Ancaman Misterius untuk Jurnalis Lana
Ancaman Misterius untuk Jurnalis Lana
"Eh, Kak Raka! Ada apa nih nelpon malam-malam gini? Jangan bilang ada berita panas lagi?"
"Bukan berita panas, Lan, tapi berita dingin. Aku dengar kabar burung, orang-orang yang
lagi kamu selidiki itu lumayan 'berbahaya'. Hati-hati, ya."
"Ah, masa sih, Kak? Mereka cuma gerombolan pengusaha sama pejabat korup, bukan mafia
kelas kakap. Lagian aku udah hampir dapet bukti kuat kok."
"Bagus deh kalau gitu. Tapi tetap jaga diri, Lan. Jangan sampai kebablasan. Ingat, nyawa
kamu cuma satu."
"Iya, iya, Kak. Aku 'kan jurnalis investigasi, bukan detektif swasta. Tau batasan kok," jawab
Lana dengan nada sedikit mengejek. "Lagian, kalau sampe kenapa-napa, siapa lagi yang
bakal ngungkap kebusukan di kota ini?"
Raka tertawa di ujung telepon. "Ya udah deh, kalau ada apa-apa, kabari aku ya."
"Sip, Kak. Eh, tapi kalau aku berhasil bongkar kasus ini, traktiran pizza jangan lupa, ya!"
"Kak Raka, gue butuh bantuan lo," kata Lana dengan nada serius.
Raka, yang sedang asyik mengetik di komputernya, menoleh dan menatap Lana dengan
heran.
"Ada apa, Lan? Kok kayaknya serius banget?"
Lana menunjukkan foto-foto polaroid kepada Raka. "Lo kenal sama orang-orang ini?"
Raka mengambil foto-foto itu dan mengamati satu per satu dengan seksama. Ia mengerutkan
kening. "Gue nggak kenal mereka, Lan. Emang mereka siapa?"
Lana menceritakan tentang paket misterius dan pesan ancaman yang ia terima. Raka
mendengarkan dengan saksama, ekspresinya semakin serius.
"Ini nggak beres, Lan," kata Raka setelah Lana selesai bercerita. "Lo yakin lo nggak punya
musuh atau saingan yang mungkin ngirim ini?"
Lana menggeleng. "Gue nggak punya musuh, Kak. Paling cuma beberapa orang yang nggak
suka sama berita-berita yang gue tulis. Tapi mereka nggak mungkin sampe segitunya."
"Lo harus hati-hati, Lan," kata Raka dengan nada khawatir. "Orang-orang yang ada di foto
ini keliatannya bukan orang sembarangan. Mungkin mereka terlibat dalam sesuatu yang
berbahaya."
"Gue tahu, Kak. Makanya gue minta bantuan lo. Lo 'kan punya banyak kenalan. Mungkin
lo bisa bantu gue cari tahu siapa mereka."
Raka mengangguk. "Oke, Lan. Gue akan coba bantu. Tapi lo juga harus hati-hati. Jangan
gegabah. Kalau ada apa-apa, langsung hubungi gue." "Siap, Kak," jawab Lana.
Lana merasa sedikit lega setelah bercerita kepada Raka. Ia tahu ia tidak sendirian dalam
menghadapi misteri ini. Raka akan membantunya. Bersama-sama, mereka akan
mengungkap siapa orang-orang di balik foto-foto itu dan apa yang mereka inginkan dari
Lana.
Siang harinya, Lana memutuskan untuk pergi ke kantin. Ia ingin makan siang dengan Raka
dan mendiskusikan langkah selanjutnya. Ia juga ingin mencari informasi di perpustakaan
kantor, yang memiliki koleksi berita dan dokumen yang lebih lengkap daripada perpustakaan
umum.
Saat Lana tiba di kantin "Suara Rakyat", suasana terasa tegang. Beberapa rekan Lana
tampak berbisik-bisik, menatap Lana dengan tatapan aneh. Lana merasa tidak nyaman. Ia
merasa seperti sedang diawasi.
"Ada apa sih?" tanya Lana pada Dina, salah satu rekan kerjanya.
Dina mendekat dan berbisik, "Lo hati-hati, Lan. Gue denger ada orang yang nyariin lo."
"Gue nggak tahu. Tapi katanya dia keliatannya galak banget," jawab Dina.
Lana merasa semakin tidak nyaman. Ia memutuskan untuk langsung menemui Raka.
Raka masih berada di ruangan saat Lana mengetuk pintu.
"Gue nggak tahu. Tapi Dina bilang ada orang yang nyariin gue."
Lana mengangguk. "Gue yakin. Gue ngerasa ada yang ngikutin gue dari tadi."
Raka berpikir sejenak. "Oke, Lan. Gini aja. Lo tetap di sini dulu. Gue akan coba cari tahu
siapa yang nyariin lo. Kalau udah aman, gue kabarin lo."
Lana mengangguk. Ia merasa lebih aman berada di kantor, dikelilingi oleh rekan-rekannya.
Raka keluar dari ruangan dan berbicara dengan beberapa orang di kantor. Lana
memperhatikan dari jendela ruangan Raka. Ia melihat Raka berbicara dengan seorang pria
berbadan tegap yang mengenakan setelan jas hitam. Pria itu tampak serius dan
mengintimidasi. Lana merasa takut.
"Tenang aja, Lan. Udah aman. Orang itu cuma kurir. Dia nganter paket buat lo," jawab
Raka.
"Kak," panggil Lana pelan, suaranya sedikit bergetar. "Menurut lo... gue harus ke sana?"
Raka menghela napas panjang, mengusap wajahnya dengan kasar. "Jujur, Lan, gue nggak
tahu. Ini terlalu beresiko. Kita sama sekali buta, nggak tahu apa yang nunggu lo di sana."
Lana menggigit bibir bawahnya, menimbang-nimbang perkataan Raka. Di satu sisi, ia takut
akan bahaya yang mungkin menunggunya. Tapi di sisi lain, rasa penasaran dan keinginan
untuk mengungkap kebenaran begitu kuat. Ia tidak bisa tinggal diam dan membiarkan
orangorang tak dikenal ini mengancamnya.
