0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan8 halaman

Peran Guru Bahasa Indonesia dalam Kepribadian Siswa

Diunggah oleh

jarrman7
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan8 halaman

Peran Guru Bahasa Indonesia dalam Kepribadian Siswa

Diunggah oleh

jarrman7
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

PERAN GURU BAHASA INDONESIA SEBAGAI PEMBANGUN

KEPRIBADIAN SISWA

Kasnadi
STKIP PGRI Ponorogo
kkasnadi@[Link]

Abstract: Bahasa Indonesia has the important position in building the nation character.
It can be seen from the function of Bahasa Indonesia as the unifier language and
official lalnguage. Based on its positions, the role of language teachers is very
important, that is to crystallize the values within the language for the students. The
teacher of Bahasa Indonesia should be the professional teacher who has four
competencies: pedagogic, personality, social, and professional. That is why, the
language teacher must be able to use language appropraietely. That ability must be
relized in daily life, not only in the theortical level. Therefore, the teacher of Bahasa
Indonesia should be the role model for their students.

Key Words: Language Teacher, Students’ Personality, Model

Abstrak: Bahasa Indonesia memunyai kedudukan yang strategis dalam membangun


kepribadian bangsa. Kesetrategisan itu karena bahasa Indonesia sebagai bahasa
persatuan di samping sebagai bahasa Resmi. Dalam kedudukannya itu, peran guru
bahasa Indonesia harus mampu mengristalkan nilai yang terkandung di dalamnya
untuk disampaikan kepada siswa. Guru bahasa Indonesia harus menjadi guru yang
professional dengan memiliki kompetensi pedogogis, kompetensi kepribadian,
kompetensi sosial, dan kompetensi profesional. Oleh karena itu, guru bahasa Indonesia
harus terampil berbahasa. Keterampilan itu tidak saja diwujudkan secara teoritis akan
tetapi wajid direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga guru bahasa
Indonesi tidak saja diteladani tetapi wajib menjadi teladan peserta didik.

Kata Kunci: Guru Bahasa, Kepribadian Siswa, Teladan


PENDAHULUAN
Tahun 1928 adalah tahun dicetuskannya “sumpah pemuda” dan tahun 1945
adalah tahun “kemerdekaan” bangsa Indonesia. Artinya, sudah 68 tahun Indonesia
mencanangkan bahasa resmi yakni bahasa Indonesia, dan sudah 85 tahun bangsa
Indonesia bersumpah untuk mengakui dan menjunjung tinggi bahasa perasatuan yakni
bahasa Indonesia. Lalu, bagaimana keberadaan bahasa Indonesia pada masa sekarang
ini? Siapakan yang bertanggung jawab terhadap perkembangan bahasa Indonesia?

