0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
342 tayangan17 halaman

Kurikulum Deep Learning untuk PAUD

Kurikulum Deep Learning adalah pendekatan pembelajaran yang menekankan pemahaman mendalam dan pengalaman bermakna, bukan penggantian Kurikulum Merdeka. Dalam PAUD, guru berperan sebagai fasilitator dan mendorong anak untuk belajar melalui eksplorasi dan refleksi. Pendekatan ini diharapkan dapat membangun kreativitas, empati, dan kemampuan berpikir kritis anak sejak dini.

Diunggah oleh

Wiwik Yulianti
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
342 tayangan17 halaman

Kurikulum Deep Learning untuk PAUD

Kurikulum Deep Learning adalah pendekatan pembelajaran yang menekankan pemahaman mendalam dan pengalaman bermakna, bukan penggantian Kurikulum Merdeka. Dalam PAUD, guru berperan sebagai fasilitator dan mendorong anak untuk belajar melalui eksplorasi dan refleksi. Pendekatan ini diharapkan dapat membangun kreativitas, empati, dan kemampuan berpikir kritis anak sejak dini.

Diunggah oleh

Wiwik Yulianti
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Hai Bunda PAUD Sahabat Educa, sudah tahukah Anda, apa itu

Kurikulum Deep Learning? Apakah Kurikulum Deep Learning akan


menggantikan Kurikulum Merdeka?

Jawabannya adalah "tidak"! Kurikulum Deep Learning adalah kurikulum


yang lebih mengutamakan pendekatan pembelajaran yang menekankan
pemahaman yang mendalam, pengalaman bermakna, belajar dengan
melakukan atau melalui pembiasaan, dan pengembangan keterampilan
berpikir kritis. Untuk saat ini, Kurikulum di Indonesia masih belum ada
perubahan, dan masih menggunakan Kurikulum Merdeka.

Bagaimana Kurikulum Deep Learning diaplikasikan di PAUD?

A. Guru sebagai Fasilitator

Dalam kurikulum ini, guru berperan sebagai fasilitator pembelajaran. Saat


pembelajaran, anak didik akan diajak melakukan kegiatan pembelajaran
secara aktif. Tentu saja, kegiatan yang dilakukan harus mampu
membangkitkan rasa ingin tahu dan semangat untuk bereksplorasi.

B. Pembiasaan Sehari-Hari dan Kegiatan Belajar yang

Menyenangkan

Anak didik melakukan aktivitas yang berhubungan dengan kegiatan


sehari-hari agar lebih mudah dipahami dan berkorelasi dengan
pengalaman nyata. Misalnya, saat belajar dengan tema kebersihan
lingkungan, anak didik bisa diajak untuk bercerita tentang pengalaman
membersihkan kamar sendiri atau melakukan kegiatan bermain tentang
pengenalan jenis sampah.

Aneka kegiatan yang mendorong anak didik agar bisa melakukan


kolaborasi, komunikasi, interaksi, dan empati juga sangat penting dalam
mengembangkan karakter dan sosio-emosional anak didik.

C. Kegiatan Penguatan

Di akhir pembelajaran, anak didik bisa diajak untuk melakukan refleksi


tentang kegiatan yang baru saja dilakukan. Biasanya guru memberikan
pertanyaan, mengajak diskusi, memberikan kuis, atau menonton video
yang merangkum semua kegiatan yang telah dilaksanakan.
nak didik juga bisa diberikan penugasan yang bisa menguatkan
pemahaman di rumah dan bisa juga dengan melibatkan orang tua anak
didik.

Apa Saja Contoh Kegiatannya?

Bunda PAUD Sahabat Educa, agar bisa semakin memahami aplikasi


Kurikulum Deep Learning di PAUD, berikut ini adalah contoh kegiatan saat
anak didik belajar tema “Hewan Peliharaan”:

 Kegiatan Pembuka

1. Anak didik bernyanyi lagu bertema hewan peliharaan, misalnya lagu


berjudul “Kucingku”.
2. Anak didik mendiskusikan lagu yang baru saja dinyanyikan, misalnya
dengan menjawab pertanyaan guru:
a. Apa nama hewan di dalam lagu?
b. Bagaimana cara merawat kucing?

 Kegiatan Inti

1. Anak didik bermain tebak suara hewan peliharaan.


2. Anak didik menunjuk nama hewan dan menirukan suara hewan
tersebut.
3. Anak didik melakukan diskusi dengan teman tentang salah satu hewan
yang pernah dipelihara.
4. Anak didik menceritakan pengalaman merawat hewan.
5. Anak didik mengunjungi tempat pemeliharaan hewan, mendapatkan
materi dari seorang ahli, dan melakukan praktik merawat hewan
peliharaan.

 Kegiatan Penutup

1. Anak didik mewarnai dan menghiasi poster tentang pentingnya


merawat hewan peliharaan dengan baik. Berikut ini adalah beberapa
contoh kalimat dalam poster:
- Hewan peliharaan adalah sahabat kita, rawatlah mereka dengan cinta
- Hewan adalah makhluk hidup , mereka butuh perhatian dan kasih
sayangmu!"
- Hewan peliharaan adalah hadiah dari Tuhan, jagalah dengan penuh
kasih.

2. Anak didik menjawab pertanyaan tentang poster yang baru saja dibuat.
3. Anak didik mendapat penugasan, yaitu menceritakan dongeng bertema
hewan peliharaan bersama orang tua.

