0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan15 halaman

Wanprestasi dalam Financial Lease dan Hukum

Dokumen ini membahas tentang wanprestasi dalam perjanjian financial lease, termasuk definisi, penyebab, dan konsekuensi hukum yang dihadapi oleh pihak yang melakukan wanprestasi. Wanprestasi dapat terjadi ketika salah satu pihak tidak memenuhi kewajibannya sesuai perjanjian, yang dapat menyebabkan kerugian dan sanksi bagi debitur. Penulis menekankan pentingnya akta otentik dalam perjanjian leasing untuk melindungi hak-hak pihak lessor.

Diunggah oleh

Intan Juwita
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan15 halaman

Wanprestasi dalam Financial Lease dan Hukum

Dokumen ini membahas tentang wanprestasi dalam perjanjian financial lease, termasuk definisi, penyebab, dan konsekuensi hukum yang dihadapi oleh pihak yang melakukan wanprestasi. Wanprestasi dapat terjadi ketika salah satu pihak tidak memenuhi kewajibannya sesuai perjanjian, yang dapat menyebabkan kerugian dan sanksi bagi debitur. Penulis menekankan pentingnya akta otentik dalam perjanjian leasing untuk melindungi hak-hak pihak lessor.

Diunggah oleh

Intan Juwita
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

TERJADINYA INGKAR JANJI (WANPRESTASI) DALAM

PERJANJIAN FINANCIAL LEASE SERTA PELAKSANAAN

HUKUMNYA

Dosen Pengampuh : Yosi Agustian., SH.,M.H. CMSP.

Disusun Oleh :
Nama : Mutiara Nabila
NIM : 012022033
Kelas : Reguler 3
Mata Kuliah : Hukum Perikatan

SEKOLAH TINGGI ILMU HUKUM SUMPAH PEMUDA

TAHUN AJARAN 2023/2024


ABSTRAK

Financial lease merupakan suatu alternatif pembiayaan perusahaan, seperti halnya

peminjaman uang lewat perusahaan, seperti halnya peminjaman uang lewat kredit

bank ataupun lembaga keuangan bukan bank. Pengertian pembiayaan alternatif

berarti bahwa dalam peninjauan terhadap pengambilan suatu keputusan, apakah

suatu perusahaan dalam usahanya untuk menambah perluasan usahanya akan

menggunkana bank, lembaga keuangan bukan bank atau perusahaan leasing. Dalam

hal adanya wanprestasi tentu akan mengakibatkan salah satu pihak menderita

kerugian, sebab ada pihak yang dirugikan, maka pihak yang menimbulkan kerugian

itu harus bertanggung jawab. Seorang debitur yang melakukan wanprestasi akan

dikenakan sanksi atau hukuman. Dalam hal sudah ada gejala-gejala lessee akan

melakukan wanprestasi ataupun apabila lessee telah jelas jelas melakukan

wanprestasi, maka lessor dapat menuntut apa yang merupakan haknya atas jaminan

tersebut. Untuk memperoleh kedudukan hukum yang kuat, maka seluruh jenis

jaminan dalam suatu perjanjian leasing seharusnya dibuat dalam akta otentik atau

notarial.

LATAR BELAKANG

Mengingat bahwa transaksi leasing merupakan suatu transaksi yang

melibatkan sejumlah modal besar dan kemungkinan terjadinya ingkar janji oleh

para pihak, terutama di negara berkembang seperti Indonesia ini, maka untuk

menjamin kelancaran dan ketertiban pembayaran uang sewa (rentals) serta

mencegah timbulnya kerugian bagi pihak lessor, maka lembaga jaminan inilah yang

1
dipergunakan untuk memperoleh rasa aman. Wanprestasi (ingkar janji) di sini

dimaksudkan bahwa dalam masa berjalannya kontrak perjanjian leasing, salah satu

pihak atau kedua belah pihak tidak melakukan apa yang diperjanjikan, atau

melakukan sesuatu tetapi tidak sebagaimana yang diperjanjikan, atau melakukan

apa yang diperjanjikan tetapi terlambat, atau melakukan sesuatu yang menurut

perjanjian tidak boleh dilakukannya. Dalam hal ini ditekankan pada ingkar janji

(wanprestasi) yang dilakukan oleh pihak penyewa (lessee) sehingga diperlukan

adanya lembaga jaminan tersebut dalam pemberian barang-barang lease.1

RUMUSAN MASALAH

1. Bagaimana Perjanjian Financial Lease Sebagai Salah Satu Bentuk Kontrak ?

2. Hal-hal apa yang dapat mengakibatkan terjadinya wanprestasi dalam perjanjian

Financial Lease ?

