BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Menu Engineering
2.1.1 Menu
Daftar yang memuat beragam hidangan dan minuman yang ditawarkan
oleh suatu restoran kepada konsumennya dikenal dengan istilah menu. Purnama
dan Suherlan (2022) mengemukakan bahwa peran menu tidak terbatas pada fungsi
informatif semata melainkan, juga berfungsi sebagai representasi visual dan
tekstual yang mencerminkan identitas unik suatu entitas bisnis kuliner, termasuk
konsep yang diusung serta posisinya dalam lanskap kompetitif industri makanan
dan minuman.
Sebagai titik awal interaksi komunikasi antara penyedia layanan, dalam
hal ini pihak restoran, dan konsumen, menu memegang peranan krusial. Informasi
yang tersaji di dalamnya menjadi salah satu determinan utama dalam proses
pengambilan keputusan pembelian oleh konsumen. Daya tarik visual, deskripsi
yang mampu menggugah selera, serta penetapan harga yang strategis dalam menu
memiliki pengaruh signifikan terhadap preferensi hidangan atau minuman yang
pada akhirnya dipilih untuk dipesan. Mengingat signifikansi fungsi menu ini,
proses penyusunan serta pengelolaannya memerlukan perencanaan yang
komprehensif dan strategis. Tujuannya adalah untuk tidak hanya mewujudkan
pengalaman bersantap yang memuaskan bagi para pelanggan, tetapi juga untuk
memberikan kontribusi positif terhadap pencapaian target-target bisnis yang telah
ditetapkan oleh pihak restoran.
Lebih lanjut, fungsi menu melampaui interaksi dengan pelanggan, sebab ia
juga memegang peranan vital sebagai instrumen pengendalian operasional di
internal organisasi restoran. Keberadaan menu memungkinkan manajemen
restoran untuk merencanakan kebutuhan pengadaan bahan baku secara lebih
efektif sesuai dengan spesifikasi setiap hidangan yang ditawarkan, mengatur
ketersediaan inventaris bahan baku agar senantiasa dalam kondisi optimal, serta
mengelola anggaran produksi secara menyeluruh. Menu yang dirancang dengan
baik dan mempertimbangkan aspek-aspek operasional berpotensi besar dalam
meningkatkan efisiensi berbagai proses di area dapur dan layanan. Selain itu,
menu juga dapat dirancang secara strategis untuk mendorong penjualan produk-
produk tertentu yang memiliki marjin keuntungan lebih tinggi atau sedang dalam
periode promosi. Pada akhirnya, pengelolaan menu yang cermat turut
berkontribusi dalam memperkuat loyalitas konsumen terhadap merek restoran,
menciptakan pengalaman yang berkesan, dan mendorong terjadinya kunjungan
kembali di masa mendatang.
2.1.2 Menu Engineering
Menu engineering adalah suatu pendekatan analitis yang digunakan untuk
mengevaluasi kinerja setiap item menu berdasarkan dua indikator utama, yaitu
popularitas dan kontribusi keuntungan. Konsep ini pertama kali diperkenalkan
oleh Kasavana dan Smith dan telah banyak digunakan dalam industri perhotelan
dan restoran. Di Indonesia, menurut Nugraha dan Rachmawati (2021), menu
engineering merupakan teknik analisis manajemen menu yang membantu dalam
pengambilan keputusan mengenai penyusunan menu berdasarkan data penjualan
dan margin laba.
Menu engineering membagi item menu menjadi empat kategori
berdasarkan analisis kontribusi margin dan popularitas, yaitu:
1. Stars – item yang populer dan memiliki margin tinggi
2. Plowhorses – item yang populer tetapi margin keuntungannya rendah
3. Puzzles – item yang memiliki margin tinggi tetapi kurang populer
4. Dogs – item yang tidak populer dan margin keuntungannya rendah
Melalui klasifikasi ini, pengelola restoran dapat memutuskan strategi yang
sesuai, seperti mempertahankan menu unggulan, meningkatkan promosi untuk
menu yang menguntungkan tetapi kurang dikenal, atau menghapus menu yang
tidak menguntungkan.
