0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan23 halaman

Analisis Kebudayaan Islam Periode Madinah

Dokumen ini menjelaskan rencana pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam di MAN 5 Pluto untuk kelas X, dengan fokus pada menganalisis periode Rasulullah saw, Khulafaurasyidin, dan Daulah Umayyah serta Abbasiyah. Tujuan pembelajaran mencakup pemahaman tentang kebudayaan masyarakat Madinah sebelum dan sesudah Islam, serta strategi dakwah Rasulullah saw. Metode pembelajaran yang digunakan adalah discovery learning dengan berbagai media dan asesmen untuk mengevaluasi ketercapaian tujuan pembelajaran.

Diunggah oleh

ginaangelina842
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan23 halaman

Analisis Kebudayaan Islam Periode Madinah

Dokumen ini menjelaskan rencana pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam di MAN 5 Pluto untuk kelas X, dengan fokus pada menganalisis periode Rasulullah saw, Khulafaurasyidin, dan Daulah Umayyah serta Abbasiyah. Tujuan pembelajaran mencakup pemahaman tentang kebudayaan masyarakat Madinah sebelum dan sesudah Islam, serta strategi dakwah Rasulullah saw. Metode pembelajaran yang digunakan adalah discovery learning dengan berbagai media dan asesmen untuk mengevaluasi ketercapaian tujuan pembelajaran.

Diunggah oleh

ginaangelina842
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Nama Madrasah : MAN 5 Pluto

Nama Penyusun : Indra Febrian


Siti Fatimah
Nazib baihaqi
Erfiza Amriani
Mata Pelajaran : Sejarah Kebudayaan Islam
Kelas / Fase Semester : X/ E / 1
Elemen : Menganalisis
Alokasi waktu : 1 JP (45 Menit)

CAPAIAN PEMBELAJARAN
Pada fase ini terdapat tiga elemen. Elemen yang pertama periode Rasulullah saw. dimanaPeserta
didik mampu menganalisis kebudayaan masyarakat Mekah dan Madinah sebelum Islam, substansi dan
strategi dakwah Rasulullah saw. periode Mekah dan Madinah, peristiwa hijrah yang dilakukan Rasulullah
saw. dan para sahabat, substansi Piagam Madinah (misaq al- madinah), faktor-faktor keberhasilan Fathu
Mekah sebagai inspirasi dalam menerapkan perilaku mulia Rasulullah saw. di kehidupan masa kini dan
masa depan. Elemen yang kedua periode Khulafaurasyidin dimana peserta didik mampu menganalisis
proses pemilihan Khulafaurasyidin, substansi dan strategi dakwah Khulafaurasyidin, sebagai inspirasi dalam
menerapkan sikap saling menghargai dan menghormati dalam perbedaan pendapat di kehidupan masa kini
dan masa depan. Sedangkan Pada akhir Fase E, pada elemen periode klasik/zaman keemasan (pada tahun
650 M) peserta didik mampu dapat menganalisis proses lahirnya Daulah Umayyah, perkembangan
peradaban dan ilmu pengetahuan pada masa Daulah Umayyah di Damaskus dan Andalusia sebagai
inspirasi dalam menerapkan semangat jiwa pembelajar menghadapi tantangan era [Link] didik
dapat mengevaluasi proses lahirnya Daulah Abbasiyah, perkembangan peradaban dan ilmu pengetahuan
pada masa Daulah Abbasiyah serta meneladani semangat tokoh ilmuwan muslim dalam membangun
peradaban Islam.

Peserta Didik Mampu Menganalisis proses pemilihan Khulafaurrasyidin,


Subtansi Dan strategi dakwah khulafaurrasyidin, sebagai inspirasi dalam
Priode Khulafaurrasyidin musyawarah, sikap saling menghargai dan menghormati dalam perbedaan
pendapat di kehidupan masa kini dan masa depan.
Peserta didik mampu menganalisis proses lahirnya Daulah Umayyah,
perkembangan peradaban dan ilmu pengetahuan pada masa Daulah Umayyah di
Damaskus dan Andalusia sebagai inspirasi dalam menerapkan semangat jiwa
pembelajar menghadapi tantangan era digital. Peserta didik mampu Mengevaluasi
proses lahirnya Daulah abbasiyah perkembangan peradaban dan ilmu pengetahuan
pada masa abbasiyah serta meneladani semangat tokoh ilmuwan muslim dalam
membangun peradaban Islam.

Perintah hijrah ke Yatsrib membawa kebahagiaan dan secercah harapan dalam diri Rasulullah Saw
dan para pengikutnya. Sebelum mencapai kesuksesan dalam dakwahnya di Madinah, Rasulullah
Saw menjalani serangkaian perjuangan yang tidak mudah. Kegigihan Rasulullah Saw membuahkan
hasil dengan kemakmuran dan kejayaan Islam setela h kurun waktu 10 tahun berdakwah di Madinah.

Profil Pelajar Pancasila yang ingin dicapai adalah bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan
berakhlak mulia, bernalar kritis dan kreatif, bergotong royong, serta kebhinnekaan global.
Profil Pelajar Rahmatan Lil ‘Alamin yang ingin dicapai adalah taaddub, tawassuth, tathawwur
wa ibtikar, dan tasamuh.

Media : LCD proyektor, komputer/laptop, jaringan internet, dan lain-lain


Sumber Belajar : LKPD, Buku Teks, laman E-learning, E-book, dan lain-lain

Model Pembelajaran : Discovery learning


Metode Pembelajaran : Karya kunjung, market of place, demonstrasi

Tujuan Pembelajaran
Menganalisis peristiwa hijrah yang dilakukan Rasulullah saw. dan para sahabat
sebagai bentuk semangat ukhuah basyariah
Mnganalisis Subtansi Dan Strategi Dakwah Rasulullah Saw. Prioede Madinah
Untuk Menimbulkan Sikap Toleransi Dan Tolong Menolong Dlam Kehidupan
Beragama.
Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (KKTP)
Peserta didik dapat membandingkan kebudayaan dan kehidupan masyarakat Madinah
sebelum Islam dengan kebudayaan dan kehidupan Masyarakat Madinah setelah
Rasulullah Saw hijrah ke Madinah
Peserta didik dapat menganalisis substansi dan strategi dakwah Rasulullah Saw
periode Madinah
Peserta didik dapat menafsirkan substansi Piagam Madinah

Peserta didik dapat mengukur keberhasilan Piagam Madinah dalam dakwah


Rasulullah Saw periode Madinah

Menganalisis kebudayaan masyarakat Madinah sebelumIslam


Menganalisis strategi dakwah Rasulullah pada periodeMadinah
Menganalisis substansi dari Piagam Madinah (Mitsaq al- Madinah)
Menilai kebudayaan masyarakat Madinah sebelum kedatangan Islam
Mengapresiasi strategi dakwah Rasulullah Saw. periode Madinah dan menyajikannya
dalam bentuk tulisan atau medialain
Mengapresiasi isi Piagam Madinah (Mitsaq al- Madinah)

Guru menanyakan kepada peserta didik seputar materi Perkembangan Islam Masa
Rasulullah SAW Periode Madinah

Kebudayaan dan Kondisi Masyarakat Madinah Sebelum Islam

Kegi atan Literasi Peserta didik diberi motivasi dan panduan untuk melihat,
mengamati, membaca dan menuliskannya kembali. Mereka diberi
tayangan dan bahan bacaan terkait materi : Kebudayaandan
Kondisi Masyarakat Madinah Sebelum I slam
Critical Thinking Guru memberikan kesempatan untuk mengidentifikasi sebanyak
mungkin hal yang belum dipahami, dimulai dari pertanyaan
faktual sampai ke pertanyaan yang bersifat hipotetik. Pertanyaan
ini harus tetap berkaitan dengan materi : Kebudayaan dan
Kondisi Masyarakat Madinah Sebelum I slam
Collaboration Peserta didik dibentuk dalam beberapa kelompok untuk
mendiskusikan, mengumpulkan informasi, mempresentasikan