Bahasa Menunjukkan Bangsa


Kecintaan dan kebanggaan generasi muda terhadap bahasa Nasional semakin
pudar, bahkan nyaris hilang. Mereka sudah luntur kebanggaannya memunyai bahasa
persatuan yakni bahasa Indonesia. Mereka sudah hilang cintanya terhadap bahasa
Indonesia. Mereka lebih bereforia dengan bahasa asing yang lebih mendunia. Dalam
segala aktivitasnya, mereka lebih suka berasing ria (memakai bahasa Inggris) daripada
memakai bahasa Indonesia.
Tengoklah, papan-papan nama, spanduk, baleho, di sepanjang jalan raya.
Simaklah, para presenter di televisi, bagaimana mereka menggunakan bahasa
Indonesia? Amatilah, para birokrat sebagai pemegang otoritas, ketika berbicara di depan
kamera. Dengarkanlah, para pengasuh acara di sejumlah radio, bagaimana mereka
berbahasa? Lihatlah, jargon-jargon dalam instansi dan lembaga, bagaimana penggunaan
bahasa tulisnya? Simaklah seminar-seminar dan acara akademis di kampus-kampus
penggunaan bahasa Indonesia bercampur dengan bahasa asing. Iklan-iklan dan berbagai
penawaran produk sering menggunakan bahasa asing, padahal konsumennya jelas
bangsa Indonesia. Cermatilah, hasil ujian nasional anak didik kita untuk mata pelajaran
Bahasa Indonesia. Realitas saat ini menunjukkan semakin rapuh, semakin tidak
berharga, semakin tidak terhormat, semakin terpencil, dan semakin terasing eksistensi
bahasa Indonesia hidup di tanah airnya sendiri. Pendek kata, bangsa Indonesia sudah
tidak bangga dengan bahasanya. Padahal (Halim, 1981) menyatakan salah satu fungsi
bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan merupakan sebuah kebanggan Nasional
yang harus dilestarikan dalam jiwa kita selam-lamanya.
Mengapa terjadi realitas yang tidak menggembirakan terkait dengan keberadaan
bahsa Indonesia saat ini? Karena, mental generasi muda telah digerogoti budaya global,
mental yang terdistorsi budaya Barat. Mereka sudah terjangkiti sifat konsumerisme,
sehingga mereka sudah tidak bangga dengan bahasa Indonesia, mereka lebih bangga
dengan bahsa tetangga. Di samping itu, memang mental dan karakter bangsa Indonesia
yang malas, tidak beretos kerja, suka menerabas dengan jalan pintas (Lubis,1981),
sehingga tak terasa jiwa nasionalismenya terlepas dari jati dirinya.
Kemerosatan kpribadian bangsa, khususnya generasi muda, saat ini membuka
pemikiran calon presiden Joko Widodo untuk mengubah mental bangsa kita. Dalam
kampanyenya calon presiden Joko Widodo mencanangkan pentingnya revolusi mental,
sedangkan budayawan Radhar Panca Dahana memotret pentingnya revolusi kebudayaan
pada zaman kini. Kalau sudah sedemikian rupa, bagaimana identitas bangsa kita?
Bukankah bahasa Indonesia sebagai lambang identitas bangsa Indonesia? Oleh
karenanya, yang harus bertanggung jawab untuk mengembalikan eksistensi bahasa
Indonesia tidak lain dan tidak bukan salah satunya adalah guru bahasa Indonesia.

