Rancangan Rumah Susun Sewa di Pontianak
Rancangan Rumah Susun Sewa di Pontianak
Dengan ini saya menyatakan (dan menjamin) bahwa penulisan tugas akhir
ini dilakukan secara mandiri dan disusun tanpa menggunakan bantuan yang tidak
dibenarkan, sebagaimana lazimnya pada penyusunan sebuah tugas akhir. Semua
kutipan dan/atau pemikiran orang lain yang digunakan di dalam penyusunan tugas
akhir, baik dari sumber yang dipublikasikan ataupun tidak termasuk dari buku,
artikel jurnal, catatan kuliah, tugas mahasiswa lain dan lainnya, telah direferensikan
menurut kaidah akademik yang baku dan berlaku.
1
PRAKATA
2
DAFTAR ISI
3
DAFTAR GAMBAR
4
DAFTAR BAGAN DAN TABEL
5
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
6
1.2 Rumusan Masalah
1.3.1 Tujuan
Tujuan dari perencanaan dan perancangan rumah susun sederhana
sewa (Rusunawa) ini yaitu untuk memenuhi kenyamanan fisik serta harga
yang terjangkau bagi masyarakat berpenghasilan menengah kebawah
(MBR).
1.3.2 Sasaran
Sasaran dari perancangan Rumah Susun Sewa Sederhana ini adalah :
1. Mengidentifikasi Fungsi Rusunawa terkait pola aktifitas, total
kebutuhan ruang, besaran ruang dan pemetaan ruang (zoning)
dengan konsep tata ruang modular dan fungsional.
2. Mengidentifikasi Lokasi tapak dan luasan tapak rancangan terkait
dengan data eksisting tapak.
3. Mengidentifikasi bentuk dan tampilan terkait dengan
pertimbangan – pertimbangan, rumusan bentuk raut (shape)
bangunan dan kontekstualisasi (selarang/kontras) dengan tipologi
bangunan vertikal dan unit hunian tipikal
4. Mengidentifikasi struktur bangunan terkait penetapan struktur
rusunawa yang akan diterapkan dirancangan, yang berisikan
tentang jenis pondasi, system struktur, bentuk struktur, material
struktur, dan kontruksi bangunan
5. Mengidentifikasi kelengkapan bangunan (utilitas) terkait dengan
system perpipaan (air bersih) dengan pemanfaatan air hujan,
sumur bor dan (air kotor) dengan system pembuangan terpisah,
7
system vertikal Bangunan, system perlindungan terhadap bahaya
kebakaran, system jaringan Listrik, system penangkal petir, dam
pengelolaan limbah (pemanfaatan limbah organik)
8
1. Penyusunan konsep perancangan Rumah Susun Sewa bagi Masyarakat
Berpenghasilan Menengah ke Bawah.
2. Penyusunan rancangan arsitektural Rumah Susun Sewa bagi Masyarakat
Berpenghasilan Menengah ke Bawah.
3. Penyusunan rancangan building envelope yang menunjukkan citra yang
kontekstual dan kinerja yang efisien.
4. Penyusunan estimasi biaya Rumah Susun Sewa bagi Masyarakat
Berpenghasilan Menengah ke Bawah.
5. Penyusunan rencana spesifikasi teknis tertentu dari teknologi bangunan yang
diusulkan.
Secara pumpunan dan teknis yang disyaratkan atau dikembangkan konsep
teknisnya merujuk pada buku SNI 03-7013-2004 tentang Tata Cara Perencanaan
Fasilitas Lingkungan Rumah Susun Sederhana.
9
BAB IV : USULAN RANCANGAN (SCHEMATIC DESIGN), Berisikan
usulan rancangan dalam bentuk sketsa-sketsa rancangan (schematic design) yang
merupakan tanggapan perancangan terhadap usulan rumusan masalah perencanaan
Rusunawa hasil analisis. Bab ini akan menggambarkan secara menyeluruh tentang
konsep rancangan bentuk, konsep rancangan tapak (yang menggambarkan zoning
makro mikro dan denah skematik), konsep rancangan struktur bangunan terpilih,
usulan konsep rancangan utilitas kawasan dan bangunan.
