BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Tinjauan Umum
Metodologi penelitian merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data
dengan tujuan dan kegunaan tertentu, dikembangkan dan dibuktikan suatu
pengetahuan tertentu sehingga pada gilirannya dapat digunakan untuk memahami,
memecahkan dan mengantisipasi masalah (Sugiyono, 2017). Metodologi penelitian
juga dapat dikatakan sebagai sekumpulan peraturan, kegiatan, dan prosedur yang
digunakan oleh pelaku suatu disiplin ilmu, serta desain penelitian yang digunakan.
Berdasarkan sifat-sifat masalahnya (Suryabrata, 1983) penelitian ini termasuk
penelitian korelasi yaitu penelitian yang bertujuan untuk mengkaji tingkat
keterkaitan antara variasi suatu faktor dengan variasi faktor lainnya berdasarkan
koefisien korelasi.
3.2 Metode Pengumpulan Data
Pada penelitian ini penulis menggunakan teknik pengumpulan data guna
melengkapi dan menyelesaikan pelaksanaan tugas akhir ini. Metode pengumpulan
data yang digunakan pada penelitian ini yaitu :
1. Studi literatur
Studi literatur merupakan suatu studi yang bertujuan untuk mengkaji dan
mengungkapkan berbagai teori-teori yang relevan dengan permasalahan yang
sedang diteliti sebagai bahan rujukan dalam pembahasan hasil penelitian.
2. Studi Eksperimental
Suatu studi yang dilakukan di laboratorium dengan membuat sejumlah
benda uji dan diuji, yang mana nantinya akan didapatkan data-data yang diperlukan.
Selanjutnya setelah data-data tersebut dianalisa maka akan digunakan untuk
menguji hipotesa yang diturunkan secara teoritis yang didasarkan dari studi
pustaka.
41
Data yang diperlukan dalam penelitian ini dikelompokkan menjadi dua
bagian yaitu :
1. Data Primer
Data primer merupakan data yang diperoleh langsung dari sumbernya,
diamati dan dicatat untuk pertama kali oleh peneliti itu sendiri. Dalam penelitian ini
data primer yang digunakan merupakan data dari hasil penelitian yang dilakukan
pada tiap-tiap percobaan yang dilakukan secara langsung di Laboratorium
Mekanika Tanah, Universitas Tanjungpura, Pontianak, Kalimantan Barat.
Pengujian yang akan dilakukan pada penelitian ini meliputi :
a. Uji Bor Tangan (Hand Bor) – ASTM D 1452
b. Uji Kadar Air (Water Content) – ASTM D 2216
c. Uji Berat Volume Tanah (Volume Weight) – ASTM D 2937
d. Uji Berat Jenis Tanah (Specific Grafity) – ASTM D 854
e. Analisa Hidrometer – ASTM D 1140 & ASTM D 422
f. Analisa Saringan – ASTM D 1140-00 & ASTM D 422-63
g. Uji Batas Cair, LL (Liquid Limit) – ASTM D 4318
h. Uji Batas Plastis PL (Plastis Limit) – ASTM D 4318
i. Uji Batas Susut SL (Shrinkage Limit) – ASTM D 4318
j. Uji Geser Langsung (Direct Shear Test) – ASTM D 3080
2. Data Sekunder
Data sekunder merupakan data yang telah terlebih dahulu dikumpulkan atau
dilaporkan oleh badan lain atau orang lain diluar penelitian itu sendiri, data tersebut
dapat berupa hasil tinjauan literatur dan hasil percobaan yang pernah dilakukan oleh
badan atau orang lain.
3.3 Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian merupakan lokasi dimana sampel tanah akan diambil.
Pada penelitian ini pengambilan sampel tanah asli akan dilakukan di empat lokasi
di Kabupaten Mempawah yaitu :
42
43
1. SMPN 2 Segedong Jalan Raya Sungai Burung km.32 Desa Sungai Burung
Kecamatan Segedong Kabupaten Mempawah Kalimantan Barat.