Guru Bahasa Indonesia yang Profesional


Dalam Kongres PGRI 1-4 Juli di Jakarta, salah satu isu penting yang menjadi
pembicaraan sentral adalah eksistensi guru (termasuk guru bahasa Indonesia) sebagai
tumpuan bangsa. Harapan itu sudah menjadi sorotan pada acara pertemuan guru-guru
se-Asean yang dilaksanakan di Bali pada bulan Desember 2012. Perhimpunan guru-
guru se-ASEAN yang tergabung dalam ASEAN Council of Teachers (ACT) diakhir
pertemuannya ke-28 di Bali, sepakat melahirkan sebuah resolusi yang berisi mendesak
pemerintah untuk mengakui bahwa kunci keberhasilan pendidikan berkualitas terletak
pada profesionalisme guru. Proyeksi tersebut merupakan pernyataan ideal bagi negara
kita yang gencar memperbaiki kualitas pendidikan. Salah satu masalah yang
menghambat kualitas pendidikan nasional adalah adanya kualitas guru yang masih
rendah mutunya (Kompas, 21/08/2013).Oleh sebab itu, guru bahasa Indonesia
hendaknya menjadi guru bermutu agar mampu menguraikan setitik persoalan
pendidikan di masa ini.
Untuk meraih derajat profesional ada sinyal kerawanan yang muncul dari pihak
pemerintah dan guru. Pemerintah sering membuat kebijakan yang kurang makro dan
utuh, sehingga muncul ketimpangan di sana-sini. Kebijakan pemerintah semacam itu
mengindikasikan kesan tergopoh-gopoh dan serampangan. Untuk membangun
pendidikan yang berkualitas seorang pakar pendidikan Mohammad Abduhzen
mengusulkan pemimpin yang peduli pendidikan. Kerawanan itu penting untuk dicermati
agar tidak tergelincir pada kelatahan, sehingga masyarakat memperkuat keyakinannya
terhadap adagium “ganti pemimpin ganti kebijakan”, dan “ganti menteri ganti
kurikulum”.
Lihatlah saat ini (2014), pemerintah mewajibkan implementasi kurikulum 2013,
para guru menghebohkan pelaksanaan kurikulum tersebut, karena kesiapan yang belum
matang. Pemikiran-pemikiran negatif dari berbagai pihak muncul di berbagai media
massa, sebagai misal lahir sebuah judul “Layu Sebelum Berkembang” yang ditulis oleh
Febri Hendri AA, pakar pendidikan, Doni Koesuma, menulis tentang kurikulum 2013
dengan title “Sandera kurikulum 2013”. Bahkan ada pernyataan ekstrem dari anggota
ICW bahwa tidak ada gunanya meneruskan kurikulum 2013 sebagai pijakan
pembelajaran dalam upaya peningkatan pendidikan Nasional.
Seringnya perubahan kurikulum menjadikan guru semakin kebingungan, karena
kurikulum yang berlaku belum dilaksanakan secara penuh sudah lahir kurikulum baru.
Guru terombang-ambing akibat kebijakan yang terlalu cepat bergulir. Sosok guru selalu
menjadi korban muntahan lahar panas kurikulum baru dan kebijakan lain yang terkesan
tergesa-gesa. Di sisi lain, sudah jamak bahwa guru kurang siap menanggapi perubahan
yang begitu cepat. Hal ini disebabkan adanya kesadaran diri yang kurang dalam
menyikapi terjadinya perubahan (change) mendadak, sebagai salah satu ciri dunia
global yang serba super cepat. Di samping itu, tradisi rendah etos kerja, santai, apatis,
tidak bertanggung jawab sudah menggurita dalam jiwa si pahlawan tanpa tanda jasa itu.
Secara singkat seorang guru dikategorikan sebagai guru profesional, jika mereka
memiliki empat kompetensi, yakni kompetensi pedogogis, kompetensi kepribadian,
kompetensi sosial, dan kompetensi profesional. Istilah kompetensi mencakup
pengertian: (1) Menurut Keputusan Menteri Pendidikan Nasional No. 045/U/2002,
kompetensi diartikan sebagai seperangkat tindakan cerdas dan penuh tanggung jawab
yang dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam
melaksanakan tugas-tugas sesuai dengan pekerjaan tertentu. (2) Menurut PP RI No. 19
tahun 2005 pasal 28, pendidik adalah agen pembelajaran yang harus memiliki empat
jenis kompetensi, yakni kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional, dan sosial. (3)
Kompetensi guru dapat diartikan sebagai kebulatan pengetahuan, keterampilan dan
sikap yang diwujudkan dalam bentuk perangkat tindakan cerdas dan penuh tanggung
jawab yang dimiliki seorang guru untuk memangku jabatan guru sebagai profesi.
Terkait dengan komponen keprofesionalan guru, dapat ditunjukkan ciri-ciri
guru profesional sebagai berikut: (1) memiliki bakat, minat, panggilan jiwa, dan
idealisme, (2) memiliki kualifikasi pendidikan dan latar belakang pendidikan yang
sesuai dengan bidang tugasnya, (3) memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan
bidang tugasnya. (4) mematuhi kode etik profesi, (5) memiliki hak dan kewajiban dalam
melaksanakan tugas, (6) memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan
prestasi kerjanya, (7) memiliki kesempatan untuk mengembangkan profesinya secara
berkelanjutan, (8) memperoleh perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas
profesionalnya, (9) memiliki organisasi profesi yang berbadan hukum (sumber: UU No
14, tahun 2005, tentang Guru dan Dosen). Bertolak dari kompetensi guru di atas,
tentunya guru bahasa Indonesia juga harus memiliki kompetensi tersebut.
Dalam sebuah pembelajaran, guru adalah sosok yang memunyai peran penting
dalam mengorkestra ruang kelas. Oleh karena itu, guru dituntut aktif, kreatif, dan
inovatif. Berkaitan dengan persoalan kreativitas guru, Asfandiyar menyatakan bahwa
kalau guru tidak kreatif akan ketinggalan zaman. Ia memberikan ciri-ciri guru kreatif
meliputi (1) fleksibel, (2) optimis, (3) cekatan, (4) humoris, (5) inspiratif, (6) responsif,
(7) empatik, dan (8) nge-friend (2008:31-36). Selaras dengan pendapat Asfandiyar
adalah pendapat Mulyasa. Ia menyatakan bahwa peran guru dalam pembelajaran
hendaknya guru harus dapat dan mampu menjadi (1) model, (2) teladan, (3) motivator,
(4) inovator, dan (5) kreator (2005:37-51).