"Tapi Kak," Lana berkata dengan suara lebih mantap, "gue nggak bisa diem aja. Gue harus
tahu siapa mereka dan apa mau mereka dari gue." Ia mengepalkan tangannya, tekadnya
menguat. "Gue nggak akan biarin mereka menang."
Raka terdiam sejenak, menatap Lana dengan sorot mata yang sulit diartikan. Ia tahu Lana,
gadis itu keras kepala dan pantang menyerah. Melarangnya hanya akan sia-sia.
"Oke, Lan," Raka akhirnya berkata, nada suaranya terdengar pasrah. "Gue nggak bisa larang
elo. Tapi, janji sama gue, lo harus hati-hati. Jangan pergi sendiri. Ajak gue, atau Dito, atau
siapapun yang lo percaya."
Lana mengangguk, lega karena Raka tidak melarangnya. "Gue akan ajak Dito, Kak. Dia
jago bela diri, bisa lindungi gue."
Dito, fotografer "Suara Rakyat" yang berbadan kekar dan terlatih bela diri, memang sering
menjadi partner Lana saat meliput berita-berita kriminal. Lana tahu ia bisa mengandalkan
Dito dalam situasi genting.
"Bagus," Raka mengangguk setuju. "Kalian saling jaga, ya. Dan ingat, kalau ada yang
nggak beres, langsung kabur. Jangan nekat." "Siap, Kak," jawab Lana mantap.
Lana segera mencari Dito dan menceritakan semuanya. Dito, seperti yang sudah diduga,
langsung setuju untuk menemani Lana. Mereka pun mulai bersiap. Dito mengambil tas
ranselnya dan mengisinya dengan peralatan yang mungkin dibutuhkan: senter, kamera kecil,
pisau lipat, dan semprotan merica. Lana sendiri diam-diam menyelipkan pistol kecil di balik
jaketnya. Ia tidak pernah menggunakannya, tapi kali ini ia merasa perlu untuk berjaga-jaga.
Sore itu, suasana di Pelabuhan Utara terasa mencekam. Langit mendung, angin bertiup
kencang, dan ombak laut menghantam dermaga dengan suara berdebur yang keras. Lana
dan
Dito tiba di depan gudang 47. Gudang tua itu tampak kusam dan menyeramkan, catnya
mengelupas, dan jendela-jendelanya pecah. Suasana di sekitarnya sunyi senyap, hanya
terdengar suara angin dan burung camar yang sesekali melintas.
Lana merasakan jantungnya berdetak lebih cepat. Ia mengeluarkan kunci dari saku jaketnya
dan memasukkannya ke dalam lubang kunci gembok yang mengunci pintu gudang. Kunci
itu masuk dengan pas. Dengan tangan gemetar, Lana memutar kunci dan mendorong pintu
gudang yang berat itu.
Pintu terbuka dengan suara berderit yang panjang dan memekakkan telinga, membuat bulu
kuduk Lana merinding. Di dalam, suasana gelap gulita, hanya ada sedikit cahaya yang
menyelinap dari celah-celah dinding. Bau apak dan debu menyeruak, membuat Lana
terbatuk.
Dito segera menyalakan senternya, sinarnya menembus kegelapan dan menyinari bagian
dalam gudang. Gudang itu terlihat kosong dan berantakan. Tumpukan peti kayu
berserakan di mana-mana, diselubungi jaring laba-laba yang tebal.
"Nggak ada siapa-siapa, Lan," kata Dito, suaranya bergema di dalam gudang yang luas.
Lana melangkah masuk dengan hati-hati, matanya menjelajahi setiap sudut gudang. Ia
merasa kecewa. Ia berharap menemukan petunjuk atau jawaban di gudang itu. Tapi
gudang itu terlihat seperti gudang biasa yang sudah lama ditinggalkan.
Tiba-tiba, Lana mendengar suara langkah kaki dari arah belakang mereka. Ia berbalik,
jantungnya berdebar kencang. Sinar senter Dito mengarah ke sumber suara. Sesosok
bayangan muncul dari balik tumpukan peti. Bayangan itu mendekati mereka dengan
perlahan.
Lana dan Dito siaga, tubuh mereka menegang. Bayangan itu semakin dekat. Lana bisa
melihat wajahnya dengan jelas di bawah cahaya senter. Itu adalah pemuda berwajah
dingin dengan bekas luka di pipinya, salah satu orang di dalam foto polaroid.
Pemuda itu tersenyum sinis, sorot matanya tajam dan penuh ancaman. "Selamat datang
di permainan, Nona Lana," katanya dengan suara dingin yang membuat Lana
merinding. "Kalian sudah masuk perangkap."
Lana merasakan jantungnya berdetak lebih kencang. Ia tahu ia dalam bahaya.
Permainan yang sesungguhnya baru saja dimulai.
"Lana! Dito! Kalian baik-baik aja?" tanya Raka dengan nada khawatir.
Lana dan Dito mengangguk lemas. Mereka terlalu lelah untuk berbicara.
Raka memeluk mereka dengan erat. "Syukurlah kalian selamat. Gue khawatir banget
pas denger kalian diserang."
Lana membalas pelukan Raka. Ia merasa aman dalam pelukan seniornya itu.
"Gimana polisi bisa tahu kita ada di sini, Kak?" tanya Lana setelah mereka
melepaskan pelukan.
"Gue yang nelpon mereka," jawab Raka. "Gue pasang GPS tracker di ponsel lo, Lan.
Gue khawatir ada apa-apa sama lo."
"Lo harus banyak istirahat, Lan," kata Raka, "biar cepat pulih."
"Gue nggak bisa tenang sebelum tahu siapa mereka, Kak," jawab Lana, matanya menatap
kosong ke langit-langit kamar.
