0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan45 halaman

Rancangan Rumah Susun Sewa di Pontianak

Diunggah oleh

Enggarr
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan45 halaman

Rancangan Rumah Susun Sewa di Pontianak

Diunggah oleh

Enggarr
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan (dan menjamin) bahwa penulisan tugas akhir
ini dilakukan secara mandiri dan disusun tanpa menggunakan bantuan yang tidak
dibenarkan, sebagaimana lazimnya pada penyusunan sebuah tugas akhir. Semua
kutipan dan/atau pemikiran orang lain yang digunakan di dalam penyusunan tugas
akhir, baik dari sumber yang dipublikasikan ataupun tidak termasuk dari buku,
artikel jurnal, catatan kuliah, tugas mahasiswa lain dan lainnya, telah direferensikan
menurut kaidah akademik yang baku dan berlaku.

Pontianak, Agustus 2025


Materai
10000 Enggar Janar Dyantoro
NIM. 3202207032

1
PRAKATA

2
DAFTAR ISI

3
DAFTAR GAMBAR

4
DAFTAR BAGAN DAN TABEL

5
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Kota Pontianak Merupakan Ibukota Provinsi Kalimantan Barat yang secara


geografis memiliki wilayah sebesar 107,82 m2 (Pemerintah Kota Pontianak) dan
jumlah Penduduk sebanyak 687.031 jiwa pada Semester II Tahun 2024
(Disdukcapil Kota Pontianak, 2025)
Perbandingan antara pertambahan penduduk Kota Pontianak denga luasan
Kota Pontianak yang hanya 107,82 m2 menjadikan kota Pontianak terasa kian
sempit dari waktu ke waktu. Masalah tak berhenti disini. Kepadatan penduduk juga
memunculkan potensi masalah – masalah khas perkotaan, seperti naik tajamnya
produksi sampah rumah tangga, limbah, dan kian terbatasnya pemenuhan air bersih.
Dalam konteks yang berbeda tuntutan disiplin kerja dalam lapangan kerja
juga dihadapkan pada permasalahan pemenuhan kebutuhan transportasi publik
yang masih kacau di perkotaan. Semua pertentangan issue diatas menjadikan
kebutuhan untuk mukim melalui ketersediaan hunian yang layak di perkotaan
menjadi penting walaupun harus tinggal di bangunan bertingkat (strata title), baik
dengan cara sewa (rusunawa), maupun dengan cara milik (rusunami atau apartemen
murah).
Namun upaya pemerintah dalam memenuhi kebutuhan perumahan, atau
secara taktis mengejar kekurangan penyediaan rumah, menjadikan produk-produk
perumahan jauh dari “ruang penghidupan yang layak”.

6
1.2 Rumusan Masalah

Permasalahan yang muncul dari issue-issue diatas khususnya ditingkat fisik


bangunan, adalah bagaimana menyediakan suatu fasilitas hunian yang memenuhi
tidak hanya persyaratan kenyamanan fisik, tapi juga secara ekonomi terjangkau.

1.3 Tujuan dan Sasaran

1.3.1 Tujuan
Tujuan dari perencanaan dan perancangan rumah susun sederhana
sewa (Rusunawa) ini yaitu untuk memenuhi kenyamanan fisik serta harga
yang terjangkau bagi masyarakat berpenghasilan menengah kebawah
(MBR).
1.3.2 Sasaran
Sasaran dari perancangan Rumah Susun Sewa Sederhana ini adalah :
1. Mengidentifikasi Fungsi Rusunawa terkait pola aktifitas, total
kebutuhan ruang, besaran ruang dan pemetaan ruang (zoning)
dengan konsep tata ruang modular dan fungsional.
2. Mengidentifikasi Lokasi tapak dan luasan tapak rancangan terkait
dengan data eksisting tapak.
3. Mengidentifikasi bentuk dan tampilan terkait dengan
pertimbangan – pertimbangan, rumusan bentuk raut (shape)
bangunan dan kontekstualisasi (selarang/kontras) dengan tipologi
bangunan vertikal dan unit hunian tipikal
4. Mengidentifikasi struktur bangunan terkait penetapan struktur
rusunawa yang akan diterapkan dirancangan, yang berisikan
tentang jenis pondasi, system struktur, bentuk struktur, material
struktur, dan kontruksi bangunan
5. Mengidentifikasi kelengkapan bangunan (utilitas) terkait dengan
system perpipaan (air bersih) dengan pemanfaatan air hujan,
sumur bor dan (air kotor) dengan system pembuangan terpisah,

7
system vertikal Bangunan, system perlindungan terhadap bahaya
kebakaran, system jaringan Listrik, system penangkal petir, dam
pengelolaan limbah (pemanfaatan limbah organik)

1.4 Penetapan Lokasi

Lokasi Perancangan Kampung Rumah Susun Sewa ini adalah tapak


lingkungan permukiman di kawasan koridor Jalan Gusti Hamzah, Sungai Jawi,
Kec. Pontianak Kota, Kota Pontianak, Kalimantan barat. Tepatnya di samping
[Link] dan berseberangan dengan SPBU Pancasila.

Gambar 1.1 Lokasi Tapak


(Sumber : Terms Of Reference, 2025)
Lokasi tapak dianggap kosong dari bangunan namun tetap memperhatikan
status vegetasi yang ada dalam tapak eksisting, dan menyatu dengan lingkungan
permukiman di sekitar eksisting.