Peran Guru Bahasa


Mulai tahun 2013, sejalan dengan lahirnya kurikulum 2013, penanda
keprofesionalan sosok guru tidak hanya keprofesionalan administratif, tetapi juga
keprofesionalan perilaku. Sinyalemen itu ditandai dengan digulirkannya Kode Etik
Guru Indonesia oleh Ketua PB PGRI, Sulistyo dalam wawancara nasional di sebuah
stasiun televisi. Kode etik yang akan diberlakukan mulai tahun 2013 ini merupakan
rambu-rambu untuk mengatur para anggotanya (guru) dalam rangka menjaga
keprofesionalannya. Merujuk pada kode etik profesi lain (kedokteran, advokat)
tentunya eksistensi kode etik guru ini tidak jauh berbeda. Kalau kode etik kedokteran
menyiratkan pentinganya cita-cita luhur memanusiakan manusia dalam kerja
profesinya, dan kode etik advokat menyiratkan pentingnya menegakkan hukum, demi
kebenaran, dan keadilan, maka kode etik guru tentunya merujuk pada keteladan konkret
yang benar-benar dapat “digugu dan ditiru”. Dengan berlakunya Kode Etik Guru
Indonesia (2013) diharapkan para guru tidak saja profesional secara adminstratif tetapi
juga harus profesional secara etik. Sosok yang terdepan dalam pergulatan di dunia
edukasi ini perilakunya benar-benar dapat menjadi contoh masyarakat umum,
uatamanya para peserta didik. Perilaku guru dalam kehidupan sehari-hari dapat
dijadikan panutan masyarakat. Mereka dalam menjalankan profesinya sebagai pendidik
tidak cukup hanya mentransfer ilmu pengetahuan dan sekedar memberi contoh, tetapi
harus menjadi teladan yang nyata.
Tujuan pendidikan nasional adalah berkembangnya potensi peserta didik agar
menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada tuhan yang maha esa, berakhlak
mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri,dan menjadi warga negara yang
demokratis dan bertanggung jawab (Pasal 3 UU RI 20 tahun 2003 ttg Sisdiknas).
Sejalan dengan tujuan pendidikan nasional di atas, secara garis besar, amanat kurikulum
2013, menghendaki peserta didik harus dapat mengembangkan kognitifnya secara
optimal, memiliki keterampilan yang memadai, dan sikap yang baik. Tiga aspek
kognitif, psikomotor, dan afektif, merupakan aspek yang mewujud dalam diri anak
didik. Sesuai dengan amanat kurikulum tersebut, guru bahasa di masa mendatang harus
mampu mewujudkan tiga aspek tersebut. Oleh karenanya, guru bahasa harus mampu
membentuk kepribadian anak didik menjadi seorang pembelajar, terampil
berkomunikasi, dan berakhlak mulia.
Untuk menanggulangi kemajuan zaman, guru bahasa harus mampu menyiapkan
anak didik menjadi pembelajar yang unggul. Guru bahasa harus mampu memotivasi
anak didik menjadi insan yang senantiasa haus akan ilmu pengetahuan, sehingga mereka
selalu membaca dan membaca. Guru bahasa harus sanggup merangsang anak didik
selalu ingin menemukan sesuatu, agar mereka menjadi sosok yang gemar melakukan
berbagai macam percobaan dan penelitian. Menurut Wilin han, praktisi pendidikan dan
aktivis Koalisi Reformasi Pendidikan (KRP), masalah penting pendidikan nasional
adalah kebijakan pemerintah yang tidak didasarkan atas riset dan mengabaikan nilai-
nilai luhur kemanusiaan, seperti gairah belajar (Kompas, 21/08/13). Oleh karena itu,
sosok guru bahasa mau tidak mau wajib menjadikan anak didiknya menjdi seorang kutu
buku, periset yang hebat, dan pembelajar yang selalu haus akan keingintahuan. Kata
Harefa, tugas, tanggung jawab, dan panggilan pertama seorang manusia adalah menjadi
pembelajar (2005:20).
Kunci keberhasilan dalam era konseptual ini adalah komunikasi. Salah satu
media yang efektif dalam komunikasi tidak lain dan tidak bukan adalah bahasa. Sebagai
bangsa Indonesia sudah selayaknya jika dalam komunikasi mengagungkan dan
membanggakan bahasa Indonesia. Guru Bahasa Indonesia wajib mengedepankan
pemakaian bahasa Inddonesia yang baik dan benar dalam kehidupan komunikasinya.
Terampil berbahasa Indonesia, yakni menyimak, membaca, berbicara, dan menulis,
menjadi modal penting dalam era global ini. Oleh karenanya, guru bahasa Indonesia
wajib memacu anak didik menjadi figur-figur yang terampil berbahasa. Lihatlah, orang-
orang sukses dalam melakukan komunikasi, baik komunikasi lisan maupun komunikasi
tulis. Bapak proklamator kita, Ir. Soekarno adalah contoh komunikator lisan yang
unggul. Djenar Maesa Ayu, selebritis yang berhasil berkomunikasi lewat cerpen-
cerpennya, Andrea Hirata melalui komunikasi tulis mampu menghasilkan novel-novel
yang digemari pembaca. Dengan penguasaan bahasa yang mumpuni, para peserta didik
diharapkan mampu hidup dengan layak di masyarakat. Mereka akan bersosialisasi
dengan baik di masyarakat. Mereka betul-betul menjadi manusia yang berbudaya dan
berjiwa humanis. Guru bahasa harus menjadi gurunya manusia (Chatib, 2011).
Setelah menjadi pembelajar yang senantiasa ingin menggenggam dunia dan
eksis di masyarakat melalui terampil berkomunikasi, hendaknya guru bahasa juga
peduli untuk melengkapi kepribadian anak didik dengan sikap yang baik sebagai
makhluk Tuhan Yang Mahafitri. Untuk mencapai derajat ini, guru bahasa tidak sekedar
memberi teladan akan tetapi wajib menjadi teladan.