L1.3 L1.2
L1.1
L1.4
(Sumber : Google Maps)
Gambar 3.1 Lokasi Penelitian Pertama
2. Gang Nusantara 2 Desa Terusan Kecamatan Mempawah Hilir Kabupaten
Mempawah Kalimantan Barat
L2.4
L2.3
L2.1
L2.2
(Sumber : Google Maps)
Gambar 3.2 Lokasi Penelitian Ke-dua
44
3. Jalan Merpati Desa Tengah Kecamatan Mempawah Hilir Kabupaten
Mempawah Kalimantan Barat
L3.1
(Sumber : Google Maps)
Gambar 3.3 Lokasi Penelitian Ke-tiga
4. Jalan Raya Serdang Kecamatan Mempawah Hilir Kabupaten Mempawah
Kalimantan Barat
L3.2
L3.3
L3.4
(Sumber : Google Maps)
Gambar 3.4 Lokasi Penelitian Ke-empat
Pada penelitian ini lokasi pengambilan data sekunder berada di empat
lokasi
3.4 Tahapan Penelitian
Tahapan penelitian perlu direncanakan untuk memperjelas dan
mempermudah penelitian, berikut ini tahapan penelitian yang akan dilakukan :
1. Pengambilan Sampel
Pengambilan sampel tanah dilakukan dengan metode uji bor tangan (Hand bor)
2. Pengujian Sifat Fisis Tanah
45
Pengujian sifat fisis tanah meliputi :
a. Uji Kadar Air (Water Content) – ASTM D 2216
b. Uji Berat Volume Tanah (Volume Weight) – ASTM D 2937
c. Uji Berat Jenis Tanah (Specific Grafity) – ASTM D 854
d. Uji Batas Cair, LL (Liquid Limit) – ASTM D 4318
e. Uji Batas Plastis PL (Plastis Limit) – ASTM D 4318
f. Uji Batas Susut SL (Shrinkage Limit) – ASTM D 4318
g. Analisa Hidrometer – ASTM D 1140 & ASTM D 422
h. Analisa Saringan – ASTM D 1140-00 & ASTM D 422-63
3. Pembuktian Sampel Tanah
Pembuktian sampel tanah dimaksudkan untuk membuktikan bahwa tanah
yang digunakan pada penelitian ini merupakan jenis tanah lempung, digunakan 3
metode klasifikasi tanah yaitu :
a. Metode AASHTO (American Association of State Highway and
Transportation Officials Classfication)
b. Metode USCS (Unified Soil Classification System)
c. Metode USDA (United State Department of Agriculture)
4. Uji Geser Langsung (Direct Shear Test) – ASTM D 3080
3.4.1 Pengambilan Sampel
Sampel tanah yang digunakan yaitu tanah tidak terganggu
(Undisturbed soil). Pengambilan sampel tanah akan dilakukan dengan
metode uji bor tangan (hand bor).
1. Jumlah Sampel
Pada penelitian ini digunakan 22 sampel tanah pada masing-masing
lokasi penelitian maka jumlah sampel yang digunakan pada penelitian
ini adalah :
Tabel 3.1 Jumlah Sampel yang Digunakan
Jumlah
Jumla Jumlah Nama
No Lokasi Penelitian Benda
h Titik Sampel Kelompok
Uji
46
1 SMPN 2 Segedong Jalan
Raya Sungai Burung km.32
Desa Sungai Burung
Kecamatan Segedong 4 7 21 Segedong
Kabupaten Mempawah
Kalimantan Barat.
2 Gang Nusantara 2 Desa
Terusan Kecamatan
Mempawah
Mempawah Hilir 4 8 24
1
Kabupaten Mempawah
Kalimantan Barat
3 Jalan Merpati Desa Tengah
Kecamatan Mempawah
6 Mempawah
Hilir Kabupaten 1 2
2
Mempawah Kalimantan
Barat
4 Jalan Raya Serdang
Kecamatan Mempawah
Hilir Kabupaten Mempawah
3 5 15
Mempawah Kalimantan 2
Barat
66
12 22
Total Benda 3 Kelompok
titik Sampel
Uji
2. Uji Bor Tangan (Hand Bor) – ASTM D 1452
Pengambilan sampel menggunakan uji bor tangan dilakukan pada
kedalaman 2 – 3 m. Uji bor bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganbil
contoh pada kedalaman tertentu untuk penelitian.
