7,0%)'()%A&(0%8( ."$'%+1%B .
%8,0
!"#$%&'%(#)*)+),-&.-,-($+&/%(01&2"3$4$3-
5"%)3"%$&6)7-$+&8$%&908$:$&.$+$3&.0%-$
.-,-($+
2%01,)3%4%)5)6"$(1 7%-%8%)9$':$"8(%; <)=,$()>?>@
!"#$%&'()*%(+,&&%- ."$/(0,1(
."63%/(0%$
8,63"B;)-11A8;CC6%//("%AA&"1:$D4:6C'(/(1%&E%$1-B:A:&:/#
Manusia merupakan ciptaan Tuhan yang dibekali dengan pikiran, yang mana
dengan pikiran tersebut manusia dapat berpikir dan berkembang. Kemampuan
berpikir dan menalar ini kemudian membuat manusia dapat mempertahankan
hidupnya dan terus mengembangkannya. Kemampuan berfikir yang pada
awalnya hanya digunakan manusia untuk mempermudah mereka mencari
makan dan memenuhi kebutuhan primer, seiring berjalannya waktu semakin
menyebar, menjamah berbagai aspek lain dalam kehidupan. Hasil budaya
manusia yang awalnya cenderung berupa alat untuk berburu dan meramu, terus
berkembang hingga menjadi teknologi canggih seperti komputer dan ponsel
pintar.
Kemajuan dalam hal berfikir pada manusia memiliki dampak besar bagi
kehidupannya. Dalam sejarah manusia, telah terjadi banyak revolusi yang terkait
dengan perkembangan teknologi, mulai dari era teknologi pertanian, era
tekonologi industri, era teknologi informasi, hingga era teknologi komunikasi
dan informasi. Dengan terus berkembangnya teknologi, kehidupan manusia
semakin efektif dan efisien. Segala hal dapat dilakukan dengan cepat dan praktis
secara digital. Hal ini kemudian membuat kehidupan manusia menjadi semakin
cepat dan kompleks (Danuri, 2019).
Perkembangan teknologi digital yang saat ini semakin pesat, berawal dari
ditemukannya komputer, yang kemudian berkembang secara lebih intensif
setelah Perang Dunia 2. Adanya komputer ini memicu banyak perubahan dalam
kehidupan manusia, khusunya dalam hal penyebaran dan penyimpanan
informasi. Hal ini ditambah dengan ditemukannya internet dan ponsel pintar,
yang semakin membuat distribusi dan penyimpanan informasi semakin mudah.
Perkembangan menuju era digital ini, kemudian banyak mengubah pola
kehidupan manusia (Danuri, 2019). Contoh sederhananya adalah dalam hal
komunikasi dan transaksi, yang pada masa sebelum teknologi internet menyebar
ke seluruh penjuru dunia, cara manusia untuk berkomunikasi jarak jauh adalah
menulis surat dan kemudian mengirimkannya melalui pos, saat ini, untuk
melakukan hal tersebut, si pengirim cukup mengetik pesan tersebut melalui
ponsel pintar mereka dan kemudian mengirimkannya ke nomor ponsel tujuan
hanya dengan memencet tombol “kirim”.
Perilaku manusia yang turut berubah karena perkembangan teknologi ini
kemudian menuntut berbagai bidang studi yang memperlajari tingkah laku
manusia, seperti Antropologi, untuk ikut berkembang. Secara singkat antropologi
merupakan ilmu yang mempelajari mengenai manusia, mulai dari aspek fisik,
sosial, budaya, sejarah, hingga masa prasejarahnya (Haryono, 2012: 6). Menurut
Koentjaraningrat (2015: 10–11) di universitas di Amerika Serikat, pada dasarnya
Antropologi terbagi menjadi paling tidak lima cabang ilmu, yang masing-masing
cabang tersebut memiliki fokus masalah yang berbeda-beda. Pada lingkup kajian
antropologi fisik, terdapat paleo-antropologi dan semiologi, sementara pada
lingkup kajian sosial budaya, terdapat etnolingustik, prehistori, dan etnologi.