"Tenang aja, polisi lagi menyelidiki kasus ini. Mereka lagi melacak keberadaan ketiga
orang itu," Raka berusaha menenangkan Lana.
"Tapi mereka lolos, Kak. Dan kita masih belum tahu siapa mereka sebenarnya," Lana
merasa frustrasi.
Raka mengangguk paham. "Gue ngerti, Lan. Tapi sekarang lo harus fokus untuk
pemulihan lo dulu. Kita bisa lanjutin penyelidikan nanti setelah lo sehat."
Lana menghela napas panjang. Ia tahu Raka benar. Ia harus memulihkan tenaganya
agar bisa kembali berjuang.
"Oh ya, Lan," Raka mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sesuatu pada Lana.
"Gue nemu ini di gudang kemarin. Kayaknya milik salah satu penyerang lo."
Lana melihat benda yang ditunjukkan Raka. Itu adalah sebuah kalung liontin
berbentuk naga, mirip dengan tato di lengan wanita muda yang menyerangnya. Liontin
itu terbuat dari perak dan tampak cukup mahal.
"Gue akan coba cari tahu tentang liontin ini," kata Lana.
Setelah Raka pergi, Lana mengambil laptopnya dan mulai mencari informasi tentang
liontin berbentuk naga di internet. Ia menjelajahi berbagai situs web dan forum online,
mencoba menemukan informasi yang relevan.
Setelah berjam-jam mencari, Lana akhirnya menemukan sesuatu yang menarik. Ia
menemukan sebuah artikel di sebuah blog tentang komunitas pecinta reptil yang
menggunakan liontin berbentuk naga sebagai simbol kelompok mereka. Artikel itu juga
menyebutkan sebuah toko online yang menjual berbagai macam aksesoris bertema
reptil, termasuk liontin berbentuk naga.
Lana langsung mengunjungi toko online tersebut. Ia menemukan liontin yang persis
sama dengan yang ia temukan di gudang. Di deskripsi produk, tertulis bahwa liontin
itu adalah edisi terbatas dan hanya diproduksi sebanyak 50 buah. Toko online itu juga
menyimpan data pembeli liontin tersebut.
Lana mencoba menghubungi pemilik toko online tersebut. Ia menjelaskan situasinya
dan meminta bantuan untuk mendapatkan informasi tentang pembeli liontin berbentuk
naga itu. Pemilik toko online itu setuju untuk membantu Lana. Ia mengirimkan data
pembeli liontin tersebut ke email Lana.
Lana membuka email itu dengan penuh harap. Ia menelusuri daftar nama pembeli
liontin itu satu per satu. Tiba-tiba, matanya tertuju pada salah satu nama di daftar itu:
Maya Kusuma.
Lana tersentak. Maya Kusuma. Nama itu tidak asing baginya. Ia pernah membaca
nama itu di sebuah artikel berita beberapa tahun lalu. Maya Kusuma adalah seorang
mantan narapidana yang terlibat dalam kasus pencurian dan penganiayaan.
Lana segera mencari artikel berita tentang Maya Kusuma di internet. Ia menemukan
foto Maya Kusuma di salah satu artikel itu. Dan ia terkejut saat melihat wajah Maya
Kusuma. Itu adalah wajah wanita muda dengan tato naga di lengannya, salah satu
penyerangnya di gudang.
Lana akhirnya menemukan salah satu potongan puzzle yang hilang. Ia sudah
mengetahui identitas salah satu penyerangnya. Dan ia yakin, ini baru permulaan.
Bab 6: Bayangan di Balik Tirai
Penemuan identitas Maya Kusuma bagaikan kepingan puzzle yang akhirnya ditemukan.
Lana merasa semangatnya kembali menyala. Ia yakin, Maya adalah kunci untuk
mengungkap misteri di balik foto-foto polaroid dan ancaman yang ia terima. Namun, ia juga
menyadari bahwa ia semakin dalam terjerumus ke dalam permainan berbahaya ini.
Musuh-musuhnya jelas tidak akan tinggal diam.
Dua hari berlalu sejak perkelahian di gudang. Luka-luka Lana mulai membaik, meskipun ia
masih harus menjalani perawatan di rumah sakit. Raka dan beberapa rekan dari "Suara
Rakyat" bergantian menjenguknya, membawa buah-buahan, majalah, dan bunga serta
memberikan semangat. Lana merasa tersentuh dengan kepedulian mereka, namun ia
juga merasa tidak nyaman karena harus merepotkan banyak orang.
"Lo harus banyak istirahat, Lan," kata Raka suatu sore saat menjenguk Lana, "biar
cepat pulih dan bisa balik ngejar berita lagi."
Lana tersenyum lemah. "Iya, Kak. Gue juga udah nggak sabar pengen keluar dari
sini." Ia menatap ke arah jendela, di mana matahari sore mulai terbenam, menghujani
langit dengan warna jingga dan ungu. "Gue ngerasa kayak burung yang terkurung di
dalam sangkar."
Raka menepuk pundak Lana dengan lembut. "Sabar, Lan. Lo pasti bisa lewatin ini
semua. Kita semua ada di sisi lo."
Lana mengangguk, merasa sedikit terhibur dengan kata-kata Raka. Namun, di balik
rasa terhibur itu, ada kegelisahan yang mendalam. Ia merasa ada sesuatu yang tidak
beres, seolah-olah ada bahaya yang mengintai di sekitarnya.
Malam harinya, setelah Raka dan rekan-rekannya pulang, Lana terbaring di ranjang
rumah sakit, mencoba untuk tidur. Namun, rasa gelisah itu semakin kuat. Ia merasa
seperti diawasi, seolah-olah ada sepasang mata yang menatapnya dari kegelapan.
Tiba-tiba, ia mendengar suara gesekan halus dari balik tirai jendela. Lana menahan
napas, jantungnya berdebar kencang. Ia mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa itu
hanya suara angin, tapi ia tahu ada sesuatu yang tidak beres.