Communication Peserta didik mempresentasikan hasil kerja kelompok atau


individu secara klasikal, mengemukakan pendapat atas presentasi
yang dilakukan kemudian ditanggapi kembali oleh kelompok
atau individu yang mempresentasikan
Creativity Guru dan peserta didik membuat kesimpulan tentang hal-hal
yang telah dipelajari terkait : Kebudayaan dan Kondisi
Masyarakat Madinah Sebelum I slam
KEGIATAN PENUTUP
Guru membimbing peserta didik menyimpulkan pembelajaran yang telah dilakukan
Melakukan refleksi dan tanya jawab untuk mengevaluasi kegiatan pembelajaran
yang telah dilaksanakan
Guru mengakhiri kegiatan belajar dengan memberikan pesan dan motivasi tetap
semangat belajar dan diakhiri dengan berdoa.

E. PEMBELAJARAN DIFERENSIASI
Untuk siswa yang sudah memahami materi ini sesuai dengan tujuan pembelajaran dan
mengeksplorasi topik ini lebih jauh, disarankan untuk membaca materi Perkembangan
Islam Masa Rasulullah SAW Periode Madinah dari berbagai referensi yang relevan.
Guru dapat menggunakan alternatif metode dan media pembelajaran sesuai dengan
kondisi masing-masing agar pelaksanaan pembelajaran menjadi lebih menyenangkan
(joyfull learning) sehingga tujuan pembelajaran bisa tercapai.
Untuk siswa yang kesulitan belajar topik ini, disarankan untuk belajar kembali tata
cara pada pembelajaran di dalam dan atau di luar kelas sesuai kesepataan antara guru
dengan siswa. Siswa juga disarankan untuk belajar kepada teman sebaya.

/
1. Asesmen Formatif (selama proses pembelajaran)
a. Asesmen awal
Untuk mengetahui kesiapan siswa dalam memasuki pembelajaran, dengan
pertanyaan:
Jawaban
No Pertanyaan
Ya Tidak
1 Apakah pernah membaca buku terkait ?
b. Asesmen selama proses pembelajaran
Asesmen ini dilakukan guru selama pembelajaran, khususnya saat peserta didik
melakukan kegiatan diskusi, presentasi dan refleksi tertulis. Asesmen saat
inquiry learning (ketika peserta didik melakukan kegiatan belajar dengan
metode inquiry learning)

Lembar kerja pengamatan kegiatan pembelajaran dengan metade inquiry learning


Arpak yang diamati Skor
No Nama Siswa
Gagasan Aktif Kerjasama 1 2 3 4
1
2
3

dst
Nilai akhir x 25

2. Asesmen Sumatif
a. Asesmen Pengetahuan

Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan jelas !


1. Ada berapa macam kelompok yang hidup di Madinah sebelum Rasulullah Saw
datang, sebutkan keunggulan masing-masing kelompok tersebut !
2. Jelaskan pendapatmu, mengapa masyarakat Madinah menantikan kehadiran
Rasulullah Saw !
3. Mengapa suku Aus dan Khazraj saling bertikai ? Sementara mereka merupakan
saudara, kemukakan argumentasimu !
4. Kemukakan pendapatmu tentang keistimewaan kaum Muhajirin dan kaum Anshar !
5. Apa saja substansi dan strategi dakwah Rasulullah Saw di Madinah, sebutkan !
6. Piagam Madinah merupakan konstitusi politik pertama yang dibuat sepanjang
sejarah, kemukakan pendapat kalian sejauh mana keberhasilan Piagam Madinah
dalam membangun Masyarakat Madinah !
7. Kemukakan pendapatmu, mengapa Rasulullah Saw diperbolekan berperang melawan
orang-orang kafir Quraiys !
8. Berikan analisis kalian, mengapa umat Islam mendapatkan kemenangan dalam
Perang Badar sementara jumlah pasukan kafir Quraisy tiga kali lebih banyak dari
pasukan kaum Muslimin !
9. Hikmah apakah yang bisa kalian ambil dari peristiwa perang Uhud, jelaskan !
10. Bagaimanakah perjanjian hudaibiyah yang sebenarnya merugikan uamt Islam,
menjadi keberuntungan bagi umat Islam. Jelaskan analisis kalian !

b. Asesmen keterampilan
1) Peserta didik mempraktikkan berkenalan secara lisan dan tulis

Contoh rubrik penilaian praktek:

Nama : …………………………………..
Kelas : …………………………………..
No Aspek Penilaian Skor
1 Kelancaran (kompetensi gramatikal di aspek bunyi bahasa) 20
2 Ketepatan (kompetensi gramatikal aspek nahwu sharaf) 20
3 Isi (kompetensi wacana dan sosiolinguistik) 20
4 Ucapan/pelafalan (kompetensi gramatikal aspek bunyi bahasa) 20
5 Gestur (kompetensi strategi) 20
Total 100

Indikator Penilaian aspek kelancaran (fluency)

Indikator penilaian aspek ketepatan (accuracy)


No Aspek Penilaian Skor
1 Tidak ada kesalahan gramatikal, diksi yang dipilih tepat 15 - 20
2 Tidak ada kesalahan gramatikal, diksi yang dipilih kurang tepat 10 - 14
3 Ada kesalahan gramatikal, diksi yang dipilih tepat 5–9
4 Ada kesalahan gramatikal, diksi yang dipilih kurang tepat 0-4
Indikator penilaian aspek isi

Petunjuk penskoran:
Penghitungan skor akhir menggunakan rumus:

Skor Perolehan x 10 = ….

2) Peserta didik membuat kartu nama


Contoh rubrik penilaian produk kartu nama

Keterangan:
Skor antara 1 – 5
Aspek yang dinilai disesuaikan dengan tugas yang diberikan
Pengayaan
Pengayaan diberikan kepada peserta didik yang telah mencapai kompetensi dan tujuan
pembelajaran.
Guru memberikan pertanyaan-pertanyaan yang lebih variatif dengan menambah
keluasan dan kedalaman materi yang mengarah pada high order thinking
Program pengayaan dilakukan di luar jam belajar efektif.

Remedial
Remedial diberikan kepada peserta didik yang belum mencapai kompetensi dan tujuan
pembelajaran
Guru melakukan pembahasan ulang terhadap materi yang telah diberikan dengan
cara/metode yang berbeda untuk memberikan pengalaman belajar yang lebih
memudahkan peserta didik dalam memaknai dan menguasai materi ajar misalnya
lewat diskusi dan permainan.
Program remedial dilakukan di luar jam belajar efektif.

Refleksi Guru:
Pertanyaan kunci yang membantu guru untuk merefleksikan kegiatan pengajaran di kelas,
misalnya:
Apakah semua peserta didik terlibat aktif dalam pembelajaran iniv ?
Apakah ada kesulitan yang dialami peserta didik?
Apakah semua peserta didik sudah dapat melampaui target pembelajaran?
Sudahkan tumbuh sikap yang mencerminkan profil pelajar pancasila dan profil pelajar
rahmatal lil ‘alamin?
Apa langkah yang perlu dilakukan untuk memperbaiki proses belajar?