Akan tetapi, seiring berkembangnya zaman dan semakin kompleksnya
kehidupan manusia, maka antropologi kemudian juga ikut berkembang, sehingga
bermunculan sub-ilmu atau cabang-cabang ilmu antropologi baru yang berfokus
pada masalah-masalah kontemporer yang lebih spesifik, seperti antropologi
olahraga, antropologi pariwisata, dan salah satu yang saat ini sedang banyak
dikaji oleh para ahli adalah antropologi digital.
Antropologi digital merupakan sub-ilmu atau cabang antropologi yang
memfokuskan perhatiannya kepada hubungan antara manusia dan teknologi
digital (Mattartz, 2021). Cabang ilmu dalam antropologi ini muncul sebagai
respon terhadap perekembangan zaman yang semakin mengarah kepada
digitalisasi di berbagai sektor kehidupan. Perkembangan ke era digital ini telah
banyak menimbulkan dampak yang belum pernah dialami oleh manusia. Oleh
karena itu dalam antropologi digital ini, para penelitia mencoba menguraikan
berbagai fenomena kompleks dan menarik yang terjadi di dunia digital secara
antropologis, melalui pendekatan kultural yang holistik (Miller, 2018).
Namun, karena cabang ilmu ini masih tergolong muda, tidak semua negara
punya kajian antropologi digital yang mendalam. Di Indonesia, kajian dalam
bidang antropologi digital ini masih minim dibahas dalam bentuk literatur ilmiah
atau akademis. Oleh karena itu, pada makalah ini, penulis akan memaparkan
mengenai apa itu antropologi digital, ranah apa saja yang dapat dijangkau dengan
pendekatan antropologi digital, dan bagaimana antropolog bisa memanfaatkan
pendekatan dari antropologi digital untuk memahami fenomena sosial-budaya
yang terjadi di dunia digital.
Sebelum masuk lebih dalam mengenai antropologi digital, pertama-tama perlu
rasanya untuk mengaskan pengertian digital dalam konteks pembahasan yang
akan penulis paparkan. Dalam makalah ini, penulis menggunakan pengertian
digital menurut Daniel Miller dan Heather A. Horst (2012) dalam buku “Digital
Anthropology” yang menyatakan bahwa digital dapat diartikan sebagai “everything
that has been developed by, or can be reduced to, the binary — that is bits consisting of
0s and 1s” (Miller et al., 2012: 5). Dalam pengertian tersebut dapat kita pahami
bahwa meskipun digital sebenarnya dapat diinterpretasikan berbeda-beda oleh
banyak orang, namun salah satu hal yang mendasar dari digital adalah segala
sesuatu yang dapat dikembangkan atau direduksi menjadi sistem biner.
Saat ini perkembangan teknologi digital telah menyebabkan banyak hal berubah,
dan memunculkan banyak hal dan fenomena baru. Namun perlu diingat bahwa
sebetulnya bila dipikirkan lebih dalam, hal-hal baru yang muncul dari era digital
sebenarnya tidak benar-benar baru, akan tetapi merupakan bentuk
pengembangan dari gagasan yang telah ada. Perkembangan pada era digital
memiliki dampak baik dan buruk terhadap kehidupan manusia. Beberapa
dampak baik tersebut seperti perkembangan digital telah memicu fenomena
dekomersialisasi, dan membuka kebebasan semakin luas. Dalam era digital,
sebuah informasi dapat dengan mudah didstribusikan dan direkreasi, selain itu,
di era ini akses terhadap informasi dan komunikasi juga terbuka sangat lebar. Hal
ini tentunya juga melebarkan kebebasan manusia untuk mendapatkan informasi
dan mengembangkan kemampuan mereka. Sementara dampak negatif dari
perkembangan ini adalah seperti munculnya penipuan melalui teknologi digital,
terutama dalam hal keuangan digital.