1.5 Ruang Lingkup

Perancangan Rumah Susun Sewa, pada prinsipnya memperhatikan beberapa


hal sebagai berikut :

8
1. Penyusunan konsep perancangan Rumah Susun Sewa bagi Masyarakat
Berpenghasilan Menengah ke Bawah.
2. Penyusunan rancangan arsitektural Rumah Susun Sewa bagi Masyarakat
Berpenghasilan Menengah ke Bawah.
3. Penyusunan rancangan building envelope yang menunjukkan citra yang
kontekstual dan kinerja yang efisien.
4. Penyusunan estimasi biaya Rumah Susun Sewa bagi Masyarakat
Berpenghasilan Menengah ke Bawah.
5. Penyusunan rencana spesifikasi teknis tertentu dari teknologi bangunan yang
diusulkan.
Secara pumpunan dan teknis yang disyaratkan atau dikembangkan konsep
teknisnya merujuk pada buku SNI 03-7013-2004 tentang Tata Cara Perencanaan
Fasilitas Lingkungan Rumah Susun Sederhana.

1.6 Sistematika Pembahasan

BAB I : PENDAHULUAN, berisi tentang latar belakang, perumusan


masalah, tujuan dan sasaran, penetapan lokasi, ruang lingkup rancangan, dan
sistematika penulisan.
BAB II : TINJAUAN PERENCANAAN RUMAH SUSUN SEWA
(RUSUNAWA), berisikan tentang tinjauan pelaku dan aktifitas, kebutuhan ruang
dan besaran ruang, tinjauan lokasi tapak dan luas tapak rancangan, tinjauan
tampilan bentuk bangunan,tinjauan struktur, dan tinjauan kelengkapan bangunan
(utilitas).
BAB III : ANALISIS PERENCANAAN RUMAH SUSUN SEWA
(RUSUNAWA), berisikan tanggapan tentang permasalahan perencanaan, yang
hasilnya akan digunakan sebagai permintaan-permintaan yang menjadi arahan
(guidance) dalam tahap perancangan. Tanggapan permasalahan terkait dengan:
permasalahan fungsi, lokasi, pesan tampilan bentuk bangunan, pemilihan struktur
bangunan, juga kelengkapan daya dukung kinerja bangunan (utilitas).

9
BAB IV : USULAN RANCANGAN (SCHEMATIC DESIGN), Berisikan
usulan rancangan dalam bentuk sketsa-sketsa rancangan (schematic design) yang
merupakan tanggapan perancangan terhadap usulan rumusan masalah perencanaan
Rusunawa hasil analisis. Bab ini akan menggambarkan secara menyeluruh tentang
konsep rancangan bentuk, konsep rancangan tapak (yang menggambarkan zoning
makro mikro dan denah skematik), konsep rancangan struktur bangunan terpilih,
usulan konsep rancangan utilitas kawasan dan bangunan.
BAB V : PRODUK RANCANGAN ARSITEKTURAL, Berisikan gambar-
gambar hasil rancangan beserta penjelasannya, meliputi gambar situasi, gambar
rencana tapak (siteplan), gambar tampak kawasan, gambar potongan kawasan,
gambar rencana utilitas kawasan, gambar rencana pola perkerasan dan vegetasi
kawasan, gambar rencana street/scape furniture kawasan, gambar denah bangunan
(plan), gambar denah tata letak perabot bagunan (layout plan), gambar tampak
bangunan terpilih (elevation), gambar potongan bangunan terpilih (section),
gambar perspektif kawasan dan sequance, dan gambar perspektif interior dan
eksterior bangunan terpilih.

10
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA PERENCANAAN RUMAH SUSUN
SEWA (RUSUNAWA)
2.1 Tinjauan Umum Rusun

2.1.1 Pengertian Rusun


Menurut Peraturan Pemerintahan No. 13 Tahun 2021 Tentang
Penyelanggaraan Rumah Susun, Rumah Susun adalah bangunan gedung
bertingkat yang dibangun dalam suatu lingkungan yang terbagi dalam
bagian-bagian yang distrukturkan secara Iungsional, baik dalam arah
horizontal maupun vertikal dan merupakan satuan-satuan yang masing-
masing dapat dimiliki dan digunakan secara terpisah, terutama untuk tempat
hunian yang dilengkapi dengan bagian bersama, benda bersama, da tanah
bersama.

2.1.2 Tipe Rusun


Menurut Penyelenggara Pembangunan Rumah Susun
a. BUMN/ BUMD
b. Koperasi
c. BUMS
d. Swadaya Masyarakat
Merujuk pada Peraturan Menteri Perumahan Rakyat Republik
Indonesia Nomor 10 Tahun 2012 Tentang Penyelanggaraan Perumahan dan
Kawasan Permukiman Dengan Hunian Berimbang, maka dalam kasus
rumah susun ini, akan mengakomodasi bangunan 2 kelompok sasaran saja,
yakni :
 Untuk kelompok Keluarga berpenghasilan rendah diarahkan untuk
mengambil tipe 36 m2
 Untuk kelompok Keluarga berpenghasilan menengah diarahkan untuk
mengambil tipe 60 m2

11
 Sementara untuk tipe 45m2 terbuka untuk diakses oleh dua kelompok
keluarga tersebut, namun yang diutamakan adalah yang berpenghasilan
rendah.
Keluarga dalam pengertian disini adalah Suami Istri dengan 2 – 3
anak dan tidak melayani lajang atau pasangan yang belum menikah baik
secara individual maupun kelompok.