47
a. Alat-Alat yang Digunakan
Bor tangan yang terdiri atas :
- Post hole auger (Iwan Type, tanpa casing)
- Batang bor ( Stick Apparatus )
- Tangkai pemutar ( Drive Hand )
Tabung contoh, kepala stang
Gastong, kunci pas
Kantong plastik
b. Persiapan Percobaan
Penentuan titik bor.
Untuk 1 lokasi penelitian, pengambilan sampel disesuaikan
dengan jumlah titik pada masing-masing lokasi.
Lokasi pengeboran (boring site) dibersihkan dari rumput, akar-akar
dll.
Drut-drut pada batang bor dibersihkan dari kotoran dan diberi oli
agar memudahkan pemasangan.
c. Prosedur Percobaan
Tentukan titik pengeboran terlebih dahulu sesuai dengan sketsa
awal.
Pasang mata bor pada batang pertama, lalu pasang tangkai pemutar
Buat lubang dengan memutar searah jarum jam dan sambil ditekan
sampai pada kedalaman yang dikehendaki.
Pada kedalaman 2,0- 2,5 mata bor diganti dengan tabung contoh
untuk mengambil contoh pada kedalaman 2-3 m dengan jalan
tekan.
Setelah tabung masuk 40 cm dan tabung sudah penuh dengan
contoh, kemudian keluarkan dengan cara memutar-mutar bor
searah jarum jam sambil diangkat dengan bantuan gastong, setelah
diangkat lepas tabung contoh dan ambil contoh tanah pada ujung
tabung contoh, kemudian tutup tabung contoh dengan kantong
plastik agar kelembaban tidak berubah.
48
Beri label pada tabung contoh, lokasi pengeboran, nama sampel,
serta kedalaman contoh.
Contoh tanah dibawa ke laboratorium untuk percobaan atau
pemeriksaan lebih lanjut.
3.4.2 Pengujian Kadar Air (Water Content) – ASTM D 2216
Pengujian kadar air (Wc) bertujuan untuk menentukan berapa besar
kadar air dari tiap-tiap sampel tanah yang diteliti. Kadar air merupakan
perbandingan antara berat air yang terkandung dalam tanah dan berat tanah
tersebut yang dinyatakan dalam %.
1. Alat-Alat yang Digunakan
a. Oven
b. Cawan
c. Desikator
d. Timbangan dengan ketelitian 0,01 gr
2. Persiapan Percobaan
a. Sampel tanah yang akan digunakan diambil dari tabung hasil Uji Bor
Tangan (Hand bor).
b. Sampel tanah yang dijadikan benda uji dikeluarkan secukupnya
dengan menggunakan extruder.
c. Siapkan timbangan dan pastikan timbangan berfungsi dengan baik
d. Ambil 2 cawan dan bersihkan, lalu timbang masing-masing cawan
tersebut.
3. Prosedur Percobaan
a. Cawan kosong yang sudah dibersihkan kemudian ditimbang (W1).
b. Benda uji dimasukkan ke dalam cawan lalu di timbang (W2).
c. Setelah ditimbang, cawan dan benda uji dimasukkan kedalam oven
dengan keadaan terbuka selama 24 jam.
d. Sesudah dioven selama 24 jam, cawan dan benda uji dikeluarkan
dan dimasukkan kedalam desikator.
e. Keluarkan cawan dan benda uji dari desikator, kemudian ditimbang
(W3)
49
f. Setelah didapat nilai W1,W2 dan W3 maka selanjutnya dihitung
𝑊2−𝑊3
persentase kadar air dengan rumus 𝑊𝑐 = 𝑊3−𝑊1 𝑥 100%
3.4.3 Uji Berat Volume Tanah (Volume Weight) – ASTM D 2937
Berat volume tanah adalah perbandingan antara berat total tanah
terhadap volume total tanah yang dinyatakan dalam notasi γ (gram/cm³).
Pengujian ini bertujuan untuk menentukan berat volume dari masing-
masing sampel tanah.