BAB V : PRODUK RANCANGAN ARSITEKTURAL, Berisikan gambar-
gambar hasil rancangan beserta penjelasannya, meliputi gambar situasi, gambar
rencana tapak (siteplan), gambar tampak kawasan, gambar potongan kawasan,
gambar rencana utilitas kawasan, gambar rencana pola perkerasan dan vegetasi
kawasan, gambar rencana street/scape furniture kawasan, gambar denah bangunan
(plan), gambar denah tata letak perabot bagunan (layout plan), gambar tampak
bangunan terpilih (elevation), gambar potongan bangunan terpilih (section),
gambar perspektif kawasan dan sequance, dan gambar perspektif interior dan
eksterior bangunan terpilih.
10
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA PERENCANAAN RUMAH SUSUN
SEWA (RUSUNAWA)
2.1 Tinjauan Umum Rusun
11
Sementara untuk tipe 45m2 terbuka untuk diakses oleh dua kelompok
keluarga tersebut, namun yang diutamakan adalah yang berpenghasilan
rendah.
Keluarga dalam pengertian disini adalah Suami Istri dengan 2 – 3
anak dan tidak melayani lajang atau pasangan yang belum menikah baik
secara individual maupun kelompok.
Rumah susun sederhana sewa ini adalah kategori khusus dari Rumah
Susun Umum. Rumah Susun Umum adalah rusun yang diselenggarakan
untuk memenuhi kebutuhan rumah bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah
(MBR) (Pasal 1 angka 5 PP No. 13 Tahun 2021).
Rusunawa secara spesifik adalah Rusunum yang status
kepemilikannya adalah sewa, bukan hak milik atas satuan rumah susun
(sarusun). Artinya, penghuni membayar biaya sewa secara periodik kepada
pengelola/pemilik (biasanya pemerintah atau badan yang ditunjuk).
2.2.1 Studi Kasus Rusunawa
1. Rumah Susun Buring 1, Malang
12
Rusunawa Buring 1 Malang dibangun pada tahun 2012, selesai pada
tahun 2013, dan warga mulai menghuni pada tahun 2014. Rusunawa Malang
dikelola di bawah naungan Dinas Perumahan dan Permukiman Kota
Malang. Lokasi Rusunawa Buring 1 Malang terletak di Jalan Mayjend
Sungkono, Kelurahan Buring, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang,
Jawa Timur. Konsep awal pembangunan Rusunawa ini adalah untuk
mengurangi dan memperbaiki kawasan kumuh, merelokasi hunian yang
tidak berijin di bantaran sungai, di tanah milik pemerintah, atau di tempat-
tempat terlarang lainnya, serta memfasilitasi masyarakat berpenghasilan
rendah yang belum memiliki rumah dengan rumah berkonsep apartemen
rakyat.
Dilantai 2-5 difungsikan sebagai hunian. Setiap hunian memiliki 1
kamar tidur, 1 dapur dan 1 kamar mandi dengan total luas 24 meter persegi.
Terdapat sekitar 23 unit hunian per lantai , 2 janitor dan 2 shaft sampah, serta
ruang MEE.
13
2. Rumah Susun Sewa Marunda
14
lift yang terletak di tengah dan 2 buah tangga di tiap sisinya. Terdapat pula
ruang bersama, void (4,35mx23,45m), dan selasar 1,225 m.
Gambar 2.2 Denah Rusun Marunda
(Sumber : [Link], 2008)
Bangunan Rusunawa ini menggunakan modul 3,9 m. Tiap massa
bangunan dilengkapi pula dengan 2 tempat sampah bersama. Rusunawa
Marunda ini memiliki ruang penunjang antara lain serba guna, musholla
bersama, komersial, jemuran, parkir mobil dan motor dan ME yang terkait
pada bangunan.