Refleksi Peserta Didik:


LAMPIRAN 1

1. Tugas Mandiri
a. Secara mandiri identifikasikan kebudayaan masyarakat Madinah sebelum Islam datang
dan sesudah Islam datang dengan mengisi tabel dibawah ini !
Sebelum Islam datang Setelah Islam dating

b. Portofolio
Dakwah Rasulullah Saw periode Madinah banyak mengajarkan tentang toleransi,
terutama yang tertuang dalam Piagam Madinah. Bagaimanakah bentuk toleransi
tersebut menurut kalian ? Kemukakan jawaban kalian disertai dengan referensi yang
lengkap. Ketik dan kumpulkan kepada guru kalian !

2. Kegiatan Kelompok
Buatlah kelompok diskusi di kelasmu, masing-masing kelompok pilihlah satu ketua dan
satu notulen yang mencatat hasil diskusi. Diskusikan mengenai tema dibawah ini :
“Mengapa Rasulullah Saw dan para sahabatnya harus melakukan hijrah ? Apakah dakwah
Rasulullah Saw di Makkah gagal ? Jelaskan pendapat kalian !
Catat hasil diskusi kalian dalam not lendan serahkan kepada guru kalian untuk dikoreksi !

LAMPIRAN 2

A. Kebudayaan dan Kondisi Masyarakat Madinah Sebelum Islam


Madinah pada mulanya bernama Yatsrib, dinamakan Yatsrib karena orang pertama yang
tinggal di kota ini bernama Yasrib bin Qa‟id bin Ubail bin Aus bin Amaliq bin Lawudz
bin Iram, salah seorang anak keturunan Sam, putra Nabi Nuh As. kota ini sudah terbentuk
kurang lebih 1600 tahun sebelum masehi.
Kota Yatsrib berjarak sekitar 300 mil sebelah utara kota Makkah, merupakan kota yang
makmur dan subur dengan pertaniannya. Sebagai pusat pertanian, kota ini menjadi
menarik bagi penduduk kota lain untuk berpindah kesana. Kota Yatsrib dikelilingi oleh
gunung berbatu, disini terdapat banyak lembah, atau yang paling terkenal dengan nama
Wadi. Persawahan dan perkebunan yang subur menjadi sandaran hidup penduduk
setempat. Penghasilan terbesarnya adalah anggur dan kurma, tidak mengherankan jika
kurma terbaik di dunia terdapat di kota ini.
Luas kota Yatsrib kala itu hanya sekitar 15 km dan sekarang sudah berkembang menjadi
293 km dengan batas-batas geografis sebagai berikut:
a) Bagian selatan berbatasan dengan bukit Ayr
b) Bagian utara berbatasan dengan bukit Uhud dan bukit Tsur
c) Bagian timur berbatasan dengan Harrah Waqim
d) Bagian barat berbatasan dengan Harrah Wabarah
Komposisi penduduk Yatsrib sebelum Islam masuk, berbeda dengan kota Makkah.
Meskipun bersuku-suku, dilihat dari karakteristik budaya-agama, penduduk Makkah
memiliki sifat yang homogen sebagai penyembah berhala. Sedangkan wilayah Yatsrib
memiliki penduduk selain terdiri atas beberapa suku, juga ada suku Yahudi disana
dominan memeluk agama samawi dan ada juga pemeluk Nasrani.
Dilihat dari struktur sosial dan budaya, penduduk Yatsrib cenderung lebih heterog en
dibanding Makkah. Mereka terdiri atas berbagai macam etnis dan kepercayaan serta
memiliki adat istiadat sendiri dari masing-masing suku. Masyarakat Yatsrib sebelum
Islam dapat dikelompokkan menjadi tiga :
1. Suku Aus dan Khazraj
Kedua suku ini awal mulanya adalah nama dari dua orang saudara kandung anak dari
Harits bin Tsa‟labah dari istrinya yang bernama Qilah binti al-Arqam bin Amr bin
Jafnah. Pada perkembangan selanjutnya Aus dan Khazraj menjadi dua nama kabilah
besar di Yatsrib. Selama kurang lebih 120 tahun dua kabilah ini saling bertikai,
pertikaian ini tidak lain disebabkan karna provokasi kaum Yahudi yang iri dengan
kemajuan suku Aus dan Khazraj. Akibat provokasi kaum Yahudi, suku Aus dan
Khazraj terlibat perang saudara yang hebat dan berkepanjangan, salah satu peperangan
terkenal diantara keduanya disebut dengan perang Bu‟ats.
Ketika itu suku Aus yang memiliki kekuatan besar karena beraliansi dengan Yahudi
berhasil mengalahkan Khazraj. Pada musim Haji, suku Khazraj mencoba mencari
dukungan suku Quraisy di Makkah. Pada kesempatan itu Rasulullah Saw mencoba
menarik simpati suku Khazraj dengan mengajaknya memeluk Islam, tapi ajakan itu
ditolak oleh mereka. Selanjutnya justru suku Aus menaruh simpati terhadap ajakan
Rasulullah Saw dan melakukan konsolidasi dalam Baiat Aqabah pertama dan Baiat
Aqabah kedua.
Akhirnya suku Aus menyadari betul bahwa kemenangnya atas suku Khazraj bukan hal
yang menguntungkan, bahkan menjadi titik awal kehancurannya di tengah suku-suku
Yahudi, sebab mereka membuka peluang bagi kaum Yahudi untuk menghancurkan
dari belakang. Karena itu suku Aus terus berupaya melakukan rekonsiliasi dengan
Khazraj. Mereka terus berupaya mewujudkan gerakan perdamaian.
Kenyataan ini telah menunjukkan bahwa suku-suku Arab di Yatsrib terus berupaya
memelihara kekuasaan dan eksistensinya atas orang-orang Yahudi. Pada sisi lain,
perang Bu‟ats telah membangkitkan mereka untuk mencari perdamaian.
Keinginan untuk hidup damai inilah yang mendorong suku Aus dan Khazraj menerima
kehadiran Islam. Islam dalam pandangan mereka merupakan lambang persaudaraan
dan kedamaian.
2. Kaum Yahudi
Ketika kaum Yahudi berada di bawah tekanan bangsa Asyur dan Romawi, mereka
cenderung berpihak kepada orang-orang Hijaz, walaupun pada dasarnya mereka
adalah orang-orang Ibrani. Setelah bergabung dengan orang-orang Hijaz, gaya hidup
mereka berubah menjadi gaya hidup orang Arab, berbahasa Arab, serta mengenakan
pakaian yang biasa dipakai orang Arab pada umumnya, hingga namanama dan nama
kabilah mereka disebut dengan nama-nama Arab dan pada akhirnya mereka pun
menikah dengan orang Arab.
Namun meskipun demikian, mereka tetap memelihara rasa fanatisme mereka sebagai
orang Yahudi dan tidak membaur dengan bangsa Arab. Bahkan mereka terus
membanggakan dirinya sebagai Bani Israil dan meremehkan orang-orang Arab dengan
menghina dan meremehkannya. Kaum Yahudi tidak terlalu berambisi menyebarkan
agama mereka, mereka menganggap bahwa mereka adalah orang-orang berilmu,
memiliki kelebihan dibanding bangsa Arab.
Secara ekonomi, kaum Yahudi menguasai bagian terbesar dari kegiatan perekonomian
di Yatsrib. Mereka sangat terampil dalam mencari sumber penghidupan dan mata
pencaharian. Kaum Yahudi menguasai perputaran bisnis biji-bijian, kurma, khamr,
serta jual beli kain. Mereka mengeruk sekian kali lipat keuntungan dari bangsa Arab.
Dalam perdagangan, kaum Yahudi menerapkan sistem riba. Mereka memberikan
pinjaman kepada pemuka dan pemimpin bangsa Arab. Dari uang yang mereka
pinjamkan, mereka mengambil lahan serta tanah sebagai jaminan. Setelah masa
pelunasan habis dan hutang belum terbayar, tanah serta lahan menjadi hak milik
mereka.
Kaum Yahudi Madinah terdiri dari tiga kabilah terkenal, yaitu :
a. Bani Qainuqa, dulunya mereka adalah sekutu suku Khazraj, perkampungan mereka
berada di dalam kota Madinah
b. Bani Nadzir, sama seperti Bani Qainuqa mereka adalah sekutu dari suku Khazraj
yang tinggal di pinggiran kota Madinah
c. Bani Quraidzah, dulunya mereka adalah sekutu dari suku Aus dan bertempat
tinggal di pinggiran kota Madinah
Tiga bani inilah yang telah menyulut api peperangan antara suku Aus dan Khazraj
sejak lama dan berperan atas pecahnya perang Bu‟ats karena masing-masing
bergabung dengan sekutunya. Mereka juga menguasai sistem pertanian, perdagangan,
pertukangan, keuangan sehingga secara ekonomi dalam struktur sosial di Yatsrib telah
menduduki posisi yang sangat penting dan menentukan.
3. Kaum Musyrik
Mereka adalah orang-orang musyrik yang menetap di beberapa kabilah Madinah.
Mereka tidak memiliki kekuasaan atas penduduk Yatsrib. Bisa dikatakan bahwa
mereka adalah kaum minoritas yang hidup di Yatsrib. Mereka memiliki seorang tokoh
bernama Abdullah bin Ubay, sebelum Rasulullah Saw hijrah ke Yatsrib, tepatnya
setelah perang Bu‟ats usai, suku Aus dan Khazraj telah sepakat untuk menobatkan
Abdullah bin Ubay menjadi pemimpin kelompok mereka.
Abdullah bin Ubay merasa tidak ada pesaing di Yatsrib, maka ketika kabar datangnya
Rasulullah Saw ke Yatsrib sampai kepadanya dia merasa akan dirampas haknya oleh
Rasulullah Saw sehingga dia menyimpan benih-benih permusuhan dalam dirinya.
Sebagaimana Allah Swt. menguji kaum muslimin di Makkah dengan prilaku orang-
orang kafir Quraisy, demikian juga Allah Swt. menguji mereka di Yatsrib dengan
prilaku orang-orang Yahudi.
Dengan demikian di Yatsrib ini, masyarakat atau umat Islam (kelak) selalu berhadapan
dengan berbagai komunitas dengan pluralisme kebudayaan, baik dalam bermasyarakat
maupun dalam beragama.
Yatsrib yang kemudian diganti namanya menjadi „Madinatul Munawwarah‟ setelah
kedatangan Rasulullah Saw ini menjadi sangat terkenal. Kedatangan komunitas
Muslim Makkah ke Madinah sangat dinantikan oleh saudara-saudaranya seiman di
kota ini. Penduduk Madinah yang telah mengenal Rasulullah Saw dan menyatakan
beriman sangat senang dengan kedatangan rombongan yang kemudian disebut dengan
kaum Muhajirin. Kaum Muhajirin mengharapkan angin segar seperti yang tertuang
adalam perjanjian Aqabah yang telah mereka sepakati.
Hijrah bagi kaum muslimin Makkah, selain memberikan harapan baru untuk
pengembangan kehidupan mereka, diharapkan dapat menghasilkan kehidupan sosial
yang lebih aman, tertib dan sejahtera. Hal itu secara umum sulit ditemukan di Makkah.
Arti hijrah bagi kaum Muhajirin bukan pemutusan ikatan dengan tanah kelahiran dan
alam lingkungannya semua. Namun yang lebih utama bagi mereka adalah kesempatan
dan harapan baru untuk berubah menjadi anggota masyarakat baru yang dinamis yang
memiliki hak-hak warga kenegaraan yang sama.
Begitupun sebaliknya, bagi mereka yang menerima kaum Muhajirin, yang kemudian
disebut dengan Anshar (penolong), mereka merasakan adanya nuansa baru, baik
secara psikologis maupun sosiologis. Kaum Anshar seolah mendapat energi baru dari
sesama muslim dan etnis Arab, setelah sebelumnya selalu mendapat tekanan dari
berbagai kondisi ekonomi, sosial dan keagamaan di Madinah.