Bunda PAUD Sahabat Educa, demikian pembahasan tentang Kurikulum


Deep Learning. Yang pasti, Kurikulum ini akan sangat membantu anak
didik agar bisa belajar melalui pengalaman nyata dan lebih mendalam.
Perlu adanya kerja sama guru dan orang tua agar kurikulum ini efektif
dalam membangun kreativitas, empati, kemampuan berpikir kritis, dan
karakter anak didik. Selamat mencoba!

Deep Learning PAUD: Metode Pembelajaran Mendalam Bermakna. Kementerian Pendidikan


Indonesia akan menerapkan pendekatan Deep Learning mulai tahun ajaran 2025/2026
sebagai bagian dari pembaruan sistem pendidikan nasional. Dalam paparan yang disampaikan
oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, pendekatan ini bukanlah kurikulum baru
melainkan metode pembelajaran yang lebih mendalam dan bermakna.

Apa itu Deep Learning?


Deep Learning merupakan pendekatan pembelajaran yang berfokus pada pemahaman
mendalam dan bermakna, bukan sekadar menghafal atau mengejar nilai. Berbeda
dengan Surface Learning (pembelajaran permukaan) dan Achievement
Learning (pembelajaran berorientasi pencapaian), Deep Learning menekankan pada:
1. Mindful Learning – Pembelajaran yang melibatkan murid secara aktif, memberikan ruang
refleksi, dan menghargai kehadiran setiap murid.
2. Meaningful Learning – Pembelajaran yang bermakna di mana murid memahami mengapa
mereka mempelajari suatu materi dan bagaimana pengetahuan tersebut bermanfaat dalam
kehidupan.
3. Joyful Learning – Pembelajaran yang menyenangkan karena murid merasa terlibat, dihargai,
dan antusias terhadap proses belajar.
4.
Perbedaan dengan Pendekatan Konvensional
Menteri menjelaskan beberapa perbedaan pendekatan Deep Learning dengan metode
pembelajaran konvensional:

 Surface Learning hanya fokus pada pengetahuan faktual (declarative knowledge) dan
menghafal tanpa memahami mengapa dan bagaimana. Ini seperti murid yang hanya belajar “siapa
menteri pendidikan” tanpa memahami signifikansinya.
 Achievement Learning berfokus pada nilai dan pencapaian. Murid belajar hanya untuk lulus
ujian, mencari bocoran soal, dan setelah ujian selesai, ilmu yang dipelajari terlupakan.
 Deep Learning menggabungkan pengetahuan deklaratif (mengetahui apa), prosedural
(mengetahui bagaimana), dan pengetahuan kontekstual (mengetahui mengapa). Pendekatan ini
membantu murid mengaplikasikan ilmu dalam berbagai situasi, bahkan yang belum pernah mereka
alami.
Implementasi Deep Learning
Untuk mengimplementasikan pendekatan ini, beberapa perubahan akan dilakukan:

1. Pengurangan muatan materi – Mata pelajaran tetap sama, tetapi jumlah pokok bahasan
akan dikurangi. Misalnya, dari 10 pokok bahasan menjadi 6-7 yang benar-benar penting, sehingga
guru tidak perlu “kejar tayang”.
2. Pelatihan guru – Akan diadakan pelatihan bagi guru-guru untuk menerapkan pendekatan Deep
Learning. Pelatihan ini juga akan dihitung sebagai pemenuhan 24 jam kerja yang disyaratkan bagi
guru bersertifikasi.
3. Pendekatan pembelajaran kritis – Mendorong critical thinking, menghubungkan antar
ilmu, dan memberikan makna pada setiap pembelajaran.
4. Sistem evaluasi baru – Akan ada perubahan format ujian untuk mendukung pendekatan
Deep Learning, meskipun detail spesifiknya belum diumumkan.
Pendidikan Karakter
Selain Deep Learning, Kementerian juga meluncurkan program pendidikan karakter:

1. Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat – Program untuk membangun karakter


generasi muda.
2. Senam Indonesia Hebat – Senam 10 menit yang diajarkan di sekolah sebelum pembelajaran
dimulai, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan doa bersama.
Deep Learning (pembelajaran mendalam) sangat cocok untuk anak-anak usia PAUD
ketika diterapkan dengan cara yang sesuai dengan perkembangan mereka. Mari kita bahas
mengapa pendekatan ini sebenarnya ideal untuk pendidikan anak usia dini.
Pentingnya Deep Learning PAUD
Pembelajaran mendalam di PAUD tidak berarti mengajarkan konsep-konsep sulit atau
akademis. Sebaliknya, ini adalah pendekatan yang menghargai cara alami anak belajar:
melalui bermain, eksplorasi, dan penemuan.

Anak-anak kecil secara alami memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan selalu bertanya
“mengapa” tentang dunia di sekitar mereka. Mereka juga senang mengeksplorasi dan
mencoba hal-hal baru. Sifat alami ini sangat selaras dengan prinsip Deep Learning.

Alasan Deep Learning Cocok untuk PAUD


1. Anak-anak belajar lebih baik melalui pengalaman langsung

Anak usia PAUD belajar melalui sentuhan, gerakan, dan pengalaman nyata. Ketika anak
menanam biji dan melihatnya tumbuh, mereka memahami konsep pertumbuhan jauh lebih
baik daripada hanya melihat gambar di buku.

2. Anak-anak membutuhkan waktu untuk mengeksplorasi

Pendekatan Deep Learning memberikan anak-anak waktu yang cukup untuk menyelidiki
suatu topik. Mereka tidak terburu-buru pindah dari satu kegiatan ke kegiatan lain, tetapi
diberi kesempatan untuk benar-benar mendalami suatu pengalaman.
3. Anak-anak belajar melalui bermain

Bermain adalah cara anak belajar, dan Deep Learning menghargai hal ini. Melalui permainan
yang dirancang dengan baik, anak-anak menyelidiki konsep-konsep penting tanpa merasa
sedang “diajar”.