3. Bagaimana Pelaksanaan Hukum Dalam Hal Terjadi Ingkar Janji (Wanprestasi)?

PEMBAHASAN

1. Perjanjian Financial Lease Sebagai Salah Satu Bentuk Kontrak

Financial lease ini pada umumnya ini pada umumnya digunakan oleh

perusahaan perusahaan leasing di Indonesia. Bahwa financial lease ini adalah suatu

bentuk perjanjian kontrak yang salah stu sifatnya adalah noncancelable bagi pihak

lessee. Perjanjian kontrak tersebut menyatakan bahwa lessee bersedia untuk

1
Subekti, “Hukum Perjanjian”, Intermasa, Jakarta, 1998

2
melakukan serangkaian pembayaran uang atas penggunaan suatu asset yang

menjadi objek lease. Lessee berhak untuk memperoleh manfaat ekonomis dengan

mempergunakan barang tersebut, sedangkan hak kepemilikannya tetap dipegang

oleh lessor. Adanya hak kepemilikan pada pihak lessor merupakan suatu faktor

pengamanan yang lebih menyakinkan jika dibandingkan dengan memegang barang

dengan jaminan hipotik atau fidusia. Jadi dapat dikatakan bahwa pihak lessor

mempunyai hak secara hukum untuk menjual barang lease secara probadi dan

biasanya hal tersebut lebih mudah dan lebih cepat dilakukan jika dibandingkan

dengan penjualan lelang.

Point-point di atas merupakan beberapa segi keuntungan yang akan dicapai

oleh pihak lessor dalam perjanjian financial, sedangkan kerugiannya dapat berupa

: a. Sebagai pemilik, lessor mempunyai resiko yang lebih besar dari pihak lessee

sehubungan dengan barang lease maupun dengan kegiatan operasional-nya, yaitu

adanya tanggung jawab atas tuntutan pihak ketiga jika terjadi kecelakaan ataupun

kerusakan atas barang orang lain yang disebabkan oleh lease property tersebut; b.

Pihak lessor walaupun statusnya sebagai pemilik dari leased property tetapi tidak

bisa melakukan penuntutan (claim) kepada pabrik/ supplier-nya secara langsung,

tindakan tersebut harus dilakukan oleh lessee sebagai pemakai barang; c. Sebagai

pemilik barang, lessor secara hukum harus bertanggung jawab atas pembayaran

beberapa kewajiban pajak tertentu; d. Walaupun lessor mempunyai hak secara

hukum untuk menjual leased property, khususnya pada akhir periode lease, lessor

3
belum tentu dapat yakin bahwa barang yang bersangkutan bebas dari berbagai

ikatan seperti liens (gadai), charges, atau kepentingan-kepentingan lainnya.2

2. Hal-Hal Yang Dapat Mengakibatkan Terjadinya Ingkar Janji

(Wanpretasi) Dalam Perjanjian Financial Lease

Adakalanya suatu memenuhi perjanjian, syarat-syarat perjanjian sahnya

telah suatu tidak juga dapat terlaksana sebagaimana yang telah diperjanjikan.

Dalam hukum perjanjian ada dua hal yang menyebabkan tidak terlaksananya suatu

perjanjian yaitu : wanprestasi/ingkar janji dan overmacht. Dalam penulisan Skripsi

ini penulis lebih mengfokuskan diri dalam bidang wanprestasi. Ini bukan berarti

bahwa penulis tidak menganggap penting masalah overmacht dalam suatu

perjanjian. Ini karena pembahasan masalah wanprestasi lebih mencerminkan isi

dari Skripsi ini.

Wanprestasi (kelalaian atau alpa) yaitu tidak terlaksananya suatu perjanjian

karena kesalahan atau kelalaian atau cidera janji dari para pihak. Perkataan

wanprestasi berasal dari bahasa Belanda “wanprestatie”, yang arti tidak memenuhi

kewajiban yang telah ditetapkan dalam perjanjian. Jadi apabila si berutang (debitur)

tidak melakukan apa yang telah diperjanjikan maka dikatakan ia melakukan

wanprestasi. Ada empat wanprestasi (kelalaian atau kealpaan) dari seorang debitur

:3

2
Kartini Muljadi, “Leasing ditinjau dari Aspek Hukumnya”, disajikan pada Seminar Penjajagan
Alternatif Pendanaan Proyek proyek Industri Kimia Dasar dengan Sistem Leasing, Jakarta, 13-14
Mei 1985
3
Subekti, “Jaminan-Jaminan Untuk Pemberian Kredit Menurut Hukum Indonesia”, Alumni,
Bandung, 1982

4
a. Tidak melakukan apa yang disanggupi akan dilakukannya;

b. Melaksanakan apa yang dijanjikan, tetapi tidak sebagaimana yang dijanjikan;

c. Melakukan apa yang diajnjikannya tetapi terlambat;

d. Melakukan sesuatu yang menurut perjanjian tidak boleh dilakukannya.