2.2 Tinjauan Khusus Rusunawa

Rumah susun sederhana sewa ini adalah kategori khusus dari Rumah
Susun Umum. Rumah Susun Umum adalah rusun yang diselenggarakan
untuk memenuhi kebutuhan rumah bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah
(MBR) (Pasal 1 angka 5 PP No. 13 Tahun 2021).
Rusunawa secara spesifik adalah Rusunum yang status
kepemilikannya adalah sewa, bukan hak milik atas satuan rumah susun
(sarusun). Artinya, penghuni membayar biaya sewa secara periodik kepada
pengelola/pemilik (biasanya pemerintah atau badan yang ditunjuk).
2.2.1 Studi Kasus Rusunawa
1. Rumah Susun Buring 1, Malang

Gambar 2.1 Rusun Buring 1 Malang


(Sumber : [Link])

12
Rusunawa Buring 1 Malang dibangun pada tahun 2012, selesai pada
tahun 2013, dan warga mulai menghuni pada tahun 2014. Rusunawa Malang
dikelola di bawah naungan Dinas Perumahan dan Permukiman Kota
Malang. Lokasi Rusunawa Buring 1 Malang terletak di Jalan Mayjend
Sungkono, Kelurahan Buring, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang,
Jawa Timur. Konsep awal pembangunan Rusunawa ini adalah untuk
mengurangi dan memperbaiki kawasan kumuh, merelokasi hunian yang
tidak berijin di bantaran sungai, di tanah milik pemerintah, atau di tempat-
tempat terlarang lainnya, serta memfasilitasi masyarakat berpenghasilan
rendah yang belum memiliki rumah dengan rumah berkonsep apartemen
rakyat.
Dilantai 2-5 difungsikan sebagai hunian. Setiap hunian memiliki 1
kamar tidur, 1 dapur dan 1 kamar mandi dengan total luas 24 meter persegi.
Terdapat sekitar 23 unit hunian per lantai , 2 janitor dan 2 shaft sampah, serta
ruang MEE.

Gambar 2.1 Denah Lantai 2 Rusun Buring 1 Malang


(Sumber : [Link])

13
2. Rumah Susun Sewa Marunda

Gambar 2.1 Rusun Marunda


(Sumber : [Link], 2008)

Rusunawa Marunda ini memiliki 12 massa bangunan yangmasing


masing massa bangunan terdiri dari 6 lantai dimana lantai dasar digunakan
sebagai fasilitas umum dan dua unit untuk disable person,sedangkan lantai
2 – 6 sebagai lantai hunian yang tiap lantainya terdapat 20 unit hunian
dengan tipe tipikal, sehingga satu massa bangunan dapat memiliki 100 unit
hunian. Transportasi vertikal yang digunakan di rusunawa ini adalah 1 buah

14
lift yang terletak di tengah dan 2 buah tangga di tiap sisinya. Terdapat pula
ruang bersama, void (4,35mx23,45m), dan selasar 1,225 m.
Gambar 2.2 Denah Rusun Marunda
(Sumber : [Link], 2008)
Bangunan Rusunawa ini menggunakan modul 3,9 m. Tiap massa
bangunan dilengkapi pula dengan 2 tempat sampah bersama. Rusunawa
Marunda ini memiliki ruang penunjang antara lain serba guna, musholla
bersama, komersial, jemuran, parkir mobil dan motor dan ME yang terkait
pada bangunan.

Gambar 2.2 Denah Unit Hunian Rusun Marunda


(Sumber : [Link], 2008)

Satu massa bangunan Rusunawa Marunda ini memiliki Panjang


±63,5m dan lebar ±19,[Link] hunian pada rusunawa ini adalah satu tipe
tipikal, dimana terdapat dua kamar tidur dengan luasan masing –masing
±5,75m2 dan ±7m2, ruang duduk dan ruang makan ±11,44m2, dapur
±2,92m2, km/wc ±2,73m2 dan balkon/jemur = ± 2,63m2.

3. Rusunawa Pesakih

15
Gambar 2.2 Rusunawa Pesakih
(Sumber : Journal of Regional and City Planning, 2020)

Rusunawa Pesakih, Jalan Pesakih, Kecamatan Duri Kosambi


Cengkareng, Jakarta Barat. Rusunawa Pesakih merupakan proyek rumah
susun vertikal sewa yang dibangun oleh pemerintah pada tahun 2013 untuk
memenuhi kebutuhan perumahan bagi masyarakat berpenghasilan rendah
yang digusur dari beberapa daerah kumuh di Jakarta. Rusunawa Pesakih
terletak sekitar 700 m dari jalan utama.

Gambar 2.2 Denah Rusunawa Pesakih


(Sumber : Journal of Regional and City Planning, 2020)

16
Kompleks Rusunawa Pesakih terdiri dari tiga blok dan delapan
bangunan. Bangunan-bangunan tersebut dikelompokkan membentuk area
halaman tertutup. Desain setiap bangunan identik: bangunan enam lantai
yang dibagi menjadi dua zona. Ruang publik terletak di lantai satu untuk
menampung fasilitas umum, seperti klinik kesehatan (puskesmas), ruang
komersial atau ritel, kantor manajemen, area serbaguna, perpustakaan, dan
taman kanak-kanak (PAUD). Ruang privat (unit hunian) terletak di lantai
dua hingga lantai enam. Desain arsitektur khas Rusunawa Pesakih adalah
simpleks dengan koridor tengah dan empat tangga. Total ada 640 unit tipe
dua kamar tidur, berukuran 36 m2, yang disusun secara vertikal di atas lima
lantai.