4. Anak-anak suka bertanya dan menemukan jawaban

Rasa ingin tahu alami anak-anak membuat mereka pemikir yang alami. Deep Learning
memanfaatkan hal ini dengan mendorong pertanyaan dan proses menemukan jawaban.

Kesimpulan
Dengan penerapan Deep Learning, diharapkan murid tidak hanya belajar untuk lulus ujian,
tetapi benar-benar memperoleh ilmu yang bermanfaat untuk kehidupan pribadinya dan untuk
kemajuan bangsa. Pendekatan ini sebenarnya memiliki akar dalam tradisi pendidikan Islam
dengan konsep “ilmu yang bermanfaat” dan “ilmu yang tertanam di dalam dada”,
menunjukkan bahwa pendekatan ini tidak sepenuhnya baru namun merupakan penerapan dari
nilai-nilai pendidikan yang telah lama ada dalam konteks modern.

Deep Learning sangat cocok untuk anak usia PAUD karena pendekatan ini menghormati cara
alami anak-anak belajar. Dengan memberikan pengalaman langsung, waktu untuk eksplorasi,
dan kesempatan untuk bermain dan menemukan, kita membantu anak-anak membangun
fondasi pemahaman yang kuat dan kecintaan belajar sejak dini.

Guru PAUD tidak perlu khawatir Deep Learning terlalu sulit untuk anak kecil. Sebaliknya,
mereka dapat melihatnya sebagai pendekatan yang menghargai kecerdasan alami dan rasa
ingin tahu anak-anak, membantu mereka belajar dengan cara yang lebih mendalam dan
bermakna.
Deep dan Surface Learning Dalam Pengembangan Anak

Memahami Pendekatan Deep dan Surface Learning dalam Mengoptimalkan


Perkembangan Anak Usia Dini. Halo! Kali ini, kita akan belajar tentang dua
cara anak-anak bisa belajar sesuatu. Ada yang namanya Deep
Learning (belajar mendalam) dan Surface Learning (belajar permukaan).
Ketika anak bermain, anak sebenarnya sedang belajar! Belajar adalah cara
anak mengetahui hal-hal baru dan mengingat informasi penting.

Ada dua cara utama orang-orang belajar. Kita sebut ini “Deep Learning” dan
“Surface Learning”. Mari kita lihat keduanya:

Apa Itu Deep Learning?


Bayangkan ayah bunda sedang membangun rumah dari balok-balok mainan.
Jika ayah bunda menggunakan banyak balok dan memikirkan dengan hati-
hati bagaimana cara menyusunnya agar kuat dan indah, itulah yang
disebut Deep Learning .
Deep Learning adalah ketika seseorang benar-benar ingin memahami
sesuatu sampai ke akarnya. Mereka tidak hanya menghafal atau tahu di
permukaan saja, tetapi mereka bertanya, “Kenapa begini?” atau “Bagaimana
cara kerjanya?”

Contohnya:

 Jika ayah bunda belajar tentang hewan, ayah bunda tidak hanya tahu nama-nama
hewan, tapi juga ingin tahu apa makanannya, bagaimana cara hidupnya, dan
kenapa mereka penting bagi alam.
 Ayah bunda mungkin bertanya, “Kenapa burung bisa terbang?” lalu mencari tahu
tentang sayap, bulu, dan udara.
Orang yang menggunakan Deep Learning biasanya lebih tertarik untuk
mengeksplorasi ide-ide baru, berpikir kritis, dan mencari jawaban yang lebih
dalam.
Apa Itu Surface Learning?
Sekarang bayangkan ayah bunda sedang bermain puzzle, tapi ayah bunda
hanya ingin cepat-cepat menyelesaikan gambar tanpa benar-benar
memperhatikan detailnya. Itulah yang disebut Surface Learning .
Surface Learning adalah ketika seseorang hanya ingin tahu hal-hal dasar
atau yang paling penting saja. Mereka mungkin hanya menghafal informasi
tanpa benar-benar memahami maknanya. Pada usia dini, surface
learning sering kali muncul sebagai pengenalan dasar terhadap konsep-
konsep sederhana, seperti warna, bentuk, angka, huruf, atau nama benda di
sekitar.
Contohnya:
 Jika ayah bunda belajar tentang angka, kamu hanya menghafal bahwa “2 + 2 = 4”
tanpa benar-benar memahami kenapa hasilnya 4.
 Atau jika ayah bunda belajar tentang warna, ayah bunda hanya tahu bahwa langit
itu biru, tapi tidak tahu kenapa langit bisa berwarna biru.
 Mengenal warna melalui permainan balok berwarna.
 Belajar menyebutkan nama hewan dari gambar.
 Menyusun puzzle sederhana.
Karakteristik
Karakteristik : Anak-anak pada usia ini masih membangun fondasi kognitif,
sehingga mereka cenderung fokus pada pengamatan dan peniruan tanpa
memahami hubungan mendalam antara konsep-konsep tersebut.
Meskipun terlihat dangkal, tahap ini sangat penting karena membantu anak
membangun kosakata, keterampilan motorik, dan pemahaman dasar yang
akan menjadi landasan untuk pembelajaran lebih lanjut. Orang yang
menggunakan Surface Learning biasanya hanya ingin menyelesaikan
tugas dengan cepat, tanpa terlalu memikirkan detail atau hubungan antara
satu hal dengan hal lain.
Mana yang Lebih Baik?
Nah, sekarang mungkin bertanya, “Mana yang lebih baik, Deep Learning
atau Surface Learning?”
Jawabannya adalah… keduanya berguna , tergantung pada situasinya!
 Deep Learning sangat baik jika ayah bunda ingin benar-benar memahami sesuatu
dengan baik. Misalnya, jika ayah bunda ingin menjadi dokter, insinyur, atau ilmuwan,
ayah bunda perlu menggunakan Deep Learning karena pekerjaan itu
membutuhkan pemahaman yang mendalam.
 Surface Learning juga penting, terutama jika ayah bunda hanya butuh tahu hal-
hal dasar. Misalnya, jika ayah bunda sedang belajar nama-nama warna atau huruf,
ayah bunda tidak perlu terlalu memikirkan kenapa warna itu ada. Cukup tahu nama
dan fungsinya saja sudah cukup.
Namun, untuk perkembangan anak yang optimal, Deep Learning sering kali lebih
bermanfaat karena membantu anak berpikir kritis, kreatif, dan siap menghadapi
tantangan di masa depan.