B. Substansi dan Strategi Dakwah Rasulullah Saw di Madinah


Kaum muslimin di Madinah telah mengetahui kabar berita kepergian Rasulullah Saw dari
Makkah. Setiap pagi mereka berbondong-bondong menuju al-Harrah menunggu
kedatangan beliau, hingga pada akhirnya mereka terpaksa pulang karena teriknya
matahari. Suatu hari mereka juga terpaksa pulang setelah lama menunggu kedatangan
Rasulullah Saw.. Tatkala mereka sudah beranjak ke rumah masing-masing, seorang laki
laki Yahudi naik ke atas atap rumahnya, lalu dia melihat Rasulullah Saw dan para
sahabatnya memakai baju putih.
Saat itu seisi Madinah semuanya berangkat untuk menyambut. Hari itu memang betul-
betul hari yang istimewa dan semua orang berkumpul. moment yang tidak pernah
disaksikan oleh penduduk Madinah sepanjang sejarah.
Sebelum sampai di Madinah Rasulullah Saw singgah dan tinggal selama empat hari di
Quba. Selama itu Rasulullah Saw mendirikan masjid Quba dan sholat didalamnya. Inilah
masjid pertama yang didirikan diatas ketaqwaan sejak kenabian. Memasuki hari kelima
tepatnya hari Jumat, Rasulullah bertolak menuju Madinah. Seusai sholat Jumat,
Rasulullah Saw sampai di Madinah.
Hari itu adalah hari bersejarah yang sangat ditunggu-tunggu masyarakat Madinah.
Rumah-rumah dan jalan ketika itu bergemuruh dengan pekikan Tahmid dan Taqdis
(penyucian). Putra putri kaum Anshar (penolong) menyanyikan bait-bait syair sebagai
ekspresi kegembiraan :

Bulan purnama muncul dihadapan kita, Dari jalan disela-sela bukit Wada‟
Kita wajib bersyukur karenanya, Apa yang dia serukan sebagai seorang dai adalah
untuk Allah

Wahai orang yang diutus kepada kami, Engkau telah membawa perkara yang ditaati
Sekalipun orang-orang Anshar bukanlah orang yang serba kecukupan (kaya raya) namun
mereka berharap rumahnya disinggahi oleh Rasulullah Saw. Saat melewati satu persatu
rumah orang-orang Anshar, mereka mengambil tali unta beliau. Setiap mereka lakukan
demikian, Rasulullah Saw berkata kepada mereka “biarkan unta ini lewat karena ia telah
diperintahkan (sesuai kehendak Allah Swt.)”. Unta itu terus berjalan hingga sampai
dilokasi masjid Nabawi sekarang ini. Di situlah kediaman bani An-Najjar, keluarga ibu
kakek Rasululullah Saw (Abdul Muthalib). Hal itu merupakan keistimewaan dari Allah
Swt kepada sang unta, peristiwa ini terjadi pada hari Jumat, 12 Rabiul Awwal tahun 1 H
bertepatan dengan tanggal 27 September 622 M.
Berikut langka-langkah yang dilakukan oleh Rasulullah Saw di Madinah :
1. Membangun Masjid
Langkah pertama yang dilakukan oleh Rasulullah Saw adalah mendirikan masjid yang