2.3 Tinjauan Fungsi Rusunawa

2.3.1 Studi Kasus Terhadap Fungsi


Tabel 2.2 Studi Kasus Terhadap Fungsi
(Sumber : Olahan Pribadi, 2025)

Studi Kasus 1 Studi Kasus 2 Studi Kasus 3

17
2.3.2 Pelaku Dan Pola Aktifitas
Adapun karakter penghuni rumah susun secara umum dapat
digambarkan bahwa kegiatan utama penghuni rumah susun terletak di dalam
rumah. Selebihnya kegiatan yang dilakukan di luar rumah namun yang bisa
dilakukan di dalam kawasan rumah susun antara lain bermain, berolah raga,
beribadah, berkumpul dengan warga sekitar, membeli keperluan sehari-hari,
makan, dan bermain.

Bagan 2.2 Aktifitas Ruang Rusunawa


(Sumber : Terms Of Reference Rusunawa, 2025)

Dari entrance dan tempat parkir terdapat lobby yang menghubungkan


dengan unit unit pada rumah susun. Untuk ruang-ruang penunjang terdapat
ruang serbaguna yang akan digunakan untuk perkumpulan warga dan acara-
acara setempat, kantor pengelola rumah susun, daerah penunjang separti
taman bermain dan entrance lapangan olahraga, serta beberapa fasilitas
penunjang lainnya seperti wartel, warnet, toserba, dan lainnya.

18
Tabel berikut ini dapat memberikan gambaran kearah besaran ruang
yang diperlukan :
Tabel 2.2 Daftar Pelaku Yang Hrus Diwadahi
(Sumber : Terms Of Reference Rusunawa, 2025)
NO PELAKU KUANTITAS JUMLAH ORANG JUMLAH

1 Keluarga Penyewa
Unit Hunian Tipe 36 (MBR) 50 Unit 4 200 Orang
Unit Hunian Tipe 45 (MBR dan MBM) 50 Unit 5 250 Orang
Unit Hunian Tipe 60 (MBM) 50 Unit 5 250 Orang
150 Unit 700 Orang
2 Pengelola Rusunawa
Manajer Pengelola 1 Orang
Saff Bagian Kesekretariatan 1 Orang
Staff Bagian Keuangan 1 Orang
Staff Bidang Pemasaran 2 Orang
Staff Bidang Kesejahteraan Penghuni 2 Orang
Staff Bidang Sarana dan Prasarana 2 Orang
Teknisi 2 Orang
Staff Keamanan (Security) 4 Orang
15 Orang
3 Unit Usaha Toko (2 unit: Sembako dan
Perkakas) 4 Orang
Kasir/Manager Toko 6 Orang
Pelayan Toko
10 Orang
4 Warung Kopi (oleh Warga Penghuni) 6 Unit
Penjaga Warung 12 Orang
12 rang

2.3.3 Kebutuhan Ruang


Merujuk Pada TOR Rumah Susun dan studi kasus, kebutuhan ruang
yang diperlukan yaitu :
1. Unit hunian sewa
 Tipe 36 (50 unit)
 Tipe 45 (50 unit)
 Tipe 60 (50 unit)

19
2. Kantor pengelola
3. Ruang Masjid
4. Ruang Mekanikal elektrikal
5. Unit Usaha Toko
6. Warung
7. Parkiran Kendaraan mobil dan motor
2.3.4 Persyaratan Ruang
Standar Fasilias di Rusunawa Menurut SNI 03-7013 Tahun 2004
A. Luas Lahan
Adapun luas lahan untuk fasilitas rumah susun menurut SNI
03-7013 Tahun 2004 Tentang Tata Cara Perencanaan Fasilitas
Lingkungan Rumah Susun Sederhana :
Tabel 2.2 Luasan Lahan
(Sumber : SNI 03-7013, 2004)

Keterangan:
1) Luas Iahan untuk fasilitas lingkungan rumah susun seluas-
Iuasnva 30% (tiga puluh persen) dan luas seluruhnya:
2) Luas lahan untuk fasilitas ruang terbuka, berupa taman
sebaai penghijauan. tempat bermain anak-anak dan atau
lapangan olah raga seluas-Iuasnva 20% dari luas Iahan
fasilitas lingkungan rurnah susun.

B. Fasilitas Niaga
Adapun Fasilitas niaga atau tempat kerja yang disediakan
untuk fasilitas rumah susun menurut SNI 03-7013 Tahun 2004
Tentang Tata Cara Perencanaan Fasilitas Lingkungan Rumah Susun
Sederhana :

20
Tabel 2.2 Fasilitas Niaga

(Sumber : SNI 03-7013, 2004)

C. Fasilitas Pemerintahan dan Pelayanan Umum


Adapun Fasilitas Pemerintahan dan pelayanan umum yang
disediakan untuk fasilitas rumah susun menurut SNI 03-7013 Tahun
2004 Tentang Tata Cara Perencanaan Fasilitas Lingkungan Rumah
Susun Sederhana :
Tabel 2.2 Fasilitas Pemerintahan dan Pelayanan Umum
(Sumber : SNI 03-7013, 2004)

21
D. Ruang Terbuka
Adapun Ruang Terbuka yang disediakan untuk fasilitas
rumah susun menurut SNI 03-7013 Tahun 2004 Tentang Tata Cara
Perencanaan Fasilitas Lingkungan Rumah Susun Sederhana :
Tabel 2.2 Ruang Terbuka
(Sumber : SNI 03-7013, 2004)

22
23
2.3.5 Ruang dan Besaran Ruang
Adapun Gambaran umum besaran ruang dari Bangunan Rumah
Susun Sewa ini adalah Sebagai Berikut :
Tabel 2.2 Gambaran Umum Besaran Ruang
(Sumber : Terms Of Reference Rusunawa, 2025)

2.3.6 Hubungan Ruang


A. Ruang Dalam Ruang
Sebuah ruang yang besar dapat membungkus dan menampung
sebuah ruang yang lebih kecil didalam volumenya. Kemenerusan visual dan
spasial antara kedua ruang tersebut dapat dengan mudah dipenuhi, namun
ruang yang lebih kecil, yang ruang dalamnya tergantung pada ruang yang

24
lebih besar, akan membungkus ruang demin menjalin hubungan dengan
lingkungan eksteriornya.