Ingatlah, setiap anak adalah unik dan mungkin memiliki cara belajar yang
berbeda. Yang terpenting adalah membuat belajar menjadi menyenangkan
dan bermakna bagi mereka!
Bagaimana Cara Mengoptimalkan Perkembangan Anak
dengan Deep Learning?
Jika ayah bunda ingin membantu anak-anak belajar dengan cara Deep
Learning , berikut beberapa tipsnya:
1. Ajukan Pertanyaan Terbuka
 Daripada hanya memberi tahu jawaban, ajukan pertanyaan seperti, “Menurutmu,
kenapa daun itu hijau?” Ini akan membuat anak berpikir dan mencari jawaban
sendiri.
2. Berikan Pengalaman Nyata
 Bawa anak-anak ke tempat-tempat seperti kebun binatang, museum, atau taman.
Biarkan mereka melihat, merasakan, dan bertanya tentang apa yang mereka lihat.
3. Dorong Eksplorasi
 Berikan mainan edukatif seperti balok, puzzle, atau alat eksperimen sains. Biarkan
mereka mencoba hal-hal baru dan belajar dari kesalahan.
4. Beri Waktu untuk Refleksi
 Setelah anak melakukan sesuatu, tanyakan, “Apa yang kamu pelajari hari ini?” atau
“Apa yang kamu sukai dari aktivitas ini?”
Bagaimana Cara Mengoptimalkan Perkembangan Anak
dengan Surface Learning?
Meskipun Deep Learning lebih bermanfaat untuk pemahaman jangka
panjang, Surface Learning juga penting untuk hal-hal praktis. Berikut
caranya:
1. Gunakan Flashcard
 Flashcard bisa membantu anak menghafal hal-hal dasar seperti angka, huruf, atau
warna dengan cepat.
2. Buat Tugas Sederhana
 Berikan tugas-tugas yang tidak terlalu rumit, seperti menggambar bentuk geometri
atau menyusun blok berdasarkan warna.
3. Gunakan Lagu atau Cerita
 Anak-anak suka belajar melalui lagu atau cerita pendek. Misalnya, lagu ABC bisa
membantu mereka menghafal alfabet dengan mudah.

Dari Surface Learning Menjadi Deep Learning


Apakah pendekatan belajar anak dapat berkembang dari surface
learning menjadi deep learning melalui motivasi dan pertanyaan terbuka dari
guru?. YA, pendekatan belajar anak usia dini yang dimulai dari surface
learning dapat berkembang menjadi deep learning melalui motivasi dan
pertanyaan terbuka dari guru. Namun, dalam konteks PAUD/TK, proses ini
harus disesuaikan dengan perkembangan kognitif, emosional, dan sosial
anak, serta penggunaan media konkret. Guru berperan sebagai fasilitator
yang menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan, memberikan
motivasi positif, dan menggunakan pertanyaan terbuka untuk mendorong
eksplorasi dan pemahaman mendalam.
Peran Motivasi Guru dalam Pembelajaran PAUD/TK
Motivasi guru memainkan peran sentral dalam membantu anak-anak
bergerak dari surface learning ke deep learning . Berikut adalah cara guru
dapat memotivasi anak usia dini:
 Menciptakan Lingkungan yang Menyenangkan : Anak-anak belajar lebih baik
ketika mereka merasa senang dan aman. Guru dapat menggunakan alat peraga,
lagu, cerita, atau permainan untuk membuat pembelajaran lebih menarik.
 Contoh: Menggunakan boneka tangan untuk menceritakan kisah tentang binatang
dan habitatnya.
 Memberikan Penghargaan Positif : Pujian dan penghargaan sederhana
(misalnya, “Kamu hebat bisa menyusun balok setinggi ini!”) dapat meningkatkan
rasa percaya diri anak dan mendorong mereka untuk terus belajar.
 Menunjukkan Antusiasme : Ketika guru menunjukkan antusiasme terhadap
materi pembelajaran, anak-anak cenderung tertular semangat tersebut.
Pertanyaan Terbuka untuk Mendukung Deep Learning

Pertanyaan terbuka sangat efektif untuk membantu anak usia dini berpikir
lebih dalam, meskipun kemampuan kognitif mereka masih berkembang.
Berikut adalah contoh penerapan pertanyaan terbuka dalam pembelajaran
PAUD/TK:

 Mendorong Eksplorasi :
 “Apa yang kamu lihat di gambar ini?” (daripada hanya bertanya, “Apa ini?”)
 “Bagaimana menurutmu kalau kita letakkan balok ini di atas balok lain?”
 Menghubungkan dengan Pengalaman Sehari-hari :
 “Di mana kamu pernah melihat benda berbentuk bulat sebelumnya?”
 “Kenapa menurutmu burung bisa terbang?”
 Mendorong Imajinasi :
 “Kalau kamu jadi pahlawan super, apa yang akan kamu lakukan?”
 “Apa yang terjadi jika kita menuangkan air ke pasir?”

