A.
Pengertian Nasikh dan Mansukh
Kata Nasikh dan Mansukh merupakan bentuk perubahan dari kata Nasakh,
masdar dari kata kerja nasakha. Kata nasakh sendiri mempunyai banyak makna. Ia
bisa berarti menghilangkan (al-izalah).
1. Menggantikan (al-tabdil), sebagaimana terdapat dalam QS. al-Nahl ayat
101:
َو ِا َذا َب َّد ْل َن ٓا ٰا َي ًة َّم َكا َن ٰا َي ٍۙة َّوال ّٰل ُه َا ْع َل ُم ِب َما ُي َن ِّز ُل َقا ُل ْٓوا ِا َّن َم ٓا َا ْن َت ُم ْف َت ٍۗر َب ْل َا ْك َث ُر ُه ْم َلا َي ْع َل ُم ْو َن
Artinya: Dan apabila kami mengganti ayat yang satu dengan ayat yang
lain‛padahal Allah lebih mengetahui apa yang di turunkan-Nya,mereka
berkata,”sesungguhnya ( engkau nabi Muhammad)adalah pembuat
kebohongan”.bahkan mereka tidak mengetahui.
2. Pengalihan (al-tahwil), sebagai yang berlaku dalam ilmu faraid (pembagian
harta warisan).
3. Mengutip atau memindahkan (al-Naql) seperti kalimat Nasakhtu al-kitab
(saya mengutip isi buku), dalam alqur’an surat al jatsiyah ayat 29:
ٰه َذا ِك ٰت ُب َنا َي ْن ِط ُق َع َل ْي ُك ْم ِبا ْل َح ِّۗق ِا َّنا ُك َّنا َن ْس َت ْن ِس ُخ َما ُك ْن ُت ْم َت ْع َم ُل ْو َن
Artinya: (Allah berfirman,) “Inilah Kitab (catatan) Kami yang menuturkan
kepadamu dengan hak. Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat apa
yang telah kamu kerjakan.”
Dari definisi yang telah disebutkan, disini jelas bahwa nash mempunyai
makna yang banyak, akan tetapi diantara makna-makna tersebut yang paling
mendekati kebenaran adalah bermakna al-izalah menghilangkan). Sedangkan
pengertian menurut istilah adalah (mengangkat atau menghapuskan sesuatu dan
menetapkan yang lain pada tempatnya).
Dalam kalimat lainnya ialah mengangkat (menghilangkan) hukum shara’
dengan dalil hukumnya shara’ yang lain. disebutkan kata hukum disini
menunjukkan prinsip bahwa segala ‛sesuatu hukum asalnya adalah boleh‛ tidak
termasuk yang dinasakh. Kata Nasikh (yang menghapus) maksudnya adalah Allah
( yang menghapus hukum itu. Seperti firmannya dalam surat al-baqarah ayat 106:
َما َن ْن َس ْخ ِم ْن ٰا َي ٍة َا ْو ُن ْن ِس َها َن ْأ ِت ِب َخ ْي ٍر ِّم ْن َه ٓا َا ْو ِم ْث ِل َه ۗا َا َل ْم َت ْع َل ْم َا َّن ال ّٰل َه َع ٰلى ُك ِّل َش ْي ٍء َق ِد ْي ٌر
1
Artinya: Ayat yang Kami nasakh (batalkan) atau Kami jadikan (manusia) lupa
padanya, pasti Kami ganti dengan yang lebih baik atau yang sebanding dengannya.
Apakah engkau tidak mengetahui bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu?
Sedangkan mansukh adalah hukum yang diangkat atau yang dihapus. Maka ayat
mawarith(warisan) atau hukum yang terkandung di dalamnya misalnya adalah
penghapusan (Nasikh) hukum wasiat kepada kedua orang tua atau kerabat
sebagaimana akan dijelaskan.
