0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
32 tayangan12 halaman

Keberagaman Suku dan Agama di Indonesia

Dokumen ini membahas keberagaman suku, agama, ras, dan antar golongan di Indonesia dalam konteks Bhineka Tunggal Ika. Keberagaman ini dipengaruhi oleh faktor geografis, kondisi alam, dan penerimaan masyarakat terhadap perubahan, serta mencakup berbagai suku dan agama yang ada di Indonesia. Pentingnya kerukunan dan toleransi antar kelompok dijelaskan sebagai upaya untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.

Diunggah oleh

mitrafc.creative
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
32 tayangan12 halaman

Keberagaman Suku dan Agama di Indonesia

Dokumen ini membahas keberagaman suku, agama, ras, dan antar golongan di Indonesia dalam konteks Bhineka Tunggal Ika. Keberagaman ini dipengaruhi oleh faktor geografis, kondisi alam, dan penerimaan masyarakat terhadap perubahan, serta mencakup berbagai suku dan agama yang ada di Indonesia. Pentingnya kerukunan dan toleransi antar kelompok dijelaskan sebagai upaya untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.

Diunggah oleh

mitrafc.creative
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

KLIPING

KEBERAGAMAN SUKU, AGAMA, RAS, DAN ANTAR GOLONGAN


DALAM BINGKAI BHINEKA TUNGGAL IKA

DI

OLEH :

Nama : Fahril Ramadani

Kelas : VII.4

SMP NEGERI MEGANG SAKTI


TAHUN AJARAN 2020/2021
Keberagaman dari masyarakat di Indonesia

Masyarakat yang tinggal di daerah kalian merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari
bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar. Indonesia terdiri atas 34 provinsi
dengan ribuan pulau yang ada di dalamnya. Luas dan besarnya wilayah Indonesia berpengaruh
terhadap banyaknya keberagaman yang dimiliki bangsa Indonesia.
Keberagaman adalah suatu kondisi dalam masyarakat yang terdapat banyak perbedaan
dalam berbagai bidang di Indonesia. Perbedaan tersebut terutama dalam hal suku bangsa, ras,
agama, keyakinan, ideologi politik, sosial-budaya, ekonomi, dan jenis kelamin.
Keanekaragaman yang dimiliki bangsa Indonesia merupakan kekayaan dan keindahan bangsa.
Orang mengatakan, bahwa keberagaman itu indah. Contoh indahnya keberagaman dapat
kita lihat dari pemandangan di dalam laut. Pemandangan dalam laut menampilkan berbagai jenis
ikan dan karang. Perbedaan itu menampilkan pemandangan yang sangat indah.
Kalian juga akan merasa lebih senang menonton televisi berwarna jika dibandingkan
dengan televisi hitam putih. Pemandangan bawah laut menggambarkan bahwa bangsa Indonesia
yang beragam akan lebih indah daripada yang seragam. Pemerintah dan seluruh warga negara
Indonesia sebaiknya mendorong keragaman itu menjadi sebuah kekuatan guna mewujudkan
persatuan dan kesatuan nasional.
Keberagaman dalam masyarakat dapat menjadi tantangan karena orang yang berbeda
pendapat yang lepas kendali. Tumbuhnya perasaan kedaerahan dan kesukuan dapat berlebihan
dan diiringi tindakan yang merusak persatuan dapat mengancam keutuhan bangsa dan Negara
Kesatuan Republik Indonesia. Oleh karena itu, upaya meningkatkan kerukunan antar suku,
pemeluk agama, dan kelompok-kelompok sosial lainnya perlu dilaksanakan. Upaya
mewujudkan kerukunan dapat dilakukan melalui dialog dan kerja sama dengan prinsip
kebersamaan, kesetaraan, toleransi, dan saling menghormati.