1. Alat-Alat yang Digunakan
a. 2 buah ring
b. Pisau dan spatula
c. Timbangan dengan ketelitian 0,01 gr
d. Jangka sorong
e. Minyak pelumas
2. Persiapan Percobaan
a. Sampel tanah yang akan digunakan diambil dari tabung hasil Uji Bor
Tangan (Hand bor).
b. Sampel tanah yang dijadikan benda uji dikeluarkan secukupnya
dengan menggunakan extruder.
c. Siapkan timbangan dan pastikan timbangan berfungsi dengan baik.
d. Bersihkan terlebih dahulu kedua ring yang akan digunakan pada
pengujian, agar sampel tanah tidak tercampur dengan kotoran yang
terdapat pada ring, lalu beri kode pada masing-masing ring.
3. Pelaksanaan Percobaan
a. Ring yang sudah dibersihkan lalu di ukur diameter menggunakan
jangka sorong, dan dihitung volume ring dengan rumus : 𝑉𝑟𝑖𝑛𝑔 =
1/4𝜋𝑑²𝑡.
b. Berat ring (W1) ditimbang
c. Ring di beri pelumas kemudian bagian yang tajam diletakkan ke
permukaan tanah, lalu ditekan dengan hati-hati sampai tanah
seluruhnya masuk ke dalam ring.
50
d. Kemudian kedua sisi ring dipotong dan diratakan dengan pisau atau
spatula (usahakan tidak terdapat lubang), jika terdapat lubang maka
dapat ditambal dengan tanah yang sama.
e. Permukaan tanah diratakan dengan pisau atau spatula sehingga
tinggi permukaan sampel tanah rata terhadap ring.
f. Sisa-sisa tanah yang menempel pada bagian luar cincin dibersihkan,
lalu ring yang berisi benda uji (W2) ditimbang.
𝑊2−𝑊1
g. Hitung nilai berat volume tanah dengan rumus : 𝛾 = 𝑉
3.4.4 Uji Berat Jenis Tanah (Specific Grafity) – ASTM D 854
Berat jenis, Gs (specific Gravity) merupakan perbandingan antara
berat kering butiran tanah dan berat air suling pada volume yang sama
dengan volume butiran tersebut. Tujuan percobaan ini adalah untuk
menentukan berat jenis (Gs) masing-masing sampel tanah.
1. Alat-Alat yang Digunakan
a. Piknometer, yaitu botol gelas dengan leher sempit dan dengan tutup
dari gelas yang berlubang kapiler dengan kapasites 50 cc atau lebih.
b. Timbangan dengan ketelitian 0,01 gr
c. Air destilasi bebas udara (dalam wash bottle)
d. Oven dengan suhu dapat diatur pada 105-110 °C
e. Desikator
f. Thermometer
g. Palu karet dan karung
h. Kompor
i. Wadah
j. Saringan No.20
k. Aquades
2. Persiapan Percobaan
a. Sampel tanah yang akan digunakan diambil dari tabung hasil Uji Bor
Tangan (Hand bor).
b. Sampel tanah yang dijadikan benda uji dikeluarkan secukupnya
dengan menggunakan extruder.
51
c. Masukkan benda uji kedalam wadah, lalu oven selama 24 jam.
d. Setelah 24 jam, benda uji dikeluarkan, lalu ditumbuk dan kemudian
disaring dengan saringan No.20
e. Benda uji yang lolos saringan No.20 akan digunakan ke tahap
selanjutnya.
f. Siapkan timbangan dan pastikan timbangan berfungsi dengan baik.
g. Timbang benda uji, siapkan sebanyak 20 gram.
h. Bersihkan piknometer
3. Pelaksanaan Percobaan
a. Timbang berat piknometer (W1)
b. Masukkan benda uji sebanyak 20 gram kedalam piknometer dan
ditimbang (W2), kemudian isikan aquades hingga benda uji
terendam.
c. Piknometer dan benda uji dipanaskan diatas kompor, sampai
gelembung udara dalam piknometer terusir keluar.
d. Setelah dipanaskan, pinkometer + benda uji didiamkan ± 24 jam
agar benda uji didalam piknometer mengendap.
e. Setelah didiamkan, tambahkan aquades ke dalam piknometer ,
kemudian ditutup dengan penutupnya.
f. Timbang piknometer + benda uji + aquades (W3).
g. Setelah itu, kosongkan piknometer , kemudian isikan aquades
sampai penuh. Timbang piknometer + aquades tersebut (W4) dan
catat suhu aquades.