k
meem
muedrianntahdkiabneri mneanm
diarikman
asjim
d asNjiadbaw
inii.. Pbaedliaaulok
seansidiruintaikuters
t seebrutat dduad
laum
k, pbreolisaeus
pembangunan. Di tempat inilah dakwah Rasulullah Saw mulai dilakukan yaitu dengan
melakukan sholat jamaah, pengenalan dan penanaman ibadah mahdhoh, muamalah
dan kegiatan-kegiatan keagamaan lainnya sehingga wilayah di sekitar masjid menjadi
ramai. Selanjutnya diteruskan dengan membagun jalan raya di sekitar masjid. Lama
kelamaan, tempat itu menjadi pusat kota dan pemukiman. Rasulullah saw beserta
umatnya juga membangun jembatan-jembatan yang menghubungkan lembah yang
satu dengan lembah yang lainnya. Dengan demikian, masyarakat setempat dapat
berhubungan dengan masyarakat di lembah yang berbeda.
Pesatnya pembangunan kota Madinah menyebabkan adanya migrasi dari tempat lain.
Masyarakat yang ada di sekitar wilayah Madinah berdatangan dengan tujuan
berdagang dan tujuan yang lain. Keadaan yang demikian menyebabkan Madinah
menjadi kota terbesar di Jazirah Arab. Pada masa ini, masyarakat muslim berkembang
menjadi masyarakat besar dan berkuasa.
Hal itu menimbulkan kecemburuan pada kelompok masyarakat Yahudi dan Nasrani.
Mereka mulai memperlihatkan rasa tidak suka. Agar permasalahan yang muncul tidak
makin runyam, Nabi membuat peraturan untuk menata masyarakat.
2. Mempersatukan Suku Aus dan Khazraj
Dua suku yang sering bertikai ini disatukan untuk kemudian mereka melebur menjadi
kaum Anshar yang menolong hijrahnya Rasulullah Saw. Untuk memperkuat persatuan
diantara mereka dan dengan suku-suku lain yang berada di Madinah, Rasulullah Saw
membuat sebuah konstitusi yang akan disampaikan dalam pembahasan selanjutnya.
3. Mempersaudarakan kaum Muhajirin dan kaum Anshar
Disamping membangun masjid sebagai pusat perkumpulan dan persatuan, Rasulullah
Saw juga melakukan langkah lain yang merupakan sesuatu yang paling indah yang
pernah ditorehkan dalam sejarah, yaitu mempersaudarakan kaum Muhajirin dan kaum
Anshar, persaudaraan berdasarkan agama yang menggantikan persaudaraan yang
berdasarkan darah sehingga suasana menjadi lebih damai dan aman. Dengan
mempersatukan kedua saudara atas dasar agama, maka persatuan diantara mereka
semakin kokoh.
4. Penanaman Nilai-nilai Moral
Dengan berbagai langkah yang dilakukan Rasulullah Saw, beliau telah berhasil
menancapkan pilar-pilar masyarakat baru. Fenomena ini tidak lain merupakan dampak
dari nilai-nilai yang diserap oleh para generasi agung berkat persahabatan mereka
dengan Rasulullah Saw. Selalu komitmen terhadap mereka melalui pengajaran,
pendidikan, penyucian diri dan ajakan kepada perilaku mulia. Rasulullah Saw juga
mengajarkan kepada mereka tentang adab-adab berkasih sayang, bersaudara,
menjunjung keagungan, kemuliaan, ibadah dan ketaatan.
5. Membentuk tatanan masyarakat
Rasulullah Saw mempersatukan golongan Yahudi dari Bani Qainuqa, Bani Nadzir,
dan Bani Quraidzah. Rasulullah Saw membentuk suatu perjanjian yang melindungi
hak-hak asasi manusia di Madinah dan kemudian disebut dengan Piagam Madinah.

C. Peristiwa-peristiwa Penting Dalam Dakwah Rasulullah Saw Periode Madinah


Sejarah menyebutkan bahwa ketika di Makkah Rasulullah Saw dengan kegigihannya
menyiarkan Islam tidak memperoleh hasil yang menggembirakan. Rasulullah Saw dan
para pengikutnya secara politis benar-benar terpojok dan terjepit. Sebaliknya ketika
sampai di Madinah, Islam benar-benar mendapat respon positif. Dakwah Islam di
Madinah selama kurang lebih 10 tahun membawa kemajuan yang sangat pesat. Philip K
Hitty seorang sejarahwan orientalis mengatakan bahwa apa yang dilakukan oleh
Rasulullah Saw di Madinah sudah masuk pada tatanan sebuah negara. Hal tersebut
dibuktikan dengan adanya unsur sebuah negara yaitu, adanya pemimpin, adanya wilayah,
adanya undang-undang, ada rakyat dan ada kedaulatan.
Berikut ini beberapa peristiwa penting dalam dakwah Rasulullah Saw periode Madinah :
1. Piagam Madinah (Mitsaq Madinah)
Lahirnya Piagam Madinah yang diperkirakan kurang dari dua tahun Rasulullah Saw
tinggal di Madinah ini, membuktikan bahwa Rasulullah Saw dalam dakwahnya
berhasil mengadakan konsolidasi dan negosiasi dengan berbagai kelompok
kepentingan di Madinah, selanjutnya tampil sebagai pemimpin serta menata kehidupan
sosial politik di sana. Piagam Madinah ini secara tidak langsung menandai berdirinya
sebuah Negara.
Para sejarahwan menyebut bahwa Piagam Madinah sebagai konstitusi tertua di dunia
sepanjang sejarah. Piagam tersebut menjamin kebebasan beragama kaum Yahudi,
menekankan kerjasama sedekat mungkin di kalangan Islam (Muhajirin dan Anshar),
menyerukan kepada kaum Yahudi dan orang-orang Islam bekerjasama untuk
perdamaian berdasarkan peraturan umum, serta menetapkan kewenangan mutlak
kepada Rasulullah Saw untuk menyelesaikan dan menegakkan perselisihan di antara
mereka.
Naskah Piagam Madinah terdiri dari 47 pasal yang dibuat dalam dua waktu yang
berbeda. Pertama kesepakatan yang terjadi sebelum berlangsungnya perang Badar dan
berisi 24 pasal yang membicarakan tentang hubungan antara umat Islam dengan umat -
umat lainnya termasuk dengan kaum Yahudi. Kedua, kesepakatan yang terjadi setelah
berlangsungnya perang Badar dan berisi 23 pasal yang memuat tentang hubungan
antara umat Islam yaitu kaum Muhajirin dan Anshar.
Inti dari Piagam Madinah adalah sebagai berikut :
a. Kaum Yahudi beserta kaum muslim wajib turut serta dalam peperangan
b. Kaum Yahudi dari Bani Auf diperlakukan sama dengan kaum muslimin
c. Kaum Yahudi tetap dengan agama Yahudi mereka, dan demikian pula dengan
kaum muslimin.
d. Semua kaum Yahudi dari semua suku dan kabilah di Madinah diperlakukan sama
dengan kaum Yahudi bani Auf
e. Kaum Yahudi dan muslimin harus tolong menolong dalam memerangi atau
menghadapi musuh
f. Kaum Yahudi dan muslimin harus senantiasa saling berbuat kebajikan dan saling
mengingatkan ketika terjadi penganiayaan atau kedzaliman
g. Kota Madinah dipertahankan bersama dari serangan pihak luar
h. Semua penduduk Madinah dijamin keselamatannya kecuali bagi yang berbuat jahat