Faktor penyebab keberagaman suku bangsa dan budaya


masyarakat di Indonesia

Kebaragaman masyarakat Indonesia dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik yang datang dari
dalam maupun luar masyarakat. Hal ini juga dipengaruhi oleh faktor alam, diri sendiri, dan
masyarakat . Secara umum keberagaman masyarakat Indonesia disebabkan oleh:

1. Letak strategis wilayah Indonesia


Coba kalian amati letak geogarfi Indonesia dalam peta dunia. Letak Indonsia yang
stategis yaitu di antara dua Samudera Pasific dan Samudera Indonesia, serta dua benua
Asia dan Australia mengakibatkan wilayah kita menjadi jalur perdagangan internasional.
Lalu lintas perdangangan tidak hanya membawa komoditas dagang, namun juga
pengaruh kebudayaan mereka terhadap budaya Indonesia. Kedatangan bangsa asing yang
berbeda ras, kemudian menetap di Indonesia mengakibatkan perbedaan ras. Juga agama
dan kepercayaan mereka.
2. Kondisi negara kepulauan
Negara Indonesia terdiri beribu-ribu pulau yang secara fisik terpisah-pisah. Keadaan ini
menghambat hubungan antarmasyarakat Indonesia dari pulau yang berbeda-beda. Setiap
masyarakat di kepulauan mengembangkan budaya mereka masing-masing, sesuai dengan
tingkat kemajuan dan lingkungan masing-masing. Hal ini mengakibatkan perbedaan suku
bangsa, bahasa, budaya, peran laki-laki dan perempuan, dan kepercayaan atau agama di
Indonesia.
3. Perbedaan kondisi alam
Kondisi alam yang berbeda seperti daerah pantai, pegunungan, daerah subur, padang
rumput, pegunungan, dataran rendah, rawa, laut mengakibatkan perbedaan masyarakat.
Juga kondisi kekayaan alam, tanaman yang dapat tumbuh, hewan yang hidup di
sekitarnya. Masyarakat di daerah pantai berbeda dengan masyarakat pegunungan, seperti
perbedaan bentuk rumah, mata pencaharian, makanan pokok, pakaian, kesenian, bahkan
kepercayaan.
4. Keadaan transportasi dan komunikas
Kemajuan sarana transportasi dan komunikasi juga mempengaruhi perbedaan masyarakat
Indonesia. Kemudahan sarana ini membawa masyarakat mudah berhubungan dengan
masyarakat lain, meskipun jarak dan kondisi alam yang sulit. Sebaliknya sarana yang
terbatas juga memjadi penyebab keberagaman masyarakat Indonesia.
5. Penerimaan masyarakat terhadap perubahan
Sikap masyarakat terhadap sesuatu yang baru baik yang datang dari dalam maupun luar
masyarakat membawa pengaruh terhadap perbedaan masyarakat Indonesia. Ada
masyarakat yang mudah menerima orang asing atau budaya lain, seperti masyarakat
perkotaan. Namun ada juga sebagian masyarakat yang tetap bertahan pada budaya
sendiri, tidak mau menerima budaya luar.

A. AGAMA
1. Islam
 Kitab suci : Al Qur'an
 Tempat ibadah : Masjid
 Hari besar : idul fitri , idul adha
 Upacara keagamaan : Jum’atan, Puasa Ramadhan, Maulid Nabi Muhammad Shallahu
 Alaihi wa Sallam

2. Kristen Protestan
 Kitab suci : Injil
 Tempat ibadah : Gereja Kristen
 Hari besar : Natal
 Upacara keagamaan : Upacara Kedatangan 3 Raja

3. Kristen Katolik
 Kitab suci : Injil
 Tempat ibadah : Gereja Katolik
 Hari besar : Paskah
 Upacara keagamaan : Kenaikan Isa Al-Masih

4. Hindu
 Kitab Suci : Weda
 Tempat ibadah : Pura
 Hari besar : Nyepi
 Upacara keagamaan : Ngaben

5. Budha
 Kitab suci : Tripitaka
 Tempat ibadah : Wihara
 Hari besar : Katina
 Nama Upacara Keagamaan : Waisak

6. Khonghucu
 Kitab Suci : Wu Jing , Si Shu , dan Xiao Jing
 Tempat ibadah : Klenteng
 Nama Hari Besar Keagamaan : Tahun Baru Imlek, Cap Go Meh.
 Nama Upacara Keagamaan : Cap Go meh, Cheng Beng, Membagikan Angpau