𝑊2−𝑊1
h. Lalu hitung nilai berat jenis dengan rumus 𝐺𝑠 = (𝑊2−𝑊1)−(𝑊3−𝑊4)
3.4.5 Analisa Gradasi – ASTM D 1140 & ASTM D 422
Analisa gradasi bertujuan untuk mendapatkan distribusi ukuran butir
tanah, analisa gradasi dilakukan dengan dua metode yaitu analisa saringan
dan analisa [Link] hydrometer adalah cara tidak langsung
yang dipakai untuk menentukan distribusi butiran tanah yang mempunyai
ukuran kurang dari 0,075 mm, sedangkan analisa saringan adalah cara yang
52
digunakan untuk menentukan distribusi butiran tanah yang mempunyai
ukuran lebih besar dari 0,075 mm.
1. Alat-Alat yang Digunakan
a. Hidrometer ASTM 152 H , dengan skala konsentrasi 5-6 gram per
liter
b. Saringan No 10
c. Saringan yang terdiri dari satu set susunan saringan dengan tutup
atas dan bawah, nomor saringan dan ukuran yang digunakan
menurut standar ASTM (American Society for Testing and
Materials)
No. 20 (0,850 mm)
No. 40 (0,425 mm)
No. 60 (0,250 mm)
No. 80 (0,180 mm)
No. 120 (0,125 mm)
No.200 (0,075 mm)
d. Cawan porselen dan pastel
e. Tabung gelas
f. Timbangan dengan ketelitian 0,01 gram
g. Air destilasi
h. Alat pengaduk suspensi
i. Tabung gelas ukur, kapasitas 1000 ml
j. Bahan dispersi (reagent) berupa Calgon (NaPO3)
k. Termometer 0° C - 50 ° C, dengan ketelitian 0,1 °C
l. Stopwatch
2. Persiapan Percobaan
a. Contoh tanah/benda uji yang dipakai merupakan benda uji yang
lolos saringan No.10 sebanyak 50 gram.
b. Bersihkan saringan dan alat-alat uji terlebih dahulu.
3. Pelaksanaan Percobaan
a. Benda uji (50 gram tanah yang lolos saringan N0.10) dimasukkan
kedalam tabung gelas ukur, lalu diisi larutan air suling dan natrium
53
hexametaphospate sebagai bahan pengurai butiran. Rendam benda
uji selama 24 jam, agar butir-butir tanah terurai dengan baik.
c. Tuangkan campuran tersebut dalam alat pengaduk (stirring
apparatus). Jangan ada butir tertinggal atau hilang dengan membilas
dengan air (air destilasi) dan tuangkan air bilasan ke alat.
Tambahkan air suling sampai kira-kira setengah penuh, kemudian di
mixer selama 15 menit.
d. Pindahkan suspensi ke gelas silinder pengendap. Jangan ada tanah
tertinggal dan tuangkan air bilasan ke silinder. Tambahkan air
destilasi sehingga volumenya menjadi 1000 cm³.
e. Disamping silinder isi suspensi tersebut , sediakan gelas kedua yang
diisi air destilasi ditambah reagent sehingga berupa larutan yang
keduanya sama seperti yang digunakan pada silinder pertama. Gelas
isi suspensi ditutup dengan tutup karet atau dengan telapak tangan.
Suspensi dikocok dengan membalik-balik vertical ke atas dan ke
bawah selama 1 menit, sehingga butir-butir tanah melayang dalam
air. Gerakan membolak-balik gelas dilakukan sekitar 60 kali. Lalu
letakkan silinder berdiri diatas meja, dan bersamaan dengan
berdirinya silinder, stopwatch dihidupkan dan merupakan waktu
pengendapan T= 0.
f. Pembacaan hidrometer dilakukan pada saat-saat T = 2, 5, 30, 60,
250, 1440 menit (setelah T = 0) dengan cara sebagai berikut:
g. Kira-kira 20 – 25 detik setiap saat pelaksanaan pembacaan, ambil
hidrometer dari silinder kedua, celupkan secara hati-hati dan pelan-
pelan dalam suspensi sampai mencapai kedalaman sekitar taksiran
skala yang terbaca, kemudian lepaskan jangan sampai timbul
guncangan. Pada saatnya bacalah skala yang ditujukan oleh puncak
meniscus muka air = R1 (pembacaan belum dikoreksi). Setelah
dibaca ambil hidrometer pelan-pelan pindahkan dalam silinder
kedua. Dalam air silinder kedua, baca skala hidrometer = R2
(koreksi pembacaan).