SIMPULAN DAN SARAN


Eksistensi bahasa Indonesia di era global ini semakin terpuruk dan kurang
menggembirakan. Sebagai bahasa persatuan, bahasa Indonesia semakin ditinggalkan
pemakainya, sehingga semakin tidak terhormat. Generasi muda semakin tidak mencintai
dan membanggakan bahasa Indonesia. Mereka sudah terjangkiti penyakit modernisasi,
sehingga terjadi keterpecahan jiwa. Kenyataan semacam itu, tentu membutuhkan
kepedulian seorang guru (termasuk guru bahasa) untuk mengembalikan menjadi pribadi
yang utuh.
Guru bahasa harus menjadi guru profesional, yang memiliki kompetensi
pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional. Keprofesional itu ditandai dengan
kekreativitasan dan keinovativan dalam mengokestra pembelajaraan, memunyai pribadi
yang baik, diterima oleh masyarakat luas, dan menjadi teladan bagi anak didik dan
masyarakat luas. Oleh karena itu, guru bahasa Indonesia masa depan harus mampu
menjadikan anak didiknya menjadi (1) manusia pembelajar, (2) manusia humanis, dan
(3) manusia berakhlak mulia.

DAFTAR PUSTAKA

Asfandiyar, Andi Yuda. 2009. Kenapa Guru Harus Kreatif?. Bandung: Penerbit Mizan
Pustaka.
Chatib, Munif. 2011. Gurunya Manusia: Menjadikan Semua Anak Istimewa dan Semua
Anak Juara. Bandung: Kaifa.

Halim, Amran. 1980. Politik Bahasa Nasional. Jakarta: Balai Pustaka.

Harefa, Andrias. 2005. Menjadi Manusia Pembelajar. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.

Kasali, Rhenald. 2005. Change!. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Kompas. “Percepatan Penyebaran Guru Bermutu”. Kompas, 21 Agustus, 2013.

Lubis, Mochtar. 1981. Manusia Indonesia: Sebuah Pertanggungjawaban. Jakarta:


Yayasan Indayu.

Mulyasa. 2005. Menjadi Guru Profesional: Menciptakan Pemebelajaran Kreatif dan


Menyenagkan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Undang-undang No 20, Tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Undang-undang No 14, Tahun 2005, tentang Guru dan Dosen.

Anda mungkin juga menyukai