i. Maudhianm
[Link] Rasulullah Saw adalah pemimpin umum untuk seluruh penduduk
Seorang sejarahwan bernama W. Montgomery Watt dalam bukunya Islamic Political
Thought mengatakan bahwa point-point terpenting yang terdapat dalam Piagam
Madinah yang menggambarkan bentuk negara adalah sebagai berikut :
a. Orang-orang beriman dan ketergantungan-ketergantungan mereka adalah
merupakan suatu komunitas yang utuh (ummah)
b. Setiap suku atau bagian dari suku masyarakat ini bertanggung jawab terhadap harta
rampasan atau uang tebusan atas nama masing-masing anggotanya (pasal 2-11)
c. Para anggota masyarakat diharapkan menunjukkan kekompakan dalam menghadapi
tindak kejahatan, dan agar tidak membantu tindakan kejahatan sekalipun untuk
anggota terdekatnya, yang tindakannya itu bersangkutan dengan anggota
masyarakat lain (pasal 13,21)
d. Para anggota masyarakat diharapkan menunjukan rasa kekompakan yang penuh
dan dalam menghadapi orang-orang yang tidak beriman, baik dalam situasi damai
maupun situasi perang (pasal 14, 17, 19, 44), dan juga solidaritas dalam pemberian
“perlindungan tetangga” (pasal15)
e. Orang Yahudi yang berasal dari berbagai kelompok adalah milik masyarakat dan
mereka harus menjaga agama mereka sendiri, mereka dan orang-orang Islam harus
saling membantu bila itu diperlukan, termasuk bantuan militer (pasal 24-35, 37, 38,
46).
2. Respon Nabi Terhadap Kaum Kafir Quraisy

Gambar 2.2 bukit Uhud


Selama berdakwah Rasulullah Saw belum pernah memaksa apalagi memerangi
seorangpun untuk memeluk Islam, ajakan tersebut hanya sebatas menyampaikan kabar
gembira maupun memberi peringatan. Untuk itu Allah Swt selalu menurunkan ayat-
ayatnya yang memberikan semangat kepada Rasulullah Saw, bersabar di dalam
menghadapi perlakuan yang menyakitkan dari pihak kafir Quraisy. Hingga dua tahun
di Madinah turunlah wahyu tentang diperberbolehkannya berperang QS. Al-Hajj (22) :
39-40.

Ar tinya :
39. Diizinkan (berperang) kepada orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya
mereka dizalimi. Dan sungguh, Allah Maha kuasa menolong mereka itu,
40. (yaitu) orang-orang yang diusir dari kampung halamannya tanpa alasan yang

be
Allnaahr,tihdankym
a eknaorleanka(km
egere
ankaasabne)rkseabtaa,gi“aT
num
haannuksaiamid einaglaahn A
sella
bahg.”
ianSeyaanndgalinaiyna,
tentu telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah
orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah.
Allah pasti akan menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sungguh, Allah
Maha kuat, Maha perkasa. (QS. Al-Hajj [22] : 39-40).
Kemudian Allah Swt. memerintahkan pelaksanaanya melalui firman Allah dalam QS.
Al-Baqarah (2) : 190.
Ar tinya : “Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tetapi
jangan melampaui batas. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang
melampaui batas. (QS. Al-Baqarah [2] :190).
Rasulullah Saw hanya terbatas memerangi orang-orang Quraisy saja, tidak semua
bangsa Arab. Akan tetapi tatkala mereka bahu membahu bersama orang-orang
musyrik Arab untuk memerangi orang-orang Muslim, maka Allah Swt memerintahkan
kepada Rasulullah Saw untuk memerangi orang-orang musyrik secara keseluruhan.
Dengan demikian jihad itu bersifat umum, yaitu diadakan untuk melawan orang-orang
yang tidak memiliki kitab suci dan atau orang-orang watsani (penyembah berhala).
Setelah turunnya wahyu diperbolehkannya umat Islam berperang dalam rangka
mempertahankan diri, umat Islam tidak lagi bersifat pasif dan mengalah terhadap
tindakan semena-mena kaum kafir. Dalam sejarah ada dua sebutan untuk perang pada
masa Rasulullah Saw. : pertama ghazwah yaitu peperangan yang diikuti oleh
Rasulullah Saw terjadi sebanyak 27 kali dan kedua sariyyah untuk peperangan yang
tidak diikuti oleh Rasulullah Saw terjadi sebanyak 47 kali.
a. Peristiwa Badar
Peristiwa Badar adalah perang pertama kali dalam sejarah Islam, terjadi pada tahun
2 H atau tahun 625 M di lembah Badar. Pasukan Muslimin kala itu berjumlah 313
orang dengan pasukan kafir Quraisy berjumlah 1000 orang. Ada sebuah peristiwa
menarik dalam perah Badar yang menandakan pertolongan dan janji Allah Swt itu

n
myeantau,runykait
anu sekbeti
uakha hpuajda. sHaulajahn siantiu bam
an gai lakm
aumterm
jaudsiyrp
ikeipnertaenragsaan,saA
ngllaathleS
bawt,t
sehingga mencegah mereka untuk maju, sementara bagi kaum Muslimin hujan ini
terasa bagaikan gerimis yang dapat menyucikan mereka, menghilangkan gangguan
setan dari diri mereka, mudah untuk menapaki bumi, mengeraskan pepasiran,
memantapkan langkah menyiapkan posisi dan memantapkan hati mereka. Sungguh
sebuah pertolongan yang nyata dari Allah Swt bagi kaum muslimin waktu itu.
Dalam peperangan Badar ini umat Islam memperoleh kemenangan.
b. Peristiwa Uhud
Kekalahan dalam perang Badar membuat kaum kafir Quraisy berusaha untuk
menghimpun kekuatan. Genap satu tahun dari peristiwa perang Badar, berangkatlah
pasukan kafir Quraisy menuju Madinah. Pasukan Quraisy Makkah berhenti di dekat
Gunung Uhud di sebuah tempat bernama Ainun di tanah tandus utara Madinah di

samping gunung Uhud.


Rasulullah Saw beserta pasukan Muslimin Madinah keluar dari kota Madinah.
Tepat disebuah tempat bernama Syauth beliau melaksanakan sholat subuh. Pada
waktu itu Rasulullah Saw sudah sangat dekat dengan musuh, disinilah Abdullah bin
Ubay beserta 300 pasukan membelot dan kembali ke Madinah.
Rasulullah Saw sangat yakin dengan pertolongan Allah, beliau tidak gentar
sedikitpun ketika jumlah pasukannya berkurang. Disinilah Allah menurunkan
bantuannya dengan memberikan keyakinan kepada pasukan yang masih setia
dengan Rasulullah Saw.
Perang Uhud telah menorehkan kesedihan dalam hati Rasulullah Saw karena paman
beliau, Hamzah bin Abdul Mutholib wafat di tangan Wahsy bin Harb yang
merupakan suruhan dari Hindun istri Abu Sufyan.
Ketika kaum muslimin sudah mendapatkan kemenangan, tiba-tiba pasukan
muslimin yang berada di bukit Uhud tergiur harta rampasan perang ( ghanimah)
sehingga pasukan pemanah itu menuruni bukit dan akhirnya berhasil diserang
kembali oleh kaum kafir Quraisy.
Perintah Rasulullah Saw untuk tidak meninggalkan bukit Uhud tidak lagi
dihiraukan. Akibatnya kaum muslimin mengalami kekalahan. Disini bisa kita lihat
bahwa ketaatan kepada pimpinan sangat diutamakan demi tercapainya tujuan
bersama.
c. Peristiwa Ahzab
Peristiwa Ahzab atau perang Khandak terjadi pada bulan Syawal tahun ke 5
Hijriyah disekitar kota Madinah bagian utara. Rasulullah Saw bermusyawarah
dengan para sahabat tentang strategi dan taktik yang digunakan. Salah seorang
sahabat bernama Salman Al-Farisi berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya dulu
ketika kami di Negeri Persia, apabila kami dikepung (musuh), maka kami membuat
parit di sekitar kami” (dan itu merupakan strategi yang sangat jitu dan belum
dikenal oleh bangsa Arab sebelumnya).
Maka bersegeralah Rasulullah Saw melaksanakan rencana tersebut dan beliau
mempercayakan kepada setiap sepuluh orang untuk mengambil parit seluas empat
puluh hasta. Peristiwa ini menandakan keluhuran budi Rasulullah Saw, yang mau
menerima usulan dari orang lain dan ketaatan dari para sahabat terhadap apa yang
diperintahkan oleh seorang pimpinan kepadanya.
Rasulullah Saw ikut serta dalam penggalian parit seraya terus memberikan
semangat kepada mereka. Keadaan yang serba kekurangan dan kelaparan tidak
melemahkan semangat mereka. Dalam keadaan seperti ini banyak sekali muncul

