TERJADINYA INGKAR JANJI (WANPRESTASI) DALAM
PERJANJIAN FINANCIAL LEASE SERTA PELAKSANAAN
HUKUMNYA
Dosen Pengampuh : Yosi Agustian., SH.,M.H. CMSP.
Disusun Oleh :
Nama : Mutiara Nabila
NIM : 012022033
Kelas : Reguler 3
Mata Kuliah : Hukum Perikatan
SEKOLAH TINGGI ILMU HUKUM SUMPAH PEMUDA
TAHUN AJARAN 2023/2024
ABSTRAK
Financial lease merupakan suatu alternatif pembiayaan perusahaan, seperti halnya
peminjaman uang lewat perusahaan, seperti halnya peminjaman uang lewat kredit
bank ataupun lembaga keuangan bukan bank. Pengertian pembiayaan alternatif
berarti bahwa dalam peninjauan terhadap pengambilan suatu keputusan, apakah
suatu perusahaan dalam usahanya untuk menambah perluasan usahanya akan
menggunkana bank, lembaga keuangan bukan bank atau perusahaan leasing. Dalam
hal adanya wanprestasi tentu akan mengakibatkan salah satu pihak menderita
kerugian, sebab ada pihak yang dirugikan, maka pihak yang menimbulkan kerugian
itu harus bertanggung jawab. Seorang debitur yang melakukan wanprestasi akan
dikenakan sanksi atau hukuman. Dalam hal sudah ada gejala-gejala lessee akan
melakukan wanprestasi ataupun apabila lessee telah jelas jelas melakukan
wanprestasi, maka lessor dapat menuntut apa yang merupakan haknya atas jaminan
tersebut. Untuk memperoleh kedudukan hukum yang kuat, maka seluruh jenis
jaminan dalam suatu perjanjian leasing seharusnya dibuat dalam akta otentik atau
notarial.
LATAR BELAKANG
Mengingat bahwa transaksi leasing merupakan suatu transaksi yang
melibatkan sejumlah modal besar dan kemungkinan terjadinya ingkar janji oleh
para pihak, terutama di negara berkembang seperti Indonesia ini, maka untuk
menjamin kelancaran dan ketertiban pembayaran uang sewa (rentals) serta
mencegah timbulnya kerugian bagi pihak lessor, maka lembaga jaminan inilah yang
1
dipergunakan untuk memperoleh rasa aman. Wanprestasi (ingkar janji) di sini
dimaksudkan bahwa dalam masa berjalannya kontrak perjanjian leasing, salah satu
pihak atau kedua belah pihak tidak melakukan apa yang diperjanjikan, atau
melakukan sesuatu tetapi tidak sebagaimana yang diperjanjikan, atau melakukan
apa yang diperjanjikan tetapi terlambat, atau melakukan sesuatu yang menurut
perjanjian tidak boleh dilakukannya. Dalam hal ini ditekankan pada ingkar janji
(wanprestasi) yang dilakukan oleh pihak penyewa (lessee) sehingga diperlukan
adanya lembaga jaminan tersebut dalam pemberian barang-barang lease.1
RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana Perjanjian Financial Lease Sebagai Salah Satu Bentuk Kontrak ?
2. Hal-hal apa yang dapat mengakibatkan terjadinya wanprestasi dalam perjanjian
Financial Lease ?
3. Bagaimana Pelaksanaan Hukum Dalam Hal Terjadi Ingkar Janji (Wanprestasi)?
PEMBAHASAN
1. Perjanjian Financial Lease Sebagai Salah Satu Bentuk Kontrak
Financial lease ini pada umumnya ini pada umumnya digunakan oleh
perusahaan perusahaan leasing di Indonesia. Bahwa financial lease ini adalah suatu
bentuk perjanjian kontrak yang salah stu sifatnya adalah noncancelable bagi pihak
lessee. Perjanjian kontrak tersebut menyatakan bahwa lessee bersedia untuk
1
Subekti, “Hukum Perjanjian”, Intermasa, Jakarta, 1998
2
melakukan serangkaian pembayaran uang atas penggunaan suatu asset yang
menjadi objek lease. Lessee berhak untuk memperoleh manfaat ekonomis dengan
mempergunakan barang tersebut, sedangkan hak kepemilikannya tetap dipegang
oleh lessor. Adanya hak kepemilikan pada pihak lessor merupakan suatu faktor
pengamanan yang lebih menyakinkan jika dibandingkan dengan memegang barang
dengan jaminan hipotik atau fidusia. Jadi dapat dikatakan bahwa pihak lessor
mempunyai hak secara hukum untuk menjual barang lease secara probadi dan
biasanya hal tersebut lebih mudah dan lebih cepat dilakukan jika dibandingkan
dengan penjualan lelang.