B. Pembagian Nasikh
Nasakh diklasifikasikan menjadi empat jika dilihat dari segi nasakh antara Qur’an
dengan Sunnah, yaitu :
[Link]-Qur’an dengan Al-Qur’an
Maksudnya bahwa hukum ataupun dalil yang mulanya ditentukan oleh
Qur’an maka digantikan (nasakh-kan) oleh dalil al-Qur’an juga. Mengenai nasakh
ini terdapat varian prespektif oleh para ulama tentang diterima tidaknya. Dari
pandangan ulama yang menerima adanya nasakh satu ini, mereka beranggapan
bahwa Allah Al Qadir, Ar Rahman dan Ar Rahim mula-mula telah menentukan
suatu hukum yang bersifat ringan. Tetapi karena mungkin dirasa umat Muslim
sudah bisa menghadapi hukum yang tidak lagi ringan, maka hukum ringan awal
tersebut perlu digantikan. Hal tersebut merupakan salah satu bentuk kebijakan
Allah dimana Allah sedang menunjukkan “Al ‘Aliy” (Maha Tinggi) dan “Al Alim”
(Maha Mengetahui). Misalnya pada dinasakh nya Kalamullah yaitu Q.S. Al
Baqarah : 240 tentang masa ‘iddah berlaku satu tahun yang kemudian digantikkan
dengan Q.S Al Baqarah : 234 tentang masa ‘iddah yaang berlaku hanya 4 bulan 10
hari.
2. Al-Qur’an dengan As-Sunnah
Maksudnya bahwa suatu hukum tersebut mulanya ada dalam dalil Al Qur’an
kemudian digantikan/nasakh dengan dalil As-Sunnah. Nasakh satu ini oleh Syaikh
Manna’ dibagi menjadi 2, yakni :
a. Nasakh Qur’an dengan Sunnah Ahad (Ahadiyah) Namun sebagian besar
ulama menolak kebenarannya dengan alasan Al Qur’an bersifat mutawatir
sekaligus penuh dengan keyakinan didalamnya, sedangkan Sunnah Ahad bersifat
2
prasangka atau dugaan. Sehingga sangat tidak dibenarkan mengapuskan atau
menggantikan hal yang jelas diketahui sifatnya (ma’lum) dengan hal-hal maznun
(diduga).
b. Nasakh Qur’an dengan Sunnah Muttawatiroh Oleh tiga pemimpin/imam
mazhab yaitu Imam Malik, Abu Hanafi dan Imam Ahmad berpendapat sama yaitu
memberi hukum mubah pada nasakh ini dengan asumsi bahwa kedua dalil tersebut
adalah wahyu Dasar yang mereka pegang ialah pada ayat 3 dan 4 Q.S. An-Najm.
3. As-Sunnah dengan Qur’an
Maksud nasakh ini ialah bahwa suatu hukum/dalil yang telah ditentukan
berdasar dalil As Sunnah lalu diganti (dinasakh) dengan dalil Qur’an. Nasakh ini
terdapat contoh yaitu tentang arah kiblat yang semula dijelaskan dalam hadits
bahwa Baitul Maqdis menjadi patokan arah kiblat bagi umat muslim, kemudian
setelah diturunkannya ayat 144 pada Q.S. Al Baqarah Ka’bah Masjidil Haram yang
menjadi patokannya.
Contoh lain ada pada hukum puasa di hari ‘Asyura (10 Muharram) yang
semula wajib digantikkan tidak lagi wajib melainkan sunah. Hal tersebut terjadi
setelah Q.S. Al Baqarah ayat 185 turun dan menjelaskan kewajiban untuk berpuasa
di bulan Ramadhan.
4. As-Sunnah dengan As-Sunnah Artinya bahwa suatu hukum syara’ yang
mulanya didasarkan dalil As-Sunnah lalu dinasakhkan (dihapus) oleh dalil syara’
dari As-Sunnah pula. Misalnya yakni hukum ziarah hukum yang semula dilarang
kemudian dihapus (dinasakh) menjadi mubah (boleh). Terjemahaan hadits nya
ialah “Dahulu aku melarang kamu berziarah kubur, sekarang berziarahlah” riwayat
at tirmidzi
C. Syarat-Syarat Nasikh
Dalam pembahasan mengenai ayat-ayat nasikh dan mansukh, perlu diketahui
syarat-syarat nasakh Abu anwar memberi kan Batasan beberapa syarat yang
diperlukan dalam nasikh yaitu:
1. Hukum yang mansukh adalah hukum syara`. Nasikh hanya terjadi pada
perintah dan larangan. Nasikh tidak terdapat dalam dalil yang
menunjukkan akhlak, ibadah, akidah, dan juga janji serta ancaman Allah.
3
2. Dalil yang dipergunakan untuk penghapusan hukum tersebut adalah
khithab syar`i yang datang kemudian.
3. Dalil yang mansukh hukumnya tidak terikat atau dibatasi oleh waktu
tertentu. Sebab, jika demikian hukum akan berakhir dengan waktu
tersebut.
