan musuh-musuh
mereka.
Beberapa saat kemudian, mobil polisi tiba di depan gudang. Raka keluar dari salah
satu mobil polisi itu, wajahnya dipenuhi kecemasan. Ia berlari ke arah Lana dan Dito.

"Lana! Dito! Kalian baik-baik aja?" tanya Raka dengan nada khawatir.

Lana dan Dito mengangguk lemas. Mereka terlalu lelah untuk berbicara.
Raka memeluk mereka dengan erat. "Syukurlah kalian selamat. Gue khawatir banget
pas denger kalian diserang."

Lana membalas pelukan Raka. Ia merasa aman dalam pelukan seniornya itu.
"Gimana polisi bisa tahu kita ada di sini, Kak?" tanya Lana setelah mereka
melepaskan pelukan.
"Gue yang nelpon mereka," jawab Raka. "Gue pasang GPS tracker di ponsel lo, Lan.
Gue khawatir ada apa-apa sama lo."

Lana tersenyum. Ia tersentuh dengan kepedulian Raka.

"Ayo kita ke rumah sakit," kata Raka. "Kalian perlu diperiksa."


Lana dan Dito mengangguk. Mereka pun pergi meninggalkan gudang 47 bersama
Raka. Misteri tentang foto-foto polaroid dan pesan ancaman itu belum terpecahkan.
Namun, Lana tahu ia telah memenangkan pertempuran pertama. Ia telah menunjukkan
pada musuh-musuhnya bahwa ia tidak mudah ditaklukkan.
Meskipun tubuhnya masih terasa nyeri akibat perkelahian di gudang, Lana tidak bisa
beristirahat dengan tenang. Ia terbaring di ranjang rumah sakit, pikirannya terus dipenuhi
pertanyaan. Siapa dalang di balik semua ini? Apa tujuan mereka? Dan mengapa mereka
memilih Lana sebagai target?
Raka menemani Lana di rumah sakit, sesekali mengobrol untuk mencairkan suasana. Dito
sudah pulang lebih dulu setelah mendapatkan perawatan, lukanya tidak separah Lana.

"Lo harus banyak istirahat, Lan," kata Raka, "biar cepat pulih."
"Gue nggak bisa tenang sebelum tahu siapa mereka, Kak," jawab Lana, matanya menatap
kosong ke langit-langit kamar.
"Tenang aja, polisi lagi menyelidiki kasus ini. Mereka lagi melacak keberadaan ketiga
orang itu," Raka berusaha menenangkan Lana.
"Tapi mereka lolos, Kak. Dan kita masih belum tahu siapa mereka sebenarnya," Lana
merasa frustrasi.
Raka mengangguk paham. "Gue ngerti, Lan. Tapi sekarang lo harus fokus untuk
pemulihan lo dulu. Kita bisa lanjutin penyelidikan nanti setelah lo sehat."
Lana menghela napas panjang. Ia tahu Raka benar. Ia harus memulihkan tenaganya
agar bisa kembali berjuang.
"Oh ya, Lan," Raka mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sesuatu pada Lana.
"Gue nemu ini di gudang kemarin. Kayaknya milik salah satu penyerang lo."
Lana melihat benda yang ditunjukkan Raka. Itu adalah sebuah kalung liontin
berbentuk naga, mirip dengan tato di lengan wanita muda yang menyerangnya. Liontin
itu terbuat dari perak dan tampak cukup mahal.

"Mungkin ini bisa jadi petunjuk," kata Raka.


Lana menerima liontin itu dan mengamatinya dengan seksama. Ia merasa ada sesuatu
yang familiar tentang liontin itu, tapi ia tidak bisa mengingatnya.

"Gue akan coba cari tahu tentang liontin ini," kata Lana.
Setelah Raka pergi, Lana mengambil laptopnya dan mulai mencari informasi tentang
liontin berbentuk naga di internet. Ia menjelajahi berbagai situs web dan forum online,
mencoba menemukan informasi yang relevan.
Setelah berjam-jam mencari, Lana akhirnya menemukan sesuatu yang menarik. Ia
menemukan sebuah artikel di sebuah blog tentang komunitas pecinta reptil yang
menggunakan liontin berbentuk naga sebagai simbol kelompok mereka. Artikel itu juga
menyebutkan sebuah toko online yang menjual berbagai macam aksesoris bertema
reptil, termasuk liontin berbentuk naga.
Lana langsung mengunjungi toko online tersebut. Ia menemukan liontin yang persis
sama dengan yang ia temukan di gudang. Di deskripsi produk, tertulis bahwa liontin
itu adalah edisi terbatas dan hanya diproduksi sebanyak 50 buah. Toko online itu juga
menyimpan data pembeli liontin tersebut.
Lana mencoba menghubungi pemilik toko online tersebut. Ia menjelaskan situasinya
dan meminta bantuan untuk mendapatkan informasi tentang pembeli liontin berbentuk
naga itu. Pemilik toko online itu setuju untuk membantu Lana. Ia mengirimkan data
pembeli liontin tersebut ke email Lana.
Lana membuka email itu dengan penuh harap. Ia menelusuri daftar nama pembeli
liontin itu satu per satu. Tiba-tiba, matanya tertuju pada salah satu nama di daftar itu:
Maya Kusuma.
Lana tersentak. Maya Kusuma. Nama itu tidak asing baginya. Ia pernah membaca
nama itu di sebuah artikel berita beberapa tahun lalu. Maya Kusuma adalah seorang
mantan narapidana yang terlibat dalam kasus pencurian dan penganiayaan.
Lana segera mencari artikel berita tentang Maya Kusuma di internet. Ia menemukan
foto Maya Kusuma di salah satu artikel itu. Dan ia terkejut saat melihat wajah Maya
Kusuma. Itu adalah wajah wanita muda dengan tato naga di lengannya, salah satu
penyerangnya di gudang.
Lana akhirnya menemukan salah satu potongan puzzle yang hilang. Ia sudah
mengetahui identitas salah satu penyerangnya. Dan ia yakin, ini baru permulaan.
Bab 6: Bayangan di Balik Tirai
Penemuan identitas Maya Kusuma bagaikan kepingan puzzle yang akhirnya ditemukan.
Lana merasa semangatnya kembali menyala. Ia yakin, Maya adalah kunci untuk
mengungkap misteri di balik foto-foto polaroid dan ancaman yang ia terima. Namun, ia juga
menyadari bahwa ia semakin dalam terjerumus ke dalam permainan berbahaya ini.
Musuh-musuhnya jelas tidak akan tinggal diam.
Dua hari berlalu sejak perkelahian di gudang. Luka-luka Lana mulai membaik, meskipun ia
masih harus menjalani perawatan di rumah sakit. Raka dan beberapa rekan dari "Suara
Rakyat" bergantian menjenguknya, membawa buah-buahan, majalah, dan bunga serta
memberikan semangat. Lana merasa tersentuh dengan kepedulian mereka, namun ia
juga merasa tidak nyaman karena harus merepotkan banyak orang.
"Lo harus banyak istirahat, Lan," kata Raka suatu sore saat menjenguk Lana, "biar
cepat pulih dan bisa balik ngejar berita lagi."
Lana tersenyum lemah. "Iya, Kak. Gue juga udah nggak sabar pengen keluar dari
sini." Ia menatap ke arah jendela, di mana matahari sore mulai terbenam, menghujani
langit dengan warna jingga dan ungu. "Gue ngerasa kayak burung yang terkurung di
dalam sangkar."
Raka menepuk pundak Lana dengan lembut. "Sabar, Lan. Lo pasti bisa lewatin ini
semua. Kita semua ada di sisi lo."
Lana mengangguk, merasa sedikit terhibur dengan kata-kata Raka. Namun, di balik
rasa terhibur itu, ada kegelisahan yang mendalam. Ia merasa ada sesuatu yang tidak
beres, seolah-olah ada bahaya yang mengintai di sekitarnya.
Malam harinya, setelah Raka dan rekan-rekannya pulang, Lana terbaring di ranjang
rumah sakit, mencoba untuk tidur. Namun, rasa gelisah itu semakin kuat. Ia merasa
seperti diawasi, seolah-olah ada sepasang mata yang menatapnya dari kegelapan.
Tiba-tiba, ia mendengar suara gesekan halus dari balik tirai jendela. Lana menahan
napas, jantungnya berdebar kencang. Ia mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa itu
hanya suara angin, tapi ia tahu ada sesuatu yang tidak beres.
Perlahan, tirai jendela itu terbuka. Sesosok bayangan muncul dari balik tirai. Lana
mengerjap, mencoba melihat dengan jelas siapa yang ada di sana. Namun, cahaya
remang-remang dari lampu jalan di luar jendela membuat sulit untuk melihat wajah
sosok itu.
Sosok itu melangkah masuk ke dalam kamar, menutup tirai di belakangnya. Lana bisa
melihat sosok itu dengan lebih jelas sekarang. Itu adalah seorang pria berbadan tegap
dengan wajah tertutup masker bedah. Ia mengenakan pakaian serba hitam dan
membawa sebuah pisau di tangannya.
Lana terkesiap, rasa takut menyergapnya. Ia ingin berteriak meminta tolong, tapi
suaranya tercekat di tenggorokannya.