Gambar 2.2 Ruang Dalam Ruang


(Sumber : Arsitektur:Bentuk, Ruang, dan Tatanan Edisi 3, 2008)
Untuk memperoleh perhatian yang lebih bagi dirinya, makar uang
yang ditampung bisa saja memiliki bentuk yang sama dengan massa
penampungnya, namun ia diorientasikan dengan cara yang berbeda. Hal ini
akan menciptakan suatu jaringan sekunder dan seperangkat ruang sisa yang
dinamis didalam ruang yang lebih besar tersebut.

Gambar 2.2 Ruang Yang Ditampung Memiliki Bentuk Berbeda


(Sumber : Arsitektur:Bentuk, Ruang, dan Tatanan Edisi 3, 2008)
Ruang yang ditampung juga bisa saja berbeda bentuknya
dibandingkan dengan ruang pembungkusnya demi memperkuat citranya
sebagai sebuah volume yang berdiri sendiri. Kekontrasan bentuk ini bisa
mengindikasikan nilai kepentingan simbolis ruang yang ditampung itu.

Gambar 2.2 Ruang Yang Ditampung Memiliki Bentuk Berbeda


(Sumber : Arsitektur:Bentuk, Ruang, dan Tatanan Edisi 3, 2008)

25
2.4 Tinjauan Lokasi Tapak dan Luas Tapak Rancangan

2.4.1 Lokasi Tapak


Lokasi perencanaan Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) ini
adalah lingkungan permukiman dikawasan jalan Gusti Hamzah, Sungai
Jawi, Kec. Pontianak Kota, Kota Pontianak, Kalimantan Barat. Tepatnya di
samping [Link] dan berseberangan dengan SPBU Pancasila.
2.4.2 Luas Tapak Rancangan

Gambar 2.2 Ukuran Site


(Sumber : Terms Of Reference Rusunawa, 2025)

26
Gambar 2.2 Site Perencanaan Rusunawa
(Sumber : Hasil Observasi Dilapangan, 2025)
A. Peraturan Bangunan :
a) Lokasi : Jalan Gusti Hamzah, Samping Gg. Hidayah
b) Luas lahan : 9300 m2
c) GSB
 Jalan Gusti Hamzah : 16.5 m
 Gang Hidayah : 5 m
d) RMJ
 Jalan Gusti Hamzah : 17 m
 Gang Hidayah 8 m
Zonasi Kawasan Perumahan dan Permukiman Kepadatan Tinggi
e) KDB Maksimal : 80%
f) KLB Maksimal : 3,2
g) KDH Minimal : 30%
(PERDA Nomor 2 Tahun 2013-2033, Pasal 52 Ayat (2))
B. Batas Site :
Batas Utara : Gang Hidayah

27
Batas Timur : Jalan Gusti Hamzah
Batas Barat : Komplek Perumahan Green Pancasila
Batas Selatan : Mess PT. Perkebunan Nusantara XIII
2.4.3 Data Kondisi Tapak
1. Lintas Matahari
 Pagi hari pukul 06.00-10.00 WIB, menyinari Sebagian tapak
pada bagian timur tapak yaitu dari arah Jalan Gusti Hamzah
dengan suhu yang relatif hangat dengan kategori segar dan
sehat.
 Pada siang hari pukul 10.00-14.00, sinar matahari menyinari
seluruh bagian tapak dengan suhu panas menyengat.
 Pada sore hari pukul 14.00-18.00, matahari menyinari Sebagian
tapak pada bagian barat yaitu dari arah Komplek Perumahan
Green Pancasila dengan suhu panas sore yang dikategorikan
gerah.
Durasi hari di Kota Pontianak tidak banyak berbeda
sepanjang tahun, tetap dalam 7 menit dari 12 jam sepanjang hari.
Pada tahun 2025, hari terpendek adalah 21 Juni, dengan 12 jam, 7
menit siang hari; hari terpanjang adalah 21 Desember, dengan 12
jam, 8 menit siang hari.
Matahari terbit paling awal berada pada 05.22 hari 3
November, dan matahari terbit terakhir 31 menit lebih lambat pada
pukul 05.53 pada 11 Februari. Matahari terbenam paling awal adalah
pada pukul 17.29 tanggal 2 November, dan matahari terbenam
paling telat adalah 31 menit lebih lambat pada pukul 18.00 tanggal
11 Februari.