Point-point di atas merupakan beberapa segi keuntungan yang akan dicapai
oleh pihak lessor dalam perjanjian financial, sedangkan kerugiannya dapat berupa
: a. Sebagai pemilik, lessor mempunyai resiko yang lebih besar dari pihak lessee
sehubungan dengan barang lease maupun dengan kegiatan operasional-nya, yaitu
adanya tanggung jawab atas tuntutan pihak ketiga jika terjadi kecelakaan ataupun
kerusakan atas barang orang lain yang disebabkan oleh lease property tersebut; b.
Pihak lessor walaupun statusnya sebagai pemilik dari leased property tetapi tidak
bisa melakukan penuntutan (claim) kepada pabrik/ supplier-nya secara langsung,
tindakan tersebut harus dilakukan oleh lessee sebagai pemakai barang; c. Sebagai
pemilik barang, lessor secara hukum harus bertanggung jawab atas pembayaran
beberapa kewajiban pajak tertentu; d. Walaupun lessor mempunyai hak secara
hukum untuk menjual leased property, khususnya pada akhir periode lease, lessor
3
belum tentu dapat yakin bahwa barang yang bersangkutan bebas dari berbagai
ikatan seperti liens (gadai), charges, atau kepentingan-kepentingan lainnya.2
2. Hal-Hal Yang Dapat Mengakibatkan Terjadinya Ingkar Janji
(Wanpretasi) Dalam Perjanjian Financial Lease
Adakalanya suatu memenuhi perjanjian, syarat-syarat perjanjian sahnya
telah suatu tidak juga dapat terlaksana sebagaimana yang telah diperjanjikan.
Dalam hukum perjanjian ada dua hal yang menyebabkan tidak terlaksananya suatu
perjanjian yaitu : wanprestasi/ingkar janji dan overmacht. Dalam penulisan Skripsi
ini penulis lebih mengfokuskan diri dalam bidang wanprestasi. Ini bukan berarti
bahwa penulis tidak menganggap penting masalah overmacht dalam suatu
perjanjian. Ini karena pembahasan masalah wanprestasi lebih mencerminkan isi
dari Skripsi ini.
Wanprestasi (kelalaian atau alpa) yaitu tidak terlaksananya suatu perjanjian
karena kesalahan atau kelalaian atau cidera janji dari para pihak. Perkataan
wanprestasi berasal dari bahasa Belanda “wanprestatie”, yang arti tidak memenuhi
kewajiban yang telah ditetapkan dalam perjanjian. Jadi apabila si berutang (debitur)
tidak melakukan apa yang telah diperjanjikan maka dikatakan ia melakukan
wanprestasi. Ada empat wanprestasi (kelalaian atau kealpaan) dari seorang debitur
:3
2
Kartini Muljadi, “Leasing ditinjau dari Aspek Hukumnya”, disajikan pada Seminar Penjajagan
Alternatif Pendanaan Proyek proyek Industri Kimia Dasar dengan Sistem Leasing, Jakarta, 13-14
Mei 1985
3
Subekti, “Jaminan-Jaminan Untuk Pemberian Kredit Menurut Hukum Indonesia”, Alumni,
Bandung, 1982
4
a. Tidak melakukan apa yang disanggupi akan dilakukannya;
b. Melaksanakan apa yang dijanjikan, tetapi tidak sebagaimana yang dijanjikan;
c. Melakukan apa yang diajnjikannya tetapi terlambat;
d. Melakukan sesuatu yang menurut perjanjian tidak boleh dilakukannya.