Perlahan, tirai jendela itu terbuka. Sesosok bayangan muncul dari balik tirai. Lana
mengerjap, mencoba melihat dengan jelas siapa yang ada di sana. Namun, cahaya
remang-remang dari lampu jalan di luar jendela membuat sulit untuk melihat wajah
sosok itu.
Sosok itu melangkah masuk ke dalam kamar, menutup tirai di belakangnya. Lana bisa
melihat sosok itu dengan lebih jelas sekarang. Itu adalah seorang pria berbadan tegap
dengan wajah tertutup masker bedah. Ia mengenakan pakaian serba hitam dan
membawa sebuah pisau di tangannya.
Lana terkesiap, rasa takut menyergapnya. Ia ingin berteriak meminta tolong, tapi
suaranya tercekat di tenggorokannya.
"Saya Lana. Saya ingin berbicara dengan Anda. Bisakah kita bertemu?"
Terdengar keheningan sejenak di ujung telepon. Lana bisa merasakan ketegangan di
seberang sana.
"Untuk apa?" tanya Maya akhirnya, suaranya penuh curiga.
"Ini tentang liontin berbentuk naga yang Anda beli di toko online," jawab Lana.
"Liontin?" Maya terdengar bingung. "Saya tidak mengerti."
"Saya menemukan liontin itu di sebuah gudang beberapa hari yang lalu," Lana
menjelaskan. "Gudang di mana saya diserang oleh beberapa orang, termasuk Anda."
Keheningan kembali menyelimuti telepon. Lana bisa mendengar suara napas Maya
yang memburu.
"Apa maksud Anda?" tanya Maya akhirnya, suaranya kini terdengar tegang dan tajam.
"Saya ingin tahu apa keterlibatan Anda dalam semua ini," kata Lana dengan tegas.
"Saya tahu Anda salah satu orang yang menyerang saya di gudang itu. Dan saya
yakin
Anda tahu sesuatu tentang orang-orang yang mengancam saya."
"Dengar ya," Maya mendesis, "saya tidak tahu apa yang Anda bicarakan. Anda salah
orang. Dan saya sarankan Anda berhenti mengikuti saya sebelum sesuatu yang buruk
terjadi pada Anda."
"Saya tidak mengikuti Anda," Lana menegaskan. "Saya punya bukti bahwa Anda
terlibat dalam semua ini. Dan saya tidak akan ragu untuk melaporkan Anda ke polisi
jika Anda tidak mau bekerja sama."
"Polisi?" Maya tertawa sinis. "Anda pikir polisi bisa menolong Anda? Mereka juga
bagian dari permainan ini. Lebih baik Anda diam dan melupakan semua ini sebelum
terlambat."
"Saya tidak takut dengan ancaman Anda," Lana menjawab dengan tegas. "Saya akan
mengungkap kebenaran, apapun yang terjadi."
"Terserah Anda," Maya berkata dengan nada acuh tak acuh. "Tapi jangan salahkan
saya jika sesuatu yang buruk terjadi pada Anda."
"Bagaimana kalau kita bertemu dan membicarakan ini baik-baik?" Lana menawarkan.
"Saya yakin kita bisa menyelesaikan ini dengan cara yang lebih baik daripada saling
mengancam."
Maya terdiam sejenak, seolah menimbang-nimbang tawaran Lana. "Baiklah," katanya
akhirnya. "Kita bertemu. Tapi jangan bawa siapapun. Hanya Anda dan saya."
Lana mengerutkan kening. Ia tidak ingin mengambil risiko dengan pergi sendiri. Tapi
ia juga tahu bahwa ia tidak punya banyak pilihan.
"Baiklah," Lana setuju. "Kita bertemu besok siang di Kafe Merpati, di pinggir kota."
"Jadi, apa yang ingin Anda bicarakan?" tanya Maya dengan nada datar.
Lana menatap Maya dengan tajam. "Saya ingin tahu apa keterlibatan Anda dalam
semua ini," katanya dengan tegas. "Kenapa Anda dan teman-teman Anda menyerang
saya?"
Maya tersenyum sinis. "Anda yang memulai permainan ini, Nona Lana. Anda yang
mencari tahu tentang hal-hal yang tidak seharusnya Anda ketahui."
"Saya hanya melakukan pekerjaan saya sebagai jurnalis," jawab Lana. "Saya
mengungkap kebenaran."
"Kebenaran?" Maya tertawa mengejek. "Kebenaran versi siapa? Kebenaran Anda? Atau
kebenaran kami?"
"Kebenaran adalah kebenaran," Lana menegaskan. "Tidak ada versi yang berbeda."
"Anda naif sekali, Nona Lana," kata Maya dengan nada menyindir. "Di dunia ini,
tidak ada yang namanya kebenaran mutlak. Yang ada hanya persepsi."
"Saya tidak peduli dengan persepsi Anda," Lana menjawab dengan dingin. "Saya
hanya ingin tahu kenapa Anda menyerang saya."
"Anda ingin tahu?" Maya mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya menyipit.
"Baiklah, saya akan beritahu Anda. Kami menyerang Anda karena Anda sudah
mengganggu urusan kami. Anda sudah terlalu banyak tahu. Dan Anda harus
dihentikan." "Urusan apa?" tanya Lana penasaran.
"Itu bukan urusan Anda," jawab Maya dengan tajam. "Dan saya sarankan Anda
berhenti mencari tahu sebelum sesuatu yang buruk terjadi pada Anda."
"Saya tidak takut dengan ancaman Anda," Lana menjawab dengan tegas. "Saya akan
terus mencari tahu kebenaran, apapun yang terjadi."
Maya menatap Lana dengan sorot mata penuh kemarahan. "Anda keras kepala sekali,
Nona Lana. Anda akan menyesali ini."
"Halo, Alex? Lama nggak kontak nih. Gue butuh bantuan lo dong..."
Lana menjelaskan situasinya pada Alex, sang hacker. Alex, yang tertarik dengan kasus
ini, setuju untuk membantu Lana. Ia memberikan Lana beberapa perangkat lunak dan
instruksi untuk mengumpulkan data yang ia butuhkan.