Pertanyaan-pertanyaan ini tidak hanya membantu anak berpikir lebih dalam


tetapi juga mengembangkan keterampilan berpikir kritis, kreativitas, dan
kemampuan berkomunikasi.

Transisi ke Deep Learning dalam PAUD/TK


Meskipun anak usia dini belum mencapai tingkat deep learning seperti yang
dipahami pada pendidikan tingkat lanjut, mereka dapat mulai
mengembangkan pemahaman yang lebih mendalam melalui aktivitas
berikut:
 Eksplorasi Praktis : Anak-anak belajar lebih dalam ketika mereka dapat
menyentuh, merasakan, dan bereksperimen dengan bahan-bahan nyata.
 Contoh: Menanam biji di pot kecil dan mengamati pertumbuhannya.
 Proyek Sederhana : Proyek-proyek kolaboratif seperti membuat lukisan kelompok
atau membangun rumah dari karton dapat membantu anak memahami konsep
kerja sama dan proses kreatif.
 Refleksi Sederhana : Guru dapat membimbing anak untuk merefleksikan
pengalaman mereka melalui pertanyaan seperti, “Apa yang kamu pelajari hari ini?”
atau “Kenapa kamu suka aktivitas ini?”
Faktor Pendukung Keberhasilan
Agar transisi dari surface learning ke deep learning berhasil dalam konteks
PAUD/TK, beberapa faktor penting harus dipertimbangkan:
 Pendekatan Bermain-Sambil-Belajar : Anak-anak usia dini belajar paling baik
melalui bermain. Aktivitas pembelajaran harus dirancang sedemikian rupa agar
terasa seperti bermain, bukan beban.
 Penggunaan Media Visual dan Taktual : Alat peraga, gambar, video, dan bahan
fisik seperti pasir, air, atau tanah liat sangat membantu anak memahami konsep
secara konkret.
 Interaksi Personal : Hubungan dekat antara guru dan anak sangat penting. Guru
harus bersikap sabar, hangat, dan responsif terhadap kebutuhan anak.
Kesimpulan
Jadi, Deep Learning dan Surface Learning adalah dua cara belajar yang
berbeda, tetapi sama-sama penting. Deep Learning membantu anak
memahami sesuatu secara mendalam, sementara Surface
Learning membantu mereka menghafal hal-hal dasar dengan cepat.
Untuk perkembangan anak yang optimal, kombinasikan kedua pendekatan
ini. Gunakan Deep
Learning untuk topik-topik yang memerlukan pemahaman mendalam, dan
gunakan Surface
Learning untuk hal-hal praktis yang hanya membutuhkan pengetahuan
dasar.

pembelajaran deep learning di PAUD perlu diketahui guru sebagai


referensi melaksanakan pembelajaran deep learning. Konsep deep
learning dalam dunia pendidikan adalah pembelajaran yang mendorong
siswa untuk berpikir kritis dan berpartisipasi aktif.

ADVERTISEMENT
Dengan demikian, siswa diharapkan dapat meningkatkan pemahaman
dalam pembelajaran. Deep learning adalah pembelajaran yang
menekankan pendekatan belajar dengan pengalaman yang bermakna dan
mendalam.

Contoh Pembelajaran Deep Learning di PAUD

Menurut buku Linguistik Terapan Berbasis Digital oleh Lasmi


Febrianingrum, [Link]., dkk. (2024: 50), deep learning atau pembelajaran
mendalam adalah cabang dari pembelajaran mesin yang menggunakan
jaringan saraf tiruan dengan banyak lapisan untuk memproses data yang
lebih kompleks.

Deep learning mampu mengidentifikasi pola-pola yang kompleks dalam


teks, gambar, suara, dan bentuk data yang lain. Dalam konteks
pendidikan, metode deep learning diharapkan dapat meningkatkan
pemahaman siswa dalam memahami materi secara mendalam.

Pembelajaran deep learning dirancang supaya siswa mengeksplorasi,


mengevaluasi, dan mengobservasi lingkungan sekitar sehingga tercipta
pemahaman yang mendalam. Terdapat tiga elemen dalam pembelajaran
deep learning, yaitu mindful learning, menaingful learning, dan joyful
learning.

ADVERTISEMENT
Pembelajaran deep learning dapat diterapkan sejak tingkat PAUD. Bagi
guru PAUD, berikut ini contoh pembelajaran deep learning PAUD yang
dapat diterapkan saat belajar dan bermain:

1. Menanam Tanaman

Siswa PAUD diajak untuk menanam tanaman lalu diajak untuk merawat
dan mengamati tumbuhan tersebut. Dari kegiatan ini, siswa dapat
mengenal tahapan pertumbuhan tumbuhan dengan cara yang
menyenangkan.

2. Mengenal Cara Menanam lewat Lagu

Guru mengajak siswa bernyanyi lagu bertema tanaman dan menanam


tumbuhan, seperti lagu 'Menanam Jagung'. Selanjutnya guru bertanya
pada siswa lagu yang dinyanyikan tentang apa, apa saja tumbuhan dalam
lagu tersebut, dan bagaimana cara menanam dan merawat tumbuhan
dalam lagu tersebut.

3. Mengajak Siswa Bercerita

Siswa didorong untuk bercerita di kelas mengenai pengalamannya


menanam tumbuhan. Siswa dapat bercerita tanaman apa saja yang
ditanam serta pengalaman dan caranya dalam merawat tanaman.