Dampak perkembangan digital yang dapat menghasilkan dampak positif dan
negatif, membuat antropologi digital memandang fenomena sosial budaya di
dunia digital dari kedua spektrum tersebut. Antropologi digital menolak gagasan
yang bersifat mengeneralisir dampak dari perkembangan digital, yang selalu
memposisikan perkembangan tersebut sebagai hal yang berdampak negatif
terhadap eksistensi dan otentisitas manusia. Antropologi digital menganggap
bahwa perkembangan digital ini dapat digunakan untuk merefelksi apa makna
menjadi manusia. Antropologi digital mencoba untuk melihat fenomena-
fenomena digital yang terjadi secara holistik atau menyeluruh, juga dalam
melihat fenomena tersebut antropologi menggunakan konsep relativisme yang
berarti suatu fenomena tidak dapat begitu saja dianggap universal, namun juga
harus memperhatikan bagaimana konteks suatu fenomena. Cara pandang yang
semacam ini dapat dimanfaatkan oleh antropolog untuk memahami suatu
fenomena sosial budaya dalam dunia digital.
Menurut Miller et al. (2012: 1–30) terdapat enam prinsip dasar sebagai pondasi
dari antropologi digital. Enam prinsip dasar inilah juga yang membuat kajian
antropologi terhadap fenomena sosial-budaya dalam dunia digital menjadi khas
dan memberikan alternatif sudut pandang kepada khalayak umum dan
akademisi mengenai fenomena sosial-budaya yang ada. Keenam prinsip dasar
tersebut adalah:
a. Perkembangan digital telah memperkuat atau mengintensifkan dialektika
alami dari budaya
Maksud dari prinsip pertama ini adalah bahwa dalam perkembangan digital
terdapat spektrum yang luas, yang mana universalitas dan partikularitas tidak
saling berlawanan (opposed), namun saling berdialketika. Oleh karena itu,
antropologi digital mencoba untuk melihat secara luas fenomena perkembangan
digital, dan tidak serta merta menyetujui anggapan universal bahwa
perkembangan digital membuat manusia menjadi “less human, less authentic, atau
more mediated”. Dalam beberapa kasus partikular perkembangan digital justru
dapat membuat manusia menjadi more human, dan bisa menjadi manusia
seutuhnya. Namun juga perlu diingat, hal ini tidak berarti antropologi digital
menghiraukan dampak negatif perkembangan teknologi digital sama sekali.
Antropologi digital menempatkan diri pada berbagai spektrum perkembangan
teknologi digital (Miller et al., 2012).
b. Manusia tidak sedikitpun menjadi lebih termediasi oleh gencarnya
perkembangan media
Pada perinsip kedua ini, poin pentingnya terdapat pada penolakan terhadap
gagasan umum bahwa saat ini manusia menjadi tidak otentik lagi, karena
teknologi digital seperti telah memberikan jarak, telah ada perantara diantara
manusia. Dalam antropologi, seluruh manusia sama-sama berbudaya. Orang-
orang pedalaman atau native tidak berarti lebih tidak berbudaya daripada orang-
orang kota, dan sebaliknya orang-orang kota tidak lebih termediasi daripada
orang-orang pedalaman. Persoalan yang mendasar disini adalah bukan
banyaknya mediasi atau perantara, namun mengapa dan bagaimana suatu media
dapat dianggap sebagai perantara, sementara yang lain tidak. Saat ini, media-
media digital selalu diidentikkan dengan kepalsuan, ketidakotentikan. Hal ini
dalam beberapa kasus mungkin benar, akan tetapi dalam kasus lain media digital
justru dapat digunakan sebagai arena di mana seseorang, terutama kelompok-
kelompok yang tertindas dan terpinggirkan seperti difabel lebih merasa dapat
menjadi manusia yang utuh (Miller et al., 2012). Contoh menarik dari hal ini
adalah tulisan milik Humphrey (2009) tentang chat room di Russia, di mana dalam
chat room tersebut, avatar seseorang tidak hanya dapat memproduksi ulang
dirinya (ciri fisiknya) seperti pada dunia nyata, namun dalam chat room ini,
mereka pada akhirnya dapat merasakan kebebasan sepenuhnya untuk
mengkespresikan jiwa dan passion mereka. Atau dengan kata lain, melalui media
online digital berupa chat room ini mereka lebih bisa menunjukkan diri mereka
yang sesungguhnya atau otentisitas mereka, daripada di melalui dunia nyata.