54
h. Setiap setelah pembacaan hidrometer, amati dan catat temperatur
suspensi dengan mencelupkan termometer.
i. Setelah pembacaan hidrometer terakhir selesai dilaksanakan (T =
1440 menit ), suspensi dituangkan ke atas saringan No. 200
seluruhnya, cuci dengan air sampai air yang mengalir di bawah
saringan menjadi jernih dan tidak terdapat butir halus yang
tertinggal.
j. Butir-butir tanah yang tertinggal diatas saringan dipindahkan tanpa
ada yang tertinggal pada sebuah can kemudian dikeringankan.
k. Dinginkan dan timbang serta catat berat tanah kering yang diperoleh
= B1 gram
l. Saringlah tanah dengan menggunakan saringan No. 200, No. 120,
No. 80, No. 60, N0.40, No.20.
m. Timbang dan catat bagian tanah yang tertinggal diatas setiap
saringan.
3.4.6 Uji Batas Cair, LL (Liquid Limit) – ASTM D 4318
Batas cair merupakan kadar air tanah pada batas antara keadaan cair
ke keadaan plastis. Pengujian batas cair dilakukan dengan alat uji
Cassagrande.
1. Alat-Alat yang Digunakan
a. Saringan No.40
b. Alat batas cair (Cassagrande)
c. Alat pembarut (grooving tool)
d. Spatel, cawan porselen
e. Neraca dengan ketelitian 0,001 gram
f. Oven
g. Plat kaca
h. Alat-alat pemeriksaan kadar air
2. Persiapan Percobaan
55
a. Sampel tanah yang akan digunakan diambil dari tabung hasil Uji Bor
Tangan (Hand bor).
b. Sampel tanah yang dijadikan benda uji dikeluarkan secukupnya
dengan menggunakan extruder.
c. Masukkan benda uji kedalam wadah, lalu oven selama 24 jam.
d. Setelah 24 jam, keluarkan benda uji, lalu tumbuk dan kemudian
saring dengan saringan No.40
3. Pelaksanaan Percobaan
a. Benda uji yang lolos saringan No.40 diletakkan di plat kaca,
tambahkan air suling sedikit demi sedikit sambil di aduk
menggunakan spatula, sampai benda uji dalam keadaan homogen.
b. Sebagian contoh tanah diambil dan diletakkan ke dalam mangkok
alat cassagrande dan diaduk dengan spatula untuk mendapatkan
benda uji yang benar-benar homogen, kemudian ratakan
permukaannya sehinga sejajar dengan dasar alat, bagian paling tebal
harus kurang lebih 1 cm.
c. Buat alur yang membagi benda uji menjadi dua bagian dengan
menggunakan grooving tool melalui garis tengah mangkok dan
sentries. Pada saaat membuat alur, posisi grooving tool harus tegak
lurus permukaan mangkok.
d. Alat diputar hingga mangkok naik dan jatuh dengan 2 putaran per
detik. Pemutaran ini dilakukan terus-menerus sampai dasar alur
benda uji bersinggungan sepanjang 1-1,25 cm, serta catat jumlah
ketukan pada saat contoh bersinggungan.
e. Jika ternyata pada 1 kali percobaan diperoleh jumlah pukulan yang
sama, maka benda uji diambil langsung dari tempatnya (mangkok
cassagrande) pada alur dengan maksud untuk diperiksa.
f. Benda uji dikembalikan ke plat kaca, alat batas cair dibersihkan lagi.
Benda uji diaduk kembali dengan merubah kadar airnya. Kemudian
langkah dari poin a-e diulangi minimal 4 kali dengan variasi kadar
air yang berbeda, sehingga akan diperoleh perbedaan jumlah
pukulan (ketukan), jumlah pukulan antara 10 sampai 40 kali.