Dalam hal adanya wanprestasi tentu akan mengakibatkan salah satu pihak

menderita kerugian, sebab ada pihak yang dirugikan, maka pihak yang

menimbulkan kerugian itu harus bertanggung jawab. Seorang debitur yang

melakukan wanprestasi akan dikenakan sanksi atau hukuman. Hukuman atau

akibat-akibat bagi debitur yang telah melakukan wanprestasi ada empat macam,

yaitu :

a. Membatar kerugian yang diderita oleh kreditur atau ganti rugi (Pasal 1234 KUH

Perdata).

b. Pembatalan perjanjian melalui hakim (pasal 1266 KUH Perdata).

c. Peralihan risiko kepada debitur sejak saat terjadinya wanprestasi (Pasal 1237

ayat 2 KUH Perdata).

d. Membayar biaya perkara apabila diperkarakan di muka hakim (Pasal 181 ayat

1 HIR). 4

Untuk mengetahui apakah debitur benar benar melakukan suatu

wanprestasi, mengingat bahwa wanprestasi mempunyai akibat-akibat yang begitu

penting, maka perlu dibuktikan di muka hakim. Menurut pasal 1267 KUH Perdata,

4
Sri Soedewi Masjchoen Sofwan, “Hukum Jaminan Di Indonesia – Pokok-Pokok Hukum Jaminan
dan Jaminan Perorangan”, Libert, Yogyakarta, 1980

5
dalam penerapannya ditetapkan bahwa kreditur dapat memilih alternatif tuntutan

sebagai berikut :

1. Pemenuhan perjanjian;

2. Pemenuhan perjanjian disertai dengan ganti rugi;

3. Ganti rugi saja;

4. Pembatalan saja;

5. Pembatalan perjanjian disertai ganti rugi.

Dalam perjanjian leasing, ingkar janji atau wanprestasi yang disebabkan

oleh kelalaian dari pihak lessee (debitur) adalah mengenai soal pembayaran uang

sewa atau pembayaran lainnya yang sudah merupakan kewajiban pihak lessee

sehubungan dengan pelaksanaan perjanjian dan juga mengenai dilanggarnya atau

tidak dipatuhinya kewajiban ataupun larangan-larangan bagi lessee seperti yang

tercantum dalam perjanjian. Pengaturan tentang peristiwa ingkar janji/wanprestasi

sebenarnya bukan merupakan ciri khas dari pejanjian financial lease, akan tetapi

ada hal-hal yang memerlukan perhatian khusus di sini :

1. Bahwa pembebanan peristiwa wanprestasi harus berpatokan pada alokasi

pembebanan risiko dari masing masing pihak;

2. Bahwa lessor berkepentingan untuk memperoleh upaya-upaya tertentu dalam

hal lessee wanprestasi, tanpa lessor diharuskan perjanjian leasing.

menghentikan Upaya tersebut misalnya dapat berupa penarikan kembali barang

leasing sampai lessee memenuhi kewajiban-kewajibannya.10 (Mohammad

6
Idwan Ganie, “Kontrak Leasing”, dalam IKAHI/ALI LEASE FINANCE SEMINAR,

16 Oktober, 1986, Hotel Sahid Jaya Jakarta)5

Hal tersebut dapat dimaklumi, karena lessor sebagai pemilik barang yang di

lease adalah pihak yang paling berkepentingan jika terjadi wanprestasi yang

dilakukan oleh pihak lessee, hal ini mengingat bahwa tidak selamanya pengambilan

barang-barang yang di leased itu dan pelaksanaan hak-hak lessor sebagai akibat dari

terjadinya wanprestasi oleh pihak lessee itu dapat dilaksanakan dengan lancar dan

secara damai. Dalam perlaksanaan perjanjian leasing, wanprestasi umumnya

dilakukan oleh pihak lessee, baik itu dalam bentuk sementara dalam arti menunggak

dan kemudian membayar, dan juga bersifat tetap dalam arti persoalan itu

diselesaikan melalui proses hukum.