B. SUKU
1. BATAK
 Bahasa Daerah : Bahasa Batak Toba adalah salah satu bahasa daerah yang
terutama dipertuturkan di daerah sekitar Danau Toba dan sekitarnya, meliputi
Samosir, Humbang Hasundutan, Tapanuli Utara dan Toba Samosir, Sumatra Utara,
Indonesia.
 Rumah Adat : Rumah Bolon atau sering disebut dengan Rumah Gorga. Rumah ini
menjadi simbol keberadaan masyarakat Batak yang hidup di daerah tersebut.

 Pakaian Adat : Pakaian adat suku Batak Toba merupakan kain tenun atau yang
dikenal dengan nama Ulos. Kain ulos sendiri merupakan kain yang sering sekali
dijadikan ciri khas suku Batak. Bahkan, ulos sudah menjadi identitas dari pakaian
adat Sumatera Utara tingkat nasional.

 Tarian Adat : Tari Tor Tor Sipitu Cawan Tarian Tradisional Dari Sumatera
Utara. Tarian tradisional berikut ini merupakan salah satu jenis tari tor tor yang
berasal dari Sumatera Utara. ... Selain kesakralannya, tarian ini memiliki gerakan
yang sangat unik dan cukup sulit, sehingga tidak bisa dilakukan oleh sembarang
penari.
2. Asmat
 Nama bahasa daerah : Pada masyarakat Asmat terdapat bahasa-bahasa yang
oleh para ahli lingustik disebut kelompok bahasa Language Of The Southern
Division yakni bahasa-bahasa bagian selatan Papua. Penggolongan bahasa
tersebut telah dipelajari oleh C. L. Voorhoeve (1965) dan masuk pada golongan
filum bahasa-bahasa Papua Non-Melanesia. Bahasa-bahasa tersebut digolongkan
lagi berdasarkan wilayah orang Asmat yakni orang Asmat wilayah pantai atau
hilir sungai dan Asmat hulu sungai.
 Nama rumah adat :

Ada 2 macam rumah adat suku asmat yang mempunyai fungsi dan peran masing-
masing dalam kaitannya memelihara kebudayaan suku asmat tersebut, yaitu:
a. Jew
Suku asmat mempunyai rumah adat yang bernama jew atau sering disebut dengan
rumah [Link] adat jew ini berbentuk rumah panggung dengan luas umumnya
10-15 meter namun ada juga yang panjangnya sampai 50 meter dengan lebar belasan
meter. Rumah jew ini mempunyai posisi yang istimewa dalam struktur masyarakat
suku asmat,karena di bangun demi kepentingan khusus saat melakukan kegiatan yang
bersifat tradisional atau menurut ketentuan adat.

b. Tysem
Rumah tysem juga di sebut rumah keluarga,karena rumah ini berfungsi untuk
tempat tinggal mereka yang sudah [Link] terdapat 2 sampai 3 pasang
keluarga yang menghuni tysem yakni terdiri dari 1 keluarga inti senior dan 2 sampai
3 keluarga [Link] anggota keluarga inti masyarakat asmat biasanya terdiri
dari 4 sampai 5 atau 8 sampai 10 orang.
 Tarian adat : Tari Tobe atau yang disebut dengan Tari Perang. Tari Tobe
sering dimainkan saat ada upacara adat. Tarian ini dilakukan oleh 16 orang
penari laki-laki dan 2 orang penari perempuan.

 Nama pakaian daerah :


a. Koteka, Pakaian Adat Laki-Laki

Di suku pedalaman asli Papua, kita akan disuguhkan dengan pemandangan


yang unik. Bukan hanya keindahan alamnya, namun pakaian yang mereka
kenakan sehari-hari. Jika pada umumnya, seorang laki-laki menggunakan baju
dan celana yang rapi dan tertutup namun tidak dengan laki-laki di Papua. Mereka
tidak mengenakan baju sama sekali sehingga terlihat seperti telanjang. Meski
demikian ternyata mereka mengenakan pakaian adat Papua yang disebut koteka.