Dengan bantuan Alex, Lana berhasil mengakses email dan dokumen-dokumen pribadi
Herman Wijaya. Ia juga berhasil melacak transaksi keuangan dan komunikasi antara
Herman dengan orang-orang di foto polaroid.
"Wow," gumam Lana sambil membaca email-email Herman. "Ini lebih parah dari yang
gue bayangkan."
Ia menyisir setiap data dengan cermat, mencari petunjuk dan koneksi yang bisa
membantunya memecahkan misteri ini. Ia bekerja tanpa henti, menyusun
potonganpotongan puzzle yang tersebar. Ia tahu ia semakin dekat dengan kebenaran,
namun ia juga tahu bahwa ia sedang berjalan di atas es tipis. Satu langkah salah, dan
ia bisa terjerumus ke dalam jurang yang dalam.
Bab 9: Pertemuan Rahasia
Lana merasa seperti sedang memegang bom waktu. Data-data yang ia peroleh dari Alex, sang
hacker, membuka mata tentang jaringan korupsi dan kejahatan yang diotaki Herman
Wijaya. Email-email, laporan keuangan, dan rekaman percakapan itu menunjukkan
betapa dalam dan luasnya jaringan tersebut mencengkeram kota Ashton.
"Ini lebih besar dari yang gue bayangkan," gumam Lana, menyandarkan tubuhnya di
kursi kerjanya. Ia telah berhari-hari bekerja tanpa henti, menganalisis data,
menghubungkan titik-titik, dan membangun gambaran lengkap tentang konspirasi ini.
Ia menemukan bukti bahwa Herman Wijaya tidak hanya terlibat dalam penggelapan
pajak dan pencucian uang, tetapi juga penyuapan, pemalsuan dokumen, dan bahkan
pembunuhan. Jaringannya melibatkan pejabat-pejabat pemerintah, pengusaha, dan
orangorang berpengaruh lainnya. Mereka bekerja sama untuk memperoleh keuntungan
pribadi dan menyingkirkan siapapun yang menghalangi jalan mereka.
Lana juga menemukan informasi tentang peran Maya Kusuma dalam jaringan ini.
Maya bertindak sebagai penghubung antara Herman dengan dunia bawah tanah. Ia
bertugas mencari orang-orang untuk melakukan pekerjaan kotor, seperti mengintimidasi,
menculik, dan bahkan membunuh.
Pemuda berwajah dingin yang menyerangnya di gudang dan rumah sakit adalah salah
satu orang suruhan Maya. Namanya Dewa, seorang mantan preman yang kini bekerja
sebagai eksekutor untuk Herman.
Sedangkan wanita paruh baya yang juga ada di foto polaroid adalah Bu Retno,
seorang rentenir yang memiliki banyak koneksi dengan pejabat-pejabat korup. Ia
bertugas memberikan pinjaman kepada orang-orang yang membutuhkan uang dengan
bunga yang sangat tinggi, kemudian memeras mereka jika mereka tidak bisa
membayar hutang.
Lana menyadari bahwa ia telah menemukan sesuatu yang sangat besar dan berbahaya.
Ia tahu ia harus berhati-hati. Ia tidak boleh gegabah dan bertindak sendiri. Ia harus
mencari bantuan dari orang-orang yang ia percaya.
Lana memutuskan untuk menghubungi Raka dan menceritakan semua yang ia temukan.
Raka terkejut mendengar cerita Lana. Ia tidak menyangka bahwa Herman Wijaya
terlibat dalam jaringan kejahatan yang sedemikian besar.
"Ini berbahaya banget, Lan," kata Raka dengan nada khawatir. "Lo harus hati-hati.
Herman Wijaya bukan orang yang bisa dimain-mainkan."
"Gue tahu, Kak," jawab Lana. "Makanya gue butuh bantuan lo. Kita harus ungkap
kejahatan Herman dan jaringannya."
Raka mengangguk setuju. "Oke, Lan. Gue akan bantu lo. Tapi kita harus buat rencana
yang matang. Kita nggak boleh gegabah."
Lana dan Raka mendiskusikan rencana mereka dengan cermat. Mereka memutuskan
untuk mengumpulkan lebih banyak bukti dan mencari cara untuk membongkar jaringan
Herman Wijaya ke publik.
Beberapa hari kemudian, Lana mendapatkan informasi penting dari Alex. Alex berhasil
menyadap telepon Herman Wijaya dan mendapatkan informasi tentang sebuah
pertemuan rahasia yang akan diadakan oleh Herman dan jaringannya. Pertemuan itu
akan diadakan di sebuah vila terpencil di luar kota pada malam minggu.
Lana dan Raka melihat ini sebagai kesempatan emas untuk mendapatkan bukti yang
kuat tentang kejahatan Herman Wijaya. Mereka memutuskan untuk menyusup ke
pertemuan itu dan merekam semua yang terjadi.
"Kita harus hati-hati, Lan," kata Raka. "Ini sangat berbahaya. Kita bisa tertangkap
atau bahkan dibunuh."
"Gue tahu, Kak," jawab Lana. "Tapi kita nggak punya pilihan lain. Kita harus ambil
risiko ini."
Lana dan Raka menyusun rencana dengan cermat. Mereka akan pergi ke vila itu pada
malam minggu dan menyusup ke dalam vila saat pertemuan sedang berlangsung.
Mereka akan menggunakan peralatan canggih untuk merekam percakapan dan kegiatan
di dalam vila.
Malam minggu pun tiba. Lana dan Raka pergi ke vila itu dengan menggunakan mobil
Raka. Mereka memarkir mobil mereka di kejauhan dan berjalan kaki menuju vila.
Vila itu terlihat gelap dan sepi. Hanya ada beberapa lampu yang menyala di dalam
vila. Lana dan Raka menyelinap masuk ke dalam vila melalui pintu belakang.
Mereka berhasil masuk ke dalam vila tanpa terdeteksi. Mereka menyusuri lorong-
lorong yang gelap dan menemukan ruangan di mana pertemuan sedang berlangsung.
