Papers
[Link]/[Link]/quantum
Seminar Nasional Quantum #25 (2018) 2477-1511 (6pp)
Penerapan perangkat pembelajaran fisika berbasis kearifan
lokal untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis pada
konsep besaran dan satuan
H Utiah1, dan Yoseph Paramata2
Program Magister Pendidikan Fisika, Pascasarjana Universitas Negeri Gorontalo
E-mail: 1hadrianiutiah66@[Link], 2yoshpar@[Link]
Abstrak. Penelitian ini memaparkan tentang upaya peningkatan kemampuan berpikir kritis
peserta didik pada konsep Besaran dan Satuan melalui penerapan perangkat pembelajaran
berbasis kearifan lokal (Local Wisdom). Penelitian ini menggunakan metode kuasi experimen
dengan rancangan One Group Pretest-Posttes Design. Sampel penelitian adalah peserta didik
SMK Pertanian kelas X suatu sekolah di Kabupaten Gorontalo yang dipilih dengan teknik
Cluster Random Sampling. Instrumen pengumpulan data yang digunakan adalah tes
kemampuan berpikir kritis, lembar observasi aktivitas peserta didik, dan angket. Analisis data
yang digunakan adalah rerata N-gain ternormalisasi dan presentase. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa penerapan perangkat pembelajaran berbasis kearifan lokal efektif untuk
meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik yang ditunjukkan dengan hasil uji N-
gain sebesar 0,63 pada kategori sedang; rata-rata hasil observasi aktivitas peserta didik sebesar
84% dengan kategori baik; dan hasil angket menunjukkan respon positif terhadap penerapan
perangkat pembelajaran berbasis kearifan lokal.
1. Pendahuluan
Pelajaran Fisika merupakan salah satu mata pelajaran yang sangat bermanfaat dalam kehidupan sehari-
hari, baik itu dalam ilmu pendidikan maupun dalam ilmu pengembangan teknologi. Fisika merupakan
salah satu bagian dari ilmu pengetahuan alam yang tidak hanya mencakup pengetahuan berupa fakta,
konsep atau prinsip saja, tetapi juga merupakan suatu proses pembelajaran yang memberikan
pengalaman langsung kepada peserta didik untuk memahami alam sekitar secara ilmiah. Melalui
pelajaran fisika kita mampu mempelajari gejala-gejala alam yang tidak terbatas dalam konteks ruang
dan waktu, sehingga diharapkan peserta didik dapat membangun konsep fisika, menumbukan
kecakapan ilmiah, keterampilan proses serta kemampuan berpikir kritis untuk memecahkan masalah
dalam kehidupan sehari-hari. Namun peserta didik masih kesulitan dalam mengkonstruksi konsep
mereka sendiri karena dipengaruhi oleh keterbatasan pengetahuan dan kemampuan. Hal ini
menyebabkan peserta didik menganggap fisika adalah mata pelajaran yang sulit untuk dipahami.
Berdasarkan Permendikbud No. 64 Tahun 2013 tentang Standar Isi, salah satu kompetensi yang harus
dikembangkan pada mata pelajaran fisika adalah mengembangkan sikap rasa ingin tahu, jujur,
tanggung jawab, logis, kritis, analitis, dan kreatif melalui pembelajaran fisika. Oleh karena itu dalam
pembelajaran fisika diperlukan kemampuan menganalisis dengan cara optimalisasi berpikir kritis agar
peserta didik mampu mencapai tujuan dari pembelajaran fisika [1].