tsaanhdaab-attanJdaabirkebnianbiA
anbdduallam dierliihRaat sR
h m ulauslulaluhllSawS, asw
ah atudadlaiam
ntakreaandyaaankeltaik
par,seboerlaing
au
secara diam-diam mengundang Rasulullah Saw untuk menikmati hidangan di
rumahnya dengan beberapa orang sahabat saja, Jabir melakukan secara diam-diam
karena khawatir makanan yang dihidangkan tidak mencukupi jika dia mengundang
secara terbuka.
Namun Rasulullah Saw memanggil seluruh penggali parit yang jumlahnya
mencapai seribu orang, mereka makan sepuasnya hingga kenyang, dan anehnya
masih tersisa sepanci daging dalam keadaan tertutup seperti belum dimakan,
demikian juga dengan hidangan yang lainnya, roti dan kurma masih utuh bahkan
sampai kurma berjatuhan dari ujung baju mereka ketika mereka mengambil untuk
bekal.
Kaum muslimin meneruskan penggalian parit itu sepanjang hari, dan pulang ke

rsu
esmuaahi dm
enag
sianng-m
yanagsidnigrepnacdaanaskoarne. harinya, sehingga penggalian parit dapat selesai
Ketika kaum kafir Quraisy akan menyerang kaum Muslimin dan memasuki
Madinah, mereka terhalang oleh parit-parit itu. Akhirnya kafir Quraisy hanya bisa
mengelilingi parit sambil mencari titik lemah untuk dijadikan pintu masuk ke
Madinah. Selama beberapa hari kaum kafir Quraisy mengepung kota Madinah
hingga pada akhirnya Allah Swt memberikan pertolongannya dengan turunnya
hujan badai yang memporak porandakan perkemahan kaum kafir Quraisy.
Demikianlah pada akhirnya kaum Muslimin mengalami kemenangan pada
peristiwa perang Ahzab.
3. Perjanjian Hudaibiyah
Rasulullah saw dan kaum muslimin sudah merindukan untuk menunaikan ibadah haji.
Pada tahun 6 H Rasulullah saw dan kaum muslimin berangkat ke Makkah. Jumlah
mereka sebanyak 1.000 orang. Untuk menghilangkan praduga jelek dari kaum kafir
Quraisy, umat Islam berpakaian ihram dan menuntun ternak untuk disembelih pada
hari Tasyrik di Mina. Untuk sekedar menjaga diri, mereka membawa pedang yang
disarungkan.
Ketika sampai di suatu tempat yang bernama Hudaibiyah, Rasulullah saw berhenti.
Beliau mengutus Usman bin Affan untuk menjelaskan kepada kaum kafir Quraisy
tujuan kaum muslimin ke Makkah, yaitu untuk beribadah haji dan menengok saudara -
saudaranya. Namun, Usman ditahan kaum kafir Quraisy dan terdengar berita bahwa
beliau dibunuh. Ternyata, berita tersebut tidak benar, Usman telah datang dan berhasil
memberi penjelasan kepada kaum kafir Quraisy.
Tidak lama kemudian, utusan kaum kafir Quraisy bernama Suhail bin Amr datang.
Dalam pertemuan itu disepakati perjanjian antara kaum kafir Quraisy dankaum
muslimin. Perjanjian ini disebut Perjanjian Hudaibiyah. Adapun isinya sebagai
berikut:
a. Umat Islam tidak boleh menjalankan ibadah umrah tahun ini. Tahun depan baru
diperbolehkan dan tidak boleh berada di Makkah lebih dari tiga hari.
b. Keduanya tidak saling menyerang selama 10 tahun.

c. Orang Islam yang lari ke Makkah (murtad) diperbolehkan, sedangkan orang kafir
(Makkah) yang lari ke Madinah (masuk Islam) harus ditolak.
d. Suku Arab yang lain, bebas memilih bergabung dengan Rasulullah ke Madinah atau
mengikuti kafir Quraisy ke Makkah.
e. Kaum muslimin tidak jadi melaksanakan ibadah Umrah tahun ini, tetapi
ditangguhkan sampai tahun depan.
Nampaknya, isi perjanjian ini merugikan kaum muslimin, tetapi hikmahnya sanga t
besar. Masa 10 tahun dapat dimanfaatkan untuk berdakwah dengan bebas tanpa
khawatir ada gangguan dari kaum kafir Quraisy.

D. Hikmah Pembelajaran
1. Hijrah berarti berpindahnya seseorang dari satu tempat yang tidak kondusif ke tempat

y
maenngjaldeibkiahnkIosn
ladm
ussief,[Link] oleh Rasulullah dari Makkah ke Madinah
2. Hendaknya selalu sabar dan berpikir jernih dalam menghadapi segala keadaan.
3. Rasulullah Saw adalah suri tauladan bagi pengikutnya, beliau selalu menunjukan sikap
toleransi, cinta damai, melindungi kaum yang lemah, murah hati dan rela berkorban.
4. Kehidupan masyarakat Madinah yang sangat plural menjadikan mereka memiliki
toleransi yang tinggi terhadap kehidupan keberagamaannya.
LAMPIRAN 3