Sedangkan Imam Muhammad Abu Zahrah mengemukakan syarat terkait
nasikh dan mansukh, yaitu:
1. Tidak ada ungkapan yang menunjukkan keabadian suatu syariat,
seperti hukum persaksian dalam kasus menuduh orang zina,
sebagaimana terdapat dalam QS. An-Nur ayat 4:
ا َّل ِذ ْي َن َي ْر ُم ْو َن ا ْل ُم ْح َص ٰن ِت ُث َّم َل ْم َي ْأ ُت ْوا ِب َا ْر َب َع ِة ُش َه َدۤا َء َفا ْج ِل ُد ْو ُه ْم َث ٰم ِن ْي َن َج ْل َد ًة َّو َلا َت ْق َب ُل ْوا َل ُه ْم
َش َها َد ًة َا َب ًدۚا َو ُاو ٰۤل ِٕى َك ُه ُم ا ْل ٰف ِس ُق ْو َۙن
Artinya: Orang-orang yang menuduh (berzina terhadap) perempuan
yang baik-baik dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi,
maka deralah mereka (para penuduh itu) delapan puluh kali dan
janganlah kamu menerima kesaksian mereka untuk selama-lamanya.
Mereka itulah orang-orang yang fasik,
2. Hukum yang dinasikh tidak tergolong persoalan yang telah
disepakati kebaikan atau kebenarannya, seperti: perihal beriman
kepada Allah Swt. hal ini ditegaskan oleh Abdul Wahab Khallaf
yang berpendapat bahwa nash yang mengandung perintah keimanan
dan dasar akidah tidak akan berubah walaupun kondisi masyarakat
telah mengalami perubahan.
3. Nash yang menggantikan harus datang setelahnya, karena tidak
mungkin apabila nash yang terdahulu menghapus nash yang datang
kemudian.
4. Dapat dilakukan nasikh-mansukh apabila kedua nash tidak dapat
dikompromikan. Dari beberapa syarat di atas menunjukkan nasikh hanya
terjadi apabila,
a) terdapat dua hukum yang saling bertolak belakang dan tidak
dapat di kompromikan;
4
b) harus di ketahui secara meyakinkan perurutan turunnya ayat-
ayat tersebut, sehingga yang lebih dahulu ditetapkan sebagai
mansukh, dan yang kemudian sebagai nasikh. Pedoman untuk
mengetahui nasikh dan mansukh ada beberapa cara berikut:
1) Ada keterangan tegas pentransimisian yang jelas dari
Nabi SAW;
2) Konsensus (Ijma) umat bahwa ayat ini nasikh dan
ayat mansukh;
3) Mengetahui mana yang lebih dahulu dan mana yang
belakangan berdasarkan historis.
D. Bentuk-Bentuk Nasikh wa al-Mansukh
Pada bagian referensi dan hukum sebagian besar ahli agama memecah Nasakh
menjadi tiga kategori, yakni :
1. Menghilangkan hukum/ketentuan dan teksnya secara bersama
Ayat-ayat pada bagian ini tidak boleh dilafalkan dan dilaksanakan lagi.
Misalnya pada H.R Bukhari dan Muslim dari Aisyah yang berati: “Dahulu
termasuk yang diturunkan (ayat al-Qur`an) adalah sepuluh kali susuan yang
diketahui, kemudian di-nasakh dengan lima susuan yang diketahui. Setelah
Rasulullah Saw. wafat, hukum yang terakhir tetap dibaca sebagai bagian al-
Qur`an”. Implikasi hadis tersebut ialah akan disebut saudara mahrom untuk dua
orang yang tidak seibu bilamana dua orang tersebut meminum ASI dari satu ibu
yaitu dengan jumlah sepuluh kali sedot. Lalu dalil itu dinaskh yang mengubah dari
10 kali menjadi cukup 5 kali.
2. Penghilangan hanya pada hukum/ketentuannya sendiri sedang pada teksnya
tetap ada .