c. Pendekatan antropologis terhadap etnografi berfokus pada dunia yang
dibentuk dalam kerangka proyek etnografi tertentu, tetapi juga dunia yang lebih
luas yang memengaruhi dan melampaui kerangka itu.
Prinsip ketiga ini berkenaan dengan ciri khas pendekatan antropologi yang
holistik. Dalam meneliti fenomena digital, antropologi menyadari bahwa aspek-
aspek yang ada dalam fenomena tersebut terhubung satu sama lain. Hal ini
kemudian juga berarti bahwa untuk meneliti media sosial misalnya, maka
seorang antropolog tidak bisa hanya melakukan isolasi pada hanya satu media,
karena media sosial terkait satu dengan yang lain. Hal ini sesuai dengan konsep
polymedia milik Madianou dan Miller (2013), yang menyatakan bahwa saat ini
tindakan komunikasi individu tidak lagi ditentukan oleh akses dan biaya, orang
cenderung dinilai berdasarkan mengapa mereka memilih satu media tertentu
daripada yang lain. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat keterkaitan antara satu
media sosial dengan media lain, dan para antropolog yang meneliti persoalan
tentang media sosial harus sadar akan konsep ini, agar penelitian yang dihasilkan
dapat bersifat holistik. Dalam kajian antropologi digital juga mempertimbangkan
konteks sosial budaya offline dari fenomena digital yang diteliti. Selain itu, untuk
mendapatkan data yang lebih lengkap, pendekatan antropologi digital juga
menyarankan untuk memanfaatkan big data (Miller et al., 2012).
d. Antropologi digital menegaskan kembali pentingnya relativisme budaya dan
sifat global perjumpaan kita dengan digital
Pada perinsip ini, antropologi digital tidak semata-mata menerima gagasan
umum mengenai homogenisasi yang disebabkan oleh perkembangan teknologi
digital, namun, antropologi digital juga melihat bahwa perkembangan terknologi
digital juga membuka peluang kebebasan kepada banyak kelompok marginal
untuk dapat menyuarakan kepentingan mereka. Sudut pandang antropologi
digital menganggap gagasan bahwa dunia semakin terhomoegnisasi akibat
perkembangan teknologi digital dan globalisassi merupakan gagasan yang
bersifat mengeneralisasi, yang sering kali dilihat hanya melalui sudut pandang
eurocentric. Antropologi digital berupaya untuk menawarkan alternatif sudut
pandang bahwa tidak selalu, perkembangan teknologi digital mengarahkan
manusia kepada homogenisasi. Antopologi digital menempatkan manusia
sebagai subjek, yang dapat bertindak dan berfikir untuk diri mereka. Melalui
kajian antropologi digital, relativisme budaya menjadi lebih terlihat. Untuk
memahami suatu fenomena secara utuh dibutuhkan pemahaman tentang
konteks fenomena tersebut. Dalam perkembangan teknologi digital, dampak
yang dihasilkan akan berbeda-beda pada tiap kelompok masyarakat dan tiap
budaya (Miller et al., 2012).