"Siapa lo?" bisik Lana, suaranya bergetar.


Pria itu tidak menjawab. Ia hanya menatap Lana dengan tatapan dingin dan
mengancam. Ia mengangkat pisau di tangannya, mengarahkannya ke arah Lana.
"Lo udah terlalu banyak tahu," desis pria itu dengan suara serak yang disamarkan.
"Lo harus dihentikan."
Lana menelan ludah, tubuhnya gemetar ketakutan. Ia ingin melarikan diri, tapi ia
terjebak di ranjang rumah sakit. Ia memejamkan matanya, pasrah dengan nasibnya.
Namun, serangan itu tidak pernah mengenainya. Lana mendengar suara gaduh dan
erangan kesakitan. Ia membuka matanya dan melihat Raka sedang berkelahi dengan
pria itu.
Raka, yang seharusnya sudah pulang, entah bagaimana muncul di kamarnya dan
langsung menyerang pria bermasker itu. Ternyata Raka lupa membawa notes kecilnya
dan kembali untuk mengambilnya. Ia berhasil merebut pisau dari tangan pria itu dan
menendangnya hingga terjatuh. Pria itu mencoba bangkit, tapi Raka menindihnya dan
menghujaninya dengan pukulan.
"Brengsek! Berani lo nyentuh Lana!" teriak Raka dengan marah sambil terus
memukuli pria itu.
Pria itu mencoba melawan, tapi ia tidak berdaya melawan Raka yang lebih kuat dan
dipenuhi adrenalin. Ia meronta dan berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Raka.
Dalam pergumulan itu, pria bermasker itu berhasil menendang perut Raka hingga Raka
terhuyung ke belakang. Ia mengambil kesempatan itu untuk melarikan diri, menghilang
di balik tirai jendela dan melompat keluar.
Raka mencoba mengejarnya, tapi ia terlalu lambat. Pria itu sudah lenyap di kegelapan
malam.

Raka kembali ke sisi Lana, wajahnya dipenuhi kemarahan dan kecemasan.

"Lana, lo baik-baik aja?" tanya Raka dengan nada penuh kekhawatiran.


Lana mengangguk lemas, masih shock dengan kejadian yang baru saja dialaminya.
"Gue nggak apa-apa, Kak. Makasih udah selamatin gue."
Raka menghela napas lega. "Syukurlah. Gue udah nelpon polisi. Mereka sebentar lagi
sampai." Ia menatap Lana dengan intens. "Lo lihat wajah penyerang itu?"

Lana menggeleng. "Nggak, Kak. Wajahnya tertutup masker."


Raka mengumamkan sesuatu yang tidak didengar Lana. Ia tampak frustrasi karena
penyerang itu berhasil lolos.
"Lo istirahat ya, Lan. Gue tunggu di luar sampai polisi datang," kata Raka sambil
menyelimuti Lana.
Lana mengangguk patuh. Ia menatap Raka yang keluar dari kamarnya, rasa syukur
dan kekaguman bercampur di hatinya. Ia beruntung memiliki Raka di sisinya. Namun,
ia juga semakin penasaran dengan siapa dalang di balik semua ini dan apa tujuan
mereka sebenarnya.

Bab 7: Di Ujung Pisau


Kejadian penyerangan di rumah sakit membuat Lana semakin yakin bahwa ia telah
menyinggung orang-orang yang sangat berbahaya. Ia tidak bisa lagi menganggap remeh
ancaman yang ia terima. Ia harus lebih berhati-hati dan waspada. Namun, ia juga
semakin bertekad untuk mengungkap kebenaran, apapun risikonya.
Setelah polisi menangani kasus penyerangan itu, Lana dipindahkan ke ruang VIP
dengan penjagaan ketat. Raka mengusulkan agar Lana menyewa pengawal pribadi
untuk melindungi dirinya, namun Lana menolak. Ia merasa tidak nyaman dengan ide
itu. Ia lebih memilih mengandalkan kemampuannya sendiri dan bantuan dari orang-
orang yang ia percaya.
Lana memutuskan untuk menghubungi Maya Kusuma. Ia ingin menemui Maya dan
mencari tahu apa keterlibatan Maya dalam semua ini. Ia yakin Maya memiliki
informasi penting yang bisa membantunya mengungkap misteri ini.
Lana mendapatkan nomor telepon Maya dari data pembeli liontin yang ia dapatkan
dari toko online. Dengan sedikit ragu, ia menekan nomor itu di ponselnya.

"Halo?" suara seorang wanita terdengar di ujung telepon.

"Halo, apa benar ini dengan Maya Kusuma?" tanya Lana.

"Iya, benar. Siapa ini?" suara Maya terdengar waspada.

"Saya Lana. Saya ingin berbicara dengan Anda. Bisakah kita bertemu?"
Terdengar keheningan sejenak di ujung telepon. Lana bisa merasakan ketegangan di
seberang sana.
"Untuk apa?" tanya Maya akhirnya, suaranya penuh curiga.

"Ini tentang liontin berbentuk naga yang Anda beli di toko online," jawab Lana.
"Liontin?" Maya terdengar bingung. "Saya tidak mengerti."
"Saya menemukan liontin itu di sebuah gudang beberapa hari yang lalu," Lana
menjelaskan. "Gudang di mana saya diserang oleh beberapa orang, termasuk Anda."
Keheningan kembali menyelimuti telepon. Lana bisa mendengar suara napas Maya
yang memburu.

"Apa maksud Anda?" tanya Maya akhirnya, suaranya kini terdengar tegang dan tajam.
"Saya ingin tahu apa keterlibatan Anda dalam semua ini," kata Lana dengan tegas.
"Saya tahu Anda salah satu orang yang menyerang saya di gudang itu. Dan saya
yakin
Anda tahu sesuatu tentang orang-orang yang mengancam saya."
"Dengar ya," Maya mendesis, "saya tidak tahu apa yang Anda bicarakan. Anda salah
orang. Dan saya sarankan Anda berhenti mengikuti saya sebelum sesuatu yang buruk
terjadi pada Anda."
"Saya tidak mengikuti Anda," Lana menegaskan. "Saya punya bukti bahwa Anda
terlibat dalam semua ini. Dan saya tidak akan ragu untuk melaporkan Anda ke polisi
jika Anda tidak mau bekerja sama."
"Polisi?" Maya tertawa sinis. "Anda pikir polisi bisa menolong Anda? Mereka juga
bagian dari permainan ini. Lebih baik Anda diam dan melupakan semua ini sebelum
terlambat."
"Saya tidak takut dengan ancaman Anda," Lana menjawab dengan tegas. "Saya akan
mengungkap kebenaran, apapun yang terjadi."
"Terserah Anda," Maya berkata dengan nada acuh tak acuh. "Tapi jangan salahkan
saya jika sesuatu yang buruk terjadi pada Anda."
"Bagaimana kalau kita bertemu dan membicarakan ini baik-baik?" Lana menawarkan.
"Saya yakin kita bisa menyelesaikan ini dengan cara yang lebih baik daripada saling
mengancam."
Maya terdiam sejenak, seolah menimbang-nimbang tawaran Lana. "Baiklah," katanya
akhirnya. "Kita bertemu. Tapi jangan bawa siapapun. Hanya Anda dan saya."
Lana mengerutkan kening. Ia tidak ingin mengambil risiko dengan pergi sendiri. Tapi
ia juga tahu bahwa ia tidak punya banyak pilihan.
"Baiklah," Lana setuju. "Kita bertemu besok siang di Kafe Merpati, di pinggir kota."