J azirah : Tanah yang menjorok ke laut seakan-akan seperti


pulau; Semenanjung
Hanif : Yang benar dan lurus
As-Sabiqunal Awwaluun : Sekelompok sahabat Rasulullah Saw yang paling
pertama masuk Islam
Nejus : Seorang penguasa (raja) Kristen di Habasyah
(Ethiopia) yang menerima umat Islam ketika hijrah
ke negaranya
Dakwah : Ajakan seseorang terhadap orang lain untuk
mengikuti Ajakannya
Isra : Perjalanan Rasulullah Saw pada sepertiga malam
dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha
Mi‟raj : Naiknya Rasulullah Saw dari masjidil Aqsha ke
Sidratul Muntaha (al-Arsy)
Amul Huzni : Tahun kesedihan
Yasrib : Kota tua di Arab, yang kemudian berganti nama
menjadi Madinatul Munawwarah ketika Rasulullah
Saw dan umat Islam hijrah ke kota tersebut
Diskriminasi : Perbedaan perlakuan terhadap seseorang
berdasarkan perbedaan materi atau fisik
Kabilah : Suku atau kaum yang berasal dari satu keturunan
F athu Makkah : Penaklukan Kota Makkah terjadi pada tahun ke 8
hijriyah
Muhaji rin : Para sahabat Rasuluullah Saw yang mengikuti
hijrah dari kota Makkah ke Madinah
Anshar : Para sahabat Rasulullah Saw yang berasala dari
Madinah dan memebrikan pertolongan dalam
pengembangan Islam di Madinah
Piagam Madinah : Piagam perjanjian antara umat Islam di Madinah
dengan bangsa Yahudi dan non muslim lainnya
Hudaibiyah : Sebuah tempat berjarak 6 mil dari kota Makkah,
ditempat ini terjadi perjanjian damai antara umat
Islam dengan penduduk kafir Quraisy Makkah
Haji Wada‟ : Haji Terakhir atau haji perpisahan yang dilakukan
oleh Rasulullah sebelum beliau wafat
Kulafaur R asyidin : Para pemimpin pengganti yang mendapat
petunjukdari Allah Swt
Tsaqifah bani Saidah : Sebuah tempat pertemuan atau balai irung milik
Bani
Saidahyangpernahdigunakandalamprosespemilihan
Khalifah Abu Bakar As-Shidiq
Saad bin Ubadah : Kandidat khalifah dari kaum Anshar
Dewan E nam (Ahlul Halli Wal „Aqdi) : Lembaga pemilihan khalifah yang dibentuk oleh
Khalifah Umar bin Khatab yang bertugas
mealakukan seleksi para kandiadat yang akan
menjadi khalifah
Tahkim : Penyelesaian konflik antar Ali dan Muawiyah
Nidzamus Siyasi : Lembaga atau organisasi politik, seperti jabatan
khalifah, kitabah, dan hijabah
Diwan al-K harraj : Departemen pajak
Khalifah : Pemimpin tertinggi dalam Negara Islam
Mawali : Kaum muslim non Arab
Monarchi Hereditas : Sistem kekuasaan dengan penunjukan pemimpin
berdasarkan garis keturunan
Peradaban : Kemajuan (kecerdasan, kebudayaan) lahir batin
Mundur : Berjalan (bergerak) ke belakang

Peninggalan : Barang sisa (bekas, reruntuhan, dan sebagainya)


dari zaman Dulu
Berakhir : Selesai, berkesudahan, habis.
Mulk at Thawaif : Raja-raja dan amir-amir yang memerintah wilayah
Islam di Spanyol
LAMPIRAN 4

Abdurrahman Asy-Syarqawi, Abu Bakar ash-Shiddiq The Successor, (trj. Abu Bakar Ash-
Shiddiq Al-Khalifah al-Ula), (Bandung, Sygma Publishing, 2010)
Abu Syafi Muhammad Abdul Lathif, Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Bani Umayyah, ([Link]-
Ilm al Islami), (Jakarta, Pustaka al-Kautsar,2014)
Ahmad Syalabi, Sejarah Kebudayaan Islam, (Jakarta, Pustaka Husna, 1979) Ajid Thohir,
Sirah Nabawiyah, (Bandung, Penerbit Marja, 2014)
Akram Diya al Umari, Masyarakat Madinah pada Masa Rasulullah Saw (Sifat dan
Organisasi yang dimilikinya), (Jakarta, Media Dakwah, 1994)
Ali Muhammad Ash-Shalabi, Biografi Usman bin Affan, (trj. Siirah Amiirul Mukminin
Usman bin Affan), (Jakarta, Pustaka al-Kautsar, 2013)
Ali Muhammad Ash-Shalabi, Episode Krusial Sejarah Islam Muawiyah bin Abu Sufyan
([Link] bin Abu Sufyan), (Jakarta, Daarul Haq, 2012)
Ali Muhammad Ash-Shalabi, The Great Leader of Umar bin Al-Khathab, (trj. Syahsiyatu
Umar wa Aruhu), (Jakarta, Pustaka al-Kautsar, 2008)
Badri Yatim, Sejarah Peradaba Islam, (Jakarta, LSKIK, 1993)
Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam,Dirasah Islamiyah II, (Jakarta, PT. Raja Grafindo
Persada, 2013)
Ibrahim al-Quraibu, Tarikh Khulafa, Sejarah Lengkap Kehidupan Khalifah setelah wafatnya
Rasulullah Saw, (Jakarta, Qisti Press, 2012)
Imam As-Suyuthi, Tarikh Khulafa, Sejarah Penguasa Islam, (Jakarta, Pustaka Al- Kautsar,
2005)
M. Quraish Shihab, Membaca Sirah Nabi Muhammad Saw (dalam sorotan al-Qur‟an dan
Hadits-hadits Shohih), (Tangerang, Lentera Hati, 2012)
Muhamad Al-Ghazali, Sejarah Perjalanan Hidup Muhammad (trj. Fiqh U Seerah:
Understanding the Life of Prophet Muhammad), (Yogyakarta, Mitra Pustaka, 2008)
Muhammad Husain Haikal, Khalifah Rasulullah Abu Bakar As-Shiddiq, (trj. Abu Bakar Ash-
Shiddiq), (Solo, Pustaka Mantiq, 1994)
Muhammad Ridha, Muhammad Saw ([Link] Nabawiyah), (Bandung, Irsyad Baitus
Salam,2010)
Murodi, Pendidikan Agama Islam Sejarah Kebudayaan Islam, (Semarang, Thoha Putra, 2008
Philip [Link], Capital Cities of Arab Islam, (Minneapolis, 1973)
Siti Maryam dkk, Sejarah Peradaban Islam: Dari Masa Klasik Hingga Modern, (Yogyakarta,
LESFI, 2012)
Sugiharto Sugeng, Bingkai Sejarah Kebudayaan Islam, (Surakarta, [Link] Serangkai,2008)
Sugiyono, Perjalanan Sejarah Kebudayaan Islam, (Surakarta, PT. Tiga Serangkai, 2014)
Syaikh al Mubarakfuuri Shafiyurrahman, Perjalanan Hidup Rasul yang Agung
MUHAMMAD, (dari kelahirna hingga detik-detik terakhir), (Jakarta, Daarul Hak, 2015)
Syaikh al Mubarakfuuri Shafiyurrahman, Sejarah Emas dan Atlas Perjalanan Nabi
Muhammad, (trj. Ar-Rahiq al-Makhtum), (Surakarta, Visi Media, 2012)
Syaikh Khalid Muahammad Khalid, Lima Khalifah Kebanggan Islam, Sejarah Para
Pemimpin Besar Islam, (Jakarta, Akbar Media, 2013
Syeikh Muhammad Khudori Bek, Negara Khilafah (Dari Masa Rasulullah Saw hingga Masa
Bani Umayyah), (trj. Ad-Daulatu al-Umawiyatu), (Bogor, Pustaka Thariqul Izah, 2013
cet. 1)
Syeikh Muhammad Khudori Bek, Negara Khilafah (Dari Masa Rasulullah Saw hingga Masa
Bani Umayyah), (trj. Ad-Daulatu al-Umawiyatu), (Bogor, Pustaka Thariqul Izah, 2013
cet.2)
Syekh Muhammad Khudhari Bek, Nurul Yaqin (fii siirati Sayyidil Mursalin), ([Link] Abu
Bakar), (Bandung, SInar Baru Algensindo, 2008)
[Link], Islamic Political Thought, (Edinburg, Edinburg University Press,1980)
Yusuf al-Isy, Dinasti Umawiyah, ([Link]-Daulah Al-Umawiyah wa Ahdats Allati Sabaqati wa
Mahhadat laha, ibtidaan min Fitrah Usman, (Jakarta, Pustaka Al-Kautsar, 2014)

Pluto, 2025
Guru SKI
Mengetahui
Kepala Sekolah Pluto

Muhammad Jibril Mikail Isrofil


Nzib Baihaqi

Anda mungkin juga menyukai