56
g. Masing-masing benda uji ditimbang dan dioven selama 24 jam yang
kemudian dapat ditentukan kadar airnya.
h. Dengan jalan membuat grafik hubungan antara w dan N (jumlah
pukulan) dimana N dalam skala logaritma dan w dalam skala biasa.
Grafik tersebut merupaan garis lurus, dimana untuk harga batas cair
tanah adalah harga w pada perpotongan garis vertikal yang ditarik
dari N=25 dengan garis lurus.
3.4.7 Uji Batas Plastis PL (Plastis Limit) – ASTM D 4318
Batas plastis merupakan kadar air tanah dimana tanah masih dalam
keadaan plastis.
1. Alat-Alat yang Digunakan
a. Plat kaca
b. Spatel
c. Neraca dengan ketelitian 0,001 gram
d. Cawan untuk menentukan kadar air
e. Oven
f. Saringan No.40
2. Persiapan Percobaan
a. Sampel tanah yang akan digunakan diambil dari tabung hasil Uji Bor
Tangan (Hand bor).
b. Sampel tanah yang dijadikan benda uji dikeluarkan secukupnya
dengan menggunakan extruder.
c. Masukkan benda uji kedalam wadah, lalu oven selama 24 jam.
d. Setelah 24 jam, keluarkan benda uji, lalu tumbuk dan kemudian
saring dengan saringan No.40.
3. Pelaksanaan Percobaan
a. Benda uji diletakkan di plat kaca, kemudian diaduk sehingga kadar
airnya merata.
b. Setelah kadar air cukup merata, buat bola-bola tanah dari benda uji
itu seberat ± 8 gram, kemudian digulung-gulung di atas plat kaca.
c. Penggulungan dilakukan terus sampai benda uji menjadi batang
dengan diameter 3 mm. Kalau pada penggulungan itu ternyata
57
sebelum benda uji mencapai 3 mm sudah retak, maka benda uji
ini disatukan kembali ditambah air sedikit dan diaduk hingga
merata. Jika dalam penggulungan benda uji mencapai diameter lebih
kecil dari 3 mm tanpa menunjukkan retak maka contoh tanah
tersebut dibiarkan sesaat diudara agar air berkurang sedikit.
d. Pengadukan penggulungan diulangi terus sampai retak-retak terjadi
pada saat penggulungannya mencapai 3 mm.
e. Tanah yang retak-retak ini, diperiksa kadar airnya lalu dirata-ratakan
sehingga di dapat PL.
f. Hitung Indeks Plastis (Plasticity Index), yaitu selisih antara batas
cair dan batas plastis dengan rumus IP = LL – PL.
3.4.8 Uji Batas Susut SL (Shrinkage Limit) – ASTM D 4318
Batas susut merupakan batas dimana sesudah kehilangan kadar air
(kandungan air dalam tanah ), selanjutnya tidak menyebabkan penyusutan
volume tanah lagi.
1. Alat-Alat yang digunakan
a. Cawan susut
b. Cawan porselin
c. Spatel
d. Timbangan
e. Alat pengukur volumetric (mangkok, plat gelas dengan 3 paku, air
raksa)
f. Saringan No.40
g. Oven
2. Persiapan Percobaan
a. Sampel tanah yang akan digunakan diambil dari tabung hasil Uji Bor
Tangan (Hand bor).
b. Sampel tanah yang dijadikan benda uji dikeluarkan secukupnya
dengan menggunakan extruder.
c. Masukkan benda uji kedalam wadah, lalu oven selama 24 jam.
d. Setelah 24 jam, keluarkan benda uji, lalu tumbuk dan kemudian
saring dengan saringan No.40.