"Oke," jawab Maya singkat, lalu menutup telepon.

Lana meletakkan ponselnya dengan perasaan campur aduk. Ia berhasil meyakinkan


Maya untuk bertemu, tapi ia juga merasa tidak nyaman dengan permintaan Maya
untuk datang sendiri. Ia harus memikirkan cara untuk melindungi dirinya di pertemuan
itu.
Keesokan harinya, Lana menyiapkan diri untuk pergi ke Kafe Merpati. Ia mengenakan
pakaian yang nyaman dan tidak mencolok, serta menyembunyikan pisau kecil di
dalam tasnya. Ia juga memberitahu Raka tentang pertemuan itu, walaupun ia tidak
memberitahu lokasi pastinya. Ia berpesan pada Raka untuk menghubunginya jika ia
tidak memberi kabar dalam dua jam.
Lana tiba di Kafe Merpati tepat waktu. Kafe itu terletak di pinggir kota, di sebuah
bangunan tua yang tampak sepi. Suasana di dalam kafe juga cukup sepi. Hanya ada
beberapa pengunjung yang duduk di meja-meja yang tersebar di ruangan itu.
Lana memilih meja di dekat jendela yang menghadap ke jalan. Ia duduk menghadap
pintu masuk, agar ia bisa melihat siapa saja yang masuk ke dalam kafe.
Beberapa saat kemudian, Maya tiba. Ia mengenakan jaket kulit hitam dan celana
jeans, rambutnya diikat ke belakang. Ia tampak lebih tenang dan percaya diri
dibandingkan saat mereka berbicara di telepon.
Maya melihat Lana dan berjalan menuju mejanya. Ia duduk di seberang Lana dengan
santai.

"Jadi, apa yang ingin Anda bicarakan?" tanya Maya dengan nada datar.
Lana menatap Maya dengan tajam. "Saya ingin tahu apa keterlibatan Anda dalam
semua ini," katanya dengan tegas. "Kenapa Anda dan teman-teman Anda menyerang
saya?"
Maya tersenyum sinis. "Anda yang memulai permainan ini, Nona Lana. Anda yang
mencari tahu tentang hal-hal yang tidak seharusnya Anda ketahui."
"Saya hanya melakukan pekerjaan saya sebagai jurnalis," jawab Lana. "Saya
mengungkap kebenaran."
"Kebenaran?" Maya tertawa mengejek. "Kebenaran versi siapa? Kebenaran Anda? Atau
kebenaran kami?"

"Kebenaran adalah kebenaran," Lana menegaskan. "Tidak ada versi yang berbeda."
"Anda naif sekali, Nona Lana," kata Maya dengan nada menyindir. "Di dunia ini,
tidak ada yang namanya kebenaran mutlak. Yang ada hanya persepsi."
"Saya tidak peduli dengan persepsi Anda," Lana menjawab dengan dingin. "Saya
hanya ingin tahu kenapa Anda menyerang saya."
"Anda ingin tahu?" Maya mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya menyipit.
"Baiklah, saya akan beritahu Anda. Kami menyerang Anda karena Anda sudah
mengganggu urusan kami. Anda sudah terlalu banyak tahu. Dan Anda harus
dihentikan." "Urusan apa?" tanya Lana penasaran.
"Itu bukan urusan Anda," jawab Maya dengan tajam. "Dan saya sarankan Anda
berhenti mencari tahu sebelum sesuatu yang buruk terjadi pada Anda."
"Saya tidak takut dengan ancaman Anda," Lana menjawab dengan tegas. "Saya akan
terus mencari tahu kebenaran, apapun yang terjadi."
Maya menatap Lana dengan sorot mata penuh kemarahan. "Anda keras kepala sekali,
Nona Lana. Anda akan menyesali ini."

"Kita lihat saja nanti," jawab Lana dengan tantangan di matanya.


Maya bangkit dari kursinya, wajahnya merah padam. "Sialan!" ia mengucapkan kata
itu dengan geram, lalu berbalik dan pergi meninggalkan kafe.
Lana menatap kepergian Maya dengan perasaan campur aduk. Ia gagal mendapatkan
informasi yang ia harapkan dari Maya. Bahkan, ia malah mendapatkan ancaman baru.
Namun, ia tidak akan menyerah. Ia akan terus berjuang untuk mengungkap kebenaran,
meskipun ia harus menghadapi bahaya yang semakin besar.

Bab 8: Menyingkap Tabir Sang Dermawan


Kegagalan pertemuan dengan Maya justru memicu api perlawanan dalam diri Lana. Ia seperti
detektif yang semakin tertantang ketika menemukan jalan buntu. Ia yakin, di balik sikap
dingin dan mengancam Maya, tersimpan informasi krusial yang bisa membongkar jaringan
misterius ini. Namun, ia harus mengubah taktik. Konfrontasi langsung hanya akan
menciptakan tembok yang lebih kokoh.
Lana kembali ke apartemennya, disambut keheningan yang membuatnya semakin fokus. Ia
merasa lebih kuat dan bertekad setelah pemulihan di rumah sakit. Ia tidak akan
membiarkan rasa takut melumpuhkannya. Ia adalah seorang jurnalis investigasi, dan ia
akan menggunakan semua kemampuannya untuk mengungkap kebenaran.
"Oke, Lana," gumamnya pada diri sendiri, menatap pantulannya di cermin. "Waktunya
bermain cerdas."
Ia menyusun strategi baru, memutuskan untuk mendekati misteri ini dari sudut yang
berbeda. Ia akan menggunakan keahliannya dalam penelusuran informasi dan analisis
data untuk mengungkap jaringan yang menghubungkannya dengan orang-orang di foto
polaroid itu.
Pertama, Lana fokus pada Herman Wijaya. Ia pernah mencoba menyelidiki Herman
sebelumnya, namun ia terbentur pada citra publik Herman yang nyaris sempurna:
dermawan, pengusaha sukses, dan disenangi banyak orang. Kali ini, ia akan menggali
lebih dalam, mencari retakan di balik topeng itu.
Lana memulai penyelidikannya dengan menelusuri jejak digital Herman. Ia
menggunakan berbagai tools dan teknik yang ia kuasai untuk mengumpulkan informasi
dari internet. Ia menjelajahi situs web perusahaan Herman, Wijaya Group, menganalisis
laporan keuangan dan struktur organisasi.
"Hmm... laba perusahaan meningkat tajam dalam lima tahun terakhir," gumam Lana
sambil mencatat beberapa angka di notesnya. "Tapi kok ada beberapa pos pengeluaran
yang aneh ya? Dan siapa saja investor mereka?"
Ia menelusuri lebih lanjut, mencari tahu siapa saja rekan bisnis dan afiliasi Herman.
Ia menemukan nama-nama yang cukup dikenal di dunia bisnis dan politik, beberapa
di antaranya pernah terlibat dalam kasus kontroversial. Lana mencatat semua nama itu,
menghubungkan mereka dengan Herman dalam sebuah diagram jaringan yang ia buat
di papan tulis besar di apartemennya.
Ia juga menelusuri berbagai database online, mencari artikel berita, dokumen publik,
dan catatan pengadilan yang berkaitan dengan Herman dan perusahaannya. Ia
menemukan beberapa artikel yang menyebutkan tentang tuduhan penggelapan pajak
dan pelanggaran lingkungan yang dilakukan oleh perusahaan Herman, namun kasus-
kasus itu selalu berakhir tanpa putusan yang jelas.

"Pasti ada yang melindungi dia," pikir Lana. "Tapi siapa?"