Dalam hal adanya wanprestasi tentu akan mengakibatkan salah satu pihak
menderita kerugian, sebab ada pihak yang dirugikan, maka pihak yang
menimbulkan kerugian itu harus bertanggung jawab. Seorang debitur yang
melakukan wanprestasi akan dikenakan sanksi atau hukuman. Hukuman atau
akibat-akibat bagi debitur yang telah melakukan wanprestasi ada empat macam,
yaitu :
a. Membatar kerugian yang diderita oleh kreditur atau ganti rugi (Pasal 1234 KUH
Perdata).
b. Pembatalan perjanjian melalui hakim (pasal 1266 KUH Perdata).
c. Peralihan risiko kepada debitur sejak saat terjadinya wanprestasi (Pasal 1237
ayat 2 KUH Perdata).
d. Membayar biaya perkara apabila diperkarakan di muka hakim (Pasal 181 ayat
1 HIR). 4
Untuk mengetahui apakah debitur benar benar melakukan suatu
wanprestasi, mengingat bahwa wanprestasi mempunyai akibat-akibat yang begitu
penting, maka perlu dibuktikan di muka hakim. Menurut pasal 1267 KUH Perdata,
4
Sri Soedewi Masjchoen Sofwan, “Hukum Jaminan Di Indonesia – Pokok-Pokok Hukum Jaminan
dan Jaminan Perorangan”, Libert, Yogyakarta, 1980
5
dalam penerapannya ditetapkan bahwa kreditur dapat memilih alternatif tuntutan
sebagai berikut :
1. Pemenuhan perjanjian;
2. Pemenuhan perjanjian disertai dengan ganti rugi;
3. Ganti rugi saja;
4. Pembatalan saja;
5. Pembatalan perjanjian disertai ganti rugi.
Dalam perjanjian leasing, ingkar janji atau wanprestasi yang disebabkan
oleh kelalaian dari pihak lessee (debitur) adalah mengenai soal pembayaran uang
sewa atau pembayaran lainnya yang sudah merupakan kewajiban pihak lessee
sehubungan dengan pelaksanaan perjanjian dan juga mengenai dilanggarnya atau
tidak dipatuhinya kewajiban ataupun larangan-larangan bagi lessee seperti yang
tercantum dalam perjanjian. Pengaturan tentang peristiwa ingkar janji/wanprestasi
sebenarnya bukan merupakan ciri khas dari pejanjian financial lease, akan tetapi
ada hal-hal yang memerlukan perhatian khusus di sini :
1. Bahwa pembebanan peristiwa wanprestasi harus berpatokan pada alokasi
pembebanan risiko dari masing masing pihak;
2. Bahwa lessor berkepentingan untuk memperoleh upaya-upaya tertentu dalam
hal lessee wanprestasi, tanpa lessor diharuskan perjanjian leasing.
menghentikan Upaya tersebut misalnya dapat berupa penarikan kembali barang
leasing sampai lessee memenuhi kewajiban-kewajibannya.10 (Mohammad
6
Idwan Ganie, “Kontrak Leasing”, dalam IKAHI/ALI LEASE FINANCE SEMINAR,
16 Oktober, 1986, Hotel Sahid Jaya Jakarta)5
Hal tersebut dapat dimaklumi, karena lessor sebagai pemilik barang yang di
lease adalah pihak yang paling berkepentingan jika terjadi wanprestasi yang
dilakukan oleh pihak lessee, hal ini mengingat bahwa tidak selamanya pengambilan
barang-barang yang di leased itu dan pelaksanaan hak-hak lessor sebagai akibat dari
terjadinya wanprestasi oleh pihak lessee itu dapat dilaksanakan dengan lancar dan
secara damai. Dalam perlaksanaan perjanjian leasing, wanprestasi umumnya
dilakukan oleh pihak lessee, baik itu dalam bentuk sementara dalam arti menunggak
dan kemudian membayar, dan juga bersifat tetap dalam arti persoalan itu
diselesaikan melalui proses hukum.
Hal-hal yang dapat mengakibatkan terjadinya ingkar janji/wanprestasi,
tersebut antara lain :
1. Lesse menunda-nunda pembayaran sewa yang seharusnya dibayar atau baru
membayar sekian hari setelah tanggal tertentu, ataupun ia melakukan
pembayaran, tetapi tidak sebagaimana yang diperjanjikan.