28
Gambar 2.2 Data Matahari Di Pontianak
(Sumber : [Link], 2025)
2. Angin
Vektor angin rata-rata per jam dengan area luas (kecepatan
dan arah) di 10 meter di atas permukaan tanah. Angin yang dialami
di lokasi tertentu sangat bergantung pada topografi lokal dan faktor
lainnya, dan kecepatan dan arah angin seketika sangat bervariasi
daripada rata-rata per jam.
Masa yang lebih berangin dalam setahun berlangsung selama
3,7 bulan, dari 17 November sampai 6 Maret, dengan kecepatan
angin rata-rata lebih dari 4,5 kilometer per jam. Bulan paling
berangin dalam setahun di Kota Pontianak adalah Januari, dengan
kecepatan angin rata-rata per jam 5,3 kilometer per jam.

29
Masa angin lebih tenang dalam setahun berlangsung selama
8,3 bulan, dari 6 Maret sampai 17 November. Bulan paling tidak
berangin dalam setahun di Kota Pontianak adalah April, dengan
kecepatan angin rata-rata per jam 3,7 kilometer per jam.

Gambar 2.2 Kecepatan Angin Di Pontianak


(Sumber : [Link], 2025)
Angin paling sering bertiup dari barat selama 1,7 bulan, dari 10
Maret hingga 30 April dan selama 2,5 bulan, dari 14 Oktober hingga 30
Desember, dengan persentase tertinggi 59% pada tanggal 12
November. Angin paling sering bertiup dari selatan selama 5,5 bulan,
dari 30 April hingga 14 Oktober, dengan persentase tertinggi 78% pada
tanggal 12 Agustus. Angin paling sering bertiup dari utara selama 2,4
bulan, dari 30 Desember hingga 10 Maret, dengan persentase tertinggi
47% pada tanggal 1 Januari.

Gambar 2.2 Arah Angin Di Pontianak

30
(Sumber : [Link], 2025)
3. Curah Hujan
Curah hujan sepanjang tahun ini Kota Pontianak. Bulan
dengan curah hujan terbanyak di Kota Pontianak adalah November,
dengan rata-rata curah hujan 309 milimeter. Bulan dengan curah
hujan paling sedikit di Kota Pontianak adalah Agustus, dengan curah
hujan rata-rata 141 milimeter.
Arah curah hujan sangat dipengaruhi oleh arah angin,
sehingga arah jatuhnya curah hujan dalam pertahun bervariasi, yaitu
bisa dari arah barat, selatan, utara Bersama mengikuti arah bertiup
angin.

Gambar 2.2 Curah Hujan Di Pontianak


(Sumber : [Link], 2025)
4. Data Trafik dan Sirkulasi Kendaraan
Terdapat beberapa akses menuju ke tapak, yaitu :
A. Jalan Gusti Hamzah
B. Gang Hidayah
C. Mess PT. Perkebunan Nusantara XIII
D. Komplek Green Pancasila

Gambar 2.2 Data Aksebilitas Site


(Sumber : Hasil Observasi Dilapangan, 2025)

Gambar 2.2 Dokumentasi Akseilitas Site


(Sumber : Hasil Observasi Dilapangan, 2025)

31
Tabel 2.2 Data Trafik Lalu Lintas
(Sumber : Olahan Pribadi, 2025)

Data Trafik Lalu Lintas Keterangan

32
E. Kebisingan
Gambar 2.2 Site Perencanaan Rusunawa
(Sumber : Hasil Observasi Dilapangan, 2025)
Data ukur kebisingan menggunakan Keterangan
aplikasi “Pengukur desibel suara”
A. Jalan Gusti Hamzah
Minimal : 48 dB
Rata Rata : 74 dB
Maksimal : 95 dB

Waktu Pengukuran: 16.12 WIB

B. Gang Hidayah
Minimal : 50 dB
Rata Rata : 65 dB
Maksimal : 85 dB

Waktu Pengukuran: 16.12 WIB

33
D. Komplek Green Pancasila
Minimal : 31 dB
Rata Rata : 57 dB
Maksimal : 76 dB

Waktu Pengukuran: 16.12 WIB

Tingkat kebisingan pada titik A Merupakan kebisingan


dengan intensitas paling tinggi yang bersumber dari suara kendaraan
yang berlalu lalang dijalan gusti hamzah. Pada titik B merupakan
kebisingan dengan intensitas sedang yang bersumber dari
permukiman dan kendaraan yang cukup sering melintasi gang
hidayah. Titik D Merupakan kebisingan dengan intensitas sedang
karena selain bersumber dari pemukiman sekitar, suara kendaraan di
jalan gusti hamzah juga terdengar dari titik pengukuran.
F. Vegetasi

Gambar 2.2 Data Vegetasi Site


(Sumber : Hasil Observasi Dilapangan, 2025)

Gambar 2.2 Dokumentasi Vegetasi Site


(Sumber : Hasil Oservasi Dilapangan, 2025)

2.4.4 Studi Kasus Terhadap Tapak


Tabel 2.2 Studi Kasus Terhadap Tapak
(Sumber : Olahan Pribadi, 2025)

Studi Kasus 1 Studi Kasus 2 Studi Kasus 3

34
2.5 Tinjauan Tampilan dan Bentuk

2.5.1 Persyaratan Penampilan Bangunan


Menurut Permen PUPR No. 5 Tahun 2007, terdapat persyaratan pada
penampilan bentuk bangunan seperti pola bangunan di rusunawa. Adapun
Persyaratan penampilan bangunan sebagai berikut :
a) Bentuk denah bangunan gedung rusuna bertingkat tinggi sedapat
mungkin simetris dan sederhana, guna mengantisipasi kerusakan
yang diakibatkan oleh gempa.
b) Dalam hal denah bangunan gedung berbentuk T, L, atau U, atau
panjang lebih dari 50 m, maka harus dilakukan pemisahan struktur
atau delatasi untuk mencegah terjadinya kerusakan akibat gempa
atau penurunan tanah.
c) Denah bangunan gedung berbentuk sentris (bujursangkar,
segibanyak, atau lingkaran) lebih baik daripada denah bangunan
yang berbentuk memanjang dalam mengantisipasi terjadinya
kerusakan akibat gempa.
d) Atap bangunan gedung harus dibuat dari konstruksi dan bahan yang
ringan untuk mengurangi intensitas kerusakan akibat gempa.

