0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan7 halaman

Manajemen Risiko K3 di Perkebunan Jambi

Diunggah oleh

Agus Puji Hartanto
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan7 halaman

Manajemen Risiko K3 di Perkebunan Jambi

Diunggah oleh

Agus Puji Hartanto
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan persyaratan
perundang-undangan dengan landasan hukum dan semua aspek baik tenaga
kerja, pengusaha maupun pihak terkait lainnya harus mematuhinya. Peraturan
Pemerintah Nomor 88 Tahun 2019 mendefinisikan tempat kerja berupa
lapangan atau ruang baik terbuka ataupun tertutup, dapat bergerak ataupun
menetap. Yang menjadi cakupan seluruh tempat kerja ialah tempat kerja baik
sektor formal atapun sektor informal meliputi instansi pemerintah serta usaha
mikro, kecil dan menengah.1
K3 mencakup nilai perlindungan pekerja dari kecelakaan ataupun
penyakit akibat kerja (PAK). Selain elemen lain seperti material, mesin,
lingkungan kerja, serta elemen penting dalam proses produksi dan aset
organisasi yang sangat berharga ialah tenaga kerja. Maka dari itu, perlu
dilakukan pemeliharaan, pembinaan dan pengembangan tenaga kerja untuk
meningkatkan produktivitas.2
Penelitian International Labour Organization menyimpulkan rata-rata
setiap hari ada 6.000 orang meninggal, dan berarti satu kematian per 15 detik
atau 2,2 juta kematian per tahun disebabkan oleh penyakit ataupun
kecelakaan yang berkaitan pada pekerjaan. Berdasarkan perkiraan terbaru
bahwa kecelakaan ataupun PAK dapat menyebabkan setiap tahun 2,78
pekerja meninggal. Sekitar 2,4 juta orang (86,3%) meninggal karena PAK
dan lebih dari 380.000 kasus (13,7%) disebabkan oleh kecelakaan kerja.3
Berdasarkan data Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan
sepanjang agustus 2018, kasus kecelakaan kerja tercatat sebanyak 157.313.4
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa pada Agustus
2018 angkatan kerja berpendidikan SMP ke bawah ada 58,76% dari jumlah
angkatan kerja. Hal ini akan mempengaruhi pemahaman masyarakat akan
pentingnya perilaku aman di tempat kerja.5
Menurut data Badan Pusat Statistik Provinsi Jambi (2019), terdapat

1
2

1.765,75 ribu penduduk Jambi yang menjadi tenaga kerja, sementara itu
Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) juga terjadi penurunan 2,38 poin
dari tahun 2018. Jumlah penduduk sebanyak 955,702 ribu orang (56,49%)
bekerja di kegiatan informal, jumlahnya meningkat 0,62 persen dibandingkan
dengan Agustus 2018.6
Provinsi Jambi merupakan salah satu provinsi yang terletak di Indonesia
dengan angka kecelakaan kerja yang tergolong rendah. Namun pada tahun
2013 angka kecelakaan kerja di Provinsi Jambi sebesar 7.811 dan menduduki
peringkat 1 di Indonesia.7 Melihat data BPJS Ketenagakerjaan Jambi,
kejadian kasus kecelakaan kerja yang tercatat di Provinsi Jambi pada tahun
2018 ada sebanyak 1.853 laporan kasus kecelakaan kerja, tahun 2019
sebanyak 1.725 kasus dan di tahun 2020 ada sebanyak 1.623 kasus
kecelakaan kerja.8
Setiap pekerja atau buruh berhak menerima perlindungan K3, moral dan
etika, serta menerima tindakan yang berlandaskan pada harga diri dan juga
nilai-nilai agama. Demi memberikan perlindungan keselamatan tenaga kerja
atau buruh dan mencapai produktivitas kerja terbaik, dilaksanakan upaya K3.9
Globalisasi perdagangan saat ini telah berdampak pada semua aspek
persaingan yang sangat ketat, terutama ketenagakerjaan yang salah satunya
membutuhkan perlindungan K3. Dalam rangka meningkatkan efektivitas
perlindungan K3 tidak terlepas dari perencanaan, pengukuran, penataan dan
K3 yang komprehensif melalui SMK3 guna memastikan terwujudnya suatu
sistem K3 di tempat kerja yang mengikutsertakan manajemen, pekerja atau
buruh, guna mencegah maupun meminimalisasi kecelakaan dan PAK, dan
juga mewujudkan lokasi kerja dengan tentram, efisien dan produktif.10
Menurut Ramli (2010) upaya yang bertujuan untuk mengelola risiko K3
secara baik, sistematis, komprehensif, terencana dan terstruktur untuk
mencegah terjadinya kecelakaan disebut manajemen risiko K3. Bahaya serta
risiko yang ada di tempat kerja yang bisa memicu kerugian terhadap
perusahaan memiliki kaitan dengan manajemen risiko K3.11
Menurut OHSAS 18001 dalam Ramli (2010), upaya terstruktur yang
3