2. Tidak membayar denda atas keterlambatanya membayar uang sewa itu atau
terlambat membayar denda itu;
3. Dalam keadaan tidak mampu atau tidak mau lagi membayar uang sewa, hal ini
terjadi dengan kemungkinan pihak lessee jatuh pailit sehingga tidak mampu
5
Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, UI-Press, Jakarta, 1986
7
membayar sewa dileasednya atau barang yang memang dengan sengaja lessee
tidak membayar sewa yang sudah jatuh tempo pembayarannya;
4. Melakukan tindakan-tindakan yang dengan nyata melanggar perjanjian leasing
itu sendiri, misalnya lessee dengan tanpa seizin lessor (secara tertulis)
mengalihpakaikan barang yang di leased-nya kepada pihak lain, menjadikan
barang itu sebagai jaminan terhadap hutangnya; atau menjual barang tersebut
dengan tujuan antara lain melepaskan diri dari pembayaran sewa yang
menghilangkan sebagainya.
Sebenarnya untuk mengatasi masalah masalah yang dapat dilakukan oleh
pihak lessee, pihak lessor telah menetapkan sanksi sanksi yaitu :
1. untuk setiap keterlambatan membayar uang sewa, maka lessee harus membayar
bunga sekian persen, sebulan dihitung sejak tanggal jatuh tempo pembayaran
sewa;
2. Menarik suatu deposito guna menjamin ketaatan lessee atas perjanjian leasing
(sequrity deposit) yang akan dikembalikan lagi kepada lessee dengan dikurangi
jumlah-jumlah yang harus dibayar oleh lessee tanpa bunga;
3. Menarik dan menguasai kembali barang yang di leased, di mana biaya-biayanya
harus ditanggung oleh lessee, termasuk pembongkaran dan pemindahan dari
tempat lessee ke tempat lessor.
Pada prinsipnya ada tiga macam putusnya perjanjian leasing, yaitu karena
Konsensus, Wanprestasi, dan karena Force Majeur. Namun oleh karena sesuai judul
bahasan Skripsi ini, maka penulis hanya akan membahas tentang putusnya
8
perjanjian leasing karena wanprestasi. Wanpretasi atau breach of contract
merupakan salah satu sebab sehingga berjalannya kontrak menjadi terhenti. Dalam
hal ini yang dimaksud dengan wanprestasi adalah salah satu pihak atau lebih tidak
melaksanakan prestasinya sesuai dengan kontrak. KUH Perdata vide Pasal 1239
menentukan bahwa dalam suatu pihak melakukan wanprestasi, maka pihak lainnya
dapat menuntut diberikan ganti rugi berupa biaya, rugi dan bunga. Alternatif lain
selain dari tuntutan hanya ganti rugi oleh pihak yang dirugikan, maka 6dapat juga
dituntut pelaksanaan perjanjian itu sendiri dengan atau tanpa ganti rugi.
3. Pelaksanaan Hukum Dalam Hal Terjadinya Ingkar Janji/Wanpretasi
Dalam hal apabila pihak lessee melakukan salah satu dari bentuk-bentuk
wanprestasi, maka dalam pelaksanaan hukumnya Undang-Undang menghendaki si
kreditur (pihak lessor) untuk memberikan pernyataan lalai kepada pihak debitur
(lessee). Ini dapat dibaca dalam pasal 1238 KUH Perdata yang berbunyi sebagai
berikut : “Si berutang adalah lalai, apabila ia dengan surat perintah atau sebuah akta
sejenis itu telah dinyatakan perikatannya lalai, sendiri, atau ialah jika demi ini
menetapkan, bahwa si berutang akan harus dianggap lalai dengan lewatnya waktu
yang ditentukan”.