Prosiding Seminar Nasional Quantum 19 © 2018 Pend. Fisika UAD
H Utiah
Terdapat kecenderungan bahwa pembelajaran di dalam kelas masih sebatas peserta didik menghapal
materi yang diberikan oleh guru. Peserta didik harus memiliki pemahaman konsep yang matang agar
dapat memecahkan permasalahan terkait fenomena-fenomena fisika yang ada disekitar mereka dengan
baik. Pemahaman konsep memberikan pengertian bahwa materi-materi fisika yang diajarkan bukan
hanya sekedar hafalan, namun lebih dari itu. Jika peserta didik tidak memiliki pemahaman konsep
yang baik, maka akan sulit untuk mereka memahami materi-materi dalam fisika. Akibatnya peserta
didik tidak dapat memecahkan permasalahan fisika dengan baik. Oleh sebab itu agar terjadi
pengkonstruksian pengetahuan secara bermakna, guru seharusnya dapat melatih peserta didik agar
berpikir kritis dalam menganalisis maupun dalam memecahkan suatu permasalahan. Tujuannya agar
peserta didik mampu berkembang dalam berpikir tingkat tinggi. Hasil penelitian Wall [2]
menunjukkan bahwa kemampuan berpikir tingkat tinggi dapat dengan mudah ditransfer jika kondisi
dari desain kurikulum disatukan penguatan aspek berpikir tingkat tinggi. Oleh karena itu, dalam
pembelajaran fisika guru harus mampu mengaitkan materi fisika dengan berbagai fenomena yang
sering dijumpai oleh peserta didik di lingkungan sekitarnya. Guru dituntut untuk mampu
mengumpulkan berbagai informasi terkait dengan fenomena fisika yang ada dilingkungan sekitar
peserta didik. Dalam hal ini pembelajaran yang sesuai dengan uraian tersebut adalah pembelajaran
dengan menerapkan kearifan lokal.
Mengacu pada tujuan seperti yang diungkap dalam sistem Pendidikan Nasional tahun 2003,
pembelajaran dapat dilaksanakan dengan pembelajaran berbasis kearifan lokal. Pembelajaran kearifan
lokal dapat dilakukan dengan mengintegrasikan nilai-nilai kearifan lokal di daerah sekitar sekolah
kedalam pembelajaran fisika. Oleh karena itu tujuan pembelajaran fisika perlu diintegrasikan dengan
aspek kearifan lokal. Salah satu sumber belajar anak adalah lingkungan sekitar, yakni lingkungan alam
maupun lingkungan sosial. Kearifan lokal yang telah berkembang diduga memiliki ketahanan terhadap
berbagai hal yang datang dari luar dan mampu berkembang untuk masa mendatang. Oleh karena itu
implementasi kearifan lokal suatu bangsa dalam pembelajaran memiliki peran dalam membentuk
kepribadian yang sesuai dengan nilai-nilai budaya bangsa.
Pembelajaran dengan mengangkat budaya-budaya lokal telah diatur dalam peraturan pemerintah dan
rencana strategis. Peraturan pemerintah No. 19 tahun 2005 BAB III pasal 14 ayat 1 menyebutkan
bahwa ‘Kurikulum untuk SMP/MTs/SMPLB atau bentuk lain yang sederajat dan kurikulum untuk
SMA/MA/SMALB atau bentuk lain yang sederajat dapat memasukkan pendidikan berbasis
keunggulan lokal’[3]. Peraturan pemerintah No.17 tahun 2010 pasal 35 ayat 2 juga menyatakan bahwa
‘Pemerintah kabupaten/kota melaksanakan dan/atau memfasilitasi perintisan program dan/atau satuan
pendidikan yang sudah atau hampir memenuhi Standar Nasional Pendidikan untuk dikembangkan
menjadi program dan/atau satuan pendidikan bertaraf internasional dan/atau berbasis keunggulan lokal
[4]. Hal ini berarti upaya penerapan pembelajaran yang berbasis kearifan lokal merupakan hal yang
harus dirintis dan diwujudkan keterlaksanaannya. Dalam hubungan ini pembelajaran fisika dapat
dilakukan dengan mengintegrasikan nilai-nilai fisika dengan budaya setempat, karena pada dasarnya
fisika adalah ilmu yang bersumber dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Berdasarkan hasil analisis terkait pembelajaran berbasis kearifan lokal, maka penelitian ini akan
memaparkan upaya untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis pesera didik dengan menerapkan
perangkat pembelajaran berbasis kearifan lokal dengan model pembelajaran aktif pada konsep besaran
dan satuan.