Koteka digunakan untuk menutupi bagian kemaluan laki-laki atau alat


vital. Koteka sendiri mempunyai arti pakaian dan nama ini digunakan oleh suku
di Pantai. Uniknya, nama koteka pun sangat beragam sesuai dengan sukunya.
Misalnya suku di pegunungan Jayawijaya menyebut koteka dengan nama holim
atau horim. Koteka terbuat dari buah labu air tua yang dikeringkan lalu dibuang
bagian dalamnya (biji dan daging buah). Proses pengeringan labu air tua ini
dimaksudkan agar tidak cepat membusuk sehingga dapat digunakan sebagai
bahan koteka. Mereka memilih buah labu air yang tua karena buah tersebut
memiliki tekstur yang lebih keras sehingga lebih awet dibandingkan labu air
muda. Tidak hanya itu, pemakaian koteka juga bervariasi. Ada yang memakai
koteka panjang untuk orang Yali dan dua koteka untuk orang Tiom. Koteka
memiliki bentuk selongsong yang memanjang di bagian depannya dan dikaitkan
di pinggang sampai mengarah ke atas. Selain itu, ukuran koteka sangat bervariasi.
Semakin tinggi kedudukan seorang laki-laki terhadap adatnya maka semakin
besar ukuran koteka yang mereka kenakan. Mereka menggunakan koteka dalam
sehari-hari tidak hanya pada acara-acara tertentu saja. Meski begitu terdapat
beberapa perbedaan di dalamnya:

 Koteka yang dikenakan saat acara adat memiliki ukuran yang lebih panjang
dengan ukiran etnik khas Papua.
 Koteka yang digunakan untuk kegiatan sehari-hari atau saat bekerja memiliki
ukuran yang lebih pendek dengan desain yang lebih sederhana.

b. Rok Rumbai, Pakaian Adat Perempuan

Jika laki-laki Papua menggunakan koteka, berbeda dengan perempuan Papua.


mereka mengenakan rok rumbai sebagai pakaiannya. Rok rumbai ini merupakan
pakaian adat Papua perempuan yang berupa rok dan terbuat dari susunan daun
sagu kering dan digunakan untuk menutupi sebagian tubuh bawah. Namun, pada
kenyataannya, rok rumbai tidak hanya dikenakan oleh perempuan saja, melainkan
dikenakan pula oleh laki-laki pada acara-acara tertentu. Sama halnya dengan
pakaian adat laki-laki, perempuan Papua juga tidak mengenakan pakaian atas.
Meskipun demikian, mereka membuat tato atau lukisan yang akan menyamarkan
tubuh bagian atas. Motif-motifnya pun beragam dengan ciri khas Papua mengenai
lingkungan flora dan fauna. Penggunaan rok rumbai belum lengkap jika tidak
menggunakan aksesoris yang tepat. Mereka membuat hiasan kepala
menggunakan bahan ijuk, bulu burung kasuari dan juga daun sagu kering.
Sehingga mereka akan terlihat menawan ketika dipandang.

c. Sali, Pakaian Adat Perempuan Lajang


Perempuan Papua memiliki pakaian adat yang berbeda antara yang sudah
menikah dengan mereka yang masih lajang. Bagi perempuan lajang Papua
mereka mengenakan pakaian khusus yang menarik. Pakaian adat ini dinamakan
Sali. Pakaian ini terbuat dari kulit pohon.

Namun, warna yang dihasilkan dari kulit pohon ini harus berwarna coklat.
Dikarenakan Sali hanya untuk perempuan yang masih lajang maka mereka yang
sudah menikah dianggap tidak layak mengenakan pakaian ini.

d. Yokai Pakaian Adat Pedalaman

Jika Sali merupakan pakaian adat Papua khusus perempuan lajang,


berbeda dengan Yokai. Yokai merupakan pakaian adat yang hanya ada di daerah
Papua Barat dan sekitarnya dan hanya bisa dijumpai di daerah pedalaman Papua.