Jadi dalam hal wanprestasi oleh pihak lessee yang berutang itu pada
pokoknya harus dinyatakan dulu secara formal, yaitu dengan memperingatkan yang
berhutang atau lessee bahwa kreditur atau pihak lessor menghendaki pembayaran
seketika atau jangka waktu pendek yang ditentukan. Singkatnya hutang itu harus
6
Komar Andasasmita, “Notaris, Leasing dan Praktek”, Penerbit : Ikatan Notaris, Bandung, 1993
9
ditagih dan yang lali harus ditegor dengan suatu peringatan atau “sommatie”. Akan
tetapi sesuai juga dengan pasal 1238 KUH Perdata tersebut, kewajiban untuk
memberikan pernyataan lalai atau peringatan itu dapat ditiadakan dengan jalan
menentukan dalam perjanjian, bahwa suatu wanprestasi yang dilakukan oleh pihak
lessee cukup dibuktikan dengan lewatnya waktu pembayaran angsuran uang sewa,
atau sejak saat dilakukannya tindakan-tindakan yang dilarang oleh perjanjian
tersebut, tanpa lagi diperlukan suatu pernyataan atau tegoran tertulis dari pihak
lessor. 7Dan juga perlu diketahui bahwa pasal 1238 KUH Perdata tersebut bersifat
mengatur (regelent recht) dan tidak merupakan obligatoir (bersifat memaksa).
Selanjutnya bisa dilihat pasal 1365 KUH Perdata yang berbunyi, bahwa tiap
perbuatan melanggar hukum, yang membawa kerugian kepada seorang lain,
mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan kerugian itu, mengganti
kerugian tersebut. Seperti telah dijelaskan di atas, bahwa akibat dari adanya
wanprestasi dari pihak lessee, maka pihak lessor berhak untuk mengambil kembali
objek lease yang berada di dalam kekuasaan lessee. Jika pengambilan barang-
barang tersebut tidak dihambat oleh lessee, maka tidak ada sesuatu masalah yang
akan timbul. Akan tetapi persoalan akan timbul bilamana lessee secara tanpa hak
mencegah atau menghambat pengembalian kembali barang milik lessor tersebut.
Untuk menghindari kesulitan demikian, maka ada baiknya jika dalam perjanjian
leasing dicantumkan suatu klausula yang menyatakan bahwa dalam hal terjadinya
wanprestasi oleh pihak lessee, maka lessee memberikan persetujuan/izin yang tidak
dicabut kembali (irrevocable) kepada pihak lessor untuk memasuki pekarangan atau
7
Frank Taira Supit, “The Legal Aspects of Leasing”, Institute for International Research, 1982
10
tempat di mana barang yang di leased itu berada, dan mengambil kembali barang-
barang yang menjadi objek leased itu, dengan atau tanpa bantuan pihak kepolisian.
Pengambilan kembali atas objek lease itulah yang dinamakan sebagai pemutusan
atau pembatalan perjanjian leasing sepihak oleh pihak lessor.8
Seperti diketahui bahwa perjanjian leasing itu tidak dapat diputuskan secara
sepihak, akan tetapi dengan adanya peristiwa wanprestasi yang dibebankan kepada
lessee menimbulkan hak bagi lessor untuk memutuskan perjanjian leasing yang
bersangkutan. Dan menurut pasal 1266 KUH Perdata ditentukan bahwa walaupun
syarat batal telah dicantumkan dalam suatu persetujuan yang bertimbal balik, dan
salah satu pihak tidak memenuhi kewajibannya, namun pemutusan suatu
persetujuan timbal balik secara sepihak harus dilakukan dengan putusan hakim.
Akan tetapi karena ketentuan pasal 1266 KUH Perdata itu hanya bersifat mengatur,
maka ia dapat dikesampingkan oleh para pihak. Oleh karena itu dalam suatu
perjanjian leasing, sebaiknya dicantumkan suatu klausula yang mengesampingkan
berlakunya pasal 1266 KUH Perdata tersebut.
Dalam hubungan ini perlu dijelaskan lagi bahwa dalam praktek
pencantuman klausula yang sedemikian itu belum tentu akan efektif, oleh karena
pihak hakim dapat saja memeriksa perkara itu dan menolak eksepsi berdasarkan
klausula itu. Walaupun demikian pencantuman klausula tersebut akan berguna juga,
oleh karena ia setidak-tidaknya akan memberikan efek psikologis pada pihak lessee
untuk menerima suatu penyelesaian di luar pengadilan. Dalam hal apabila terjadi
8
Charles Dulles Mendengar Marpaung, “Pemahaman Atas Usaha Leasing”, Integritas Press,
Jakarta, 1985
11
pembatalan secara sepihak dari pihak lessor akibat kejadian kelalaian,
bagaimanakah pelaksanaan hukumnya? Menurut prakteknya, maka pihak lessor
berhak untuk menagih semua cicilan dan biaya-biaya yang belum lunas terbayar
dan menerima pengembalian barangnya. Seperti diketahui bahwa dalam suatu
perjanjian leasing, sebenarnya tidak dibenarkan untuk memutuskan perjanjian
secara sepihak, tetapi dikarenakan peristiwa wanprestasi yang dibebankan kepada
lesseelah yang menimbulkan hak bagi lessor untuk memutuskan perjanjian leasing
yang bersangkutan.