3. Rusunawa Pesakih
15
Gambar 2.2 Rusunawa Pesakih
(Sumber : Journal of Regional and City Planning, 2020)
16
Kompleks Rusunawa Pesakih terdiri dari tiga blok dan delapan
bangunan. Bangunan-bangunan tersebut dikelompokkan membentuk area
halaman tertutup. Desain setiap bangunan identik: bangunan enam lantai
yang dibagi menjadi dua zona. Ruang publik terletak di lantai satu untuk
menampung fasilitas umum, seperti klinik kesehatan (puskesmas), ruang
komersial atau ritel, kantor manajemen, area serbaguna, perpustakaan, dan
taman kanak-kanak (PAUD). Ruang privat (unit hunian) terletak di lantai
dua hingga lantai enam. Desain arsitektur khas Rusunawa Pesakih adalah
simpleks dengan koridor tengah dan empat tangga. Total ada 640 unit tipe
dua kamar tidur, berukuran 36 m2, yang disusun secara vertikal di atas lima
lantai.
17
2.3.2 Pelaku Dan Pola Aktifitas
Adapun karakter penghuni rumah susun secara umum dapat
digambarkan bahwa kegiatan utama penghuni rumah susun terletak di dalam
rumah. Selebihnya kegiatan yang dilakukan di luar rumah namun yang bisa
dilakukan di dalam kawasan rumah susun antara lain bermain, berolah raga,
beribadah, berkumpul dengan warga sekitar, membeli keperluan sehari-hari,
makan, dan bermain.
18
Tabel berikut ini dapat memberikan gambaran kearah besaran ruang
yang diperlukan :
Tabel 2.2 Daftar Pelaku Yang Hrus Diwadahi
(Sumber : Terms Of Reference Rusunawa, 2025)
NO PELAKU KUANTITAS JUMLAH ORANG JUMLAH
1 Keluarga Penyewa
Unit Hunian Tipe 36 (MBR) 50 Unit 4 200 Orang
Unit Hunian Tipe 45 (MBR dan MBM) 50 Unit 5 250 Orang
Unit Hunian Tipe 60 (MBM) 50 Unit 5 250 Orang
150 Unit 700 Orang
2 Pengelola Rusunawa
Manajer Pengelola 1 Orang
Saff Bagian Kesekretariatan 1 Orang
Staff Bagian Keuangan 1 Orang
Staff Bidang Pemasaran 2 Orang
Staff Bidang Kesejahteraan Penghuni 2 Orang
Staff Bidang Sarana dan Prasarana 2 Orang
Teknisi 2 Orang
Staff Keamanan (Security) 4 Orang
15 Orang
3 Unit Usaha Toko (2 unit: Sembako dan
Perkakas) 4 Orang
Kasir/Manager Toko 6 Orang
Pelayan Toko
10 Orang
4 Warung Kopi (oleh Warga Penghuni) 6 Unit
Penjaga Warung 12 Orang
12 rang
19
2. Kantor pengelola
3. Ruang Masjid
4. Ruang Mekanikal elektrikal
5. Unit Usaha Toko
6. Warung
7. Parkiran Kendaraan mobil dan motor
2.3.4 Persyaratan Ruang
Standar Fasilias di Rusunawa Menurut SNI 03-7013 Tahun 2004
A. Luas Lahan
Adapun luas lahan untuk fasilitas rumah susun menurut SNI
03-7013 Tahun 2004 Tentang Tata Cara Perencanaan Fasilitas
Lingkungan Rumah Susun Sederhana :
Tabel 2.2 Luasan Lahan
(Sumber : SNI 03-7013, 2004)
Keterangan:
1) Luas Iahan untuk fasilitas lingkungan rumah susun seluas-
Iuasnva 30% (tiga puluh persen) dan luas seluruhnya:
2) Luas lahan untuk fasilitas ruang terbuka, berupa taman
sebaai penghijauan. tempat bermain anak-anak dan atau
lapangan olah raga seluas-Iuasnva 20% dari luas Iahan
fasilitas lingkungan rurnah susun.
B. Fasilitas Niaga
Adapun Fasilitas niaga atau tempat kerja yang disediakan
untuk fasilitas rumah susun menurut SNI 03-7013 Tahun 2004
Tentang Tata Cara Perencanaan Fasilitas Lingkungan Rumah Susun
Sederhana :
20
Tabel 2.2 Fasilitas Niaga
21
D. Ruang Terbuka
Adapun Ruang Terbuka yang disediakan untuk fasilitas
rumah susun menurut SNI 03-7013 Tahun 2004 Tentang Tata Cara
Perencanaan Fasilitas Lingkungan Rumah Susun Sederhana :
Tabel 2.2 Ruang Terbuka
(Sumber : SNI 03-7013, 2004)
22
23
2.3.5 Ruang dan Besaran Ruang
Adapun Gambaran umum besaran ruang dari Bangunan Rumah
Susun Sewa ini adalah Sebagai Berikut :
Tabel 2.2 Gambaran Umum Besaran Ruang
(Sumber : Terms Of Reference Rusunawa, 2025)
24
lebih besar, akan membungkus ruang demin menjalin hubungan dengan
lingkungan eksteriornya.