Pakaian ini hanya boleh digunakan oleh perempuan yang sudah memiliki
keluarga. Yokai memiliki warna coklat sedikit kemerahan. Bahkan baju ini juga
merupakan simbol masyarakat Papua yang dekat dengan alam, sehingga jangan
heran jika baju ini tidak boleh diperjualbelikan.

3. Sunda
 Nama Bahasa Daerah : Bahasa Sunda adalah bahasa yang digunakan suku Sunda

 Nama Rumah Adat : Rumah Jolopong

Rumah Jolopong adalah rumah adat yang berasal dari Provinsi Jawa Barat. Istilah
jolopong dalam bahasa sunda memiliki arti terkulai atau tegak lurus, bentuk suhunan
Jolopong ini dianggap sebagai bentuk atap paling tua dan merupakan dasar atap pada
rumah adat sunda.
 Nama Tarian Daerah : Tari Merak
Tari Merak merupakan salah satu ragam tarian kreasi baru yang mengekspresikan
kehidupan binatang, yaitu burung merak. Tata cara dan geraknya diambil dari
kehidupan merak yang diangkat ke pentas oleh Seniman Sunda Raden Tjetje
Somantri.

 Nama Pakaian Daerah : Baju Pangsi dan Kebaya Sunda


Mengenal Kebaya Encim, Busana yang Identik dengan Perempuan Betawi. ...
Saat itu, salah satu busana yang dipakai mereka--yang akrab dipanggil encim (bibi)--
memiliki siluet kebaya dengan khas bordir. Lambat laun, busana tersebut dikenal
sebagai kebaya encim yang akhirnya identik dengan pakaian adat Betawi.
4. Minahasan
 Nama Bahasa Daerah : Bahasa Tondano atau bahasa Toulour, sebagai bahasa
sub-etnis Toulour yang mendiami daerah sekeliling Danau Tondano sampai di
pantai Timur Minahasa (Tondano pante).
 Nama Rumah Adat :. Rumah Adat Walewangko merupakan Rumah Adat
Sulawesi Utara yang paling populer dan berasal dari salah satu suku terbesar di
Indonesia yaitu Suku Minahasa.

 Nama Tarian Daerah : Maengket merupakan tarian rakyat yang berasal dari
Minahasa. Maengket dibawakan oleh penari perempuan maupun laki-laki
dengan memakai pakaian putih.

 Nama Baju Daerah : Wuyang Pakaian Ini Terdiri Pakai Kebaya Lengan Panjang

C. RAS

1. Suku Bangsa / Ras Papua Melanesia.


Bangsa yang mempunyai ciri kulit hitam, rambut keriting, badan kekar, hidung
mancung, dan bibir tebal ini banyak terdapat di Pulau Papua dan Kepulauan Aru yang
terkenal dengan sebutan suku Tapiro. Suku Tapiro ini mempunyai ciri-ciri yang sama
dengan suku Aeta di Filipina dan suku Semang di Malaysia.
Ras Papua Melanesia merupakan suku bangsa asli yang mendiami Indonesia
sebelum datangnya nenek moyang bangsa Indonesia.

2. Suku Bangsa / Ras Veddoid


Telah disebutkan sebelumnya bahwa ras Veddoid merupakan ras khusus yang
mempunyai ciri sendiri. Orang-orang Veddoid mempunyai ciri, antara lain perawakan
kecil, rambut berombak, dan kulit sawo matang. Mereka berasal dari Sri Langka.
Suku bangsa di Indonesia yang termasuk ras Veddoid, yaitu Suku Toala di
Semenanjung Barat Daya Sulawesi, Suku Tomuna di Pulau Muna, Suku Gayo di sekitar
Danau Toba, Suku Kubu di Jambi, Suku Sakai di Siak, dan Suku Tomuna di Kepulauan
Mentawai. Suku-suku tersebut mempunyai persamaan ciri dengan Suku Senai di
Malaysia.