ADVERTISEMENT
Siswa juga dapat bercerita tentang tanaman yang ada di lingkungan
rumahnya. Tanaman apa saja yang ditanam orang tuanya dan bagaimana
cara merawatnya.

4. Menggambar Tanaman

Siswa diajak untuk menggambar macam-macam tanaman dengan


sederhana. Siswa lalu menyebutkan nama-nama tanaman tersebut.

Demikian contoh pembelajaran deep learning PAUD yang dapat


diterapkan saat belajar dan bermain. Dengan contoh kegiatan ini, siswa
dapat meningkatkan pemahaman awalnya mengenai tanaman di sekitar.
(IND)

Transitional loading...
Loading...

Transitional loading...

Loading...

Apa Itu Deep Learning PAUD? Pembelajaran Anak Abad 21


Home

Pendidikan Anak Usia Dini

Apa Itu Deep Learning PAUD? Pembelajaran Anak Abad 21

Apa itu Deep Learning PAUD Sebagai Revolusi Pendekatan Pembelajaran


PAUD Abad 21. Pendidikan modern terus berevolusi, mencari metode yang
lebih efektif untuk mempersiapkan generasi muda menghadapi tantangan
kompleks dunia saat ini. Salah satu pendekatan yang mendapat perhatian
signifikan belakangan ini adalah “Deep Learning” atau pembelajaran
mendalam. Di Indonesia, pendekatan ini akan mulai diterapkan secara resmi
pada tahun ajaran 2025/2026 sebagai bagian dari strategi pembaruan sistem
pendidikan nasional. Namun, apa sebenarnya Deep Learning ini, dan
mengapa pendekatan ini dianggap penting untuk masa depan pendidikan?

Peta Konten hide

1 Konsep Deep Learning dalam Pendidikan

2 Tiga Pilar Utama Deep Learning


2.1 1. Mindful Learning (Pembelajaran Penuh Kesadaran)

2.2 2. Meaningful Learning (Pembelajaran Bermakna)

2.3 3. Joyful Learning (Pembelajaran Menyenangkan)

3 Implementasi Deep Learning: Perubahan Paradigma dalam Praktek Pendidikan

3.1 Peran Guru

3.2 Desain Kurikulum

3.3 Penilaian

4 Kesimpulan: Deep Learning sebagai Katalisator Transformasi Pendidikan

5 Daftar Pustaka

Konsep Deep Learning dalam Pendidikan


Apa itu Deep Learning PAUD? Deep Learning dalam konteks pendidikan tidak
boleh disamakan dengan istilah serupa dalam bidang kecerdasan buatan
(Artificial Intelligence, AI). Dalam pendidikan, Deep Learning merujuk pada
pendekatan pembelajaran yang mendorong pemahaman mendalam,
keterlibatan aktif, dan kemampuan aplikasi pengetahuan dalam berbagai
konteks.

Menurut penelitian dari Harvard Graduate School of Education, Deep


Learning merupakan proses yang melibatkan pemahaman konseptual yang
kuat, bukan sekadar penghafalan informasi (Mehta & Fine, 2019).
Pendekatan ini telah dikembangkan sejak tahun 1976 dan memperoleh
momentum sebagai respons terhadap keprihatinan bahwa banyak sistem
pendidikan tradisional terlalu berfokus pada pengetahuan faktual dan
persiapan ujian daripada pemahaman yang bermakna.

(Fullan dkk., 2018) mendefinisikan Deep Learning sebagai akuisisi enam


kompetensi global: karakter, kewarganegaraan, kolaborasi, komunikasi,
kreativitas, dan berpikir kritis. Pendekatan ini bertujuan untuk menghasilkan
pembelajar yang tidak hanya menguasai konten, tetapi juga mampu
menerapkan pengetahuan untuk memecahkan masalah dunia nyata.

Tiga Pilar Utama Deep Learning


Berdasarkan penelitian pendidikan kontemporer dan kebijakan yang akan
diterapkan di Indonesia, Deep Learning PAUD berdiri di atas tiga pilar utama:

1. Mindful Learning (Pembelajaran Penuh Kesadaran)

Mindful Learning melibatkan kesadaran aktif dan reflektif terhadap proses


pembelajaran. Siswa tidak pasif menerima informasi, tetapi secara aktif
terlibat dengan materi, mengajukan pertanyaan, dan merefleksikan
pemahaman mereka.

Ellen Langer, profesor psikologi dari Harvard University, dalam penelitiannya


telah menunjukkan bahwa pembelajaran penuh kesadaran meningkatkan
kreativitas, fleksibilitas kognitif, dan retensi informasi (Langer, 2000). Siswa
didorong untuk memperhatikan perspektif baru, menantang asumsi, dan
mempertimbangkan alternatif.

Dalam praktik Mindful Learning:

 Setiap anak diakui kehadirannya dan diberikan kesempatan untuk berkontribusi


 Refleksi reguler diintegrasikan ke dalam proses pembelajaran
 Anak dibimbing untuk memantau pemahaman mereka sendiri (metakognisi)
 Pertanyaan terbuka dan diskusi kritis didorong
2. Meaningful Learning (Pembelajaran Bermakna)

Pembelajaran bermakna, konsep yang dikembangkan oleh psikolog


pendidikan David Ausubel, terjadi ketika siswa menghubungkan informasi
baru dengan apa yang sudah mereka ketahui dan pahami (Ausubel dkk.,
1978). Alih-alih memperlakukan pengetahuan sebagai potongan-potongan
informasi yang terisolasi, meaningful learning menekankan hubungan dan
aplikasi.