e. Meningkatnya ambiguitas mengenai keterbukaan dan penutupan (openness
dan closure) dalam budaya digital
Pekembangan teknologi digital telah menyebabkan terbukanya akses terhdap
berbagai hal. Melalui perkembangan teknologi tersebut, informasi dapat
mengalir deras ke segala penjuruh dunia. Pada satu sisi hal ini dapat
menimbulkan dampak yang baik, di mana semakin banyak orang yang dapat
mengakses informasi, di sisi lain hal ini dapat berdampak buruk, karena tak
jarang saat terlalu banyak informasi yang dapat diakses, manusia menjadi
kewalahan dan tak bisa menyaring informasi yang mereka dapat. Sifat
keterbukaan dari teknologi digital ini selain memperlebar kebebasan manusia,
juga pada waktu yang sama menimbulkan restriksi atau pembatasan dan
pengaturan. Tak jarang juga karena keterbukaan dan kebebasan dari teknologi
digital ini, disalahgunakan oleh para ahli untuk mendominasi, sehingga yang
seharusnya teknologi digital dapat digunakan sebagai media untuk menyalurkan
kebebasan, malah berubah menjadi ranah dominasi baru. Ambiguitas
keterbukaan teknologi digital juga dalam beberapa kasus dapat dijadikan media
dekomersialisasi, namun disaat yang bersamaan juga dapat merugikan pihak
lain. Contohnya adalah dalam pembajakan musik, yang mana melalui
perkembangan teknologi digital, demokratisasi musik dapat terjadi, semua orang
pada akhirnya memiliki kesempatan untuk mengenal dan menikmati musik
tanpa harus membayar, namun disaat yang sama para aktor pembuat musik
menjadi dirugikan, karena penghasilan dari penjualan musik mereka hilang
(Miller et al., 2012).
f. Mengakui materialitas dunia digital, yang tidak lebih dan tidak kurang
material dari dunia nyata
Pada prinsip ini, atnropologi digital tidak menanggap hal digital sama dengan hal
yang immaterial. Dalam hal ini, antropologi digital melihat digital sebagai hal
material dengan mempertimbangkan tiga hal, yaitu materialitas dari infrasturkur
dan teknologi digital, materialitas dari konten digital, dan materialitas dari
konteks digital. Pada kaitannya dengan materialitas dari infrasturkur dan
teknologi digital, antropologi digital menganggap bahwa infrastruktur dan
teknologi yang digunakan untuk dapat menghasilkan sesuatu yang digital jelas
merupakan hal yang material, seperti komputer, chip, dan sebagainya. Dalam
konteks yang kedua, yaitu materialitas dari konten digital dapat kita amati pada
dampak dari produk digital. Produk-produk digital tak jarang membuat manusia
lebih sadar akan materialitas. Dan dalam konteks yang ketiga, maksudnya adalah
bahwa dalam dunia digital juga terdapat jejak yang dapat dilihat (Miller et al.,
2012).
Referensi
Abdhul, Y. (2021) Studi Pustaka: Pengertian, Tujuan dan Metode,
[Link]. Available at: [Link]
pustaka/amp/#Sarwono (Accessed: 7 May 2023).
Danuri, M. (2019) ‘Perkembangan dan transformasi teknologi digital’, Jurnal
Ilmiah Infokam, 15(2), pp. 116–123.
Haryono, TJS (2012) Buku Ajar Pengantar Antropologi. Surabaya: PT REVKA
PETRA MEDIA.
Humphrey, C. (2009) 'Topeng dan wajah: Imajinasi dan kehidupan sosial di ruang
obrolan Rusia dan sekitarnya', Ethnos, 74(1), hlm. 31–50.
doi:10.1080/00141840902751154.
Koentjaraningrat (2015) Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.
Madianou, M. dan Miller, D. (2013) 'Polymedia: Menuju teori baru media digital
dalam komunikasi interpersonal', Jurnal Internasional Studi Budaya, 16(2), hlm.
169–187. doi:10.1177/1367877912452486.
Mattartz (2021) Apa itu Antropologi Digital?, [Link]. Tersedia di:
[Link] (Diakses: 17 Mei 2023).
Miller, D. dkk. (2012) Antropologi Digital. Diedit oleh D. Miller dan HA Horst.
London: Berg.
Miller, D. (2018) Digital Anthropology, The Open Encyclopedia of Anthropology.
Tersedia di: [Link]
(Diakses: 7 Mei 2023).