Hal-hal yang dapat mengakibatkan terjadinya ingkar janji/wanprestasi,

tersebut antara lain :

1. Lesse menunda-nunda pembayaran sewa yang seharusnya dibayar atau baru

membayar sekian hari setelah tanggal tertentu, ataupun ia melakukan

pembayaran, tetapi tidak sebagaimana yang diperjanjikan.

2. Tidak membayar denda atas keterlambatanya membayar uang sewa itu atau

terlambat membayar denda itu;

3. Dalam keadaan tidak mampu atau tidak mau lagi membayar uang sewa, hal ini

terjadi dengan kemungkinan pihak lessee jatuh pailit sehingga tidak mampu

5
Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, UI-Press, Jakarta, 1986

7
membayar sewa dileasednya atau barang yang memang dengan sengaja lessee

tidak membayar sewa yang sudah jatuh tempo pembayarannya;

4. Melakukan tindakan-tindakan yang dengan nyata melanggar perjanjian leasing

itu sendiri, misalnya lessee dengan tanpa seizin lessor (secara tertulis)

mengalihpakaikan barang yang di leased-nya kepada pihak lain, menjadikan

barang itu sebagai jaminan terhadap hutangnya; atau menjual barang tersebut

dengan tujuan antara lain melepaskan diri dari pembayaran sewa yang

menghilangkan sebagainya.

Sebenarnya untuk mengatasi masalah masalah yang dapat dilakukan oleh

pihak lessee, pihak lessor telah menetapkan sanksi sanksi yaitu :

1. untuk setiap keterlambatan membayar uang sewa, maka lessee harus membayar

bunga sekian persen, sebulan dihitung sejak tanggal jatuh tempo pembayaran

sewa;

2. Menarik suatu deposito guna menjamin ketaatan lessee atas perjanjian leasing

(sequrity deposit) yang akan dikembalikan lagi kepada lessee dengan dikurangi

jumlah-jumlah yang harus dibayar oleh lessee tanpa bunga;

3. Menarik dan menguasai kembali barang yang di leased, di mana biaya-biayanya

harus ditanggung oleh lessee, termasuk pembongkaran dan pemindahan dari

tempat lessee ke tempat lessor.

Pada prinsipnya ada tiga macam putusnya perjanjian leasing, yaitu karena

Konsensus, Wanprestasi, dan karena Force Majeur. Namun oleh karena sesuai judul

bahasan Skripsi ini, maka penulis hanya akan membahas tentang putusnya

8
perjanjian leasing karena wanprestasi. Wanpretasi atau breach of contract

merupakan salah satu sebab sehingga berjalannya kontrak menjadi terhenti. Dalam

hal ini yang dimaksud dengan wanprestasi adalah salah satu pihak atau lebih tidak

melaksanakan prestasinya sesuai dengan kontrak. KUH Perdata vide Pasal 1239

menentukan bahwa dalam suatu pihak melakukan wanprestasi, maka pihak lainnya

dapat menuntut diberikan ganti rugi berupa biaya, rugi dan bunga. Alternatif lain

selain dari tuntutan hanya ganti rugi oleh pihak yang dirugikan, maka 6dapat juga

dituntut pelaksanaan perjanjian itu sendiri dengan atau tanpa ganti rugi.

3. Pelaksanaan Hukum Dalam Hal Terjadinya Ingkar Janji/Wanpretasi

Dalam hal apabila pihak lessee melakukan salah satu dari bentuk-bentuk

wanprestasi, maka dalam pelaksanaan hukumnya Undang-Undang menghendaki si

kreditur (pihak lessor) untuk memberikan pernyataan lalai kepada pihak debitur

(lessee). Ini dapat dibaca dalam pasal 1238 KUH Perdata yang berbunyi sebagai

berikut : “Si berutang adalah lalai, apabila ia dengan surat perintah atau sebuah akta

sejenis itu telah dinyatakan perikatannya lalai, sendiri, atau ialah jika demi ini

menetapkan, bahwa si berutang akan harus dianggap lalai dengan lewatnya waktu

yang ditentukan”.