Sebenarnya hal ini kadang-kadang dirasakan kurang adil bagi pihak lessee,
apalagi bilamana perjanjian baru berjalan beberapa waktu saja. Dan akibat adanya
pemutusan perjanjian leasing secara sepihak tersebut, maka pihak lessor posisi
keuangannya akan menjadi lebih baik jika dibandingkan dengan keadaan bilamana
perjanjian leasing tidak diakhiri, sebab dalam hal ini lessee akan memperoleh sisa
uang sewa yang besar jumlahnya ditambah dengan barang yang masih baru. Dan
bilamana tidak terdapat perseseuaian paham. Maka kasus tersebut dapat diajukan
ke pengadilan, dan hakimlah yaang akan mengadilinya di mana hakim berwenang
untuk mengurangi jumlah yang harus dibayar pihak lessee kepada pihak lessor
berdasarkan rasa keadilan dan kebijaksanaan.9
9
Amin Widjaja Tunggal dan Arif Djohan Tunggal, “Aspek Yuridis Dalam Leasing”, Rineka Cipta,
Jakarta, 1994Amin Widjaja Tunggal dan Arif Djohan Tunggal, “Aspek Yuridis Dalam Leasing”,
Rineka Cipta, Jakarta, 1994
12
PENUTUP
KESIMPULAN
➢ Financial alternatif lease merupakan suatu pembiayaan perusahaan, seperti
halnya peminjaman uang lewat perusahaan, seperti halnya peminjaman uang
lewat kredit bank ataupun lembaga keuangan bukan bank.
➢ Dalam hal adanya wanprestasi tentu akan mengakibatkan salah satu pihak
menderita kerugian, sebab ada pihak yang dirugikan, maka pihak yang
menimbulkan kerugian itu harus bertanggung jawab. Seorang debitur yang
melakukan wanprestasi akan dikenakan sanksi atau hukuman.
➢ Dalam hal sudah ada gejala-gejala lessee akan melakukan wanprestasi ataupun
apabila lessee telah jelas-jelas melakukan wanprestasi, maka lessor dapat
menuntut apa yang merupakan haknya atas jaminan tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Amin Widjaja Tunggal dan Arif Djohan Tunggal, “Aspek Yuridis Dalam Leasing”,
Rineka Cipta, Jakarta, 1994Amin Widjaja Tunggal dan Arif Djohan
Tunggal, “Aspek Yuridis Dalam Leasing”, Rineka Cipta, Jakarta, 1994
Charles Dulles Mendengar Marpaung, “Pemahaman Atas Usaha Leasing”,
Integritas Press, Jakarta, 1985
Frank Taira Supit, “The Legal Aspects of Leasing”, Institute for International
Research, 1982
13
Kartini Muljadi, “Leasing ditinjau dari Aspek Hukumnya”, disajikan pada Seminar
Penjajagan Alternatif Pendanaan Proyek proyek Industri Kimia Dasar
dengan Sistem Leasing, Jakarta, 13-14 Mei 1985
Komar Andasasmita, “Notaris, Leasing dan Praktek”, Penerbit : Ikatan Notaris,
Bandung, 1993
Mariam Darus Badrulzaman, dkk, “Kompilasi Hukum Perikatan”, Citra Aditya
Bakti, Bandung, 2001
Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, UI-Press, Jakarta, 1986
Sri Soedewi Masjchoen Sofwan, “Hukum Jaminan Di Indonesia – Pokok-Pokok
Hukum Jaminan dan Jaminan Perorangan”, Libert, Yogyakarta, 1980
Subekti, “Hukum Perjanjian”, Intermasa, Jakarta, 1998
Subekti, “Jaminan-Jaminan Untuk Pemberian Kredit Menurut Hukum Indonesia”,
Alumni, Bandung, 1982
14