Ia mulai mencari koneksi antara Herman dengan pejabat-pejabat pemerintah,
menganalisis donasi politik yang diberikan oleh Wijaya Group dan jejaring sosial
mereka. Ia menemukan beberapa nama yang muncul berulang kali, baik di lingkaran
bisnis maupun politik Herman. Lana menandai nama-nama itu di diagram jaringannya,
menghubungkan mereka dengan garis tebal.
Selain penelusuran online, Lana juga menggunakan jaringan kontaknya di dunia
jurnalistik. Ia menghubungi beberapa rekan jurnalis yang pernah meliput berita tentang
Herman Wijaya dan perusahaannya.
"Halo, Ben? Lana ini. Gue lagi selidiki kasus Herman Wijaya nih. Lo kan pernah
wawancara dia dulu, ya? Ada info menarik nggak tentang dia?"
Dari wawancara dan percakapan dengan narasumber-narasumber ini, Lana mendapatkan
informasi berharga tentang cara kerja Herman Wijaya. Ia mendengar cerita tentang
intimidasi, suap, dan manipulasi yang dilakukan oleh Herman untuk mencapai
tujuannya.
"Wah, parah juga nih si Herman," gumam Lana setelah menutup telepon dari seorang
aktivis lingkungan yang pernah berkonflik dengan perusahaan Herman. "Dia nggak
segan-segan nyingkirin siapapun yang ngalangin jalannya."
Lana mulai melihat pola yang menghubungkan Herman dengan orang-orang di foto
polaroid. Ia menduga bahwa mereka adalah bagian dari jaringan yang dibangun oleh
Herman untuk melindungi kepentingannya dan menyingkirkan siapapun yang
mengancamnya.
Maya Kusuma, dengan latar belakang kriminalnya, kemungkinan besar adalah "tangan
kanan" Herman yang bertugas menangani urusan-urusan kotor. Pemuda berwajah
dingin yang menyerangnya di gudang dan rumah sakit kemungkinan adalah seorang
"eksekutor" yang disewa oleh Herman. Sedangkan wanita paruh baya itu... Lana masih
belum yakin apa perannya dalam jaringan ini.
Untuk mengungkap lebih lanjut, Lana membutuhkan akses ke informasi yang lebih
mendalam. Ia memutuskan untuk mencari bantuan dari seorang hacker yang ia kenal,
seorang ahli teknologi yang bisa membantunya menembus sistem keamanan dan
mendapatkan data-data yang ia butuhkan.

"Halo, Alex? Lama nggak kontak nih. Gue butuh bantuan lo dong..."
Lana menjelaskan situasinya pada Alex, sang hacker. Alex, yang tertarik dengan kasus
ini, setuju untuk membantu Lana. Ia memberikan Lana beberapa perangkat lunak dan
instruksi untuk mengumpulkan data yang ia butuhkan.
Dengan bantuan Alex, Lana berhasil mengakses email dan dokumen-dokumen pribadi
Herman Wijaya. Ia juga berhasil melacak transaksi keuangan dan komunikasi antara
Herman dengan orang-orang di foto polaroid.
"Wow," gumam Lana sambil membaca email-email Herman. "Ini lebih parah dari yang
gue bayangkan."
Ia menyisir setiap data dengan cermat, mencari petunjuk dan koneksi yang bisa
membantunya memecahkan misteri ini. Ia bekerja tanpa henti, menyusun
potonganpotongan puzzle yang tersebar. Ia tahu ia semakin dekat dengan kebenaran,
namun ia juga tahu bahwa ia sedang berjalan di atas es tipis. Satu langkah salah, dan
ia bisa terjerumus ke dalam jurang yang dalam.
Bab 9: Pertemuan Rahasia
Lana merasa seperti sedang memegang bom waktu. Data-data yang ia peroleh dari Alex, sang
hacker, membuka mata tentang jaringan korupsi dan kejahatan yang diotaki Herman
Wijaya. Email-email, laporan keuangan, dan rekaman percakapan itu menunjukkan
betapa dalam dan luasnya jaringan tersebut mencengkeram kota Ashton.
"Ini lebih besar dari yang gue bayangkan," gumam Lana, menyandarkan tubuhnya di
kursi kerjanya. Ia telah berhari-hari bekerja tanpa henti, menganalisis data,
menghubungkan titik-titik, dan membangun gambaran lengkap tentang konspirasi ini.
Ia menemukan bukti bahwa Herman Wijaya tidak hanya terlibat dalam penggelapan
pajak dan pencucian uang, tetapi juga penyuapan, pemalsuan dokumen, dan bahkan
pembunuhan. Jaringannya melibatkan pejabat-pejabat pemerintah, pengusaha, dan
orangorang berpengaruh lainnya. Mereka bekerja sama untuk memperoleh keuntungan
pribadi dan menyingkirkan siapapun yang menghalangi jalan mereka.
Lana juga menemukan informasi tentang peran Maya Kusuma dalam jaringan ini.
Maya bertindak sebagai penghubung antara Herman dengan dunia bawah tanah. Ia
bertugas mencari orang-orang untuk melakukan pekerjaan kotor, seperti mengintimidasi,
menculik, dan bahkan membunuh.
Pemuda berwajah dingin yang menyerangnya di gudang dan rumah sakit adalah salah
satu orang suruhan Maya. Namanya Dewa, seorang mantan preman yang kini bekerja
sebagai eksekutor untuk Herman.
Sedangkan wanita paruh baya yang juga ada di foto polaroid adalah Bu Retno,
seorang rentenir yang memiliki banyak koneksi dengan pejabat-pejabat korup. Ia
bertugas memberikan pinjaman kepada orang-orang yang membutuhkan uang dengan
bunga yang sangat tinggi, kemudian memeras mereka jika mereka tidak bisa
membayar hutang.
Lana menyadari bahwa ia telah menemukan sesuatu yang sangat besar dan berbahaya.
Ia tahu ia harus berhati-hati. Ia tidak boleh gegabah dan bertindak sendiri. Ia harus
mencari bantuan dari orang-orang yang ia percaya.
Lana memutuskan untuk menghubungi Raka dan menceritakan semua yang ia temukan.
Raka terkejut mendengar cerita Lana. Ia tidak menyangka bahwa Herman Wijaya
terlibat dalam jaringan kejahatan yang sedemikian besar.
"Ini berbahaya banget, Lan," kata Raka dengan nada khawatir. "Lo harus hati-hati.
Herman Wijaya bukan orang yang bisa dimain-mainkan."
"Gue tahu, Kak," jawab Lana. "Makanya gue butuh bantuan lo. Kita harus ungkap
kejahatan Herman dan jaringannya."
Raka mengangguk setuju. "Oke, Lan. Gue akan bantu lo. Tapi kita harus buat rencana
yang matang. Kita nggak boleh gegabah."
Lana dan Raka mendiskusikan rencana mereka dengan cermat. Mereka memutuskan
untuk mengumpulkan lebih banyak bukti dan mencari cara untuk membongkar jaringan
Herman Wijaya ke publik.
Beberapa hari kemudian, Lana mendapatkan informasi penting dari Alex. Alex berhasil
menyadap telepon Herman Wijaya dan mendapatkan informasi tentang sebuah
pertemuan rahasia yang akan diadakan oleh Herman dan jaringannya. Pertemuan itu
akan diadakan di sebuah vila terpencil di luar kota pada malam minggu.
Lana dan Raka melihat ini sebagai kesempatan emas untuk mendapatkan bukti yang
kuat tentang kejahatan Herman Wijaya. Mereka memutuskan untuk menyusup ke
pertemuan itu dan merekam semua yang terjadi.
"Kita harus hati-hati, Lan," kata Raka. "Ini sangat berbahaya. Kita bisa tertangkap
atau bahkan dibunuh."
"Gue tahu, Kak," jawab Lana. "Tapi kita nggak punya pilihan lain. Kita harus ambil
risiko ini."
Lana dan Raka menyusun rencana dengan cermat. Mereka akan pergi ke vila itu pada
malam minggu dan menyusup ke dalam vila saat pertemuan sedang berlangsung.
Mereka akan menggunakan peralatan canggih untuk merekam percakapan dan kegiatan
di dalam vila.
Malam minggu pun tiba. Lana dan Raka pergi ke vila itu dengan menggunakan mobil
Raka. Mereka memarkir mobil mereka di kejauhan dan berjalan kaki menuju vila.
Vila itu terlihat gelap dan sepi. Hanya ada beberapa lampu yang menyala di dalam
vila. Lana dan Raka menyelinap masuk ke dalam vila melalui pintu belakang.
Mereka berhasil masuk ke dalam vila tanpa terdeteksi. Mereka menyusuri lorong-
lorong yang gelap dan menemukan ruangan di mana pertemuan sedang berlangsung.
Lana dan Raka bersembunyi di balik dinding dan mengintip ke dalam ruangan.
Mereka melihat Herman Wijaya sedang duduk di sebuah meja besar bersama beberapa
orang lainnya. Di antara mereka ada Maya Kusuma, Dewa, dan Bu Retno.
Mereka sedang membicarakan tentang berbagai macam hal, mulai dari proyek-proyek
ilegal hingga rencana untuk menyingkirkan lawan-lawan politik mereka. Lana dan
Raka merekam semua percakapan itu dengan peralatan mereka.
Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka dan seorang pria masuk ke dalam ruangan. Pria itu
membawa sebuah pesan untuk Herman Wijaya.
Herman Wijaya membaca pesan itu dan wajahnya berubah menjadi pucat. Ia berdiri
dan berkata dengan nada panik, "Kita ketauan! Ada yang menyusup ke dalam vila!"
Semua orang di dalam ruangan itu terkejut dan panik. Mereka mulai berlarian keluar
dari ruangan.
Lana dan Raka menyadari bahwa mereka dalam bahaya. Mereka harus segera keluar
dari vila itu sebelum mereka tertangkap.