Lana dan Raka bersembunyi di balik dinding dan mengintip ke dalam ruangan.
Mereka melihat Herman Wijaya sedang duduk di sebuah meja besar bersama beberapa
orang lainnya. Di antara mereka ada Maya Kusuma, Dewa, dan Bu Retno.
Mereka sedang membicarakan tentang berbagai macam hal, mulai dari proyek-proyek
ilegal hingga rencana untuk menyingkirkan lawan-lawan politik mereka. Lana dan
Raka merekam semua percakapan itu dengan peralatan mereka.
Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka dan seorang pria masuk ke dalam ruangan. Pria itu
membawa sebuah pesan untuk Herman Wijaya.
Herman Wijaya membaca pesan itu dan wajahnya berubah menjadi pucat. Ia berdiri
dan berkata dengan nada panik, "Kita ketauan! Ada yang menyusup ke dalam vila!"
Semua orang di dalam ruangan itu terkejut dan panik. Mereka mulai berlarian keluar
dari ruangan.
Lana dan Raka menyadari bahwa mereka dalam bahaya. Mereka harus segera keluar
dari vila itu sebelum mereka tertangkap.
“Lan kita harus segera pergi dari tempat ini!!” ucap Raka dengan wajah serius,
Mereka berlari keluar dari vila melalui pintu belakang. Mereka berlari secepat
mungkin menuju mobil mereka.
Tapi Raka menggeleng. "Pergi, Lan! Selamatkan diri lo! Ini satu-satunya kesempatan!"
Lana masih ragu, namun ia melihat tekad di mata Raka. Ia tahu Raka tidak bercanda.
Dengan berat hati, Lana bangkit dan berlari ke arah hutan. Ia mendengar suara
perkelahian di belakangnya, suara Raka yang berteriak kesakitan, dan suara tawa
Herman Wijaya yang mengerikan.
Ranting-ranting pohon menampar wajah Lana saat ia berlari menembus kegelapan
hutan.
Air mata mengalir di pipinya, bercampur dengan keringat dan debu. Ia tidak percaya
Raka telah mengkorbankan dirinya. Mengapa Raka mengorbankan dirinya seperti itu?
Apa yang sebenarnya terjadi?
Di tengah kepanikan dan ketakutannya, Lana tersandung akar pohon dan terjatuh. Ia
meringkuk di tanah, napasnya tersengal-sengal. Ia merasa hancur, ketakutan, dan
sendirian.
Ia merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan perekam suara yang mereka gunakan
untuk merekam pertemuan rahasia Herman Wijaya. Syukurlah, alat itu masih utuh. Ia
memegang erat perekam itu, satu-satunya bukti yang ia miliki untuk mengungkap
kejahatan Herman Wijaya.
"Gue nggak akan biarin lo lolos, Herman," gumam Lana dengan suara bergetar. "Gue
akan bongkar semua kejahatan lo, demi Raka, demi keadilan."
Baik, aku mengerti! Akan kubuat ulang bab 11 dengan plot twist Raka yang ternyata
berkhianat. Siap-siap untuk kejutan yang menghancurkan hati, ya!
Tiba-tiba, suara langkah kaki memecah kesunyian. Lana membeku, sekujur tubuhnya
menegang. Ia mengintip dari balik pohon, mencoba mengenali sosok yang mendekat.
Bayangan hitam itu semakin jelas, dan jantung Lana seakan berhenti berdetak. Raka!
"Raka?" Lana berbisik, suaranya tercekat di tenggorokan. Ia berlari ke arah Raka, lupa
akan rasa sakit di kakinya. "Raka, syukurlah kamu selamat!"
Raka terlihat terluka, bajunya robek dan wajahnya lebam. Ia tersenyum lemah ke arah
Lana, namun senyum itu tidak mencapai matanya. Ada sesuatu yang berbeda dalam
tatapan Raka, sesuatu yang dingin dan asing.
"Lana..." ucap Raka lirih. Ia membuka tangannya, seolah ingin merangkul Lana.
Tanpa ragu, Lana menerjang ke pelukan Raka. Ia terlalu bahagia melihat Raka selamat
hingga ia tidak menyadari kilatan tajam di mata Raka.
Saat itulah, Raka bergerak. Dengan cepat, ia menghunus sebuah pisau dari balik
bajunya dan menghujamkannya ke arah Lana. Lana terkejut, matanya melebar tidak
percaya. Ia tidak sempat menghindar. Pisau itu menancap di bahunya, menimbulkan
rasa sakit yang menyengat.
Lana menjerit kesakitan, dorongan adrenalin membuatnya mampu menjauh dari Raka.
Ia menatap Raka dengan tatapan penuh luka dan kecewa.
"Raka... kenapa?" lirih Lana, suaranya bergetar. Ia tidak mengerti. Mengapa Raka,
orang yang ia percaya, mengkhianatinya?
Raka menatap Lana dengan tatapan dingin. "Maaf, Lana," ucapnya datar. "Aku tidak
punya pilihan."
Lana terhuyung mundur, rasa sakit di bahunya semakin menjadi-jadi. Ia merasa
dikhianati, disakiti, dan kecewa. Ia tidak menyangka Raka, orang yang ia anggap
sebagai sahabat, ternyata adalah musuh dalam selimut.
Raka melangkah mendekat, pisau di tangannya masih meneteskan darah Lana. "Ini
semua demi keluargaku," ujar Raka dengan suara tanpa penyesalan. "Herman Wijaya
mengancam akan menyakiti mereka jika aku tidak membantumu."
Lana terduduk lemas, kehilangan semua kekuatannya. Ia menatap Raka dengan nanar.
"Jadi, selama ini kamu hanya berpura-pura menjadi temanku?"
Raka tidak menjawab. Ia hanya menatap Lana dengan tatapan kosong. Kemudian, ia
berbalik dan pergi meninggalkan Lana yang terluka dan hancur.