2.2 Restoran
Pengertian Restaurant menurut Marsum, restoran adalah sebuah tempat
atau bangunan yang dioperasikan secara komersial dan menyediakan layanan
yang baik kepada konsumen, baik itu berupa makanan maupun minuman. Dalam
menjalankan operasionalnya, restoran menyusun daftar menu yang ditawarkan
kepada pelanggan. Keinginan pelanggan dalam memilih menu dapat berubah-
ubah dari waktu ke waktu, dipengaruhi oleh berbagai faktor. Perubahan ini
menyebabkan fluktuasi penjualan pada setiap periode, yang bisa mengalami
kenaikan atau penurunan. Situasi ini memengaruhi biaya yang seharusnya dapat
dikelola dengan baik oleh restoran, terutama dalam menentukan menu yang
menjadi prioritas, untuk mendatangkan keuntungan bagi pemilik usaha (Munigar,
2024).
Restoran merupakan suatu usaha komersial yang menyajikan makanan dan
minuman kepada konsumen, baik untuk dikonsumsi di tempat maupun dibawa
pulang, dengan tujuan memperoleh keuntungan. Menurut Prabowo (2020),
restoran adalah tempat yang menyediakan layanan penyajian makanan dan
minuman untuk memenuhi kebutuhan makan, baik dalam konteks sosial, rekreasi,
maupun kebutuhan pokok pelanggan. Restoran dapat dibedakan berdasarkan skala
pelayanan, jenis masakan, konsep interior, serta pasar sasaran yang ingin
dijangkau.
Dalam pengelolaan restoran, terdapat banyak aspek yang harus
diperhatikan, mulai dari kualitas bahan baku, proses produksi, pelayanan kepada
pelanggan, hingga strategi pemasaran. Salah satu aspek penting dalam operasional
restoran adalah pengelolaan menu yang efektif dan efisien. Menu menjadi
representasi dari keseluruhan identitas restoran, serta menjadi titik awal bagi
pelanggan untuk menilai nilai dan kualitas dari produk yang ditawarkan. Oleh
karena itu, pengelolaan menu menjadi sangat strategis dalam meningkatkan
profitabilitas dan kepuasan pelanggan.
2.3 Keterkaitan Menu Engineering dan Restoran
Dalam operasional restoran, penerapan menu engineering memberikan
kontribusi langsung terhadap efisiensi manajerial, terutama dalam pengambilan
keputusan yang berbasis data. Menu engineering tidak hanya membantu
menentukan menu mana yang layak dipertahankan atau diubah, tetapi juga
berfungsi sebagai alat strategis untuk meningkatkan pendapatan secara
keseluruhan.
Menurut Wahyuni (2022), keterkaitan antara menu engineering dan
restoran terletak pada upaya pencapaian efisiensi operasional dan efektivitas
pemasaran produk makanan. Dengan memahami item mana yang paling disukai
pelanggan dan memberikan margin tertinggi, restoran dapat menyusun strategi
promosi, pengembangan produk, hingga pengelolaan stok bahan makanan secara
lebih terarah.
Lebih lanjut, analisis menu engineering juga dapat digunakan untuk
menyesuaikan harga berdasarkan data objektif, bukan hanya asumsi pasar atau
intuisi pemilik usaha. Hal ini sangat penting dalam persaingan industri makanan
dan minuman yang semakin ketat, terutama bagi restoran yang ingin
mempertahankan posisinya di pasar dan meningkatkan loyalitas pelanggan.
Dalam konteks Restoran Golden Leaf Kelapa Gading, metode menu
engineering menjadi relevan karena restoran ini memiliki beragam jenis menu
khas yang ditawarkan kepada pelanggan dari berbagai segmen. Dengan
melakukan evaluasi menu secara terstruktur, restoran dapat memastikan bahwa
setiap item yang ditawarkan tidak hanya memenuhi selera pelanggan, tetapi juga
memberikan kontribusi yang optimal terhadap pencapaian tujuan keuangan
restoran.
2.4 Penelitian Terdahulu
No Author Variabel Konsep Metode Hasil
Judul Dasar Teori Penelitian
1 Melinda Penerapan Menu Menu Kuantitatif Optimalisasi
Oktavia Menu engineering, engineering promosi dan
(2020) Engineering Penjualan sebagai alat positioning
untuk makanan analisis menu
Optimalisasi performa meningkatkan
Penjualan menu dalam minat
Makanan di penjualan konsumen
Kafe Urban dan profit terhadap menu
tertentu.