“Lan kita harus segera pergi dari tempat ini!!” ucap Raka dengan wajah serius,
Mereka berlari keluar dari vila melalui pintu belakang. Mereka berlari secepat
mungkin menuju mobil mereka.

Namun, mereka terlambat. Herman Wijaya dan orang-orangnya sudah mengepung


mereka.

"Tangkap mereka!" teriak Herman Wijaya.

Lana dan Raka terkepung. Mereka tidak punya jalan keluar.

Bab 10: Secercah Harapan di Tengah Keputusasaan


Udara malam terasa dingin menusuk tulang. Lana bisa merasakan keringat dingin membasahi
punggungnya. Ia dan Raka terjebak, dikepung oleh Herman Wijaya dan anak buahnya di
halaman belakang vila. Cahaya bulan purnama yang samar-samar menerpa wajah-wajah
bengis para penjahat, menciptakan bayangan-bayangan menakutkan yang menari-nari di
dinding vila.
"Kalian tidak punya peluang untuk lari," ujar Herman Wijaya dengan suara dingin yang
menusuk hingga ke relung hati Lana. Matanya yang tajam menatap Lana dengan sorot penuh
ancaman. "Serahkan data-data itu, atau kalian akan merasakan akibatnya."
Dewa, si eksekutor berwajah dingin, melangkah maju. Sinar bulan memantul di permukaan
besi yang digenggamnya erat. Lana bisa mendengar derit besi itu saat Dewa
mengayunkannya, siap untuk menyerang. Lana merasakan jantungnya berdebar kencang,
hampir melompat keluar dari dadanya.
"Jangan main-main dengan kami!" teriak Maya Kusuma, suaranya melengking tinggi,
memecah kesunyian malam. "Kalian sudah melewati batas!"
Bu Retno, si rentenir tua, tertawa cekikikan. Suaranya terdengar seperti lolongan serigala
yang kelaparan. "Kalian akan menyesal telah ikut campur urusan kami!"
Lana melirik Raka, mencari sedikit ketenangan di mata sahabatnya itu. Namun, yang ia
temukan justru tatapan kosong yang sulit diartikan. Sebuah firasat buruk mulai menggerogoti
hatinya.
Tiba-tiba, Raka bergerak. Ia mendorong Lana ke samping, tepat saat Dewa mengayunkan
besi ke arahnya. Lana terhuyung dan terjatuh di atas rerumputan, besi itu meleset dan hanya
mengenai lengan Raka. Lana mendengar Raka mengerang kesakitan.

"Raka!" teriak Lana, panik.


Raka menahan serangan Dewa dengan sekuat tenaga. Ia berkelahi dengan mati-matian,
namun ia jelas kewalahan melawan Dewa yang lebih besar dan kuat. Lana ingin
membantu, namun ia terlalu takut untuk bergerak.

"Lari, Lan!" teriak Raka di sela-sela pertarungan. "Gue tahan mereka!"


Lana tertegun. Ia tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Mengapa Raka
melindunginya?
Bukankah mereka seharusnya bersama-sama melawan Herman Wijaya?

"Jangan bodoh, Kak!" teriak Lana. "Kita lawan mereka bersama!"

Tapi Raka menggeleng. "Pergi, Lan! Selamatkan diri lo! Ini satu-satunya kesempatan!"
Lana masih ragu, namun ia melihat tekad di mata Raka. Ia tahu Raka tidak bercanda.
Dengan berat hati, Lana bangkit dan berlari ke arah hutan. Ia mendengar suara
perkelahian di belakangnya, suara Raka yang berteriak kesakitan, dan suara tawa
Herman Wijaya yang mengerikan.
Ranting-ranting pohon menampar wajah Lana saat ia berlari menembus kegelapan
hutan.
Air mata mengalir di pipinya, bercampur dengan keringat dan debu. Ia tidak percaya
Raka telah mengkorbankan dirinya. Mengapa Raka mengorbankan dirinya seperti itu?
Apa yang sebenarnya terjadi?
Di tengah kepanikan dan ketakutannya, Lana tersandung akar pohon dan terjatuh. Ia
meringkuk di tanah, napasnya tersengal-sengal. Ia merasa hancur, ketakutan, dan
sendirian.
Ia merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan perekam suara yang mereka gunakan
untuk merekam pertemuan rahasia Herman Wijaya. Syukurlah, alat itu masih utuh. Ia
memegang erat perekam itu, satu-satunya bukti yang ia miliki untuk mengungkap
kejahatan Herman Wijaya.
"Gue nggak akan biarin lo lolos, Herman," gumam Lana dengan suara bergetar. "Gue
akan bongkar semua kejahatan lo, demi Raka, demi keadilan."
Baik, aku mengerti! Akan kubuat ulang bab 11 dengan plot twist Raka yang ternyata
berkhianat. Siap-siap untuk kejutan yang menghancurkan hati, ya!
Tiba-tiba, suara langkah kaki memecah kesunyian. Lana membeku, sekujur tubuhnya
menegang. Ia mengintip dari balik pohon, mencoba mengenali sosok yang mendekat.
Bayangan hitam itu semakin jelas, dan jantung Lana seakan berhenti berdetak. Raka!
"Raka?" Lana berbisik, suaranya tercekat di tenggorokan. Ia berlari ke arah Raka, lupa
akan rasa sakit di kakinya. "Raka, syukurlah kamu selamat!"
Raka terlihat terluka, bajunya robek dan wajahnya lebam. Ia tersenyum lemah ke arah
Lana, namun senyum itu tidak mencapai matanya. Ada sesuatu yang berbeda dalam
tatapan Raka, sesuatu yang dingin dan asing.