35
Gambar 2.2 Bentuk Denah Bangunan Gedung
(Sumber : Permen PU No. 5 Tahun 2007)

2.5.2 Studi Kasus terhadap Tampilan Dan Bentuk


Tabel 2.2 Studi Kasus Terhadap Tampilan dan Bentuk
(Sumber : Olahan Pribadi, 2025)

Studi Kasus 1 Studi Kasus 2 Studi Kasus 3

36
2.6 Tinjauan Struktur

Struktur bangunan adalah bagian atau komponen yang menjadi


pokok penting dalam berdirinya suatu bangunan, mulai dari sloof, fondasi,
dinding, atap, ring balok, dan lain sebagainya. Fungsi utamanya adalah
untuk mendukung keberadaan elemen-elemen struktur bangunan lainnya
agar membentuk satu kesatuan yang kokoh.
Elemen rangka bangunan terbagi menjadi 3 jenis, yaitu :
a. Struktur Atas (Upperstructure)
Struktur atas adalah bagian bangunan yang berada di atas tanah,
berfungsi sebagai tempat aktivitas dan juga untuk menyalurkan beban
ke struktur bawah.
b. Struktur Tengah (Superstructure)
Sebagai penghubung dan penyalur beban antara struktur atas dan
struktur bawah. Kadang ini dianggap sebagai bagian dari struktur atas,
tapi dalam beberapa klasifikasi (terutama bangunan bertingkat), bagian
ini dipisahkan.
c. Struktur Bawah (Substructure)
Struktur bawah adalah bagian struktur yang berada di bawah
permukaan tanah dan berfungsi untuk menyalurkan beban dari seluruh
bangunan ke tanah dasar.

2.6.1 Struktur Atas (Upperstructure)


A. Struktur Atap
Atap Perisai
Atap perisai terdiri dari penggabungan dua trapesium dan
dua segitiga. Atap ini adalah penyempurnaan dari jenis atap
pelana, memiliki dua bidang dengan bentuk segitiga yang
memiliki kemiringan sisi yang sama, sehingga atap perisai tidak

37
seperti atap pelana yang membutuhkan penutup pada dinding
yang tinggi.
Sudut kemiringan atap perisai umumnya bervariasi
tergantung pada beberapa faktor, seperti iklim, bahan penutup
atap, dan fungsi bangunan.
Kelebihan atap perisai sebagai berikut :
a) Bentuknya yang miring di empat sisi bikin struktur atap
ini kuat dan stabil, cocok untuk menghadapi angin
kencang.
b) Karena miring di semua sisi, air hujan cepat mengalir,
mengurangi risiko kebocoran dan genangan, penting
banget untuk daerah dengan curah hujan tinggi seperti
Pontianak.
c) Tampilannya rapi, simetris, dan elegan, cocok untuk
berbagai gaya bangunan dan sering memberikan kesan
mewah.
d) Ada ruang tambahan di bawah atap yang bisa
dimanfaatkan sebagai loteng atau penyimpanan.
e) Oversteknya bisa melindungi dinding dari paparan
langsung matahari dan hujan, menjaga dinding tetap awet.

Gambar 2.2 Contoh Atap Perisai


(Sumber : [Link], 2022)

38
Rangka atap adalah struktur yang menopang penutup atap
dan menjadi fondasi kekuatan atap bangunan. Bagian-bagian
rangka atap sangat penting untuk memastikan stabilitas dan
keamanan bangunan. Berikut bagian-bagian utama dari rangka
atap : Kuda kuda, Gording, reng, usuk/kasau, penutup atap, dan
talang jurai.
Setidaknya ada beberapa material yang dapat
dipergunakan untuk membuat rangka. Material-material yang
dimaksud antara lain adalah beton, kayu, baja, baja ringan dan
bambu.
a) Baja Ringan
Material ini menjadi alternatif populer pengganti kayu
untuk struktur atap karena menawarkan berbagai
keunggulan.
2.6.2 Struktur Tengah (Superstructure)
A. Kolom
Sesuai dengan SK SNI T-15 1991-03 Tentang tata Cara
Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung, Adapun yang
dimaksud kolom adalah komponen struktur bangujnan yang tugas
utamanya menyanggah beban aksial tekan vertikal dengan bagian
tinggi yang tidak ditopang paling tidak tiga kali dimensi lateral
terkecil.
Struktur dalam kolom terbuat dari besi dan beton. Kedua
bahan ini memiliki sifat gabunganyang cukup baik Dimana besi
merupakan material yang tahan terhadap tarikan, sedangkan beton
merupakan material yang tahan tekanan.
Adapun jenis kolom terbagi menjadi tiga, yaitu :
1. Kolom segi empat atau bujur sangkar dengan tulangan
memanjang dan menyengkang