Lana menangis tersedu-sedu, rasa sakit di bahunya bercampur dengan rasa sakit di
hatinya. Ia merasa sendirian, terisolasi, dan tak berdaya. Ia tidak tahu harus berbuat
apa atau ke mana harus pergi. Dunianya runtuh, dan ia terjebak dalam kegelapan
yang pekat.
"Hei... jangan takut..." ucap Lana dengan suara lirih. "Aku tidak akan menyakitimu..."
Anjing itu masih menggeram, namun ia tidak menyerang. Ia menatap Lana dengan
intens, seolah mencoba menilai apakah gadis itu berbahaya atau tidak.
Lana terus mengulurkan tangannya, sambil terus berbicara dengan suara lembut.
Perlahanlahan, anjing itu mulai menurunkan kewaspadaannya. Ia mendekat ke arah
Lana dan mengendus tangannya.
Lana tersenyum kecil. Ia merasa ada sebuah koneksi dengan anjing itu, sebuah ikatan
yang terjalin di tengah kesendirian dan keputusasaan. Ia mengusap kepala anjing itu
dengan lembut, dan anjing itu merespon dengan menjilati tangan Lana.
Anjing itu kemudian menunduk dan menjilati luka di kaki Lana. Lana terkejut, namun
ia membiarkan anjing itu melanjutkan aktivitasnya. Lidah anjing yang hangat dan
kasar terasa menenangkan di kulitnya yang terluka.
Tiba-tiba, anjing itu berdiri dan menyalak ke arah luar goa. Lana mengikuti arah
pandangan anjing itu dan melihat sesosok bayangan muncul di pintu masuk goa. Kali
ini, Lana tidak merasa takut. Ia tahu anjing itu tidak akan membiarkan sesuatu yang
buruk terjadi padanya.
Bayangan itu semakin mendekat, dan Lana menyadari itu adalah seorang wanita paruh
baya dengan wajah ramah. Wanita itu terlihat khawatir saat melihat Lana yang
berlumuran darah dan terluka parah.
"Ya ampun, Nak! Apa yang terjadi padamu?" tanya wanita itu dengan khawatir.
Lana tersenyum lemah. "Tolong... saya butuh pertolongan..." ucapnya lirih.
Wanita itu segera membantu Lana keluar dari goa dan membawanya ke rumahnya
yang terletak tidak jauh dari situ. Lana menyadari anjing itu mengikuti mereka dari
belakang.
"Ini Si Koko," kata wanita itu sambil menunjuk anjing itu. "Dia anjing saya.
Sepertinya dia yang menemukan kamu di hutan."
Lana tersenyum dan mengusap kepala Si Koko. Ia bersyukur anjing itu telah
menemukannya dan membawanya pada wanita baik hati ini.
"Nama saya Mbok Darmi," kata wanita itu sambil membantu Lana berbaring di
tempat tidur. "Kamu siapa? Dan apa yang terjadi padamu?"
Lana menceritakan semua yang terjadi padanya pada Mbok Darmi, tentang
pengkhianatan Raka dan luka-luka yang dideritanya. Mbok Darmi mendengarkan
dengan seksama, sesekali menggelengkan kepalanya dan menunjukkan ekspresi kaget
dan iba.
Setelah Lana selesai bercerita, Mbok Darmi dengan telaten membersihkan dan
membalut luka-luka Lana. Ia juga memberikan Lana makanan dan minuman hangat.
Lana merasa nyaman dan aman di bawah perawatan Mbok Darmi.
"Istirahatlah, Nak," kata Mbok Darmi dengan lembut. "Kamu aman sekarang."
Lana tersenyum dan menutup matanya. Ia merasa lelah, namun ia juga merasa tenang.
Ia tahu ia berada di tangan yang tepat. Si Koko berbaring di samping tempat tidur
Lana, menemaninya tidur.
***
Lana terbangun dengan keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Napasnya memburu,
jantungnya berdebar kencang. Mimpi buruk itu kembali menghantuinya, mimpi tentang Raka
yang menghujamkan pisau ke arahnya, mimpi tentang darah dan pengkhianatan.
Ia menatap sekeliling dengan bingung. Ia berada di sebuah kamar tidur yang
sederhana, berbaring di atas tempat tidur yang empuk. Sinar matahari mengintip
melalui celahcelah jendela, menerangi ruangan dengan hangat. Di sampingnya, Si
Koko tidur dengan tenang.
Perlahan, ingatan tentang peristiwa yang menimpanya kembali menyerbu pikiran Lana.
Ia ingat bagaimana ia melarikan diri dari Raka, bagaimana ia ditemukan oleh Mbok
Darmi dan Si Koko, bagaimana ia dirawat dengan penuh kasih sayang oleh wanita tua
itu.
Lana meraba bahu dan kakinya yang terbalut perban. Luka-lukanya masih terasa nyeri,
namun ia bersyukur masih hidup. Ia berhutang budi pada Mbok Darmi dan Si Koko
yang telah menyelamatkannya.
Pintu kamar terbuka, dan Mbok Darmi masuk dengan segelas teh hangat dan sepiring
roti panggang. "Selamat pagi, Nak," sapa Mbok Darmi dengan senyum ramah.
"Bagaimana keadaanmu hari ini?"
Lana tersenyum kecil. "Sudah lebih baik, Mbok. Terima kasih atas semuanya."
Mbok Darmi meletakkan teh dan roti di meja samping tempat tidur. "Sama-sama,
Nak. Kamu harus banyak istirahat agar cepat pulih."
Lana mengangguk patuh. Ia mengambil teh dan roti dan memakannya perlahan. Mbok
Darmi duduk di sisi tempat tidur, menemaninya sarapan.
"Mbok, apa yang akan saya lakukan sekarang?" tanya Lana dengan lirih. "Saya tidak
tahu harus ke mana lagi."
Mbok Darmi menatap Lana dengan penuh pengertian. "Kamu tidak perlu khawatir,
Nak. Kamu boleh tinggal di sini selama yang kamu butuhkan. Anggap saja rumah ini
sebagai rumahmu sendiri."