2. Metode Penelitian
Penelitian ini termasuk dalam penelitian quasi eksperimen dengan rancangan One Group Pre-Test –
Post-Test Design. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X.2 ATPH (Agro Bisnis Tanaman Pangan
dan Holtikultura) SMK Negeri 1 Mootilango di Kabupaten Gorontalo yang ditetukan dengan
menggunakan Cluster Random Sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan tes kemampuan
berpikir kritis, lembar observasi aktivitas peserta didik dan angket respon peserta didik. Tes
kemampuan berfikir kritis berupa tes soal uraian yang digunakan untuk mengukur keterampilan
April 2018 20 ISSN: 2477-1511
Penerapan Perangkat Pembelajaran Fisika Berbasis Kearifan Lokal untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir
Kritis Pada Konsep Besaran dan Satuan
tingkat tinggi peserta didik. Selain itu, pada penelitian ini juga menggunakan lembar observasi peserta
didik untuk melihat keaktifan peserta didik pada saat proses pembelajaran, serta mengunakan angket
untuk mengukur respon peserta didik terhadap penerapan perangkat pembelajaran berbasis kearifan
lokal.
Teknik analisis yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis peningkatan kemampuan berpikir
kritis peserta didik melalui hasil pretest dan postest dengan menghitung rerata gain ternormalisasi <g>
dengan menggunakan persamaan Hake (1998) [5].
S post S pre
N gain (1)
S max S pre
Nilai hitung rerata gain ternormalisasi dikategorikan sebagaimana pada tabel 1 berikut :
Tabel 1. Kategori Nilai Hitung Rerata Gain Ternormalisasi [6]
Persamaan Hake No Rentang Kategori
1 < g > ≥ 0.7 Tinggi
2 0.3 ≤ < g > < 0.7 Sedang
3 < g > < 0.3 Rendah
= rerata kelas dari hasil post tes, = rerata kelas dari hasil pre tes
Lembar aktivitas peserta didik pada saat kegiatan belajar mengajar dianalisis menggunakan rumus
berikut:
Jumlah Skor Indikator
Persentase 100% (2)
Skor Maksimal
Kategori Persentase aktivitas peserta didik dapat dikategorikan berdasarkan pada tabel 2 berikut:
Tabel 2. Kategori persentase aktivitas peserta didik [7]
Rentang Kategori
76 - 100 Sangat baik
51 - 75 Baik
25 - 50 Cukup
≤ 25 Kurang
3. Hasil dan Pembahasan
Penelitian ini dilakukan selama tiga kali pertemuan yang diawali dengan pemberian pretest untuk
melihat kemampuan awal peserta didik. Setelah itu dilaksanakan pembelajaran dengan menerapkan
perangkat pembelajaran berbasis kearifan lokal menggunakan model pembelajaran aktif. Kemudian
setiap akhir pembelajaran diakhiri dengan pemberian posttest untuk melihat peningkatan kemampuan
berpikir kritis. Angket diberikan di akhir pertemuan pembelajaran untuk mengetahui respon peserta
didik terhadap penerapan perangkat pembelajaran berbasis kearifan lokal pada konsep besaran dan
satuan.