Jadi dalam hal wanprestasi oleh pihak lessee yang berutang itu pada

pokoknya harus dinyatakan dulu secara formal, yaitu dengan memperingatkan yang

berhutang atau lessee bahwa kreditur atau pihak lessor menghendaki pembayaran

seketika atau jangka waktu pendek yang ditentukan. Singkatnya hutang itu harus

6
Komar Andasasmita, “Notaris, Leasing dan Praktek”, Penerbit : Ikatan Notaris, Bandung, 1993

9
ditagih dan yang lali harus ditegor dengan suatu peringatan atau “sommatie”. Akan

tetapi sesuai juga dengan pasal 1238 KUH Perdata tersebut, kewajiban untuk

memberikan pernyataan lalai atau peringatan itu dapat ditiadakan dengan jalan

menentukan dalam perjanjian, bahwa suatu wanprestasi yang dilakukan oleh pihak

lessee cukup dibuktikan dengan lewatnya waktu pembayaran angsuran uang sewa,

atau sejak saat dilakukannya tindakan-tindakan yang dilarang oleh perjanjian

tersebut, tanpa lagi diperlukan suatu pernyataan atau tegoran tertulis dari pihak

lessor. 7Dan juga perlu diketahui bahwa pasal 1238 KUH Perdata tersebut bersifat

mengatur (regelent recht) dan tidak merupakan obligatoir (bersifat memaksa).

Selanjutnya bisa dilihat pasal 1365 KUH Perdata yang berbunyi, bahwa tiap

perbuatan melanggar hukum, yang membawa kerugian kepada seorang lain,

mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan kerugian itu, mengganti

kerugian tersebut. Seperti telah dijelaskan di atas, bahwa akibat dari adanya

wanprestasi dari pihak lessee, maka pihak lessor berhak untuk mengambil kembali

objek lease yang berada di dalam kekuasaan lessee. Jika pengambilan barang-

barang tersebut tidak dihambat oleh lessee, maka tidak ada sesuatu masalah yang

akan timbul. Akan tetapi persoalan akan timbul bilamana lessee secara tanpa hak

mencegah atau menghambat pengembalian kembali barang milik lessor tersebut.

Untuk menghindari kesulitan demikian, maka ada baiknya jika dalam perjanjian

leasing dicantumkan suatu klausula yang menyatakan bahwa dalam hal terjadinya

wanprestasi oleh pihak lessee, maka lessee memberikan persetujuan/izin yang tidak

dicabut kembali (irrevocable) kepada pihak lessor untuk memasuki pekarangan atau

7
Frank Taira Supit, “The Legal Aspects of Leasing”, Institute for International Research, 1982

10
tempat di mana barang yang di leased itu berada, dan mengambil kembali barang-

barang yang menjadi objek leased itu, dengan atau tanpa bantuan pihak kepolisian.

Pengambilan kembali atas objek lease itulah yang dinamakan sebagai pemutusan

atau pembatalan perjanjian leasing sepihak oleh pihak lessor.8

Seperti diketahui bahwa perjanjian leasing itu tidak dapat diputuskan secara

sepihak, akan tetapi dengan adanya peristiwa wanprestasi yang dibebankan kepada

lessee menimbulkan hak bagi lessor untuk memutuskan perjanjian leasing yang

bersangkutan. Dan menurut pasal 1266 KUH Perdata ditentukan bahwa walaupun

syarat batal telah dicantumkan dalam suatu persetujuan yang bertimbal balik, dan

salah satu pihak tidak memenuhi kewajibannya, namun pemutusan suatu

persetujuan timbal balik secara sepihak harus dilakukan dengan putusan hakim.

Akan tetapi karena ketentuan pasal 1266 KUH Perdata itu hanya bersifat mengatur,

maka ia dapat dikesampingkan oleh para pihak. Oleh karena itu dalam suatu

perjanjian leasing, sebaiknya dicantumkan suatu klausula yang mengesampingkan

berlakunya pasal 1266 KUH Perdata tersebut.

Dalam hubungan ini perlu dijelaskan lagi bahwa dalam praktek

pencantuman klausula yang sedemikian itu belum tentu akan efektif, oleh karena

pihak hakim dapat saja memeriksa perkara itu dan menolak eksepsi berdasarkan

klausula itu. Walaupun demikian pencantuman klausula tersebut akan berguna juga,

oleh karena ia setidak-tidaknya akan memberikan efek psikologis pada pihak lessee

untuk menerima suatu penyelesaian di luar pengadilan. Dalam hal apabila terjadi

8
Charles Dulles Mendengar Marpaung, “Pemahaman Atas Usaha Leasing”, Integritas Press,
Jakarta, 1985

11
pembatalan secara sepihak dari pihak lessor akibat kejadian kelalaian,

bagaimanakah pelaksanaan hukumnya? Menurut prakteknya, maka pihak lessor

berhak untuk menagih semua cicilan dan biaya-biaya yang belum lunas terbayar

dan menerima pengembalian barangnya. Seperti diketahui bahwa dalam suatu

perjanjian leasing, sebenarnya tidak dibenarkan untuk memutuskan perjanjian

secara sepihak, tetapi dikarenakan peristiwa wanprestasi yang dibebankan kepada

lesseelah yang menimbulkan hak bagi lessor untuk memutuskan perjanjian leasing

yang bersangkutan.