58
3. Pelaksanaan Percobaan
a. Benda uji dimasukkan kedalam mangkok porselin, kemudian
tambahkan air secukupnya dan aduk sampai merata sedemikian,
sehingga benda uji menyerupai pasta.
b. Cawan cetak susut yang sudah bersih kemudian diolesi oli agar tidak
lengket. Masukkan benda uji ke cawan susut sebanyak 3 lapis,
masing-masing 1/3 tinggi cawan susut. Setiap masukkan atau
menambah lapisan, cawan susut diketuk agar tanahnya menyebar
dan rata. Setelah penambahan lapisan terakhir, ratakan permukaan
contoh sama tinggi dengan cawan susut.
c. Cawan susut + benda uji kemudian ditimbang. Biarkan di udara ± 1
jam, selanjutnya masukkan ke oven dan tinggalkan selama 24 jam.
d. Keluaran cawan + benda uji dari oven dan masukkan ke desikator,
selanjutnya ditimbang.
e. Tentukan volume tanah basah dengan bantuan air raksa dan cawan
porselin. Prinsipnya adalah volume tanah basah – volume cawan
susut.
f. Selanjutnya tentukan volume tanah kering dengan bantuan air raksa
porselin dan gelas. Prinsipnya adalah volume air raksa yang tumpah
= volume tanah kering.
3.4.9 Uji Geser Langsung (Direct Shear Test) – ASTM D 3080
Uji geser langsung merupakan salah satu cara untuk menentukan
kekuatan geser suatu tanah yang berupa nilai kohesi (c) dan sudut geser
dalam (φ).
1. Alat-Alat yang Digunakan
a. Alat geser langsung (Direct shear apparatus), yang terdiri atas :
Kotak geser
Proving ring
Perlengkapan beban (0,5 kg, 1 kg, 2 kg)
Cincin dan batu pori
Arloji, untuk mengukur regangan pergeseran dan penurunan
benda uji
59
b. Cincin cetak
c. Stopwatch
2. Persiapan Percobaan
a. Periksa kelengkapan alat uji geser langsung.
b. Siapkan sampel tanah yang dipadatkan di laboratorium, tanah
dipadatkan dalam silinder, setelah padat desak contoh tanah ini
keluar kemudian masukkan ke cincin cetak.
c. Tempatkan sampel tanah dalam kotak geser dengan urutan sebagai
berikut: Batu pori – Pelat gigi (dipasang tegak lurus atas geseran) –
Sampel tanah – Pelat gigi (dipasang tegak lurus arah geseran) – Batu
pori – Pelat penerus beban (loading pad).
3. Pelaksanaan Percobaan
a. Stopwatch disiapkan, ditambahkan beban pemberat pertama (0,5
kg), kemudian segera isikan air ke kotak geser hingga muka air kira-
kira rata dengan muka tanah atas sampel tanah.
b. Shear stress diputar sedemikian rupa, dari bacaan arloji setiap 20
detik hingga mencapai nilai maksimum dan menurun (untuk
keadaan menurun cukup dilakukan dua kali pembacaan).
c. Setelah pembacaan terakhir, keluarkan sampel kedua dan ketiga
dengan pemberat 1 kg dan 2 kg.
3.5 Analisis Data Laboratorium
Setelah semua data-data percobaan pengujian sifat fisis tanah dan pengujian
sifat mekanis tanah diperoleh, maka selanjutnya dilakukan pengumpulan data serta
pemilahan data. Selanjutnya dapat dilakukan analisis semua data pengujian
laboratorium dan kemudian dievaluasi untuk mendapatkan hasil penelitian.
Langkah-langkah perhitungan yang akan dilakukan adalah sebagai berikut :
1. Menghitung persamaan regresi hubungan batas cair (LL) dan indeks
plastisitas terhadap nilai kohesi tanah lempung.
2. Menghitung koefisien korelasi
3. Menghitung koefisien determinasi
4. Menghitung kesalahan standar estimasi
5. Uji hipotesis
60
6. Uji asumsi parametrik
a. Uji asumsi linieritas
b. Uji asumsi homogenitas
3.6 Bagan Alir Penelitian
Mulai
Pengambilan Sampel Tanah
Pemeriksaan Sifat
Fisis Tanah :
1. Kadar Air Pengujian Sifat
2. Berat
Volume Mekanis Tanah :
3. Berat Jenis Uji Geser Langsung
4. Hidrometer
(Direct Shear Test)
5. Analisa
Saringan
6. Batas Cair
7. Batas Plastis
8. Batas Susut
Pengolahan Data
Hasil Penelitian dan
Pembahasan
Kesimpulan dan Saran
Selesai