dirancang untuk mengelola risiko dalam kegiatan di perusahaan, yang bisa


mengakibatkan cedera pada manusia, kerusakan, atau hambatan bisnis
perusahaan ialah manajemen K3. Oleh sebab itu manajamen risiko adalah
salah satu klausul yang terdapat dalam siklus manajemen K3. Hazard
Identification, Risk Assessment dan Risk Control atau yang disebut HIRARC
adalah aspek dari manajemen risiko.11
Berdasarkan hasil penelitian Yenita (2018) bahwa terdapat 25 pekerja
(75,8%) yang mengalami kecelakaan kerja sedang kebanyakan terjadi di
bagian produksi. Penilaian risiko yang terjadi dibagian produksi, ada 10
pekerja (30,3%) kebanyakan mengalami risiko yang tergolong risiko sedang
(Moderate Risk). Dan pada bagian produksi hubungan antara kecelakaan
kerja terhadap penilaian risiko kerja sebesar p= 0,004.12
Hasil penelitian Ikhssani (2019) menunjukkan bahwa potensi bahaya
fisik pada unit Pabrik Pengolahan Kelapa Sawit (PPKS) adalah gangguan
auditori dan non auditori yang disebabkan oleh kebisingan, sakit kepala dan
dehidrasi, serta serangan akibat panas dan ketidaknyamanan karena
pencahayaan yang tidak sesuai, akibat potensi bahaya getaran dapat
menyebabkan kecelakaan kerja dan penyakit musculoskeletal.13
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Sasmita dkk (2018)
hasil pengukuran intensitas kebisingan yang diperoleh di semua wilayah
lokasi penelitian memiliki intensitas kebisingan yang berbeda-beda. Tingkat
kebisingan tertinggi pada 43 titik yang melebihi baku mutu adalah 99,7 dB.
Hasil perhitungan NIOSH menunjukkan batas maksimum pekerja boleh
terpapar kebisingan dengan waktu tersingkat di titik 61 selama 16,08 menit.
Penggunaan conceptual model untuk mengontrol kebisingan dapat dilakukan
secara internal yaitu dengan mengontrol di sumber, di perantara maupun di
penerima. Pengendalian eksternal yaitu pemeriksaan kesehatan rutin,
pelatihan K3 dan pemasangan noise warning sign.14
Berdasarkan penelitian NNPS dkk (2019) bahwa sebesar 0,073 atau
sekitar 73%. K3 berpengaruh positif dan penting terhadap kinerja karyawan.
Potensi bahaya yang ada di area perkebunan berasal dari kegiatan pembukaan
4