Penelitian oleh (Mayer, 2019) menunjukkan bahwa ketika pembelajaran


bermakna terjadi, siswa lebih mampu mentransfer pengetahuan ke situasi
baru dan memecahkan masalah yang tidak familiar. Elemen kunci
pembelajaran bermakna meliputi:

 Menghubungkan materi pelajaran dengan pengalaman hidup nyata


 Mengintegrasikan berbagai mata pelajaran dan disiplin ilmu
 Menjelaskan relevansi dan aplikasi praktis dari apa yang dipelajari
 Memberikan kesempatan untuk menerapkan pengetahuan dalam konteks yang
berbeda
3. Joyful Learning (Pembelajaran Menyenangkan)

Pembelajaran menyenangkan bukan sekadar tentang hiburan atau “fun”


superfisial, tetapi tentang menciptakan lingkungan pembelajaran yang
melibatkan, menginspirasi, dan memotivasi. Penelitian neurosains
pendidikan oleh (Ramakrishnan, 2024) menunjukkan bahwa ketika emosi
positif terkait dengan pembelajaran, otak lebih siap untuk membangun dan
memperkuat koneksi neural.

Joyful Learning dalam Deep Learning melibatkan:

 Menciptakan lingkungan yang mendukung di mana siswa merasa aman untuk


mengambil risiko intelektual
 Mendesain aktivitas yang menumbuhkan rasa ingin tahu dan kegembiraan
 Membangun hubungan positif antara guru dan siswa
 Memberikan tantangan yang seimbang (tidak terlalu mudah atau terlalu sulit)

Keterangan diagram menampilkan :

1. Konsep Utama – Di bagian atas, mendefinisikan Deep Learning di PAUD sebagai


“pembelajaran bermakna melalui eksplorasi aktif”
2. Definisi Lengkap – Menjelaskan bahwa Deep Learning adalah pendekatan yang
mendorong pemahaman mendalam melalui eksplorasi, pengalaman langsung, dan
interaksi bermakna
3. Tiga Pilar Utama:
 Mindful Learning – Pembelajaran di mana anak terlibat aktif dan reflektif
 Meaningful Learning – Pembelajaran yang terhubung dengan kehidupan nyata
 Joyful Learning – Pembelajaran yang menyenangkan dan menarik
4. Contoh Penerapan:
 Proyek Menanam – Anak mengamati pertumbuhan dan merawat tanaman
 Bermain Peran Pasar – Anak belajar konsep jual-beli dalam konteks bermain
 Eksperimen Air – Anak menguji benda terapung vs tenggelam
 Proyek Bercerita – Anak membuat dan menceritakan cerita sendiri
5. Elemen Kunci – Di bagian bawah, menyoroti bahwa Deep Learning terjadi melalui
bermain, eksplorasi, refleksi, dan inkuiri
Implementasi Deep Learning: Perubahan
Paradigma dalam Praktek Pendidikan
Dalam pembelajaran anak usia dini, penerapan Deep Learning
PAUD memerlukan pergeseran paradigma dalam berbagai aspek praktek
pendidikan. Berdasarkan penelitian dari Global Education Futures dan
rencana implementasi Kementerian Pendidikan Indonesia, beberapa
perubahan kunci mencakup:
Peran Guru

Dalam paradigma Deep Learning, guru bergeser dari “penyampai


pengetahuan” menjadi “fasilitator pembelajaran”. Penelitian (Hattie, 2012)
menunjukkan bahwa pendekatan guru sebagai “aktivator” (yang mendorong
keterlibatan aktif) menghasilkan ukuran efek yang jauh lebih besar daripada
guru sebagai “fasilitator” pasif.

Guru dalam lingkungan Deep Learning:

 Mengajukan pertanyaan terbuka yang mendorong pemikiran kritis


 Mendesain pengalaman belajar yang mendorong eksplorasi dan penemuan
 Memberikan umpan balik formatif yang berfokus pada proses dan pertumbuhan
 Membantu siswa menghubungkan ide-ide dan mengembangkan pemahaman
konseptual
Desain Kurikulum
Meskipun Deep Learning bukan perubahan kurikulum formal, namun
pendekatan ini mempengaruhi bagaimana kurikulum diimplementasikan.
Fokusnya bergeser dari “keluasan” ke “kedalaman”. Menurut penelitian dari
OECD melalui penelitian (Taguma dan Barrera, 2019), kurikulum yang
mendukung Deep Learning memiliki karakteristik:

 Fokus pada konsep-konsep besar dan ide-ide inti daripada mencakup terlalu banyak
konten secara dangkal
 Integrasi lintas disiplin yang mendorong koneksi antara mata pelajaran
 Keseimbangan antara pengetahuan, keterampilan, dan disposisi
 Ruang untuk eksplorasi dan elaborasi
Penilaian

Sistem penilaian tradisional yang berfokus pada ujian berisi pilihan ganda
dan hafalan kurang sesuai dengan tujuan Deep Learning. Seperti dicatat oleh
(Darling-Hammond dkk., 2013), penilaian untuk Deep Learning perlu
mengukur pemahaman konseptual, penerapan pengetahuan, dan
kemampuan berpikir tingkat tinggi.

Pendekatan penilaian yang mendukung Deep Learning meliputi:

 Penilaian autentik yang mensimulasikan situasi dunia nyata


 Portofolio dan proyek jangka panjang
 Penilaian formatif yang memberikan umpan balik dan kesempatan untuk perbaikan
 Self-assessment yang mendorong metakognisi

Kesimpulan: Deep Learning sebagai


Katalisator Transformasi Pendidikan
Deep Learning menawarkan visi pendidikan yang menyelaraskan praktek
dengan pemahaman kontemporer tentang bagaimana orang belajar paling
efektif. Pendekatan ini tidak hanya mempersiapkan siswa untuk lulus ujian,
tetapi juga untuk berkembang dalam dunia yang kompleks, berubah cepat,
dan saling terhubung.