25
2.4 Tinjauan Lokasi Tapak dan Luas Tapak Rancangan
26
Gambar 2.2 Site Perencanaan Rusunawa
(Sumber : Hasil Observasi Dilapangan, 2025)
A. Peraturan Bangunan :
a) Lokasi : Jalan Gusti Hamzah, Samping Gg. Hidayah
b) Luas lahan : 9300 m2
c) GSB
Jalan Gusti Hamzah : 16.5 m
Gang Hidayah : 5 m
d) RMJ
Jalan Gusti Hamzah : 17 m
Gang Hidayah 8 m
Zonasi Kawasan Perumahan dan Permukiman Kepadatan Tinggi
e) KDB Maksimal : 80%
f) KLB Maksimal : 3,2
g) KDH Minimal : 30%
(PERDA Nomor 2 Tahun 2013-2033, Pasal 52 Ayat (2))
B. Batas Site :
Batas Utara : Gang Hidayah
27
Batas Timur : Jalan Gusti Hamzah
Batas Barat : Komplek Perumahan Green Pancasila
Batas Selatan : Mess PT. Perkebunan Nusantara XIII
2.4.3 Data Kondisi Tapak
1. Lintas Matahari
Pagi hari pukul 06.00-10.00 WIB, menyinari Sebagian tapak
pada bagian timur tapak yaitu dari arah Jalan Gusti Hamzah
dengan suhu yang relatif hangat dengan kategori segar dan
sehat.
Pada siang hari pukul 10.00-14.00, sinar matahari menyinari
seluruh bagian tapak dengan suhu panas menyengat.
Pada sore hari pukul 14.00-18.00, matahari menyinari Sebagian
tapak pada bagian barat yaitu dari arah Komplek Perumahan
Green Pancasila dengan suhu panas sore yang dikategorikan
gerah.
Durasi hari di Kota Pontianak tidak banyak berbeda
sepanjang tahun, tetap dalam 7 menit dari 12 jam sepanjang hari.
Pada tahun 2025, hari terpendek adalah 21 Juni, dengan 12 jam, 7
menit siang hari; hari terpanjang adalah 21 Desember, dengan 12
jam, 8 menit siang hari.
Matahari terbit paling awal berada pada 05.22 hari 3
November, dan matahari terbit terakhir 31 menit lebih lambat pada
pukul 05.53 pada 11 Februari. Matahari terbenam paling awal adalah
pada pukul 17.29 tanggal 2 November, dan matahari terbenam
paling telat adalah 31 menit lebih lambat pada pukul 18.00 tanggal
11 Februari.
28
Gambar 2.2 Data Matahari Di Pontianak
(Sumber : [Link], 2025)
2. Angin
Vektor angin rata-rata per jam dengan area luas (kecepatan
dan arah) di 10 meter di atas permukaan tanah. Angin yang dialami
di lokasi tertentu sangat bergantung pada topografi lokal dan faktor
lainnya, dan kecepatan dan arah angin seketika sangat bervariasi
daripada rata-rata per jam.
Masa yang lebih berangin dalam setahun berlangsung selama
3,7 bulan, dari 17 November sampai 6 Maret, dengan kecepatan
angin rata-rata lebih dari 4,5 kilometer per jam. Bulan paling
berangin dalam setahun di Kota Pontianak adalah Januari, dengan
kecepatan angin rata-rata per jam 5,3 kilometer per jam.
29
Masa angin lebih tenang dalam setahun berlangsung selama
8,3 bulan, dari 6 Maret sampai 17 November. Bulan paling tidak
berangin dalam setahun di Kota Pontianak adalah April, dengan
kecepatan angin rata-rata per jam 3,7 kilometer per jam.