"Lana..." ucap Raka lirih. Ia membuka tangannya, seolah ingin merangkul Lana.
Tanpa ragu, Lana menerjang ke pelukan Raka. Ia terlalu bahagia melihat Raka selamat
hingga ia tidak menyadari kilatan tajam di mata Raka.
Saat itulah, Raka bergerak. Dengan cepat, ia menghunus sebuah pisau dari balik
bajunya dan menghujamkannya ke arah Lana. Lana terkejut, matanya melebar tidak
percaya. Ia tidak sempat menghindar. Pisau itu menancap di bahunya, menimbulkan
rasa sakit yang menyengat.
Lana menjerit kesakitan, dorongan adrenalin membuatnya mampu menjauh dari Raka.
Ia menatap Raka dengan tatapan penuh luka dan kecewa.
"Raka... kenapa?" lirih Lana, suaranya bergetar. Ia tidak mengerti. Mengapa Raka,
orang yang ia percaya, mengkhianatinya?
Raka menatap Lana dengan tatapan dingin. "Maaf, Lana," ucapnya datar. "Aku tidak
punya pilihan."
Lana terhuyung mundur, rasa sakit di bahunya semakin menjadi-jadi. Ia merasa
dikhianati, disakiti, dan kecewa. Ia tidak menyangka Raka, orang yang ia anggap
sebagai sahabat, ternyata adalah musuh dalam selimut.
Raka melangkah mendekat, pisau di tangannya masih meneteskan darah Lana. "Ini
semua demi keluargaku," ujar Raka dengan suara tanpa penyesalan. "Herman Wijaya
mengancam akan menyakiti mereka jika aku tidak membantumu."
Lana terduduk lemas, kehilangan semua kekuatannya. Ia menatap Raka dengan nanar.
"Jadi, selama ini kamu hanya berpura-pura menjadi temanku?"
Raka tidak menjawab. Ia hanya menatap Lana dengan tatapan kosong. Kemudian, ia
berbalik dan pergi meninggalkan Lana yang terluka dan hancur.
Lana menangis tersedu-sedu, rasa sakit di bahunya bercampur dengan rasa sakit di
hatinya. Ia merasa sendirian, terisolasi, dan tak berdaya. Ia tidak tahu harus berbuat
apa atau ke mana harus pergi. Dunianya runtuh, dan ia terjebak dalam kegelapan
yang pekat.

Bab 11: Keputusasaan


Rasa sakit yang membakar di bahu Lana seakan menyadarkannya dari mimpi buruk. Ia
menatap Raka dengan tatapan tak percaya, air mata bercampur darah mengalir di wajahnya.
Pengkhianatan Raka terasa lebih menyakitkan daripada luka fisik yang dideritanya.
"Raka... kumohon..." Lana terbata-bata, suaranya tercekat oleh rasa sakit dan keputusasaan.
"Kenapa...?"
Raka hanya diam, tatapannya dingin dan kosong. Ia menarik pisau dari bahu Lana,
membuat gadis itu menjerit kesakitan. Lana terhuyung mundur, mencoba menjauh dari
Raka yang kini terlihat seperti monster berdarah dingin.
Naluri bertahan hidup menyala dalam diri Lana. Ia harus melarikan diri, atau ia akan
mati di tangan orang yang pernah ia percaya. Dengan sisa tenaga, Lana bangkit dan
berlari pincang menembus hutan. Ranting-ranting pohon mencakar kulitnya, namun ia
tidak peduli. Ia harus menjauh dari Raka, dari pengkhianatan yang menghancurkan
hatinya.
Tapi Raka tidak membiarkannya lolos. Ia mengejar Lana dengan gerak cepat dan
gesit, seperti predator yang memburu mangsanya. Lana terpeleset dan terjatuh, rasa
sakit di kakinya menyambar seperti petir. Ia menoleh ke belakang dan melihat Raka
menjulang di atasnya, pisau di tangannya berkilat mengancam.

"Tidak!" jerit Lana ketakutan.


Raka menghujamkan pisau ke arah kaki Lana, membuat gadis itu menjerit kesakitan.
Lana terguling kesamping, menghindari tusukan berikutnya. Ia merangkak mundur,
mencoba menjauh dari Raka. Namun, Raka terus menekan, seolah ingin mengakhiri
hidup Lana saat itu juga.
Lana merasa putus asa. Ia terluka, ketakutan, dan sendirian. Ia tidak punya
kesempatan melawan Raka. Ia akan mati di sini, di tengah hutan yang gelap, di
tangan orang yang pernah ia anggap sahabat.
Namun, di saat keputusasaan mencengkeram jiwanya, mata Lana tertumbuk pada
sebuah batu besar di dekatnya. Sebuah ide gila muncul di benaknya. Dengan sisa
tenaga, Lana merangkak menuju batu itu dan menggenggamnya erat.
Raka mendekat, siap untuk memberikan tusukan terakhir. Namun, sebelum ia sempat
bergerak, Lana mengumpulkan semua kekuatannya dan mengayunkan batu itu ke arah
Raka.
Batu itu mengenai kepala Raka dengan keras. Raka terhuyung mundur, pisau di
tangannya terlepas. Ia terjatuh ke tanah, darah mengalir deras dari kepalanya.
Lana terengah-engah, napasnya memburu. Ia menatap Raka yang terkapar di tanah,
tubuhnya berlumuran darah. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lakukan.
Ia telah menyakiti Raka, orang yang pernah ia cintai.
Namun, di saat yang sama, Lana merasa lega. Ia selamat. Ia telah membela diri dari
pengkhianatan Raka. Ia telah memberikan hukuman yang setimpal pada orang yang
telah menghancurkan hatinya.
Lana bangkit dengan susah payah, tubuhnya bergetar karena rasa sakit dan adrenalin.
Ia melirik Raka sekali lagi, kemudian berbalik dan pergi meninggalkan tempat itu. Ia
harus mencari pertolongan, sebelum ia kehabisan darah dan mati di tengah hutan.
Setiap langkah terasa berat, setiap tarikan napas mengirimkan gelombang rasa sakit yang
menusuk dari luka di bahu dan kakinya. Darah terus mengalir, membasahi pakaian dan tanah
di bawah kakinya.
Ia merasa pusing dan lemas, pandangannya mulai kabur. Namun, ia tidak boleh
menyerah. Ia harus menemukan jalan keluar dari hutan ini, mencari pertolongan
sebelum ia kehabisan darah dan mati di tengah kesunyian malam.
Berjalan semakin sulit, medan yang menanjak dan berbatu semakin menguras
tenaganya. Lana terpikir untuk berteriak meminta pertolongan, namun suaranya terlalu
lemah, tenggorokannya kering kerontang. Ia takut jika teriakannya malah menarik
perhatian binatang buas atau lebih parah lagi, Herman Wijaya dan anak buahnya.
Di tengah kegelapan dan keputusasaan itu, Lana melihat sebuah goa kecil di sisi
tebing. Ia merangkak masuk ke dalam goa, mencari perlindungan dari dinginnya
malam dan ancaman yang tak diketahui. Goa itu gelap dan lembab, namun
memberikan sedikit rasa aman bagi Lana.
Ia bersandar di dinding goa, mencoba mengatur napasnya yang tersengal-sengal.
Lukalukanya berdenyut-denyut, namun rasa sakit di hatinya jauh lebih menyiksa. Ia
merasa dikhianati, ditinggalkan, dan terluka baik secara fisik maupun emosional.
Lana memejamkan matanya, mencoba menahan air mata yang ingin tumpah. Ia terlalu
lelah untuk menangis, terlalu lelah untuk merasakan apapun. Ia hanya ingin semua ini
berakhir.
Bab 12: Anjing Penyelamat
Lana terbaring lemah di dalam goa, napasnya tersengal-sengal. Luka-lukanya berdenyut
menyakitkan, namun rasa sakit di hatinya jauh lebih menyiksa. Ia merasa dikhianati,
ditinggalkan, dan terluka, baik secara fisik maupun emosional.
Di tengah kegelapan dan keputusasaan itu, Lana mendengar suara langkah kaki mendekat. Ia
membuka matanya dan melihat sesosok bayangan muncul di pintu masuk goa. Jantungnya
berdebar kencang. Apakah Herman Wijaya atau anak buahnya yang datang untuk
mencarinya?
Namun, yang muncul dari balik kegelapan adalah seekor anjing. Anjing itu berukuran
sedang, dengan bulu coklat kusam dan mata yang tajam. Ia menatap Lana dengan
waspada, menggeram pelan.
Lana takut, namun ia berusaha untuk tidak menunjukkan ketakutannya. Ia mengulurkan
tangannya perlahan, mencoba mendekati anjing itu.