Secara keseluruhan rata-rata N-gain peningkatan pemahaman konsep 31 peserta didik kelas X-2
ATPH SMK Negeri 1 Mootilango yang diajarkan menggunakan perangkat pembelajaran berbasis
kearifan lokal pada materi besaran dan satuan dapat dilihat pada tabel 3 berikut:
April 2018 21 ISSN: 2477-1511
H Utiah
Tabel 3. Rerata persentase skor pre test, post test, dan gain
Pertemuan 1 Pertemuan 2 Pertemuan 3
Indikator (%) (%) (%)
Pre Post <g> Pre Post <g> Pre Post <g>
Menganalisis 30.00 62.44 0.46 40.15 76.00 0.60 47.30 84.05 0.70
Menafsirkan 35.25 65.00 0.46 41.00 79.45 0.65 50.10 85.12 0.70
Mengidentifikasi 39.40 78.00 0.64 44.41 80.17 0.64 52.74 85.96 0.70
Menanggapi 40.15 80.20 0.67 49.57 82.46 0.65 53.00 87.60 0.74
Rata-rata 36.18 71.41 0.56 43.78 79.52 0.64 50.79 85.68 0.71
Rata-rata <g> 0.63
Tabel 3 menunjukan peningkatan pemahaman konsep peserta didik sebelum dan sesudah diajarkan
menggunakan perangkat pembelajaran berbasis kearifan lokal pada konsep besaran dan satuan. Rata-
rata skor pemahaman peserta didik berdasarkan indikator kemampuan berpikir kritis pada pertemuan
ke 1, ke 2 dan ke 3 sebelum diajarkan menggunakan perangkat pembelajaran berbasis kerifan lokal
sebesar 36, 43, dan 50. Namun setelah diajarkan dengan menggunakan perangkat pembelajaran
berbasis kearifan lokal, rata-rata skor peserta didik meningkat setiap pertemuan yaitu sebesar 71, 79
dan 85 dengan rata-rata nilai N-gain keseluruhan dari tiga kali pertemuan sebesar 0.63 berada pada
kategori dedang. Hal ini menunjukan bahwa penerapan perangkat pembelajaran berbasis kearifan lokal
dapat meningkatkan pemahaman konsep peserta didik melalui tes kemampuan berpikir kritis.
Persentase aktivitas peserta didik diperoleh dari observasi selama tiga kali pertemuan. Aktivitas yang
diamati yakni menanya, menjawab pertanyaan, membaca, diskusi (Interaksi), mengerjakan LKPD,
presentasi dan menyimpulkan dapat dilihat pada tabel 4 berikut:
Tabel 4. Persentase hasil pengamatan aktivitas peserta didik
Persentase Keaktifan Peserta Didik
Pertemuan 1 Pertemuan 2 Pertemuan 3
Indikator
(%) (%) (%)
Menanya 82 82 85
Menjawab Pertanyaan 82 83 86
Membaca 86 94 100
Diskusi (Interaksi) 88 90 96
Mengerjakan LKPD 83 92 96
Presentasi 65 75 80
Menyimpulkan 53 75 82
Rerata Keaktifan / Pertemuan 77 84 89
Kategori B SB SB
Rata-rata Keaktifan 84
Berdasarkan tabel 4, pengamatan yang dilakukan oleh observer selama tiga kali pertemuan
menunjukkan bahwa kategori keaktifan peserta didik baik pada pertemuan pertama, pertemuan kedua
dan ketiga keaktifan peserta didik sangat baik dengan rata-rata keaktifan belajar peserta didik selama
tiga kali pertemuan sebesar 84 dengan kategori sangat baik. Hal ini menunjukkan bahwa penerapan
perangkat pembelajaran berbasis kearifan lokal dapat membuat siswa aktif dalam belajar.
Tanggapan peserta didik diperoleh dari hasil angket respon terhadap penerapan perangkat pemelajaran
berbasis kearifan lokal yang dapat dilihat pada tabel 5 berikut:
April 2018 22 ISSN: 2477-1511
Penerapan Perangkat Pembelajaran Fisika Berbasis Kearifan Lokal untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir
Kritis Pada Konsep Besaran dan Satuan
Tabel 5. Tanggapan Peserta Didik terhadap penerapan perangkat pembelajaran berbasis kearifan lokal
No Pernyataan Angket Setuju (%)
1 Penerapan pembelajaran berbasis kearifan lokal membuat saya mudah
untuk memahami materi yang diajarkan khususnya pada konsep besaran 83
dan satuan
2 Pembelajaran berbasis kearifan lokal dapat memberikan dan meningkatkan
pengetahuan saya, tidak hanya tentang materi yang diajarkan tetapi juga 82
tentang ciri khas daerah saya
3 Saya merasa senang saat belajar fisika ketika guru menggunakan perangkat
82
pembelajaran yang berbasis kearifan lokal
4 Melalui pembelajaran aktif, saya lebih aktif dan tertarik untuk belajar dan
80
bekerja sama dengan teman-teman dalam kelompok
5 Melalui studi lapangan, kemampuan saya dalam pemecahan masalah dan
80
berinteraksi dengan masyarakat lebih meningkat
Tabel 5 menunjukkan respon peserta didik terhadap penerapan perangkat pembelajaran berbasis
kearifan lokal dengan model pembelajaran aktif yang terdiri dari lima pernyataan positif. Dari
pernyataan di atas, respon atau tanggapan peserta didik dengan persentase paling tinggi ditunjukkan
oleh aspek penerapan pembelajaran berbasis kearifan lokal membuat saya mudah untuk memahami
materi yang diajarkan khususnya pada konsep besaran dan satuan yaitu sebesar 83. Hal ini
menunjukkan bahwa perangkat pembelajaran berbasis kearifan lokal dengan model pembelajaran aktif
pada materi besaran dan satuan yang diajarkan pada peserta didik di SMK Pertanian kelas X2-ATPH
mendapat respon yang baik dan positif.
4. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dipaparkan diatas, maka dapat disimpulkan
sebagai berikut:
a. Penerapan perangkat pembelajaran fisika berbasis kearifan lokal meningkatkan keterampilan
berpikir kritis peserta didik pada kategori sedang dengan nilai N-gain sebesar 0.63
b. Penerapan perangkat pembelajaran fisika berbasis kearifan lokal juga meningkatkan aktivitas
peserta didik dengan rata-rata persentase 84% dengan kategori sangat baik
c. respon siswa terhadap penggunaan perangkat pembelajaran fisika berbasis kearifan lokal baik dan
positif.
Daftar Pustaka
[1] Peraturan Mentri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 64 tahun 2013 tentang Standar Isi
Pendidikan Dasar dan Menengah. Diakses pada tanggal 31 Maret 2017 dari
[Link]/atur/bsnp/[Link]
[2] Astuti, D.L. (2016). Pengembangan Perangkat Pembelajaran Fisika Aktif Tipe Information
Search Berbasis Kearifan Lokal DIY Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis dan Nilai
Karakter Siswa SMA. Universitas Negeri Yogyakarta. Diakses pada tanggal 21 Maret 2017 dari
[Link]
[3] Peraturan Pemerintah RI Nomor 19, Tahun 2005, tentang Standar Nasional Pendidikan. Diakses
pada tanggal 31 Maret 2017 dari [Link]
[4] Peraturan Pemerintah RI Nomor 17, Tahun 2010, tentang Pengelolaan Pendidikan. Diakses pada
tanggal 31 Maret 2017 dari [Link]/wp.../10/PP17-2010-
[Link]
April 2018 23 ISSN: 2477-1511
H Utiah
[5] Jumiati, Sari M. & Amelia 2011 Peningkatan Hasil Belajar Siswa dengan Menggunakan Model
NumberHeads Together (THT) pada Materi Gerak Tumbuhan. Leacture 1 161 - 185
[6] Ariesta, S. %. (2011). Pengembangan Perangkat Perkuliahan Kegiatan Laboratorium Fisika Dasar
II Berbasis Inkuirri Terbimbing Untuk Meningkatkan Kerja Inilah Mahasiswa. Jurnal Pendidikan
Indonesia, 62-68.
[7] Zaeni, Aulia, J., Hidayah, & Faticahatul, F. 2016. Analisis Keaktifan Siswa Melalui Penerapan
Model Teams Games Tournaments (TGT) Pada Materi Termodinamika Kelas XI IPA5 di SMA N
15 Semarang. Seminar Nasional Pendidikan, Sains dan Teknologi Universitas Muhammadiyah
Semarang , 416-425
Ucapan Terimakasih
sekolah SMK Negeri 1 Mootilango yang telah memberikan kesempatan untuk melaksanakan
penelitian sehingga dapat berjalan dengan baik sesuai dengan rencana peneletian
April 2018 24 ISSN: 2477-1511