2 Alvin Evaluasi Menu Menu Kuantitatif Penyesuaian
Rinaldi Menu engineering, engineering deskriptif harga dan
(2021) Engineering Penjualan menganalisis promosi
sebagai produk kontribusi produk puzzle
Strategi laba dan dan dog dapat
Peningkatan frekuensi membantu
Penjualan penjualan meningkatkan
Produk di total
Restoran penjualan.
Sushi Tei
3 Febby Pengaruh Menu Menu Kuantitatif Peningkatan
Natalia Analisis engineering, engineering signifikan
(2021) Menu Penjualan sebagai penjualan
Engineering makanan strategi menu star dan
terhadap untuk pengurangan
Penjualan identifikasi menu dog
Makanan di menu yang berdampak
Resto A efektif positif
terhadap
penjualan
keseluruhan.
4 Siti Analisis Menu Menu Kuantitatif Menu
Mirza Menu engineering, engineering deskriptif diklasifikasika
Hanafiah Engineering Penjualan digunakan n dalam 4
(2022) Dalam Upaya makanan untuk kategori (star,
Meningkatka menganalisis puzzle,
n Penjualan profit dan plowhorse,
Makanan Di popularitas dog); strategi
Restoran menu (star, berbeda
XYZ plowhorse, diterapkan
puzzle, dog) sesuai
klasifikasi.
5 Yunita Strategi Menu Menu Kuantitatif Strategi
Sari & Menu engineering, engineering berbeda
Hendry Engineering Profitabilita membantu diterapkan
(2022) dalam s strategi berdasarkan
Meningkatka pricing dan kategori
n promosi menu; menu
Profitabilitas produk "dog"
Restoran dikurangi.
6 Indra Menu Menu Menu Kuantitatif Bundling dan
Kusuma Engineering engineering, engineering promosi menu
(2022) dalam Omzet sebagai alat tertentu
Strategi kontrol menu berdampak
Peningkatan berdasarkan pada kenaikan
Omzet performa omzet.
Restoran
Cepat Saji
7 I G. N. Analisis Menu Menu Kuantitatif Menu "star"
Ananta Menu engineering, engineering deskriptif dan
Pradnyana Engineering Penjualan digunakan "plowhorse"
(2022) Dalam Upaya makanan untuk dipertahankan;
Meningkatka pengambilan "dog" dan
n Penjualan keputusan "puzzle"
Makanan di strategis dievaluasi.
Deus Cafe pada menu
Canggu, Kuta
Utara
8 Rizka Pengaruh Menu Menu Kuantitatif Menu lebih
Damayan Menu engineering, engineering menarik dan
ti (2023) Engineering Daya saing meningkatka efisien; usaha
terhadap usaha n keunggulan jadi lebih
Peningkatan kompetitif kompetitif.
Daya Saing melalui
Usaha efisiensi
Kuliner menu
9 Ahmad Evaluasi Menu Menu Kuantitatif Evaluasi
Fauzi Menu dengan engineering, engineering efektif dalam
(2023) Pendekatan Penjualan mengevaluas meningkatkan
Menu i menu penjualan.
Engineering berdasarkan
di Restoran keuntungan
Tradisional dan
popularitas
10 Sherlen Menu Menu Menu Kuantitatif Disarankan
F. Goh & Engineering engineering, engineering ubah bahan,
Wiwik on Food to Revenue sebagai alat porsi,
N. Sari Increase evaluasi bundling, atau
(2023) Revenue at kelayakan hapus menu
Laku Café, dan strategi tak efektif.
Gading menu
Serpong
2.5 Paradigma Penelitian
Paradigma penelitian merupakan kerangka berpikir yang menjelaskan
hubungan antara variabel-variabel dalam suatu penelitian serta bagaimana proses
penelitian dilaksanakan untuk mencapai tujuan tertentu. Paradigma ini menjadi
pedoman dalam menyusun rumusan masalah, menentukan metode penelitian,
serta menganalisis dan menginterpretasikan data yang diperoleh. Dalam konteks
penelitian ini, paradigma penelitian disusun untuk memahami bagaimana variabel-
variabel yang berkaitan dengan evaluasi menu makanan khususnya popularitas
dan kontribusi profit dapat dikaji melalui metode menu engineering.