30
(Sumber : [Link], 2025)
3. Curah Hujan
Curah hujan sepanjang tahun ini Kota Pontianak. Bulan
dengan curah hujan terbanyak di Kota Pontianak adalah November,
dengan rata-rata curah hujan 309 milimeter. Bulan dengan curah
hujan paling sedikit di Kota Pontianak adalah Agustus, dengan curah
hujan rata-rata 141 milimeter.
Arah curah hujan sangat dipengaruhi oleh arah angin,
sehingga arah jatuhnya curah hujan dalam pertahun bervariasi, yaitu
bisa dari arah barat, selatan, utara Bersama mengikuti arah bertiup
angin.
31
Tabel 2.2 Data Trafik Lalu Lintas
(Sumber : Olahan Pribadi, 2025)
32
E. Kebisingan
Gambar 2.2 Site Perencanaan Rusunawa
(Sumber : Hasil Observasi Dilapangan, 2025)
Data ukur kebisingan menggunakan Keterangan
aplikasi “Pengukur desibel suara”
A. Jalan Gusti Hamzah
Minimal : 48 dB
Rata Rata : 74 dB
Maksimal : 95 dB
B. Gang Hidayah
Minimal : 50 dB
Rata Rata : 65 dB
Maksimal : 85 dB
33
D. Komplek Green Pancasila
Minimal : 31 dB
Rata Rata : 57 dB
Maksimal : 76 dB
34
2.5 Tinjauan Tampilan dan Bentuk
35
Gambar 2.2 Bentuk Denah Bangunan Gedung
(Sumber : Permen PU No. 5 Tahun 2007)
36
2.6 Tinjauan Struktur
37
seperti atap pelana yang membutuhkan penutup pada dinding
yang tinggi.
Sudut kemiringan atap perisai umumnya bervariasi
tergantung pada beberapa faktor, seperti iklim, bahan penutup
atap, dan fungsi bangunan.
Kelebihan atap perisai sebagai berikut :
a) Bentuknya yang miring di empat sisi bikin struktur atap
ini kuat dan stabil, cocok untuk menghadapi angin
kencang.
b) Karena miring di semua sisi, air hujan cepat mengalir,
mengurangi risiko kebocoran dan genangan, penting
banget untuk daerah dengan curah hujan tinggi seperti
Pontianak.
c) Tampilannya rapi, simetris, dan elegan, cocok untuk
berbagai gaya bangunan dan sering memberikan kesan
mewah.
d) Ada ruang tambahan di bawah atap yang bisa
dimanfaatkan sebagai loteng atau penyimpanan.
e) Oversteknya bisa melindungi dinding dari paparan
langsung matahari dan hujan, menjaga dinding tetap awet.
38
Rangka atap adalah struktur yang menopang penutup atap
dan menjadi fondasi kekuatan atap bangunan. Bagian-bagian
rangka atap sangat penting untuk memastikan stabilitas dan
keamanan bangunan. Berikut bagian-bagian utama dari rangka
atap : Kuda kuda, Gording, reng, usuk/kasau, penutup atap, dan
talang jurai.
Setidaknya ada beberapa material yang dapat
dipergunakan untuk membuat rangka. Material-material yang
dimaksud antara lain adalah beton, kayu, baja, baja ringan dan
bambu.
a) Baja Ringan
Material ini menjadi alternatif populer pengganti kayu
untuk struktur atap karena menawarkan berbagai
keunggulan.
2.6.2 Struktur Tengah (Superstructure)
A. Kolom
Sesuai dengan SK SNI T-15 1991-03 Tentang tata Cara
Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung, Adapun yang
dimaksud kolom adalah komponen struktur bangujnan yang tugas
utamanya menyanggah beban aksial tekan vertikal dengan bagian
tinggi yang tidak ditopang paling tidak tiga kali dimensi lateral
terkecil.
Struktur dalam kolom terbuat dari besi dan beton. Kedua
bahan ini memiliki sifat gabunganyang cukup baik Dimana besi
merupakan material yang tahan terhadap tarikan, sedangkan beton
merupakan material yang tahan tekanan.