I$1B:A:&:/(
."$/(0,1(
!"#$%"&'(%)*'+),-.%/"'0."1$%%.*
F)A"$/(0,1 7%-%8%)9$':$"8(%; G?)6"$/(0,1(
%0,)%/%0)%$"-H)1%A()%0,)8,0%)6"63%4%
2)%$3'./.'#.-44.5.-
J$1,0)6"$%$//%A()4"B(1%)($()H)
7,0%)'()%A&(0%8(
'%A%10%$)%A&(0%8()."'(,6)/B%1(8D
!"6)7(3)-/.&"7.-'/.6"'8)/"$3
Saya Akan Langsung Tahu Anda Menggunakan Chat Gpt Jika Saya Melihat Ini
K()'%&%6 L%$M%$/D).%$(8D)7"B-%B/%D :&"- N88%()O($%
6$:$&'1$%&;$%,70%,&<$40&'%8$&2"%,,0%$1$%&=4$(&>*(&?-1$&6$:$
2"+-4$(&@%-
L"B4%#%&%-)0%6,)1('%0)8"4"B'%8)#%$/)0%6,)A(0(B0%$
G<)."( PDGQ FF<
ChatGPT meracuni otak Anda
ChatGPT meracuni otak Anda
=:B'%$)T(338
=4$(>!<&2"#$A0%-&B($1&'%8$C
7"B(0,1)O%B%)."$/-"$1(0%$$#%)*"3"&,6)R"B&%63%1D
@?)IAB(& GUD5Q P>P
K()'%&%6 =%V%*4B(A1)'%&%6)7%-%8%)9$//B(8)*"'"B-%$% :&"- .%8#%B%0%1)T""0
6$:$&9"#4"%(-&2"3D$%,0%&5#)%("%8E&6"1$#$%,&6$:$&2"%,,0%$1$%
6"#F"#&2=!&0%(01&2"3D-$#1$%&'@&2"%G$+$%1$%&'*+-1$7-&6$:$
*"0%B%$/)1%-,$)>?>SH)'%$)4%B%)0(1%)6"63%$/,$)%A&(0%8()1"&%-)3"B,3%-)8"4%B%)6"$'%8%BD
>)=,$( FQ GS<
IDE baru dari Google ini benar-benar mengubah permainan
K()'%&%6 Q:'")Q"4%$1(0%$ :&"- R%B()93%3%
@.H&D$#0&8$#-&>)),+"&-%-&D"%$#ID"%$#&3"%,0D$4&*"#3$-%$%
9KW)3%B,)'%B()T::/&")($()8,$//,-)B"V:&,8(:$"BD
G>).%B"1 SD5Q @F5
Mengapa ChatGPT Membuat Kutipan Ilmiah — Yang Tidak Ada
K()'%&%6 X%6%$)Q"8%'%B%$ :&"- *%6)2"81B"(4-H)K:01:B)Y(&8%+%1
K()'%&%6 X%6%$)Q"8%'%B%$ :&"- *%6)2"81B"(4-H)K:01:B)Y(&8%+%1
2"%,$*$&=4$(>!<&2"3D0$(&J0(-*$%&@+3-$4&K&L$%,&<-8$1&'8$
Q"&(-%1%$$#%)6"#%0($0%$H)3%-0%$)'%&%6)&%A:B%$)T"',$/)L,1(-H)1"1%A()8"B($/)0%&(
6"B,A%0%$)1%$'%)A"$"&(1(%$)#%$/)3,B,0)'%$)1"B3"&%0%$/D
<)-%B()#%$/)&%&, SD<Q G<P
Surat untuk Pemuda, Ditulis Menggunakan Pena Merah
L"6,'%)ZJ]NT
60#$(&0%(01&!"308$M&.-(0+-7&2"%,,0%$1$%&!"%$&2"#$4
:&"-)9&%-()K:6($/:H)I&"[%-)K"&%)OB,\H)'%$)=%6"")*%B1"
>>)."( SS
Z(-%1)&"3(-)3%$#%0)B"0:6"$'%8(