Penelitian ini menggunakan paradigma kuantitatif deskriptif, yang
bertujuan untuk memberikan gambaran menyeluruh dan sistematis mengenai
performa menu berdasarkan dua dimensi utama, yaitu tingkat popularitas menu
dan kontribusi keuntungan atau profit yang dihasilkan dari setiap item menu.
Pendekatan ini digunakan karena metode menu engineering secara langsung
melibatkan proses perhitungan numerik berdasarkan data kuantitatif yang
diperoleh dari hasil estimasi pesanan dan estimasi biaya operasional makanan.
Paradigma penelitian ini mengacu pada model evaluasi yang umum
digunakan dalam industri makanan dan minuman, yang bertujuan untuk
membantu pihak manajemen dalam pengambilan keputusan strategis mengenai
pengembangan, pengurangan, atau bahkan penghapusan suatu menu. Dalam
paradigma ini, menu item menjadi unit analisis utama, yang akan dievaluasi
menggunakan matriks empat kuadran, yaitu Star, Plowhorse, Puzzle, dan Dog.
Untuk memperoleh data yang dibutuhkan, penelitian ini menggunakan
data estimasi popularitas menu berdasarkan kuesioner kepada pelanggan serta data
estimasi profit yang diperoleh dari wawancara informal dengan pihak manajemen
restoran terkait struktur harga dan perkiraan biaya bahan makanan. Data tersebut
kemudian diolah secara kuantitatif untuk menghasilkan dua indikator utama,
yaitu:
1. Menu Popularity Index (MPI)
Indeks popularitas dihitung dengan membandingkan frekuensi pesanan
masing-masing item terhadap total seluruh pesanan yang ada. Menu dengan nilai
MPI di atas rata-rata dianggap memiliki tingkat popularitas tinggi, sementara
menu dengan nilai di bawah rata-rata dikategorikan sebagai kurang populer.
2. Contribution Margin (CM)
Margin kontribusi dihitung berdasarkan selisih antara harga jual suatu item
dengan estimasi biaya produksinya. Nilai CM ini mencerminkan seberapa besar
keuntungan yang diperoleh dari satu porsi makanan tertentu. Item dengan CM
tinggi dikategorikan sebagai menu yang memiliki kontribusi profit yang besar.
Paradigma ini menunjukkan bahwa performa menu tidak hanya ditentukan
oleh seberapa sering suatu menu dipesan, tetapi juga oleh seberapa besar
keuntungan yang dapat dihasilkan dari penjualan menu tersebut. Oleh karena itu,
kombinasi antara popularitas dan profitabilitas menjadi landasan penting dalam
menentukan posisi masing-masing menu dalam matriks menu engineering.
Dengan menggunakan paradigma ini, manajemen restoran diharapkan dapat
mengevaluasi menu secara lebih objektif dan strategis.
Selain itu, paradigma ini juga menekankan pentingnya penggunaan data
berbasis estimasi dalam kondisi di mana data penjualan aktual tidak tersedia.
Pendekatan ini memungkinkan peneliti tetap dapat melakukan analisis yang
sistematis dengan memanfaatkan sumber informasi alternatif yang sahih, seperti
pendapat pelanggan melalui kuesioner dan informasi internal dari pihak restoran.
Paradigma penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut:
Gambar 2.1 Paradigma Penelitian
2.4 Hipotesis
Hipotesis dalam penelitian ini dirumuskan berdasarkan teori menu
engineering, yang menyatakan bahwa terdapat perbedaan kontribusi antara item
menu berdasarkan tingkat popularitas dan profitabilitas. Berdasarkan hal tersebut,
hipotesis yang diajukan adalah sebagai berikut:
H1: Terdapat perbedaan signifikan antara item menu dengan tingkat popularitas
tinggi dan rendah terhadap kontribusi margin keuntungan restoran.
H2: Item menu yang dikategorikan sebagai bintang memiliki kontribusi yang
lebih tinggi terhadap profitabilitas restoran dibandingkan dengan kategori lainnya.
H3: Menu yang jarang dipesan dan memiliki margin rendah cenderung menjadi
beban operasional dan perlu ditinjau ulang dalam strategi pengelolaan menu.