Adapun jenis kolom terbagi menjadi tiga, yaitu :
1. Kolom segi empat atau bujur sangkar dengan tulangan
memanjang dan menyengkang
39
2. Kolom bundar dengan tulangan memanjang dan menyengkang
berbentuk spiral. Adapun fungsi dari tulangan spiral ini adalah
memberi kemampuan kolom untuk menyerap deformasi cukup
besar sebelum runtuh sehingga mampu mencegah terjadinya
kehancuran seluruh struktur bangunan sebelum proses
redistribusi momen dan tegangan terwujud
3. Kolom komposit, yaitu gabungan antara beton dan profil baja
sebagai pengganti tulangan di dalamnya
B. Balok
Balok adalah elemen struktural yang menerima gaya-gaya
yang bekerja dalam arah transversal terhadap sumbunya yang
mengakibatkan terjadinya momen lentur dan gaya geser sepanjang
bentangnya (Dipohusodo, 1994).
Berdasarkan Perkembangan jenis balok, balok dibagi
menjadi 6 jenis, yaitu Balok Sederhana (Simple Beam), Balok
Teritisan, Balok Menerus, Balok Kantilever, Balok Bentang
Tersuspensi, Balok Ujung Tetap.
40
1. Balok Sederhanan (Simple Beam)
Balok sederhana adalah sebuah balok yang ditumpu pada
kedua ujungnya dengan memiliki sebuah sendi di salah satu
ujungnya dan sebuah rol di salah satu ujung yang lainnya.
C. Dinding
Dinding adalah salah satu elemen bangunan yang berfungsi
memisahkan atau membentuk ruang. Menurut (Kristiana, 2016)
dinding memiliki fungsi sebagai pelindung penghuni dari serangan
hewan buas angin, hujan, debu dan lain-lain yang bersumber dari
alam. Serta digunakan untuk pemisah ruang luar dengan ruang
dalam, penahan cahaya, dan sebagai fungsi arsitektur tertentu.
1. Dinding Batako
Batako merupakan salah satu bahan bangunan pengganti batu
bata yang terbuat dari campuran semen, pasir dan air dengan
perbandingan komposisi tertentu dan dicetak dalam cetakan yang
telah ditentukan ukurannya.
Pemakaian batako apabila dibandingkan dengan batu bata
terlihat penghematannya dari beberapa segi, misalnya per m2 luas
dinding lebih sedikit jumlah batu yang dibutuhkan, berat
tembok/dinding juga dapat berkurang dengan demikian dapat
mempengaruhi design dan kebutuhan pondasi.
41
2.6.3 Struktur Bawah (Substructure)
A. Pondasi
Istilah pondasi digunakan untuk mendefinisikan suatu
konstruksi bangunan yang berfungsi sebagai penopang bangunan
dan meneruskan beban bangunan diatasnya (upper structure) ke
lapisan tanah yang cukup kuat daya dukungnya.
1. Pondasi Telapak Dengan Mini Plie
Mini Pile merupakan tiang yang digunakan untuk penyangga
pondasi bangunan gedung, jembatan, dermaga, dolken dan lain
sebagainya. Bentuk penampang mini tumpukan biasanya kotak dan
segitiga dengan variasi penampang 0,2 x 0,2m sampai dengan 0,4 x
0,4m dengan variasi panjang antara 3m sampai dengan 9m. Untuk
kebutuhan tumpukan yang lebih panjang dapat disambung dengan
plat besi yang dilas.
Pemancangan tiang pancang dapat dilakukan dengan drop
hammer atau menggunakan alat pemancang yang merupakan
perpaduan vibrasi dan tekanan hidrolik untuk mengurangi dampak
getaran yang ditimbulkan terutama untuk lingkungan pada
pemukiman.
42
2.6.4 Studi Kasus Terhadap Struktur
Tabel 2.2 Studi Kasus Terhadap Struktur
(Sumber : Olahan Pribadi, 2025)
43
BAB III
ANALISIS KONSEP RANCANGAN
3.1 Analisis Fungsi
44
BAB IV
USULAN RANCANGAN
4.1 Fungsi
4.2 Bentuk
4.3 Tapak
4.4 Struktur
4.5 Utilitas
BAB V
PRODUK KELUARAN
Fungsi
Bentuk
Tapak
Struktur
Utilitas
45