Sebenarnya hal ini kadang-kadang dirasakan kurang adil bagi pihak lessee,

apalagi bilamana perjanjian baru berjalan beberapa waktu saja. Dan akibat adanya

pemutusan perjanjian leasing secara sepihak tersebut, maka pihak lessor posisi

keuangannya akan menjadi lebih baik jika dibandingkan dengan keadaan bilamana

perjanjian leasing tidak diakhiri, sebab dalam hal ini lessee akan memperoleh sisa

uang sewa yang besar jumlahnya ditambah dengan barang yang masih baru. Dan

bilamana tidak terdapat perseseuaian paham. Maka kasus tersebut dapat diajukan

ke pengadilan, dan hakimlah yaang akan mengadilinya di mana hakim berwenang

untuk mengurangi jumlah yang harus dibayar pihak lessee kepada pihak lessor

berdasarkan rasa keadilan dan kebijaksanaan.9

9
Amin Widjaja Tunggal dan Arif Djohan Tunggal, “Aspek Yuridis Dalam Leasing”, Rineka Cipta,
Jakarta, 1994Amin Widjaja Tunggal dan Arif Djohan Tunggal, “Aspek Yuridis Dalam Leasing”,
Rineka Cipta, Jakarta, 1994

12
PENUTUP

KESIMPULAN

➢ Financial alternatif lease merupakan suatu pembiayaan perusahaan, seperti

halnya peminjaman uang lewat perusahaan, seperti halnya peminjaman uang

lewat kredit bank ataupun lembaga keuangan bukan bank.

➢ Dalam hal adanya wanprestasi tentu akan mengakibatkan salah satu pihak

menderita kerugian, sebab ada pihak yang dirugikan, maka pihak yang

menimbulkan kerugian itu harus bertanggung jawab. Seorang debitur yang

melakukan wanprestasi akan dikenakan sanksi atau hukuman.

➢ Dalam hal sudah ada gejala-gejala lessee akan melakukan wanprestasi ataupun

apabila lessee telah jelas-jelas melakukan wanprestasi, maka lessor dapat

menuntut apa yang merupakan haknya atas jaminan tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Amin Widjaja Tunggal dan Arif Djohan Tunggal, “Aspek Yuridis Dalam Leasing”,

Rineka Cipta, Jakarta, 1994Amin Widjaja Tunggal dan Arif Djohan

Tunggal, “Aspek Yuridis Dalam Leasing”, Rineka Cipta, Jakarta, 1994

Charles Dulles Mendengar Marpaung, “Pemahaman Atas Usaha Leasing”,

Integritas Press, Jakarta, 1985

Frank Taira Supit, “The Legal Aspects of Leasing”, Institute for International

Research, 1982

13
Kartini Muljadi, “Leasing ditinjau dari Aspek Hukumnya”, disajikan pada Seminar

Penjajagan Alternatif Pendanaan Proyek proyek Industri Kimia Dasar

dengan Sistem Leasing, Jakarta, 13-14 Mei 1985

Komar Andasasmita, “Notaris, Leasing dan Praktek”, Penerbit : Ikatan Notaris,

Bandung, 1993

Mariam Darus Badrulzaman, dkk, “Kompilasi Hukum Perikatan”, Citra Aditya

Bakti, Bandung, 2001

Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, UI-Press, Jakarta, 1986

Sri Soedewi Masjchoen Sofwan, “Hukum Jaminan Di Indonesia – Pokok-Pokok

Hukum Jaminan dan Jaminan Perorangan”, Libert, Yogyakarta, 1980

Subekti, “Hukum Perjanjian”, Intermasa, Jakarta, 1998

Subekti, “Jaminan-Jaminan Untuk Pemberian Kredit Menurut Hukum Indonesia”,

Alumni, Bandung, 1982

14

Anda mungkin juga menyukai