Lana tersenyum haru. Ia merasa beruntung memiliki Mbok Darmi di sisinya. Wanita
tua itu memberikan rasa aman dan nyaman yang sangat ia butuhkan saat ini.
"Tapi... bagaimana dengan Herman Wijaya?" tanya Lana dengan nada khawatir. "Dia
pasti masih mencari saya."
Mbok Darmi menggelengkan kepalanya. "Kamu tidak perlu khawatir tentang itu, Nak.
Rumah ini terpencil dan jarang dikunjungi orang. Herman Wijaya tidak akan
menemukanmu di sini."
Lana menghela napas lega. Ia merasa lebih tenang setelah mendengar kata-kata Mbok
Darmi.
"Mbok, saya ingin mengungkap kejahatan Herman Wijaya," ucap Lana dengan tekad
yang kuat. "Saya ingin membawanya ke pengadilan dan memastikan dia mendapatkan
hukuman yang setimpal."
Mbok Darmi menatap Lana dengan kagum. "Kamu gadis yang berani, Nak. Mbok
bangga padamu."
"Tapi... bagaimana caranya?" tanya Lana dengan nada bingung. "Saya tidak punya
apaapa lagi. Raka telah mengkhianati saya, dan saya tidak tahu harus meminta
bantuan pada siapa."
Mbok Darmi tersenyum misterius. "Jangan khawatir, Nak. Mbok punya kenalan yang
bisa membantumu."
Bab 14: Rahasia di Balik Kabut
Lana terbangun di kamar sederhana Mbok Darmi, sinar matahari pagi yang hangat
menembus jendela kayu. Luka-lukanya terasa nyeri, namun ia merasa jauh lebih baik
dibandingkan saat pertama kali tiba di pondok kecil di tengah pegunungan itu. Si
Koko, anjing penyelamatnya, berbaring di samping tempat tidur, sesekali mengedikkan
telinganya dan mengeluarkan dengkuran halus.
Mbok Darmi masuk membawa semangkuk bubur ayam dan segelas teh herbal hangat.
Wajahnya yang keriput dihiasi senyum tulus, menenangkan hati Lana yang masih
dipenuhi kecemasan.
"Makanlah dulu, Nak," kata Mbok Darmi lembut. "Kamu perlu tenaga untuk pulih."
Lana menuruti perkataan Mbok Darmi, menikmati bubur ayam yang lezat dan
menghangatkan perutnya. Ia menceritakan mimpi buruk yang dialaminya pada Mbok
Darmi, tentang Raka dan pengkhianatannya.
Mbok Darmi mendengarkan dengan sabar, kemudian berkata, "Luka di hatimu memang
lebih sulit sembuh daripada luka di tubuhmu, Nak. Tapi kamu harus kuat. Waktu akan
menyembuhkan semuanya."
Lana mengangguk, namun ia masih merasa ragu. Bagaimana ia bisa melupakan
pengkhianatan Raka? Bagaimana ia bisa mempercayai orang lain lagi setelah apa yang
dialaminya?
"Mbok pernah bilang punya kenalan yang bisa membantu saya," Lana mengingatkan
Mbok Darmi. "Siapa dia?"
Mbok Darmi tersenyum misterius. "Dia seorang pertapa yang tinggal di puncak
gunung. Orang-orang menyebutnya Ki Jaga. Dia memiliki kebijaksanaan dan
pengetahuan yang luar biasa. Mungkin dia bisa membantumu menemukan jalan keluar
dari masalahmu."
Lana tertegun. Seorang pertapa? Apakah benar ada orang seperti itu di dunia nyata?
Namun, di saat yang sama, ia merasa sebuah harapan baru muncul di hatinya.
Mungkin Ki Jaga benar-benar bisa membantunya.
"Bagaimana saya bisa menemui Ki Jaga, Mbok?" tanya Lana penuh harap.
"Perjalanannya cukup sulit, Nak," jawab Mbok Darmi. "Kamu harus mendaki gunung
yang curam dan melewati hutan yang lebat. Tapi jika kamu benar-benar ingin
menemuinya, Mbok akan menunjukkan jalannya."
Lana tidak ragu lagi. Ia harus menemui Ki Jaga. Ia harus menemukan jawaban atas
pertanyaan-pertanyaan yang menghantuinya, dan ia harus menemukan cara untuk
mengungkap kejahatan Herman Wijaya.
Keesokan harinya, setelah lukanya sedikit membaik, Lana bersiap untuk mendaki
gunung bersama Mbok Darmi dan Si Koko. Perjalanan itu melelahkan dan penuh
rintangan, namun Lana tetap bersemangat. Ia yakin ada sebuah jawaban menunggunya
di puncak gunung.
Setelah berjam-jam mendaki, mereka akhirnya sampai di sebuah gua yang tersembunyi
di balik air terjun. Mbok Darmi mengatakan bahwa Ki Jaga tinggal di gua itu.
Lana melangkah masuk ke dalam gua dengan hati berdebar. Gua itu gelap dan
lembab, namun terasa sebuah aura mistis yang kuat. Di ujung gua, Lana melihat
seorang lakilaki tua berjubah putih sedang bermeditasi. Wajahnya tenang dan
bijaksana, rambut dan janggutnya panjang dan putih.
"Lalu apa yang harus saya lakukan, Ki Jaga?" tanya Lana penuh harap.
Ki Jaga menatap jauh ke kejauhan, seolah menembus kabut yang menyelimuti lembah.
"Kamu harus menemukan titik lemah Herman Wijaya, sesuatu yang bisa
menghancurkan imperiumnya. Dan kamu harus mencari sekutu yang cukup kuat untuk
melawannya."
Lana merenung. Titik lemah Herman Wijaya? Apa itu? Ia terlalu fokus pada
pengkhianatan Raka sehingga ia lupa untuk mencari tahu lebih banyak tentang
Herman Wijaya dan jaringannya.
TAMAT