39
2. Kolom bundar dengan tulangan memanjang dan menyengkang
berbentuk spiral. Adapun fungsi dari tulangan spiral ini adalah
memberi kemampuan kolom untuk menyerap deformasi cukup
besar sebelum runtuh sehingga mampu mencegah terjadinya
kehancuran seluruh struktur bangunan sebelum proses
redistribusi momen dan tegangan terwujud
3. Kolom komposit, yaitu gabungan antara beton dan profil baja
sebagai pengganti tulangan di dalamnya

Gambar 2.2 Jenis Kolom


(Sumber : [Link], 2020)

B. Balok
Balok adalah elemen struktural yang menerima gaya-gaya
yang bekerja dalam arah transversal terhadap sumbunya yang
mengakibatkan terjadinya momen lentur dan gaya geser sepanjang
bentangnya (Dipohusodo, 1994).
Berdasarkan Perkembangan jenis balok, balok dibagi
menjadi 6 jenis, yaitu Balok Sederhana (Simple Beam), Balok
Teritisan, Balok Menerus, Balok Kantilever, Balok Bentang
Tersuspensi, Balok Ujung Tetap.

40
1. Balok Sederhanan (Simple Beam)
Balok sederhana adalah sebuah balok yang ditumpu pada
kedua ujungnya dengan memiliki sebuah sendi di salah satu
ujungnya dan sebuah rol di salah satu ujung yang lainnya.

Gambar 2.2 Balok Sederhana


(Sumber : [Link])

C. Dinding
Dinding adalah salah satu elemen bangunan yang berfungsi
memisahkan atau membentuk ruang. Menurut (Kristiana, 2016)
dinding memiliki fungsi sebagai pelindung penghuni dari serangan
hewan buas angin, hujan, debu dan lain-lain yang bersumber dari
alam. Serta digunakan untuk pemisah ruang luar dengan ruang
dalam, penahan cahaya, dan sebagai fungsi arsitektur tertentu.
1. Dinding Batako
Batako merupakan salah satu bahan bangunan pengganti batu
bata yang terbuat dari campuran semen, pasir dan air dengan
perbandingan komposisi tertentu dan dicetak dalam cetakan yang
telah ditentukan ukurannya.
Pemakaian batako apabila dibandingkan dengan batu bata
terlihat penghematannya dari beberapa segi, misalnya per m2 luas
dinding lebih sedikit jumlah batu yang dibutuhkan, berat
tembok/dinding juga dapat berkurang dengan demikian dapat
mempengaruhi design dan kebutuhan pondasi.

41
2.6.3 Struktur Bawah (Substructure)
A. Pondasi
Istilah pondasi digunakan untuk mendefinisikan suatu
konstruksi bangunan yang berfungsi sebagai penopang bangunan
dan meneruskan beban bangunan diatasnya (upper structure) ke
lapisan tanah yang cukup kuat daya dukungnya.
1. Pondasi Telapak Dengan Mini Plie
Mini Pile merupakan tiang yang digunakan untuk penyangga
pondasi bangunan gedung, jembatan, dermaga, dolken dan lain
sebagainya. Bentuk penampang mini tumpukan biasanya kotak dan
segitiga dengan variasi penampang 0,2 x 0,2m sampai dengan 0,4 x
0,4m dengan variasi panjang antara 3m sampai dengan 9m. Untuk
kebutuhan tumpukan yang lebih panjang dapat disambung dengan
plat besi yang dilas.
Pemancangan tiang pancang dapat dilakukan dengan drop
hammer atau menggunakan alat pemancang yang merupakan
perpaduan vibrasi dan tekanan hidrolik untuk mengurangi dampak
getaran yang ditimbulkan terutama untuk lingkungan pada
pemukiman.

Gambar 2.2 Pondasi Mini Pile


(Sumber : [Link])

42
2.6.4 Studi Kasus Terhadap Struktur
Tabel 2.2 Studi Kasus Terhadap Struktur
(Sumber : Olahan Pribadi, 2025)

Studi Kasus 1 Studi Kasus 2 Studi Kasus 3

2.7 Tinjauan Utilitas

2.7.1 Sistem Perpipaan Air Bersih


2.7.2 Sistem Perpipaan Air Kotor
2.7.3 Sistem Pengkondisian Udara
2.7.4 Sistem Transportasi Vertikal
2.7.5 Sistem Persampahan
2.7.6 Sistem Perlindungan Terhadap Bahaya Kebakaran
2.7.7 Sistem Jaringan Listrik
2.7.8 Sistem Penangkal Petir
2.7.9 Studi Kasus Terhadap Utilitas
Tabel 2.2 Studi Kasus Terhadap Utilitas
(Sumber : Olahan Pribadi, 2025)

Studi Kasus 1 Studi Kasus 2 Studi Kasus 3

43
BAB III
ANALISIS KONSEP RANCANGAN
3.1 Analisis Fungsi

3.1.1 Analisis Fungsi


3.1.2 Simpulan Fungsi
3.2 Analisis Bentuk

3.2.1 Analisis Bentuk


3.2.2 Simpulan Bentuk
3.3 Analisis Tapak

3.3.1 Analisis Tapak


3.3.2 Simpulan Tapak
3.4 Analisis Struktur

3.4.1 Analisis Struktur


3.4.2 Simpulan Struktur
3.5 Analisis Utilitas

3.5.1 Analisis Utilitas


3.5.2 Simpulan Utilitas

44
BAB IV
USULAN RANCANGAN
4.1 Fungsi
4.2 Bentuk
4.3 Tapak
4.4 Struktur
4.5 Utilitas

BAB V
PRODUK KELUARAN
Fungsi
Bentuk
Tapak
Struktur
Utilitas

45

Anda mungkin juga menyukai