Sebagai pendekatan yang akan diterapkan di Indonesia mulai tahun 2025,


Deep Learning mewakili peluang signifikan untuk memperbarui pendidikan
nasional. Namun, kesuksesan implementasinya akan bergantung pada
komitmen berkelanjutan untuk pengembangan profesional guru, pergeseran
budaya sekolah, dan penyelarasan kebijakan pendidikan dengan prinsip-
prinsip pembelajaran mendalam.

Dengan investasi yang tepat dan pendekatan yang bijaksana terhadap


tantangan implementasi, Deep Learning dapat menjadi katalisator untuk
transformasi pendidikan yang memungkinkan generasi mendatang tidak
hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga mengembangkan
kebijaksanaan, karakter, dan kemampuan untuk menjadi pembelajar seumur
hidup dan warga dunia yang bertanggung jawab.

Common questions

Didukung oleh AI

Pendekatan bermain-sambil-belajar memungkinkan anak-anak belajar dalam suasana yang menyenangkan dan tanpa tekanan, memfasilitasi eksplorasi dan penemuan yang merupakan inti dari Deep Learning. Aktivitas bermain yang diterancang untuk melibatkan keterampilan motorik dan kognitif memungkinkan anak menemukan korelasi dan konsep baru secara alami, menyediakan jembatan dari hafalan ke pemahaman mendalam .

Deep Learning melibatkan pemahaman yang mendalam dan kritis terhadap materi, dengan tujuan mengeksplorasi ide-ide baru dan mencari jawaban yang lebih dalam. Sebaliknya, Surface Learning fokus pada mengetahui hal-hal dasar atau yang paling penting saja, cenderung terfokus pada penghafalan tanpa memahami maknanya .

Penggabungan antara Deep Learning dan Surface Learning penting karena keduanya melayani tujuan yang berbeda namun saling melengkapi. Surface Learning membantu anak menghafal hal-hal dasar dan cepat mempelajari informasi praktis, sementara Deep Learning memperkuat kemampuan berpikir kritis dan pemerolehan pengetahuan yang dalam dan berjangka panjang, yang sangat bermanfaat dalam menghadapi tantangan masa depan .

Guru berperan sebagai fasilitator yang menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan, memberikan motivasi positif, dan menggunakan pertanyaan terbuka untuk mendorong eksplorasi dan pemahaman mendalam. Mereka harus mendesain pengalaman belajar yang memicu eksplorasi, memberikan umpan balik formatif, serta mendorong koneksi antar ide dan pengembangan pemahaman konseptual .

'Meaningful Learning' berkontribusi pada pembelajaran efektif dengan membantu anak menghubungkan informasi baru dengan pengetahuan yang sudah ada, meningkatkan kemampuan untuk mentransfer pengetahuan ke situasi baru, dan memecahkan masalah yang tidak familiar. Ini mendukung pemahaman yang lebih dalam dan kemampuan aplikasi pengetahuan dalam kehidupan nyata .

Sistem penilaian harus beralih dari fokus tradisional pada ujian pilihan ganda dan hafalan ke penilaian autentik yang meniru situasi dunia nyata. Penilaian harus mencakup portofolio, proyek jangka panjang, penilaian formatif, dan self-assessment yang mendorong metakognisi dan keterlibatan aktif siswa dalam proses belajarnya sendiri .

Pertanyaan terbuka dalam Deep Learning mendorong anak untuk berpikir lebih dalam, merangsang keterampilan berpikir kritis, kreativitas, dan komunikasi. Dengan cara ini, anak-anak tidak hanya diajak mengingat atau mengenali informasi tetapi mengembangkan kemampuan untuk menganalisis dan mengeksplorasi ide baru. Penerapannya bisa berupa pertanyaan seperti "Apa yang terjadi jika...?" yang mengundang anak untuk berdiskusi dan bercerita, memperdalam pemahaman .

Tiga pilar utama Deep Learning adalah Mindful Learning, Meaningful Learning, dan Joyful Learning. Mindful Learning diterapkan dengan melibatkan anak secara aktif dan reflektif, melalui pertanyaan terbuka yang menantang asumsi dan mengundang eksplorasi. Meaningful Learning menghubungkan pengetahuan baru dengan pengalaman nyata, membantu anak mentransfer pengetahuan ke situasi berbeda. Joyful Learning menciptakan lingkungan yang menyenangkan dan motivasional, mendorong anak untuk merasa aman saat mengambil risiko intelektual .

Tantangan utama mencakup pengembangan profesional berkelanjutan bagi guru, pergeseran budaya sekolah, dan penyelarasan kebijakan pendidikan dengan prinsip pembelajaran mendalam. Keberhasilan implementasi juga bergantung pada komitmen kuat dari pihak terkait untuk merancang kurikulum dan penilaian yang mendukung pendekatan ini serta menciptakan lingkungan belajar yang kolaboratif dan terinspirasi di seluruh lembaga PAUD .

'Joyful Learning' penting karena menciptakan lingkungan pembelajaran yang melibatkan, menginspirasi, dan memotivasi siswa. Emosi positif yang terkait dengan pembelajaran membuat otak lebih siap untuk membangun dan memperkuat koneksi neural, meningkatkan keterlibatan dan retensi informasi .

Anda mungkin juga menyukai