"Hei... jangan takut..." ucap Lana dengan suara lirih. "Aku tidak akan menyakitimu..."
Anjing itu masih menggeram, namun ia tidak menyerang. Ia menatap Lana dengan
intens, seolah mencoba menilai apakah gadis itu berbahaya atau tidak.
Lana terus mengulurkan tangannya, sambil terus berbicara dengan suara lembut.
Perlahanlahan, anjing itu mulai menurunkan kewaspadaannya. Ia mendekat ke arah
Lana dan mengendus tangannya.
Lana tersenyum kecil. Ia merasa ada sebuah koneksi dengan anjing itu, sebuah ikatan
yang terjalin di tengah kesendirian dan keputusasaan. Ia mengusap kepala anjing itu
dengan lembut, dan anjing itu merespon dengan menjilati tangan Lana.
Anjing itu kemudian menunduk dan menjilati luka di kaki Lana. Lana terkejut, namun
ia membiarkan anjing itu melanjutkan aktivitasnya. Lidah anjing yang hangat dan
kasar terasa menenangkan di kulitnya yang terluka.
Tiba-tiba, anjing itu berdiri dan menyalak ke arah luar goa. Lana mengikuti arah
pandangan anjing itu dan melihat sesosok bayangan muncul di pintu masuk goa. Kali
ini, Lana tidak merasa takut. Ia tahu anjing itu tidak akan membiarkan sesuatu yang
buruk terjadi padanya.
Bayangan itu semakin mendekat, dan Lana menyadari itu adalah seorang wanita paruh
baya dengan wajah ramah. Wanita itu terlihat khawatir saat melihat Lana yang
berlumuran darah dan terluka parah.

"Ya ampun, Nak! Apa yang terjadi padamu?" tanya wanita itu dengan khawatir.
Lana tersenyum lemah. "Tolong... saya butuh pertolongan..." ucapnya lirih.
Wanita itu segera membantu Lana keluar dari goa dan membawanya ke rumahnya
yang terletak tidak jauh dari situ. Lana menyadari anjing itu mengikuti mereka dari
belakang.
"Ini Si Koko," kata wanita itu sambil menunjuk anjing itu. "Dia anjing saya.
Sepertinya dia yang menemukan kamu di hutan."
Lana tersenyum dan mengusap kepala Si Koko. Ia bersyukur anjing itu telah
menemukannya dan membawanya pada wanita baik hati ini.
"Nama saya Mbok Darmi," kata wanita itu sambil membantu Lana berbaring di
tempat tidur. "Kamu siapa? Dan apa yang terjadi padamu?"
Lana menceritakan semua yang terjadi padanya pada Mbok Darmi, tentang
pengkhianatan Raka dan luka-luka yang dideritanya. Mbok Darmi mendengarkan
dengan seksama, sesekali menggelengkan kepalanya dan menunjukkan ekspresi kaget
dan iba.
Setelah Lana selesai bercerita, Mbok Darmi dengan telaten membersihkan dan
membalut luka-luka Lana. Ia juga memberikan Lana makanan dan minuman hangat.
Lana merasa nyaman dan aman di bawah perawatan Mbok Darmi.

"Istirahatlah, Nak," kata Mbok Darmi dengan lembut. "Kamu aman sekarang."
Lana tersenyum dan menutup matanya. Ia merasa lelah, namun ia juga merasa tenang.
Ia tahu ia berada di tangan yang tepat. Si Koko berbaring di samping tempat tidur
Lana, menemaninya tidur.

***
Lana terbangun dengan keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Napasnya memburu,
jantungnya berdebar kencang. Mimpi buruk itu kembali menghantuinya, mimpi tentang Raka
yang menghujamkan pisau ke arahnya, mimpi tentang darah dan pengkhianatan.
Ia menatap sekeliling dengan bingung. Ia berada di sebuah kamar tidur yang
sederhana, berbaring di atas tempat tidur yang empuk. Sinar matahari mengintip
melalui celahcelah jendela, menerangi ruangan dengan hangat. Di sampingnya, Si
Koko tidur dengan tenang.
Perlahan, ingatan tentang peristiwa yang menimpanya kembali menyerbu pikiran Lana.
Ia ingat bagaimana ia melarikan diri dari Raka, bagaimana ia ditemukan oleh Mbok
Darmi dan Si Koko, bagaimana ia dirawat dengan penuh kasih sayang oleh wanita tua
itu.
Lana meraba bahu dan kakinya yang terbalut perban. Luka-lukanya masih terasa nyeri,
namun ia bersyukur masih hidup. Ia berhutang budi pada Mbok Darmi dan Si Koko
yang telah menyelamatkannya.
Pintu kamar terbuka, dan Mbok Darmi masuk dengan segelas teh hangat dan sepiring
roti panggang. "Selamat pagi, Nak," sapa Mbok Darmi dengan senyum ramah.
"Bagaimana keadaanmu hari ini?"

Lana tersenyum kecil. "Sudah lebih baik, Mbok. Terima kasih atas semuanya."
Mbok Darmi meletakkan teh dan roti di meja samping tempat tidur. "Sama-sama,
Nak. Kamu harus banyak istirahat agar cepat pulih."
Lana mengangguk patuh. Ia mengambil teh dan roti dan memakannya perlahan. Mbok
Darmi duduk di sisi tempat tidur, menemaninya sarapan.
"Mbok, apa yang akan saya lakukan sekarang?" tanya Lana dengan lirih. "Saya tidak
tahu harus ke mana lagi."
Mbok Darmi menatap Lana dengan penuh pengertian. "Kamu tidak perlu khawatir,
Nak. Kamu boleh tinggal di sini selama yang kamu butuhkan. Anggap saja rumah ini
sebagai rumahmu sendiri."
Lana tersenyum haru. Ia merasa beruntung memiliki Mbok Darmi di sisinya. Wanita
tua itu memberikan rasa aman dan nyaman yang sangat ia butuhkan saat ini.
"Tapi... bagaimana dengan Herman Wijaya?" tanya Lana dengan nada khawatir. "Dia
pasti masih mencari saya."
Mbok Darmi menggelengkan kepalanya. "Kamu tidak perlu khawatir tentang itu, Nak.
Rumah ini terpencil dan jarang dikunjungi orang. Herman Wijaya tidak akan
menemukanmu di sini."
Lana menghela napas lega. Ia merasa lebih tenang setelah mendengar kata-kata Mbok
Darmi.
"Mbok, saya ingin mengungkap kejahatan Herman Wijaya," ucap Lana dengan tekad
yang kuat. "Saya ingin membawanya ke pengadilan dan memastikan dia mendapatkan
hukuman yang setimpal."
Mbok Darmi menatap Lana dengan kagum. "Kamu gadis yang berani, Nak. Mbok
bangga padamu."
"Tapi... bagaimana caranya?" tanya Lana dengan nada bingung. "Saya tidak punya
apaapa lagi. Raka telah mengkhianati saya, dan saya tidak tahu harus meminta
bantuan pada siapa."
Mbok Darmi tersenyum misterius. "Jangan khawatir, Nak. Mbok punya kenalan yang
bisa membantumu."
Bab 14: Rahasia di Balik Kabut
Lana terbangun di kamar sederhana Mbok Darmi, sinar matahari pagi yang hangat
menembus jendela kayu. Luka-lukanya terasa nyeri, namun ia merasa jauh lebih baik
dibandingkan saat pertama kali tiba di pondok kecil di tengah pegunungan itu. Si
Koko, anjing penyelamatnya, berbaring di samping tempat tidur, sesekali mengedikkan
telinganya dan mengeluarkan dengkuran halus.
Mbok Darmi masuk membawa semangkuk bubur ayam dan segelas teh herbal hangat.
Wajahnya yang keriput dihiasi senyum tulus, menenangkan hati Lana yang masih
dipenuhi kecemasan.