3. Suku Bangsa / Ras melayu Tua / Proto Melayu


Bangsa Proto Melayu adalah ras yang dianggap sebagai nenek moyang bangsa
Indonesia. Meraka berasal dari Daratan Asia atau tepatnya Yunan di Asia Utara dan
datang ke Indonesia dalam berbagai gelombang. Bangsa ini adalah bagian dari gelombang
pertama yang datang sekitar tahun 200 SM dan bergerak menuju ke Selatan memasuki
daerah Indonesia melalui Vietnam (Indo China). Dalam perjalanannya menuju Indonesia,
ada beberapa dari mereka yang tinggal di wilayah-wilayah mereka lewati.
Sehingga ras ini ada di beberapa negara selain Indonesia. Mereka tersebar di
Semananjung Melayu, Filiphina, Kepaulauan Pasifik sampai Madagaskar. Mereka yang
datang merupakan ras Melayu Mongoloid, yang mempunyai ciri-ciri : rambut ikal atau
lurus, muka bulat, kulit sawo matang, badan tinggi ramping, hidung sedang / lebar,
kebudayaan masih asli, menganut paham animisme dan dinamisme, dan membawa
kebudayaan zaman batu muda (neolithikum). Suku bangsa di Indonesia yang termasuk
golongan ini adalah Suku Batak di Sumatera Utara, Suku Toraja di Sulawesi Selatan,
Suku Sasak di Lombok, Suku Nias di Kepulauaun Nias, Suku Kubu di Sumatera Selatan,
dan Suku Dayak di Kalimantan Tengah .

4. Suku Bangsa/ Ras Melayu Muda/ Deutro Melayu


Deutro Melayu sebenarnya juga merupakan golongan Melayu Mongoloid dengan
ciri-ciri fisik yang sama. Mereka juga datang dari Yunan (Asia Utara) pada sekitar tahun
500 SM dan dianggap sebagai gelombang kedua datangnya nenek moyang di Indonesia.
Selain ciri-ciri fisik yang sama, Ras melayu Muda mempunyai ciri-ciri antara lain :
membawa kebudayaan zaman perunggu dan sudah tidak menganut paham animisme dan
dinamisme. Di Indoensia mereka dipengaruhi oleh bebagai agama yang ada, seperti
agama Hindu dan Budha dari penduduk Indonesia umumnya pada saat itu, agama Kristen
dari bangsa Eropa, dan agama Islam dari orang-orang Aceh.
Suku bangsa di Indoensia yang masih ada dan termasuk ras Melayu Muda antara lain
Suku Jawa, Suku Abli, Suku Madura di Jawa Timur, Suku Banjar di Kalimantan Selatan,
Suku Aceh, Suku Minagkabau di Sumatera Barat, dan Suku Bugis di Sulawesi Selatan.

5. Ras-Ras Lain
Selain keempat ras yang mendominasi wilayah Indonesia, ada beberapa kelompok
bangsa atau ras tertentu yang ikut tinggal di beberapa wilayah Indonesia. Di antara ras-ras
tersebut adalah orang-orang Cina, Jepang, Korea, orang-orang Arab, Pakistan, dan India.
Orang-orang Cina, Jepang, dan Korea merupakan kelompok ras Mongoloid Induk atau
Asiatic Mongoloid. Sedangkan orang-orang Arab, Pakistan dan India merupakan
kelompok ras Kaukasoid.
Semua ras di Indonesia tersebut menjadikan Indonesia menjadi masyarakat majemuk yang
mempunyai beraneka ragam budaya, suku bangsa, dan agama. Hal ini dapat terjadi karena
percampuran/ pergaulan antar kelompok. Keanekaragaman ini dapat menjadi salah satu faktor
pendorong yah dari ras itu sendiri. Diharapkan dengan berbagai suku, ras, dan agama yang
terbentuk dari perpaduan yang

Anda mungkin juga menyukai