lahan, pemeliharaan dan pemanenan. Tindakan untuk pencegahan bahaya


yang ada di perkebunan kelapa sawit PT. HCT dapat dilakukan dari aspek
administratif dan menggunakan APD.15
Berhubungan dengan faktor yang mempengaruhi perihal kesehatan dan
keselamatan, hal yang harus diperhatikan selain faktor manusia ialah berbagai
potensi bahaya dan risiko yang mungkin ditimbulkan oleh metode kerja
ataupun tata cara kerja, pemakaian mesin, peralatan dan bahan beserta
lingkungan kerja. Bahaya adalah hal-hal yang dapat menyebabkan perusahaan
mengalami cedera atau penyakit, kerusakan ataupun kerugian. Sedangkan
risiko adalah kemungkinan bahaya tersebut menjadi nyata. Upaya
identifikasi, penilaian dan pengendalian potensi bahaya perlu dilakukan untuk
mencegah dan mendeteksi masalah kesehatan pekerja sejak dini.16
Berdasarkan hasil penelitian Sitepu & Simanungkalit (2020) aspek
keselamatan yang membahayakan pekerja yaitu pada proses produksi yang
akan dilakukan mulai dari sortasi, dilanjutkan ke stasiun rebusan/boiler room,
pengolahan tandan sawit, pengolahan biji sawit, pengolahan minyak sawit
dan pengolahan minyak sawit berselat. Beberapa potensi bahaya yang dapat
membahayakan pekerja di tempat kerja antara lain: lantai yang licin akibat
adanya cipratan minyak yang keluar dari mesin, terbakar karena uap panas,
tertimpa beban berat, terjatuh saat memanjat bangunan, panas, sinar UV,
terlilit rantai mesin, terkena duri sawit, dan terkena benda tajam.17
Pada dasarnya setiap tempat atau lingkungan kerja baik sektor formal
maupun informal memiliki potensi bahaya K3. Sepanjang proses dan aktivitas
kerja, potensi bahaya secara tidak langsung mempengaruhi risiko kecelakaan
kerja ataupun PAK. PT Rigunas Agri Utama Pabrik Bungo Tebo merupakan
salah satu cabang dari Grup Asian Agri, terletak di Desa Tuo Sumay,
Kecamatan Sumay, Kabupaten Tebo Provinsi Jambi. PT Rigunas Agri Utama
Pabrik Bungo Tebo bergerak di sektor perkebunan dan pabrik kelapa sawit.
Aktivitas pada perusahaan ini melibatkan manusia dan mesin, setiap kegiatan
yang mencakup faktor manusia, mesin maupun bahaya yang melalui tahapan
proses yang ada di perusahaan ini memiliki tingkat risiko yang berbeda yang
5

memiliki kemungkinkan tejadinya kecelakaan kerja.


Berdasarkan hasil survey awal yang dilaksanakan di PT Rigunas Agri
Utama Pabrik Bungo Tebo bahwasanya kecelakaan kerja yang pernah terjadi
di tahun 2019 tercatat ada 18 kasus kecelakaan kerja dan pada tahun 2020
tercatat ada 7 kasus kecelakaan kerja. Kecelakaan kerja tersebut terdapat di 8
tahapan pengolahan sawit di PT Rigunas Agri Utama Pabrik Bungo Tebo.
Melihat data kecelakaan tahun 2019 potensi bahaya di PT Rigunas Agri
Utama Pabrik Bungo Tebo yang membahayakan pekerja yaitu bahaya
mekanik antara lain saat memperbaiki mesin rusak pekerja mengalami pijar
sehingga melukai mata, pekerja mengalami luka pada jari kiri, saat pekerja
memperbaiki mesin-mesin dengan cara menokok palu tidak sengaja mengenai
tangan sendiri sehingga mengalami luka pada ibu jari, pada saat pekerja
memasang besi tangan pekerja terkena gerinda, saat pekerja akan mencuci
heater kernel pekerja terpeleset masuk ke parit dan menciderai kaki kiri
pekerja, pada saat memperbaiki conveyor kerak boiler jari kiri terjepit baut
karena api mendadak turun, pada saat bongkar TBS buah jatuh mengenai
tangan kanan pekerja, saat pekerja melakukan pembersihan lantai pada saat
lori ditarik, lori tersangkut plat, kemudian plat terlepas dan mengenai kepala
karyawan, pada saat bekerja memperbaiki kompresor tangan pekerja terkena
karet kompresor dan terluka, saat pekerja mengecek conveyor pekerja
terpleset dan anak tangga jatuh hingga pinggang terasa sakit. Untuk bahaya
kimia antara lain yaitu saat bekerja mencampur bahan kimia mata pekerja
terkena percikan campuran soda sehingga melukai mata, pada saat melakukan
cleaning menggunakan bahan kimia, mata sebelah kanan terkena percikan
soda api.
Melihat data kecelakaan tahun 2020 tersebut potensi bahaya di PT
Rigunas Agri Utama Pabrik Bungo Tebo yang membahayakan pekerja yaitu
bahaya mekanik antara lain pada saat sounding tangan tergores seng yang
terlepas sehingga melukai tangan, pada saat sedang memasang lacis tangan
tersayat bagian tajam dari body tangki CPO sehingga melukai jari, pada saat
sedang melepas pengait lori tangan tergores kawat sing sehingga melukai jari,
6