Contohnya, ayat yang membahas memprioritaskan untuk bersedekah seperti
yang tercantum pada Q.S. Mujadilah ayat 12:
ٰٓي َا ُّي َها ا َّل ِذ ْي َن ٰا َم ُن ْٓوا ِا َذا َنا َج ْي ُت ُم ال َّر ُس ْو َل َف َق ِّد ُم ْوا َب ْي َن َي َد ْي َن ْج ٰوى ُك ْم َص َد َق ًۗة ٰذ ِل َك َخ ْي ٌر َّل ُك ْم َو َا ْط َه ُۗر َف ِا ْن َّل ْم
َت ِج ُد ْوا َف ِا َّن ال ّٰل َه َغ ُف ْو ٌر َّر ِح ْي ٌم
5
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu mengadakan pembicaraan
khusus dengan Rasul, hendaknya kamu mengeluarkan sedekah (kepada orang
miskin) sebelum pembicaraan itu. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu dan
lebih bersih, jika kamu tiada memperoleh (yang akan disedekahkan) maka
sesungguhnya Allah Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang.“
Maka dalil diatas tersebut kemudian digantikan (di-Naskh) dngan ayat
setelahnya :
َء َا ْش َف ْق ُت ْم َا ْن ُت َق ِّد ُم ْوا َب ْي َن َي َد ْي َن ْج ٰوى ُك ْم َص َد ٰق ٍۗت َف ِا ْذ َل ْم َت ْف َع ُل ْوا َو َتا َب ال ّٰل ُه َع َل ْي ُك ْم َف َا ِق ْي ُموا ال َّص ٰلو َة َو ٰا ُتوا
ال َّز ٰكو َة َو َا ِط ْي ُعوا ال ّٰل َه َو َر ُس ْو َل ۗٗه َوال ّٰل ُه َخ ِب ْي ٌر ۢ ِب َما َت ْع َم ُل ْون
Artinya: “Apakah kamu takut akan (menjadi miskin) karena kamu memberikan
sedekah sebelum pembicaraan dengan Rasul? maka jika kamu tiada
memperbuatnya dan Allah telah memberi tobat kepadamu, maka dirikanlah salat,
tunaikanlah zakat, dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan Allah Maha
Mengetahui apa yang anda kerjakan.”
Disini terkandung hikmah mengapa hanya ketentuannya yang hilang
sedangkan teksnya tetap ada yaitu
a. Masih adanya teks karena al-Qur’an ialah kalamulloh yang diwahyukan
Allah kepada Rasul untuk dibaca oleh umat beragama Islam. Maka selain
dibaca agar dapat mengetahui serta mengamalkan ketentuannya, juga akan
memperoleh pahala.
b. Tujuan utama naskh ialah guna memberi keringanan, maka dengan masih
adanya teks tersebut akan selalu menyadarkan umst muslim akan rasa
nikmat dan bersyukur karena kesulitan telah dihapus.
3. Penghilangan hanya pada teks/bacaan, sedang hukumnya tetaplah sahih
Contohnya pada ayat yang membahas perihal rajam. Pada mulanya, ayat
tersebut ialah berasal dari kalamullah yaitu ayat pada al-Qur`an. Bacaan ayat
tersebut dikatakan mansukh (telah digantikan), namun hukum/kententuannya
tetaplah sahih dan berlaku yaitu yang artinya: “Jika seorang pria tua dan wanita tua
berzina, maka rajamlah keduanya”. Terdapat dalam kisah zina yang dilakukan
orang tua lalu digantikan (diNaskh) yang mana telah dinyatakan oleh Ubay ibnu
Ka’ab bin Abu Umamah bin Sahl.
6
E. Hikmah Nasikh wa al-Mansukh
Terjadinya penetapan nasakh didalam al-Qur’an, sejumlah ulama
meyebutkan bahwa ada hikmah yang dapat diambil, diantaranya:
1) Menunjukkan adanya konsep rububiyah sebab dengan nasakh dapat
membuktikan bahwa atas kuasa dan keesaan Allah lah syariat Islam dapat
diubah serta ditetapkan.
2) Sebagai bentuk ujian bagi kita untuk membuktikan dengan jelas golongan
umat yang memilih taat pada syariat atau golongan umat yang memilih
untuk menentang.
3) Menghendaki kebaikan sekaligus menghilangkan kesulitan bagi seorang
hamba pada beberapa hukum guna kemaslahatan umat. Sebab ketika nasakh
tersebut berubah menjadi hukum yang semakin berat tentu akan ada
penambahan pahala didalamnya, sedangkan ketika nasakh berubah menjadi
hukum yang semakin ringan tentu ada keringanan didalamnya.
4) Bentuk perhatian dan kasih sayang Alloh pada kemaslahatan hamba-Nya,
dimana hal tersebut merupakan tujuan pokok adanya syariat agama Islam
Rahmatan lil 'Alamin.
5) Dapat menaikkan tingkat iman kita kepada Allah SWT tentang kejadian
apapun yang telah berlalu atas seizin-Nya di dunia ini.