"Makanlah dulu, Nak," kata Mbok Darmi lembut. "Kamu perlu tenaga untuk pulih."
Lana menuruti perkataan Mbok Darmi, menikmati bubur ayam yang lezat dan
menghangatkan perutnya. Ia menceritakan mimpi buruk yang dialaminya pada Mbok
Darmi, tentang Raka dan pengkhianatannya.
Mbok Darmi mendengarkan dengan sabar, kemudian berkata, "Luka di hatimu memang
lebih sulit sembuh daripada luka di tubuhmu, Nak. Tapi kamu harus kuat. Waktu akan
menyembuhkan semuanya."
Lana mengangguk, namun ia masih merasa ragu. Bagaimana ia bisa melupakan
pengkhianatan Raka? Bagaimana ia bisa mempercayai orang lain lagi setelah apa yang
dialaminya?
"Mbok pernah bilang punya kenalan yang bisa membantu saya," Lana mengingatkan
Mbok Darmi. "Siapa dia?"
Mbok Darmi tersenyum misterius. "Dia seorang pertapa yang tinggal di puncak
gunung. Orang-orang menyebutnya Ki Jaga. Dia memiliki kebijaksanaan dan
pengetahuan yang luar biasa. Mungkin dia bisa membantumu menemukan jalan keluar
dari masalahmu."
Lana tertegun. Seorang pertapa? Apakah benar ada orang seperti itu di dunia nyata?
Namun, di saat yang sama, ia merasa sebuah harapan baru muncul di hatinya.
Mungkin Ki Jaga benar-benar bisa membantunya.

"Bagaimana saya bisa menemui Ki Jaga, Mbok?" tanya Lana penuh harap.
"Perjalanannya cukup sulit, Nak," jawab Mbok Darmi. "Kamu harus mendaki gunung
yang curam dan melewati hutan yang lebat. Tapi jika kamu benar-benar ingin
menemuinya, Mbok akan menunjukkan jalannya."
Lana tidak ragu lagi. Ia harus menemui Ki Jaga. Ia harus menemukan jawaban atas
pertanyaan-pertanyaan yang menghantuinya, dan ia harus menemukan cara untuk
mengungkap kejahatan Herman Wijaya.
Keesokan harinya, setelah lukanya sedikit membaik, Lana bersiap untuk mendaki
gunung bersama Mbok Darmi dan Si Koko. Perjalanan itu melelahkan dan penuh
rintangan, namun Lana tetap bersemangat. Ia yakin ada sebuah jawaban menunggunya
di puncak gunung.
Setelah berjam-jam mendaki, mereka akhirnya sampai di sebuah gua yang tersembunyi
di balik air terjun. Mbok Darmi mengatakan bahwa Ki Jaga tinggal di gua itu.
Lana melangkah masuk ke dalam gua dengan hati berdebar. Gua itu gelap dan
lembab, namun terasa sebuah aura mistis yang kuat. Di ujung gua, Lana melihat
seorang lakilaki tua berjubah putih sedang bermeditasi. Wajahnya tenang dan
bijaksana, rambut dan janggutnya panjang dan putih.

"Ki Jaga?" Lana berkata lirih.


Laki-laki tua itu membuka matanya dan menatap Lana dengan tajam. "Siapakah kamu,
dan apa yang membawamu kemari?"
Lana menceritakan semua yang dialaminya pada Ki Jaga, tentang pengkhianatan Raka,
kejahatan Herman Wijaya, dan keinginannya untuk mengungkap kebenaran.
Ki Jaga mendengarkan dengan sabar, kemudian berkata, "Jalan yang kamu pilih penuh
liku dan bahaya, Nak. Apakah kamu siap menghadapinya?"
Lana menatap Ki Jaga dengan tekad yang membara. "Saya siap, Ki Jaga. Saya harus
mengungkap kebenaran, apapun risikonya."

Ki Jaga tersenyum kecil. "Baiklah, Nak. Aku akan membantumu."

Bab 15: Kebenaran yang Terenggut


Kabut tipis menyelimuti puncak gunung saat Lana dan Ki Jaga berdiri di tepi tebing,
menatap lembah yang terbentang luas di bawah mereka. Angin dingin berhembus,
membawa aroma pinus dan tanah basah. Si Koko duduk setia di samping Lana, sesekali
menjilati tangan gadis itu.
"Herman Wijaya adalah orang yang sangat berbahaya, Nak," Ki Jaga memulai percakapan,
suaranya tenang namun penuh wibawa. "Kekuasaannya menjangkau berbagai lapisan
masyarakat. Jika kamu ingin menjatuhkannya, kamu harus sangat berhati-hati."
Lana mengangguk, matanya berkilat penuh tekad. "Saya tahu, Ki Jaga. Tapi saya tidak
akan mundur. Terlalu banyak orang yang telah menjadi korban kejahatannya, termasuk
saya sendiri."
Ki Jaga tersenyum tipis. "Keberanianmu patut dipuji, Nak. Tapi keberanian saja tidak
cukup. Kamu perlu strategi dan bantuan dari orang-orang yang tepat."

"Lalu apa yang harus saya lakukan, Ki Jaga?" tanya Lana penuh harap.
Ki Jaga menatap jauh ke kejauhan, seolah menembus kabut yang menyelimuti lembah.
"Kamu harus menemukan titik lemah Herman Wijaya, sesuatu yang bisa
menghancurkan imperiumnya. Dan kamu harus mencari sekutu yang cukup kuat untuk
melawannya."
Lana merenung. Titik lemah Herman Wijaya? Apa itu? Ia terlalu fokus pada
pengkhianatan Raka sehingga ia lupa untuk mencari tahu lebih banyak tentang
Herman Wijaya dan jaringannya.

"Ki Jaga, bisakah Anda membantu saya?" Lana memohon.


Ki Jaga mengangguk perlahan. "Saya akan membantumu semampu saya, Nak. Saya
akan memberimu petunjuk dan bimbingan. Tapi kamu yang harus menjalani
perjuangan ini."
Selama beberapa hari berikutnya, Lana berlatih bersama Ki Jaga. Ki Jaga mengajarkan
Lana berbagai teknik bela diri dan meditasi, membantu Lana menemukan kekuatan
dan ketenangan dalam dirinya. Ia juga memberi Lana petunjuk tentang titik lemah
Herman Wijaya dan mengarahkan Lana untuk mencari sekutu yang tepat.
Akhirnya, tiba saatnya bagi Lana untuk turun gunung dan melanjutkan perjuangannya.
Ia berpamitan pada Ki Jaga dan Mbok Darmi dengan hati berat. Ia akan merindukan
kedamaian dan kehangatan yang ia temukan di pondok kecil itu.
"Hati-hati, Nak," pesan Mbok Darmi sambil memeluk Lana. "Mbok akan selalu
mendoakanmu."
Lana tersenyum dan mengusap kepala Si Koko. "Terima kasih, Mbok. Terima kasih
atas semuanya."
Dengan bekal ilmu dan petunjuk dari Ki Jaga, Lana kembali ke kota Ashton. Ia
menyusun rencana dengan cermat, mengumpulkan bukti-bukti baru, dan menghubungi
orang-orang yang bisa ia percaya. Ia siap untuk menghadapi Herman Wijaya dan
mengungkap kejahatannya pada dunia.
Namun, takdir berkehendak lain. Saat Lana dalam perjalanan menuju kantor polisi
untuk melaporkan Herman Wijaya, sebuah truk menghantam mobilnya dari arah
berlawanan. Kecelakaan itu terjadi begitu cepat, Lana tidak sempat bereaksi.
Ia terbangun di rumah sakit, tubuhnya penuh dengan perban dan gips. Dokter
mengatakan bahwa ia mengalami cedera tulang belakang yang parah. Ia lumpuh dari
pinggang ke bawah.
Lana terkejut dan hancur. Ia tidak percaya bahwa perjuangannya harus berakhir seperti
ini. Ia tidak bisa menerima kenyataan bahwa ia tidak akan pernah bisa berjalan lagi,
bahwa ia tidak akan pernah bisa membalaskan dendamnya pada Herman Wijaya.
Ia menangis tersedu-sedu, merasa frustrasi dan tidak berdaya. Ia merasa kebenaran
telah direnggut darinya, dan ia tidak bisa berbuat apa-apa.

TAMAT

Anda mungkin juga menyukai