tergores plat lori yang tajam yang melukai tangan, tergores kawat seng yang
melukai tangan dan mata kemasukan debu.
Industri kelapa sawit adalah tempat kerja yang sangat memiliki risiko
terhadap K3. Melihat data kecelakaan tersebut potensi bahaya di PT Rigunas
Agri Utama Pabrik Bungo Tebo yang biasa terjadi pada proses kerja yaitu
terpeleset lantai licin, terjepit, terkena percikan campuran soda, tergores,
tersayat dan lain-lain. Setelah diketahui kegiatan atau item pekerjaan yang
memiliki tingkat risiko tinggi kemudian dilakukan tindakan lebih lanjut
dengan metode JSA. Tujuan dari metode tersebut adalah untuk
menghilangkan atau meminimalisir risiko bahaya tersebut.11
Dengan melalukan manajemen risiko yang dimulai dari identifikasi
bahaya, penilaian dan pengendalian risiko di setiap kawasan ataupun aktivitas
pekerjaan adalah cara yang dapat mencegah kecelakaan. Maka dari itu,
dengan diketahuinya tingkat risiko yang akan timbul, kita bisa mengetahui
bagaimana meminimalisasi dampak yang dapat ditimbulkannya. Oleh sebab
itu, risiko tersebut bisa kita kendalikan agar aktivitas bisa berjalan dengan
kondisi yang lancar dan aman.18
Keselamatan kerja memiliki kaitan yang erat dengan peningkatan
produksi dan produktivitas. Oleh karena itu, dengan memperhatikan masalah
K3, maka perusahaan dapat membentuk suasana, kondisi dan juga lingkungan
kerja yang aman dan sehat, kemudian dapat menciptakan kenyamanan untuk
pekerja agar bisa melaksanakan pekerjaannya dengan baik sehingga bisa
meningkatkan produksi.
Berdasarkan latar belakang yang diuraikan diatas, maka peneliti tertarik
untuk melakukan penelitian yang berfokus pada industri kelapa sawit dengan
judul “Manajemen risiko pada Bagian Pengolahan Sawit di PT Rigunas Agri
Utama Pabrik Bungo Tebo Tahun 2021”.
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas, maka rumusan masalah
yang diperoleh adalah “Bagaimana manajemen risiko pada bagian
pengolahan sawit di PT Rigunas Agri Utama Pabrik Bungo Tebo Tahun
7

2021?”
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Diketahuinya manajemen risiko pada bagian pengolahan sawit di
PT Rigunas Agri Utama Pabrik Bungo Tebo.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Diketahui identifikasi bahaya pada bagian pengolahan sawit di PT
Rigunas Agri Utama Pabrik Bungo Tebo
2. Diketahui penilaian risiko pada bagian pengolahan sawit di PT
Rigunas Agri Utama Pabrik Bungo Tebo
3. Diketahui pengendalian risiko pada bagian pengolahan sawit di PT
Rigunas Agri Utama Pabrik Bungo Tebo
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Manfaat Bagi Perusahaan
Dapat dijadikan sebagai informasi tambahan tentang manajemen
risiko pada bagian pengolahan sawit di PT Rigunas Agri Utama Pabrik
Bungo Tebo.
1.4.2 Manfaat Bagi Instansi Pendidikan
Dapat menjadi acuan serta informasi tentang kondisi keselamatan
dan kesehatan kerja di lapangan khususnya tentang manajemen risiko di
perusahaan.
1.4.3 Manfaat Bagi Peneliti
Dapat dijadikan sebagai dasar atau acuan dalam melakukan
penelitian selanjutnya. Menambah pengetahuan dan pengalaman
peneliti dalam melakukan sebuah penelitian serta menambah ilmu
pengetahuan tentang manajemen risiko.

Anda mungkin juga menyukai